Anda di halaman 1dari 13

http://afaisalf.blogspot.

com/
Analisa kadar protein metode titrasi formol
LAPORAN PRAKTIKUM
Judul : Analisa kadar protein metode titrasi formol
Tujuan : Mampu mengetahui kadar protein dalam sampel susu
Dasar Teori :
Prinsip dari titrasi formol adalah menetralkan larutan dengan basa NaOH membentuk dimethilol
dengan penambahan formaldehid yang mana gugus amino sudah terikat dan tidak mempengaruhi
reaksi asam basa NaOH. Indikator yang digunakan adalah PP. Reaksi akhir titrasi akan terjadi
perubahan warna pink.
Titrasi formol digunakan untuk menunjukkan kadar N-amino, selain itu juga dapat digunakan
untuk mengukur hidrolisis protein. Protein merupakan suatu senyawa polimer yang terbentuk
dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida antara asam amino
lainnya. Protein berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh mahluk hidup. Membentuk jaringan
atau bagian tubuh lain, untuk pertumbuhan, sebagai enzim ( merupakan katalisator ). Transport
molekul di dalam darah dan sel, sebagai hormone contohnya hormone insuin sebagai pembentuk
antibody. Molekul yang membantu kontraksi otot,kesimbangan cairan,transmisi saraf.
Phenolphtalein ( phenolphthalein )atau biasa disingkat sebagai PP adalah suatu senyawa organik
dengan rumus C2OH1404 dan biasa dipakai sebagai indikator untuk titrasi asam basa . tidak
berwarna dalam larutan asam dan berwarna fuksia ( pink ) bila dalam larutan basa.
ALAT DAN BAHAN
Alat.
-

Neraca analitik

Gelas ukur

Erlenmeyer

Beaker glass

buret

pipet tetes dan labu ukur

Bahan.
-

Larutan susu

Aquades

NaOH 0,1

Formalin 40 %

Indikator PP 1 %

Kalium oksalat jenuh

Cara Kerja ;
1.

Menimbang kurang lebih 3-5 gram sampel uji

2.
Mengencerkan dalam labu ukur 100 ml dan menambahkan aquadest hingga tanda tera,
menghomogenkan dalam beaker glas ( L1 )
3.
4.
PP

Mengambil 10 ml larutan ( L1 ), masukkan ke dalam erlenmeyer


Tambahkan 20 ml aquadest , 0,4 ml kalium oksalat jenuh ( 1 : 3 ) dan 3-4 tetes indikator

5.

Menitrasi menggunakan NaOH 0,1 N terstandarisasi hingga berubah warna

6.

Tambahkan 2 ml formalin 40 % dan 3-4 tetes indikator PP 1 %

7.

Titrasi kembali dengan NaOH 0,1 N yang telah digunakan diawal

8.
Membuat blanko pengujian dengan mengulangi prosedur No.4 s/d 7 yaitu dengan
mengganti 10 ml larutan ( L1 ) dengan 10 ml aquades ( V titrasi blanko = 8 ml )
9.

Menghitung kadar protein susu dengan rumus

Pembahasan :

Percobaan kali ini yaitu analisa kadar protein metode titrasi formol. Dalam percobaan ini, ada
perlakuan yang diberikan pada sampel seperti penambahan air . pada sampel ini bertujuan untuk
menghidrolisis protein yang terdapat pada sampel menjadi asam amino, penambahan k-oksalat
jenuh bertujuan untuk memblokade gugus amina (-NH2) pada asam amino sehingga hanya
terdapat gugus karboksil (-COOH) pada ujung rantai yang akan bereaksi dengan NaOH sampai
larutan tersebut berubah menjadi berwarna merah muda. Penambahan indikator PP bertujuan
untuk sebagai batas penanda berakhirnya titrasi. Perlakuan selanjutnya semua larutan dititrasi
dengan larutan NaOH 0,1 N yang bertujuan untuk menetralkan gugus karboksil yang terdapat
pada asam amino. Pada perlakuan selanjutnya penambahan formaldehid yang bertujuan untuk
menguatkan sifat asam dari asam amino hal ini ditandai dengan hilangnya warna pink pada

larutan, selanjutnya larutan dititrasi kembali sampai larutan berubah menjadi pink kembali.
Perubahan warna larutan menjadi pink disebabkan karena sifat dari indikator PP yang akan
berwarna pink pada larutan basa ( seperti NaOH )
Pada percobaan menggunakan larutan blanko dimana dalam hal ini yang digunakan adalah
aquades yang ditambahkan dengan k-oksalat jenuh dan indikator PP warna larutan langsung
berubah pink, ini menandakan bahwa larutan blanko ini tidak mengandung protein.
Adapun tujuan dari larutan blanko ini yaitu untuk mengetahui jumlah ml NaOH yang bereaksi
dengan zat-zat kimia yang digunakan dalam analisis yaitu k-oksalat jenuh, formaldehid, dan air.

Kesimpulan :

Protein terbentuk dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan langsung oleh ikatan
peptida antara asam amino lainnya. Dan untuk menganalisa kadar protein dapat dilakukan
dengan metode titrasi formol.

a.

Apa fungsi penambahan formaldehida?

Untuk membentuk dimethilol sehingga formaldehid akan bereaksi dengan gugus amino dari
protein atau asam amino membentuk dimethilol.
b.

Mengapa titrasi dilakukan dengan menggunakan NaOH?

Agar protein tidak bersifat asam, karena gugus karboksil yanga terbentuk pada metode titrasi
formol bersifat asam. Oleh karena itu, hal ini dilakukan titrasi dengan NaOH sebagai titran agar tercapai
kondisi ekuivalen dari larutan. Dengan mengetahui jumlah NaOH yang diapakai (untuk titrasi) maka hidrolisis
protein meningkat.
c.
Bagaimana tingkat hidrolisis protein dapat ditunjukkan oleh titrasi formol? Apakah semakin tinggi
%N hasil titrasi formol, tingkat hidrolisis semakin tinggi? Jelaskan!
Tingkat hidrolisis protein dapat ditunjukkan ddengan senyawa yang mengikat N-amino pada
sampel maka gugus aktiif akan diikat oleh naOH pada titrasi.
Iya, karena apabila %N hasil titrasi formol semakin tinggi maka jumlah gugus karboksil bebas
juga semakin banyak. Hal ini berarti akan meningkatkan tingkat hidrolisis protein.
Perbandingan Metode
Dari metode analisis protein dan tingkat hidrolisis protein, metode mana () yang paling tepat digunakan
untuk sampel berikut. Jelaskan alasannya

Sampel

Kadar Protein (%)


Metode
Kjedahl

Susu Segar

0,8587

Meode
Biuret
13,406

Titrasi
Formol
0,0574

Dari data hasil didapatkan kandungan


tertinggi terdapat pada metode biuret hal ini
dapat disebabkan karena pada metode ini
sedikit senyawa penggangu dan sangat mudah
menyerap
cahaya
sehingga
nilai
absorbansinya
sangat
tinggi.
Jika
dibandingkan dengan metode Kjedahl,pada
metode titrasi formol hanya sedikit kadar
protein yang memungkinkan sedikitmya
hidrolisis protein pada susu.

1,989

0,11803

Dari data hasil didapatkan kandungan protein


pada
metode
kjedahl
lebih
tinggi
dibandingkan dengan kedua metode. Hal ini
disebabkan karena pada metode ini yang
dianalisis adalah protein kasar yang
menganggap semua unsur N merupakan
unsur protein.

1,344

0,12555

Dari data hasil dapat terlihat pada metode


Kjedahl kadar protein lebih tinggi. Menurut
teori kadar protein pada metode kjedahl
memang lebih tinggi sebab metode ini dapat
menganalisis semua unsur yang mengandung
N dianggap sebagai protein jika dibandingkan
metode biuret. Kesalahan dapat terjadi
disebabkan oleh beberapa faktor.

(v)

Bubuk Kedelai

35,31
(v)

Daging Ayam

15,51
(v)

Penjelasan

Berikut ini reaksi yang terjadi pada analisa protein metode Titrasi formol:
Pada metode analisa protein dengan metode titrasi formol yaitu larutan filtrat yang mengandung protein
dinetralkan dengan menggunakan larutan basa NaOH. Kemudian ditambahkan dengan formalin membentuk
dimethilol. Dimethilol tersebut akan mengikat gugus amin pada protein sehingga tidak dapat memengaruhi
reaksi asam karboksil dengan basa NaOH serta dapat diketahui titik akhir titrasi dengan tepat sampai berwarna
merah muda permanen dengan indikator Fenolftalein atau PP.

http://myexperience-sausuboy.blogspot.com/2012/05/menentukan-kadar-protein-denganmetode.html

menentukan kadar protein dengan metode titrasi formol

PERCOBAAN III
PROTEIN
I.

Tujuan Percobaan

menentukan kadar protein yang terdapat dalam sampel dengan metode titrasi formol.

II.

Tinjauan Pustaka

Protein berasal dari bahasa Yunani yaitu protos yang berarti yang paling utama, maka protein
adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari
monomer-monomer asam amino. Antara asam amino yang satu dengan yang lain dihubungkan
oleh ikatan peptida. Molekul protein yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan
kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel
makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis
protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, misalnya protein yang membentuk
batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi,
sistem kendali dalam bentuk hormon,seperti kompenen peyimpanan (dalam biji) dan juga dalam
transportasi hewan. Sebagai salah sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi
organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (wirahadikusumah, 1985).

Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan
polinukleotida yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan
salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jons
Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintetis protein alami sama dengan eksprei genetik. Kode
genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi
transkripsi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih mentah, hanya tersusun
dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pasca translasi, terbentuklah protein yang
memiliki fungsi penuh secara biologi (Riawan, 1990).
Ditinjau dari strukturnya, protein dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan protein
sederhana dan protein gabungan. Protein sederhana adalah protein yang hanya terdiriatas
molekul-molekul asam amino, sedangkan protein gabungan adalah protein yang terdiri atas
porotein dan gugus bukan protein. Gugus ini disebut gugus prosketik dan terdiri atas karbohidrat,
lip[id atau asam nukleat. Protein sederhana dapat dibagi dalam dua bagian menurut bentuk

molekulnya, yaitu proitein fiber dan protein globular. Protein fiber mempunyai bentuk molekul
panjang seperti serat atau serabut, sedangkan protein globular berbentuk bulat (wikipedia, 2009).
Studi dari biokimiawan USA Thomas Osborne Lafayete Mendel. Preofesor untuk biokimia di
Yale, 1914, mengujicobakan protein konsumsi dari daging dan tumbuhan kepada kelinci. Satu
grup kelinci-kelinci tersebut diberikan makanan hewani, sedangkan group yang lain diberikan
protein nabati. Dari eksperimennya didapati bahwa kelinci yang memperoleh protein hewani
lebih cepat bertambah beratnya dari kelinci yang memperoleh protein nabati. Kemudian studi
selanjutnya oleh Mc Lay dari universitas Berkeley menunjukan bahwa kelinci yangmemperoleh
protein nabati, lebih sehat dan hidup dua kali lebih lama (Campbell, 2007).
Protein merupakan suatu senyawa polimer yang dibentuk dari monomer-monomer asam amino
yang dihubungkan oleh ikatan peptida antar asam amino satu dengan yang lainnya. Sifat dari
berbagai macam protein tergantung pada jumlah asam amino yang menyusunnya, disamping itu
juga dipengaruhi oleh rantai samping dan masing-masing asam amino. Protein tidak dapat larut
pada pelaarut organik tetapi akan mengendap apabila ke dalam larutannya ditambahkan dengan
Na2SO4, NaCl, alkohol dan juga aseton. Senyawa ini cenderung mengalami perubahan bentuk
yang disebut dengan denaturasi protein. Perubahan tersebut terjadi karena molekul protein peka
terhadap senyawa-senyawa tertentu maupun panas, sehingga konformasi molekul jadi berubah
(Bahri, 2010).

III. Metodologi
1.1. Alat

1.

Erlenmeyer 100 mL

2.

Pipet tetes

3.

Gelas ukur 10 mL

4.

Gelas kimia 100 mL

5.

Buret 25 mL

6.

Corong

7.

Klem dan statif

1.2. Bahan

1.

Putih telur

2.

Susu cair

3. Air tahu
4. Aquadest
5.

NaOH 0,1 N

6.

Formaldehid 40%

7.

K-oksalat jenuh

8.

Indikator PP

1.3. Prosedur Kerja


1. Mengambil 10 mL larutan sampel ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian menambahkan
20 mL aquadest dan 0,4 mL K-oksalat jenuh serta 1 mL indikator PP, dan mendiamkannya
selama 2 menit.
2.

Mentitrasi sampe dengan larutan NaOH 0,1 N sampai larutan berwarna pink.

3.
Kemudian menambahakan 2 mL larutan formaldehid 40 %, lalu melanjutkan menitrasi
sampai larutan berwarna pink.
4.

Mencatat volume NaOH yang terpakai.

5.

Melakukan pekerjaan yang sama dengan menggunakan larutan blanko.

6.

Menghitung %N dalam sampel dengan menggunakan rumus:

mL NaOH x N x 14,008 gr/mL


%N =
Berat sampel x 10 mL/L

100%

IV. Hasil Pengamatan

No.

Sampel
Volume Titrasi
Volume Titrasi I
Volume Titrasi II
VII - Blanko
1
Susu
13,8 mL
17,2 mL
16,8 mL
2
Air Tahu
2,8 mL
71,2 mL

70,8 mL
3
Putih Telur
11,7 mL
19,5 mL
19,1 mL

V.

Analisis Data

Rumus:
% N = x 100 %
5.1. Susu cair
Massa jenis susu cair

= 1,028 gr/mL

Volume susu cair

= 10 mL

Massa susu cair

= 1,028 gr/mL x 10 mL
= 10,3 gr

Jadi,
% N = x 100 %
= 22,8 %
5.2. Air tahu
Massa jenis air tahu

= 1,48 gr/mL

Volume air tahu

= 10 mL

Massa air tahu

= 1,48 gr/mL x 10 mL
= 14,8 gr

Jadi,
% N = x 100 %
= 67 %
5.3. Putih telur
Massa jenis putih telur = 1,027 gr/mL
Volume putih telur

= 10 mL

Massa putih telur

= 1,027 gr/mL x 10 mL
= 10,27 gr

Jadi,
% N = x 100 %

= 26,05 %
VI. Pembahasan
Percobaan kali ini yaitu tentang protein. Protein merupakan suatu senyawa polimer yang
terbentuk dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida antara
asam amino satu dengan asam amino lainnya. Protein berfungsi sebagai sumber energi bagi
tubuh makhluk hidup, membentuk jaringan/ bagian tubuh lain, untuk pertumbuhan, sebagai
enzim (merupakan katalisator), transport molekul di dalam darah dan sel, sebagai hormone
contohnya hormone insulin, sebagai pembentuk antibody, molekul yang membantu kontraksi
otot, keseimbangan cairan, transmisi saraf.
Dalam percobaan ini, ada perlakuan yang diberikan pada sampel putih telur, susu kental manis,
dan air tahu. Seperti penambahan air pada ketiga sampel ini bertujuan untuk menghidrolisis
protein yang terdapat pada susu beerbrand, susu Frisian Flag, dan air tahu menjadi asam-asam
amino. Penambahan K-oksalat jenuh bertujuan untuk memblokade gugus amina
(-NH2) pada
asam amino sehingga hanya terdapat gugus karboksil (-COOH) pada ujung rantai yang akan
bereaksi dengan NaOH sampai lautan tersebut berubah menjadi berwarna merah muda.
Penambahan Indikator PP bertujuan untuk sebagai batas penanda berakhirnya titrasi, pada
rangkaian perlakuan ini warna larutan tetap berwarna putih yang merupakan pengaruh dari warna
sampel tersebut. Perlakuan selanjutnya semua larutan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N yang
bertujuan untuk menetralkan gugus karboksil yang terdapat pada asam amino. Saat mentitrasi
ketiga sampel larutan dari putih telur, susu Frisian Flag, dan air tahu, warna larutan berubah
menjadi pink dan larutan menggumpal. Pada perlakuan selanjutnya penambahan dengan
formaldehid yang bertujuan untuk menguatkan sifat asam dari asam amino hal ini ditandai
dengan hilangnya warna pink pada larutan, selanjutnya larutan dititrasi kembali sampai larutan
berubah menjadi pink kembali. Perubahan warna larutan menjadi pink disebabkan karena sifat
dari indikator pp yang akan berwarna pink pada larutan basa (seperti NaOH).
Pada bercobaan menggunakan larutan blanko dimana dalam hal ini yang digunakan adalah
aquades yang ditambahkan dengan K-oksalat jenuh dan indikator pp warna larutan langsung
berubah pink, ini menandakan bahwa larutan blanko ini tidak mengandung protein. Adapun
tujuan dari larutan blanko ini yaitu untuk mengetahui jumlah ml NaOH yang bereaksi dengan
zat-zat kimia yang digunakan dalam analisis yaitu K-oksalat jenuh, formaldehid, dan air.
Dari hasil titrasi diperoleh volume NaOH, yang dikurangi dengan volume blanko adalah susu
cair 16,8 mL, air tahu 70,8 mL dan putih telur 19,1 mL. Perbedaan volume tersebut disebabkan
karena kadar protein dari tiap-tip sampel berbeda. Berdasarkan perhitungan, maka dapat
diketahui kadar protein dari sampel yang digunakan, yaitu untuk susu cair 22,8%, air tahu 69,3%
dan putih telur adalah 26,04%. Dan jika dibandingkan dengan literatur, dimana diketahui pada
air tahu memiliki nilai 10,8 %, putih telur 16,3 %, dan susu 7,14 %. Nilai ini tidak sesuai dengan
literatur yang mungkin dikarenakan kesalahan dalam pengukuran, kurangnya alat yang

digunakan sehingga perlakuan ini lambat dilakukan, serta tidak layaknya bahan yang digunakan.
Bahan yang digunakan sangat berpengaruh besar terhadap hasil yang diperoleh.
http://anitatohar.blogspot.com/2013/06/pembahasan-penetapan-kadar-asam-amino.html
PEMBAHASAN PENETAPAN KADAR ASAM AMINO DENGAN TITRASI FORMOL

PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kadar asam amino dalam gelatin yang dipecah oleh
enzim papain dengan titrasi formol. Titrasi formol merupakan suatu metode yang digunakan
untuk mengetahui kadar protein dalam suatu bahan. Titrasi formol hanya tepat digunakan untuk
menentukan suatu proses terjadinya pemecahan protein dan kurang tepat untuk penentuan jenis
protein.
Dalam praktikum ini digunakan gelatin sebagai sumber asam amino dan enzim papain yang
merupakan enzim proteolitik. Enzim proteolitik atau disebut juga protease merupakan kelompok
enzim yang menguraikan protein menjadi molekul yang lebih kecil. Setiap tipe enzim protease
memiliki kemampuan berbeda dalam menghidrolisis ikatan peptide, dengan kata lain sifat kerja
enzim adalah spesifik sehingga dalam praktikum ini digunakan enzim papain yang dapat
memecah kandungan protein yang terdapat dalam gelatin. Gelatin mengandung 9 asam amino
essensial yang diperlukan oleh tubuh.
Pada praktikum ini hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan gelatin 5%. Larutan
gelatin 5% dibuat dengan cara melarutkan 5gr gelatin kedalam 100ml air hangat. Gelatin mudah
larut dalam air hangat dan jika dilarutkan dalam air dingin gelatin akan menggumpal. Kedalam
larutan gelatin ini kemudian ditambahkan 3 tetes phenolptalein dan NaOH 0,1N tetes demi tetes
menggunakan pipet hingga muncul warna merah muda setelah itu ditambahkan HCl 0,1N tetes
demi tetes hingga warna merah muda hilang. Setelah itu campuran tersebut dimasukkan ke
dalam incubator dengan suhu 38oC selama 15 menit. Penambahan NaOH dan HCl bertujuan
untuk menetralkan campuran.
Setelah itu dibuat larutan papain 25ml dan ditambahkan indicator phenolptalein, setelah itu
ditambahkan NaOH 0,1N tetes demi tetes hingga muncul warna merah muda kemudian
ditambahkan HCl 0,1N hingga warna merah muda hilang. Perubahan warna yang terjadi
disebabkan karena adanya indicator phenolptalein, dimana phenolptalein akan berwarna merah
muda ketika suasana basa dan menjadi tidak berwarna ketika suasana asam.
Setelah campuran gelatin diinkubasi selama 15 menit kemudian ditambahkan campuran papain
yang sudah dibuat tadi kedalamnya dengan tujuan untuk menghidrolisis protein yang terkandung

dalam gelatin menjadi asam amino sehingga asam amino yang terdapat dalam gelatin tersebut
dapat diketahui kadarnya.
Dalam interval waktu yang telah ditentukan yaitu 0, 15, 30, 60, 90 dan 120 menit dilakukan
sampling dengan cara mengambil 10 ml campuran, kemudian dididihkan untuk merusak enzim
sehingga proses hidrolisis protein yang terdapat dalam gelatin terhenti setelah itu didinginkan
dan ditambah dengan 15 ml formalin netral dan 3 tetes indicator phenolptalein kemudian segera
dititrasi dengan NaOH 0,02M. Penambahan formalin berfungsi untuk membentuk dimethilol.
Dengan terbentuknya dimethilol ini, berarti gugus asam amino sudah terikat dan tidak akan
mempengaruhi reaksi antara asam (gugus karboksil) dengan basa NaOH sehingga akhir titrasi
dapat diakhiri dengan tepat. Titrasi berakhir dengan titik akhir warna merah muda.

Setiap setelah dilakukan sampling campuran harus dimasukkan kembali kedalam incubator agar
proses hidrolisis tetap berlangsung. Setiap sampling dilakukan duplo agar kesimpulan yang
didapatkan mendekati akurat, seharusnya setiap sampling dilakukan lebih dari 2x, namun karena
keterbatasan waktu maka pada percobaan ini setiap sampling haynya dilakukan 2x.

Secara teori semakin lama interval waktu maka kadar asam amino akan semakin besar, hal
ini disebabkan karena semakin lama waktu yang diberikan maka waktu yang dimiliki enzim
papain untuk memecah protein menjadi asam amino semakin lama sehingga kadar asam amino
semakin banyak. Namun, pada praktikum ini kadar asam amino pada menit 15 turun dari kadar
asam amino pada menit sebelumnya hal ini dapat disebabkan karena beberapa faktor diantaranya
adalah kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan dan kurangnya ketelitian dalam
memipet sampel.