Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN STUDI KASUS STASE GIGI DAN MULUT

BAB I
LATAR BELAKANG
1

Latar Belakang
Nyeri tenggorok dan demam yang disertai dengan terbatasnya gerakan membuka

mulut dan leher, harus dicurigai kemungkinan disebabkan oleh abses leher dalam. Abses
leher dalam terbentuk didalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat
penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal,
telinga tengah dan leher. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di
ruang leher dalam yang terlibat.1
Anatomi dari abses leher dalam sangat komplek, sehingga sulit untuk menentukan
lokasi infeksi. Untuk membuat diagnosis dari abses leher dalam cukup sulit karena abses ini
ditutupi oleh beberapa jaringan lunak yang ada pada leher dan juga sulit untuk mempalpasi
serta menginspeksi dari luar.1,2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang maksud dengan Abses submandibula.?
2. Apa saja yang menjadi penyebab dan gejala-gejala Abses submandibula.?
3. Bagaimana cara mendiagnosa Abses submandibula.?
4. Bagaimana cara penanganan bagi penderita Abses submandibula.?
5. Saran apa sajakah yang bisa diberikan bagi penderita Abses submandibula.?
I.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tentang Abses submandibula.
2. Untuk mengetahui penyebab dan gejala-gejala Abses submandibula.
3. Untuk mengetahui cara mendiagnosa Abses submandibula.
4. Untuk mengetahui cara-cara penanganan Abses submandibula.
5. Untuk dapat memberikan saran yang baik bagi penderita Abses submandibula.

1 Mei 2015

LAPORAN STUDI KASUS STASE GIGI DAN MULUT

BAB III
STATUS PASIEN
3.1 IDENTITAS
Nama

: Nn.S

Alamat

: RT 04 RW 17 ds.Sawentan, kanigoro, Blitar

Umur

: 24 tahun

Kelamin

: perempuan

Pekerjaan

: Guru

Agama

: Islam

Tanggal periksa

: 12 Mei 2015

3.2 RIWAYAT KASUS


1. Keluhan Utama: benjolan pada pipi bawah kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang dengan keluhan adanya benjolan pada
pipi bawah kanan sebelah kanan sejak 1 bulan yang lalu. Pasien merasa muncul
benjolan yang sebelumnya tidak ada. Pasien juga mengeluh sukar untuk membuka
mulut, dikarenakan nyeri.
Sebelumnya pasien sakit gigi selama 3 bulan pada gigi bawah sebelah kanan. Sakit
timbul tanpa rangsangan (mengunyah atau terkena minuman dingin). Kemudian rasa
sakitnya banyak berkurang, tetapi timbul benjolan di pipi kanan, Sehingga pasien
memeriksakannya ke poli gigi dan mulut RSD Mardi Waluyo.
3. Riwayat Perawatan
a. Gigi: Pasien belum pernah melakukan perawatan gigi sebelumnya
b. Jar.lunak R. mulut & sekitarnya: Keluhan pembekakan baru terjadi satu kali.
4. Riwayat Kesehatan

Kelainan darah

: tidak ditemukan adanya kelainan

Kelainan endokrin

: tidak ditemukan adanya kelainan

Gangguan nutrisi

: tidak ditemukan adanya kelainan

Kelainan jantung

: tidak ditemukan adanya kelainan

2 Mei 2015

Kelainan kulit/ kelamin

: tidak ditemukan adanya kelainan

Gangguan pencernaan

: tidak ditemukan adanya kelainan

Gangguan respiratori

: tidak ditemukan adanya kelainan

Kelainan imunologi

: tidak ditemukan adanya kelainan

Gangguan TMJ

: tidak ditemukan adanya kelainan

Tekanan darah

: 100/80 mmHg

Diabetes mellitus

:-

Lain-lain

:-

5. Keadaan Sosial/kebiasaan: kopi (-), rokok (-), alkohol (-)


6. Riwayat Keluarga :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Kelainan darah
: tidak ditemukan adanya kelainan
Kelainan endokrin : tidak ditemukan adanya kelainan
Diabetes melitus : tidak ditemukan adanya kelainan
Kelainan jantung : tidak ditemukan adanya kelainan
Kelainan syaraf : tidak ditemukan adanya kelainan
Alergi
: tidak ditemukan adanya kelainan
lain-lain
:-

3.3. PEMERIKSAAN KLINIS


1. EKSTRA ORAL
a. Muka : tidak ada kelainan
b. Pipi kanan : terdapat adanya benjolan dengan
diameter 4 cm, teraba hangat dan lunak, warna sama
dengan kulit disekitarnya.
Pipi kiri

: tidak ada kelainan


c. Bibir atas

Bibir bawah

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan


d. Sudut mulut : tidak ada kelainan
e. Lain-lain
: tidak ada kelainan

2. INTRA ORAL
a. Mukosa labial atas
Mukosa labial bawah

: tidak ada kelainan


b. Mukosa pipi kiri

Mukosa pipi kanan

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan


c. Bukal fold atas

3 Mei 2015

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan

Bukal fold bawah

: tidak ada kelainan


d. Labial fold atas

Labial fold bawah

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan


e. Ginggiva rahang atas

Ginggiva rahang bawah


f.

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan

Lidah
g.
h.
i.
j.
k.

: tidak ada kelainan


Dasar mulut : tidak ada kelainan
Palatum
: tidak ada kelainan
Tonsil
: tidak ada kelainan
Pharynx
: tidak ada kelainan
Lain lain : tidak ada kelainan

Pemeriksaan Gigi
8

2 1

12

IV

III

II

I I

II

III

IV

IV

III

II

I I

II

III

IV

Keterangan :
: tidak ada kelainan pada gigi
8

2 1

: karies profunda (35,36,37,47)

1 2

: sisa akar (46)


: impaksi (48)
Karang gigi

: seluruh regio gigi

Status lokalis :
Ekstra oral : terdapat adanya benjolan pada pipi kiri

Inspeksi: tampak 1 buah benjolan pada pipi kanan atas dengan diameter 4

cm, warna sama dengan kulit disekitarnya, pus (-), darah (-)
Palpasi: teraba 1 buah benjolan, konsisitensi kenyal, batas tidak jelas,
hangat, nyeri (+)

Intra oral: tidak ada kelainan

4 Mei 2015

3.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Foto panoramic
1. karies profunda (35,36,37,47)
2. sisa akar (46)
3. impaksi (48)
4. os mandibula tampak baik
5. os maksila tampak baik
3.5. DIAGNOSIS BANDING
1) Abses Submandibula et Parafaring Sinistra
2) Parotitis
3) Angina Ludovici
3.6. DIAGNOSIS

Gangren pulpa regio 35, 36, 37 dan 47


Gangrene radiks 46
Periodontitis marginalis kronis oleh karena kalkulus

3.7. TERAPI
Pembedahan
Ekstraksi gigi regio 47 dan 48
Medikamentosa
- Cefadroxil 3x250mg
- Metronidazole 3x500 mg
- Injeksi Ranitidin 2x150 mg
- Asam mefenamat 2x250 mg
Terapi post operasi
- Cefadroxil 3x250mg
- Metronidazole 3x500 mg
- Betadine kumur
- Scalling kalkulus rahang atas dan rahang bawah

5 Mei 2015

LAPORAN STUDI KASUS STASE GIGI DAN MULUT


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. ANATOMI
3.1.1. Gigi
Anatomi dasar gigi terdiri dari bagian mulut, sedangkan bagian akar terbenam di dalam
tulang rahang dan gusi.

6 Mei 2015

Gambar 3.1. Anatomi gigi


Periodontium adalah jaringan yang menyangga atau yang terdapat disekitar gigi. Anatomi
periodontium terdiri dari : 1. Gingiva 2. Ligamen periodontal 3. Sementum 4. Tulang
alveolus
1. Gingiva
Gingiva adalah bagian mukosa mulut yang mengelilingi gigi. Gingiva melekat pada
gigi dan tulang alveolar. Pada permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara
jelas dibatasi mukosa mulut yang lebih dapat bergerak oleh garis yang bergelombang
disebut perlekatan mukogingiva. Garis demarkasi yang sama juga ditemukan pada
aspek lingual mandibular antara gingival dan mukosa mulut. Pada palatum, gingiva
menyatu dengan palatum dan tidak ada perlekatan mukogingiva yang nyata 6 Gingiva
dibagi menjadi tiga menurut daerahnya yaitu marginal gingival, attached gingival dan
gingival interdental. Marginal gingival adalah bagian gingival yang terletak pada
daerah korona dan tidak melekat pada gingiva. Dekat tepi gingiva terdapat suatu alur
dangkal yang disebut sulkus gingiva yang mengelilingi setiap gigi. Pada gigi yang
sehat kedalaman sulkus gingival bervariasi sekitar 0,5 2 m. Attached gingiva
merupakan kelanjutan dari marginal gingiva. Jaringan padat ini terikat kuat dengan
periosteum tulang alveolar dibawahnya. Permukaan luar dari attached gingiva terus
memanjang ke mukosa alveolar yang lebih kendur dan dapat digerakkan, bagian
tersebut disebut mucogingival juntion. Interdental gingiva mewakili gingiva
embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal dibawah tempat berkontaknya gigi.
Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau berbentuk seperti lembah . Suplai
darah pada gingiva melalui 3 jalan yaitu:
o arteri yang terletak lebih superfisial dari periosteum, mencapai gingiva pada
daerah yang berbeda di rongga mulut dari cabang arteri alveolar yaitu arteri infra
orbital, nasopalatina, palatal, bukal, mental dan lingual
o Pada daerah interdental percabangan arteri intrasepatal.
o Pembuluh darah pada ligamen periodontal bercabang ke luar ke arah gingival.
Suplai saraf pada periodontal mengikuti pola yang sama dengan distribusi suplai
darah
7 Mei 2015

2. Ligamen periodontal
Ligamen periodontal adalah suatu jaringan ikat yang melekatkan gigi ke tulang
alveolar. Ligamen ini berhubungan dengan jaringan ikat gingiva melalui saluran
vaskuler di dalam tulang. Pada foramen apikal, ligament periodontal menyatu dengan
pulpa. . Ligamen periodontal seperti semua jaringan ikat lain, mengandung sel, seratserat dan subtansi dasar. Serat ligamen periodontal ada yang berbentuk krista
aleveolar, horizontal, oblik dan apikal. Suplai darah melalui cabang arteri alveolar
yaitu cabang arteri interdental.
3. Sementum
Sementum adalah jaringan terminal yang menutupi akar gigi yang strukturnya
mempunyai beberapa kesamaan dengan tulang kompakta dengan perbedaan
sementum bersifat avaskuler. Sementum membentuk lapisan yang sangat tipis pada
daerah servikal akar dan tebalnya bertambah pada daerah apikal.
4. Tulang alveolar
Bagian mandibula atau maksila yang menjadi lokasi gigi disebut sebagai prosesus
alveolar. Alveoli untuk gigi ditemukan di dalam prosesus alveolar dan tulang yang membatasi
alveoli disebut tulang alveolar. Tulang alveolar berlubang-lubang karena banyak saluran
Volkman yang mengandung pembuluh darah pensuplai ligamen periodontal.

3.1.2. Mandibula
Pengetahuan tentang ruang-ruang dileher dan hubunganya dengan fasia penting untuk
mendiagnosis dan mengobati infeksi pada leher. Ruang yang dibentuk oleh berbagai fasia
pada leher ini adalah merupakan area yang berpotensi untuk terjadinya infeksi. Invasi dari
bakteri akan menghasilkan selulitis atau abses, dan menyebar melalui berbagai jalan termasuk
melalui saluran limfe.
Pembagian ruang ruang di leher berdasarkan Hollinshead (1954).
1

Di bawah hyoid:
Carotid Sheath
Ruang Pretrakeal
Ruang Retroviseral
Ruang Viseral
Ruang prevertebral.
Di atas hyoid:
8 Mei 2015

Ruang submandibula
Ruang submaxilla
Ruang masticator
Ruang parotid
Area perifaring:
Ruang retrofaring
Ruang parafaring (lateral Pharyngeal)
Ruang submandibula
Area intrafaring:
Ruang paratonsil
Abses paling sering mengenai ruang retrofaring, ruang parafaring (lateral pharyngeal),

dan ruang submandibula.

Gambar 3.2. Otot milohioid yang memisahkan ruang sublingual dan submental.

9 Mei 2015

Gambar 3.3. Potongan vertical ruang submandibula.


Ruang submndibula terletak diantara mukosa dasar mulut (sebagai batas superior) dan
lapisan superficial pada fasia servikalis bagian dalam ( sebagai batas inferior). Di bagian
inferiornya dibentuk oleh otot digastrikus. Batas lateralnya berupa kulit, otot platysma, dan
korpus mandibula. Sedangkan dibagian medialnya berbatasan dengan hyoglosus dan
milohioid. Di bagian anteriornya, ruang ini berbatasan dengan otot digastrikus anterior dan
milohioid. Bagian posteriornya berbatasan dengan ligamentum submandibula dan otot
digastrikus posteriornya.
Ruang submandibula merupakan ruang di atas hyoid yang terdiri dari ruang sublingual dan
ruang submaksila. Ruang sublingual dipisahkan dari ruang submaksila oleh otot milohioid.
Ruang submaksila selanjutnya dibagi atas ruang submental dan ruang submaksila (lateral)
oleh otot digastrikus anterior tetapi kedua ruang ini berhubungan secara bebas. Namun ada
pembagian lain yang tidak menyertakan ruang sublingual kedalam ruang submandibula, dan
membagi ruang submandibula atas ruang submental dan ruang submaksila saja.

10 Mei 2015

Gambar 3.4. Submandibular space


Ruang sublingual mengandung kelenjar sublingual, duktus Wharton, dan saraf hipoglosal.
Ruang ini terletak dia atas otot milohioid tetapi masih dianterior lidah, dan dilateral otot
intrinsic lidah (genioglosus dan geniohioid) dan superior dan medial dengan otot milohioid.
Dibagian anteriornya, berbatasan dengan sepanjang genu mandibula dan bagian posteriornya
berhubungan bebas dengan ruang submaksila.
Ruang submaksila berada di bawah otot milohioid, dan mengandung kelenjar
submandibula dan kelenjar getah bening. Ruang submksila ini berhubungan bebas dengan
ruang sublingual sepanjang tepi posterior otot milohioid. Kelenjar submandibula terletak
diantara kedua ruang tersebut.
Ruang submental merupakan ruang yang terbentuk segitiga yang terletak di garis tengah
dibawah mandibula dimana batas superior dan lateralnya dibatasi

bagian anterior otot

digastricus. Dasar pada ruangan ini adalah otot milohyoid sedangkan atapnya adalah kulit,
facia superficial, otot platysma. Ruang submental mengandung beberapa nodus limfe dan
jaringan lemak fibrous..
3.2. DEFINISI

11 Mei 2015

Abses adalah infeksi akut yang terlokalisir pada rongga yang berdinding tebal,
manifestasinya berupa keradangan, pembengkakan yang nyeri jika ditekan, dan kerusakan
jaringan setempat8
Abses rongga mulut adalah suatu infeksi pada mulut, wajah, rahang, atau tenggorokan
yang dimulai sebagai infeksi gigi atau karies gigi. Kehadiran abses dentoalveolar sering
dikaitkan dengan kerusakan yang relatif cepat dari alveolar tulang yang mendukung gigi.
Jumlah dan rute penyebaran infeksi tergantung pada lokasi gigi yang terkena serta penyebab
virulensi organisme8
Abses submandibula terletak dibagian bawah m.mylohioid yang memisahkannya dari
spasium sublingual. Lokasi ini di bawah dan medial bagian belakang mandibula. Dibatasi
oleh m.hiooglosus dan m.digastrikus dan bagian posterior oleh m.pterigoid eksternus. Berisi
kelenjar ludah submandibula yang meluas ke dalam spasium sublingual. Juga berisi kelenjar
limfe submaksila. Pada bagian luar ditutup oleh fasia superfisial yang tipis dan ditembus oleh
arteri submaksilaris eksterna.
Infeksi pada spasium ini dapat berasal dari abses dentoalveolar, abses periodontal dan
perikoronitis yang berasal dari gigi premolar atau molar mandibula.
3.3. ETIOLOGI
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfa
submandibula. Mungkin juga sebagian kelanjutan infeksi ruang leher dalam lain. Kuman
penyebab biasanya campuran kuman aerob dan aerob. 2,3
Abses submandibula merupakan salah satu bagian dari abses leher dalam. Sebagian besar
abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman, baik kuman aerob, anaerob,
maupun fakultatif anaerob.

Kuman aerob yang sering ditemukan adalah Stafilokokus,

Streptococcus sp, Haemofilus influenza, Streptococcus Pneumonia, Moraxtella catarrhalis,


Klebsiell sp, Neisseria sp. Kuman anaerob yang sering ditemukan pada abses leher dalam
adalah

kelompok

batang

gram

negatif,

seperti

Bacteroides,

Prevotella,

maupun

Fusobacterium.2,4
3.4. Tanda dan Gejala
1. Adanya respon Inflamasi
Respon tubuh terhadap agen penyebab infeksi adalah inflamasi. Pada keadaan ini
substansi yang beracun dilapisi dan dinetralkan. Juga dilakukan perbaikan jaringan,
proses inflamasi ini cukup kompleks dan dapat disimpulkan dalam beberapa tanda:14
12 Mei 2015

a) Hiperemi yang disebabkan vasodilatasi arteri dan kapiler dan peningkatan


permeabilitas dari venula dengan berkurangnya aliran darah pada vena.
b) Keluarnya eksudat yang kaya akan protein plasma, antiobodi dan nutrisi dan
berkumpulnya leukosit pada sekitar jaringan.
c) Berkurangnya faktor permeabilitas, leukotaksis yang mengikuti migrasi leukosit
polimorfonuklear dan kemudian monosit pada daerah luka.
d) Terbentuknya jalinan fibrin dari eksudat, yang menempel pada dinding lesi.
e) Fagositosis dari bakteri dan organisme lainnya
f) Pengawasan oleh makrofag dari debris yang nekrotik
2. Adanya gejala infeksi
Gejala-gejala tersebut dapat berupa : rubor atau kemerahan terlihat pada daerah
permukaan infeksi yang merupakan akibat vasodilatasi. Tumor atau edema merupakan
pembengkakan daerah infeksi. Kalor atau panas merupakan akibat aliran darah yang
relatif hangat dari jaringan yang lebih dalam, meningkatnya jumlah aliran darah dan
meningkatnya metabolisme. Dolor atau rasa sakit, merupakan akibat rangsangan pada
saraf sensorik yang di sebabkan oleh pembengkakan atau perluasan infeksi. Akibat aksi
faktor bebas atau faktor aktif seperti kinin, histamin, metabolit atau bradikinin pada
akhiran saraf juga dapat menyebabkan rasa sakit. Fungsio laesa atau kehilangan fungsi,
seperti misalnya ketidakmampuan mengunyah dan kemampuan bernafas yang terhambat.
Kehilangan fungsi pada daerah inflamasi disebabkan oleh faktor mekanis dan reflek
inhibisi dari pergerakan otot yang disebabkan oleh adanya rasa sakit.14
3. Limphadenopati
Pada infeksi akut, kelenjar limfe membesar, lunak dan sakit. Kulit di sekitarnya memerah
dan jaringan yang berhubungan membengkak. Pada infeksi kronis perbesaran kelenjar
limfe lebih atau kurang keras tergantung derajat inflamasi, seringkali tidak lunak dan
pembengkakan jaringan di sekitarnya biasanya tidak terlihat. Lokasi perbesaran kelenjar
limfe merupakan daerah indikasi terjadinya infeksi. Supurasi kelenjar terjadi jika
organisme penginfeksi menembus sistem pertahanan tubuh pada kelenjar menyebabkan
reaksi seluler dan memproduksi pus. Proses ini dapat terjadi secara spontan dan
memerlukan insisi dan drainase.14
3.5. PATOGENESA

13 Mei 2015

Berawal dari etiologi diatas seperti infeksi gigi. Nekrosis pulpa karena
karies dalam yang tidak terawat dan periodontal pocket dalam merupakan
jalan bakteri untuk mencapai jaringan periapikal. Karena jumlah bakteri
yang banyak, maka infeksi yang terjadi akan menyebar ke tulang
spongiosa sampai tulang cortical. Jika tulang ini tipis, maka infeksi akan
menembus

dan

masuk

ke

jaringan

lunak.

Penyebaran

infeksi

ini

tergantung dari daya tahan jaringan dan tubuh.5


Infeksi

odontogen

dapat

menyebar

melalui

jaringan

ikat

(perikontinuitatum), pembuluh darah (hematogenous), dan pembuluh


limfe (limfogenous). Yang paling sering terjadi adalah penjalaran secara
perkontinuitatum karena adanya celah/ruang di antara jaringan berpotensi
sebagai tempat berkumpulnya pus. Penjalaran infeksi pada rahang atas
dapat membentuk abses palatal, abses submukosa, abses gingiva,
cavernous sinus thrombosis, abses labial, dan abses facial. Penjalaran
infeksi pada rahang bawah dapat membentuk abses subingual, abses
submental, abses submandibular, abses submaseter, dan angina ludwig.
Ujung akar molar kedua dan ketiga terletak dibelakang bawah linea
mylohyoidea (tempat melekatnya m. Mylohyoideus) yang terletak di
aspek daam mandibula, sehingga jika molar kedua dan ketiga terinfeksi
dan membentuk abses, pus nya dapat menyebar ke ruang submandibula
dan dapat meluas ke ruang parafaringeal. Abses pada akar gigi menyebar
ke ruang submandibula akan menyebabkan sedikit ketidaknyamanan
pada gigi, dan pembengkakan sekitar wajah di daerah bawah. Setelah 3
hari pembengkakan akan terisi pus. Jika tidak diberikan penanganan,
maka pus akan keluar, menyebabkan terbentuknya fistel pada kulit. Pus
tersebut juga dapat menyebar ke jaringan lain sekitar tenggorokan, dan
ini dapat menyebabkan problem pernafasan. Jadi abses submandibular
merupakan kondisi yang serius.5

14 Mei 2015

3.6. DIAGNOSIS
Diagnosis abses submandibula ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan
pemeriksaan penunjang seperti foto polos jaringan lunak leher atau tomografi komputer.
Tanda dan gejala dari suatu abses leher dalam timbul oleh karena: 6
1

efek massa atau inflamasi jaringan atau cavitas abses pada sekitar struktur abses.

keterlibatan daerah sekitar abses dalam proses infeksi.

A. Anamnesis
Beberapa gejala berikut dapat ditemukan pada pasien dengan abses submandibula adalah :
1

asimetris leher karena adanya massa atau limfadenopati pada sekitar 70%.7

trismus karena proses inflamasi pada m.pterigoides

torticolis dan penyempitan ruang gerak leher karena proses inflamasi pada leher.

Riwayat penyakit dahulu sangat bermanfaat untuk melokalisasi etiologi dan perjalanan abses
pasien seharus ditanya :
1

tentang riwayat tonsillitis dan peritonsil abses.

riwayat trauma retrofaring contoh intubasi

dental caries dan abses.

B. Pemeriksaan Klinik
Diagnosis untuk suatu abses leher dalam kadang-kadang sulit ditegakkan bila hanya
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja. Ditemukan pembengkakan dibawah
rahang baik unilateral maupun bilateral dan berfluktuasi. Karena itu diperlukan studi
radiografi untuk membantu menegakkan diagnosis, menyingkirkan kemungkinan penyakit
lainnya dan perluasan penyakit. 7
Pemeriksaan tomography komputer dapat ditemukan daerah dengan densitas rendah,
peningkatan gambaran kontras pada

dinding abses

dan edem jaringan sekitar abses.

Pemeriksaan kultur dan sensitivitas test dilakukan untuk mengetahui jenis kuman dan
antibiotik yang sesuai. 7
1

Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan leukositosis. Aspirasi material yang bernanah
(purulent) dapat dikirim untuk dibiakkan guna uji resistensi antibiotik

Radiologis

Rontgen jaringan lunak kepala AP

Rontgen panoramik
Dilakukan apabila penyebab abses submandibuka berasal dari gigi.

15 Mei 2015

Rontgen thoraks
Perlu dilakukan untuk evaluasi mediastinum, empisema subkutis, pendorongan saluran
nafas, dan pneumonia akibat aspirasi abses.

Tomografi komputer (CT-scan)


CT-scan dengan kontras merupakan pemeriksaan baku emas pada abses leher dalam.
Berdasarkan penelitian Crespo bahwa hanya dengan pemeriksaan klinis tanpa CT-scan
mengakibatkan estimasi terhadap luasnya abses yang terlalu rendah pada 70% pasien
(dikutip dari Pulungan). Gambaran abses yang tampak adalah lesi dengan hipodens
(intensitas rendah), batas yang lebih jelas, dan kadang ada air fluid level . 4

Gambar 3.5. contoh CT scan


CT-scan pasien dengan keluhan trismus, pembengkakan submandibula yang nyeri dan
berwarna kemerahan selama 12 hari. CT-scan axial menunjukkan pembesaran musculus
pterygoid medial (tanda panah), peningkatan intensitas ruang submandibular dan batas yang
jelas dari musculus platysmal (ujung panah).
e. Algoritma pemeriksaan benjolan di leher

16 Mei 2015

Gambar 3.6. Algoritma Pemeriksaan Benjolan di Leher


3.7. TERAPI
Penatalaksanaan abses submandibula meliputi:1,8
-

Penatalaksanaan terhadap abses


Penatalaksanaan terhadap penyebab

Antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara
parenteral. Abses submandibula sering disebabkan oleh infeksi gigi dan paling sering
menyebabkan trismus. Maka sesegera mungkin setelah trismus hilang, sebaiknya pengobatan
terhadap penyebab segera dilakukan.1,8
Pola Kepekaan kuman anerob terhadap antibiotik

17 Mei 2015

Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan
terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas.
Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os hyoid, tergantung letak
dan luas abses.
3.8. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi adalah Ludwigs angina. Ludwigs angina adalah infeksi
berat yang melibatkan dasar mulut, ruang submental, dan ruang submandibula. Penyebab dari
Ludwigs angina ini pun bisa karena infeksi lokal dari mulut, karies gigi, terutama gigi molar
dan premolar, tonsilitis, dan karena trauma ekstraksi gigi. Dapat juga disebabkan oleh kuman
aerob maupun anaerob.9,10

Ludwigs angina merupakan peradangan selulitis atau flegmon dari bagian superior ruang
suprahioid. Ruang potensial ini berada antara otot-otot yang melekatkan lidah pada tulang
hioid dan otot milohioideus. Peradangan ruang ini menyebabkan kekerasan yang berlebihan
pada jaringan dasar mulut dan mendorong lidah ke atas dan ke belakang. Dengan demikian
dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas secara potensial.11
Gejalanya sangat cepat. Dapat menyebabkan trismus, disfagia, leher membengkak secara
bilateral berwarna kecoklatan. Dan pada perabaan akan terasa keras. Yang paling berakibat
fatal adalah Ludwigs angina tersebut dapat menyebabkan lidah terdorong ke atas dan
belakang sehingga menimbulkan sesak nafas dan asfiksia karena sumbatan jalan nafas yang
kemudian dapat menyebabkan kematian.9,10,11
18 Mei 2015

3.9. PROGNOSIS
Pada awalnya, kematian yang terjadi akibat kasus abses submandibula
ini lebih dari 50% kasus. Namun seiring dengan penggunaaan antibiotic
yang semakin luas, angka mortalitas tersebut turun hingga mencapai di
bawah 5%. Penggunaan antibiotic intravena memberikan prognosis yang
baik jika digunakan pada masa-masa awal kasus penyakit. Kemudian
tindakan operasi dilakukan jika terjadi obstruksi jalan napas, abses yang
terlokalisir dan kegagalan penggunanaan antibiotic untuk meningkatkan
kemungkinan kesembuhan.

19 Mei 2015

LAPORAN STUDI KASUS STASE GIGI DAN MULUT


BAB IV
PEMBAHASAN
Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah
submandibula. Abses submandibula menempati urutan tertinggi dari seluruh abses leher
dalam. 70-85 % kasus yang disebabkan oleh infeksi gigi merupakan kasus terbanyak,
selebihnya disebabkan oleh sialadenitis, limfadenitis, laserasi dinding mulut atau fraktur
mandibula. Pada pasien kasus ini ditemukan tanda-tanda peradangan Berikut adalah
penjabaran penegakan diagnosis pada pasien:
Literatur

Kasus

Anamnesis

Anamnesis

Riwayat penyakit sekarang:

Pada pasien ditemukan adanya nyeri dan

Adanya tanda-tanda inflamasi:

pembekaaan pada rahang kanan pasien.

1. rubor (kemerahan)

Pasien juga mengalami kesulitan dalam

2. kalor (panas)

mengunyah dan membuka mulut.

3. dolor (rasa sakit),


4. tumor (pembengkakan)
5. functio laesa (perubahan fungsi)
Riwayat penyakit dahulu

Pasien merasa nyeri pada gigi bawah

Bermanfaat untuk melokalisasi etiologi dan sebelah kanan sejak 3 bulan yang lalu,
perjalanan abses pasien seharus ditanya :

tetapi nyerinya semakin berkurang

1. riwayat tonsillitis dan peritonsil abses.


2. riwayat

trauma

retrofaring

contoh

intubasi
3. dental caries dan abses.
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik

Ditemukan pembengkakan dibawah rahang baik Adanya pembekakan rahang unilateral.


unilateral maupun bilateral dan berfluktuasi

Pada

pembekakan

tampak

rubor

(kemerahan) dan kalor (panas) saat


20 Mei 2015

perabaan.
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang

1. Laboratorium

4) Laboratorium

Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan Pada


leukositosis.

Aspirasi

material

pasien

belum

dilakukan

yang pemeriksaan darah rutin dan aspirasi

bernanah (purulent) dapat dikirim untuk material.


dibiakkan guna uji resistensi antibiotik

5) Radiologis

2. Radiologis

Ditemukan karies (35,36,37,47), sisa

a. Rontgen jaringan lunak kepala AP

akar (46) dan impaksi (48).

b. Rontgen panoramik
Dilakukan

apabila

6) Rontgen thoraks dan Tomografi


penyebab

abses

submandibula berasal dari gigi.

komputer

(CT-scan)

tidak

dilakukan.

c. Rontgen thoraks
Perlu

dilakukan

mediastinum,

untuk

empisema

evaluasi
subkutis,

pendorongan saluran nafas, dan pneumonia


akibat aspirasi abses.
d. Tomografi komputer (CT-scan)
Dengan menggunakan kontras, merupakan
gold standar untuk mengevaluasi infeksi
pada daerah leher dalam. Abses akan
tampak sebagai bangunan atau lesi, air fluid
level, dan lokulasi. Pemerksaan fisik yang
ditunjang CT-scan memiliki sensitivitas
95%
Infeksi dapat terjadi akibat perjalanan dari infeksi gigi dan jaringan sekitarnya yaitu pada
P1,P2,M1,M2 namun jarang terjadi pada M3. Pada pasien ini penyebab abses adalah
dentogenik, karena adanya infeksi yang berasal dari gigi dan jaringan sekitarnya yaitu
impaksi pada gigi regio 48 atau gangren pulpa regio 47 dan periodentitis marginalis kronis
oleh karena kalkulus. Untuk mengatasi etiologi dentogenik maka disarankan dilakukannya
eksisi gigi 48 dan 47. Hal ini disebabkan posisi akar gigi 48 dan 47 berada di bawah garis
perlekatan m. milohiod pada mandibula.

21 Mei 2015

Diagnosis banding pasien ini adalah parotitis yang merupakan infeksi yang disebabkan
oleh virus mumps, bersifat self limitting disease. Gejala klinis meliputi pembengkakan dan
rasa nyeri pada kelenjar saliva terutama kelenjar parotid, disertai adanya demam, sakit
kepala, malaise dan anoreksia. Parotitis merupakan penyakit menular dari sekret pernafasan
atau saliva pasien, serta secara droplet. Periode inkubasi adalah 16-18 hari, periode penularan
adalah 6 hari sebelum gejala muncul dan 9 hari setelah gejala muncul. Pada kasus ini tidak
didapatkan pembengkakan pada kelenjar parotis dan tidak didapatkan riwayat kontak dengan
pasien parotitis sebelumnya.
Diagnosis banding kedua adalah Angina Ludovici yang merupakan infeksi ruang
submandibula berupa selulitis dengan tanda khas berupa pembengkakan seluruh ruang
submandibula, tidak membentuk abses, sehingga keras pada pembesaran submandibula.
Sumber infeksi berasal dari gigi atau dasar mulut, oleh kuman aerob dan anaerob. Gejala
klinis berupa nyeri tenggorokan dan leher, disertai pembengkakan di daerah submandibula
yang hiperemis dan keras pada perabaan, dasar mulut yang membengkak dapat mendorong
lidah ke atas belakang sehingga menimbulkan sesak napas. Pada pemeriksaan fisik kasus ini
teraba fluktuasi dan tidak mendorog lidah ke belakang.9,10,11
Prinsip pengelolaan abses adalah pemberian antibiotik parenteral dosis tinggi dan evakuasi
abses. Antibiotik pertama yang diberikan pada pasien ini adalah Cefadroxil 3x250mg yang
sensitif untuk kuman aerob dan Metronidazole 3x500 mg yang sensitif untuk kuman anaerob.
Cefadroxil merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi pertama yang efektif
terhadap gram positif dan gram negatif. Kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi
terhadap cefadroxil Metronidazole memiliki sensitifitas yang tinggi terutama untuk kuman
anaerob gram negatif.1,8
Evakuasi abses dilakukan dengan ekstraksi gigi 48 dan 47. Pasien juga mendapatkan
terapi simptomatik berupa analgetik dan antiseptik kumur. Analgetik yang diberikan untuk
pasien yaitu asam mefenamat 2x250 mg. Sedangkan betadine kumur diberikan sebagai
antiseptik oral untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Ranitidin 2x150 mg merupakan
antagonis histamin reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada
reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung, diberikan untuk mencegah terjadinya
efek samping dari antibiotik dan analgetik yang diberikan kepada pasien. Betadine kumur
diberikan sebagai antiseptik oral untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pemberian
ranitidin 2x150 mg pada pasien untuk mencegah terjadinya efek samping dari antibiotik dan
analgetik karena merupakan antagonis histamin reseptor H2 yang menghambat kerja histamin
secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.1,8
22 Mei 2015

Sebagian besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman, baik kuman
aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering ditemukan adalah
Staphylococcus, Streptococcus sp, Haemofilus influenza, Streptococcus Pneumonia,
Moraxtella catarrhalis, Klebsiella sp, Neisseria sp. Kuman anaerob yang sering ditemukan
pada abses leher dalam adalah kelompok basil gram negatif, seperti Bacteroides, Prevotella,
maupun Fusobacterium. Hasil pemeriksaan mikrobiologi dari pus pada pasien ini adalah
Staphylococcus aureus, dengan hasil pewarnaan gram adalah coccus gram positif.2,3,4
Setelah luka dari ekstraksi gigi 48 dan 47 mulai sembuh, maka dilakukan ektaksi gigi
35,36,37 dan 46 agar tidak terjadi abses. Sedangkan untuk mengobati periodentitis marginalis
kronis dilakukan pembersihan kalkulus.1,8
Prognosa pasien pada kasus ini adalah ad bonam jika pasien mengatasi etiologi dari abses
yaitu . Serta mengikuti advice terapi yang telah diberikan.

23 Mei 2015

LAPORAN STUDI KASUS STASE GIGI DAN MULUT


BAB V
KESIMPULAN

Telah dilaporkan kasus abses submandibula dextra oleh karena impaksi gigi 48 dan
gangren pulpa gigi 47 pada pasien perempuan dengan usia 24 tahun dengan keluhan rahang
kanan disertai susah membuka mulut, sulit makan, minum dan berbicara. Awalnya pasien
mengeluhkan nyeri pada gigi kanan bawah. Ketika keluhan nyeri gigi membaik, ada
pembekakan pada rahang sebelah kanan pasien
Pada pemeriksaan fisik pada regio submandibula dextra didapatkan benjolan yang oedem,
eritem, kalor dan nyeri tekan. Pada foto panoramic ditemukan impaksi pada gigi 38 dan
gangren pulpa gigi 47. Berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang,
diagnosis pasien ini adalah abses submandibula dextra oleh impaksi pada gigi 38 dan gangren
pulpa gigi 47. Dilakukan tindakan evakuasi abses dan pemberian antibiotik parenteral.
Sehingga diagnosis dan penatalaksanaan pada pasien ini telah sesuai dengan kepustakaan
yang ada.

24 Mei 2015