Anda di halaman 1dari 13

Definisi garam

Garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif
(anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari
hasil reaksi asam dan basa.
Larutan garam dalam air merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan
garam, misalnya sitoplasma dan darah.
Garam adalah mineral yang terdiri dari natrium klorida. Hal ini penting bagi
kehidupan hewan dalam jumlah kecil, tetapi berbahaya bagi hewan dan tanaman dalam
skala yang berlebihan. Rasa Garam adalah salah satu bumbu makanan yang paling tertua di
mana-mana. Penggaraman merupakan metode penting dalam pengawetan makanan.
Garam juga merupakan satu komposisi kimia yang berupaya untuk dijadikan sebagai
bahan dagangan. ini adalah karena garam pada masa kini merupakan satu bahan yang amat
diperlukan sama ada digunakan dalam bidang perobatan, pertanian maupun dalam bidang
pembuatan makanan.

Sumber Garam
Garam diperoleh dari :

Air laut
Garam yang berasal dari air laut dilakukan dengan penguapan matahari, di mana air

laut (air danau asin) dipompa menjadi serangkaian besar kolam dangkal dan dibiarkan
menguap secara alami. Proses ini sangat lambat karena dapat mengambil tahun untuk
matahari dan angin untuk mengubah air laut menjadi kristal, tetapi memiliki manfaat
lingkungan yang jelas karena memerlukan masukan yang sangat sedikit untuk bahan bakar
fosil.

Garam hasil penguapan dengan matahari kemudian dicuci dan disempurnakan dalam
suatu proses yang dapat sebagai energi-intensif sebagai pemurnian vacuum pan. Tapi
kebanyakan garam laut gourmet yang dipanen dari kolam penguapan kadang-kadang
menggunakan perkakas tangan dan kemudian diperlakukan dengan sangat minimal
sebelum dikemas dan dijual. Pada operasi yang lebih besar, garam dikumpulkan
menggunakan traktor khusus yang dilengkapi dengan pencakar di ujung depan. Jadi,
setidaknya dalam hal penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca, garam yang bersumber
dari air laut ini lebih ramah lingkungan dibandingkan varietas umum

Batuan garam / garam Karang ( Rock Salt)

Rock Salt adalah batuan sedimen kimia yang terbentuk dari penguapan air garam
danau atau laut. It is also known by the mineral name "halite". Hal ini jarang ditemukan di
permukaan bumi, kecuali di daerah-daerah iklim yang sangat kering. It is often mined for
use in the chemical industry or for use as a winter highway treatment.Hal ini sering
ditambang untuk digunakan dalam industri kimia atau untuk digunakan sebagai
pengobatan jalan raya musim dingin. Beberapa garam karang diproses untuk digunakan
sebagai bumbu untuk makanan.

Manfaat Garam
Garam ternyata bukan hanya untuk dikonsumsi dan menggarami ikan asin. sejak
beberapa ratus tahun yang lalu garam merupakan bahan yang dapat digunakan untuk
keperluan kesehatan dan penggunaannya semakin penting di era modern ini. beberapa
penggunaan garam bagi kesehatan adalah :
Minuman
Produk minuman kesehatan terutama dirancang sebagai produk minuman untuk
mengembalikan kesegaran tubuh dan mengganti mineral-mineral yang keluar bersama
keringat dari tubuh selama proses metabolisme atau aktivitas olah raga yang berat.
Umumnya produk-produk minuman kesehatan selain mengandung pemanis dan zat
aktif, juga mengandung mineral-mineral dalam bentuk ion seperti ion natrium (Na+),
kalium (K+), magnesium (Mg2+), kalsium (Ca2+), karbonat - bikarbonat (CO3-2dan HCO32
), dan klorida (Cl-).
Sumber utama untuk ion natrium dan klorida selain kristal garam juga larutan
garam pekat. Laut mati di timur tengah merupakan sumber larutan garam pekat,
sedangkan di Indonesia akan mulai dikembangkan garam dengan bahan baku bittern
yaitu larutan sisa penguapan dalam produksi garam konsumsi dan garam high grade
Garam mandi
Garam mandi didefinisikan sebagai bahan aditif (tambahan) untuk keperluan
mandi yang terdiri dari campuran garam NaCl dengan bahan kimia anorganik lain yang
mudah larut, kemudian diberi bahan pewangi (essentials oil), pewarna, dan mungkin
juga senyawa enzim.
Garam mandi ini dirancang untuk menimbulkan keharuman, efek pewarnaan air,
kebugaran, kesehatan dan juga menurunkan kesadahan air.
Komponen utama garam mandi adalah garam NaCl yaitu sekitar 90% - 95%.
Berdasarkan definisi di atas, maka jenis garam mandi dapat dibagi berdasarkan
komposisi bahan penyusunnya yaitu hanya mengandung garam NaCl dan garam
anorganik, mengandung garam NaCl dan garam anorganik plus essentials oils,
mengandung garam NaCl, garam anorganik, essentials oil dan pewarna, atau
mengandung garam NaCl, garam anorganik, essentials oil, dan pewarna .
Kegunaan garam mandi secara umum sangatlah beraneka ragam, di antaranya
adalah untuk membersihkan tubuh saat berendam, menumbuhkan suasana relaks,
menurunkan rasa stres, dan sebagai sarana refreshing. Suasana relaks terutama akibat
adanya campuran pewangi yang dipercaya dapat memengaruhi emosi serta suasana hati
secara signifikan.
Sedangkan fungsi khusus di bidang kesehatan terutama karena adanya garam NaCl
adalah untuk melenturkan otot yang tegang, mengurangi rasa nyeri pada otot yang sakit,
menurunkan gejala inflamasi (peradangan), serta menyembuhkan infeksi.
Untuk fungsi kecantikan, garam mandi antara lain dapat membantu menghaluskan
kulit (cleansing), memacu pertumbuhan sel kulit sekaligus meremajakannya

(rejuvenating).
Garam mandi sekarang banyak digunakan di spa dan pusat pengobatan dengan
sistem aromaterapi karena adanya kandungan essentials oils.
Garam dapur
Garam dapur merupakan media yang telah lama digunakan untuk pemberantasan
gangguan akibat kekurangan iodium (gaki), yaitu dengan proses fortifikasi
(penambahan) garam menggunakan garam iodida atau iodat seperti KIO3, KI, NaI, dan
lainnya. Pemilihan garam sebagai media iodisasi didasarkan data, garam merupakan
bumbu dapur yang pasti digunakan di rumah tangga, serta banyak digunakan untuk
bahan tambahan dalam industri pangan, sehingga diharapkan keberhasilan program gaki
akan tinggi.
Selain itu, didukung sifat kelarutan garam yang mudah larut dalam air, yaitu
sekira 24 gram/100 ml.
Jenis garam lain yang kurang populer penggunaannya di indonesia dalah salt low
sodium (garam rendah natrium) merupakan garam dengan kandungan NaCl yang lebih
rendah daripada garam konsumsi biasa. Garam ini memunyai komposisi terdiri dari
campuran NaCl, MgCl2, dan KCl dengan perbandingan tertentu. penggunaan garam
rendah natrium terutama ditujukan untuk penderita tekanan darah tinggi yang tidak
diperbolehkan mengonsumsi garam dapur biasa.

Oralit
Oralit merupakan produk kesehatan yang dikonsumsi saat mengalami diare.
kandungan oralit yang utama adalah campuran antara NaCl dengan gula (glukosa atau
sukrosa). Fungsi oralit yang utama adalah menjaga keseimbangan jumlah cairan dan
mineral dalam tubuh. oralit merupakan satu-satunya obat yang dianjurkan untuk
mengatasi diare yang menyebabkan banyak kehilangan cairan tubuh. oralit tidak
menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang hilang bersama tinja. dengan
mengganti cairan tubuh tersebut, terjadinya dehidrasi dapat dihindarkan.
Sebagai contoh komposisi oralit 200 antara lain mengandung : glukosa anhidrat
4,0 gram, natrium klorida 0,70 gram, natrium sitrat dihidrat 0,58 gram , kalium klorida
0,30 gram. sedangkan dalam keadaan darurat, kita bisa membuat air minum yang diberi
campuran gula putih (sukrosa) dengan garam dapur.
Kombinasi gula dan garam dapat diserap baik oleh usus penderita diare, karena
ion natrium merupakan ion yang berfungsi allosterik (berhubungan dengan
penghambatan enzim karena bergabung dengan molekul lain). Selain itu, garam mampu
meningkatkan pengangkutan dan meninggikan daya absorbsi gula melalui membran sel.
gula dalam larutan NaCl (garam dapur) juga berkhasiat meningkatkan penyerapan air
pada dinding usus secara kuat (sekira 25 kali lebih banyak dari biasanya), sehingga
proses dehidrasi tubuh dapat dikurangi/diatasi.
Cairan infuse
Dikenal beberapa jenis cairan infus yaitu cairan infus glukosa 5%, cairan infus

NaCl 0,9 % + KCl 0,3% atau KCl 0,6%, cairan infus natrium karbonat dan cairan infus
natrium laktat.
Cairan infus NaCl adalah campuran aquabidest dan garam grade farmasetis yang
berguna untuk memasok nutrisi dan mineral bagi pasen yang dirawat di rumah sakit.
Cairan dialisat.
Cairan dialisat merupakan cairan yang pekat dengan bahan utama elektrolit
(antara lain garam NaCl) dan glukosa grade farmasi yang membantu dalam proses cuci
darah bagi penderita gagal ginjal. seperti diketahui pasen gagal ginjal diharuskan
mengganti darah atau proses cuci darah dalam periode tertentu.
Dalam proses pencucian darah tersebut darah yang akan 'dibersihkan' akan
dilewatkan pada suatu alat membran (hemodialisis) dalam media cairan dialisat. dalam
dialiser ini darah dibersihkan, 'sampah-sampah' metabolisme secara kontinyu
menembus membran dan menyeberang ke kompartemen dialisat.

A. INDONESIA MASIH IMPOR GARAM

Nasib industri garam memang tragis. Tidak seperti industri baja, pertekstilan, atau sektor
alas kaki yang memperoleh perhatian pemerintah dan diberikan sejumlah fasilitas, industri garam
seolah dibiarkan hidup seadanya. Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km
atau terpanjang keempat di dunia, terpaksa harus terus menerus mengimpor garam setiap tahun.
Industri garam bahkan tidak pernah dikelompokkan ke dalam barang strategis kendati kebutuhan
domestik sangat besar dan keberadaannya sangat vital dalam mencukupi kebutuhan dasar rakyat.

Terasa aneh memang jika kita mendengar bahwa Indonesia mengimpor garam. Timbul
berbagai pertanyaan pada diri kita mengenai hal ini. Sebanarnya Indonesia Negara perairan atau
tidak? Perairan Indonesia itu kekeringan ya? Pantai disekitar perairan Indonesia sudah habis ya
karena abrasi? Kemana para petani garam Indonesia mereka berubah propesi ya? Kenapa
Indonesia bisa mengimpor garam padahal perairan Indonesia sangat luas yaitu sekitar 3.287.010
km^2 dan pantainya sangat panjang sehingga disebut dengan Negara perairan.Indonesia
memiliki pantai yang luas, seharusnya mampu menghasilkan garam yang banyak dan
berkualitas, namun tidak untuk saat ini, kita belum mampu. Indonesia masih mengimpor garam
untuk jenis garam industri, yaitu yang digunakan sebagai bahan baku atau katalis dalam berbagai
jenis industri (misal: penyamakan kulit hewan, tekstil, dan kosmetik). Tentu saja untuk keperluan
industri dibutuhkan garam berkualitas, namun lagi-lagi kita belum bisa memenuhi permintaan
pasar untuk yang satu ini. Yah.. kemampuan petani garam kita sebagian besar baru sebatas untuk
garam konsumsi (garam dapur) yang kebanyakan berada di kualitas ke-3.

Kebutuhan garam konsumsi untuk tahun 2012, sebesar 1,4 juta ton, sedangkan garam
Industri 1,8 juta ton. Kita telah hitung, melalui usulan dari Direktur Jenderal (Dirjen)
Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan hasilnya, kita masih membutuhkan
533.000 ton garam kosumsi, dan itu dipenuhi dengan impor. Selama ini pasar dalam negeri
membutuhkan 2 jenis garam, yaitu garam yang diperuntukkan untuk konsumsi dan industri.
Garam kosumsi dengan NACL sebesar 94,7 persen digunakan tidak hanya untuk konsumsi tapi
juga pengasinan dan untuk kosumsi makanan manusia dan ternak. Sedangkan, garam Industri
dengan kadar NACL 97 persen atau kadarnya lebih tinggi dari garam konsumsi, banyak
digunakan untuk industri kulit, farmasi dan tekstil. Kebutuhan garam untuk industri 100 persen
harus impor. Sedangkan untuk kebutuhan garam kosumsi dilakukan lebih pada penyerapan
garam lokal, kekurangannya baru dipenuhi lewat impor.

B. BANYAKNYA KENDALA YANG MENGHAMBAT

Ada yang bilang ini ironis, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan pantai yang
sedemikian panjang tetapi tetap saja butuh importasi garam. Akan tetapi, mau tidak mau, suka
atau tidak suka, itu memang harus kita lakukan karena hasil produksi tidak mampu mencukupi
kebutuhan dalam negeri. Tahun ini saja, kita masih membutuhkan 533 ribu ton lagi garam untuk
konsumsi dalam negeri. Kekurangan pasokan garam yang kita alami karena ada peran cuaca
yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas garam itu sendiri. Berfluktuasinya cuaca di Indonesia
menyebabkan kualitas garam yang dihasilkan belum sebaik garam impor. Kondisi alam
Indonesia yang demikian subur ternyata menjadi faktor yang cukup merugikan para petani
garam. Curah hujan di Indonesia terlalu tinggi atau berkisar 1.200-1.400 mm per tahun, tingkat
kelembapan 60%-80%, bulan kemarau 3-6 bulan, luas rata-rata per pegaraman hanya 1.0001.200 ha (kecuali Sumenep 2.700 ha), sedangkan produktivitas lahan hanya 50-60 ton per ha.

Dari waktu ke waktu, areal pegaraman terancam semakin susut akibat adanya alih fungsi
lahan, sehingga produksi secara nasional semakin mengecil.Akibatnya,kecil potensi lahan ideal
yang tersedia untuk industri pegaraman.Madura, yang menjadi basis produksi garam terbesar di
Indonesia, bahkan hanya memiliki panjang kemarau kering berkelanjutan selama sekitar 5
minggu. Pemerintah pernah melakukan survei udara. Hasilnya, dari total panjang pantai di
Indonesia, hanya 34.000 hektare pantai yang memenuhi persyaratan produksi garam, sedangkan
yang betul-betul efektif dimanfaatkan baru sekitar 18.000 ha [52,94%]. Dari total produksi

garam dunia sekitar 240 juta ton per tahun, Indonesia hanya mampu menghasilkan 1,2 juta ton.
Produsen terbesar garam di dunia dipegang China dengan produksi 48 juta ton per tahun, diikuti
India (16 juta ton), Australia (12 juta ton), Thailand (3 juta ton), dan Jepang (1,4 juta ton). Di
dalam negeri, dari total kebutuhan sekitar 2,79 juta ton pada 2008, industri garam (termasuk
garam rakyat), hanya mampu memasok 1,03 juta ton sehingga sekitar 1,63 juta ton garam atau
setara 157,89% pasokan tambahan harus dipenuhi dari impor. Kebutuhan garam pada 2008
dialokasikan untuk sektor konsumsi (garam iodisasi) seperti rumah tangga, industri makanan,
pengasinan ikan, dan pakan ternak sebesar 1,12 ton. Konsumsi garam noniodisasi (garam
perminyakan, industri nonpangan/chlor alkali, perkebunan, farmasi, berkadar garam (NaCl)
sekitar 90%-98,5%) mencapai 1,67 juta ton.

Proyeksi kebutuhan garam nasional (ton)

Tahun

Industri CAP
(chlore alkali)

2009

1.461.000

2015

1.848.631

2030

3.329.280

Garam rumah
tangga

Industri aneka
pangan/
pembersih

Total

631.160

2.778.160

744.780

710.788

3.304.199

910.718

956.628

5.196.626

686.000

Sumber: Depperin, BPS, diolah

Realisasi impor garam nasional pada 2006-2008 (ton)

Tahun

Iodisasi

Noniodisasi

Jumlah

2006

146.979

1.446.348

1.593.327

2007

191.173

1.447.368

1.638.541

2008

88.500

1.542.293

1.630.793

Sumber: Depperin

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha Kementerian


Kelautan dan Perikanan Anshori Anwar, Minggu, mengatakan, saat ini masih sangat minim ahli
garam dari kalangan akademisi."Itu yang menjadi salah satu penyebab Indonesia terlambat
swasembada garam. Namun, saat ini ada beberapa kampus yang mulai melakukan penelitian soal
garam dan diharapkan akan banyak ahli dari sana," kata Anshori.

Stagnasi produksi garam terhadap konsumsi yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun
menyebabkan Indonesia tidak bisa melepaskan ketergantungan impor garam. Impor terbesar
garam nasional selama ini didatangkan dari Australia. Namun, jika konsumsi dapat dipenuhi
seluruhnya dari impor, mengapa harga garam petani merosot ?
Menurut Atih Suryati Herman (Komisaris Utama) PT.Garam, salah satu penyebabnya adalah
penumpukan stok produksi. Pada 2007, bahkan terjadi kelebihan pasokan garam 200.000 ton.
Saat itu, produksi garam nasional hanya mencapai 780.250 ton, sedangkan impor membeludak
sebesar 1,826 juta ton sehingga jumlah pasokan nasional pada 2007 mencapai 2,61 juta ton,
sementara total konsumsi hanya 2,40 juta ton, sehingga harganya cenderung jatuh.

Beliau menganggap naif orang yang berpikir bahwa potensi produksi garam berbanding
lurus dengan panjang dan luas pantai. Banyak orang bilang Indonesia punya garis pantai begitu
luas, tapi kenapa masih impor garam. Ini sebenarnya pendapat yang sangat naif, katanya. Garam
dan air laut memang sama-sama asin, tetapi ada tiga syarat vital kalau kita ingin memproduksi
garam sesuai standar. Pertama, air laut sebagai bahan baku harus memiliki kadar garam yang
tinggi. Kadar garam bisa tinggi jika di pantai itu tidak terdapat muara sungai sehingga air laut
harus jernih. Selain itu, pasang surut air laut yang mencapai permukaan daratan tidak lebih dari 2
meter. Kedua adalah pantai/daratan sebagai ladang pegaraman utama dengan tinggi sekitar 3
meter di atas permukaan laut sehingga air laut tidak boleh porous atau merembes ke dalam tanah
(ladang). Untuk ladang perorangan dibutuhkan minimum 1 hektare, sedangkan untuk perusahaan
sedikitnya 4.000 hektare. Ketiga, iklim sebagai sumber energi. Curah hujan di suatu pantai
ladang garam maksimal berkisar 1.000 milimeter 1.300 milimeter (mm) per tahun dengan tingkat
kemarau kering berkelanjutan sedikitnya 4 bulan per tahun, jarang mendung dan berkabut serta
kelembapan yang rendah (terus-menerus panas). Jadi, betapa pun panjangnya luas pantai di
Nusantara, jika tiga persyaratan umum itu tidak terpenuhi jangan berharap Indonesia menjadi
produsen garam utama di dunia.

C. MENCARI SOLUSI TERBAIK

Jika alasan mengimpor garam adalah karena garam hasil dari Indonesia kurang asin atau
kurang berasa, apakah pemerintah sadar kalau selama ini mereka pernah memperdulikan para
petani garam seperti memberikan infrastruktur yang bagus dan memadai serta menyediakan bagi
para petani garam peralatan peralatan yang diperlukan untuk proses pengolahan garam.
Pemerintah jangan Cuma hanya meminta hasil yang maksimum saja dari petani garam tanpa
menyadari hal apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung pembuatan
garam di Indonesia. Para petani garam juga memerlukan peralatan dan infrastruktur yang
memadai untuk menghasilkan garam yang maksimum, jika infrastrukturnya juga tidak memadai
otomatis hasilnya akan kurang bagus sehingga rasanya kurang asin.

KKP bersama Kementerian Perindustrian dan stakeholder terkait telah memperoleh solusi
mengatasinya, yakni penggunaan suatu formula untuk menjadikan garam nasional kita
berkualitas satu. Tapi mungkin masih membutuhkan waktu tuk dirilis. Sebut saja Ramsol
kepanjangan dari Garam Solusi, yaitu sebuah hasil temuan dari mantan seorang PNS
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Hasan Achmad Sujono, yang memang fokus
terhadap permasalahan garam di Indonesia. Beliau telah menciptakan suatu bubuk yang dapat

meningkatkan kualitas garam. Semoga saja suatu saat nanti berkat temuan beliau, Ramsol dapat
memajukan industri garam rakyat setara dengan garam kelas industri di luar negeri, sehingga kita
tidak perlu lagi mengimpor garam.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rachmat Gobel
mengatakan untuk meredam banjirnya impor garam yang merugikan petani, pemerintah harus
bertindak cepat memperbaiki pengawasan dan selektif memberikan izin impor sehingga
penyerapan garam petani dapat berjalan baik. Selain itu, posisi tawar petani garam harus
ditingkatkan dengan cara memangkas jalur distribusi yang berpotensi menggerus harga garam
petani. Yang paling penting di antara semuanya adalah upaya restrukturisasi dan modernisasi
teknologi industri garam sehingga meningkatkan produktivitas luas lahan pegaraman yang
sempit. Intinya ada pada nilai tambah, terangnya. Di samping upaya kontrol dan verifikasi
impor, pemerintah harus memperbaiki tata niaga melalui mekanisme stabilisasi pasokan agar
neraca kebutuhan seimbang. Jika relokasi lahan di luar Madura sulit direalisasikan, pemerintah
dapat melakukan langkah intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pegaraman di wilayah Madura
dengan penetapan tata ruang yang jelas sehingga paradoks industri garam bisa segera diakhiri.

Terlepas dari kebijakan pergaraman nasional yang masih amburadul, tampaknya


pemerintah sejauh ini memang tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk menjadikan negeri ini
mandiri dalam memenuhi kebutuhan garam nasional. Pemerintah-dan tentu saja PT Garamterlihat pasrah begitu saja atas kondisi alam Indonesia yang dinilai tidak memenuhi tiga
persyaratan umum tadi, dan lebih memilih menjadikan negara ini sebagai net importir. Padahal
jika ditengok lebih jauh, Jepang yang merupakan negara dengan empat musim dan juga memiliki
banyak muara sungai ternyata mampu memproduksi garam lebih banyak daripada Indonesia,
begitu pula dengan Australia dan negara lainnya. Apabila diteliti lebih jauh, kondisi alam di
hampir semua negara produsen garam di dunia, ternyata juga tidak sepenuhnya memenuhi tiga
persyaratan umum yang disebutkan Atih. Namun, faktanya mereka mampu memproduksi garam
lebih banyak daripada Indonesia. Mengapa ? Sebab mereka memiliki kemauan sehingga
akhirnya tercipta teknologinya. Kalaupun Indonesia tidak mampu menciptakan teknologinya,
mengapa pemerintah dan PT Garam tidak membeli saja teknologinya dan belajar dari mereka,
bukannya malah pasrah pada keadaan. Untuk itu, jangan pula dibilang naif jika ada sebagian
orang yang berpikir bahwa jangan-jangan Pemerintah (PT Garam) sengaja memilih menjadi
importir karena jauh lebih nikmat ketimbang menjadi produsen yang serba merepotkan. Jika mau
fair semestinya pemerintah mengaudit secara menyeluruh terhadap PT Garam termasuk aktivitas
impornya.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1.

Karena produksi garam lokal masih belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Yang terpenuhi hanya kebutuhan garam dapur saja, itupun kurang asin, sebab kualitasnya kalah
jauh dari garam impor, karena terkendala oleh cuaca, teknologi dan lain sebagainya. Sedangkan
untuk garam industri masih belum bisa terpenuhi.

2.

Ada tiga syarat vital untuk menghasilkan kualitas garam yang sesuai standar,yang
pertama yaitu, air laut sebagai bahan baku harus memiliki kadar garam yang tinggi. Kadar garam
bisa tinggi jika di pantai itu tidak terdapat muara sungai sehingga air laut harus jernih. Selain itu,
pasang surut air laut yang mencapai permukaan daratan tidak lebih dari 2 meter. Kedua adalah
pantai/daratan sebagai ladang pegaraman utama dengan tinggi sekitar 3 meter di atas permukaan
laut sehingga air laut tidak boleh porous atau merembes ke dalam tanah (ladang). Untuk ladang
perorangan dibutuhkan minimum 1 hektare, sedangkan untuk perusahaan sedikitnya 4.000
hektare. Ketiga, iklim sebagai sumber energi. Curah hujan di suatu pantai ladang garam
maksimal berkisar 1.000 milimeter 1.300 milimeter (mm) per tahun dengan tingkat kemarau
kering berkelanjutan sedikitnya 4 bulan per tahun, jarang mendung dan berkabut serta
kelembapan yang rendah (terus-menerus panas).

Rimanews - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah bertekad menghentikan
impor garam. Kabar ini seperti de javu karena menteri kelautan sebelumnya juga pernah
menyatakan hal yang sama. Sayangnya, tekad itu hanya menjadi sebatas wacana di masa lalu.

Tekad menteri Susi untuk menghentikan impor garam disampaikan pada saat acara Adibakti
Mina Bahari pada Kamis (4/12). InsyaAllah garam impor akan disetop, tegasnya.
Kita tidak boleh lagi punya policydan regulasi yang menguntungkan minoritas. Pengusaha
impor itu berapa jumlahnya? Petani kita jumlahnya ribuan, tambah menteri Susi. Ia mengaku
sudah mendapatkan persetujuan dari dua kementerian yakni kementerian perdagangan dan
kementerian perindustrian. Menteri Susi sebelumnya menyesalkan kebijakan kementerian
perdagangan dan kementerian perindustrian yang membuka keran impor garam. Namun, dua
kementerian tersebut terpaksa membuka keran impor karena memang produksi nasional tidak
mencukupi kebutuhan.

Saat ini kebutuhan garam di dalam negeri mencapai 3 juta ton per tahun dengan rincian 1,4
juta ton untuk konsumsi dan 1,6 juta ton untuk industri. Sementara produksi garam rakyat pada
tahun 2013 tercatat sebesar 1.319.607 ton. Dari jumlah tersebut bisa mencukupi kebutuhan
garam konsumsi nasional sebesar 1.242.170 ton. Ini artinya, memang dari sisi produksi sama
sekali tidak mencukupi kebutuhan nasional. Mau tidak mau, impor menjadi salah satu solusi
jangka pendek.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, total garam impor selama Januari
2014 mencapai 278 ribu ton atau naik 78% secara volume. Dari sisi nilai impor mencapai USD
13,4 juta atau naik 75 persen. Indonesia tercatat pernah mengimpor garam dari India, Jerman,
Australia, Selandia Baru, hingga Singapura. Impor memang menjadi salah satu solusi jangka
pendek. Namun, pemerintah harus memikirkan solusi jangka panjangnya. Dengan potensi alam
yang berlimpah, sudah sewajarnya jika Indonesia menjadi eksportir garam. Sayangnya, potensi
itu tidak dikembangkan dengan baik. Wilayah pesisir dan kehidupan nelayan justru identik
dengan kemiskinan karena pengabaian oleh pemerintah

Produksi garam memang menghadapi beragam masalah yang harus mendapatkan penanganan
dengan baik. Salah satu permasalahan adalah anomali cuaca dan hujan yang terus mengguyur di
sejumlah sentra garam. Apabila musim hujan lebih panjang ketimbang musim kemarau maka
kualitas garam tidak bagus.

Faktor lain yang menghambat adalah pengelolaan yang masih tradisional dan hanya bergantung
kepada alam. Selain itu juga terjadi konversi lahan garam yang tinggi. Kendala lainnya adalah
hasil melimpah tetapi sulit untuk dipasarkan dan akses permodalan dan kelembagaan petani
garam rendah.

Faktor utama lagi adalah kualitas garam produksi dalam negeri masih rendah yang masih sangat
rendah yakni kandungan natriumchloride (NaCl) kurang dari 96 persen. Garam lokal juga masih
banyak yang berwarna kecoklatan karena pengolahannya yang kurang baik.

Padahal sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), setidaknya ada 13 kriteria standar mutu yang
harus dipenuhi oleh produsen garam, antara lain penampakan bersih, berwarna putih, tidak
berbau, tingkat kelembaban rendah, dan tidak terkontaminasi dengan timbal/bahan logam
lainnya. Selain itu, sesuai SNI kandungan NaCl untuk garam konsumsi manusia tidak boleh lebih
rendah dari 97% untuk garam kelas satu, dan tidak kurang dari 94% untuk garam kelas dua.

Menghentikan impor garam adalah tujuan yang mulia demi meningkatkan taraf hidup petani
garam dan juga kedaulatan nasional. Namun, perlu diingat bahwa penghentian impor harus
dibarengi dengan langkah revitalisasi garam sehingga kebutuhan nasional tidak terabaikan. Jika
itu dilakukan, maka impor garam tidak lagi menjadi wacana.