Anda di halaman 1dari 40

I.

PENDAHULUAN
A. Definisi Material cetak
Beberapa alat kedokteran gigi, misalnya gigi tiruan sebagian (OTS), gigi
tiruan lengkap (GTL), alat orthodonsi, serta mahkota dan jembatan, dibuat di luar
rongga mulut. Pembuatan alat tersebut memerlukan tiruan/model jaringan rongga
mulut pasien. Model ini dibuat dengan cara mencetak jaringan rongga mulut
pasien, dengan demikian diperlukan material cetak.
Material cetak adalah bahan untuk membuat replika/ tiruan/cetakan akurat
dan jaringan mulut. Jaringan mulut terdiri dari jaringan keras dan lunak. Cetakan
jaringan keras dapat berupa 1 gigi, beberapa gigi, sebagian rahang dan gigi,
rahang dan selunih gigi, atau rahang tanpa gigi. Hasil cetakan berupa reproduksi
negatif, kemudian diisi bahan model (gips) sehingga menghasilkan model positif.
Model gips ini yang digunakan untuk pembuatan alat-alat kedokteran gigi.
B. Persyaratan Material cetak
Syarat material cetak dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu pasien dan dokter gigi
(Tabel I).
Tabel I : Persyaratan material cetak ditinjau dan pasien dan dokter gigi
1.
2.
3.
4.
5.

Pasien
Rasa dan bau netral
Waktu setting pendek
Sendok cetak kecil
Mudah dikeluarkan
Tidak beracun

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dokter gigi
Mudah dimanupulasi
Waktu kerja pendek
Mudah dikeluarkan
Kualitas cetakan bagus
Murah
Mudah didisinfeksi

Persyaratan matenal cetak dapat dibahas dengan tepat dalam empat topik
utama, yaitu : (1) Faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi cetakan, (2)
Faktorfaktor yang mempengaruhi stabilitas dimensi cetakan, (3) Variabel
manipulatif, seperti kemudahan penanganan, dan karakteristik setting, serta (4)
Faktor-faktor tambahan, seperti biaya, rasa, dan warna.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi cetakan
Ada 3 hal yang mempengaruhi akurasi cetakan, yaitu reologi, perubahan
dimensi saat setting, dan elastisitas. Tiga hal ini merupakan faktor yang
mempengaruhi akurasi material cetak selama penode insersi di dalam rongga
mulut, saat setting, dan pelepasan cetakan dari rongga mulut.

a. Reologi
Agar dapat mencetak rincian halus jaringan keras dan lunak rongga
mulut, material cetak hams berbentuk cair ketika dimasukkan ke dalam
mulut pasien. Hal mi memerlukan viskositas yang rendah atau derajat
pseudoplastisitas. Saat pencetakan, material cetak dapat berinteraksi
dengan saliva. Hal ini dapat mempengaruhi reproduksi rincian halus. Ada
material cetak yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) sehingga dapat
memmbulkan lubang-lubang kecil pada hasil cetakan. Beberapa material
cetak bersifat hidrofilik sehingga Iebih kompatibel dengan kelembaban dan
saliva.
b. Perubahan dimensi saat Setting
Setting material cetak melalui penibahan fisik yang sederhana atau
reaksi kimiawi. Proses tersebut dapat menyebabkan perubahan dimensi
yang biasanya akan mempengaruhi akurasi. Material cetak yang mengalami
kontraksi selama setting akan menghasilkan ekspansi/pembesaran rongga
cetakan, sedangkan material cetak yang mengembang selama setting akan
menghasilkan model yang ukurannya lebih kecil. Material cetak akan
mengalami perubahan temperatur sekitar 100 saat dikeluarkan dan mulut
pasien. Hal tersebut dapa menimbulkan kontraksi termal.
c. Elastisitas
Material cetak harus memiliki elastisitas dan tear resistance yang
cukup baik agar dapat mencetak undercut. Material cetak yang elastis akan
mampu mencetak undercut secara akurat. Material cetak yang plastis akan
mengalami distorsi selama pelepasan cetakan dan tidak dapat mencetak
undercut. Material cetak viskoelastis menghasilkan bentuk yang berubah
dan aslinya. Saat dilepas dari rongga mulut, material cetak akan mengalami
tegangan tank yang besar di daerah undercut. Material cetak hams mampu
menahan tegangan tersebut tanpa robek. Dengan demikian, diperlukan
material cetak dengan tear resistance (ketahanan terhadap perobekan)
yang tinggi.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas dimensi hasil cetakan
Setelah cetakan dilepas dan rongga mulut, dilakukan pengisian cetakan
untuk mendapatkan reproduksi positif. Tahap ini seringkali ditunda karena
beberapa alasan, misalnya dokter tidak mengisi cetakan sendiri dan

mengirimnya ke laboratorium. Pengisian dapat tertunda karena pekerjaan


laboran banyak atau letak laboratorium yang jauh. Stabilitas dimensi
merupakan tingkat akurasi cetakan selama penode setelah pelepasan hingga
pengisian cetakan (selama penyimpanan atau transportasi).
Beberapa faktor dapat memberi kontribusi terhadap perubahan dimensi
selama periode tersebut adalah:
a. Berlanjutnya reaksi setting (setelah waktu setting nyata)
Hal ini dapat menyebabkan perubahan dimensi selama jangka waktu
tertentu.
b. Pemulihan elastik yang lambat pada material viskoelastik, mungkin berlanjut
beberapa saat setelah cetakan dilepas. Hal ini dapat menyebabkan
perubahan dimensi.
c. Terjadinya tegangan internal saat pendinginan dari suhu mulut ke suhu
kamar. Saat penyimpanan dapat terjadi distorsi karena bahan mencoba
memulihkan tegangan internal. Hal ini terutama terjadi pada material cetak
termoplastik.
d. Penguapan komponen material cetak selama penyimpanan. Hal mi
menimbulkan pengkerutan material cetak dan menyebakan peruabahan
dimensi.
3. Variabel Manipulatif
a. Metode penakaran.
Material cetak tersedia dalam beberapa bentuk: serbuk dan air, pasta
dan cairan, dua pasta, dan tanpa satu bahan. Material cetak yang dicampur
memerlukan pengukuran perbandingan yang tepat. Bila perbandingan dan
pencampuran tidak sempurna, bagian tertentu material cetak tidak
mengalami pengerasan.
b. Karakteristik setting.
Sifat ini berpengaruh penting terhadap kemudahan penanganannya
sehingga menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan material cetak.
Material cetak yang lunak pada pemanasan dan mengeras karena
pendinginan, sulit ditangani oleh dokter gigi, terutama yang belum
berpengalaman. Material cetak yang mengeras melalui reaksi kimiawi,
setting nya dimulai saat bahan dicampur dan ditandai dengan perubahan
viskositasnya. Bagi ketepatan dan kenyamanan dokter gigi serta pasiennya,

kombinasi sifat yang paling ideal adalah waktu kerja yang panjang dan
waktu setting yang pendek.
c. Tipe sendok cetak.
Bila sendok cetak tidak tepat, material cetak dapat lepas dan sendok
sehingga terjadi distorsi pada cetakan.
4. Faktor-faktor tambahan
Material cetak harus tidak beracun, tidak iritan, bersih waktu digunakan,
dan mempunyai bau serta rasa yang dapat diterima. Material juga harus
mempunyai shelf life yang panjang, hingga dapat disimpan lama sebelum
digunakan.
C. Klasifikasi Material cetak
Material cetak dapat diklasifikasikan atau dikelompokkan menurut beberapa
cara :
1. Berdasarkan nama kimiawi generiknya. Misalnya: material cetak silikon dan
material cetak zink oksida eugenol.
2. Berdasarkan

sifat

bahan

sebelum

setting

(viskositasnya).

Viskositas

mempengaruhi detil jaringan keras yang dapat dicatat dan tingkat kompresi
jaringan lunak. Material cetak yang awalnya sangat cair disebut mukostatik
karena sedikit menekan jaringan, sedangkan material cetak yang awalnya
sangat kental disebut mukokompresif.
3. Berdasarkan sifat bahan sesudah setting (elastisitasnya). Elastisitas dan
ketegaran material cetak mempengaruhi kemampuan bahan untuk mencetak
undercut. Material cetak dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu jenis non
elastik (rigid/kaku) dan elastik. Material cetak non elastik adalah material cetak
yang tidak dapat melalui undercut sehingga penggunaannya terbatas pada
pasien tak bergigi dan tanpa undercut bertulang. Material cetak elastik adalah:
material cetak yang dapat melalui undercut, digunakan pada pasien bergigi
lengkap, bergigi sebagian, atau tanpa gigi.
Klasifikasi material cetak yang sering digunakan adalah berdasarkan
elastisitasnya (Tabel II).

Table II : Klasifikasi Material cetak


1.
2.
3.
4.

NON ELASTIK
Hidrokoloid
Plaster of Paris
1. Agar-agar (reversibel)
Impression Compound 2. Alginat (ireversibel)
Zink oksida eugenol/
ZOE
Impression waxes

ELASTIK (Elastomer)
1. Polisulfida
2. Polieter
3. Silikon

D. Aplikasi Material cetak


Material cetak digunakan untuk pencetakan berbagai alat-alat kedokteran
gigi. Setiap alat memerlukan tingkat keakuratan yang berbeda- beda sehingga
memerlukan material cetak dengan persyaratan yang berbeda pula. Aplikasi
material cetak dapat dilihat pada Tabel III.
Tabel III Aplikasi material cetak dan sendok cetaknya
Aplikasi
GTL (gigi tiruan lengkap)

Material cetak
Plaster of Paris
Zink oksida eug.
Compo/ZOE
Alginat

Sendok cetak
Stok/khusus
Khusus
Stok
Stok/khusus

GTS (gigi tiruan sebagian)

Alginat
Elastomer

Stok/khusus
Khusus

Mahkota, jembatan & inlay


Compo

Elastomer

Khusus

Material cetak digunakan memakai sendok cetak. Sendok ini diperlukan


sebagai tempat material cetak, terutama pada kondisi cair, sehingga material cetak
tersebut dapat dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencetak dan dikeluarkan
setelah mengeras. Sendok cetak juga berfungsi mendukung material cetak ketika
diisi dengan gips. Sendok cetak terdiri dari dua macam, stok dan khusus. Sendok
cetak stok (standar) terdiri dari dua macam, yaitu yang dapat digunakan berulang
kali (reusable) dan digunakan sekali (disposable).
Sendok cetak reusable terbuat dari logam (berlubang dan tidak berlubang)
dan sendok cetak disposable terbuat dari polimer (berlubang). Sendok cetak
khusus dibuat untuk keperluan khusus atau untuk pasien dengan bentuk dan
ukuran rahang tertentu. Sendok cetak ini sekali pakai dan dibuat dari shellac atau
resin.
Pemilihan sendok cetak ditentukan oleh viskositas material cetak. Beberapa
material cetak tidak tersedia dalam viskositas yang tinggi, sehingga perlu sendok
cetak khusus, misalnya : ZOE, polieter, dan polisulfida. Material cetak lain seperti :
plaster of Paris, alginat dan silikon dapat digunakan dengan sendok cetak biasa.

II. MATERIAL CETAK NON ELASTIK


A. Plaster of Paris (Gips plaster)
1. Komposisi
Secara umum komposisi material cetak gips plaster sama dengan gips
plaster yang digunakan untuk mengisi cetakan (gips untuk model) hanya
ditambahkan beberapa bahan lain untuk mendapatkan sifat yang diperlukan
sebagai material cetak.
Komponen utama

->

kalsium sulfat beta hemihidrat.

Komponen tambahan

->

potasium sulfat (mengurangi ekspansi)


borax (mengatur waktu setting)
starch (pemisah dengan stone model)

2. Reaksi setting
Serbuk gips plaster bila dicampur dengan air akan bereaksi membentuk
massa kalsium sulfat dehidrat yang kaku. Reaksi yang terjadi sama dengan
reaksi pada gips plaster untuk model.
(CaSO4)2.H2O

+ 3H2O >

Kalsium sulfat

air

hemihidrat

2 CaSO4.2 H20
Kalsium sulfat
dihidrat

3. Sifat-sifat
a. Viskositas rendah sehingga material cetak ini bersifat mukostatik.
b. Hidrofilik sehingga dapat beradaptasi baik dan dapat mencetak detil.
c. Kaku setelah setting sehingga tidak dapat mencetak undercut sehingga
hanya digunakan untuk mencetak rahang tanpa gigi.
d. Menimbulkan sensasi kering pada pasien.
B. Impression Compound
Material cetak ini sekarang jarang digunakan.
1. Komposisi
Komposisi bahan cetak ini sangat bervariasi dan biasanya menjadi
rahasia pabrik. Komposisi material cetak ini adalah campuran resin alami (mis.
shellac, dammar, rosin), wax (beeswax, colophony), plasticiser (guttapercha,
asam stearat), dan bahan pengisi (kalsium karbonat, lime stone).

2. Sifat-sifat
a. Material cetak ini sangat kental maka bersifat mukokompresif sehingga
tidak dapat mencetak detil.
b. Bila dingin kaku sehingga tidak dapat mencetak undercuts.
c. Stabiltas dimensi jelek dan konduktivitas panas rendah.
3. Manipulasi
Material cetak ini sebelum digunakan harus dilunakkan terlebih dahulu
dalam waterbath dengan suhu 55 - 60o C.
4. Aplikasi
Material cetak ini digunakan untuk cetakan awal rahang tak bergigi
Sehingga memerlukan sendok khusus.
C. Pasta Zink Oksida Eugenol
1. Komposisi
Material cetak ini sediaannya berupa 2 pasta dengan warna yang kontras.
Pasta 1 adalah pasta base (dasar) dan pasta 2 adalah pasta katalis. Pasta 1 =
base
Zink oksida

-> komponen utama

Olive oil/linseed oil -> plasticiser & pasta


Air

-> inisiasi reaksi

Zink asetat

-> akselerator

Pasta 2 = reaktor, katalis


Eugenol

-> komponen utama

Kaolin/talk

-> bahan pengisi

2. Reaksi setting
Asam + basa

--> garam + air

2C101H2O2 + ZnO

> Zn (C101H2O2)2 +H2O

Eugenol + Zink oksida --> Zink eugenolate + air


3. Manipulasi

Dua pasta dengan perbandingan sesuai pabrik (biasanya dengan panjang


yang sama) diletakkan di atas paper pad, kemudian diaduk dengan spatula
fleksibel hingga homogen (wama tercampur rata).
4. Sifat-sifat
a. Viskositas rendah maka bersifat mukostatik.
b. Adaptasi baik sehingga dapat mencetak detil.
c. Setelah setting bersifat kaku, maka tidak dapat mencetak undercuts dan
hanya digunakan untuk mencetak rahang tanpa gigi.
d. Stabilitas dimensi baik.
e. Pengkerutan selama setting kecil.
f.

Dapat memmbulkan sensasi terbakar & rasa tak enak.

g. Melekat pada kulit, maka kulit disekitar rongga mulut pasien perlu dilindungi
dengan petroleum jelly.

III. MATERIAL CETAK ELASTIK HIDROKOLOID


A. Sifat Umum
Hidrokoloid berasal dari kata hidro dan koloid. Koloid berasa! dan kata kola
yang artinya lem dan kata oid yang artinya seperti, maka koloid adalah zat seperti
lem dengan keadaan antara larutan dan suspensi. Larutan adalah campuran
homogen yang terdiri dan 1 fasa. Koloid adalah campuran heterogen, terdiri dan 2
fasa yang sulit dibedakan. Fasa terlarut tidak tampak secara mikroskopis,
ukurannya 1 - 200 nm. Suspensi adalah campuran heterogen, terdiri dari 2 fasa
yang jelas perbedaannya. Fasa terlarut tampak secara mikroskopis.
Koloid dengan media pelarutnya air, maka disebut HIDROKOLOID. Koloid
dapat berbentuk SOL atau GEL. Sol ada!ah materi berupa cairan kental dan gel
adalah materi dengan konsistensi seperti gelatin. Hidrokoloid dalam bentuk sol
disebut hidrosol dan dalam bentuk gel disebut hidrogel. Sol dapat diubah menjadi
gel dengan penggumpalan/aglomerasi molekul terlarut membentuk fibril atau rantai
molekul dalam bentuk jaringan. Fibril tersebut melingkupi bahan pelarut, misalnya
air.
Sol dapat diubah menjadi gel melalui 2 cara:
1. Penurunan temperatur (sifatnya reversibel).
Gel bila dipanaskan akan berubah menjadi sol, dan bila sol didinginkan akan
berubah kembali menjadi gel. Ikatan Van der Waals teijadi pada fibril dalam
keadaan gel.
2. Reaksi kimia (sifatnya ireversibel)
Kekuatan gel tergantung pada konsentrasi fibril (semakin tinggi akan semakin
kuat) dan konsentrasi bahan pengisi (mempengaruhi fleksibilitas). Gel dapat
menyerap atau kehilangan air atau cairan lainnya. Evaporasi adalah hilang nya
air melalui penguapan. Sineresis adalah hilangnya air karena molekul gel saling
mendekat akibat reaksi setting yang terus berlanjut, sehingga molekul air
terdesak ke permukaan. Imbibisi adalah bertambahnya air melalui penyerapan.
B. Material cetak Agar-agar
Material cetak agar-agar adalah polisakarida kompleks yang diekstraksi dari
rumput laut. Struktur molekul yang disederhanakan dan agar-agar dapat dilihat
pada Gambar 1. Umumnya material cetak agar-agar tersedia dalam bentuk gel
yang dikemas dalam tabung fleksibel (seperti wadah pasta gigi).

Gambar 1: Formula struktur yang disederhanakan dari rantai polisakari


polisakarida (agaragar).
1. Komposisi
Komposisi agar-agar
agar agar terutama adalah galaktose sulfat yang dengan air
membentuk gel. Salah satu contoh komposisi agar-agar
agar
adalah:
a. Agar 14%

-> sebagai koloid.

b. Borax 0,2%

-> memperkuat gel, memperlambat


setting stone gips

c. Potasium sulfat 2%

-> mempercepat setting stone gips

d. Air 83,8%

-> media dispersi!pelarut

2. Reaksi sol - gel


Reaksi atau perubahan
erubahan dan sot menjadi gel terjadi
terjadi karena perubahan
temperatur.
3. Manipulasi
Material cetak dalam kontainer
kontainer tertutup dimasukkan dalam air mendidih
selama 10-45
45 menit. Setelah dipanaskan tersebut, material cetak dapat
disimpan selama 8 jam pada suhu 650 C. Bila akan digunakan, material cetak
diletakkan pada sendok cetak khusus kemudian dimasukkan ke dalam water
bath dengan suhu 45oC selama 2 memt dan siap untuk dicetakkan.
4. Sifat-sifat
a. Reologi : cukup cair maka dapat mencetak detil permukaan.
b. Dapat melewati undercuts.
c. Mudah terjadi sineresis dan imbibisi, sehingga harus segera diisi gips
d. Kompatibilitas tergantung komposisi.
e. Tear resistance jelek.
f.

Dapat dipakai ulang dan disterilisasi.

5. Aplikasi
Material cetak agar-agar
agar agar digunakan untuk pencetakan dalam pembuatan
gigi tiruan, mahkota dan jembatan.
C. Material cetak Alginat
Bahan dasar material cetak alginat adalah
ah asam alginat yang berasal dari
rumput laut. Beberapa atom hidrogen pada gugus karboksil diganti oleh natrium,
potasium, atau ammonium. Senyawa tersebut larut dalam air. Formula struktur
yang sodium alginat dapat dilihat pada Gambar 2.
1. Komposisi
a. Sodium alginat 18%

-> pembentuk hidrogel

b. Kalsium sulfat dihidrat 14%

-> penyedia ion kalsium

c. Sodium fosfat 2%

-> kontrol waktu kerja

d. Potasium sulfat 10%

-> setting model

e. Pengisi (tanah diatom) 56% -> kontrol konsistensi


f.

Sodium silikofluorida 4%

-> kontrol pH

Gambar 2 Formula struktur asam alginat dan sodium alginat.


2. Reaksi Setting
Bila material cetak alginat dicampur dengan air, maka sodium alginat,
kalsium sulfat dan natrium fosfat akan terurai/terion. Pada tahap pertama akan
terjadi reaksi antara sodium fosfat dan kalsium sulfat membentuk kalsium fosfat
yang mengendap (reaksi 1). Reaksi ini akan terus terjadi hingga sodium fosfat
habis. Guna reaksi ini adalah untuk memperlambat pembentukan gel ( reaksi

antara sodium alginat dengan kalsium


kalsiu sulfat) agar didapat waktu ker
kerja yang
cukup.
(1) 2 Na3PO4 +3 CaSO4

-> Ca3(PO4)2 + 3Na2SO4

(2) NanAlg
g + n CaSO4

-> n Na2SO4+Can/2 Alg

Selanjutnya, sodium alginat akan bereaksi dengan kalsium sulfat


membentuk kalsium alginat yang tidak larut dalam air. Hanya partikel sodium
alginat pada lapisan terluar yang bereaksi. Fibril gel saling berikatan melalui ion
kalsium. Setiap ion kalsium mengikat 2 gugus karboksil dan molekul
alginat/polisakarida yang berbeda (Gambar 3).

Gambar 3 :

Reaksi setting pada material


mat
cetak alginat. Terjadi- nya ikatan
silang antara sodium alginat dengan ion kalsium.

3. Manipulasi
Material cetak alginat tersedia dalam kantung besar (untuk beberapa kali
pencetakan) atau sachet. Sebelum digunakan, material cetak harus dikocok
agar homogen atau komponennya tersebar merata. Perbandingan serbuk
dengan air (Water- powder ratio , atau W/P ratio) diukur sesuai petunjuk pabrik.
Biasanya telah disediakan sendok ukur untuk serbuk dan gelas ukur untuk
aimya. Digunakan air dengan suhu ruang. Bila air Iebih panas dan suhu ruang
akan mempercepat
empercepat reaksi, dan bila lebih
lebih dingin akan memperlambat reaksi.
Pengadukan air dan material cetak dilakukan dalam rubber bowl
(mangkuk plastik) dengan memakai spatula. Retensi alginat dengan sendok
cetak dapat melalui pemakaian sendok cetak berlubang atau bahan adesif
(sticky wax atau metil selulosa). Cetakan alginat harus dilepas dan secara
cepat dan jaringan mulut agar elastisitasnya tetap baik. Setelah dilepas,
cetakan alginat sebaiknya dicuci den
dengan
gan air dingin untuk menghilangkan saliva,

ditutup dengan serbet basah untuk mencegah sineresis, dan segera diisi gips
(kurang dan 15 menit dan pencetakan).
Berdasarkan sifat settingnya, material cetak alginat dibagi dalam 2 tipe
(Tabel IV).
Tabel IV : Penggolongan material cetak alginate menurut sifat settingnya.
Indicator
Waktu pengadukan
Waktu kerja
Waktu setting

Regular set
1
menit
3 - 4,5 menit
1 - 4,5 menit

Fase set
0,75
menit
1,25-2 menit
1 -2
menit

4. Sifat-sifat
1. Akurasi
Material cetak alginat cukup cair sehingga dapat mencetak detil permukaan.
Selama waktu kerja tidak ada perubahan viskositas. Selama setting,
Sebaiknya cetakan alginat tidak digerakkan. Elastisitas cukup baik, maka
dapat melewati undercuts. Alginat dapat robek bila undercuts terlalu besar.
Stabilitas dimensi kurang baik, karena terjadi evaporasi. Kompatibilitas
dengan gips baik.
2. Sifat lain.
a. tidak toksik, tidak iritan, bau dan rasanya dapat diterima.
b. Waktu setting tergantung komposisi dan suhu pencampuran.
c. Material cetak alginat tidak stabil dalam penyimpanan bila kondisinya
lembab atau suhunya tinggi.
d. Sulit disterilisasi, semprotan disinfektan mempengaruhi detil permukaan
sedangkan perendaman mempengaruhi ketepatan dimensinya.
5. Aplikasi
Material cetak alginat digunakan dalam pencetakan untuk alat prostetik
(gts, gtl) dan orthodontik. Alginat tidak baik untuk inlay, mahkota dan jembatan.
6. Perkembangan baru
a. Dustless alginates (alginat bebas debu). Penambahan glycol akan
menghasilkan alginat yang bebas debu.
b. Siliconised alginates. Alginat sistem 2 pasta, dengan tambahan polimer
silikon. Daya tahan terhadap perobekan tinggi, tetapi stabilitas dimensinya
jelek.
c. Kombinasi agar/alginat. Digunakan untuk pencetakan inlay.

IV. MATERIAL CETAK ELASTIK ELASTOMER


A. Sifat Umum
Material cetak yang ada masing-masing memiliki kekurangan. Material cetak
non elastik tidak dapat dilepas dan undercuts yang dalam, agar-agar dimensinya
tidak stabil dan hanya sesuai bila fasilitas laboratoriumnya dekat dan lengkap,
sedangkan material cetak alginat reproduksi detil permukaannya kurang baik.
Masih diperlukan material cetak yang akurat, pemulihan deformasinya besar, dan
memiliki stabilitas dimensi jangka panjang yang baik. Sifat-sifat tersebut dapat
ditemukan pada material cetak jenis elastomer.
Elastomer sintetis dikembangkan terutama untuk aplikasi industn, tetapi
potensinya di bithng kedokteran dan kedokteran gigi mulai disadan sehingga
sekarang digunakan sebagai material cetak. Material cetak elastomer dapat
diterima dengan baik karena memberikan pemecahan yang potensial terhadap dua
masalah utama yang berhubungan dengan material cetak hidrokoloid, yaitu tear
resistance dan stabilitas dimensi yang buruk.
Material cetak elastomer adalah polimer yang digunakan pada suhu di atas
glass transition temperature (Tg). Bahan ini menjadi lebih cair bila suhunya
dinaikkan hingga di atas Tg. Viskositas polimer yang digunakan sebagai material
cetak terutama diatur oleh berat molekul polimer dan adanya bahan tambahan
(misalnya bahan pengisi). Material cetak elastomer pada suhu kamar berujud
cairan (liquid) tetapi dapat berubah menjadi padat (solid) melalui pengikatan
molekul rantai-rantai panjang. Proses pengikatan rantai membentuk jaringan 3
dimensi disebut cross-linking (pengikatan silang) dan menjadi dasar transisi
cairpadat pada semua material cetak elastomer. Ada empat tipe elastomer yang
digunakan sebagai material cetak, yaitu : polisulfida, silikon, silikon adisi, dan
polieter.
B. Polisulfida
Polisulfida disebut juga rubber-base, mercaptan, atau thiokol. Sediaan
polisulfida berupa 2 pasta, yaitu pasta dasar/base (wama putih) dan pasta katalis
(warna coklat).
1. Komposisi
Base

: polisulfida
bahan pengisi (Ti02) 11 -54%

Katalis

: Pb02 -> polimerisasi dan ikatan silang


Sulfur

Minyak

: ester / chlorinated paraffin

2. Reaksi setting
Reaksi setting polisulfida terjadi
ter
melalui oksidasi gugus -SH
SH terminal
danpendant -SH
SH (gugus merkaptan) oleh PbO2.
PbO Oksidasi gugus -SH
SH terminal
menghasilkan pemanjangan rantai dan oksidasi pendant -SH
SH menghasilkan
ikatan silang antar rantai polisulfida. Reaksi polimerisasi kondensasi ini
menghasilkan
ilkan satu molekul air sebagai hasil
h
samping pada setiap tahap reaksi
(Gambar 4). Saat pemanjangan rantai terjadi, viskositas polisulfida meningkat.
Bila derajat pengikatan silang mencapai
ai tingkat tertentu, polisulfida menjadi
bersifat elastis.

Gambar 4

Struktur polisulfida dan reaksi setting (ikatan silang dan pemanjangan


rantai) polisulfida.

3. Modifikasi
Penggunaan
ggunaan senyawa timah hitam (PbO2)
(PbO2) dalam material cetak
polisulfida menjadi perhatian karena timah hitam bersifat toksik. Dilakukan
beberapa
rapa modifikasi untuk menghindari penggunaan
gunaan timah hitam. Pertama,
PbO2 diganti t-butil
butil hidroperoksida, atau cumene hidroperoksid tetapi bahan
tersebut mudah menguap sehingga menyebabkan pengkerutan
p
rutan material cetaic
Kedua, PbO2
2 diganti zink karbonat yang penanganannya
penanganannya bersifat lebih bersih
dibandingkan
gkan dengan polisulfida konvensional.

C. Silikon Kondensasi
Ada dua macam silikon, yaitu silikon kondensasi (condensation
(condensation-cured
silicones) dan silikon adisi (addition-cured
(addition cured silicones) . Bahan dasar keduanya
adalah polimer polidimetil siloksan (polydimethyl siloxane polymer) tetapi
mempunyai gugus akhir yang berbeda serta mekamsme reaksi setting yang
berbeda pula.
Silikon kondensasi berbentuk sediaan
sediaan 2 pasta, pasta dasar (base) dan
katalis (reaktor).
1. Komposisi
Base

polimer silikon dgn terminal gugus hidroksil


(Gambar 5)
bahan pengisi (silika)

Reaktor

cross-linking
linking agent (alkoksi ortosilikat,
organo hidrogen siloksan)
aktivator (dibutyl-tin
(dib
dilaurate)

Gambar 5 : Polimer dimetil siloksan dengan terminal gugus hidroksil.


2. Reaksi setting
Reaksi pembentukan ikatan silang pada silikon kondensasi dengan 2
cara.. Reaksi setting polimer silikon dengan cross-linking
cross linking agent alkoksi
ortosilikat akan menghasilkan polimer silikon (yang benkatan silang) dengan
hasil samping alkohol (Gambar 6). Penguapan alkohol ini akan menyebabkan
silikon mempunyai dimensi yang kurang stabil.
stabil. Reaksi silikon dengan organo
hydrogen siloxane mempunyai hasil samping hidrogen yang menyebabkan
pitting pada permukaan dental stone (Gambar 7).

Gambar 6 : Reaksi silikon dengan alkoksi ortosilikat.

organohidro
siloksan.
Gambar 7 : Reaksi silikon dengan organohidrogen
D. Silikon Adisi
Silikon adisi penggunaannya lebih luas karena dapat mengatasi adanya hasil
samping seperti pada silikon kondensasi.
ko
Sediaannya terdiri dari 2 pasta dengan
viskositas yang bervariasi, yaitu putty, heavy, medium, danlight.
1. Komposisi
Base

polivinil siloksan (Gambar 8)


silanol
bahan pengisi

Katalis

polivinil siloksan
katalis logam mulia (H2PtC16)
bahan pengisi

2. Reaksi setting
Reaksi setting silikon adisi dengan katalis logam mulia (platinum) akan
membentuk polimer silikon yang berikatan silang (cross-link
(cro link silicone rubber)
tanpa hasil
asil samping (Gambar 9).

Gambar 8 : Struktur polivinil siloksan

Gambar 9 : Reaksi pengikatan silang pada


pada material cetak silikon adisi.
E. Polieter
Polieter tersedia dalam bentuk 2 pasta dengan satu macam viskositas.
1. Komposisi Base
Base

polieter tak jenuh


jenu dengan gugus imina(Gambar 10)
plasticiser
bahan pengisi

Katalis

aromatik sulfonat
plasticizer
bahan pengisi

Gambar 10 Struktur polieter.

2. Reaksi setting
Reaksi setting polieter
poliete terjadi dengan pengikatan silang
lang gugus imina
melalui polimerisasi kationik. Reaksi ini tanpa hasil samping maka stabilitas

dimensi polieter baik. Polieter mengabsorpsi air maka disimpan di tempat


kering.

Gambar 11 :Reaksi pengikatan


engikatan silang pada polieter.
F. Manipulasi dan Sifat Elastomer
Beberapa hal yang hams diperhatikan pada manipulasi elastomer adalah:
1. Pencampuran hams merata / homogen.
2. Silikon adisi peka terhathp kontaminasi.
3. Material cetak melekat pada sendok cetak dengan bahan adesif, misalnya
rubber solution.
4. Ketebalan material cetak hams merata, 22 3 mm.
5. Teknik pencetakan satu tahap lebih baik.
6. Cetakan elastomer dilepas dengan
d
cepat dan jaringan mulut.
Beberapa sifat penting dan elastomer adalah:
1. Akurasi.
Kekentalan material cetak ini tergantung komposisinya. Secara umum,
elastomer dapat mencetak detil permukaan. Polymerisation shrinkage selama
setting menyebabkan sedikit kontraksi. Kontraksi dapat juga terjadi saat
pendinginan dan suhu mulut ke suhu ruang. Koefisien ekaspansi termal
polieter> silikon > polisulfida.
2. Cukup elastis sehingga dapat melewati undercuts dan tidak mudah robek.
3. Stabilitas dimensi silikon> polieter> polisulfida.
4. Secara umum kompatibel dengan bahan model dan die.
5. Tidak toksik dan tidak iritan. Bau dan rasa bahan yang mengandung timah
hitam kurang enak.
6. Waktu setting tergantung komposisi.

7. Stabilitas bahan dalam penyimpanan kurang baik.


8. Dapat distenilisasi dengan perendaman dalam hipokiorit atau glutardehida.
G. Aplikasi Elastomer
Material cetak untuk pembuatan inlay, mahkota dan jembatan, gigi tiruan
sebagian bila undercutnya besar. Bahan ini cukup mahal, sehingga jarang dipakai
untuk cetakan yang memerlukan banyak material cetak.

LOGAM DAN ALOI KEDOKTERAN GIGI


Konsep Dasar :
Metal merupakan unsur terbesar (80) dari 103 unsur yang terdapat dalam Tabel
Periodik Unsur. Logam dapat dkelompokkan menjadi 2 :(a) Light metal dan (b) Heavy
metal : dengan sifat high melting dan low melting. Karakeristik logam sangat sukar
dibedakan antar unsur satu dengan lainnya. Pada umumnya logam dalam bentuk
padat kecuali air raksa dengan ciri-ciri yang hampir sama: mengkilat, kuat, ductile,
malleable, sebagai konduktor panas dan listrik serta berwarna keputihan kecuali emas
dan tembaga.
Struktur logam
Logam mempunyai struktur kristal dengan inti atom dikelilmgi dengan kabut
electron yang bersifat sebagai electron bebas. Elektron bebas dalam struktur
menyebabkan unsur logam mempunyai peran sebagai konduktor listrik maupun panas.
Sifat konduktor mi ditentukan oleh thermal gradient atau electric field dengan potential
gradient. Sifat logam sangat berkorelasi dengan valensi electron bebas, bentuk ruang
kisi-kisi dan dimensi ruang kisi-kisi.
Pemadatan logam.
Logam didapatkan dari alam dalam bentuk campuran. Untuk mendapatkan
logam murni dilakukan dengan cara pemanasan - pencairan kemudian pemadatan.
Pencairan melalui beberapa tahapan tertentu. Setelah logam mencair kemudian
didinginkan, maka pada fusion temperature (Tf) atau freezing point atau solidfication
temperature cairan logam akan mulai memadat (solid state). Akan tetapi penurunan
suhu terjadi di bawah Tf kemudian akan naik lagi sampai Tf dan fase ini dikenal
sebagal supercooling. Setelah fase ini maka akan terbentuk embryo nuclei yang makin
lama makin banyak dan makin besar. Perkembangan lebih lanjut terjadi solidfication
nucleus dalam bentuk horn genous maupun heterogeus solidfication, selanjutnya
terjadi percabangan-percabangan berbentuk dendrite (crystallise tree-like). Akir
perkembangan kristal ini dengan terbentuknya batas-batas flap kristal (grain boundary
single crystal). Pengendalian ukuran kristal tergantung dari : kuantitas supercooling,
kecepatan cooling clan kecepatan kristalisasi.

Struktur gram & kristal


Gram yang halus biasanya didapatkan dengan cara penambahan grain finer dan
proses pendinginan yang cepat. Dari grain kristal ini akan membentuk kisi-kisi kristal 3
dimensi yang bervariasi menurut jenis logamnya. Kisi-kisi kristal dapat berbentuk:
cubic, body centre cubic, face centre cubic, rhombic centre cubic, orthorhombic,
rhomboheral, monoclinic, tetrahedral atau hexagonal. Kristal-kristal ini membentuk
solid solution fase alloy dan tergantung: (a) ukuran atom; bila ukurannya kurang dari
15% dinyatakan sama fasa nya, sedangkan bila lebih dari 15% maka dinyatakan
berbeda fasanya. (b) Valensi atom; atom dengan valens tinggi lebih mudah larut. (c)
Afinitas kimiawi; bila terdapat brda afmitas maka akan terbentuk fasa intermetalik. (d)
Tipe kisi-kisi; beda ukuran kisi-kisi sebesar 8% masih merupakan fasa yang continues.
Aloi (logam paduan) merupakan paduan dari beberapa unsur logam. Sistem aloi
pada umumnya menggunakan unsur penyusun sebagai kriterianya sehingga dapat
berupa binary system, ternary system, quarternary system dst. Kategori aloi lainnya
dapat berdasarkan atas : (a) noblitas: noble dan non noble, (b) Nilai price: precious dan
non precious, (c) Warna: yellow alloy dan white/silver alloy, (d) Penggunaan: dental
casting, wire/wroutght alloy, solder alloy dst.
LOGAM NOBLE
Logam nobel mempunyai sifat resistensi terhadap tarnish dan korosi. Termasuk
dalam logam nobel ini athlah: emas (Au), platina (Pt), paladium (Pd), indium (Ir),
ruthenium (Ru), nobium (Nb) dan osmium (Os). Iridium dan rutenium dapat digunakan
sebagai grain finer pada gold alloy.
Emas (Au)
Logam mulia ini dapat digunakan dalam bentuk murni atau aloi. Emas
mempunyai resistensi terhadap korosi, malleability tinggi dengan melting point relative
rendah. Kandungan emas dalam aloi dapat dinyatakan dalam bentuk: persentase,
karat dan fineness (f). Untuk emas murni dapat dinyatakan kadarnya dengan: 100%
atau 24 karat atau 1000 f.
Penambahan unsur logam kedalam emas akan membentuk aloi emas dengan variasi
sifat.

Densitas gr/cm3
Warna
Melting point C
Reaksi
Resistensi thd tarnish
Efek thd hardness

Au
19,3
kuning
1063
inert
excellent
-

Pt
21,5
putih
1769
inert
excellent
naik

Pd
12,0
putih
1552
mild
very good
naik

Cu
9,0
merah
1083
reaktif
fair
naik

Ag
10,5
putih
961
aktif
poor
naik

Direct Filling Golds (DFGs)


Emas telah sejak lama digunakan sebagai tumpatan gigi. Tumpatan dengan
material DFGs terutama untuk lokasi dengan tanpa tekanan oklusal yang berat. Untuk
mendapatkan retensi dalam kavitas gigi dilakukan pemampatan/pemadatan atau
kondensasi menggunakan mallet atau condenser. Penumpatan dilakukan dengan
menempatkan butir perbutir/lembar per lembar /piece. Hasil kondensasi atau kompaksi
tergantung kepada: (a) size of condenser point,(b) pressure application dan (c) density.
Sediaan DFGS dalam bentuk: (a) Foil berupa: cohesive & non cohesive sheet,
ropes, cylinders, laminated, platinized. (b) Electolyt precipitate berupa mat, mat foil
atau alloyed dan (c) powder.
Saat ini akibat pergeseran budaya terutama penggunaan emas pada tubuh untuk
menunjukkan status social telah berganti dengan technology information (TI), maka
DFGs sebagai tumpatan gigipun sudah sangat jarang DFGs digunakan disamping itu
harganya sangat mahal.
ALOI LOGAM
Sifat-sifat
Alloi mencair pada range temperatur masing-masing unsur penyusun, sehingga
mempunyai temperature liquidus dan temperature solidus terentu. Aloi dengan
densitas

tinggi dengan konsekuensi proses casting lebih mudah (akibat gaya

gravitasi). Aloi mempunyai kekuatan (strength) tertentu. Srength ini tidak dengan nilai
mutlak tetapi ada simpangan distorsi dan ukurannya dan dikenal sebagai persentase
distorsi strength yang disebut dengan % offset. Aloi yang mempunyai hardness lebih
tinggi dibanding dengan email gigi, maka bila digunakan akan berakibat pada gigi
antagonis menjadi aus dan terjadi gangguan system temporomandibular joint (TMJ).
Penggunaan aloi dalam mulut dan gigi memerlukan persyaratan utama yakni
biokompatibilitas aloi tinggi. Dengan demikian penggunaan aloi untuk klims sangat
diperukan uji biokompatibilitas. Pada umumnya biokompatibilitas aloi berkorelasi
dengan korosi. Unsur logam yang lepas, dapat menyebabkan reaksi sampingan

berupa: alergi, initasi,dermatitis, rasa logam dll. Aloi base metal mempunyai sifat
predominan untuk terjadinya lepasan unsur logam.

BASE METAL
Aloi ini mempunyai tendensi terjadi korosi. Jenis aloi ini banyak digunakan
untuk kedokteran gigi meliputi unsur: Ti, Ni, Cu, Ag dan Zn. Bila aloi ini dipadu dengan
nobel metal, maka akan terjadi peningkatan sifat fisis-mekanis. Misalnya penambahan
Cu akan memperkeras dan memberikan warna kemerahan pada aloi. Penambahan Zn
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya oksidasi pada waktu peleburan dengan
mekanisme scavenger dan oksida yang terapung pada permukaan cairan logam.

PREDOMINANTLY BASE METAL ALLOY


Komposisi aloi dengan unsur utamanya berupa: Ni, Co dan Ti dan sedikit
kandungan nobel metal. Aloi ini bersifat sangat kompleks yang terdiri dari 6 sampai 8
unsur misalnya: molybdenum, hromium, aluminium, vanadium, iron, carbon, beryllium,
gallium manganese, silicon. Dari komposisi ini akan menghasilkan high yield strengh,
hardness dan low density. Penggunaan bahan ini mempunyai keterbatasan dalam
teknik casting dan polishing agak sukar.
Klasifikasi Dental Casting Alloy
(a) Berdasarkan jumlah unsur penyusun:
-

Binary system

Ternary system

Quartemary system dst

(b) Berdasarkan dental function (the Bureau of Standard):


-

Type I alloy (soft): untuk inlai kecil dengan tekanan kecil.

Type II alloy (medium): untuk gigi dengan mendapat tekanan moderat misalnya
untuk % crown, abutment, pontic, full crown.

Type III alloy (hard): untuk gigi yang mendapat teanan okiusal tinggi termasuk
% crown, full crown, cast backing, abutment, pontic, denture base, fixed partia
dentre (kecil), inlay.

Type IV alloy (extra hard): untuk inlay, denture bar, clasp, full crown, fixed
partial denture, partial denture frame work.

Metal ceramic alloy (hard & extra hard): coping, veneer dental porcelain, crown
(dinding tipis).

Removable partial denture alloy: RPD frame work ,iatnya ringan tetapi kuat.
Alloi ini digunakan sebagai pengganti Type IV alloy.

(c) ANSI-ADA SYSTEM


-

High noble alloy: jika Au lebih dari 40% dan noble metal minimal 60%

Noble alloy: Jika noble metal minimal 25%, boleh tanpa emas.

Base metal alloy: tana emas dan kandngan noble metal kurang dari 25%

Sifat fisis-mekanis aloi :


Klasifikasi alloy
(ANSI_ADA)
High noble:
- gold-platinum
- gold-copper-silver
Noble:
- silver-gold-copper
- palladium-copper
- silver-palladium
Base metal:
- Ni-based
- Co-based
- Ti-based -

Melting
range (C)

Density
Gn/cm3

Yield
strength
MPa

Hardness
Kg/mm2

1045-1140
910-1045

18,4
15,6

420/470
270/400

175/195
135/195

865-925
1100-1190
1020-1100

12,4
10,6
10,6

325/520
1145
260/325

125/215
425
140/1 55

1275
1400-1500
1700

7,5
7,5
4

710
870
300

340
380
-

Komposisi gold alloy (ADA) dan sifat


Klasifikasi
Type I
Type II
Type III
Type IV
Medium-Au
Low-Au
Ag-Pd

Au%
83
77
75
70
46
15
-

Cu%
6
7
9
10
8
14
-

Ag%
10
14
11
11
40
45
70

Pd%
0,5
1,0
3,5
3,5*
6
25
25

VHN
60-90
90-120
120-150
150-200
180-299
170-200
150

Keterangan: *) +1% Pt
Penggunaan di KG:
Gold-platinum: full cast, porcelain bonding
Gold-copper-silver: full cast
Silver-gold-copper: full cast
Palladium-copper: full cast, porcelain bonding
Silver-palladium: full cast, porcelain bonding
Ni-based: full cast, porcelain bonding, partial denture, wrought
C-based: full cast, porcelain bonding, partial denture, wrought

Elongasi
30
25
10-20
5-10
5-10
5-10
5-10

Warna
Gold
Gold
Gold
Gold
Gold
White
White

Ti-based: full cast, porcelain bonding, partial denture, implant

PORCLAIN-FUSED-TO-METAL ALLOY (PFM)


PFM merupakan suatu alloy yang dilakukan coating dengan porcelain. Alloi ini
mempunyai range melting Iebih tinggi dibanding gold alloy akibat penambahan Pd &
Pt., keras dan elastic limit tinggi. Produk menggunakan PFM ini dengan beberapa
argument: mempunyai resistensi terhadap lentur (sagging) dan koefisien termal
ekspansi yang cocok. Kelemahannya Cu dalam alloi menyebabkan porcelain
discoloration dan meneyebabkan terpisahnya ikatan porselin dengan logam. Upaya
mengatasi keterbatasan ini dengan mengganti Cu dengan indium (In) dan Sn. Unsur
Ag menyebabkan green effect pada porcelain. Alloy yang digunakan sebagai PFM
kebanyakan non noble dan base metal.
Aloy untuk PFM Restoration
Klasifikasi
Au%
*High-Au
86
# Low-Au
52
#PD-Ag
#Pd-Cu
# Ni-Cr
* : light gold # : white

Pt%
9
38
-

Pd%
5
65
80
-

Cu%
15
-

Ag%
35
-

% dll
9 (In)
5
65 (In), 17 (Cr)

Base alloy untuk PFM restoration:


Ni-Cr alloy:
Biasanya ada tambahan unsur berrylium (Be) dengan tujuan untuk peningkatan
casting dan ikatan tehadap porcelain. Perlu diingat bahwa debu unsure Be
bersifat

carcinogenic,

akan

tetapi

dalam

bentuk

alloi

belm

terbukti

carcinogenitasnya. Alloi ini mempunyai resistensi terhadap efek lentur dan


stabil terhadap beban tekanan oklusal. Justru unsur ini merupakan penyebab
terjadinya reaksi alergi (10% wanita dan 1 %laki-laki) ata carcinogenic.
Titanium alloy:
Sifatnya sangat reaktif terhadap oksigen dan membentuk lapisan tipis pada
permukaan alloy dan berperan sebagai passivating effect permukaan aloi
Melting point alloy sangat tinggi sehingga perlu furnace khusus. Sifat
biokompaiblitasnya excellent.

NON-NOBLE ALLOY di KG
Penggunaan untuk: orthodonsi, prosthodonsi, pediatric dentistry, oral surgery.
Sifat penting alloy:

Ductility: alloi mampu dibengkok (bent), di bentuk (shaped) tanpa terjadi breaking.
Stiffness: alloi mempunyai resistensi terhadap elastic deformation
Tidak mengalami korosi dan mempunyai biokompatibilitas yang cukup
Stainless steel:
Penggunaan: sebagai material instrument dan untuk aplikasi di KG (crown,
band, bracket, wire dli).
Komposisi:
-

Iron base alloy dengan fraksi C kurang dari 1,2% sedangkan bila kadar C lebih dari
2,5% disebut cast iron.

Tambahan Cr lebih dari 12% menyebabkan alloy ini bersifat tahan karat (stainless)
dengan mekanisme Cr yang sangat reaktif terhadap oksigen membentuk
passivating film dan berperan sebagai protective-coating lapisan dibawahnya.
Kalau didalam saliva terlalu banyak ion Cl maka Cr akan tergeser dan sukar terjadi
repassivating sehingga terjadi pitting corrosion.

Formula umum: Fe (69%), Cr (18%), Ni (8%), Mo (5%) dan C (0,2%) Dalam hal ini
Mo berperan sebagai harden & streng then materials.

Cobalt-chromium alloy
Co-Cr alloy digunakan dalam aplikasi keokteran gigi: wire orthodontic, structural
prosthodonsi (frame work).
Komposisi

: Co (60%), Cr (25%), Ni (1%), Mo (5%) C (0,3%).


Ni untuk mengeraskan dan meningkatkan ductility
Mo untuk mengeraskan dan menguatkan alloy.

Penggunaan alloi ini pada kondisi dengan ion Cl tinggi dapat menyebabkan tarnish,
discoloration, atau pitting corrosion. Bila digunakan sebagai protesa gigi maka tidak
boleh menggunakan sodium hypochionide sebagai pembersih karena berefek tarnish,
discoloration, pitting corrosion dan bleaching. Untuk tujuan yang sama dianjurkan
menggunakan denture cleanser dan sodium perborat.

Nickel-chromium alloy
Penggunaan alloi ini terutama untuk PFM restoration dengan alasan: harga
lebih murah dibanding noble metal walaupun lebih sukar dalam proses casting dan

adjustment.
Komposisi: Ni (80%), Cr 15%) dan dalam kadar kecil Al, Mn dan Be. Tambahan unsure
Be memudahkan proses casting serta peningkatan pengikatan logam dengan
porcelain.
Sifatnya seperti stainlesssteel dan Co-Cr alloy.
Titanium &Titanium alloy
Titanium digunakan dalam bentuk murni yang dikenal dengan commercial pure
Titanium (cp-Ti) atau dalam bentuk alloi. Penggunaan Ti & Ti alloy untuk: (a)
instrument implant (b Application in dentistry misalnya casting alloy, wire, material
implant dll.
Penggunaan alloi ini memerlukan alat furnace khusus dalam rangka proses casting.
Komposisi:
Implant materials :

Ti (89%), Al (6%), Vd (4%)

Wire

Ti (45%),Ni (55%) dikenal sebagai Ni-Ti alloy

Ni-Ti alloy untuk wire mempunyai sifat super elastic dan mempunyai shape memory

effect sehingga banyak digunakan untuk finger clasp dalam orthodontic appliance.
-Titanium alloy: sebagai material orthodontic, mempunyai struktur

-kristal titanium

yang mudah untuk di bengkok (bending) dan dibentuk (shaping). Komposisinya Ti


(79%), Mo (1%), Mn, Zn. Mo berfungsi sebagai stabilizer struktur alloi. Titanium murni
(cp-Ti) mempunyai sifat lebih reaktif terhadap oksigen dengan sifat passivating effect.
Passivating effect lebih besar dibanding stainless steel dan Co-Cr alloi. Dengan
demikian lebih mudah repassivating bila lapisan passivating hilang dan tidak mudah
terjadi pitting corrosion.

AMALGAM KEDOKTERAN GIGI


Pendahuluan
Di bidang kedokteran gigi, amalgam digunakan sebagai material tumpatan gigi
posterior. Material tumpatan ini dapat dipertahankan dalam mulut selama 20 tahun
atau lebih. Pemakaian amalgam terutama untuk restorasi kavitas klas I, II dan V.
Amalgam merupakan campuran air raksa dengan serbuk aloi membentuk
material plastis yang ditumpatkan pada kavitas. Amalgam yang telah setting
mempunyai kekuatan lebih tinggi dan pada semen kedokteran gigi atau material
tumpatan anterior. Amalgam mempunyai kekuatan yang cukup tinggi namun estetika
penampilannya kurang menyenangkan. Hal ini karena amalgam mempunyai wama
abu-abu keperakan yang kontras dengan warna email gigi. Hal lain yang kurang
menguntungkan pada pemakaian amalgam adalah: getas, korosi, aksi galvanis, serta
tidak memperkuat struktur gigi yang lemah. Keuntungan pemakaian amalgam antara
lain: resisten terhadap fraktur, aplikasi material yang mudah, mempertahankan bentuk
anatomis gigi, dapat digunakan pada area yang terkena tekanan, dan relative tahan
lama.
Deskripsi Amalgam Kedokteran Gigi
Amalgam merupakan campuran air raksa dengan logam atau aloi lain.
Amalgam yang digunakan di kedokteran gigi merupakan campuran aloi perak dengan
air raksa. Air raksa bersifat cair pada suhu kamar, dan mempunyai titik beku -39C.
Proses amalgamasi merupakan reaksi aloi perak dengan air raksa membentuk
amalgam yang berwama abu-abu keperakan. Spesifikasi ADA (American Dental
Association) untuk amalgam kedokteran gigi adalah: perak 66-68%, timah 25-28%,
tembaga 3,5-6%, dan seng tidak lebih dari 2%.
Perak pada amalgam bernilai Iebih dari dua pertiga bagian. Pemakaian perak
untuk meningkatkan resistensi amalgam terhadap oksidasi, meningkatkan pemuaian
selama setting, dan mengurangi sifat flow. Pemakaian timah untuk memudahkan
amalgamasi karena afinitasnya yang besar terhadap merkuri, mengurangi resistensi,
meningkatkan flow dan mengurangi pemuaian selama setting. Pencampuran perak
dengan merkuri sangat sulit, dan timah membuat pencampuran ini lebih mudah. Sifat
timah berlawanan dengan perak. Ini berarti bahwa pada hasil akhir tumpatan semua
karakteristik perak dan timah tersebut akan hilang. Pemakaian tembaga dimaksudkan

untuk mengeraskan amalgam. Penggunaan seng dimaksudkan untuk menghindari


oksidasi. Amalgam yang tidak mengandung seng bersifat kurang elastis.
Pada saat ini beberapa produk amalgam kedokteran gigi menambahkan
material fluoride ke dalam amalgam. Amalgam yang mengandung fluor dimaksudkan
untuk mencegah timbulnya sekunder karies yang sering muncul pada gigi yang telah
ditumpat dengan amalgam karena adanya mikroleakage amalgam.
Amalgam kedokteran gigi dapat dikiasifikasikan dalam dua tipe, yaitu:
1.

Amalgam konvensional (conventional alloys) (amalgam tembaga rendah)


Mengandung tembaga kurang dari 6%. Ukuran partikel biasanya ireguler atau
sferikal. Pada umumnya mempunyai komposisi:
perak 65% (minimum)
timah putih 29% (maksimum)
tembaga 6% (maksimum)
seng 2% (maksimum)
air raksa 3% (maksimum)
Amalgam konvensional menghasilkan fasa-fasa:
a.

l (Ag2Hg3) yang merupakan matriks dari amalgam,

b. n (Ag3Sn) yaitu sisa partikel yang titik bereaksi,


c.

2 (Sn7Hg). Fasa

2 ini merupakan fasa yang paling lemah dan mudah

terserang korosi.
Amalgam konvensional masih digunakan di bidang kedokteran gigi terutama
karena harganya yang relatif lebih murah dari pada amalgam tembaga tinggi.
2.

Amalgam modem (amalgam kadar tembaga tinggi) (copper enriched alloys)


Pada umumnya komposisi dan tipe mi adalah sebagai benikut:
-

perak 40-60 %

timah putih 27-30 %

tembaga 13-30 %
Pada sekitar tahun 1960 ditetapkan bahwa dengan memngkatkan

kandungan tembaga di dalam amalgam dapat menghasilkan tumpatan amalgam


yang mempunyai sifat-sifat klinik yang Iebih baik. Fasa-fasa yang didapat dari
proses amalgamasi amalgam modern adalah :

l, , dan n (Cu6Sn5). Dengan

meningkatnya kadar tembaga maka dalam amalgam modem tidak terbentuk fasa
2 melainkan terbentuk n yaitu fasa yang lebih tahan terhadap korosi. Beberapa
logam, seperti paladium, indium, dan emas dapat ditambahkan ke dalam aloi
amalgam dalam jumlah kecil untuk lebih meningkatkan sifat-sifat mekanik ataupun

daya tahan korosinya. Pada saat mi amalgam yang banyak dipakai di bidang
kedokteran gigi adalah amalgam tembaga tinggi. Hal im terutama karena sifat
integritas marginalnya yang lebih baik dan pada amalgam tembaga rendah.
Amalgam kadar tembaga tinggi ada 3 jenis, yaitu:
a. admixed regular,
b. admixed komposisi tunggal,
c. komposisi tunggal.
Amalgam admixed adalah amalgam yang mempunyai partikel serbuk
campuran bentuk bulat (sferikal) dan ireguler. Komposisi berdasar persen berat
masing-masing tipe sebagai benkut:
Aloi
Admixed regular
Admixed k. tunggal
Komposisi tunggal

Bentuk
Partikel
Ireguler
Sferikal
Ireguler
Sferikal
Sferikal

Ag

Sn

Cu

Zn

In

Pd

40-70
40-65
52-53
52-53
40-60

26-30
0-30
17-18
17-18
22-30

2-30
20-40
29-30
29-30
13-30

0-2
0-1
0
0
0

0
0
0
0
0-5

0
0-1
0,3
0,3
0-1

Pada amalgam komposisi tunggal digunakan material indium yang


dimaksudkan untuk : mengurangi jumlah pemakaian merkuri, meningkatkan
resistensi terhadap kompresi, memperbaiki karakteristik permukaan amalgam,
khususnya meningkatkan kekerasannya.
Aloi amalgam tembaga tinggi yang mengandung paladium sampai 10%
menunjukkan perilaku creep yang konstan dalam rentang temperatur 25-60C dan
kuat tekan 26-72 Mpa. Penelitian lain pada amalgam tembaga tinggi bentuk
sferikal yang mengandung paladium sampai 5% menunjukkan peningkatan
kekuatan tekan dan penurunan creep. Dari penelitian tersebut, tampak ada
hubungan positif antara sifat mekanik dan penambahan paladium ke dalam
amalgam tembaga tinggi.
Serbuk aloi amalgam berbentuk lathe cut, sferikal, dan campuran kedua
bentuk tersebut. Lathe cut diproduksi menggunakan mesin. Serbuk yang terbentuk
di ukur, dan ukuran yang memenuhi range dalam persyaratan yang digunakan
dalam proses amalgamasi dengan merkuri. AIoi tersedia dalam bentuk: kasar,
medium, dan halus. Produksi partikel sferikal berbeda dengan lathe cut. Aloi
dicairkan bersama-sama, kemudian disemprotkan ke dalam atmosfer inert, tetesan
padatan kecil-kecil akan terbentuk (pellet sferikel pada berbagai ukuran). Pada
proses ini tidak dibutuhkan prosesing mesin dan komposisi ukuran aloi dapat
ditentukan.

Proses Amalgamasi
1. Aloi dengan tembaga rendah
Pada pencampuran atau triturasi terjadi peristiwa sebagai berikut:
Partikel perak (Ag) dan timah (Sn) bagian luar terlarut secara bersamaan.
Air raksa (Hg) menembus partikel aloi
(Impregnasi)
Reaksi kimiawi antara aloi dan merkuri
(amalgamasi)
Kristal senyawa metalik biner Ag2Hg3 ( l ) dan Sn7Hg ( 2)
(kristalisasi)
Amalgam keras
Secara sederhana reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:
Partikel aloi + Hg

l+

2 + sisa partikel

2. Aloi dengan tembaga tinggi


a. tahap 1
+ Hg

l + 2 + sisa

b. tahap 2
2 +Ag-Cu

Cu6Sn5 + l
( )

+Ag-Cu+Hg

l+

+ sisa

Pada admixed: inti l dan inti Ag-Cu dikelilingi oleh 11 dan matriks l.
Pada komposisi tunggal : Inti l dan inti Ag-Cu dikelilingi matriks l.
Setiap fasa di dalam struktur amalgam memiliki sifat yang berbeda
dalam hal kekuatan, kekerasan, maupun daya tahan korosinya. Sisa partikel
yang tidak bereaksi, , adalah fasa yang paling kuat. Sedangkan fasa n yang
tertanam di dalam matriks maupun pada intergranular l dapat meningkatkan
sifat mekanik (menurunkan creep) dan daya tahan korosi dari amalgam.

Sifat-Sifat Amalgam
1. Kekuatan
Amalgam bersifat tahan terhadap pengunyahan. Kekuatan amalgam lemah,
jika terjadi :
a. under trituration
b. kandungan Hg yang tinggi (kandungan Hg lebih dari 54% menyebabkan
penurunan kekuatan)
c. tekanan kondensasi rendah
d. penumpatan yang lambat
e. korosi
f.

pencampuran yang bersifat plastis sehingga menimbulkan porositas

Kekuatan dan creep amalgam seperti pada tabel berikut:


Amalgam
Tembaga rendah
Admixed
Komposisi tunggal

Kek.tekan
(MPa)
1 jam
7 hari
145
343
137
431
262
510

Creep (%)

Kek.tarik 24
jam (Mpa)

2,0
0,4
0,13

60
48
64

2. Modulus elastik
Modulus elastik pada pengukuran yang lambat (0,025-0,125 mmlmenit)
sebesar 11-20 Gpa. Amalgam aloi tembaga tinggi lebih getas dari pada aloi
tembaga rendah.
3. Creep
Creep adalah perubahan viskoelastik akibat beban, secara klinis ditandai
adanya perubahan integritas marginal. Angka creep tertinggi amalgam adalah
6,3 % untuk amalgam aloi tembaga rendah. Tumpatan amalgam yang terus
menerus menerima tekanan pengunyahan akan mengalami creep. ANSI/ADA
merekomendasi amalgam untuk mengalami creep kurang dari 3%. Fase yang
paling rentan terhadap creep adalah fase l dan 2. Semakin rendah proporsi
ke dua fase tersebut (diperoleh dengan cara kondensasi yang baik), semakin
kecil creep dari amalgam yang dihasilkan.
4. Perubahan dimensional
Perubahan dimensional merupakan perubahan akibat kontraksi dan ekspansi
selama setting amalgam. Idealnya tumpatan amalgam tidak mengalami

perubahan dimensi. Perubahan dimensi yang sering terjadi pada amalgam


adalah:
Disolusi

terjadi kontraksi. Kontraksi dapat menyebabkan akumulasi

plak dan karies sekunder.


Pembentukan l dan

terjadi

ekspansi.

Adanya

ekspansi

akan

mengakibatkan tekanan pada pulpa gigi, sensitivitas gigi, dan protrusi


tumpatan. ANSI /ADA spesifikasi nomer I mensyaratkan amalgam mengalami
kontraksi atau ekspansi tidak Iebih dari 20 m/cm (37C, 5 menit-24 jam
setelah triturasi).
Studi laboratoris menunjukkan bahwa ekspansi akan terjadi setelah
setting amalgam jika:
Rasio aloi : merkuri besar
Waktu triturasi pendek
Tekanan lemah saat kondensasi
Ukuran partikel aloi besar
Kontaminasi air sebelum setting pada material yang mengandung seng. Hal ini
akan mengakibatkan : reaksi elektrolitik antara seng (anoda) dengan logam
lain yang bersifat katoda dan air bersifat elektrolit, munculnya hidrogen sebagai
hasil reaksi, tekanan hidrogen akan menyebabkan amalgam mengalir, hal ini
akan berakibat ekspansi amalgam yang terjadi setelah beberapa hari
penumpatan.
5. Tarnish dan korosi
Tarnish adalah perubahan warna reaksi kimia amalgam dengan lingkungan.
Biasanya terjadi pada permukaan amalgam. Tarnish pada amalgam terjadi
karena adanya sulfur yang membentuk lapisan sulfida pada permukaan
tumpatan.
Meskipun tarnish menimbulkan estetika yang kurang baik, tetapi tidak akan
menyebabkan kerusakan tumpatan.
Korosi adalah reaksi kimiawi dengan penetrasi ke bagian dalam
amalgam. Korosi memmbulkan kerusakan tumpatan. Komponen kimia berikut
terdeteksi pada amalgam gigi yang ditumpatkan pada pasien Sn O, SnO2,
Sn4(OH)6C12, Cu2O, CuCI2, 3Cu(OH)2, CuCl, CuSCN, AgSCN. Pada ruang
antara aloi amalgam dan kavitas kadang-kadang timbul mikrolekage yang
berisi elektrolit yang mengakibatkan terjadinya korosi.

Resistensi terhadap korosi dapat ditingkatkan dengan melakukan


pemolesan. Proses ini akan menghilangkan pit dan gelembung pada
permukaan yang memudahkan proses korosi. Permukaan yang halus akan
mencegah terjadinya proses korosi.
Jika amalgam berkontak dengan restorasi emas, akan timbul sel
elektrolitik yang dapat mengakibatkan korosi amalgam dan penambahan
merkuri pada restorasi emas. Hal ini juga mengakibatkan timbulnya arus
galvanis dalam rongga mulut. Arus galvanis dapat menyebabkan nyeri pada
gigi.
6. Konduktor thermal
Amalgam kedokteran gigi adalah konduktor panas. Untuk tumpatan besar
perlu isolator untuk proteksi terhadap panas dan dingin terhadap jaringan
pulpa. Isolator yang sering digunakan adalah varnish atau liner.
7. Higiene
Hg bersifat toksik dan sangat lambat untuk eliminasi . Efek toksik Hg dalam
darah adalah: 100 ng/ml. Hg dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui:
a. kontak langsung dengan kulit
b. ingesti
c. paru (uap Hg)
Sumber Hg diperoleh dari : kontak langsung dengan Hg, tidak sengaja
memegang tumpatan, Hg yang tumpah, kontak dengan amalgamator, dan
pembuangan restorasi lama. Upaya pencegahan terhadap masuknya Hg ke
dalam tubuh manusia dapat dilakukan dengan:
1. tidak menyentuh Hg
2. memakai masker
3. tidak menggunakan alat ultrasonik kondensor
4. ruang praktek tidak menggunakan karpet
5. menggunakan absorbance spilled Hg
6. menggunakan kapsul amalgam dan amalgamator
7. penyimpanan merkuri dan amalgam lama dibawah air dan dalam wadah
yang tahan pecah dan tertutup rapat.

Pada beberapa pasien (<1%) mengalami alergi merkuri, berupa contact


dermatitis (hipersensitivitas tipe IV). Pada kasus ini perlu dilakukan penggantian
tumpatan menggunakan material lain.
Manipulasi Amalgam
Manipulasi amalgam terdiri dari lima tahapan, yaitu:

1. proportioning
2. trituration (mixing)
3. condensation
4. trimming,carving, dan burnishing
5. finishing dan polishing
1. Proportioning
a. Air raksa, dapat digunakan penimbangan atau pemakaian volume dispenser.
b. Aloi, dapat dilakukan : penimbangan, penggunaan tablet aloi, volume
dispenser.
c. Rasio aloi : air raksa, pada saat setting amalgam sebaiknya Hg < 50 %. Teknik
pencapaian rasio ini ada beberasa cara, yaitu:
d. Rasio aloi : Hg sebesar 5:7 atau 5:8. Pada rasio ini maka : triturasi mudah,
campuran bersifat plastis. Jika masih ada ekses Hg dapat dilakukan squeezing
(pemerasan) dengan kain kasa.
e. Teknik merkuri minimal (Eames):

Aloi dan Hg dengan berat yang sama

Tanpa squeezing

Menggunakan mesin atau mekanik.

2. Trituration
a. Hand mixing
Alat: mortar dan pestle. Bagian dalam mortar :kasar, pestle: halus.
Resiko pemakaian alat ini adalah paparan uap Hg dapat berkontak dengan
tubuh.
b. Mechanical mixing
Alat: amalgamator. Aloi dan Hg ditempatkan dalam kapsul.
Waktu yang digunakan untuk triturasi harus sesuai dengan aturan pabrik.

Triturasi amalgam tergantung pada: kecepatan, lama, daya (force) yang mengenai
amalgam, dan bentuk partikel serbuk amalgam. Waktu triturasi amalgam yang
tepat dapat dilihat dari penampilan amalgam yang dihasilkan, cemerlang (tidak
buram).
Partikel aloi sferikal memerlukan triturasi yang lebih cepat dari pada lathe
cut. Hal ini karena partikel sferikal lebih mudah terbasahi oleh merkuri dari pada
lathe cut.
Triturasi yang kurang baik, misalnya under trituration, mengakibatkan:
a. warna buram
kekuatan tank dan kompresi rendah akibat dan:
b. gelembung
c. produk l dan

kurang.

d. Permukaan yang kasar


Over trituration akan menimbulkan efek : soupy, lengket, creep, dan korosi,
kekuatan mekanis turun. Pada keadaan ini produk l dan

berlebihan.

3. Condensation
Tujuan condensation adalah:
a. Memampatkan tumpatan tanpa gelembung.
b. Adaptasi yang baik terhadap dinding kavitas
c. Mereduksi kelebihan merkuri
Adanya ekses Hg akan melemahkan kekuatan amalgam dan menimbulkan
creep yang tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan kondensasi tumpatan
menggunakan alat kondensor. Metode kondensasi ada dua, yaitu:
1. hand condensor (lebih umum)
2. mechanical condenser
Kekuatan untuk kondensasi efektif adalah 3-4 kg untuk diameter tumpatan 23 mm. Kondensasi sebaiknya dilakukan segera setelah mixing, sebelum setting
tumpatan. Jika terlambat akan menyebabkan kekuatan berkurang dan creep yang
tinggi. Pada amalgam yang mengandung seng harus dihindari kontaminasi dengan
saliva. Hal ini akan mengakibatkan ekspansi 100-200 jim/cm.
Hal yang perlu diperhatikan pada kondensasi adalah:
a. pemakaian tekanan maksimum
b. penggunaan ukuran kondensor yang sesuai dengan ukuran kavitas

c. penumpatan yang cepat dan sedikit demi sedikit tumpatan amalgam ke dalam
kavitas. Penempatan tumpatan yang besar ke dalam kavitas akan memacu
terbentuknya fasa l dan 2 yang banyak dan porositas tumpatan.
Kondensasi amalgam sfenkal berbeda dengan lathe cut. Paca amalgam
sferikal, campuran mengalir lebih cepat dan pada lathe cut walaupun pada
penekanan rendah. Oleh karenanya diperlukan penggunaan kondensor besar
dengan penekanan yang kecil.
4. Trimming ,Carving, burnishing
Trimming dan carving sebaiknya dilakukan sebelum tumpatan amalgam
mengalami setting. Biasanya 2-3 menit setelah pencampuran dan dihentikan
setelah massa amalgam mulai mengeras (5-10 menit). Carving pada amalgam
yang sudah mulai setting akan menyebabkan fraktur di bagian margin.
Carving dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran partikel aloi. Aloi sferikal akan
menghasilkan hasil carving yang lebih baik dari pada lathe cut.
Trimming

adalah

memotong

kelebihan

amalgam.

Carving

adalah

membentuk kontur tumpatan (bentuk bukal, tonjol, fissura, dll). Setelah selesai
carving, permukaan amalgam dihaluskan menggunakan alat burnisher Proses ini
disebut burnishing. Burnishing akan menaikkan kekerasan permukaan amalgam,
mengurangi porositas dan korosi, dan memperbaiki adaptasi marginal amalgam.
5. Finishing dan Polishing
Finishing dan polishing dilakukan setelah tumpatan amalgam mengalami
setting, yaitu minimal 24 jam, namun ada juga yang mencapai setting dalam 7 hari.
Pada saat finishing tumpatan amalgam dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Membentuk kontur
(green stone, abrasive disks)
Finish margins
(green stone, abrasive disks)
Smooth alloy surface
(rubber abrasive points, pumice)
Add luster
(rubber abrasive points, fine abrasive paste)
Polishing dilakukan agar:
a. permukaan halus sehingga mudah untuk menjaga kebersihan mulut.
b. supaya mengurangi tendensi korosi.
Polishing sebaiknya dilakukan pada kondisi basah. Jika kondisi tumpatan
kering maka:
a. akan mendorong Hg ke permukaan.
b. membahayakan pulpa gigi.
c. menimbulkan panas
Bonding Amalgam
Amalgam tidak berikatan dengan gigi secara kimia. Secara tradisional perlekatan
amalgam dengan gigi dipertahankan dengan penetrasi material ke bagian retensi
undercut (mekanikal). Konsekuensi dan konstruksi tumpatan amalgam tersebut timbul:
1. gap
2. microleakage.
Pada tumpatan amalgam modern, perlekatan amalgam dengan gigi dilakukan
dengan cara mekanikal (undercut) dan kimiawi (material bonding). Tujuan bonding
amalgam adalah:
1. menutup gap
2. membatasi minimal microleakage
3. menambah retensi amalgam
4. memperkuat gigi.

Material bonding amalgam yang saat ini digunakan adalah 4-metakriloksi etil
trimelitat anhidrida (4-meta). Ikatan yang terjadi antara gigi dan amalgam dengan
bantuan material bonding bersifat ikatan lemah (setengah perlekatan resin komposit
terhadap gigi, kurang lebih 20 MPa).
Tumpatan amalgam yang besar sering mengalami fraktur di bagian marginal.
Untuk mengatasi fraktur ini dapat dilakukan penumpatan menggunakan amalgam baru
yang diletakkan di atas amalgam lama. Untuk perlekatan amalgam lama dan baru
dapat digunakan material bonding. Kekuatan fleksural reparasi amalgam mi 50 % dan
kekuatan amalgam tanpa reparasi.