Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

ACIDI ALKALI - POTENSIOMETRI


ASAM SITRAT

Golongan / Kelompok

T /D

Claudio Dassmer
Dewi Kartikasari
Elisabeth Wulan

/ 2443012026
/ 2443012145
/ 2443012218

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2014
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

FAKULTAS FARMASI-UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA


SURABAYA

I.

GOLONGAN/KELOMPOK

: T/D

TOPIK PRAKTIKUM

: Acidi-Alkali Potensiometri Asam Sitrat

TANGGAL PRAKTIKUM

: 11 April 2014

NAMA ASISTEN

: Catherine Caroline, S.Si., M.Si., Apt

NAMA MAHASISWA / NRP

: Claudio Dassmer
Dewi Kartikasari
Elisabeth Wulan

/ 2443012026
/ 2443012145
/ 2443012218

TUJUAN
1. Mahasiswa dapat melakukan penetapan kadar asam sitrat dengan
menggunakan metode potensiometri dengan prinsip acidi-alkalimetri
2. Mahasiswa mampu membuat larutan asam oksalat (H2C2O4) sebagai
larutan baku primer.
3. Mahasiswa dapat membakukan larutan sekunder NaOH dengan asam
oksalat menggunakan potensiometer

II.

DASAR TEORI
Acidi alkalimetri adalah salah satu penentuan kadar zat secara volumetri
berdasarkan reaksi netralisasi antara zat titran dengan zat yang dititrasi. Hal ini
berdasarkan reaksi H+ + OH- H2O. Acidimetri adalah penentuan kadar basa
dalam larutan dengan larutan asam yang telah diketahui konsentrasinya.
Alkalimetri adalah penentuan kadar asam dalam larutan dengan larutan basa yang
telah diketahui konsentrasinya.
Potensiometri adalah metode analisa kimia untuk menentukan potensial
listrik dengan menggunakan elektroda dan alat yang digunakan

dalam

potensiometri ini adalah potensiometer. Potensiometri merupakan aplikasi


langsung dari persamaan Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda
tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol. Persamaan Nersnt memberikan

hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan konsentrasi spesies ioniknya
yang sesuai dengan larutan. Dengan pengukuran potensial reversible suatu
elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat
dilakukan (Underwood, 1980).

Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu,


pertama (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial
dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam
pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion dapat dititrasi dan
potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial sel, diukur sehingga
dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel galvani
bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran
potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia (Basset, J. dkk., 1994).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda
indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi
yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter
yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan.
Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Elektroda indikator adalah
elektroda yang potensialnya bergantung pada konsentrasi ion yang akan
ditetapkan dan dipilih berdasarkan jenis senyawa yang hendak ditentukan.
Sedangkan elektroda pembanding adalah elektroda yang potensialnya diketahui
dan selama pengukuran tetap konstan. Elektroda pembanding yang banyak
digunakan adalah elektroda kalomel karena konstannya potensial yang dihasilkan.
Antara elekroda pengukur (elektroda indikator) dan elektroda pembanding
terdapat jembatan arus atau garam dengan larutan elektrolit yang di dalamnya
terdapat transport ion arus (Widjaja dkk., 2008).
Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok
untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila

daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi
dengan indikator (Rivai, 1995).
Keuntungan dari metode potensiometri adalah biayanya yang relatif murah
dan sederhana. Voltameter dan elektroda jauh lebih murah daripada instrumen
saintifik yang paling modern. Selain itu kelebihan dari metode potensiometri yaitu
pada saat potensial sel dibaca tidak ada arus yang mengalir dalam larutan
(arus residual tatanan sel dan efek polarisasi dapat diabaikan). Manfaat
potensiometri juga untuk menetapkan tetapan kesetimbangan. Potensial-potensial
yang stabil sering diperoleh dengan cukup cepat dan tegangan yang mudah dicatat
sebagai fungsi waktu, sehingga potensiometri kadang juga bermanfaat untuk
pemantauan yang kontinyu dan tidak diawasi (Skoog dkk., 1998).
Potensiometri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel, dalam
pengertian bahwa penyisipan elektroda tidak megubah komposisi larutan uji
(kecuali untuk sedikit kebocoran elektrolit dari elektroda acuan) (Khopkar, 1990).
Metode potensiometri merupakan salah satu metode yang banyak
digunakan untuk menentukan kandungan ion-ion tertentu dalam suatu larutan,
titrasi terhadap vitamin c (bersifat asam) mungkin juga bersifat basa. Selain itu,
metode potensiometri dapat juga digunakan dalam penetapan nikel dan kobal
dengan pengkomlekskan denga sianida, penetapan flourida dengan metode titik
nol, penetapan besi (III) dengan EDTA dan standarisasi larutan kalium
permanganate dengan kalium iodide (Vogel, 1994).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan
volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika
ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah
penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada
suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi.
Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika

tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH


meter ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk
semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset, J.
dkk., 1994).
Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri.
Reaksinya harus meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yang sesuai
dengan jenis elektrodanya. Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil
volume titran secara berturut-turut atau secara kontinyu dengan perangkat
automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi (Khopkar, 2003).
a) Reaksi netralisasi: Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda
indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
b) Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan: Pembentukan endapan atau
kompleks akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan
elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.
c) Reaksi redoks: Elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi
redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NH3)3) membentuk lapisan
logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam
larutan encer (Khopkar, 2003).
Semua potensial elektroda dikutip relatif terhadap potensial elektroda
hidrogen standar. Jadi, elektroda hidrogen haruslah dianggap sebagai elektroda
rujukan primer. Elektroda yang paling meluas penggunaannya adalah elektroda
kalomel, disebabkan oleh mudahnya pembuatan dan konstan potensial. Sebuah
sel-paruh kalomel adalah sel paruh dalam mana merkurium dan kalomel
(merkurium(I) klorida) ditutup dengan konsentrasi tertentu; dapat 0,1 N; 1,0 N;
3,5 N; atau jenuh. Larutan kalium klorida haruslah dijenuhi oleh kalomel.
Potensial elektroda kalomel pada 25OC relatif terhadap elektroda hidrogen normal
untuk 0,1 N; 1,0 N dan jenuh masing-masing adalah 0,3371; 0,2846; dan 0,2458
volt (Bassett, J. dkk., 1994).

Elektroda indikator suatu sel adalah elektroda yang potensialnya


bergantung pada aktivitas (dan karena itu pada konsentrasi) spesi ion tertentu yang
konsentrasinya akan ditentukan. Dalam potensiometri langsung atau titrasi
potensiometri suatu ion logam, sebuah elektroda indikator sederhana biasanya
akan terdiri dari batang atau kawat yang dibersihkan dengan seksama yang terbuat
dari logam yang tepat; paling penting adalah permukaan logam yang akan
dicelupkan ke dalam larutan itu bebas dari lapisan tipis oksida atau hasil korosi
apa saja. Dalam beberapa kasus elektroda yang lebih memuaskan dapat disiapkan
dengan menggunakan kawat platinum yang telah disalut dengan lapisan tipis
logam yang tepat dengan cara pengendapan secara listrik (Bassett, J. dkk., 1994).
Bila dilibatkan ion hidrogen, sebuah elektroda hidrogen dapat jelas
digunakan sebagai elektroda indikator, namun peran itu dapat juga dilakukan oleh
elektroda lain, yang terkemuka adalah elektroda kaca. Inilah contoh elektroda
membran dalam mana potensial yang dikembangkan antara suatu selaput kaca dan
larutan merupakan suatu fungsi linier pH larutan, dan karena itu dapat untuk
mengukur konsentrasi ion hidrogen dari larutan itu. Karena selaput kaca itu
mengandung ion logam alkali, juga mungkin untuk mengembangkan elektroda
kaca yang dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi ion-ion ini dalam
larutan, dan dari pengembangan ini (yang didasarkan pada mekanisme pertukaran
ion), sederetan lengkap elektoda membran telah dikembangkan berdasarkan baik
pada bahan pertukaran ion zat padat maupun cairan: elektroda-elektroda ini
merupakan bagian deret yang penting dari elektroda peka-ion yang sekarang
tersedia untuk banyak macam ion (Bassett, J. dkk., 1994).
Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu
elektroda dan konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan.
Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persaman Nernst dengan cara
pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol.
Dengan pengukuran pengukuran potensial reversibel suatu elektroda, maka
perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan (Rivai,
1995).

Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan


sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan
perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda
indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung
pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa,
elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain
yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak
nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi
redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum sematamata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Pada praktikum kali ini metode yang akan kita gunakan adalah titrasi
potensiometri tepatnya titrasi asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik
akhir pada titrasi asam basa secara potensiometri tergantung dari konsentrasi dan
kekuatan asam serta basa. Agar metode ini berhasil baik, kedua asam atau basa
hendaknya kekuatannya berbanding sekurangnya 10-5: 1. Metode ini dapat
digunakan untuk titrasi asam atau basa bervalensi banyak, tetapi hanya dapat
dilakukan untuk masing-masing senyawa jika harga pKa atau pKb berbeda
minimal 2 satuan (Widjaja dkk., 2008).
Pada titrasi asam basa, elektroda indikator yang digunakan adalah
elektroda membran gelas yang sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen
(H+) dan elektroda pembanding yang digunakan adalah Elektroda Kalomel.
Untuk titrasi asam basa, setiap perubahan ion hidrogen tersebut diamati. Pada
elektrode membran gelas, tidak ada elektron yang diberikan kepada membran.
Justru sebuah membran membiarkan ion H + untuk menembusnya, tetapi menahan
ion yang lain. Dengan demikian akan timbul beda potensial yang cukup besar
untuk mencegah terjadinya migrasi lebih lanjut. Kelebihan dari elektroda
membran gelas adalah tidak terjadinya kontaminasi sehingga tidak ada permukaan
katalis yang kehilangan aktivitasnya. Nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang

tersangga bisa diukur secara akurat dan akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok
digunakan untuk memonitor pH secara kontinu pada rentang waktu yang lama
(Day dan Underwood, 1981).
Melalui kurva hubungan antara volume pentiter vs pH dapat ditentukan
titik akhir titrasinya. Titik akhir titrasi dideteksi dengan menetapkan volume di
mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan peniter
(Widjaja dan Laksmiani, 2009).
Penentuan titik ekivalen titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan cara
diferensial yaitu dengan merajah kurva titrasi turunan pertama dan atau turunan
kedua yang disebut kurva diferensial. Kurva diferensial pertama dibuat dengan
cara menghitung kenaikan pH persatuan kenaikan volume titran ( pH/V ) atau (
pE/V ), kemudian perbandingan ( pH/V ) atau ( pE/V ) disajikan dalam
bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Sementara itu
kurva diferensial kedua dibuat dengan cara merajah ( 2pH/V2 ) atau
( 2pE/V2 ), kemudian perbandingan ( 2pH/V2 ) atau ( 2pE/V2 ), disajikan
dalam bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.
Penambahan volume ( V ) yang optimum bergantung pada besarnya arah lereng
kurva titrasi pada titik ekivalen dan ini dapat dengan mudah diperkirakan pada
titrasi pendahuluan. Pada umumnya semakin besar arah lereng pada titik ekivalen,
semakin kecil perbedaan volume titran ( V ) yang diberikan. Bila kurva titrasi
simetris di sekitar titik ekivalen, titik akhir yang didefinisikan oleh nilai
maksimum dari ( pE/V ) adalah identik dengan titik ekivalen stoikiometrik
yang sebenarnya. Kurva titrasi simetris diperoleh apabila electrode indikator
bersifat reversible dan bila dalam reaksi titrasi satu mol reagen titran bereaksi
dengan satu mol zat yang dititrasi. Kurva titrasi tidak simetris terjadi bila
banyaknya molekul atau ion reagensia dan zat yang dititrasi tidak sama dalam
reaksi titrasi ( Rohman, 2007 ).

Monografi Asam Sitrat (Anonim. 1995)

Nama Resmi

: Acidum Citricum

Sinonim

:2-hydroxypropane-1,2,3-tricarboxyclic acid monohydrate


asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat

Rumus Molekul

: C6H8O7 atau CH2(COOH)COH(COOH)CH2(COOH)


C6H8O7,H2O (monohydrate)

Berat Molekul

: 192,13 g/mol (anhidrat)


210,1 g/mol (monohidrat).

Pemerian

: Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul


sampai halus,putih; tidak berbau atau praktis tidak berbau;
rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol;


agak sukar larut dalam eter.

Titik Lebur

: 426 K (153 C)

Densitas

: 1,665 103 kg/m3

Persyaratan

: Asam sitrat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan


tidak lebih dari setara dengan 101,0% dari C6H8O7,
dihitung dengan pada substansi anhidrat.

Sifat Fisika dan Kimia Asam Sitrat


Sifat-sifat

fisis

asam

sitrat

dirangkum

pada

tabel

di

sebelah

kanan. Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang
dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan

adalah ion sitrat. Sitrat sangat baik digunakan dalam larutan penyangga untuk
mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam
membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam
dengan pengkelatan,

sehingga

digunakan

sebagai pengawet dan

penghilang kesadahan air (lihat keterangan tentang kegunaan di bawah).


Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna
putih. Serbuk kristal tersebut dapat berupa bentuk anhydrous (bebas air), atau
bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekul asam
sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan
bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air dingin.
Bentuk monohidrat tersebut dapat diubah menjadi bentuk anhydrous dengan
pemanasan di atas 74 C.
Secara kimia, asam sitrat bersifat seperti asam karboksilat lainnya. Jika
dipanaskan di atas 175 C, asam sitrat terurai dengan melepaskan karbon
dioksida dan air.

III.

DASAR REAKSI
Reaksi Netralisasi

IV.

CARA KERJA
1. Membuat larutan baku primer asam oksalat:
Timbang C2H2O4 . 2H2O sebanyak 0, 315 g
(dengan botol timbang)
Masukan dalam beaker glass
Tambahkan aquadest qs, aduk ad larut
Pindahkan labu takar 50 ml,
tambahkan aquadest ad garis tanda
Kocok homogen
2. Membuat larutan baku sekunder NaOH 0,1 N:
Air suling dipanaskan
Timbang NaOH sebanyak 0, 8 g
(di kaca arloji)
Masukkan dalam beaker glass,
Tambahkan aquadest ad 200 ml
Aduk ad homogen
(simpan di tempat tertutup)
3. Membuat pembakuan larutan baku sekunder NaOH 0,1 N dengan larutan
baku primer asam oksalat:
Pipet 10 ml C2H2O4 . 2H2O
Masukkan erlenmeyer,
Tambahkan 2-3 tetes indikator pp
Titrasi dengan NaOH 0,1 N ad warna merah muda

Lihat volume NaOH yang terpakai

(replikasi 3 kali)
4. Penetapan Kadar:
Timbang 50 mg
Larutkan dalam aquadest
Titrasi dengan NaOH 0,1 N LV
(replikasi 3 kali)

V.

DATA PENIMBANGAN & PENGAMATAN


1. Larutan baku primer asam oksalat 0,1 N
Berat asam oksalat = 0,1567
o Normalitas asam oksalat
m
1000
N = Mr x
x valensi
v
=

0,1567
126,07

1000
25

x2

= 0,099 N
2. Pembakuan Baku Sekunder NaOH
Pembakuan I
V (ml)
3,3

pH
6,006

V (ml)
0,1

3,4

6,560

0,1

3,5

8,078

0,1

3,6

9,140

0,1

pH

pH/V

0,554

5,54
96,4

1,518

VTE = 3,4 + 0,1 (96,4/(96,4+45,6)) = 3,46789 ml

V1. N1

= V2. N2

3,0 . 0,0994

= 3,46789. N2

15,18
-45,6

1,062

Normalitas NaOH

2pH/V2

10,62

N2

= 0,08598 N

Pembakuan II
V (ml)
3,4
3,5
3,6
3,7

pH
6,458
7,512
9,051
9,512

V (ml)
0,1

pH

pH/V

1,054

10,54

1,539

15,39

0,461

4,61

0,1

2pH/V2
48,5

0,1

-107,8

0,1

VTE = 3,5 + 0,1 (48,5/(48,5+107,8)) = 3,5310 ml


Normalitas NaOH
V1. N1

= V2. N2

3,0 . 0,0994

= 3,5310. N2

N2

= 0,08448 N

N rata-rata NaOH = (0,08598 + 0,08448)/2 = 0,08523 N


3. Penetapan Kadar Sampel
Sampel I
V (ml)
3,5

pH
6,947

V (ml)
0,1

3,6

7,429

0,1

3,7

8,406

0,1

3,8

8,825

0,1

pH

pH/V

0,482

4,82
49,5

0,977

9,77
-55,8

0,419

VTE = 3,6 + 0,1 (49,5/(49,5+55,8)) = 3,647 ml


Sampel II

2pH/V2

4,19

V (ml)
2,3

pH
6,508

V (ml)
0,1

2,4

6,952

0,1

2,5
2,6

7,800
8,535

pH

pH/V

0,444

4,44
40,4

0,848

8,48

0,735

7,35

0,1

-11,3

0,1

VTE = 2,4 + 0,1 (40,4/(40,4+11,3)) = 2,47814 ml

Perhitungan % kadar tiap sampel :


% kadar S1

= 3,647 x 0,08523 x 6,404 x 100%

= 34,14 %

58,3 x 0,1
% kadar S2

2pH/V2

= 2,47814 x 0,08523 x 6,404x 100%


50 x 0,1

Jadi % kadar asam sitrat = (34,14 + 27,05)/2 = 30,59%


% kesalahan = ((30,59 - 30,12)/30,12) x 100%= 1,46%

= 27,05 %

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri
untuk menentukan kadar asam sitrat dengan menggunakan natrium hidroksida
(NaOH). Penentuan kadar asam sitrat dalam sampel pada praktikum ini
menggunakan metode potensiometri, dimana dalam titrasi ini menggunakan
potensiometer untuk menentukan titik akhir dari titrasi ini.
Metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri tepatnya titrasi
asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam basa
secara potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa.
Elektroda indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah elektroda
membran gelas yang sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen (H +) dan
elektroda pembandingnya adalah Elektroda Kalomel. Dalam titrasi asam basa,
diamati setiap perubahan ion H+ atau perubahan pH yang ditunjukkan pada alat
pengukur pH. Kelebihan dari elektroda membran gelas adalah tidak terjadinya
kontaminasi sehingga tidak ada permukaan katalis yang kehilangan aktivitasnya
selain itu nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang tersangga bisa diukur
secara akurat dan akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok digunakan untuk
memonitor pH secara kontinu pada rentang waktu yang lama (Day dan
Underwood, 1981). Melalui kurva hubungan antara volume pentiter vs pH dapat
ditentukan titik akhir titrasinya dari HCl. Selanjutnya titik akhir titrasi dideteksi
dengan menetapkan volume di mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar
ketika ditambahkan volume pentiter yang sedikit.
Potensiometri adalah satu cara elektrokimia untuk analisa ion secara kuantitatif
berdasarkan pengukuran potensial dari elektroda yang peka terhadap ion yang
bersangkutan. Sewaktu pengukuran potensial tidak boleh ada arus. Terdapat 2
buah tipe elektroda yaitu : elektroda indikator (pengukur) dan elektroda
pembanding. Potensial tidak dapat diukur secara mutlak, melainkan diukur secara
relatif terhadap elektroda pembanding. Kedua elektroda tersebut saling
dihubungkan dengan jembatan arus yang dapat dilewati oleh ion-ion, tetapi tidak

terjadi pencampuran terhadap isi kedua elektroda tersebut. Susunan elektroda


pengukur jembatan arus elektroda pembanding alat pengukur
(potensiometer) disebut rantai Galvanis.
Elektroda pembanding dapat berupa : elektroda kalomel dan elektoda perak/perak
klorida.
Elektroda kalomel terdiri dari air raksa yang dicampur dengan raksa (1) klorida
didalam larutan KCl. Larutan kalium Cholrida tersebut mempunyai konsentrasi
tertentu, misalnya 1N atau jenuh. Oleh karena itu kita mengenal 2 macam
elektroda kalomel yaitu : elektorda kalomel normal dan elektroda kalomel jenuh.
Elektroda perak umumnya terbuat dari sepotong kawat perak yang tercelup dalam
larutan KCl jenuh yang juga menghandung perak chlorida.
Elektroda-elektroda pembanding mempunyai potensial yang amat stabil dan
mantap, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh suhu, waktu penyimpanan dan
arus, apabila terjadi aliran arus. Elektorda pembanding tidak mudah untuk
dipolarisasi, sehingga sesuai sekali untuk menjadi tolak ukur pembanding
potensial.
Potensial elektroda pembanding diukur relatif terhadap elektroda hidrogen yang
dianggap mempunyai potensial0. elektorda hidrogen tersebut terdiri dari sepotong
kawat platina yang tercelup dalam 1M asam sulfat yang dialiri hidrogen pada
tekanan 1atm. Elektroda hidrogen merupakan elektroda pembanding primer yang
menjadi tolak ukur untuk segala elektroda lainnya. Karena elektroda hidrogen
tersebut agak sukar dipakainya. Maka dikembangkan elektroda pembanding
sekunder, yaitu elektroda kalomel dan elektroda perak-chlorida.

Titrasi Potensiometri
Bentuk persamaan Nernst untuk sistem Asam-Basa tidak jauh berbeda dengan
bentuk persamaan Henderson Hasselbalch, sehingga bentuk kurva titrasi sistem

Asam-Basa menyerupai huruf S pula, hanya yang diukur adalah perubahan


potensian (mV) terhadap penambahan zat penitrasi. Sebagai elektroda untuk
sistem Asam-Basa tidak digunakan elektroda kaca kombinasi seperti pada sistem
asam-basa, melainkan elektroda platina kombinasi atau elektroda perak kombinasi
(Robert, 1980).
Keunggulan titrasi potensiometri dibandingkan titrasi yang menggunakan
indikator adalah sebagai berikut (Galen, 1975):

Titik akhir tidak berdasarkan pada perubahan warna, jadi tidak tergantung

pada penglihatan orang yang melakukan analisa.


Dapat dilakukan dalam wadah tertutup, misalnya untuk sampel yang

baunya tidak enak atau untuk mengalirkan gas nitrogen.


Dapat digunakan dalam larutan berwarna, misalnya larutan minuman.
Dapat dilakukan dengan volume sampel lebih kecil, biasanya cukup

dengan 15 ml larutan sampel.


Dapat digunakan untuk titrasi asam-basa lemah, khususnya titrasi bebas
air, dimana kadang-kadang indikator warna tidak memberikan hasil yang
baik. Dapat dilakukan lebih cepat dan otomatis.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan titrasi potensiometri (Anonim,


2004):

Elektorda

diafragmanya terendam.
Elektroda dan diafragma harus bersih. Elektroda platina yang sudah lama

tercelup

sepenuhnya

dalam

larutan

sampel,

sehingga

tidak dipakai direndam sebentar dalam HNO3 65% panas yang

mengandung sedikit FeCl3.


Ujung buret tercelup didalam larutan uji yang diaduk selama titrasi

dengan magnet.
Makin tinggi konsentrasi zat larutan sampel makin tajam dan akurat titik
akhir, konsentrasi zat yang terlalu rendah (lebih kecil dari pada 0,001 M),
menyebabkan grafik titrasi menjadi kurang jelas.

Penambahan volume pada saat titrasi harus sekecil mungkin untuk


menghasilakn kurva titrasi yang simetris. Dengan kata lain, larutan normal
sebaiknya mempunyai konsentrasi yang tinggi (lebih baik misalnya 3 ml

1N HCl dari pada 30 ml HCl 0,1N HCl).


Kalau titrasi sudah mendekati titik akhir, maka kecepatan titrasi perlu

dikurangi agat terjadi kesetimbangan antara elektroda dan respons.


Untuk jenis titrasi dimana timbul endapan, misalnya AgCl, harus

dilakukan pelan-pelan.
Perlu diperhatikan, bahwa grafik yang simetris hanya dihasilkan oleh
titrasi dimana 1 mol sampel bereaksi dengan 1 mol penitrasi.
Berdasarkan hasil pratikum titrasi asidei-alkalimetri, kelompok kami

mendapatkan penetapan kadar asam sitrat 30,59% dengan persen kesalahan


sebesar 0,01%.

VII.

KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan penentuan kadar asam sitrat dengan titrasi asidialkalimetri maka praktikan dapat menarik kesimpulan yaitu :
1. Reaksi yang ada pada titrasi ini adalah reaksi netralisasi yaitu reaksi antara
asam dengan basa untuk mencapai titik ekivalen.
2. Kadar asam sitrat dalam sampel 30,59% dengan persen kesalahan sebesar
1,46%.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed 4. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta
Anonim. 2004 .Buku Panduan Praktikum Analisis Instrumentasi, Politeknik
Negeri Ujung Pandang: PEDC Bandung.
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keempat.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keempat.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Galen W. Ewing, 1975, Instrumental Methods of Chemical Analysis, Mc Graw
Hill International, London.
Gandjar, I.G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Khopkar, S. M.2003.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Official Methods of Analysis, 1984, Association of Official Analytical Chemists,
Arlington USA
Rivai Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Penerbit UI Press.
Robert Hicks/ J. R. Schenken/ M. A. Steinrauf. 1980. Laboratory Instrumentation,
Harper & Row Publishers, Philadelphia.
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Skoog, D. A., F. J. Holler and T. A. Nieman.1998. Principles of Instrumental
Analysis,5th edition.USA: Saunders College Publishing.

Underwood, A. L dan R. A. Day.1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat.


Jakarta: Erlangga.
Widjaja, I N.K. Dan N.P.L. Laksmiani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Analisis.
Jimbaran: Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.
Widjaja, I N.K., K.W. Astuti, N.M.P. Susanti, dan I M.A.G. Wirasuta. 2008.Buku
Ajar Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran: Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.

LAMPIRAN
PEMBAKUAN I

PEMBAKUAN II

PENETAPAN KADAR I

PENETAPAN KADAR II