Anda di halaman 1dari 24

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul


Vertigo

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Penyakit Saraf di Rumah Sakit Umum Islam Faisal
Periode 13 April 2015 17 Mei 2015

Disusun oleh:
Mufid Ikramullah A (110 2011 0057)

Telah diterima dan disetujui oleh Dr. dr. Nadra Maricar, Sp.S selaku dokter
pembimbing bagian neurologi RS Umum Islam Faisal.

Makassar, 11 Mei 2015


Mengetahui,

Dr.dr. Nadra Maricar, Sp.S

STATUS PASIEN
Nama Mahasiswa

: Mufid Ikramullah Aljaru

NIM

: 110 211 0057

Dokter Pembimbing : Dr. dr. Nadra Maricar, Sp.S

A. IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Status

: Ny. N
: 33 tahun
: Perempuan
: Ibu rumah tangga
: Menikah

Agama
Alamat
Suku
Tgl. Masuk
Ruang

: Islam
: Sumbo Opu
: Bugis
: 08/05/15
: 231

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Pusing berputar

Anamnesis Terpimpin

Informasi mengenai keluhan utama


Dialami sejak 5 hari yang lalu. Pasien merasa pusing ketika membuka mata saat
berdiri dan berbaring. Pusing bertambah berat ketika pasien menoleh ke sebelah
kanan. Ketika pusing pasien merasa penglihatannya gelap dan seakan-akan tubuh
pasien berputar-putar.
Informasi riwayat penyakit terdahulu (penyakit yang mungkin mendasari KU dan
penyakit yang pernah diderita.
Riwayat Eklamsia saat hamil anak pertama 15 tahun yang lalu
Anamnese sistematis

Demam (-), Mual (+), Muntah (-), Demam (-), BAK dalam batas normal, BAB
dalam batas normal.
Anamnese tentang pekerjaan/keluarga/hobbi/ dan sebagainya.
Pasien bekerja sebagai Ibu rumah tangga

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran
: Compos Mentis
Kesan Sakit
: Sakit Sedang
Tanda Vital
:
- Tekanan Darah
: 160/120 mmHg
- Nadi
: 72x/menit
- Pernapasan
: 20x/menit
- Suhu
: 36,8o C
Status Generalis
a. Kulit
: Kulit warna sawo matang, Ikterus (-), Sianosis (-),
turgor kulit Baik, teraba hangat.
b. Kepala
: Normocephali, rambut hitam dan distribusi merata
- Mata
: Anemis (-), Ikterus (-)
- Hidung
: Deformitas (-), Normosmia
- Telinga
: Pendengaran dalam batas normal
- Mulut
: Kering (-), Sianosis (-)
- Tenggorokan : Arcus faring simetris
c. Pemeriksaaan Leher
- Inspeksi
: Tidak ada bekas trauma atau massa
- Palpasi
: Tidak ada pembesaran KGB, tidak ada deviasi trakhea
d. Pemeriksaan Thoraks
Jantung
a. Inspeksi
: Tidak tampak iktus cordis
b. Palpasi
: Tidak teraba iktus cordis
c. Perkusi
: Batas jantung paru dalam batas normal
d. Auskultasi
: Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, mur-mur (-)
Paru
a. Inspeksi

: Dinding thoraks simetris saat statis atau dinamis,


3

retraksi otot dinding dada (-)


b. Palpasi
: Simetris antara kiri dan kanan
c. Perkusi
: Sonor di kedua lapangan paru
d. Auskultasi
: Suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
e. Pemeriksaan Abdomen
- Inspeksi
: Massa (-), Ascites (-)
- Palpasi
: Tidak ada nyeri tekan. Massa abnormal (-)
- Perkusi
: Dalam batas normal
- Auskultasi
: Peristaltik normal
f. Ekstremitas
: Tidak ada bekas trauma, akral hangat.
Status Neurologis
Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5

Gerakan Abnormal

: Tidak ada

a. Rangsangan Meningeal
1. Kaku kuduk
: Negatif
2. Brudzinsky I
: Negatif
3. Brudzinsky II : Negatif
4. Kernigs sign : Negatif
5. Laseque
: Negatif
b. Nervus Cranialis
1. Nervus I (Olfactorius): Normosmia
2. Nervus II (Opticus)
a. Visus
: Tidak dilakukan pemeriksaan
b. Warna
: Tidak dilakukan pemeriksaan
c. Funduskopi
: Tidak dilakukan pemeriksaan
d. Lapangan Pandang : Dalam batas normal

3. Nervus III, IV, VI (Occulomotorius, Trochlearis, Abducens)


a. Gerakan bola mata : Dalam batas normal
b. Nistagmus
:+
c. Ptosis
: Tidak ada
d. Pupil
: Isokor. OD : 2,5mm OS : 2,5 mm
e. Refleks Pupil
Langsung
:+/+

Tidak Langsung

:+/+

4. Nervus V (Trigeminus)
a. Sensorik
- N-V1 (Ophtalmicus)
:+
- N-V2 (Maxillaris)
:+
- N-V3 (Mandibularis)
:+
b. Motorik
:+
c. Refleks kornea
:+
5. Nervus VII (Facialis)
a. Sensoris (indra pengecap): Tidak dilakukan pemeriksaan
b. Motorik
:
- Angkat Alis
: Simetris
- Menutup Mata
: Simetris
- Menggembungkan pipi : Simetris
- Menyeringai
: Simetris
6. Nervus VIII (Vestibulocochearis)
Pendengaran
Test Rinne
: Tidak dilakukan pemeriksaan
Test Schwabach : Tidak dilakukan pemeriksaan
Test Weber
: Tidak dilakukan pemeriksaan
7. Nervus IX, X (Glossopharyngeus, Vagus)
a. Refleks menelan
:+
b. Refleks Batuk
: Tidak dilakukan pemeriksaan
c. Refleks Muntah
: Tidak dilakukan pemeriksaan
d. Posisi Uvula
: Normal. Tidak ada deviasi
e. Posisi Arkus Faring
: Simetris
8. Nervus XI (Accesorius)
- Kekuatan M. Sternocleidomastoideus
: Baik
- Kekuatan M. Trapezius
: Baik
9. Nervus XII (Hypoglossus)
a. Tremor Lidah
: Tidak ada
b. Atrofi lidah
: Tidak ada
c. Deviasi lidah
: Tidak ada
d. Fasikulasi
: Tidak ada

c. Pemeriksaan Motorik
5

1. Refleks
a. Refleks Fisiologis
Biceps
:+/+
Triceps:
:+/+
Achilles
:+/+
Patella
:+/+
b. Refleks Patologis
Hofman-Tromner
Babinsky
Oppenheim
Chaddock
Gordon
Schaffer
2. Kekuatan otot
5
5
5
5
3. Tonus otot
N
N
N
N

:- /: -/: -/: -/: -/: -/-

d. Sistem Ekstrapiramidal
1. Tremor
: Tidak ditemukan selama pemeriksaan
e. Sistem Koordinasi
1. Romberg test
: Tidak dilakukan pemeriksaan
2. Heel to toe Walking
: Tidak dilakukan pemeriksaan
3. Finger to nose test
: Dalam batas normal
4. Telunjuk ke telunjuk : Dalam batas normal
f. Fungsi Kortikal
Nilai pemeriksaan Fungsi Kortikal Luhur : 24
Interpretasi
: NORMAL
g. Susunan Saraf Otonom
BAB
: Lancar
BAK
: Lancar

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Laboratorium (8 April 2015)

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

METABOLISME KARBOHIDRAT
- GDS

95

70 - 100 mg/dl

E. RESUME
Ny.N seorang ibu tumah tangga dengan usia 33 tahun masuk ke Instalasi
Gawat Darurat (IGD) RS Islam Faisal pada tanggal 8 April 2015 pukul 10.00
WITA dengan keluhan pusing berputar. Yang dialami sejak 5 hari yang lalu,
pasien merasa pusing ketika membuka mata, saat akan berdiri dan berbaring.
Pusing akan bertambah berat ketika pasien menoleh ke sebelah kanan. Saat
pusing pasien merasa penglihatannya gelap dan seakan-akan tubuh pasien
berputar-putar.
Selain itu juga pasien mengeluhkan mual (+), muntah (-), demam (-), BAK
dalam batas normal dan BAB dalam batas normal. Riwayat hipertensi (+) sejak
15 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis diperoleh pasien dalam keadaan
sakit sedang, gizi cukup, compos mentis. Sedangkan pada status vitalis diperoleh
TD 160/120 mmHg, nadi 72x/menit, pernapasan 20x/menit. suhu aksilla 36,8C.
Kemudian dari pemeriksaan neurologis didapatkan fungsi kortikal luhur nomal,
rangsang menings (-), pemeriksaan saraf cranial semua dalam batas normal, tes
motorik dan tes sensorik dalam batas normal, sedangkan pada tes keseimbangan
didapatkan tes nistagmus (+). Dari hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 8
April 2015 didapatkan GDS 95 (N= 70-110 mg/dl).
F. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinik : Vertigo perifer
Diagnosis topis

: Vestibular Dextra

Diagnosis Etiologi: BPPV


Diagnosis Banding: Menier disease

G. TERAPI
- IVFD RL 28 tpm
- Vastigo 6 mg 3x1
- Dimenhidrinat -0-
- Metoklopramide 3x1
- Alprazolam -0-

- Unolim 5 mg 2x1
- Pulvis 3x1

H. FOLLOW UP
Tanggal
9
Pasien
Mei
2015
pusingnya

O
TD: 120/100 mmHg
HR: 96x/menit
RR: 18 x/mnit
S : 36,3oC

merasakan sudah sedikit -

berkurang.

A
P
Vertigo - IVFD RL 28
Perifer

tpm
- Vastigo 6 mg

ec
GCS: E4M6V5
Pupil isokor 2.5mm/2.5mm
RCL +/+
RCTL +/+
Refleks Fisiologis
N
N

N
N

Refleks Patologis
-

3x1
BPPV - Dimenhidrinat
-0-
- Metokloprami
de 3x1
- Alprazolam 0-
- Unolim 5 mg
2x1
- Pulvis 3x1

Motorik
Gerakan
N
N

N
N

Kekuatan
N
N

N
N

Tonus
N
N

N
N

Otonom :
BAB/BAK: Dbn
9

10
Mei
2015

Pasien sudah tidak lagi - TD: 120/100 mmHg


- HR: 96x/menit
mengeluh pusing ketika - RR: 18 x/mnit
- S : 36,3oC
berdiri dan berbaring
GCS: E4M6V5
Pupil isokor 2.5mm/2.5mm
RCL +/+
RCTL +/+
Refleks Fisiologis
N
N

N
N

Refleks Patologis
-

Vertigo - IVFD RL 28
Perifer

tpm
- Vastigo 6 mg

ec
3x1
BPPV - Dimenhidrinat
-0-
- Metokloprami
de 3x1
- Alprazolam 0-
- Unolim 5 mg
2x1
- Pulvis 3x1

Motorik
Gerakan
N
N

N
N

Kekuatan
N
N

N
N

Tonus
N
N

N
N

Otonom :
BAB/BAK: Dbn

10

11
Mei
2015

Pasien

sudah

tidak - TD: 120/100 mmHg


- HR: 96x/menit
mengeluh pusing sama - RR: 18 x/mnit
- S : 36,3oC
sekali
dan
telah GCS: E4M6V5
Pupil isokor 2.5mm/2.5mm
diperbolehkan pulang
RCL +/+
RCTL +/+
Refleks Fisiologis
N
N

N
N

Refleks Patologis
Motorik
Gerakan
N
N

Vertigo - Vastigo 6 mg
Perifer

3x1
- Dimenhidrinat

ec
-0-
BPPV - Metokloprami
de 3x1
- Alprazolam 0-
- Unolim 5 mg
2x1
- Pulvis 3x1

N
N

Kekuatan
N
N

N
N

Tonus
N
N

N
N

Otonom :
BAB/BAK: Dbn
I. PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Fungsionam
Ad Sanationam

: Ad Bonam
: Ad Bonam
: Ad Malam

11

J. PEMBAHASAN KASUS
Berdasarkan data-data yang didapatkan dari anamnsesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan pasien menderita Vertigo
Vestibular Perifer ec Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). BPPV
merupakan gangguan vestibuler dengan gejala rasa pusing berputar diikuti mual
muntah dan keringat dingin, yang dipicu oleh perubahan posisi kepala terhadap
gaya gravitasi tanpa adanya keterlibatan lesi di susunan saraf pusat. BPPV adalah
penyebab vertigo dengan prevalensi 2,4% dalam kehidupan seseorang. Studi yang
dilakukan oleh Bharton 2011, prevalensi akan meningkat setiap tahunnya
berkaitan dengan meningkatnya usia sebesar 7 kali atau seseorang yang berusia di
atas 60 tahun dibandingkan dengan 18-39 tahun. BPPV lebih sering terjadi pada
wanita daripada laki-laki. 4,5,10
BPPV disebabkan ketika otolith yang terdiri dari kalsium karbonat yang
berasal dari makula pada utrikulus yang lepas dan bergerak dalam lumen dari
salah satu kanal semisirkular. Kalsium karbonat dua kali lebih padat dibandingkan
endolimfe, sehingga bergerak sebagai respon terhadap gravitasi dan pergerakan
akseleratif lain. Ketika kristal kalsium karbonat bergerak dalam kanal
semisirkular (kanalitiasis), mereka menyebabkan pergerakan endolimfe yang
menstimulasi ampula pada kanal yang terkena, sehingga menyebabkan vertigo.
Arah dari nistagmus ditentukan oleh eksitasi saraf ampula pada kanal yang
terkena oleh sambungan langsung dengan otot ektraokular. Setiap kanal yang
terkena kanalitiasis memiliki karakteristik nistagmus tersendiri. Kanalitiasis
mengacu pada partikel kalsium yang bergerak bebas dalam kanal semisirkular.
12

Sedangkan kupulolitiasis mengacu pada kondisi yang lebih jarang dimana partikel
kalsium melekat pada kupula itu sendiri. Konsep calcium jam pernah diusulkan
untuk menunjukkan partikel kalsium yang kadang dapat bergerak, tetapi kadang
terjebak dalam kanal. Alasan terlepasnya kristal kalsium dari makula belum
dipahami dengan pasti. Debris kalsium dapat pecah karena trauma atau infeksi
virus, tapi pada banyak keadaan dapat terjadi tanpa trauma atau penyakit yang
diketahui. Mungkin ada kaitannya dengan perubahan protein dan matriks gelatin
dari membran otolith yang berkaitan dengan usia.6
Dari anamnesis data yang menunjang adalah adanya rasa pusing berputar
yang dirasakan oleh pasien. Pusing akan muncul disaat pasien membuka mata,
saat akan berdiri dan berbaring, dan bertambah berat ketika pasien menoleh ke
sebelah kanan. Saat pusing pasien merasa penglihatannya gelap dan seakan-akan
tubuh pasien berputar-putar. Pasien juga merasa mual saat serangan. Hal ini sesuai
dengan teori yang menjelaskan bahwa pada BPPV, vertigo timbul mendadak pada
perubahan posisi, misalnya miring ke satu sisi Pada waktu berbaring, bangkit dari
tidur, membungkuk. atau menegakkan kembali badan, menunduk atau
menengadah. Serangan berlangsung dalam waktu singkat, biasanya kurang dari
10-30 detik. Vertigo pada BPPV dirasakan berputar, bisa disertai rasa mual,
kadang-kadang muntah. Setelah rasa berputar menghilang, pasien bisa merasa
melayang dan diikuti dis-ekulibrium selama beberapa hari sampai minggu. BPPV
dapat muncul kembali.8
Pemeriksaan fisik yang menunjang kearah diagnosis kerja adalah
pemeriksaan nistagmus (dis-halpike Manuever) positif dengan arah nistagmus
13

horizontal dan terdapat fase laten selama 10 detik sebelum muncul nistagmus. Tes
ini tidak boleh dilakukan pada pasien yang memiliki masalah dengan leher dan
punggung. Tujuannya adalah untuk memprovokasi serangan vertigo dan untuk
melihat adanya nistagmus.5
Cara melakukannya sebagai berikut : 5
1. Pertama-tama jelaskan pada penderita mengenai prosedur pemeriksaan, dan
vertigo mungkin akan timbul namun menghilang setelah beberapa detik.
2. Penderita didudukkan dekat bagian ujung tempat periksa, sehingga ketika
posisi terlentang kepala ekstensi ke belakang 300-400, penderita diminta tetap
membuka mata untuk melihat nistagmus yang muncul.
3. Kepala diputar menengok ke kanan 450 (kalau kanalis semisirkularis posterior
yang terlibat). Ini akan menghasilkan kemungkinan bagi otolith untuk
bergerak, kalau ia memang sedang berada di kanalis semisirkularis posterior.
4. Dengan tangan pemeriksa pada kedua sisi kepala penderita, penderita
direbahkan sampai kepala tergantung pada ujung tempat periksa.
5. Perhatikan munculnya nistagmus dan keluhan vertigo, posisi tersebut
dipertahankan selama 10-15 detik.
6. Komponen cepat nistagmus harusnya up-bet (ke arah dahi) dan ipsilateral.
7.

Kembalikan ke posisi duduk, nistagmus bisa terlihat dalam arahyang


berlawanan dan penderita mengeluhkan kamar berputar kearah berlawanan.

8. Berikutnya manuver tersebut diulang dengan kepala menoleh ke sisi kiri 450
dan seterusnya.

14

Gambar 5. Dix-Hallpike Test


Pada orang normal nistagmus dapat timbul pada saat gerakan provokasi ke
belakang, namun saat gerakan selesai dilakukan tidak tampak lagi nistagmus.
Pada pasien BPPV setelah provokasi ditemukan nistagmus yang timbulnya
lambat, 40 detik, kemudian nistagmus menghilang kurang dari satu menit bila
sebabnya kanalitiasis, pada kupulolitiasis nistagmus dapat terjadi lebih dari satu
menit, biasanya serangan vertigo berat dan timbul bersamaan dengan nistagmus. 5
Karena penyebab vertigo beragam, sementara penderita seringkali merasa
sangat terganggu

dengan keluhan vertigo tersebut, seringkali menggunakan

pengobatan simptomatik. Lamanya pengobatan bervariasi. Sebagian besar kasus


terapi dapat dihentikan setelah beberapa minggu. Beberapa golongan yang sering digunakan :
Antihistamin
Tidak semua obat antihistamin mempunyai sifat anti vertigo. Antihistamin
yang dapat meredakan vertigo seperti obat dimenhidrinat, difenhidramin,
meksilin,siklisin. Antihistamin yang mempunyai anti vertigo juga memiliki
aktivitas anti-kholinergik di susunan saraf pusat. Mungkin sifat anti-kholinergik
ini ada kaitannya dengan kemampuannya sebagai obat anti vertigo. Efek samping

15

yang umum dijumpai ialah sedasi (mengantuk). Pada penderita vertigo yang berat
efek samping ini memberikan dampak yang positif.
Betahistin
Senyawa Betahistin (suatu analog histamin) yang dapat meningkatkan
sirkulasi ditelinga dalam, dapat diberikan untuk mengatasi gejala vertigo. Efek
samping Betahistin ialah gangguan di lambung, rasa enek, dan sesekali rash di
kulit.
Betahistin Mesylate (Merislon)
Dengan dosis 6 mg (1 tablet) 12 mg, 3 kali sehari per oral.
Betahistin di Hcl (Betaserc)
Dengan dosis 8 mg (1 tablet), 3 kali sehari. Maksimum 6 tablet dibagi dalam
beberapa dosis.
Dimenhidrinat (Dramamine)
Lama kerja obat ini ialah 4 6 jam. Dapat diberi per oral atau parenteral(suntikan
intramuscular dan intravena). Dapat diberikan dengan dosis 25 mg 50mg (1
tablet), 4 kali sehari. Efek samping ialah mengantuk.
Difhenhidramin Hcl (Benadryl)
Lama aktivitas obat ini ialah 4 6 jam, diberikan dengan dosis 25 mg (1 kapsul)
50 mg, 4 kali sehari per oral. Obat ini dapat juga diberikan parenteral.
Efek samping mengantuk.
Antagonis kalsium
Dapat juga berkhasiat dalam mengobati vertigo. Obat antagonis kalsium
Cinnarizine (Stugeron) dan Flunarizine (Sibelium) sering digunakan. Merupakan
obat

supresan

vestibular

karena

sel

rambut

vestibular

mengandung

banyak terowongan kalsium. Namun, antagonis kalsium sering mempunyai


khasiat lainseperti anti kholinergik dan antihistamin. Sampai dimana sifat yang
lain ini berperandalam mengatasi vertigo belum diketahui.

16

Cinnarizine (Stugerone)
Mempunyai khasiat menekan fungsi vestibular. Dapat mengurangi respons
terhadap akselerasi angular dan linier. Dosis biasanya ialah 15 30 mg, 3 kali
sehari atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa mengantuk (sedasi), rasa
capek, diare atau konstipasi, mulut rasa kering dan rash di kulit.
Fenotiazine
Kelompok obat ini banyak mempunyai sifat anti emetik (anti muntah).
Namun tidak semua mempunyai sifat anti vertigo. Khlorpromazine (Largactil)
danProkhlorperazine (Stemetil) sangat efektif untuk nausea yang diakibatkan
olehbahan kimiawi namun kurang berkhasiat terhadap vertigo.
Promethazine (Phenergan)
Merupakan golongan Fenotiazine yang paling efektif mengobati vertigo. Lama
aktivitas obat ini ialah 4 6 jam. Diberikan dengan dosis 12,5 mg 25 mg
(1draze), 4 kali sehari per oral atau parenteral (suntikan intramuscular
atauintravena).

Efek

samping

yang

sering

dijumpai

ialah

sedasi

(mengantuk),sedangkan efek samping ekstrapiramidal lebih sedikit disbanding


obat Fenotiazinelainnya
Khlorpromazine (Largactil)
Dapat diberikan pada penderita dengan serangan vertigo yang berat dan akut.Obat
ini dapat diberikan per oral atau parenteral (suntikan intramuscular atauintravena).
Dosis yang lazim ialah 25 mg (1 tablet) 50 mg, 3 4 kali sehari.Efek samping
ialah sedasi (mengantuk).
Obat simpatomimetik
Obat simpatomimetik dapat juga menekan vertigo. Salah satunya obat
simpatomimetik yang dapat digunakan untuk menekan vertigo ialah efedrin.

17

Efedrin
Lama aktivitas ialah 4 6 jam. Dosis dapat diberikan 10 -25 mg, 4 kali sehari.
Khasiat obat ini dapat sinergistik bila dikombinasi dengan obat anti
vertigolainnya. Efek samping ialah insomnia, jantung berdebar (palpitasi) dan
menjadi gelisah gugup.
Obat penenang minor
Dapat

diberikan kepada

penderita

vertigo

untuk

mengurangi

kecemasan yang diderita yang sering menyertai gejala vertigo. efek samping
seperti mulut kering dan penglihatan menjadi kabur.
Lorazepam
Dosis dapat diberikan 0,5 mg 1 mg
Diazepam
Dosis dapat diberikan 2 mg 5 mg.
Obat anti kholinergik
Obat antikolinergik yang aktif di sentral dapat menekan aktivitas system
vestibular dan dapat mengurangi gejala vertigo.
Skopolamin
Skopolamin dapat pula dikombinasi dengan fenotiazine atau efedrin dan
mempunyai khasiat sinergistik. Dosis skopolamin ialah 0,3 mg 0,6 mg, 3 4
kali sehari. 10

18

Terapi Spesifik
Terapi BPPV tergantung pada patofisologi dan jenis kanal yang terlibat.
Tujuan terapi adalah melepaskan otokonia dari dalam kanalis atau kupula,
mengarahkan agar keluar dari kanalis semisirkularis menuju utrikulus melalui
ujung non ampulatory kanal.
Beberapa teknik manuver telah dikembangkan untuk menangani BPPV
kanalis horizontal.
1. Barbeceau Manuver
Pasien diminta untuk berputar 3600 dalam posisi tidur, dimulai dengan telinga
yang sakit diposisi bawah, berputar 900 sampai satu putaran lengkap (3600).
Setiap posisi dipertahankan selama 30 detik. Manuver ini akan menggerakkan
otokonia keluar dari kanal menuju utrikulus kembali.

Gambar : Barbecue Manuver


2. Log Roll maneuver
Pasien berputar 2700 dalam posisi tidur miring ke sisi telinga yang sakit,
berputar 900

tiap satu menit menuju ke telinga yang sehat dengan total

putaran 2700

19

Gambar : Log Roll Maneuver


3. Gufoni Maneuver
Pasien duduk dengan kepala menghadap lurus ke depan dan direbahkan
dengan cepat ke arah sisi lesi, posisi ini dipertahankan selama satu menit
setelah nistagmus apogeotropik berakhir. Dalam posisi rebah, kepala pasien
diputar 450 ke depan (hidung ke atas), posisi ini dipertahankan selama dua
menit. Pasien kembali ke posisi semula.

Gambar : Gufoni maneuver


Terapi ini diharapkan mampu mengkonversi nistagmus apogeotropik menjadi
nistagmus geotropik.

20

4. Forced Prolonged Position Maneuver


Pasien diminta untuk tidur miring dengan telinga yang sakit berada di posisi
atas selama 12 jam. Posisi ini diharapkan mampu melepaskan otokonia yang
melekat pada kupula, dan memasukkan otokonia ke utrikulus kembali dengan
bantuan gravitasi.
Barbecue maneuver adalah manuver terapi yang paling banyak digunakan
para klinisi untuk BPPV kanalis horizontal tipe kanalolithiasis maupun
kupulolithiasis, namun sampai saat ini belum ditemukan laporan yang
membandingkan efektifitas masing-masing teknik.
Penatalaksanaan BPPV kanalis horizontal tipe kupulolithiasis sampai saat
ini

masih

merupakan

tantangan

tersendiri

bagi

para

klinisi.

Prinsip

penatalaksanaan tipe kupulolithiasis adalah melepaskan otokonia dari kupula, dan


memasukkannya kembali ke utrikulus. Hal ini dapat diketahui dengan berubahnya
nistagmus apogeotropik menjadi geotropik.
Keberhasilan terapi di konfirmasi dengan melakukan manuver provokasi
ulang, jika masih terdapat gejala vertigo dan nistagmus, maka manuver terapi
diulang kembali. Umumnya pada manuver provokasi yang ketiga, gejala vertigo
dan nistagmus tidak muncul lagi.
Keberhasilan terapi pada BPPV digolongkan atas tiga kriteria
-

Asimptomatis; pasien tidak lagi mengeluhkan rasa pusing berputar, dan head

roll test tidak lagi memberikan gambaran nistagmus.


Perbaikan; secara subjektif keluhan vertigo telah berkurang lebih dari 70%,
pasien mampu melakukan aktifitas yang sebelumnya dihindari. Secara

objektif nistagmus horizontal masih muncul pada manuver provokasi.


tidak ada perbaikan; jika keluhan vertigo yang dirasakan berkurang <70%,
dan nistagmus muncul dengan intensitas yang sama. BPPV kanalis horizontal
beremisi lebih cepat dan lebih baik daripada BPPV posterior, hal ini
dikarenakan posisi ujung kanalis semisirkularis horizontal yang terbuka dan

21

sejajar dengan utrikulus sewaktu kepala berada pada posisi sejajar bidang
horizontal bumi, sehingga otokonia yang berada di sepanjang kanalis dapat
kembali spontan ke utrikulus. 8
A. Follow Up
Dari hasil follow up didapatkan perbaikan berangsur angsur. Pusing
yang dirasakan pasien semakin berkurang setelah diberikan pengobatan
farmakologi dan fisioterapi.
B. Prognosis
Ad Vitam

: Ad Bonam

Ad Fungsionam

: Ad Bonam

Ad Sanationam

: Ad Malam

DAFTAR PUSTAKA
1. Riyanto Budi Wreksoatmodjo. Vertigo : Aspek Neurologis. C ermin Dunia
Kedokteran No. 144, 2004 hal : 41.
2. Bhattacharyya N, Baugh F R, Orvidas L. Clinical Practice Guideline: Benign
Paroxysmal Positional Vertigo. Otolaryngology-Head and Neck Surgery.
2008;139: S47-S81.

22

3. Bittar et al. Benign Paroxysmal Positional Vertigo: Diagnosis and Treatment.


International Tinnitus Journal. 2011;16(2): 135-45.
4. Bashiruddin J. 2007. Vertigo Posisi Paroksimal Jinal. Dalam : Arsyad E. Iskandar
N, Editor. Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI. Hal 104-9
5. Edward Yan dan Yelvita Roza. 2010. Diagnosis dan Penatalaksaan Benign
Paroxysmal Positional Vertigo Kanalis Horizontal. Bagian Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Padang.
6. http://repository.unand.ac.id/17573/1/Diagnosis_dan_Penatalaksanaan_Benign_P
aroxysmal_Positional_Vertigo_Kanalis_Horizontal.pdf
7. Fife D.T. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. Semin Neurol Journal.
2009;29:500-508.
8. Bittar et al. Benign Paroxysmal Positional Vertigo: Diagnosis and Treatment.
International Tinnitus Journal. 2011;16(2): 135-45.
9. Sura, D.J. Newell, S. Vertigo-Diagnosis and management in primary care. BJMP.
2010;3(4):a351.
10. Lempert, T. Neuhauser, H. Epidemiology of vertigo, migraine and vestibular
migraine. Journal Neurology. 2009:25:333-338.
11. Kelompok Studi Vertigo. Pedoman Tatalaksana Vertigo. Pehimpunan Dokter
Spesialis Neurologi (Perdossi). 2012.
12. Wreksoatmojo BR. Vertigo-Aspek Neurologi. [online] 2009 [cited 2009 May
30th]. Available from : URL:http://www.google.com/vertigo/cermin dunia
kedokteran .html
13. Joesoef AA. Vertigo. In : Harsono, editor. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press; 2000. p.341-59
14. Li JC & Epley J. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. [online] 2009 [cited 2009
May 20th]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/884261overview
15. Parnes et al. Diagnosis and Management of Benign Paroxysmal Positional Vertigo
(BPPV). CMAJ. 2003;169 (7): 681-93.
16. Mardjono, M. Sidharta, P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. 2008.

23

24