Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap individu berhak atas taraf hidup yang memadai bagi
kesejahteraan dirinya maupun keluarganya, termasuk diantaranya sandang
pangan, perumahan dan perawatan kesehatan. Perawatan kesehatan sangat
penting dilakukan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Kondisi
kesehatab masyarakat saat ini memungkinkan terjadinya perubahan pada
pola penyakit. Salah satunya adalah penyakit yang menyerang telinga atau
bisa disebut mastoiditis.
Dia Amerika Serikat dan Negara maju lain, kejadian dari mastoiditis
cukup rendah yaitu sekitar 0,004%, meskipun lebih tinggi di Negaranegara berkembang. Usia yang paling umum terkena penyakit ini yaitu
antara 6-13 bulan. Laki-laki maupun perempuan sama-sama beresiko. Di
Negara Indonesia belum diketahui secara pasti persentasi kejadian dari
mastoiditis namun Indonesia dikatakan rentan dan beresiko tinggi terhadap
penyakit ini. Penyakit ini berkaitan dengan virulensi dari organisme
penyebab yang hampir sama dengan penyebab otitis media akut. Walaupun
angka kejadian mastoiditis di Indonesia mulai berkurang dari tahun
ketahunnya hal ini tidak bisa disepelekan karena apabila tidak ditangani
dengan tepat klien akan mengalami gangguan yang bersifat kronis selain
itu akan terjadi komplikasi serius seperti meningitis dan abses otot.
Oleh karena itu, kami menyusun makalah mengenai Asuhan
Keperawatan Infeksi Pada Pasien THT dengan Diagnosa Mastoiditis, agar
tenaga kesehatan dapat memahami bagaimana merawat pasien dengan
mastoiditis. Dan diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
maupun pembaca.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan mastoiditis?


b. Apa penyebab dari mastoiditis?
c. Bagaimana patofisiologi dari mastoiditis?
d. Apa saja klasifikasi mastoiditis?
e. Apa saja komplikasi yang ditimbulkan oleh mastoiditis?
f. Bagaimana manifestasi klinis dari mastoiditis?
g. Apa saja penatalaksanaan medis atau non medis maupun
penatalaksanaan keperawatan yangn dapat dilakukan?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian dari mastoiditis.
b. Mengetahui etiologi dari penyakit mastoiditis.
c. Mengetahui patofisiologi dari mastoiditis.
d. Mengetahui klasifikasi mastoiditis.
e. Mengetahu berbagai macam komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh
mastoiditis.
f. Mengetahui manifestasi klinis mastoiditis.
g. Mengetahui tindakan atau penatalaksanaan medis,non medis maupun
tindakan keperawatan yang harus dilakukan.

BAB II

TINJAUN TEORI
2.1 Konsep Dasar Penyakit
a. Pengertian Mastoiditis
Mastoiditis merupakan suatu infeksi dari otitis media akut yang
melanjutkan ke dalam sel udara mastoid (Lemone 2004:1496 dalam Ari
Setyarini, Elizabeth. 2008).
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu
infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis.
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang
terletak pada tulang temporal. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang
diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat
terjadi osteomielitis. ( Brunner dan Suddarth, 2000).
Masatoiditis adalah peradangan sistem sel-sel udara tulang mastoid
yang menyertai otitis media akut dan kronis disertai dengan efusi (Nelson,
1992: 592).
Jadi, dapat disimpulkan mastoiditis adalah suatu peradangan pada
telinga tengah yang merupakan komplikasi dari otitis media.
b. Klasifikasi Mastoiditis
Klasifikasi dari mastoiditis menurut Brunner & Sudddert, 2000, antara
lain:
1) Akut mastoiditis, biasa terjadi pada anak-anak, sebagai komplikasi
dari otitis media akut suppurative.
2) Kronik mastoiditis, biasanya berkaitan dengan cholesteatome dan
penyakit telinga kronis.
3) Incipient mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat langsung di
bagian mastoid.
4) Coalescent mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat komplikasi
dari infeksi di organ tubuh yang lain
c. Etiologi Mastoiditis
Organisme penyebab yang paling umum pada mastoiditis adalah
stertococcus pneumoniae, haemophilus influenza, branhamella catarralis
dan beta haemolityc stertococcus. Organisme-organisme ini biasanya
menyebabkan infeksi monobakterial pada otitis media dengan inflamasi

mukoperosteum di telinga tengah, pembengkakan dan hiperplasia mukosa.


(Tarantino V, 2002).
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus hemoliticus/pneumococcus.
Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya
air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat
menyebabkan infeksi. Menyebarnya infeksi dari telinga bagian tengah,
infeksi dan nanah mengumpul di sel-sel udara mastoid. (Brunner &
Sudddert, 2000).
Penyebab lain dari Mastoiditis antara lain:
1) Terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut. (Reeves 2001: 19 )
2) Klien imunosupresi atau orang yang menelantarkan otitis media akut
yang dideritanya. Berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab
otitis media akut yaitu streptococcus pnemonieae. (George 1997: 106)
3) Bakteri lain yang sering ditemukan adalah adalah branhamella
catarrhalis, streptococcus group-A

dan staphylococcus

aureus,

streptococcus aureus. Bakteri yang biasanya muncul pada penderita


mastoiditis anak-anak adalah streptococcus pnemonieae. (George 1997:
106)
d. Patofisiologi Mastoiditis
Pada mastoid akut, tulang septal antara sel udara mastoid dihancurkan
dan sel bergabung untuk membentuk ruang besar. Bagian dari jalannya
mastoid terkikis. Dengan adanya infeksi kronis, dapat menyebabkan
sebuah abses dapat terbentuk, atau sklerosis tulang dari mastoid.
Mastoiditis akut meningkatkan resiko meningitis karena hanya sebuah
tulang yang sangat tipis memisahkan sel udara mastooid dari otak.
Beruntungnya, komplikasi ini jarang terjadii sejak pemberian antibiotika
yang efektif untuk therapy otitis media. (Ari Setyarini, Elizabeth. 2008).
Mastoiditis umumnya disebabkan oleh Infeksi oleh streptococcus
(60%), pneumococcus (30%), staphylococcus aureus/albus, s. viridians, H.
influezae. Bakteri ini menyerang telinga bagian luar kemudian menjalar ke
cavum tympani. Cavum tympani mengalami peradangan. Eksudat mulai
terakumulasi. Kemudian infeksi menjalar ke tulang mastoid, mastoid
menjadi meradang. Peradangan mastoid ini bisa menjadi 4 macam yaitu

jenis I yaitu mastoiditis disertai nanah dan jaringan granulasi, jenis II


mastoiditis dan kolesteatom, mastoiditis campuran (campuran jenis 1 dan
2), Mastoiditis yang sklerotik.
Bila mastoiditis ini terus berlanjut maka akumulasi eksudat dan nanah
semakin meningkat, sehingga akan mendesak membran timpani dan
mnyebabkan ruptur sehingga akan cairan keluar dari telinga, kemudian
dapat menimbulkan edema dan ulserasi dibeberapa tempat. Akibat
selanjutnya eksudat dan nanah menekan pembuluh darah dan penekanan
ini menyebabkan nekrosis dan granulasi ruang abses. Tulang bagian dalam
juga bisa mengalami peradangan (osteitis).

Peningkatan akumulasi

eksudat di telinga bagian dalam. Eksudat bercampur nanah mencoba


mencari jalan keluar. Komplikasi selanjutnya abses subperiosteum.
Akibat infeksi telinga tengah mengakibatkan tekanan udara telinga
tengah berkurang, retraksi memmbran timpani akan terjadi dan hantaran
suara akan menurun sehingga pendengaran berkurang dan bisa
menyebabkan tinitus.Apabila infeksi masuk ke tulang dalam maka akan
terjadi erosi pada kanalis semisirkularis sehingga keseimbangan tubuh
akan berkurang.

Pathhway keperawatan

Gram positif : s
pyogenes dan s
albus

Kuman aerob

Gram negative :
proteus,
pseudomonas
spp E colli,
kuman an aerob

Bakterioides spp

Timbul Infeksi pada telinga

Gangguan rasa
nyaman
NyeriNyeri

Rinogen dari
Kerusakan
penyakit
jaringan/dikontinuit
ronggga
hidung
Timbul
Gangguan
suara
Kemerahan
Cemas
Hiperemi
as
jaringan
& sekitarnya
Peradangan
pada
pendengaran
Komunikasi
denging
pada
mastoid
Mastoiditi

Penurunan
Keluarnya
Otolitis
push
push
harga
diri

Eksogen infeksi
dari luar melalui
perforosi
membrane
tympani

Endogen
alergi,DM, TBC
paru

Bagan Patofisiologi
Invasi Bakteri
Mastoiditis

Proses Peradangan di kavum


timpani
Nyeri di
sekitar
telinga
telinga

Ke mukosa
antrium
mastoid

Peradangan menyebar ke
seluruh antrum dan fossa
posterior dari tengkorak,
saluran saraf wajah hingga
ke otak. Paralisis saraf fasialis
Meningitis

Peningkatan produksi cairan Pengobatan


Tekanantidak
udara
serosa
telinga
tengah
tuntas/episode
berulang
Akumulasi cairan
mucus dan serosa

Infeksi menyebar
Retraksi
membran
ke telinga
dalam
timpani

Ruptur membran timpani


karena desakan
Penurunan
Vertigo
dan
Penurunan
Erosi
pada
kanalis
Otorhoe (keluarnya
secret dan berbau
Abses
otak
tidak enak)

hantaran
suara
Keseimbangan
Tubuh
semisirkularis
Tinnitus

e. Tanda dan Gejala Mastoiditis


Tanda dan gejala mastoiditis akut biasanya berkembang antara 2 atau
3 minggu setelah episode dari otitis media akut dan termasuk menurut Ari
Setyarini, Elizabeth. 2008:
1) Sakit telinga berulang
2) Kehilangan pendengaran
3) Tampak kemerahan dan inflamasi
4) Bengkak dapat menyebabkan aurikula dari telinga menonjol melebihi
dari normal (retroaurikula).
5) Panas dapat disertai dengan tinnitus dan sakit kepala
6) Pengeluaran cairan dari telinga yang berlebihan perlu dicatat.
Tulang septal hancur
Membentuk ruangan yang besar
Infeksi kronik
Abses, sklerosis tulang mastoid

Nyeri telinga, kemerahan


Inflamasi, bengkak, panas, sakit
kepala
Pengeluaran caitan dari telinga
Kehilngan pendengaran

Tanda gejala menurut (Brunner & Suddert 2000) adalah sebagai berikut:
1) Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang telinga dan
dirasakan lebih parah pada malam hari, tetapi hal ini sulit didapatkan
pada pasien-pasien yang masih bayi dan belum dapat berkomunikasi.
Hilangnya pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada
besarnya kompleks mastoid akibat infeksi.
2) Gejala dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam
telinga yang selama lebih dari tiga minggu, hal ini menandakan bahwa
pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ mastoid.
3) Demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga
tengah sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal
perjalanan penyakit. Jika demam tetap dirasakan setelah pemberian
antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar.
Menurut H. Nurbaiti Iskandar (1997), manifestasi klinis dari
mastoiditis adalah :
1)
2)
3)
4)

Febris/subfebris
Nyeri pada telinga
Hilangnya sensasi pendengaran
Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat

5)
6)
7)
8)

juga pada sisi telinga yang lainnya)


Kemerahan pada kompleks mastoid
Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir.
Matinya jaringan keras (Tulang, Tulang Rawan).
Adanya abses (Kumpulan jaringan mati dan nanah)

f. Komplikasi Mastoiditis
Komplikasi otogenik lain dapat terjadi akibat dari mastoiditis, dan juga
resiko untuk terjadinya komplikasi tambahan lain juga meningkat.
Komplikasi yang berpotensi untuk terjadi sebaga akibat dari mastoiditis.
Abses dapat terbentuk dibawah kulit (abses subperiosteal), pada jaringan
otot (abses bezold di sternocleidomastoideus), atau intrakranial. Infeksi

juga dapa menyebabkan meningitis atau septic trombosis dari sinus


sigmoid.(Probst R, 2006)
Menurut (Brunner & Suddert 2000), yaitu :
1) Petrositis yaitu infeksi pada tulang disekitar tulang telinga tengah
perforasi gendang telinga dengan cairan yang terus menerus keluar.
2) Labyrintitis yaitu peradangan labyrint ini dapat disertai dengan
kehilangan pendengaran atau vertigo disebut juga otitis intema
3) Meningitis yaitu peradangan meningen (radang membran pelindung
sistem

saraf)

biasanya

penyakit

ini

dapat

disebabkan

oleh

mikroorganisme.
4) Abses otak yaitu kumpulan nanah setempat yang terkumpul dalam
jaringan otak.
Beberapa komplikasi dapat timbul bila bahan yang terinfeksi belum
dibuang semuanya atau ketika ada kontaminasi dari struktur/bagian
lain diluar mastoid dan telinga tengah. Komplikasimastoiditis meliputi
kerusakan di abdusen dan syaraf-syaraf kranial wajah (syaraf-syaraf
kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk melihat ke
arah samping/lateral (syarafkranial VI) dan menyebabkan mulut
mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII).
Komplikasi-komplikasi lain meliputi : vertigo, meningitis, abses otak,
otitis media purulen yang kronis dan luka infeksi.
g. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang dari mastoditis dalah :

Foto Mastoid tampak kemerahan pada kompleks mastoid.

Kultur Bakteri Telinga tampak Kumpulan jaringan mati dan nanah

CT Scan terlihat bahwa sel-sel udara dalam prosesus mastoideus


terisi oleh cairan (dalam keadaan normal terisi oleh udara) dan
melebar.

Radiologi

menujukkan

koalesens

mengungkapkan

adanya

opasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya


trabekulasi normal dari sel-sel tersebut.

Audiometri akan menunjukkan tuli konduktif.

Rontgenogram akan memperlihatkan sklerosis nyata pada


prosesus mastoideus dan sering dapat terlihat kolesteatoma.

Pemeriksaan laboratorium, contoh nanah harus diambil untuk


kultur dan tes sensitifitas antibiotika.

Tes garpu tala menunjukkan adanya kurangnya pendengaran.


(Thane, 1997)

h. Penatalaksanaan Medis dan non Medis


Penatalaksanaan Medis menurut Bruner&Suddarth (2001) adalah sebagai

berikut:
1) Terapi
Harus segera dilakukan, dan pemberian antibiotik secara IV dan per
oral dalam dosis besar, karena organisme penyebabnya mungkin
Streptococcus -hemoliticus atau Pneumococcus. H .influenza. Tetapi
harus juga sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi.
2) Pembedahan
Tindakan pembedahan untuk membuang jaringan yang terinfeksi
diperlukan jika tidak ada respon terhadap pengobatan antibiotik
selama beberapa hari. Mastoidektomy radikal/total yang sederhana
atau yang dimodifikasi dengan tympanoplasty dilaksanakan untuk
memu-lihkan ossicles dan membran timpani sebagai suatu usaha
untuk memulihkan pendengaran. Seluruh jaringan yang terinfeksi
harus dibuang sehingga infeksi tidak menyebar ke bagian yang lain.
a) Mastoidektomi
1. Mastoidektomi Sederhana
Masteidoktomi sederhana adalah tindakan membuka kortek
mastoid dari arah permukaan luarnya, membuang jaringan
patologis seperti pembusukan tulang atau jaringan lunak,
menemukan antrum dan membuka aditus ad-antrum bila
tersumbat. Masteidoktomi simple yang lengkap harus membuang
seluruh sel-sel mastoid termasuk yang di sudut sinodura, sel

mastoid di tegmen mastoid, dan sampai seluruh sel-sel mastoid di


mastoid tip. Pada mastoidektomi simple untuk OMSK, jarang
sekali dibutuhkan mastoidektomi simple lengkap, cukup hanya
membuang jaringan patologik dan membuka aditus ad antrum bila
tersumbat, sedangkan sel pneumatisasi mastoid yang masih utuh
tidak perlu dibuang.
Mastoidektomi dibedakan menjadi :
a) Operasi pada jaringan lunak
Operasi pada jaringan lunak tergantung pendekatan yang akan
dipakai, apakah enaural atau retroartikuler.
b) Operasi pada bagian tulang
Mastoidektomi simple adalah tindakan membuang seluruh sel-sel
mastoid dengan tetap memperetahankan keutuhan tulang dinding
belakang liang telinga.
2. Mastoidektomi Superfisial
Patokan pada tahap ini adalah dinding belakang liang telinga,
linea temporalis, spina Henle, segitiga Mc.Ewen, prosesus
mastoid.pada tahap ini mata bor yang dipakai adalah mata bor
yang paling besar. Sebelum pengeboran, permukaan tulang
diirigasi lebih dahulu agar serbuk tulang tidak bertebangan.
Irigasi juga berguna untuk meredam panas yang ditimbulkan
gesekan mata bor dengan tulang.
3. Mastoidektomi dalam.
a) Antrum mastoid adalah ruang di rongga mastoid yang harus
dituju pada setiap mastoidektomi karena ruangan ini
berhubungan langsung dengan aditus ad antrum yang
menghubungkan rongga mastoid dengan kavum timpani.
Dengan melanjutkan pengeboran langsung di belakang liang
telinga dengan menjaga dinding liang telinga tetap utuh tetapi

tipis, juga dengan melakukan pengeboran di rongga mastoid


bertepatan dengan tegmen mastoid, maka di sebelah dalam
segitiga imajiner Mc.Ewen akan ditemukan antrum mastoid.
b) Aditus ad Antrum dapat ditemukan dengan menyusuri bagian
anterior-superior pertemuan dinding belakang liang telinga
dengan tegmen mastoid.
c) Fosa Indikus paling mudah dicapai dengan mengebor bagian
tulang prosesus zigomatikus yang menutupi antrum.
4. Mastoidektomi Radikal dan Timpanoplasti dinding runtuh
Timpanoplasti dinding runtuh (canal wall down tympanoplasty,
modified radical mastoidectomy, open method tympanoplasty)
adalah modifikasi dari mastoidektomi radilkal. Mastoidektomi
radikal yang klasik adalah tindakan membuang seluruh sel-sel
mastoid di rongga mastoid, meruntuhkan dinding belakang liang
telinga, pembersihan seluruh sel mastoid yang mempunyai
drainage ke kavum timpani, yaitu pembersihan total sel-sel
mastoid di sudut sino-dura, di daerah segitiga Trautman. Mukosa
kavum timpani juga dibuang seluruhnya, muara tuba eustachius
ditutup dengan tandur jaringan lunak. Maksud tindakan ini adalah
untuk membuang seluruh jaringan patologis dan meninggalkan
kavitas operasi yang kering. Mukosa sel-sel mastoid atau kavum
timpani yang tertinggal akan meninggalkan kavitas operasi yang
basah yang rentan terhadap peradangan.
Pada timpanoplasti dinding runtuh, seperti pada mastoidektomi
radikal, maka diusahakan pembersihan total sel-sel mastoid.
Bedanya adalah mukosa kavum timpani dan sisa tulang-tulang
pendengaran dipertahankan setelah proses patologis dibersihkan
sebersih-bersihnya. Tuba eustachius tetap dipertahankan, bahkan
dibersihkan agar terbuka bila tertutup jaringan patologis.
Kemudian kavitas operasi ditutup dengan fasila m.temporalis baik
berupa tandur (free fascia graft) ataupun sebagai jabir fasia

m.temporalis.

Dilakukan

juga

rekonstruksi

tulang-tulang

pendengaran.
Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan mastoiditis antara
lain menurut Burner&Suddarth (2001):
1) Perawatan Pre-operasi Perawat mengajarkan secara khusus pada
klien yang dijadwalkan untuk menjalani tympanoplasty.
2) Post operasi Rendaman antiseptik gauze (An Antiseptic-Soaked
Gauze), seperti Iodoform gauze (Nuga-uze), dibalut didalam
kanal auditori. Apabila dilakukan insisi postauricular atau
endaural, dressing luar ditempatkan diatas tempat operasi.
Dressing dijaga/dipertahankan kebersih-an dan kekeringannya.
Perawat menggunakan teknik steril ketika mengganti dressing.
Klien tetap dalam posisi datar dengan telinga diatas, pertahankan
sedikitnya selama 12 jam post operasi. Terapi antibiotik
profilaksis digunakan untuk mencegah kekambuhan. Umumnya
klien melaporkan mengalami kemajuan setelah balutan pada kanal
dilepaskan. Sampai saat itu, perawat menggunakan teknik
komunikasi khusus karena adanya gangguan pendengaran pada
klien dan melakukan percakapan langsung pada telinga yang tidak
terganggu. Perawat melatih klien mengenai perawatan post
operasi.
3) Pemberian bubuk atau obat tetes yang biasanya mengandung
antibiotik dan steroid.
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Mastoiditis
1) Pengkajian
a) Identitas klien
meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, diagnose, dan tanggal masuk RS
b) Keluhan utama
klien biasanya mengeluh nyeri pada telinga bagian belakang
c) Riwayat kesehatan sekarang

Biasanya diawali dengan adanya otitis media akut setelah 2-3


minggu tanpa penanganan yang baik. nanah dan infeksi
menyebar kesel utara mastoid. Dapat muncul atau keluar
cairan yang berbau dari telinga, timbul nyeri telinga, dan
demam hilang timbul.
d) Riwayat kesehatan dahulu
Adanya otitismedia kronik karena adanya episode berulang,
kaji adanya infeksi pada telinga tengah sebelumnya
e) Pola Aktivitas
Biasanya pada pasien mastoiditis mengalami penurunan nafsu
f)

makan dan gangguan istirahat tidur karena adanya rasa nyeri


Pemeriksaan Fisik
- Hasil TTV : Biasanya denyut nadi meningkat, suhu
-

meningkat
Pasien dengan mastoiditis sering merasa gelisah
Terdapat kemeraha pada kompleks mastoid
Keluarnya cairan bening atau berupa lendir
Matinya jaringan keras ( tulang, tulang rawan )
Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)
proses meradang menyebar ke bagian organ lain

2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tulang
mastoid akibat infeksi
b) Hipertermi b.d proses inflamasi
c) Perubahan sensori/persepsi (auditoris)

b.d

kerusakan

pendengaran
d) Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan
e) Ansietas b.d menghadapi prosedur pembedahan
3) Perencanaan Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tulang
mastoid akibat infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.x24
jam nyeri terkontrol/hilang dengan kriteria evaluasi :
-

klien megatakan nyeri berkrang


skala nyeri 2 (0-10)

ekspresi klien tenang

INTERVENSI
Kaji skala nyeri,lokasi,

RASIONAL
dan Mengetahui ketidakefektifan intervensi

intensitas

dan sebagai dasar penentuan intervensi

Berikan posisi yang nyaman

selanjutnya
Posisi nyaman

dapat

membantu

mengurangi rasa nyeri


Ajarkan teknik relaksasi dan Pengalihan perhatian klien terhadap
ciptakan

lingkungan

yang nyeri dapat membantu mengurangi

tenang

nyeri sehingga mempercepat proses

penyembuhan
Kolaborasi dengan timmedis Antibiotikmembantu
dalam pemberian antibiotic

menghambat
sehingga

memblok/

pertumbuhan

tidak

terjadi

bakteri

prnyrbaran

infeksi ke organ lain


b) Hipertermi b.d proses inflamasi
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama x24 jam suhu
tubuh berada dalam batas normal (36C-37C) dengan kriteria
hasil:
-

kulit tidak teraba hangat


wajah tidak tampak merah
tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi

INTERVENSI
Pantau input dan output

RASIONAL
Mengetahui balance cairan klien

Ukur suhu setiap 4-8 jam

Mengetahui perkembangan klien

Anjurkan banyak minum air Meminimalisir


putih

atau

minimal

gelas/hari
Ajarkan kompres hangat

terjadinya

dehidrasi

8 dan mengganti cairan tubuh yang


hilang
Kompres

hangat

dapat

membantu

menurunkan panas tubuh dengan cara


konduksi
Kolaborasi dengan tim medis Antipiretik dapat membantu dalam
dalam pemberian antipiretik

menurunkan panas tubuh

c) Perubahan

sensori/persepsi

(auditoris)

b.d

kerusakan

pendengaran
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24
jam klien dapat mendengar dengan baik dengan criteria hasil :
-

klien mengalami potensial pendengaran maksimum


klien dapat menggunakan alat bantu dengar dengan tepat
INTERVENSI
RASIONAL
tentang
ketajaman Menentukan seberapa baik tingkt

Kaji

pendengaran
pendengaran klien
Diskusikan tipe alat bantu dengar Untuk
menjamin
dan perawatanya yang tepat
maksimal
Bantu klien berfokus padasemua Untuk
bunyi

dilingkungan

kuntungan

memaksimalkan

dan pendengaran

membicarakan hal tersebut


d) Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan
Tujuan: setelah dilakukan perawatan selama x24 jam tidak
terjadi infeksi dengan criteria hasil : klien tidak menunjukan
adanya tanda-tanda infeksi.

INTERVENSI
RASIONAL
Observasi keadaan umum klien 24 Mengetahui adanya perubahan
jam

secara tiba-tiba akibat perubahan

Jelaskan

pentingnya

tangan

fungsi pendengaran
mencuci Member
pengetahuan
teknik

pencegahan

sebagai
terhadap

terjadinya kontaminasi silang


Ajarkan teknik mencuci tangan 6 Memberi pengetahuan kepada klien
langkah

tentang salah satu cara pencegahan

infeksi
Ajarkan prosedur membersihkan Sebagai
telinga luar

terhadap

infeksi supaya tidak berlanjut

Kolaborasi dengan tim medis Antibiotic


dalampemberian

pencegahan

profilaksi

dapat

antibiotic membantu membunuh kuman

profilaksi

e) Ansietas b.d menghadapi prosedur pembedahan


Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama x24 jam
kecemasan berkurang/hilang dengan kriteria hasil klien dapat
menunjukan keterampilan interaksi sossial yang efektif

INTERVENSI
RASIONAL
Informasikan kepada klien tentang Mengembangkan rasa percaya,
peran

advokasi

perawat

operasi

intra turunkan

rasa

kehilangan

takut

control

akan
pada

lingkungan yang asing


Identifikasi tingkat rasa takut Rasa takut yang berlebihan/terusyang

mengharuskan

dilakukan menerus

tindakan pembedahan

reaksi

akan

mengakibatkan

stressyang

resiko

berlebihan,

potensial

pembalikanreaksi

dari
terhadap

prosedur/zat-zat anastesi
Berikan penjelasan / petunjuk Ketidakseimbangan dari proses
yang sederhana pada pasien yang pemikiran akan membuat pasien
tenang

menemui
memahami

Ciptakan suasana tenang

kesulitan

untuk

petunjuk-petunjuk

yang panjang dan berbelit-belit


Suara gaduh dan keributan akan
meningkatkan ansietas

Berikan obat sesuai petunjuk, Untuk meningkatkan tidur pada


missal zat sedative, hypnosis

malam hari sebelum pembedahan


dilakukan

b. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Pembedahan Mastoid


1) Pengkajian
a) Riwayat kesehatan: penggambaran lengkap masalah telinga,
seperti infeksi, otalga otorea, kehilangan pendengaran.
b) Pengkajian fisik: observasi adanya eritema, odema, otorea,
lesi, dan bau cairan yang keluar.
c) Hasil audiogtam harus dikaji.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan, potensial
kehilangan pendengaran, potensial gangguan pengecap, dan
potensial kehilangan gerakan fasial.
b) Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan mastoid.
c) Resiko infeksi berhubungan dengan post op mastoidektomi,
pemasangan graft/tandur, trauma bedah terhadap jaringan dan
struktur disekitarnya.
d) Perubahan persepsi sensori auditoris berhubungan dengan
kelaianan telinga/pembedahan telinga.
3) Perencanaan Keperawatan
a) Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan, potensial
kehilangan pendengaran, potensial gangguan pengecap, dan
potensial kehilangan gerakan fasial.
Tujuan: Meredakan ansietas
Intervensi:

- Berikan informasi yang kuat yang telah didiskusikan oleh


ahli otology pada pasien termasuk anastesi, lokasi insisi dan
hasil pembedahan.
- Dorong pasien untuk mendiskusikan setiap ansietas dan
keprihatinan mengenai pembedahan
b) Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan mastoid.
Tujuan: Bebas dari rasa tak nyaman.
Intervensi
Berikan pasien obat analgetik

Rasional
Mengurangi rasa tidak nyaman

sesuai dengan kebutuhan.


Ajarkan pasien tentang

dalam telinga.
Mengurangi kesalahan dalam

penggunaan dan efek samping

pemberian obat.

obat.
c) Resiko infeksi berhubungan dengan post op mastoidektomi,
pemasangan graft/tandur, trauma bedah terhadap jaringan dan
struktur disekitarnya.
Intervensi
Rasional
Rendam tampon kanalis auditorius Mencegah infeksi dalam telingan
eksternus dalam larutan

yang dioperasi.

antinbiotika sebelum dipasang.


Instruksikan kepada pasien untuk

Mencegah infeksi dalam telingan

mencegah air masuk ke kanalis

yang dioperasi.

auditorius eksternus selama 2


minggu.
Pasang bola kapas yang diolesi

Mencegah kontaminasi air.

bahan yang tak larut air (vaselin)


dan diletakkan ditelinga.
Beritahukan kepada pasien tanda-

Mempercepat tindakan pengobatan.

tanda infeksi (meningkatnya suhu,


keluarnya cairan purulent)
d) Perubahan persepsi sensori auditoris berhubungan dengan
kelaianan telinga/pembedahan telinga.
Tujuan: Memperbaiki komunikasi

Intervensi
Mengurangi kegaduhan

Rasional
Memperbaiki komunikasi

lingkungan, memandang pasien


ketika berbicara, berbicara jelas
dan tegas tanpa berteriak,
memberikan pencahayaan yang
baik dan menggunakan tanda
nonverbal.
Instruksikan anggota keluarga

Supaya mereka mampu

mengenai praktik yang efektif


Gunakan alat bantu dengar pada

berkomunkasi denganm pasien.


Mengefektifkan pendengaran.

telinga yang tidak dioperasi.


4) Evaluasi
a) Ansietas terhadap prosedur pembedahan berkurang:
- Mengungkapkan dan memperlihatkan pengurangan stress,
ketegangan dan peka rangsang.
- Memberitahu perawat bahwa ia dapat menerima hasil
pembedahan dan menyesuaikan kemungkinan gangguan
pendengaran.
b) Bebas dari rasa tak nyaman atau nyeri, tidak memperlihatkan
tanda mengeryitkan wajah, mengeluh atau menangis,
meminum analgetik bila diperlukan.
c) Tidak ada tanda atau gejala infeksi:
- Tanda vital normal termasuk suhu.
- Tidak mengeluarkan cairan purulent dari kanalis auditorius
externus.
- Menggambarkan cara menghindarkan air mengkontaminasi
balutan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Adams G., Boies L., Higler P., 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 135-142.
Ari Setyarini, Elizabeth. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Pendengaran dan Wicara. Bandung: Cakrawala Bahari
Pratama
Carpenito Lynda Juall.2001.Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Donna. 1995.Medical Surgical Nursing 2nd Edition.WB Saunders
Http:// irapanusa.blogspot.com/?m=1
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35549-Kep%20Sensori
%20dan%20Persepsi-Askep%20Mastoiditis.html
Iskandar, H. Nurbaiti,dkk 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.
Nelson. (1992). Ilmu kesehatan anak. Bagian 2. Jakarta: EGC.
R, Probst, Grevers G, Iro H. Basic Ortorhinolaryngology: A Step By Step
Learning Guide. New York: Thieme;2006.
Reeves, C.J.2001.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer, S. C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth, Jakarta: EGC
Suddarth, Bruner. 2000. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 3.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Suddarth, Bruner. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 3.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tarantino V, Dagostino R, Taborelli G, Melagrana A, Porcu A, Stura M. Acute
Mastoiditis: A 10 Years Restrospective Study. International Journal Of
Pediatric Ortorhinolaryngology.2002:66;143-8
Thane 1997. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculaapius FKUI.