Anda di halaman 1dari 11

I.

GER (Gastroesophageal Reflux) dan GERD (Gastroesophageal


Reflux Disease)
Refluks gastroesofagus (GER) didefinisikan sebagai kembalinya isi
lambung ke esofagus atau lebih proksimal. Isi lambung tersebut bisa
berupa asam lambung, udara maupun makanan. RGE ini bisa murni akibat
gangguan secara fungsional tanpa adanya kelainan lain. Bisa juga akibat
adanya gangguan struktural yang terdapat pada esofagus maupun gaster
yang mempengaruhi penutupan sfingter esofagus bawah (SEB), seperti
kelainan anatomi kongenital, tumor, komplikasi operasi, tertelan zat
korosif dan lain-lain.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) didefenisikan sebagai refluks
yang meningkat, baik dari frekuensi dan lamanya, jika terjadi regurgitasi
bahan-bahan refluks dan kehilangan kalori, atau bahan-bahan refluks
merusak mukosa esofagus dan menyebabkan esofagitis.
Tabel Perbedaan gambaran klinis GER dan GERD pada bayi dan anak
GER (Gastroesophageal Reflux) GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
Regurgitasi dengan BB normal
Gejala dan tanda esofagitis tidak ada
Gejala gangguan pernafasan tidak ada
Gejala gangguan neurologis tidak ada Regurgitasi dengan penurunan BB
Gelisah persisten (persistent irritability) bayi terlihat kesakitan
Sakit dada bawah, sakit menelan, pirosis pada anak
Hematemesis, anemia defisiensi besi.
Apnu, sianosis pada bayi, mengalami Pnemonia aspirasi dan berulang,
Batuk kronis, Stridor
Posisi leher menjadi miring
Penyebab terjadinya GER adalah sebagai berikut
1. Tekanan lambung lebih tinggi dari pada tekanan esofagus.
1) Obstruksi
a. Stenosis pilorus
b. Tumor abdomen
c. Makan terlalu banyak
2) Peningkatan peristalsis, karena gastroenteritis
3) Peningkatan tekanan abdomen
a. Obesitas.
b. Memakai pakaian terlalu ketat
c. Pemanjangan waktu pengosongan lambung
2. Tekanan lambung sama dengan tekanan esophagus
1) Gangguan faal, disebabkan saluran esophagus bawah longgar
a. 2.2.2.1.1.1. Chalasia
b. 2.2.2.1.1.2. Adult-ringed esophagus
c. 2.2.2.1.1.3. Obatobat asma

d. 2.2.2.1.1.4. Merokok
e. 2.2.2.1.1.5. Pemakaian pipa nasogastrik
2) Hiatal hernia
Sebagian isi lambung memasuki rongga dada dan menyebabkan posisi
lambung tidak normal.
3. Faktorfaktor lain yang mempengaruhi
1) Penyakit gastrointestinal lain ( penyakit Crohn )
2) Eradikasi Helicobacter pylori
3) Faktor genetik
4) Reaksi respon imun berlebihan
5) Obatobat yang mempengaruhi asam lambung; NSAIDs, calcium
6) channel blockers, dan lainlain.
Gejala Klinis
Dengan mengamati gejala klinis yang timbul maka pemeriksaan
penunjang untuk diagnose dapat sangat selektif dilakukan pada penderita
yang diduga kuat menderita RGE. Beberapa gejala klinis yang timbul pada
GER ini adalah sebagai berikut:
1. Manifestasi klinis akibat refluks asam lambung.
1) Sendawa (pirosis)
2) Mual.
3) Muntah
4) Sakit uluhati
5) Sakit menelan
6) Hematemesis melena
7) Striktura
8) Iritabel (bayi)
9) Gangguan pada saluran pernafasan
10) Erosi pada gigi
2. Manifestasi klinis akibat refluks gas (udara)
1) Eructation
2) Cekukan
3) Rasa penuh setelah makan
4) Mudah merasa kenyang
5) Perut sering gembung
3. Manifestasi klinis akibat refluks makanan dan minuman
1) Muntah.
2) Menolak diberi makanan (pada bayi dan anak)
3) Aspirasi ke saluran pernafasan (apnu, SIDS)
4) Anemia
5) Penurunan berat badan
6) Gagal tumbuh
7) Retardasi psikomotor

8) Sandifer syndrome (dimana terjadi hiper-ekstensi leher dan torticolis


pada bayi)
Pemeriksaan Penunjang
1. Barium per Oral
Prinsip pemeriksaan adalah melihat refluks bubur barium. Pemeriksaan ini
sangat berguna untuk melihat adanya kelainan struktural dan kelainan
anatomis dari esofagus, adanya inflamasi dan esofagitis dengan erosi
yang hebat (inflamasi berat). Ketika pemeriksaan ini dilakukan pasien
diberi minum bubur barium, baru foto rongen dilakukan. Pada
pemeriksaan ini dapat terlihat adanya suatu ulkus, hiatal hernia, erosi
maupun kelainan lain.
Tetapi pemeriksaan ini tidak dapat mendeteksi ulkus ataupun erosi yang
kecil. Pada pemeriksaan ini bisa terjadi positif semu jika pasien menangis
selama pemeriksaan, peningkatan tekanan intraabdomen dan meletakkan
kepala lebih rendah dari tubuh. Bisa juga terjadi negatif semu jika bubur
barium yang diminum terlampau sedikit. Kelemahan lain, refluks tidak
dapat dilihat jika terjadi transient low oesophageal sphincter relaxation
(TLSOR).
2. Manometri Esophagus
Manometri merupakan suatu teknik untuk mengukur tekanan otot.
Caranya adalah dengan memasukkan sejenis kateter yang berisi sejenis
transduser tekanan untuk mengukur tekanan. Kateter ini dimasukkan
melalui hidung setelah pasien menelan air sebanyak 5 ml. Ukuran kateter
ini kurang lebih sama dengan ukuran pipa naso-gastrik. Kateter ini
dimasukkan sampai transduser tekanan berada di lambung. Pengukuran
dilakukan pada saat pasien meneguk air sebanyak 1015 kali. Tekanan
otot spingter pada waktu istirahat juga bisa diukur dengan cara menarik
kateter melalui spingter sewaktu pasien disuruh melakukan gerakan
menelan. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui baik tidaknya fungsi
esofagus ataupun SEB dengan berbagai tingkat berat ringannya kelainan.
3. Pemantauan pH Esophagus
Pemantauan pH esofagus dilakukan selama 24 jam. Uji ini merupakan cara
yang paling akurat untuk menentukan waktu kejadian asidifikasi esofagus
serta frekuensi dan lamanya refluks. Prinsip pemeriksaan adalah untuk
mendeteksi perubahan pH di bagian distal esofagus akibat refluks dari
lambung. Uji memakai suatu elektroda mikro melalui hidung dimasukkan
ke bagian bawah esofagus. Elektroda tersebut dihubungkan dengan
monitor komputer yang mampu mencatat segala perubahan pH dan
kemudian secara otomatis tercatat. Biasanya yang dicatat episode refluks
yang terjadi jika terdeteksi pH 18 bulan, dengan hiatus hernia yang besar.
5) Anak dengan gangguan neurologis yang tidak respon dengan obatobatan

II. Hernia
1. Pengertian
Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga
melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding
rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa
cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar
berupa bagian dari usus.
2. Bagian-bagian Hernia
Bagian-bagian hernia adalah
1) Kantong hernia: pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis
2) Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong
hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus
3) Locus Minoris Resistence (LMR)
4) Cincin hernia: Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui
kantong hernia
5) Leher hernia: Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan
kantong hernia.
3. Klasifikasi Hernia
1) Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :
a. hernia bawaan (kongenital)
b. hernia yang didapat (akuisita)
2) Berdasarkan letaknya, hernia dibagi menjadi
a. Hernia interna
b. Hernia eksterna
3) Berdasarkan sifatnya, hernia dibagi menjadi
a. Hernia reponible, yaitu terjadi jika isi hernia dapat keluar masuk, isi
hernia keluar biasanya pada saat berdiri atau mengedan (aktifitas) dan
masuk pada saat tiduran (istirahat) , hernia jenis ini biasanya tanpa
keluhan.
b. Hernia irreponible, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk
karena sudah ada perlekatan antara isi hernia dengan kantongnya, hernia
jenis ini biasanya tanpa keluhan nyeri maupun gangguan pasase usus.
c. Hernia inkaserata, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk
kerena adanya jepitan isi hernia oleh cincin hernia sehingga timbul gejala
gangguan pasase usus seperti mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB,
tidak dapat flatus.
d. Hernia strangulata, yaitu terjadi jika isi hernia megalami jepitan oleh
cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan pasase (obstruksi) dan
gangguan vaskularisasi. Gangguan pasase dapat berupa mual, muntah,
kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus dan gangguan vaskularisasi
dapat berupa nyeri yang menyerupai cholik yang lama kelamaan bisa

menetap dan dapat diikuti dengan nekrosis daerah yang mengalami


jepitan bahkan dapat terjadi perforasi. Bila hernia strangulata hanya
menjepit sebagian dinding usus biasanya disebut hernia Richter.
4. Factor Predisposisi
Hal-hal yang mempermudah terjadinya suatu hernia antara lain :
1) Riwayat batuk lama : TBC paru
2) Pekerja pengangkat beban berat
3) Trauma
4) Konstipasi lama
5) Usia tua
6) Hipertrofi prostat
7) Iatrogenik
8) Obesitas
9) Kebiasaan mengejan saat BAB
5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hernia dapat dilakukan dalam beberapa tindakan, antara
lain:
1) Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia
yang telah direposisi.
2) Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia
inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis
ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri
dari herniotomi dan hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu
dipotong.
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti
lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan
dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti
memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup
dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m.
tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang
dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart
menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus
abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada
metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang
diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh
atau marleks untuk menutup defek.

6. Pencegahan
Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat
dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan
pada otot-otot dan jaringan abdomen:
1) Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan,
konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang
sesuai.
2) Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran
dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan
serat yang dapat mencegah konstipasi.
3) Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari
mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan
untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu
pada pinggang.
4) Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakitpenyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali
menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.
III. Invaginasi
1) Defenisi
Intususepsi atau invaginasi adalah suatu keadaan masuknya segmen usus
ke segmen bagian distalnya yang umumnya akan berakhir dengan
obstruksi usus strangulasi (Mansjoer. R. 2000)
2) Epidemiologi
Intususepsi lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan
(Mansjoer. R. 2000). Angka kejadian pada anak laki-laki 3 kali lebih besar
bila dibandingkan anak perempuan (kidshealth. org, 2001). Seiring
dengan pertambahan umur, perbedaan kelamin menjadi bermakna. Pada
anak usia lebih dari 4 tahun, rasio insidensi anak laki-laki dengan anak
perempuan adalah 8 : 1. (emedicine, 2001)
3) Etiologi
Pada bayi lebih dari 3 tahun, bisa disebabkan faktor mekanik, seperti :
a. Meckel diverticulum
b. Polip pada untestinum
c. Lymposarcoma intestinum
d. Trauma tumpul pada abdominal dengan hematom
e. Hemangioma emedicine.com, 2003).
Selain itu beberapa penelitian menunjukkan peranan rotavirus pada
penyebab invaginasi.
4) Gejala Klinis
Gejala yang tampak adalah nyeri perut yang hebat, mendadak dan hilang
timbul dalam waktu beberapa detik hingga menit dengan interval waktu
5-15 menit. Diluar serangan, anak tampak sehat. (www.pediatrik.com,
2003). Bayi dengan intususepsi akan mengalami nyeri abdomen yang

sangat mendadak sehingga mereka menangis dengan sangat kesakitan


dan keras. Bayi tersebut akan menarik lututnya ke dada. kidshealth.org,
2001)
Anak sering muntah dan dalam feses sering ditemukan darah dan lendir.
Secara bertahap anak akan pucat dan lemas, bisa menjadi dehidrasi,
merasa demam, dan perut mengembung. (www.gosh, 2002).Selain itu,
ada gejala-gejala seperi anak menjadi cepat marah, nafas dangkal,
mendengkur, konstipasi kidshealth.org, 2001).
5) Diagnosis
Anamnesa dengan keluarga dapat diketahui gejala-gejala yang timbul dari
riwayat pasien sebelum timbulnya gejala, misalnya sebelum sakit, anak
ada riwayat dipijat, diberi makanan padat padahal umur anak dibawah 4
bulan. kidshealth.org, 2001).Pemeriksaan fisik, pada palipasi diperoleh
abdomen yang mengencang, massa seperti sosis kidshealth.org, 2001).
Pemeriksaan penunjang dilakukan X-ray abdomen untuk melihat obstruksi
kidshealth.org.2001).Pemeriksaan ultrasound bisa melihat kondisi secara
umum dengan menggunakan gelombang untuk melihat gambaran usus di
layar monitor (www.gosh, 2002).
6) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan invaginasi adalah
a. Terapi cairan intravena
b. Pemasangan nasogastrik tube
c. Barium enema untuk reduksi invaginasi
d. Operasi, jika tindakan dengan barium enema tidak berhasil
7) Komplikasi
Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa
komplikasi berat, seperti kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi
dan kematian kidshealth.org, 2001).
8) Prognosis
Invaginasi dengan terapi sedini mungkin memiliki prognosis yang baik.
Terdapat resiko untuk kambuh lagi familidoctor.org, 2003)
9) Differensial diagnosis
Differensial diagnosis pada invaginasi adalah
a. Trauma Abdomen
b. Appendisitis Akut
c. Hernia
d. Gastroenteritis
e. Torsi testis
f. Perlengketan jaringan
g. Volvulus
h. Meckel diverticulum
i. Perdarahan G 1
j. Proses-proses yang menumbuhkan nyeri abdomen emedicine.com,
2003).

IV. Hemorrhoid
1. Defenisi
Hemorrhoid adalah dilatasi varikosus vena dari pleksus hemoroidalis
inf/sup.
2. Etiologi
Etiologi hemorrhoid adalah
a. Obstruksi vena
b. Prolaps bantalan anus
c. Keturunan
d. Diet dan geografis
e. Kebiasaan defekasi
f. Tonus sfingter anus
3. Gejala klinis
Gejala klinis hemorrhoid adalah
a. Perdarahan melalui anus
b. Prolaps atau benjolan anus
c. Nyeri dan rasa tidak aman
d. Secret, pruritus dan hygiene kurang
4. Komplikasi
Komplikasi yang muncul adalah
a. Trombosis dan infeksi bantalan vaskuler interna
b. Edema
c. Trombosis vaskuler ekterna
d. Anemia
e. Dermatitis perianal
5. Diagnosis
Diagnose hemorrhoid ditegakkan dengan diagnose
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan fisik
c. Inspeksi perianal
d. Palpasi
e. Anuskopi
f. Sigmoidoskopi
6. Klasifikasi
Klasifikasi hemorrhoid adalah
a. Stadium I
Pada stadium I terjadi perdarahan, tetapi tidak terjadi prolaps
b. Stadium II
Pada stadium II, terdapat bantalan prolaps seperti dibawah L.Dentata saat
mengedan dan hilang spontan, selain itu terdapat secret dan pruritus

c. Stadium III
Pada stadium III, terdapat bantalan anus yang keluar saat mengedan dan
tetap diluar sampai direposisi manual, selain itu biasanya terdapat
kotoran dalam pakaian dalam.
d. Stadium IV
Pada stadium IV, terdapat nyeri, prolaps tidak dapat direposisi secara
manual, dan terdapat bantalan interna yang ditutupi mukosa.
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hemorrhoid ini adalah
a. Pencegahan
Usaha yang dapat dilakukan adalah
1) Memberikan nasehat
2) menghindari konstipasi kronik
3) mengkonsumsi makanan berserat tinggi
4) menghindari makanan yang pedas
5) menggunakan toilet jongkok
b. Medikamentosa
Obat yang digunakan adalah Obat simtomatik nyeri ,gatal ,salep
antiseptik,analgetik, vasokonstriktor.
c. Tindakan invasiv
Tindakan invasive yang dapat dilakukan adalah
1) Skleroterapi
2) Rubber Band Ligation
3) Cryotheraphy atau cryosurgery
4) Coagulation infra red
5) Bipolar diathermy
6) Tindakan operasi
V. Perdarahan Saluran Pencernaan
1) Defenisi
Perdarahan bisa terjadi dimana saja di sepanjang saluran pencernaan,
mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam
tinja atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya
bisa diketahui melalui pemeriksaan tertentu.
2) Etiologi
Penyebab perdarahan pada saluran pencernaan :
a. Kerangkongan, di antaranya disebabkan oleh:
a) Robekan jaringan
b) Kanker
b. Lambung, di antaranya disebabkan oleh:
a) Luka kanker atau non-kanker
b) Iritasi (gastritis) karena aspirin atau Helicobacter pylori

c. Usus halus, di antaranya disebabkan oleh:


a) Luka usus dua belas jari non-kanker
b) Tumor ganas atau jinak
d. Usus besar, di antaranya disebabkan oleh:
a) Kanker
b) Polip non-kanker
Penyakit peradangan usus (penyakit Crohn atau kolitis ulserativa)
c) Penyakit divertikulum
d) Pembuluh darah abnormal di dinding usus (angiodisplasia)
e. Rektum, di antaranya disebabkan oleh:
a) Kanker
b) Polip non-kanker
c) Anus, di antaranya disebabkan oleh:
Hemoroid
Robekan di anus (fisura anus)
3) Manifestasi Klinik
Gejalanya bisa berupa:
1. muntah darah (hematemesis)
2. mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
3. mengeluarkan darah dari rektum (hematoskezia)
Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di
saluran pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas
jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan
oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh.
Sekitar 200 gram darah dapat menghasilkan tinja yang berwarna
kehitaman.
Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejalagejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing.
Jika terdapat gejala-gejala tersebut, dokter bisa mengetahui adanya
penurunan abnormal tekanan darah, pada saat penderita berdiri setelah
sebelumnya berbaring.
Gejala yang menunjukan adanya kehilangan darah yang serius adalah
denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya
pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba
dingin dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan
darah, bisa menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan
bahkan syok.
Gejala kehilangan darah yang serius bisa berbeda-beda, tergantung pada
apakah penderita memiliki penyakit tertentu lainnya. Penderita dengan
penyakit arteri koroner bisa tiba-tiba mengalami angina (nyeri dada) atau
gejala-gejala dari suatu serangan jantung. Pada penderita perdarahan
saluran pencernaan yang serius, gejala dari penyakit lainnya, seperti
gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru dan gagal ginjal,
bisa bertmbah buruk. Pada penderita penyakit hati, perdarahan ke dalam
usus bisa menyebabkan pembentukan racun yang akan menimbulkan

gejala seperti perubahan kepribadian, perubahan kesiagaan dan


perubahan kemampuan mental (ensefalopati hepatik).
4) Diagnosa
Pemeriksaan ditujukan untuk menemukan sumber perdarahan. Beberapa
tindakan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah
a. Endoskopi
b. Biopsy
c. Rontgen dengan menggunakan barium enema
d. angiografi
5) Penatalaksanaan
Pada lebih dari 80% penderita, tubuh akan berusaha menghentikan
perdarahan. Penderita yang terus menerus mengalami perdarahan atau
yang memiliki gejala kehilangan darah yang jelas, seringkali harus dirawat
di rumah sakit dan biasanya dirawat di unit perawatan intensif.
Bila darah hilang dalam jumlah besar, mungkin dibutuhkan transfusi.
Untuk menghindari kelebihan cairan dalam pembuluh darah, biasanya
lebih sering diberikan transfusi sel darah merah (PRC/Packed Red Cell)
daripada transfusi darah utuh (whole blood). Setelah volume darah
kembali normal, penderita dipantau secara ketat untuk mencari tandatanda perdarahan yang berlanjut, seperti peningkatan denyut nadi,
penurunan tekanan darah atau kehilangan darah melalui mulut atau anus.
Perdarahan dari vena varikosa pada kerongkongan bagian bawah dapat
diobati dengan beberapa cara. Diantaranya dengan memasukkan balon
kateter melalui mulut ke dalam kerongkongan dan mengembangkan balon
tersebut untuk menekan daerah yang berdarah. Cara lain ialah dengan
menyuntikan bahan iritatif ke dalam pembuluh yang mengalami
perdarahan, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan
parut pada pembuluh balik (vena) tersebut.
Perdarahan pada lambung sering dapat dihentikan melalui endoskopi.
Dilakukan kauterisasi pembuluh yang mengalami perdarahan dengan arus
listrik atau penyuntikan bahan yang menyebabkan penggumpalan di
dalam pembuluh darah. Bila cara ini gagal, mungkin perlu dilakukan
pembedahan.
Perdarahan pada usus bagian bawah biasanya tidak memerlukan
penanganan darurat. Tetapi bila diperlukan, bisa dilakukan prosedur
endoskopi atau pembedahan perut. Kadang-kadang lokasi perdarahan
tidak dapat ditentukan dengan tepat, sehingga sebagian dari usus
mungkin perlu diangkat.