Anda di halaman 1dari 158

TUGAS MIKROBIOLOGI VETERINER

SOFTSKILL
SISTEM KLASIFIKASI, NOMENKLATUR dan SIFAT-SIFAT
BAKTERI PATOGEN

Oleh:

KELOMPOK II-C

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2009
NAMA-NAMA KELOMPOK

MIKROBIOLOGI VETERINER SOFTSKILL

KETUA : AGUNG BUDIANTO ACHMAD (060810312)

SEKRETARIS : LUVIANA KRISTIANINGTIAS (060810370)

ANGGOTA:

1. ALVIN FEBRIANTH
(060810303)

2. ELSA HAPPYANA
(060810305)

3. AMRULLAH ALHAQ (060810306)

4. RINA INDRAWATI
(06081030

5. MUH. DEDDY TRIANANTA (060810309)

6. CHRISNA TEDJA MUKTI


(060810367)

7. WAKHID NUR HIDAYAT


(060810368)

8. NABILA LARYSKA
(060810371)

9. IKE YUNIARNI (060810372)

10. LUTHFI ANDIKA F.


(060810373)

11. DWI AGITA SARI


(060810374)

12. NUR AINI


(060810375)
13. SITI NUR AISYAH
(060810376)

14. ROUDLOTUL ANGGRAINI


(060810377)

15. TRI YONGKI I


(060810378)

16. YUNITA F. OLA


(060810379)

17. IKE MARTANIA


(060810380)

18. ADE IRMAYANI


(060810

19. FANY PRIMA HARED


(060810

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan yang maha Esa karena dengan rahmat
dan ridho -Nyalah, penyusunan makalah mengenai SISTEM KLASIFIKASI,
NOMENKLATUR dan SIFAT-SIFAT BAKTERI PATOGEN ini dapat terselesaikan. Kami
menyadari masih sangat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu
kami menerima dengan tangan terbuka atas masukan dan kritikan yang membangun sehingga
dapat menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian juga dengan makalah ini. Atas
masukan, kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima kasih.

Surabaya, 17 Desember 2009

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN NAMA KELOMPOK ........................................................................i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ii

DAFTAR ISI ...........................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................iv

SINGKATAN DAN ARTI LAMBANG ................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG ..........................................................................2

1.2 TUJUAN ...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3

2.1 BAKTERI COCCUS GRAM POSITIF DAN NEGATIF ..............................

2.2 BAKTERI BATANG GRAM POSITIF BERSPORA ...................................

2.3 BAKTERI BATANG GRAM POSITIF TIDAK BERSPORA ......................

2.4 BAKTERI GRAM NEGATIF ENTEROBACTERICEAE.............................

2.5 BAKTERI BATANG GRAM NEGATIF NON ENTEROBACTERICEAE .


2.6 BAKTERI BERBENTUK SPIRAL ...............................................................

2.7 BAKTERI LAINYA ......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................

LAMPIRAN ............................................................................................................

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Staphylococcus aureus pada Mannitol Salt Agar

Gambar 2.2 Morfologi bakteri Staphylococcus aureus dengan pembesaran 10000x


SINGKATAN DAN ARTI LAMBANG

MSA : Mannitol Salt Agar

µm : Mikro meter

°C : Derajat celcius
BAB 1
PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak jaman dahulu, manusia mempunyai keinginan mengenal dan memanfaatkan
keanekaragaman hayati untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam dunia ilmu,
keanekaragaman hayati dipelajari untuk keperluan ilmiah dan sangat bermanfaat untuk
pengembangan teknologi guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Bila kita mempelajari
keanekaragamn hayati tanpa klasifikasi, sangat mungkin terjadi kerancuan pengertian tentang
suatu jenis makhluk hidup. Namun apabila kita mempelajari keanekaragaman dengan
klasifikasi maka akn diperoleh kemudahan dan keseragaman dalam menunjuk suatu jenis.
Klasifikasi telah dilakukan sejak lama oleh manusia. Klasifikasi (pengelompokan) makhluk
hidup dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki makhluk hidup
tersebut. Jadi suatu kelompok akan terbentuk dari berbagai jenisyang memiliki kesamaan ciri
tubuh, dan yang memiliki ciri-ciri berbeda membentuk kelompok lain. Pengklasifikasian
didasarkan pada morfologi dan atau berdasarkan fisiologi. Akan tetapi pada bakteri sulit
untuk dilaksanakan. Oleh karena itu pengklasifikasian didasarkan pada sifat-sifat morfologi
dan sebagian atas sifat-sifat fisiologi, biokimia, keganasan,sifat-sifat imunologi, antigen,
numeric dan komposisi DNA dari bakteri.

Ilmu pengetahuan semakin berkembang dari masa ke masa. Perkembangan ini sering
menuntut perubahan dalam klasifikasi. Setiap sistem klasifikasi harus bersifat eksklusif
sekaligus inklusif. Taksonomi adalah ilmu pengetahuan penggolongan organisme. Tatanama
penggolongan dan identifikasi untuk pengaturan organisme ke dalam kelompok (taxa)
didasarkan atas persamaan atau hubungan. Tatanama adalah menyebutkan nama bakteri pada
kelompok taxonomic menurut aturan internasional. identifikasi adalah cara yang praktis
pengklasifikasian untuk menentukan identitas dari suatu bakteri dan mengisolasi sebagai
anggota dari suatu taxon atau sebagai suatu anggota dari jenis yang tidak diketahui.

Bakteri dimasukkan dalam suatu golongan prokariotik (bersel tunggal), contoh


klasifikasinya adala sebagai berikut:

1. Kingdom (seluruh organism dalam hierarki ini)

2. Filum (sekelompok yang berkerabat)

3. Klas (sekelompok ordo sama)

4. Ordo (sekelompok family yang sama)

5. Famili (sekelompok genus yang sama)


6. Genus (sekelompok spesies yang sama)

7. Spesies (sekelompok organism yang sejenis dan individu-individunya serupa


dalam sebagian besar ciri-cirinya .

Sedangkan untuk memberikan nama pada bakteri digunakan system binomial


nomenklatur, yaitu pemberian nama dengan menggunakan dua kata. Kata yang pertama
adalah merupakan genusnya dan kata yang kedua adalah spesiesnya.Huruf pertama pada
genusnya ditulis menggunaka huruf besar, namun pada spesiesnya, huruf pertamanya ditulis
menggunakan huruf kecil.

Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas schizomycetes,


berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofilkecuali
beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik,
saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam,
dalam tanah,atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut. Oleh
karena itu penyusunan makalah ini untuk mengetahui apa saja sifat dan struktur bakteri
patogen yang merugikan tersebut.

1.2 Tujuan

Dalam penyusunan makalah ini memiliki beberapa tujuan yaitu:

a. Untuk mengetahui beberapa macam bakteri yang patogen pada beberapa


genus serta mengetahui klasifikasi dan nomenklaturnya.

b. Mengetahui klasifikasi dari spesies patogen yang akan dibahas

c. Morfologi masing-masing spesies yang akan dibahas

d. Mengetahui penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri patogen

e. Mengetahui sifat-sifat kuman patogen melalui identifikasi makroskopis,


mikroskopis, sifat-sifat biokimia, uji biologis, uji serologis
BAB 2
PEMBAHASAN
BAB 2

PEMBAHASAN

Habitat bakteri hampir disetiap tempat, yaitu di tanah, air, udara, dalam makanan,
maupun dalam tubuh makhluk hidup. Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan
lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu.
Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan,
suhu,dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami
pleomorfik, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada
syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-1,0 µ meter. Bakteri
memiliki peranan pada manusia, baik peranan yang merugikan maupun yang
menguntungkan. Bakteri tersebut menguntungkan karena dapat membantu, dalam proses
industri makanan maupun obat-obatan, dan bakteri tersebut merugikan dikarenakan ada yang
bersifat parasit dan patogen. Oleh karena itu, pembahasan kali mengenai bakteri patogen
yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Adapun genus dari bakteri
tersebut yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

2.1 Bakteri Coccus Gram Positif dan Negatif

Bakteri ini memiliki morfologi berbentuk bulat dengan beberapa variasi. Bakteri ini
juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu bakteri gram positif dan negatif. Adapun
perbedaanya adalah sebagai berikut:

Perbedaan Gram Positif Gram Negatif


Struktur dinding sel - Tebal (15-80nm) - Tipis (10-15nm)
- Berlapis tunggal - Berlapis tiga (multi)
Komposisi dinding sel - Kandungan lipid rendah (1- -Kandungan lipid tinggi (11-
4%) 22%)
Resistensi terhadap Tidak larut Larut
alkali (1% KOH)

Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka


Yodium
Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
Resistensi terhadap Lebih tahan Lebih peka
Tellurit
Sifat tahan asam Ada yang tahan asam Tidak ada yang tahan asam
Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka
Penisilin
Kepekaan terhadap Tidak peka Peka
Streptomycin

Oleh karena itu, genus yang akan dibahas adalah

2.1.1 Genus Staphylococcus


Staphylococcus adalah bakteri patogen infeksius yang sering dikaitkan dengan
makanan, seperti salad dan roti. Gejala yang disebabkan oleh konsumsi pra-terbentuk
enterotoxin dapat muncul hanya dalam 30 menit, dan seringkali terjadi mual, muntah
dan kram perut. Bakteri ini termasuk dalam bakteri gram positif. Dengan
menggunakan mikroskop bakteri tersebut tampak berbentuk bulat serta bergerombol
seperti sekelompok anggur. Genus staphylococcus mencakup kurang lebih 31 spesies.
Kebanyakan dari spesies tersebut tidak berbahaya dan hanya sebagai flora normal
pada kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Mereka juga menjadi
mikroba tanah. Genus ini dapat ditemui di seluruh dunia. Salah satu spesies
Staphylococcus yang pathogen adalah Staphylococcus aureus.

2.1.1.1 Staphylococcus aureus.

a. Klasifikasi

Adapun pengklasifikasian bakteri ini adalah sebagai berikut:

Kingdom : Eubacteria

Phylum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Bacillales

Family : Staphylococcaceae

Genus : Staphylococcus

Spesies : Staphylococcus aureus

b. Morfologi

- Morfologi makroskopik

Staphylococcus aureus mempunyai daya tahan yang lebih kuat


jika dibandingkan dengan bakteri lain yang tidak membentuk spora.
Pada agar miring masih dapat bertahan hidup sampai berbulan–bulan
baik di dalam lemari es maupun pada suhu kamar. Menurut pada
media PAD Staphylococcus aureus memproduksi pigmen lipochrome
yang membuat koloni tampak berwarna kuning keemasan dan kuning
jeruk atau putih. Menurut Jawetz et all (1996), Staphylococcus aureus
membentuk koloni berwarna abu-abu sampai kuning emas tua. Bakteri
mudah tumbuh pada media umum secara aerob dengan suhu 370C,
pada media selektif MSA (Mannitol Salt Agar). Pada media MSA
koloni yang terbentuk berwarna kuning emas, dengan ukuran 2-4 mm,
bulat cembung, mengkilat & keruh.

Gambar 2.1 Staphylococcus aureus pada Mannitol Salt Agar

- Morfologi Mikroskopik

Staphilococcus sp. secara mikroskopis dapat dilihat bakteri ini


bergerombol menyerupai buah anggur, pada sifat pewarnaan gram
bersifat gram positif, tidak dapat bergerak (non motil), dan tidak
memiliki spora. Hanya kadang-kadang yang negatif Gram dapat
ditemukan pada bagian tengah gerombolan kuman, pada kuman yang
telah difagositosis dan pada biakan tua yang hampir mati.
Gambar 2.2 Morfologi bakteri Staphylococcus aureus dengan
pembesaran 10000x

c. Sifat-sifat biokimiawi

Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari


interaksi metabolitmetabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia.
Selain itu dilihat kemampuannya menggunakan senyawa tertentu sebagai
sumber karbon dan sumber energi . Adapun sifat-sifat uji biokimiawi bakteri
Staphylococcus aureus adalah:

I. Uji MR
Hasilnya positif, terjadi perubahan warna menjadi merah setelah
ditambahkan methyl red. Artinya, bakteri ini mengahasilkan asam
campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang
terkandung dalam medium MR-VP. Terbentuknya asam campuran pada
media akan menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang, oleh karena itu bila
indikator metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu
maka indikator tersebut menjadi merah. Hal ini menandakan bahwa
bakteri ini peragi asam campuran.
II. Uji VP
Hasilnya negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada
medium setelah ditambahkan α-napthol dan KOH, artinya hasil akhir
fermentasi bakteri ini bukan asetil metil karbinol (asetolin).

III. Uji Indol


Media ini biasanya digunakan dalam indentifikasi yang cepat.
Hasil uji indol yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk lapisan
(cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan, artinya bakteri ini
tidak membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber carbon, yang dapat
diketahui dengan menambahkan larutan kovac. Asam amino triptofan
merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada
protein,sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh
mikroorganisme akibat penguraian protein.

IV. Uji Koagulase


Uji koagulase dilakukan dengan menggunakan tabung yang berisi
plasma darah kelinci, sesuai metode Brückler et al., (1994). Bakteri
ditanam dalam tabung yang berisi plasma darah, diinkubasikan selama 6
sampai 18 jam pada suhu 37ºC. Pengamatan dilakukan pada 6 jam dan
dilanjutkan setelah 18 jam.Uji koagulase pada bakteri ini dinyatakan
positip karena terjadi gumpalan dalam tabung. Menurut Brückler et al.
(1994) S. aureus dapat mengaglutinasi plasma darah, karena mempunyai
coagulase reacting factor (Jawetz et al., 1982; Joklik et al.,1992).
Menurut Brückler et al. (1994) peran koagulase yang dihasilkan oleh
kuman digunakan sebagai penentu spesies S. aureus, karena kuman ini
mengandung koagulase yang dapat menggumpalkan plasma darah
hospes. Dalam penelitian ini diketahui bahwa semua isolat S. aureus
positif pada uji clumping factor dan koagulase, yang menunjukkan bahwa
kuman ini mempunyai sifat dapat merusak plasma darah hospes.

V. Uji Katalase
Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat
memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Pengujian katalase merupakan cara
identifikasi bakteri dengan cara meneteskan cairan H2O2 pada koloni
bakteri. Pada uji katalase bakteri Staphilococcus aureus menunjukkan
katalase positif yang berarti bakteri tersebut bisa menghasilkan
gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2
(hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu
sendiri.

VI. Uji Serologis


Uji serologis dilakukan dengan CPT (Coagulation Plasma Test), 1
ose koloni + 1 ose plasma sitrat, campurkan, kemudian diamati dalam 2
menit. Hasil positif dengan indikasi cairan jernih dengan terbentuknya
butiran-butiran halus
Staphilococcus aureus juga dapat memfermentasi glukosa dalam
keadaan anaerobik fakultatif dan membentuk asam dari fermentasi manitol
secara anaerobik (Todar, 2005; Foster, 2004). Staphylococcus aureus
mempunyai sifat mengasamkan dan mengkoagulasikan susu litmus dan secara
perlahan akan membentuk pepton pada beberapa strain. Sifat bakteri ini adalah
NH3 positif, Methyl red positif, Voges-Proskauer positif, mereduksi methylene
blue, mereduksi nitrat menjadi nitrit, menghasilkan H2S, menghidrolisis
gelatin dan mengkoagulasi plasma Staphylococcus aureus menghasilkan asam
dari glukosa, maltosa, manitol, laktosa, sukrosa dan gliserol, tetapi tidak
memfermentasi salisin, rafinosa ataupun inulin.

d. Patogenitas Bakteri

Patogenesis dan virulensi Staphylococcus aureus ditentukan oleh


substansi-substansi yang diproduksi antara lain adalah enzim ekstraseluler
yang dikenal dengan eksoprotein (Salasia et al., 2005). Staphylococcus aureus
menghasilkan berbagai faktor virulen baik yang bersifat seluler maupun
ekstraseluler. Sejumlah faktor ini berperan dalam proses kolonisasi dan
pertumbuhan pada berbagai organ tubuh. Adanya berbagai faktor ini dapat
menjelaskan mengapa bakteri dapat menyebabkan infeksi pada seluruh organ
dari berbagai jenis hewan. Staphylococcus aureus membuat 3 macam
metabolisme, yaitu metabolit yang bersifat :

I. Nontoksin
Yang termasuk metabolit nontoksin ialah antigen permukaan,
koagulasa, hialuronidasa, fibrinolisin, gelatinasa, proteasa, lipasa,
tributirinasa, fosfatasa dan katalasa.
- Antigen permukaan/ Protein A
Antigen ini berfungsi antara lain mencegah serangan oleh faga,
mencegah reaksi koagulosa dan mencegah fagositosis.
- Koagulasa (Stafilokoagulosa)
Koagulase merupakan salah satu protein yang menyerupai enzim
dan dapat menggumpalkan plasma oksalat atau sitrat dengan bantuan
suatu faktor yang terdapat dalam serum. Faktor reaksi koagulase
(coagulase reacting factor, CRF) serum bereaksi dengan koagulase untuk
menghasilkan esterase dan aktivitas pembekuan dengan cara yang sama,
seperti pengaktifan protrombin menjadi trombin (Jawetz et al., 2001).
Proses fagositosis Staphylococcus aureus koagulasi positif dapat
dikurangi dengan adanya reaksi penggumpalan darah. Hal ini merupakan
mekanisme penghambatan yang mungkin berasal dari fibrin bagian
permukaan organisme (Merchant dan Parker, 1961). Enzim koagulase
bereaksi terhadap bentuk kompleks yang dapat membelah fibrinogen dan
menyebabkan pembentukan bekuan fibrin, fibrin juga tersimpan pada
permukaan Staphylococcus aureus, yang mampu melindungi bakteri dari
kerusakan sel akibat aksi fagositosis sel. Produksi koagulase terkait
dengan potensi patogenitas yang invasive (Prescott dan Langsing, 1999).
- Hialuronidasa
Hialuronidase adalah enzim yang memecahkan asam hialuronat,
suatu komponen penting dalam jaringan ikat, merupakan antigen spesifik
(Jawetz et al., 1986). Enzim ini terutama dihasilkan oleh jenis
Staphylococcus aureus koagulase positif (Warsa, 1994). Hialuronidase
merupakan spreading factor dari bakteri Staphylococcus aureus
(Merchant dan Parker, 1961). Lebih dari 90% strain Staphylococcus
aureus menghasilkan hialuronidase dan diketahui sebagai faktor
penyebar infeksi. Enzim ini mampu menghidrolisis asam hialuronik
yang berada pada interseluler, sebagai substansi dasar jaringan
penghubung, sehingga mempermudah penyebaran infeksi (Joklik et al.,
1992; Prescott dan Langsing, 1999). Enzim ini dihubungkan dengan
faktor penyebaran. Hialuronidase menurunkan asam hialuronik,
substansi dasar pada jaringan penghubung, dan sebagai sarana
penyebaran organisme melalui jaringan (Carter and Wise, 2004).
- Fibrinolisin atau staphilokinase
Fibrinolisin merupakan enzim yang dapat melisiskan bekuan
darah dari pembuluh darah yang sedang meradang, sehingga bagian-
bagian yang penuh kuman terlepas dan menyebabkan terjadinya lesi
metastatik di jaringan lain (Warsa, 1994). Stafilokinase merupakan
enzim proteolitik yang dihasilkan Staphylococcus. Enzim ini secara
antigenik dan enzimatik berbeda dengan streptokinase yang dihasilkan
oleh Streptococcus. Stafilokinase banyak dihasilkan oleh strain
Staphylococcus aureus. Perbedaan produksi stafilokinase tergantung
pada phage genome dan ekspresinya selama lisogeni. Gangguan
pembekuan darah oleh enzim ini, merupakan akibat proenzim
plasminogen yang diubah menjadi enzim fibrinolitik plasmin (Joklik et
al., 1992).
- Gelatinasa dan proteasa
Gelatinasa adalah suatu enzim yang dapat mencairkan gelatin.
Protease dapat melunakkan serum yang telah diinspirasikan (diuapkan
airnya) dan menyebabkan nekrosis jaringan termasuk jaringan tulang.
- Lipasa dan tributirinasa
Lipase terutama dihasilkan oleh jenis Staphylococcus aureus
koagulase positif (Warsa, 1994). Lipase adalah enzim yang
menghidrolisis lipid. Aktivitas enzim pada berbagai substrat termasuk
lipid yang terdapat dalam plasma, lemak dan minyak yang terakumulasi
pada permukaan tubuh. Aktivitas lipase yang demikian sangat membantu
Staphylococcus aureus bertahan dan berkoloni dalam darah atau pada
daerah kelenjar sebaseous. Lipase sangat penting untuk menembus barier
jaringan kutan dan subkutan (Joklik et al., 1992). Tributirinase atau egg-
yolk faktor merupakan suatu lipase-like enzyme yang menyebabkan
terbentuknya fatty droplets dalam suatu pembenihan kaldu yang
mengandung glukosa dan kuning telur (Warsa, 1994).
- Fosfatase, lisosin, dan penisilinasa
Ada korelasi antara aktivitas asam fosfatase, patogenitas kuman
dan pembentukan koagulasa, tetapi pemeriksaan asam fosfatase jauh
lebih sulit untuk dilakukan dan kurang khas jika hendak dipakai sebagai
petunjuk virulensi. Lisosim dibuat oleh sebagian besar jenis koagulasa
positif dan penting untuk menentukan patogenitas kuman. Penisilinasa
dibuat oleh beberapa jenis Staphilococcus, terutama dari grup.
- Katalase
Enzim ini dibuat oleh Staphilococcus dan Mikrokokus,
sedangkan Pneumokokus dan Streptokokus tidak. Adanya enzim ini
dapat diketahui jika koloni Staphilococcus berumur 24 jam dituangi
H2O2 3% dan timbul gelembung-gelembung udara.
- Nuklease
Nuklease adalah enzim fosfodiesterase dengan kemampuan
endonukleolitik dan eksonukleolitik dan dapat memotong DNA atau
RNA. Enzim ini tersusun atas rantai tunggal polipeptida, berbentuk
kompak globuler, berada dalam permukaan sel, pada permukaan sel atau
dekat permukaan sel Staphylococcus aureus. Enzim ini akan berubah
strukturnya pada pemanasan 65ºC, tetapi bersifat reversible, artinya
strukturnya akan berubah ke bentuk semula setelah suhu turun kembali
dengan cepat (Joklik et al., 1992). Enzim nuklease mempunyai
kemampuan untuk memecah asam nukleat (Prescott dan Langsing,
1999).

II. Eksotoksin
Terdiri dari :
- Alfa hemolisin
Toksin ini terutama dihasilkan oleh jenis Staphylococcus yang
berasal dari manusia (Warsa, 1994). Alfa hemolisin merusak makrofag
dan trombosit manusia, tetapi monosit resisten terhadap toksin ini. Alfa
hemolisin melarutkan eritrosit dan merusak trombosit kelinci, kambing,
domba, dan sapi tetapi tidak melisiskan sel darah merah manusia .
Toksin ini juga merusak sistem sirkulasi, jaringan otot dan jaringan
korteks ginjal. Meskipun alfa toksin bukan satu-satunya faktor virulensi
Staphylococcus, alfa toksin mempunyai peran yang nyata pada
patogenitas dengan menimbulkan kerusakan jaringan (Jawetz et
al.,1982). Toksin ini dibuat oleh Staphilococcus virulen dari jenis kuman
dan bersifat :
- Melisiskan darah merah kelinci, kambing, domba, dan sapi.
- Tidak melisiskan sel darah merah manusia.
- Menyebabkan nekrosis pada kulit manusia dan hewan.
- Tidak menghancurkan sel darah putih manusia
- Menghancurkan trombosit kelinci
- Bersifat sitotoksik terhadap biakan jaringan mammalia
- Dalam dosis yang cukup besar dapat membunuh manusia dan hewan.

Semua sifat tersebut di atas dapat dinetralkan oleh IgG, tetapi


tidak oleh IgA atau IgM. Semua efek tersebut diatas terjadi karena
pelepasan anion dengan fospolipid yang terdapat dalam membran sel
kuman. Setelah diolah dengan formalin toksin ini dapat dipakai sebagai
toksoid. Kemampuan untuk membuat toksin ini dapat dipindahkan
dengan bakteriofaga L2043, namun jenis yang menerimanya tidak selalu
menghasilkan toksin yang sama kuatnya seperti yang dihasilkan oleh
jenis asalnya.

- Beta hemolisin
Beta hemolisin mempunyai kemampuan untuk
menghancurkan eritrosit dan sphingomyelin di sekitar sel saraf (Prescott
dan Langsing, 1999). Menurut Joklik et al. (1992), beta toksin adalah
enzim dengan substrat spesifik yaitu merusak sphingomyelin (dan
lisofosfolipida). Degradasi sphingomyelin akan menyebabkan lesi
membran dan akan memacu prose hemolisis jika sel dalam kondisi
kedinginan. Eritrosit berbagai spesies hewan mempunyai tingkat
kepekaan yang berbeda terhadap toksin ini, tergantung konsentrasi
sphingomyelin yang terkandung dalam eritrosit tersebut (Joklik et
al.,1992). Toksin ini dapat dibuat toksoid.

- Delta hemolisin
Toksin ini mempunyai kandungan asam amino hidrofobik
yang tinggi, sehingga jika berada dalam lingkungan cair akan
membentuk molekul amfipatik. Delta hemolisin dari berbagai galur
Staphylococcus aureus yang telah berhasil diisolasi mempunyai berat
molekul antara 68-200 kDa (Wiseman, 1975). Delta toksin mempunyai
aktivitas biologik yang luas dan tidak menunjukkan spesifitas sel
tertentu. Delta toksin relatif termostabil terhadap bahan yang mampu
menurunkan tegangan permukaan yang kuat seperti deterjen. Eritrosit,
makrofag, limfosit, netrofil dan trombosit dapat dirusak oleh delta
toksin. Delta toksin mempunyai kemampuan menghambat absorbsi air
dalam ileum, serta dapat merubah permeabilitas ion pada ileum marmot.
Efek lain delta toksin adalah mempengaruhi fungsi leukosit
polimorfonuklear dan metabolisme platelet activation factor (PAF)
(Joklik et al., 1992). Toksin ini juga dihasilkan oleh Staphylococcus
epidermidis. Delta hemolisin merupakan toksin yang dihasilkan dalam
jumlah yang relatif sedikit oleh sebagian besar dari jenis Staphylococcus
aureus (Todar, 2002).

- Leukosidin
Leukosidin dihasilkan oleh Staphylococcus aureus, toksin ini
hanya menyerang leukosit polimorfonuklear dan makrofag (Joklik et al.,
1992). Leukosidin mempunyai kemampuan untuk menghambat
fagositosis oleh granulosit dan dapat menghancurkan sel dengan
pembentukan pori-pori pada bekas fagosomnya (Prescott dan Langsing,
1999). Antibodi terhadap leukosidin dapat berperan dalam resistensi
terhadap infeksi Staphylococcus berulang (Jawetz et al., 1986). Toksin
ini dapat merusak sel darah putih beberapa macam binatang dan ada 3
tipe yang berbeda: (1) Alfa hemolisin; (2) Yang identik dengan Delta
hemolisin, bersifat termostabil dan menyebabkan perubahan morfologik
sel darah putih dari semua tipe kecuali yang berasal dari domba; (3)
Yang terdapat pada 40-50% jenis Staphylococcus dan hanya merusak sel
darah putih manusia dan kelinci tanpa aktivitas hemolitik (Warsa, 1994).
Leukosidin mengandung dua komponen protein, yaitu S dan F yang
bereaksi secara sinergis untuk sitolisis. Komponen S dan F berikatan
spesifik pada Gm1-gangliosidase. Pada awal leukositolisis, leukosidin
diaktivasi oleh metiltransferase sehingga leukosit berikatan dengan
komponen protein S. Selanjutnya ikatan leukosit komponen S akan
mengaktivasi fosfolipase dan meningkatkan phosphatidyl binding site sel
membran untuk komponen F. Respon khusus leukosit terhadap
leukosidin adalah perubahan permeabilitas membran untuk kation dan
diikuti perubahan-perubahan lain (Joklik et al., 1992). Enzim ini
berfungsi membunuh granulosit dan makrofag yang tersusun atas dua
heat-labile protein (Carter and Wise, 2004).

- Sitotoksin
Toksin ini mempengaruhi arah gerak sel darah putih dan bersifat
termostabil. Toksin ini dibuat dalam suasana di mana :
• Kompleks antigen zat anti menghasilkan suatu kompleks
trimolekuler dari komplemen yang terdiri dari C’5, C’6 dan C’7.

• Streptokinase merubah plasminogen menjadi plasmin yang


kemudian bereaksi dengan C’3 sehingga menjadi C’3 yang aktif.

Pada penyakit granulomatosa septik kronik yang bersifat herediter


sering ditemukan sebagai penyebabnya kuman Staphilococcus dan pada
penyakit ini sel darah putih dapat melakukan fagositosis tetapi tidak
dapat menghancurkan kumannya.

- Toksin eksfoliatif
Toksin ini dihasilkan oleh Staphilococcus grup II dan
merupakan suatu protein ekstraseluler yang tahan panas tetapi tidak
tahan asam. Toksin ini dianggap sebagai penyebab Staphylococcal
Scalded Skin Syndrome (SSS), yang antara lain meliputi dermatitis
eksfoliativa pada neonatus (Ritter’s disease),impetigo bulosa,
Staphylococcal scarlatiniform rash dan toksin epidermal nekrolisis pada
orang dewasa. Secara serologis dan biokimiawi, toksin ini dibedakan
menjadi dua yaitu eksfoliatif A (ETA) dan eksfoliatif B (ETB). Gen
yang menyandi ETA terletak pada kromosom, sedang ETB terletak pada
plasmid. Toksin ini mempunyai berat molekul 30.000 dan 39.500.
Toksin ini merusak interseluler pada lapisan granuler epidermis, tetapi
tidak menimbulkan respon keradangan (Joklik et al., 1992).

- Gamma hemolisin
Gamma hemolisin merupakan protein yang bersifat antigenik
dengan berat molekul 26-45 kDa. Toksin ini mempunyai aktivitas
hemolitik pada eritrosit manusia, kelinci dan kambing, tetapi tidak
beraktivitas pada eritrosit kuda dan unggas (Wiseman, 1975). Menurut
Joklik et al. (1992), gamma toksin mempunyai aktivitas hemolitik yang
nyata, tetapi mekanisme yang pasti belum diketahui. Gamma toksin
terdiri dari dua komponen protein yang bekerja sinergis untuk aktivitas
hemolisis dan toksisitas. Sulfated polimer dan agar menghambat gamma-
hemolisin sehingga tidak efektif pada plat agar darah. Kolesterol dan
kapsula menghambat gamma-hemolisin (Morse, 1980).

- Toxic Shock Syndrome Toxin-1


Gen untuk TSST-1 ditemukan sekitar 20% dari
Staphylococcus aureus yang diisolasi (Jawetz et al, 1996 ). Beberapa
kasus disfungsi multi organ, yang biasanya fatal disebabkan
Staphylococcus aureus, selalu dihubungkan dengan toxic shock
syndrome toxin (TSST). TSST-1 merupakan eksotoksin dengan berat
molekul 22 kDa, yang dapat menimbulkan berbagai macam efek
imunologik. Efek imunologik yang ditimbulkan adalah induksi ekspresi
reseptor interleukin-2, sintesis interleukin, proliferasi limfosit T dan
stimuli sintesis interleukin-1 oleh monosit manusia. Tempat utama
perlekatan TSST-1 pada sel mononuklear manusia dapat dikenali dengan
molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas II (Joklik et al.,
1992). Toksin ini penyebab keracunan makanan dengan gejala yang
timbul secara mendadak, yaitu mual, muntah-muntah dan diare, kadang-
kadang dapat terjadi kolaps (Warsa, 1994).

III. Enterotoksin

Toksin ini dibuat jika kuman ditanam dalam pembenihan semi


solid dengan konsentrasi CO2 30%. Toksin ini terdiri dari protein yang
bersifat:

- Non hemolitik

- Non dermonekrotik

- Non paralitik

- Termostabil , dalam air mendidih tahan 30 menit

- Tahan terhadap pepsin dan tripsin

Enterotoksin dihasilkan oleh bakteri pada waktu fase


pertumbuhan. Enterotoksin pada umumnya diproduksi oleh
Staphylococcus aureus di dalam makanan basah yang sudah pernah
dimasak atau dipanaskan. Enterotoksin ini bersifat tahan panas (heat
stable) sehingga toksin tidak rusak oleh pemanasan. Enterotoksin
menyebabkan toxic shock like syndrome, keracunan pangan, beberapa
penyakit alergi dan autoimun (Marrack dan Kappler, 1990). Sampai saat
ini telah diidentifikasi ada 19 enterotoksin S. aureus yaitu
Staphylococcal enterotoxin A (SEA), B (SEB), C (SEC), D (SED), E
(SEE), G (SEG), H (SEH), I (SEI), J (SEJ), K (SEK), L (SEL), M
(SEM), N (SEN), O (SEO), P (SEP), Q (SEQ), R (SER), T (SET) dan U
(SEU). Enterotoksin dapat diukur melalui tes presipitasi (difusi gel).
Domain molekul enterotoksin yang berbeda bertanggung jawab terhadap
sindroma syock toksik dan keracunan makanan (Jawetz et al., 2001).

e. Resistensi bakteri

Diantara semua kuman yang tidak membentuk spora, maka


Staphylococcus aureus termasuk jenis kuman yang paling kuat daya tahannya.
Pada agar miring dapat tetap hidup sampai berbulan-bulan, baik dalam lemari
es maupun pada suhu kamar. Dalam keadaan kering pada benang, kertas, kain,
dan dalam nanah dapat tetap hidup selama 6-14 minggu.

Dalam berbagai zat kimia daya tahannya adalah sebagai berikut :

a. Tinc. jodii 2% ............................................... 1 menit


b. H2O2 3% …………………………………3 menit
c. HgCl2 1% ...................................................... 10 menit
d. Fenol 2% ...................................................... 15 menit
e. Alkohol 50-70% ........................................... 1 jam

Staphilococcus aureus juga sangat peka terhadap pemanasan dengan


suhu diatas 80° C (bakteri tersebut akan mati) dan juga sangat peka terhadap
desinfektan. Bakteri ini juga peka terhadap penisillin, meskipun ada beberapa
strain tertentu yang telah resisten terhadap penicillin yang biasa digunakan.
Akan tetapi adanya sifat resisten dan intermedier terhadap beberapa
antibiotika menunjukkan adanya kecenderunga bahwa S. Aureus akan
resisten terhadap berbagai antibiotika.

f. Manifestasi klinis
Kemampuan patogenik strain S aureus tertentu merupakan gabungan
faktor-faktor ekstraseluler, toksin-toksin, serta sifat-sifat invasif strain itu.
Pada satu akhir spektrum penyakit adalah keracunan makanan oleh
stafilokokus, akibat termakannya enterotoksin yang sudah terbentuk;
sedangkan bentuk akhir lainnya adalah bakteremia stafilokokus dan abses
yang tersebar di seluruh organ. Peran serta potensial berbagai zat ekstraseluler
pada patogenesis ternyata dari sifat kerja masing-masing faktor. (Jawetz,
1995)

Staphylococcus aureus yang patogen dan invasif cenderung


menghasilkan koagulase dan pigmen kuning, dan bersifat hemolitik.
Stafilokokus yang non patogen dan tidak invasif seperti Staphylococcus
epidermidis, cenderung bersifat koagulase negatif dan tidak hemolitik.
Organisme ini jarang menyebabkan pus tetapi dapat menginfeksi prostesis
ortopedik atau kardiovaskuler. (Jawetz, 1995)
Pernanahan foka (abses) adalah sifat khas infeksi stafilokokus. Dari
setiap fokus, organisme menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah ke
bagian tubuh lainnya. Pernanahan dalam vena, yang disertai trombosis, sering
terjadi pada penyebaran tersebut. Pada osteomyelitis, fokus primer
pertumbuhan S aureus secara khas terjadi di pembuluh-pembuluh darah
terminal pada metafisis tulang panjang, mengakibatkan nekrosis tulang dan
pernanahan menahun. S aureus dapat menyebabkan pneumonia, meningitis,
empiema, endokarditis atau sepsis dengan pernanahan pada bagian tubuh
mana saja. Stafilokokus yang daya invasinya rendah berperan pada banyak
infeksi kulit (misalnya acne, epiderma, atau impitigo). Stafilokokus juga
menyebabkan penyakit melalui kerja toksin, tanpa memperlihatkan infeksi
invasif. Bula eksoliatif—sindroma lepuh kulit—disebabkan oleh pembentukan
toksin eksoliatif. Sindroma syok toksin berhubungan dengan toksin sindroma
syok toksik-I (TSST-I). Adapun manifestasi penyakit yang disebabkan bakteri
Streptococcus aureus adalah

Kelainan kulit : luka lepuh, abses, furunkel, karbunkel

Tonsilitis, faringitis, sinusitis, pneumonia, abses paru, ginjal,


meningitis

Keracunan makanan: diare dan muntah (6 jam setelah makan)

Pada hewan sapi dapat terjadi mastitis, yaitu pembengkakan pada


kelenjar mammae.

Pada hewan kuda dapat terjadi botryomycosis, yaitu infeksi ujung


saluran epidedimitis.

Pada hewan anjing dapat terjadi pyoderma

2.1.2 Genus Streptococcus

Streptococcus ialah bakteri Gram-positif yang memiliki bentuk bulat/bundar


dalam bentuk susunan rantai panjang. Bakteri yang pathogen dari genus ini yang akan
dibahas adalah spesies Streptococcus pyogenes, Streptococcus zooepidemicus,
Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysgalactiae, Streptococcus uberis dan
Streptococcus equi.

2.1.2.1 Streptococcus pyogenes

Streptococcus pyogenes merupakan bakteri gram positif yang memiliki


morfologi bulat dan tidak berspora, tersusun berderet seperti rantai.

a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari bakteri adalah:

Kingdom : Eubacteria

Phylum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Lactobacillales

Family : Streptococcaceae

Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus pyogenes

b. Morfologi

- Morfologi makroskopis

Pada Media padat: koloni kecil, halus, jernih, licin,


seperti tetes-tetes air. Bakteri ini dapat menghemolisis media
lempeng agar darah. Bersifat aerob – mikroaerofilik.
Gambar 2.3 Bakteri Streptococcus pyogenes yang dibiakkan
pada Blood agar, yang dapat menghemolisis darah

- Morfologi mikroskopis

Secara mikroskopis bakteri ini berbentuk bulat dengan


diameter 0,5 - 1,0 um. Susunan berderet membentuk rantai.
Bersifat gram positif dan memiliki kapsul.

Gambar 2.4 Bakteri Streptococcus pyogenes dengan pewarnaan


gram positif, terlihat bakteri berwarna biru keunguan

c. Sifat-sifat biokimia
Membentuk asam tanpa gas dari glukosa, laktosa,
sukrosa & manitol. Katalase dan uji indol negatif, serta tidak
mencairkan gelatin.

- Uji serologis

Uji serologis dilakukan dengan Identifikasi


serologi atas organisme itu dengan melibatkan uji ini untuk
melihat adanya polisakarida spesifik grup A dalam dinding
sel bakteri menggunakan tes Phadebact.

d. Manifestasi klinis

Streptococcus pyogenes adalah penyebab banyak


penyakit penting pada manusia yang terdiri dari infeksi
kulit permukaan yang ringan hingga penyakit sistemik yang
membahayakan. Infeksi khasnya bermula pada
tenggorokan atau kulit. Infeksi ringan Streptococcus
pyogenes termasuk faringitis ("radang kerongkongan") dan
infeksi kulit setempat ("impetigo"). Erisipelas dan selulitis
dicirikan dengan perbiakan dan penyebaran samping
Streptococcus pyogenes di lapisan dalam kulit. Serangan
dan perbiakan dari Streptococcus pyogenes di fasia dapat
menimbulkan fasitis nekrosis, pada keadaan darurat yang
kemungkinan membahayakan mungkin diperlukan
penanganan bedah.

Infeksi akibat strain tertentu Streptococcus pyogenes


bisa dikaitkan dengan pelepasan toksin bakteri. Infeksi
kerongkongan yang dihubungkan dengan pelepasan toksin
tertentu bisa menimbulkan penyakit jengkering (scarlet
fever). Infeksi toksigen Streptococcus pyogenes lainnya
bisa menimbulkan sindrom syok toksik streptococcus, yang
bisa mengancam hidup.

Streptococcus pyogenes juga bisa menyebabkan


penyakit dalam bentuk sindrom "non-pyogenik" (tak
dihubungkan dengan perbiakan bakteri dan pembentukan
nanah setempat) pascainfeksi. Komplikasi yang diperantarai
autoimun itu mengikuti sejumlah kecil persentase infensi
dan termasuk penyakit rematik dan glomerulonefritis pasca-
streptococcus akut. Kedua keadaan itu muncul beberapa
minggu menyusul infeksi awal streptococcus. Penyakit
rematik dicirikan dengan peradangan sendi dan/atau jantung
menyusul sejumlah faringitis streptococcus.
Glomerulonefritis akut, peradangan glomerulus ginjal, bisa
mengikuti faringitis streptococcus atau infeksi kulit.

2.1.2.2 Streptococcus zooepidemicus


a. Klasifikasi
Adapun sistem taxonomi bakteri ini adalah
Kingdom : Eubacteria

Phylum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Lactobacillales

Family : Streptococcaceae

Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus zooepidemicus

2.1.2.3 Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysgalactiae,


Streptococcus uberis
a. Klasifikasi
Adapun sistem taxonomi bakteri ini adalah
Kingdom : Eubacteria
Phylum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Lactobacillales
Family : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Spesies : Streptococcus zooepidemicus
Streptococcus dysgalactiae
Streptococcus uberis
b. Morfologi
- Morfologi makroskopik
Tumbuh baik pada media serum, darah, cairan ascites. Bakteri
ini bersifat aerob sampai dengan mikroaerophilik, pada pH 7 dan suhu
370C. Koloni kecil, halus dan licin.
- Morfologi mikroskopik
Bakteri ini berbentuk bulat, dengan susunan berantai atau
berderet, dengan diameter kira-kira 0,5 – 1,0 µ meter. Bakteri ini gram
positif, non motil, dan tidak memiliki spora.

c. Sifat-sifat biokimia
Ketiga spesies tersebut pada uji indol negatif, mencairkan
gelatin, dan nitrat. St. agalactiae pada uji CAMP (Christie,
Atkins&Munch-Peterson), hasilnya positip, hal ini ditandai dengan
terbentuknya zona hemolisis seperti mata panah. St. uberis dapat
memfermentasi mannitol dan innulin

• Penyakit yang di timbulkannya

Streptococcus agalactiae à mastitis akut – kronis


Streptococcus dysgalactiae à jarang (10%) umumnya bersifat akut
Streptococcus uberis à mastitis akut – kronis
Sapi & domba (glandula mammarica)
2.1.2.4 Streptococcus equi

• Klasifikasi
Kingdom: Bacteria
Phylum: Firmicutes
Class: Bacilli
Order: Lactobacillales
Family: Streptococcaceae
Genus: Streptococcus
Species: Streptococcus equi
• Sifat-sifat biokimia

Asam tanpa gas glukosa, sukrosa, maltosa dan salicin. Lithmus milk negatip
dan tidak mencairkan gelatin

• Penyakit yang di timbulkannya

Penyebab Strangles/Droes/Adenitis Equorum/Ingus tenang

2.1.3 Genus Diplococcus

Diplococcus adalah bakteri yang termasuk gram positif berbentuk oval atau lancet
yang berpasangan. Spesies yang patogen yang akan di bahas adalah Diplococcus
pneumoniae.

2.1.3.1 Diplococcus pneumoniae

• Klasifikasi
Domain: Bacteria
Kingdom: Eubacteria
Phylum: Firmicutes
Class: cocci
Order: Bacillales
Family: Staphylococcaceae
Genus: Staphylococcus
Species: Staphylococcus aureus
• Morfologi

 Pemeriksaan mikroskopis
Bentuk oval/lancet (1um) berpasangan. Gram positif. Memiliki kapsul. Non
spora.

• Sifat-sifat biokimia

Fermentasi banyak jenis gula à asam


Katalase & oksidase –
Asam tanpa gas laktase, sukrose, dan inulin
Tidak pada salicin, manit, tidak mencairkan gelatin dan nitrat -

• Penyakit yang di timbulkannya

Penyebab pneumonia manusia

2.1.4 Genus Neisseria

Neisseria adalah bakteri yang berbentuk bulat atau coccus yang termasuk dalam
bakteri gram negative. Spesies yang dibahas adalah Neisseria gonorrhoeae dan Neisseria
meningitides.

2.1.4.1 Neisseria gonorrhoeae

• Klasifikasi

Domain: Bacteria
Kingdom: Eubacteria
Phylum: Proteobacteria
Class: Beta Proteobacteria
Order: Neisseriales
Family: Neisseriaceae
Genus: Neisseria
Species: Neisseria gonorrhoeae
• Morfologi

 Pemeriksaan makroskopis

Tumbuh baik pd media serum/ cairan ascites, aerob dan suhu 36oC. Serum
agar : koloni licin, abu-abu dan mengkilat. Pada media cair : tumbuh pada
permukaan, terdapat butir-butir sedimen pada dasar tabung.

 Pemeriksaan mikroskopis

Bulat berpasangan, tepi yg bersinggungan rata melengkung seperti ginjal, non


motil, non spora tidak berkapsul Gram negatip.

• Sifat-sifat biokimia

Hanya memfermentasi glukosa à asam

• Penyakit yang di timbulkannya

Host utama adalah manusia


Infeksi bernanah akut alat kelamin
Cystitis, proctitis, faringitis, conjunctivitis

2.1.4.2 Neisseria meningitidis


• Klasifikasi

Domain: Bacteria
Kingdom: Eubacteria
Phylum: Proteobacteria
Class: Beta Proteobacteria
Order: Neisseriales
Family: Neisseriaceae
Genus: Neisseria
Species: Neisseria meningitides

• Morfologi

 Pemeriksaan makroskopis

Media serum/ darah à koloni lebih besar dari Streptococcus tetapi lebih
kecil dari Staphylococcus. Media cair : tumbuh pada permukaan dan keruh.

 Pemeriksaan mikroskopis

Bulat berpasangan, tepi yang berhadapan rata. Pewarnaan Neisser terdapat


metakromatik granula

• Sifat-sifat biokimia

Membentuk asam dari glukosa dan matosa, tidak pada sukrosa, manitol dan
fruktosa.

• Penyakit yang di timbulkannya

Pada anak-anak à meningitis


Mortalitas tinggi

2.2 Bakteri Batang Positif Berspora


Bakteri ini mempunyai morfologi yang secara umum sama, yaitu bakteri berbentuk
batang, memiliki sifat gram negatif, memiliki spora dan tidak mempunyai flagella. Adapun
genus-genus yang akan dibahas antara lain:

2.2.1 Genus bacillus

Kebanyakan genus Bacillus merupakan kuman berbentuk batabg besar,


panjangnya mencapai 10,0 mikrometer. Hidupnya aerob atau fakultatif anaerob, membentuk
spora, bersifat gram positif. Bakteri ini banyak terdapat di alam dan tersebar luas di tanah,
udara dan air. Spesies yang patogen dari genus ini adalah Bacillus anthraxis. Spesies lainnya
pada umumnya nonpatogen dan ada yang memberi keuntungan dalam bidanmg industri yaitu
penting dalam pembuatan alkohol, vitamin dll. Sedangkan Bacillus subtilis bersifat oportunis
dan Bacillus cereus dapat menimbulkan keracunan makanan.

2.2.1.2 Bacillus anthracis

Pada umumnya terdapat di tanah dalam bentuk spora, dan dapat hidup selama
beberapa dekade dalam bentuk ini, dan merupakan penyebab penyakit anthrax. Penyakit
anthrax ini sangat ditakuti karena bakteri penyebabnya dapat mematikan, mudah menyebar,
sulit dimusnahkan dan bersifat zoonotic.

a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi bakteri ini adalah sebagai berikut:

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Bacillia

Ordo : Bacilliaales

Famili : Bacilliaceae

Genus : Bacillus

Spesies : Bacillus anthraxis

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang lurus membentuk sudut siku-siku pada ujung-
ujungnya dengan panjang 3-8 mikrometer dan lebar 1-1,2 mikrometer, bersifat gram positif
dan dalam biakan membentuk rantai yang panjang dan tersusun seperti ruas bambu. Kuman
ini tidak bergerak dan di dalam jaringan tubuh berkapsul. Bila cukup oksigen akan
membentuk spora yang terletak di central dan besarnya sama dengan lebar badan kuman.

c. Sifat pertumbuhan

Kuman ini tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius dan pH
7,5-7,8. pada media sederhana mudah tumbuh dengan membentuk koloni putih keabu-abuan
bergaris tengah 2-3 mm dengan permukaan seperti serpihan kaca dan tepi tak rata, dengan
kaca pembesar terlihat seperti kumpulan berkas dari rambut-rambut panjang. Bila
ditumbuhkan dalam 50 % serum agar dengan tekanan CO2 5 % akan tampak koloni dengan
permukaan halus dan mukoid, sedangkan kumannya berkapsul serta tidak ada hemolisis pada
agar darah. Sedangkan pada media cair membentuk kekeruhan pada permukaan dan
tenggelam dalam waktu 24 jam. Dan tusukan pada gelatin tampak gambaran khas pohon natal
terbalik disertai pencairan gelatin mulai dari atas.

d. Reaksi biokimia

Sifat kuman ini yaitu bias meragikan glucose, maltose, sucrose, trehalose, fructose
dan dextrin dengan hanya membentuk asam saja. Bias membentuk indol negative, MR
positif, VP variable, H2S negative dan NH3 positif. Selain itu juga dapat mereduksi nitrat
menjadi nitrit, mereduksi methylen blue, katalase positif, mencairkan gelatin dan
mengkoagulasi likmus milk.

e. Resistensi

Bentuk vegetatif cepat mati dengan zat-zat kimia atau physis. Pemanasan dengan
suhu 60 derahat Celcius akan membunuh kuman dalam waktu 30 menit. Spora tahan terhadap
kekeringan untuk jangka waktu yang lama, bahkan dalam tanah dapat tahan sampai
berpuluh-puluh tahun. Dalam bangkai hewan tahan hidup sampai 12 tahun. Spora tahan pada
pemanasan 100 derajat Celcius selama 5 menit, tetapi dengan menggunakan autoclave pada
suhu 120 derajat Celcius spora akan mati dalam waktu 15-20 menit. Spora mati dengan
kresol 5 % selama 7 jam. HgCl2 1 % akan mati selama 20 menit dan dengan menggunakan
formalin 40 % akan mati selama 5 menit.

f. Struktur antigen dan toksin


Terdapat tiga macam antigen yang dihasilkan oleh kuman anthrax, meliputi
protectif antigen, berupa protein yang berperan dalam merangsang pembentukan antibodi.
Capsuler antigen, yang merupakan polipeptida yang terdiri dari asam D. Glutamat yang
berfungsi melindungi kuman terhadap proses fagositosis. Dan yang terakhir adalah somatic
antigen, terdiri atas polisakarida dimana antigen initidak memegang peranan penting pada
virulensi kuman. Selanjutnya kuman ini mempunyai eksotoksin komplek yang terdiri atas
protectif Ag ( PA ), lethal faktor ( LF ) dan edema faktor ( EF ). Dan untuk dapat berfungsi
LF dan LE perlu memasuki sel dan tugas ini akan dibantu oleh adanya kerja PA.

Antigen protektif berfungsi membantu lethal faktor dan edema faktor dalam mengekspresikan
sifat virulensinya. Molekul antigen protektif berperan sebagai pembawa faktor lethal atau
faktor edema ke dalam sel inang. Faktor edema menyebabkan peningkatan kadar siklik
adonesine monofosfat yang menyebabkan hilangnya cairan tubuh sedangkan faktor lethal
menyebabkan pemutusan rantai molekul protein kinase dalam sel. Ketiga komponen tersebut
apabila berperan bersama-sama dalam menimbulkan gejala penyakit anthrax akan berakibat
edema, nekrosis dan berakhir kematian.

g. Patogenitas

Kuman ini sangat patogen terhadap sapi, kambing, domba, kerbau dan terkadang
juga menyerang kuda. Umumnya menimbulkan kematian dengan disertai darah berwarna
hitam yang keluar dari lubang hidung dan dubur. Dapat juga menyerang babi, anjing, kucing
dengan adanya orofaringitis. Pada manusia, infeksi dapat terjadi melalui kulit dan
menyebabkan terjadinya anthrax kulit, apabila tertelan menyebabkan terjadinya anthrax
intestinal atau melalui pernapasan menimbulkan anthrax paru-paru. Penularan juga dapat
terjadi melalui vektor penghisap darah yaitu Ornithodorus megnini.

h. Diagnosa klinik

Diagnosa ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan ditunjang dengan


identifikasi kuman dengan pemeriksaan mikroskopis, pemupukan kuman, uji biologis dan uji
serologis. Pemeriksaan mikroskopis dan pemupukan kuman bertujuan untuk mengetahui
moprfologi serta koloni yang khas dari kuman anthrax. Uji biologis dengan menggunakan
hewan percobaan tikus putih atau marmut bertujuan untuk membuktikan Koch postulate,
sedangkan uji serologis dengan menggunakan Ascoli test yang bertujuan untuk mendeteksi
adanya antigen kuman anthrax yang ditunjukan dengan terbentuknya presipitasi ( cincin
ascoli ) pada batas antara ekstrak jaringan dan antiserum.

i. Pengobatan dan imunitas

Penisillin masih merupakan antibiotik pilihan pertama dalam terapi anthrax,


tetapi siprofloksasin dan doksisiklin direkomendasikan untuk terapi anthrax. Serum juga
dapat digunakan pada kasus-kasus berat. Selain itu, imunisasi juga dapat dilakukan dengan
suspensi kuman yang dilemahkan atau dengan suspensi spora, tetapi paling efektif jika
mengandung komponen dari kompleks toksin yang akan menetralisasikan pengaruh toksin
termasuk kerusakan oleh leukosit.

2.2.2 Genus Clostridium

Genus Clostridium merupakan golongan mokroorganisme yang secara alami dapat


ditemukan di tanah, di dalam saluran usus hewan pemamahbiak, mamalia bahkan pada
manusia.

Kuman berbentuk batang dengan ujung tumpul dengan penataan tunggal, berantai dan
bersifat gram positif, pada umumnya bergerak dan membentuk spora dengan letak sentral,
subterminal ataupun terminal. Spora yang dimilikinya berdiameter lebih besar dibanding
dengan kumannya.Kuman ini tumbuh secara anaerob atau tidak memerlukan oksigen untuk
kehidupannya.

2.2.2.1 Closrridium chaouvei

Kuman ini merupakan salah satu penyebab gas gangren yang biasa disebut
sebagai penyakit radang paha, boutvuur, blackleg. Penularan penyakitinidisamping melalui
luka-luka ( kastrasi, pencukuran, bulu ) juga bisa melalui peroral.

a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari bakteri tersebut adalah sebagai berikut

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia
Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium chauvoei

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang membulat, berukuran


panjang 3-8 mikrometer dan lebar 0,6 mikrometer, tersusun sendiri-sendiri dan
kadang-kadang membentuk rantaoi pendek. Bersifat gram positif, mampu membentuk
spora oval yang letaknya subterminal dan berukuran lebih besar dari kumannya
sendiri, sehingga bentuknya seperti buah peer. Kuman ini juga dapar bergerak karena
memiliki peritrich flagella serta tidak membentuk kapsul.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini dapat tumbuh secara anaerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius.
Pada agar darah akan membentuk koloni dengan diameter 2-5 mm berwarna keabu-abuan
sampai putih, tidak teratur dan tepi tidak rata dan sedikit membentuk beta hemolisis. Kuman
ini lebih mudah tumbuh pada media cair dengan terlihatnya pertumbuhan di bawah dan
membentuk gelembung gas. Pada media daging, kuman ini bisa merubah daging menjadi
dadu tanpa dicernakan. Dapat juga memecah glukosa, maltosa, laktosa menjadi asam dan gas.
Selain itu juga menghasilkan H2S, tidak membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, dapat
mencairkan gelatin dan mengasamkan susu.

d. Resistensi

Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk
spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat celcius
selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 %
spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati
dalam waktu 10 menit.

e. Struktur antigen dan toksin

Mempunyai O Ag, H Ag dan S Ag, Clostridium chauvoei membentuk toksin,


baik yang thermostabil maupun yang thermolabil. Yang thermostabil juga mempunyai sifat-
sifat antigen, bahkan dapat digunakan untuk menimbulkan imunitas. Toksin yang dihasilkan
kuman inoi ada empat jenis, yaitu toksin alpha, betha, gamma dan delta.

f. Patogenitas

Kuman patogen terhadap sapi dan domba umur 3 bulan sampai 2 tahun, jarang
terjadi pada kuda, kambing, rusa dan babi. Kuman masuk melalui ingesti atau luka akibat
kastrasi dan pencukuran bulu. Eksotoksin yang dihasilkan menyebabkan gangrenous cellulitis
dan myositis, biasanya pada kaki belakang sebelah kanan. Jaringan yang diserang mengalami
oedematus dan membentuk gas karena glykogen diurai oleh kuman ini menjadi gas.

g. Diagnosa

Diagnosa dapat ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan


laboratoris yaitu dengan isolasi kuman pada cooked meat broth dan solid media dan
identifikasi kuman dengan pemeriksaan morfologi, reaksi biokomia dan uji gula-gula.
Selanjutnya dapat diteruskan menggunmakan marmot untuk uji biologis dan protection test
untuk membedakan dengan spesies lainnya. Cara serologis dapat dilakukan yaitu dengan cara
pengecatan secara langsung dengan menggunakan fluorescent antibodies.

h. Pengobatan dan imunisasi

Kuman ini peka terhadap penicillin, tetracyclin dan chloramphenicol. Serum


dari kuda dibuat, disamping untuk melindungi terhadap penyakit blackleg juga untuk
pengobatan. Selain itu biakan murni yang dilemahkan dengan formalin dapat juga
merangsang pembentukan antibodi pada tubuh hewan sehingga timbul kekebalan yang dapat
mengatasi infeksi alami maupun buatan. Sedangkan antitoksin yang terbentuk di dalam tubuh
hewan tidak dapat menahan serangan infeksi alami maupun infeksi buatan.

2.2.2.2 Clostridium septicum


Penyebab penyakit yang disebut paraboutvuur atau malignant oedema. Kuman
ini banyak ditemukan di tanah dan saluran usus. Penularan dapat melalui luka setelah oprasi,
saat pencukuran bulu, pemotongan tanduk ataupun saat kastrasi.

a. Klasifikasi

Adapun klasifikai dari bakteri adalah

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium septicum

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang tumpul, berukuran


panjang 2-6 mikrometer dan lebar 0,5 mikrometer. Kuman ini tersusun tunggal,
membentuk rantai panjang atau filament. Bersifat gram positif, motil, mampu
membentuk spora oval terletak subterminal dengan diameter sedikit lebih besar dari
diameter kumannya.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini dapat tumbuh secara anaerob pada suhu optimum 37 derajat
celcius. Pada media padat membentuk koloni transparan keabu-abuan dengan
pinggiran tidak teratur. Pada agar darah akan membentuk koloni alpha hemolisis dan
2-3 hari kemudian akan menjadi betha hemolisis. Sedangan pada media daging,
kuman ini dapat merubah daging menjadi dadu tanpa dicernakan dan membentuk gas.
Selein itu, kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa, laktosa dan salicin
menjadi asam dan gas serta mampu menghasilkan H2S, tidak mampu membentuk
indol, mereduksi nitrat, mencairkan gelatin dan mengasamkan susu.

d. Resistensi
Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk
spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat
celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan
formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2
1:500 akan mati dalam waktu 10 menit.

e. Struktur antigen dan toksin

Mempunyai O Ag, H Ag dan S Ag, Clostridium chauvoei membentuk toksin, baik


yang thermostabil maupun yang thermolabil. Yang thermostabil juga mempunyai
sifat-sifat antigen, bahkan dapat digunakan untuk menimbulkan imunitas. Toksin
yang dihasilkan kuman inoi ada empat jenis, yaitu toksin alpha, betha, gama dan
delta.

f. Patogenitas

Secara alami kluman ini dapat menimbulkan gas gangraena pada sapi, domba,
babi dan manusia, serta acute haemorrhagic abomasitis pada domba yang penyakitnya
disebut braxy.

g. Diagnosa

Diagnosa dapat ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan


laboratoris yaitu dengan isolasi kuman pada cooked meat broth dan solid media dan
identifikasi kuman dengan pemeriksaan morfologi, reaksi biokomia dan uji gula-gula.
Selanjutnya dapat diteruskan menggunmakan marmot untuk uji biologis dan
protection test untuk membedakan dengan spesies lainnya. Cara serologis dapat
dilakukan yaitu dengan cara pengecatan secara langsung dengan menggunakan
fluorescent antibodies.

h. Pengobatan dan diagnosa

Kuman ini peka terhadap penicillin atau antibiotika yang broad-spectrum. Selain
itu biakan murni yang dilemahkan dengan formalin dapat juga merangsang
pembentukan antibodi. Vaksinasi terhadap boutvuur tidak melindungi terhadap
infeksi dengan kuman ini.
2.2.2.3 Clostridium novyi

Kuman ini terutama ditemukan pada daerah peternakan domba, banyak


terdapat di tanah seperti spesies lainnya. Dan kuman ini mempunyai sifat-sifat mikrobiologis
dan patogenesitas yang sangat mirip dengan Clostridium septicum

a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari bakteri ini adalah:

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium novyi

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang tumpul, berukuran


panjang 5-10 mikrometer dan lebar 0,8-1,5 mikrometer. Merupakan kuman yang
paling besar dari semua spesies. Kuman ini mempunyai susunan sendiri-sendiri,
berpasangan atau membentuk rantai. Bersifat gram positif, motil dan mampu
membentuk spora oval yang terletak subtermminal.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini dapat tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius.
Pada media padat membentuk koloni transparan keabu-abuan dengan pinggiran
tidak teratur. Pada agar darah akan membentuk koloni betha hemolisis dan
kemudian akan menjadi alpha hemolisis dengan pengaruh oksigen. Pada media
daging kuman ini dapat merubah daging menjadi dadu tanpa harus dicernakan.
Kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa menjadi asam dan gas
sedangkan laktosa dan salisin tidak diuraikan. Selain itu juga menghasilkan H2S,
tidakk membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, mencairkan gelatin dan
mengasamkan susu.
d. Resistensi

Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk
spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120
derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun.
Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan
dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit.

e. Struktur antigen dan toksin

Toksin yang dihasilkan kuman ini meliputi toksin alpha ( necrotizing, lethal )
dan betha ( necrotizing, haemolytic. Lethal, lechitinase )

f. Patogenitas

Pada kuman ini telah dikenal terdapat empat tipe meliputi C. Novyi tipe A
( toksin alpha) menimbulkan penyakit kepala besar pada domba jantan. Penyakit
ini menimbulkan kebengkakan oedematus pada jaringan subcutan di daerah
kepala leher. C. Novyi tipe B (toksin alpha dan betha ) menimbulkan penyakit
black disease pada domba dan terkadang pada sapi. C. Novyi tipe C
menimbulkan osteomielitis pada kerbau. Dan C. Novyi tipe D menimbulkan
hemoglobinuria terutama pada sapi.

g. Diagnosa

Diagnosa penyakit yang disebabkan kuman ini dapat berupa pengecatab secara
langsung dengan menggunakan fluorescent antibodies. Dapat juga dengan cara
melihat reaksi Nagler pada biakan kuning telur yaitu terjadi kekeruhan di
sekeliling koloni pada tipe A, B dan D karena aktifitas lesitinase toksin alpha.
Selain itu juga bisa menggunakan uji biologis dan protection test pada marmot.

h. Pengobatan dan imunitas

Disamping antibiotika penisillin, dapat juga menggunakan antiserum


secepatnya. Imunitas juga dapat dilakukan dengan imunisasi aktif menggunakan
toksoid atau biakan yang telah dimatikan dengan formalin.

2.2.2.4 Clostridium haemolyticum


Bakteri ini sangat dekat hubungannya denga Clostridium novyi yang dikenal
sebagai penyakit yang menyerang sapi dengan nama penyakit kemih merah dan red water
disease. Karena kesamaan inilah akhirnya penyebabnya dinyatakan sebagai Clostridium
novyi type D. Penularan penyakit ini melalui ingesti dan berkembangbiak dalam hati disertai
pembentukan toksin.

a. Klasifikasi

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium haemolyticum

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan diameter 1-1,3 mikrometer dan panjang
3-5 mikrometer. Spora yang dimiliki kuman ini berbentuk oval, terletak
subterminal, bersifat gram positif dan motil.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini dapat tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius,
pada media umum akan membentuk koloni bening dan lama-lama seperti wool.
Pada plat agar darah kuman ini membentuk zona hemolysis yang cukup besar.
Kuman ini juga mampu mencairkan gelatin dalam jangka waktu 2-4 hari. Pada
media daging, kuman ini mampu merubah daging menjadi dadu tanpa dicernakan.
Selain itu juga bisa memecah glukosa dan fruktosa menjadi asam dan gas. Juga
mampu menghasilkan H2S, membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, dapat
mencairkan ggelatin dan mampu mengasamkan susu.

d. Resistensi

Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk
spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120
derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun.
Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan
dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit.

e. Struktur antigen dan toksin

Mempunyai O, H antigen dan spora antigen, selain itu juga mampu


membentuk dua toksin yang bersifat hemolitik kuat dan toksin penyebab nekrose
yaitu lechytinase.

f. Patogenitas

Kuman ini terutama menyerang pada sapi dan terkadang juga menyerang
domba. Terjadinya nekrose karena keberadaan cacing hati yang sangat membantu
perkembangan kuman ini. Toksin lesitinase merombak kompleks lesitoprotein yang
terdapat pada permukaan eritrosit. Toksin dalam hati akan menyebabkan hemolisis
intravaskular dan kerusakan pembuluh kapiler sedangkan hemoglobulin dikeluarkan
dalam urin.

g. Diagnosa

Dengan melihat gejala-gejala klinisnya, isolasi dan identifikasi kuman


penyebab, uji biologis pada marmot untuk melihat lesi-lesi pada liver.

h. Pengobatan dan imunitas

Penisillin dan antiserum digunakan dalam pengobatan, sedangkan imunitas


dilakukan dengan imunisasi aktif dengan menggunakan formol toksoid yaitu biakan
yang telah dimatikan dengan formalin.

2.2.2.5 Clostridium perferingens

Kuman ini merupakan salah satu penyebab dari gangren gas. Dapat juga
menyebabkan keracunan makanan oleh enterotoksin yang termolabil atau enteritis nekrotik.
Seringkali menyerang manusia tetapi juga pada hewan.

a. Klasifikasi

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes
Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium perfringens

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung tumpul dengan diameter 0,3-1,5
mikrometer dan panjang 4-8 mikrometer dengan susunan tunggal, berpasangan
atau rantai pendek. Kuman ini tidak dapat bergerak, bercapsul, gram positif, spora
oval dan besar serta terletak subterminal dan terkadang terletak di central.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini bersifat anaerob dan dapat tumbuh cepat pada suhu 37 derajat
Celcius. Pada agar nutrient tumbuh koloni bulat halus kesbu-abuan dengan tepi
rata. Pada agar darah akan membentuk koloni besar licin dengan diameter 2-5 mm
dan membentuk zona betha hemolisis yang lebar. Perbenihan pada daging rebus
menjadi keruh dalam waktu 24 jam dengan pembentukan gas, dan dagingnya
berubah menjadi dadu tanpa dicernakan dengan mengeluarkan bau asam. Selain
itu, kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa, laktosa menjadi asam dan
gas sedangkan salisin tidak diuraikan. Mampu menghasilkan H2S, tidak
membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, mampu mencairkan gelatin dan mampu
mengasamkan susu.

d. Resistensi

Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk
spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120
derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun.
Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan
dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit.

e. Struktur antigen dan toksin

Kuman ini mempunyai empat tipe toksin penting yang bersifat antigenic ( A,
B, C dan D) dan masing-masing mampu mengadakan reaksi silang berdasarkan uji
toksin antitoksin neutralization. Untuk penentuan tipe kuman secara rutin dipakai
serum antitoksin. Ada empat jenis toksin utama yaitu, alpha, betha, epsilon dan
iota merupakan factor penting untuk patogenesitas kuman.

f. Patogenitas

Tipe A menyebabkan gangrene gas dan keracunan makanan. Lesitinae


merusak dinding sel, serabut otot dan meninggikan permeabilitas kapiler. Edema
yang terjadi dapat meningkatkan ketegangan dan anoksia pada otot yang terkena.
Dapat pula terjadi anemia akibat lisisnya sel darah merah oleh toksin. Keracunan
makanan ditandai dengan sakit pada perut, muntah dan berak-berak.

g. Diagnosa

Diagnosa ini ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan


mikroskopis akan dilihat batang gram positif yang biasanya tanpa spora. Pada
pembiakan bahan ditanamkan dalam medium tioglikolat dan agar darah yang
dieram secara anaerob. Pertumbuhan pada salah satu medium tersebut akan
dipindahkan ke medium susu untuk melihat stormy fermentation setelah 24 jam.
Setelah didapatkan kultur murni, dilakukan reaksi biokimia seperti reaksi gula-
gula pada medium tersebut.

h. Pengobatan dan pencegahan

Klortetrasiklin yang diberikan dalam makanan dapat mencegah adanya


kematian, kekebalan yang didapatkan bisa berasal dari penggunaan vaksin formol
toxoid.

2.2.2.6 Clostridium tetani

Kuman ini dapat menyebabkan penyakit tetanus, yaitu penyakit akut pada
mamalia yang disebabkan oleh toksin Clostridium tetani. Tetanus terjadi akibat pencemaran
luka oleh kuman ini. Penyakit ini mempunyai gejala tersifat, yaitu adanya kontraksi
spasmodik persisten. Kuman ini banyak terdapat pada usus kuda, terutama pada herbivora.
Bersama feses, kuman ini masuk ke dalam tanah kering lalu membentuk spora dan tahan
hidup sampai berbulan-bulan.

a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium tetani

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk panjang langsing dengan diameter 0,5


mikrometer dan panjang 2-5 mikrometer. Umumnya tampak sendiri-sendiri,
kadang-kadang membentuk rantai pendek. Kuman ini mempunyai peritrich
flagella sehingga mampu bergerak. Bersifat gram positif, membentuk spora
dengan ukuaran besar. Bahkan diameternya mencapai 2-3 kali dari besar tubuh
kuman dan letaknya terminal sehinnga berbentuk seperti batang korek api.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini bersifat anaerob dan dapat tumbuh cepat pada suhu 37
derajat Celcius. Pada agar nutrient tumbuh koloni bulat tak teratur, bergaris
tengah 2-5 mm, jernih, kuning kelabu dengan permukaan berbutir dan tepi
yang tidak rata. Pada agar darah membentuk zona alpha hemolysis kemudian
setelah 2-3 hari terlihat adanya betha hemolysis akibat pembuatan hemolisin.
Sedangkan pembenihan pada daging rebus menjadi keruh dalam waktu 24 jam
dengan pembentukan gas, dagingnya tidak dicernakan tetapi menjadi hitam
jika dieramkan cukup lama. Selain itu kuman ini bersifat tidak meragikan gula
apapun dan sedikit proteolitik, membentuk indol dan H2S, tidak mencairkan
gelatin, tidak mereduksi nitrat dan tidak menggumpalkan susu.

d. Resistensi

Bentuk vegetatif kuman ini peka terhadap pemanasan dan tidak dapat
hidup dengan adanya oksigen. Berbeda dengan spora, sangat tahan terhadap
panas dan antiseptic yang biasa digunakan. Spora tahan terhadap pemanasan
100 derajat Celcius selama 15-90 menit dan terbunuh pada suhu 105 derajat
Celcius selama 3-25 menit. Spora juga akan mati dengan phenol 5 % selam
10-12 jam dan berkurang sampai 2 jam dengan pemberian asam hidroklorit 0,5
%.

e. Struktur antigen dan toksin

Kuman ini mempunyai 2 jenis toksin, yaitu hemolisin, bersifat


termolabil dan tidak tahan terhadap oksigen serta bekerja aktif terhadap sel
darah merah dari sebagian besar binatang ( kelinci, kuda, dll ) dan
neorutoksin, tahan terhadap oksigen dan diinaktifkan oleh pemanasan 66
derajat Celcius selam 5 menit. Merupakan antigen yang baik dan dapat
dinetralkan dengan antitoksin yang khas.

f. Patogenitas

Tetanus dapat menyerang kuda, sapi, domba, babi, anjing dan manusia.
Kuda sangat peka terhadap penyakit ini. Spora kuman ini terdapat dalam tanah
dan masuk ke dalam luka hanya akan berkembangbiak jika suasananya
menunjang. Infeksi juga dapat terjadi post operasi, pada post partum yaitu
melalui tali pusar. Toksin yang dibuat disebarkan melalui aliran darah dan
sister limphatik dan sampai ke susunan syaraf pusat. Adanya racun inio
mengakibatkan kekuatan otot di seluruh tubuh, terutama otot pengunyah dan
otot tubuh, refleks yang berlebihan dan serangan yang berulang.

g. Diagnosa

Umumnya dari gejala yang tersifat diagnosa sudah dapat


ditegakkan,sehingga jarang dilakukan pemeriksaan laboratorium. Penyuntikan
pada hewan percobaan menggunakan marmot atau tikus putih menyebabkan
kejang-kejang dan kematian.

h. Pengobatan dan pencegahan

Pembersihan luka secara bedah terhadap segala jaringan nekrotik yang


menyebabkan pertumbuhan kuman harus diminimalisir, pencucian dengan
menggunakan hidrogen peroksida bertujuan untuk mendapatkan suasana aerob
sehingga diharapkan akan menghambat perkembangbiakan kuman ini pada
luka. Sedangkan pemberian penisilin dengan dosis besar yang diberikan secara
intramusculer atau intravena akan mampu membunuh kuman ini. Dapat juga
menggunakan vaksinasi secara rutin dengan bahan toksoid.

2. 2.2.7 Clostridium botulinum

Kuman ini menyebabkan penyakit botulismus,yaitu suatu tipe


keracunan makanan yang diakibatkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium
botulinum pada makanan yang diawetkan. Penyakit ini menyerang manusia dan hewan dan
mempunyai gejala tersifat yaitu adanya kontraksi spasmodik persisten.

a. Klasifikasi

Kingdom : Bacteria

Divisi : Firmicutes

Kelas : Clostridia

Ordo : Clostridiales

Famili : Clostridiaceae

Genus : Clostridium

Spesies : Clostridium botulinum

b. Morfologi

Kuman ini berbentuk batang besar dengan ujung membulat dengan diameter
0,5-1,2 mikrometer dan panjang 4-6 mikrometer. Umumnya tampak sendiri-
sendiri, berpasangan dan kadang-kadang membentuk rantai pendek. Kuman ini
motil dan bersifat gram positif serta mampu membentuk spora yang berbentuk
oval dengan diameter lebih besar dari kuman dan terletak terminal.

c. Sifat pertumbuhan dan biokimia

Kuman ini bersifat anaerob dan tumbuh cepat pada suhu 37 derajat Celcius.
Kuman ini tumbuh baik pada media yang sedikit alkalis, juga pada kaldu hati yang
ditambah 0,5 % glukosa dan 0,5 % KH2PO4. Koloni pada plat agar tumbuh
koloni berbentuk tidak rata, kecil, berwarna putih keabu-abuan hingga coklat
kekuningan dengan tepi berserabut. Pada media daging, kuman ini mencerna
daging dan merubah warnanya menjadi hitam (tipe A dan B) sedangkan tipe C, D
dan E tidak mencerna daging. Semua jenis kuman ini mampu meragikan glukosa
dan maltosa sambil membentuk asam dan gas.

d. Resistensi

Spora kuman ini mati pada pemanasan 100 derajat Celcius selama 5 jam, 105
derajat Celcius selama 2 jam. Pada hal ini, dengan mendidihkan saja belum
mampu membunuh spora kuman Clostridium botulinum.

e. Struktur antigen dan toksin

Berdasarkan toksin yang bersifat antigenik kuman ini mempunyai lima tipe
toksin yaitu A, B, C,D dan E. Secara imunologis berbeda dapat dinetralisasi hanya
oleh antitoksin yang homolog, jadi antitoksin dihasilkan dari toksin A tidak dapat
menetraliser toksin B, demikian pula sebaliknya. Kuman ini membentuk
antitoksin kuat yang menimbulkan sifat patogenesitas kuman. Racun ini bersifat
neurotoksin yang bekerja perlahan-lahan dengan menghambat pelepasan
asetilkolin pada sinaps dan jembatan neuromuskuler, sehingga terjadi paralisa.
Toksin bersifat stabil, tahan terhadap pencernaan pada usus dan diserap melalui
selaput lendir usus dalam bentuk aktif. Toksin ini dapat dibuat menjadi toxoid.

f. Patogenitas

Kuman ini bersifat non invasi dan patogenesitasnya berdasarkan pembuatan


toksin yang dibuat di dalam makanan yang tercemar. Penyakitnya disebut
botulismus dapat terjadi akibat memakan toksin yang sudah lebih dulu dibuat pada
makanan. Sumber penularannya ialah makanan dan daging yang diawetkan,
sayuran dan ikan dalam kaleng dll. Disamping menyerang manusia, juga
menyerang sapi, kuda, kelinci, ayam, itik peka sedangkan anjing dan kucing
umumnya tahan terhadap kuman ini.

g. Diagnosa

Diagnosa secara tepat dapat dilakukan dengan mengidentifikasi toksin yang


dicurigai, dengan cara menyuntikkan filtrat dari makanan yang diperiksa pada
marmot. Penentuan jenis kuman dilakukan dengan melakukan perlindungan pasif
dengan menggunakan antitoksin khusus.

h. Pengobatan dan imunitas

Imunisasi aktif dengan menggunakan toxoid hasilnya cukup efektif. Perlu


diperhatikan bahwa antitoksin tidak berguna untuk pengobatan kerana toksin telah
terikat pada jaringan syaraf ketika gejala-gejala penyakit mulai tampak.
Meskipun demikian pemberian antitoksin yang kuat secara intravena secara dini
ditambah dengan guanidine hidroklorida dapat dianjurkan sebagai tambahan

2.3 Bakteri Batang Gram Positif Tidak Berspora

Batang Gram Positif tidak berspora yang pathogen adalah Genus


Corynobaterium, Listeria, Lactobacillus, Erysipelothrik, dan Actinobacillus. Namun yang
akan kita bahas nanti hanya Genus Corynebacterium dan Genus Listeria.

2.3.1 Genus Listeria

Terdapat beberapa spesies dalam genus listeria. Di antaranya L. Monocytogenes, yang


berperan sebagai penyebabberbagai penyakit pada binatang dan manusia. Dalam genus
Listeria monocytogenes, banyak tersebar dalam alam dan beberapa binatang merupakan
reservoir. Pada manusia kuman ini sering menyebabkan meningitis. Adapun spesies dari
listeria yang akan dibahas adalah

2.3.1.1 Listeria monocytogenes

a. Morfologi

Listeria monocytogenes adalah batang kecil dengan ujung bulat, dengan


diameter 0.5 μm sampai 1.0μm dengan panjang kurang lebih 2.0 μm. . Bakteri ini merupakan
bakteri non-sporeforming dan non-capsule producing.Listeria monocytogenes adalah
peritrichous dengan maksimal empat flagela ketika tumbuh pada suhu kamar, tetapi mungkin
tidak menghasilkan flagella pada 37 ° C, dengan persentase kecil yang menunjukkan sel-sel
mono-flagellated, beberapa bi-flagellated dan tri-flagellated terbentuk. Organisme ini mudah
diwarnai dengan semua pewarna anilin dan merupakan gram positif.
b. sifat pertumbuhan

- Secara Makroskopis

Listeria monocytogenes dapat dibiakkan pada media TSA ( Tryptic


Soy Agar ) dengan suhu inkubasi 30 derajat celcius selama 24 - 48 jam. Jika berhasil
ditumbuhkan, bakteri ini berwarna violet karena bersifat gram positif. L. monocytogenes
tumbuh baik pada perbenihan blood agar dan Tripto agar. Pada perbenihan blood agar
koloninya dikelilingi oleh zona hemolisis beta, dan pada perbenihan triptosa agar, koloninya
jernih/bening. Suhu optimum pertumbuhannya adalah 37°C, tetapi kuman ini masih sanggup
tumbuh pada suhu 2,5°C.

Pada perbenihan blood agar, identifikasi pada biakan pertama dilakukan pada agar
yang mengandung darah domba, sebab ciri khas terbentuknya zona hemolisis kecil dapat
diamati disekeliling dan dibawah koloni. Isolasi dapat ditingkatkan jika jaringan dijaga pada
suhu 4°C selama beberapa hari sebelum inokulasi ke media bakteriologis. Organisme ini
anaerob fakultatif dan katalase positif serta motil. Listeria menghasilkan asam, tidak
menghasilkan gas, pada berbagai macam karbohidrat.

Motilitas pada suhu kamar dan produksi hemolisin merupakan penemuan primer yang
membantu pembedaan listeria dari bakteri corynebacterium.
- Secara Mikroskopis
Listeria monocytogenes secara mikroskopis, nampak kecil,
berbentuk seperti tangkai yang kadang-kadang membentuk rantai pendek.
Sekilas memang bakteri ini nampak coccus, sehingga kadang orang mengira
bakteri ini streptococcus. Flagel akan dibentuk pada suhu kamar tetapi bukan
pada 37°C. Aktivitas hemolitik pada darah digunakan sebagai indikator yang
membedakan Listeria monocytogenes dengan spesies Listeria yang lain, tetapi
ini bukan kriteria yang pasti dalam klasifikasi.

c. Resistensi
Sebagai bakteri yang tidak membentuk spora, L. monocytogenes sangat kuat
dan tahan terhadap efek mematikan dari pembekuan, pengeringan, dan pemanasan. Tetapi
beberapa kasus yang disebabkan oleh bakteri L. monogenes dapat diobati dengan pemberian
antibiotic seperti penicillin dan tobramicin dan jika menginfeksi mata bisa digunakan
antibiotic eritromicin.
d. struktur antigen dan toksin
Listeria monocytogenes punya struktur antigen somatic O yang tahan terhadap
panas dan antigen L. Listeria monocytogenes tidak memproduksi eksotoksin tetapi dinding
sel L. monocygenes dapat merangsang monocyt.
e. sifat biokimia
- Uji biokimia
Menggunakan media semi-solid dalam tabung yang didalamnya terdapat
tabung Craigie. Isolate yang diuji dimasukkan dan diinokulasi dalam tabung Craigie.
- Uji serologis
Ambil koloni yang sekiranya terindikasi Listeria monocytogenes, dan
inokulasikan pada media yang mengandung karbohidrat yang sudah disiapkan
(glukosa, mannitol, maltose, rhamnosa, dan xylosa ). Inkubasikan papa temperature
37 derajat celcius selama 24 jam. Hasil positif jika warna larutan berubah dari merah
menjadi kuning.
f. Patogenitas
Listeria monocytogenes di alam mampu menginfeksi pada kelinci, kelinci percobaan, garbils,
ayam, kalkun, domba, kambing, sapi, rubah, babi, chinchilla, farrets, racoons, sigung, kuda,
dan manusia. Pada manusia, listeriosis berupa abses atau granuloma yang menyebar, kelainan
– kelainan dijumpai pada hati, limpa, anak ginjal, saluran nafas, saluran pencernaan, sistem
syaraf pusat dan kulit. Fetus dapat terinfeksi secara transplasental melalui vena umbilicalis
dan menyebabkan septikemi. Infeksi oleh L. Monocytogenes yang khas adalah infeksi saluran
genital wanita yang dapat menyebabkan infeksi pada anak yang dikandungnya. Listeriosis
pada dewasa umumnya berupa meningitis. Pada permulaan sakit, sel - sel cairan
serebrospinal kebanyakan berupa granulosit, tetapi kemudian diganti oleh sel - sel
mononukleus. L. monocytogenes masuk ketubuh melalui saluran gastrointestinal setelah
ingesti makanan yang terkontaminasi seperti sayuran. Bakteri ini mempunyai protein pada
permukaan dinding selnya yang disebut dengan internalin yang berinteraksi dengan E-
cadherin, suatu reseptor pada sel epitel, yang meningkatkan fagositosis ke sel epitel.

Virulensi L. Monocytogenes agaknya disebabkan baik oleh komponen antifagositosis


yang terdapat pada permukaan sel kuman, maupun oleh produk - produk larut (soluble
products) yang dihasilkan selama pertumbuhan kuman, seperti hemosilin yang berperan
penting dalam patogenesis infeksi karena dapat merusak membran phagocytic vacuole.

g. Imunitas
Imunitas terhadap L. Monocytogenes pertama adalah imunitas seluler,
seperti ditunjukkan oleh lokasi intraselular infeksi dan oleh adanya hubungan
antara infeksi dengan kondisi imunitas tubuh yang terganggu. Listeria
monocytogenes merupakan parasit intrasel. Jenis imunitas yang diperoleh
akibat infeksi adalah cell mediated dan tergantung pada limfosit-T dan krofaga
yang diaktifkan. Selain limfosit-T ternyata limfosit-B juga berperan dalam
resistensi terhadap infeksi oleh L. Mocytogenes terutama pada permulaan
infeksi.

h. pencegahan

Listeriosis dapat diobati atau dicegah dengan pemberian antibiotic-


antibiotik tertentu yang memang khusus mengobati penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Listeria monocytogenes. Contohnya : Ampisillin,vankomisin,
siprofloksasin, linezolid, azithromisin, dan kotrimoksazol.

2.3.2 Genus Corynebacterium

Genus Corynebacterium pada mulanya ditetapkan sesuai dengan basilus


difteri dan kemudian dimasukkan beberapa spesies yang lain dari binatang yang mempunyai
morfologi yang sangat mirip. Dan genus ini dogolongkan dalam organisme Coryneform, atau
batang yang pleomorf dan positif Gram. Tidak membentuk spora, tidak tahan asam, dan tidak
bisa bergerak. Genus Corynebacterium terdiri dari spesies bakteri yang terdapat dalam
manusia dan hewan. Banyak dari mereka adalah non-patogenik, yang ditemukan di mocous
membran. Beberapa bersifat patogen dan yang terkait dengan kedua akut dan penyakit kronis
manusia dan hewan. Dan corynebacterium yang paling penting akan dibahas dalam
pembahasan kali ini.

2.3.2.1 Corynebacterium diphteriae

Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri patogen yang


menyebabkan difteri. Bakteri ini dikenal juga sebagai basillus Klebs-Löffler karena
ditemukan pada 1884 oleh bakteriolog Jerman, Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich
Löffler (1852-1915). C. diphtheriae adalah satu-satunya spesies yang patogen bagi manusia
dan merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan Gram positif, ditandai dengan tidak
berkapsul, tidak berspora, tak bergerak, dan berbentuk batang dengan ukuran 1 hingga 8 µm
dan lebar 0,3 hingga 0,8 µm.
a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari bakteri ini adalah

Kingdom : Bacteria

Phylum : Actinobacteria

Class : Bacilli

Order : Actinomucetales

Family : Corynebacteriaceae

Genus : Corynebacterium

Struktur dan Metabolisme

Corynebacteria kecil, umumnya nonmotile, Gram-positif, non-sporulating (walaupun mereka


memiliki klub-seperti berakhir), pleomorphic basil. Karena gertakan mereka jenis pembagian,
sel sering terletak pada kelompok-kelompok cina yang menyerupai huruf. Corynebacteria
adalah chemoorganotrophic, aerobik, atau facultatively anaerobik, dan mereka
memperlihatkan fermentasi metabolisme (karbohidrat menjadi asam laktat) dalam kondisi
tertentu. Mereka adalah organisme cerewet, tumbuh perlahan-lahan bahkan media yang kaya.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam isolasi dari


organisme adalah mengotori pertumbuhan organisme.
Untuk mengatasi ini tunduk, potasium tellure dapat
ditambahkan ke media isolasi. Garam ini mencegah
pertumbuhan organisme lain sampai batas tertentu, tetapi
berharga dalam bahwa koloni C. Diphteriae adalah
hitam kelabu yang memfasilitasi subculturing.

Taksonomi

Genus Corynebacterium diciptakan oleh Lehmann dan Neumann pada tahun 1896 sebagai
sebuah kelompok taksonomi mengandung bakteri batang yang bertanggung jawab atas
menyebabkan difteri. Genus didefinisikan berdasarkan karakteristik morfologi. Terima kasih
kepada studi 16S-rRNA, mereka telah dikelompokkan ke dalam pembagian Eubacteria
Gram-positif dengan tinggi G: C konten, dengan philogenetic dekat hubungan Arthrobacter,
Mycobacterium, Nocardia, dan Streptomyces. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani corone
( "melilit batang") dan bacterion ( "batang"). Istilah "diphtheroid" digunakan untuk mewakili
Corynebacteria yang non-patogenik misalnya, C. diphtheriae akan dikecualikan.

Morfologi

Fitur utama dari genus Corynebacterium digambarkan oleh Collins dan Cummins pada tahun
1986. Mereka adalah Gram-positif, katalase positif, tidak bergerak, tidak berspora, bakteri
berbentuk batang yang lurus atau sedikit melengkung, salah satu ujungnya menggembung
sehingga berbentuk gada, serta tidak tahan asam. Metachromatic butiran biasanya disimpan
fosfat hadir mewakili daerah. Ukuran mereka jatuh antara 2-6 mikrometer panjang dan 0,5
mikrometer diameter. Kelompok bakteri bersama-sama dalam cara yang khas, yang telah
digambarkan sebagai bentuk "V,L,Y", "anyaman pagar (palisade)", atau "huruf Cina".

Mereka mungkin juga akan muncul elips. Mereka facultatively aerobik atau anaerobik,
chemoorganotrophs, dengan 51-65% genomik G: C konten. Mereka pleomorphic melalui
siklus hidup mereka: mereka datang dalam berbagai panjang dan sering memiliki thickenings
di kedua ujung, tergantung pada kondisi sekitarnya. Bentuk- bentuk pleomorfik sering
dijumpai terutama bila kuman dibiakkan dalam perbenihan suboptimal. Granula
metakhromatik Babes-Ernst dapat dilihat dengan perwarnaan menurut Neisser atau biru
metilen Loeffler.

Meskipun C. Diphteriae bersifat anaerob fakultatif, pertumbuhan optimal diperoleh dalam


suasana aerob. Pada perbenihan Loeffler atau perbenihan blood agar. Pada perbenihan serum,
kuman ini tumbuh dengan membentuk koloni-koloni kecil mengkilap berwarna putih keabu-
abuan.
Patologi
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksin (racun)
Corynebacterium diphtheriae.

Difteri pertama kali diidentifikasi oleh Hippocrates


pada abad ke-4 SM Penyakit menjangkiti Eropa
melalui-17, 18, dan 19 abad. Itu menyebar ke Amerika
di mana ia mencapai proporsi epidemi di sekitar
pertengahan abad ke-18. Corynebacterium diphtheriae
adalah diidentifikasi sebagai agen etiologi difteri oleh
basillus Klebs pada tahun 1883, dan pertama kali
dibudidayakan pada tahun 1884 oleh Loeffler, yang
juga mengidentifikasi toksin difteri pada tahun yang
sama.

Difteri digambarkan sebagai "sebuah penyakit saluran pernapasan bagian atas yang ditandai
dengan sakit tenggorokan, demam ringan, dan sebuah membran pemeluk amandel (s), faring,
dan / atau hidung," oleh CDC. Respons daripada peradangan membentuk suatu
Pseudomembran yang terdiri dari bakteri, sel- sel epitel yang mengalami nekrotik, sel- sel
fagosit dan fibrin. Kemampuan patogenesis difteri tergantung pada kemampuannya untuk
menjajah nasofaringeal rongga atau kulit dan kemampuannya untuk menghasilkan toksin
difteri. C. diphtheriae biasanya menjajah lesi lokal pada saluran pernapasan bagian atas
(walaupun kutaneus difteri bisa terjadi juga) di mana toksin yang disekresi oleh bakteri
nekrotik kasus cedera pada sel-sel epitel. Akibatnya, kebocoran plasma darah ke daerah dan
membentuk jaringan fibrin disebut pseudomembrane, yang penuh C. diphtheriae
berkembang pesat sel. Di lokasi lesi difteri toksin yang diserap dan disebarluaskan ke seluruh
tubuh melalui saluran getah bening. Daerah yang terkena dampak paling umum termasuk
jantung, otot, saraf perifer, kelenjar adrenal, ginjal, hati, dan limpa (bukankomprehensif).

Difteri toksin yang bekerja dengan menyebabkan kematian sel-sel eukariotik dan jaringan
dengan menghambat sintesis protein dalam sel. Dua faktor utama C. diphtheriae bantuan
dalam produksi racun sistemik ini: ekstraselular rendah konsentrasi besi dan kehadiran
lisogenik profag (berbicara tentang secara rinci dalam fag bagian bawah). Peranan besi dalam
C. diphtheriae budaya sangat dramatis, dan diasumsikan memainkan bagian yang sama di
vivo juga. Dalam budaya habis besi C. diphtheriae akan menghasilkan toksin difteri sampai
dengan 5% dari total produksi protein. Telah ditemukan bahwa gen tox diatur oleh kontrol
negatif. Sebuah represor molekul, produk dari gen DtxR, diaktifkan oleh besi. Jika diaktifkan,
represor mengikat ke gen tox operator dan mencegah transkripsi.

Ada tiga strain berbeda dari C. diphtheriae yang dibedakan oleh tingkat keparahan penyakit
yang menyebabkan pada manusia. Tiga strain gravis, intermedius, dan mitis (Anda dapat
membedakan tingkat keparahan dari setiap regangan didasarkan pada nama). Perbedaan
virulensi dari ketiga strain dapat dikaitkan dengan kemampuan relatif mereka memproduksi
toksin difteri (baik rate dan kuantitas), dan tingkat pertumbuhan masing-masing. Galur yang
mitis memiliki waktu generasi sekitar 180 menit sedangkan gravis generasi galur memiliki
waktu sekitar 60 menit. Pertumbuhan yang lebih cepat ini memungkinkan koloni untuk
menguras persediaan besi di daerah terjajah lebih cepat, membiarkan mereka menghasilkan
racun dalam jumlah yang lebih besar lebih cepat.

Diperlukan beberapa hari bagi laboratorium mikrobiologi untuk memastikan toksigenitas


kuman difteri yang diasingkan. Laboratorium tidak dapat menentukan diagnosis difteri hanya
berdasarkan pemeriksaan mikroskopik saja, karena strain C. Diphteriae baik yang toksigenik
maupun yang non-toksigenik tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya secara
mikroskopik.

 Corynebacterium pyogenes

Organisme ini telah dianggap pleomorphic dan gram positif oleh sebagian besar penyelidik,
namun priewe, pada tahun 1911. Dianggap hal itu terjadi berkaitan dengan basil influenza,
bahkan, ia melaporkan bahwa antiserum dari basil pyogenes agglutinated suspensi dari basil
influenzae. Organisme pertama kali dimasukkan dalam kelompok dan disebut diphtheroid
Corynebacterium pyogenes (glage) oleh eberson pada 1918.

Morfologi

C. pyogenes adalah kecil, coccoid, basil pleomorphic bervariasi dari 0.2μ ke lebarnya oleh
0.3μ di 0.5μ untuk 2.0μ panjang. Sel dengan bengkak berakhir dan mereka yang ujung-
ujungnya menunjuk umum. Biasanya organisme tunggal namun menunjukkan kecenderungan
memutuskan untuk membentuk rumpun; pengaturan pagar sering diamati. Ini adalah non-yg
dpt mengubah tempat dan noncapsuleproducing.
Basil ini adalah aerobik dan mikroaerofilik. Pertumbuhan lebih berlimpah dalam suasana
oksigen mengurangi ketegangan. Sebuah pH netral lebih kondusif untuk pertumbuhan. Suhu
optimum 37°C.
On serum agar, C. pyogenes menit bentuk seperti titik embun-koloni yang menyerupai koloni
streptocci. Usia Namun, koloni-koloni menjadi buram dan cenderung menjadi kering.
Dikategorikan kecil beta hemolisis adalah oberved sekitar koloni pada agar darah dalam
empat hari. Dalam serum boullion membentuk organisme ringan, berbedak sedimen di
sepanjang dinding dan di dasar tabung tes

Resistensi

C. pyogenes adalah organisme sensitif terhadap peniccilin tetapi sifat proses infeksi dan
eksudat purulen antibiotik ini tampaknya mencegah dari yang datang dalam kontak dengan
organisme.

Patogenitas

C. pyogenes telah diisolasi dari jaringan numereous babi, sapi, domba, dan kambing. Babi
dapat menimbulkan radang paru-paru ditandai oleh pembentukan fokus kecil, dienkapsulasi
abces, diikuti oleh caseouspnumonialuas.
Organisme ini menghasilkan subkutan abcesses di kelinci dan terlokalisasi pada sendi,
menghasilkan deformasi arthritis. Kelinci babi dan tikus yang resisten. Abses terbentuk pada
omentum dan di hati tikus intraperioneal berikut inokulasi. Morse dan rekan kerja telah
menemukan strain organisme dari radang paru-paru sapi mor patogenik untuk tikus daripada
dari sapi mastitis.

Biokimia
C. pyogenes asam tetapi tidak menghasilkan gas dari glukosa, maltosa, galaktosa, laktosa,
fruktosa, mannose, sukrosa, dan dextrin, tetapi tidak ada dari arabinosa, xylose, inulin,
salisin, dulcitol, manitol, atau gliserol.
C. pyogenes telah menjadi media disesuaikan unenriched, mereka memiliki sifat
saccharolytic lebih besar. Tidak organisme dari indol; tidak mengurangi nitrat; tidak
membentuk H2S; adalah negatif untuk metilmerah.
Organisme ini adalah antigen homogen oleh Aglutinasi teknik. Sebuah eksotoksin mematikan
untuk kelinci dan mampu hemolyzing sel-sel darah merah telah dilaporkan oleh Lovell.
Potensi dari eksotoksin dapat ditentukan oleh hemolysin tes. Antitoksin dapat ditemukan
pada serum hewan yang terinfeksi dengan organisme ini.

 Corynebacterium renale

Corynebacterium renale adalah hewan patogen bakteri yang menyebabkan sistitis dan
pielonefritis pada-ternak.

C. renale adalah facultatively organisme anaerobik


Gram positif, ditandai oleh non-enkapsulasi, non-
sporulated, bergerak, lurus atau melengkung batang
dengan panjang 1-8 μm dan lebar 0,3-0,8 μm, yang
membentuk sekumpulan bercabang dalam budaya (
tampak seperti "karakter cina").

Bakteri ini sensitif terhadap sebagian besar antibiotik,


seperti penisilin, ampisilin, cephalosporins,
quinolones, kloramfenikol, tetrasiklin, cefuroxime dan trimetoprim.

Yang paling lengkap deskripsi awal pielonefritis dan organisme dibuat oleh Ernst
pada tahun 1905 dan 1906. Penyelidik ini menunjukkan hubungan antara organisme dengan
basil difteri dan mengusulkan nama Corynebacterium renalis.

Morfologi

Corynebacterium renale adalah pleomorphic batang, 0.5μ untuk 0.7μ oleh 1.5μ untuk 3.0μ
ukuran. Organisme ini lebih seperti basil difteri daripada binatang diptheroids, meskipun
sedikit lebih besar. Terjadi satu per satu, tetapi pagar chumps dan formasi adalah umum,
terutama dismear langsung dari ginjal eksudat
Ketika smear ginjal eksudat yang bernoda dengan biru methylen organisme yang bernoda
tidak merata, dan banyak sel-sel dengan ujung-ujungnya bengkak diamati. Organisme ini
gram positif, tetapi butiran lebih sulit untuk membuat tdk berwarna daripada bagian lain dari
sel.

Basil ini adalah facultatively aerobik dan


anaerobik, dan tumbuh terbaik di media
serum disesuaikan dengan pH 7,0-7,2. Suhu
optimum untuk pertumbuhan adalah 37 ° C.
Koloni-koloni yang rinci dan memiliki
unevan perbatasan. Walaupun koloni basil
ini tidak dapat dianggap mulus dalam arti
bakteri gram negatif, beberapa mungkin ditunjuk sebagai contrased halus dengan mereka
yang lebih kasar.
Dalam kaldu bubuk yang bagus mengumpulkan sedimen di dinding dan di bagian bawah
tabung. Beberapa strain membentuk kulit tipis tipis.

Resistansi

Organisme ini mirip dengan kelompok sehubungan dengan perlawanan. C. Renale sensitif
terhadap peniccilin, dan antibiotik ini tampaknya akan menjadi agen yang paling efektif
untuk mengobati ternak yang terkena dengan pielonefritis, oleh karena itu dapat dihilangkan
melalui sirkulasi ginjal untuk secara cepat.

Biokimia

C. renale menghasilkan jumlah sedikit asam dalam glukosa, dan beberapa strain dapat
menyerang fractose dan mannose. Tidak organisme dari indol; tidak reduuce nitrat; tidak
membentuk H2S; adalah negatif untuk metil merah dan Voges-Proskauer tes. Tidak
gemolyze sel darah merah. Beberapa strain tidak mengubah susu lakmus, sementara yang lain
mampu mencerna kasein dengan informasi dari alkalinitas berikutnya. Hal ini dapat membagi
urea.

Patogenitas
C. renale menyebabkan pielonefritis pada ternak; itu telah diisolasi dari abcesses ginjal babi.
Penyakit ini tidak lazim, dan pertama dimanifestasikan oleh void hemoglobinuria dan
pembekuan darah. Infeksi ini terbatas pada kandung kemih, ureter, dan pelvis ginjal.
Mungkin unilateral atau bilateral.
C. renale untuk kelinci pertama kali dilaporkan oleh Enderlen, tetapi ditandai dan patologi
ginjal khas yang dihasilkan dalam hewan sejak itu digambarkan oleh Feenstra, Thorp, dan
Gray (1919). Oleh inoculating intravena organisme penyelidik ini diproduksi papillitis dan
pyelitis ditandai oleh nekrosis. Bakteri yang ditemukan di puing-puing nekrotik dari lesi dan
di panggul ginjal.
c. renale belum ditemukan untuk menjadi patogenik bagi babi guinea. Sedikit atau tidak ada
pertumbuhan yang diperoleh dalam embrio ayam.

 Corynebacterium pseudotuberculosis

Corynebacterium Pseudotuberculosis

Pada 1888 Nocard organisme terisolasi dari farcy sapi yang tak diragukan lagi
Corynebacterium pseudotuberculosis. Sejak saat itu telah ditemukan organisme sebagai
penyebab limfadenitis caseous domba dan rusa dan ulseratif limfangitis pada kuda, dan
berbagai kondisi suppurative sapi, termasuk lesi kulit yang menyerupai tuberkulosis. Pada
tahun 1911 basil Buchanan disebut organisme pseudotuberculosis. Eberson diklasifikasikan
dengan diphtheroid pada 1918 di bawah nama Corynebacterium pseudotuberculosis.

Morfologi

Lesi alami adalah organisme terutama pleomorphic, tetapi secara seragam coccoid pada
media buatan. Metachromatic butiran yang jelas diamati dalam bentuk bacillary tetapi absen
dari coccoid sel. Organisme ini yg dpt mengubah tempat dan non-noncapsuleforming. Hal
ternoda mudah tetapi tidak merata oleh pewarna biasa, dan gram positif.
c. pseudotuberculosis adalah facultatively aerobik dan an-aerobik. Pertumbuhan lebih banyak
diperoleh dengan penambahan serum ke media budaya. Hal ini dapat diisolasi dari lesi primer
Desease, tetapi hanya beberapa koloni berkembang pada permukaan agar. Bila ini dioleskan
di atas permukaan medium seragam dan berlimpah hasil pertumbuhan.
Organisme ini telah ditemukan untuk menjadi penyebab pseudotuberculosis rusa di gunung
sebelah barat negara Amerika Utara. C. pseudotuberculosis didistribusikan secara luas tetapi
yang paling umum di daerah seperti Australia, Argentina dan barat Amerika Serikat di mana
domba yang dibesarkan dalam kawanan besar. Metode transmisi antara kuda tidak diketahui,
meskipun penggunaan mengerok dan kuas untuk sejumlah kuda mungkin dicurigai.

Biokimia
C. pseudotuberculosis adalah variabel dalam kemampuan fermentasi. Semua strain
menghasilkan asam tetapi bukan gas dari glukosa, fruktosa, maltosa, mannose, dan sukrosa.

Patogenitas

C. pseudotuberculosis menyebabkan limfadenitis cascous domba, penyakit yang ditandai


dengan adanya nekrosis caseation dalam kelenjar getah bening. Dalam kuda organisme
penyebab limfangitis ulseratif, penyakit yang hanya terbatas pada pembuluh limfe dari
ekstremitas, terutama kaki belakangnya. Pembuluh getah bening dan kelenjar getah bening
regional memperbesar dan ulserasi terjadi, menghasilkan suatu kondisi yang mirip dengan
lesi kulit sakit ingus.
Suntikan intravena organisme ke guinea pig menyebabkan kematian dalam empat sampai
sepuluh hari, dengan pembentukan abcesses di paru-paru dan hati. Suntikan intraperitoneal
basil ini ke babi guinea laki-laki menghasilkan orkitis khas dari basil sakit ingus.

 Corynebacterium bovis

Corynebacterium bovis adalah hewan patogen bakteri yang menyebabkan mastitis dan
pielonefritis pada-ternak.

C. bovis adalah facultatively organisme anaerobik Gram positif, ditandai oleh non-
enkapsulasi, non-sporulated, bergerak, lurus atau melengkung batang dengan panjang 1-8 μm
dan lebar 0,3-0,8 μm, yang membentuk sekumpulan bercabang dalam budaya ( tampak
seperti "karakter cina").

Dalam infeksi C. mastitic bovis ini menyebar dari sapi ke sapi paling sering melalui teknik
memerah susu yang tidak benar. Namun biasanya adalah infeksi ringan yang mengakibatkan
peningkatan jumlah sel somatik (SCC). Bakteri ini sensitif terhadap sebagian besar antibiotik,
seperti penisilin, ampisilin, cephalosporins, quinolones, kloramfenikol, tetrasiklin,
cefuroxime dan trimetoprim.

 Corynebacterium equi

Corynebacterium equi

Pada tahun 1923 Magnus in swedia, terisolasi organisme ini dari suppurative radang paru-
paru dari anak kuda. Dia memberinya nama Corynebacterium equi. Dimock dan Edward pada
1931, adalah yang pertama mengisolasi organisme dari kasus pneumonia suppurative dari
anak kuda di Amerika Serikat. Sejak saat itu mereka telah menemukan organisme sering di
Kentucky.

Morfologi

C. equi adalah tongkat coccoid mengukur 0.8μ untuk 1.5μ. hal ini sangat pleomorphic,
bagaimanapun, dan berbagai bentuk yang diamati lebih umum di media yang berbeda. Dalam
eksudat dari lesi khas bernanah pneumonia, C. Equi pendek dan gemuk. Media biakan padat
itu coccoid, meskipun bentuk bacillary hadir.
Dalam media fluida. Besar, bengkak bacillary bentuk yang paling umum. Organisme ini
capsuleproducing, nonsporeforming, dan non-yg dpt mengubah tempat. C. Equi ternoda
mudah dengan pewarna umum dan gram positif. Butiran Metachromatic ditunjukkan oleh
noda yang sesuai, tetapi mereka tidak banyak. Hal ini tidak asam-cepat.
Organisme ini dibudidayakan pada salah satu media nutrisi yang digunakan untuk organisme
patogen; koloni pada media padat besar, lembab, dan lengket dengan seluruh tepi. Pigmentasi
adalah organisme menekankan ketika ditanam pada kuning telur beku menengah dan
diinkubasi pada suhu kamar. Ketika organisme yang tumbuh pada agar miring, pertumbuhan
begitu lengket itu mengalir dari permukaan atau menengah dan mengumpul di bagian bawah
tabung.
Transmisi C. Equi tidak cknown; mungkin itu akan mendapatkan pintu masuk melalui saluran
pernapasan pada anak kuda, meskipun asal hematogenous infeksi paru mungkin

.
Uji Biokimia

C. Equi yang tidak memiliki kemampuan apapun untuk memfermentasi karbohidrat


meskipun dapat memanfaatkan glukosa tanpa menghasilkan reaksi asam. Ini berbeda dari
anggota lain dari kelompok mampu mengurangi nitrat untuk nitrit. Organisme tidak
mencairkan gelatin atau coaguulated serum darah; tidak mengubah susu; tidak membentuk
indol. Heterogenity antigenik dari organisme tidak menghasilkan racun.

Patogenitas

c. equi mampu memproduksi bronkopneumonia pada anak kuda. Yang prneumonia disertai
dengan pembentukan abcesesses kecil tersebar di seluruh jaringan paru-paru. Pembentukan
Abcesses juga diamati dalam kelenjar getah bening mediastinum, dan dalam beberapa kasus,
kelenjar getah bening di rongga peritoneum yang terlibat. Suntikan Subcutaneus organisme
menghasilkan abcess diisi dengan khas, tebal, kuning nanah. Pembangkitan berangsur-angsur
dari organisme ke atas saluran udara dari anak kuda mungkin tidak mereproduksi penyakit.
Pada hewan yang terinfeksi enteritis ulseratif luas diamati, dan abcesses hadir di mesenterika
kelenjar getah bening. Penulis ini menganggap infeksi primer di saluran pencernaan dengan
metastasis ke paru-paru. C. Equi telah terisolasi dari os uteri kuda gersang dan dari janin dari
kuda-kuda yang telah dibatalkan.

Dalam babi, C. Equi dikaitkan dengan kecil, lembut, dikemas abcesses yang biasanya
ditemukan di submaxillary kelenjar getah bening. Hal ini juga ditemukan dalam penumonia
dari babi oleh thal dan rutqvist. Plum telah menekankan bahwa diferensiasi Equi C. infeksi
pada babi dari TB ini hanya mungkin dengan pemeriksaan mikroskopis.
Percobaan binatang, terutama kelinci dan tikus, tidak rentan. Beberapa strain organisme
mampu membunuh tikus dan kelinci percobaan. Menurut laporan oleh thal dan Rutqvist.
Embrio ayam dibunuh dalam waktu 4 sampai 6 hari setelah inokulasi.
Infeksi yang dihasilkan oleh C. Equi dapat didiagnosis secara akurat hanya oleh terisolasi dan
identifikasi organisme. Karakteristik seperti morfologi, pertumbuhan pigmen lengket,
kurangnya fermentasi karbohidrat, dan ditandai pengurangan nitrat dianggap luar biasa dan
paling berharga.

Rhodococcus equi adalah Gram-positif coccoid bakteri. Umumnya organisme hidup di tanah
kering dan berdebu dan dapat penting untuk penyakit hewan peliharaan (kuda dan kambing).
Frekuensi infeksi dapat mencapai hampir 60 persen. R. equi adalah patogen penting
pneumonia dari anak kuda. Sejak 2008, ia juga diketahui bahwa R. equi dapat menginfeksi
babi hutan di samping babi domestik. Di samping itu, patogen dapat menginfeksi manusia.
Kelompok-kelompok yang paling terancam adalah orang immunocompromised dan HIV-
AIDS pasien. Rhodococcal infeksi pada pasien kelompok ini mirip dengan tanda-tanda klinis
dan patologis paru TBC.

Taksonomi, R. equi dapat memiliki sinonim Corynebacterium equi, hoagii Bacillus,


Corynebacterium purulentus, Mycobacterium equi, Mycobacterium restrictum, Nocardia
restricta dan Proactinomyces

Daerah variabel dari plasmid mengandung gen virulensi yang sangat dinyatakan berikut R.
equi fagositosis oleh makrofa. Selain itu, penghapusan vapA, sebuah gen di dalam daerah
variabel plasmid kuda yang diberikan beban yang dihasilkan avirulent. Oleh karena itu
percaya bahwa variabel ini kawasan ini adalah pulau yang berisi pathogenicity gen yang
penting untuk virulensi.
Suatu ciri dari pulau pathogenicity adalah bahwa banyak gen di dalamnya tidak memiliki
homolog pada spesies lain. Yang paling terkenal ini adalah gen VAP yang merupakan
singkatan dari Associated virulensi protein. Semua anak kuda yang terinfeksi dengan R. equi
menghasilkan tingkat antibodi tinggi diarahkan untuk VapA, VAP pertama gen yang akan
ditandai. Selain vapA, pulau yang pathogenicity encode lagi penuh panjang lima VAP
homolog, salah satu gen VAP terpotong dan pseudo VAP dua gen. Pathogenicity babi pulau
yang mengandung lima gen VAP penuh panjang termasuk vapA homolog vapB. Selain itu
gen yang unik pada pulau pathogencity mengandung gen yang memiliki fungsi yang
diketahui, khususnya dua gen pengatur pengkodean tipe yang LysR regulator VirR dan
regulator respon Orf8. Kedua protein telah terbukti untuk mengontrol ekspresi beberapa gen
termasuk pathogenicity pulau vapA [9]. Gen lain memiliki kesamaan untuk mengangkut
protein dan enzim. Namun, fungsi gen ini belum dibentuk, atau bagaimana protein yang
dikodekan dalam menumbangkan pulau pathogenicity macrophage.

Rute yang paling umum infeksi pada kuda mungkin melalui menghirup partikel debu yang
terkontaminasi oleh anak kuda. Menghirup virulen strain R. equi adalah phagocytosed oleh
makrofag alveolar, yang bertujuan untuk melindungi tubuh dari invasi mikro organisme.
Setelah fagositosis, bakteri berada di dalam fagosom, yang berfusi dengan lisosom
melepaskan nucleases, protease ke fagosom. Selain itu, kompartemen ini adalah diasamkan,
menyebabkan aktivasi protease. The macrophage bacteriocidal menghasilkan senyawa
(misalnya, oksigen radikal) setelah pernapasan meledak. Namun, seperti halnya kerabat dekat
Mycobacterium tuberculosis, R. equi mencegah dari fagosom fusi dengan lisosom, dan
peningkatan keasaman dari fagosom dan meledak pernapasan tidak terjadi. Hal ini
memungkinkan untuk melipatgandakan equi R. dalam fagosom, dan dengan demikian
terlindung dari sistem kekebalan tubuh oleh sel yang sangat diharapkan untuk membunuh itu.
Setelah sekitar 48 jam dengan macrophage dibunuh oleh nekrosis, tidak apoptosis. Nekrosis
adalah pro-inflamasi menarik sel fagositik lain ke lokasi infeksi, akhirnya mengakibatkan
kerusakan jaringan besar.

2.3 Bakteri Gram Negatif Enterobacteria

Enterobacteriaceae adalah suatu famili kuman yang terdiri dari sejumlah besar spesies
bakteri yang Sangat erat hubungannya satu dengan yang lainnya. Hidup di usus besar
manusia dan hewan, tanah, air dan dapat pula ditemukan pada dekomposisi material karena
hidupnya hidupnya yang pada keadaan normal dalam usus besar manusia, kuman ini sering
disebut sebagai kuman enterik atau basil enterik. Dalam klasifikasinya famili kuman ini
dibagi dalam 6 genus , yaitu:
 Escherichia
 Klebsiella
 Salmonella
 Shigella
 Proteus
 Aerobacter
A. Morfologi umum

Adapun morfologi secara umum dari bakteri ini adalah:

a. Kuman enterik berbentuk batang, pendek dengan ukuran 0,5μm-3,0μm


b. Gram negative
c. Tidak berspora
d. Gerak positif dengan flagel peritrikh (Salmonella, Proteus, Escherichia) atau
gerak nefatif(Shigella, Klebsiella)
e. Mempunyai kapsul atau selubung yang jelas seperti pada Klebsiella atau
hanya berupa selubung tipis pada Escherichia atau tidak berkapsul sama sekali.
f. Sebagian besar spesies mempunyai fimbrae atau pili sebagai alat perlekatan
dengan bakteri lain.
B. Sifat Fisiologis umum
a. Sifat biokimiawi
Adapun sifat biokimiawi kelompok bakteri ini secara umum adalah
• Pada suasana anaerob atau kadar O2 rendah terjadi reaksi fermentasi.
• Pada suasana aerob atau kadar O2 cukup terjadi siklus asam
trikarboksilat dan transpon electron untuk pembentukan enersi.
• Semua kuman enterik meragi glucosa menjadi asam dan dengan atau
tanpa disertai pembentukan gas, mereduksi nitrat menjadi nitrit, ada yang
membentuk indol dan ada yang membentuk indol tidak ada.
b. Sifat biakan
Adapun sifat biakan dari kelompok bateri ini adalah
• Koloni kuman umumnya basah,
halus, keabu-abuan , dan permukannya licin helisis ada yaitu tipe beta .
• Pada pebenihan air tumbuh
secara difusi.
• Macam-macam perbenihan yang
dipakai untuk isolasi kuman enterik adalah
Diferensial dan selektif.

C. Resistensi kuman

Resistensi kuman dari kelompok bakteri secara umum adalah

• Kuman enterik tidak membentuk spora, mudah dimatikan dengan


disinfektan, konsentrasi rendah zat-zat seperti fenol, formaldehid, B-
glutaraldehid, componen halogen bersifat bakterisid. Pemberian zat khlor
pada air dapat mencegah penyebaran kuman enterik khususnya kuman
penyebab penyakit tifus dan penyakit usus lain. Kuman enterik toleran
terhadap garam empedu dan zat warna bakteriostatik, sehingga zat-zat ini
dipakai di dalam perbenihan untuk isolasi primer.
• Toleran terhadap dingin, hidup berbulan-bulan di dalam es, peka
terhadap kekeringan , menyukai suasana yang cukup lembab dan mati pada
pasteurisasi.
D. Faktor Patogenitas
• Endotoksin:
stabil pada pemanasan, dapat diekstrasi dari dinding sel bakteri
dengan menggunakan fenol air, asam trikhloroasetat dan etilen
diamin tetrasetat.

• Enterotoksin:
adalah substansi yang mempunyai efek toksik pada usus halus,
menyebabkan pelepasan cairan pada ke dalam ileum. Produksi
enterotoksin oleh kuman E. coli diatur oleh plasmad.

• Daya invasi terhadap mikroorganisme:


Misalnya kuman Shigella melakukan penetrasi ke dalam lapisan epitel,
berkembang biak dan kemudian merusak lapisan epitel.

• Permukaan sel kuman:


Pada kuman enterik tertentu permukaan sel kuman mempunyai
peranan penting . Misalnya adanya kapsul pada K. pneumoniae dapat
mencegah fagositosis, antigen vi pada S. typhirum mencegah distruksi
intraseluler, antigen permukaan E. coli berfungsi untuk perlekatan kuman
pada mukosa usus.

• Hemolisis
• Enzim-enzim lain.

2.3.1 Genus Escherichia


a. Taksonomi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Klas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Species : E.coli, E.aurescens, E.freundii, E.intermedium

b. Morfologi
Kuman ini berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 u x
0,4
sampai 0,7 , gram-negatif, bergerak aktif, tidak berspora dan berkapsul.

c. Sifat biokimia
E.coli menghasilkan tes positif terhadap indol, lisin, dekarboksilase,
dan memfermentasi manitol, menghasilkan gas dari glukosa, dan mereduksi
nitrat.

d. Struktur antigen
E.coli mempunyai struktur antigen K ( pada dinding kuman ), antigen
O ( pada badan kuman),antigen H ( pada flagella ).

e. patogenitas dan gejala klinis


Keganasan dari E. coli menyebabkan penyakit pada pedet ( calf
disentir) dan pada ayam menyebabkan Coli granuloma. E.coli juga
merupakan flora normal yang terdapat dalam usus Bakteri menjadi
pathogen ketika mencapai jaringan di lura intestinal atau tempat floral
normal yang kurang umum.Kebanyakan tempat yang sering mengalami
infeksi klinis adalah pada saluran air kemih,system empedu dan juga yang
terdapat pada kelenjar prostate yaitu:
Infeksi system saluran kencing
Gejala-gejalanya meliputi : frekuensi kencing,susah buang air

kecil, adanya darah dalam urine, dan ada pus dalam urine.

Penyakit diare
Perlekatan pada sel epithelial pada usus kecil dan usus besar
dipengaruhi oleh gen dalam plasmid.Terjadi peningkatan konsentrasi
local dari cylic lama dari air dan klorit serta menghambat penyerapan
natrium.Lumen usus digelembungkan dengan cairan dan pergerakan
yang cepat sehingga terjadi diare.

Bakteri ini dikenal sebagai mikroba indikator kontaminasi fekal


dan dibagi dalam dua kelompok yaitu nonpatogenik dan patogenik.
Ada empat kelompok patogenik penyebab diare yaitu EPEC
(Enteropatogenik Escherichia coli), ETEC (Enterotoksigenik
Escherichia coli), EIEC (Enteroinvasif Escherichia coli) dan E. coli
penghasil verotoksin (VTEC). Istilah lain juga digunakan untuk VTEC
seperti E. coli penghasil toksin mirip-Shiga (SLTEC) dan E. coli
penghasil toksin Shiga (STEC). Istilah enterohemoragik E. coli
(EHEC) digunakan untuk galur-

galur yang menyebabkan diare berdarah. EHEC mempunyai faktor


virulen.

Sepsis
Ketika host dalam tubuh normal, E.coli dapat mencapai aliran
darah dan menyebabkan sepsis.Sepsis dapat terjadi setelah infeksi
system saluran kencing.

f. uji diagnostik laboratorium


Isolasi dari air seni dapat dengan cepat diidentifikasikan sebagi E.coli
karena hemolisis dalam agar darah dan mempunyai morfologi yang khas pada
media pembeda seperti media agar EMB akan menunjukkan warna hijau
metalik.Isolasi dari tinja dapat diidentifikasi pada Mac Conkey agar yang
memfermentasi laktosa sehingga koloni tampak berwarna merah.

2.3.2 Genus Klebsiella

Klebsiella pertama kali diteliti dan diberi nama oleh bacteriologist Jerman
yang bernama Edwin Klebs (1834-1913). Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ini
antara lain adalah bronkopneumoniae dan pneumoniabakteri gram negatif.

2.3.2.1 Klebsiella pneumoniae

a. Klasifikasi

Adapun kalsifikasi dari bakteri tersebut adalah

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Enterobacteriales

Family : Enterobacteriaceae

Genus : Klebsiella

Species : Klebsiella pneumoniae

b.Morfologi

Biasanya Klebsiella simpainya besar dan teratur. Selain itu Klebsiela


koloninya besar, sangat mukoid dan cenderung bersatu apabila
ditanamkan..Morfologi khas dari Klebsiella dapat dilihat dalam pertumbuhan
padat in vitro tetapi morfologinya sangat bervariasi dalam bahan klinik
c. Sifat biokimia

Spesies Klebsiella menunjukkan pertumbuhan mukoid,sampai polisakarida


yang besar, tidak ada pergerakan dan biasanya memberikan hasil positif uk tes
dekarboksilase lisin dan sitrat. Klebsiella memberikan hasil yang positif untuk
lisin dekarbosilase dan sitrat.

Spesies klebsiella yang penting adalah :

o Klebsiella genitallium :
infeksi pada saluran genatalia pada kuda betina.Pada reaksi
biokimia dapat memfermentasi glukosa, laktosa, sukrosa, xylosa,
salicin, glycerol, adonitol menghasilkan asam dan gas, uji indol dan uji
citrate positif, uji MR dan VP negatife. Dan mereduksi nitrat menjadi
nitrit.

o Klebsiella paralytica :
Menyebabkan kelumpuhan pada rusa. Pada reaksi biokimia
dapat memfermentasi glukosa, laktosa, sukrosa, xylosa, salicin,
glycerol, adonitol menghasilkan asam dan gas, mengurai inulin
menjadi asam, tidak membentuk indol dan H2S, membentuk beta
hemolisis pada darah dan mereduksi nitrat menjadi nitrit.
Klebsiella memberikan hasil yang positif untuk lisin dekarbosilase
dan sitrat
o Klebsiella pneumonia :
Infeksi pada saluran pernapasan manusia. Pada reaksi
biokimia dapat memecah karbohidrat menjadi asam dan gas.
d. Struktur antigen

Anggota dari genus Klebsiella memiliki struktur antigen yang


kompleks.

Lebih khususnya, amggota genus Klebsiella memiliki 2 tipe


antigen pada permukaan sel. Yang pertama adalah antigen O yang
merupakan bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel dan
terdiri atas unit polisakarida yang berulang. Beberapa polisakarida O-
spesifik mengandung gula yang unik. Antigen O tahan terhadap panas
dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan aglutinasi bakteri. Antibodi
terhadap antigen O terutama adalah IgM. Yang kedua adalah antigen
K. Antigen K ini berada di luar antigen O dan merupakan suatu
capsular polysacharida. Antigen K dapat mengganggu aglutinasi
melalui antiserum O dan berhubungan dengan virulensi.

e. Patogenesis

Klebsiella pneumoniae merupakan suatu bakteri gram negative


yang tidak bergerak (nonmotil), tidak berselubung, dapat melakukan fermentasi
laktosa, fakultatif anaerob, ditemukan sebagaiflora normal di mulut, kulit dan
usus. Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya hubungan dengan
pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi
agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran.

f. Uji laboratorium diagnostik

 Spesimen
urine, darah, pus, sputum atau hal lain tergantung
lokaisi proses penyakit.

 Smears
adanya kapsul yang besar sangat baik bagi
klebsiella

 Kultur
Spesimen dibiakan pada agar darah dan media
diferensial ( Identifikasi menjadi lebih cepat) . Antibodi
spesifik erkembang dalam infeksi yang sistemik,tetapi
tidak diketahui apakah imunitas tersebut sesuai untuk
organisme lanjutan.

2.3.3 Genus Shigella

Shighella spesies adalah kuman pathogen usus yang telah lama dikenal
sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler. Berada dalam tribe Escherichia
karena sifat genetic yang saling berhubungan, tetapi dimasukkan dalam genus
tersendiri yaitu Shigella karena gejala klinik yang disebabkannya bersifat khas.

a. Klasifikasi

Kingdom : Eubacteria

Phylum : Proteobakteria

Class : Gamma Proteobakteria

Ordo : Enterobakteriales

Famili : Enterobakteriaceae

Genus : Shigella

Spesies : Shigella dysenteriae

Shigella equirulis

b. Morfologi

Adapun morfologi dari Shigella antara lain:


• Kuman berbentuk batang, ukuran 0,5-,7
μm x2-3 μm
• Pada pewarnaan gram bersifat negative
gram
• Tidak berflagela
• Kekhasan organisme:
♦ Shigellae merupakan bakteri batang gram negative yang tipis,
♦ Bentuk coccobacilli terjadi pada perbenihan muda.

c. Sifat fisiologi dan sifat biokimia

Adapun sifat fisiologi dan biokimia dari bakteri tersebut adalah

1. Sifat biokimia yang khas adalah negatif pada reaksi fermentasi


adonitol, tidak membentuk gas pada fermentasi glucosa, tidak
membentuk H2S kecuali S. flexneri, negatif pada sitrat, DNase, lisin,
fenilalanin, sucrosa, urease VP, manitol, laktosa kecuali S. sonnei
meragi laktosa secara lambat, xylosa dan negatif pada tes motilitas.
2. Sifat pertumbuhan adalah anaerob dan fakultatif anaerob
3. pH pertumbuhan 6,4-7,8
4. Suhu pertumbuhan optimum 37°C.

d. Sifat koloni
Sifat koloni kuman adakah kecil, halus, tidak berwarna bila ditanam
pada agar SS, EMB, ENDO dan Mac Conkey.
e. Resistensi
Adapun resistensi dari bakteri tersebut adalah sebagai berikut:
• Kurang tahan terhadap agen fisik dan nimia dibandingkan dengan
salmonella .
• Tahan dalam ½% fenol selama 5 jam dan dalam 1& fenol dalam ½ jam
.
• Tahan dalam es selama 2 bulan dan laut selama 2-5 bulan.
• Toleran terhadap suhu rendah dengan kelembaban cukup.
• Garam empedu konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan strain
tertentu.
• Kuman akan mati pada suhu 55°C.

f. Faktor-faktor patogenitas
Daya invasi
• Kuman menembus masuk ke dalam lapisan sel epitel permukaan mukosa
usus di daerah ileum dan terminal dan kolon, pada lapisan epitel tersebut
kuman memperbanyak diri .
• Sebagai reaksi peradangan diikuti dengan kematian sel dan
mengelupasnya lapisan tersebut , terjadilah tukak.
• Kuman Shigella yang tidak invasif tidak mampu menimbulkan sakit.
 Enterotoksin
• Enterotoksin yang dihasilkan Shigella adalah termolabil dan
menyebabkan pengumpulan cairan di ileum kelinci. Aktivitas
enterotoksin terutama pada usus halus yang berbeda bila dibandingkan
disentir basiler klasik dimana yang terkena adalah usus besar.
 Patogenisis dan gejala klinik
 Salmonella dyesentriae
Menyebabkan disentir basiler atau shigellosis yaitu
merupakan infeksi usus akut yang dapat sembuh sendiri. Shigellosis
dapat menyebabakan 3 bentuk diare yaitu;
o Disentri klasik dengan tinja yang konsisten
lembek disertai darah, mucus dan pus.
Watery diarrea,
o Kombinasi keduanya.
Masa inkubasi adalah 2-4 hari atau bisa lebih lama sampai 2
minggu. Kuman masuk dan berad di usus halus menuju Terminal ileum
dan kolon, melekat pada permukaan mukosa dan menembus lapisan
epitel kemudian berkembang biak di dalam lapisan mukosa .
Berikutnaya adalah reaksi peradangan yang menyebabkan terlepasnya
sel-sel dan timbulnya tukak pada permukaan mukosa usus. Jarang terjadi
organisme menembus dinding usus dan menyebar ke bagian tubuh yang
lain. Reaksi peradangan yang hebat tersebut mungkin mungkin
merupakan factor penting yang membatasi penyakit ini hanya pada usus,
selain itu juga menyebabakan timbulnya gejala klinik berupa desama,
nyeri abdomen dan tenesmus ani.

Penyembuhan spontan dapat terjadi dalam waktu 2-7 hari


terutama pada penderitadewasa yang sehat sebelumnya, sedangkan pada
penderita yang sangat muda atau tua dan juga pada penderita dengan gizi
buruk penyakit ini akan berlangsung lama. Pernah ditemukan terjadinya
septicemia pada penderita dengan gizi buruk dan berakhir dengan
kematian.

Shigella equirulis,
Kuman patogen pada kuda. Penyakit timbul setelah partus.
Infeksi kemungkinan melalui uterus yang nantinya akan menuju ke fetus.

Diagnosis laboratorium
Bahan pemeriksaan yang paling baik untuk diagnosis etiologic
Shigella adalah metode usap dubur atau diambil dari tukak pada mukosa
usus pada saat sedang dilakukannya pemeriksaan sigmoidoskopi. Bahan
pemeriksaan lainnya adalah tinja segar, dalam hal ini harus diperhatikan
bahwa kuman Shigella hidupnya singkat sekali dan peka terhadap asam-
asam yang ada di dalam tinja, sehingga jarak waktu sejak pengambilan
bahan sampai penanaman bahan di laboratorium harus sesingkat
mungkin.
Kekebalan
Infeksi diikuti dengan sebuah reaksi antibody tipe spesifik
Suntikan Shigella mati akan merangsang antibodi dalam serum tetapi
gagal untuk melindungi manusia melawan infeksi. Antibodi IgA dalam
usus penting untuk membatasi infeksi berulang, hal ini dipengaruhi
oleh strain yang dilemahkan yang diberikan secara oral sebagai vaksin
percobaan. Serum antibodi terhadap somatik antigen shigella adalah
Igivi.
 Pengobatan dan pencegahan
• Penggunaan antibiotika mengurangi beratnya penyakit
walaupun maupun kematian , walaupun banyak penderita yang tidak
merasa perlu untuk pergi ke dokter karena penyakit ini dapat sembuh
secara spontan.
• Antibioka ampisilin, tetrasiklin dan thropim-sulfametoksasol
banyak digunakan dalam pengobatan disentir basiler, tetapi dengan
semakin banyaknya ditemikan strain kuman yang resisten terhadap
bermacam-macam antibiotika maka sebaiknya dilakukan terlebih
dahulu tes kepekaan kuman terahadap antibiotika sebelum memulai
pengobatan.
• Pada pencegahan penyakit disentir basiler kebersihan
lingkungan , pencarian dan pengobatan carier serta khlorinasi air
minum memegang peranan penting. Carrier tidak diperbolehkan
bekerja sebagai food handler.

g. Uji laboratorium diganostik

♦ Spesimen
Tinja, bintik-bintik klendir pada kulit, dan kain penyeka anus untuk
kultur. Sejumlah besar leukosit anus dan beberapa sel darah merah sering
dilihat dengan mikroskop. Contoh serum bila didinginkan harus diberiakan
dalam 10hari untuk melihat reaksi titter aglutinasi dari antibodi yang
meningkat.

♦ Kultur
Spesimen ditanam diatas media diferencial(misalnya MacConkey’s
atau agar EMB) dan di atas media selektif(agar Hektoen enterik atau agar
salmonella shigella), yang dapat menekan enterobacteriaceae dan organisme
lain. Koloni tak berwarna (laktose negatif) ditanamkan pada triple sugar iron
agar. Organismoe yang memproduksi H2S, yang memproduksi asam tetapi
tanpa gas di bagian ujung dan di bagian miring alkalin pada medium triple
sugar iron agar dan yang nonmotil seharusnya dilakukan slide aglutinasi
menggunakan antiserum shigella spesifik.
♦ Serologi
Orang normal sering mempunyai agglutinin untuk melawan beberapa
spesies shigella. Meskipun begitu beberapa penemuan antibodi titer
memperlihatkan sebuah reaksi dalam spesifik antibodi. Serologi tidak
digunakan untuk mendiagnose infeksi shigella.

2.3.4 Genus Salmonella

Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab


bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan tifoid yang
berat disertai bakterimia.

a.Klasifikasi umum

Phylum : Proteobakteria

Class : Gamma Proteobakteria

Ordo : Enterobakteriales

Famili : Enterobakteriaceae

Genus : Salmonella

Spesies : Salmonella typhimirum

Salmonella abortio ovis

Salmonella pullorum

Salmonella gallinarum

Salmonella anatis

b. Morfologi umum
• Kuman gram negatif
• Tidak berspora dan panjangnya bervariasi.
• Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih.
• Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak
meragikan sukrosa dan laktosa.
• Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan
manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang
lama.

c. Fisiologi umum
• Kuman tumbuh pada suasana anaerob dan fakultatif anaerob
• Pada suhu 15-41°C (suhu pertumbuhan optimum 37,5°C)
• Ph pertumbuhan 6-8
• Pada umumnya isolat kuman Salmonella dikenal dengan sifat-sifat;
gerak positifreaksi fermentasi terhadap manitol dan sorbitol positif dan
memberiakan hasil negatif pada reaksi indol, DNase, fenilalanin,
deaminase, urease, Voges Proskauer, reaksi fermentasi terhadap
sukrose, laktose, adinitol serta tidak tumbuh dalam larutan KCN.
• Sebagian besar isolat kuman Salmonella yang berasal dari bahan klinik
menghasilkan H2S.
d. Resistensi umum

• Kuman mati pada suhu 56°C juga pada keadaan kering


• Dalam air bisa tahan selam 4 minggu
• Hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu
• Tahan terhadap zat warna hijau brillian dan senyawa Natrium
tertrationat dan Natrium deoksikholat. Senyawa-senyawa ini menghambat
pertumbuhan kuman koliform sehungga senyawa-senyawa tersebut dapat
digunakan di dalam media untuk isolasi kuman Salmonella dari tinja.
e. Faktor-faktor patogenitas
• Daya invasi
Kuman Salmonella di usus halus melakukan penetrasi ke dalam epitel, kuman
terus melalui lapisan epitel masuk ke dalam jaringan subepitel sampai di
lamina propria. Pada saat kuman mendekati lapisan epitel, brush border
berdegenerasi dan kuman masuk ke dalam sel. Mereka dikelilingi membran
sitoplasma yang invertid, seperti vakuola fagositik. Kadang- kadang penetrasi
ke dalam epitel terjadi pada intracelluler junction. Setelah penetrasi organisme
difagosit oleh makrofag , berkembang biak dan dibawa oleh makrofag ke
bagian tubuh yang lain .

• Antigen permukaan
Kemampuan kuman Salmonella untuk hidup intraseluler mungkin disebabkan
adanya antigen permukaan (antigen Vi).

• Endotoksin
Peranan pasti endotoksin yang mungkin ada di dalam infeksi Salmonella
belum jelas diketahui. Lebih jauh lagi endotoksin dapat mengaktivasi
kemampuan khemotaktik dari sistem komplemen, yang menyebabkan
lokalisasi sel leukosit pada lesi di usus halus.

• Enterotoksin
Beberapa spesies Salmonella menghasilkan enterotoksin yang serupa dengan
enterotoksin yang dihasilkan oleh kuman Enterotoxigenic E. coli baik yang
termolabil maupun yang termostabil. S. typhimurium dan S. enteriditis
menghasilkan enterotoksin yang termolabil, toksin juga diduga berasal dari
dinding sel atau membran luar.

f. Patogenitas dan gejala klinis

Salmonella merupakan patogen pada binatang yang merupakan reservoir


infeksi pada manusia, unggas, babi, heawan pengerat, ternak, bunatang peliharaan
dan banyak lagi. Organisme hampir selalu masuk melalui oral, biasanya dengan
mengkontaminasi makanan atau minuman. Diantara faktor tempat yang
mempengaruhi ketahanan terhadap infeksi Salmonella adalah keasaman lambung,
flora normal dalam usus dan ketahanan usus local. Salmonella menyebabkan 3 tipe
penyakit utama pada manusia yaitu:
♦ Demam enterik (demam typhoid)
Gejala ini disebabkan oleh Salmonellae, Salmonella typhi ( demam typhi).

♦ Bakterimia dengan luka fokal


Gejala ini disebabkan oleh Salmonella cholerasis tetapi mungkun disebabkan
oleh serotipe salmonella lain. Menyertai infeksi oral, ada invasi awal pada aliran
darah(dengan luka fokal yang mungkin pada paru-paru, tulang, meninges dan
lainnya), tetapi manifestasi pada saluran usus sering tidak ada.

♦ Enterokolitis
Merupakan manifestasi infeksi Salmonella yang wajar. Luka meradang pada
usus besar dan kecil terjadi. Bakterimia jarang terjadi kecuali pada orang yang
tidak tahan.

g. Imunitas

Infeksi Salmonella typhi memberi sebuah derajat kekebalan tertentu. Infeksi


berulang mungkin terjadi namun lebih ringan dibanding infeksi pertama.
Perputaran antibodi dari O dan Vi berhubungan dengan ketahanan terhadap
infeksi dan penyakit. Meskipun demikian kekambuhan mungkin terjadi dalm 2-3
minggu sesudah sembuh. Pengeluaran antibodi IgA mungkin mencegah
penambahan salmonellae pada epithelium intestinal.

h. Pengobatan dan pencegahan


Demam enterik dan bakterimia dengan luka fokal membutuhkan
pengobatan antimikrobia, sebaliknya kasus enterokolitis tidak
membutuhkan. Pengobatan antimikrobial dari Salmonella enteritis pada
neonatos penting. Pada enterokolitis gejala klinis dan pengeluaran
Salmonella mungkin diperlama dengan terapi antimikrobial. Dalam diare
tertentu, penggantian cairan dan elektrolit diperluakan. Terapi
antimikrobial dari infeksi Salmonella adalah dengan ampisilin,
trimethoprimasulfanethoxazole atau generis ketiga cephalosporin.

i. Uji laboratorium diagnosis


• Spesimen
Kultur darah harus diambil secepatnya. Demam enterik dan keracunan
darah, kultur darh sering sering positif dalam munggu pertama penyakit.
Kultur sumsum tulang mungkin dapat digunakan. Kultur urine mungkin
positif sesudah minggu kedua. Spesimen tinja juga harus diambil secepatnnya.
Dalam demam enterik , tinja menghasilkan hasil positif pada minggu kedua
dan ketiga, pada enterokolitis pada minggu bpertama.

• Metode bakteriologis untuk pengisolasian Salmonellae


♦ Kultur Differential Médium
EMB, Mac-Conkey’S atau medium deoksikholat memungkinkan
pendeteksian cepat dari fermenter nonlaktosa (tidak hanya Salmonellae dan
Shigellae tetapi juga Proteus, Serratia, Pseudomonas dan lainnya). Organisme
gram positif dalam beberapa hal dihambat. Medium bismut sulfit
memungkunkan pendeteksian cepat dari S. typhi yng membentuk koloni hitam
karena produksi H2S.

♦ Kultur Media Selektif


Spesimen ditempatkan diatas agar salmonella-shigella(SS), Hektoen agar
enteric, XLD, atau agar deoxycholate citrate yang lebih cocok untuk
pertumbuhan Salmonella dan Shigella daripada Enterobacteriaceae.

♦ Identifikasi Akhir
Koloni dari media padat diidentifikasikan oleh bentuk reaksi biokomia dan
tes aglutinasi mikroskop dengan serum spesifik.

• Metode Serologi
Tenik serologi digunakan untuk mengidentifikasi kultur yang tidak
dikenal dengan serum yang dikenal dan mungkin digunakan untuk mengenali
antibodi titer pada pasien dengan penyakit yang tidak dikenal, meskipun
kemudian tidak berguan dalam mendiagnosis infeksi Salmonella.

♦ Tes aglutinasi
Pada tes ini, serum yang diketahui dan kultur yang tidak diketahui
dicampur di atas slide. Akan terjadi gumpalan (dapat dilihat dalam beberapa
menit). Tes ini khususnya berguna untuk pengidentifikasian kultur awal secara
cepat.

♦ Tes aglutinsi pengenceran tabung (Widal Tes)


Serum antibodi akan meningkat dengan cepat selama minggu kedua dan
ketiga pada infeksi Salmonella. Proses pengenceran berurutan dari serum yang
tidak diketahui dites terhadap antigen dari Salmonellae yang representatif.

♦ Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada beberapa carrier
(pembawa) penyebab. Hasil tes serologi untuk infeksi Salmonella harus
diartiakn secara hati-hati. Adanya kemungkinan reaksi silang antibodi
membatasi pengguanaan serologi dalam diagnosis infeksi Salmonella.

2.3.4.1 Salmonella typhimurium


• Morfologi
Berbentuk batang, motil, gram positif, tidak mempunyai kapsul dan
spora.

• Sifat biakan
Aerobe ataufakultatif anaerobe.

• Daya tahan
o Mudah mati pada pemanasan 60°C → 20’.
o Mudah mati dengan pemakaian disinfektan
• Sifat biokimia
o Dapat memecah karbohidrat
o Mereduksi nitrat
o Meningkatkan Ph litmus milk
• Penularan
Melalui peroral selain itu juga melalui carier dan transovarial biasanya
pada unggas.

• Keganasan
Dapat membentuk endotoksin yang letal dan akut.

2.3.4.2 Salmonella abortus

Dapat menyebabkan abortus pada domba.

2.3.4.3 Salmonella pullorum


a. Morfologi
Bakteri berbentuk batang, motil, gram positif, tidak mempunyai kapsul
dan spora.

b. Penularan

Melalui peroral dan transovarial.

c. Keganasan

Dapat menyebabkan diare yaitu tinja seperti pasta (terutama pada anak
ayam), sedangkan pada ayam dewasa menyebabkan ovaritis yang
mengakibatkan produksi telur dapat menurun.

2.3.4.4 Salmonella gallinarum

Bakteri berbentuk batang, gram positif, motil, tidak memiliki kapsul dan spora
serta tidak berflagela.

2.3.4.5 Salmonella anatis

Menyebabkan penyakit pada anak itik dengan gejala seperti lemah, haus, nafsu
makan menurun, dan kematian. Penularannya melalui transovarial.
2.3.5 Proteus

a. Klasifikasi

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Enterobacteriales

Family : Enterobacteriaceae

Genus : Proteus

Species : Proteus sp.

b. Morfologi

Adapun morfologi bakteri ini adalah sebagai berikut:

• Batang

• Gram negative

• Motil (flagella peritrich)

• Kebanyakan spesies hidup bebas dalam tanah, air, dan sampah

c. Patogenitas

Spesies Proteus menyebabkan infeksi pada manusia hanya bila bakteri ini
meninggalkan saluran usus. Spesies ini ditemukan pada infeksi saluran kemih dan
menyebabkan bakteremia, pneumonia, dan lesi fokal pada penderita yang lemah
atau pada penderita yang menerima infuse intravena. P mirabilis menyebabkan
infeksi saluran kemih dan kadang-kadang infeksi lainnya. Proteus vulgaris
merupakan pathogen nosokomial yang penting.

d. Uji biokimia

Bakteri ini mampu memproduksi enzim urease dalam jumlah besar. Enzim
urease yang menghidrolisis urea menjadi ammonia (NH3) menyebabkan urin
bertambah basa. Jika tidak ditanggulangi, pertambahan kebasaan dapat memicu
pembentukan kristal sitruvit (magnesium amonium fosfat), kalsium karbonat, dan
atau apatit. Bakteri ini dapat ditemukan pada batu/kristal tersebut, bersembunyi
dalam kristal dan dapat kembali menginfeksi setelah pengobatan dengan
antibiotik. Semakin banyak batu/kristal terbentuk, pertumbuhan makin cepat dan
dapat menyebabkan gagal ginjal. Proteus mirabilis memproduksi endotoksin yang
memudahkan induksi ke sistem respon inflamasi dan membentuk hemolisin.
Bakteri ini dapat pula menyebabkan pneumonia dan juga prostatitis pada pria.

e. Uji serologis

Mendeaminasi fenilalanin, dapat bergerak, tumbuh pada perbenihan kalium


sianida (KCN), dan meragikan xilosa. Spesies Proteus bergerak sangat aktif
dengan memakai flagel peritrika, yang mengakibatkan swarming (pertumbuhan
menyebar pada permukaan, membentuk pola menyerupai lingkaran tahun pada
pohon) pada perbenuhan padat kecuali kalau ini dihambat oleh zat kimia,
misalnya feniletin alcohol atau perbenihan CLED (Cystine-lactose-electrolyte-
deficient). Spesies proteus bersifat urease positif. Proteus meragikan laktosa
secara amat lambat atau tidak sama sekali. Proteus mirabilis lebih peka terhadap
obat antimikroba, termasuk penisilin.

Proteus tidak meragi laktosa. Proteus menghasilkan urease, yang


menyebabkan hidrolisis cepat dari urea, dengan melepaskan amonia.

2.3.6 Genus Aerobacter

a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Enterobacteriales

Family : Enterobacteriaceae

Genus : Aerobacter

Species : Aerobacter aerogenes

b. Morfologi

a) Motil

b) Berkapsul

c) Membentuk koloni bulat konveks, halus dengan pinggir-pinggir yang


nyata tetapi sedikit lebih mukoid.

c. Patogenesis

Menyebabkan infeksi system saluran kencing dan sepsis.

d. Uji biokimia

• Mengubah karbohidrat menjadi asam

• Mengubah nitrat menjadi nitrit


• Mengasamkan dan mengkoagulasi susu

e. Uji diagnosa laboratorium

Test Coli-Aerogenes pada analisa air ( pemeriksaan kwalitatif ) :


Presumptive test : menggunakan air lactose broth denagn indicator dan alat
penangkap gas .Test positif menunjukan indicator berubah dan timbul gas.

• Partially confirmed test : menggunakan cairan dari Presumptive test


dipupuk pada EMB/ Endo Agar.Test positif menunjukan adanya bakteri
coliform.
• Completed test : menggunakan koloni dari Partially confirmed test
dipupuk pada lakose broth ditambah indicator.Test positif menunjukkan timbulnya asam dan
gas.
Pemeriksaan kwantitatif dengan cara menghitung jumlah bakteri dalam 1 ml
air. Air diencerkan denagn pengenceran yang berbeda dan ditanam pada plat agar
pada suhu 37 derajat celcius selama 24 jam.

2.5 Bakteri batang Gram negatif Non Enterobactericeae

2.5.1 Genus Vibrio

Klasifikasi genus ini adalah :

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Vibrionales

Family : Vibrionaceae

Genus : Vibrio

Vibrio adalah suatu jenis Bakteri Gram-Negatif yang mempunyai suatu


tangkai yang bentuknya bengkok dan secara khas ditemukan pada air laut. Vibrio
bersifat fakultatif anaerob positif test untuk oxidase dan tidak membentuk spora.
Semua anggota jenis ini adalah motil (bergerak) dan mempunyai kutub flagella
dengan sarung pelindung. Sejarah evolusi suatu ras terbaru telah dibangun
didasarkan pada suatu deretan gen (analisa urutan multi-locus)
Semua kelompok spesies yang hidup dalam air, bakteri berbentuk koma dalam
keluarga Vibrionaceae. Beberapa jenis menyebabkan penyakit serius pada manusia
dan juga hewan. Bakteri ini termasuk dalam bakteri gram-negatif, bakteri yang
mampu bergerak (dengan satu sampai tiga flagella) dan tidak memerlukan oksigen.
Sel bakteri dibengkokkan seperti tangkai, tunggal atau meregangkan bersama-sama
dalam bentuk S atau berpilin. Dua jenis mengakibatkan penyakit pada manusia: satu
penyebab kolera dan diarrhea hasil bakteri akut lain. Adapun beberapa spesies
bakteri non enterobacteriaceae yang patogen adalah

2.5.1.1 Vibrio Parahaemolyticus

a. Morfologi

Merupakan bakteri batang bengkok seperti koma dan hidup pada perairan air tawar.
Gerak sangat aktif dengan adanya flagel monotrikh. Tidak membentuk spora. Vibrio
Parahaemolyticus adalah oksidase positif, fakultatif aerobik.

b. sifat pertumbuhan

Kuman ini tumbuh membutuhkan minimal 2% NaCl. Pada agar TCBS membentuk
koloni besar, smooth, berwarna hijau. Kuman ini tumbuh optimum pada pH 7,6-9,0.

a. Morfologi

Merupakan bakteri batang bengkok seperti koma dan hidup pada perairan air
tawar. Gerak sangat aktif dengan adanya flagel monotrikh. Tidak membentuk spora.
Vibrio Parahaemolyticus adalah oksidase positif, fakultatif aerobik.
b. Sifat pertumbuhan

Kuman ini tumbuh membutuhkan minimal 2% NaCl. Pada agar TCBS


membentuk koloni besar, smooth, berwarna hijau. Kuman ini tumbuh optimum pada
pH 7,6-9,0.

c. Struktur antigen

- Antigen O dan K penting untuk typing secara serologis


- Terdapat 11 tipe O dan 57 tip K
d. Patogenitas

Kuman ini menyerang hasil laut seperti ikan. Belum pernah dapat diisolasi
enterotoksin Vibrio parahaemolyticus 95% isolate menunjukkan tes hemolisis
kanagawa positif. Tes ini mendeteksi hemolisis yang heat stable, yang meliliskan
eritrosit manusia dan kelinci tetapi tidak meliliskan eritrosit kuda.

Gejala klinis yang ditimbulkan :

 Dapat berupa gastroenteritis yang self limiting sampai yang berat seperti
kolera
 Diare timbul tiba-tiba dan sangat cair, tanpa darah dan mucus
 Kadang-kadang disertai sakit kepala dan panas
 Gejala berlangsung sampai 10 hari, rata-rata 72 jam.
 Terdapat filtrasi lemak
e. Uji laboratorium diagnostik

Untuk mengetahui terserang kuman ini atau tidak dapat dilakukan dengan
diagnosa laboratorium dengan menggunakan bahan pemeriksaan tinja dan usap dubur.

f. Pengobatan

Jika terserang kuman ini dapat diberikan antibiotika kloramfenikol, kanamisin,


tetrasiklin dan sefalotin. Pada kasus berat perlu rehidrasi dan penambahan elektrolit.

2.5.1.2 Vibrio Cholerae

a. Morfologi
Vibrio cholerae termasuk bakteri Gram negatif, berbentuk batang bengkok
seperti koma dengan ukuran panjang 2 – 4 µm. Pada isolasi, Koch menamakannya
“kommabacillus”, tetapi bila biakan diperpanjang, kuman ini bisa menjadi batang
yang lurus. Kuman ini dapat bergerak sangat aktif karena mempunyai 1 buah flagella
polar yang halus ( monotrikh ). Kuman ini tidak membentuk spora. Pada kultur
dijumpai koloni yang cembung ( convex ), halus dan bulat yang keruh ( opaque ) dan
bergranul bila disinari.

b. Sifat pertumbuhan

Vibrio cholerae dan sebagian vibrio lainnya tumbuh dengan baik pada suhu 37° C
pada berbagai perbenihan. Vibrio cholerae tumbuh dengan baik pada agar tiosulfat –
sitrat – empedu – sukrosa ( TCBS ). Selain itu, organisme ini juga mempunyai ciri
khas yaitu tumbuh pada pH yang sangat tinggi ( 8,5 – 9,5 ) dan dengan cepat dibunuh
oleh asam.

c. Struktur antigen

V. cholera menghasilkan antigen :

 Antigen flagel H : bersifat heat labile. Antibodi terhadap


antigen A tidak
bersifat protektif. Pada uji aglutinasi berbentuk awan.

 Antigen somatic O : terdiri dari lipopolisakarida. Pada reaksi


aglutinasi
berbentuk seperti pasir.

d. Patogenitas
Dalam keadaan normal kuman ini hanya pathogen untuk manusia.
Tidak bersifat invasive, kuman tidak pernah masuk dalam sirkulasi darah
tetapi menetap dalam usus. Kuman ini menghasilkan toksin cholera dan
endotoksin. Toksin cholera diserap dipermukaan gangliosida sel epitel dan
merangsang hipersekresi air dan klorida dan menghambat absorpsi
natrium. Gejala klinis yang ditimbulkan :

 Masa inkubasi 1-4 hari


 Mual, muntah, diare dan kejang perut
 Ricewater stools yang terdiri dari mucus, sel epitel, dan kuman
vibrio dalam jumlah besar
 Gejala kehilangan cairan dan elektrolit, dehidrasi, kolaps
sirkulasi dan anuria.
e. Uji laboratorium diagnostik

 Specimen : untuk kultur terbentuk dari gumpalan mucus


dari tinja
 Kultur : tumbuh cepat pada agar peptone, agar TCBS dan
koloni khas
dapat dipilih dalam waktu 18 jam.

 Uji spesifik : V. cholera diidentifikasi lebih lanjut dengan uji


aglutinasi slide
menggunakan anti O kelompok antiserum O1 dan O139 dan
reaksi biokimia

f. Pengobatan

Jika terserang kuman ini dapat diberi dengan antibiotika tetrasiklin


yang dapat mempersingkat masa pemberian cairan atau dehidrasi. Dan
untuk pencegahan dapat dilakukan vaksinasi.

2.5.1.3 Vibrio vulnifricus

a. Morfologi dan siklus hidup


Vibrio vulnificus merupakan bakteri basillus gram negatif, motil, memiliki fimbria
dan kapsul. Kapsul pada Vibrio vulnificus memegang peranan penting dalam penentuan sifat
patogeniknya. Bakteri Vibrio vulnificus yang tidak berkapsul ditemukan tidak bersifat
patogen. Munculnya galur Vibrio vulnificus yang berkapsul dan tidak berkapsul tidak
diketahui mekanismenya.

Adanya fimbria (pilli tipe IV) juga menentukan virulensi Vibrio vulnificus. Pilli tipe
IV yaitu N-metilfenilalanin, yang merupakan karakteristik genus Vibrio, diperlukan bakteri
untuk melekat pada sel tubuh. Citraan mikroskop elektron dari Vibrio vulnificus. Tanda
panah menunjukkan fimbria bakteri. Sebagai bakteri Gram negatif, lipopolisakarida Vibrio
vulnificus (endotoksin) memegang peranan penting, terutama dalam mekanisme demam dan
shock yang timbul pada infeksi. Daur hidup Vibrio vulnificus belum diketahui.

b. Patologi dan gejala klinis

Gejala yang sering timbul pada infeksi Vibrio vulnificus adalah infeksi pada luka
terbuka, nekrosis, gastroenteritis (muntah, diare, dan masalah pada perut dan usus) dan
septisemia primer (akibat infeksi Vibrio vulnificus pada aliran darah). Septisema primer
umumnya terjadi pada penderita gangguan hati.Gejala yang timbul antara lain demam dan
badan terasa dingin, penurunan tekanan darah secara mendadak (septic shock), muncul
bercak merah bengkak lunak yang meluas pada kulit, dan kematian. Septisima primer adalah
gejala paling berbahaya pada infeksi Vibrio vulnificus. Kemungkinan sembuh penderita yang
terkena septisema adalah 55%, sedangkan pada kasus infeksi luka terbuka 24%. Munculnya
gejala awal infeksi Vibrio vulnificus dapat berkisar antara beberapa jam sampai beberapa
hari. Gejala berupa gastroenteritis umumnya muncul berkisar antara 16 jam sesudah Vibrio
vulnificus terkonsumsi. Gejala berupa septisema muncul kira-kira 36 jam sesudah reaksi
pertama muncul. Gejala infeksi yang relatif cepat kemunculannya adalah bengkak dan
merahnya kulit pada infeksi pada luka terbuka, yaitu sekitar 4 jam setelah infeksi.
Serangan oleh baketeri Vibrio vulnificus pada orang sehat tergolong infeksi akut dan
gejala akan muncul tiba-tiba dan segera sesudah infeksi. Pada penderita yang sembuh dari
infeksi tidak diperlukan penanganan jangka panjang.
c. Diagnosis

Penegakan diagnosis infeksi Vibrio vulnificus ditentukan ditemukannya Vibrio


vulnificus pada isolasi kultur cairan pada luka, feses diare, maupun darah. Untuk penelitian
yang lebih luas, dapat digunakan media khusus untuk sampel-sampel tersebut sehingga dapat
diyakinkan adanya pertumbuhan Vibrio vulnificus.

d. Pengobatan
Penanganan utama pada infeksi Vibrio vulnificus adalah menggunakan antibotik.
Pada gejala nekrosis akibat infeksi luka terbuka, diperlukan amputasi bagian tubuh.
Penggunaan antibiotik untuk penanganan antara lain:

- Doxycycline (100 mg PO/IV dua kali sehari untuk 7-14 hari) dan generasi
ketiga cephalosporin ( Misal: ceftazidime 1-2 g IV/IM setiap delapan jam), maupun
tetrasiklin.
- Pada anak-anak, dimana tidak dapat digunakan doxycycline, dapat digunakan
trimethoprim-sulfamethoxazole ditambah aminoglycoside.

2.5.2 Genus Pseudomonas

a. Klasifikasi

Klasifikasi genus ini adalah sebagai berikut

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Pseudomonadales

Family : Pseudomonadaceae

Genus : Pseudomonas

Spesies : Pseudomonas sp.


Sel berupa batang lurus, kadang-kadang serupa bola. Bergerak dengan flagel
yang terdapat pada ujung. Jumlah flagel satu atau lebih. Beberapa spesies tidak bergerak.
Gram positif. Habitat tanah atau air tawar dan air laut. Banyak spesies hidup sebagai parasit
pada tanaman, tidak begitu banyak pada hewan.

Ada yang patogen bagi binatang atau tanaman dan ada yang patogen bagi
keduanya. Kebanyakan spesies pseudomonas tidak menyebabkan infeksi pada manusia,
tetapi kuman ini penting karena bersifat oportunis patogen dan dapat menyebabkan infeksi
pada individu dengan ketahanan yang menurun.

b. Morfologi
Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 µm. Bakteri
ini terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan terkadang membentuk rantai yang
pendek. P. aeruginosa termasuk bakteri gram negatif. Bakteri ini bersifat aerob, katalase
positif, oksidase positif, tidak mampu memfermentasi tetapi dapat mengoksidasi
glukosa/karbohidrat lain, tidak berspora, tidak mempunyai selubung (sheat) dan mempunyai
flagel monotrika (flagel tunggal pada kutub) sehingga selalu bergerak.

c. Sifat pertumbuhan
Bakteri ini dapat tumbuh di air suling dan akan tumbuh dengan baik dengan adanya
unsur N dan C. Suhu optimum untuk pertumbuhan P. aeruginosa adalah 42o C. P. aeruginosa
mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya sangat
sederhana. Di laboratorium, medium paling sederhana untuk pertumbuhannya digunakan
asetat (untuk karbon) dan ammonium sulfat (untuk nitrogen). Pembiakan dari spesimen klinik
biasanya menghasilkan satu atau dua tipe koloni yang halus:

1. Koloni besar dan halus dengan permukaan rata dan meninggi.

2. Koloni halus dan mukoid sebagai hasil produksi berbahan dari alignat.
Tipe ini sering didapat dari sekresi saluran pernafasan dan saluran kemih. Alignat
merupakan suatu eksopolisakarida yang merupakan polimer dari glucoronic acid dan
mannuronic acid, berbentuk gel kental disekeliling bakteri. Alignat ini memungkinkan bakteri
untuk membentuk biofilm, yaitu kumpulan koloni sel-sel mikroba yang menempel pada suatu
permukaan misalnya kateter intravena atau jaringan paru. Alignat dapat melindungi bakteri
dari pertahanan tubuh inang, seperti limfosit, fagosit, silia, di saluran pernafasan, antibodi,
dan komplemen. P. aeruginosa membentuk biofilm untuk membantu kelangsungan hidupnya
saat membentuk koloni pada paru-paru manusia. Terkadang menghasilkan bau yang manis
dan menyerupai anggur. Koloni yang dibentuk halus bulat dengan warna fluoresensi yang
kehijau-hijauan. Bakteri ini menghasilkan pigmen yang tak berfluoresensi kehijauan
(plosianin). Strain P. aeruginosa menghasilkan pigmen yang berfluoresensi antara lain :
piooverdin (warna hijau), piorubin (warna merah gelap), piomelanin (hitam). P. aeruginosa
yang berasal dari koloni yang berbeda mempunyai aktivitas biokimia, enzimatik dan
kepekaan antimikroba yang berbeda pula.

d. Patogenitas
Faktor sifat yang memungkinkan organisme mengatasi pertahanan tubuh normal dan
menimbulkan penyakit ialah : pili, yang melekat dan merusak membran basalis sel;
polisakarida simpai, yang meningkatkan perlekatan pada jaringan tetapi tidak menekan
fagositosis; suatu hemolisin yang memiliki aktivitas fosfolipasa; kolagenasa dan elastasa dan
flagel untuk membantu pergerakan. Sedangkan faktor yang menentukan daya patogen adalah
LPS mirip dengan yang ada pada Enterobacteriaceae; eksotoksin A, suatu transferasa ADP-
ribosa mirip dengan toksin difteri yang menghentikan sintesis protein dan menyebabkan
nekrosis di dalam hati; eksotoksin S yang juga merupakan transferasa ADP-ribosa yang
mampu menghambat sintesis protein eukariota.
Produksi enzim-enzim dan toksin-toksin yang merusak barrier tubuh dan sel-sel inang
menentukan kemampuan Pseudomonas aeruginosa menyerang jaringan. Endotoksin P.
aeruginosa seperti yang dihasilkan bakteri gram negatif lain menyebabkan gejala sepsis dan
syok septik. Eksotoksin A menghambat sintesis protein eukariotik dengan cara kerja
yang samadengan cara kerja toksin difteria (walaupun struktur kedua toksin ini tidak sama)
yaitu katalisispemindahan sebagian ADP-ribosil dari NAD kepada EF-2.Hasil dari kompleks
ADP-ribosil-EF-2 adalah inaktivasi sintesis protein sehingga mengacaukan fungsi fisiologik
sel normal. Enzim-enzim ekstraseluler, seperti elastase dan protease mempunyai efek
hidrotoksik dan mempermudah invasi organisme ini ke dalam pembuluh darah. Antitoksin
terhadap eksotoksin A ditemukan dalam beberapa serum manusia, termasuk serum penderita
yang telah sembuh dari infeksi yang berat. Psiosianin merusak silia dan sel mukosa pada
saluran pernafasan. Lipopolisakarida mempunyai peranan penting sebagai penyebab
timbulnya demam, syok, oliguria, leukositosis, dan leukopenia, koagulasi intravaskular
diseminata, dan sindroma gagal pernafasan pada orang dewasa.
Strain Pseudomonas aeruginosa yang punya sistem sekresi tipe III. Secara signifikan
lebih virulen dibandingkan dengan yang tidak punya sistem sekresi tersebut. Sistem sekresi
tipe III adalah sistem yang dijumpai pada bakteri gram negatif, terdiri dari sekitar 30 protein
yang terbentang dari bagian dalam hingga luar membran sel bakteri, berfungsi seperti jarum
suntik yang menginjeksi toksin-toksin secara langsung ke dalam sel inang sehingga
memungkinkan toksin mencegah netralisasi antibodi.
e. Manifestasi klinik
Pseudomonas aeruginosa menimbulkan berbagai penyakit diantaranya yaitu: Infeksi
pada luka dan luka bakar menimbulkan nanah hijau kebiruan infeksi saluran kemih. Infeksi
pada saluran napas mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis. Otitis eksterna ringan
pada perenang.
f. Penyebaran
Pseudomonas aeruginosa dapat dijumpai di banyak tempat di rumah sakit;
desinfektan, alat bantu pernafasan, makanan, saluran pembuangan air dan kain pel.
Penyebaran Pseudomonas aeruginosa melalui aliran udara, air, tangan tercemar, penanganan
dan alat-alat yang tidak steril di rumah sakit. Selain itu, dapat juga lewat hewan (lalat,
nyamuk, dsb) yang telah tercemar. Pseudomonas aeruginosa menyebabkan kontaminasi pada
perlengkapan anestesi dan terapi pernafasan, cairan intravena, bahkan air hasil proses
penyulingan.
g. Penularan
Pseudomonas aeruginosa akan keluar dari sumbernya, mengalami penyebaran dan
mempunyai gerbang masuk bagi inang yang rentan. Pseudomonas aeruginosa akan keluar
dari saluran yang telah diinfeksinya. Apabila menginfeksi pada saluran pernapasan maka
akan meninggalkan saluran tersebut dan berpindah pada inang rentan yang lain. Mengingat
Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen nosokomial, cara pemindahsebarannya dapat
melalui penanganan dan penggunaan alat yang tidak steril. Kemudian akan menginfeksi
inang lain yang rentan pada bagian tertentu misalnya saluran kencing. Inang rentan ini
biasanya pasien bedah, pasien yang terluka atau luka bakar, pasien yang menjalani
pengobatan radiasi, juga pasien dengan peralatan yang menembus tubuh.
h. Gejala
Gejalanya tergantung bagian tubuh yang terkena, tetapi infeksi ini cenderung berat:
Infeksi pada luka atau luka bakar, ditandai dengan nanah biru-hijau dan bau manis seperti
anggur. Infeksi ini sering menyebabkan daerah ruam berwarna hitam keunguan dengan
diameter sekitar 1 cm, dengan koreng di tengahnya yang dikelilingi daerah kemerahan dan
pembengkakan. Ruam ini sering timbul di ketiak dan lipat paha. Hal ini dapat juga dialami
oleh penderita kanker. Infeksi saluran kemih, biasanya kronis dan terjadi pada orang tua.
Pneumonia, pada fibrosis kistik mungkin terjadi kolonisasi kuman strain yang
berlendir pada paru-paru. Infeksi paru-paru pada penderita bila menghirup Pseudomonas
aeruginosa dalam jumlah besar pada alat bantu pernafasan yang tercemar. Sering
menyebabkan gangguan mental, renjatan septik gram negative dan sianosis yang semakin
berat. Otitis eksterna maligna, suatu infeksi telinga, bisa menyebabkan nyeri telinga hebat
dan kerusakan saraf dan sering terjadi pada penderita kencing manis. Infeksi mata,
Pseudomonas aeruginosa bisa menyebabkan koreng pada mata, mencemari lensa mata dan
cairan lensa.
i. Pencegahan
Pseudomonas aeruginosa sering kali merupakan flora normal yang melekat pada
tubuh kita dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Karena
itu, upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap
tinggi. Upaya pencegahan penularan penyakit pada pasien yang dirawat di rumah sakit
dilakukan dengan cara kerja steril/ aseptis yang dilakukan oleh setiap personil rumahsakit
(medis dan paramedis) dengan penuh rasa tanggung jawab.
j. Pengobatan
Pseudomonas aeruginosa meningkat secara klinik karena resisten terhadap berbagai
antimikroba dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan tingkat Multi Drug Resistance
(MDR) yang tinggi. Definisi dari MDR-PA (Multi Drug Resistance-Pseudomonas
aeruginosa) adalah resisten paling tidak terhadap 3-antimikroba yaitu kelas ß-laktam,
carbapenem, aminoglikosida, dan fluoroquinon. Pseudomonas aeruginosa tidak boleh diobati
dengan terapi obat tunggal karena tingkat keberhasilan rendah dan bakteri dengan cepat jadi
resisten. Pola kepekaan bakteri ini bervariasi secara geografik. Maka, diperlukan tes
kepekaan sebagai pedoman untuk pemilihan terapi antimikroba. Penisillin bekerja aktif
terhadap Pseudomonas aeruginosa antara lain : tikarsilin, mezlosilin, dan pipeasilin
digunakan dengan dikombinasikan bersamaaminoglikosida biasanya gentamisin, tobramisin/
amikasin. Obat lain yang aktif terhadap.
Pseudomonas aeruginosa antara lain aztreonam; imipinem; kuinolon baru, termasuk
siprofloksasin. Sefalosporin generasi baru, seftazidim dan sefoperakson aktif melawan
Pseudomonas aeruginosa. Seftazidin digunakan pada infeksi primer.

2.5.3 Genus Brucella


a. Klasifikasi genus ini adalah :
Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Alpha Proteobacteria

Order : Rhizobiales

Family : Brucellaceae

Genus : Brucella

b. Morfologi :
Merupakan parasit obligat pada binatang dan manusia. Berbentuk bakteri gram
negative coccobacillus berukuran 0,5-0,7x0,6-1,5 um, tidak dapat bergerak, tidak
berspora, dan bersifat aerobic.

c. Sifat pertumbuhan :
Genus ini tumbuhnya lambat dan memerlukan perbenihan yang kompleks
terutama pada isolasi primer. Pada perbenihan agar serum dekstrosa atau agar trip-
tikase, kuman ini membentuk koloni smooth, basah, jernih atau sedikit keruh.
Brucella sensitive terhadap panas dan keasaman. Bakteri ini mati pada susu yang
dipasteurisasi.

2.5.3.1 Brucella Canis


B.canis berbentuk batang atau cocci, oksidase, katalase dan urease positif. Kuman ini
menginfeksi anjing. Penyakit ini ditandai oleh epididimis dan orkitis di anjing laki-laki ,
endometris, plancetitis dan ab pada wanita, dan sering muncul sebagai infertilitas pada kedua
jenis kelamin Gejala lain seperti peradangan di dalam mata dan aksial dan apendikularis
kerangka. Manusia dapat juga terinfeksi, namun infeksi yang jarang terjadi. Pengobatan
untuk B. canis sangat sulit dilakukan dan sering sangat mahal. Kombinasi minocycline dan
streptomisin dianggap berguna, tetapi sering terjangkau. Tetracyline dapat menjadi pengganti
yang lebih murah untuk minocycline, tetapi juga menurunkan efek pengobatan.

2.5.3.1 Brucella melitensis

a. Morfologis

 Termasuk bakteri gram negatif


 Berbentuk coccobabacili
 Ukuran panjang 0,6-1,2μm lebar 0,5-0,7μm
 Bakteri aerob
 Tidak memiliki alat gerak ( non motile )
 Tidak berspora
 Di selubungi oleh kapsula.

b. patogenitas
Brucella melitensis menyerang hewan ternak dan liar terutama kambing,
domba dan sapi. Pada hewan infeksi Brucella melitensis ini dapat menyebabkan keguguran
atau aborsi pada bakal calon anak. Brucella Melitensis juga dapat menginfeksi manusia
apabila terjadi kontak secara langsung dengan hewan yang terinfeksi oleh bakteri itu.
Penyakit yang disebabkan adalah Brucellosis

d. identifikasi
Penyakit bakteri sistemik dengan gejala akut atau insidius, ditandai dengan
demam terus menerus, intermiten atau tidak tentu dengan jangka waktu yang bervariasi.
Gejala yang timbul berupa sakit kepala, lemah, berkeringat, menggigil, arthralgia, depresi,
kehilangan berat badan dan sakit seluruh tubuh. Infeksi supuratif terlokalisir dari organ-organ
termasuk hati dan ginjal bisa terjadi; gejala sub klinis dan infeksi kronis yang terlokalisir juga
bisa terjadi. Penyakit ini bisa berlangsung beberapa hari, beberapa bulan atau kadang-kadang
bertahun-tahun jika tidak diobati dengan tepat. Komplikasi osteoartikuler bisa di temukan
pada 20 – 60 % kasus. Manifestasi pada sendi yang paling sering adalah sakroiliitis. Infeksi
saluran kemih dilaporkan terjadi pada 2 – 20 % kasus dan yang paling umum adalah orkitis
dan epididimitis. Biasanya terjadi penyembuhan tetapi bisa juga terjadi kecacatan. “Case
Fatality Rate” dari bruselosis sekitar 2 % atau kurang dan biasanya sebagai akibat dari
endokarditis oleh infeksi Brucella melitensis. Kompleks gejala neurosis kadang-kadang
dikelirukan dengan bruselosis kronis.

e. Penularan
Penularan terjadi karena kontak dengan jaringan, darah, urin, sekrit vagina, janin yang
digugurkan, dan terutama plasenta (melalui luka di kulit) dan karena mengkonsumsi susu
mentah dan produk susu (keju yang tidak di pasturisasi) dari binatang yang terinfeksi.
Penularan melalui udara oleh binatang terjadi di kandang, dan pada manusia terjadi di
laboratorium dan tempat pemotongan hewan. Beberapa kasus penularan terjadi karena
kecelakaan karena tertusuk jarum suntik pada saat menangani vaksin brusella strain 19, risiko
yang sama dapat terjadi pada waktu menangani vaksin Rev-1. Bakteri Brucella Melitensis ini
dapat masuk ke tubuh manusia dengan banyak jalur. Karena infeksi bakteri ini bersifat
sistemik maka dimungkinkan untuk masuk melalui banyak cara. Cara yang paling umum
adalah melalui mulut. Hal ini dapat terjadi apabila manusia memakan produk dari hewan
yang terkontaminasi (misalnya susu) atau mungkin melalui tangan yang kontak langsung
dengan hewan yang terinfeksi dan jari itu dimasukan ke mulut. Cara lain adalah melalui
saluran pernafasan atau hidung. Udara yang sudah terkontaminasi oleh bakteri dapat masuk
ke tubuh melalui hidung atau juga dapat terjadi di laboratorium. Brucella juga dapat masuk
ketubuh melalui mulut dan kulit.

Brucella melitensis berkembangbiak infraselular di dalam makrofag sistem


retrikuloendotelial, pemaparan pertama menyebabkan terjadinya fagositosis oleh PMN yang
membawa bakteri ke kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang dan hati serta
menyebabkan infeksi pada jaringan-jaringan ini.

f. Diagnosis
Diagnosa laboratorium dibuat dengan mengisolasi bakteri penyebab infeksi dari
spesimen darah, sumsum tulang atau jaringan lain, atau juga dari discharge penderita.
Pemeriksaan serologis perlu dilakukan di laboratorium yang berpengalaman, untuk
menunjukkan adanya kenaikan titer antibodi pair sera. Interpretasi hasil pemeriksaan
serologis pada pasien kambuh dan kronis sangat sulit karena titer antibodi biasanya rendah.
Pemeriksaan untuk mengukur antibodi IgG mungkin membantu untuk penegakan diagnosa
pada kasus kronis, karena pada infeksi aktif ada kenaikan titer IgG. Teknik pemeriksaan
serologis spesifik diperlukan untuk deteksi antibodi Brucellosis canis yang tidak bereaksi
silang dengan spesies lain.

2.5.3.2 Brucella Suis


Menyebabkan penyakit pada babi. Penyakit menyebar di air mani selama
perkembangbiakan dan melalui penelanan, inhalasi, atau mata kontak dengan bakteri dalam
susu, cairan reproduksi, plasenta. Penyakit ini terutama terjadi pada babi dewasa yang tidak
spesifik menunjukkan infertilitas atau tidak adanya dorongan seksual. Celeng dapat
menunjukkan tanda-tanda orkitis, kepincangan dan radang sendi.
a. Struktur antigen :
Untuk membedakan antara spesies brucella dapat dilakukan dengan reaksi
absorbsi aglutinin, sifat kepekaan terhadap bahan warna, dan produksi H2S.
Genus ini memiliki beberapa macam antigen yaitu :

• Antigen A (abortus)
• Antigen M (melitensis)
• Antigen O

b. Patogenitas :
Manusia dapat terinfeksi kuman ini karena kontak langsung dengan bahan-
bahan yang tercemar, misalnya pada pemotongan hewan. Kuman ini dapat masuk
melalui kulit yang rusak, terus ke saluran limfe dan nodus limfatikus. Kuman ini
juga dapat masuk ke dalam darah.

c. Uji laboratorium diagnostic :


• Specimen
Bahan pemeriksaan dapat digunakan darah, cairan
serebrospinal, sumsum tulang, jaringan seperti nodulus limfatikus, hati,
serta serum untuk reaksi serologic

• Kultur
Darah atau jaringan diinkubasi pada cairan trypticase soy dan
agarthioninetryptose. Pada interval beberapa hari, subkultur dibuat pada
media padatdari komposisi yang serupa. Semua kultur diinkubasi pada
10% CO2

• Serologi
Kadar antibody IgM meningkat selama minggu pertama fase akut
penyakit, memuncak pada tiga bulan dan bertahan selama masa penyakit
kronis. Meskipun dengan terapi antibiotic yang sesuai tingkat IgM yang
tinggi dapat bertahan selama lebih dari 2 tahun. Kadar antibody igG
meningkat selama 3 minggu setelah dimulainya penyakit akut, memuncak
pada 6-8 minggu dan tetap tinggi selama penyakit kronis. Kadar IgA
sejajar dengan IgG.

• Uji aglutinasi
Hal ini perlu dilakukan dengan antigen brucella standar halus yang
ditambahkan fenol. Titer IgG agglutinin di atas 1:80 menunjukkan infeksi
aktif.

• Uji 2-Mercaptoethanol
Penambahan 2-Mercaptoethanol menghancurkan IgM dan membiarkan
IgG untuk reaksi aglutinasi. Tes ini tidak sesensitif tes aglutinasi standar,
tetapi hasilnya lebih berkorelasi dengan penyakit aktif kronis.

• “Blocking” antibody
Antibody IgA-lah yang berpengaruh pada aglutinasi IgG serta IgM dan
menyebabkan uji serologi menjadi negative dalam pengenceran serum
yang rendah walaupun positif terhadap pengenceran yang lebih tinggi.
Antibody ini cenderung tidak tergantung pada aktifitas infeksi dan
terdeteksi dengan metode antiglobulin coombs.

d. Pengobatan :
Hingga kini tetrasiklin masih merupakan obat pilihan terhadap brucellosis.
Streptomisin dapat juga diberikan dalam kombinasi dengan tetrasiklin.

Pencegahan terhadap brucellosis terutama dilakukan pada binatang sebagai


sumber infeksi dengan pemberian vaksinasi.

2.5.4 Genus Haemophilus

Klasifikasi ilmiah genus ini adalah sebagai berikut :

Kerajaan : Bakteri

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Pasteurellales
Family : Pasteurellaceae

Genus : Haemophilus

a. Morfologi :
Genus ini merupakan parasit-parasit sejati. Kuman ini berbentuk batang kecil
gram negative, tidak dapat bergerak, dan untuk pertumbuhannya memerlukan media kaya
yang biasanya mengandung darah. Kuman ini bersifat aerob dan fakultatif anaerob. Pada
kuman ini dijumpai 2 macam koloni yaitu :

• Koloni R yang dibentuk oleh kuman-kuman tak bersimpai berasal dari saluran
pernafasan
• Koloni S yang dibentuk oleh kuman-kuman bersimpai berasal dari penyakit-penyakit
invasive lainnya

b. Sifat pertumbuhan :
Untuk membiakkan haemophillus diperlukan perbenihan yang diperkaya
seperti perbenihan agar coklat, perbenihan levinthal dan fildes. Kuman ini tumbuh optimum
pada suhu 7,4-7,8. Pengeraman dengan suasana CO2 10% dapat meningkatkan pertumbuhan.

2.5.4.1 Haemophilus influenza


Berbentuk coccobacillus kecil berukuran 0,2-0,3x0,5-0,8 um dan bersimpai yang
dapat diketahui dengan reaksi quelling memakai serum anti khas tipe. Dalam media agar BHI
(brain heart infusion) yang ditambah darah, koloni kecil, bulat, dan cembung dengan
perubahan warna yang kuat terbentuk selama 24 jam. H.influenza tipe b menyebabkan
meningitis, pneumonia dan empiema, epiglotitis, selulitis. H.influenza tak bertipe umumnya
menyebabkan bronchitis kronis, otitis media, sinusitis yang terjadi akibat menurunnya daya
tahan tubuh. H.influenza tipe b peka terhadap ampisilin, khloramfenikol, dan sefalosporin.
2.5.4.2 Haemophilus Ducreyi
Berbentuk batang halus yang susunannya berjajar. Merupakan penyebab
penyakit venerik, bersifat obligat parasit yang penyebarannya terjadi melalui kontak
langsung dan sangat peka terhadap pengeringan. Spesies ini terletak di ekstra atau
intra sel dan dapat dibiakkan pada perbenihan agar darah dengan suasana CO2nya
ditinggikan. Kuman ini umumnya peka terhadap tetrasiklin dan sulfanomida.

2.5.4.3 Haemophilus Aegyptius


Merupakan penyebab penyakit demam purpurik Brazil yaitu suatu penyakit
pada anak-anak yang ditandai dengan demam, purpura, syok, dan kematian.

a. Patogenitas :
H.influenza menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran pencernaan bagian
atas seperti faringitis, etitis media, dan sinusitis. Tapi penyakit paling penting
yang disebabkan kuman ini adalah meningitis bacterial akut. Penyakit ini jarang
terjadi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan tidak umum dijumpai pada
anak-anak diatas umur 6 tahun.

b. Uji laboratorium diagnostic :


Sebagai bahan pemeriksaan dapat digunakan cairan serebrospinal, sputum, dan
cairan telinga. Dari bahan ini dibuat preparat gram dan ditanam pada perbenihan
agar coklat yang dieramkan pada suasana CO2 10%.

c. Pengobatan :
Dalam menggunakan antibiotika perlu dilakukan tes secara in vitro. Kuman ini
peka terhadap ampisilin, tetrasiklin, sulfanomida, dan kotrimoksasol.

2.5.4 Genus Pasteurella


Klasifikasi ilmiah genus ini adalah sebagai berikut :

Kingdom :Bakcteria
Phylum :Proteobacteria
Class :GammaProteobacteria
Order :Pasteurellales
Family : Pasteurellaceae

Genus : Pasteurella

Salah satu kelompok bakteri gram negative. Secara umum bakteri ini
mempunyai morfologi kecil, batang pendek atau coccobacillus. Merupakan bakteri
non motile, fakultatif anaerob, dan juga dapat memfermentasi karbohidrat dalam
jumlah besar dalam kondisi anaerobik. Pasteurella adalah kuman pathogen yang
dapat menyerang manusia karena gigitan hewan. Spesies dari genus ini yang terkenal
adalah pasteurella multocida.
Pasteurella multocida pertama kali ditemukan pada tahun 1878 pada unggas
yang terinfeksi kolera burung. Kuman ini menyerang pada sapi,kerbau, dan babi.
Pasteurella multocida akan tumbuh baik pada suhu 37 derajat Celsius pada media
blood agar dan agar-agar cokelat, tetapi tidak akan tumbuh pada media agar
MacConkey. Pasteurella umumnya rentan terhadap kloramfapenikol, yang penisilin
dan tetracycline.

Pasteurellosis adalah suatu infeksi yang disebabkan dari bakteri genus


pasteurella yang ditemukan pada manusia dan hewan. Pasteurella multocida dapat
menyebabkan zoonosis pada manusia karena gigitan atau goresan hewan peliharaan.
Gejala pada manusia meliputi pembengkakan, selulitis dan berdarah pada lokasi luka.
Infeksi dapat berlanjut ke dekat sendi di tempat yang dapat menyebabkan
pembengkakan dan arthritis. P. multocida juga dikenal penyebab morbiditas dan
mortalitas pada kelinci, dan sindrom dominan. P. multocida dapat endemik di antara
koloni kelinci dan sering ditularkan melalui sekresi hidung.

Ada beberapa bentuk infeksi dari pasteurella sp :

• Kulit : ini adalah septik phlegmon klasik yang berkembang di tangan dan lengan
bawah setelah gigitan kucing. Tanda-tanda inflamasi sangat cepat berkembang dalam
1 atau 2 jam, edema, Demam tinggi dapat dilihat bersama dengan muntah-muntah,
sakit kepala dan diare. Limfangitis adalah biasa.

• Sepsis : sangat jarang, tetapi dapat menjadi fulminan sebagai septicaemic wabah,
dengan demam tinggi, Rigor (obat) dan muntah-muntah diikuti oleh syok dan
koagulopati.

• Penyakit pneumonia : ini juga jarang muncul pada pasien kronis patologi paru.
Biasanya muncul sebagai konsolidasi billateral pneumonia, kadang-kadang sangat
berat.

Lokasi lain yang memungkinkan, seperti septik artritis, meningitis dan akut
endokarditis tetapi sangat jarang. Bakteri ini dapat secara efektif diobati dengan
antibiotik beta-lactam, yang menghambat sintesis dinding sel. Juga dapat diobati
dengan fluoroquinolones atau tetrasiklin. Fluoroquinolones bakteri menghambat
sintesis DNA dan tetrasiklin mengganggu sintesis protein dengan cara mengikat
bakteri 30S ribosomalsubunit. Karena pasteurella multocida yang paling sering
diperoleh sebagai hasil dari gigitan (terutama anjing). Sebagai hasilnya, amoxicillin-
clavulanate (beta-laktamase inhibitor / penisilin kombinasi) dipandang sebagai
pengobatan pilihan.

2.6 Bakteri Berbentuk Spiral

Spirochetes secara umum merujuk pada bakteri yang memiliki morfologi spiral mulai
dari yang berbentuk panjang langsing (hellically coiled), berbentuk spiral atau seperti
pembuka botol dan mempunyai sifat gram negatif.

MORFOLOGY DAN STRUKTUR SPIROCHAETA

Morfologi spiral dari Spirochaeta membuat bakteri ini menjadi fleksibel, dinding sel
yang mengandung peptidoglikan sepanjang dari beberapa axial fibril yang dapat berputar.
Fibril-fibril ini memiliki struktur dari flagella dan disebut endoflagella. Dinding sel dan
endoflagella sepenuhnya dilindungi oleh membran outer bilayer yang serupa dengan
membran pada bakteri gram negatif lainya. Pada beberapa spesies, asam hyaluronic slime
layer terbentuk sepanjang eksterior dari organisme dan mungkin memiliki kontribusi terhadap
virulensi mikroorganisme itu sendiri. Spirocheta dapat bergerak, pergerakan ini disebabkan
dari hasil pergerakan filamen endoflagellar.

Banyak bakteri dari genus spirochetes yang susah untuk dilihat dan diamati dengan
menggunakan mikroskop biasa. Walupun bakteri ini adalah gram negatif, banyak diantara
bakteri menghasilkan pewarnaan yang buruk, dikarenakan bakteri ini terlalu tipis (0.15 µm
kurang) untuk dilihat dengan kekuatan resolusi dari mikroskop cahaya. Hanya mikroskop
daerah gelap (darkfield), immunofluorescence atau dengan menggunakan tehknik pewarnaan
khusus tertentu.
PERTUMBUHAN DAN KLASIFIKASI

Spirochetes tumbuh sangat lambat secara invitro daripada bakteri patogen lainya.
Beberapa spesies termasuk agen penyebab sifilis, tidak dapat tumbuh melebihi beberapa
generasi, pada kultur sel. Beberapa spesies dari spirochaeta adalah anaerob, namun beberapa
spesies membutuhkan konsentrasi oksigen yang rendah, namun ada beberapa juga yang
aerob. Dibandingkan dengan grup taxonomy dari bakteri lain, grup dari spirochaeta kurang
maju. Hal ini disebabkan oleh spirocheta sulit untuk ditumbuhkan, sehingga susah untuk
dipelajari lebih lanjut. Spirochaeta secara umum dibagi menjadi delapan genus berdasarkan
habitat, pathogenitas, urutan ribosomal RNA karakteristik morfologi dan fisiologi. Genus
yang penting dalam kedokteran yang terpenting antara lain adalah Treponema, Borelia,
leptospira.

PENYAKIT YANG DITIMBULKAN GENUS SPIROCHAETA

Beberapa spirocheta hidup bebas, namun ada beberapa anggota yang flora normal
terhadap manusia dan hewan. Pada kondisi yang tidak biasa spirocheta ini bersama-sama
dengan normal flora anaerob dapat menyebabkan nekrosis

2.6.1 Genus Treponema

2.6.1.1 Treponema pallidum

Treponema pallidum adalah agen yang menyebabkan penyakit sifilis, sebuah


penyakit kelamin yang pertama kali dikenal pada abad 16 sebagai “great pox” yang
secara cepat menyebar di benua eropa. Penyebab dari penyakit sifilis sebenarnya adalah
subspesies dari Treponema pallidum subs. pallidum yang memiliki hubungan dekat
dengan yang lainya.

a. Klasifikasi

Adapun klasifikasi bakteri tersebut adalah:

Kingdom : Eubacteria

Filum : Spirochaetes

Class : Spirochaetes

Ordo : Spirochaetales

Family : Spirochaetaceae

Genus : Treponema pallidum

b. Morfologi

Spiral langsing berukuran kira – kira 0,2 µm lebar dan 5 – 15 µm panjang. Spiral melilit
teratur berjarak 1 µm satu sama lain. Organisme bergerak secara aktif, terus menerus
berputar mengelilingi sumbu panjangnya. Sumbu panjang spiral biasanya lurus tetapi
kadang – kadang dapat membengkok, sehingga pada suatu saat organisme membentuk
lingkaran yang lengkap, kemudian kembali ke posisi lurus yang normal.

Spiral demikian tipis sehingga tidak jelas terlihat kecuali dipakai penerangan cara
lapangan gelap atau pewarnaan imunofluoresen. Kuman ini tidak terwarnai dengan baik
bila menggunakan zat warna anilin, tetapi dapat mereduksi perak nitrat menjadi logam
perak yang diendapkan pada permukaan, sehingga treponema dapat terlihat dalam jaringan
( impregnasi perak Levaditi ).

Treponema biasanya berkembangbiak dengan pembelahan transversal, dan organisme


yang membelah dapat melekat satu sama lain untuk beberapa saat.

a. Biakan

Treponema pallidum yang patogen untuk manusia dengan pasti belum pernah
dibiakan pada perbenihan buatan, pada telur berembrio, atau dalam biakan jaringan. Strain
– strain yang dianggap Treponema pallidum ( misalnya, Reiter ) dibiak secara aerobik in
vitro mungkin semata – mata saprofit tetapi rupanya masih serumpun dengan Treponema
pallidum.

b. Sifat Pertumbuhan

Karena Treponema pallidum tidak dapat dibiakan, tidak ada penyelidikan sifat – sifat
fisiologi yang telah dibuat. Akan tetapi telah ditetapkan kebutuhan pertumbuhan untuk
satu biakan yang mungkin merupakan strain saprofitik ( Reiter ). Suatu perbenihan tetap
dari 11 asam amino, vitamin, garam, mineral, dan albumin serum menunjang
pertumbuhannya.

Pada cairan suspensi yang cocok dan dengan adanya zat pereduksi Treponema
pallidum dapat tetap bergerak selama 3 – 6 hari pada 25° C. Dalam darah atau plasma
yang disimpan pada 4° C, paling seidkit 24 jam, sesuatu yang hakekatnya pentin pada
transfusi darah.

c. Reaksi terhadap pengaruh Fisika dan Kimia

Pengeringan membunuh spriroketa dengan cepat, demikian pula peningkatan suhu


sampai 42° C. Treponema pallidum dengan cepat kehilangan gerak dan terbunuh oleh
arsen trivalen, air raksa, dan bismut. Efek membunuh ini dipercepat dengan suhu tinggi
dan sebagian dapat dipulihkan dan organisme diaktifkan kembali oleh senyawa yang
mengandung SH ( misalnya, sistein, BAL ). Penisilin bersifat treponemisidal dalam
konsentrasi kecil, tetapi kecepatan membunuhnya lambat, diduga karena mengalami
inaktivasi metabolik dan kecepatan pembiakan organisme yang lambat ( periraan waktu
pembelahannya adalah 39 jam ). Resistensi terhadap penisilin belum pernah ditemukan
pada sifilis.

d. Variasi

Siklus hidup telah dikemukakan untuk Treponema pallidum, termasuk stadium granuler
dan badan sferis menyerupai kista, selain bentuk spirokheta. Kadang – kadang
kemampuan Treponema pallidum untuk lewat jaringan bakteriologik dikaitkan dengan
kemampuan stadium granuler untuk melewati jaringan.

Struktur Antigenik

Antigenik Treponema pallidum tidak diketahui. Pada manusia spirokheta merangsang


timbulnya antibodi yang mampu mewarnai Treponema pallidum dengan imunofluoresensi
tidak langsung, imobilisasi dan kematian Treponema pallidum, hidup yang bergerak, dan
mengikat komplemen dengan adanya suspensi Treponema pallidum atau spirokheta yang
sejenis. Spirokheta menyebabkan juga pembentukan zat yang jelas menyerupai antibodi,
reagin, yang memberikan tes ikatan komplemen dan flokulasi positif dengan suspensi airlipid
yang diekstrak dari jaringan mamalia normal. Reagin dan antibodi antitreponema keduanya
dapat berguna untuk diagnosa serologik sifilis.

Patogenesis, Patologi, dan Gambaran Klinik

a. Sifilis didapat : Infeksi alam dengan Treponema pallidum terbatas pada manusia.
Infeksi manusia biasanya disebarkan melalui kontak seksual, dan lesi penyebab infeksi
terdapat pada kulit atau selaput lendir alat kelamin. Pada kira – kira 10 % kasus, lesi
primer terdapat ekstragenital ( biasanya oral ). Treponema pallidum mungkin dapat
menembus selaput lendir utuh, atau dapat masuk melalui epidermis yang rusak.

Sprikheta berkembangbiak pada tempat masuk, dan sebagian menyebar ke dalam


kelenjar getah bening yang terdekat kemudian mencapai pembuluh darah. Dalam 2 - 10
minggu setelah infeksi timbul papula pada tempat infeksi dan pecah membentuk ulkus
dengan dasar yang bersih, keras ( “hard chancre = ulkus durum” ). Peradangan ditandai
terutama oleh limfosit dan sel – sel plasma. “Lesi primer” ini selalu sembuh spontan,
tetapi 2 – 10 minggu kemudian timbul lesi – lesi “sekunder”. Ini terdiri atas ruang
makulipapuler merah di seluruh tubuh, dan papula pucat basah ( kondiloma ) pada daerah
anogenital, ketiak, dan mulut. Juga dapat terjadi meningitis, khorioretinitis, hepatitis,
nefritis ( tipe kompleks imun ), atau periostitis sifilitik. Lesi sekunder juga mereda secara
spontan. Lesi primer dan sekunder keduanya mengandung banyak spirokheta dan sangat
menular. Lesi – lesi yang menular dapat timbul ladi dalam 3 – 5 tahun setelah infeksi,
tetapi sesudah itu orang tersebut tidak dapat menularkan penyakit lagi. Infeksi sifilis
dapat tetap subklinik, dan penderita dapat melewati stadium primer atau sekunder ( atau
keduanya ) tanpa gejala – gejala atau tanda – tanda namun timbul lesi – lesi tersier.

Pada kira – kira 30 % kasus, infeksi dini sifilis berkembang secara spontan sampai
sembuh sempurna tanpa pengobatan. Pada 30 % lainnya infeksi yang tidak diobati tetap
laten( terutama dibuktikan dengan tes serologik yang positif ). Sisanya penyakit
berkembang menjadi “stadium tersier”, ditandai dengan timbulnya lesi – lesi
granulomatosa ( gumma ) pada kulit, tulang, dan hati, perubahan degenrasi susunan saraf
pusat ( parasis, tabes ), atau lesi sifilis kardiovaskuler, terutama aortis ( kadang – kadang
dengan pembentukan aneurisma ) dan insufisiensi katup aorta. Pada semua lesi tersier
treponema sangat jarang, dan respon jaringan yang berlebihan harus dihubungkan
dengan beberapa bentuk hipersensitivitas terhadap organisme. Namun, treponema
kadang – kadang dapat ditemukan dalam mata atau susunan saraf pusat pada sifilis yang
lanjut.

b. Sifilis Konigenital : Wanita hamil penderita sifilis dapat menularkan Treponema


pallidum pada janin melalui plasenta mulai kira – kira pekan kesepuluh kehamilan.
Beberapa janin yang terinfeksi mati dan mengakibatkan keguguran; lainnya lahir mati
aterm. Lainnya lahir hidup tetapi menunjukan tanda – tanda sifilis konigenital pada anak
– anak : keratitis interstisial, gigi hutchinson, “saddle nose”, susunan saraf pusat.
Pengobatan adekwat pada ibu selama masa kehamilan mencegah sifilis kogenital. Titer
reagen dalam darah anak meningkat dengan infeksi aktif tetapi makin menurun bila
antibodi secara pasif dipindahkan dari ibu. Pada infeksi kogenital anak membuat antibodi
antitreponema IgM.

c. Penyakit percobaan. Kelinci secara percobaan dapat diinfeksikan pada kulit, testis, dan
mata dengan Treponema pallidum. Bintang membentuk kanker yang banyak
mengandung spirokheta, dan organisme menetap dalam kelenjar getah bening, limpa,
dan sumsum tulang selama binatang hidup, walaupun tidak ada penyakit yang progresif.

Tes Laboratorium Diagnostik


1. Bahan : Cairan jaringan yang dikeluarkan dari permukaan lesi dini, untuk
memperlihatkan spirokheta; serum darah, untuk tes serologik.

2. Pemeriksaan Lapangan Gelap : Setetes cairan jaringan atau eksudat diletakkan


pada gelas alas dan penutup ditekankan di atasnya untuk membuat lapisan yang tipis.
Preparat kemudian diperiksa di bawah pembesaran 100 x dengan penerangan
lapangan gelap, untuk melihat ciri khas pergerakan spirokheta.

Treponema menghilang dari lesi dalam beberapa jam setelah permulaan pengobatan
antibiotika

3. Imunofluoresensi : Cairan jaringan atau eksudat dioleskan pada gelas alas,


dikeringkan di udara, dan kirimkan ke laboratorium. Sediaan direkatkan, diwarnai
dengan serum anti treponema bertanda fluoresein, dan diperiksa dengan mikroskop
imunofluoresensu untuk melihat spirokheta berfluoresensi yang khas.

4. Tes serologik untuk sifilis ( STS = Serologic Test for Syphilis ) : Test ini memakai
antigen treponema atau bukan treponema.

 Tes antigen bukan – Treponema – Antigen yang dipergunakan adalah lipid


yang diekstrak dari jaringan mamalia normal. Kardiolipin murni dari jantung sapi
adalah suatu difosfatidigliserol. Zat ini memerlukan tambahan lesitin dan
kolesterol atau “sensitizer” lainnya untuk bereaksi dengan “reagin” sifilis.
“Reagin” adalah canpuran antibodi IgM dan IgA terhadap beberapa antigen yang
banyak terdapat pada jaringan normal. Reagin ditemukan dalam serum penderita
setelah 2 – 3 minggu infeksi sifilis yang tidak diobati dan dalam cairan spinal
setelah 4 – 8 minggu infeksi. Dua jenis tes menentukan adanya reagin.

Tes flokulasi ( VDRL – Venereal Disease Research Laboratories )


berdasarkan pada kenyataan bahwa partikel – partikel antigen lipid ( kardiolipin
jantung sapi ) tetap tersebar dalam serum normal tetapi bergabung dengan reagin
untuk membentuk gumpalan yang terlihat dalam beberapa menit, terutama bila
larutan digerakkan. Tes “rapid plasma reagin” ( RPR ) adalh suatu modifikasi
yang memuaskan untuk pemeriksaan yang cepat. Tes VDRL positif kembali
menjadi negatif 6 – 24 bulan setelah pengobatan sifilif dini yang efektif.
Tes Ikatan Komplemen ( CF = Complement Fixation ) ( Wassermann,
Kolmer ) berdasarkan pada kenyataan bahwa serum yang mengandung reagin
mengikat komplemen dengan adanya “antigen” kardiolipin. Penting untuk
memastikan bahwa serum bukan bersifat “antikomplemen” ( yaitu, tidak merusak
komplemen dengan tidak adannya antigen ).

Kedua tes diatas dapat memberikan hasil kwantitatif. Suatu perkiraan jumlah
reagin yang terdapat dalam serum dapat dibuat dengan melakukan kedua
percobaan diatas dengan pengenceran serum dua kali dan menggambarkan titer
sebagai pengenceran tertinggi yang memberikan hasil positif. Hasil kwantitatif
bermanfaat untuk menetukan diagnosa dan menilai efek dari pengobatan.

Tes Treponema memberikan hasil positif palsu. Ini disebabkan karena kesulitan –
kesulitan teknis atau positif palsu “biologik” yang diakibatkan oleh adanya reagin
pada berbagai kelainan manusia. Diantara yang terakhir yang menonjol adalah
infeksi – infeksi lain ( malaria, lepra, campak, mononukleosis infeksiosa, dsb ),
vaksinasi, penyakit – penyakit kolagen vaskuler ( sistemik lupus eritematosus,
poliarteritis nodosa, kelainan – kelainan rheumatik ), dan keadaan lainnya.

 Tes antibodi Treponema

“Fluorescent treponemal antibody ( FTA – ABS ) Test” suatu test yang


mempergunakan imunofluoresensi tidak langsung ( Treponema pallidum mati +
serum penderita + anti gama globulin manusia bertanda ) menunjukan
kakhususan dan kepekaan terhadap antibodi sifilis yang memuaskan bila serum
penderita, sebelum test FTA, telah diabsorpsi dengan spirokheta Reiter yang telah
di”sonicated”. Test FTA – ABS adalah test yang pertama kali menjadi positif
bertahun – tahun setelah pengobatan efektif sifilis dini. Test ini tidak dapat
dipakai untuk menilai kemanjuran pengobatan. Adanya IgM FTA dalam darah
bayi yang baru lahir adalah bukti yang baik akan adanya infeksi in uteri ( sifilis
kongenital )

Test TPI – Demonstrasi imobolisasi Treponema pallidum ( TPI = Treponema


pallidum Immobilitization ) oleh antibodi spesifik dalam serum penderita setelah
minggu kedua infeksi. Serum yang diencerkan dicampur dengan komplemen dan
dengan Treponema pallidum hidup yang bergerak aktif, yang diekstrasi dari
kanker testis kelinci, dan campuran ini dilihat di bawah mikroskop. Bila terdapat
antibodi spesifik; spirokheta tidak bergerak; dalam serum normal, gerakan yang
aktif terus berlangsung. Test ini memerlukan Treponema pallidum hidup dari
binatang yang terinfeksi dan sulit dikerjakan.

Test Treponema pallidum Ikatan Komplemen – Spirokheta yang diekstrasi dari


sifiloma kelinci membentuk antigen spesifik untuk test ikatan komplemen yang
mungkin mengukur antibodi yang sama seperti Test TPI diatas. Suspensi
spirokheta seperti itu sulit disediakan. Antigen yang disediakan dari biakan
spirokheta Reiter kadang – kadanga dipakai pada Test Ikatan Komplemen Reiter.

Test Treponema pallidum Hemaglutinasi ( TPHA = Treponema pallidum


Hemaglutination ) Sel darh merah diolah untuk dapat menyerap Treponema
pada permukaan. Bila sel darah merah demikian tercampur dengan serum yang
mengandung antibodi treponema, sel darah merah akan menggumpal. Test ini
sama dalam kekhususan dan kepekaan dengan test FTA – ABS, tetapii menjadi
lebih lambat positif dalam masa sakit.

Test VDRL dan FTA – ABS dapat juga dilakukan pada cairan serebrospinal dari
aliran darah tetapi mungkin dibentuk dalam susunan saraf pusat sebagai respon
terhadap infeksi sifilis.

Kekebalan

Orang dengan sifilis atau patek aktif tampaknya resisten terhadap superinfeksi dengan
Treponema pallidum. Namun bila siflis atau patek dini diobati secara adekwat dan infeksi
terbasmi, orang itu kembali menjadi peka terhadap rangsang infeksi terbaru.

Pengobatan

Penisilin dalam konsentrasi 0,0003 satuan/ml mempunyai aktifitas Treponemisial


yang nyata, dan penisilin merupakan pengobatan pilihan. Pada sifilis dini, kadar penisilin
dipertahankan selama 2 minggu ( misalnya, penyuntikan tunggal benzatin penisilin G 2,4 juta
satuan intramuskuler ): pada sifilis laten dosis yang sama diberikan tiga kali dengan interval
satu minggu. Pada neurosifilis, pengobatan yang sama dapat dipakai tetapi kadang – kadang
dianjurkan jumlah penisilin lebih banyak ( misal, penisilin G air, 20 juta satuan secara
intravena setiap hari, selama 2 – 3 minggu). Kadang – kadang dapat digantikan dengan
antibiotika lain. Mengamati terus dari dekat dalam waktu yang lama penting. Pada neurofilis,
kadang – kadang Treponema dapat hidup terus dengan pengobatan seoerti ini. Reaksi khas
Jarisch Herxheimer dapat terjadi dalam beberapa jam setelah pengobatan dimulai. Hal ini
mungkin disebabkan pelepasan endotoksin secara tiba – tiba dari spirokheta.

Epidemiologi, Pencegahan

Saat ini, insiden sifilis ( dan lain – lian penyakit yang disebarkan secara seksual ) meningkat
pada sebagian besar dunia. Dengan mengecualikan sifiliss kongenital dan kadang – kadang
sifilis tenaga medis karena kedudukannya, sifilis diperolah melalui hubungan seksual. Orang
yang terinfeksi dapat tetap menular selama 3 – 5 tahun sifilis “dini”. Sifilis “lanjut”, yang
lamnya lebih dari 5 tahun, biasanya tidak menular. Akibatnya tindakan pengawasan
tergantung pada (1) cepat dan cukupnya pengobatan pada semua kasus yang ditemukan (2)
pengawasan dari dekat sumber – sumber infeksi dan kontak sehingga mereka dapat diobati
(3) higiene – seks; dan (4) tindakan pencegahan pada saat kontak. Pencegahan mekanik
( kondom ) dan khemoprofilaksis ( misalnya penisilin setelah kontak ) keduanya mempunyai
keterbatasan yang besar. Pencucian alat kelamin setelah kontak dapat memberikan
perlindungan bagi laki – laki. Beberapa penyakit kelamin dapat disebarkan secara merentak.
Oleh karena itu, penting untuk menyadari kemungfkinan sifilis bila pada seseorang
ditemukan salah satu penyakit yang ditrularkan secara seksual

Penyakit – penyakit

Penyakit – penyakit ini semuanya disebabkan oleh Treponema yang tidak dapat dibedakan
dari Treponema pallidum. Semua memberikan tes serologik positif biologik untuk sifilis, dan
beberapa kekebalan silang dapat ditemukan pada binatang percobaan dan mungkin pada
manusia. Semuanya merupakan penyakit nonverenik dan sering disebarkan dengan kontak
langsung. Tidak ada organisme penyebabnya yang dapat dibiakkan pada perbenihan buatan.

a. Bejel

Bejel terutama terdapat di Afrika tetai juga di Timur tengah, di Asia tenggara, dan dimana
– mana, terutama pada anak – anak, dan menyebabkan infeksi kulit yang sangat menular;
komplikasi viseral lanjut jarang terjadi. Penisilin adalah obat pilihan.
b. Patek

Patek bersifat endemik, terutama di anak – anak, pada banyak daerah tropis yang panas
dan lembab. Patek disebabkan oleh Treponema pertenue. Lesi primer, suatu papula
berulkus, biasa terjadi pada lengan atau tungkai. Penyebaran pada anak di bawah 15 tahun
melalui kontak orang ke orang. Infeksi transplasental, kongenital, tidak terjadi.
Pembentukan parut dari lesi – lesi kulit dan destru8ksi tulang sering terjadi, tetapi
komplikasi viseral atau sistem saraf sangat jarang. Telah menjadi perdebatan apakah patek
merupakan varian sifilis yang beradaptasi pada penyebaran nonvenerik di daerah panas.
Terdapat kekebalan silang antara patek dengan sifilis. Cara – cara diagnosa dan
pengobatan sama seperti pada sifilis. Respon terhadap pengobatan penisilin sangat baik.

c. Pinta

Pinta disebabkan oleh Treponema carateum dan terdapat secara endemikpada semua
kelompok umur di Meksiko, Amerika tengah dan selatan, Philipina, dan beberapa daerah
di Pasifik. Penyakit ini sepertinya terbatas pada ras berkulit hitam. Lesi primer, papula tak
berulkus, terdapat pada daerah terbuka. Beberapa bulan kemudian, lesi – lesi gepeng dan
hiperpigmentasi dan hiperkeratosis berlangsung bertahun – tahun setelahnya. Penyakit
yang lanjut mungkin dapat mengenai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf. Penyebaran
addalah nonvernik, baik secara kontak langsung atau melalui bantuan lalat ( Hipperlates ).
Diagnosa dan pengobatan sama seperti pada sifilis.

d. Sifilis Kelinci

Sifilis Kelinci Treponema cuniculi adalah infeksi verenik alam pada kelinci yang
menghasilkan lesi – lesi kecil pada genitalia. Organisme penyebab secara morfologik tidak
dapat dibedakan dengan Treponema pallidum dan dapat cenderung membingungkan pada
percobaan laboratorium.

2.6.2 Genus Leptospira

2.6.2.1 Leptospira interrogans

a. Taksonomi
Genus leptospira dalam Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas
patogenitas yang membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans
dan spesies non patogen yaitu Leptospira biflexa. Spesies ini telah dipisah-pisahkan
menjadi sedikitnya 218 serovar dari Leptospira interrogans dan lebih dari 60 serovar
dari leptospira biflexa. Sistem klasifikasi yang kedua didasarkan pada studi hibridisasi
DNA, yang menunjukkan derajat heterogenitas yang tinggi dalam 2 spesies dari
klasifikasi DNA yang berhubungan yaitu leptospira dan 2 genus yang non patogen
dimana masing-masing mengandung satu spesies. Klasifikasi serologi tradisional
memiliki keterbatasan dalam hal tingkat molekularnya, tetapi berguna secara
epidemilogi. Bagaimanapun, identifikasi serologi tidak akan dapat digunakan untuk
menduga identifikas molekular. Sehingga untuk pembahasan kali ini spesies yang
akan dibahas adalah Leptospira interrogans yang patogen pada manusia dan hewan
bertulang belakang lainya (vertebrata). Adapun sistem klasifikasinya adalah sebagai
berikut:

Kingdom: Bacteria

Phylum: Spirochaetes

Class: Spirochaetes

Order: Spirochaetales

Family: Leptospiraceae

Genus : Leptospira

Species: Leptospira interrogans

b. Ciri-ciri organisme/ morfologi organisme

Spesies ini merupakan bakteri spirochaeta yang berbentuk ramping (kira-kira


0,15-2 µ meter) dengan panjang 5 sampai 15 µ meter. Ujungnya melengkung
membentuk kait. Bakteri ini adalah bakteri motil yang aktif, yang dapat dilihat
menggunakan mikroskop mikrograf elektron yang memperlihatkan filamen tipis
dengan membran yang lunak. Bakteri ini sulit diwarnai dengan metode pewarnaan
yang biasa dilakukan, tetapi dapat diwarnai dengan menggunakan tekhnik pewarnaan
impregnasi perak. Tetapi untuk pengamatan terhadap bakteri ini lebih baik dengan
menggunakan mikroskop medan gelap.

c. Perbenihan

Leptospira dapat ditumbuhkan pada media butan semisolid (Fletcher,


Stuart,dll) yang mengandung albumin bovi dan serum kelinci steril . Bakteri ini
tumbuh baik pada kondisi anaerob pada suhu 28-30 °C. Setelah 1-2 minggu,
leptospira menghasilkan zona pertumah difus dekat bagian atas tabung sebagai respon
terhadap kadar optimal tekanan oksigen untuk organisme. Medium biakkan dapat
dibuat selektif untuk leptospira dengan menambahkan neomisin atau 5 fluorourasil
leptospira mendapatkan energi dari oksidasi rantai panjang asam lemak dan tidak
dapat menggunakan asam amino atau karbohidrat sebagai sumber energi utama.
Garam amonium adalah sumber nitrogen utama. Leptospira dapat hidup selama
berminggu – minggu dalam air. Terutama yang mempunyai pH basa. Leptospira
bersifat aerob abligat. Kuman ini bergerak aktif yang paling baik dilihat dengan
menggunakan mikroskop lapangan gelap. Mikrograf elektron menunjukkan filamen
aksial yang tipis dan membran yang lembut spiroketa bentuknya juga halus sehingga
pada pandangan lapangan gelap tampak hanya sebagai kokus yang kecil.
d. Struktur antigen

Strain utama dari Leptospira Interrogans yang diisolasi dari manusia atau
hewan pada berbagai belahan dunia memiliki perbedaan, secara serologi semuanya
berhubungan dan menunjukkan reaksi silang pada test serologi. Ini mengindikasikan
adanya tumpang tindih pada struktur antigenya dan test kuantitatif. Studi tentang
penyerapan antibodi diperlukan untuk diagnosa serologi yang spesifik, bakteri ini
pada selubung luarnya mengandung lipopolisakarida dari struktur antigen dalam
jumlah banyak, yang bervariasi antara satu strain dengan strain yang lainya.

e. Pemeriksaan Makroskopis

Bentuk : spiral halus, ujung sel kuman bengkok membentuk seperti


pancingan

Ukuran : panjang 5 – 15 µm, lebar 0,1 – 0,2 µm

Warna : morfologi leptospira dapat dilihat setelah diberikan pewarnaan


Burri, Fontana Tribondeau, Becker Krantz atau Giemsa dan juga dapat diwarnai
dengan impregnasi perak

Konsistensi : Spiral halus

f. Pemeriksaan Mikroskopis

Pemeriksaan lapangan gelap atau sediaan apus yang diwarnai dengan teknik Giemsa
kadang – kadang menunjukkan leptospira pada darah segar dari infeksi dini. Pemeriksaan
lapangan gelap dari urin yang disentrifugasi juga dapat memberikan hasil yang positif.
Antibodi konjugasi – fluoresensi atau teknik imunohistokimia lainnya juga dapat digunakan.
g. Mengamati Sifat – Sifat Biokimia

Darah segar lengkap atau urine dapat dibiakkan pada medium semisolid Fletcher
atau mecium lainnya.Medium selektif dan non selektif harus digunakan.Karena adanya
substansi inhibitor dalam darah,sebanyak 1 atau 2 tetes saja diteteskan ke dalam setiap lima
tabung yang berisi medium 5ml.Sampai sebanyak 0,5ml cairan serebrospinal dapat
digunakan setelah diteteskan sebanyak 1 tetes pada setiap urine yang diencerkan sepuluh
kali secara serial-untuk total sebanyak empat tabung.Jaringan bediameter kira-kira 5mm
harus dihancurkan dan digunakan sebagai inokulum.Pertumbuhannya lambat,dan biakan
harus disimpan selama minimal 8 minggu.

h. Uji Biologis

Teknik yang sensitif untuk isolasi leptospira terdiri dari inokulasi intraperitoneum
hamster muda atau marmot dengan plasma segar atau urine. Dalam waktu beberapa hari
spiroketa menjadi terlihat dalam rongga peritoneum, pada binatang yang mati ( 8 – 14 hari ).
Lesi hemoragik dengan spiroketa ditemukan pada banyak organ.

i. Uji Serologis

Antibodi yang mengalami aglutinasi dengan titer yang sangat tinggi ( 1 : 10.000
atau lebih tinggi ) terbentuk perlahan – lahan pada infeksi leptospira, mencapai puncaknya
pada 5 – 8 minggu setelah infeksi. Laboratorium standar rujukan menggunakan aglutinasi
yang hidup untuk mendeteksi adanya antibodi leptospira.

j. Epidemiology

Leptospirosis merupakan penyakit yang terdapat diseluruh belahan dunia.


Penyakit ini dibawa oleh hewan liar dan hewan peliharaan terutama oleh hewan
pengerat, sapi dan anjing. Penyakit ini biasanya ditularkan kepada manusia melalui air
yang telah terkontaminasi oleh urin hewan yang terinfeksi bakteri ini. Penularan dari
manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Seseorang yang keseharianya berhubungan
dengan hewan seperti peternak, dokter hewan, dan pegawai pada rumah potong
hewan memiliki resiko yang lebih besar.

k. Patogenitas dan imunitas


Organisme ini dapat masuk pada jaringan melalui kulit yang rusak,
konjungtiva atau secara umum melalui proses pencernaan dan saluran mukosa bagian
atas. Pergerakan aktif dari bakteri ini disebabkan bagian dasar yang begkok dari
bakteri dikendalikan oleh periplasmic flagella yang menyebabkan dapat bakteri dapat
masuk ke dalam jaringan. Bakteri ini dapat menyebar kemana-kemana melalui aliran
darah keseluruh bagian tubuh termasuk CFS. Pada hewan koloni bakteri tersebut
diatas dari tubulus proximal ginjal yang mana natinya akan dikeluarkan melalui urin,
sehingga memudahkan penyebaran terhadap host baru. Ginjal merupakn organ target
pada penyakit manusia yang menyebabkan infeksi tubular dan nefritis intersititial.
Antibodi akan meningkat pada pada saat fase kedua dari penyakit

l. Aspek klinis

- Manifestasi

Kebanyakan infeksi dari bakteri ini subklinis dan dideteksi hanya melalui test
serologis. Setelah masa inkubasi selama 7 sampai 13 hari, terjadi tanda-tanda
yang memiliki karakteristik seperti penyakit influenza yaitu timbulya demam,
menggigil, sakit kepala, takut cahaya dan sakit disekujur tubuh yang mana
penderita nantinya akan menjadi sakit. Demam biasanya akan hilang setelah kira-
kira satu minggu bersamaan dengan hilangnya organisme dari darah dan mungkin
juga akan terjadi perbedaan dalam bentuk klinis tergantung dari jenis serogroup
dari bakteri tersebut. Fase kedua biasanya baru terjadi setelah 3 minggu atau lebih.
Satu serovar, ichterohemorrhagie, menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai
penyakit weil, yang dapat menyebabkan kematian sampai sebanyak 25 %.

- Pencegahan

Vaksinasi diberikan pada sapi dan hewan piaraan untuk melindungi dari penyakit
ini, dan ini akan mengurangi tertularnya bakteri ini pada manusia. Doxycyline,
diberikan seminggu sekali untuk melindungi seseorang dari penyakit leptospirosis
yang bekerja pada lingkungan yang berisiko tinggi menularkan penyakit tersebut.
Tindakan yang lain juga dilakukanya kontrol terhadap hewan carier/ pembawa
bakteri ini seperti tikus dan hewan rhodensia lainya.
m. Pengobatan

Penicillin, ampicillin dan eritromycin sangat efektif terhadap bentuk


leptospirosis. Tetracycline termasuk doxycycline juga direkomendasikan untuk
penyakit yang lebih ringan. Generasi ketiga cephalosporin dan anti mikroba lainya
aktif bekerja pada keadaan in vitro tetapi belum cukup didukung oleh pengalaman
penggunaan dalam aspek klinis.

2. 7 Bakteri Lainya

2.7.1 Genus Mycobacterium

a. Taksonomi :

Mycobacterium dalam taksonominya dikelopokkan sebagai berikut :

• Kingdom : Procaryotae

• Phylum : Bacteria

• Class : Schizomycetes

• Order : Actinomycetales

• Family : Mycobacteriaceae

• Genus : Mycobacterium

b. Klasifikasi :

Sedangkan klasifikasi mycobacterum sangat kompleks. Spesiesnya dikelompokkan ke


dalam 3 bagian, meliputi :

A. Spesies yang Patogen pada Manusia dan Hewan

1) Mycobacterium tuberculosis
2) Mycobacterium bovis

3) Mycobacterium avium

4) Mycobacterium paratuberculosis

5) Mycobacterium leprae

6) Mycobacterium lepraemurium

7) Mycobacterium muris

B. Spesies Parasit dan Patogen pada Hewan Berdarah Dingin

1) Mycobacterium piscium

2) Mycobacterium marinum

3) Mycobacterium ranae

4) Mycobacterium cheloni

5) Mycobacterium thamnopheos

C. Spesies yang Saprofit

1) Mycobacterium lacticola

2) Mycobacterium phlei

Disini kita akan membahas spesies yang patogen dan penting serta tidak asing di dunia
kedokteran hewan.

c. Morfologi :

Mycobacterium sp. merupakan aerob obligat yang berbentuk basil tuberkel dan
bergerombol. Bentuk saprofit cenderung lebih cepat dan berkembang biak baik pada
suhu (22-23)° C. selain itu bersifat kurang tahan asam.

d. Sifat-sifat biokimia :
Mycobacterium sp. resisten terhadap faktor kimia karena memiliki sifat hidrofobik pada
permukaan selnya dan pertumbuhannya yang bergerombol.

e. Uji biologis :

Uji biologis pada mycobacterium dapat dilakukan dengan melalui penelitian


menggunakan hewan coba di laboratorium. Misal uji biologis in vitro Radiofarmaka
yang menggunakan 99mTc-etambutol untuk mendeteksi infeksi TBC.

f. Uji serologis :

Terbentuknya antibody terhadap berbagai usul sel basil tuberkel. Adanya antibody dapat
diterapkan dengan berbagai tes serologik. Tak satupun dari reaksi serologic ini yang
mempunyai hubungan langsung dengan tingkat resistensi inang, tetapi tinginya titer
antibody IgG terhadap PPD, yang terdeteksi melalui tes ELISA atau reaksi presipitin
dengan polisakarida, ditemui pada banyak penderita tuberculosis paru-paru yang aktif.

2.7.1.1 Mycobacterium tuberculosis

Bakteri ini selain menyerang manusia juga menyerang 2 spesies pada hewan yaitu
mamalia dan burung.

 Morfologi : Merupakan batang langsing yang berdiameter


0.2-0.6 µ dan panjangnya 1.5-4 µ.bakteri ini
mempunyai lapisan lilin pada permukaan selnya
yang membuat kebal pada pewarnaan Gram.
Bakteri ini bersifat Tahan Asam. Sealian itu
memiliki dinding sel gram positif, tetapi dinding
sel peptidoglikan merupakan lapisan yang tebal
yang mengandung komplek glikolipid. Pada
jaringan berbentuk batang, lurus, dan tipis
dengan ukuran 0,4- 3 µm. Pada artifial media,
berbentuk coccus dan filament.
 Karateristik : Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat
mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika
terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan
baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan : Tuberculosis

 Pemeriksaan makroskopik : M.tuberculosis muncul sebagai granular, kasar

dan koloni kasar.

 Pemeriksaan mikroskopik : Bakteri ini berbentuk batang langsing, lurus,

bercabang membentuk huruf XYZ atau


berbentuk filament.

2.7.1.2 Mycobacterium bovis

Spesies ini patogen pada kelompok sapi.


 Morfologi : lebih pendek dan lebih tebal,batang panjang,
bergerombol, bersifat Gram Negative dan Tahan
Asam.

 Karateristik : Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat


mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika
terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan
baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan : Tuberculosis pada sapi

 Pemeriksaan mikroskopik :

2.7.1.3 Mycobacterium avium

Bakteri ini menyerang pada organisme seperti ayam dan hewan

 Morfologi : Batang panjang dengan susunan bergerombol.


Mempunyai spora pada terminal sel. Bersifat
Gram Negatif dan Tahan Asam.

 Karateristik : Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat


mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika
terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan
baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan : MAC (Mycobacterium Avium Complex )

 Pemeriksaan makroskopik : M.avium muncul sebagai koloni halus dan

berwarna.

 Pemeriksaan mikroskopik :
2.7.1.4 Mycobacterium paratuberculosis

Mycobacterium paratuberculosis berasal dari kota yang terdapat di pusat Eropa, yaitu
dari British Isles dan pulau Neighboring.

 Morfologi : Batang pendek, tebal dengan ukuran diameter


0.5 µ dan panjang mencapai 1-2 µ.

 Karateristik : merupakan bacillus aerobic dan tumbuh baik


pada suhu 39° C. sedangkan media yang
digunakan untuk mengisolasi harus mencapai
pH 6.6.

 Penyakit yang ditimbulkan : Diare

 Pemeriksaan mikroskopik :

2.7.1.5 Mycobacterium leprae

Mycobacterium leprae pertama kali diteliti oleh Hansen pada tahun 1874 dan didukung
oleh Neisser tahun 1879.bakteri ini menyebabkan lepra.
 Morfologi : Berbentuk batang panjang dan bergerombol.

 Penyakit yang ditimbulkan : Lepra

 Pemeriksaan mikroskopik :

2.7.2 Genus Mycoplasma

I. Taksonomi :

Bakteri mycoplasma digolongkan ke dalam taksonomi sebagai berikut :

• Kingdom : Bacteria

• Phylum : Firmicutes

• Class : Mollicutes

• Order : Mycoplasmatales

• Family : Mycoplasmataceae

• Genus : Mycoplasma

II. Klasifikasi :

Adapun klasifikasinya meliputi diantaranya :

1) Mycoplasma mycoides
2) Mycoplasma agalactiae

3) Mycoplasma iners

4) Mycoplasma gallinarum

5) Mycoplasma gallicepticum

6) Mycoplasma hyorhinis

7) Mycoplasma bovigenitalium

8) Mycoplasma spumans

9) Mycoplasma canis

10) Mycoplasma maculosum

11) Mycoplasma pulmonis

12) Mycoplasma neurolyticum

13) Mycoplasma arthritidis

14) Mycoplasma laidlawii

15) Mycoplasma hominis

16) Mycoplasma fermentans

17) Mycoplasma salivarium

III. Morfologi :

Mycoplasma sp. merupakan bakteri Gram Negatif yang bersifat fakultatif anaerob.
Berbentuk coccus dengan susunan soliter dan memiliki inti yang jelas pada bagian
central sel.

IV. Sifat-sifat biokimia :


Mycoplasma sp. sangat sensitive terhadap perubahan tekanan osmotic.

V. Uji biologis :

Uji biologis bakteri ini dilakukan isolasi banyak spesies mycoplasma yang secara
antigenic berbeda dari beberapa hewan diantaranya tikus, ayam dan kalkun. Pada
manusia paling sedikit dapat ditentukan 11 spesies.

VI. Uji serologis :

uji serologis pada mycoplasma dilakukan dengan tujuan untuk melihat titer antibody,
selain itu dapat digunakan untuk mendeteksi suatu penyakit. Uji ini dapat dilakukan
melalui HI test atau ELISA test. Selain itu, Tes pengikatan komplemen (CF) dapat
dilakukan dengan antigen gflikolipid yang di ektrak dari biakan mikoplasma dengan
kloroform methanol. Tes hemaglutinasi hambatan dapat digunakan pada sel darah merah
yang mengapsopsi antigen Mycoplasma .

Spesies yang akan dibahas diantaranya tercantum di bawah ini. Tentunya yang patogen dan
penting dalam dunia kedoktera hewan.

2.7.2.1 Mycoplasma mycoides

Organisme penyebab pleuropneumonia pada kambing.

 Morfologi : bentuk coccus dengan susunan soliter. Bersifat


Gram Positif.

 Penyakit yang ditimbulkan : pleuropneumonia atau radang paru-paru pada

Kambing

 Pemeriksaan makroskopik :
 Pemeriksaan mikroskopik :

3 Mycoplasma agalactiae

Organisme penyebab penyakit menular agalactia pada kambing dan domba.

 Morfologi : Memiliki struktur seperti cincin, globules,


bersifat Gram Negatif.

 Penyakit yang ditimbulkan : agalactia

 Pemeriksaan makroskopik :

 Pemeriksaan mikroskopik :
BAB 3
KESIMPULAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 1

1. ALVIN FEBRIANTH

Judul:

2. ELSA HAPPYANA

Judul: “Evaluation of Gram-Positive rod surveillance for


early anthrax detection”

3. AMRULLAH ALHAQ

Judul: ” Six-Color Segmentation of Multicolor Images In the


infection Studies 0f Listeria Monocytogenes”

4. RINA INDRAWATI

Judul: “Effects of water activity in Model Systems on High-


Pressure inActivation of Escherichia coli”

5. MUH. DEDDY TRIANANTA

Judul: “Haemonphillus paraphorophilus, a rare cause of


intracerebral abscess in childreen”

6. AGUNG BUDIANTO ACHMAD

Judul: “Association of Treponema sp. with canine


periodontitis”

7. CHRISNA TEDJA MUKTI


Judul: “ Biofilm formation by Mycoplasma fermetans on
intraurine devices”

LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 2


1. WAKHID NUR HIDAYAT

Judul : “Effect of linezolid and teicoplanin on skin


Staphylococci”

2. LUVIANA KRISTIANINGTYAS

Judul : “ Botulism”

3. NABILA LARYSKA

Judul : “The Effect of pH and temperature on Motility of


Listeria spesies”

4. IKE YUNIARNI

Judul: “ A fatal case of necrotizing fasciitis due to bacterial


translocation of Klebsiella oxytoca”

5. LUTHFI ANDIKA F.

Judul : “ Haemophylus influinzae colonization and risk of


factors in childreen aged < 2 years in northern India”

6. DWI AGITA SARI

Judul : “

7. NUR AINI

Judul : “ Detection of Mycoplasma pneumoniae and


Chlamydia pneumoniae in ruptured atherosclerotic plaques”
LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 3

1. SITI NUR AISYAH

Judul : “

2. ROUDLOTUL ANGGRAINI

Judul : “ Identification and characterization of Clostridium


perferingens using single target DNA microarray chip”

3. TRI YONGKI I

Judul : “

4. YUNITA F. OLA
Judul : “ Wild blak-headed gull ( Larus ridibundus) as an
enviromental reservoir of salmonella strain resistant to anti
microbial drugs”

5. IKE MARTANIA

Judul : “Effectivenes of Rose bengal test and fluoroscence


polarization assay in the diagnosis of Brucella spp.”

6. ADE IRMAYANI

Judul : “

7. FANY PRIMA HARED

Judul : “
DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, E. Melnic,J.L et all., Mikrobiologi kedokteran, 2001, Penerbit Salemba medika,


Jakarta 2001.

Jawetz, E. Melnic,J.L et all., Mikrobiologi untuk kesehatan, 1993, Edisi 16, Penerbit buku
kedokteran EGC, Jakarta.

Brooks et all., Mikrobiologi kedokteran, 2005, Penerbit Salemba medika, Jakarta.

Hardy, et all., Human Microbiology, 2002, Taylor and Francise library, USA and Canada.

Kenneth J. Ryan et all., Sherris Medical Microbiology, 2004, Medical Publishing division,
USA.

Madigan et all, Brock Biology of Microorganisme, 2000, Prentice hall-inc, USA.

www.wikipedia.com

www.wikipedia.co.id