Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH SISTEM REPRODUKSI I

KONSEP DASAR PENYAKIT AMENORE

OLEH:
KELOMPOK 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Agita Anggun
Alika Fitrianti
Angga Wahyu I.
Geovani Anggasta L.
Hanny Horizoni
Prasdiana Heny P
Vebby Rista V.
Zulfikar Albaits M.

(121.0005)
(121.0009)
(121.0011)
(121.0041)
(121.0043)
(121.0000)
(121.0)
(121.0)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat
dan hidayah Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini sesuai
dengan waktu yang telah ditetapkan.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan kepada kami dalam menempuh perkulihan khususnya dalam mata
kuliah sistem reproduksi I dengan pokok bahasan dan judul Konsep Dasar
Penyakit Amenore.
Makalah ini terdiri dari anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita,
konsep dasar menstruasi, dan konsep dasar dari penyakit amenore.
Adapun dalam penulisan makalah ini masih ada kekurangan, untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dalam pembuatan makalah
selanjutnya. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
pembutaan makalah ini.

Surabaya, 14 April 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii
BAB 1: PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................2
1.3 Tujuan....................................................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum..............................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................2
1.4 Manfaat Penulis.....................................................................................3
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1 Anatomi Dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita...............................4
2.1.1 Organ Reproduksi Eksternal........................................................4
2.1.2 Organ Reproduksi Internal...........................................................6
2.1.3 Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita..........................................10
2.2 Konsep Dasar Menstruasi....................................................................12
2.1.1 Definisi........................................................................................12
2.1.2 Siklus Menstuasi.........................................................................13
2.1.3 Perubahan Pada Siklus Menstruasi.............................................15
2.3 Konsep Dasar Amenore.......................................................................15
2.1.1 Definisi.......................................................................................15
2.1.2 Klasifikasi..................................................................................16
2.1.3 Etiologi.......................................................................................17
2.1.4 Patofisiologi...............................................................................17
2.1.5 Web Of Caution (WOC).............................................................19
2.1.6 Manifestasi Klinis......................................................................20
2.1.7 Penatalaksanaan.........................................................................20
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang.............................................................21
BAB 3: PENUTUP................................................................................................22
3.1 Kesimpulan..........................................................................................22
3.2 Saran.....................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Amenore adalah istilah medis untuk tidak adanya periode menstruasi, baik

secara permanen atau sementara. Amenorrhea dapat diklasifikasikan sebagai


primer atau sekunder. Dalam amenore primer, periode menstruasi tidak pernah
dimulai (berdasarkan umur 16), sedangkan amenore sekunder didefinisikan
sebagai tidak adanya menstruasi selama tiga siklus berturut-turut atau jangka
waktu lebih dari enam bulan pada wanita yang sebelumnya menstruasi. lagi
(Wiknjosastro, 2008)
Pada usia 16 tahun sekitar 98% anak perempuan di Amerika sudah
mengalami menstruasi, dengan lama siklus berkisar dari 25 sampai 34 hari.
Insiden amenore non fisiologi pada perempuan yang sebelumnya mengalami
menstruasi adalah 2-3% (Jones, 2001). Siklus menstruasi dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor internal seperti perubahan sementara di tingkat hormonal, stres, dan
penyakit, serta faktor eksternal atau lingkungan. Hilang satu periode menstruasi
jarang tanda masalah serius atau kondisi medis yang mendasari, tapi amenore dari
durasi yang lebih lama mungkin menandakan adanya suatu penyakit atau kondisi
kronis.
Siklus menstruasi normal terjadi karena perubahan kadar hormon dibuat
dan dikeluarkan oleh indung telur. Ovarium merespon sinyal hormon dari kelenjar
pituitari yang terletak di dasar otak, yang, pada gilirannya, dikendalikan oleh
hormon yang diproduksi di hipotalamus otak. Gangguan yang mempengaruhi
setiap komponen siklus peraturan dapat menyebabkan amenore. Namun,
penyebab umum amenore pada wanita kadang-kadang diabaikan atau disalah
pahami oleh individu dan lain-lain, adalah kehamilan yang tidak terdiagnosa.
Amenore pada kehamilan merupakan fungsi fisiologis normal. Kadang-kadang,
masalah mendasar yang sama dapat menyebabkan atau memberikan kontribusi
baik untuk amenore primer atau sekunder. Sebagai contoh, masalah hipotalamus,
anoreksia atau olahraga ekstrim dapat memainkan peran utama dalam

2
menyebabkan amenore tergantung pada usia orang dan jika ia telah mengalami
menarche.
Secara umum penatalaksanaan pada amenore berupa pemberian hormonhormon yang merangsang ovulasi, iradiasi (penyinaran) dari ovarium,
pengembalian keadaan umum, menyeimbangkan antara kerja, rekreasi, dan
istirahat, serta pembedahan untuk mengangkat tumor jika penyebabnya adalah
tumor.
Berdasarkan kejedian diatas diharapkan perawat dapat memberikan asuhan
keperawatan yang efektif dan efisien dalam melakukan tindakan keperawatan
sehingga dapat meringankan penyakit yang diderita klien.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi fisiologi sistem reproduksi pada wanita?
1.2.2 Bagaimana konsep dasar menstruasi?
1.2.3 Bagaimana konsep dasar amenorea?
1.3

Tujuan

1.3.1

Tujuan umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang anatomi dan

fisiologi sistem reproduksi pada wanita, konsep dasar menstruasi, serta konsep
dasar pada penyakit amenore.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mahasiswa dapat memahami definisi amenore.
2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dari amenore.
3. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi dari amenore.
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami web of caution (WOC)
dari amenore.
5. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis dari amenore.
6. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada
pasien dengan amenore.
7. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang
1.4

pada pasien dengan amenore.


Manfaat
Secara teoritis, mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang

anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita, konsep dasar menstruasi, dan
konsep dasar amenore.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.1.1

Anatomi dan Fisiologi Saluran Reproduksi Wanita


Organ Reproduksi Eksternal
1. Perineum
Sebagian besar struktur yang menunjang perineum berasal dari panggul
dan diafragma urogenitalis. Diafragma pelvis terdiri atas otot levator ani
ditambah otot koksigeus di sebelah posterior dan pembungkus fasia
otot-otot ini. Otot levator ani emmbentuk suatu sling (lapisan penahan)
otot yang lebar berasal dari permukaan posterior ramus superior pubis,
dari permukaan dalam spina iskia-dika, dan diantara kedua tempat ini
dari fasia otot obturatorius. Rafe median levator ani terletak diantara
anus dan vagina, diperkuat oleh sentrum tendineum perineum, yang
merupakan tempat bersatunya otot bulbokavernosus, otot perinei
transversus superfisialis, dan sfingter ani eksternus. Struktur ini yang
ikut membentuk korpus perineale dan merupakan penunjang utama
perineum.
2. Mons Pubis
Mons pubis adalah bantalan berlemak yang terletak diatas permukaan
anterior simfisis pubis. Setelah pubertas, kulit mons pubis ditutupi
rambut keriting yang membentuk escutcheon perempuan.
3. Labium Majus (Labia Mayora)
Labia mayora adalah dua lipatan jaringan lemak berbentuk oval,
ditutupi oleh kulit, serta meluas ke bawah dan belakang dari mons
pubis. Pada perempuan dewasa, penampakan struktur ini bervariasi,
bergantung pada banyaknya lemak yang ada. Secara embriologis, labia
mayora homolog dengan skrotum pada laki-laki. Ligamentum teres
uteri berakhir di batasa atas labia mayor. Setelah beberapa kali
persalinan, labia mayora menjadi kurang menonjol, kemudian setelah
menopause, struktur ini mulai mengalami atrofi.

4
4. Labium Minus (Labia Minora)
Labia minora adalah dua lipatan jaringan yang rata, kemerahan, dan
tampak jika labia mayora dipisahkan. Kedua lipatan ini bersatu pada
ujung atas vulva. Tidak terdapat folikel rambut di labia minora, tetapi
banyak dijumpai folikel sebasea dan kadang-kadang beberapa kelenjar
keringat. Bagian dalam lipatan labia minora terdiri atas jaringan ikat
yang memiliki banyak pembuluh dan beberapa serabut otot polos
seperti yang biasa dijumpai pada jaringan erektil. Struktur ini sangat
sensitif dan diinervasi oleh banyak ujung saraf.
5. Klitoris
Klitoris adalah suatu badan yang berbentuk silinder, kecil, erektil, dan
terletak di dekat ujung superior vulva. Struktur ini mengarah ke bawah
diantara kedua lipatan labia minora dan menyatu, membentuk
prepusium dan frenulum klitoridis. Klitoris terdiri atas glans, korpus
(badan), dan dua krus. Glans berdiameter 0,5 cm, ditutupi oleh epitel
skuamosa berlapis yang banyak mengandung ujung saraf sehingga
sangat peka terhadap sentuhan. Pembuluh-pembuluh klitoris erektil
berhubungan dengan bulbus vestibuli. Klitoris adalah organ erotik
utama pada perempuan.
6. Vestibulum Vagina
Vetibulum vagina adalah daerah yang berbentuk buah badam (almondshaped) yang ditutupi labia minora di sebelah lateral dan meluas dari
klitoris (atas) sampai frenulumlabiorum pudendi (bawah). Terdapat
enam saluran yang bermuara pada tempat ini, yaitu uretra, vagina,
sepasang duktus Bartholin, dan kadang-kadang sepasang duktus
parauretra yang disebut juga duktus dan kelenjar Skene. Pada
vestibulum, ditemukan kelenjar vestibularis mayor, yaitu kelenjar
Bartholin, sepasang kelenjar kecil berdiameter 0,5 - 1 cm yang masingmasing terletak di balik vestibulum pada kedua sisi introitus vagina.
Kelenjar Bartholin berada dibawah otot konstriktor vagina dan kadangkadang ditutupi sebagian oleh bulbus vestibuli. Selama perangsangan
seksual, kelenjar ini mengeluarkan cairan mukoid.
7. Uretra

5
Dua pertiga bawah uretra terletak tepat diatas dinding vagina anterior
dan berakhir di sebelah luar pada orifisium eretrae. Orifisium uretrae
terletak di garis tengah vestibulum 1 - 1,5 cm dibawah arkus pubis dan
dekat dengan introitus vagina.struktur ini biasanya tampak keriput.
8. Introitus Vagina
Introitus vagina terletak di bagian bawah vestibulum dan memiliki
ukuran serta bentuk yang sangat bervariasi. Pada gadis, struktur ini
sering tersembunyi seluruhnya oleh labia minora yang tumpang tindih
dan jika labia minora terbuka, struktur ini biasanya tampak hampir
tertutup total oleh himen (selaput dara) membranosa.
9. Himen (selaput dara)
Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang
menutupi sabagian besar dari liang senggama, di tengahnya berlubang
supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar.
2.1.2

Organ Reproduksi Internal


1. Vagina
Vagina adalah struktur muskulo membranosa tubular yang
menghubungkan vulva dengan uterus; vagina berada diantara uretra dan
kandung kemih di sebelah anterior dan rektum di posterior. Vagina
adalah organ yang memiliki banyak fungsi, yaitu sebagai organ ekskresi
uterus yang merupakan tempat keluarnya sekresi uterus dan darah haid,
sebagai organ kopulasi perempuan, dan sebagai bagian jalan lahir pada
persalinana per-vaginam. Bagian atas vagina berasal dari duktus
mlleri, bagian bawah terbentuk dari sinus urogenitalis. Di sebelah
anterior, vagina berkontak dnegan kandung kemih dan uretra,
dipisahkan oleh jaringan ikat yang sering disebut sebagai septum
vesikovaginale. Di sebelah posterior, yaitu antara bagian bawah vagina
dan rektum, terdapat jaringan serupa yang memebentuk septum
rektovaginale. Seperempat bagian atas vagina biasanya dipisahkan dari
rektum oleh ekskavasio rektouterina atau kadang-kadang disebut kavum
Douglasi.
Ujung atas vagina adalah tempat berakhirnya bagian bawah serviks
uterus yang menonjol. Bagian bawah vagina ini dibagi lagi menjadi
forniks anterior, forniks posterior, dan dua forniks lateralis. Forniks

6
lateralis memiliki kedalaman sedang. Forniks posterior biasanya dapat
dijadikan akses bedah untuk mencapai rongga peritoneum.
Mukosa vagina terdiri atas epitel skuamosa berlapis yang tidak
bertanduk. Dibawah epitel, terdapat lapisan fibromuskular tipis dan
biasanya terdapat selapis otot polos sirkular di bagian dalam serta
selapis otot polos longitudinal di sebelah luar. Terdapat selapis jaringan
ikat tipis yang melapisi mukosa dan otot serta kaya akan pembuluh
darah dan mengandung beberapa kelenjar getah bening kecil. Pada
keadaan normal, tidak terdapat kelenjar di vagina.
Vagina mendapat banyak pasokan darah, sepertiga atas diperdarahi
oleh percabangan arteri uterina ke arah serviks dan vagina, sepertiga
tengah oleh arteri vesikalis inferior, dan sepertiga bawah oleh arteri
haemorrhoidalis (rektalis) media dan arteri pudenda interna. Vagina
dikelilingi oleh pleksus vena yang luas, pembuluh-pembuluh tersebut
mengikuti perjalanan arteri. Akhirnya, vena ini akan bermuara ke vena
iliakan interna. Umumnya, limfe yang berasal dari vulva dan sepertiga
bawah vagina dialirkan ke kelenjar getah bening inguinalis, limfe dari
sepertiga tengah vagina ke kelenjar getah bening hipogastrika, dan
limfe dari sepertiga atas vagina ke kelenjar getah bening iliaka.
2. Uterus
Uterus adalah organ muskular yang sebagian ditutupi oleh peritoneum
atau serosa. Permukaan rongga uterus dilapisi oleh endometrium.
Selama kehamilan, uterus berfungsi sebagai tempat untuk penerimaan,
implantasi, retensi, dan nutrisi konseptus, yang akan dikeluarkan saat
persalinan. Uterus perempuan yang tidak hamil terletak diantara rongga
panggul antara kandung ekmih di sebelah anterior dan rektum di
sebelah posterior. Bagian inferior, yaitu serviks, menonjol ke dalam
vagina. Hampir seluruh dinding posterior uterus dilapisi oleh serosa,
atau peritoneum. Bagian bawah dinding posterior uterus memebentuk
batas anterior ekskavasio rectouterina atau kavum Douglasi. Hanya
bagian atas dinding anterior uterus yang seluruhnya dilapisi peritoneum.
Bentuk uterus mirip dengan buah pir pipih dan terdiri atas dua bagian
utama yang bentuknya tidak sama, yakni bagian segitiga di sebelah atas

7
yang disebut korpus (badan), dan bagian fusiform atau silindrik
disebelah bawah yang disebut serviks.
a. Serviks uteri
Serviks adalah bagian khusus uterus yang berada di bawah isthmus.
Serviks disusun oleh sedikit otot polos dan jaringan besar oleh
jaringan ikat kolagen ditambah jaringan elastik dan pembuluh darah.
Perubahan dari jaringan kolagenosa serviks ke jaringan otot korpus
uteri pada umumnya terjadi mendadak, namun dapat pula bertahap,
bahkan sampai sepanjang 10 mm.
b. Korpus uteri
Permukaan anterior korpus uteri hampir datar, sedangkan permukaan
posteriornya jelas terlihat konveks. Dinding korpus uteri terdiri atas
tiga lapisan, yaitu serosa, muskularis, dan mukosa.
c. Ligamentum uteri
Ligamentum latum uteri, ligamentum teres uteri, dan ligamentum
rektouterinum membentang dari kedua sisi uterus. Ligamentum
latum adalah lipatan peritoneum khusus, etrdiri atas dua struktur
seperti sayap yang membentang dari batas lateral uterus ke dinding
panggul, sehingga membagi rongga panggul menjadi kompartemen
anterior dan posterior. Ligamentum teres uteri membentang dari
kedua sisi uterus ke arah lateral; ligamentum ini muncul sedikit di
bawah dan anterior pangkal oviduk. Ligamentum rektouterinum
terdiri atas jaringan ikat dan beberapa otot polos serta ditutupi oleh
peritoneum.
3. Tuba uterina
Tuba uterina (oviduk suatu tuba falopii) membentang dari kornu
uteri ke tempat dekat ovarium dan merupakan akses perjalanan ovum
menuju rongga uterus. Tuba uterina memiliki panjang yang bervariasi,
mulai dari 8 sampai 14 cm, dan ditutupi oleh peritoneum, sedangkan
lumennya dilapisi oleh membran mukosa. Masing-masing tuba uterina
dibagi menjadi bagian interstisial, isthmus, ampula, dan infundibulum.
Ketebalan tuba uterina berbeda-beda. Bagian tersempit (isthmus)
berdiameter 2-3 mmdan bagian terlebar (ampula) berdiameter antara 58 mm. Secara umum, otot tuba uterina terdiri atas dua lapisan-lapisan
dalam yang sirkular dan lapisan luar yang longitudinal.

8
Tuba uterina dilapisi membran mukosa yang epitelnya terdiri atas
selapis sel kolumnar, sebagian bersilia dan yang lainnya bersifat
sekretorik. Arus yang ditimbulkan oleh silia tuba adalah sedemikian
rupa sehingga arah alirannya menuju ke rongga uterus. Peristalsis tuba
diperkirakan merupakan faktor penting dalam transportasi ovum.
4. Ovarium
Ovarium adalah organ yang bentuknya hampir sepeti buah badam
(almond-shaped) dan berfungsi sebagai tempat perkembangan dan
pengeluaran ovum serta sintesis dan sekresi hormon steroid. Ukuran
ovarium cukup bervariasi. Selama masa subur, ovarium memiliki
panjang 2,5 5 cm, lebar 1,5 3 cm, dan tebal 0,6 1,5 cm. Setelah
menopause, ukuran ovarium jauh berkurang.
Struktur umum ovarium dibedakan menjadi dua bagian yaitu
korteks dan medula. Korteks atau lapisan luar memiliki ketebalan yang
bervariasi sesuai usia dan menjadi semakin tipis seiring bertambahnya
usia. Di lapisan inilah terletak ovum dan folikel de Graaf. Bagian paling
luar korteks, yang suram dan putih disebut tunika al-buginea. Pada
permukaannya terdapat satu lapisan sel kuboid. Medula atau bagiaan
sentral ovarium, terdiri atas jaringan ikat longgar yang bersambungan
dengan mesovarium. Di medula, terdapat banyak arteri dan vena serta
sejumlah kecilserabut otot polos yang bersambungan dengan serabut di
ligamentum suspensorium ovarii; serabut otot mungkin berperan dalam
pergerakan ovarium.
2.1.3

Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


1. Menstruasi
Wanita yang sehat dan tidak hamil setiap bulan secara teratur
mengeluarkan darah dari alat kadungnya yang disebut menstruasi.
Siklus menstruasi, selaput lendir rahim dari hari ke hari terjadi
perubahan yaang berulang selama satu bulan mengalami empat masa
(stadium) yaitu stadium menstruasi, stadium post-menstruum, stadium
proliferasi, dan stadium sekresi (Syaifuddin, 2006).
2. Siklus ovarium
Dalam ovarium banyak terdapat sel-sel telur muda yang dikelilingi oleh
sel gepeng yang disebut folikel premordial. Sebelum pubertas ovarium

9
masih dalam keadaan istirahat. Pada waktu pubertas ada pengaruh
hormon dari lobus anterior hipofise yaitu FSH. Folikel premordial
mulai tumbuh walaupun hanya satu yang masak kemudian pecah dan
yang lainnya mati.
3. Hormonal
Pada wanita terdapat releasing factor (RF) yang dikeluarkan dari
hipotalamus ke hipofisis yang merangsang pengeluaran. Follicle
Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), keduanya
dikeluarkan oleh hipofisis anterior.
a. Hormon estrogen
Estrogen mempermudah pertumbuhan

folikel

ovarium

dan

meningkatkan tuba uterina dan jumlah otot uterus dan kadar protein
kontraktil uterus. Estrogen mempengaruhi organ endokrin dengan
menurunkan sekresi FSH, dalam beberapa keadaan menghambat
sekresi LH dan pada keadaan lain meningkatkan LH.
b. Hormon progesteron
Efek progesteron dalam tuba falopii meningkatkan sekresi dan
mukosa, pada kelenjar mamae meningkatkan perkembangan lobulus
dan alveolus kelenjar mamae, keseimbangan elektrolit, peningkatan
sekresi air dan natrium.
c. Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Mulai ditemukan pada gadis umur 11 tahun dan jumlahnya terus
bertambah sampai dewasa. Pembentukan FSH akan berkurang pada
pembentukan/pemberian estrogen dalam jumlah yang cukup, suatu
keadaan yang terjadi pada kehamilan.
d. Luteinizing Hormone (LH)
LH bekerjasama dengan FSH menyebabkan terjadinya sekresi
estrogen dari folikel de Graaf. LH juga menyebabkan penimbunan
substansi dari progesteron dalam sel granulosa.
e. Prolaktin (luteotropin, LTH)
Hormon ini ditemukan pada wanita yaang mengalami menstruasi,
terbanyak pada urine wanita hamil, masa laktasi dan menopause.
Fungsi hormon ini adalah mempertahankan produksi progesteron
dari korpus luteum kelenjar hipofise, dirangsang dan diatur oleh
pusat

yang

lebih

tinggi

gonadotropin releasing factor.

hipotalamus

untuk

menghasilkan

10
4. Ovulasi
Permulaan ovulasi menunjukkan LH dalam jumlah yang besar yang
menyebabkan sekresi hormon steroid folikular. Dibutuhkan dua
peristiwa untuk berlangsungnya ovulasi:
a. Kapsul folikel mulai melepaskan enzim proteolitik dari lisozim yang
mengakibatkan

pelarutan

dinding

kapsul,

mengakibatkan

membengkaknya seluruh folikel, dan degenerasi dari stigma.


b. Terjadi pertumbuhan pembuluh darah baru yang berlangsung cepat
ke dalam dindding folikel.
Kedua efek tersebut akan mengakibatkan transudasi plasma ke dalam
folikel

yang

berperan

pada

pembengkakan

folikel.

Akhirnya

pembengkakan dan degenerasi stigma mengakibatkan pecahnya folikel


disertai pengeluaran ovum.
5. Menarche dan Pubertas
Usia rata-rata permulaan haid sekarang adalah antara 12 dan 13 tahun,
tetapi pada sedikit anak perempuan yang tampak normal, menarche
dapat muncul sedini 10 tahun atau selambat 16 tahun. Istilah menarche
secara spesifik merujuk pada menstruasi pertama, sedangkan pubertas
adalah istilah lebih luas yang menandakan keseluruhan tahap
transisional antara masa anak-anak dan kematangan seksual. Dengan
demikian menarche hanyalah salah satu tanda pubertas, tetapi jika
merupakan konsekuensi ovulasi (dan sekresi hormon), menarche
mengisyaratkan selesainya proses fisiologis dasar pubertas, yaitu
pelepasan ovum.
6. Menopause
Pada usia 45 sampai 50 tahun, siklus seksual biasanya menjadi tidak
teratur dan ovulasi tidak terjadi selama beberapa siklus sesudah
beberapa bulan sampai beberapa tahun, dan siklus terhenti. Hormonhormon kelamin wanita menghilang dengan cepat sampai hampir tidak
ada, disebut sebagai menopause. Penyebab menopause adalah matinya
ovarium. Ketika produksi estrogen turun dibawah nilai kritis, estrogen
tidak lagi dapat menghambat produksi FSH dan LH, juga tidak dapat
merangsang lonjakan LH dan FSH untuk menimbulkan ovulasi.
Hilangnya estrogen menimbulkan perubahan fisiologis tubuh yaitu:

11
a. Rasa panas disertai dengan kemunduran kulit yang ekstrem.
b. Gelisah, letih, dan ansietas.
c. Penurunan kekuatan pada tulang seluruh tubuh.
2.2
2.2.1

Konsep Dasar Menstruasi


Definisi
Menstruasi adalah tanda bahwa siklus masa subur telah dimulai. Pada

masa ini tingkat kesuburan seorang wanita mencapai puncaknya dan secara
seksualitas sudah siap untuk dibuahi dan memiliki keturunan. Menstruasi terjadi
saat lapisan dalam dinding rahim luruh dan keluar dalam bentuk darah menstruasi.
Dalam keadaan normal, masa reproduksi dimulai ketika sudah terjadi pengeluaran
sel telur yang matang (ovulasi) pada siklus menstruasi (Misaroh, 2009).
Menstruasi adalah perubahan secara fisiologis pada wanita secara berkala
dan dipengaruhi oleh hormone reproduksi. Periode ini penting dalam hal
reproduksi, biasanya terjadi setiap bulan antara remaja sampai menopose
(Nugroho, 2010).
Menstruasi adalah pengeluaran darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang
berasal dari dinding rahim perempuan secara periodik (Wulandari, 2011).
Menstruasi adalah siklus fisiologis dimana

seseorang telah memasuki

masa subur dan siap untuk dibuahi serta memiliki keturunan, dimana terjadi
peluruhan di lapisan dinding rahim dan keluar disertai darah yang terjadi setiap
bulan.
2.2.2

Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi berkaitan dengan pembentukan sel telur dan

pembentukan endometrium. Lamanya siklus menstruasiyang normal adalah 28


hari, tetapi banyak wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Siklus
ini dikendalikan oleh hormone-hormone reproduksi yang dihasilkan oleh
hipotalamus, hipofisis dan ovarium.Fase dalam siklus menstruasi, yaitu :
1. Fase Folikel
Pada akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormone
gonadotropin. Hormone ini akan merangsang hipofisis untuk melepaskan
FSH (Follicle Stimulating Hormone) atau hormone pemicu pertumbuhan

12
folikel. Pada awal siklus berikutnya pada hari 1-14, folikel akan
melanjutkan perkembangannya karena pengaruh FSH dalam ovarium.
Setelah itu terbentuklah folikel yang sudah masak (folikel degraaf) dan
menghasilkan
2.

hormone

esterogen

yang

berfungsi

menumbuhkan

endometrium dinding rahim dan memicu sekresi lendir.


Fase Estrus
Kenaikan estrogen digunakan untuk mempertahankan pertumbuhan dan
merangsang terjadinya pembelahan sel endometrium uterus.Selain itu
berperan dalam menghambat pembentukan FSH oleh hipofisis untuk
menghasilkan

LH

(Luteinizing

Hormone)

yang

berperan

untuk

merangsang folikel degraaf yang telah masak untuk melakukan ovulasi


dari ovarium.Ovulasi umumnya berlangsung pada hari ke 14 dari siklus
3.

menstruasi. Biasanya pada setiap ovulasi dihasilkan satu oosit sekunder .


Fase Luteal
LH merangsang folikel yang telah kosong guna membentuk corpus atau
uteum (badan kuning). Selanjutnya corpus ini menghasilkan progestron
yang mengakibatkan endometrium berkembang tebal dan lembut serta
banyak pembuluh darah. Selama 10 hari setelah ovulasi, progesterone
berfungsi mempersiapkan uterus untuk kemungkinan hamil.Uterus pada
tahap ini siap menerima dan memberi sel telur yang telah dibuahi (zigot).
Jika tidak terjadi fertilisasi corpus luteum berubah menjadi corpus albicans

4.

dan berhenti menghasilkan progesterone.


Fase Menstruasi
Apabila fertilisasi tidak terjadi, produksi progesterone mulai menurun pada
hari ke 26.Corpus luteum berdegenerasi dan lapisan uterus bersama
dinding dalam rahim luruh (mengelupas) pada hari ke 28 sehingga terjadi
pendarahan.Biasanya menstruasi berlangsung selama 7 hari.Setelah itu
dinding uterus pulih kembali. Selanjutnya karena tidak ada lagi
progesterone yang dibentuk maka FSH dibentuk lagi kemudian terjadi
proses oogenesisdan menstruasi mulai kembali. Siklus menstruasiakan
berhenti jika terjadi kehamilan. Namun, ada yang menyebutkan bahwa
pada setiap siklus dikenal dengan masa utama, yaitu:
a. Masa haid selama 2-8 hari
Pada waktu itu endometrium di lepas, sedangkan pengeluaran
hormone ovarium paling rendah (minimium).

13
b.

Masa proliferasi sampai hari ke 14


Endometrium tumbuh kembali, disebut juga endometrium melakukan
proliferasi.Antara hari ke 12 sampai ke 14 dapat terjadi pelepasan

c.

ovum dari ovarium yang di sebut ovulasi.


Masa sekresi
Terjadi perubahan dari corpus rubrum menjadi corpus luteum yang
mengeluarkan progesterone.Dibawah pengaruh progesterone ini,
kelenjer endometrium yang tumbuh berkelok kelok mulai bersekresi
dan mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.Pada
akhir masa ini stroma endometrium berubah ke arah sel sel desidua,
terutama yang berada di seputar pembuluh pembuluh arteria.Keadaan
ini memudahkan ada nidasi (menempelnya ovum pada dinding rahim
setelah di dibuahi).

2.2.3

Perubahan Pada Siklus Menstruasi


Apabila sumbu hipotalamus-hipovisisiovarium berfungsi dengan baik,

jaringan lain mengalami respon yang dapat digunakan sebagai prediksi, misalnya:
1. Sebelum ovulasi: suhu basal wanita lebih rendah, seringkali < 37oC.
2. Setelah ovulasi: seiring peningkatan kadar prodesteron, suhu basal
3.
4.

meningkat.
Lendir pra-pasca ovulasi lengket sehingga menghambat penetrasi sperma.
Padasaat ovulasi lendir menjadi jernih dan cair, lendir terlihat, teraba, dan

5.

meregang seperti putih telur (spinnbarkheit).


Saat ovulasi beberapa wanita mengalami nyeri abdomen terlokalisasi yang
disebut mittelschmerz (Indriyani, 2013).

2.3
2.3.1

Konsep Dasar Amenore


Definsi Amenore
Amenore adalah keadaan kegagalan menarche sampai usia 16 tahun, tanpa

memandang ada tidaknya karakteristik seks sekunder atau tidak dialaminya


menstruasi selama 3 sampai 6 bulan pada perempuan yang sebelumnya memiliki
siklus menstruasi yang teratur (Jones, 2001).
Amenore merupakan kondisi fisiologi pada anak perempuan pra pubertas,
selama kehamilan dan menyusui serta setelah menopouse (Norwitz, 2007).
Sedangkan menurut Kumalasari, 2012, amenore adalah keadaan tidak datang
menstruasi selama 3 bulan berturut-turut.

14
Amenore adalah kelainan dimana tidak adanya perdarahan menstruasi,
dapat sementara atau menetap selama periode lebih dari 6 bulan. Amenore
merupakan gambaran normal pada prapubertas, kehamilan dan wanita post
menopouse (Widijanti, 2014).
2.3.2

Klasifikasi
Klasifikasi amenore ada 2 yaitu amenore fisiologis dan amenore patologis.

Amenore fisiologis terjadi sebelum menarche dan pada saat kehamilan, menyusui,
serta menopouse. Sedangkan amenore patologis terdiri dari 2 macam yaitu
amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer yaitu apabila belum
pernah datang menstruasi sampai umur 16 tahun (Norwitz, 2007). Sedangkan
menurut Rayburn, 2001 amenore primer adalah tidak datang menarche pada usia
16 tahun tanpa mempedulikan ada tidaknya pertumbukan dan perkembangan
normal dan kemunculan ciri-ciri kelamin sekunder. Amenore sekunder adalah
ketiadaan menstruasi selama lebih dari 6 bulan atau selama 3 siklus menstruasi
pada wanita yang sebelumnya memiliki siklus menstruasi teratur (Norwitz, 2007).
2.3.3

Etiologi
Setidaknya 80% kasus amenore disebabkan oleh anovulasi kronik.

Anovulasi kronik adalah suatu gangguan berupa kegagalan perempuan untuk


berovulasi spontan tetapi dapat berovulasi jika diberi terapi yang memadai.
Anovulasi yang menyebabkan amenore biasa terjadi sebelum pubertas, selama
hamil dan menyusui, serta pasca menopouse (Gant, 2011). Amenore primer dapat
disebabkan oleh berbagai keadaan antara lain kelainan kongenital pada
perkembangan ovarium, traktus genitalia, dapat juga karena kelainan endokrin dan
pubertas. Penyebab lain dari amenore primer adalah penurunan berat badan yang
drastis, malnutrisi, obesitas ekstrem, penyakit menahun dan fibrosis sistik
(Widijanti, 2014). Sementara itu menurut Kumalasari, 2012 penyebab amenore
primer yaitu:
1.
2.
3.
4.

Pubertas terlambat
Kegagalan dari fungsi indung telur
Agenesis uterovagina atau tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina
Gangguan susunan saraf pusat

15
5.

Hymen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah haid,


dapat dipikirkan apabila perempuan memiliki rahim dan vagina normal.
Menurut Jones, 2001, amenore primer yang dialami oleh 5% wanita

amenore mungkin disebabkan oleh defek genetik seperti disgenesis gonad, yang
biasanya ciri-ciri seksual sekunder tidak berkembang. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh kelainan duktus muler, seperti tidak ada uterus, agenesis vagina,
septum vagina transversal, atau hymen imperforata. Pada 3 penyebab terakhir,
menstruasi dapat terjadi discharge menstruasi tidak dapat keluar dari traktus
genitaslis. Keadaan ini disebut kriptomenore. Pada kebanyakan kasus amenore
primer, tidak terdapat kelainan dan wanita muda tersebut boleh berharap
mendapatkan menstruasi pada waktunya. Pada beberapa wanita dalam kelompok
ini, terdapat gangguan makan atau terlalu berat berolahraga.
Menurut Kumalasari, 2012 Penyebab amenore sekunder yaitu:
1. Obat-obatan
2. Stress dan depresi
3. Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan yang berlebihan,
olahraga yang berlebihan, dan oebsitas.
4. Gangguan hipotalamus dan hipofisis
5. Gangguan indung telur
6. Kelainan endokrin (misalnya sindroma cushing yang menghasilkan
sejumlahbesar hormon kortisol oleh kelenjar adrenal)
7. Penyakit kronik dan sindrom Asherman (Kumalasari, 2012).
Sedangkan menurut Jones, 2001 penyebab yang paling umum pada
amenore sekunder adalah kehamilan, tetapi keadaan ini terjadi pada masa
reproduksi dengan berbagai penyebab antara lain berat badan menurun, ovarium
polikistik, hipofisis tidak sensitif, hiperprolaktinemia, kegagalan ovarium primer,
sindoma Asherman, hipotiroidisme.
2.3.4

Patofisiologi
Disfungsi hipofise terjadi gangguan pada hipofise anterior gangguan dapat

berupa tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormone yang


membuat menjadi terganggu. Kelainan kompartemen IV (lingkungan) gangguan
pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung

16
menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmitter seperti serotonin yang dapat
menghambat pelepasan gonadrotropin. Kelainan ovarium dapat menyebabkan
amenorrhea primer maupun sekuder. Amenorrhea primer mengalami kelainan
perkembangan ovarium (gonadal disgenesis). Kegagalan ovarium premature dapat
disebabkan kelainan genetic dengan peningkatan kematian folikel, dapat juga
merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan. Melakukan kegiatan
Penyakit,
Kegagalan
fungsidapat menimbulkan amenorrhea
Kelainan dimana dibutuhkan kalori
yang berlebih
yang
kehamilan,
stress,
hipotalamus
- hipofisiscadangan kolesterol tubuh
genetik
banyak sehingga
habis dan bahan untuk pembentukan
obat-obatan,
hormone steroid seksual (estrogen dan progesterone) tidak tercukupi. Pada
obesitas,dll
keadaaan tersebut jugaHipogontestikular
terjadi pemecahan estrogen
berlebih untuk mencukupi
hipogonadotropin
Disgenesis
Siklus
kebutuhan bahan bakar dan
terjadilah defisiensi estrogen
feminization
gonaddan progesterone yang
menstruasi
memicu
terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan
FSH
dan LH
terganggu
endorphin
menyebabkan penurunan
menurun yang merupakan derifat morfin. EndorphinOvarium
Tidak
Testis
gagal
GnRH sehingga estrogen dan progesterone menurun. Pada
keadaan stress berlebih
punya
menggantikan
berkembang
Tidak
terjadi
Ovarium
tidak realizing hormone (CRH) dilepaskan. Pada
cortikotropin
peningkatan CRH
terjadi
uterus
ovarium
menstruasi
terangsang
opoid
yang dapat menekan pembentukan GnRH (Elizabeth J.Corwin. 2000).
Ovarium
Estrogen dan

Tidak dapat

berupa

progesteron tidak

mengalami

jaringan

dihasilkan

menstruasi

pengikat

Siklus menstruasi

Tidak terjadi

tidak terjadi

menstruasi

Amenore Sekunder

Obstruksi

Respon

aliran darah

psikologis

ke uterus
MK:
Kurangnya
suplai
oksigen ke

2.3.5

Amenore Primer
Web Of Caution

uterus

Tanda seks

Iskemik jaringan

sekunder tidak

uterus

terjadi
MK: Kerusakan
MK: Gangguan
Citra Tubuh,
Harga Diri
Rendah

integritas jaringan

Ansietas

17

2.3.6

Manifestasi Klinis
Gejala amenore bervariasi tergantung pada penyebabnya, antara lain:
1. Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak
akan ditemukan tanda-tanda pubertas seperti pembesaran payudara,
pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak, serta perubahan
bentuk tubuh.
2. Jika penyebabnya adalah kehamilan akan ditemukan morning sickness
dan pembesaran perut.
3. Jika penyebabnya adalah kadar tiroid yang tinggi maka gejalanya
adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan serta kulit yang hangat
dan lembab.
Tanda dan gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore:
1. Sakit kepala
2. Galaktore (pembentukan air susu pada perempuan yang tidak hamil
3.
4.
5.
6.

dan tidak sedang menyusui).


Gangguan penglihatan
Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti.
Vagina yang kering.
Hirsutisme (pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti
pola pria), perubahan suara dan perubahan ukuran payudara.

2.3.7

Penatalaksanaan Amenore
Secara umum penatalaksanaan pada amenore berupa pemberian hormon-

hormon yang merangsang ovulasi, iradiasi (penyinaran) dari ovarium,


pengembalian keadaan umum, menyeimbangkan antara kerja, rekreasi, dan
istirahat, serta pembedahan untuk mengangkat tumor jika penyebabnya adalah
tumor Pengurangan berat badan wanita dengan obesitas tidak jarang mempunyai
pengaruh baik terhadap amenore (Kumalasari, 2012).
Jika seorang anak perempuan belum pernah mengalami menstruasi dan
smeua hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3-6 bulan
untuk memantau perkembangan pubertasnya. Untuk merangsang menstruasi bias
diberikan progesteron. Untuk merangsang perubahan pubertas pada anaka
perempuan yang payudaranya belum membesar atau rambut kemaluan dan
ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan estrogen (Nugroho, 2014).

18

Pemberian estrogen bersama progesteron dapat menimbulkan perdarahan


siklis. Akan tetapi, pendarahan ini bersafat withdrawal bleeding, dan bukan haid
yang didahului oleh ovulasi. Terapi ini ada maknanya pada hipoplasia uteri, dan
kadang-kadang dapat menimbulkan mekanisme siklus haid pada gangguan yang
ringan.
Terapi yang penting bila pada pemeriksaan ginekologi tidak ada kelainan
yang mencolok yang menyebabkan ovulasi. Dalam hal ini ada 2 cara dengan
pemberian hormon gonadotropin yang berasal dari hipofisis dan pemberian
klomifen.
2.3.8

Pemeriksaan Penunjang
Pada amenorrhea primer : apabila didapatkan adanya perkembangan

seksual sekunder maka diperlukan pemeriksaan organ dalam reproduksi (indung


telur, rahim, perekatan dalam rahim). Melalui pemeriksaan USG, histerosal
Pingografi, histeroskopi dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), apabila tidak
didapatkan tanda-tanda perkembangan seksualitas sekunder maka diperlukan
pemeriksaan kadar hormone FSH dan LH setelah kemungkinan kehamilan
disingkirkan pada amenorrhea sekunder maka dapat dilakukan pemeriksaan
Thyroid Stimulating Hormon (TSH) karena kadar hormone thyroid dapat
mempengaruhi kadar hprmone prolaktin dalam tubuh (evrett, 2008).
Sedangkan menurut Widjijanti, 2014 pemeriksaan laboratorium pada
penderita amenore meliputi darah rutin (CBC + LED), urine rutin, tes faal hati, tes
faal ginjal, TSH, T4 dan T3, prolaktin, bone age, FSH, LH, HCG urine, DHEA
(dehidroepiandrosteron sulfat), androstenedione, testosteron, adrenal supresi tes
untuk hidroksi progesteron, kariotiping, kelainan endokrin lain yang dicurigai.
Selain pemeriksaan laoratorium terdapat juga pemeriksaan radiologi yaitu USG
abdomen/pelvic, foto sella turcica, CT/MRI, energy X-ray absorptiometry
(DEXA)

untuk

melihat

resiko

osteoporosis,

hysterosalpingogram untuk melihat adesi intrauterin.

kadang

dibutuhkan

BAB 3
PENUTUP
3.1

Simpulan
Amenore adalah keadaan kegagalan menarche sampai usia 16 tahun,
tanpa memandang ada tidaknya karakteristik seks sekunder atau tidak
dialaminya menstruasi selama 3 sampai 6 bulan pada perempuan yang
sebelumnya memiliki siklus menstruasi yang teratur. Klasifikasi amenore
ada 2 yaitu amenore fisiologis dan amenore patologis. Amenore fisiologis
terjadi sebelum menarche dan pada saat kehamilan, menyusui, serta
menopouse. Sedangkan amenore patologis terdiri dari 2 macam yaitu
amenore primer dan amenore sekunder. Setidaknya 80% kasus amenore
disebabkan oleh anovulasi kronik.
Secara umum penatalaksanaan pada amenore berupa pemberian
hormon-hormon yang merangsang ovulasi, iradiasi (penyinaran) dari
ovarium, pengembalian keadaan umum, menyeimbangkan antara kerja,
rekreasi, dan istirahat, serta pembedahan untuk mengangkat tumor jika
penyebabnya adalah tumor.

3.2

Saran
Jadi jangan menganggap Amenore adalah hal yang biasa, dan bagi yang

sudah terkena sebaiknya melakukan program pengobatan, dan yang belum


terkena maka marilah kita hindari amenore tersebut dengan menjaga pola hidup
sehat. Agar tidak mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi nantinya.
Semoga dengan adanya makalah yang berjudul Amenore,dapat bermanfaat
bagi yang membacanya terutama menambah wawasan dalam sistem reproduksi,
terutama bagi mahasiswa keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya

19

DAFTAR PUSTAKA
Syaifudddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Ed: 3.
Jakarta: EGC.
Norwitz, Errol & Schorge, John. 2007. At a Glance Obstetri & Ginekologi Ed: 2.
Jakarta: Airlangga.
Jones, Derek L. 2001. Dasar-Dasar Obstetri & Ginekologi Ed: 6. Jakarta:
Hipokrates.
Kumalasari, Intan & Andhyantoro, Iwan, 2012. Kesehatan Reproduksi Untuk
Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Gant, Norman F & Cunningham, F.Gary. 2011. Dasar-Dasar Ginekologi &
Obstetri. Jakarta: EGC.
Widijanti, Anik, dkk. 2014. Case Report: Amenore Primer Pada Empty Sella Vol:
27 No: 2. FK Universitas Brawijaya Malang.
Prawirohardjo, Aarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Tridasa Printer.
Rayburn, William F & Carey J. Christopher. 2001. Obstetri & Ginekologi. Jakarta:
Widya Medika.
Baradero, Mary. Dayrit, Mary Wilfrid. Siswandi, Yakobus. 2007. Seri Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Sistem Reproduksi & Seksualitas. Jakarta:
EGC.
Nugroho, Taufan & Utama, Bobby Indra. 2014. Masalah Kesehatan Reproduksi
Wanita. Yogyakarta: Nuha Medika.

Anda mungkin juga menyukai