Anda di halaman 1dari 37

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015


MODUL

:Fluidized Bed Dryer

PEMBIMBING

: Ir. UnungLeoanggraini, MT

Tanggal Praktikum : 16 Oktober 2014


Tanggal Penyerahan : 6 Nopember 2014
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

V (Lima)

Nama

1. Nurul Fathatun

,121424023

2. Pria Gita Maulana

,121424024

3. Reni Swara M

,121424026

4. Resza Diwansyah P

,121424027

5. Rinaldi Adiwiguna

,121424028

Kelas

3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

I.

Tujuan Praktikum
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan dapat:
Menjalankan peralatan unit pengering fluidisasi dengan aman dan benar.
Menghitung efisiensi panas/ kalor dari peralatan unit pengering fluidisasi di lab.

Pilot Plant.
Mengetahui titik fluidisasi, laju fluida dan perkiraan waktu yang dibutuhkna
dengan optimum.

II.

LandasanTeori
Pengeringan adalah Pengurangan/Penurunan kadar air dalam bahan sampai
batas tertentu yang diperlukan untuk proses lanjutan, dengan penerapan panas.
Pengeringan merupakan proses penghantaran panas dan massa yang terjadi secara
serempak. Sebagai media pembawa panas dan massa uap biasanya dipakai udara
dengan entalpi dan tekanan tertentu.
Tujuan Pengeringan yaitu sebagai :
1. Pengawetan
2. Mengurangi volume dan berat produk: transportasi dan penyimpanan
3. Penganekaragaman produk seperti breakfast cereal dan minuman instan
Pemisahan komponen yang memiliki perbedaan sifat fisik ataupun kimiawi
merupakan salah satu proses yang sering dijumpai pada proses teknik kimia selain
pencampuran, reformasi, dan lain-lain. Pengering sistem fluidisasi unggun sebagai
proses pemisahan bertujuan meningkatkan konsentrasi atau kemurnian suatu
komponen yang berbentuk padatan dengan menghilangkan cairan terkandung yang
bertitik didih lebih rendah. Padatan yang mempunyai titik didih lebih tinggi akan
didapatkan sebagai produk akhir yang diharapkan kering, ringan tetapi mempunyai
karakteristik awal. Penggunaan pemanasan biasanya adalah steam, sangat besar
pengaruhnya selain rancang bangun dari peralatan sendiri. Proses ini banyak
digunakan pada produk farmasi yang mementingkan sterilitas, tetapi untuk produk
produk bangunan semen, bijih plastik, dan lain-lain kapasitas merupakan prioritas.
Perhitungan perpindahan kalor, massa memerlukan pengetahuan tentang luas
area kontak fluida (udara) dengan partikel unggun, laju massa, dan kekuatan penyebab
(driving force) yang biasanya berupa temperatur atau konsentrasi. Masalah yang
sering dijumpai adalah penentuan titik fluidisasi yang dikategorikan optimum yaitu
laju fluida dan ketingian unggun terfluidisasi tidak terlalu tinggi yang menyebabkan

timbulnya dua fasa yang sangat berbeda (tidak homogen), satu fasa sinambung
(kontinyu) dan tidak sinambung.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeringan


1. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering
Yang termasuk golongan ini adalah:

Suhu: Makin tinggi suhu udara maka pengeringan akan semakin cepat
Kecepatan aliran udara pengering: Semakin cepat udara maka pengeringan

akan semakin cepat


Kelembaban udara: Makin lembab udara, proses pengeringan akan semakin

lambat
Arah aliran udara: Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi bahan,
maka bahan semakin cepat kering

2. Faktor yang berhubungan dengan sifat bahan


Yang termasuk golongan ini adalah:

Ukuran bahan: Makin kecil ukuran benda, pengeringan akan makin cepat
Kadar air: Makin sedikit air yang dikandung, pengeringan akan makin cepat.

Tahap Pengeringan
Dasar pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan

kandungan uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Salah satu faktor
yang mempercepat proses pengeringan adalah kecepatan angin atau udara yang
mengalir. Udara yang tidak mengalir menyebabkan kandungan uap air di sekitar
bahan yang dikeringkan semakin jenuh sehingga pengeringan semakin lambat.
Peristiwa yang terjadi selama pengeringan meliputi dua proses, yaitu :
1. Proses perpindahan panas, yaitu proses menguapkan air dari dalam bahan atau
proses perubahan bentuk cair ke bentuk gas.
2. Proses perpindahan massa, yaitu proses perpindahan massa uap air dari permukaan
bahan ke udara.
Proses perpindahan panas terjadi karena suhu bahan lebih rendah dari suhu
udara yang dialirkan di sekelilingnya. Panas yang diberikan akan menaikkan suhu
bahan dan menyebabkan tekanan uap air di dalam bahan lebih tinggi dari tekanan uap
air di udara, sehingga terjadi perpindahan uap air dari bahan ke udara yang merupakan
perpindahan massa.

Klasifikasi Pengering

Pengering dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara tergantung pada kriteria


yang digunakan. Dua klasifikasi yang terpakai didasarkan pada metode perpindahan
panas maupun metode penanganan bahan padat. Klasifikasi sehubungan dengan
perpindahan panas penting dalam menunjukkan perbedaan kasar dalam persyaratan
rancangan pengering, pengerjaan dan energi yang dibutuhkan. Klasifikasi dengan
metode penanganan zat padat lebih sesuai jika diberikan perlakuan khusus terhadap
sifat bahan yang akan dikeringkan. Berdasarkan cara penanganan bahan, pengeringan
dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Pengering Bidang Statis
Sistem dimana tidak ada gerakan relativ diantara partikel-partikel zat padat
yang dikeringkan meskipun mungkin ada pergerakan bulk dari keseluruhan massa
yang mengering. Hanya satu bagian dari seluruh jumlah partikel yang langsung
dipaparkan pada sumber panas. Permukaan yang dipaparkan dapat ditingkatkan
dengan mengurangi ketebalan bidang dan memberikan udara pengering untuk
mengalir melaluinya.
2. Pengering Bidang Bergerak
Sistem dimana partikel-partikel yang mengering dipisah sebagian, sehingga
saling mengalir bertindih satu sama lain. Gerakan dapat diinduksi baik oleh berat
atau gerakan mekanik. Resultan pemisahan dari partikel-partikel dan pemaparan
terus menerus dari permukaan baru memungkinkan perpindahan panas dan
pemindahan massa panas yang lebih cepat dari pada yang terjadi pada bidang
tetap.
3. Pengering Bidang Cair
Sistem dimana pertikel padat sebagian ditahan dalam arus gas yang
bergerak ke atas. Partikel terangkat dan jatuh kembali secara acak sehingga
campuran resultan dari zat padat dan gas bersifat seperti cairan yang mendidih.
4. Pengering Pneumatik
Sistem dimana partikel yang mengering diarahkan dan ditujukan dalam arus
gas dengan kecepatan tinggi. Sistem Pneumatik lebih jauh memperbaiki bidang
yang cair, karena tidak ada penyaluran atau perputaran singkat dari jalan aliran
gas melalui suatu bidang partikel-partikel. Masing-masing partikel seluruhnya
dikelilingi oleh selubung gas pengering. Panas resultan dan perpindahan massa
sangat cepat, sehingga waktu pengeringan singkat.

Neraca massa dalam pengeringan


Satu persamaan dari percobaan pengeringan/adsorpsi iso-oktana dari arus

campuran uap tersebut dengan udara oleh bijih-bijih alumina. Percobaan oleh A. G.
Bakhtiar dapat diterapkan pada pengeringan fluidisasi unggun dengan persaan sebagai
berikut:
Gu( y - yo ) = WF d/dt
Gu

= laju udara kering masuk (kg/dt)


= laju volum udara terukur (m3/dt) X volume jenis udara

= massa dari padatan dalam unggun kering sebelum direndam air.

= banyaknya air terserap dalam padatan (kg)

= kandungan uap air dalam aliran udara masuk (keluar,yo)

= waktu operasi
Di sini banyaknya kalor yang dilepas oleh kukus persatuan waktu tidak dapat

ditentukan /dihitung dengan tepat dikarenakan tekanan steam yang dipakai tidak
konstan sehingga katup pneumatik mengalami perubahan pembukaan sepanjang
waktu tergantung keadaan udara masuk. Begitu juga temperatur steam masuk tidak
tidak dapat ditentukan dengan tepat.
Kalor dilepas kukus = Kalor (kukus awal + kondensasi kondensat sisa kukus sisa).
Q1 = m1hg + m2hfg m2hf m3hg
Dengan :
hg

= energi dalam kukus pada temperatur kukus sisa keluar

hf

= energi dalam kondensat pada temperatur kondensat keluar

hfg

= kalor laten kondensasi kukus pada temperatur kondensasi

m1

= laju massa kukus terpakai dalam kg/jam

m2

= laju massa kondensat saja dalam kg/jam

m3

= laju massa kukus tidak terpakai dalam kg/jam [m1-m2]

Asumsi:
Kondisi awal steam tidak mengalami kondensasi.
Kondisi akhir steam terkondensasi semua menjadi kondensat.
Gas masuk keperalatan dengan U1 (laju udara masuk), dan RH tertentu , yang
akan didapatkan H (enthalpi), kalor lembab, v (volume jenis), S (kalor spesifik, Cp)
dan kalor laten tertentu. Setelah mengalami pemanasan pada penukar panas maka nilai
nilai parameter tersebut akan berubah sesuai dengan grafik phsycometric chart

dengan mengubah salah satu sumbu titik potong yaitu temperatur kering /temperatur
diset.
Sedangkan udara yang keluar peralatan juga kita dapatkan U2 (laju udara
masuk), dan RH tertentu , yang akan didapatkan H (enthalpi), kalor lembab, v
(volume jenis), S (kalor spesifik, Cp) dan kalor laten tertentu.
Panas yang dilepas udara unggun secara sederhana dan diasumsikan tidak ada
yang hilang adalah sebagai berikut :
Kalor dilepas,Q2 = kalor udara awal kalor udara akhir + kalor untuk penguapan air (dari unggun)
Q2 = ( U1 x H1 ) ( U2 x H2 ) + ( U1 x 1 )
dan laju perpindahan massa:
M1 = ( U2 x Y2 ) (U1 x Y1 )
*U1, U2 = Laju alir udara kering masuk, keluar.

Jenis Pengering Fluidized Bed Dryer


Pengeringan hamparan terfluidisasi (Fluidized Bed Drying) adalah proses

pengeringan dengan memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu yang
dilewatkan menembus hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut memiliki
sifat seperti fluida.
Fluidisasi tercapai apabila kecepatan aliran udara lebih besar dari kecepatan
minimum fluidisasi. Selama proses pengeringan apabila kecepatan aliran udara
ditingkatkan, tekanan statik udara pengering meningkat dan bahan yang dikeringkan
akan terangkat sampai ketinggian tertentu dan menyebabkan bahan terfluidisasi. Pada
kondisi ini bahan teraduk secara merata dan bantalan udara yang menyangga bahan
pada ketinggian tertentu disebut dalam keadaan fluidisasi minimum.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada system fluidized bed dryer adalah :
1. Bagian-bagian alat :
Posisi pelat distribusi udara mempengaruhi pola aliran udara di dalam alat

tersebut.
Bentuk dasar dari alat tersebut mempengaruhi produk yang dihasilkan dan

proses fluidisasi.
Tekanan operasi positif dan negative.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fluidized bed drying, seperti :
Temperatur
Kelembaban
Laju alir udara

Karakteristik Unggun Tidak Terfluidakan


Karakter unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara

penurunan tekanan (P) dan kecepatan superficial fluida (U). Untuk keadaan yang
ideal, kurva hubungan ini berbentuk seperi terlihat dalam gambar 1:

Gambar 1. Kurva Karakteristik Fluidisasi Ideal


Keterangan:

Garis AB : menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam


Garis BC : menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan
Garis DE: menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam pada waktu
kita menurunkan kecepatan air fluida . Harga penurunan tekanan untuk kecepatan
aliran fluida tertentu, sedikit lebih rendah daripada harga penurunan tekanan pada saat
awal operasi.

Evaluasi Parameter-parameter di dalam Peristiwa Fluidisasi


1) Densitas partikel
Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang masih dan tidak
menyerap

air

atau

zat

cair

lain,

bisa

dilakukan

dengan

memakai

piknometer. Sedang untuk partikel berpori, cara diatas akan menimbulkan


kesalahan yang cukup besar karena air atau

cairan akan memasuki pori-pori

didalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut
pori-porinya) seperti yang diperlukan dalam persamaan di muka, tetapi
densitas

bahan

padatnya

(tidak

termasuk pori-pori

didalamnya).

Untuk

partikel-artikel yang demikian ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu
dengan metode yang diturunkan Ergun.
2) Bentuk partikel
Dalam persamaan yang telah diturunkan, partikel padatnya dianggap
sebagai butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp. Untuk
partikel bentuk lain,

harus ada koreksi

yang menyatakan bentuk partikel

sebenarnya.
III.

Percobaan
Alat yang digunakan :

1 unit alat Fluidized Bed Dryer


Anemometer
Termometer bola basah dan kering
Penggaris

Bahan yang digunakan :

Ketumbar

Alat pelindung diri :


Dalam praktikum ini diharuskan pemakaian alat pelindung berupa:

1
2

IV.

Jas laboratorium
Sepatu dengan alas yang tidak licin

Langkah Kerja
IV.1. Persiapan Bahan Unggun

Timbang 500 gram


ketumbar kering
sebagai unggun

Masukkan ketumbar
ke dalam ember yang
telah diketahui berat
kosongnya

Timbang ember + air


+ ketumbar. Dan
catat massa
ketumbar dan air,
dengan dikurangi
oleh massa ember
kosong

Isi ember tersebut


dengan air sedikit
demi sedikit, sampai
ketumbar menjadi
basah namun tidak
meninggalkan
tetesan air

Masukkan unggun ke
dalam wadah dan
ratakan. Kemudian
catat suhu awal dan
tinggi awal unggun

Letakkan wadah
beserta isi pada
penopang pada
peralatan dan
tancapkan kabel ke
panel

IV.2.

Pengoperasian Alat

Putar saklar HS
dan BS ke 1 (on)

Kabel catu daya


terhubung, putar
saklar utama ke
kanan

Membuka katup
udara tekan dan
mengatur tekanan
antara 4-5 bar

Putar pembersih
filter ke 1 (on)
dan interval 6-8

Atur waktu 60
menit pada panel
waktu proses

Atur temperature
udara masuk 50C
dengan menekan
tombol pengendali
temperatur

Putar saklar putih


ke posisi heating
(tidak
menggunakan
steam saklar tetap
pada posisi cooling

Buka katup
kukus/steam sampai
tekanan 2 bar
(apabila proses
menggunakan
steam)

Catat laju kukus,


temperature
kondensat, dan
kukus sisa

Untuk penghentian
proses, tutup
katup-katup
manual

Tekan tombol
start dan atur
laju udara
sampai titik
fluidisasi

Ukur
kelembaban

Putar tombol
pembersih filter
ke 0 disusul
tombol HS dan BS

Lepas kabel dari


panel dan ambil
wadah. Ukur
temperature dan
berat unggun

Putar tombol waktu ke


0 dan putar tombol
biru ke 0

Matikan saklar
utama dengan
menekan

Putar tombol putih


ke cooling
(menggunakan
steam) dan tekan
stop untuk waktu

Tutup katup
kukus dan udara
tekan

I.

Data Pengamatan
a. Data Alat
Diameter tabung udara masuk dan keluar
Berat Fluidized Bed Dryer kosong

= 10 cm
= 9,5 kg

b. Data Pengamatan Run 1 (Cooling)


Berat ketumbar kering
Berat ketumbar basah
Volume air yang ditambahkan
Temperatur awal unggun
Temperatur akhir unggun
Tinggi unggun awal
Diameter unggun awal
Tinggi unggun mulai terfluidisasi
Berat ketumbar setelah dikeringkan

= 0,5 kg
= 0,68 kg
= 200 ml
= 28C
= 30C
= 6,5 cm
= 19 cm
= 7,5 cm, (pada volume udara = 6)
= 0,53 kg

Waktu

Tinggi

(menit

Unggun

(cm)

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

?
7,5
13
14
16
17
17,5
18
19
19,5
20

Udara Masuk
Temperatur (C)
Proses
?
26,2
27,4
27,8
28,3
28,3
28,9
29
29,1
29,2
29,2

Kering
32
30
30
30
30
30,5
30
30
30
30

Basah
30
22
22,5
22
23
23
23
23
24
24

Udara Keluar
Laju
(m/s)
8,67
9,50
9,17
8,81
9,11
8,45
9,15
9,10
9,07
9,23

Temperatur (C)
Proses
?
23
23
23
25
26
27
27
28
28
29

Kering
32
33
33
34
33
33
34
34
33
33.5

Basah
30
24
24
23
24
24
24
24
24
24

Laju
(m/s)
10,15
10,42
11,99
11,24
10,40
10,57
10,25
10,89
10,97
10,65

c. Data Pengamatan Run 2 (Heating)


Berat ketumbar kering
Berat ketumbar basah
Volume air yang ditambahkan
Temperatur awal unggun
Temperatur akhir unggun
Tinggi unggun awal
Diameter unggun awal
Tinggi unggun mulai terfluidisasi
Berat ketumbar setelah dikeringkan
Massa kondensat

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

0,4 kg
0,62 kg
40 ml
28,5C
37C
2,8 cm
4 cm
19 cm, (pada volume udara = 7)
0,398 kg
1,58 kg

d. Data Pengamatan Run 3 (Heating)


Berat ketumbar kering
Berat ketumbar basah
Volume air yang ditambahkan
Temperatur awal unggun
Temperatur akhir unggun
Tinggi unggun awal
Diameter unggun awal
Tinggi unggun mulai terfluidisasi
Berat ketumbar setelah dikeringkan
Massa kondensat
Wakt
u
(menit
)
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

Udara Masuk

Tinggi
Unggun

= 0,4 kg
= 0,52 kg
= 120 ml
= 30C
= 40C
= 4,9 cm
= 18,6 cm
= 5,3 cm, (pada volume udara = 6)
= 0,38 kg
= 2,36 kg
Udara Keluar
Laju

Temperatur (C)

(m/s)

(cm)

Proses

Kering

Basah

5,3
13
12
11
11
13
11
11
11
12
13

55,9
50,2
51,3
55
53
50,2
52,5
59
50
48
60

32
33
33
33
32
32
32
33
33,5
32
33

24
24
24
24
23
23
23
23
23
23
23

8,81
8,21
7,84
7,85
7,94
7,86
7,68
7,74
7,58
7,76
7,89

Laju

Temperatur (C)

(m/s)

Proses

Kering

Basah

34
41
43
49
46
48
49
49
49
49
49

40
44
46,5
47
47
46
47
47
47
47
47

27
27
28
28
27
27
27
28
28
27
28

9,80
9,50
9,97
9,82
10,05
9,44
9,72
9,55
9,59
8,95
9,66

II.

Pengolahan Data
A. Menghitung air yang teruapkan
Run I (cooling)
t
= 50 menit
W
= 500 gram
Berat air dalam unggun
= 680 gr 500 g
= 180 gr
Berat air teruapkan
= 680 gr 530 gr
= 150 gr
Berat sisa air dalam unggun = 180 150
= 30 gr
150
%Berat unggun teruapkan
= 180
x 100%
= 83,33%
Run II (heating)
t
W
Berat air dalam unggun
Berat air teruapkan
Berat sisa air dalam unggun

= 50 menit
= 400 gram
= 620 gr 400 gr
= 220 gr
= 620 gr 398 gr
= 222 gr
= 220 222
= -2 gr
222
% Berat unggun teruapkan = 220
x 100%
= 100,91%
Run III (heating)
t
W
Berat air dalam unggun
Berat air teruapkan
Berat sisa air dalam unggun
%Berat unggun teruapkan

= 50 menit
= 400 gram
= 520 gr 400 gr
= 120 gr
= 520 gr 380 gr
= 140 gr
= 120 140
= -20
140
= 120
x 100%
= 116%

B. Mencari data dari Psychometric Chart

Run II (heating)
t
W
Berat air dalam unggun
Berat air teruapkan
Berat sisa air dalam unggun

= 50 menit
= 400 gram
= 620 gr 400 gr
= 220 gr
= 620 gr 398 gr
= 222 gr
= 220 222
= -2 gr
222
% Berat unggun teruapkan = 220
x 100%
= 100,91%

1. Mencari Rh, H dan Y


Diketahui suhu basah dan suhu kering dari setiap kondisi, kemudian kelembaban
relatif (Rh), entalpi (H), dan Kelembaban mutlak (Y) dapat dicari.
Contoh pada run pertama, kondisi menit ke-5 di laju udara masuk.
Diketahui Tdry = 32oC dan Twet = 30oC.
Lalu didapatkan Rh = 86,5%, H = 99,9 kJ/kg UK, dan Y = 0.0264 kg H2O/kg UK.
2. Mencari Vh
Volume jenis udara (Vh) dapat pula dicari di psychometric chart atau dari rumus :
Vh

= 22,4 x

T
273

1
P

1
x ( 29

1
18

xY)

Dimana,

T = suhu operasi (K)


P = tekanan (asumsi = 1 atm)
Y = kelembaban (kg H2O/kg UK)
Contoh pada run pertama, kondisi menit ke-5 di laju udara masuk.
Diketahui T = 26,2 oC = 299,2 K dan Y (dapat dari psychometric chart) = 0,0264 kg
H2O/kg UK
Vh

= 22,4 x

299.2 K
273

0,0264 )
Vh

= 0,88 m3/kg dry air.

1
1 atm

1
x ( 29

1
18

RUN 1 (cooling)
W = 0,5 kg
Udara masuk

Udara Keluar

Waktu
(menit)

T (oC)

Rh (%)

Vh
(m3/kg
dry air)

T (oC)

Rh (%)

Vh (m3/kg
dry air)

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

26.2
27.4
27.8
28.3
28.3
28.9
29
29.1
29.2
29.2

86.5
50.04
52.74
50.04
55.48
53.17
55.48
55.48
61.13
61.13

0.0264
0.0134
0.0141
0.0134
0.0149
0.0146
0.0149
0.0149
0.0164
0.0164

0.883
0.868
0.870
0.871
0.873
0.874
0.875
0.875
0.878
0.878

24
23
23
25
26
27
27
28
28
29

86.52
47.69
47.69
39.3
47.69
47.69
43.8
43.8
47.69
45.75

0.0266
0.0152
0.0152
0.0132
0.0152
0.0152
0.0147
0.0147
0.0152
0.0149

0.876
0.858
0.858
0.861
0.867
0.870
0.869
0.872
0.872
0.875

RUN 2 (heating)
W = 0,4 kg
Udara masuk
Waktu
(menit)

T (oC)

Rh (%)

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

52.2
55.5
56.1
50.8
55.1
55.7
57.5
46.3
55.5
55.1
50.5

63
51.82
56.29
51.82
68.16
43.89
44.81
42.92
42.92
46.78
42.92

0.0149
0.0155
0.0159
0.0155
0.0206
0.0147
0.0138
0.0136
0.0136
0.014
0.0136

Udara Keluar
Vh
(m3/kg
dry air)
0.942
0.953
0.955
0.939
0.959
0.952
0.956
0.923
0.950
0.949
0.935

T (oC)

Rh (%)

Vh (m3/kg
dry air)

31
34
43
45
47
48
49
47
50
48
49

62.5
49.4
38.07
29.75
27.08
25.05
23.63
22.23
23.16
25.94
23.16

0.0188
0.0176
0.0151
0.0138
0.0155
0.0151
0.0142
0.0134
0.0147
0.0165
0.0147

0.886
0.893
0.916
0.920
0.928
0.930
0.932
0.925
0.936
0.932
0.933

RUN 3 (heating)
W = 0,4 kg
Udara masuk
Waktu
(menit)

T (oC)

Rh (%)

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

55.9
50.2
51.3
55
53
50.2
52.5
59
50
48
60

51.82
47.69
47.69
47.69
46.78
46.78
46.78
42.92
41.11
46.78
42.92

0.0155
0.0152
0.0152
0.0152
0.014
0.014
0.014
0.0136
0.0134
0.014
0.0136

Udara Keluar
Vh
(m3/kg
dry air)
0.954
0.937
0.940
0.951
0.943
0.935
0.942
0.960
0.934
0.929
0.963

T (oC)

Rh (%)

Vh (m3/kg
dry air)

34
41
43
49
46
48
49
49
49
49
49

36.92
27.08
24.98
24.05
21.4
23.16
21.4
24.05
24.05
21.4
24.05

0.0173
0.0156
0.0164
0.0161
0.0143
0.0147
0.0143
0.0161
0.0161
0.0143
0.0161

0.893
0.911
0.918
0.935
0.923
0.930
0.932
0.935
0.935
0.932
0.935

C. Perhitungan Neraca massa


Mencari Luas Permukaan udara masuk dan keluar
Luas permukaan = r2
= 3,14 x (5 cm)
= 78,5 cm2 = 7,85 x 10-3 m2
Mencari Laju Alir Udara Masuk (Gu1)
Diketahui laju udara yang diukur menggunakan anemometer dan Volume Jenis
Udara yang didapat dari perhitungan atau psychometric chart.
Rumusnya adalah :
vx A
Gu1 =
Vh
Diketahui v = kecepatan udara (m/s)
A = luas permukaan (m2)
Vh = Volume jenis udara (m3/kg dry air)
Contoh pada run pertama, kondisi menit ke-5 di laju udara masuk.
Diketahui v = 8,67 m/s, A = 7,85 x 10-3 m2, dan Vh = 0,88 m3/kg dry air.
3
8,67 x 7,85 x 1 0
Gu1
=
0,88
Gu1

= 0,077 kg/s
= 278,42 kg/jam

Menghitung Neraca Massa


Diketahui berat unggun awal (W), laju alir udara masuk (Gu1) hasil dari
perhitungan, Kelembaban kondisi udara masuk dan keluar (Y0 dan Y), dan waktu

operasi (t). Sehingga dicari banyaknya air yang diserap dalam padatan (F),
dengan rumus :
Gu1 ( y - yo ) t = W F
Contohnya pada run pertama, kondisi menit ke-5
Diketahui W = 0,5 kg, Gu1 = 278,42 kg/jam, Y0 = 0,0264, Y = 0,0266, t =
50 menit.
278,42 * ( 0,0266 0,0264 ) 50/60 = 0,5 * F
F = 0,09 Kg.air/Kg.UK
Contohnya pada run kedua, kondisi menit ke-5.
Diketahui W = 0,5 kg, Gu1= 227,82 kg/jam, Y0= 0,0155, Y= 0,0176, t = 50 menit
227,82 x (0,0176 0,0155) 50/60 = 0,5 x F
F = 0,8 Kg air/Kg UK

Menghitung Laju Perpindahan Massa


M = Gu (y-yo)
Dik :
Gu = laju alir udara masuk
y = kelembaban mutlak (udara keluar)
yo = kelembaban mutlak (udara masuk)
Contohnya pada run pertama, kondisi menit ke-5
Gu = 277,64 kg/jam

y = 0.0266

yo = 0,0264

Maka, M = 0,0555 kg/jam

Run 1 (cooling)
W = 0,5 kg
Waktu
(menit
)

Y Yo
(kadar air
teruapkan
)

Gu1
(kg/jam
)

F (kg
air/kg dry
air)

M
(kg/jam
)

0
5

0.0002

277.621

0.093

10

0.0018

309.195

0.928

15

0.0011

297.729

0.546

20

-0.0002

285.881

-0.095

25

0.0003

294.918

0.147

30

0.0006

273.137

0.273

35

-0.0002

295.527

-0.099

40

-0.0002

293.814

-0.098

45

-0.0012

292.060

-0.584

50

-0.0015

297.212

-0.743

Waktu
(menit
)

Y Yo
(kadar air
teruapkan
)

Gu1
(kg/jam
)

F (kg
air/kg dry
air)

0.0039

260.346

1.692

0.0021

227.824

0.797

10

-0.0008

219.571

-0.293

15

-0.0017

241.965

-0.686

20

-0.0051

265.770

-2.259

25

0.0004

243.407

0.162

30

0.0004

237.695

0.158

35

-0.0002

251.007

-0.084

40

0.0011

222.555

0.408

45

0.0025

235.190

0.980

0.05552
4
0.55655
1
0.32750
2
0.05718
0.08847
5
0.16388
2
0.05911
0.05876
0.35047
0.44582

Run 2 (heating)
W = 0,5 kg
M
(kg/jam
)
1.01535
1
0.47842
9
0.17566
0.41134
1.35543
0.09736
3
0.09507
8
-0.0502
0.24481
1
0.58797

50

0.0011

239.289

0.439

5
0.26321
8

Run 3 (heating)
W = 0,4 kg
Waktu
(menit
)

Y Yo
(kadar air
teruapkan
)

Gu1
(kg/jam
)

F (kg
air/kg dry
air)

0.0018

261.027

0.979

0.0004

247.656

0.206

10

0.0012

235.693

0.589

15

0.0009

233.331

0.437

20

0.0003

237.903

0.149

25

0.0007

237.547

0.346

30

0.0003

230.467

0.144

35

0.0025

227.863

1.187

40

0.0027

229.443

1.291

45

0.0003

236.132

0.148

50

0.0025

231.582

1.206

M
(kg/jam
)
0.46984
8
0.09906
3
0.28283
2
0.20999
8
0.07137
1
0.16628
3
0.06914
0.56965
8
0.61949
7
0.07084
0.57895
5

D. Perhitungan Neraca Energi


RUN 2 (heating) 0,4 kg
A = 8,49 x 10-3 m2
Perhitungan pada t = 5 menit
Vh1 = 1,0811 m3/Kg.udara kering
Vh2 = 0,9003 m3/Kg.udara kering
1 Unggun
H Pemanasan unggun kering = m unggun x Cp uk x Tmasuk
= 0,4 kg x 1,0072 kj/kg K x 326,5 K
= 131,54 kj

H Pemanasan air

= Massa unggun x Cp air x Tmasuk


= 0,4 kg x 4,2 kj/kg K x 326,5 K
= 548,52 kj

H Penguapan air

= Massa unggun x
= 0,4 kg x 2374 kj/kg

= 949,6 kj
H Unggun = H Pemanasan unggun + H Pemanasan air + H Penguapan air

= 131,54 kj + 548,52 kj + 949,6 kj


=

1629,66 kj
50 menit

x 60 menit/jam

= 1955,592 kj/jam
G1 = 249,069 kg/jam
G2 = 349,667 kg/jam
Hyin

= (1,005 + (1,884 x Yin)) x (Tin0C) + (2501,14 x Yin)


= (1,005 + (1,884 x 0.0153)) x (53,5) + (2501,14 x 0.0153)
= 93,577 kJ/kg.uk

Hyout

= (1,005 + (1,884 x Yout)) x (Tout 0C) + (2501,14 x Yout)


= (1,005 + (1,884 x 0.0159)) x (31) + (2501,14 x 0.0159)
= 71,85 kJ/kg.uk

H Udara = (G1. Hy masuk G2.Hy keluar) x T

= (249,069 kg/jam x 93,577 kJ/kg.uk 349,667 kg/jam x 71,85


kJ/kg.uk) x (-22,5 oC)
= 40869,993 kj/jam
unggun =
=

H Unggun
H Udara

x 100%

1955 ,592 kj/ jam


40869,993 kj/ jam

= 4,785 %
2

Neraca Energi Steam-Udara

x 100%

Panas yang dilepas steam


H Steam terpakai

= Panas latent steam ke kondensat


= m kondensat x kondensat
= m2 . c
1,58 kg
= 50 menit x 60 menit/jam x 2374 kj/kg
= 4501,1 kj/jam

Panas diterima udara

= (G1.Hy masuk - G2. Hy keluar)


= (249,069 kg/jam x 93,577 kJ/kg.uk 349,667
kg/jam x 71,85 kJ/kg.uk)
= 1816,44 kj/jam

Neraca Energi

H diterima udara
H Steamterpakai

x 100 %

4086,999 kj/ jam


4501,1 kj/ jam

x 100%

= 90,8 %
III.

Pembahasan
Pengeringan adalah proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah yang

relatif kecil dari bahan dengan menggunakan enersi panas. Hasil dari proses pengeringan
adalah bahan kering yang mempunyai kadar air setara dengan kadar air keseimbangan udara
(atmosfir) normal atau setara dengan nilai aktivitas air (aw) yang aman dari kerusakan
mikrobiologis, enzimatis dan kimiawi. Pada praktikum kali ini praktikan menganalisis
efisiensi panas dan peristiwa fluidisasi pada peralatan Fluidized Bed Dryer.
Pengeringan hamparan terfluidisasi (Fluidized Bed Drying) adalah proses pengeringan
dengan memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu yang dilewatkan
menembus hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut memiliki sifat seperti fluida.
Metode pengeringan fluidisasi digunakan untuk mempercepat proses pengeringan dan
mempertahankan mutu bahan kering. Pengeringan ini banyak digunakan untuk pengeringan
bahan berbentuk partikel atau butiran, baik untuk industri kimia, pangan, keramik, farmasi,
pertanian, polimer dan limbah. Proses pengeringan pada Fluidized Bed Dryer dilakukan tanpa
pemanasan dan dengan pemanasan sehingga terlihat perbedaan yang terjadi pada hasil
pengeringan.
Proses pengeringan tanpa pemanasan dilakukan hanya dengan menghembuskan udara
tekan sedangkan pengeringan dengan pemanasan dilakukan dengan menghembuskan udara

tekan yang terlebih dahulu dikontakan dengan steam. Pada praktikum ini bahan yang
digunakan sebagai unggun adalah ketumbar. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali RUN
dengan satu RUN tanpa pemanasan dan dua RUN dengan pemanasan. Masing-masing RUN
dilakukan selama 50 menit dan dilakukan pengambilan data setiap 5 menit sekali. Data yang
diambil antara lain temperature proses, temperature bola basah (Tw), temperature bola kering
(Td), tinggi unggun dan laju untuk aliran masuk dan keluar.
Langkah pertama yang dilakukan setelah menimbang ketumbar adalah memercikan
air pada ketumbar setelah itu menimbangnya kembali sehingga massa air diketahui. Pada
RUN pertama dan kedua ketumbar kering yang digunakan adalah sebanyak 0.4 kg, hanya
saja pada RUN pertama tidak dilakukan pemanasan (cooling) sedangkan untuk RUN kedua
dilakukan pemanasan (heating), sedangkan untuk RUN ketiga ketumbar kering yang
digunakan adalah sebanyak 0.5 kg dengan proses pemanasan (heating). Hal ini dilakukan
untuk melihat pengaruh massa bahan yang dikeringkan terhadap efisiensi pengeringan.
Fluidisasi pada proses cooling (RUN1) massa ketumbar yang sudah diberi air adalah
0,44 kg. Temperature proses udara masuk rata-rata sebesar 28.34C. pada akhir proses massa
ketumbar menjadi 0.53 kg. sehingga jika dibandingkan dengan massa ketumbar awal sebelum
diberi air, masih terdapat kandungan air sebesar 0.03 kg pada ketumbar yang sudah melalui
proses fluidisasi. Hal ini terjadi karena tidak dilakukan proses pemanasan sehingga masih
terdapat air pada ketumbar tersebut.

Oleh Nurul Fathatun (NIM. 121424023)


Pengeringan adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari bahan sehingga
mengurangi kandungan/sisa cairan di dalam zat padat itu sampai suatu nilai yang
dikehendaki. Pengeringan hamparan terfluidisasi (Fluidized Bed Drying) adalah proses
pengeringan dengan memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu yang
dilewatkan menembus hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut memiliki sifat
seperti fluida. Metode pengeringan fluidisasi digunakan untuk mempercepat proses
pengeringan dan mempertahankan mutu bahan kering. Pengeringan ini banyak digunakan
untuk pengeringan bahan berbentuk partikel atau butiran, baik untuk industri kimia, pangan,
keramik, farmasi, pertanian, polimer dan limbah. Proses pengeringan dipercepat dengan cara
meningkatkan kecepatan aliran udara panas sampai bahan terfluidisasi. Dalam kondisi ini

terjadi penghembusan bahan sehingga memperbesar luas kontak pengeringan, peningkatan


koefisien perpindahan kalor konveksi, dan peningkatan laju difusi uap air.
Pada praktikum ini bahan yang digunakan dalam proses pengeringan adalah
ketumbar. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali RUN, setaip RUN masing-masing
dilakukan selama 50 menit dan dilakukan pengambilan data setiap 5 menit sekali. Data yang
diambil antara lain temperature proses, temperature bola basah (Tw), temperature bola kering
(Td), tinggi unggun dan laju untuk aliran masuk dan keluar. Pada RUN pertama dan kedua
ketumbar yang digunakan adalah sebanyak 0.5 kg, hanya saja pada RUN pertama tidak
dilakukan pemanasan (cooling) sedangkan untuk RUN kedua dilakukan pemanasan (heating),
sedangkan untuk RUN ketiga ketumbar yang digunakan adalah sebanyak 0.4 kg dengan
proses pemanasan (heating). Hal ini dilakukan untuk melihat pengaruh massa bahan yang
dikeringkan terhadap efisiensi pengeringan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah membasahi ketumbar yang sudah ditimbang
dengan cara memercikan air. Selanjutnya ketumbar yang sudah mengandung air ditimbang
kembali untuk mengetahui massa air yang ditambahkan.
Untuk RUN pertama dilakukan fluidisasi dengan proses cooling, sehingga aliran
steam tidak dinyalakan. Pada proses ini massa ketumbar yang sudah diberi air adalah 0.68 kg.
Temperature proses udara masuk rata-rata sebesar 28.34C. pada akhir proses massa
ketumbar menjadi 0.53 kg. sehingga jika dibandingkan dengan massa ketumbar awal sebelum
diberi air, masih terdapat kandungan air sebesar 0.03 kg pada ketumbar yang sudah melalui
proses fluidisasi. Hal ini terjadi karena tidak dilakukan proses pemanasan sehingga masih
terdapat air pada ketumbar tersebut.
Pada RUN kedua dilakukan fluidisasi dengan proses heating, pada proses ini sebelum
udara kering dialirkan menuju ruang fluidized bed dryer terlebih dahulu dikontakkan dengan
steam dengan tekanan 2 bar. pada proses ini massa ketumbar yang sudah diberi air adalah
0.66 kg. Temperature proses udara masuk rata-rata sebesar 53.34C. pada akhir proses massa
ketumbar menjadi 0.42 kg, lebih kecil dibandingkan dengan massa ketumbar sebelum diberi
air. Hal ini terjadi karena pada saat RUN pertama terjadi kesalahan pengerjaan. Ketumbar
yang telah diberi air tumpah sehingga menggunakan ketumbar yang baru. Sedangkan untuk
RUN kedua digunakan ketumbar yang telah tumpah tadi. Sehingga pada RUN kedua
anggapan ketumbar awal sebelum diberikan air adalah ketumbar yang tumpah tadi sehingga
sebenarnya pada massa ketumbar awal (500 kg) sudah mengandung air.

Pada RUN ketiga dilakukan fluidisasi dengan proses heating. Pada RUN ketiga ini
mekanisme pengerjaannya sama dengan RUN kedua yaitu udara kering terlebih dahulu
dikontakkan dengan steam bertekanan 2 bar. Massa ketumbar yang sudah diberi air adalah
0.52 kg. Temperature proses udara masuk rata-rata adalah sebesar 53.19C. pada akhir proses
massa ketumbar menjadi 0.38 kg. dapat terlihat bahwa massa ketumbar setelah proses
pengeringan kurang dari massa ketumbar awal (0.4 kg). Hal ini dapat disebabkan karena
ketumbar awal mengandung sedikit air sehingga air tersebut ikut teruapkan.
Dari hasil pengolahan data didapatkan data:

RUN 1
RUN 2
RUN 3

Unggun (%)
19,9
3,15
12,1

Neraca Energi (%)


47,65
95,23

Dari data tersebut dapat terlihat bahwa efisiensi unggun tertinggi adalah pada RUN
pertama. Padahal pada RUN pertama tidak dilakukan proses pemanasan. Seharusnya efisiensi
unggun akan semakin besar jika dilakukan pemansan. Sedangkan pengaruh massa
(banyaknya bahan yang dikeringkan) terhadap efisiensi unggun dan efisiensi energi adalah
semakin sedikit bahan yang dikeringkan maka efisiensi unggun dan energy akan semakin
besar.
Oleh Pria Gita Maulana (NIM. 121424024)
Pengeringan merupakan proses pengurangan kadar air sampai batas tertentu yang
terkandung di dalam bahan dengan menggunakan panas. Pada praktikum ini proses
pengeringan dilakukan dengan menggunakan alat Fluidized Bed Dryer. Pengeringan
hamaparan terfluidisasi (fluidized bed drying) merupakan salah satu proses pengeringan yang
memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu yang dialirkan menembus
hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut memiliki sifat seperti fluida.
Bahan yang dikeringkan pada proses pengeringan dengan alat Fluidized Bed Dryer ini
adalah ketumbar. Sementara itu, proses pengeringan pada praktikum ini dilakukan dalam 3
run. Run 1 dan 2 dilakukan dengan berat bahan yang sama, namun hal yang membedakan
adalah pada run 1 tidak menggunakan steam, sedangkan run 2 menggunakan steam. Run 3
dilakukan terhadap run 2 untuk mengetahui pengaruh berat bahan dan banyaknya kadar air
yang terkandung dalam bahan terhadap efisiensi pengeringan.

Dari pengolahan data didapatkan nilai efisiensi unggun untuk setiap run. Untuk nilai
efisiensi unggun tertinggi didapatkan pada saat run 1 yang tidak menggunakan steam
pemanas untuk mengeringkan bahan. Seharusnya nilai efisiensi unggun akan lebih besar
ketika proses pengeringan dilakukan dengan menggunakan steam dari pada hanya
menggunakan udara kering saja. Salah satu faktor yang menjadi penyebab nilai efisiensi
unggun untuk run 1 lebih tinggi dari pada run 2 dan 3 adalah suhu masuk pada proses
pengeringan yang tidak konstan dan cenderung terus meningkat. Untuk mengatasinya maka
laju steam harus di atur setiap saat, artinya laju steam pada proses pengeringan dengan
menggunakan steam juga tidak konstan. Hal ini yang menyebabkan pengeringan bahan
dengan menggunakan steam menghasilkan nilai efisiensi unggun yang tidak seoptimal
pengeringan yang hanya menggunakan udara kering.
Sementara itu, untuk nilai efisiensi neraca energi pada run 1 tidak dihitung karena
tidak menggunakan steam pemanas. Nilai efisiensi neraca energi tertinggi didapatkan pada
run 3, dimana pada run 3 mempunyai berat dan kadar air bahan lebih sedikit dari pada run 2.
Hal ini dapat membuktikan bahwa banyaknya bahan dan kandungan kadar air dalam bahan
akan mempengaruhi jalannya proses pengeringan. Semakin sedikit bahan yang dikeringkan
dan kadar air dalam bahan, maka semakin cepat proses pengeringan di dalam bahan tersebut.
Hal ini dibuktikan dengan tingginya efisiensi unggun dan efisiensi neraca energi pada run 3
dibandingkan dengan run 2.
Selain banyaknya bahan dan kadar air dalam bahan, proses pengeringan akan berjalan
optimal ketika suhu masuk dalam proses pengeringan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah. Suhu optimal untuk proses pengeringan adalah pada suhu sebesar 50C. Proses
pengeringan juga jangan dilakukan terlalu lama karena dapat merusak bahan.

Oleh Reni Swara Mahardika (NIM. 121424026)


Pengeringan menggunakan Fluidized Bed Dryer adalah proses pengeringan dengan
memanfaatkan aliran udara dengan kecepatan, suhu, dan tekanan tertentu yang dilewatkan
menembus unggun sehingga memiliki sifat seperti fluida. Pada proses ini, udara dipaksa
melalui unggun dengan kecepatan cukup tinggi agar melebihi gaya gravitasi sehingga unggun
selalu dalam posisi melayang-layang dalam udara pengering. Penghembusan udara tersebut
bertujuan untuk memperbesar luas kontak pengeringan, peningkatan koefisien perpindahan
kalor konveksi, dan peningkatan laju difusi uap air. Bagian-bagian mesin pengering sistem

fluidisasi adalah blower untuk menghasilkan aliran udara, heater untuk memanaskan udara,
plenum sebagai saluran udara panas yang dihembuskan kipas ke ruang pengeringan, dan
ruang pengering sebagai tempat unggun akan dkeringkan.
Operasi pengeringan dilakukan dengan dua metode, yaitu pendinginan dan
pemanasan. Proses pendinginan dilakukan dengan hanya menghembuskan udara tekan.
Namun pada proses pemanasan, udara tekan dikontakkan terlebih dahulu dengan steam
sehingga udara bertekanan yang berhembus pada unggun adalah udara panas. Pada praktikum
ini, dilakukan satu kali percobaan dengan proses pendinginan dan dua kali percobaan dengan
proses pemanasan selama 50 menit untuk setiap proses percobaan. Bahan yang akan
dikeringkan adalah ketumbar 500 gram pada percobaan pertama dan kedua, lalu ketumbar
400 gram pada percobaan ketiga.
Selama praktikum, ada beberapa parameter yang diukur yaitu suhu bola basah, suhu
bola kering, dan kecepatan udara pada setiap jalur udara masuk dan udara keluar, serta suhu
operasi yang dapat dilihat pada panel pengendali. Suhu bola basah adalah suhu yang dicapai
jika udara diguyur air sampai kelembabannya 100%, sehingga untuk mengetahuinya
pengukuran menggunakan termometer ayun dimana sensor suhunya dibalut kain basah. Suhu
bola kering adalah suhu yang diukur pada saat di udara terbuka. Dari kedua data suhu ini,
dapat dicari kelembaban mutlak, kelembaban relatif, volume jenis, serta entalpi pada tabel
psikometrik. Kelembaban relatif dan kelembaban mutlak pada proses pemanasan lebih kecil
dibanding dengan proses pendinginan, karena udara panas akan mempercepat air untuk
menguap sehingga kadar air yang terkandung pada bahan lebih sedikit. Namun, volume jenis
pada proses pemanasan lebih besar dibandingkan dengan proses pendinginan, menunjukkan
bahwa volume air dalam udara panas yang berhembus lebih banyak karena proses penguapan
yang lebih besar. Meskipun fluktuatif, terlihat pula bahwa semakin lama waktu pengeringan,
laju udara masuk dan laju udara keluar semakin besar, hal ini disebabkan karena air sudah
menguap sehingga unggun lebih ringan dan dapat terfluidisasi dengan mudah.
Dari data hasil praktikum, dapat diketahui kadar air yang teruapkan melalui
perhitungan praktis yaitu membandingkan berat bahan kering setelah dipanaskan dan berat
bahan kering sebelum dicampurkan air.
Parameter
Proses
Berat ketumbar awal

Percobaan 1

Percobaan 2

Percobaan 3

Pendinginan
500 gr

Pemanasan
500 gr

Pemanasan
400 gr

Berat ketumbar basah


Volume air yang ditambahkan
Berat ketumbar akhir
Berat unggun teruapkan

680 gr
200 ml
530 gr
83,33%

660 gr
180 ml
420 gram
150%

520 gr
120 ml
380 gr
116%

Pada percobaan pertama yaitu proses pendinginan, kadar air yang teruapkan adalah
sebesar 83%. Percobaan kedua yaitu proses pemanasan, menghasilkan kadar air teruapkan
sebesar 150%. Hal ini dikarenakan ketumbar yang ditimbang sebagai berat ketumbar awal
adalah ketumbar yang telah digunakan atau ketumbar yang masih banyak mengandung air,
sehingga bisa jadi proses pengeringan sebelumnya belum sempurna akibat waktu
pengeringan yang singkat. Percobaan ketiga pun merupakan proses pemanasan yang
menghasilkan kadar air teruapkan sebesar 116%. Kasus ini sama halnya dengan bahan yang
digunakan pada proses kedua.
Pengukuran menggunakan anemometer menunjukkan kecepatan udara. Untuk
mengetahui laju udara, maka harus dikalikan dengan luas permukaan lubang masukan dan
keluaran udara. Diameter lubang udara masuk dan keluar sama yaitu 10 cm, sehingga luas
permukaannya adalah 7,85 x 10-3 m2. Selanjutnya, praktikan menghitung neraca massa air
yang diserap dalam padatan serta laju perpindahan massanya. Dari setiap percobaan,
parameter dirata-ratakan dan hasilnya sebagai berikut :
Parameter
Gu1
F
M

(kg/jam)
(Kgair/kgUK)
(kg/jam)

Percobaan 1

Percobaan 2

Percobaan 3

291.7
0,0368
0,022

240,41
0,119
0,071

237,149
0,607
0,291

Dari data tersebut, dikatakan bahwa laju udara masuk pada proses pemanasan lebih
cepat dibandingkan proses pendinginan. Sehingga, suhu sangat mempengaruhi dalam
pengeringan karena dapat mempercepat penguapan kadar air dalam unggun. Selain itu,
dengan bertambahnya laju udara, unggun akan lebih mudah terfluidisasi sehingga luas
permukaan kontak udara dan unggun semakin besar. Banyaknya air yang diserap (F) pada
proses pemanasan lebih banyak dibandingkan dengan proses pendinginan, sehingga laju
perpindahan massa air dari bahan ke udara pun semakin besar karena adanya peningkatan
laju difusi air. Banyaknya unggun pun mempengaruhi kecepatan pemanasan dan
menghasilkan pengeringan lebih efisien akibat koefisien perpindahan lebih besar. Titik
fluidisasi yang dilakukan untuk seluruh percobaan yaitu ada angka 7.

Selanjutnya adalah menghitung efisiensi dengan cara neraca energi yaitu


membandingkan entalpi panas yang diserap oleh unggun terhadap panas yang diberikan oleh
steam.
Parameter
H Unggun
(kJ/jam)
H Udara
(kJ/jam)
unggun
(%)
Neraca energi steam-udara
H Steam terpakai
(kj/jam)
Panas yg diterima udara (kj/jam)
Efisiensi
(%)

Percobaan 1

Percobaan 2

Percobaan 3

1545,618
7757,73
19,92

2448,11
77794,48
3,15

1935,06
16001,573
12,1

3452,7

6651,23

1645,29
47,65

6333,77
95,23

Percobaan pertama yaitu pendinginan sehingga tidak menggunakan steam. Efisiensi


pada proses pemanasan lebih besar dibandingkan proses pendinginan. Dengan tingkat
efisiensi yang optimal pada percobaan ketiga yaitu 95,23%, maka jumlah kalor yang diserap
oleh unggun mencapai jumlah maksimumnya untuk menguapkan sejumlah kadar air karena
tingkat perpindahan massanya yang tinggi. Semakin banyak unggun yang akan dikeringkan,
maka waktu pengeringan harus lebih lama. Serta, diperhatikan pula suhu, kecepatan udara,
dan tekanan udara, karena parameter tersebut mempengaruhi laju perpindahan massa dan luas
kontak pengeringan.
Kemudian, untuk mengendalikan proses pengeringan adalah mengetahui keberadaan air
dalam produk bahan yang akan dikeringkan. Karena keberadaan molekul air dalam produk
bahan pangan terdiri dari tipe molekul air terikat yang terserap pada dinding serat dan tipe air
bebas terikat yang berada pada celah-celah dalam bahan pangan padat.

Oleh Resza Diwansyah Putra (NIM. 121424027)


Fluidisasi merupakan suatu proses dimana padatan memiliki perilaku seperti fluida.
Pada praktikum ini, unggun basah mengalami fluidisasi dengan udara sehingga, unggun
tersebut menjadi kering. Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah fluidized bed
dryer yang berfungsi mengontakkan antara udara dengan unggun. Percobaan ini,
menggunakan udara dengan dua variasi yaitu udara yang dipanaskankan dengan steam dan
udara tanpa pemanasan.

Bahan yang digunakkan sebagai unggun pada percobaan ini adalah ketumbar yang
memiliki komponen dasar selulosa. Selulosa dibasahi dengan air sedikit demi sedikit
sehingga seluruh ketumbar terbasahi namun tidak ada air yang menetes dai ketumbar
tersebut. Praktikum ini dilakukan sebanyak tiga kali. Run pertama dan kedua menggunakan
ketumbar sebanyak 500 gram sedangkan run ketiga menggunakan ketumbar 400 gram. Selain
itu, udara yang dikontakkan dengan unggun pada run pertama tidak dipanaskan sedangkan
pada run kedua dan ketiga udara dipanaskan dengan steam sebelum dikontakkan dengan
unggun.
Driving force yang bekerja pada run pertama adalah perbedaan konsentrasi air antara
udara dengan unggun basah. Unggun basah memiliki kandungan air lebih banyak daripada
udara. Sehingga ketika dikontakkan, air pada unggun berpindah ke udara sehingga
kelembapan udara keluar meningkat. Kemudian, Driving force yang bekerja pada run kedua
dan ketiga adalah perbedaan konsentrasi air dan perbedaan suhu antara udara dengan unggun
basah. Dengan demikian, pengeringan pada run kedua dan ketiga lebih efektif karena selain
udara yang akan dikontakkan lebih kering, perbedaan suhu juga membantu penguapan air
pada unggun. Adapun data yang dicatat pada percobaan ini adalah massa unggun sebelum
dan setelah pengeringan, suhu bola basah dan suhu bola kering udara masuk dan keluar, laju
alir udara masuk dan keluar dan tinggi unggun.
Pada perhitungan, didapatkan efisiensi unggun dan efisiensi neraca energi. Efisiensi
unggun dinyatakan sebagai perbandingan antara perubahan entalpi unggun dengan entalpi
udara. Efisiensi unggun dikatakan seratus persen apabila kemampuan udara untuk
mengeringkan unggun dipakai secara maksimal sehingga perubahan entalpi unggun sama
dengan perubahan entalpi udara. Adapun pada run pertama, run kedua dan run ketiga
didapatkan berturut-turut adalah 19,92%, 3,15%, dan 12,1%. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa efisiensi tertinggi dicapai pada run pertama. Hal yang menyebabkan
efisiensi unggun pada run kedua dan ketiga menjadi lebih kecil adalah fluktuasi suhu udara
panas. Fluktuasi ini disebabkan karena steam yang digunakan untuk memanaskan udara
mengalami perubahan secara cepat karena operasi tidak boleh lebih dari 500C.
Sementara itu efisiensi neraca energi dinyatakan sebagai perbandingan antara
perubahan entalpi yang diterima udara dengan perubahan entalpi steam yang terpakai.
Efisiensi neraca nergi dikatakan seratus persen apabila seluruh steam yang dipakai dugunakan
untuk memanaskan udara sehingga perubahan entalpi steam sama dengan perubahan entalpi

yang diterima oleh udara. Adapun efisiensi yang didapat pada run kedua dan run ktiga
berturut-turut adalah 47,65% dan 95,23%. Pada run ketiga didapatkan efisiensi yang lebih
tinggi karena unggun yang dikeringkan pada run ketiga lebih sedikit. Tidak ada perhitungan
efisiensi neraca energi pada ru pertama karena run pertama tidak digunakan steam sebagai
pemanas udara.
Proses pengeringan dapat berjalan optimal pada pada suhu tertentu. Dan semakin
kering udara yang digunakan maka proses pengeringan berjalan lebih cepat. Kemudian,
pengeringan tidak boleh dilakukan terlalu lama apalagi dengan suhu yang tinggi, karena
dapat merusak bahan unggun.

Oleh Rinaldi Adiwiguna (NIM. 121424028)


Pengering zat padat dapat diartikan pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair lain
dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan zat cair di dalam zat padat itu sampai
suatu nilai tertentu sesuai kebutuhan.
Pengering unggun termasuk alat pengering secara tidak langsung, karena steam tidak
bersentuhan langsung dengan zat padat yang akan dikeringkan, melainkan digunakan media
udara tekan untuk mengeringkan zat padat. Besarnya kecepatan udara tekan yang dialirkan
melalui zat padat disesuaikan sehingga dapat memfluidisasikan hamparan zat padat.
Metode pengering unggun cocok digunakan untuk mengeringkan zat padat untuk
kebutuhan farmasi (padatan steril) dan produk makanan, karena kipas yang digunakan untuk
menghisap udara yang ada didalam wadah unggun di lengkapi filter sehingga kotorankotoran dari udara luar tidak akan masuk kedalam unggun.
Pada praktikum dilakukan proses pengeringan ketumbar basah dalam suatu silinder
pengering, dengan menggunakan udara panas. Laju udara panas disesuaikan sampai semua
beras basah terfluidisasi. Praktikum dilakukan sebanyak 3 kali run, pertama dilakukan proses
cooling yaitu proses fluidisasi dengan menggunakan udara tekan tanpa pemanasan dalam
waktu 50 menit. Selanjutnya Praktikum dilakukan dengan udara tekan menggunakan
pemanasan, dalam waktu 50 menit. Setelah 50 menit laju udara panas yang masuk dihentikan
dan setiap 5 menit sekali diambil data berupa Tw, Td, ketinggian unggun dan laju udara nya.
Percobaan dilakukan dengan variasi berat beras yaitu 0,5 dan 0,4 Kg.

Berdasarkan praktikum, didapatkan data sebagai berikut :


Run

%Unggun

unggun

neraca energi

teruapkan
1
83,33%
19,92%
2
150%
3,15%
47,65%
3
116%
12,1%
95,23%
Air yang teruapkan pada run 1 tidak mencapai 100%, hal tersebut diakibatkan karena
pada run 1, proses pengeringan tidak dilakukan pemanasan sehingga masih tersisa air pada
ketumbar. Sedangkan run 2 jauh lebih dari 100% disebabkan ketumbar yang digunakan pada
run 2 adalah ketumbar yang berhamburan pada run 1 yang telah mengandung banyak air,
sehingga berat air yang terkandung dalam ketumbar awal tidak terhitung. Untuk run 2 dan 3
berat air yang teruapkan lebih dari 100% dikarenakan ketumbar yang digunakan bukan
ketumbar yang benar-benar kering, dan juga terjadi pengurangan masa ketumbar yang
diakibatkan suhu udara tekan yang terlalu panas, sehingga kadar cairan yang terkandung
dalam ketumbar ikut teruapkan. Efisiensi unggun terbesar adalah pada run 1, seharusnya
efisiensi terbersar tedapat pada run 2 atau 3 karena memakai pemanasan. Efisiensi neraca
energi terbesar terdapat pada run 3, hal tersebut dikarenakan berat ketumbar pada run 3 lebih
sedikit daripada berat ketumbar pada run 2.
Berikut faktor yang mempengaruhi pengeringan :

Suhu: Makin tinggi suhu udara maka pengeringan akan semakin cepat
Kecepatan aliran udara pengering: Semakin cepat udara maka pengeringan akan

semakin cepat
Kelembaban udara: Makin lembab udara, proses pengeringan akan semakin lambat
Arah aliran udara: Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi bahan, maka bahan

semakin cepat kering


Ukuran bahan: Makin kecil ukuran benda, pengeringan akan makin cepat
Kadar air: Makin sedikit air yang dikandung, pengeringan akan makin cepat.
Untuk berat bahan yang berbeda maka kecepatan minimum fluidisasinya akan

berbeda dan kecepatan udara yang di butuhkan untuk terfluidisasi akan berbeda. Seperti yang
sudah di jelaskan pada factor diatas ketika bahan tersebut semakin berat maka kebutuhan
kecepatan udara harus lebih besar dan kecepatan minimum fluidisasinya juga akan semakin
besar karena tekanan yang di butuhkan akan semakin besar untuk mendorong partikel keatas.
Semakin besar laju alir udara, penurunan tekanan semakin besar, tetapi ada saat
dimana penurunan tekanan mencapai titik maksimum. Saat penurunan tekanan mencapai titik

maksimum, maka beras basah terfluidisasi. Titik maksimum tersebut dinamakan titik
fluidisasi.

IV.

Kesimpulan
Pengeringan bahan melalui alat fluidized bed dryer memanfaatkan aliran udara
kering untuk menghamburkan bahan di dalam unggun sehingga memiliki sifat

seperti fluida.
Nilai efisiensi unggun tertinggi didapatkan pada proses pengeringan tanpa
menggunakan steam pemanas. Seharusnya efisiensi unggun akan lebih besar ketika
menggunakan steam pemanas. Hal ini terjadi dikarenakan tidak konstannya suhu

masuk dan aliran steam masuk.


Semakin sedikit bahan yang dikeringkan dan kadar air dalam bahan, maka semakin
cepat proses pengeringan bahan berlangsung, dibuktikan dengan tingginya nilai

efisiensi unggun dan efisiensi neraca energi yang dihasilkan.


Proses pengeringan bahan akan berjalan optimal ketika suhu proses tidak terlalu
tinnggi dan tidak terlalu rendah, suhu proses optimal sebesar 50C. Selain itu,
proses pengeringan juga akan optimal keetika waktu pengeringan tidak terlalu lama
karena akan merusak bahan.

Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia Pilot Plant. Bandung : Politeknik
Negeri Bandung
Rahayu, Tri. 2012. Teknik Pengeringan dengan Fluidized Bed Dryer.
http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/22/teknikpengeringan-dengan-fluidized-bed-dryer/
Diakses
tanggal
6
November 2014

Lampiran

Unggun yang terfluidisasi

Panel pengendali alat

Pengukuran kecepatan udara masuk dan udara keluar menggunakan anemometer

Pengukuran suhu udara masuk dan udara keluar menggunakan termometer ayun

Indikator tekanan steam

Indikator tekanan udara tekan