Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum

Biokimia Umum

Hari/tanggal
Waktu
PJP
Asisten

: Rabu/14 Mei 2014


: 14.00-17.00 WIB
: Rahadian Pratama, M.Si
: Syahdan Sayidah Ulfah
Ayu Kartika
Hermanto
Amar Husna

PENENTUAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH


Kelompok 7
Nurul Hikmawati
B04130053
Munawarah Syam
B04130089
Nuzula Ramadian
B04130131
Aisyah Nurlatifah
B04130176

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena
mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam,
glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal
mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg
tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan
sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan
kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau
kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah
(Poedjiadi 1994).
Glukosa di dalam darah dikendalikan oleh beberapa mekanisme
homeostatik yang dalam keadaan sehat, mempertahankan kadar dalam rentang 70
sampai 110 mg/dL dalam keadaan puasa. Setelah ingesti makanan yang
mengandung banyak glukosa, secara normal kadar glukosa darah tidak melebihi
170 mg/dL. Banyak hormon ikut serta dalam mempertahankan kadar glukosa
darah yang adekuat baik dalam keadaan normal (steady-state) maupun sebagai
respon terhadap stres. Beberapa hormon yang mempengaruhi kadar glukosa darah
antara lain yaitu hormon insulin, somatostatin, glukagon, epinefrin, kortisol,
ACTH, hormon pertumbuhan, dan tiroksin. Pengukuran glukosa darah sering
dilakukan untuk memantau keberhasilan mekanisme-mekanisme regulatorik ini.
Penyimpangan yang berlebihan dari normal, baik terlalu tinggi atau terlalu rendah,
mengisyaratkan gangguan homeostatis (Sacher dan Richard 2007).
Kadar glukosa darah meningkat seiring dengan pencernaan dan
penyerapan glukosa dari makanan. Pada individu sehat dan normal, kadar tersebut
tidak melebihi sekitar 140 mg/dL karena jaringan akan menyerap glukosa dari
darah, menyimpannya untuk digunakan kemudian atau mengoksidasinya untuk
menghasilkan energi. Apabila kadar glukosa terus meningkat setelah makan,
konsentrasi glukosa yang tinggi dapat menyebabkan keluarnya air dari jaringan
akibat efek osmotik glukosa. Jaringan akan mengalami dehidrasi dan fungsinya
akan terganggu. Dehidrasi otak dapat menyebabkan koma hiperosmolar. Di sisi
lain, apabila kadar glukosa darah terus turun setelah makan, jaringan yang

bergantung pada glukosa akan mengalami kekurangan energi. Apabila kadar


glukosa turun secara mendadak, otak tidak mampu membentuk ATP dalam jumlah
memadai. Akan timbul pusing dan kepala terasa ringan, diikuti oleh mengantuk,
dan akhirnya koma. Konsekuensi kelebihan atau kekurangan glukosa yang
berbahaya dalam keadaan normal dihindari karena tubuh mampu mengatur kadar
glukosa darahnya (Marks 2000).
Praktikum ini bertujuan menentukan kadar gula pereduksi (glukosa) dalam
darah dengan metode spektrofotometri, melakukan pemisahan/isolasi suatu
makromolekul polisakarida dalam jaringan hewan, dan mengamati perbedaan
hidrolisis glikogen oleh enzim dan oleh asam mineral.

METODE PRAKTIKUM
Tempat dan Waktu
Praktikum dilakukan di Laboratorium Biokimia, Departemen Biokimia,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Waktu pelaksanaan pada hari Rabu,
tanggal 14 Mei 2014 pukul 14.00-17.00 WIB.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung Folin Wu,
tabung reaksi, Erlenmeyer, pipet Mohr, pipet tetes, corong, kertas saring, gelas
piala, spektrofotometer, dan penangas air.
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah akuades, Na-wolframat 10
%, H2SO4 0.67 N, standar glukosa, larutan kupritartrat, dan pereaksi
fosfomolibdat.
Prosedur Praktikum
Penentuan kadar glukosa dalam darah. Sebanyak 1 mL darah dipipet ke
dalam tabung erlenmeyer kecil. Sebanyak 7 mL akuades, 1 mL Na-wolframat dan
1 mL H2SO4 ditambahkan tetes demi tetes. Larutan dicampurkan baik-baik,
kemudian saring dengan kertas saring. Sebanyak 3 tabung Folin Wu disiapkan.
Pada tabung pertama diisi dengan filtrat darah 1 mL dan kupritartrat 1 mL. Pada

tabung kedua diisi dengan standar glukosa 1 mL dan kupritartrat 1 mL. Serta pada
tabung ketiga diisi dengan akuades 1 mL dan kupritartrat 1 mL. Ketiga tabung
dipanaskan dalam air mendidih selama 8 menit tepat. Tabung didinginkan dan
diencerkan dengan 7 mL akuades. Pada masing-masing tabung ditambahkan
fosfomolibdat 1 mL. Intensitas warna larutan dalam tabung diperiksa dalam
spektrofotometer dengan panjang gelombang 660 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Metode Follin Wu, metode ini digunakan dalam analisis kuantitatif gula
dalam darah. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin Wu
adalah ion kupri akan direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan
mengendap menjadi Cu2O. Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan melarutkan
Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua, karena ada oksida Mo. Dengan
demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk berhubungan linier dengan banyaknya
glukosa di dalam darah. Filtrat yang berwarna biru tua yang terbentuk akibat
melarutnya Cu2O karena oksida Mo dapat diukur kadar glukosanya dengan
menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm. Metode ini
memiliki beberapa keuntungan, antara lain hanya dibutuhkan dua pelarut, filtrat
yang terbentuk lebih netral, dan proses filtrasi lebih cepat (Kuswurj 2009).
Fungsi penambahan akuades adalah mengencerkan darah sehingga
albumin dalam darah akan larut oleh akuades. Albumin adalah protein yang dapat
larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum
darah dan putih telur (Poedjiadi 1994). Penambahan Na-wolframat bertujuan
mengendapkan albumin yang terlarut dalam air. H 2SO4 berfungsi sebagai
katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh Na-wolframat.
Fosfomolibdat ditambahkan pada setiap tabung, penambahan H2SO4 0,67 N juga
bertujuan menciptakan suasana asam karena reaksi dengan fosfomolibdat terjadi
pada suasana asam. Penggunaan panjang gelombang

660 nm, karena pada

panjang gelombang tersebut akan mengalami absorbsi yang terbesar dan


menunjukkan panjang gelombang maksimal (Harbome 1987).

Hewan pemamah-biak memiliki kadar glukosa dalam darah yang


cenderung rendah, yaitu sekitar 2.2 mmol/L pada domba dan 3.3 mmol/L pada
sapi (Murray et al. 2003) atau sebanding dengan 59.4 mg/dL. Kadar yang rendah
ini berhubungan dengan kenyataan bahwa pada hakekatnya hewan pemamah-biak
akan memfermentasikan semua karbohidrat dalam pakannya menjadi asam lemak
yang lebih rendah (mudah menguap). Asam lemak ini dapat menggantikan
glukosa sebagai bahan bakar utama metabolik jaringan dalam keadaan kenyang
(Berkman 1953).
Hasil pengukuran kadar glukosa dalam darah yang telah diuji praktikum
ini menunjukkan bahwa kadar glukosa sampel satu sebesar 0,605 mg/dL, dan
kadar glukosa sampel dua sebesar 1,028 mg/dL sesuai dengan literatur yang
menyatakan bahwa pemamah biak memiliki kadar glukosa yang rendah. Tetapi
hasil perhitungan kadar glukosa dalam praktikum jauh lebih rendah dari literatur.
Hal ini dapat disebabkan karena darah sampel terlalu encer pada saat pengenceran
dan kondisi probandus yang tidak sehat.
Kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh aktifitas tubuh, kesehatan
dan faktor genetik. Glukosa akan diuraikan dalam sel untuk menghasilkan tenaga.
Gula darah meningkat setelah kita makan atau minum sesuatu yang bukan air
putih biasa. Kadar glukosa yang tinggi, yang disebut hiperglisemia, merupakan
tanda penyakit diabetes mellitus. Gula darah yang tinggi lambat laun dapat
merusak mata, saraf, ginjal atau jantung. Gula darah yang rendah, yang disebut
hipoglisemia, dapat menyebabkan kelelahan (Girindra 1989). Pengujian kadar
glukosa dalam darah juga dapat dilakukan dengan metode spektofotometri.

Tabel 1 Hasil Uji Penentuan Kadar Glukosa dalam Darah


Tabung

Absorban Terukur (A)

Kadar Glukosa
(mg/dL)

Absorban Terkoreksi
(A)

Blanko

0.011

Sample 1

0.070

0.605

0.059

Sampel 2

0.119

1.028

0.108

Standar

1.157

Pengolahan Data
Absorban sampel terkoreksi

= absorban sampel 1 absorban blanko


= 0.070-0.011
= 0.059 A

Kadar glukosa sampel 1

x C standar

x 10 mg/dL

= 0.605 mg/dL
Absorban sampel terkoreksi

= absorban sampel 2 absorban blanko


= 0.119-0.011
= 0.108 A

Kadar glukosa sampel 2

x C standar

x 10 mg/dL

= 1.028 mg/dL

SIMPULAN
Metode Follin-Wu dapat digunakan untuk menentukan kadar glukosa
dalam darah. Metode ini menggunakan spektrofotometri. Kadar glukosa dari
darah sapi yang diuji mempunyai nilai sebesar 0,605 mg/dL dan 1.028
mg/dL. Kadar glukosa tersebut bernilai lebih rendah dari literatur karena darah
sampel terlalu encer pada saat pengenceran dan kondisi probandus yang tidak
sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Berkman S, Henry RJ, Golub OJ, Segalove M. 1953. Tungstic Acid and
Precipitation of Blood Proteins. The Journal of Biological Chemistry. 937943. [terhubung berkala]. http://www.jbc.org. [19 Mei 2014].
Girindra A. 1989. Biokimia Patologi. Bogor: IPB.

Harbome. 1987. Analisis Fisikokimia. Jakarta: UI Press.


Kuswurj R. 2009. Penentuan kadar gula reduksi nira tebu. [terhubung berkala].
http://www.risvank.com/tag/lane-eynon.htm [19 Mei 2014]
Marks, Dawn B. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Murray RK. et al. 2003. Biokimia Harper, edisi 25. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta.
Sacher, Richard. 2007. Laboratorium: Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.