Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan
oleh bakteri dapat terlokalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor penyebab
timbulnya otitis eksterna ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal
dan alergi. Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang
menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma
lokal yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan
eksudat.
Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),
strepokokus (22%), stafilokokus.aureus (15%) dan bakteroides (11%). Otitis
eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang
telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap
pembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi
bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus
dan proteus, atau jamur.
Penyakit ini merupakan penyakit telinga bagian luar yang sering dijumpai,
disamping penyakit telinga lainnya. Berdasarkan data yang dikumpulkan mulai
tanggal Januari 2000 s/d Desember 2000 di Poliklinik THT RS H.Adam Malik
Medan didapati 10746 kunjungan baru dimana, dijumpai 867 kasus (8,07 %) otitis
eksterna, 282 kasus (2,62 %) otitis eksterna difusa dan 585 kasus (5,44 %) otitis
eksterna sirkumskripta. Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang
panas dan lembab dan jarang pada iklim- iklim sejuk dan kering.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Anatomi Dan Fisiologi


Anatomi telinga terdiri dari :
1. Telinga bagian luar
a. Aurikula
Terdiri dari kartilago elasin yang ditutupi kulit. Tidak ada kartilago pada
lobus, yang hanya tersusun dari lemak dan jaringan ikat. Aurikula dapat
digerakkan sedikit oleh tiga otot kecil yang berjalan menuju aurikula dari
aponeurosis cranial dan tengkorak.
b. Meatus Akustikus Eksterna
Batas antara telinga luar dan telinga tengah adalah membran timpani. 2/3
bagian dalam tersusun oleh tulang, dan 1/3 luar tersusun oleh tulang
rawanyang bersambungan dengan daun telinga. Meatus berbentuk oval pada
potongan melintang pada ujung lateral, bulat pada ujunga medial.
c. Membran Timpani
2. Telinga bagian tengah
a.

Kavum Timpany ( telinga tengah ) Merupakan rongga kecil, agak

memanjang di dalam pars petrosa os temporal.


b.

Antrum Timpany

c.

Tuba Auditiva Eustachii.

3. Telinga bagian dalam


a.

Labirintus Osseus

Rangkaian rongga yang saling berhubungan


b. Labirintus Membranosus
Kantong tertutup di dalam labirin oseosa dan kurang lebih memiliki bentuk
yang sama.

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai
membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit.
Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga
bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang.
Panjangnya kira-kira 2 3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang
telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut.
Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga
bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.
Telinga adalah organ sensoris yang berfungsi dalam hal
pendengaran dan keseimbangan. Telinga luar berfungsi untuk mengumpulkan
dan melokalisasi suara. Telinga luar terdiri dari pinna dan kanalis eksterna.
Pinna terbentuk dari kartilago elastis yang dibalut dengan kulit. Kulit ini
melekat baik dengan perikondrium yang ada pada permukaan luar dari pinna.
Kadang terdapat hematom yang dapat melepaskan ikatan ini dan akan
menyebabkan devaskularisasi dari kartilago itu sendiri. Kekurangan kartilago
pada kanalis eksterna dapat membantu penyebaran infeksi dan malignansi
dari parotis dan basis kranii
Anatomi-Fisiologi Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang
telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga
bagian luar sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari
tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm.

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kalenjar
serumen (modifikasi kalenjar keringat = kalenjar serumen) dan rambut.
Kalenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga
bagian dalam hanya sedikit dijumpai serumen.

Telinga luar termasuk aurikula atau pinna dan liang telinga. Telinga luar
berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke
struktur-struktur telinga tengah. Karena keunikan anatomi aurikula serta
konfigurasi liang telinga yang melengkung atau seperti spiral maka telinga

luar mampu melindungi membrana timpani dari trauma, benda asing dan
efek termal.

Panjang liang telinga kira-kira 2,5 cm, membentang dari bibir depan konka
hingga membrana timpani. Bagian tersempit dari liang telinga adalah dekat
perbatasan tulang dan tulang rawan. Hanya sepertiga bagian luar atau
bagian kartilaginosa dari liang telinga yang dapat bergerak. Jika
menggunakan otoskop, aurikula biasanya harus ditarik ke posterolateral
untuk dapat melihat bagian tulang dan membran timpani. Bersama dengan
lapisan luar membran timpani, liang telinga membentuk suatu kantung
berlapis epitel yang dapat merangkap kelembaban sehingga daerah ini
menjadi rentan infeksi pada keadaan tertentu.

Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian
tulang, selain itu juga mangandung folikel rambut yang banyaknya
bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar
dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik
karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung
terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian
daerah ini sangat peka dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena
tidak terdapat ruang untuk ekspansi.

Salah satu cara perlindungan yang diberikan telinga luar adalah


pembentukan serumen. Sebagian struktur kalenjar terletak pada bagian
kartilaginosa. Eksfoliasi sel-sel stratum korneum ikut pula berperan dalam
pembentukan materi yang membentuk suatu lapisan pelindung penolak air
pada dinding kanalis ini. pH gabungan pada bagian ini adalah sekitar 6,
suatu faktor tambahan yang berfungsi mencegah infeksi lagipula migrasi
sel-sel epitel yang terlepas membentuk suatu mekanisme pembersihan
sendiri dari membran timpani kearah luar.

Struktur yang unik dari canalis auditoris eksterna memudahkan terjadi


otitis eksterna. Canalis auditoris eksterna lembab, hangat dan gelap, hal ini
merupakan lingkungan yang bagus untuk perkembangan jamur dan
bakteri. Kulit sangat tipis dan miskin jaringan lunak subkutis sehingga
akan terjadi penekanan langsung pada perikondrium. Canalis auditoris

externa mempunyai pertahanan yang spesifik. Serumen berubah menjadi


asam yang mengandung lisozim dan substansi lain yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Selain itu juga adanya
epitelial yang unik juga dapat memberikan perlindungan pada kanalis
auditoris eksterna. Ketika pertahanan itu terganggu atau rusuk maka dapat
menyebabkan otitis eksterna.

Fisiologi Telinga
1.

Fungsi Akustik

Telinga luar berperan sebagai suatu antena akustik. Pinna (bersama dengan
kepala) memfokuskan gelombang suara, konka dan kanalis eksterna sebagai
resonator. Baik level tekanan suara maupun fase dari gelombang akustik
berganti saat menjalar dari sebuah ruang menuju gendang telinga melewati
telinga luar. Perubahan ini bervariasi dalam hal frekuensi suara maupun setiap
arah dari gelombang suara yang datang tersebut.
Telinga luar berfungsi sebagai amplifier langsung dari suara. Dinyatakan
bahwa struktur yang kompleks dari pinna dan kanalis eksterna merupakan
komponen signifikan bagi seseorang untuk dapat mengenali dan melokalisasi
sumber suara pada suatu ruangan

2.

Fungsi Non-akustik

Fungsi proteksi dari telinga luar ini sangat tergantung dari struktur
anatomisnya. Kedalaman dari kanalis akustikus eksterna serta bentuk dan
dindingnya memberikan proteksi dari membrana timpani serta telinga tengah
di belakangnya dari trauma secara langsung. Kanalisnya sendiri memiliki
fungsi self-cleaning yang akan selalu melindungi jalan suara bersih dari
debris.

Gambar 2.1 Anatomi Telinga


2.2.

Otitis Eksterna
A. Definisi
Otitis Eksterna adalah radang liang telinga akut meupun kronis yang
disebabkan oleh bakteri. Di klinik, seringkali sukar dibedakan peradangan
yang disebabkan oleh penyebab lain, seperti jamur, alergi (eksim) atau
virus, sebab seringkali timbul secara bersama-sama.
Factor-faktor yang mempengaruhi otitis eksterna :

Perubahan kulit kanalis yang biasaya asam atau normal berubah


menjadi basa (pH yang basa akan menurunkan proteksi terhadap
infeksi).

Perubahan lingkungan terutama gabungan peningkatan suhu dan


kelembapan (udara hangat dan lembab).

Trauma ringan, seringkali oleh karena membersihkan telinga secara


berlebihan atau berenang yang menyebabkan perubahan kulit
karena terkena air.

B. Epidemiologi
Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari
1000 orang, kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda.Terdiri dari
inflamasi, iritasi atau infeksi pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat
pemaparan terhadap air, trauma mekanik dan goresan atau benda asing dalam
liang telinga. Berenang dalam air yang tercemar merupakan salah satu cara
terjadinya otitis eksterna (swimmers ear). Bentuk yang paling umum adalah
bentuk boil (Furunkulosis) salah satu dari satu kelenjar sebasea 1/3 liang
telinga luar. Pada otitis eksterna difusa disini proses patologis membatasi kulit
sebagian kartilago dari otitis liang telinga luar, konka daun telinga
penyebabnya idiopatik, trauma, iritan, bakteri atau fungal, alergi dan
lingkungan. Kebanyakan disebabkan alergi pemakaian topikal obat tetes
telinga. Alergen yang paling sering adalah antibiotik, contohnya: neomycin,
framycetyn, gentamicin, polimixin, anti bakteri dan anti histamin. Sensitifitas
poten lainnya adalah metal dan khususnya nikel yang sering muncul pada
kertas dan klip rambut yang mungkin digunakan untuk mengorek telinga.
Infeksi merupakan penyakit yang paling umum dari liang telinga luar seperti
otitis eksterna difusa akut pada lingkungan yang lembab.
C. Etiologi
Pada umumnya penyebab dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri seperti
Staphyilococcus aureus, Staphylococcus albus, E. colli. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh penyebaran yang luas dari proses dermatologis yang

non-infeksius
Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari 1000
orang, kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda.Terdiri dari
inflamasi, iritasi atau infeksi pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat
pemaparan terhadap air, trauma mekanik dan goresan atau benda asing
dalam liang telinga. Berenang dalam air yang tercemar merupakan salah

satu cara terjadinya otitis eksterna.


Bentuk yang paling umum adalah bentuk boil (Furunkulosis) salah satu
dari satu kelenjar sebasea 1/3 liang telinga luar. Pada otitis eksterna difusa
disini proses patologis membatasi kulit sebagian kartilago dari otitis liang
telinga luar, konka daun telinga penyebabnya idiopatik, trauma, iritan,
7

bakteri atau fungal, alergi dan lingkungan. Kebanyakan disebabkan alergi


pemakaian topikal obat tetes telinga. Alergen yang paling sering adalah
antibiotik, contohnya: neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, anti

baktei dan anti histamin.


Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan khususnya nikel yang sering
muncul pada kertas dan klip rambut yang mungkin digunakan untuk
mengorek telinga. Infeksi merupakan penyakit yang paling umum dari
liang telinga luar seperti otitis eksterna difusa akut pada lingkungan yang
lembab.

D. Klasifikasi
Otitis Eksterna Akut
Terdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna
sirkumskripta dan otitis eksterna difus.
1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel = Bisul). Oleh karena kulit di
sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit seperti folikel
rambut, kalenjar sebasea dan kalenjar serumen maka di tempat itu dapat
terjadi infeksi pada pilosebaseus sehingga membentuk furunkel. Kuman
penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus.
Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal
ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan
longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan
perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka
mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan
pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga. Terapinya
tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi
secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika
dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitrasin atau antiseptic
(asam asetat 2-5% dalam alcohol 2%). Kalau dinding furunkel tebal,
dilakukan incise kemudian dipasang drain untuk mengalirkan nanahnya.
Biasanya tidak perlu diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat

penenang.
2. Otitis Eksterna Difus Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga
dalam. Tampak kulit liang telinga dalam. Tampak kulit liang telinga
hiperemis dan edema dengan tidak jelas batasnya serta terdapat furunkel.
Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif
kronis. Gejalanya sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadangkadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir
(musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum timpani pada otitis media.
Pengobatannya ialah dengan memasukkan tampon tampon yang
mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik
antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan
antibiotika sistemik.
3. Otomitosis infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban
yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus.
Kadang-kadang ditemukan juga kandida albicans atau jamur lain.
Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga tetapi
sering pula tanpa keluhan (Sosialisman dan Helmi, 2001). Pengobatannya
ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2-5% dalam
alcohol yang diteteskan ke liang telinga. Kadang-kadang diperlukan obat
antijamur sebagai salep yang diberikan secara topical.
4. Infeksi Kronis Liang Telinga Infeksi bakteri maupun jamur yang tidak
diobati dengan baik, trauma berulang, adanya benda asing, penggunaan
cetakan (mould) pada alat Bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkan
radang kronis. Akibatnya terjadi penyempitan liang telinga oleh
pembentukan jaringan parut atau sikatriks. Pengobatannya memerlukan
operasi rekonstruksi liang telinga.
5. Keratosis Obliteran dan Kolesteatoma Externa Keratosis obliterans adalah
kelainan yang jarang terjadi. Biasanya secara kebetulan ditemukan pada
pasien dengan rasa penuh di telinga. Penyakit ini ditandai dengan
penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga sehingga membentuk

gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Bila tidak
ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang
telinga yang sering disebut sebagai kolesteatoma yang disertai dengan rasa
nyeri yang hebat akibat peradangan setempat. Etiologinya belum
diketahui, sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik seperti
bronkiektasis juga pada pasien sinusitis. Pemberian obat tetes telinga
campuran alkohol atau gliserin dalam peroksida 3% selama 3 kali
seminggu merupakan pengobatan dari penyakit ini. Pada pasien yang telah
mengalami erosi dilakukan tindakan bedah .
6. Otitis Externa Maligna Otitis eksterna maligna merupakan tipe dari infeksi
akut yang difus yang biasanya terjadi pada penderita penyakit diabetes
mellitus. Radang dapat meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan
organ sekitarnya sehingga dapat menimbulkan kelainan berupa kondritis,
oeteitis, dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran tulang
temporal. Gejalanya rasa gatal yang diikuti nyeri yang hebat dan sekret
yang banyak serta pembengkakkan liang telinga. Saraf fasial dapat terkena
sehingga dapat menimbulkan paresis atau paralysis facial. Pengobatan
tidak boleh ditunda-tunda yaitu dengan pemberian antibiotic dosis tinggi
yang dikombinasi dengan amino glikosid. Disamping obat-obatan, juga
diperlukan tindakan debrideman.

E. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik pada sinusitis biasanya sangat bervariasi. Sinusitis
maksilaris akut biasanya menyusul suatu infeksi saluran nafas atas yang
ringan. Alergi hidung kronik, benda asing, dan deviasi septum merupakan
predisposisinya. Gejala infeksi sinus maksilaris akut berupa demam,
malaise, nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian
analgetik biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh, dan gigi
terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau
turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan
menusuk, serta nyeri pada perkusi dan palpasi. Sekret mukopurulen dapat
keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk iritatif nonproduktif

10

seringkali ada. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya pus dalam hidung,


biasanya dari meatus media, atau pus dalam nasofaring sinus maksilaris
terasa nyeri pada perkusi dan palpasi.
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa
rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti
terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit
sering merupakan gejala yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan
gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya tidak
sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan
kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan
dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagi pula, kulit
dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun
telinga akan dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar
dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis
eksterna.
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada
tahap awal dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya
rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan
pendahulu rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada
kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak
merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta. Pada
otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari
otitis eksterna akut. Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau
purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama,
sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli
konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obatobatan yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang
mengakibatkan peredaman hantaran suara
F. Patofisiologi
11

Otitis eksterna adalah penyakit yang sering diderita oleh semua


orang. Otitis eksterna seringkali ditunjukkan adanya infeksi bakteri akut
dari kulit canalis auricularis tapi juga dapat disebabkan adanya infeksi
jamur. Adanya lekukan pada liang telinga dan adanya kelembaban dapat
menyebabkan laserasi dari kulit dan merupakan media yang bagus untuk
pertumbuhan bakteri. Hal ini sering terjadi setelah berenang dan mandi.
Otitis eksterna ini sering terjadi jika suasana panas dan lembab
Faktor lain yang dapat menyebabkan otitis eksterna adalah
adanya trauma pada liang telinga yang diikuti invasi bakteri kedalam
kulit yang rusak trauma ini sering terjadi akibat dari pembersihan liang
teling dengan cotton bud ataupun alat lain yang dimasukkan ke dalam
telinga. Selain itu masuknya air atau bahan iritan atau hair spray atau cat
rambut dapat menyebabkan otitis eksterna.
Sebagai akibatnya terjadi respon inflamasi, edema dan
pembengkakan liang telinga yang akan menyebabkan visualisasi
membran timpani terganggu. Eksudat dan pus dapat terproduksi di liang
telinga. Pada keadaan yang berat, infeksi dapat meluas pada wajah dan
leher. Kuman pathogen yang sering kali menyebabkan otitis eksterna
adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan bakteri
gram negatif lainnya. Meskipun demikian, jamur, seperti Candida atau
Aspergilus sp dapat menyebabkan otitis eksterna.
Hal ini terjadi karena adanya penimbunan sel-sel kulit yang
mati dan serumen yang menumpuk didaerah dekat gendang telinga
menyebabkan penimbunan air yang masuk ke liang telinga ketika mandi
atau berenang sehingga kulit pada liang telinga basah dan lembut.
Otitis eksterna maligna merupakan komplikasi dari otitis
eksterna yang terjadi pada pasien yang mengalami imunocompresi atau
pasien yang mendapatkan radioterapi pada tulang kepala. Pada kondisi
ini bakteri akan meninvasi jaringan lunak yang dalam dan menyebabkan
oeteomielitis pada os temporal.
12

G. Diagnosa Banding
Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara lain
meliputi :
- Otitis eksterna nekrotik
- Otitis eksterna bullosa
- Otitis eksterna granulosa
- Perikondritis yang berulang
- Kondritis
- Furunkulosis dan karbunkulosis
- dermatitis, seperti psoriasis dan dermatitis seboroika.
Karsinoma liang telinga luar yang mungkin tampak seperti infeksi stadium dini
diragukan dengan proses infeksi, sering diobati kurang sempurna. Tumor ganas
yang paling sering adalah squamous sel karsinoma, walaupun tumor primer
seperti seruminoma, kista adenoid, metastase karsinoma mamma, karsinoma
prostat, small (oat) cell dan karsinoma sel renal. Adanya rasa sakit pada
daerah mastoid terutama dari tumor ganas dan dapat disingkirkan dengan
melakukan pemeriksaan biopsi.
H. Pemeriksaan Penunjang
1.Tes laboratorium, pemeriksaan kultur dan sensitifitas antibiotik.
2.Tes audiometrik, memperlihatkan dan mendokumentasikan jumlah
kehilangan pendengaran dan gangguan pada telinga luar.
3. CT-Scan tulang tengkorak. Dengan kriteria hasil : mastoid terlihat kabur
dan ada kerusakan tulang.

I. Penatalaksanaan
1.

Antibiotik dalam bentuk salep (neomisin, Polimiksin B atau Basitrasin).

2. Antiseptik (asam asestat 2-5% dalam alkohol 2%) atau tampon iktiol
dalm liang telinga selama 2 hari.
3. Bila furunkel menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan
nanahnya.
13

4. Insisi bila dinding furunkel tebal, kemudian kemudian dipasang drain


untuk mengalirkan nanah.
5 Obat simptomatik : analgetik, obat penenang.
Pengobatan otitis eksterna dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

membersihkan telinga, pengobatan topikal menggunakan topikal


insektisida, biasanya terdiri dari obat telinga yang dioleskan ke dalam
telinga satu atau dua kali sehari.

pemberian steroid untuk mengurangi nyeri dan peradangan

terapi antibiotik untuk menghindari infeksi bakterial akut atau ulcerasi

terapi antifungal untuk menghindari infeksi jamur

terapi anti alergi serta ivermectin untuk parasit telinga eksternal (infestasi
Otodectes).

Tindakan pengobatan yang dilakukan berbeda-beda tergantung


penyebab otitisnya. Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan
anti

radang bisa diberikan

bila

terjadi infeksi bakteri dan

pembengkakan. Obat tetes telinga yang mengandung anti ektoparasit


atau injeksi obat golongan ivermectin dan selemectin bisa diberikan
bila otitis disebabkan oleh tungau telinga atau ekto parasit lain.
Pemberian obat-obatan ini harus mengikuti siklus hidup parasit
tersebut.Untuk

kasus

tumor

atau

polip,

diperlukan

tindakan

operasi/bedah untuk mengangkat jaringan yang abnormal. Otitis yang


disebabkan oleh alergi dan gangguan hormon memerlukan tindakan
pengobatan secara menyeluruh dan sistematis.Seringkali pengobatan
hanya bersifat mengurangi efek saja, karena penyebab utamanya

(alergi atau gangguan hormon) memang relatif sulit disembuhkan.


Liang telinga dibersihkan dengan menggunakan kapas lidi.
Pemasangan tampon pita cm x 5 cm yang telah dibasahi dengan
larutan Burowi filtrata pada MAE. Tampon secukupnya, tidak boleh
diletakkan terlalu ke dalam (nyeri/bahaya melukai membran timpani,
sulit mengeluarkan).

14

Tampon setiap 2-3 jam sekali ditetesi dengan larutan Burowi agar tetap
basah. Tampon diganti setiap hari. Larutan Burowi dapat diganti

dengan tetes telinga yang mengandung steroid dan antibiotik.


Apabila diduga infeksi kuman Pseudomonas diberikan tetes yang

mengandung neomycine dan hydrocortisone.


Pada infeksi jamur digunakan tetes telinga larutan asam salisilat 2-5%

dalam alkohol 20%.


Pada otitis eksterna kronik difus dapat diberikan triamsinolone 0,25%
krim/salep atau dexamethasone 0,1%. Antibiotik oral tidak perlu
diberikan

BAB III
LAPORAN KASUS
1.1 Identifikasi
Nama

: Dia Kurnia

Umur

: 10 tahun

Jenis Kelamin

: laki-laki

No. RekMed

: 27.47.76

Pekerjaan

: Siswa SD

Suku/Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Lr. Taman bacaan RT 06/03 kelurahan tangga

takat.
Tanggal Kontrol Poli : 08 November 2014
1.2.

Anamnesis
Keluhan Utama

: Nyeri pada telinga sebelah kiri,

Keluhan Tambahan

: Keluar air-air pada telinga kiri

Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien datang ke poliklinik THT RSMP pada tanggal 8


november 2014 dengan keluhan nyeri pada telinga kiri sejak kurang

15

lebih dua minggu yang lalu. Nyeri kemudian menjalar ke muka dan
leher sebelah kiri.
Beberapa hari kemudian telinga os sebelah kiri menjadi
memerah dan bengkak. Seminggu kemudian keluar air-air di telinga
kiri os berwarna kuning dan agak berbau. Os tidak ada riwayat batuk
pilek.
Satu bulan yang lalu os mengaku tekinganya sering gatal
setelah selesai berenang sekitar satu bulan yang lalu, sehingga os
sering menggorek-ngorek telinganya dengan cotton bud. Os
mengaku sempat demam lalu os berobat. ke dokter keluarga di dekat
rumahnya, os diberi obat namun ibu os lupa nama obat tersebut.
Rasa nyeri sedikit berkurang namun, nyeri berulang setelah obat
habis. Keluhan keluar air-air masih dirasakan serta os mengalami
penurunan pendengaran.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Os baru pertama kali mengeluh keluhan seperti ini.Alergi obat-obatan (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama
Riwayat Pengobatan :
Os sudah berobat ke dokter umum, diberi obat makan berwarna
putih

berbentuk lonjong yang diminum tiga kali sehari.Serta obat

yang

berwarna kuning berbentuk lonjong diminum dua kali

sehari.
1.3.

Pemeriksaan Fisik
Status present
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

16

Status lokalis
Telinga
Kanan

Kiri

Normal

Hiperemis

Serumen

Otalgia

Otorrhe

Edema

Hiperemis

Sekret

Membran timpani

Kanan

Kiri

Refleks cahaya

Retraksi

Bulging

Perforasi

Luar

Kanan

Kiri

Bentuk

Normal

Normal

Inflamasi

Nyeri tekan

Deformitas

Cavum nasi

Kanan

Kiri

Bentuk

Normal

Normal

Mukosa

Normal

Normal

Auricula
Nyeri

tekan

tragus

Hidung

17

Sekret

Konka nasi inferior Kanan

Kiri

Edema

Mukosa hiperemis

Septum nasi

Kanan

Kiri

Deviasi

Benda asing

Perdarahan

Mulut dan Tenggorokan

1.4.

Bibir

: Tidak ada kelainan

Mulut

: Tidak ada kelainan

Gigi

: Tidak ada kelainan

Lidah

: Tidak ada kelainan

Uvula

: Bentuk normal, Hiperemis (-), edema (-),

Palatum mole

: Ulkus (-), Hiperemis (-)

Faring

: Hiperemis (-)

Tonsila

Kanan

Kiri

palatina
besar
warna
Kripta

T1
normal
-

T1
normal
-

melebar
detritus

Pemeriksaan Penunjang Yang disarankan


1.Tes laboratorium, pemeriksaan kultur dan sensitifitas antibiotik.
2.Tes audiometrik, memperlihatkan dan mendokumentasikan jumlah
kehilangan pendengaran dan gangguan pada telinga luar.

1.5.

Diagnosis Banding
18

1. Otitis eksterna sirkumskripta


2. Otitis eksterna difusa
3. Otomikosis
1.6.

Diagnosis Kerja
Otitis eksterna

1.7.
Tatalaksana
1. Kausatif : - Antibiotik sistemik Amoksisilin 3x500 mg,

Antibiotik local

Ottopain 2-4 x sehari 4-5 tetes.


2. Simptomatis - Analgetik Asam mefenamat 3x500 mg, Antiinflamasi
Dexamethasone 3 x 0,5 mg.
3. Edukatif - Kontrol jika obat habis
- Minum obat secara teratur, antibiotic harus dihabiskan., telinga jangan
kemasukan air, mengurangi kebiasaan mengotek telinga dengan cotton bud.

1.9 Prognosis
Quo ad vitam: Bonam
Quo ad functionam: Dubia e bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

19

Berdasarkan laporan kasus yang telah dilaporkan seorang pasien


laki-laki , usia 10 tahun mengeluh nyeri pada telinga kiri sejak kurang lebih
dua minggu yang lalu. Nyeri kemudian menjalar ke muka dan leher sebelah
kiri. Beberapa hari kemudian telinga os sebelah kiri menjadi memerah dan
bengkak. Seminggu kemudian keluar air-air di telinga kiri os berwarna
kuning dan agak berbau. Os tidak ada riwayat batuk pilek.
Satu bulan yang lalu os mengaku tekinganya sering gatal setelah
selesai berenang sekitar satu bulan yang lalu, sehingga os sering menggorekngorek telinganya dengan cotton bud. Os mengaku sempat demam lalu os
berobat. ke dokter keluarga di dekat rumahnya, os diberi obat namun ibu os
lupa nama obat tersebut. Rasa nyeri sedikit berkurang namun, nyeri berulang
setelah obat habis. Keluhan keluar air-air masih dirasakan serta os
mengalami penurunan pendengaran. Os baru pertama kali mengeluh keluhan
seperti ini.Alergi obat-obatan (-) Tidak ada keluarga yang menderita keluhan
yang sama. Os sudah berobat ke dokter umum, diberi obat makan berwarna
putih

berbentuk lonjong yang diminum tiga kali sehari.Serta obat

yang

berwarna kuning berbentuk lonjong diminum dua kali sehari.


Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan tragus
(+) pada telinga kiri, auricular agak hiperemis, secret (+) berwarna
kekuningan. Serumen (-). Nyeri pada telinga kiri yang menjalar ke muka.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka pasien
didiagnosis menderita otitis eksterna.
Tatalaksana yang dapat diberikan pada kasus ini antara lain Antibiotik
sistemik Amoksisilin 3 kali sehari, Antibiotik local Ottopain 2-4 x sehari 45 tetes. Analgetik Asam mefenamat 3x sehari, Antiinflamasi Dexamethasone
3 x sehari. Minum obat secara teratur, antibiotic harus dihabiskan., telinga
jangan kemasukan air, mengurangi kebiasaan mengotek telinga dengan
cotton bud.

DAFTAR PUSTAKA

20

1. Adams G., Boies L., Higler P. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 1997.
2. Soepardi E., Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi
ke lima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004.
3. Mansjoer, Arif dkk.. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid
Pertama. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
4. Widodo Ario Kentjono. Rinosinusitis. Bagian / SMF llmu Kesehatan THT
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSU Dr. Soetomo Surabaya.
2004
5. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed 11. Jakarta,
EGC
6. Wayne, dkk. 2005. Lecture Notes Kedokteran Klinis. Ed VI. Jakarta;
Erlangga
7. Suardana, W. dkk. 1992. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Telinga, Hidung dan Tenggorok RSUP Denpasar. Lab/UPF Telinga
Hidung dan Tenggorok FK Unud. Denpasar.
8. Sosialisman & Helmi. 2001. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Lampiran

21