Anda di halaman 1dari 10

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

PENGARUH MODEL RECIPROCAL TEACHING TERHADAP


PEMAHAMAN KONSEP DAN MOTIVASI BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS V SD
I Gst. Ngr. Ag. Pisca Gita1, Ny. Dantes2, Sariyasa3
1, 2

Program Studi Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana


Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana


Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: pisca.gita@pasca.undiksha.ac.id1 , nyoman.dantes@pasca.undiksha.ac.id2,


sariyasa@pasca.undiksha.ac.id3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep dan motivasi
belajar antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran
konvensional. Siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini berjumlah 79 siswa
kelas V SD Gugus I kecamatan Sidemen. Jenis penelitian ini adalah penelitian
eksperimen semu dengan rancangan post-test only control group design. Data
pemahaman konsep dan motivasi belajar masing-masing dikumpulkan dengan
menggunakan tes dan kuesioner. Uji validitas tes dan kuesioner dianalisis dengan
Product Moment dengan taraf signifikan 5%. Uji reliabilitas tes dan kuesioner dilakukan
dengan menggunakan Alpha Cronbach. Pengujian hipotesis menggunakan MANOVA.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa: pertama, terdapat perbedaan pemahaman
konsep Matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
Reciprocal Teaching dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (F=26,143
dan Sig.=0,000; p<0,05); kedua, terdapat perbedaan motivasi belajar Matematika antara
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Reciprocal Teaching dan siswa yang
mengikuti pembelajaran konvensional (F=45,543 dan Sig.= 0,000; p<0,05); ketiga,
secara simultan terdapat perbedaan pemahaman konsep dan motivasi belajar
Matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (F=30,244 dan
Sig.=0,000;p<0,05).
Kata kunci: Reciprocal Teaching, pemahaman konsep, motivasi belajar
Abstract
This researchs purpose to determine the differences comprehension concepts and
learning motivation between groups of students acquired Reciprocal Teaching models
learning and acquire conventional learning. The samples in this research are 79 students
Grade V Group 1 SD in Sidemen District, Karangasem regency Academic Year 2013/2014.
The research is a quasi experimental study with post-test only control group design. The
Comprehension Concepts Data and learning motivation was collected through tests and
questionnaires. Validity tests and questionnaires were analyzed through Product Moment

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
with significance level 5%. Reliability tests and questionnaires conducted using Cronbach
Alpha. Hypothesis testing using MANOVA. The data analysis found that: first, there were
differences between comprehension concepts between groups of students acquired
Reciprocal Teaching models learning and acquired conventional learning (F=26.143 and
Sig =0.000; p<0.05), and second, there were differences in mathematics learning
motivation among students acquired Reciprocal Teaching models and students acquired
conventional learning ( F = 45.543 and Sig. = 0.000 , p <0.05) ; third, there was a
difference simultaneous comprehension concepts and mathematics learning motivation
among students Reciprocal Teaching models learning and acquired conventional learning
(F=30.244 and Sig.=0.000, p<0.05).
Keywords : Reciprocal Teaching, comprehension concepts, learning motivation.

PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu dasar
yang memiliki peranan penting dalam
proses kehidupan manusia. Matematika
menjadi mata pelajaran wajib mulai dari
sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah
menengah atas (SMA). Bahkan sejak tahun
2004
dengan
kurikulum
berbasis
kompetensi (KBK), matematika dijadikan
sebagai salah satu mata pelajaran untuk
mengukur kemampuan siswa dalam ujian
akhir nasional (UAN). Mata pelajaran
matematika diberikan kepada siswa untuk
membekali kemampuan berpikir logis, kritis,
kreatif,
inovatif,
dan
kemampuan
bekerjasama.
Kemampuan
tersebut
diperlukan agar siswa dapat memperoleh,
mengelola, dan memanfaatkan informasi
untuk bertahan hidup pada keadaan yang
selalu berubah.
Menurut Hardini dan Puspitasari
(2012:159), Perkembangan pesat di bidang
teknologi informasi serta komunikasi
dewasa ini dilandasi oleh perkembangan
matematika di bidang teori bilangan aljabar,
analisis, teori peluang dan matematika
diskrit. Sejalan dengan pendapat tersebut
(BSNP, 2006) menyatakan bahwa, untuk
menguasai dan menciptakan teknologi di
masa depan diperlukan penguasaan
matematika
yang
kuat
sejak
dini.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat
dikatakan bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dilandasi oleh
matematika.
Departemen Pendidikan Nasional
(2007) menyatakan ada beberapa aspek

yang
perlu
dikembangkan
dalam
pembelajaran matematika, diantaranya
adalah pemahaman konsep, pemecahan
masalah serta penalaran dan komunikasi.
Pemahaman konsep merupakan fondasi
dari dua aspek lainnya. Pernyataan tersebut
sesuai dengan pendapat Dahar (2011: 62)
yang
menyatakan
bahwa
untuk
memecahkan masalah, seseorang harus
mengetahui aturan-aturan yang relevan dan
aturan-aturan ini didasarkan pada konsepkonsep yang diperolehnya. Berdasarkan
pendapat tersebut, pemahaman konsep
merupakan hal terpenting untuk dikuasai
siswa
untuk
mempermudah
dalam
memecahkan masalah, sebab siswa
mampu
untuk
mengaitkan
serta
memecahkan permasalahan yang di
hadapinya dengan berbekal konsep yang
sudah dipahaminya.
Namun,
mengajarkan
konsep
matematika tidaklah semudah membalikan
telapak tangan. Tidak sedikit hasil riset dan
pengkajian dalam pembelajaran matematika
yang meyakini bahwa untuk mencapai
pemahaman konsep matematika tidak
mudah. Menurut Effendi (2010), Salah satu
penyebab rendahnya pemahaman siswa
Indonesia terhadap matematika adalah
karena
dalam
proses
pembelajaran
matematika,
guru
umumnya
terlalu
berkonsentrasi pada latihan penyelesaian
soal yang lebih bersifat prosedural dan
mekanistik. Dalam kegiatan pembelajaran
guru cenderung menjelaskan konsep
dengan memberikan contoh soal yang
dilanjutkan dengan memberikan soal-soal

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
latihan. Pembelajaran yang seperti ini
merupakan
karakteristik
dari
model
pembelajaran konvensional (ekspositori).
Skinner (dalam Suparno, 1997)
menyatakan bahwa model pembelajaran
konvensional mengacu pada psikologi
behavioristik, di mana guru berperan
sebagai pusat informasi (teacher centered).
Guru tetap berperan sebagai sumber
informasi yang mengakibatkan siswa selalu
tergantung
pada
informasi
yang
disampaikan oleh guru. Guru berasumsi
bahwa keberhasilan program pembelajaran
dilihat dari ketuntasannya menyampaikan
seluruh materi yang ada dalam kurikulum.
Penekanan aktivitas belajar lebih banyak
pada
buku
teks
dan
kemampuan
mengungkapkan kembali isi buku teks
(Warpala,
2006).
Hal
ini
dapat
mengakibatkan siswa kurang memiliki
motivasi untuk belajar.
Banyak
siswa
yang
masih
beranggapan bahwa pelajaran matematika
sulit dan kurang menyenangkan. Hal ini
dapat berdampak pada motivasi siswa
untuk belajar. Menurut Koeswara (dalam
Dimyati dan Mudjiono, 2002:80), siswa
belajar karena didorong kekuatan mental,
kekuatan mental itu berupa keinginan dan
perhatian, kemauan, cita-cita di dalam diri
seorang terkadang adanya keinginan yang
mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan
dan mengarahkan sikap dan perilaku
individu dalam belajar. Jika siswa memiliki
motivasi yang rendah dalam pembelajaran,
tujuan dari pembelajaran tidak akan dapat
tercapai.
Seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar tidak mungkin akan
melaksanakan aktivitas belajar. Menurut
McClelland (dalam Yamin, 2007:225),
manakala kebutuhan seseorang terasa
sangat mendesak, maka kebutuhan akan
memotivasi orang tersebut untuk berusaha
memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga,
motivasi merupakan kekuatan untuk
mendorong seseorang melakukan suatu
kegiatan demi mencapai tujuan yang
diharapkan. Seperti halnya dengan belajar
untuk memperoleh pengetahuan, maka

dorongan untuk belajar akan muncul dalam


dirinya. Motivasi dalam belajar dapat
mempengaruhi
seseorang
agar
bersungguh-sungguh
belajar
untuk
mencapai suatu prestasi.
Motivasi yang timbul dapat terjadi
akibat dari pengaruh dalam diri maupun luar
seseorang. Yamin (2007:226) membedakan
jenis motivasi menjadi dua jenis, yaitu
motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik merupakan kegiatan
belajar yang tumbuh dari dorongan dan
kebutuhan dalam diri seseorang. Motivasi
intrinsik dapat berupa keinginan berhasil
dan dorongan kebutuhan belajar, harapan
akan
cita-cita.
Sedangkan
Motivasi
ekstrinsik merupakan kegiatan belajar yang
tumbuh dari dorongan dan kebutuhan dari
luar. Misalnya, penghargaan, lingkungan
belajar yang kondusif.
Pemahaman konsep dan motivasi
belajar mempunyai peranan besar dalam
keberhasilan seseorang dalam belajar.
Menyadari pentingnya pemahaman konsep
dan
motivasi
dalam
pembelajaran
matematika, maka pembelajaran tersebut
perlu direncanakan sedemikian rupa
sehingga pada akhir pembelajaran siswa
dapat
memahami
konsep
yang
dipelajarinya. Konsep matematika yang
diberikan pada siswa sekolah dasar terlihat
sederhana dan mudah, tetapi sebenarnya
materi matematika SD memuat konsepkonsep yang mendasar dan penting serta
tidak boleh dipandang sepele. Diperlukan
kecermatan dalam menyajikan konsepkonsep tersebut, agar siswa mampu
memahaminya secara benar, sebab kesan
dan pandangan yang diterima siswa
terhadap suatu konsep di sekolah dasar
dapat terus terbawa pada masa-masa
selanjutnya. Jika siswa tidak mengerti
konsep dasarnya, maka siswa akan
kesulitan
dalam
mempelajari
materi
selanjutnya.
Guru sebagai tenaga pendidik yang
profesional
memiliki
tugas
dalam
menyiapkan kondisi siswanya agar mampu
menguasai konsep-konsep yang akan
dipelajari, mulai dari yang sederhana

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
sampai yang lebih kompleks. UU Guru dan
Dosen Tahun 2005 (Pasal 1 Ayat 1)
menyatakan bahwa, Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Sejalan dengan hal
tersebut, Rusman (2011:74) menyatakan
bahwa, seorang guru tidak hanya mengajar
di dalam kelas saja, tetapi harus mampu
menjadi inisiator, motivator, dan dinamisator
pembangunan di mana ia bertempat tinggal.
Dengan demikian, seorang guru harus
dapat menciptakan suatu lingkungan belajar
yang kondusif sehingga siswa dapat
termotivasi untuk belajar dan konsep yang
diberikan dapat dipahami dengan baik.
Untuk menciptakan suasana belajar
yang kondusif, diperlukan kreativitas dan
keterampilan guru dalam menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi informasi.
Selain
itu,
menanamkan
konsep
matematika pada siswa sekolah dasar
harus secara bertahap yaitu dimulai dari
konsep yang sederhana, menuju konsep
yang lebih sulit. Tahap pembelajaran
matematika dapat dimulai dari mengajarkan
yang konkrit, ke semi konkrit dan akhirnya
kepada konsep abstrak. Pada tahap konkrit,
benda-benda konkrit yang ada dilingkungan
sekitar anak dapat digunakan sebagai
model untuk mempermudah siswa dalam
memahami objek matematika. Kemudian
dilanjutkan dengan menggunakan gambargambar pada tahap semi konkrit. Dan pada
akhirnya menggunakan simbol-simbol pada
tahap abstrak.
Untuk memotivasi diri maupun orang
lain untuk belajar tidaklah mudah. Kadang,
anak merasa belajar merupakan suatu hal
yang menakutkan sehingga belajar sering
dilihat sebagai beban bagi anak yang harus
dihindari. Namun, makna belajar akan
dirasakan secara langsung apabila siswa
terlibat aktif dalam pembelajaran dan materi
yang diajarkan sesuai dengan tingkat
kemampuan yang dimiliki sehingga dapat
secara langsung diaplikasikan dalam

kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai


dengan pendapat Peaget (dalam Suarni
dan Gading, 2007: 64) terkait dengan
tingkat perkembangan anak usia SD yang
masih dalam kategori operasional konkret.
Pada tahap ini merupakan permulaan
berpikir rasional yang berarti anak sudah
memiliki pemikiran logis yang dapat
diterapkannya dalam masalah-masalah
konkret.
Mengingat siswa sekolah dasar
perkembangan kognitifnya masih berada
pada tahap operasional konkret, kegiatan
pembelajaran
dalam
kelas
harus
menggunakan benda-benda konkret yang
mudah dipahami siswa. Guru harus mampu
merancang suatu pembelajaran yang dapat
mengaktifkan siswa dalam pembelajaran
sehingga siswa akan termotivasi untuk
belajar. Guru dapat membelajarkan siswa
dengan merancang pembelajaran yang
berorientasi
pada
belajar
kelompok.
Sehingga, siswa dapat mengembangkan
kemampuan
bekerja
sama
dan
berkomunikasi dengan nyaman dalam
menyampaikan pendapat ataupun bertanya.
Dengan melibatkan benda-benda konkret
dan belajar kelompok, materi yang
disampaikan oleh guru akan lebih mudah
dipahami dan bermakna bagi siswa.
Sebelum
melaksanakan
pembelajaran perlu adanya perencanaan
yang
baik
sehingga
pada
akhir
pembelajaran siswa dapat memahami
konsep yang dipelajarinya dan terus
termotivasi untuk belajar. Salah satu
perencanaan yang dapat dilakukan adalah
dengan memilih suatu model pembelajaran
yang dinilai efektif untuk digunakan. Banyak
model pembelajaran yang berkembang
untuk membantu siswa berpikir kreatif dan
produktif. Model pembelajaran ini penting
bagi guru untuk digunakan sebagai
pemandu dan mengembangkan lingkungan
dan aktivitas belajar yang kondusif.
Menurut
Rusman
(2011:133),
model pembelajaran dapat dijadikan pola
pilihan, artinya para guru boleh memilih
model pembelajaran yang sesuai dan
efisien
untuk
mencapai
tujuan

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
pendidikannya.
Guru
dituntut
untuk
mengetahui, memahami, memilih, dan
menerapkan model pembelajaran yang
dinilai efektif sehingga dapat menciptakan
suasana kelas yang kondusif dalam
menunjang
proses
pembelajaran.
Penguasaan guru terhadap suatu model
pembelajaran
yang
dipakai
dalam
pembelajaran
akan
mempengaruhi
keefektifan dari model pembelajaran
tersebut. Selain itu, model pembelajaran
yang menarik dan variatif akan berimplikasi
pada minat maupun motivasi siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
Dari model-model pembelajaran yang ada,
pada penelitian ini akan digunakan model
Reciprocal Teaching.
Model Reciprocal Teaching pertama
kali dikembangkan oleh Anne Marrie
Palinscar dan Anne Brown pada tahun
1984. Menurut Palincsar dan Brown (dalam
Pratiwi dan Ani Widayati, 2012) dalam
Reciprocal Teaching, ditanamkan empat
strategi pemahaman mandiri kepada para
siswa. Keempat strategi tersebut adalah
merangkum atau meringkas bahan ajar
(summarizing), menyusun pertanyaan dan
menyelesaikannya
(questioning),
mengklarifikasi pengetahuan yang telah
diperoleh
(clarifying),
kemudian
memprediksi materi selanjutnya (predicting).
Strategi
ini
digunakan
untuk
mengembangkan
pemahaman
dan
penguasaan makna teks yang dibaca.
Model
Reciprocal
Teaching
merupakan model pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif.
Dengan keempat strategi yang ada dalam
model pembelajaran Reciprocal Teaching,
siswa akan menjadi aktif dan lebih
memahami materi yang dipelajarinya.
Reciprocal Teaching menurut Anne Brown
(dalam Amin Suyitno, 2006: 34) pada
prinsipnya adalah siswa mempelajari materi
secara
mandiri,
kemudian
siswa
menyampaikan materi seperti saat guru
mengajarkan materi tersebut. Model
Reciprocal Teaching memiliki tujuan agar
siswa mampu belajar mandiri dan siswa

mampu menjelaskan temuannya kepada


pihak lain.
Selama proses belajar mengajar
berlangsung, siswa mengambil giliran
melaksanakan peran guru dan bertindak
sebagai pemimpin diskusi untuk kelompok
tersebut. Sementara guru memberikan
dukungan, umpan balik, rangsangan ketika
siswa melaksanakan kempat strategi
pemahaaman
mandiri
tersebut
dan
membantu mereka saling mengajar satu
sama lain, (Nur dan Wikandari 2000). Ini
akan menarik minat siswa untuk membaca
dan memahami apa yang telah dibaca.
Pada dasarnya model Reciprocal
Teaching menekankan pada kerjasama
siswa dalam suatu kelompok yang dibentuk
sedemikian hingga agar setiap anggotanya
dapat berkomunikasi dengan nyaman.
Dengan
adanya
kerjasama
dalam
kelompok, siswa yang lebih pintar dapat
membimbing siswa yang kurang dalam
pembelajaran. Hal ini dapat meningkatkan
pemahaman sekaligus memotivasi siswa
untuk belajar. Pada strategi ini siswa
berperan sebagai guru menggantikan
peran guru untuk mengajarkan temantemannya. Sementara itu guru lebih
berperan sebagai model yang menjadi
contoh,
fasilitator
yang
memberi
kemudahan,
dan
pembimbing
yang
melakukan scaffolding. Slavin (dalam
Rohman,
2009:129)
mendefinisikan
Scaffolding sebagai pemberian sejumlah
bantuan kepada peserta didik selama tahap
awal pembelajaran, kemudian mengurangi
bantuan dan memberikan kesempatan
untuk mengambil alih tanggung jawab yang
semakin
besar
setelah
ia
dapat
melakukannya. Menurut Ibrahim (dalam
Mayasa, 2012) pengaruh model Reciprocal
Teaching sangat beragam, antara lain
mempengaruhi keterampilan komunikasi,
motivasi, prestasi belajar, dan hasil belajar
kognitif. Hal tersebut dibuktikan dengan
penelitian-penelitian yang telah dilakukan.
Hasanah (2012) dalam penelitiannya
menunjukkan
bahwa
kemampuan
komunikasi matematis siswa yang belajar
menggunakan model Reciprocal Teaching

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
lebih baik dari kemampuan komunikasi
matematis siswa yang belajar dengan
model pembelajaran konvensional. Selain
itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh
Anwar
dan
Pramukantoro
(2013)
didapatkan perbedaan hasil belajar yang
signifikan antara hasil belajar siswa yang
menggunakan model Reciprocal Teaching
dengan
hasil
belajar
siswa
yang
menggunakan model STAD. Dengan
rata-rata
hasil
belajar
kelas
yang
mengikuti model Reciprocal Teaching lebih
besar daripada yang mengikuti model
pembelajaran STAD. Dari hasil penelitian
yang telah dilakukan tersebut, model
Reciprocal Teaching lebih baik digunakan
dalam pembelajaran dibandingkan dengan
model pembelajaran konvensional.
Dalam model Reciprocal Teaching,
siswa akan berinteraksi dengan teman
maupun gurunya baik dalam bertanya atau
menjawab pertanyaan. Pada dasarnya
model Reciprocal Teaching menekakan
pada siswa untuk bekerja dalam suatu
kelompok yang dibentuk sedemikian hingga
agar
setiap
anggotanya
dapat
berkomunikasi dengan nyaman dalam
menyampaikan pendapat ataupun bertanya
dalam
rangka
bertukar
pengalaman
keberhasilan belajar satu dengan lainnya.
Dengan demikian siswa dapat memahami
materi sekaligus termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan Hal tersebut, dapat diduga
bahwa
dengan
menerapkan
model
Reciprocal Teaching, pemahaman konsep
dan motivasi belajar siswa pada mata
pelajaran matematika dapat ditingkatkan.
Untuk itu, dibutuhkan pembuktian secara
empiris dengan melakukan eksperimen
mengenai pengaruh model Reciprocal
Teaching terhadap pemahaman konsep dan
motivasi belajar matematika siswa kelas V
SD gugus 1 di Kecamatan Sidemen,
Kabupaten Karangasem.
METODE PENELITIAN
Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah semua siswa kelas V
Sekolah Dasar di Gugus I Kecamatan
Sidemen yang terdiri dari 9 Sekolah Dasar

dengan jumlah siswa sebanyak 180 siswa.


Pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan teknik simple random
sampling. Sebelum pengambilan sampel
dilakukan uji kesetaraan terhadap seluruh
kelas dengan menggunakan ANAVA satu
jalur dan dilanjutkan dengan melakukan
pengundian.
Dari
hasil
pengundian
diperoleh empat kelas untuk dijadikan
sampel, yaitu kelas V SD N 1 Sidemen dan
SD N 2 Telaga Tawang sebagai kelas
eksperimen SD N 1 Sinduwati dan SD N 4
Sidemen sebagai kelas kontrol.
Desain yang digunakan pada
penelitian ini adalah desain penelitian
eksperimen. Dari beberapa jenis penelitian
eksperimen yang ada, yang digunakan
pada penelitian ini adalah quasi experiment.
Rancangan penelitian yang digunakan
adalah rancangan The Post-test Only
Control Group Design. Dalam desain ini,
kelompok eksperimen diberikan perlakuan
berupa
model
Reciprocal
Teaching
sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan
perlakukan (tetap menggunakan model
pembelajaran konvensional), kemudian
hasil
post
test
kedua
kelompok
dibandingkan. Secara prosedural desain
penelitian ini digambarkan sebagai berikut.

RE

xX

O1
O2

RK

O1
O2

(dimodifikasi dari Dantes, 2012)


Keterangan:
RE : Kelompok Eksperimen
RK : Kelompok Kontrol
O1 : perlakuan dengan model Reciprocal
Teaching
O2 : perlakuan
pembelajaran
dengan
model pembelajaran konvensional
Prosedur penelitian yang dilakukan
pada penelitian ini dapat dijelaskan sebagai
berikut. Tahap awal, dalam tahap awal ini
ada beberapa hal yang harus diperhatikan
yaitu a) Pengambilan data awal dilakuan

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
dengan observasi dan wawancara di
sekolah-sekolah yang terdapat pada Gugus
1 Kecamatan Sidemen, b) Diskusi dengan
guru Matematika di kelas V yang
bersangkutan untuk memperoleh informasi
lebih lanjut mengenai karakteristik siswa di
kelas tersebut, c) Uji kesetaraan kelompok
sampel, d) Pengundian dengan
teknik
random sampling untuk menentukkan
sampel yang akan digunakan sebagai
kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol, e) Penyusunan dan uji coba
instrumen penelitian, dan f) Menganalisis
data hasil uji coba instrumen. Selanjutnya
dalam tahap ini ada beberapa hal yang
harus diperhatikan yaitu a) Penerapan
perlakuan, kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan model Reciprocal Teaching
di
kelas
eksperimen
dan
model
pembelajaran konvensional di kelas kontrol.
Materi pembelajaran dan alokasi waktu
pembelajaran pada kedua kelas adalah
sama. b) Mengadakan tes akhir (post-test),
dilaksanakan pada kelas eksperimen dan
kelas
kontrol.
Tahap
akhir
yaitu
Menganalisis data hasil penelitian untuk
menguji hipotesis yang diajukan.
Penelitian ini menggunakan dua
jenis variabel yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah model Reciprocal
Teaching pada kelas eksperimen dan model
pembelajaran konvensional pada kelas
kontrol. Sedangkan variabel terikat dalam
penelitian ini adalah pemahaman konsep
dan motivasi belajar Matematika siswa.
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah perangkat tes untuk
mengukur
pemahaman
konsep
dan
kuesioner untuk mengukur motivasi belajar.
Berdasarkan cakupan materi maka jumlah
item untuk soal tes pemahaman konsep
yang dikembangkan dalam penelitian ini
adalah 20 butir soal berbentuk uraian.
Kriteria penilaian tes pemahaman konsep
menggunakan rubrik yang memiliki rentang
skor 0-3. Kuesioner motivasi belajar
berjumlah 20 butir dan menggunakan skala
Likert, yaitu skor skala lima. Skor setiap
jawaban kemudian dijumlahkan dan jumlah

tersebut merupakan skor hasil pemahaman


konsep siswa.
Sebelum
instrumen
digunakan,
terlebih dahulu dilakukan expert judgment
oleh dua orang pakar guna mendapatkan
kualitas kuesioner dan tes yang baik,
kemudian dilanjutkan dengan uji validitas
dan reliabilitas dengan uji coba instrument
di lapangan. Uji validitas pada pemahaman
konsep dan motivasi belajar menggunakan
product moment. Uji reliabilitas pemahaman
konsep dan motivasi belajar menggunakan
Alpha Cronbach.
Uji validitas tes pemahaman konsep
menyatakan 20 butir tes valid dengan
tingkat reliabilitas tes berada pada kategori
tinggi. Uji validitas kuesioner motivasi
belajar diperoleh 20 butir pernyataan valid
dengan tingkat reliabilitas sedang.
Analisis
data
untuk
menguji
hipotesis digunakan multivariate analysis of
variance (MANOVA) (Multivariat Analysis of
Variance) berbantuan SPSS 17.00 for
windows. Data hasil penelitian dianalisis
secara bertahap. Ada beberapa Tahapantahapan tersebut adalah deskripsi data, uji
prasyarat, dan uji hipotesis. Uji prasyarat
yang dilakukan adalah uji normalitas data,
uji homogenitas varians, dan uji korelasi
antar variabel terikat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
Hasil
analisis
deskriptif
yang
dilakukan tentang pemahaman konsep
Matematika siswa menunjukkan bahwa
rata-rata
skor
pemahaman
konsep
Matematika siswa yang mengikuti model
Reciprocal
Teaching
(kelompok
eksperimen) sebesar 48,37 dan rata-rata
skor pemahaman konsep Matematika siswa
yang mengikuti model pembelajaran
Konvensional (kelompok kontrol) sebesar
39,37.
Ini
berarti
bahwa
rata-rata
pemahaman konsep Matematika siswa
kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada
rata-rata pemahaman konsep Matematika
siswa kelompok kontrol. Sedangkan nilai
rata-rata motivasi belajar Matematika siswa
yang mengikuti model Reciprocal Teaching

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
(kelompok eksperimen) sebesar 87,44 dan
rata-rata motivasi belajar Matematika siswa
yang mengikuti model pembelajaran
Konvensional (kelompok kontrol) sebesar
74,92. Ini berarti bahwa rata-rata motivasi
belajar
Matematika
siswa
kelompok
eksperimen lebih tinggi daripada rata- rata
motivasi
belajar
Matematika
siswa
kelompok kontrol.
Uji prasyarat analisis yang dilakukan
meliputi uji normalitas sebaran data, uji
homogenitas varians, uji homogenitas
matriks kovarian, dan uji korelasi antar
variabel terikat. Hasil uji normalitas
didapatkan taraf signifikansi lebih besar dari
taraf signifikansi 0,05, maka dapat
disimpulkan bahwa semua sebaran data
pemahaman konsep dan motivasi belajar
Matematika siswa kelas V SD Gugus I
Kecamatan Sidemen berdistribusi normal.
Sedangkan
uji
homogenitas
varians
didapatkan signifikansi Uji Levenes kedua
variabel lebih besar dari pada signifikansi
0,05, sehingga dapat dikatan bahwa semua
skor pemahaman konsep dan motivasi
belajar Matematika siswa kelas V SD
Gugus I Kecamatan Sidemen memiliki
varians yang sama atau homogen. Uji
homogenitas matriks kovarian didapatkan
signifikansi Uji Box M kedua variabel lebih
besar dari pada signifikansi 0,05, sehingga
dapat
dikatan
bahwa
semua
skor
pemahaman konsep dan motivasi belajar
Matematika siswa kelas V SD Gugus I
Kecamatan Sidemen memiliki varians yang
sama atau homogen. Uji korelasi variabel
pemahaman konsep dan motivasi belajar
Matematika siswa pada kelas eksperimen
didapatkan taraf signifikansi lebih besar dari
taraf signifikansi 0,05. Maka dapat
disimpulkan anatara pemahaman konsep
dan motivasi belajar Matematika siswa tidak
berkorelasi
Pengujian
hipotesis
pertama,
koefisien F sebesar 26,143 dengan
signifikansi (sig) sebesar 0,000. Jika
ditetapkan taraf signifikansi = 0,05, maka
nilai signifikansi lebih kecil dari pada ,
sehingga F signifikan. Dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan pemahaman

konsep Matematika siswa kelas V SD


Gugus 1 di Kecamatan Sidemen Kabupaten
Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014
antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching dan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
pembelajaran Konvensional.
Pengujian
hipotesis
kedua,
didapatkan koefisien F sebesar 45,543
dengan signifikansi (sig) sebesar 0,000.
Jika ditetapkan taraf signifikansi = 0,05,
maka nilai signifikansi jauh lebih kecil dari
pada , sehingga nilai F signifikan, berarti
terdapat
perbedaan motivasi belajar
matematika siswa kelas V SD Gugus 1 di
Kecamatan
Sidemen
Kabupaten
Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014
antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching dan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
pembelajaran Konvensional.
Berdasarkan hasil pengujian ketiga,
menunjukkan nilai-nilai statistik dengan
masing-masing nilai F adalah 30,244 pada
signifikansi 0,000. secara simultan terdapat
perbedaan pemahaman konsep dan
motivasi belajar matematika siswa kelas V
SD Gugus 1 di Kecamatan Sidemen
Kabupaten Karangasem Tahun Pelajaran
2013/2014 antara kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
Reciprocal Teaching dan kelompok siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan
model pembelajaran Konvensional
PENUTUP
Berdasarkan
hasil
pengujian
hipotesis dan pembahasan tersebut di atas,
maka peneliti dapat menyimpulkan hal-hal
sebagai berikut.
Pertama,
terdapat
perbedaan
pemahaman konsep matematika siswa
kelas V SD Gugus 1 di Kecamatan Sidemen
Kabupaten Karangasem Tahun Pelajaran
2013/2014 antara kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
Reciprocal Teaching dan kelompok siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
model
pembelajaran
Konvensional.
Pemahaman konsep Matematika siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan
model Reciprocal Teaching lebih baik dari
pada pemahaman konsep Matematika
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
model pembelajaran Konvensional.
Kedua, terdapat perbedaan motivasi
belajar matematika siswa kelas V SD
Gugus 1 di Kecamatan Sidemen Kabupaten
Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014
antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching dan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
pembelajaran
Konvensional.
Motivasi
belajar Matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching lebih tinggi dari pada motivasi
belajar Matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model pembelajaran
Konvensional.
Ketiga, secara simultan terdapat
perbedaan pemahaman konsep dan
motivasi belajar matematika siswa kelas V
SD Gugus 1 di Kecamatan Sidemen
Kabupaten Karangasem Tahun Pelajaran
2013/2014 antara kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
Reciprocal Teaching dan kelompok siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan
model
pembelajaran
Konvensional.
Pemahaman konsep dan motivasi belajar
Matematika
siswa
yang
mengikuti
pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching lebih baik dari pada pemahaman
konsep dan motivasi belajar Matematika
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
model pembelajaran Konvensional.
Berdasarkan hasil penelitian ini,
dapat diajukan beberapa saran sebagai
berikut. (1) Model Reciprocal Teaching
dikemudian hari hendaknya digunakan oleh
guru dalam mata pelajaran Matematika
pada khususnya dan pada mata pelajaran
lain pada umumnya, karena model
Reciprocal
Teaching
memberikan
kesempatan kepada siswa untuk belajar
mandiri, kreatif, dan lebih aktif dengan
empat strategi yang ada di dalamnya. (2)

Model pembelajaran Reciprocal Teaching


hendaknya digunakan oleh guru untuk
meningkatkan pemahaman konsep dan
motivasi belajar siswa dikelas lain selain
dikelas V dan juga disekolah dasar yang
lain selain sekolah dasar yang berada di
gugus I Kecamatan Sidemen. (3) Bagi
peneliti lain yang ingin melakukan penelitian
yang sejenis, diharapkan lebih dapat
mengembangkan penelitian ini dengan
melibatkan sampel yang lebih banyak dan
juga variabel lain yang menjadi komponen
dalam
proses
pembelajaran
diluar
pemahaman konsep dan motivasi belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, M. R. dan Pramukantoro, J.A. 2013.
Perbandingan Hasil Belajar antara
Siswa yang Menggunakan Model
Pembelajaran Reciprocal Teaching
dengan Model Pembelajaran STAD
pada
Standar
Kompetensi
Menerapkan Dasar-Dasar Kelistrikan
Kelas X
Tav Di Smk Negeri 7
Surabaya. Jurnal Pendidikan Teknik
Elektro Volume 02 Nomor 02.
BSNP.
2006.
Panduan
Penyusunan
Kurikulum
Tingkat
Satuan
Pendidikan,
Jenjang
Pendidikan
Dasar dan Menengah. Jakarta :
BSNP.
Dahar, R. W. 2011. Teori-Teori Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Depdiknas. 2007. Pedoman Penilaian Hasil
Belajar. Jakarta: Dirjen Manajemen
Dikdasmen, Dirpom Tk dan SD,
BNSP.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Effendi, M.M. 2010. Prinsip Kurikulum
Matematika
Sekolah
:
Kajian
Orientasi Pengembangan. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional
Matematika
dan
Pendidikan
Matematika,
FKIP
Universitas

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha


Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)
Muhammadiyah Malang, 30 Januari
2010.
Hardini, I dan Dewi P. 2012. Strategi
Pembelajaran Terpadu. Yogyakarta:
Familia (Group Relasi Inti Media).
Hasanah, S. dkk, 2012. Pembelajaran
Model
Reciprocal
Teaching
Bernuansa
Pendidikan
Karakter
Untuk Meningkatkan Kemampuan
Komuniasi Matematis. Unnes Journal
of Mathematics Education Research.
IMSTEP-JICA.
1999.
Permasalahan
Pembelajaran Matematika SD, SLTP,
dan SMU di Kota Bandung. Bandung:
FPMIPA IKIP Bandung.
Mayasa.
2012.
Langkah-langkah
Pembelajaran Reciprocal Teaching.
Tersedia
pada
http://m4ya5a.blogspot.com/2012/09/langkahlangkah-pembelajaranreciprocal.html?m=1 (diakses tanggal
30 Oktober).
Nur,

M dan Wikandari, P. R. 2000.


Pengajaran Berpusat kepada Siswa
dan Pendekatan Konstruktivis dalam
Pengajaran.
Surabaya:
PSMS
Program Pasca Sarjana Unesa.

Pratiwi, I. dan Ani Widayati. 2012.


Pembelajaran
Akuntansi
melalui
Reciprocal Teaching Model untuk
Meningkatkan Penguasaan Konsep
dan Kemandirian Belajar dalam
Materi Mengelola Administrasi Surat
Berharga Jangka Pendek Siswa
Kelas X Akuntansi 1 SMK Negeri 7
Yogyakarta
Tahun
Pelajaran
2011/2012.
Jurnal
Pendidikan
Akuntansi Indonesia, Vol. X, No. 2.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran
Mengembangkan
Profesionalisme
Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.

Suarni, Ni Ketut dan Gading, I Ketut. 2007.


Modul Perkembangan Peserta Didik.
Singaraja: UNDIKSHA.
Suparno, P. 1997. Filsafat konstruktivisme
dalam
pendidikan.
Yogyakarta:
Kanisius.
Suyitno, A. 2006. Pemilihan Model-Model
Pembelejaran dan Penerapannya di
Sekolah. Semarang: UNNES
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
14 Tahun 2005 UU Guru dan Dosen.
2005. Jakarta: Cemerlang.
Warpala, I W. S. 2006. Pengaruh
Pendekatan
Pembelajaran
dan
Strategi Kooperatif yang Berbeda
Terhadap
Pemahaman
dan
Keterampilan Berpikir Kritis dalam
Pembelajaran IPA SD. Disertasi
(tidak diterbitkan). Program Studi
Teknologi Pembelajaran, Program
Pasca Sarjana Universitas Negeri
Malang.Yamin,
M.
2007.
Kiat
Membelajarkan
Siswa.
Jakarta:
Gaung Persada.
Yamin, Martinis. 2007. Kiat Membelajarkan
Siswa. Jakarta: Gaung Persada.