Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tumbuhan

memiliki

kemampuan

adaptasi

yang

tinggi

terhadap

lingkungan-nya. Tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe sesuai


dengan habitat hidupnya. Berdasarkan habitanya, tumbuhan secara umum
dibedakan menjadi tumbuhan serofita, mesofita dan hidrofita. Masing-masing
tumbuhan ini memiliki ciri khas yang membedakan antara tipe tumbuhan satu
dengan yang lain. Ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing tumbuhan diyakini
sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang khusus itu (silvika atspace.com, 2008).
Tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan tajuk (batang). Diantara adaptasi
yang memungkinkan tumbuhan dapat hidup di darat adalah kemampuannya untuk
mengabsorpsi air dan mineral dari dalam tanah, menyerap cahaya matahari dan
mengambil CO2 dari udara untuk fotosintesis serta kemampuannya untuk hidup
dalam kondisi yang kering. Akar dan tajuk saling bergantung satu sama lainnya,
akar tidak mampu hidup tanpa tajuk, demikian sebaliknya (arch91.wordpress.com,
2008).
Untuk menetukan kelulushidupannya tumbuhan akan merespon segala
bentuk perubahan yang ada di lingkungan sekitar. Respon tersebut akan
mengakibatkan adanya sifat-sifat khas baik secara morfologi maupun fisiologi
dari suatu tumbuhan. Respon tumbuhan tersebut ditunjukkan dengan adanya
plastisitas dan adaptasi. Adanya plastisitas dan adaptasi dari suatu tumbuhan
sangat dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan baik faktor edafik maupun faktor
klimatorik. Faktor edafik meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah dan
warna tanah. Sedangkan faktor klimakterik meliputi suhu udara, kelembaban
relatif udara dan intensitas cahaya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian
observasi dengan judul Respon Morfologi dan Fisiologi Tumbuhan Terhadap
Kondisi Ternaung, Terdedah dan Diantara untuk mengetahui faktor-faktor
lingkungan mempengaruhi sifat khas pada tumbuhan (tanaman puring), untuk
mengetahui bentuk respon morfologi dan fisiologi tumbuhan (tanaman puring)

Laporan Praktikum Ekofisiologi

pada daerah ternaung, terdedah dan diantara keduanya, dan organ apakah yang
mampu berplastisitas dan beradaptasi dari suatu jenis tumbuhan (tanaman puring)
pada daerah ternaung, terdedah dan diantara keduanya, sehingga diharapkan dapat
mengetahui konsep plastisitas dan adaptasi dari suatu tumbuhan.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah faktor-faktor lingkungan mempengaruhi sifat khas pada
tumbuhan (tanaman puring) ?
2. Bagaimanakah bentuk respon morfologi dan fisiologi tumbuhan (tanaman
puring) pada daerah ternaung, terdedah dan diantara keduanya ?
3. Organ apakah yang mampu berplastisitas dan beradaptasi dari suatu jenis
tumbuhan (tanaman puring) pada daerah ternaung, terdedah dan diantara
keduanya ?
C. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memahami konsep plastisitas dan adaptasi.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi sifat-sifat
khas pada tumbuhan (tanaman puring).
3. Untuk mendeskripsikan berbagai bentuk respon morfologi tumbuhan
(tanaman puring) pada daerah ternaung, terdedah dan diantara keduanya.
4. Untuk menentukan organ yang mampu berplastisitas dan beradaptasi dari
suatu jenis tumbuhan (tanaman puring) pada daerah ternaung, terdedah
dan diantara keduanya.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap
lingkungan dan koordinasi sangat terlihat jelas. Satu bagian tumbuhan dapat
mengirim sinyal ke bagianyang lain. Sebagai contoh, kuncup terminal pada ujung
(apeks) suatu tunas mampu menekan pertumbuhan tunas aksiler yang mungkin
saja bermeter-meter jauhnya. Tumbuhan dapat mengenali waktu harian dan waktu
tahunan. Hidup di suatu tempat seumur hidupnya, suatu tumbuhan umumnya
berespons terhadap petunjuk lingkungan dengan cara menyesuaikan pola
pertumbuhan dan perkembangannya. Tumbuh-tumbuhan dari spesies yang sama
memiliki variasi bentuk tubuh yang jauh lebih besar daripada variasi bentuk tubuh
hewan-hewan dari spesies yang sama (Campbell, 2003).
Tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan tajuk (batang). Diantara adaptasi
yang memungkinkan tumbuhan dapat hidup di darat adalah kemampuannya untuk
mengabsorpsi air dan mineral dari dalam tanah, menyerap cahaya matahari dan
mengambil CO2 dari udara untuk fotosintesis serta kemampuannya untuk hidup
dalam kondisi yang kering. Akar dan tajuk saling bergantung satu sama lainnya,
akar tidak mampu hidup tanpa tajuk, demikian sebaliknya. Karena tidak memiliki
kloroplas dan hidup di tempat yang gelap menyebabkan akar tidak dapat tumbuh
tanpa gula dan nutrisi organik lainnya yang diangkut dari daun yang merupakan
bagian dari sistem tajuk. Sebaliknya batang dan daun bergantung pada air dan
mineral yang diserap oleh akar. Akar tumbuhan berfungsi sebagai penopang
berdirinya tumbuhan (jangkar), pengabsopsi air dan mineral, serta tempat
penyimpanan cadangan makanan. Tajuk terdiri dari batang, daun dan bunga
(bunga merupakan adaptasi untuk reproduksi tumbuhan Angiospermae). Batang
adalah bagian tumbuhan yang terletak di atas tanah, mendukung daun-daun dan
bunga. Pada pohon, batang -batang meliputi batang pokok dan semua cabangcabang, termasuk ranting -ranting yang kecil. Batang mempunyai buku sebagai
tempat melekatnya daun, juga mempunyai ruas yakni jarak diantara dua buku.
Daun merupakan tempat utama berlangsunya fotosintesis, kendati ada beberapa
spesies tumbuhan yang batangnya dapat melakukan fotosintesis karena memiliki

Laporan Praktikum Ekofisiologi

kloroplas. Daun terdiri dari helaian daun yang melebar (lamina) dan tangkai daun
(petiolus) yang menghubungkan daun dengan batang . Pada ujung batang terdapat
tunas yang belum berkembang yang disebut tunas ujung. Selain itu dijumpai juga
tunas aksilar/tunas lateral/tunas samping yang terdapat di ketiak daun, tunas ini
biasanya dorman (arch91.wordpress.com, 2008).
Tumbuhan membedakan antara penghindaran dan toleransi (ketahanan)
terhadap suatu faktor pencekam tertentu. Pada penghindaran, organisme
memberikan tanggapan dengan memperlemah akibat faktor pencekam (tumbuhan
di gurun menghindari tanah kering dengan memanjangkan akarnya tumbuh ke
dalam sampai mencapai air tanah). Sebaliknya, jika tumbuhan mengembangkan
toleransi maka tumbuhan itu memang toleran atau tahan terhadap lingkungan
yang tidak menguntungkan. Ketika tumbuhan mulai mendapat faktor cekaman,
terjadi reaksi tanda bahaya, saat fungsi yang berkepentingan menyimpang dari
biasanya. Kemudian fase berlangsung tahap resistensi (atau fase pemulihan), saat
organisme beradaptasi pada faktor cekaman dan fungsi sering kembali menuju
keadaan normal (tapi mungkin tidak benar-benar mencapainya). Akhirnya jika
faktor cekaman meningkat atau terus menerus berlangsung dalam waktu lama,
mungkin tercapai fase kelelahan, saat fungsi menyimpang dari normal dan
mengakibatkan kematian (Salisbury, 1995).
Faktor cekaman biasanya tidak hanya tunggal akan tetapi merupakan
proses yang kompleks karena melibatkan beberapa faktor penentu pertumbuhan.
Misalnya musim panas yang menyengat dapat mengakibatkan terjadinya cekaman
tingkat cahaya tinggi (perusakan klorofil oleh cahaya), kelembaban rendah, tanah
kering dan suhu tinggi. Disamping itu, respon cekaman umumnya sangat
kompleks, diperlibatkan oleh berbagai bagian tumbuhan dan mungkin melibatkan
hormon cekaman seperti asam absisat (ABA) dan etilen yang diangkut keseluruh
bagian tumbuhan (silvika atspace.com, 2008).
A. Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Tanaman
Ada beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan tumbuhan, antara lain cahaya, suhu, kelembaban, pH, air, dan
tanah (organisasi.org, 2008).

Laporan Praktikum Ekofisiologi

1. Cahaya
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat
melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tumbuhan
kekurangan cahaya matahari, maka tumbuhan itu bisa tampak pucat dan
warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, sinar
mentari justru dapat menghambat proses pertumbuhan.
2. Suhu
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan
pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan juga kelangsungan hidup
dari suatu tumbuhan. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22oC
sampai dengan 37oC. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal
tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.
3. Kelembaban
Kadar air dalam udara maupun dalam tanah dapat mempengaruhi
pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab
menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air
lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada
pembentukan sel yang lebih cepat.
4. Air
Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan
dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan. Kehilangan air pada jaringan tumbuhan akan menurunkan
turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawasenyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan
potensi aktivitas kimia air dalam tumbuhan. Peran air yang sangat penting
tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung
kekurangan air pada tumbuhan akan mempengaruhi semua proses
metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tumbuhan
(Sinaga, 2001).

Laporan Praktikum Ekofisiologi

Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup,


menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju
fotosintesis. Apabila laju fotosintesis berkurang maka pertumbuhan dan
perkembangan akan terhambat. Pertumbuhan dan perkembangan suatu
tanaman sangat ditentukan oleh ada tidaknya air. Pertumbuhan dan
perkembangan akan optimal apabila air untuk keperluan fotosintesis
tersedia.
5. Tanah
Tumbuhan memerlukan sejumlah unsur hara tertentu (essensial)
dari lingkungan . Unsur hara tersebut didapatkan tumbuhan dari dalam
tanah. Apabila tanah subur dan kaya akan unsur hara maka pertumbuhan
dan perkembangan tumbuhan akan berjalan optimal. Menurut Campbell
(2003), tekstur dan komposisi kimia tanah merupakan faktor utama yang
menentukan jenis tumbuhan apa yang dapat tumbuh dengan baik pada
suatu lokasi tertentu, apakah itu suatu ekosistem alam ataupun daerah
pertanian. Tumbuhan yang tumbuh secara alamiah pada jenis tanah
tertentu dapat beradaptasi terhadap kandungan mineral dan tekstur tanah
tersebut dan mampu menyerap air dan mengekstraksi nutrien esensial dari
tanah tersebut.
B. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Lingkungan
Menurut Campbell (2003), Fluktuasi lingkungan setiap hari menantang
kehidupan tumbuhan. Kadang-kadang, faktor dalam lingkungan berubah cukup
drastis sehingga membuat tumbuhan menjadi tercekam. Ada beberapa faktor
cekaman lingkungan yang dapat membuat tumbuhan merespons cekaman tersebut
secara morfologi maupun anatomi, antara lain terhadap kekurangan air,
kekurangan oksigen, cekaman panas, cekaman dingin, dan cekaman garam.
1. Respon terhadap Kekurangan Air
Pada setiap hari yang cerah, hangat, dan kering, suatu tumbuhan
bisa mengalami cekaman karena kehilangan air akibat transpirasi terjadi

Laporan Praktikum Ekofisiologi

lebih cepat dibandingkan laju pengambilan air dari tanah untuk


memulihkan kondisi tersebut. Kekurangan air yang hebat seperti pada
musim kemarau, tentunya akan dapat membunuh suatu tumbuhan. Akan
tetapi tumbuhan memiliki sistem kontrol yang memungkinkan mereka
untuk mengatasi dan menghadapi kekurangan air yang tidak begitu
ekstrim.
Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju
transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun
akan menyebabkan sel-sel penjaga kehilangan turgornya, suatu mekanisme
kontrol tunggal yang memperlambat transpirasi dengan cara menutup
stoma. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan
pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Daun juga berespon
terhadap kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah
suatu proses yang bergantung pada turgor, maka kekurangan air akan
menghambat (pembesaran) daun muda. Respons ini meminimumkan
kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat peningkatan
luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan tumbuhan
lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi suatu
bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan
sedikit saja permukaan daun ke matahari. Semua respons daun ini selain
membantu tumbuhan untuk menghemat air, juga mengurangi fotosintesis.
Pertumbuhan akar juga memberikan respons terhadap kekurangan
air. Selama musim kemarau, tanah umumnya mengering dari permukaan
hingga bawahnya. Keadaan ini menghambat pertumbuhan akar dangkal,
karena sel-selnya tidak dapat mempertahankan turgor yang diperlukan
untuk pemanjangan. Akar yang lebih dalam yang dikelilingi oleh tanah
yang masih lembab terus tumbuh. Dengan demikian, sistem akar
memperbanyak diri dengan cara memaksimumkan pemaparan terhadap air
tanah.
Respon tumbuhan yang mengalami cekaman kekeringan mencakup
perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada
pertumbuhan tumbuhan, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas

Laporan Praktikum Ekofisiologi

daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio
akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan
metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan
hormon, serta perubahan ekspresi gen (Sinaga, 2001).
2. Respon terhadap Kekurangan Oksigen
Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami
kekurangan oksigen karena tanah kehabisan ruangan udara yang
menyediakan oksigen untuk respirasi seluler akar. Beberapa tumbuhan
secara struktural diadaptasikan ke habitat yang sangat basah. Sebagai
contoh, akar pohon bakau yang terendam air, yang hidup di rawa pesisir
pantai, adalah sinambung dengan akar udara yang menyediakan akses ke
oksigen.
3. Respon terhadap Cekaman Panas
Panas berlebihan dapat menggangu dan akhrinya membunuh suatu
tumbuhan dengan cara mendenaturasi enzim-enzimnya dan merusak
metabolismenya dalam berbagai cara. Salah satu fungsi transpirasi adalah
pendinginan melalui penguapan. Pada hari yang panas dan kering juga
cenderung menyebabkan kekurangan air pada banyak tumbuhan,
penutupan stomata sebagai respon terhadap cekaman panas ini akan
menghemat air, namun mengorbankan pedinginan melalui penguapan
tersebut. Dilema ini merupakan salah satu bahwa hari-hari yang sangat
panas dan kering akan menyebabkan sebagian tumbuhan mati.
Sebagian besar tumbuhan memilki suatu respons cadangan yang
memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam cekaman panas. Di
atas suatu temperatur tertentu sekitar 40oC pada sebagian besar tumbuhan
yang menempati daerah empat musim sel-sel tumbuhan mulai mensintesis
suatu protein khusus dalam jumlah yang cukup banyak yang disebut
protein kejut-panas (heat-shock protein). Para peneliti juga telah
menemukan respons ini padahewan dan mikroorganisme yang didedahkan
pada cekaman panas. Beberapa diantara protein kejut-panas itu identik

Laporan Praktikum Ekofisiologi

dengan protein chaporone (pengantar), yang berfungsi pada sel-sel yang


tidak tercekam sebagai penopang sementara yang membantu protein lain
melipat membentuk konformasi fungsionalnya. Protein kejut-panas
kemungkinan mengapit enzim serta protein lain dan membantu mencegah
denaturasi.
4. Respon terhadap Cekaman Dingin
Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperatur
lingkungan (suhu udara) turun adalah perubahan ketidakstabilan membran
selnya. Ketikan membran itu didinginkan di bawah suatu titik kritis,
membran akan kehilangan kecairanya karena lipid menjadi terkunci dalam
struktur kristal. Keadaan ini mengubah transport zat terlarut melewati
membran, juga mempengaruhi fungsi protein membran. Tumbuhan
merespon terhadapcekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid
membrannya. Contohnya adalah meningkatnya proporsi suatu asam lemak
tak jenuh, yang memiliki sturktur yang mampu menjaga membran tetap
cair pada suhu lebih rendah dengan cara menghambat pembentukan
kristal. Modifikasi molekuler seperti itu pada membran menbutuhkan
waktu beberapa jam hingga beberapa hari, yang menjadi satu alasan bahwa
pendinginan secara mendadak umumnya lebih mencekam bagi suatu
tumbuhan dibandingkan dengan penurunan suhu udara secara perlahanlahan sehingga tumbuhan tersebut kemungkinan dapat bertahan hidup dan
beradaptasi terhadap cekaman dingin.
5. Respon terhadap Cekaman Garam
Kelebihan natrium klorida atau garam-garam lain dalam tanah
dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan. Pertama, dengan cara
menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat meyebabkan
kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut mengadung
banyak sekali air. Hal ini karena dalam lingkungan dengan potensial air
yang lebih negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, akar
akan kehilangan air bukan menyrapnya. Kedua, pada tanah bergaram,

Laporan Praktikum Ekofisiologi

natrium dan ion-ion tertentu lainya dapat menjadi racun bagi tumbuhan
jika konsentrasinya relatif tinggi. Membran sel akar yang selektif
permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang
berbahaya, akan tetapi hal ini hanya akan memperburuk pengambilan air
dari tanah yang kaya akan zat terlarut. Banyak tumbuhan dapat berespon
terhadap salinitas tanah yang memadai dengan cara menghasilkan zat
terlarut kompatibel, yaitu senyawa organik yang menjaga potensial air
lebih negatif dibandingkan dengan potensial air larutan tanah, tanpa
menerima garam dalam jumlah yang dapat menjadi racun. Namun
demikian, sebagian besar tumbuhan tidak dapat bertahan hidup
menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama. Pengecualian
pada halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam, dengan adaptasi
khusus seperti kelenjat garam, yang memompa garam keluar dari tubuh
melalui epidermis daun.
C. Plastisitas dan Adaptasi Tumbuhan
Tumbuhan hampir semuanya bersifat menetap, kerena tidak dapat
menghidari tekanan lingkungan, kecuali melaksanakan perubahan-perubahan di
dalam siklus hidupnya. Oleh sebab itu setiap individu harus mampu
menyesuaikan diri pada satu kisaran penampakan berbeda (plastisitas fenotip)
yang tergantung pada faktor lingkungan. Dan respon tumbuhan terhadap
perubahan kondisi lingkungan pada saat tertentu untuk kelulushidupannya,
mengakibatkan adanya sifat-sifat khas baik secara struktural maupun fungsional
yang memberikan peluang agar berhasil dalam lingkungan tertentu (Yuliani dan
Raharjo, 2009).
Menurut Yuliani dan Raharjo (2009), plastisitas merupakan reaksi
tumbuhan terhadap perubahan lingkungan yang sering disertai dengan modifikasi
berbagai organnya, sehinga toleransi terhadap faktor lingkungan menjadi luas.
Perubahan atau modifikasi ini menunjukkan adanya plastisitas dari organ tersebut.
Apabila kondisi kembali ke keadaan semula maka bentuk organ inipun berubah
lagi sesuai dengan bentuk normalnya. Apabila perubahan morfologi dan/atau
fisiologi tumbuhan sifatnya terus menerus, sebagai akibatnya adanya perubahan

Laporan Praktikum Ekofisiologi

10

struktur gen maka perubahan ini merupakan perubahan adaptasi tumbuhan.


Sifatnya akan tetap meskipun berada dalam kondisi lingkungan apapun. Salah
satu contoh adaptasi adalah penyesuaian tumbuhan terhadap kondisi air, sehingga
dikenal adanya kelompok tumbuhan hidofita, mesofita dan serofita.
Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organisme yang
berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling habitatnya. Sifat-sifat
tersebut memungkinkan tumbuhan mampu menggunakan lebih baik unsur-unsur
yang tersedia (hara, air, suhu, cahaya

juga sifat resistensi terhadap

pengganggu/penyakit atau hama). Tumbuhan dapat mempunyai adaptasi


morfologis seperti kekuatan batang atau bentuk tumbuhan dan adaptasi fisiologis
yang menghasilkan ketahanan parasit, kemampuan yang lebih besar dalam
mengambil unsur-unsur hara atau tahan terhadap kekeringan. Sebetulnya
perbedaan yang jelas tidak ada karena keduanya sama-sama menggambarkan
proses fisiologis. Jadi adaptasi dapat dinyatakan sebagai kemampuan individu
untuk mengatasi keadaan lingkunggan dan menggunakan sumber-sumber alam
lebih baik untuk mempertahankan hidupnya dalam relung (nisia, niche) yang
diduduki. Keadaan lingkungan disini berarti keadaan yang terus menerus berubah
selama pertumbuhan tumbuhan berlangsung. Hal ini berarti setiap tumbuhan
mempunyai adaptasi untuk hidup pada berbagai macam keadaan lingkungan.
Dengan demikian berarti tumbuahan merupakan hasil keturunan biologi dalam
lingkungannya (fp.uns.ac.id, 2000).
Banyaknya sekali sifat-sifat yang membantu tumbuhan untuk meniadakan
pengaruh keadaan yang tidak menguntungkan dan sebagai akibatnya memperluas
jangkauan kisaran tempat hidupnya (Lubis, 2000).
a. Adaptasi morfologi
Sebagai contoh dapat dilihat pada tumbuhan gurun atau setengah
gurun yang mempunyai bentuk perakaran yang dalam yang memungkinkan
pengambilan cadangan air di bawah tanah, dan pada rumput-rumput yang
terancam kematian di daerah-daerah setengah kering, yang membantu
menahan air bila ada dari sumber-sumber dalam udara (misalnya embun).
Sifat morfologis lain yang dianggap menyokong kemampuan hidup

Laporan Praktikum Ekofisiologi

11

tumbuhan di iklim kering, yaitu : rambut daun, berputarnya daun,


penyimpangan air dalam bulb, umbi dan akar.
b. Adaptasi anatomis
Sebagai contoh suatu tanaman rumput yang memiliki anatomi daun
yang spesifik, dapat mengikat CO2. Stomata tanaman CAM menutup di
siang hari untuk mengurangi kehilangan air akibat transparasi.
c. Adaptasi Biokimia
Adaptasi biokimia bertujuan untuk melindungi sel-sel dan jaringan
dari kerusakan dan kematian selama keadaan kering yang berat. Contohnya
biji-biji tanaman dari spesies Ephemeral mendukung (mengandung cukup
air) untuk perkecambahannya.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

12

BAB III
METODE PERCOBAAN
A. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini tergolong observasi, karena dilakukan pengamatan untuk
menjawab rumusan masalah, dan tidak terdapat variabel-variabel dalam penelitian
yang dilakukan.
B. ALAT DAN BAHAN
Alat
1. Termometer tanah

1 buah

2. Soil tester

1 buah

3. Timbangan

1 buah

4. Lux meter

1 buah

5. Higrometer

1 buah

6. Penggaris

1 buah

7. Meteran

1 buah

8. Kantung plastik

3 buah

9. Alu dan mortar

1 buah

10. Kertas milimeter

secukupnya

Bahan
1. Daun puring

secukupnya

2. Alkohol 95%

secukupnya

3. Kertas saring

secukupnya

C. LANGKAH KERJA
1. Memilih suatu tempat yang memperlihatkan adanya perubahan lingkungan
secara teratur, yaitu berdasarkan keadaan penyinaran. Kemudian
menentukan tiga tempat, yaitu : di tempat terbuka (terdedah), di bawah
pohon (ternaung), dan diantara kedua tempat tersebut.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

13

2. Memperhatikan dan mencari beberapa jenis tumbuhan yang hidup di


ketiga tempat tersebut, dan memilih tumbuhan perdu yaitu tanaman Puring
untuk dianalisis.
3. Melakukan pengukuran faktor-faktor fisik di ketiga tempat tersebut. Faktor
klimatorik yang diukur adalah suhu udara, kelembaban relatif udara dan
intensitas cahaya. Sedangkan faktor edafik yang diukur meliputi suhu
tanah, kelembaban tanah, pH tanah dan warna tanah.
4. Untuk setiap jenis tumbuhan (tanaman puring), melakukan pengukuran
terhadap :

Diameter batang

Panjang dan lebar daun

Luas daun

Panjang internodus

Panjang pteolus

Sebelum melakukan pengukuran menentukan dan memperhatikan


terlebih dahulu daun keberapa yang akan diukur yaitu pada daun ke-5
dari daun yang paling ujung. Setiap pengukuran dulakukan
pengulangan sebanyak 3 kali.
5. Membandingkan hasil pengukuran pada setiap tanaman puring di tempat
yang berbeda.
6. Melakukan pengukuran pada respon fisiologis yaitu menghitung kadar
klorofil a, kadar klorofil b, dan kadar klorofil total pada masing-masing
daun puring dari tempat yang berbeda:
a. Menimbang

0,25

gram

daun

yang

masih

segar,

kemudian

memotongnya kecil-kecil.
b. Menggerus potongan-potongan tersebut dalam lumpang porselin
sampai halus.
c. Mengekstraksi gerusan daun tersebut dengan menambahkan larutan
alkohol 95% sedikit demi sedikit sampai mencapai volume 20 mL.
d. Menyaring ekstrak tersebut menggunakan kertas saring sampai volume
akhir filtrat mancapai volume 20 mL. Jika kurang dari 20 mL maka
menambahkan kembali alkohol 95%.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

14

e. Mengukur kadar klorofil filtrat tersebut dengan menggunakan


spectrofotometer pada panjang gelonbang 649 nm dan 665 nm.
Sebelum pengukuran perlu dikalbrasi terlebih dahulu. Larutan yang
digunakan sebagai pelarut adalah alkohol 95%. Mencatat nilai
absorbansi (Optical Density/DO) larutan tersebut.
f. Kadar klorofil a, kadar klorofil b,

dan kadar klorofil total dapat

dihiting dengan rumus dari Wintermans dan de Mots sebagai berikut:


Klorofil a

: 13,7 x OD 665 5,76 x OD 649

(mg/l)

Klorofil b

: 25,8 x OD 649 7,7 x OD 665

(mg/l)

Klorofil total : 20,0 x OD 649 + 6,1 x OD 665

(mg/l)

7. Mencatat hasil pengamatan pada tabel.


D.
E. RANCANGAN PERCOBAAN
Memilih tempat terdedah, ternaung dan diantara keduanya

Mencari tumbuhan yang hidup di ketiga tempat tersebut (tanaman puring)

Melakukan pengukuran terhadap faktor fisik lingkungan yang meliputi faktor klimatorik dan faktor edafik

Melakukan pengukuran pada tanaman yaitu pada daun, internodus dan petiolus

Mengkalibrasikan terlebih dahulu


larutan alkohol 95% kemudian diukur
Laporan Praktikum Ekofisiologi
kadar klorofil pada spectrophotometer,
Mencatat hasilnya dalam tabel
dengan OD 649 dan OD 665

15

Membandingkan hasil pengukuran pada masing-masing tempat

Mengambil daun dari tempat terdedah, ternaung dan diantara keduanya

Mengukur kadar klorofil a, b dan total pada daun dari masing-masing tempat
Menggerus daun tersebut sampai halus

Menimbang sebanyak 0,25 gram


Membuat ekstraksi dengan menggunakan larutan alkohol 95% sebanyak 20 mL

Laporan Praktikum Ekofisiologi

16

Menyaring ekstraksi dengan


kertas
saring
kemudian
dimasukkan ke dalam tabung
spectrofotometar

Mengkalibrasikan
terlebih
dahulu larutan alkohol 95%
kemudian diukur kadar klorofil
pada
spectrophotometer,
dengan OD 649 dan OD 665

Mencatat hasil
pengamatan
dalam tabel

Laporan Praktikum Ekofisiologi

17

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Tabel
Tabel. Hasil Pengamatan Terhadap Daun Pada Kondisi Terdedah,
Ternaung, dan Diantara Keduanya Pada Daun Tanaman Puring
No

Hasil Pengamatan

1.

Kadar klorofil a

Kondisi (Tempat Tanaman Puring)


Terdedah
Ternaung
Diantara
3,297 mg/l
5,368 mg/l
4,747 mg/l

2.

Kadar klorofil b

4,013 mg/l

6,008 mg/l

3,424 mg/l

3.

Kadar klorofil total

7,335 mg/l

11,416 mg/l

8,206 mg/l

4.

Diameter batang

2,87 cm

3,5 cm

3,5 cm

5.

Panjang

p = 11 cm

p = 12,67 cm

p = 11,33 cm

daun

l = 3 cm

l = 6,67 cm

l = 2,33 cm

6.

Luas daun

24,67 cm2

30,67 cm2

23,33 cm2

7.

Panjang petiolus

0,6 cm

1,3 cm

1,4 cm

8.

Panjang internodus

0,5 cm

0,4 cm

0,3 cm

9.

pH tanah

10. Suhu tanah

23oC

22oC

23oC

11. Kelembaban tanah

80%

85%

83%

12. Suhu udara

32oC

29oC

30oC

dan

lebar

Laporan Praktikum Ekofisiologi

18

13. Kelembaban udara


14. Intensitas cahaya

74%

79%

76%

4200 cd/m2

400 cd/m2

800 cd/m2

2. Grafik

Grafik 1. Respon Fisiologi (Kadar Klorofil) Daun Puring Pada


Tempat yang Berbeda

Laporan Praktikum Ekofisiologi

19

Grafik 2. Respon Morfologi Tanaman Puring Pada Tempat yang Berbeda

Grafik 3. Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Tanaman Puring

Laporan Praktikum Ekofisiologi

20

B. ANALISIS DATA
Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui faktor lingkungan terhadap
respon morfologi dan respon tanaman puring. Pada tempat terdedah (di tempat
terbuka yang terkena sinar matahari langsung) dapat diketahui Ph tanah sebesar 7,
suhu tanah sebesar 23oC, kelembaban tanah sebesar 80%, suhu udara sebesar
32oC, kelembaban udara sebesar 74%, dan intensitas sebesar 4200 cd/m 2. Pada
kondisi terdedah tersebut tanaman puring mempunyai diameter batang sebesar
2,87 cm, panjang daun sebesar 11 cm, lebar daun sebesar 3 cm, luas daun sebesar
24,67 cm2, panjang petiolus sebesar 0,6 cm, panjang internodus sebesar 0,5 cm,
dan pada daun mempunyai kadar klorofil a sebesar 3,297mg/l, kadar klorofil b
sebesar 4,013 mg/l dan kadar klorofil total sebesar 3,065 mg/l.
Pada tempat ternaung (di tempat yang tidak terkena sinar matahari
langsung) dapat diketahui Ph tanah sebesar 7, suhu tanah sebesar 22oC,
kelembaban tanah sebesar 85%, suhu udara sebesar 29 oC, kelembaban udara
sebesar 79%, dan intensitas sebesar 400 cd/m2. Pada kondisi ternaung tersebut
tanaman puring mempunyai diameter batang sebesar 3,5 cm, panjang daun
sebesar 12,67 cm, lebar daun sebesar 2,67 cm, luas daun sebesar 30,67 cm 2,
panjang petiolus sebesar 1,3 cm, panjang internodus sebesar 0,4 cm, dan pada
daun mempunyai kadar klorofil a sebesar 5,368 mg/l, kadar klorofil b sebesar
6,008 mg/l dan kadar klorofil total sebesar 4,584 mg/l.
Pada tempat antara yaitu tempat yang terletak diantara tempat tededah dan
ternaung dapat diketahui Ph tanah sebesar 7, suhu tanah sebesar 23 oC,
kelembaban tanah sebesar 83%, suhu udara sebesar 30 oC, kelembaban udara
sebesar 76%, dan intensitas sebesar 800 cd/m2. Pada kondisi ternaung tersebut
tanaman puring mempunyai diameter batang sebesar 3,5 cm, panjang daun
sebesar 11,33 cm, lebar daun sebesar 2,33 cm, luas daun sebesar 23,33 cm 2,
panjang petiolus sebesar 1,4 cm, panjang internodus sebesar 0,3 cm, dan pada
daun mempunyai kadar klorofil a sebesar 4,747 mg/l, kadar klorofil b sebesar
3,424 mg/l dan kadar klorofil total sebesar 2,594 mg/l.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

21

Adanya faktor-faktor lingkungan yang berbeda pada tiap tempat akan


mempengaruhi bentuk khas dari tanaman puring yaitu dari segi morfologi maupun
dari segi fisiologi seperti luas daun, panjang daun, kadar klorofil, dan lain-lain.
C. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan dan hasil analisis data dapat diketahui bahwa
faktor-faktor lingkungan seperti suhu tanah, pH tanah, kelembaban tanah, suhu
udara, kelembaban udara serta intensitas cahaya berpengaruh terhadap respon
morfologi dan respon fisiologi dari suatu tumbuhan (tanaman puring).
Pada tanaman puring yang berada pada tempat yang terdedah (di tempat
yang terkena sinar matahari langsung) mempunyai faktor fisik lingkungan lebih
besar dibandingkan faktor fisik lingkungan pada tempat antara (diantara tempat
tededah dan ternaung) maupun ternaung (di tempat yang tidak terkena sinar
matahari langsung). Faktor fisik lingkungan tersebut adalah suhu tanah, suhu
udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Untuk pH tanah nilainya adalh
sama pada tempat terdedah, ternaung maupun diantara keduanya. Pada tempat
terdedah kelembaban tanah relatif rendah dibandingkan tempat ternaung maupun
tempat diantara keduanya, hal ini karena pada tempat tersebut terjadi penguapan
air yang menyebabkan kandungan air di dalam tanah menjadi berkurang.
Karena faktor fisik lingkungan pada tempat terdedah lebih besar
dibandingkan tempat ternaung maupun di tempat antara keduanya, maka terjadi
respon morfologi dan fisiologi pada tumbuhan dalam hal ini adalah tanaman
puring. Respon morfologi pada tanaman puring yang berada pada kondisi tempat
yang berbeda terlihat pada panjang, lebar dan luas daun, panjang petiolus, panjang
internodus serta diameter batang. Sedangkan untuk respon fisiologi terlihat pada
kadar klorofil a, klorofil b dan klorofil total.
Pada tanaman puring yang berada pada tempat terdedah memiki respon
morfologi dan respon fisiologi yang lebih kecil dibandingkan tanaman puring
yang berada pada tempat ternaung maupun diantara keduanya. Pada tanaman
puring yang berada pada tempat ternaung memiki respon morfologi dan respon
fisiologi yang lebih besar dibandingkan tanaman puring yang berada pada tempat
terdedah maupun diantara keduanya. Pada tempat ternaung, tanaman puring
memiliki panjang, lebar dan luas daun dengan nilai tinggi serta memiliki warna

Laporan Praktikum Ekofisiologi

22

daun yang lebih hijau karena hal ini digunakan oleh tumbuhan tersebut untuk
menangkap cahaya matahari yang kurang serta laju transpirasi yang kecil.
Sehingga mempengaruhi kadar klorofil yang ada pada daun.
Pada tempat yang terdedah memiliki panjang, lebar dan luas daun dengan
nilai yang kecil karena tumbuhan tersebut merespons perubahan lingkungan yaitu
suhu, air dan cahaya yang terjadi terus menerus. Tumbuhan merespon kekurangan
air, intensitas cahaya dab suhu tinggi dengan mengurangi laju transpirasi untuk
penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan sel-sel
penjaga kehilangan turgornya, suatu mekanisme kontrol tunggal yang
memperlambat transpirasi dengan cara menutup stoma. Kekurangan air juga
merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel
mesofil daun. Daun juga berespon terhadap kekurangan air dengan cara lain.
Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang bergantung pada turgor, maka
kekurangan air akan menghambat (pembesaran) daun muda. Respons ini
meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat
peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan
tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi
suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan sedikit
saja permukaan daun ke matahari. Semua respons daun ini selain membantu
tumbuhan untuk menghemat air, juga mengurangi fotosintesis (Campbell, 2003).
Respon tumbuhan yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan
ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tumbuhan,
volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya
rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan
laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi
aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi gen (Sinaga, 2001).
Karena perubahan lingkungan yang terjadi pada tanaman puring terjadi
teru-menerus dengan irama harian maka tumbuhan merespon dengan melakukan
adaptasi yaitu dari segi morfologi yang meliputi luas daun, panjang petiolus dan
panjang internodus, dan dari segi fisiologi yang meliputi kadar klorofil a, klorofil
b dan klorofil total pada daun. Menurut Yuliani dan Raharjo (2009), Apabila
perubahan morfologi dan/atau fisiologi tumbuhan sifatnya terus menerus, sebagai

Laporan Praktikum Ekofisiologi

23

akibatnya adanya perubahan struktur gen maka perubahan ini merupakan


perubahan adaptasi tumbuhan. Sifatnya akan tetap meskipun berada dalam kondisi
lingkungan apapun.
Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organisme yang
berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling habitatnya. Sifat-sifat
tersebut memungkinkan organisme atau tumbuhan mampu menggunakan lebih
baik unsur-unsur yang tersedia (hara, air, suhu, cahaya juga sifat resistensi
terhadap pengganggu/penyakit atau hama). Tumbuhan dapat mempunyai adaptasi
morfologis seperti kekuatan batang atau bentuk tumbuhan dan adaptasi fisiologis
yang menghasilkan ketahanan parasit, kemampuan yang lebih besar dalam
mengambil unsur-unsur hara atau tahan terhadap kekeringan. Jadi adaptasi dapat
dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan lingkunggan
dan menggunakan sumber-sumber alam lebih baik untuk mempertahankan
hidupnya dalam relung (nisia, niche) yang diduduki. Keadaan lingkungan disini
berarti keadaan yang terus menerus berubah selama pertumbuhan tumbuhan
berlangsung. Hal ini berarti setiap tumbuhan mempunyai adaptasi untuk hidup
pada berbagai macam keadaan lingkungan. Dengan demikian berarti tumbuahan
merupakan hasil keturunan biologi dalam lingkungannya (fp.uns.ac.id, 2000).

Laporan Praktikum Ekofisiologi

24

BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi sifat khas pada tumbuhan
(tanaman puring) antara lain pH tanah, kelembaban tanah, suhu udara,
kelembaban udara dan intensitas cahaya. Faktor-faktor lingkungan tersebut
pada tanaman puring berpengaruh pada panjang dan lebar daun, luas daun,
panjang petiolus, panjang internodus, diameter batang dan kadar klorofil
daun.
2. Respon morfologi meliputi panjang dan lebar daun, luas daun, panjang
petiolus, panjang internodus dan diameter batang, dan respon fisiologi
meliputi kadar klorofil daun pada tanaman puring yang berada pada
tempat berbeda. Pada tempat terdedah mempunyai respon morfologi dan
fisiologi lebih kecil dibandingkan tempat ternaung dan diantara keduanya,
sedangkan pada tempat terdedah mempunyai respon morfologi dan
fisiologi lebih besar dibandingkan tempat terdedah dan diantara keduanya.
3. Organ yang mampu berplastisitas dan beradaptasi dari tanaman puring
pada daerah ternaung, terdedah dan diantara keduanya adalah organ batang
dan daun.
B. SARAN
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :
1. Sebelum memulai praktikum sebaiknya menentukan terlebih tempat dan
tumbuhan yang akan diamati agar wantu praktikum lebih efisien.
2. Melakukan pengulangan beberapa kali (minimal 3 kali) pada pengukuran
faktor fisik lingkungan, panjang, lebar dan luas daun agar data yang
didapatkan lebih akurat.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

25

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
24
November
2008.
Angiospermae.
(Online),
(http://arch91.wordpress.com/category/biologi/, diakses tanggal 08 Maret
2009).
Anonim. 03 Juni 2008. Anatomi dan Morfologi Teratai (Nymphaea sp.). (Online),
(http://silvika.atspace.com/acara3.html, diakses tanggal 08 Maret 2009).
Campbell, Neil. A. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Lubis, Khairunnisa. 2000. Tanggap Tanaman terhadap Kekuranga Air. (Online),
(http://library.usu.ac.id/download/fp/fp-khairunnisa2.html, diakses tanggal
08 Maret 2009).
Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2008. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya:
Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa.
Salisbury, B. Frank. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung : ITB Press.
Sinaga, Soaloon. 2001. Asam Absisik Sebuah Mekanisme Adaptasi Tanaman
Terhadap
Cekaman
Kekeringan.
(Online),
(http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel%20Sinaga.pdf,
diakses
tanggal 09 Maret 2009).
Syabatini, Annisa. November 2007. Laporan Praktikum Biologi Umum. (Online),
(http://annisanfushie.wordpress.com/2008/12/07/fotosintesis/,
diakses
tanggal 08 Maret 2009).
Yuliani dan Raharjo. 2009. Panduan Praktikum Ekofisiologi. Surabaya :
Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa.

Laporan Praktikum Ekofisiologi

26

LAMPIRAN
OD
Panjang Gelombang 649 nm
o Daun puring di tempat terdedah

= 0,26

o Daun puring di tempat ternaung

= 0,40

o Daun puring di tempat antara

= 0,27

Panjang Gelombang 665 nm


o Daun puring di tempat terdedah

= 0,35

o Daun puring di tempat ternaung

= 0,56

o Daun puring di tempat antara

= 0,46

Perhitungan Kadar Klorofil Daun


Daun puring di tempat terdedah

o Klorofil a

: 13,7 x 0,35 - 5,76 x 0,26

= 3,297

mg/l

o Klorofil b

: 25,8 x 0,26 - 7,7 x 0,35

= 4,013

mg/l

o Klorofil total

: 20,0 x 0,26 + 6,1 x 0,35

= 7,335

mg/l

Daun puring di tempat ternaung

o Klorofil a

: 13,7 x 0,56 - 5,76 x 0,40

= 5,368

mg/l

o Klorofil b

: 25,8 x 0,40 - 7,7 x 0,56

= 6,008

mg/l

o Klorofil total

: 20,0 x 0,40 + 6,1 x 0,56

= 11,416

mg/l

Daun puring di tempat antara

o Klorofil a

: 13,7 x 0,46 - 5,76 x 0,27

= 4,747

mg/l

o Klorofil b

: 25,8 x 0,27 - 7,7 x 0,46

= 3,424

mg/l

o Klorofil total

: 20,0 x 0,27 + 6,1 x 0,46

= 8,206

mg/l

Laporan Praktikum Ekofisiologi

27