Anda di halaman 1dari 21

UNIVERSITAS INDONESIA

INTERNAL AUDIT DAN ENTERPRISE GOVERNANCE


MAKALAH
Diajukan sebagai salah satu komponen mata kuliah Audit Internal

Ayi Rahmat/1206316862
Denny Darmawan/120631
Frenda Nic Qomar Ernanto/1206317266
Nur Shabrinazaen/120631
Ratna Emilia/ 1206317865

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


Program Studi Akuntasi

SALEMBA
Februari 2015

STATEMENT OF AUTHORSHIP
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni
hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata
ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas kami menyatakan menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan
untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Mata ajaran

: Audit Internal

Judul makalah/tugas : Internal Audit dan Enterprise Governance


Tanggal

: Februari 2015

Dosen

: Achmad Baraba M.Ak


Nama

NPM

Ayi Rahmat

1206316862

Denny Darmawan

120631

Frenda Nic Qomar Ernanto

1206317266

Nur Shabrinazaen

120631

Ratna Emilia

1206317865

Tanda Tangan

BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan ekonomi yang semakin pesat berakibat semakin banyaknya perusahaan yang
bergerak pada berbagai bidang. Ketika perusahaan masih skala kecil, maka pimpinan perusahaan
dapat mengawasi secara langsung kinerja di perusahaannya. Akan tetapi, jika perusahaan semakin
besar skala usahanya maka diperlukan internal audit yang efektif dan efisien, yang bertugas dan
bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan internal didalam perusahaan.
Pengelolaan perusahaan yang profesional haruslah memiliki sistem yang terintegrasi dan
mendukung kinerja perusahaan secara keseluruhan. Berbagai cara telah diterapkan, salah satunya
dengan mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG). Namun demikian, terkadang
perusahaan yang telah memiliki sistem dan struktur yang baik pun tidak cukup untuk mencegah
terjadinya praktik bad Corporate Governance, salah satunya adalah tindakan Fraud (kecurangan).
Secara sederhana, kecurangan dapat diartikan perbuatan yang dilakukan untuk memberikan manfaat
tertentu kepada pelaku dan/atau kelompoknya, dan pada umumnya terkait dengan keuangan/finansial.
Dengan adanya internal audit maka diharapkan segala kebijakan pimpinan perusahaan dapat
dilaksanakan sebaik-baiknya, aset perusahaan dapat diamankan dan dapat memperoleh data akuntansi
yang akurat dan terpercaya.
Dalam perspektif penerapan GCG, internal audit merupakan organ pendukung yang dibentuk
oleh direksi untuk membantu tugas dan fungsi Direksi dalam mengawasi pengelolaan perusahaan
(KNKG 2006). Peranan dan fungsi internal audit dalam suatu perusahaan juga dipergunakan sebagai
parameter dan indikator untuk mengukur penerapan prinsip-prinsip GCG yaitu transparansi,
akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran. Adanya indikasi berkurangnya
kekeliruan administratif ataupun kekeliruan yang berdampak negatif terhadap finansial perusahaan,
juga menjadi tolok ukur keberhasilan internal audit. Selain itu, internal audit harus memberikan
masukan sebagai upaya pencapaian strategi bisnis perusahaan, mengevaluasi pengelolaan risiko usaha
dan memberikan rekomendasi perbaikan atas prosedur dan pengendalian terhadap proses-proses bisnis
perusahaan serta evaluasi kecukupan indikator kinerja perusahaan dari segi efisiensi dan efektivitas.
Aktivitas internal audit juga perlu menyadari bahwa tata kelola bukanlah merupakan himpunan
proses dan struktur yang berdiri sendiri, terpisah dari sistem lainnya. Tata kelola juga memiliki
keterkaitan dengan manajemen risiko dan juga pengendalian internal. Aktivitas tata kelola yang efektif
mempertimbangkan risiko pada saat menyusun strategi. Sebaliknya, manajemen risiko didasarkan
pada tata kelola yang efektif (misalnya, tone at the top, selera risiko dan toleransi risiko, budaya
risiko, dan pengawasan manajemen risiko). Sementara itu, pengendalian dan risiko juga saling terkait,
mengingat pengendalian merupakan setiap tindakan yang diambil oleh manajemen, Dewan

komisaris, dan pihak-pihak lain untuk mengelola risiko dan meningkatkan kemungkinan bahwa
sasaran yang ditetapkan akan dapat dicapai.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
a.
b.
c.
d.

Bagaimana kedudukan Internal Auditor dalam Suatu Organisasi?


Bagaimana hubungan internal dengan eksternal audit?
Bagaimana hubungan internal audit dengan audit komite?
Apa isi dari Piagam Internal Audit?

3. Tujuan Penulisan Makalah


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Memenuhi tugas pembuatan makalah mata kuliah Audit Internal di Universitas Indonesia.
b.
4. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
a. Penulis dapat melengkapi tugas mata kuliah Audit Internal di Universitas Indonesia.
b. Pembaca dapat menambah wawasan mengenai peran internal audit dan enterprise governance

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kedudukan Internal Audit dalam Organisasi

Berdasarkan Standards for The Professional Practice of Internal Auditing, dinyatakan bahwa
Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value
and improve an organization operations. It helps an organization accomplish its objectives by
bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk
management, control, and governance processes.
Robert R. Moeller (2009) menjelaskan bahwa There is no one optimal way to organize an
internal audit function in an enterprise today. There can be many differences in type of business,
geographic span, and organization structure, with differing internal audit needs for each. Namun
demikian, secara umum kedudukan internal audit dalam sebuah perusahaan dapat terdiri atas 3
alternatif, yaitu:
1. Berada di bawah Chief Financial Officer (CFO)
Dalam hal ini kedudukan auditor internal berada di bawah Kepala Bagian Keuangan suatu
perusahaan. Model ini diambil apabila fokus perusahaan tersebut sebagian besar terkait dengan hal
keuangan sehingga perlu ditekankan pengendalian yang lebih efektif di sisi keuangan.
2. Berada di bawah Direktur Utama
Dalam hal ini kedudukan auditor internal berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
CEO atau Direktur Utama. Sistem ini dipakai mengingat ruang lingkup fungsi dan tugas dari auditor
internal yang semakin luas, yaitu tidak hanya melakukan pengawasan atas satu bagian perusahaan saja
melainkan juga terhadap manajemen perusahaan secara keseluruhan.
3. Berada di bawah Dewan Komisaris
Apabila terdapat kebutuhan peran auditor internal yang lebih independen dalam perusahaan,
auditor internal dapat berada di bawah Dewan Komisaris, sehingga bahkan Direktur Utama dapat
diteliti oleh auditor internal. Dengan model ini, auditor internal bertanggung jawab secara fungsional
kepada Dewan Komisaris dan Direktur Utama serta bertanggung jawab secara administratif kepada
Direktur Utama.
Dalam pengorganisasian internal audit, Robert R Moeller (2009) menyebutkan terdapat 2
faktor utama yang harus diperhatikan yaitu sentralisasi atau desentralisasi struktur internal audit.
Sentralisasi struktur internal audit berarti bahwa kebijakan dan tindakan internal audit ditetapkan
secara terpusat. Sentralisasi ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
1. COSO Framework menekankan pada pentingnya kebijakan yang bersifat tone-at-the-top dari
manajemen puncak sehingga dapat dikomunikasikan dan diterapkan di semua level perusahaan.
2. Auditor internal yang terdesentralisasi mungkin tidak mengetahui dampak dari kebijakan dan
tindakan yang diambil perusahaan secara keseluruhan, terutama apabila komunikasi yang
dilakukan lemah.
3. Sentralisasi internal audit menunjukkan keseragaman kebijakan secara keseluruhan.
Di sisi lain, desentralisasi internal audit juga mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:
1. Auditor dapat memegang peranan yang lebih penting dengan mengambil keputusan atau kebijakan
yang lebih strategis.

2. Pemahaman yang lebih memadai atas kondisi dan permasalahan yang ada di level lokal.
3. Menghindari adanya delay penyampaian permintaan persetujuan atas keputusan atau kebijakan
yang diambil.
Robert R. Moeller (2009) selanjutnya menjelaskan bahwa kedudukan auditor internal dapat
diorganisasikan dalam 4 cara, yaitu:
1. Berdasarkan Tipe Audit
Internal audit dapat diorganisasikan berdasarkan tipe audit yang dilakukan, misalnya auditor
atas sistem informasi, auditor atas keuangan perusahaan, dan auditor atas operasional perusahaan.
Logika yang mendasari sistem ini adalah internal audit akan lebih efektif apabila bidang yang menjadi
lingkup audit adalah sesuai dengan kompetensi dan keahlian spesifik dari tiap auditornya. Namun
demikian, sistem ini memiliki kelemahan karena sering terjadi dalam 1 lingkup audit, dibutuhkan
keahlian dari banyak bidang, misalnya auditor internal yang mengaudit keuangan perusahaan sangat
mungkin membutuhkan informasi dan bantuan atas operasional perusahaan yang berada di bawah
tanggung jawab auditor internal lainnya.
2. Internal Audit Paralel dengan Struktur Organisasi Keseluruhan
Dalam model ini kedudukan auditor internal berada pada lini bisnis dari perusahaan, misalnya
pada divisi operasi atau pada anak perusahaan. Keuntungan dari model ini adalah internal auditor
dapat bekerja secara lebih efektif dan dapat mengkomunikasikan kegiatan pengawasannya kepada
manajemen yang bertanggung jawab atas lini bisnis tersebut.
3. Berdasarkan Area Geografis
Pada dasarnya pengorganisasian internal audit berdasarkan area geografis dapat berdasarkan
tipe audit yang dilakukan atau berada pada lini bisnis perusahaan, namun dengan lebih menekankan
pada area geografis. Misalnya, lokasi perusahaan yang tersebar namun masih berada di satu wilayah
bisa saja memiliki unit auditor internal yang sama untuk wilayah tersebut.
4. Kombinasi dari Ketiga Cara di Atas
Dalam model ini kedudukan internal audit mengombinasikan ketiga cara di atas disesuaikan
dengan cakupan operasional perusahaan dan adanya auditor dari kantor pusat yang turut serta
melakukan pengawasan.
Dalam peraturan-peraturan di berbagai insitusi, kedudukan internal audit dalam organisasi
sebuah perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Berdasarkan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
Dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance dari KNKG (2006) tidak dijelaskan
secara eksplisit kedudukan internal audit dalam penerapan Good Corporate Governance. Namun
demikian, berdasarkan pedoman tersebut Direksi memiliki 5 tugas utama antara lain manajemen risiko
dan pengendalian internal.
1) Manajemen Risiko
a. Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem manajemen risiko perusahaan yang
mencakup seluruh aspek kegiatan perusahaan;

b. Untuk setiap pengambilan keputusan strategis, termasuk penciptaan produk atau jasa baru,
harus diperhitungkan dengan seksama dampak risikonya, dalam arti adanya keseimbangan
antara hasil dan beban risiko;
c. Untuk memastikan dilaksanakannya manajemen risiko dengan baik, perusahaan perlu
memiliki unit kerja atau penanggungjawab terhadap pengendalian risiko.
2) Pengendalian Internal
1) Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian internal perusahaan yang
handal dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta memenuhi peraturan
perundang-undangan.
2) Perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah,
perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk
atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak
luas terhadap kelestarian lingkungan, harus memiliki satuan kerja pengawasan internal;
3) Satuan kerja atau fungsi pengawasan internal bertugas membantu Direksi dalam
memastikan pencapaian tujuan dan kelangsungan usaha dengan:
a) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program perusahaan;
b) memberikan saran dalam upaya memperbaiki efektifitas proses pengendalian risiko;
c) melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perusahaan, pelaksanaan
GCG dan perundangundangan; dan
d) memfasilitasi kelancaran pelaksanaan audit oleh auditor eksternal;
4) Satuan kerja atau pemegang fungsi pengawasan internal bertanggung jawab kepada
Direktur Utama atau Direktur yang membawahi tugas pengawasan internal. Satuan kerja
pengawasan internal mempunyai hubungan fungsional dengan Dewan Komisaris melalui
Komite Audit.
Mengacu kepada tugas Direksi di atas, peran internal audit dilaksanakan oleh Satuan Kerja
Pengawasan Internal yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direksi. Satuan Kerja
dimaksud mempunyai hubungan fungsional dengan Dewan komisaris melalui Komite Audit.
b. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)
Berdasarkan PBI Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Penerapan Good Corporate Governance bagi
Bank Umum, dalam rangka membantu pelaksanaan fungsi Direktur Kepatuhan secara efektif, Bank
membentuk satuan kerja kepatuhan (compliance unit) yang independen terhadap satuan kerja
operasional.
Pokok-pokok pengaturan dalam PBI dimaksud yang berkaitan dengan kedudukan internal
audit di Bank Umum adalah:
1) Dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, Direksi paling
kurang wajib membentuk:
a. Satuan Kerja Audit Intern;
b. Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Komite Manajemen Risiko; dan
c. Satuan Kerja Kepatuhan.
2) Direksi wajib menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari satuan kerja audit intern
Bank, auditor eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritas
lain.

3) Dewan Komisaris wajib memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan
rekomendasi dari satuan kerja audit intern Bank, auditor eksternal, hasil pengawasan Bank
Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritas lain.
Mengacu kepada PBI dimaksud menunjukkan bahwa kedudukan Satuan Kerja Audit Intern
berada di bawah Direksi.
c. Berdasarkan Peraturan Bapepam dan LK
Dalam Keputusan Kepala Bapepam dan LK Nomor KEP-496/BL/2008 tanggal 28 November
2008 tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal, dijelaskan
kedudukan internal audit sebagai berikut
1) Unit Internal Audit dipimpin oleh seorang Kepala Unit Internal Audit.
2) Kepala Unit Internal Audit diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama atas persetujuan
Dewan Komisaris.
3) Direktur utama dapat memberhentikan Kepala Unit Internal Audit setelah mendapat persetujuan
Dewan Komisaris, jika kepala Unit Internal Audit tidak memenuhi persyaratan sebagai auditor
Unit Internal Audit dan atau gagal atau tidak cakap menjalankan tugas.
4) Kepala Unit Internal Audit bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
5) Auditor yang duduk dalam Unit Internal Audit bertanggung jawab secara langsung kepada
kepala Unit Internal Audit.
d. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN
Dalam Peraturan Menteri BUMN No. PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, dinyatakan di
Pasal 28 bahwa:
a. Direksi wajib menyelenggarakan pengawasan intern.
b. Pengawasan intern sebagaimana dimaksud di atas dilakukan dengan:
1) membentuk Satuan Pengawasan Intern; dan
2) membuat Piagam Pengawasan Intern.
c. Satuan Pengawasan Intern dipimpin oleh seorang kepala yang diangkat dan diberhentikan oleh
Direktur Utama berdasarkan mekanisme internal perusahaan dengan persetujuan Dewan
Komisaris/Dewan Pengawas.
d. Fungsi pengawasan intern adalah:
1) Evaluasi atas efektifitas pelaksanaan pengendalian intern, manajemen risiko, dan proses tata
kelola perusahaan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan perusahaan;
2) Pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektifitas di bidang keuangan, operasional,
sumber daya manusia, teknologi informasi, dan kegiatan lainnya;
e. Direksi wajib menyampaikan laporan pelaksanaan fungsi pengawasan intern secara periodik
kepada Dewan Komisaris/Dewan Pengawas.
f. Direksi wajib menjaga dan mengevaluasi kualitas fungsi pengawasan intern di perusahaan.
Mengacu kepada Peraturan Menteri BUMN dimaksud menunjukkan bahwa kedudukan Satuan
Pengawasan Intern berada di bawah Direksi.
B. Hubungan Internal Audit dengan Eksternal Audit

Auditor internal dan auditor eksternal memiliki sasaran, tanggungjawab, dan kualifikasi yang
berbeda, serta bertugas dalam aktivitas yang berbeda pula. Tetapi mereka memiliki kepentingan
bersama yang menuntut adanya koordinasi bakat mereka untuk kepentingan perusahaan.
Sasaran auditor internal adalah untuk menelaah efisiensi dan efektivitas operasi, kepatuhan,
serta kecukupan dan efektivitas kontrol internal di perusahaan secara keseluruhan. Sedangkan sasaran
auditor eksternal adalah untuk menyatakan suatu opini tentang kewajaran dalam penyusunan dan
penyajian laporan keuangan.
Auditor internal memerhatikan seluruh aspek aktivitas perusahaan/organisasi, baik keuangan
maupun

nonkeuangan.

Sedangkan

auditor

eksternal

memerhatikan

aspek

keuangan

perusahaan/organisasi.
Tanggung jawab dan pelaksanaan audit oleh auditor internal dan eksternal sangat berbeda
dalam satu hal. Auditor internal bertanggung jawab kepada manajemen dan dewan direksi, sementara
auditor eksternal bertanggung jawab kepada pengguna laporan keuangan yang mengandalkan
kredibilitas laporan keuangan pada auditor. Namun auditor internal dan eksternal memiliki kesamaan,
diantaranya:
-

Harus kompeten sebagai auditor dan tetap objektif dalam menjalankan pekerjaan dan melaporkan

hasilnya
Menjalankan metodologi yang sama dalam menjalankan audit, termasuk merencanakan dan

menjalankan pengujian pengendalian dan pengujian substantif


Mempertimbangkan risiko dan materialitas dalam memutuskan perluasan pengujian dan
mengevaluasi hasilnya. Keputusan mereka atas materialitas dan risiko mungkin berbeda karena
pengguna eksternal dapat memiliki perbedaan kebutuhan dengan manajemen atau dewan direksi
Menurut Dobroeanu, L. & Dobroeanu C.L.(2002) dalam Daryanto (2013), koordinasi antara

aktivitas audit internal dengan audit eksternal perlu dilakukan. Audit eksternal memandang
memiliki

kemungkinan

untuk meningkatkan

efisiensi

dalam mengaudit laporan keuangan.

Sedangkan audit internal merasa terjamin dalam mengaudit laporan keuangan ditambah informasi
yang penting dalam penilaian kontrol risiko.
Auditor eksternal bergantung pada auditor internal saat menggunakan model risiko audit untuk
menilai risiko pengendalian. Jika auditor internal bekerja secara efektif, maka auditor eksternal dapat
mengurangi risiko pengendalian secara signifikan dan mengurangi pengujian substantif. Akibatnya
tagihan atas pembiayaan audit eksternal akan berkurang secara substansial bila klien menjalankan
fungsi audit internalnya dengan baik.
Apabila dari hasil evaluasi auditor eksternal dapat menggunakan pekerjaan auditor internal,
selanjutnya mereka diharuskan menentukan bagian mana pekerjaan auditor internal yang bisa
digunakan. Untuk itu, auditor eksternal juga harus mempertimbangkan strategi dan rencana audit,
utamanya dalam mempertimbangkan penggunaan judgement, menilai risiko salah saji, merancang
prosedur, serta bukti yang perlu dikumpulkan, agar secara agregat pekerjaan auditor internal dan
auditor eksternal dapat mendukung opini audit.

Auditor eksternal juga akan menilai apakah pekerjaan audit internal telah direncanakan,
dilakukan, diawasi, review, dan didokumentasikan dengan baik. Penilaian juga akan dilakukan untuk
memastikan bahwa bukti yang memadai telah diperoleh untuk menjadi dasar bagi auditor internal
menarik kesimpulan yang wajar, serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat auditor internal sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada.
Hubungan auditor internal dan auditor eksternal tercermin dalam Standar Perikatan Audit
(SPA) 610 tentang Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal.
SPA 610 ini mengatur tanggung jawab auditor eksternal dalam hubungannya dengan pekerjaan
auditor internal ketika auditor eksternal telah menentukan, berdasarkan SPA 315 1, bahwa fungsi audit
internal2 kemungkinan relevan dengan audit. Fugsi audit internal entitas kemungkinan relevan dengan
audit jika sifat tanggung jawab dan aktivitas fungsi audit internal terkait dengan pelaporan keungan
entitas, dan auditor berharap untuk menggunakan pekerjaan auditor internal untuk memodifikasi sifat
atau waktu, atau mengurangi luas, prosedur audit yang akan dilaksanakan. Pelaksanaan prosedur
berdasarkan SPA ini dapat menyebabkan auditor eksternal untuk mengevaluasi kembali penilaian
risiko kesalahan penyajian materil auditor eksternal. Sebagai akibatnya, hal ini dapat memengaruhi
penentuan auditor eksternal atas relevansi fungsi audit internal terhadap audit. Sama halnya, auditor
eksternal dapat memutuskan untuk tidak menggunakan pekerjaan auditor internal untuk memengaruhi
sifat, waktu, atau luas prosedur auditor eksternal.
1. Hubungan antara Fungsi Audit Internal dengan Auditor Eksternal
Tujuan fungsi audit internal ditentukan oleh manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola. Sementara tujuan fungsi audit internal dan auditor eksternal
berbeda, beberapa cara yang digunakan oleh fungsi audit internal dan auditor eksternal dalam
mencapai tujuan mereka masing-masing mungkin sama.
Tujuan fungsi audit internal sangat bervariasi dan bergantung pada ukuran dan struktur entitas
dan ketentuan manajemen dan, jika relavan, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Aktivitas
fungsi audit internal dapat mencakup satu atau lebih hal-hal sebagai berikut:
a. Pemantauan pengendalian internal
b. Pemeriksaan atas informasi keuangan dan informasi operasional
c. Pereviuan aktivitas operasi
1

SPA 315, Pengidentifikasian dan Rpenilaian Risiko Kesalahan Penyajian Material melalui Pemahaman atas Entitas
dan Lingkungannya, paragraf 23: Jika entitas memiliki fungsi audit internal, maka auditor harus memperoleh suatu
pemahaman tentang hal-hal di bawah ini untuk menentukan apakah fungsi tersebut kemungkinan relevan dengan
audit:Sifat tanggung jawab fungsi audit internal dan bagaimana fungsi tersebut cocok dengan struktur organisasi
entitas; dan
b) Aktivitas yang dilakukan atau yang akan dilakukan oleh fungsi audit internal.

2 SPA 610 par. 7 menyatakan bahwa fungsi audit eksternal adalah suatu aktivitas penilaian yang ditetapkan
atau disediakan sebagai suatu jasas bagi entitas. Fungsi audit internal mencakup antara lain pemeriksaan,
pengevaluasian, dan pemantauan kecukupan dan keefektivitasan pengendalian internal.

d. Pereviuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan


e. Pengelolaan risiko
f. Tata kelola
Terlepas dari tingkat otonomi dan objektivitas fungsi audit internal, fungsi tersebut tidak
independen dari entitas sebagaimana yang dituntut dari auditor eksternal ketika menyatakan opini atas
laporan keuangan. Auditor eksternal memiliki tanggung jawab tunggal atas dinyatakannya opini audit,
dan tanggung jawab tersebut tidak berkurang dengan digunakannya pekerjaan auditor internal oleh
auditor eksternal.
Dalam hal entitas memiliki suatu fungsi audit internal dan auditor eksternal telah mentukan
bahwa pekerjaan auditor internal tersebut kemungkinan relevan dengan audit yang dilakukannya,
tujuan auditor eksternal adalah sebagai berikut:
a. Untuk menentukan apakah akan menggunakan pekerjaan tertentu auditor internal, dan seberapa
luas penggunaan pekerjaan auditor internal tersebut; dan
b. Jikamenggunakan pekerjaan tertentu auditor internal, menentukan apakah pekerjaan tersebut cukup
untuk tujuan audit.
2.Penentuan Apakah akan Menggunakan Pekerjaan Auditor Internal dan Seberapa Luas
Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal Tersebut
Penentuan apakah akan menggunakan pekerjaan auditor internal dan seberapa luas
penggunaan pekerjaan auditor internal tersebut, auditor eksternal harus menentukan:
a. Apakah pekerjaan auditor internal kemungkinan culup untuk tujuan audit; dan
b. Jika cukup, pengaruh yang direncanakan dari pekerjaan auditor internal terhadap sifat, waktu, atau
luas prosedur auditor eksternal.
Dalam menentukan apakah pekerjaan auditor internal kemungkinan cukup untuk tujuan audit,
auditor eksternal harus mengevaluasi:
1. Objektivitas fungsi audit internal
- Status fungsi audit internal dalam entitas dan pengaruh status tersebut terhadap kemampuan
-

auditor internal untuk bersikap objektif.


Apakah fungsi audit internal melapor kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola atau
seseorang dengan kewenangan yang tepat, dan apakah auditor internal memiliki akses langsung

ke pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola.


Apakah auditor internal bebas dari tanggung jawab yang saling bertentangan.
Apakah pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola mengawasi keputusan-keputusan tentang

kepegawaian yang terkait dengan fungsi audit internal.


Apakah terdapat hambatan atau pembatasan yang ditujukan kepada fungsi audit internal oleh
manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.

Apakah menajemen bertindak berdasarkan rekomendasi fungsi audit internal, seberapaluas


tindakan tersebut dilakukan, dan bagaimana tindakan tersebut dibuktikan.

2. Kompetensi teknis auditor internal


- Apakah auditor internal merupakan anggota organisasi profesi yang relevan.

Apakah auditor internal memiliki pelatihan dan kecakapan teknis yang cukup sebagai auditor
internal.

Apakah terdapat kebijakan yang ditetapkan dalam perekrutan dan pelatihan auditor internal.

3. Apakah pekerjaan auditor internal kemungkinan dilaksanakan dengan kecermatan dan kehatihatian profesional
- Apakah aktivitas fungsi audit internal direncanakan, disepervisi, ditelaah, dan dikokumentasikan
dengan baik.
-

Keberadaan dan kecukupan manual audit atau dokumen sejenis lainnya, program kerja, dan
dokumentasi audit internal.

4. Apakah komunikasi antara auditor internal dengan auditor eksternal kemungkinan efektif
Komunikasi antara auditor eksternal dengan auditor internal kemungkinan paling efektif ketika
auditor internal bebas berkomunikasi secara terbuka dengan auditor eksternal, dan
-

Pertemuan diselenggarakan pada waktu yang tepat selama periode audit.


Auditor eksternal diinformasikan tentang, dan memiliki akses atas, laporan audit internal, serta
diinformasikan tentang setiap hal signifikan yang dapat menjadi perhatian auditor internal ketika

hal tersebut dapat memengaruhi pekerjaan auditor eksternal; dan


Auditor eksternal menginformasikan kepada auditor internal setiap hal signifikan yang dapat
memengaruhi fungsi audit internal.

C. Hubungan Internal Audit dengan Komite Audit


Pada bulan Desember 2002, IIA mengeluarkan practice Advisory 2060-2 Relationship with
the Audit Committe yang menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan adanya kelompok pengawasan
yang lain di dalam organisasi yang melaksanakan fungsi-fungsi yang biasa dilakukan oleh komite
audit namun memiliki nama yang berbeda. Kelompok tersebut hendaknya dipertimbangkan sebagai
entitas pengawasan audit yang mana direktur audit sebaiknya:
1. Memberikan bantuannya untuk memastikan bahwa akta, aktivitas dan proses yang telah
mereka laukukan berjalan dengan benar.
2. Memastikan bahwa akta, peranan dan aktivitas dari audit internal telah jelas dimengerti dan
responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan dari komite audit dan dewan.
3. Memelihara komunikasi yang terbuka dan efektif dengan komite audit dan ketuanya
Direktur audit dapat bertindak dalam kapasitasnya selaku penasihat untuk komite. Selain itu,
aktivitas audit internal hendaknya membantu komite untuk memastikan bahwa mereka telah
memahami, mendukung, dan menelaah seluruh bantuan yang dibutuhkan dari fungsi audit internal.
Perlu diperhatikan bahwa komunikasi dengan komite harus dilakukan secara terbuka dan jelas.
Hubungan auditor internal dengan board of audit committee menjadi tantangan tersendiri bagi
tim auditor internal. Auditor internal bertanggung jawab memberikan laporan audit internal kepada
komite audit yang kemudian rencana aktivitas keseluruhan akan disetujui dan di review oleh komite

audit. Auditor internal dan komite audit tidak setiap hari melakukan kontak, namun auditor internal
harus menyadari bahwa komite audit merupakan pihak dimana internal auditor dapat melaporkan
masalah dan kemudian komite audit mencari resolusinya. CAE internal auditlah yang sering
melakukan kontak dengan komite audit dan seringkali mendidik dan memberi saran mengenai issue
audit internal.
Dengan adanya SOx, komite audit dan audit internal memiliki tanggungjawab yang lebih
besar,dimana intenala udit bertanggungjawab memberikan pelayanan kepada komite audit meski
pun yang lebih sering melakukan kontak dengan komite audit adalah CAE. Sebelumnya, rekomendasi
dalam meningkatkan independensi dan efektivitas komite audit pada tahun 1999 dari Blue Ribbon
Committee, standard eksternal auditor dari AICPA, dan standar independen direktur komite audit dari
stock exchange belum cukup mampu menjadi solusi dari masalah seperti Enron.
2. Peran Komite Audit
Agar dapat melaksanakan rencana audit, fungsi internal audit harus mendapat otorisasi dan
persetujuan dari komite audit melalui piagam audit. Komite audit merupakan komite yang berbeda
dari komite lainnya, yang merupakan outside director dan harus independen terhadap manajemen,
memiliki pemahaman, dapat memonitor, mengkoordinasi ,menginterpretasikan internal control dan
menghubungkan aktivitas keuangan terkait untuk seluruh board.
Bagi perusahaan non profit dan swasta, internal audit tidak di atur dalam Soxdan SEC dan
audit internal dapat dilakukan oleh fungsi internal auditor dan seluruh manajemen perusahaan.Internal
audit memiliki peran yang lebih besar dibanding eksternal audit yang hanya bertanggung jawab pada
keakuratan dan kewajaran laporan keuangan. Internal audit bertugas menilai internal control atas
kehandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, serta kepatuhan perusahaan terhadap
hukum dan regulasi. Pada kasus jatuhnya Enron adalah satu contoh kegagalan yang dikarenakan oleh
komite audit dan board yang memiliki tata kelola perusahaan yang kurang independen.
3. Organisasi dan Piagam Komite Audit
Komite audit merupakan komponen operasi dari BOD yang bertanggung jawab terhadap
internal kontrol dan pengawasan pelaporan keuangan. Tidak ada batasan untuk ukuran komite audit,
namun dalam 12-16 board biasanya terdiri dari 5-6 anggota komite audit. Pihak manajemen atau
pihak luar yang diundang dalam rapat komite audit tidak dapa tmenjadi anggota dengan hak voting
penuh. Komite-komite perusahaan termasuk komite audit di dirikan dengan sebuah ketetapan atau
putusan (resolution) dari board. Putusan ini di dokumentasikan dalam catatatan board dan pada
umumnya tidak direvisi kecuali dibutuhkan perubahan dalam keadaan
tertentu. Dalam putusan board, BOD yang membuat peraturan.
Fungsi internal audit perusahaan beroperasi melalui piagam audit internal, sebuah dokumen
yang disetujui komite audit untuk menguraikan peran dan tanggungjawab internal audit mengenai:
a. Identifikasi, menilai, dan mengelola risiko keuangan dan ketidakpastian

b.
c.
d.
e.
f.
g.

Perbaikan sistem keuangan yang berkelanjutan


Integritas laporan keuangan dan pengungkapan keuangan
Kepatuhan terhadap persyaratan dan peraturan hokum
Kualifikasi, independensi, dan kinerja dari auditor luar independen
Kapabilitas, sumber dan kinerja dari departemen audit internal
Komunikasi penuh dan terbuka dengan dan antara akuntan independen, manajemen,auditor
internal, counsel, karyawan, komite audit, dan board
Piagam audit internal mencakup aktivitas dari fungsi audit internal tetapi tidak mencakup

aktivitas board komite audit perusahaan. SOx kini telah mewajibkan masing-masing board komite
audit mengembangkan piagam audit formal untuk di publish sebagai bagian dari annual
proxy statement. Piagam tersebut tidak memiliki standar atau format khusus namun NYSE telah
mempublish model untuk di gunakan perusahaan. Piagam komite audit merupakan komitmen untuk
memastikan integritas laporan keuangan dan untuk mengawasi fungsi internal dan eksternal auditor.
Piagam komite audit pada umumnya mencakup:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tujuan dan wewenang komite audit


Komposisi komite audit
Jadwal rapat
Prosedur komite audit
Aktivitas utama komite audit
Aktivitas diskresioner (aktivitas bernilai tambah)
Keterbatasan komite audit
SOx mewajibkan setidaknya satu dari direktur komite audit independen harus menjadi ahli

keuangan. Ahli keuangan ini akan menjadi awal bagi CAE untuk lebih mengikat internal audit dengan
komite audit. Dalam banyak situasi, CAE dan audit internal dapat menjadi pengaruh bagi
keberlanjutan corporate governance. Audit internal dapat membantu komite audit melalui 3 langkah
pendekatan ini:
a. Auditor internal memberikan laporan dan prestasi, memberikan ringkasan detail dari proses audit
internal untuk penilaian risiko, perencanaan, dan melaksanakan audit, serta melaporkan hasilnya
melalui laporan audit.
b. Bekerjasama dengan orang lain dan sumber lainnya, menunjukkan rencana kepada komite audit.
c. Mengembangkan rencana detail untuk me review dan menilai internal kontrol perusahaan.
Pada langkah pertama internal audit harus menjelaskan proses dan prosedur kepada komite audit,
seluruh board, serta manajemen. Sebelum melakukan presentasi, interna laudit harus melakukan
pengecekan untuk menilai praktik audit internal yang sekarang dijalankan. Dari sini auditor internal
dapat melakukan perbaikan
4. Tanggung Jawab Komite Audit dalam Internal Audit
Komite audit memiliki tanggung jawab utama untuk suatu perusahaan dalam fungsi audit
internal. Sebelum SOx, konsep audit internal dilaporkan kepada komite audit kemudian dilaporkan ke
direktur keuangan (CFO) atau corporate officer senior lainnya. Fungsi audit internal modern saat

harus memiliki piagam internal audit, dan harus berhubungan dengan komite audit perusahaan.
Piagam ini memiliki hubungan khusu sdengan audit internal dan biasanya memerlukan audit komite
untuk:
a. Mereview sumber daya, rencana, kegiatan, staf, dan struktur organisasi audit internal.
b. Review janji, kinerja, dan penggantian CAE.
c. Review seluruh laporan audit yang disiapkan oleh auditor internal bersama-samadengan
manajemen.
d. Review
dengan

manajemen,

CAE,

dan

akuntan

independen

dalam

hal pelaporan keuangan dan sistem pengendalian internal. Ulasan ini harusmencakup

ruang

lingkup dan hasil dari program audit internal dan kerjasama yangdiberikan atau keterbatasan, jika
ada, harus di ungkap oleh manajemen pada perilakuyang berada di Program audit internal.
5. Pengangkatan Kepala Eksekutif Audit
Kepala

Internal

audit

biasanya

secara

administratif

melaporkan

kepada

manajemen perusahaan, tetapi Komite Audit bertanggung jawab atas perekrutan dan pemberhentian

kepala

audit

internal

ini.

Komite

Audit

juga

mungkin

terlibat

ketika

Komite audit juga mungkin terlibat ketika kepala internal audit ditunjuk sebagai pegawai dari
perusahaan. Tujuannya yaitu melayani kebutuhan gabungan manajemen perusahaan dan komite audit.
Sebaliknya pentingnya partisipasi komite audit adalah untuk memastikan independensi fungsi audit
internal ketika ada kebutuhan untuk berbicara mengenai isu-isu dalam ulasan dan penilaian
pengendalian internal dan kegiatan usaha lainnya. Manajemen mungkin menyarankan promosi
seseorang dari dalam perusahaan atau mungkin merekrut orang luar untuk menjabat kepala internal
audit, tetapi komite audit memiliki keputusan akhir.
Komite audit biasanya tidak terlibat dalam hal administrasi sehari-hari mengenai CAE dan
seluruh fungsi audit internal tetap harus memastikan berkelanjutan kualitas fungsi audit internal.
Komite audit umumnya tidak di tempat setiap hari untuk memberikan pengawasan audit internal dan
harus bergantung pada manajemen untuk beberapa dukungan.
6. Persetujuan Piagam Internal Audit
Piagam audit internal berfungsi sebagai dasar atau otorisasi untuk setiap program audit internal
yang efektif. Sebuah piagam yang memadai sangat penting untuk menentukan peran dan tanggung
jawab audit internal dan tanggung jawab untuk melayani komite audit dengan benar. Di sinilah misi
audit internal harus jelas memberikan pelayanan kepada komite audit serta manajemen senior. Piagam
audit internal adalah dokumen yang luas tapi umum yang mendefinisikan tanggung jawab dari audit
internal dalam perusahaan, menjelaskan standar diikuti, dan mendefinisikan hubungan antara komite
audit dan audit internal.

Komite audit bertanggung jawab untuk menyetujui piagam audit internal, hanya sebagai full
board bertanggung jawab untuk menyetujui piagam komite audit. Siapa yang bertanggung jawab
penyusunanini piagam audit internal? Secara teori, mungkin,

komite audit mungkin menyusun

dokumen ini sebagai kegiatan komite dewan. Pada kenyataannya, CAE biasanya akan memimpin
dalam penyusunan piagam ini dan atau akan menyarankan update yang tepat untuk suatu piagam yang
ada ke ketua komite audit. CAE biasanya bekerja sama dengan ketua komite audit untuk menyusun
persyaratan ini. Selain piagam, sifat khusus dan lingkup tanggung jawab layanan audit internal
terhadap komite audit harus diformalkan dan diuraikan. Tanggung jawab ini dapat mencakup periodic
ditulis laporan status audit, pertemuan yang dijadwalkan secara rutin dengan komiteaudit, dan baik
hak dan kewajiban akses audit internal yang langsung ke komite audit.
Pernyataan piagam ini merupakan hubungan audit internal terhadap komite audit dan
sangat penting karena audit internal juga memiliki hubungan kerja dengan manajemen perusahaan.
7. Persetujuan Rencana dan Anggaran Internal Audit
Idealnya, komite audit harus telah mengembangkan pemahaman keseluruhan audit internal
atas kebutuhan dari perusahaan. Penilaian tingkat tinggi ini meliputi berbagai kontrol khusus dan
masalah pelaporan keuangan, yang memungkinkan komite audit untuk menentukan porsi audit atau
penilaian risiko perlu dilakukan oleh audit internal dan penyedia lain. Sebagai bagian dari peran ini,
komite audit bertanggung jawab

untuk meninjau dan menyetujui semua rencana dan anggaran

tingkat audit internal yang lebih tinggi. Tanggung jawab ini konsisten dengan peran komite audit
sebagai koordinator utama dari upaya pemeriksaan keseluruhan.
Manajemen perusahaan dan CAE mungkin memiliki ide-ide mereka sendiri tentang apa yang
perlu dilakukan, tetapi tindakan ini adalah tanggung jawab komite audit.Tanggung jawab audit yang
baru sejak diperkenalkannya SOx telah mengubah peran bahwa semua pihak yang berkepentingan
harus memahami sifat dari rencana audit keseluruhan. Manajemen perusahaan, auditor internal, dan
audit eksternal yang sama kemudian akan tahu apa yang diharapkan dari dewan komisaris. Komite
audit harus mengasumsikan peran koordinasi tingkat tinggi. Meskipun ada keterbatasan
praktis tentang bagaimana aktif komite audit dapat terlibat dalam perencanaan rinci proses, beberapa
keterlibatan menunjukkan nilai yang tinggi. Manajemen dan komite mungkin menyarankan daerah
potensial audit internal review, dan audit internal harus mengembangkan rencana dalam batasan
anggaran dan keterbatasan sumber daya. Jika komite audit telah menyarankan review beberapa daerah
khusus tetapi audit internal tidak dapat melakukan audit yang direncanakan karena beberapa kendala
diketahui,CAE harus secara jelas mengkomunikasikan kekurangan kepada komite audit.
8. Review Komite Audit dan Temuan Audit Signifikan

Tanggung jawab komite audit yang paling penting adalah untuk meninjau dan mengambil tindakan
atas temuan audit yang signifikan atas laporan yang diberikan oleh auditor internal dan eksternal,
manajemen, dan lain-lain. Auditor internal secara rutin melaporkan temuan audit yang signifikan serta
status dan disposisi dari temuantersebut. Auditor internal harus bertindak agresif tidak hanya dalam
melaporkantemuan yang signifikan tetapi melakukan tindakan pemantauan untuk menilai koreksiyang
tepat dan tindakan yang diambil.
D. Piagam Internal Audit
Robert R. Moeller (2009) menyatakan bahwa An internal audit charter is a formal document,
approved by the audit committee, to describe the mission, independence, objectivity, scope,
responsibilities, authority, accountability, and standards of the internal audit function for an
Enterprise. Menurut Robert R. Moeller (2009), tidak ada bentuk format yang ditentukan untuk
Piagam Internal Audit, namun ditekankan bahwa ...an internal audit charter should affirm internal
audits a) Independence and objectivity, b) Scope of responsibility, and c) Authority and
accountability
Definisi lain dalam International Standards For The Professional Practice Of Internal
Auditing (Standards) menyatakan bahwa The internal audit charter is a formal document that
defines the internal audit activity's purpose, authority, and responsibility. The internal audit charter
establishes the internal audit activity's position within the organization, including the nature of the
chief audit executives functional reporting relationship with the board; authorizes access to records,
personnel, and physical properties relevant to the performance of engagements; and defines the scope
of internal audit activities. Final approval of the internal audit charter resides with the board.
Selanjutnya, dalam Standar tersebut juga dinyatakan:
1000 - Purpose, Authority, and Responsibility
The purpose, authority, and responsibility of the internal audit activity should be formally defined in a
charter, consistent with the Standards, and approved by the board.
1000.A1 - The nature of assurance services provided to the organization should be defined in the
audit charter. If assurances are to be provided to parties outside the organization, the nature of these
assurances should also be defined in the charter.
1000.C1 - The nature of consulting services should be defined in the audit charter.
KH Spencer Pickett (2011, p. 138-139) menjelaskan bahwa Piagam Audit menyatakan posisi
audit dalam organisasi dan mencakup beberapa isu, yaitu
1. The nature of internal auditing
2. The audit objectives

3. The scope of audit work


4. Audits responsibilities
5. Audits authority
6. Outline of independence
Dalam Peraturan Bapepam Nomor IX.I.7 tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan
Piagam Unit Audit Internal (KEP 496/BL/2008), perusahaan publik wajib memiliki piagam audit
internal (internal audit charter). Piagam ini ditetapkan oleh Direksi setelah mendapat persetujuan
Dewan Komisaris. Isi Piagam Audit Internal minimal meliputi:
1. struktur dan kedudukan Unit Audit Internal;
2. tugas dan tanggung jawab Unit Audit Internal;
3. wewenang Unit Audit Internal;
4. kode etik Unit Audit Internal yang mengacu pada kode etik yang ditetapkan oleh asosiasi Audit
Internal yang ada di Indonesia atau kode etik Audit Internal yang lazim berlaku secara
internasional;
5. persyaratan auditor yang duduk dalam Unit Audit Internal;
6. pertanggungjawaban Unit Audit Internal; dan
7. larangan perangkapan tugas dan jabatan auditor dan pelaksana yang duduk dalam Unit Audit
Internal dari pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan baik di Emiten atau Perusahaan Publik
maupun anak perusahaannya.
Review atas Piagam Internal Audit PT Intraco Penta Tbk
Piagam Internal Audit PT Intraco Penta Tbk terdiri atas bagian-bagian berikut (terlampir):
1. Pembukaan
2. Visi Internal Audit Corporate
3. Misi Internal Audit Corporate
4. Wewenang Internal Audit Corporate
5. Tugas dan Tanggung Jawab Internal Audit Corporate
6. Ruang Lingkup Internal Audit Corporate
7. Kode Etik Internal Audit Corporate
8. Kedudukan Internal Audit Corporate
9. Hubungan Internal Audit Corporate dengan Komite Audit
10. Hubungan Internal Audit Corporate dengan Pihak-Pihak Eksternal
11. Tanggung Jawab Manajemen
12. Penutup
Dengan mengacu kepada Peraturan Bapepam Nomor IX.I.7 tentang Pembentukan dan
Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal, Piagam Internal Audit PT Intraco Penta Tbk tidak

menyajikan 2 persyaratan minimal sebuah piagam internal audit sehingga tidak memenuhi ketentuan
Peraturan Bapepam dimaksud, yaitu:
1. Tidak adanya persyaratan auditor yang duduk dalam Unit Audit Internal
2. Tidak adanya ketentuan yang mengatur larangan perangkapan tugas dan jabatan auditor dan
pelaksana yang duduk dalam Unit Audit Internal dari pelaksanaan kegiatan operasional
perusahaan baik di Emiten atau Perusahaan Publik maupun anak perusahaannya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

DAFTAR PUSTAKA
Exposure Draft Standar Perikatan Audit (SPA) 315 tentang Pengidentifikasian dan Rpenilaian Risiko

Kesalahan Penyajian Material melalui Pemahaman atas Entitas dan Lingkungannya. IAPI.
Exposure Draft Standar Perikatan Audit (SPA) 610 tentang Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal
IAPI.
Moeller, Robert R. (2009). Brinks Modern Internal Auditing: A Common Body of Knowledge. Wiley
Pickett, KH Spencer. (2011). The Essential Guide to Internal Auditing. Wiley
The Institute of Internal Auditors. (2001). Standards for the Professional Practice of Internal
Auditing. www.na.theiia.org
The Institute of Internal Auditors. (2013). International Standards For The Professional Practice Of
Internal Auditing (Standards). www.na.theiia.org
Kedudukan dan Fungsi Internal Auditor. (2013, 15 Agustus).
http://artikelakuntansi.com/wp-content/uploads/2013/04/perbedaan.pdf. (diakses tanggal 23 Februari
2015)
http://auditorinternal.com/2012/06/06/babak-baru-hubungan-auditor-internal-dan-eksternal/.
(diakses tanggal 23 Februari 2015)
http://www.nanangbudianas.blogspot.com. (diakses pada 20 Februari 2015)
http://demonkamikazetuit.blogspot.com/2012/04/blog-post.html. (diakses tanggal 23 Februari 2015.)
https://ikarosalia.wordpress.com/author/ikarosalia/. (diakses tanggal 23 Febrauari 2015)