Anda di halaman 1dari 5

Gastroretentive Drug Delivery Sistem

Sistem penghantaran obat tinggal di lambung (GDDS) adalah salah satu cara untuk memperpanjang
waktu tinggal sediaan di dalam lambung, dengan maksud untuk pemberiaan obat lokal pada saluran
cerna bagi an atas ataupun untuk efek sistemik (Nayak, et al., 2010). Keuntungan dari penggunaan
sistem penghantaran obat tinggal di lam bung adalah untuk menurunkan perubahan pelepasan obat,
pengobatan lokal dan aksi lokal, dan untuk meningkatkan bioavailabilitas obat yang absorpsinya
terbatas di dalam saluran cerna.
Adapun metode untuk membuat sediaan tinggal di lambung adalah:
- Penambahan bahan yang memperlambat pelepasan, seperti makanan, atau obat, sebagai contoh
propanthilen.
- Penggunaan bahan yang berat jenisnya tinggi: bahan dengan berat jenis tinggi ( 2.5g/cm3)
akan mempunyai waktu tinggal yang lama di saluran cerna. Hal ini dapat dicapai dengan
penambahan bahan seperti barium sulfat.
- Pengubahan ukuran/bentuk sistem pe nghantaran dengan menggunakan lapisan polimer, balon
hidrogel yang mengembang, atau polimer yang mempunyai ukuran besar untuk melewati sphingter
pylorus
- Sistem bioadesi. Sistem ini memuny ai daya lengket terhadap mukosa.
- Penggunaan bentuk sediaan floating (mengapung). Sistem ini melawan waktu pengosongan
lambung. Sistem ini tidak dipengaruhi waktu pengosongan lambung dan mempunyai pengaruh grav
itasi yang kecil dibandingkan bahan bahan lain yang terdapat di lambung (Aulton, 2008).
Gastroretensi dilakukan untuk:
Obat-obatan yang diabsorbsi dari lambung (ex: Levodopa, Furosemide).
Beraksi secara lokal di dalam lambung(Antacids, Antiulcer and Enzymes).
Terapi antibiotik.
Obat-obatanyang kelarutannyaburuk Obat-obatanyang kelarutannyaburukpada pH basa (ex:
Diazepam, Salbutamol)
Obat-obatan yang terdegradasi di kolon(ex: Captopril, Ranitidine, Metronidazole)
Obat-obatan yang memiliki jendelaabsorpsi sempit
Keuntungan gastroretentive :
Meningkatkan absorpsi obat, karena meningkatkan GRT dan meningkatkan waktu kontak
bentuk sediaan pada tempat absorpsinya.
Obat dihantarkan secara terkontrol.
Penghantaran obat untuk aksi lokal di lambung.
Meminimalkan iritasi mukosa oleh obat, dengan melepaskan obat secara lambat pada laju
yang terkontrol
Treatmen gangguan gastrointestinal seperti refluks gastroesofagus
Mudah diberikan dan pasien merasa lebih nyaman.
Keurugian gastroretentive :
Diperlukan konsentrasi cairan yang cukup tinggi dalam lambung untuk daya apung
penghantaran obat, mengapung di dalamnya dan untuk bekerja secara efisien.
Sistem floating tidak cocok untuk obat-obatan yang memiliki masalah kelarutan atau
stabilitas
dalam cairan gastrik/lambung.

Obat-obatan yang diabsorbsi secara baik sepanjang saluran pencernaan dan yang menjalani
First-pass metabolisme signifikan mungkin kurang pas untuk GRDDS karena pengosongan
lambung yang lambat dapat menyebabkan penurunan bioavailabilitas sistemik.
Obat-obatan yang iritan terhadap mukosa lambung tidak cocok untuk GRDDS.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GASTRO RETENSI
Bentuk: GRT lebih baik dimiliki oleh perangkat berbentuk tetrahedron dan berbentuk cincin.
Bentuk sediaan tunggal atau multi-unit: bentuk sediaan multi-unit menunjukkan efek yang
lebih baik dibandingkan bentuk sediaan unit tunggal.
Kandungan kalori: makan yang banyak bertanggung jawab terhadap peningkatan GRT.
Usia: orang yang lebih tua memiliki GIT lebih panjang secara signifikan
Postur: GRT dapat bervariasi antara posisi pasien tegak dan terlentang.
Beberapa tehnik gastroretentive diantaranya :
1. Sistem Floating
Sistem floating atau Hydrodynamically controlled sistem adalah sistem yang memiliki berat jenis
rendah yang mempunyai kemampuan untuk mengapung ( floating) diatas isi lambung dan
kemampuan di dalam lambung tanpa dipengaruhi laju pengosongan lambung pada suatu periode
waktu yang lama. Ketika sistem ini mengapung pada komposisi lambung, obat dilepa s secara
perlahan pada laju yang diinginkan. Setelah melepaskan obat, sisa dari sediaan akan dikeluarkan
dari lambung (Arora, et al., 2005).

2.3.1 Pembagian sistem floating


Sistem penghantaran floating dibagi berdasarkan pada variable formulasinya: effervescent dan
sistem non-effervescent.
a. Bentuk sediaan floating effervescent
Ada beberapa jenis matriks yang dipakai untuk membantu pembuatan sediaan floating yaitu polimer
yang dapat mengembang seperti metil selulosa dan kitosan dan berbagai bahan effervescent, sebagai
contoh natrium bikarbonat, asam tartrat, dan asam sitrat. Sistem ini diformulasi dimana ketika
sediaan kontak dengan asam lambung, akan dilepaskan gas CO2 dan gas terperangkap dalam
hidrokoloid yang mengembang sehingga
sediaan akaan mempunyai kemampuan untuk
mengapung.
b. Bentuk sediaan floating non-effervescent
Bentuk sediaan floating non-effervescent menggunakan bentuk gel atau jenis hidrokoloid selulosa
yang dapat mengembang, pol isakarida, dan polimer bentuk matriks seperti polikarbonat, polia
krilat, polimetakrilat, dan polistiren. Metode formulasi mecakup pendekatan sederhana dengan cara
mencampur obat dengan pembentuk gel-hidrokoloid. Sete lah pemberian oral sediaan akan
mengembang ketika kontak dengan cairan lambung dan membentuk massa dengan berat jenis 1.

Udara yang terjerat di


(Arora, et al., 2005).

dalam matriks yang mengembang membuat sediaan akan mengapung

Keuntungan FDDS adalah sebagai berikut:


1. Sistem floating sangat menguntungkan untuk ob at yang dimaksudkan untuk aksi lokal seperti
lambung. Contoh: antasida
2. Obat obat yang bersifat asam seperti aspirin dapat menyebabkan iritasi pada dinding lambung
ketika berkontak dengan lambung. Oleh karena itu FDDS dapat digunakan untuk penghantaran
aspi rian ataupun obat obat yang serupa.
3. Sistem floating sangat menguntungkan untuk obat obat yang diabsorpsi di saluran cerna.
Contoh: Garam Fero, antasida
4.
Penghantaran obat yang diperpanjang seperti sediaan floating, tablet atau kapsul, akan
terdisolusi di dalam cairan lambung. Sediaan floating terlarut pada cairan lambung akan segera
diab sorbsi di usus halus setelah waktu pengosongan lambung.
5. Semua obat akan diabsorpsi secara sempurna dari bentuk sediaan floating walaupun dalam
larutan dengan pH alkali di saluran pencernaan.
Adapaun kerugian dari sistem FDDS adalah:
1. Sistem floating tidak cocok untuk obat obat yang mempunyai kelarutan dan stabilitas yang
rendah di saluran pencernaan.
2.
Sistem ini membutuhkan cairan lambung yang banyak untuk menjaga sediaan tetap
mengapung.
3. Obat obat yang secara cepat dieliminasi dari tubuh seperti obat-obat yang megalami first pass
metabolism tidak cocok menjadi kandidat obat ini (Gopalakrishnan dan Chenthilnathan, 2011)
2. Sistem Mucoadhesive
2.4.1 Pengertian bioadhesive
Isitilah bioadhesive digunakan untuk menjelaskan ikatan antara dua permukaan biologi atau ikatan
antara permukaan biologi dengan permukaan bahan bahan sintesis. Pada sist em penghantaran obat
dengan bioadhesive ini digunakan untuk menjelaskan ikatan antara polimer, baik polimer sintesis
maupun polimer alam, dengan jaringan (seperti mukosa saluran cerna). Mesikupun target
penghantaran obat sistem bioadhesive adalah jaringan sel halus (seperti sel epitel), pada
kenyataannya ikatan mungkin terjad i dengan lapisan sel, lapisan mukus, ataupun kombinasi dari
keduanya. Ikatan antara mukus dengan polimer, disebut juga dengan mucoadhesive yang
digunakan sebagai sinonim bioadhesive . Pada umumnya, bioadhesive adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan ikatan dari sistem biologis atau derivat substansi biologis, dan
mucoadhesive hanya digunakan untuk menggambarka n ikatan yang mencakup mukus dan
permukaan mukosa (Chickering dan Mathiowitz, 1999)
2.4.2 Mekanisme bioadhesive
Untuk membuat sistem penghantaran obat sistem bioadhesive , ini sangat penting untuk
menggambarkan dan menngetahui gaya yang berperan penting dalam pembentukan bentuk ikatan
adhesif. Banyak penelitian yang focus untuk menganalisis interaksi bioadhesive dengan polimer
hidrogel dan jaringan halus. Adapun proses yang mencakup pembentukan ikatan bioadhesive telah
digambarkan dalam tiga langkah yaitu: (a) pembasahan dan pengembangan polimer untuk memulai
kontak dengan jaringan biologis, (b) Interpenetrasi rantai polimer bioadhesive dan penggabungan
rantai polimer dan rantai mukus, (c) pembentukan ikatan kimia yang lemah pada penggabungan
rantai polimer dan mukus (Chickering dan Mathiowitz, 1999).

a. Ikatan kimia
Tipe ikatan kimia mencakup ikatan yang kuat yaitu ikatan primer seperti ikatan kovalen),
dan juga ikatan kimia ya ng lemah seperti ikatan sekunder seperti ikatan ion, interaksi van der Waal
s, dan ikatan hydrogen. Seperti yang digambarkan pada buku ini, kedua jeni s interaksi tersebut
telah dimanfaatkan untuk membuat sediaan sistem bioadhesive (Chickering dan Mathiowitz,
1999). Meskipun sistem ini didesain untuk membentuk ikatan kovalen dengan protein pada
permukaan sel akan menga silkan beberapa keuntungan, namun ada tiga faktor yang membatasi
kegunaan dari ikatan yang permanen. Pertama, lapisan mukus mungkin menghambat secara
langsung kontak antara polimer dengan jaringan. Kedua, ikatan kimia yang perm anen dengan epitel
mungkin tidak akan menghasilkan yang dapat bertahan lama karena pada umumnya sel epitel
diregenerasi setiap 3 sampai 4 hari. Ketiga, biokompatibilas dari ikatan yang dapat menghasilkan
masalah signifikan (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
Untuk alasan itu, maka banyak penelitian yang difokuskan pada pembuatan hidrogel, sistem
mucoadhesive yang memiliki ikatan kimia yang lain seperti interaksi van der Waals atau ik atan
hydrogen. Selanjutnya, polimer yang memiliki berat bolekul besar dan dengan konsentrasi
reaktifyang tinggi, yaitu gugus polar (seperti COOH dan OH) ya ng berperan dalam pembuatan
ikatan mucoadhesive (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
b. Ikatan mekanis atau fisika
Ikatan mekanis dapat terjadi seperti interaksi fisika antara permukaan yang sama untuk
menggambungkan dua bentuk susunan. Secara makroskopik, ikatan ini dapat dilihat penggabungan
fisik dari ra ntai mukus dengan rantai polimer yang fleksibel dan/atau interpenetrasi dari rantai
mukus kedalam pori dari substrat polimer. Laju penetrasi rantai polimer kedalam lapisan mukus
tergantung pada fleksibelitas rantai dan koe fisien difusi masing masi ng. Kekuatan dari ikatan
adhesive secara langsung tergantung dari penetrasi rantai polimer. Faktor lain yang mempengaruhi
kekuatan ikatan mencakup keberadaan air, waktu kontak \antar material, dan panjang dan fleksibi
litas rantai polimer
2.4.3 Teori bioadhesive
A. Teori elektronik
Hipotesis dari teori elektronik didasa rkan pada asumsi bahwa material bioadhesive dan material
target biologis mempunyai struktur elektorn yang berbeda. Pada asumsi ini, ketika dua material
kontak satu sama lain, akan terjadi perpindahan electron untuk menghasilkan bentuk yang stabil,
yang menyebabkan pembentukan dua lapisan pada muat an electron yaitu pada material
bioadhesive permukaan material biologis (C hickering dan Mathiowitz, 1999).
B. Teori adsorpsi
Teori adsorpsi menyatakan ikatan bioadhesive dibentuk antara suatu substrat bioadhesive dan
jaringan atau mukosa melalui interaksi van der Waals, ikatan hydrogen, dan gaya yang berkaitan.
Meskipun gaya yang dihasilkan lemah, namun jumlah dari interaksi dapat menghasilkan adhesive
yang kuat
C. Teori pembasahan

Kemampuan dari bioadhesive atau mukus untuk menyebar dan membentuk kontak yang
mandalam dengan substrat yang cocok adalah salah satu faktor yang penting pada pembentukan ik
atan. Teori pembasahan, ditemukan pada mumnya pada adhesive cairan, menggunakan tegangan
antar permukaan untuk memperhitungan penyebaran dan sifat
D. Teori difusi
Konsep dari interpenetrasi dan penggabungan rantai polimer bioadhesive dengan rantai polimer
mukus menghasilkan ikatan adhesive yang semipermanen yang disebut dengan teori di fusi. Teori
ini menganggap ikatan akan semakin kuat dengan meningkatnya tingkat penetrasi dari rantai
polimer kedalam lapisan mukus. Penetrasi dari rantai polimer kedalam lapisan mukus, tergantung
dari gradien konsentrasi dan koefisien difusi.

E. Teori fraktur
Barangkali teori yang paling banyak diaplikasikan pada pemahaman tentang bioadhesive melalui
pengukuran secara meka nis adalah teori fraktur. Teori ini menganalisis gaya yang dibut uhakan
untuk memisahkan dua permukaan setelah terjadi adhesive (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
3. Swelling system
Swelling system adalah bentuk sediaan yang ketika kontak dengan cairan lambung akan
mengembang dengan ukuran yang mencegah obat melewati pilorus. Hasilnya adalh bentuk sediaan
tetap berada dalam lambung dalam beberapa waktu tertentu (Sulaiman et al., 2007)