Anda di halaman 1dari 56

Mandiri PBL S2- Respirasi

Reviera/1102013230

BATUK DARAH
LI. 1

MM. Anatomi Paru


1.1 Makroskopis
1.2 Mikroskopis

LI.2

MM. Fisiologi Pernafasan

LI.3

MM. Mycobacterium Tuberkulosis


2.1 Struktur dan morfologi
2.2 Klasifikasi (bakteri)

LI.4

MM Tuberkulosis Paru
3.1 Definisi
3.2 Etiologi
3.3 Epidemiologi
3.4 Klasfikasi
3.5 Patogenesis
3.6 Patofisiologi
3.7 Manifestasi klinis
3.8 Diagnosis dan Diagnosis banding
3.9 PF & PP
3.10 Penatalaksanaan dan pencegahan
3.11 Komplikasi
3.12 PMO
3.13 Prognosis

LI.5

MM Etika Batuk dalam pandangan Islam

LI. 1

MM. Anatomi Paru

Putri Cantika

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

1.1 Makroskopis

Trachea atau batang tenggorok


Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trachea
berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian
depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir
setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus
sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata
torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua
bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 20
lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan
yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang
melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain
itu juga membuat beberapa jaringan otot.
Bronchus

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Bronchus yang terbentuk dari belahan


trachea

pada

ketinggian

dua

kira-kira

vertebrata

torakalis kelima, mempunyai struktur


serupa dengan trachea dan dilapisi
oleh.jenis sel yang sama. Bronkusbronkus itu berjalan ke bawah dan
kesamping ke arah tampuk paru.
Bronckus kanan lebih pendek dan lebih
lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit
lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan
mengeluarkan sebuah cabang utama
lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus
bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih
langsing

dari

yang

kanan,

dan

berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang
berjalan kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan
kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi
bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus
terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong
udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus
tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga
ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus
terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai
penghantar

udara

ke

tempat

pertukaran

gas

paru-paru.

Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius
yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus
alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis
merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki
tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari
trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan
pori-porikohn.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Paru-Paru

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari sel-sel epitel
dan dan endotel. O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Paruparu dibagi menjadi dua, yakni :
1.Paru-paru

kanan, terdiri dari 3 lobus (belah


paru):
Lobus pulmo dekstra superior
Lobus medial

Lobus inferior

2.
pulmo

Paru-paru kiri, terdiri dari:


sinister lobus superior
pulmosinister lobus inferior
Tiap-tiap lobus terdiri atas belahanbelahan

yang

lebih

kecil

(segmentalis) :
Paru-paru

kiri

mempunyai

10

segment yaitu :

5 buah segment pada lobus

superior
5 buah segment pada inferior
Paru-paru kanan mempunyai 10 segmet yakni :
5 buah segment pada lobus inferior
2 buah segment pada lobus medialis
3 buah segment pada lobus inferior
Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama
lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

yang berisi pembuluh-pembuluh darah geteh bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap
lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang cabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus
alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2 0,3 mm.
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Paru-paru
memilki:
1. Apeks, Apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula
2. permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada
3.

permukaan

mediastinal,

menempel

pada

perikardium

dan

jantung.

4. dan basis. Terletak pada diafragma


Letak paru-paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke tengahrongg
dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampukparu-paru atau
hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-parudibungkus oeh selaput
selaput yang bernama pleura. Pleura dibagimenjadi dua :
o Pleura

viseral

(selaput

dada

pembungkus),

yaitu

selaput

paru

yanglangsung membungkus paru-paru.


o Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam
dindingdada.
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura.
Pada keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paruparu dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang
1. Serabut symphaticus: truncus sympaticus
pleura parietalis berdasarkanletaknya terbagi atas:
a. Pleura costalis
b. Pleura diaphragmtica
c. Pleura mediatinalis
d. Pleura cervicalis

Pada hillus terdapat ligamentum pulmonale yng berfungsi untukmengatur pergerakan


alat dalam hillus selama proses respirasi.Alat yang masuk pada hillus pulmonalis:

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

(brouncus primer, arteripulmonalis, arteri brounchialis, dan syaraf). Alat yang keluar
pada hilluspulmonalis: (vena pulmonalis, vena bronchialis, dan vasa limfatisi).
Persarafan Paru:
Serabut aferrent dan eferrent visceralis berasal dari truncussympaticus dan serabut
parasympatiscus berasal dari nervus vagus.
1.Serabut symphatis Truncusympaticus kanan dan kiri memberikan cabang caang
padaparu membentuk plexus pulmonalis yang terletak didepan dandibelakang broncus
prim. Fungsi saraf sympatis untuk merelaxasitunica muscularis dan menghambat
sekresi broncus.
2.Serabut para sympatikusNervus vagus kanan dan kiri juga memberikan cabang
cabang padaplexus pulmonalis kedepan dan kebelakang. Fungsi saraf parasympaticus
untuk konstraksi tunica muscularis akibatnya lumenmenyempit dan merangsang
sekresi boncus.

1.2 Mikroskopis
Broncus

Broncus extrapulmonal sangat mirip dengan

trakea
Tidak terdapat tulang rawberbentuk huruf C
Epitel bertingkat torak dengan silia dan sel

goblet
Terdapat kelenjar campur
Pada lamina propia terdapat berkas berkas otot
polos.

BRONCHIOLUS

Tidak mempunyai tulang rawan dan pada lamina propia tidak terdapatkelenjar

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Lamina propia terdapat otot polos

dan serat elastin


Pada bronkiolus besar masih terdapat

sel goblet.
Pada bronkiolus
dilapisi

sel

kecil,
sel

mucosa

kuboid

atau

toraksrenda, terdapat sel tanpa silia,

tidak terdapat sel goblet.


Pada bronkiolus kecil terdapat sel
clara yang menghasilkan surfaktan.

BRONCUS TERMINALIS

Mucosa dilapisi oleh selapis sel kuboid.


Pada dinding tidak terdapat alveolus
Pada lamina dapat dilihat serat serat otot polos

BRONCUS RESPIRATORIUS

Epitel terdiri dari sel torak rendah atau kuboid


Epitel terputus putus, karena pada dinding terdapat alveolus.
Tidak terdapat sel goblet
Terdapat serat otot polos, kolagen, dan elastin.

DUCTUS ALVEOLARIS

Ductus alveolaris adalah saluran berdinding tipis, bebentuk kerucut.


Epitel selapis gepeng
Diluar epitel, dindingnya dibentuk oleh jaringan fiboelastis.
Alveoli dipisahkan septum interalveolar

ATRIA, SACCUS ALVEOLARIS dan ALVEOLI

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Ductus alveolaris bermuara keatria.


Alveolus berupa kantung dilapisis
epitel

Putri Cantika

selapis

epitel

selapis

gepengyang sanagt tipis.


Pada septum interalveolare terdapat
serat retikular dan serat elastin

Pelapis

Alveolaris

Epitel alveolus dengan endotil kapiler darah


dipisahkan
Pada

oleh

dinding

alveolus

lamina
dibedakan

atas

basalis.
2

macam

sel:

- sel epitel gepeng ( squamous pulmonary epitheal atau sel alveolar kecil atau
pneumosit

tipeI).

- sel kuboid yang disebut sel septal atau alveolar besar atau pneumosit tipe II.
Sel alveolar kecil membatasi alveolus secara kontinyu, kadang diselingi oleh alveolus
yang besar. Inti sel alveolus kecil ini gepeng. Bentuk dan ketebalan sel alveolar kecil
tergantung dari derajat perkemangan alveolus dan tegangan sekat antara alveoli.
Sel alveolar besar ialah sel yang tampak sebagai dinding alveolus pada pengamatan
dengan mikroskop cahaya. Sel ini terletak lebar ke dalam daripada pneumosit typeI.
Kompleks golginya sangat besar disertai granular endoplasma reticulu m dengan
ribosom bebas. Kadang-kadang tampak bangunan ini terdapat dipermukaan sel seperti
gambaran sekresi sel kelenjar. Diduga benda-benda ini merupakan cadangan zat yang
berguna untuk menurunkan tegangan permukaan dan mempertahankan bentuk dan
besar alveolus. Secret tersebut dinamakan Surfactant Udara di dalam alveolus dan
darah
-Membrane

dalam

kapiler

Sitoplasma

sel

Membrana
basalis

basalis
yang

- Sitoplasma endotel kapiler darah.

meliputi

dipisahkan
epitel

alveolus.

epitel
endotel

oleh:
alveolus.

kapiler

darah

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Pembuluh Darah
Sebagian besar pulmo menerima darah dari arteri pulmonalis yang bertripe elastis.
Cabang arteri ini masuk melalui hilus pulmonalis dan bercabang-cabang mengikuti
percabangan

bronchus

sejauh

bronchioli

respiratorius.

Dari sini arteri tersebut memberi percabangan menuju ke ductus alveolaris, dan
memberi anyaman kapiler di sekeliling alveolus. Venula menampung darah dari
anyaman kapiler di pleura dan dinding penyekak alveolus. Vena yang menampung
darah dari venula tidak selalu seiring dengan arterinya, tetapi melalui jaringan
pengikat

di

antara

lobulus

dan

segmen.

Pulmonalis dan vena pulmonalis terutama untuk pertukaran gas dalam alveolus.
Disamping itu terdapat arteri bronchialis yang lebih kecil, sebagai cabang serta
mengikuti bronchus dengan cabang-cabangnya. Arteri ini diperlukan untuk nutrisi
dinding bronchus termasuk kelenjar dan jaringan pengikat sampai di bawah pleura.
Darah akan kembali sebagian besar melalui vena pulmonalis disamping vena
bronchialis. Terdapat anastomosis dengan kapiler dari arteri pulmonalis.
Pleura
Seperti juga jantung paru-paru terdapat didalam sebuah kantong yang berdinding
rangkap, masing-masing disebut pleura visceralis dan pleura parietalis. Kedua pleura
ini berhubungan didaerah hilus. Sebelah dalam dilapisi oleh mesotil. Pleura tersebut
terdiri atas jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut kolagen, elastis,
fibroblas dan makrofag. Di dalamnya banyak terdapat anyaman kapiler darah dan
pembuluh limfe.
HISTOGENESIS
Perkembangan pulmo terdiri dari 3 fase:
Fase glanduler(12-16 minggu)
Mula-mula sebagai tonjolan yang akan menjadi trachea yang kemudian bercabang

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

menjadi 2 sebagai calon bronchus. Tonjolan ini dengan cepat tumbuh memanjang dan
mencapai kelompok sel-sel mesenkhim sehingga akhirnya menyerupai kelenjar. Pars
conductoria tractus respiratorius telah dilengkapi selama kehidupan intrauterin
bersama pula dengan sistem pembuluh darah.
Fase kanalikuler(bulan ke-4-7)
Terjadi pertumbuhan cepat sel-sel mesenkim di sekitar percabangan bronchus. Sel-sel
tersebut dan serabut jaringan pengikat sangat menonjol disamping anyaman kapiler
darah. Pada tingkat ini belum tumbuh alveolus. Kelenjar-kelenjar timbul sebagai
tonjolan dinding bronchus.
Fase alveolar(6,5 bulan sampai lahir)
Paru-paru kehilangan bentuk kelenjarnya karena sekarang banyak sekali pembuluh
darah. Ujung-ujung bronchus yang mengembang akan tumbuh bercabang-cabang
hingga terbentuk alveoli. Epitel alveoli menipis sehingga terjadi hubungan yang erat
dengan kapiler darah. Sesudah lahir masih terjadi perkembangan pars respiratoria
untuk penyempurnaan yang meliputi bronchiolus respiratorius sampai alveoli
Tiga jenis sel utama terletak di dalam septum alveolaris:
1. Sel alveolar gepeng 9 tipe 1 atau sel epitel permukaan
Inti sel yang gepeng
Sitoplasmanya sulit dilihat
2. Sel alveolar besar (tipe II) atau sel septa
Sel inti tampak seperti sendiri- sendiri atau sebagai kelompokkelompok kecil
Sel epitel gepeng akan membentuk taut kedap
Bentuk selnya kubis dan meninjol ke dalam ruangan alveol tetapi
biasanya terletak di sudut dinding alveol
Lapisan mengandung surfaktan
Mempunyai kemampuan mitosis
Sel anak dianggap dapat menjadi sel tipe I, jadi dapat merupakan
sumber utama pembentukan sel baru yang melapisi alveoli
SEL DEBU (Dust cell)
Makrofag alveolar atau fagosit, memiliki ciri seperti makrofag di tempat ini. Fagosit
alveolar terdapat dalam jaringan interstisial septa interalveolaris, bebas dalam rongga
alveol. Banyak dari sel tersebut tidak diragukan lagi berasal dari monosit yang berasal

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

dari sumsum tulang, tetapi sumbernya tetap dalam perdebatan beberapa sel
nampaknya bervakuol yaitu bekas tempat lemak pada sitoplasma, mungkin kolestrol
dan lainnya mengandung karbon yang difagositosis. Salah satu jenis yaitu siderofag
atau sel gagal jantung. Umumnya dijumpai bila ada bendungan aliran darah merah
memasukin alveoli (Diapedesis) daam keadaan ini makrofag memakan sel darah
merah sehingga akan mengandung hemosiderin. Fagosit relative cepat diganti dan
hampir seluruhnya dikeluarkan kedalam sputum melalui percabangan bronkus.
Beberapa sel yang terletak di dalam jaringan ikat septa interalveolaris, didalam pleura
dan sekitar pembuluh darah serta saluran bronkial, relative statis.
LI.2

MM. Fisiologi Pernafasan

Udara cenderung bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan


rendah, yaitu, menuruni gradient tekanan. Terdapat 3 tekanan berbeda yang
penting pada ventilasi :
1

Tekanan Atmosfer : tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di


atmosfer terhadap benda-benda di muka bumi. Di ketinggian
permukaan laut, tekanan ini sama dengan 760 mmHg.

Tekanan

intra

alveolus

dikenal

juga

sebagai

tekanan

intrapulmonalis, adalah tekan di dalam alveolus.


3

Tekanan intrapleura : tekanan di dalam kantung pleura. Tekanan ini


juga dikenal sebagai tekanan intratoraks, yaitu tekanan yang terjadi di
luar paru di dalam rongga toraks. Tekanan intrapleura biasanya lebih
kecil daripada tekanan atmosfer.

Karena udara mengalir mengikuti penurunan gradient tekanan, tekanan intra


alveolus harus lebih rendah dari pada tekanan atmosfer agar udara mengalir masuk ke
paru selama inspirasi. Demikian juga, tekanan intra alveolus harus lebih besar dari
pada tekanan atmosfer, agar udara mengalir ke luar paru selama ekspirasi. Tekanan
intra alveolus dapat diubah dengan mengubah volume paru sesuai hukum Boyle.
Adapun pengaruh gravitasi terhadap ventilasi dalam posisi tegak yaitu ventilasi
per unit paru bagian basis lebih besar dari pada bagian apeks, pengaruh gravitasi

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

darah bagian basis lebih besar dari pada bagian apeks, dan tekanan intra pleura lebih
tinggi jaringan paru basis kurang terenggang kemampuan mengembang lebih
besar compliance besar.
Pengaruh gravitas menyebabkan tekanan intrapleura apeks -10cm alveol
kurang mengembang, sedangkan pada tekanan intrapleura basis -2,5cm alveol
mengembang. Maka dari itu pada awal inspirasi aliran udara terbanyak ke apeks.
Pengaturan pernafasan ada 2:
1. Pusat pengaturan pernafasan volunter (di bawah kemauan)
Terletak di korteks serebri-traktus kortikospinalis-motor neuron syaraf
pernafasan.
2. Pusat pengaturan pernafasan otomatis (spontan)
Letak Pons dan Medula Oblongata-bagian ventral dan medial Medula
Spinalis.
Pusat respirasi terletak di Formatio Retikularis Medula Oblongata. Pusat
respirasi terbagi menjadi 2 kelompok yaitu:
1

Dorsal/ dorsal respiratory group = DRG


Terdiri dari neuron I-impuls frekuensi 12-15x/menit-motor neuron di
Medula spinalis-otot inspirasi-inspirasi. Sebagian ke ventral.
Ventral/ventral respiratory group = VRG
Terdiri dari neuron I dan E. Tidak aktif dalam pernafasan tenag, bila
ventilasi meningkat-motor neuron otot inspirasi tambah NIX dan NX dan
E-ekspirasi aktif.

Pusat-pusat respirasi di Pons :


1

Pneumotaksik
Mengirim impuls ke DRG yang membantu switch off neuron inspirasi
sehingga durasi inspirasi dibatasi.

2. Apnustik
Mencegah neuron inspirasi dari proses switch off sehingga menambah
dorongan inspirasi.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Pusat Pneumotaksik lebih dominan apabila tidal volume besar (> 1 liter), Refleks
Hering-Breuer dipicu untuk mencegah pengembangan paru berlebihan
Sistem Khemoreseptor
Saraf-saraf sensoris yang mendeteksi paru berujung sebagai reseptor, seperti
kemoreseptor perifer, baroreseptor dan reseptor-reseptor lainnya di dalam paru. Nanti
kumpulan reseptor-reseptor ini akan bergabung menjadi nucleus traktus solitarius
yakni ujung akhir dari saraf sensoris pernapasan yang terdapat pada nervus vagus dan
nervus glosofaringeus. Pada akhirnya kedua nervus ini akan berhubungan dengan
kelompok pernapasan bagian dorsal. Melalui ini, mekanisme penghantaran informasi
dari paru ke pusat respirasi bagian dorsal bisa berlangsung.
Kemoreseptor Perifer

Di luar otak, ternyata juga terdapat sistem kemoreseptor tersendiri yang juga
turut andil dalam pengaturan pernapasan. Kemoreseptor di luar otak ini disebut
kemoreseptor perifer. Fungsinya yang terpenting adalah untuk mendeteksi
perubahan oksigen dalam darah walaupun respetor ini juga sedikit berpengaruh
terhadap perubahan konsentrasi CO2 dan H+ di dalam darah.

Sebagian besar kemoreseptor ini terletak di badan karotis (karotic body) dan di
badan aorta (aortic body). Karotic body terletak di bilateral pada percabangan arteri
karotis komunis. Serabut saraf aferennya berjalan melalui nervus Hering ke nervus
glosofaringeus dan kemudian ke area pernapasan dorsal di medula oblongata.
Sedangkan aortic body terletak di sepanjang arkus aorta; dimana serabut saraf
aferennya berjalan melalui nervus vagus, juga ke area pernapasan dorsal di medula
oblongata.

Reseptor ini akan mendeteksi perubahan kadar O2, CO2 dan ion H+. Misalkan
apabila kadar O2 dalam arteri menurun, kemoreseptor perifer ini menjadi sangat
terangsang. Singkatnya, ia bakal mengirimkan impuls ke pusat pernapasan untuk
meningkatkan frekuensi napas.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Kemoreseptor Pusat/Sentral
Terletak pada bagian ventral medula oblongata dekat pusat respirasi. Reseptor peka
terhadap naik ion H/ turun pH dalam cairan otak. Karbondioksida mudah tembus abar
darah-otak dan abar darah-cairan otak H2CO3 ion H dan HCO3. Dan ion H maka
ventilasi naik.
Pertukaran Gas
O2 masuk dan CO2 keluar dari darah di paru secara pasif mengikuti penurunan
gradien tekanan parsial.
Melintasi kapiler paru :

Gradien tekanan parsial O2 dari alveolus ke darah : 60 mmHg


Gradien tekanan parsial CO2 dari darah ke alveolus : 6 mmHg

Melintasi kapiler sistemik :

Gradien tekanan parsial O2 dari darah ke sel jaringan : 60 mmHg


Gradien tekanan parsial CO2 dari sel jaringan ke darah : 6 mmHg

Mekanisme Inspirasi
Sebelum inspirasi, otot-otot pernapasan melemas, tidak ada udara yang mengalir,
dan tekanan intra alveolus setara dengan tekanan atmosfer. Pada awal inspirasi,
otot-otot inspirasi terangsang untuk berkontraksi, sehingga terjadi pembesaran
rongga toraks. Diafragma bergerak ke bawah dan memperbesar volume toraks.
Pada saat rongga toraks mengembang, paru juga dipaksa mengembang untuk
mengisi rongga toraks yang membesar. Sewaktu paru mengembang, tekanan intra
alveolus menurun, karena molekul dalam jumlah yang sama kini menempati
volume paru yang lebih besar. Karena tekanan intra alveolus sekarang lebih
rendah daripada tekanan atmosfer, udara mengalir masuk ke paru mengikuti
penurunan gradient tekanan dari tinggi ke rendah.

Mekanisme Ekspirasi

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Pada akhir inspirasi, otot-otot melemas. Saat melemas diafragma kembali ke


bentuknya, sewaktu paru menciut dan berkurang volumenya, tekanan intra
alveolus meningkat, karena jumlah molekul udara yang lebih besar yang
terkandung di dalam volume paru yang besar, pada akhir inspirasi sekarang
terkompresi ke dalam volume yang lebih kecil. Udara sekarang keluar paru
mengikuti penurunan gradient tekanan, dari tekanan intra alveolus yang tinggi ke
tekanan atmosfer yang rendah.
Dalam keadaan normal, ekspirasi adalah suatu proses pasif, karena terjadi akibat
penciutan elastic paru saat otot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan
kontraksi otot atau pengeluaran energi.
Volume paru dan kapasitas paru ( jumlah dari dua atau lebih volume paru)
dapat ditentukan :

Tidal Volume (TV). Volume udara yang masuk atau keluar paru selama 1 kali
bernapas. Nilai rata-rata pada keadaan istirahat = 500 ml.

Volume cadangan inspirasi (VCI). Volume tambahan yang dapat secara


maksimal dihirup melebihi tidal volume istirahat. VCI dihasilkan oleh kontraksi
maksimum diafragma, otot antar iga eksternal, dan otot inspirasi tambahan. Nilai
rata-ratanya = 3.000 ml.

Kapasitas inspirasi (KI). Volume maksimum udara yang dapat dihirup pada
akhir ekspirasi normal tenang (KI = VCI + TV). Nilai rata-rata = 3.500 ml.

Volume cadangan ekspirasi (VCE). Volume tambahan udara yang tepat secara
aktif dikeluarkan oleh kontraksi maksimum melebihi udara yang dikeluarkan
secara pasif pada akhir tidal volume biasa. Nilai rata-rata = 1.000 ml.

Volume residual (VR). Volume minimum udara yang tersisa di paru bahkan
setelah ekspirasi maksimum. Nilai rata-rata = 1.200 ml.

Kapasitas residual fungsional (KRF). Volume udara di paru pada akhir ekspirasi
pasir normal (KRF = VCE + VR). Nilai rata-rata = 2.200 ml.

Kapasitas vital (KV). Volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan selama 1
kali bernapas setelah inspirasi maksimum. Subyek mula-mula melakukan inspirasi
maksimum, kemudian melakukan ekspirasi maksimum ( KV = VCI + TV + VCE).
Nilai rata-ratanya = 4.500 ml.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Kapasitas paru total (KPT). Volume udara maksimum yang dapat ditampung
oleh paru (KPT = KV + VR). Nilai rata-ratanya = 5.700 ml.

Volume ekspirasi paksa dalam 1 detik. Volume udara yang dapat diekspirasikan
selama detik pertama ekspirasi pada penentuan KV.

Menahan Napas
Pernapasan dapat secara sengaja dihambat untuk beberapa saat, tetapi akhirnya
kendali volunter dapat dikalahkan. Titik saat pernapasan tidak dapat dihambat lagi
secara volunter disebut titik lepas (breaking point). Lepasnya kendali volunter ini
disebabkan oleh meningkatnya Pco2

dan turunnya Po2 darah arteri. Setelah

pengangkatan glomus karotikum, kemampuan menahan napas seseorang akan


diperpanjang. Bernapas dengan oksigen 100% sebelum menahan napas akan
menaikan Po2 alveol awal, sehingga titik lepas dapat ditunda. Refleks atau faktor
mekanik mempengaruhi titik lepas, karena pada subyek yang menahan napas selama
mungkin kemudian bernapas dengan campuran udara berkadar O2 rendah dan CO2
tinggi, masih dapat menahan napas kembali selama 20 detik atau lebih. Faktor
psikologis juga memegang peranan, dan subjek dapat menahan napasnya lebih lama
bila dikatakan usahanya sangat baik dibandingkan bila dikatakan tidak.
Pengendalian Kimiawi pada Pernapasan
Mekanisme pengaturan kimiawi akan menyesuaikan ventilasi sedemikian rupa
sehingga Pco2 alveol pada keadaan normal dapat dipertahankan tetap. Dampak
kelebihan H+ di dalam darah akan dilawan, dan Po2 akan ditingkatkan apabila terjadi
penurunan mencapai tingkat yang membahayakan. Volume pernapasan semenit
berbanding lurus dengan laju metabolisme, tetapi penghubung antara metabolisme
dan ventilasi adalah kadar Co2, dan bukan O2. Reseptor di glomus karotikum dan
aortikum terangsang oleh penigkatan Pco2, ataupun konsentrasi H+ darah arteri atau
oleh penurunan Po2. Setelah

denervasi kemoresptor karotikum, respon terhadap

penurunan Po2 akan hilang. Respons terhadap perubahan konsentrasi H+ darah arteri
pada kisaran pH 7,3-7,5 juga dihilangkan, meskipun perubahan yang lebih besar
masih dapat menimbulkan efek.
Pengaruh Non-Kimia pada Pernapasan

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Reseptor di saluran udara dan paru dipersarafi oleh serat vagus bermelin dan
tidak bermielin. Reseptor yang dipersarafi oleh serat bermielin umumnya dibagi atas
reseptor beradaptasi lambat dan reseptor beradaptasi cepat. Pemendekan waktu
inspirasi yang ditimbulkan ole aktifitas serat aferen nervus vagus diperantarai oleh
reseptor beradaptasi lambat. Seperti refleks Hering-Breuner dimana pemanjangan
lama ekspirasi yang ditimbulkan oleh inflasi paru bertahap, sedangkan rekfleks defiasi
Hering-Breuner adalah pemendekan lama ekspirasi yang ditimbulkan oleh deflasi
paru.
Reseptor beradaptasi cepat terangsang oleh zat kimia seperti histamin,
sehingga disebut juga reseptor iritan. Akitifasi reseptor beradaptasi cepat di trakea
menyebabkan terjadinya batuk, bronkikinstriksi dan sekresi mukus.

LI.3

MM. Mycobacterium Tuberkulosis


Mycobacterium tuberculosis pertama kali dideskripsikan pada tanggal 24 Maret

1882 oleh Robert Koch. Maka untuk mengenang jasa beliau, bakteri tersebut diberi
nama baksil Koch. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri penyebab penyakit
tuberkulosa (TB).
Bahkan penyakit TB pada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).
Robert Koch, penemu bakteri Mycobacterium tuberculosis
Kingdom : Bacteria
Filum

: Actinobacteria

Ordo

: Actinomycetales

Upaordo

: Corynebacterineae

Famili

: Mycobacteriaceae

Genus

: Mycobacterium

Spesies

: Mycobacterium tuberculosis

TAKSONOMI

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Bentuk
berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,2- 0,4 x 1-4 um.
Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam.
Tidak dapat digolongkan gram negatif atau gram positif S Biakan
Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan
kadangkadangsetelah 6-8 minggu.
Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C atau lebihdari 40C.
Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein- Jensen. PH
optimum 6,4-7,0.
Terdapat 3 formulasi umu yang dapat di gunakan:
1.medium agar semi sintetik
medium ini mengandung garam, vitamin, kofaktor, asam oleat, albumin, katalase,
gliserol, glukosa, dan malakit hijau. Medium ini digunakan untuk mengobservasi
morfologi koloni, untuk uji sensitifitas, dan menambahkan antibiotik sebagai medium
selektif.
2. medium telur inspissated
medium ini mengandung garam, gliserol, dan substansi organik kompleks. Medium
ini digunakan sebagai medium selektif dengan menambahkan antibiotic
3. medium kaldu medium ini mendorong prolifersi inokulum kecil.
Sifat-sifat
Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6C selama 15- 20 menit.
Biakan dapatmati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam.
Dalam dahak dapat bertahan 20-30p jam.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari.
Biakan basil inidalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan

dalam lemari dengan suhu20C selama 2 tahun.


Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektanantara lain

phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%.
Basil ini dihancurkanoleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 %
akan hancur dalam 2-10 menit.
Bersifat aerob obligat

Klasifikasi
Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah
1. Menentukan paduan pengobatan yang sesuai
2. Registrasi kasus secara benar
3. Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif
4. Analisis kohort hasil pengobatan

Beberapa istilah dalam definisi kasus:


1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis
oleh dokter.
2. Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium
tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang- kurangnya 2 dari 3 spesimen
dahak SPS hasilnya BTA positif.
Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat
diperlukan untuk:
1. menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah
timbulnya resistensi,
2. menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective)


3. Mengurangi efeksamping.

a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:


1) Tuberkulosis paru.
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yangmenyerang jaringan (parenkim) paru. tidak
termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru.
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput
otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus,
ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu
pada TB Paru:
1) Tuberkulosis paru BTA positif.
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b)1spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d)1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik
TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
c. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

1) TB paru BTA negatif foto toraks positif


Dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan
paru yang luas (misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
2) TB ekstra-paru
Dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral,
tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.

d. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya


Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi
beberapa tipe pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis
kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA positif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain
untuk melanjutkan pengobatannya.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

e. Klasifikasi berdasarkan patologis


1) Tuberkulosis primer (childhood tuberculosis)
2) Tuberkulosis postprimer (adult tuberculosis)
Penyakit tuberkulosis paru dapat disembuhkan. Namun karena kekurangpekaan si
penderita dan kurangnya informasi berkaitan cara pencegahan dan pengobatan TB
paru, kematian pun tak jarang terjadi. Oleh karena itu dibutuhkan tindakan dini untuk
mencegah dan mengobati penyakit TB paru.
Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis:
1. Mycobacterium tuberculosis
2. Mycobacterium bovis
3. Mycobacterium africanum
4. Mycobacterium canetti
5. Mycrobacterium microti
Karakteristik pertumbuhan
Mikobakteria merupakan aerobik obligat yang memperoleh energi dari oksidasi
beberapa

senyawa

karbon

sederhana.

Penambahan

CO2

meningkatkan

pertumbuhan. Waktu untuk menggandakan basil tuberkel sekitar 18 jam, bentuk


saprofit cenderung tumbuh lebih cepat, proliferasi terjadi pada temperatur 22
23oC, untuk menghasilkan pigmen yang lebih banyak dan mengurangi bentuk
cepat asam daripada bentuk patogenik.
Reaksi terhadap agen fisik dan kimia
Mikobakteria cenderung lebih resisten terhadap agen kimia daripada bakteri lain
karena sifat hidrofobik permukaan sel dan pertumbuhannya. Air daging (malchite
green) atau agen antibakteri (penisilin) sebagai bakteriostatik untuk bakteri lain
dapat digabungkan ke dalam media tanpa menghambat pertumbuhan basil
tuberkel. Asam dan alkali mendukung ketahanan hidup beberapa basil tuberkel
yang terpapar dan digunakan untuk mengeliminasi organisme kontaminan dan
untuk menghimpun spesimen klinik. Basil tuberkel resisten terhadap kekeringan
dan bertahan hidup selama periode waktu yang lama dalam sputum kering.
Konstituen basil tuberkel

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Dinding sel mikobakteria menyebabkan penundaan hipersensitivitas dan beberapa


diantaranya resisten terhadap infeksi dan dapat menggantikan keseluruhan sel
mikobakteria dalam adjuvan Freund.
Lipid
Mikobakteria kaya akan lipid, terutama asam mikolat, bahan dari lilin, dan
fosfatida. Lipid pada beberapa perluasan bertanggung jawab terhadap
kecepatan asam. Perpindahan dengan asam panas merusak kecepatan asam,
yang terganggu pada integritas dinding sel dan kehadiran lipid tertentu.
Protein
Masing-masing

tipe

mikobakterium

berisi

beberapa

protein

yang

mendatangkan reaksi tuberkulin. Ikatan protein pada fraksi lilin, dengan


injeksi,

menyebabkan

sensitivitas

tuberkulin.

Mereka

juga

dapat

menumbulkan pembentukan berbagai antibodi.


Polisakarida
Perannya dalam patogenesis penyakit masih belum jelas. Mereka dapat
menyebabkan hipersensitivitas tipe cepat dan dapat bertindak sebagai antigen
dalam dengan serum orang yang terinfeksi.
LI.4

MM Tuberkulosis Paru
4.1 Definisi
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan

oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada


jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang
dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial
tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke
hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi
awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.
3.2 Etiologi
Mycobacterium

tuberculosis

(tersering),

Mycobacterium

bovis,

dan

Mycobacterium africanum. Ketiganya merupakan anggota ordo Actinomisetales dan

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

familimicrobacteriaseae. Penularan penyakit lewat inhalasi (droplet nuclei), atau luka


di kulit. Karena kuman TBC merupakan bakteri aerob, ia menyukai jaringan yang
kaya akan O2. Itulah alasan mengapa paru-paru merupakan daerah yang sering
terkenal.
Kuman

Tuberkulosis

Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada
pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB
cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant,
tertidur lama selama beberapa tahun

3.3 Epidemiologi
Definisi epidemiologi TB selain mencakup prevalensi, insidensi, kematian
karena TB (mortalitas) tetapi juga karena keunikannya mencakup pula, prevalensi dan
insidensi penyakit tersebut yang timbul dari populasi yang terinfeksi ini, serta ratarata orang yang tertular penyakit tuberkulosis oleh seorang penderita tuberkulosis
menular. Pengetahuan tentang berapa besarnya frekuensi, distribusi dan determinan
yang ada menurut umur, jenis kelamin, suku bangsa dan letak daerahnya memberi kita
pengetahuan tentang keadaan penyakit tuberkulosis di wilayah tertentu. Selanjutnya
dengan mengetahui besarnya prevalensi, distribusi dan determinan dari tuberkulosis di
masyarakat tersebut maka dapat diperkirakan besarnya permasalahan tuberkulosis
yang ada di masyarakat tersebut . Dengan demikian kita dapat menentukan prioritas
dan strategi yang harus dilaksanakan pada program pemberantasan penyakit TB.
-

Pada epidemiologi TB, parameter-parameter yang digunakan ada 4 (empat)


yang penting yaitu :

1. Angka kematian karena TB, yaitu banyaknya kematian karena TB pada


populasi tertentu dalam 1 (satu) tahun per 100.000 penduduk.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

2. Angka insidensi penderita TB yaitu banyaknya kasus-kasus baru TB pada


populasi tertentu dalam 1 (satu) tahun per 100.000 penduduk.
3. Angka prevalensi penderita TB yaitu banyaknya kasus-kasus TB lama dan
baru yang ditemukan pada populasi tertentu, biasanya dinyatakan pasif dengan
mikroskopik dalam jangka waktu tertentu.
4. ARTI

(Annual

Risk

of

Tuberculosis

Infection)

yaitu

suatu

probalitas/kemungkinan seseorang yang belum pernah terinfeksi TB akan


terinfeksi oleh kuman tersebut dalam 1 (satu) tahun.
Insidensi dan mortalitas tuberkulosis merupakan parameter yang baik untuk
menggambarkan epidemiologi TB namun sehubungan dengan surveilance yang tidak
adekuat diberbagai negara, tidak mungkin untuk menunjukkan data insindensi dan
mortalitas TB yang sebenarnya, sehingga dipergunakan beberapa parameter
epidemiologi secara tidak langsung yaitu Annual Risk of Tuberculosis Infection
(ARTI), perkiraan insindens BTA (+), jumlah dan pencatatan kasus-kasus TB,
perkiraan cakupan populasi dibandingkan dengan pelayanan kesehatan, dan perkiraan
kasus fatal pada BTA (+) dan bentuk lain TB (16). Styblo dkk dari penelitian terhadap
19.000 orang mendapatkan bahwa kematian karena TB : Insidens BTA (+) :
prevalensi BTA = 1 : 2 : 4 (dikutip dari 13). Selanjutnya diperkirakan untuk setiap 1%
ARTI, mencakup 50 kasus BTA (+) per 100.000 penduduk
Diseluruh dunia tahun 1990 WHO melaporkan terdapat 3,8 juta kasus baru TB dengan
49% kasus terjadi di Asia Tenggara. Dalam periode 1984 1991 tercatat peningkatan
jumlah kasus TB diseluruh dunia, kecuali Amerika dan Eropa. Di tahun 1990
diperkirakan 7,5 juta kasus TB dan 2,5 juta kematian akibat TB diseluruh dunia (16).
Tahun 1995 WHO memperkirakan diseluruh dunia terdapat 9 juta kasus baru TB
dengan jumlah kematian 3 juta jiwa (1). Jika penanggulangan TB tidak mengalami
perbaikan diperkirakan akan terjadi 90 juta kasus baru dan 30 juta kematian akibat TB
selama dekade 1990 1999 (16).

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Data dari WHO yang dikumpulkan lebih dari 174 negara dan daerah diseluruh dunia
yang mencakup 97% dari populasi global dikumpulkan di tahun 1995 yang dapat
dipakai sebagai gambaran global jumlah kasus TB per regional
Tuberkulosis dan Resistensi Obat/Resistensi Obat Ganda
Resistensi obat juga merupakan problem yang serius terutama pada pasien-pasien
dengan Imunocompromise & populasi dengan HIV di USA. Angka ini juga tinggi di
Asia dan Afrika (16,18). Peningkatan jumlah kasus TB dipengaruhi pula dengan
meningkatnya drug resistance (DR) dan multi drug resistance (MDR-TB). Bahkan
kasus ini dapat dipertimbangkan sebagai indikator penampilan program TB nasional
disuatu negara (18,25). Di Amerika tahun 1990-1992 dilaporkan 297 kasus MDR-TB
sebagian besar terjadi pada pasien infeksi HIV, dengan angka kematian 70%. Di
Perancis tahun 1992 dilaporkan 42 pasien (0,5%) dari 8521 kasus TB dengan MDRTB. Di Inggris 8,6% MDR TB dari 5146 kasus TB periode tahun 1989-1991, di
negara-negara berkembang terutama di Asia angka ini lebih tinggi lagi.
Data dari WHO Collaborating for Tuberculosis di RSUP Persahabatan Jakarta tahun
1996 terdapat 750 kasus dengan resistensi primer terhadap OAT dan 450 kasus
dengan resistensi sekunder terhadap OAT dari pasien-pasien yang berobat selama
tahun 1996
SITUASI EPIDEMIOLOGI TB INDONESIA
1.1. Angka insiden, prevalensi dan kematian
Berdasarkan Global Tuberculosis Control Tahun 2009 (data tahun 2007) angka
prevalensi semua tipe kasus TB, insidensi semua tipa kasus TB dan Kasus baru TB
Paru BTA Positif dan kematian kasus TB menunjukkan bahwa pada tahun 2007
prevalensi semua tipe TB sebesar 244 per 100.000 penduduk atau sekitar 565.614
kasus semua tipe TB, insidensi semua tipe TB sebesar 228 per 100.000 penduduk atau
sekitar 528.063 kasus semua tipe TB, Insidensi kasus baru TB BTA Positif sebesar
102 per 100.000 penduduk atau sekitar 236.029 kasus baru TB Paru BTA Positif
sedangkan kematian TB 39 per 100.000 penduduk atau 250 orang per hari.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan
RI, tahun 1972 TB menempati urutan ke 3 penyebab kematian menurut SKRT tahun

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

1980 TB menempati urutan ke 4, dan menurut SKRT tahun 1992, TB menempati


urutan nomor 2 sesudah penyakit sistem sirkulasi.
Hasil SKRT tahun 1995 TB merupakan penyebab kematian nomor 3 dari seluruh
kelompok usia dan nomor 1 antara penyakit infeksi yang merupakan masalah
kesehatan masyarakat Indonesia.
Dari hasil survey prevalensi TB yang dilakukan di 15 propinsi tahun 1979-1982
menunjukkan berbagai variasi prevalensi tiap-tiap propinsi.
Prevalensi tertinggi 0,74% di propinsi NTT dan terendah di propinsi Bali 0,08%.
Hasil dari survey ini menunjukkan prevalensi TB rata-rata 0,29%. Sistem kesehatan
nasional menargetkan pengurangan prevalensi BTA (+) sampai angka rata-rata 0,20%
ditahun 2000.

CARA PENULARAN
Penyakit TB paru biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mycobacterium tuberkulosis yang dilepaskan pada saat penderita TB paru dan pada
anak- anak sumber infkesi umumnya berasal dari penderita TB paru. Penularannya
melalui udara apabila orang menderita TB paru batuk, bersin atau berbicara sehingga
kuman /basil di lepaskan ke udara.
1
2

Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif


Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000

percikan dahak.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan lama selama
beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230
4

Putri Cantika

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang


dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tsb.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh

konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tsb.


RISIKO PENULARAN
1. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB
paru dengan BTA positf memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB

3.4 Klasfikasi
Berdasarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tahun 2006, tuberkulosis
dapat diklasifikasikan berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) dan berdasarkan
tipe penderita.
Klasifikasi tuberkulosis berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, antara lain:
1

Tuberkulosis

paru

Basil

Tahan

Asam

(BTA)

positif

adalah:

- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif.


- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
kelainan

radiologi

menunjukkan

gambaran

tuberkulosis

aktif.

- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif.
2

Tuberkulosis

paru

BTA

negatif

adalah:

- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis


dan

kelainan

radiologi

menunjukkan

tuberkulosis

aktif.

- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.


tuberculosis positif.
Klasifikasi berdasarkan tipe penderita ini ditentukan berdasar riwayat pengobatan
sebelumnya.
1.

Ada

beberapa
Kasus

tipe

pasien

yaitu:
baru

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan Obat Antituberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan.
2.

Kasus

kambuh

(Relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan


tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak positif atau biakan positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif/perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan:
-

Lesi

nontuberkulosis

(pneumonia,

bronkiektasis,

jamur,

keganasan,

dll)

- TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang berkompeten


menangani tuberkulosis.
3.

Kasus

putus

obat

(default

atau

drop

out)

Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat 2
bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
4. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
5. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah pengobatan ulang
dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
6. Kasus bekas TB:
- Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan
gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung.
- Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat pengobatan
OAT 2 bulan serta foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi.
B. TUBERKULOSIS EKSTRA PARU

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain. Diagnosis
sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Untuk kasus-kasus
yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang
kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.
3.5 Patogenesis
A. TUBERKULOSIS PRIMER
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan
paru sehingga akan terbentuk suatusarang pneumonik, yang disebut sarang primer
atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana sajadalam paru,
berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan
saluran getah beningmenuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh
pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitisregional). Afek primer
bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer.
Kompleks primer iniakan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnyaSalah satu contoh adalah epituberkulosis,
yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar
hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas
bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang
bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan
pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya
atau tertelan Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan
dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan
dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat,

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier,
meningitis tuberkulosa, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat
menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak
ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkinberakhir
dengan :
-

Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang

pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau


Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer.

B. TUBERKULOSIS PASCA-PRIMER
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis postprimer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer mempunyai nama
yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa, localized tuberculosis,
tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama
menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber penularan.
Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di
segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya
berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti
salah satu jalan sebagai berikut:
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tetapi segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri
menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentuk
perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali,
membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju
dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Nasib kaviti ini :
Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang
pneumonik ini
akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan diatas Dapat pula
memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut tuberkuloma.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif


kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi Kaviti bisa pula menjadi bersih
dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh
dengan membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai
kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang
(stellate shaped).
Masa inkubasi (2-12) adalah masa yang dimulai sejak masuknya bakteri TB sampai
timbulnya kompleks primer
TB Primer (masuk-terbentuknya respon imun seluler)
Port dentree inhalasi droplet nuclei (1-3basil)tersaring sebagian di bulu hidung
dan bronkusmasuk ke alveolusfagosit oleh sel dustsebagian mati sebagian
resistenmanipulasi endosomproliferasi tdk terkontrollisis pembentukan lesi
ditempat

tsbnekrosis

regionalkompleks
progresifpenyebaran

kaseosalesi

primer

(gohn

primer+limfangitis
complex)(dapat

hematogeniktb

milier)

seluleruji Tuberkulin (+)lesi latent dormant

&

terjadi

pembentukan

limfadenitis
tb

primer

respon

imun

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

TB Sekunder
Pola penyakit yang terjadi pada penjamu yang telah tersensitisasi.
-

Dapat terjadi reaktivasi fokus lama TB (endogen) akibat menurunnya

resistensi host
Terjadi reinfeksi eksogen pada daerah yang berprevalensi tinggi (eksogen)
Terjadi di salah satu apeks atau kedua lobus atas

3.6 Patofisiologi

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

3.7 Manifestasi klinis


Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan
gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala
respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat)
1. Gejala respiratorik
- batuk 2 minggu
- batuk darah
- sesak napas
- nyeri dada

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Gejala respiratorik ini sangat


bervariasi, dari mulai tidak
ada gejala sampai gejala yang
cukup berat tergantung dari
luas

lesi.

Kadang

pasien

pada

saat

terdiagnosis
medical

check

up.

Bila

bronkus belum terlibat dalam


proses penyakit, maka pasien
mungkin tidak ada gejala
batuk. Batuk yang pertama
terjadi karena iritasi bronkus,
dan

selanjutnya

batuk

diperlukan untuk membuang dahak ke luar.


2. Gejala sistemik
- Demam
- Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada
limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari
kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis,
sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri
dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
Gejala Umum TB
-

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam
hari disertai keringat malam. Dipengaruhi oleh daya tahan tubuh dan berat

ringannya kuman TB yang masuk


Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Nyeri dada akibat infiltrasi radang sampai pleura

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Gejala Khusus TB
1. Tergantung dari organ tubuh mana yang
2.

terkena :
suara mengi, suara nafas melemah

yang disertai sesak


3. sakit dada
4. keluar cairan nanah
5. penurunan kesadaran dan kejang-kejang

3.8 Diagnosis dan Diagnosis banding


a

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan


konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan menurun.
Tempat kelainan lesi TB yang perlu dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai
infiltrat yang agak luas, maka akan didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi
nafas bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas tambahan berupa ronkhi basah,
kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara
nafasnya menjadi vesikular melemah. Bila kavitas yang cukup besar, perkusi
memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimtomatik dan penyakit baru dicurigai
dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji
tuberkulin positif.
Pemeriksaan fisik

ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia


suhu tubh demam,badan kurus akibat BB menurun
infiltrat luasdidapatkan perkusi yang reduo dan auskultasi suara napas

bronkial
didapatkan suara napas tambahan berupa ronki basah,kasar dan nyaring

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

bila terjadi cavitas yg luasperkusi hipersonor atau timpani dan auskultasi

amforik
pada TB lanjut dengan fibrosis luas ditemukan atrofi dan retraksi otot

interkostal,paru menciut
bila fibrosis luas dapat terjadi cor-pulmonal dan gagal jantung kanan

Pemeriksaan Penunjang
Sputum
Dapat dilakukan dengan
a) Pemeriksaan langsung dengan mikroskop biasa
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk
penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang
dikumpulkan dalam 2 hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS),
S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang
berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot
dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera
setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas
di UPK.
S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat
menyerahkan dahak pagi.
b) Pemeriksaan langsung dengan mikroskop flouresens
c) Pemeriksaan dengan biakan (kultur) .Selama 4-6 minggu, lewat 8 minggu
=negatif. untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka
terhadap OAT yang digunakan.
BTA (+) bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada
satu sediaan (5000kuman/mL sputum)
d) Teknik PCR untuk deteksi DNA kuman TB yang tidak tumbuh di kultur
e) Pemeriksaan terhadap resistensi obat

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu


melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar
internasional, dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh
laboratorium supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut
memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam
pengobatan MDR dapat di cegah.

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman


TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan

dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.


Bila masih sulit untuk memperoleh sputum maka dapat dilakukan pengambilan
spesimen lain eg: bilasan bronkus,jaringan paru,pleura,cairan pleura,cairan

lambung,jaringan kelenjar,cairan serebrospinal,urin dan tinja


Pada anak-anak dilakukan bilas lambung karena sulit untuk mengeluarkan
dahaknya

Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman
BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dipastikan. Kriteria sputum BTA positif
adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu
sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1mL sputum.
Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien
dianjurkan minum air sebanyak + 2 liter dan ajarkan melakukan refleks batuk.
Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-obat mukolitik ekspektoran
atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. Bila masih
sulit,sputum masih dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi. BTA dari
sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini sering
dikerjakan pada anak- anak karena mereka sulit mengeluarkan dahaknya.
Sputum yang akan diperiksa hendaknya sesegar mungkin. Pemeriksaan
sputum dilakukan dengan menggunakan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen.
Penderita yang dicurigai TB paru, harus melakukan pemeriksaan sputum S
(sewaktu), P (pagi), S (sewaktu).
Interpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah:
1. 3 positif atau 2 positif + 1 negatif: BTA positif

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

2. 1 positif + 2 negatif ulang BTA 3 kali. Apabila 1 positif +2 negatif BTA


positif. Namun, apabila 3 negatif: BTA negatif.

Radiologi (RO Thorax)


Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan
sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto


toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB

paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.


Dapat
diambil
dengan
beberapa

Lordotik,Oblik,tomografi dan proyeksi densitas keras


Pemeriksaan lebih canggih : Ctscan dan MRI
Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas

penyakit.
Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

posisi:

lateral,AP,Top

Tuberkulin
Standard tuberkulin ada 2 yaitu PPD-S dan PPD RT 23
Dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari
pembengkakan (indurasi) yang terjadi:
Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif.
Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan.
Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif.
Uji tuberkulin (+) dijumpai pada

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230
-

Putri Cantika

Infeksi TB alamiah
Infeksi TB tanpa sakit TB(TB laten)
Infeksi TB dan sakit TB
TB yang telah sembuh
Imuunisasi BCG
Infeksi mikobakterium atipik

Uji tuberkulin (-) dijumpai pada


- Tidak ada infeksi TB
- Dalam masa Inkubasi
- Anergi
False Positif
1. Penyuntikan salah
2. Interpretasi tidak betul
3. Reaksi silang dg M.atipik
False Negatif
1. Masa inkubasi
2. Penyimpanan tidak baik
3. Interpretasi salah
4. Menderita TB luas dan parah
5. Disertai infeksi virus
6. Imunoinkompetensi seluler akibat kortikosteroid
7. Kurang komplemen
8. Demam
9. Leukositosis
10. Malnutrisi
11. Sarkoidosis
12. Psoriasis
13. Jejunoileal bypass
14. Terkena UV
15. Defisiensi pernisiosa
16. Uremia
Interferon
Pemeriksaan baru secara in vitro yaitu IFN-. Pemeriksaan darah in vitro ini akan
menghindari kunjungan kedua untuk menilai hasil uji tuberkulin dan reaksi kulit.
Kelebihan lain adalah kemampuannya untuk membedakan antara reaktiviti terhadap
M.tb dengan MOTT. Telah diketahui MOTT merupakan penyebab positif palsu hasil
uji tuberkulin
Serologi

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Contoh pemeriksaan serologis : PAP TB,Mycodot,ICT dll. Pemeriksaan ini masih


dalam taraf penelitian untuk pemakaian klinis praktis.
Patologi anatomi
Ditemukan gambaran grnuloma berukuran kecil ynag mempunyai karakteristik daerah
perkijuan atau nekrosis kaseosa di tengah granuloma. Ditemukan juga sel Datia
Langhans.

Diagnosis TB ekstra paru.


Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada
Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe
superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya.
Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan
kemungkinan

penyakit

lain.

Ketepatan

diagnosis

tergantung

pada

metode

pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji


mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Diagnosis banding
-

TB paru primer (pembesaran kelenjar hilus atau tanpa kelainan parenkim)


TB paru progresif(pneumonia,TB endobronkial)
TB paru kronik (kavitas,fibrosi,tuberkuloma)
TB milier
Efusi pleura TB

Pemeriksaan khusus
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara konvensional.
Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru yang dapat
mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik.
M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO2
yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi
salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan
diagnosis dan melakukan uji kepekaan.
2. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini
adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak
dipakai, kendati masih memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya. Hasil
pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang
pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara yang benar dan sesuai standar
internasional. Apabila hasil pemeriksaan PCR positif sedangkan data lain tidak ada
yang menunjang kearah diagnosis TB, maka hasil tersebut tidak dapat dipakai
sebagai pegangan untuk diagnosis TB Pada pemeriksaan deteksi M.tb tersebut
diatas, bahan / spesimen pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun ekstra paru
sesuai dengan organ yang terlibat.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda a.1:


a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respon
humoral berupa proses antigen antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam
teknik ini antara lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang
cukup lama.
b. ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji serologik
untuk mendeteksi antibodi M. tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji
diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut
diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada membran immunokromatografik
(2 antigen diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping garis kontrol. Serum
yang akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke bantalan warna biru, kemudian
serum akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum mengandung antibodi
IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan dengan antigen dan
membentuk garis warna merah muda. Uji dinyatakan positif bila setelah 15 menit
terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari empat garis antigen pada membran.
c. Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat
yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum
pasien, dan bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam
jumlah yang memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul
perubahan warna pada sisir dan dapat dideteksi dengan mudah.
d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang terjadi
dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para klinisi
harus hati hati karena banyak variabel yang mempengaruhi kadar antibodi yang
terdeteksi.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

3.10 Penatalaksanaan dan pencegahan

MEDIKAMENTOSA
Lini I
Isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), etambutol (E),
streptomisin (S)
Lini II
Gol. Fluorokuinolon, sikloserin, etionamid, amikasin, kanamisin,
kapreomisin, paraaminosalisilat
Kategori Obat Yang digunakan di INDONESIA
Ketegori I 2RHZE/4R3H3
o TB paru BTA (+) kasus baru
o TB paru BTA (-), foto thorax (+), kasus baru
o TB ekstra paru ringan & berat
Kategori II
{2RHZES/1RHZE} / 5R3H3E3
o Pasien kambuh
o Pasien default
o Pasien gagal pengobatan
Kategori IV TB MDR
Pemberian OAT
Fase awal (intensif)
o Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

o Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,biasanya


pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
o Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan(minum obat RHZE setiap hari)
Fase lanjutan
o Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama
o Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan,4 bulan RH seminggu 3 x
Dosis OAT
Obat

Dosis harian

Dosis 3x seminggu

INH

5 (4-6) mg/KgBB

10 (8-12) mg/KgBB

Rifampisin

10 (8-12) mg/KgBB

10 (8-12) mg/KgBB

Pirazinamid

25 (20-30)mg/KgBB

35 (30-40) mg/KgBB

Etambutol

15 (15-20)mg/KgBB

30 (20-35) mg/KgBB

Streptomisi

15 (12-18)mg/KgBB

15 (12-18)mg/KgBB

n
Kombinasi dosis Tetap(KDT)
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas
obat dan mengurangi efek samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya
resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

Obat
INH

Bentuk

Dosis / hari

Dosis 3x/mggu

tablet

75mg+150mg
150mg+150mg

150mg+150mg

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Rifampisin
INH

Tablet

150mg+400mg

Tablet

75mg+150mg

150mg+150mg

+ 400mg

+ 500mg

Etambutol
INH
Rifampisin
+
Pirazinamid
INH

Tablet

75mg+150mg

Rifampisin

400mg

275mg

Pirazinamid
+ Etambutol
KDT kategori 1
Berat

Tahap awal tiap

Badan

hr

slm

56

hr:

Tahap lanjutan
3 x/mggu slm 16
mggu:RH(150/150)

RHZE
(150/75/400/275)
30

2 tablet 4KDT

2 tablet 4KDT2
KDT

37 Kg
38

3 tablet 4KDT

3 tablet 2KDT

4 tablet 4KDT

4 tablet 2KDT

5 tablet 4KDT

5 tablet 2KDT

54 Kg
55

70 Kg

71

Kg
kategori 2
Berat

Tahap awal tiap hr slm 56 hr: RHZE

Tahap lanjutan

Badan

(150/75/400/275) + S

3 x/mggu slm 16
mggu:
RH(150/150)

Waktu

56 hari

28 hari

20 minggu

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230
3037Kg

2 tablet 4KDT +

Putri Cantika
2 tablet 4KDT

500mg strepto inj.


3854Kg

tablet

4KDT+

+ 2 tab Etambutol
3 tablet 4KDT

750mg strepto inj.


5570Kg

tablet

4KDT+

tablet

4KDT+

3 tablet 2KDT
+ 3 tab Etambutol

4 tablet 4KDT

1000mg strepto inj.


71Kg

2 tablet 4KDT2

4 tablet 2KDT
+ 4 tab Etambutol

5 tablet 4KDT

1000mg strepto inj.

5 tablet 2KDT
+ 5 tab Etambutol

OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Pemantauan Pengobatan
Kategori I
Setelah 2 bulan fase awal cek BTA
BTA (-) fase lanjutan
BTA (+) sisipan RHZE 1 bulan BTA (-) fase lanjutan
1 bulan sebelum akhir pengobatan cek BTA
BTA (-) lanjutkan sampai selesai pengobatn
BTA (+) uji biakan & kepekaan
Akhir pengobatan cek BTA
BTA (-) pengobatan lengkap pasien sembuh
BTA (+) kategori II
Kategori II
Setelah 3 bulan fase awal cek BTA
BTA (-) fase lanjutan
BTA (+) uji biakan & kepekaan, sisipan RHZES 1 bulan BTA (-)
fase lanjutan
1 bulan sebelum akhir pengobatan cek BTA
BTA (-) lanjutkan sampai selesai pengobatn
BTA (+) uji biakan & kepekaan rujuk
Akhir pengobatan cek BTA
BTA (-) pengobatan lengkap pasien sembuh
BTA (+) gagal, kasus kronik rujuk
Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan
penderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

skoring. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5, kepada anak
tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan.
Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan
setelah pengobatan pencegahan selesai
Efeksamping Obat

NONMEDIKAMENTOSA
DOTS (directly observed treatmen short course) yaitu strategi yang dicanangkan
WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan TB dan telah dilaksanakan di
Indonesia sejak tahun 1995.
DOTS terdiri atas 5 komponen utama
1. Komitmen politis dari para pengambil keputusan,termasuk dukungan dana
2. Diagnosis TB dengan pemeriksaan sputum secara mikroskopis
3. Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
Tugas seorang PMO
Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai
selesai pengobatan.
Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang
telah ditentukan.
Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang
mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera
memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin


5. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program penanggulangan TB
Pencegahan
a.Terhadap Infeksi Tuberkulosis
1.

Pencegahan terhadap sputum yang infeksius

1.1 Case finding


- X-foto toraks yang dikerjakan secara masal
- Uji teberkulin secara Mantoux
1.2 Isolasi penderita dan mengobati penderita
1.3 Ventilasi harus baik, kepadatan penduduk dikurangi

2. Pasteurisasi susu sapi dan membunuh hewan yang terinfeksi oleh Mycobacterium
bovis akan mencegah tuberkulosis bovis pada manusia.
b.
1.

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Memperbaiki standar hidup.


Makan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna. Lengkapi perumahan

dengan ventilasi yang cukup. Usahakan setiap hari tidur cukup dan teratur. Lakukan
olahraga di tempat-tempat yang mempunyai udara segar.
2.

Usahakan peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG.


Mengenai vaksinasi BCG, hanya sebagian kecil negara di dunia yang tidak

setuju pelaksanaannya, tetapi di Indonesia, sampai saat ini, vaksinasi BCG masih
sanagt penting. Banyak keuntungan dibandingkan dengan kerugian yang mungkin
ditimbulkan. Saat ini vaksin BCG disediakan dalam bentuk bubuk kering dan
disimpan didalam kamar dengan suhu di bawah 6oC. Pada udara dan suhu didaerah
tropis vaksin BCG dapat bertahan selama satu minggu.
Pencegahan dengan mengobati penderita yang sakit dengan obat anti tuberkulosis
seperti tersebut di atas.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse) Pada awal tahun 1990-an WHO
dan IUATLD (International Union Against TB and Lung Disease) telah
mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS
(Directly Observed Treatment, Shortcourse) dan telah terbukti sebagai strategi
penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).
Strategi ini dikembangkan dari berbagai studi, uji coba klinik (clinicals trials),
pengalaman-pengalaman terbaik (best practices), dan hasil implementasi program
penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Penerapan strategi DOTS secara
baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangya
MDR- TB (Multi Drugs Resistance-TB).
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan
kepada pasien TB menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan
demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan
pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan TB.
WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan
TB sejak tahun 1995. Bank dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu
intervensi kesehatan yang paling efktif. Integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar
sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya.
DOTS mengandung lima komponen, yaitu :
a. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB nasional
b. Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskop
c. Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara langsung, dikenal dengan
istilah DOT (Directly Observed Theraphy)
d. Pengadaan OAT secara berkesinambungan
e. Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang baku/standar
Strategi DOTS diatas telah dikembangkan oleh Kemitraan global dalam
penanggulangan TB (stop TB partnership) dengan memperluas strategi dots sebagai
berikut :
a. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

b. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya


c. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
d. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintahmaupun swasta
e. Memberdayakan pasien dan masyarakat
f. Melaksanakan dan mengembangankan riset
P2M
Berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular, maka Dinas Kesehatan bertugas
mengembangkan segala potensi yang ada untuk menjalin kemitraan dan kerja sama
semua pihak yang terkait serta memfasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dalam
pelaksanaan manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi serta mengupayakan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan
prasarana).
Selain itu dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dan dengan menyesuaikan tugas
pokok dan fungsi serta uraian kegiatan program P2M, maka strategi operasional yang
dilakukan dalam penanggulangan pemberantasan penyakit menular diantaranya
melalui :
1.

Pemantapan kelembagaan unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun

swasta dalam penanggulangan penyakit menular dengan strategi DOTS;


2.

Peningkatan mutu pelayanan di semua unit pelayanan kesehatan baik

pemerintah maupun swasta;


3.

Penggalangan kemitraan dengan organisasi profesi, lintas sektoral, Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM), institusi pendidikan, dan lain-lain;


4.

Pemberdayaan masyarakat dalam rangka mendorong kemandiriannya untuk

mengatasi masalah TBC;


5.

Penelitian dan pengembangan melalui penelitian lapangan atau kerja sama

dengan institusi pendidikan, LSM, organisasi profesi dan lain-lain dalam upaya
penanggulangan penyakit menular.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan program P2M di Dinas Kesehatan Propinsi
adalah :
1.

Meningkatkan upaya penemuan penderita di RS;

2.

Meningkatkan peran PKD dalam penemuan tersangka penderita;

3.

Meningkatkan upaya penemuan penderita melalui pesantren;

4.

Meningkatkan penemuan penderita di tempat kerja;

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230
5.

Putri Cantika

Meningkatkan peran Lapas dalam penemuan penderita; Meningkatkan peran

serta PKK, Muhammadiyah/ Aisyiah/ Fatayat/ NU dan


6.

Meningkatkan petugas PTO dan pengelola Program TBC.

Seksi Yang Terkait Dengan Program P2M


Salah satu misi program penanggulangan penyakit menular dan merupakan tugas
pokok dan fungsi pelaksana program P2M adalah meningkatkan kemitraan dan
melakukan koordinasi lintas program maupun lintas sektor yang terkait dengan
program P2M.
Seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular (Seksi P3M) adalah yang
bertanggung jawab dan mempunyai tugas menyediakan bahan rencana dan program
kerja, pelaksanaan, pelayanan, fasilitasi teknis, pemantauan dan evaluasi, pelaporan
bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Pemutusan Mata
Rantai Penularan melalui Pemberantasan Vektor.10 Bidang Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular yang dilaksanakan oleh seksi P3M meliputi
beberapa program yaitu program HIV/ AIDS, TBC, Malaria, Demam Berdarah
Dengue (DBD), Kusta, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Diare, dan
Kecacingan (filariasis).
Pada struktur organisasi Dinas Kesehatan, lintas program yang terkait dengan
program P2M adalah :
Seksi Penyehatan Lingkungan (PL)
-

Seksi Upaya Kesehatan Khusus dan Penunjang Medik (UKK)

Seksi Upaya Kesehatan Rujukan (UKR)

Seksi Pengembangan Promosi Kesehatan (Promkes)

Seksi Pengembangan Kemitraan dan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM), dan

Seksi Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi (K3I).

Selain itu program P2M juga terkait dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas
Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan
3.11 Komplikasi
KOMPLIKASI
-

Pneumonia (radang parenkim paru)

Efusi pleura (cairan yang keluar ke dalam rongga pleura)

Pneumotorak (adanya udara dan gas dalam rongga selaput dada)

Empiema

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230
-

Lasingitis

Menjalar ke organ lain (spt, usus)

Putri Cantika

KOMPLIKASI LANJUT
- Obstruksi jalan napas SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis)
- Kerusakan parenkim berat SOPT/Fibrosis Paru
- Amiloi dosis
- Karsinoma paru
- Sindrom Gagal Napas (Dewasa (ARDS)
3.12 PMO
Persyaratan PMO:

Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas

kesehatan maupun penderita


Disegani dan dihormati oleh penderita
Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita dan bersedia membantu

penderita dengan sukarela


Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan
penderita

Siapa yang bisa jadi PMO?


Sebaiknya adalah petugas kesehatan ,misalnya bidan di desa, perawat, pekarya
sanitarian, juru imunisasi. Bila tidak petugas kesehatan yang memungkinkan. PMO
dapat berasal dari kader kesehatan, guru anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat
atau anggota keluarga
Tugas PMO
Mengawasi penderita TBC agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan
Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur
Mengingatkan penderita untuk pemeriksaan ulang dahak pada waktu yang
ditentukan
Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC yang punya
gejala-gejala

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

3.13 Prognosis
Perkembangan dari infeksi TB menjadi penyakit TB terjadi ketika basil TB mengatasi
pertahanan sistem kekebalan tubuh dan mulai berkembang biak. Dalam TB primer
penyakit-1-5% dari kasus-ini terjadi segera setelah infeksi. Risiko meningkat
reaktivasi dengan imunosupresi, seperti yang disebabkan oleh infeksi HIV. Pada
pasien koinfeksi dengan''M. TB dan HIV'', risiko reaktivasi meningkat sampai 10%
per tahun.
Ada sejumlah faktor yang diketahui yang membuat orang lebih rentan terhadap
infeksi TB: dunia yang paling penting dari ini adalah HIV. Co-infeksi HIV adalah
masalah tertentu di Sub-Sahara Afrika, karena tingginya insiden HIV di negaranegara. Merokok lebih dari 20 batang sehari juga meningkatkan risiko TB oleh dua
sampai empat kali. Diabetes mellitus juga merupakan faktor risiko penting yang
semakin penting di negara berkembang. Negara penyakit lain yang meningkatkan
risiko tuberkulosis berkembang Hodgkin limfoma, stadium akhir penyakit ginjal,
penyakit paru-paru kronis, malnutrisi, dan alkoholisme.
Meskipun hubungan sebab akibat tidak dibuktikan oleh data ini, peningkatan risiko ini
bisa disebabkan oleh defisiensi mikronutrien: mungkin besi, vitamin B12 atau vitamin
D. Secara global, kekurangan gizi yang parah umum di bagian dunia berkembang
menyebabkan peningkatan besar dalam risiko mengembangkan TB aktif, karena efek
merusak pada sistem kekebalan tubuh. Seiring dengan kepadatan penduduk, gizi
buruk dapat menyebabkan hubungan kuat diamati antara TBC dan kemiskinan.
LI.5

MM Etika Batuk dalam pandangan Islam

KONSEP ETIKA BATUK


Pengertian batuk dan bersin.
Batuk bukanlah suatu penyakit. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di
saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap
iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.
Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung,
saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat
syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otototot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Bersin merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat
asing ke dalam tubuh. Karena itu jangan ditahan jika anda terasa ingin bersin. Bersin
adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya
bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis
tubuh akan menolak bakteri tersebut. Bersin juga dapat timbul akibat adanya
peradangan (rhinosinusitis), benda asing, infeksi virus, atau reaksi alergi. Reaksi
alergi tersebut muncul karena paparan terhadap bahan alergen.
Jenis-jenis dan penyebab dari masing-masing batuk.
Agar Anda lebih dapat mengenali jenis batuk yang Anda alami, kenali perbedaannya
dari suara yang ditimbulkan.

Batuk kering. Batuk dengan suara nyaring dan membuat perut ikut sakit,
biasanya makin parah saat malam hari. Bisa disebabkan karena masuk angin,

radang, atau asma.


Batuk produktif/batuk basah. Batuk yang sering diiringi dengan riak atau
lendir, yang biasanya disebabkan oleh infeksi atau asma.

Penyebab bersin
Bersin dapat disebabkan karena adanya

virus/kotoran/bakteri masuk ke hidung,

antibodi mengidentifikasi bahwa ada benda asingyang masuk yang dapat


membahayakan sistem tubuh maka terjadilah bersin
Kebiasaan batuk yang salah.

Tidak menutup mulut saat batuk atau bersin di tempat umum.


Tidak mencuci tangan setelah digunakan untuk menutup mulut atau hidung

saat batuk dan bersin.


Membuang ludah sudah batuk disembarang tempat.
Membuang atau meletakkan tissue yang sudah dipakai disembarang tempat.
Tidak menggunakan masker saat flu atau batuk.

Cara batuk yang benar


Hal-hal perlu anda perlukan:
-

Lengan baju

Tissue

Sabun dan air

Gel pembersih tangan

Langkah 1

Mandiri PBL S2- Respirasi


Reviera/1102013230

Putri Cantika

Sedikit berpaling dari orang yang ada disekitar anda dan tutup hidung dan mulut anda
dengan menggunakan tissue atau saputangan atau lengan dalam baju anda setiap kali
anda merasakan dorongan untuk batuk atau bersin.
Langkah 2
Segera buang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah.
Langkah 3
Tinggalkan ruangan/tempat anda berada dengan sopan dan mengambil kesempatan
untuk pergi cuci tangan di kamar kecil terdekat atau menggunakan gel pembersih
tangan.
Langkah 4
Gunakan masker
Tips & Peringatan

Ajarkan anak-anak cara yang tepat untuk batuk dan bersin untuk membantu

mengurangi penyebaran penyakit di udara.


Bersin pada lengan baju bagian dalam adalah cara penting untuk membantu

mengurangi penyebaran penyakit udara di seluruh dunia.


Jika menggunakan tissue, itu hanya boleh digunakan sekali dan diikuti segera
dengan mencuci tangan dan membuang tissue pada tempat sampah.

Artinya : Diriwayatkan dari Malik Al Asyari dia berkata, Rasulullah saw. bersabda
: Kebersihan adalah sebagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi
mizan (timbangan), dan bacaan subhanallahi walhamdulillah memenuhi kolong
langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya dan shadaqah adalah pelita, dan sabar
adalah sinar, dan Al Quran adalah pedoman bagimu. (HR. Muslim)