Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI SISTEM ORGAN

SEMESTER GENAP 2014 - 2015

PENGUJIAN AKTIVITAS ANALGETIKA


Hari / Jam Praktikum

: Selasa, 10.00-13.00

Tanggal Praktikum

: 17 Maret 2014

Kelompok

:2

Asisten

: Nadiya Nurul Afifah


Raisa Mutiarani

Anggota

Nama Lengkap

NPM Tugas

Dhita Dwi P

260110130131

Alat Bahan, Prosedur

Prasetyo Dwi A.P

260110130135

Pembahasan

Popy Sarah C

260110130136

Tujuan,Prinsip,Editor

Yogiyanto

260110130137

Pembahasan

Hazrati Ummi

260110130138

Teori Dasar, Dapus

Theresia Ratnadevi

260110130148

Data Pengamatan Perhitungan

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

PENGUJIAN AKTIVITAS ANALGETIKA


I.
1.

Tujuan
Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental
aktivitas analgetika suatu obat

2.

Memahami dasar-dasar perbedaan daya analgetik berbagai obat


analgetika.

II.

Prinsip

1.

Obat analgetika non narkotik


Analgetika non narkotik adalah obat-obat yang tidak bersidfat narkotik dan

tidak bekerja sentral. Penggunaan obat Analgesik Non-Narkotik atau Obat


Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghhilangkan atau meringankan rasa
sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek
menurunkan tingkat kesadaran. Obat ini tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna. Oleh karena itu tidak hanya digunakan sebagai obat antinyeri, melainkan
juga pada demam (infeksi virus/kuman, salesma, pilek) dan peradangan seperti
rematik dan encok. Obat-obat ini banyak diberikan untuk nyeri ringan sampai
sedang (Tjay, 2007).
2.

Obat Analgetika Narkotik


Obat anagetik narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat

opium atau morfin. Analgetika narkotik secara khusus digunakan untuk menghalau
atau meredakan rasa nyeri hebat seperti pada fractura dan kanker. Jenis obat ini pada
umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Salah satu contoh
analgetik narkotika adalah morfin (Tjay, 2007).
3.

Waktu reaksi
Jumlah waktu yang dibutuhkan oleh organisme untuk bereaksi sejak

rangsang muncul (Purves, 2004).

4.

Daya Proteksi
Kemampuan bertahannya suatu hewan percobaan terhadap respon dilihat

dari pemberian control positif, negative, maupun uji (Diphalma, 1986).

III.

Teori Dasar
Nyeri akut berfungsi sebagai fungsi biologis penting karena memberikan

peringatan tentang tingkat cedera atau potensi untuk memburuk. Ini adalah respon
cepat terhadap rangsangan berbahaya yang tidak menghasilkan durasi jangka
panjang. Di sisi lain, dapat memiliki efek

psikologis dan emosional yang

merugikan. Oleh karena itu, perhatian sedang difokuskan pada pencegahan agresif
dan pengobatan nyeri akut untuk mengurangi komplikasi dan perkembangan ke
negara nyeri kronis (Kumaravelu, 2010).
Analgetika narkotik adalah senyawa yang dengan selektif dapat memblokir
atau menekan fungsi sistem saraf pusat, yang dimanfaatkan untuk mengurangi rasa
sakit, yang ringan, sedang ataupun berat, seperti rasa sakit yang disebabkan oleh
penyakit kanker, serangan jantung akut, sesudah operasi, radang dan tumor. Efek
analgesik terjadi dikarenakan adanya pengikatan obat pada sisi reseptor khas pada
sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek rasa
senang yang berlebihan dan rasa mengantuk (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Impuls nyeri disalurkan ke susunan saraf pusat melalui dua jalur, yaitu jalur
nyeri yang berlangsung cepat dengan glutamate sebagai neurotransmiternya dan
jalur nyeri lambat dengan Substansi P sebagai neurotransmiternya. Reseptor nyeri
(nociceptor) tersebar di kulit, otot, tulang, dan sendi yang merupakan ujung saraf
bebas. (Guyton & Hall 1997; Ganong 2003).
Obat analgesik anti inflamasi non steroid atau NSAID merupakan suatu
kelompok obat dengan struktur kimia yang sangat heterogen, dimana efek samping
dan efek terapinya berhubungan dengan kesamaan mekanisme kerja sediaan
ini.yang menghambat atau sebagai inhibitor pada enzim cyclooxygenase (COX).
Kemajuan penelitian memberikan penjelasan mengapa sediaan yang heterogen
tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek samping, ternyata hal ini terjadi
berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Prostaglandin

memperlihatkan secara invitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometason


menghambat produksi enzimatik PG. Dimana juga telah dibuktikan bahwa jika sel
mengalami kerusakan maka PG akan dilepas.Namun demikian obat AINS secara
umum tidak menghambat biosintesis leukotrin,yang diketahui turut berperan dalam
inflamasi. AINS menghambat enzim cyclooxygenase (COX) sehingga konversi
asam

arakidonat

menjadi

PGG2

terganggu.

Setiap

obat

menghambat

cyclooxysigenase dengan cara yang berbeda (Fajriani, 2008).


Enzim siklooksigenase merupakan enzim yang mengkatalisis pembentukan
prostaglandin, suatu mediator inflamasi, dan produk metabolisme asam arakidonat.
Enzim COX terdiri dari 2 iso-enzim yaitu COX-1 dan COX-2. Enzim COX-1 bersifat konstitutif untuk memelihara fisiologi normal dan homeostasis, sedangkan
COX-2 merupakan enzim yang terinduksi pada sel yang mengalami inflamasi oleh
sitokin, endotoksin, dan faktor per-tumbuhan (growth factors). COX-2 juga
berperan dalam proliferasi sel kanker. Ekspresi berlebihan COX-2 ditemukan pada
kebanyakan tumor (Kurumbail, et al.,1996).
Terdapat dua mekanisme kerja obat analgetik, yaitu:
a. Analgesik Nonopioid/Perifer (Non-Opioid Analgesics)
Obat-obatan analgesic non-narkotik atau perifer secara langsung
memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). Efek
samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan gastrik dan
usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek
samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan
dengan dosis yang besar. Hai ini terjadi karena COX berperan dalam sintesis
mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari
analgetik jenis ini adalah menghalangi pembentukan prostaglandin dengan jalan
menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi
pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan
COX-2 inhibitors. (Goodman and Gilman, 2007).
b. Analgesik Opioid/Analgesik Narkotika
Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat laju kerja
prostaglandin dengan cara menghambat terbentuknya enzim COX yang memiliki

fungsi dalam kerja analgesiknya dan efek samping yang dimilikinya.


Kebanyakan analgesik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek analgesiknya
dalam kurun waktu satu jam setelah pemberian per-oral akan terlihat. Sementara
efek antiinflamasi OAINS dalam waktu satu-dua minggu pemberian akan
muncul, sedangkan efek maksimumnya timbul dari 1-4 minggu. Setelah
pemberiannya peroral, konsentrasi puncaknya NSAID didalam darah dicapai
dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian, absorbsinya umumnya tidak
dipengaruhi oleh adanya makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg)
dan mempunyai ikatan dengan protein plasma yang tinggi. Waktu paruh
penghapusan zatnya untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, waktu
paruh dari masing-masing zat sangat bervariasi (Goodman and Gilman, 2007).
Ketika terjadi kerusakan pada sel, jumlah molekul yang kehilangan satu
buah elektron dari pasangan elektron bebasnya meningkat seiring dengan
peningkatan produksi peroksida, padahal tubuh memproduksi zat pencegah oksidasi
endogen yang terbatas seperti superoksida dismutase (SOD) yang bekerja
menstabilkan radikal. Apabila jumlah molekul yang kehilangan satu buah elektron
dari pasangan elektron bebasnya makin banyak, zat pencegah oksidasi endogen tak
mampu lagi mengatasinya secara efektif sehingga dibutuhkan zat pencegah oksidasi
eksogen. Adanya senyawa macarangioside A dan mallophenol B dapat menangkap
radikal bebas tersebut yang diduga dapat menghambat jalur oksigenase dan
lipooksigenase (YPOBAP, 1991).
Orientasi dosis asam asetat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
dosis optimal asam asetat dalam menimbulkan jumlah geliat sehingga dapat
memudahkan pengamatan. Asam asetat adalah suatu iritan yang merusak jaringan
secara spesifik, yang menyebabkan nyeri pada rongga perut pada pemberian
intraperitoneal. Hal itu disebabkan oleh kenaikan ion H akibat turunnya pH di bawah
6 yang menyebabkan luka pada membran. Kerusakan pada membran sel ini akan
mengaktifkan enzim fosfolipase pada fosfolipid membran sel sehingga
menghasilkan asam arakidonat yang akhirnya akan membentuk prostaglandin
Terbentuknya prostaglandin ini akan merangsang reseptor nyeri sehingga mencit

akan memberikan respon dengan cara menggeliat untuk menyesuaikan keadaan


yang dirasakannya (YPOBAP, 1991).

IV.

Alat dan Bahan

4.1 Alat
1. Alat suntik 1 ml
2. Sonde oral mencit
3. Stopwatch
4. Timbangan mencit
5.

Wadah penyimpanan mencit

4.2 Bahan
1. Asam asetat 0,7% v/v
2. Obat analgetika standar (asam asetil salisilat/aspirin)
3. Obat analgetika yang diuji (asam mefenamat, parasetamol)
4. Larutan NaCl fisiologis atau larutan suspensi gom arab 1-2%
5. Mencit putih jantan dengan berat badan antara 20-25 gram.

4.3 Gambar Alat


No.

Nama Alat

Gambar

Baskom

Botol kaca

Kapas

Ram Kawat

Sonde oral

Stopwatch/ jam

Syringe

Timbangan Mencit

V.

Prosedur
Hewan dibagi atas tiga kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol negatif,

kelompok kontrol positif (obat standar) dan kelompok obat uji (dua jenis) setiap
kelompok terdiri atas 4-5 ekor mencit semua hewan dari setiap kelompok diberi
perlakuan sesuai dengan kelompoknya, yaitu kelompok kontrol negatif diberi
larutan NaCl fisiologis atau larutan suspensi gom arab 1-2% ,kelompok kontrol
positif (obat standar) diberi asam asetil salisilat dan kelompok obat uji diberi asam
mefenamat, parasetamol.Pemberian zat/obat dilakukan secara oral setelah 30 menit,
hewan diberi asam asetat 0,7% secara intraperitoneal setelah diberi asam asetat,

gerakan geliat hewan diamati, dan jumlah geliat dicatat setiap 5 menit selama 60
menit jangka waktu pengamatan. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik
berdasarkan analisis variansi dan kebermaknaan perbedaan jumlah geliat antara
kelompok kontrol dan kelompok uji dianalisis dengan Students t-test.Daya proteksi
obat uji terhadap rasa nyeri efektivitas analgetiknya dihitung dengan rumus berikut:
Jumlah geliat kelompok uji

% Proteksi = 100 ( Jumlah geliat kelompok kontrol ) 100%

% Efektivitas analgetik =

% Proteksi zat uji


% Proteksi as.asetil salisilat

didapat disajikan dalam bentuk tabel atau grafik.

VI.

Data Pengamatan dan Perhitungan

Table 1. Data Pengamatan

100% kemudian data yang

Hipotesis
o Hipotesis pengaruh utama faktor A (waktu)
: 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = 6 = 0 atau faktor waktu tidak

Ho

Geliat
Perlakuan

Berat

Volume

Badan

PGA kontrol
negatif

obat standar
ibuprofen

obat uji asam


mefenamat

total

05'

5' - 10'

10' - 15'

15' - 20'

20' - 25'

25' - 30'

25.4

0.32

26

20

17

13

19

103

25.5

0.32

13

21

11

71

28

0.35

10

14

17

14

59

26.8

0.34

22

32

35

18

113

23.2

0.30

19

21

19

17

16

98

28

82

85

94

90

65

444

5.6

16.4

17

18.8

18

13

74

25.1

0.31

14

11

15

10

56

23

0.28

22.5

0.28

27

23

14

13

85

27.7

0.35

11

13

12

16

18

79

23.9

0.30

12

18

17

16

16

11

90

25

72

63

61

57

32

310

14.4

12.6

12.2

11.4

6.4

51.66667

23.6

0.30

20

13

14

11

72

28.8

0.36

25

23.9

0.29

26

11

54

21.9

0.26

13

20

24.9

0.32

13

17

10

56

60

40

56

39

23

227

1.8

12

11.2

7.8

4.6

37.83333

mempengaruhi jumlah geliat pada mencit.

Total

62

214

188

211

186

120

Rata-rata

327

: i 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau faktor waktu mempengaruhi

H1

jumlah geliat pada mencit.


o Hipotesis pengaruh utama faktor B (pemberian jenis obat)
: 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = 6= 0 atau faktor pemberian jenis

Ho

obat tidak mempengaruhi jumlah geliat pada mencit.


: i 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau faktor pemberian jenis obat

H1

mempengaruhi jumlah geliat pada mencit.


o Hipotesis pengaruh interaksi A dan B
: ()11 = ()12 = ()13 = ()21 = ()22 = ()23 = ()31 =

Ho

()32 = ()33 = ()41 = ()42 = ()43 = ()51 = ()52 = ()53 =


()61 = ()62 = ()63 = 0 atau faktor interaksi tidak
mempengaruhi jumlah geliat pada mencit.
: ij 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6; j = 1, 2, 3 atau faktor interaksi

H1

mempengaruhi jumlah geliat pada mencit.

Perhitungan

1. FK=

( )2

2. JKP =

(981)2
653

=1 =1 ij2

962361
90

= 10692,9

(282 +282 +852 +942 + 902 ++232 )


5

10692,9=

64133
5

10692,9 = 12826,6 -10692,9 = 2133,7


3. JKA =

=1

(622 +2142 +1882 +2112 + 1862 +1202 )


35

10692,9 =

178501
15

10692,9 = 11900,07-10692,9 = 1207,167


4. JKB =

=1 ..

(4442 +3102 +2272 )


65

11492,17- 10692,9= 799,2667

10692,9 =

981

344765
30

- 10692,9 =

5. JKT= =1 =1 =1 2 = (82 + 262 +202 + + 62 )- 10692,9


= 26780 - 10692,9= 16087,1
6. JKAB = JKP JKA JKB = 2133,7 - 1207,167 - 799,2667 = 127,2667
7. JKG = JKT JKP = 16087,1 - 2133,7 = 13953,4
8. dbP = ab -1 = (6x3) 1 = 17
9. dbA = a 1 = 6 1 = 5
10. dbB = b 1 = 3 1 = 2
11. dbAB = (a 1) (b 1) = 5 x 2 = 10
12. dbG = ab(r 1) = 18 x (5 -1) = 72
13. dbT = abr 1 = (6x3x5) 1 = 89

14. KTA = =

15. KTB = =

1207,167
5
799,2667
2

16. KTAB = =

17. KTG = =

= 241,4334
= 1066,85

127,2667
10

13953,4
72

= 12,72667

= 193,7972

18. FhitungA= / = 1,245804


19. FhitungB = / = 5,504981
20. FhitungAB = / = 0,06567
21. FA = F(dbA, db galat) = 2,342
22. FB = F(dbB, db galat) = 3,124
23. FAB = F(dbAB, db galat) = 1,965

Table 2. Table Anava


Sumber
geragaman

db

JK

KT

fhitung

Perlakuan

17

2133.7

2133.7

1066.85

5.504981

interaksi ab

10

127

12.72667

0.06567

Galat

72

13953.4

193.7972

Total

89

16087.1

125.5118 0.647645

1207.167 241.4334 1.245804

37,833

24. % proteksi uji = 100 (

74

) 100% = 48,87%

25. % proteksi ibuprofen = 100 (

51,667
74

) 100% = 30,18%

48,87

26. % efisiensi = 30,18 100% = 161,93%

Pengaruh perlakuan
-

Fhit F(db perlakuan, db galat)


o Terima Ho: perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon yang
diamati atau tidak ada perbedaan antar perlakuan.

Fhit > F(db perlakuan, db galat)


o Tolak Ho: perlakuan berpengaruh terhadap respon yang diamati
atau tidak ada perbedaan antar perlakuan.

Hasil :
-

FhitungA 1,245804 FA 2,342 maka Ho diterima, atau waktu tidak


berpengaruh terhadap jumlah geliat dari mencit yang diamati atau tidak
ada perbedaan antarperlakuan.

FhitungB 5,504981 > FB 3,124 maka Ho ditolak, atau jenis pemberian


obat berpengaruh terhadap jumlah geliat yang diamati atau ada
perbedaan antar perlakuan.

FhitungAB 0,06567 FAB 1,965 maka Ho diterima, atau interaksi antara


waktu dengan jenis pemberian obat tidak berpengaruh pada jumlah geliat
dari mencit yang diamati.

Uji Lanjut
Uji lanjut dilakukan untuk melihat apakah ada pengaruh yang signifikan
dari perbedaan pemberian jenis obat terhadap respon geliat dari mencit. Uji
lanjut digunakan metode uji Duncan.
1. Menghitung nilai r(p,db).
= 0,05; db = 72; perlakuan (p) = 2, 3.
r untuk db 72 = 1,7706 (2 perlakuan)
r untuk db 72 = 1,8298 (3 perlakuan)
2. Menghitung wilayah nyata terpendek (Rp)

139,7972
=
= 27,95944=5,288

Rp = S . r(p,db)
Rp2 = 5,288 x 1,7706 = 9,363
Rp3 = 5,288 x 1,8298 = 9,676

Kriteria pengujian:
Nilai mutlak kedua selisih kedua rata-rata yang akan dilihat dibandingkan
dengan wilayah nyata terpendek (Rp) dengan criteria pengujian:

3. Mengurutkan table rata-rata perlakuan dari kecil ke besar.


Perlakuan
Kontrol negatif

Jumlah Geliat
103

71

59

Rata-rata geliat
113

98

88,8

Obat standar

56

85

79

90

62

Obat uji

72

25

54

20

56

45,4

Perlakuan

Rata-rata geliat

Kontrol negatif

88,8

Obat standar

62

Obat uji

45,4

Mengurutkan:
C

62

88,8

Perlakuan

Rata-rata geliat

45,4

Obat uji (C)

45,4

0
16,6
(2)

Obat standar (B)

Kontrol negatif (A)

62

88,8

nyata

43,4

26,8

(3)

(2)

nyata

Nyata

Keterangan:
-

Angka (2) dan (3) menunjukkan peringkat (p) untuk dibandingkan selisih
perbedaan dua rata-rata sesuai dengan peringkatnya (rendah ke tinggi).
Maksudnya antara B dan C bertetangga 2, sedangkan A dan C
bertetangga 3.

4. Kesimpulan dari Hipotesis


Berdasarkan hasil dari uji Duncan, maka perbedaan dari jenis obat yang
diberikan terhadap mencit memberikan perbedaan yang nyata pada taraf 5%.

Grafik

20
18
16
14
12

PGA Kontrol Negatif

10

Obat Standar Ibuprofen

Obat Uji Asam Mefenamat

6
4
2
0
0

10

20

30

40

80
70
60
50

Rata-rata Jumlah Geliat PGA


Kontrol Negatif

40
30

Rata-rata Jumlah Geliat Obat


Standar Ibuprofen

20

Rata-rata jumlah geliat obat


uji

10
0
PGA Kontrol Obat Standar Obat Uji Asam
Negatif
Ibuprofen
Mefenamat

VII.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai uji aktivitas

analgesik. Obat analgesik adalah obat yang digunakan untuk menekan atau
mengurangi rasa nyeri terhadap rangsang nyeri mekanik, termik, listrik, atau
kimiawi di sistem syaraf pusat dan perifer. Mekanisme umum kerja obat ini adalah
penghambatan pembentukan prostaglandin yang merupakan mediator nyeri. Obatobat analgesik dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kuat (analgesik
narkotik) yang bekerja sentral terhadap sistem saraf pusat, dan golongan analgesik
lemah (analgesik non-narkotik) yang bekerja terhadap sistem saraf perifer.
Metode yang digunakan adalah metode induksi kimia dengan subjek kerja
obat berupa mencit. Prinsip dari metode ini adalah dengan cara mengamati jumlah
geliat dari mencit setelah diberikan obat tiap 5 menit. Mencit dibagi menjadi 3
kelompok yang akan diamati yaitu: kelompok 1 sebagai kelompok kontrol negatif
yang diberikan suspensi gom arab, kelompok 2 sebagai kelompok kontrol positif
(diberi ibuprofen), kelompok 3 sebagai kelompok uji (diberi asam mefenamat).
Asam mefenamat ini dapat memberikan efek samping pada asam lambung sehingga
dari sinilah dapat dilakukan perbandingan antara mencit yg diberikan aspirin dan
asam mefenamat. Penambahan gom arab dimaksudkan sebagai cairan infus sebagai
pemberi rasa anestesi pada mencit. Semua zat tersebut dimasukkan secara peroral
pada mencit.
Asam asetat merupakan asam lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh,
pemberian sediaan asam asetat terhadap hewan percobaan akan merangsang
prostaglandin untuk menimbulkan rasa nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau
inflamasi. Prostaglandin meyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi
mekanik dan kimiawi sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan
hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin
merangsang dan menimbulkan nyeri yang nyata . Akibat dari adanya rasa nyeri
inilah hewan percobaan akan menggeliat saat efek dari penginduksi ini bekerja.
Hewan uji yang digunakan adalah mencit putih jantan. Karena
alasan biologisnya yang lebih stabil bila dibandingkan dengan mencit betina yang
kondisi biologisnya dipengaruhi masa siklus estrus.

Mencit jantan digunakan sebagai hewan uji serta pemberian asam asetat
0,7% secara intraperitonial sebagai perangsang terbentuknya prostaglandin dan
menimbulkan rasa nyeri pada mencit.metode ini dianggap baik untuk pengujian
analgetik karena obat yang termasuk kedalam analgetik lemah pun dapat
memberikan hasil positif (terbukti memberikanefek analgetik). Rasa nyeri pada
mencit diperlihatkan dalam bentuk respon gerakan geliat dimana frekuensi geliat
hewan uji dalam waktu tertentu menyatakan derajat nyeri yang dirasakannya
Geliat mencit menandakan adanya respon nyeri yang dirasakan oleh mencit
tersebut, sehingga semakin banyak geliat menandakan rasa nyeri yang semakin kuat.
Begitupun sebaliknya, semakin jarang mencit menggeliat berarti nyeri yang
dirasakan semakin ringan.
Setelah dibagi menjadi 3 kelompok, mencit kemudian didiamkan selama 30
menit, tujuannya agar semua zat yang dimasukkan kedalam tubuh mencit tersebut
bisa bereaksi terlebih dahulu dalam tubuh mencit. Lalu, diberikan asam asetat yang
dimasukkan secara intraperitonial, asam asetat ini merupakan zat penginduksi nyeri
pada mencit. Dengan demikian akan bisa dilihat bagaimana efek dari obat analgesik
tersebut bekerja setelah diberikan zat penginduksi nyeri tadi. Hal ini dilakukan
dengan cara melihat gerakan geliat dari mencit dalam selang waktu setiap 5 menit
sekali selama 30 menit. Data pengamatan ini selanjutnya akan dianalisis secara
stastik berdasarkan analisis variansi dan kebermaknaan perbedaan jumlah geliat
kelompok kontrol dan kelompok uji.
Mencit ditimbang masing-masing dan diperoleh hasil berat mencit I gram,
mencit II 25,5 gram, mencit II 23 gram, dan mencit III 28,8gram. Pada setiap mencit
diberikan obat yang berbeda-beda dan diberi dosis sesuai rumus :
0,25
=

Pada mencit I diberikan kontrol negatif dengan dosis NaCl 0,32 ml, mencit
II diberikan ibuprofen dengan dosis 0,28 ml, pada mencit III diberikan asam
mefenamat dengan dosis 0,36 ml. Tujuan pemberian dosis berbeda-beda
berdasarkan berat badan adalah untuk memperoleh efek farmakologis yang sama
dengan suatu obat pada setiap spesies hewan kuantitatif. Hal demikian akan lebih

diperlukan bila obat dipakai pada manusia dan pendekatan terbaik adalah dengan
menggunakan perbandingan luas permukaan tubuh. Berat absolut untuk mencit
adalah 20 gram.
Kemudian obat diberikan kepada masing-masing mencit dengan cara
disuntik intraperitonial yaitu di area abdomen bagian bawah. Jarum disuntikkan
dengan sudut 100 dari abdomen agak kepinggir untuk mencegah terkenanya
kandung kemih dan apabila terlalu tinggi akan mengenai hati. Mencit yang
sebelumnya sudah diberi asam asetat 0,7 % v/v sebagai penginduksi rasa sakit akan
menggeliat-geliat karena kesakitan. Lalu dilihat, diperhatikan dan dicatat geliat dari
masing-masing mencit setiap 5 menit selama 30 menit. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui lama kerja respon obat jenis analgesik.
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan data bahwa mencit I yang
diperlakukan sebagai kontrol negatif dengan pemberian larutan gom arab kemudian
larutan asam asetat, , 5 menit pertama menggeliat sebanyak 13 kali, menit ke 10
sebanyak 21 kali dan menit ke 15 melakukan geliat sebanyak 8 kali. Pada menit ke
20 tejadi 9 kali geliat, menit 25 sebanyak 11 geliat dan sampai pada menit terakhir
yaitu 9 kali geliat sehingga jika ditotalkan jumlah geliat mencit I selama 30 menit
adalah sebanyak 71 kali.
Mencit II yang diberikan ibuprofen sebagai kontrol positif lalu asam asetat
pada 5 menit pertama tidak menunjukkan tanda menggeliat, bahkan hingga menit
ke-30 mencit tetap tidak menggeliat sama sekali. Hal ini dapat disebabkan oleh
banyak hal, bisa berasal dari fisiologi mencit tersebut yang mungkin cukup kuat
untuk menahan efek dari asam asetat, bisa juga karena ibuprofen yang diberikan
memberi efektivitas kerja analgesik yang tinggi (dosis atau volume yang berlebih),
atau mungkin juga pemberian asam asetat yang dilakukan secara intra peritoneal
tidak dilakukan dengan baik sehingga asam asetat tidak diabsorbsi secara sempurna.
Mencit III yang diberikan asam mefenamat lalu asam asetat. Pada 5 menit
pertama mencit belum menggeliat sama sekali, kemudian pada menit ke 10 mencit
tersebut melakukan 1 kali geliat, menit ke 15 melakukan geliat sebanyak 3 kali. Pada
menit ke 20 terjadi 9 kali geliat, menit ke 25 sebanyak 9 kali dan sampai pada menit

ke-30 mencit menggeliat sebanyak 3 kali geliat sehingga jika ditotalkan jumlah
geliat mencit 1 selama 30 menit yaitu sebanyak 25 kali.
Ibuprofen merupakan derivat asam fenil propionat dari kelompok obat
antiinflamasi non steroid. Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim siklooksigenase pada biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat
menjadi PG-G2 terganggu. Prostaglandin berperan dalam patogenesis inflamasi,
analgesia dan demam. Dengan demikian maka ibuprofen mempunyai efek
antiinflamasi dan analgetik-antipiretik. Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih
besar dari pada asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap
lambung.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa mencit I menggeliat lebih banyak
dari mencit II dan III. Hal ini dikarenakan mencit hanya diberikan suspensi gom
arab yang tidak mempunyai efek analgetik. Seharusnya dengan pemberian obat
analgesik geliatan dari mencit akan berkurang. Hasil yang didapat tidak sesuai
dikarenakan beberapa faktor. Diantaranya mencit yang digunakan memiliki daya
tahan tubuh yang berbeda-beda. Selain itu kesalahan terjadi pada praktikan,
kesalahan dalam pemberian suntikan menyebabkan ketidaktepatan distribusi zat
aktif sehingga efek farmakologis yang diinginkan tidak sesuai.
Kemudian pada saat diberikan obat analgesik pada masing-masing mencit
yang seharusnya didiamkan hingga 30 menit sebelum diberikan asam asetat 0,7%
dilakukan lebih cepat sehingga obat analgesik tersebut belum bekerja sepenuhnya.
Selain itu faktor yang menyebabkan kesalahan yaitu kurang teliti dalam menghitung
jumlah geliat, seperti menghitung geliat lebih dari satu yang sebenarnya sisa
menggeliat sebelumnya dan begitu juga sebaliknya ada geliat yang tidak dihitung
karena lengah.
Percobaan pengujian aktivitas analgetik ini dilakukan dengan dua faktor,
yaitu faktor variasi waktu dan faktor pemberian jenis obat yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, perhitungan statistik digunakan dengan metode percobaan faktorial.
Berdasarkan

hasil

perhitungan,

ditemukan

bahwa

waktu

tidak

mempengaruhi jumlah geliat dari mencit. Sedangkan, pemberian jenis obat yang

berbeda (tidak diberikan, diberikan ibuprofen, diberikan asam mefenamat)


memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah geliat dari mencit. Dan,
tidak terdapat interaksi antara waktu dan pemberian jenis obat kepada mencit
terhadap jumlah geliat.
Hasil perhitungan statistik menyatakan bahwa perbedaan pemberian jenis
obat memberikan pengaruh terhadap jumlah geliat dari mencit. Pernyataan ini belum
cukup jelas. Untuk menggali lebih dalam lagi obat mana yang sebenarnya paling
memberikan pengaruh yang signifikan, maka dilakukan uji lanjut dengan
menggunakan uji Duncan.
Dalam uji Duncan ini, karena waktu sudah terbukti tidak berpengaruh pada
jumlah geliat, maka yang dibandingkan adalah jenis obat yang dinyatakan sebagai
perlakuan dan jumlah geliat dari lima kali pengulangan. Dari lima pengulangan ini
kemudian dirata-ratakan dan dari rata-rata ini saling disandingkan satu sama lain
untuk menjelaskan mana yang sebenarnya memberikan pengaruh yang paling
spesifik. Berdasarkan uji lanjut Duncan, ketiga perlakuan memberikan perbedaan
yang signifikan dan dapat dinyatakan bahwa obat analgetika yang diujikan kepada
hewan mencit mempunyai aktivitas yang berbeda-beda dalam mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit yang diinduksi secara kimia (geliat dari mencit yang
diinduksi oleh asam asetat).
Berdasarkan hasil dari grafik, pertambahan waktu cenderung menunjukkan
jumlah geliat yang meningkat. Secara farmakologi, grafik tersebut menjelaskan
bahwa semakin bertambahnya waktu, efek obat sebagai analgesik sudah mulai
berkurang, sehingga jumlah geliatan pada mencit cenderung meningkat. Jika
ditinjau kembali penjelasan secara farmakologi, terkesan bahwa waktu
menunjukkan pengaruh terhadap jumlah geliat sedangkan statistik menjelaskan
bahwa waktu tidak menunjukkan pengaruh. Sebagai penjelasan dari permasalahan
tersebut, perlu kembali dilihat juga bahwa semakin lama waktu, jumlah geliat juga
cenderung menurun, hal ini disebabkan karena efek induksi dari asam asetat juga
sudah mulai berkurang. Jadi, terdapat dua faktor yang menunjukkan perubahan
jumlah geliat jika dilihat dari segi waktu yaitu efek dari obat, dan efek dari asam
asetat itu sendiri. Karena itulah mengapa waktu tidak memberikan perubahan yang

signifikan terhadap jumlah geliat dari mencit. Lalu, bagaimana dengan faktor waktu
pada kontrol negatif yang tidak menerima efek dari obat analgesik? Perlu diingat
kembali, efek dari asam asetat berkurang dengan sendirinya dalam tubuh mencit
(tidak konstan). Sehingga, bukan karena lama waktu yang mempengaruhi jumlah
geliatan, tapi sesungguhnya efek dari asam asetat dan analgesik itu sendiri. Sehingga
pada kontrol negatif (yang tidak menerima pengaruh obat) waktu juga bukanlah
faktor yang mempengaruhi jumlah geliat mencit.
Berdasarkan grafik, terlihat bahwa asam mefenamat mempunyai efek
analgesik paling baik yang ditunjukkan dari rata-rata jumlah geliat total yang paling
sedikit. Hal ini juga ditunjukkan dari perhitungan persen efisiensi asam mefenamat
yang menunjukkan persen yang lebih dari 100%. Namun, hal ini bebeda dengan
percobaan yang dilakukan oleh Nugraha tahun 2011 yang menunjukkan bahwa
ibuprofen memiliki efek analgesic yang lebih baik dibandingkan dengan asam
mefenamat yang ditunjukkan dalam persen daya analgesic yaitu ibuprofen 66,67%
dan asam mefenamat adalah 50%. Penyimpangan ini dapat disebabkan karena
pemberian obat yang tidak benar (ada obat yang terbuang sehingga pemberian obat
tidak sesuai dengan perhitungan dosis), penyuntikan asam asetat yang kurang baik
sehingga ada asam asetat yang terbuang, atau dari mencit itu sendiri seperti faktor
metabolisme tikus, usia, berat badan, jenis kelamin, dan keadaan psikis dari mencit
tersebut.
Kontrol negatif adalah kelompok mencit yang tidak diberikan obat analgesik
apapun atau hanya pembawa obat tanpa zat aktif. Pengadaan kontrol negarif ini
sendiri bertujuan untuk membandingkan kelompok yang diberikan analgesik,
dengan kelompok yang tidak diberikan analgesik. Atau dengan kata lain, kontrol
negatif digunakan dengan tujuan sebagai sebagai pembanding.

VIII.

Kesimpulan

1. Berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental aktivitas


analgetika suatu obat dapat diamati.
2. Dasar-dasar perbedaan daya analgetik berbagai obat analgetika dapat
dipahami.

DAFTAR PUSTAKA
Fajriani, 2008. Pemberian Obat-Obatan Anti Inflamasi Non Steroid ( AINS ) Pada
Anak. Avaiable online at:
http://jdentistry.ui.ac.id/index.php/JDI/article/view/27/23 [Diakses 17
Maret 2015 pukul 07.00].
Ganong, William F. 2003. Fisiologi Saraf & Sel Otot. Dalam H. M. Djauhari.
Goodman and Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi. Edisi 10, diterjemahkan
oleh Amalia. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kumaravelu, P., Kaliappan V., Viswanathan G., David D.C., Venkatesan H. 2010.
A

Comparative Study of Oral Analgesics: Etoricoxib with Tramadol in

Acute Postoperative Pain: A Randomised Double Blind Study. Avaiable


online

at:
http://www.jcdr.net/article.s/PDF/742/612_937_E(C)_F(P)_R(P)_P

F_p .pdf

Diakses

tanggal 14 Oktober 2015.

Kurumbail, R.G., et al.,1996, Cyclooxygenase-2 (Prostaglandin Synthase-2


Complexed with a

Selective

Inhibittor),

SC-558

IN

I222 Space

Goup.1996. Available from: http://www.pdb.org/


pdb/explore/explore.do?structureId=6COX [Accessed at 17 March
2015].
Nugraha, Linus Seta Adi.2011.Analgetika.Sebuah percobaan. Semarang: Akademi
Farmasi Theresiana.
Widjajakusumah: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta: EGC.
Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika (YPOBAP). 1991.
Penapisan

Farmakologi Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinik.

pp.

Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika;

Jakarta.

49.