Anda di halaman 1dari 32

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

STEP 7
1. Mengapa pasien ini sering marah2 tanpa sebab sejak 2 bln yg lalu?
2. Mekanisme dr munculnya stressor mjdi gangguan jiwa?
3. Macam2 stressor yg bisa menyebabkan gangguan jiwa?

SGD 1

Page 1

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

4. Jelaskan ttg waham?


Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai
dengan kenyataanya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang

SGD 1

Page 2

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


kebudayaan, biarpun dibuktikan kemustahilan hal itu ( Marasmis 2005 hal
117).
Townsend 1998 mengatakan bahwa waham adalah istilah yang
digunakan untuk menunjukan ide-ide yang salah.
Dari pendapat para ahli tersebut dapat dikatakan bahwa waham
sebagai salah satu perubahan proses khususnya isi pikir yang ditandai
dengan keyakinan terhadap ide-ide, pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataan dan sulit diubah dengan logika atau bukti-bukti yang ada.
A. Jenis-Jenis Waham
adapun jenis-jenis waham menurut Marasmis, stuart and sundeen
( 1998) dan Keliat (1998) waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
a. Waham agama : keyakinan klien terhjadap suatu agama secara
berlebihan

diucapkan

beulang

kali

tetapi

tidak

sesuai

dengan

kenyataan.
b. Waham kebesaran : klien yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki
kebesaran atau kekuatan khusus diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
c. Waham somatic : klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
teganggu dan terserang penyakit, diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
d. Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana
klien yakin bahwa ada seseorang atau kelompok orang yang berusaha
merugikan atau mencurigai dirinya, diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
e. Waham nihilistic : klien yakin bahwa dirinya sudah ridak ada di dunia
atau sudah meninggal, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan.
f. Waham bizar
1. Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang dsisipkan di
dalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai
dengan kenyataan
SGD 1

Page 3

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


2. Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut,
diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari
luar.
B. Fase-Fase Waham
1. Lack of Selfesteen
- Tidak ada pengakuan lingkungan dan meningkatnya kesenjangan
antara kenyataan dan harapan. Ex : perceraian->berumah tangga tidak
diterima oleh lingkungannya.
2. Control Internal Eksternal
- Mencoba berfikir rasional, menutupi kekurangan dan tidak sesuai
dengan
kenyataan. Ex : seseorang yang mencoba menutupi kekurangan
3. Environment support
- kerusakan control dan tidak berfungsi normal ditandai dengan tidak
merasa
bersalah saat berbohong. Ex : seseorang yang mengaku dirinya
adalah guru tari
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungan,
klien merasa
didukung, klien menganggap hal yang dikatakan sebagai kebenaran,
kerusakan
control diri dan tidak berfungsi normal (super ego)
4.
Fisik Comforting
klien merasa nyaman dengan kebohongannya
5.
Fase Improving
Jika tidak ada konfrontasi dan korelasi maka keyakinan yang salah
akan meningkat.
Secara khusus factor penyebab timbulnya waham dapat diuraikan dalam
beberapa teori yaitu :
a. Factor Predisposisi

SGD 1

Page 4

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


Menurut Townsend (1998, hal 146-147) factor predisposisi dari
perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi dua
teori yang diuraikan sebagai berikut :
1. Teori Biologis
a. Faktor-faktor genetic yang pasti mungkin terlibat dalam
perkembangan

suatu

kelainan

ini

adalah

mereka

yang

memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang


tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
b. Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa
kelainan skizoprenia mungkin pada kenyataanya merupakan
suaru kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus
otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari selsel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderoita
skizoprenia.
c. Teori biokimia menyatakan adanya peningkata dupamin
neorotransmiter yang dipertukarkan mengahasilkan gejalagejala peningkatan aktifitas yang berlebihan dari pemecahan
asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
2. Teori Psikososial
a. Teori

sistem

keluarga

Bawen

dalam

Townsend

(1998)

menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu


perkembangan disfungsi keluarga. Komflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan
menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas
dan suatu kondisi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya
suatu

hubungan

yang

saling

mempengaruhi

yang

berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak harus


meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan
masuk kepada masa dewasa, dimana di masa ini anak tidak
akan mampu memenuhi tugas perkembangan dewasanya.

SGD 1

Page 5

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


b. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami
psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang
penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang
membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak
mampu membentuk rasa percaya tehadap orang lain.
c.

Teoti psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil


dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat
dan suatu hubungan saling mempengaruhi orang tua dan
anak

karena

ego

menjadi

lebih

lemah

penggunaan

mekanisme pertahanan itu pada waktu kecemasan yang


ekstrem mennjadi suatu yang maladaptive dan perilakunya
sering kali merupakan penampilan dan sekmen diri dalam
kepribadian.
b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998, hal 310) factor presipitasi dari
perubahan isi pikir : waham kebesaran yaitu :
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang
maladaptive termasuk gangguan dalam putaran umpan balik
otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas
pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.
2. Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress
yang
berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan prilaku.
3. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanta terdapat pada respon neurobiologist yang
maladaptive berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap
dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur,infeksi,
SGD 1

Page 6

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag yang penuh kritik,
masalah perumahan, kelainan

terhadap penampilan, stress

agngguan dalam berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan,


pekerjaa, kemiskinan, keputusasaan dan sebaigainya.
C. Proses terjadinya waham
Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan
mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan
waham, menggunakan mekanisme pertahanan reaksi formasi, penyangkalan
dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan melawan
agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan
ketergantungan

ditransformasikan

menjadi

kemandirian

yang

kokoh.

Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan


yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal
impuls yang tidak dapat diterima didalam dirinya sendiri. Hypersensitifitas
dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan menyebabkan reaksi formasi
dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas. Waham juga dapat muncul
dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai
cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran
merupakan regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana perasaan
akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan dihilangkan (Kaplan dan
Sadock, 1997).
Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7 situasi
yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan,
untuk

mendapat

terapi

sadistik,

situasi

yang

meningkatkan

ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan


kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri
rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya
pada orang lain, situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan
tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu.

SGD 1

Page 7

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


D. Akibat dari Waham
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri,
orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan
yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.

E. Gejala- Gejala Waham


Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami
waham adalah:
a. Status mental
1)

Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat

normal, kecuali bila


ada sistem waham abnormal yang jelas.
2)

Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.

3)

Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.

4)

Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan

identitas diri,
mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.
5)

Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan

adanya kualitas
depresi ringan.
6)

Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/

menetap, kecuali
pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien
kemungkinan
ditemukan halusinasi dengar.
b. Sensori dan kognisi
1) Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang
memiliki waham
SGD 1

Page 8

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
2) Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
3) Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.
4) Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya.
Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah
dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.
Definisi
Suatu keyakinan atau fikiran yang salah, karena bertentangan dengan
kenyataan (dunia realitas).
Buah fikiran ini selalu mengenai diri sendiri (egosentris)
Selalu bertentangan dengan realita
Selalu bertentangan dengan logika
Penderita percaya 100% persen kepada kebenaran fikirannya
Tidak dapat dirubah oleh orang lain sekalipun dengan jalan yang
logis dan rasional
Sumber: Psikiatri II Simtomatologi, UNDIP
MACAM-MACAM WAHAM :
a. Waham kebesaran
Penderita merasa dirinya org besar, org berpangkat tinggi,org yg
pandai sekali, org kaya bnyak uangnya dan bnyak rumahnya.
Didapatkan pada sindroma Manik
b. Waham berdosa
Timbul perasaan salah yg luar biasa dan merasakan suatu dosa
yang besar. Penderita percaya sudah selayaknya dirinya harus
dihukum berat, atau menjalani hukuman mati sekalipun. Didapatkan
pada sindroma depresi.
c. Waham dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa dikejar-kejar oleh orang lain atau
sekelompok orang yang bermaksut berbuat jahat kepada dirinya.
d. Waham curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang di sekitarnya.
Individu curiga terhadap sekitarnya.
SGD 1

Page 9

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

e. Waham cemburu
Selalu cemburu pada org lain.
f. Waham rendah diri
Perasaan rendah diri/kurang dari pada orang lain.
g. Waham hypochondri
Perasaan mengenai berbagai penyakit yg berada dlm tubuhnya.
Sering didapatkan pada skizofrenia
h. Waham magik-mistik
Waham mengenai soal-soal magik dan mistik
i. Waham sistematis
5. Beda halusinasi dan waham?
Perbedaan halusinasi, ilusi, delusi

Objek
Panca indera

halusinasi
Tanpa objek
Terkait
dgn

ilusi
Ada objek
Terkait

Keyakinan

panca indra
ya

panca indra
ya

dgn panca indra


tidak

dapat dirubah
Bisa
terjadi

ya

ya

tidak

pada

dgn

waham
Tanpa objek
tidak
terkait

orang

normal
Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa rangsangan
eksternal terjadi pada keadaan kesadaran penuh yang
menggambarkan hilangnya kemampuan menilai realitas.(Sunaryo,
2004)

SGD 1

Page 10

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


Halusinasi adalah persepsi sensori yang salah atau pengalaman
persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan (Sheila L Vidheak, 2001 :
298).
Halusinasi

merupakan

mempersepsikan

sesuatu

gangguan
yang

persepsi

sebenarnya

dimana

klien

terjadi,

suatu

tidak

pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis,


1998).
Jadi,

dapat

disimpulkan

bahwa

halusinasi

adalah

gangguan

persepsi tanpa ada rangsangan dari luar ekternal.


Tanda dan Gejala:
1. Bicara, senyum, tertawa sendiri
2. Mengatakan mendengarkan suara, melihat, mengecap, menghirup
(mencium) dan merasa suatu yang tidak nyata.
3. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
4. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata
5. Tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi.
6. Sikap curiga dan saling bermusuhan.
7. Pembicaraan kacau kadang tak masuk akal.
8. Menarik diri menghindar dari orang lain.
9. Sulit membuat keputusan.
10.

Ketakutan.

11.

Tidak mau melaksanakan asuhan mandiri: mandi, sikat gigi,

ganti pakaian, berhias yang rapi.

SGD 1

12.

Mudah tersinggung, jengkel, marah.

13.

Menyalahkan diri atau orang lain.

14.

Muka marah kadang pucat.

15.

Ekspresi wajah tegang.

16.

Tekanan darah meningkat.

17.

Nafas terengah-engah.

18.

Nadi cepat
Page 11

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


19.

Banyak keringat.
Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Perubahan sensori perseptual:


halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri

6. Klasifikasi gangguan jiwa?beserta penjelasannya!


- Gangguan mental organik
o Gangguan organik dan simptomatik
o Gangguan akibat alkohol dan obat
- Gangguan mental psikotik
o Skizofrenia dan gangguan yang terkait
o Gangguan afektif
- Gangguan mental neurotik dan gangguan kepribadian
o Gangguan neurotik
o Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa
- Gangguan masa kanak-kanak, remaha dan perkembangan
o Retardasi mental
o Gangguan masa kanak, remaja, dan perkembangan
7. Jelaskan ttg gg.jiwa psikotik?
Jenis psikosis
a Psikosis organic
adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau
organik, yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita
mengalamai inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung
jawab, dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas
b Psikosis fungsional
Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang
bersifat nonorganik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian
dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial.
Psikosis jenis ini dibedakan menjadi beberapa ., yaitu :
schizophrenia, psikosis mania-depresif, dan psiukosis paranoid
(Kartini Kartono, 2000 : 106).

SGD 1

Page 12

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


Psikosis Organik
Alcoholic psychosis
Drug psychose Drug psychose
Traumatic psychosis
Dementia paralytica,
Psikosis Fungsional
Schizophrenia
Psikosis mania-depresif
Psikosis paranoid

1 Faktor2 penyebab psikotik?


Penyebab gejala penyakit mental yang lazim diklasifikasikan sebagai
"organik" atau "fungsional". Kondisi organik terutama medis atau
patofisiologi, sedangkan, kondisi fungsional terutama psikiatris atau
psikologis.
DSM-IV-TR tidak lagi mengklasifikasikan gangguan psikotik sebagai
fungsional atau organik. Melainkan daftar penyakit psikotik tradisional,
psikosis karena kondisi Kedokteran Umum, dan psikosis yang diinduksi Zat.
Psikiatrik
Penyebab psikosis fungsional meliputi:

tumor otak

obat amfetamin penyalahgunaan, kokain, alkohol antara lain

kerusakan otak

skizofrenia, gangguan schizophreniform, gangguan schizoafektif,


gangguan psikotik singkat

gangguan bipolar (manik depresi)

parah klinis depresi

parah stres psikososial

kurang tidur

beberapa gangguan epilepsi fokal terutama jika lobus temporal


dipengaruhi

SGD 1

Page 13

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

paparan beberapa peristiwa traumatik (kematian kekerasan, dll)

tiba-tiba atau over-cepat menarik diri dari obat rekreasi atau diresepkan
tertentu

Sebuah episode psikotik dapat secara signifikan dipengaruhi oleh suasana


hati. Sebagai contoh, orang yang mengalami episode psikotik dalam konteks
depresi mungkin mengalami delusi persecutory atau diri menyalahkan atau
halusinasi, sementara orang-orang mengalami episode psikotik dalam
konteks mania dapat membentuk delusi megah.
Stres diketahui untuk berkontribusi dan memicu negara psikotik. Riwayat
psikologis peristiwa traumatik, dan pengalaman baru-baru ini peristiwa stres,
dapat baik berkontribusi pada pengembangan psikosis.
Psikosis singkat dipicu oleh stres yang dikenal sebagai psikosis reaktif
singkat, dan pasien dapat pulih secara spontan berfungsi normal dalam
waktu dua minggu.
Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, individu dapat tetap dalam
keadaan full-blown psikosis selama bertahun-tahun, atau mungkin memiliki
gejala psikotik dilemahkan (seperti halusinasi intensitas rendah) hadir paling
banyak kali.
Kurang tidur telah dikaitkan dengan psikosis. Namun, ini bukan resiko bagi
kebanyakan orang, yang hanya mengalami halusinasi hypnagogic atau
hypnopompic, yaitu pengalaman indrawi yang tidak biasa atau pikiran yang
muncul saat bangun tidur atau tertidur. Ini adalah fenomena tidur normal
dan tidak dianggap tanda-tanda psikosis.
Kekurangan vitamin B12 juga dapat menyebabkan gejala mania dan psikosis.
Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan berpikir diubah dan psikosis.
Genetika juga mungkin memiliki peran dalam psikosis. Para kembar empat
Genain adalah identik kembar empat yang semuanya didiagnosis dengan
skizofrenia.
Umum medis
Psikosis yang timbul dari "organik" (non-psikologis) kondisi kadang-kadang
dikenal sebagai psikosis sekunder. Hal ini dapat dikaitkan dengan patologi
berikut:

gangguan neurologis, termasuk:

SGD 1

Page 14

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

tumor otak

demensia dengan badan Lewy

multiple sclerosis

sarkoidosis

Penyakit Lyme

sipilis

Penyakit Alzheimer

Penyakit Parkinson

Anti-reseptor NMDA ensefalitis

elektrolit gangguan seperti:

hipokalsemia

hipernatremia

hiponatremia

hipokalemia

hypomagnesemia

hypermagnesemia

hypercalcemia

hypophosphatemia

hipoglikemia

lupus

AIDS

kusta

SGD 1

Page 15

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

malaria

Onset dewasa menghilang leukoencephalopathy materi putih

Akhir-onset metachromatic leukodystrophy

Cerebral keterlibatan skleroderma (laporan kasus tunggal).

Hashimoto ensefalopati, suatu kondisi yang sangat jarang terjadi


(sekitar 100 kasus yang dilaporkan).

Psikosis bahkan dapat disebabkan oleh penyakit tampaknya tidak


berbahaya seperti flu atau gondok
A. Gangguan psikotik akut
1. Definisi
adalah suatu kondisi ggn jiwa/mental berat ditandai dg hilangnya
daya nilai realita dan ggn fungsi mental lain (halusinasi,waham
inkoherensi, konfusi, disorientasi, ggn ingatan, peri - laku teragitasi dll)
serta tdpt hendaya berat dlm fung- si global penderita, spt fgs: peran,

sosial dan pribadi.


2. Jenis
Organik: gangguan psikotik yang terdapat patologi pada system organ SSP/

luar SSP (demensia,delirium, psikosis post partum dll).


Fungsional: gangguan psikotik yang tidak terdapat patologi pada system
organ , yang terganggu fungsi jiwanya atau gangguan pada tataran
biologi molekuler system sel, reseptor, neurotransmitter( skizofrenia,
skizoafektif, psikosis akut dll).
PSIKOTIK FUNGSIONAL
ggn mental dmn tdk ada dasar organik yg dpt diterima umum
a. Skizofrenia F20
Gangguan yang tampil dengan gangguan berpikir (perubahan
formasi konsep yang menyebabkan delusi dan halusinasi), afek
(ambivalen,

konstriksi,

dan

reaksi

inapropiatdan

hilangnya

empati dengan orla), perilaku (menyendiri, regresif, aneh)


Dibedakan menjadi :
SGD 1

Page 16

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


-

Tipe Paranoid F20.0


Ditandai dengan delusi grandiose atau presekurtorik kadang
halusinasi berlebihan, pasien sering bersikap kasar da agresif
Tipe Hebefrenik atau disorganisasi F20.1
Berfikis disorganisasi, senyum aneh, afek dangkal dan
inapropiat, perilaku dungu, regresif dan mannerism. Keluhan

somatic sering, kadang delusi dan halusinasi tak terorganisasi


Tipe Katatonik F20.2
Subtype eksistasi ditambah aktivitas kotorikm menyendiri,
inhibisi umum, stupor, mutivisme, negatifisme, fleksibilitas

liln
Tipe tak terinci F20.3
Delusi, halusinasi menjol
Tipe Residual F20.5
Dengan tanda skizofren, sesudah suatu episode skizofren, tak
lagi menonjol.

b. Gangguan Skizotipal
Tdpt 3/4 gejala khas berikut sedikitnya 2 thn:
1. afek tdk wajar/ menyempit
2. perilaku/penampilan aneh, eksentrik, ganjil
3. hub sosial buruk, menarik diri
4. pikiran aneh, megik tdk sesuai dg norma budaya
5. penuh curiga, pikiran paranoid
6. pikiran obsesif ttg: keyakinan btk tubuh abnormal, seksual
atau agresif.
7. ggn persepsi: halusinasi, ilusi, persepsi tubuh tdk lazim
8.

(somatosensori), depersonalisasi, derealisasi.


pikiran samar, berputar, penuh kiasan,ruwet, aneh atau

9.

stereotipi pembicaraan tanpa inkoherensi.


kdg tdpt episode psikotik sementara dg halusinasi, ilusi,
gagasan mirip waham dll

c. Gangguan Waham
Waham sbg satu-satunya gejala klinis khas, menyolok, bersifat
pribadi, bukan budaya sedikitnya 3 bln.
Gangguan psikotik dengan delusi persisten
Paranoia gejala waham persekutorik
d. Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afek)
SGD 1

Page 17

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


Depresi atau kegembiraan ekstrim yang mendominasi kehidupan
mental pasien dan bertanggung jwab terhadap penurunan fungsi
BIPOLAR I ekspresi mania penuh
BIPOLAR II hipomania dengan depresi
Bipolar ditandai dengan perubahan mood hebat antara depresi
dan kegembiraan dan rekuren
Siklotimia gangguan bipolar tipe kurang berat
Depresi berat
PSIKOTIK ORGANIK
gangguan mental dimana tdpt suatu patologi yg dpt diidentifikasi
Ditandai dengan perubahan fungsi jaringan otak, menimbulkan
gangguan belajar, orientasi, penilaian, dan fungsi intelektual
a. Gangguan mental organic
Meningitis dll
b. Gangguan Perilaku akibat zat psikoaktif
Alcohol, NAPZA
8. Ciri2 org yg mengalami gangguan jiwa?
Ada banyak gejala-gejala skizofrenia. Gejala-gejala ini dirumuskan
oleh berbagai sumber. Menurut Diagnostic and Statistical Manual Of
Mental Disorder IV-TR, gejala khas skizofrenia berupa adanya:
1. Waham atau Delusi (keyakinan yang salah dan tidak bisa dikoreksi
yang tidak sesuai dengan kenyataan, maupun kepercayaan, agama,
dan budaya pasien atau masyarakat umum)
2. Halusinasi (persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari
luar)
3. Pembicaraan kacau
4. Perilaku kacau
5. Gejala

negatif

(misalnya

berkurangnya

kemampuan

mengekspresikan emosi, kehilangan minat, penarikan diri dari


pergaulan sosial)
Selain itu untuk menegakkan diagnosa skizofrenia menurut DSM IVTR (2008) adalah munculnya disfungsi sosial, durasi gejala khas paling
sedikit 6 bulan, tidak termasuk gangguan perasaan (mood), tidak
SGD 1

Page 18

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


termasuk gangguan karena zat atau karena kondisi medis, dan bila ada
riwayat Autistic Disorder atau gangguan perkembangan pervasive
lainnya, diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan bila ditemui halusinasi
dan delusi yang menonjol selama paling tidak 1 bulan.
Menurut Bleuler, ada 2 kelompok gejala-gejala skizofrenia, yaitu:
1. Gejala Primer, yang meliputi:
a. Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah dan isi pikiran). Pada
skizofrenia inti, gangguan memang terdapat pada proses pikiran.
b. Gangguan afek dan emosi. Gangguan ini pada skizofren berupa:
1) Parathimi, yaitu apa yang seharusnya menimbulkan rasa
senang dan gembira, pada penderita malah menimbulkan
rasa sedih atau marah.
2) Paramimi, yaitu penderita merasa senang tetapi menangis
c. Gangguan kemauan, yaitu gangguan di mana banyak penderita
skizofrenia memiliki kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat
mengambil keputusan dan tidak dapat bertindak dalam sebuah
situasi menekan. Gangguan kemauan yang timbul antara lain:
1) Negativisme, yaitu sikap atau perbuatan yang negatif atau
berlawanan terhadap suatu permintaan.
2) Ambivalensi, yaitu sikap yang menghendaki seseuatu yang
berlawanan pada waktu yang bersamaan.
3) Otomatisme,

yaitu

penderita

merasa

kemauannya

dipengaruhi oleh orang lain atau oleh tenaga dari luar,


sehingga dia melakukannya secara otomatis.
d. Gejala psikomotor, disebut juga dengan gejala-gejala katatonik.
Sebetulnya gejala katatonik sering mencerminkan gangguan
kemauan. Bila gangguan hanya ringan saja, maka dapat dilihat
gerakan-gerakan yang kurang luwes atau agak kaku.
2. Gejala Sekunder, yang meliputi:
a. Waham.
Pada penderita skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali
SGD 1

Page 19

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


dan sangat bizar. Tetapi penderita tidak menginsafi hal ini dan
untuk dia wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah
oleh siapapun.
b. Halusinasi.
Pada penderita skizfrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan
kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak
dijumpai pada keadaan lain.
Menurut Bleuler, seseorang didioagnosa menderita skizofrenia
apabila terdapat gangguan-gangguan primer dan disharmoni pada
unsur-unsur kepribadian yang diperkuat dengan adanya gejala-gejala
sekunder.
Menurut Kut Schneider, terdapat 11 gejala skizofrenia yang terdiri
dari 2 kelompok, yaitu sebagai berikut:
1. Kelompok A, halusinasi pendengaran, yaitu:
a. Pikirannya dapat didengar sendiri
b. Suara-suara yang sedang bertengkar
c. Suara-suara yang mengomentari perilaku penderita
2. Kelompok B, gangguan batas ego, yang meliputi:
a. Tubuh dan gerakan penderita dipengaruhi oleh kekuatan dari luar
b. Pikirannya diambil keluar
c. Pikirannya dipengaruhi oleh orang lain
d. Pikirannya diketahui oleh orang lain
e. Perasaannya dibuat oleh orang lain
f. Kemauannya dipengaruhi orang lain
g. Dorongannya dikuasai orang lain
h. Persepsi yang dipengaruhi oleh waham
Menurut Kut Schneider, seseorang bisa didiagnosa penderita
skizofrenia bila ada gejala dari kelompok A dan Kelompok B, dengan
syarat kesadaran penderita tidak menurun.
Gejala lain yang diungkap adalah:
1.
SGD 1

Gejala-Gejala Positif, yaitu penambahan fungsi dari batas normal,


Page 20

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


meliputi:
a.

Delusi.
Delusi adalah keyakinan yang oleh kebanyakan orang dianggap
misinterpretasi terhadap realitas. Delusi memiliki bermacammacam bentuk, yaitu delusion of grandeur (waham kebesaran)
yaitu keyakinan irasional mengenai nilai dirinya, delusion of
persecution yaitu yakin dirinya atau orang lain yang dekat
dengannya diperlakukan dengan buruk oleh orang lain dengan
cara tertentu, delusion of erotomanic yaitu keyakinan irasional
bahwa penderita dicintai oleh seseorang yang lebih tinggi
statusnya, delusion of jealous yaitu yakin pasangan seksualnya
tidak setia, dan delusion of somatic yaitu merasa menderita
cacat fisik atau kondisi medis tertentu.

b.

Halusinasi
Gejala-gejala psikotik dari gangguan perseptual dimana berbagai
hal dilihat didengar, atau diindera meskipun hal-hal itu tidak real
(benar-benar ada).

2.

Gejala-Gejala Negatif, yaitu pengurangan fungsi dari batas normal,

meliputi:
a.

Avolisi
Yaitu

apati

atau

ketidakmampuan

untuk

memulai

atau

mempertahankan kegiatan-kegiatan penting.


b.

Alogia
Yaitu pengurangan dalam jumlah atau isi pembicaraan.
c. Anhedonia
Yaitu ketidakmampuan untuk mengalami kesenangan yang
terkaitu dengan beberapa gangguan suasana perasaan dan
gangguan skizofrenik.
d. Afek Datar
Yaitu tingkah laku yang tampak tanpa emosi.

3.
SGD 1

Gejala Disorganisasi, yaitu ketidakharmonisan fungsi, meliputi:


Page 21

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


a.

Disorganisasi dalam pembicaraan (Disorganized Speech)


Gaya bicara yang sering terlihat pada penderita skizofrenia
termasuk inkoherensi dan ketiadaan pola logika yang wajar.

b.

Afek yang tidak pas (inappropriate Affect) dan perilaku yang

disorganisasi
Afek yang tidak pas merupakan ekspresi emosi yang tidak sesuai
dengan aslinya. Perilaku yang disorganisasi adalah perilaku yang
tidak lazim
9. Penyebab gangguan jiwa?
Ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan penyebab
skizofrenia. Adapun teori-teori tersebut seperti tersebut di bawah ini:
1. Teori Neurotransmitter
Di

dalam

otak

manusia

terdapat

berbagai

macam

neurotransmitter, yaitu substansi atau zat kimia yang bertugas


menghantarkan

impuls-impuls

saraf.

Ada

beberapa

neurotransmitter yang diduga berpengaruh terhadap timbulnya


skizofrenia.

Dua

di

antaranya

yang

paling

jelas

adalah

neurotransmitter dopamine dan serotonin. Berdasarkan penelitian,


pada pasien-pasien dengan skizofrenia ditemukan peningkatan
kadar dopamine dan serotonin di otak secara relatif.
Menurut Mesholam Gately et.al dalam jurnal Neurocognition in
First-Episode

Schizophrenia:

Meta

Analytic

Review

(2009),

gangguan neurokognisi adalah fitur utama pada episode pertama


penderita skizofrenia. Gangguan tersebut membuat sistem kognisi
tidak dapat bekerja seperti kondisi normal.
2. Teori Genetik
Diduga faktor genetik juga berpengaruh terhadap timbulnya
skizofrenia. Walaupun demikian, terbukti dari penelitian bahwa
skizofrenia tidak diturunkan secara hukum Mendeell (jika orang tua

SGD 1

Page 22

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


skizofrenia, belum tentu anaknya skizofrenia juga). Dari penelitian
didapatkan prevalensi sebagai berikut:
Populasi umum

1%

Saudara Kandung

8%-10%

Anak dengan salah satu orang tua skizofrenia


Kembar 2 telur (dizigot)

12%-15%

12%-15%

Anak dengan kedua orang tua skizofrenia

35%-40%

Kembar monozigot

47%-50%

Sampai saat ini, belum ada hal yang pasti mengenai penyebab
skizopfrenia. Namun demikian peneliti-peneliti meyakini bahwa
interaksi antara genetika dan lingkungan yang menyebabkan
skizofrenia. Menurut Imransyah, bahwa hanya 10% dari genetika
yang dapat menyebabkan skizofrenia, sedangkan Hawari (Arif,
2006) mengakui bahwa skizofrenia dapat dipicu dari faktor genetik.
Namun jika lingkungan sosial mendukung seseorang menjadi
pribadi yang terbuka maka sebenarnya faktor genetika ini bisa
diabaikan. Namun jika kondisi lingkungan mendukung seseorang
bersikap asosial maka penyakit skizofrenia menemukan lahan
suburnya.
Penelitian lain dari Clarke et al yang berjudul Evidence for an
Interaction Between Familial Liability and Prenatal Exposure to
Infection in the Causation of Schizophrenia (2009), menyebutkan
bahwa Komplikasi kelahiran dan keluarga yang memiliki resiko
psikotik terbukti menyebabkan skizofrenia dengan persentase resiko
38% - 46%.
3. Predisposisi Genetika
Meskipun genetika merupakan faktor resiko yang signifikan,
belum

ada

penanda

genetika

tunggal

yang

diidentifikasi.

Kemungkinan melibatkan berbagai gen. Penelitian telah berfokus


pada kromosom 6, 13, 18, dan 22. Resiko terjangkit skizofrenia bila
SGD 1

Page 23

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


gangguan ini ada dalam keluarga, yaitu satu orang tua yang
terkena 12%-15%, kedua orang tua terkena penyakit ini resiko 35%40%,

saudara

sekandung

terjangkit

resiko

8%-10%,

kembar

dizigotik yang terkena resiko 12%-15%, bila kembar monozigotik


yang terkena resiko 47%- 50%.
Para

ilmuwan

sudah

lama

mengetahui

bahwa

skizofrenia

diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat


yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua,
kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat
yang mempunyai hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi,
kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan
populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang
menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan
kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua
12 % (Makalah pembahas).
Lenzenweger, Mark et al. dalam jurnal Resolving The Latent
Structure of Schizophrenia Endophenotypes Using ExpectationMaximization-Based Finite Mixture Modelling (2007) melakukan
penelitian mengenai struktur laten fenotip pada beberapa subjek
yang diindikasikan skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
subjek tersebut memiliki kecenderungan kepribadian skizotipal yang
sangat berpotensi untuk mengarah pada gangguan psikotik.
4. Abnormalitas Perkembangan Syaraf
Penelitian menunjukkan bahwa malformasi janin minor yang
terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari
skizofrenia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan
saraf dan diidentifikasi sebagai resiko yang terus bertambah,
meliputi individu yang ibunya terserang influenza pada trimester
kedua, individu yang mengalami trauma atau cedera pada waktu
dilahirkan, dan penganiayaan atau trauma di masa bayi atau masa
anak-anak.
SGD 1

Page 24

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


5. Abnormalitas Struktur dan aktivitas Otak
Pada

beberapa

subkelompok

penderita

skizofrenia,

teknik

pencitraan otak (CT, MRI, dan PET) telah menujukkan adanya


abnormalitas

pada

struktur

otak

yang

meliputi

pembesaran

ventrikel, penurunan aliran darah ventrikel, terutama di korteks


prefrontal penurunan aktivitas metaolik di bagian-bagian otak
tertentu atrofi serebri. Ahli neurologis juga menemukan pemicu dari
munculnya gejala skizofrenia. Pada para penderita skizofrenia
diketahui bahwa sel-sel dalam otak yang berfungsi sebagai penukar
informasi mengenai lingkungan dan bentuk impresi mental jauh
lebih tidak aktif dibanding orang normal.
Temuan ini bisa menjabarkan dan membantu pengobatan
munculnya halunisasi dan gangguan pemikiran pasien skizofrenia,
demikian menurut tim dari Harvard Medical School. Pada saat yang
sama para ilmuwan memonitor gelombang otak partisipan dengan
menggunakan alat electroencephalogram (EEG) yang bisa memberi
informasi aktivitas elektrik otak. Kedua kelompok memberi respon
terhadap gambar-gambar tersebut selama satu detik saja. Namun
mereka

yang

menderita

skizofrenia

membuat

lebih

banyak

kesalahan dan membutuhkan waktu lebih banya 200 milidetik


dibanding yang sehat.
Ketika para ilmuwan mengamati pola gelombang otak, mereka
menemukan

bahwa

pasien

skizofrenia

memperlihatkan

tidak

adanya aktivitas pasti dalam gelombang otakknya ketika menekan


tombol-tombol jawaban. Sementara partisipan yang sehat memiliki
aktivitas gelombang gama yang bisa menjadi identifikasi bahwa
otak

mereka

memproses

informasi

visual

sebagai

petunjuk

responnya. Ada perbedaan yang sangat dramatis. Para penderita


skizofrenia tidak memperlihatkan respons gama sama sekali,
komentar Dr. Robert McCarley, pemimpin studi. Jika komunikasi
yang paling efisien terjadi pada gelombang 40 hertz, maka
SGD 1

Page 25

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


penderita skizofrenia menggunakan frekuensi yang jauh lebih
rendah. Ini sama saja artinya dengan mereka tidak mempunyai
proses komunikasi yang efektif pada sel penukar informasi dan
bagian otaknya.
6. Ketidakseimbangan Neurokimia (neurotransmitter)
Skizofrenia memiliki basis biologis, seperti halnya penyakit
kanker dan diabetes. Penyakit ini muncul karena ketidakseimbangan
yang terjadi pada dopamine, yakni salah satu sel kimia dalam otak
(neurotransmitter). Otak sendiri terbentuk dari sel saraf yang
disebut neuron dan kimia yang disebut neurotransmitter.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan serotonin, norepinefrin,
glutamate, dan GABA juga berperan dalam menimbulkan gejalagejala skizofrenia. Majorie Wallace, pimpinan eksekutif yayasan
Skizofrenia SANE, London, berkomentar bahwa, di dalam otak
terdapat miliaran sambungan sel. Setiap sambungan sel menjadi
tempat

untuk

meneruskan

maupun

menerima

pesan

dari

sambungan sel lainnya. Sambungan sel tersebut melepaskan zat


kimia yang disebut neurotransmitter yang menbawa pesan dari
ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain.
Di dalam otak penderita skizofrenia, terdapat kesalahan atau
kerusakan pada sistem komunikasi tersebut. Biasanya mereka
mengalami halusinasi.
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak
tidak mampu menginterpretasikan dan merespons pesan atau
rangsangan yang datang. Penderita skizofrenia mungkin mendengar
suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau
mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory
hallucinations,

gejala

yang

biasanya

timbul,

yaitu

penderita

hati,

memberi

merasakan ada suara dari dalam dirinya.


Kadang

suara

itu

dirasakan

menyejukkan

kedamaian, tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu


SGD 1

Page 26

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri. Gejala lain adalah
menyesatkan pikiran atau delusi, yakni kepercayaan yang kuat
dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan
dengan kenyataan. Misalnya, pada penderita skizofrenia, lampu lalu
lintas di jalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap
sebagai suatu isyarat dari luar angkasa.
7. Proses Psikososial dan Lingkungan
Proses psikososial dan lingkungan juga sangat berpengaruh untuk
menyebabkan skizofrenia. Setiap orang pada umumnya memiliki
kecenderungan untuk skizofrenia 1%. Pada individu yang memiliki
hubungan dekat dengan seseorang yang terjangkit skizofrenia,
kecenderungannya

sekitar

10%.

Jika

seseorang

hidup

dalam

lingkungan yang mendukung asosial, kemungkinan seseorang untuk


mengidap skizofrenia tinggi. Namun bila sedeorang hidup dalam
lingkungan yang terbuka, walaupun secara genetik dia memiliki
kecenderungan skizofrenia, hal itu bisa diminimalisisr bahkan
dihilangkan.
10.

Cara dx gangguan jiwa?

Aksis I
Gangguan Klinis (F00-09, F10-29, F20-29, F30-39, F40-48, F50-59, F62-68,
F80-89, F90-98, F99)
Kondisi Lain yang Menjadi Focus Perhatian Klinis
(tidak ada diagnosis Z03.2, diagnosis tertunda R69)
Aksis II
Gangguan Kepribadian (F60-61, gambaran kepribadian maladaptive,
mekanisme defensi maladaptif)
Retardasi Mental (F70-79)
(tidak ada diagnosis Z03.2, diagnosis tertunda R46.8)
SGD 1

Page 27

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


Aksis III
Kondisi Medik Umum
Aksis IV
Masalah Psikososial dan Lingkungan (keluarga, lingkungan social, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan, hukum,
psikososial)
Aksis V
Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF
Scale)
100-91 gejala tidak ada, fungsi max, tidak ada masalah yang tidak
tertanggulangi
90-81
biasa

gejala min, fungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalh harian

80-71

gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social

70-61
beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam
fungsi, secara umum baik
60-51

gejala dan disabilitas sedang

50-41

gejala dan disabilitas berat

40-31
beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi
30-21
disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu
berfungsi dalam hampir semua bidang
20-11
bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam
komunikasi dan mengurus diri
10-01
0
SGD 1

persisten dan lebih serius


informasi tidak adekuat
Page 28

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

Aksis I:

Gangguan klinis: pola perilaku abnormal (gangguan mental) yang


meenyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu.

Kondisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian: masalah lain yang
menjadi focus diagnosis atau pandangan tapi bukan gangguan mental,
seperti problem akademik, pekerjaan atau social, factor psikologi yang
mempengaruhi kondisi medis.

Aksis II:

Gangguan kepribadian: mencakup poa perilaku maladaptive yang


sangat kaku dan betahan, biasanya merusak hubunganantar pribadi
dan adaptasi social.

Retardasi Mental

Seseorang bias memenuhi aksis I atau II, atau memenuhi kedua aksis.

Aksis III:

Kondisi medis umum dan kondisi medis yang mugkin penting bagi
pemahaman atau penyembuhan atau penanganan gangguan mental
individu.

Meliputi kondisi klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan


penyebab gangguan yang dialami individu.

Aksis IV:

Problem psikososial dan lingkungan. Mencakup peristiwa hidup yang


negative maupun positif; kondisi lingkungan dan social yang tidak
menguntungkan, dll

Aksis V:

SGD 1

Assessment fungsi secara global. Mencakup assessment menyeluruh


tentangfungsi psikologis social dan pekerjaan klien.

Page 29

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]

Digunakan juga untuk mengindikasikan taraf keberfungsian tertinggi


yang mungkin dicapai selama beberapa bulan pada tahun
sebeelumnya.

Tujuan diagnosis multiaksial

Informasi komprehensif sehingga membantu perencanaan terapi dan


meramalkan outcome

Format mudah dan sistematik sehingga membantu menata dan


mengkomunikasikan informasi klinis, menangkap kompleksitas situasi
klinis, dan menggambarkan heterogenitas individu dengan diagnosis
yang sama

Penggunaan model bio-psiko-sosial

Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.


Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993
11.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Macam2 gangguan dlm proses berfikir?


Halusinasi (gangguan di persepsi)
Cara berfikir yg aneh
Pembicaraan yg kacau
Waham (gangguan di pikiran)
Merasa tidak sakit (gangguan afektif)
Egosentris

12.
13.
14.

Macam2 suasana perasaan dan tingkah laku penderita gangguan jiwa?


Macam pf dan px.lab?
Cara penilaian GAF dan interpretasi hasilnya?
Aksis V digunakan untuk melaporkan penilaian ahli mengenai taraf
berfungsinya seseorang secara menyeluruh. Informasi tentang GAF
(Global Assessment of Functioning), berguna untuk merencanakan
penanganan, mengukur dampak pengobatan serta meramalkan hasil
terapi dan taraf pemulihan.
Skor

SGD 1

Page 30

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


100-91= gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada
masalah yang tak tertanggulangi.
90-81= gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak
lebih dari masalah harian yang biasa
80-71= gejala sementara & dapat diatasi,disabilitas ringan
dalam social,pekerjaan, sekolahan dll.
70-61= beberapa gejala ringan & menetap,disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik
60-51= gejala sedang( moderate),disabilitas sedang
50-41= gejala berat (serious), disabilitas berat
40-31= beberapa disabilitas dalam hubungan dengan
realita dan komunikasi,disabilitas berat dalam beberapa
fungsi
30-21= disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai,
tidak mampu berfungsi hamper semua bidang.
20-11= bahaya mencenderai diri/orang lain,disabilitas
sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri
10-01= idem, persisten dan lebih serius
0=informasi tidak adekuat
NILAI GAF

GEJALA

GANGGUAN
FUNGSI

MASALAH

100-91

90-81

+ (minimal)

80-71

++ (dpt diatasi)

70-61

+++ (ringan menetap)

60-51

++++ (sedang)

++ (sedang)

50-41

+++++ (berat)

+++ (berat)

++ (berat)

+++ (berat)

++ (berat)

Komunikasi baik
40-31

+++++ (berat)
Gangguan

SGD 1

Komunikasi

Page 31

[LBM 1 TINGKAH LAKU ANEH]


ringan

30-21

+++++ (berat)
Gangguan
berat

20-11

10-1

SGD 1

+++ (berat)

Mencederai
lain

+++ (berat)

persisten

Komunikasi

+++++ (berat)
Gangguan
berat

++ (berat)

Komunikasi

+++++ (berat)
Gangguan
berat

+++ (berat)

Komunikasi

Page 32

diri/or