Anda di halaman 1dari 21

ORGANISASI MULTINASIONAL

Ringkasan Mata Kuliah


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Sistem Pengendalian Manajemen

Oleh:
RANGGA RATRIASA
RESTU PABELTA

(F1314115)
(F1314116)

RIZKY FAJAR FIRDAUS

(F1314117)

SAHBUDDIN ABDI SITOMPUL

(F1314118)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
BAB 15
ORGANISASI MULTINASIONAL

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
Terdapat tiga masalah khusus dalam organisasi global: perbedaan kebudayaan, harga
transfer, dan perbedaan nilai tukar mata uang. Masalah umum yang sama dapat ditemukan
dari setiap organisasi multinasional pada induk perusahaan dari Negara mana pun beserta
anak perusahaannya di luar negeri.
1.

Perbedaan Budaya

Salah satu variabel konteksual yang penting yang memengaruhi pengendalian manajemen
di dalam sebuah perusahaan multinasional adalah perbedaan budaya antar Negara. Menurut
defiinisinya, sebuah organisasi multinasional akan beroperasi di banyak Negara dan harus
siap menghadapi perbedaan budaya seiring dengan koodinasi dan pengendalian yang
dilakukan oleh kantor pusat terhadap anak-anak perusahaannya. Baik dalam konteks sebuah
organisasi atau suatu bangsa, kata budaya akan merujuk kepada nilai-nilai, asumsi dan
norma perilaku yang diakui bersama. Ketika sebuah organisasi merentangkan operasinya
melintasi berbagai Negara, perbedaan budaya yang sangat besar yang berkaitan dengan
karakter nasional dan regional yang ada, mempunyai hubungan yang penting dengan
pengendalian manajemen. Salah satu cara untuk memahami budaya diusulkan oleh Hofstede.
Hofstede membuat sebuah analisis yang sistematis atas perbedaan budaya berdasarkan
sebuah kuesioner yang dijawab oleh kurang lebih 80.000 karyawan IBM yang berlokasi di 64
negara. Menurut Hofstede, budaya dapat berbeda pada empat dimensi:
Dimensi pertama: Jangkauan kekuasaan
Merujuk kepada sejauh mana kekuasaan didistribusikan dan dipusatkan secara tidak
seimbang. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi termasuk Filipina, Venezuela,
dan Meksiko. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah termasuk Israel, Denmark,
dan Austria.
Dimensi kedua: individualisme/ koltivisme
Merujuk kepada sejauh mana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri sebagai seorang
individu atau sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Budaya individualistik yang
tinggi termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Budaya kolektiitas yang tinggi
termasuk Saudi Arabia, Venezuela, dan Peru.
Dimensi ketiga: Menghindari ketidakpastian
Merujuk sampai sejauh mana seseorang akan merasa terancam oleh situasi yang tidak
menentu budaya penghindaran ketidakpastian tertinggi termasuk Jepang, Portugal, dan
Yunani. Budaya penghindaran ketidakpastian terendah termasuk Singapura, Hongkong, dan
Denmark.
Dimensi keempat: Maskulinitas/feminitas
Merujuk kepada sampai sejauh apakah pengaruh yang dimiliki oleh salah satu dari kedua
nilai dominant tersebut apakah pengaruh yang dimiliki oleh salah satu dari kedua nilai
dominant tersebut berupa

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
2.

Harga Transfer

Harga transfer untuk barang, jasa, dan teknologu merupakan salah satu dari perbedaan
besar yang terjadi antara pengendalian manajemen operasi domestic dan luar negeri. Namun
dalam operasi luar negeri, dibutuhkan beberapa pertimbangan penting lainnya untuk dapat
sampai kepada suatu harga transfer. Pertibangan-pertimbangan tersebut termasuk perpajakan,
peraturan pemerintah, tarif pengendalian devisa, akumulasi dana, dan joint venture.

Perpajakan
Tingkat pajak penghasilan efektif dapat memiliki perbedaan yang sangat jauh di masingmasing Negara-negara asing, sistem harga transfer yang memungkinkan pengalihan
keuntungan ke Negara-negara dengan tingkat pajak yang rendah dapat mengurangu jumlah
pajak penghasilan perusahaan yang digabungkan dari seluruh dunia.

Peraturan Pemerintah
Jika tidak diatur oleh pemerintah, perusahaan akan menetapkan harga transfer untuk
meminimalkan laba kena pajak di Negara-negara dengan tingkat pajak penghasilan yang
tinggi. Namun demikian, otoritas pajak pemerintah menyadari adanya kemungkinan ini dan
mengeluarkan peraturan yang menentukan bagaimana harga transfer dapat dihitung.

Tarif
Tarif sering kali dipungut berdasarkan persentase tertentu dari nilai impor suatu produk.
Semakin rendah harganya senakin rendah pula tarif yang akan dikenakan. Timbulnya tarif
biasanya memiliki hubungan terbalik dengan timbulnya pajak pendapatan di dalam harga
transfer. Meskipun tariff untuk barang-barang yang dikirimkan ke suatu Negara tertentu akan
lebih rendah jika harga transfernya juga rendah, keuntungan yang dicatat di Negara itu dan
karenanya pajak penghasilan lokal atas laba akan ikut tinggi. Jadi, efek bersih dari faktorfaktor ini harus ikut diperhitungkan dalam menentukan harga transfer yang tepat. Karena
pajak penghasilan umumnya memiiki jumlahnya yang lebih besar daripada tarif, harga
transfer internasional biasanya lebih banyak didasarkan pada pajak penghasilan daripada
tarif.

Pengendalian Devisa
Beberapa Negara membatasi jumlah devisa yang tersedia untuk mengimpor beberapa
komoditas tertentu. Dalam kondisi ini, harga transfer yang lebih rendah memungkinkan anak
perusahaan untuk memasukkan komoditas tersebut dalam jumlah yang lebih besar.

Akumulasi Dana
Perusahaan mungkin ingin mengakumulasikan dananya di satu Negara tertenttu daripada
di Negara lain. Harga transfer adalah salah satu cara untuk mengalihkan dana tersebut ke
dalam atau ke luar Negara tertentu.

Joint Venture
Joint venture memberikan komplikasi tambahan dalam harga transfer. Andai kata sebuah
perusahaan AS mempunyai operasi joint venture di Jepang dengan perusahaan local Jepang.
Jika induk perusahaan AS membebankan harga lebih tinggi bagi komponen yang dikirimkan
3

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
ke Jepang, mitra joint venture Jepang kemungkinan besar akan menolak harga tersebut karena
harga itu akan memperkecil laba operasinya dan mengakibatkan bagian keuntungan dari
mitra joint venture Jepang tersebut juga semakin kecil. Ford Motor Company, dengan
sebagian maksudnya untuk menghindari perselisihan tentang harga transfer, membeli
sejumlah besar kepentingan minoritas Inggris di Ford Lid., pada tahun 1961. Untuk alas an
yang sama, General Motors tidak pernah melakukan joint venture sampai perjanjian yang
dilakukannya dengan Toyota di akhir tahun 1980-an.
Penggunaan Metode Harga Transfer
Tampilan 1 memperlihatkan metode harga transfer yang digunakan oleh sebuah contoh
perusahaan multinasional yang memiliki kantor di Kanda, Jepang, Inggris, dan Amerika
Serikat untuk pengiriman antar perbatasan mereka.

Pertimbangan Hukum
Hampir semua Negara melakukan beberapa pembatasan pada fleksibilitas perusahaan
dalam menetapkan harga transfer untuk transaksi dengan anak-anak perusahaan di luar
negeri. Alasannya adalah untuk mencegah perusahaan multinasional melakukan
penghindaran pajak penghasilan di Negara tuan rumah. Perhatikanlah contoh-contoh berikut
ini:

Untuk meminimalkan pajak, perusahaan-perusahaan multinasional AS


mengalihan asset-asetnya ke Negara dengan pajak penghasilan yang rendah Misalnya,
Cayman Islanda yang memiliki 50 bank.

Perusahaan multinasional AS memindahkan kantor perusahaan di atas kertas


mereka ke Bermuda, yang tidak mengenakan pajak penghasilan perusahaan. Sebagai
contoh, Ingersoll-Rand, Accenture, dan Tyco International menempatkan kantor pusat
mereka di Bermuda sedangkan seluruh bisnis mereka dilakukan di Negara-negara lain.

Perusahaan yang memindahkan property intelektual (paten misalnya) ke


Irlandia, sebuah Negara dengan tingkat pajak yang rendah. Kantor pusat di AS akan
membayar jumlah yang cukup besar untuk membeli hak penggunaan propert intlektual
tersebut, sehingga akan mengalihkan laba kena pajak dan sebuah Negara dengan tingkat
pajak yang tinggi ke Negara dengan tingkat pajak yang rendah.

Tampilan 1
Metode Harga Transfer yang Digunakan oleh Perusahaan Multinasional

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
Metode Penetapan Harga

Kanada

Jepang

Inggris

Amerika Serikat

Metode Berbasis Biaya:


Biaya variable aktual/standar
Biaya penuh aktual
Biaya penuh standar
Biaya variable ditambah markup
Biaya penuh ditambah markup
Jumlah berbasis biaya

5%
26
2
33%

3%
38
41%

5%
28
5
38%

1%
4
7
1
28
41%

Metode Berbasis Pasar:


Harga pasar
Harga pasar dikurangi biaya penjualan
Lain-lain
Jumlah bebasis pasar

37%

37%

31%

26
12
8
46%

26%
4%
100%

22%
100%

20%
11
100%

13%
100%

Harga Negoisasi
Lain-lain

Section 482 memberikan aturan-aturan untuk menentukan harga transfer pada penjualan
antar anggota dari kelompok yang sepengendali. Metode-metode harga antar perusahaan
sepengendali yang dapat diterima, disusun menurut prioritasnya dari yang paling penting
adalah sebagai berikut :
1.
Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali
Harga yang wajar dapat dipastikan dari penjualan barang atau jasa yang dapat
diperbandingkan antara perusahaan multinasional dan pelanggan yang tidak memiliki
hubungan istimewa, atau antara dua perusahaan yang masing-masing tidak saling memiliki
hubungan istimewa.
Hal hal yang dapat memengaruhi harga adalah antara lain, kualitas produk, syarat
penjualan, tingkat pasar, dan wilayah geografis di mana jenis barang tersebut dijual, tetapi
untuk diskon jumlah, penyisihan promosi dari kerugian khusus yang disebabkan oleh
perbedaan nilai tukar mata uang dan selisih kredit tidak diperhitungkan.
Harga yang lebih rendah dan bahkan penjualan di bawah harga penuh, diizinkan dalam
hal-hal tertentu seperti selama penetrasi sebuah pasar baru atau dalam mempertahankan pasar
yang ada di suatu wilayah tertentu.
2.

Metode harga jual kembali.

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
Bila tidak ada penjualan yang dapat dibandinkan, metode berikutnya yang diperbolehkan
adalah metode harga jual kembali. Dalam metode ini, wajib pajak bekerja mundur dari
hargapenjualan final pada saat kekayaan yang dibeli dari perusahaan afiliasi dijual kembali
dalam sebuah penjualan tidak sepengendali. Harga jual kembali ini dikurangi dengan
persentase keuntungan (markup) yang semestinya berdasarkan penjualan tidak sepengendali
oleh afiliasi yang sama atau oleh penjual lain yang menjual barang yang sama di pasar yang
dapat diperbandingkan. Persentase markup dari pesaing dan rata-rata industri juga dapat
membantu dalam kaitannya dengan hal ini.
Peraturan meminta metode ini digunakan jika (1) jika tidak tersedia penjualan tidak
sepengendali yang sebanding, (2) penjualan kembali dilakukan dalam jangka waktu yang
wajar sebelum atau sesudah pembelian antar perusahaan sepengendali, (3) penjualan kembali
tidak menambahkan nilai yang berarti kepada barang yang bersangkutan dengan
mengubahnya secara fisik, selain dari kemasan, label, dan seterusnya, atau dengan
penggunaan atas pemanfaatan kekayaan yang tak berwujud (intangible property).
3.
Metode harga-plus.
Menurut metode ini, yang menjadi prioritas terendah di antara ketiga metode yang
diuraikan, titik awal untuk menentukan harga yang wajar adalah biaya untuk memproduksi
produk, dihitung menurut praktik akuntansi yang benar. Ke dalam biaya ini ditambahkan laba
kotor yang wajar yang dinyatakan dalam presentase tertentu dari biaya dan didasarkan pada
penjualan tidak sepengendali yang serupa yang dilakukan oleh pihak penjual, atau penjual
lain, atau tingkat yang berlaku untuk industri tersebut.
Gambaran skematis ketiga metode ini adalah sebagai berikut:
1.
Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali:
Harga transfer = Harga yang digunakan dalam penjualan tidak sepengendali yang
sebanding penyesuaian
Dalam penjualan sepengendali, transaksi yang terjadi adalah antara dua anggota kelompok
sepengendali. Dalam penjualan tidak sepengendali, salah satu pihak bukan anggota kelompok
sepengendali.
2.
Metode harga jual kembali:
Harga transfer = Harga jual kembali yang berlaku Markup yang memadai Penyesuaian
Harga jual kembali yang berlaku adalah harga di mana aktiva yang dibeli melalui penjualan
sepengendali, dijual kembali oleh pembeli dalam penjualan yang tidak sepengendali.
Markup yang memadai = Harga jual kembali yang berlaku * Presentase markup yang wajar
Presentase markup yang wajar = Persentase dari laba kotor (diekspresikan dalam persentase
dari penjualan) yang didapatkan oleh pembeli (atau penjual kembali) atau piha lain di dalam
sebuah pembelian dan penjualan kembali yang tidak sepengendali yang serupa dengan
penjualan kembali sepengendali.

3.

Metode biaya-plus:
6

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
Harga transfer = Biaya + Markup memadai Penyesuaian
Markup yang memadai = Biaya * Persentase laba kotor yang memadai
Persen laba kotor yang memadai = Persentase laba kotor (diekspresikan dalam persentase dari
biaya) yang diperoleh oleh penjual kembali atau pihak lain pada enjualan tidak sepengendali
yang sama dengan penjualan sepengendali.
Implikasi dari Section 482
Dari sudut pandang pengendalian manajemen, terdapat dua implikasi penting dari section
482, yang masing-masing dibahas di bawah ini:
1.
Meskipun terdapat pembatasan hukum terhadap fleksibilitas perusahaan dalam
menentukan harga transfer, namun masih terdapat cukup ruang gerak di dalam pembatasan
ini.
2.

Dalam situasi tertentu, pembatasan hokum dapat mendikte jenis-jenis harga transfer
yang harus diterapkan.

Ruang Gerak dalam Harga Transfer


Ada dua kebijakan ekstrem dalam menangani masalah ini. Beberapa perusahaan
mengizinkan anak perusahaan berurusan satu sama lain sesuai dengan prinsip ekonomi yang
wajar dan membiarkan dampak akibat pajak serta tariff apa adanya. Dengan kebijakan ini, tak
ada lagi keraguan tentang legalitas harga transfer karena anak perusahaan mencoba
melakukan hal ini sesuai dengan yang diminta oleh peraturan yang berlaku melakukan
transaksi secara wajar. Dengan kebijakan ini, kebijakan harga transfer untuk Negara asing
pada pokoknya akan sama dengan harga transfer untuk domestic. Akibatnya, system harga
transfer akan mendukung system pengendalian manajemen. Namun pada sisi yang lain,
kebijakan ini dapat menghasilkan total biaya yang lebih tinggi.
Pada sisi eksterm yang lain, harga transfer untuk Negara asing dapat hamper seluruhnya
dikontrol oleh kantor pusat perusahaan dengan maksud untuk meminimalkan biaya total
perusahaan, memaksimalkan arus kas dalam dolar atau memperoleh kombinasi yang
optimum untuk posisi mata uang. Akan tetapi, kebijakan semacam ini dapat sangat
membatasi kegunaan system pengendalian, karena dalam keadaan tertentu harga transfer
tersebut tidak berhubungan dengan harga yang berlaku jika unit-unit yang melakukan
pembelian dan penjualan adalah independent.
Banyak perusahaan yang mengggunakan harga transfer untuk meminimalkan pajak dan
tarif menggunakan harga transfer yang sama untuk persiapan anggaran keuntungan dan
pelaporan sebagaimana yang digunakan untuk tujuan akuntansi dan perpajakan. Anggaran
yang disetujui merefleksikan segala ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh harga transfer.
Sebagai ilustrasi, anak perusahaan yang menjual lebih rendah dari harga normal dapat
mengalami rugi sesuai anggaran. Jika laporan atas kinerja actual menunjukkan bahwa
kerugian anak perusahaan ternyata lebih kecil dari yang dianggarkan, maka kinerjanya dapat

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
dianggap memuaskan, dengan catatn hal yang lain tetap sama. Singkatnya, harga transfer
akan dipertimbangkan dalam baik penyiapan anggaran maupun analisis hasil-hasilnya.
Pembatasan Hukum dalam Sistem Harga Transfer
Di dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat memint digunakannya system harga
transfer tertentu, atau sebuah system transfer yang disukai untuk tidak digunakan.

Dalam situasi yang lain, pendekatan full cost yang implicit dalam Section 482 dapat
membatasi kemampuan perusahaan untuk mentransfer beberapa produk kurang dari full costnya. Misalnya, departemen pemasaran mungkin inin memperkenalkan produk baru dalam
pasar pada harga yang lebih rendah dari harga normalnya, bahkan mungkin tidak cukup
tinggi untuk menutupi full cost tersebut. Ini mungkin merupakan taktik pemasaran yang jitu,
tetapi IRS tidak dapat mengakuinya sebagai dasar yang valid untuk sampai kepada harga
transfer.
Kepentingan Minoritas
Ketika kepentingan minoritas ikut terlibat, fleksibilitas manajemen puncak dalam
mendistribusikan laba antara anak-anak perusahaan dapat sangat dibatasi karena pihak
minoritas mempunyai hak hokum untuk memperoleh pembagian yang adil dari laba
perusahaan. Dalam kasus ini, anak perusahaan harus sebisa mungkin melakukan transaksi
secara wajar.
3.

Nilai Tukar Mata Uang

Arus kas dari sebuah perusahaan domestik dinominasikan dalam dolar, dan pada suatu
waktu tertentu, setiap dolar mempunyai nilai yang sama dengan nilai dolar lainnya.
Sebaliknya, arus kas perusahaan multinasional didenominasikan dalam beberapa mata uang
di mana nilai setiap mata uang relative kepada nilai dlar akan berbeda seiring dengan
perbedaan waktu. Variasi ini memperumit masalah pengukuran kinerja anak perusahaan dan
para manajernya. Lebih spesifik lagi, perusahaan multinasional memiliki eksposur akibat
translasi, transaksi dan ekonomi perubahan nilai tukar. Pertama-tama kita akan membahas
nilai tukar secara sinkat dan kemudian mendiskusikan tiga jenis eksposur nilai tukar dan
implikasinya kepada perancangan system pengendalian.
Nilai Tukar
Nilai tukar adalah harga dari sebuah mata uang jika dibandingkan dengan mata uang yang
lainnya. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah unit dari mata uang Negara induk
perusahaan yang diperlukan untuk membeli satu unit mata uang asing (kita sebut penawaran
langsung) atau sejumlah unit mata uang asing yang diperlukan sebagai contoh, jika dolar
8

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
AS($) adalah mata uang induk perusahaan dan franc Prancis (FF) adalah mata uang asing,
maka untuk menyatakan nilai tukar dengan sebagai $0,20/FF adalah bentuk penaawaran
langsung dan menyatakannya sebagai FF5/$ adalah bentuk penawaran tak langsung. Dalam
pasar devisa, kedua jenis penawaran tersebut dipergunakan, tetapi para pedagang biasanya
menggunakan salah satu jenis untuk mata uang tertentu. Tampilan 15.2 memberikan contoh
mengenai kedua nilai tukar yang berlaku pada tanggal 19 Januari 2000 untuk mata-mata uang
yang paling banyak diperdagangkan.
Nilai tukar yang biasanya ditawarkan (seperti tertera di atas) disebut nilai tukar nominal.
Nilai tukar spot adalah nilai tukar nominal yang berlaku pada satu hari tertentu. Nilai tukar
riil adalah nilai tukar spot setelah penyesuaiaan perbedaan inflasi antara dua Negara yang
dihitung. Ada juga nilai tukar forward, yaitu nilai tukar hari ini yang dapat digunakan menjadi
dasar penyelesaian suatu transaksi yang terjadi di suatu waktu di masa depan.
Berbagai Jenis Eksposur Nilai Tukar
Eksposur translasi atas nilai tukar adalah eksposur dari neraca dan laporan laba rugi
perusahaan multinasional terhadap perubahan yang terjadi di dalam nilai tukar nominal. Hal
ini dikarenakan adanya fakta bahwa perusahaan multinasional harus mengonsolidasikan
pembukuan mereka dalam satu mata uang (biasanya mata uang Negara induk perusahaan),
meskipun arus kas mereka didenominasi dalam banyak mata uang. Memahami eksposur
translasi yang terjadi di dalam perusahaan multinasional berarti memahmi pengertian dari
jawaban atas pernyataan berikut ini: Jika arus kas perusahaan didenominasi di dalam berbagai
mata uang dan jika terjadi perubahan nominal di dalam nilai tukar mata uang selama tahun
berjalan, bagaimanakah seharusnya cara mengonsolidasikan pendapatan, pengeluaran, aktiva,
dan utang ke dalam satu jenis mata uang pada satu titik waktu?
Eksposur transaksi adalah eksposur nilai tukar yang dimiliki oleh perusahaan untuk
transaksi-transaksi antarnegaranya ketika transaksi semacam itu dicatat hari ini tetapi
penyelesaian pembayarannya dilaksanakan di kemudian hari. Selama masa di mana
pembayaran atau komitmen penerimaannya masih belum dilakukan, nilai tukar nominal dapat
berubah dan menimbulkan adanya resiko pada nilai dari transaksi. Contoh transaksi semacam
ini termasuk piutang, kewajiban dan utang atau pembayaran bunga yang belum dilaksanakan
dalam mata uang asing.
Eksposur ekonomi adalah eksposur nilai tukar atas arus kas perusahaan terhadap
perubahan nilai tukar riil. Eksposur ekonomi juga disebut eksposur operasional atau eksposur
kompetitif terhadap nilai tukar.
Pilihan Metrik dalam Evaluasi Kerja
Dalam survey di perusahaan-perusahaan multinasional, Choi dan Czechowicz menemukan
bahwa hampir semua responden memiliki system evaluasi performa kinerja yang
membandingkan aktual terhadap anggarannya dalam menilai kinerja anak perusahaan. Pada
dasarnya, terdapat tiga kemungkinan pemilihan metric dalam penetapan dan pelacakan
9

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
anggaran : nilai tukar yang berlaku pada saat anggara ditentukan (nilai tukar awal), nilai tukar
yang diproyeksikan pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar yang diproyeksikan), atau nilai
tukar aktual yang berlaku
Tampilan 2 Pemilihan Metrik dalam Evaluasi Kinerja
Menelusur Anggaran
Mempersiapka
n Anggaran

Awal

Proyeks
i

Akhi
r

Awal

Proyeksi

Akhir

Pada saat anggaran dilacak (nilai tukar akhir). Terdapat 9 kemungkinan kombinasi
metrik dalam menentukan dan melacak anggaran seperti yang terlihat dalam tampilan 2.
Namun demikian tidak semua 9 sel tersebut layak dipergunakan; hanya 5 sel yang diberi
garis bawah yang layak. Yang jelas-jelas layak terdiri dari 3 sel dimana anggaran ditetapkan
dan dilacak dengan menggunakan metric yang sama (awal ke awal, sel 1; proyeksi ke
proyeksi, sel 5; akhir ke akhir, sel 9). Demikian pula dengan menetapkan anggaran dengan
menggunakan nilai tukar awal dan melacaknya dengan menggunakan nilai tukar proyeksi
dan melacak pada nilai tukar akhir (sel 6). Namun bagaimanapun, tidaklah logis jika
menetapkan anggaran pada nilai tukar akhir dan melacak aktualnya dengan menggunakan
nilai tukar awal atau nilai tukar proyeksi (mengesampingkan sel 7 dan 8). Begitu pula
memproyeksikan nilai tukar dalam menetapkan anggaran dan kemudian melacaknya dengan
nilai tukar yang berlaku di awal (mengesampingkan sel 4).
Permasalahan Dalam Perancangan Sistem Pengendalian
Dari Sudut pandang evaluasi kinerja, di bawah ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting
di dalam perancangan suatu sistem pengendalian:

Haruskah para manajer anak perusahaan dianggap bertanggung jawab


atas dampak fluktuasi nilai tukar terhadap hasil akhir mereka?

Haruskah induk perusahaan menggunakan mata uang Negara induk


perusahaan, atau haruskah mereka menggunakan mata uang local dalam evaluasi
kinerja? Selanjutnya, haruskah induk perusahaan menggunakan nilai tukar awal, nilai
tukar proyeksi, atau nilai tukar akhir dalam menetapkan anggaran?

Haruskah induk perusahaan membedakan akibat dari perbedaan jenis


eksposur nilai tukar sembari mengevaluasi kinerja dari manajer anak perusahaan? Jika
ya, bagaimanakah caranya?
10

[ORGANISASI MULTINASIONAL]

Bagaimana seharusnya perbedan jenis eksposur nilai tukar akan


memengaruhi evaluasi kinerja ekonomi dari anak perusahaan, apakah seperti yang
membedakan dari evaluasi manajer yang bertanggung jawab atas anak perusahaan
tersebut?

Dalam contoh berikut, jika anggaran dilacak dengan menggunakan metric yang sama
sebagaimana anggaran ditetapkan (FF10/$), maka anak perusahaan akan terlihat telah
menghasilkan $1. alternatifnya, jika anggaran pada akhir ditetapkan kembali dengan nilai
tukar akhir sebesar FF11/$, anak perusahaan hanya dapat mengharapkan telah menghasilkan
laba sebesar $0,91. Jadi jika metrik yang sama dipergunakan untuk menetapkan dan melacak
anggaran, maka pilihan metrik yang diambil (apakah mata uang local/mata uang asing;
apakah nilai tukar awal, proyeksi, atau akhir) bukanlah sesuatu yang relevan; kinerja yang
dihasilkn akan merefleksikan kinerja operasi dari manajer, yang independent terhadap
dampak translasi.
Anggaran dan Aktual untuk Neraca ANak Perusahaan
(Nilai Tukar Awal:FF10/$; Nilai Tukar AKhir:FF11/$)
Anggaran

Pendapatan
Laba

Aktual

FF

FF

100
10

10
1

100
10

9,09
0,91

Akan tetapi, induk perusahaan akan menderita kerugian translasi pada akhir
tahun. Induk perusahaan tidak memiliki kendali atas pergerakan nilai tukar tersebut. Jika
mereka menggunakan laba atau rugi akibat translasi di dalam mengevaluasi kinerja manajer
anak perusahaan, maka akan timbul beberapa masalah: (1) Hal ini akan membuat manajer
anak perusahaan bertanggung jawab terhadap factor-faktor yang berada diluar kendali
mereka; (2) hal ini tidak akan menghilangkan adanya laba atau rugi akibat translasi; (3) hal
ini tidak memperhitungkan jenis eksposur nilai tukar lain yang dihadapi oleh anak perusahaan
dan (4) hal ini akan mengacaukan kinerja manajer dan anak perusahaan .
Kita akan menjelaskan bagaimana ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dua
tipe generic dari anak perusahaan dari perusahaan multinasional: importer murni dan
eksportir murni.
Importir murni adalah anak perusahaan yang menjual sebaian besar produknya di dalam
negaranya sendiri, tetapi mengimpor sebagian besar barang mentahnya dari luar negeri (baik
itu dari anak perusahaan lain atau dari perusahaan luar) ; eksportir murni adalah anak
perusahaan yang menjual kebanyakan produknya keluar negeri (baik kepada anak perusahaan
lain atau dari perusahaan luar lainnya); tetapi membeli sebagian besar bahan mentahnya di
dalam Negara tersebut. Seperti yang ditunjukkan oleh contoh berikut ini, dalam terjadi
11

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
pergerakan nilai tukar, anak perusahaan tersebut tidak hanya akan menghadapi efek translasi,
tetapi juga efek ketergantungan yang diakibatkan oleh perubahan nilai tukar.
Eksportir murni melampaui anggaran (baik dalam $ maupun FF, baik dari segi sasaran
laba maupun marginnya), unit yang seimbang menunjukkan kinerja yang kira-kira menyamai
tingkat anggaran (mencapai sasaran laba dalam FF, tetapi sedikit rendah dalam $; mencapai
sasaran margin untuk kedua jenis mata uang tersebut), dan importer murni tidak mencapai
anggaran (baik dalam $ maupun FF, nilai laba dan margin).
Efek Transaksi
Pendekatan mendasar dalam menangani eksposur transaksi adalah dengan menggunakan
strategi lindung nilai mata uang asing yang tepat. Lindung nilai (hedging) adalah transaksitransaksi yang dapat menurunkan kemungkinan risiko yang berhubungan dengan arus kas di
masa depan. Dalam prosesnya, perusahaan yang membeli instrument lindung nilai
mengalihkan risiko kepada entitas yang menjual instrument tersebut biasanya adalah bank
komersial dalam kasus untuk pasar valuta. Tentunya sudah pasti jasa semacam itu
membutuhkan biaya.
Lindung nilai adalah praktik yang berlaku umum di banyak perusahaan sebagai contoh,
kapan saja perusahaan membeli asuransi, secara tidak langsung perusahaan tersebut tengah
melakukan transaksi lindung nilai internasional, dan hal itu dipergunakan sebagai cara untuk
mengatasi efek eksposur transaksi. Untung memberikan ilustrasi yang sederhana; jika sebuah
perusahaan Amerika menjual produknya kepada perusahaan Prancis dengan harga yang
dinyatakan dalam franc Prancis, ia dapat secara bersamaan membeli hak untuk membeli franc
Prancis dengan nilai tukar yang sama seperti jika terjadi pada tanggal di masa depan di mana
piutangnya akan jatuh tempo. Jika perusahaan tersebut mengalami rugi transaksi di dalam
penjualan, maka ia akan mendapatkan keuntungan pasar opsi dan menyamakan aktiva/pasiva
dan pendapatan/pengeluaran dengan mata uang yang sama. Teknik lindung nilai yang umum,
menggunakan pasar transaksi forward dan masa depan, juga pasar opsi valuta aisng. Dari
perspektif evaluasi kinerja, pertanyaan kuncinya adalah apakah para manjer anak perusahaan
bertanggung jawab atas eksposur dari transaki lindung nilai.
Kinerja Anak Perusahaan
Sejauh ini kita telah mengusulkan bahwa adalah penting untuk membedakan antara kinerja
ekonomi anak perusahaan dan kinerja para manajernya, dan pedoman-pedoman yang
dibicarakan di atas semata-mata hanya menangani pengisolasian dampak nilai tukar terhadap
kinerja manajer anak perusahaan. Adalah penting untuk menyadari bahwa kinerja ekonomi
anak perusahaan itu sendiri harus merefleksikan akibat-akibat negatif atau psositif atas
eksposur translasi, transaksi, dan ekonomi.
Jika kinerja ekonomi jangka panjang anak perusahaan (setelah memasukkan efek nilai
tukar) terus memburuk, meskipun kinerja manajernya memuaskan, maka induk perusahaan
12

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
harus mengeluarkan pertanyaan yang lebih mendasar : apakah hal itu memberikan artian
ekonomis secara berkelanjutan bagi perusahaan multinasional untuk meneruskan beroperasi
di Negara tersebut, atau apakah ia sebaiknya memindahkan bisnisnya ke tempat lain?
Jawaban atas pertanyaan ini akan kembali kepada keputusan lokasi bisnis, daripada
keputusan evaluasi kinerja; hal ini seharusnya merupakan sebuah keputusan independent.
Pertimbangan Manajemen
Dalam mendesain system evaluasi kinerja anak perusahaan multinasional, perusahaan dapat
mengunakan pedoman-pedoman berikut ini:

Para manajer anak perusahaan seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab terhadap
efek translasi. Cara termudah untuk mencapai tujuan ini adalah membandingkan
anggaran dengan hasil actual dengan menggunakan metrik yang sama dan mengisolasi
efek yang berhubungan dengan inflasi melalui analisis varians. Tak ada gunanya bagi
para manajer untuk khawatir tentang metrik yang tepat. Perusahaan multinasional
hendaknya memilih metrik apa saja yang ia anggap lebih mudah untuk digunakan.

Efek transaksi paling baik ditangani melalui koordinisasi terpusat dari kebutuhan
lindung nilai perusahaan multinasional secara keseluruhan. Hal ini kemungkinan besar
akan jauh lebih murah dan sederhana, dan dapat mencegah manajer anak perusahaan
menjadi peramal dan spekulan nilai tukar.

Manajer anak perusahaan harus bertanggung jawab terhadap efek ketergantungan dari
nilai tukar yang diakibatkan oleh eksposur ekonomi.

Evaluasi anak perusahaan sebagai basis dari pengambilan keputusan untuk


menentukan lokasi operasi di sebuah Negara atau merelokasi operasi dari sebuah Negara
seharusnya merefleksikan konsekuensi-konsekuensi dari adanya eksposur translasi,
transaksi, dan ekonomi.

Pada survey yang dilakukan pada tahun 1982, Sapy-Mazella et al, menemukan dalam
evaluasi kinerja manajer anak perusahaan, 79% respondennya menggunakan metrik yang
berbeda untuk menyiapkan anggaran dan melaporkan kinerja; 66% mempergunakan beberapa
peramalan atas nilai tukar untuk menyiapkan anggaran dan menggunakan nilai tukar aktual
pada akhir periode untuk melaporkan kinerja anak perusahaan secara relative terhadap
anggarannya; dan 13% mempergunakan nilai tukar awal untuk mempersiapkan anggaran dan
nilai tukar actual pada akhir periode untuk melaporkan kinerja. Temuan-temuan ini tidak
konsisten dengan pedoman yang telah kita kembangkan di atas.
Terdapat dua kemungkinan penjelasan untuk ketidakkonsistenan ini. Pertama, kebanyakan
dari system pengendalian ini dikembangkan pada tahun 1950-an dan 1960-an, ketika nilai
tukar adalah tetap; dimana nilai tukar fleksibel hanya baru-baru ini saja diperkenalkan,
perusahaan multinasional tidak boleh menyesuaikan system evaluasi kinerja mereka dengan
kenyataan yang baru. Kedua, banyak perusahaan tidak dapat membedakan antara kinerja
keuangan manajer dan kinerja keuangan anak perusahaan multinasional.
Apa pun alasannya, adalah penting untuk memahami perusahaan multinasional yang
memilih untuk menggunakan metrik yang berbeda untuk menyiapkan anggaran anak
13

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
perusahaan dan melaporkan kinerja aktualnya akan memiliki berbagai jenis risiko yang telah
kita bahas sebelumnya.

XEROX CORPORATION
Case Overview
Menurut kontroler Xerox, Sach, saat ini Xerox sedang mengalami sengatan dan
frustasi yang disebabkan oleh harga transfer multinasional dan perdagangan valuta, dimana
merupakan hal yang sensitive bagi kebanyakan perusahaan global. Kebijakann Xerox
mengenai harga transfer adalah harga transfer domestic murni menggunakan metode full cost
standar, sedangkan untuk luar negeri menggunakan metode harga pasar yang wajar. Sistem
harga transfer yang diterapkan oleh Xerox ini cukup fleksibel dan didesain untuk menghadapi
pasar sehingga perusahaan dapat segera merespons berbagai tekanan pasar dan tantangan
persaingan global.
Harga transfer mungkin memilii pengaruh langsung kepada perencanaan kinerja
perusahaan. Faktor eksternal seperti perubahaan dalam tingkat bea atau regulasi negara
mungkin akan berpengaruh buruk secara langsung pada kinerja. Terkadang ada suatu
kejadian yang di luar batas kendali perusahaan seperti deflasi atau inflasi local yang tidak
terantisipasi yang dapat mungubah kinerja perusahaan tetapi tidak dimasukkan dalam
perhitungan. Namun tekanan ini agak berkurang dengan adanya penggunaan lebih banyak
statistik statistik operasional untuk melakukan evaluasi atas kinerja unit dan manajernya.
Harga transfer untuk domestik tidak serumit harga transfer untuk luar negeri. Semua
masih berada di bawah entitas hukum yang sama di mana efek dari harga transfer akan
tereliminasi pada saat terkonsolidasi. Hal yang diperlukan adalah mempengaruhi harga
transfer untuk mecapai taret kinerja unit. Sedangkan untuk harga transfer antara unit unit di
luar negeri sedikit lebih rumit karena adanya permasalahan yang lebih luas. Permasalahan
tersebut ditimbulkan karena adanya perbedaan entitas hukum, otoritas pengaturan yang
berbeda seperti pajak, bea cukai, dll, serta perbedaan nilai tukar uang. Dalam situasi ini
Xerox menggunakan harga transfer yang berbasis pasar, dimana metode ini sesuai dngan
aturan pajak AS dan aturan resm OECD. Harga transfer berbasis pasar memberikan margin
bagi unit yang menjual maupun unit yang membeli. Hal ini memungkinkan unit yang
membeli bersaing di pasar lokalnya. Dalam hal ini Xerox memahami bahwa sumber

14

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
kesuksesan bisnisnya adalah memuaskan pelanggan luar, sehingga mereka harus melayani
pelanggan internalnya dengan baik.
Seperti harga transfer domestic, harga transfer multinasional dinegosiasikan jika ada
perubahan dalam situasi persaingan atau perubahan variable ekonomi seperti nilai tukar uang,
pajak, bead an kebijakan Negara. Ekspodur akibat nilai tukar uang dapat menyebabkan
goncangan besar dalam keekonomsan harga transfer dan merupakan hal yang penting dalam
konsolidasi operasi di luar negeri. Manajemen Xerox menggunakan nilai tukar AS dan local
untuk mengukur kinerja unit luar negerinya. Mata uang konsolidasi yang digunakan adalah
dollar AS dan laporan ddalam dollar AS menjadi dasar perencanaan perusahaan. Perubahan
normal pada nilai tukar mata uang asing (3-5%) merupakan tanggung jawab manajer luar
negerinya. Jika nilai tukar bergerak vis a vis nilai dollar lebih dari 3-5% maka ekspordur
translasinya akan menjadi masalah bagi perusahaan. Sedangkan jika nilai tukar bergerak ke
arah yang menguntungkan bagi operasi luar negeri, perusahaan memotong tambahan hasil
keuangan untuk tujuan pengukuran kinerja unit tersebut (seperti melakukan investasi dari
bagian laba yang disebabkan oleh mata uang tersebut).

Company Problem
Salah satu contoh kerumitan harga transfer, translasi mata uang dan sistem
pengukuran kinerja adalah yang terjadi pada Venray. Pabrik Venray di Belanda menjual
secara teratur mesin foto copy pada unit pemasaran di AS. Pabrik Venray tadinya bagian
resmi dari Rank Xenrox. Tetapi untuk kepentingan kinerjanya GM memberikan laporannya
pada Manufacturing Support (MS), sebuah fungsi sentral oerusahaan. Dalam Venray terdapat
fungsi yang melapor pada direktur lokasi Venray dan juga pada organisasi di luar MS.
Pengukuran kinerja akan didorong oleh organisasi MS dengan peralatan dan material serta
fungsi pasokan didorong oleh masing masing organisasi yang mengelolanya seperti
diindikasikan dalam bagan organisasi. Pada intinya, organisasi dukungan pusat menyediakan
pelayanan bagi divisi bisnis dan mengembangkan pengukuran kinerja secara tepat.

Pertanyaan
1. Anda adalah controller penjualan wilayah barat dan manajer penjualan meminta bantuan
pendapat anda. Sebuah bank besar di California dengan lebih dari 200 cabang telah
memilih membatalkan kontrak mesin fotocopy Xerox karena masalah harga (keuntungan
tahnan sewa lebih dari $ 1 juta/tahun). Persaingan dngan pabrik perakitan West Coast yang
15

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
memberikan penawaran 27% lebih rendah dari milik anda. Anda dapat mengeluarkan
sekitar 5-7% selisih tersebut secara material mempengaruhi angaran anda. Jika anda ingin
mempertahankan pelanggan, anda memerlukan bantuan harga dari pabrik. Anda
menghbungi controller operasi pelanggan AS karena kerugian pendapat penjualan akan
mempengarui secara signifikan anggaran anda. Apakah pilihan pilihan yang dimiliki
Xerox, dan bagaimana Sach memecahkan masalah ini?
Jawaban :
Berdasarkan analisa dari kelompok kami, menyatakan bahwa kasus yang dihadapi
oleh Xerox disini berkaitan dnegan kebijakan harga transfer yang diterapkannya, dapat
dilihat bahwa Xerox menghadapi maslaah dikarenakan harga jual produk yang idak dapat
berkompetisi dngan pesaingnya, yaitu West Coast, dengan selisih harga sekitar lebih dari
20%. Telah kita ketahui bahwa Xerox menetapkan harga transfer untuk domestiknya
berdasarkan metod standard biaya penu, sedangkan untuk harga transfer internasional
berdasarkan metod harga pasar. Dan kebijakan penentuan harga transfer yang Xerox
terapkan ini telah mengacu pada peraturan Section 482 dari Internal Revenue Code
(Undang undang perpajakan AS).
Sebagai controller Regional Sales untuk wilayah barat yang diminta untuk
memberikan bantuan terhadap masalah ini kepada manajer penjualan, kami dapat
menentukan bahwa terdapat dua opsi utama yang dilakukan oleh Xerox, yaitu :
a) Memperbaiki kebijakan penentuan metode harga transfer yang digunakan.
b) Komitmen terhadap strategy TQL (Total Quality Leadership) yang telah dijalankan.
Berdasarkan section 482, terdapat beberapa metode penentuan harga transfer yang dapat
diterapkan oleh Xerox, antara lain :
a) Metode harga pasar
Harga transfer yang ideal adalah berdasarkan harga pasar normal dari produk identik
dan mencerminkan kondisi yang sama dari produk tersebut (kualitas, waktu
pengiriman, dan kuantitas)
b) Harga negoisasi
Harga transfer berdasarkan negoisasi adalah harga transfer yang telah disetujui oleh
divisi penjual dan divisi pembeli melalui proses negoisasi antara kedua belah pihak
tersebut dengan pengendalian dari perusahaan korporat.
c) Comparable uncontrolled price method
Penentuan harga transfer yang diperoleh dari perbandingan harga penjualan suatu
barang atau jasa antara perusahaan multinasional dan pellanggan yang tidak memiliki
hubungan istimewa, atau anara dua perusahaan yang tidak salaing memiliki hubungan
istimewa.
16

[ORGANISASI MULTINASIONAL]
d) Resale price method
Pada metode ini, perusahaan dikenakan wajib pajak berdasarkan harga jual dari suatu
produk setelah terjadi penjualan final kepada sebuah perusahaan yang tidak
sepengendali.

Transfer
= applicable
resale
price
appropriate
Dalam Price
section 482
juga dijelaskan bahwa
penjualan
dengan
harga yang lebih rendah
markup
+/- harga
adjustments
ataupun
dibawah
penuh diijinkan dalam situasi tertentu, misalkan selama penetrasi
sebuah pasar baru atau untuk mempertahankan pasar yang ada pada wilayah tertentu.
Untuk pelaksanaan opsi yang kedua, telah kita ketahi bahwa manajemen Xerox juga
telah mengimpelemntasikan suatu strategi TQL untuk merespon terhadap pentingnya
kompetisi berorientasikan pada kualitas dan biaya. Kelompok kami melihat bahwa hal ini
merupakan suatu respon positif yang ditunjukkan oleh manajemen dalam melihat situasi
kompetisi bisnis sekarang ini.
Kelompok kami optimis akan keberhasilan Xerox dimas depan jika semua sumber
daya dalam proses bisnis Xerox mampu berkomitmen secara penu dan menjalankan strategi
TQL ini dengan sungguh sungguh. Hasil yang dapat diperoleh dari implementasi strategi
TQL ini antara lain meningkatkan proses produksi, meningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan, meningkatkan pruktifitas karyawan, dan dapat menurunkan biaya operasional,
sehingga akan dapat meningkatkan daya saing di pasar.
Tindakan yang harus dijalankan oleh Sach sebagai seorang controller korporat yaitu :
a) Peka terhadap perubahan lingkungan bisnis sehingga dapat mebuat suatu keputusan
keputusan bisnis yang tepat apabila perusahaan tetap ingin mempertahankan
konsumen dan konsistensniya di pasar global;
b) Harus dapat memfasilitasi segala bentuk permaslahan yang terjadi antara divis
manufaktur dengan divisi penjualan, terutama yang berkaitan dengan masalah harga
transfer.

17

[ORGANISASI MULTINASIONAL]

18

[ORGANISASI MULTINASIONAL]

19

[ORGANISASI MULTINASIONAL]

20

[ORGANISASI MULTINASIONAL]

21