Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Shigella adalah bakteri patogen usus yang dikenal sebagai agen penyebab
penyakit disentri basiler. Bakteri ini menginfeksi saluran pencernaan dan
menyebabkan berbagai gejala, dari diare, kram, muntah, dan mual.
Shigella merupakan penyebab diare disentri yang paling sering pada anak
usia 6 bulan sampai 10 tahun di Amerika Serikat dan negara berkembang. Shigella
tahan terhadap keasaman lambung dan membutuhkan inokulum yang kecil untuk
menyebabkan diare sehingga mudah ditularkan ke orang lain. Penularan terjadi
dalam kondisi banyak orang berkumpul dalam satu tempat seperti di penitipan
anak, panti asuhan atau tempat penampungan. Rendahnya sanitasi, pasokan air
yang buruk, dan fasilitas yang pipa tidak dapat memberi sumbanagan terhadap
peningkatan risiko infeksi. Shigella menginvasi dan berproliferasi di dalam epitel
kolon. Kemudian menghasilkan suatu toksin dengan efek sekretori dan sitotoksik
dan menyebabkan ulkus sehingga tinja mengandung lendir dan darah, secara
mikroskopis ditemukan leukosit dan eritrosit (Randan, 2013).
Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus
8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24
Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR
1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah
penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.). Berdasarkan isolasi
penderita diare dari RS Karantina Jakarta pada tahun 1980--1985 spesies terbanyak
dari Shigella ialah Sh. Jlexneri (47,1%) lalu menyusul Sh. dysentriae (27.4%).
Struktur antigen Shigella mempunyai susunan antigen yang komplek,
terdapat tumpang tindih dalam sifat serologik berbagai spesies, dan sebagian besar
bakteri ini mempunyai antigen O yang juga dimiliki oleh bakteri enterik lainnya.
Antigen somatik O Shigella adalah liposakarida. Kekhususan serologiknya
tergantung pada polisakarida. Terdapat lebih dari 40 serotipe. Klasifikasi Shigella
didasarkan pada sifat-sifat biokimia dan antigenic (Triadisaputra,2013).
B. Batasan Masalah
Dalam makalah ini, penulis hanya membatasi pada tujuan yang
dilakukannya identifikasi. Selai dari tujuan tidak akan di bahas dalam laporan
ini.
C. Rumusan Masalah

13

1. Bagaimanakah klafikasi dari Shigella spp ?


2. Bagaimana bentuk dan morfologi dari Shigella spp ?
3. Bagaimana sifat biakan Shigella ssp ?
4. Apa saja struktur antigen dari Shigella ssp ?
5. Penyakit apa saja yang ditimbulkan oleh Shigella spp?
D. Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi bakteri Shigella spp
2. Untuk mengetahui morfologi bakteri Shigella spp
3. Untuk mengetahui sifat biakan bakteri Shigella spp
4. Untuk mengetahui penyakit yang ditimbulkan bakteri Shigella spp
E. Manfaat
a. Bagi Instansi
: Untuk menambah referensi tentang Bakteriologi.
b. Bagi Peneliti
: Untuk menambah kemampuan tentang cara identifikasi
bakteri Shigella spp.
c. Bagi Masyarakat : Untuk menambah pengetahuan tentang identifikasi bakteri
Shigella spp.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
Shigella mempunyai struktur antigen yang kompleks. Sebagian besar kuman
mempunyai antigen O yang juga dimiliki oleh kuman enterik lainnya. Antigen
somatik O Shigella adalah lipopolisakarida. Spesifikasi serologiknya bergantung

13

pada polisakarida itu. Terdapat lebih dari 40 serotipe. Klasifikasi Shigella


didasarkan pada sifat-sifat biokimia dan antigennya.
Golongan

dan Manitol

Ornitin

Shigella

jenis
A

Dekarboksilase
-

dysenteriae
Shigella flexneri
Shigella boydii
Shigella sonnei

B
C
D

+
+
+

A. Morfologi
Kuman bentuk batang ukuran 0,5 0,7 M X 2 3 M, bersifat Gram (-),
tidak bergerak, tidak memiliki flagel, dan tidak berselubung.
B. Klasifikasi
Kingdom

: Bacteria

Filum

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma proteobacteria

Ordo

: Enterobacteriales

Famili

: Enterobacteriaceae

Genus

: Shigella

Spesies

: Shigella sonnei
Shigella boydii
Shigella flexneri
Shigella dysentriae

C. Patogenitas
1. Daya invasi = kuman menembus ke dalam lapisan sel epitel di permukaan
mukosa usus memperbanyak diri reaksi tubuh terjadi peradangan
mengelupasnya lapisan tersebut tukak.
2. Shigella species adalah kuman pathogen usus yang telah lama dikenal
sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler atau Shigellosis yang
merupakan infeksi usus akut dapat sembuh sendiri.
3. Bentuk diare yang ditimbulkan oleh Shigella :
a. Disentri klasik
: Tinja lembek
Darah ( + )
Mukus ( + )
Pus ( + )
b. Watery diarrhea
c. Kombinasi kedua duanya.
Faktor-faktor patogenitas:
a. Daya invasi
b. Enterotoksin
c. Nerotoksin dan Sitotoksin

13

Shigella sangat menular. Infeksi Shigella hampir selalu


terbatas pada saluran pencernaan, invasi ke aliran darah sangat
jarang.
Shigella

merupakan

genus

basil

menyebabkan disentri basiler. Infeksi

Gram

negatif

yang

Shigella dapat terjadi

melalui mulut. Disentri menyebar melalui kontaminasi feces pada


makanan dan minuman., WC, pegangan pintu, seprai dan lain-lain
dan juga dengan perantara lalat yang terkontaminasi dengan
tinja. Disentri merupakan peradangan akut pada kolon.
Shigellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
berbagai spesies Shigella. Orang yang terinfeksi dengan Shigella
mengembangkan diare, demam dan kram perut memulai satu
atau dua hari setelah mereka terkena bakteri. Diare sering
berdarah. Shigellosis biasanya sembuh dalam 5 sampai 7 hari,
tetapi pada beberapa orang, terutama anak muda dan orang tua,
diare bisa begitu parah sehingga pasien perlu dirawat di rumah
sakit. Sebuah infeksi berat dengan demam tinggi juga dapat
dikaitkan dengan kejang pada anak kurang dari 2 tahun.
Bakteri Shigella menghasilkan racun yang dapat menyerang
lapisan usus besar, menyebabkan pembengkakan, luka pada
dinding usus, dan diare berdarah. Dalam kasus Shigellosis yang
sangat parah, seseorang mungkin mengalami kejang (kejang),
leher kaku, sakit kepala, kelelahan ekstrim, dan kebingungan.
Shigellosis juga dapat menyebabkan dehidrasi dan dalam kasus
yang jarang terjadi, komplikasi lain, seperti arthritis, ruam kulit,
dan gagal ginjal.
Gejala lain Shigellosis termasuk:
a) abdominal cramps atau kram perut
b) high fever atau demam tinggi
c) loss of appetite atau kehilangan nafsu makan
d) nausea and vomiting atau mual dan muntah
e) painful bowel movements atau gerakan usus yang menyakitkan
(Analis Muslim,2011)
D. Sifat Pembenihan
1. Sifat pertumbuhan
2. pH pertumbuhan

: Aerob dan fakultatif Anaerob


: 6,4 7, 8

13

3. Suhu pertumbuhan

: 37C kecuali Shigella sonnei dapat

tumbuh pada suhu 45C.


4. Koloni pada SSA, EMB, endo agar dan MC: kecil, halus, licin (Smooth/S),
tidak berwarna, konvex, dan permukaan rata.
5. Shigella dysentriae dapat tumbuh pada media sederhana (buillon) dan agar
boullion.
6. Keempat species Shigella dapat memfermentasikan glukosa tanpa
membentuk gas, H2S (-), tidak meragi laktosa kecuali Shigella sonnei
dengan inkubasi lebih dari 3 hari.

BAB III
METODOLOGI
A. Tempat Praktikum
B. Waktu Praktikum
C. Alat& Bahan

: Laboratorium Media dan Bakteriologi


: 20- 22 November 2014

Adapun alat yang digunakan untuk pemeriksaan Identifikasi Shigella yaitu :


ose bulat, ose jarum, rak tabung, korek api, lampu spirtus, mikroskop, tabung
reaksi, tabung durham, tabung khan, plate dan inkase.
Berikut ini adalah bahan yang digunakan pada pemeriksaan Identifikasi
Shigella : suspensi kuman, media MC ( Mac Conkey ), media SSA dan media
Biokimia Reaksi.
D. Prosedur & Skema Kerja
Prosedur :
1. Hari Pertama

13

a) Pembuatan media (MC, SSA dan Biokimia Reaksi)


b) Dilakukan penanaman pada media NaCl gliserin
c) Cara inokulasi :
1.
2.
3.
4.

Semua alat dan bahan dimasukkan dalam inkas


Dipanaskan ose bulat hingga membara kemudian didinginkan
Diambil kuman dari suspensi kuman
Ditanamkan di media NaCl gliserin dengan cara mengaduk
ngadukkan pada media NaCl gliserin

d) Diinkubasi 37 C selama 24 jam.


2. Hari Kedua
a) Dari media pemupuk dilakukan inokulasi pada media MC dan SSA
b) Cara Inokulasi :
a. Disiapkan alat dan bahan seperti ose bulat, lampu spirtus, korek api
dimasukkan dalam inkas
b. Media MC, SSA dalam 1 plate dibagi menjadi 3 untuk melihat
pertumbuhan koloni bakteri yang terpisah
c. Ose bulat dipanaskan hingga membara kemudian didinginkan
d. Diambil 1 mata ose kuman dari media NaCl gliserin, sebelum dan
sesudah mengambil kuman mulut tabung diflaming
e. Dari 1 mata ose tersebut ditanamkan ke media MC dan SSA dari
bagian A selanjutnya ke B dan selanjutnya ke C
f. Penanaman dilakukan dengan cara distreak zig zag
g. Sebelum dan sesudah melakukan penanaman media plate diflaming
h. Ose bulat dipanaskan lagi sampai membara dan dibiarkan dingin
c) Diinkubasi 37 C selama 24 jam.
Cara penanaman pada media Biokimia reaksi :
a) Dilihat hasil dari media SSA
b) Dilanjutkan dengan pewarnaan Gram :
Cara pewarnaan Gram
a. Sediaan digenangi dengan Gram 1 (gentian violet) selama 3 5 menit
b. Dicuci dengan air kran
c. Digenangi dengan Gram 2 (Lugol) selama 1 2 menit
d. Cat dibuang
e. Digenangi dengan Gram 3 (Alkohol 70%) dibiarkan 10 15 detik
f. Cat dibuang
g. Digenangi dengan Gram 4 (Fuchsin) dibiarkan 3 5 menit
h. Cat dibuang dan dicuci dengan air kran
i. Diperiksa di bawah mikroskop pembesaran 100 kali
c) Diinokulasikan pada media Biokimia Reaksi,
Cara inokulasi :
13

Cara inokulasi pada media Gula gula, VP, MR dan Indol:


a. Diambil 1 mata ose kuman dengan ose bulat steril dari media SSA
b. Diaduk adukkan pada media gula gula, VP, MR maupun Indol
NB : 1 mata ose kuman boleh digunakan untuk 2 media
c. Untuk melanjutkan diulangi dengan memanaskan ose bulat hingga
membara kemudian didinginkan
d. Diambil lagi 1 mata ose kuman dan kemudian ditanamkan pada media
selanjutnya
Cara inokulasi pada media Citrat dan Urea
a. Diambil 1 mata ose kuman dengan ose bulat steril dari media SSA
b. Dilakukan penanaman pada media citrat dan urea dengan cara distreak
dengan ose bulat tersebut secara zig zag dari bawah ke atas lereng
c. Sebelum dan sesudah mengambil kuman tabung diflaming
Cara inokulasi pada media KIA
a. Diambil 1 mata ose kuman dengan ose jarum steril dari media SSA
b. Dilakukan penanaman pada media KIA dengan cara distreak terlebih
dahulu dari dasar ke lereng kemudian ditusukkan sampai ke dasar
tabung
Cara inokulasi pada media Motil
a. Diambil 1 mata ose kuman dengan ose jarum steril dari media SSA
b. Dilakukan penanaman pada media motil dengan cara ditusukkan ose
jarum hingga ke dasar tabung
Di Inkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam
3. Hari Ketiga
a) Pembacaan hasil dari media Biokimia Reaksi
b) Dilakukan identifikasi
Skema :
Sampel
Boillon, Ink. 37 C 24 jam
MC (Mac Conkey)

SSA

WB

Koloni

: halus

halus

halus

Warna

: jernih

jernih

jernih

Fermentasi : laktosa -

Reduksi tellurite -

13

Reduksi Bismuth Sulfat

Pewarnaan Gram
KIA (Test Aglutinasi Polyvalent)
Ink. 37 C 24 jam
Shigella

Shigella

Shigella

Shigella

Sonnie

boydii

flexneri

dysentriae

: Alkalis

Alkalis

Alkalis

Alkalis

: Acid

Acid

Acid

Acid

H2S : -

Gas : -

Biokimia Reaksi Ink. 37 C 24 jam


Test Aglutinasi monovalent (dari KIA)
Identifikasi
IMVIC : V V - -

VV--

V+--

13

VV--

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
1) ISOLASI
Bahan pemeriksaan ditanam pada media :
Dieramkan pada suhu 37 C selama 24 jam.
Hasil pembiakan :
a. Dari media MC
Bentuk

: Bulat

Ukuran

: Besar

Warna

: Jernih

Tepi

: Rata

Permukaan : Cembung
Fermentasi : Laktosa Konsistensi : Semi Mucoid
b. Dari media SSA
Bentuk

: Bulat

Ukuran

: Besar

Warna

: Jernih

Tepi

: Rata

Permukaan : Cembung
Fermentasi : Reduksi terurite Konsistensi : Semi Mucoid
a.

Dari media

dilakukan pewarnaan : Gram


Bentuk

: batang

Susunan

: menyebar

Warna

: merah

Sifat

: gram

2) UJI BIOKIMIA REAKSI


a. Indol

: - (tidak terbentuk cincin merah)

b. Glukosa

: (+) (terbentuk gas dan memfermentasi karbohidrat)

13

c. Laktosa

: (+) (terbentuk gas dan memfermentasi karbohidrat)

d. Maltosa

: (+) (terbentuk gas dan memfermentasi karbohidrat)

e. Manosa

: (+) (terbentuk gas dan memfermentasi karbohidrat)

f. Sukrosa

: (+) (terbentuk gas dan memfermentasi karbohidrat)

g. VP

: - ( tidak terbentuk cincin merah)

h. MR

: + ( terbentuk cincin merah)

i. Motil

: - (tidak adanya kabut disekitar tusukan)

j. Citrat

: - ( tidak menggunakan citrate sebagai sumber karbon)

k. Urea

: + ( menghasilkan NH3 dan CO2)

l. KIA

: Lereng

= Alkalis

Dasar

= Acid

Gas

=-

H2S

= -

13

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi, berdasarkan hasil pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa dari jenis
Pemeriksaan Identifikasi Shigella ditemukan bakteri Shigella spp.

B. SARAN
1. Sebaiknya praktikan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) sebelum
melakukan pemeriksaan,
2. Pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur yang ada.
3. Jagalah kebersihan.
4. Membuat media harus tepat sesuai perhitungan.
5. Harus teliti dalam pembacaan hasil.
6. Harus teliti dalam mengambil reagen.
7. Saat menanam media pastiak alat yang digunakan steril.
8. Jangan memasukan kepala kedalam inkubator tanpa menggunakan APD.

DAFTAR PUSTAKA
Analis

Muslim,

2011.

http://analismuslim.blogspot.com/2011/12/shigella.html

13

Shigella,

Randan,2013.

Laporan

Praktikum

Bakteriologi.http://randanpasiga.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikumbakteriologi.html
Triadisaputra,2013.

Makalah

Shigella. .http://www.scribd.com/doc/91880529/MAKALAH-SHIGELLA

LAMPIRAN
Tabel Peragian

13