Anda di halaman 1dari 75

General Business Environment

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengantar
Perkembangan

dan

persaingan

indusri

jasa

penerbangan

Indonesia

mengalami peningkatan yang cukup pesat dari tahun ketahunnya, maskapai


penerbangan berlomba-lomba meningkatkan penetrasi pasarnya baik pada skala
domestik atau internasional. Hal tersebut seiring dengan banyaknya maskapai
penerbangan luar yang masuk ke Indonesia menambah ramainya pasar penerbangan
domestik dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat, serta
peningkatan daya beli masyarakat Indonesia yang terus meningkat.
Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, menuturkan juga bahwa
dunia penerbangan sangat kompetitif, padat modal, padat teknologi, dan padat karya.
Sumber daya manusia yang dibutuhkan bisnis ini juga harus mempunyai
keterampilan khusus. kondisi ini menjadi tantangan bagi manajemen perusahaan
untuk memenangi pasar. Apalagi sejak deregulasi penerbangan tahun 2000,
tantangan semakin berat karena perusahaan kian banyak.
Tantangan-tantangan

tersebut

tidaklah

muncul

hanya

dari

faktor

kompetitornya saja, melainkan masih banyak faktor-faktor lain, seperti lingkungan


bisnis yang harus dihadapi organisasi dan dipertimbangkan serius dalam
pengambilan keputusan bisnis (perusahaan). Keberlanggsungan suatu bisnis bagi
perusahaan banyak sekali dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor lingkungan
internal maupun eksternal perusahaan. Lingkungan eksternal adalah lingkungan
yang berada di luar organisasi dan perlu dianalisis untuk menentukan kesempatan
(opportunities) dan ancaman (threath) yang akan atau harus dihadapi perusahaan.

General Business Environment


Terdapat dua perspektif untuk mengkonseptualisasikan lingkungan eksternal.
Heizer dan Render dalam Kuncoro, (2006) menyatakan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap lingkungan eksternal adalah kondisi perekonomian, budaya,
social, demografi, hukum, kompetisi, teknologi, alam, pajak, peraturan pemerintah
dan juga politik baik dalam negeri mapupun luar negeri. Lain halnya dengan
Bourgeois (dalam Kuncoro, 2006) yang mengatakan bahwa lingkungan eksternal
dipengaruhi oleh konsumen, pesaing, pemasok,dan peraturan pemerintah.
Dari hasil analisa faktor eksternal tersebut perusahaan diharapkan mampu
mengetahui potensi-potensi serta ancaman yang akan muncul sehingga akhirnya
ancaman-ancaman tersebut mampu dikelola dan dikembangkan sehingga dapat
menghasilkan

keputusan-keputusan

strategis

bagi

perusahaan

kedepannya.

Sedangkan batasan dari pembahasan paper ini adalah memfokuskan pada pengaruh
dari adanya 13 faktor eksternal perusahaan dengan mengangkat kasus perusahaan
BUMN industri penerbangan PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk. Bagaimana
Garuda Indonesia sebagai perusahaan BUMN dapat memanaj keseluruhan tantangan
dan peluang dari 13 faktor ekstenal tersebut menjadi keputusan strategis perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
Penelitian ini akan membahas dari 13 faktor lingkungan eksternal dalam
bisnis, apa saja lingkungan eksternal yang mempengaruhi PT Garuda Indonesia dan
dampak apa yang muncul akibat pengaruh dari lingkungan eksternal tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisa terhadap peluang
dan ancaman yang mungkin dihadapi oleh PT Garuda Indonesia terkait dengan
faktor-faktor lingkungan eksternal serta implikasi bisnis apa yang juga harus
dihadapi oleh PT Garuda Indonesia

General Business Environment


1.3 Manfaat Peneliatian
Manfaat dari adanya penelitian ini adalah agar si peneliti terbiasa mengasah
pemikiran analitiknya sehingga dapat merekomendasikan strategi-strategi apa yang
sesuia dengan adanya acaman danpeluang dari setiap faklor lingkungan eksternal
perusahaan.
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan cara riset terhadap data sekunder yang
penulis dapatkan dapat dari berbagai sumber seperti Laporan Tahunan PT Garuda
Indonesia, Internet dan jurnal-jurnal yang terkait dengan pembahasan penelitian ini.

General Business Environment


BAB II
PROFILE PERUSAHAAN
2.1 Profile Garuda Indonesia
Garuda Indonesia (GA) adalah perusahaan maskapai penerbangan BUMN
yang mempunyai konsep full service airline. Sebagai pelopor maskapai nasional
yang didirikan pada tahun 1949. Garuda Indonesia menambahkan kembali tagline
The Airline of Indonesia sebagai penanda kepeloporan dan identitas maskapai
pembawa

bendera

bangsa

(flag

carrier)

di

tengah

persaingan

industri

penerbangan yang semakin ketat baik di tingkat nasional dan khususnya di


tingkat internasional. Dengan

tagline

ini, GA semakin memantapkan

posisi

menuju maskapai kelas dunia.


Pada bulan Februari 2011, Garuda Indonesia telah menjadi Perusahaan
Publik dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berbagai macam perhargaan sudah
dikantonginya baik skala nasional maupun internasional. Pada tahun 2010, Skytrax
menobatkan Garuda Indonesia sebagai Four Star Airline dan sebagai The World's
Most Best Improved Airline. Selanjutnya pada Juli 2012, Garuda Indonesia
mendapatkan penghargaan sebagai World's Best Regional Airline dan Maskapai
Regional Terbaik di Dunia. Sebuah lembaga konsultasi penerbangan bernama
Centre for Asia Aviation (CAPA), yang berpusat di Sydney, juga memberikan
penghargaan kepada Garuda Indonesia sebagai "Maskapai yang Paling Mengubah
Haluan Tahun Ini".
Pada tahun 2010. Sedangkan Roy Morgan, lembaga peneliti independen di
Australia, juga memberikan penghargaan kepada Garuda Indonesia sebagai The
Best International Airline pada bulan Januari, Februari dan Juli 2012.
Garuda Indonesia memang telah berhasil mengubah haluannya, sehingga terhindar
dari kegagalan di masa krisis dan meraih kesuksesan pada era 2006 hingga 2010.

General Business Environment


2.2 Visi Dan Misi Perusahaan
2.2.1 Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan
yang berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan keramahan Indonesia.
2.2.2 Misi Perusahaan
Sebagai perusahan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia yang
mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi
nasional dengan memberikan pelayanan yang profesional.
2.3 Tujuan Jangka Panjang
Garuda Indonesia memang telah berhasil mengubah haluannya, sehingga
terhindar dari kegagalan di masa krisis dan meraih kesuksesan pada era 2006 hingga
2010. Setelah melalui masa-masa sulit, kini Garuda Indonesia melanjutkan
kesuksesan dengan menjalankan program 5 tahun ekspansi secara agresif. Program
ini dikenal dengan nama Quantum Leap. Tujuan jangka panjang Garuda Indonesia
adalah menjalankan program 5 tahun ekspansi secara agresif dari tahun 2011-2015.
Program ini diharapkan akan membawa perusahaan menjadi lebih besar lagi, dengan
jaringan yang lebih luas dan diiringi dengan kualitas pelayanan yang semakin baik.
GA mempunyai beberapa unit bisnis (Garuda cargo, Garuda Medical Center)
dan anak perusahaan (PT Citilink Indonesia,PT Aerowisata, PT Abacus Distribution
System Indonesia, PT Aero system Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility).
Kemudian pada bulan Februari 2011 berubah menjadi perusahaan public dan sudah
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.sampai saat ini GA telah mengoperasikan 82
armada dan melayani 43 tujuan domestik yang mana memiliki 5 hub yaitu1 :
1

General Business Environment


1. Hub bisnis yang berada di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
2. Hub di daerah pariwisata yang berada di Bandara Ngurah Rai, Denpasar,
Bali.
3. Untuk meningkatkan frekuensi penerbangan ke bagian timur Indonesia,
Garuda Indonesia juga memiliki hub di Bandara Sultan Hasanuddin,
Makassar, Sulawesi Selatan
4. Hub Indonesia bagian barat untuk menjangkau pulau pulau di Sumatra.
Garuda Indonesia memiliki hub di Bandara Kuala namu, Medan, Sumatra
Utara.
5. Hub Bisnis yang berada di Bandara Djuanda, Surabaya, Jawa timur.
Dan satu hub lagi rencana akan ditambah Garuda yaitu hub Balikpapan
Kalimantan timur dibandara Sepinggan. Penambahan hub-hub bisnis teresebut
bertujuan agar daerah-daerah kecil di Nusantara Indonesia ini dapat dijangkau oleh
masayarakat dengan mudah. Sedangkan penerbangan internasionalnya ada 20
Internasional di Asia (Regional Asia Tenggara, Timur Tengah, Cina, Jepang, Korea
Selatan), Australia, dan Eropa (Belanda dan London) dan 14 code share agreement
routes 2.
2.4 Values
Garuda Indonesia telah mengumandangkan 5 (lima) nilai-nilai Perusahaan,
yaitu eFficient & effective; Loyalty; customer centricitY; Honesty & Openness dan
Integrity yang disingkat menjadi "FLY HI" sejak tahun 2007, dilanjutkan dengan
rumusan code of conduct yang diluncurkan pada tahun 2008. Tata nilai FLY HI dan
2Profil perusahaan 2014. Diakses pada tanggal 8 Septermber 2014 dari
http://garuda.lima-city.de/menu-garuda/garuda/garuda-html/garudaindo.html

General Business Environment


etika Perusahaan merupakan soft structure dalam membangun Budaya Perusahaan
sebagai pendekatan yang digunakan Garuda untuk mewujudkan tata kelola
perusahaan yang baik. Etika Bisnis dan Etika Kerja Perusahaan merupakan
himpunan perilaku-perilaku yang harus ditampilkan dan perilakuperilaku yang harus
dihindari oleh setiap Insan Garuda Indonesia. Etika dan perilaku tersebut dalam
hubungannya dengan:
1. Hubungan Sesama Insan Garuda.
2. Hubungan dengan Pelanggan, Pemegang Saham dan Mitra Usaha serta
Pesaing.
3. Kepatuhan Dalam Bekerja, mencakup Transparansi Komunikasi dan Laporan
Keuangan; Penanganan Benturan Kepentingan; Pengendalian Gratifikasi;
Perlindungan Tehadap Aset Perusahaan dan Perlindungan Terhadap Rahasia
Perusahaan.
4. Tanggung jawab Kepada Masyarakat, Pemerintah dan Lingkungan.
5. Penegakan Etika Bisnis dan Etika Kerja mencakup: Pelaporan Pelanggaran;
Sanksi Atas Pelanggaran; Sosialisasi dan Pakta Integritas.
Internalisasi nilai-nilai dan etika Perusahaan dilakukan secara intensif
melalui berbagai saluran komunikasi, pelatihan dan terintegrasi dengan sistem
penilaian pegawai. Sosialisasi melalui saluran komunikasi internal perusahaan baik
cetak maupun elektronik, tatap muka dan diskusi ke semua Unit Kerja baik di kantor
Pusat maupun di Kantor Cabang serta melalui program pelatihan. Melalui proses
sosialisasi, pada tahun 2011 ini jumlah pegawai yang telah menandatangani lembar
komitmen kepatuhan terhadap etika Perusahaan telah mencapai 2.980 pegawai dari

General Business Environment


berbagai profesi dan unit kerja. Jumlah tersebut berarti sudah mencapai lebih dari
separuh dari total pegawai Perusahaan.
Perusahaan mengimplementasikan whistleblowing system sebagai alat
manajemen untuk membantu Penegakan etika perusahaan. Melalui sistem ini
diharapkan semua pemangku kepentingan mau melaporkan dugaan pelanggaran
etika yang dilakukan oleh oknum pegawai Garuda. Etika Bisnis dan Etika Kerja
serta whistleblowing system disosialisasikan pula kepada Mitra Usaha sehingga
Mitra usaha dapat membantu proses penegakkan etika di Perusahaan serta bersamasama menciptakan lingkungan bisnis yang bersih dan bermartabat. Tata nilai "FLY
HI" dan etika Perusahaan merupakan soft structure untuk membangun Budaya
Perusahaan sebagai pendekatan yang digunakan Garuda untuk mewujudkan tata
kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

General Business Environment

BAB III
ANALISIS BISNIS FAKTOR LINGKUNGAN EKSTERNAL
3.1 Lingkungan Pembangunan Ekonomi
Mengamati indikator pembangunan ekonomi fokusya tidak hanya pada
monetary indicators (real income percapita dan Net Income welfare) melainkan nonmonetary indicators (Health, education, housing, consumption, telekom facilities)
dan mixed indicator juga (Life expectancy, literacy rate, income percpita). Kalau
diklasifikasikan meliputi beberapa sektor berikut: a). Sektor budaya yaitu kesadaran
masyarakat akan perilaku mematuhi peraturan, displin, kesehatan, semakin respek
dan toleran b).Sektor Sosial yaitu msyarakatnya demokratis, meningkatnya tingkat
pendidikan, mobilitas vertikal, dan sberkurangnya kelas sosial. c). Sektor Politik
yaitu demokratis dan hak untuk berpolitik dipilih atau memilih d). Sektor Ekonomi
yaitu semakin menurunya kemiskinan, pengangguran, meningkatnya pendapatan 3.
Berdasarkan pengertian pembangunan ekonomi, bahwa pembangunan ekonomi
hubungannya saling terkait dengan pertumbuhan ekonomi, dengan kata lain
pembangunan ekonomi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, begitupun
sebaliknya bagaimana pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi industri penerbangan
3Arsyad, Lincolin. 2014. Economic development Bahan ajar General biusines
environment. MM UGM: Yogyakarta

General Business Environment


khususnya Garuda Indonesia dapat berpengaruh pada pembangunan ekonomi itu
sendiri.
Indikator moneter dan non moneter Pembangunan ekonomi Indonesia yang terus
menunjukan peningkatan pada pertumbuhan ekonomi dari tahun ketahunnya
ditunjukan dengan data real income perkapita dan Net Economic Welfare.
Pendapatan per kapita dapat merefleksikan Produk Domestik Bruto (PDB) per
kapita. Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan
tingkat pembangunan sebuah negara, semakin besar pendapatan per kapitanya,
semakin makmur negara tersebut.

10

General Business Environment


Pendapatan rata-rata penduduk Indonesia dalam setahun berdasarkan data
BPS Pendapatan per kapita di Indonesia pada tahun 2011 sebesar Rp 27.487.046.94
per tahun atau sekitar Rp 2.290.587,24 per bulannya. Ini merupakan angka tetap,
yaitu angka yang resmi ditetapkan oleh BPS sebagai Pendapatan per kapita di
Indonesia. Sedangkan pada tahun 2012, Pendapatan per kapita penduduk Indonesia
menunjukkan peningkatan hingga menjadi Rp 30.674.674,07 per tahunnya, atau
sekitar Rp 2.556.222,84 per bulan. Ini merupakan angka sementara dan masih bisa
berubah walaupun perubahannya tidak akan melenceng jauh. Dan pada tahun 2013,
pendapatan per kapita Indonesia kembali meningkat di angka Rp 32.463.736,28 per
tahun atau sekitar Rp 2.705.311,36 per bulan. Angka terakhir ini adalah angka sangat
sementara yang berarti masih sangat mungkin terjadi perubahan dan nilainya sangat
fluktiatif. Berikut grafiknya.
Grafik 3.1 Pendapatan Per Kapita di Indonesia Tahun 2011-20144

4 Badan Pusat Statistik Indonesia.2014. http://www.bps.go.id/index.php, diakses tanggal 25


September 2014.

11

General Business Environment


Sedangkan untuk tahun 2014, BPS belum merilis hasil penelitian statistik resmi
mengenai Pendapatan Per Kapita di negara Indonesia. Sedangkan data BPS yang
menunjukan Non monetary Indicators dari tingkat kemiskinan, Pengangguran, dan
GDP growthnya sebagai berikut:

Grafik 3.2 tingkat kemiskinan, Pengangguran dan GDP Growth5


Sumber BPS
Sejak tahun 2006 walaupun agak lambat persentase penduduk miskin
indonesia mengalami penurunan secara konsisten tiap tahunnya, Penurunan jumlah
penduduk miskin sejalan dengan tambahan penciptaan lapangan kerja sehingga
menurunkan tingkat pengangguran. Akan tetapi, pada kurun waktu 2001-2005
tingkat pengangguran naik justru ketika pertumbuhan ekonomi meningkat.
Sebaliknya, pada periode 2007-2009 dan 2011-2013, tingkat pengangguran justru
terus turun padahal pertumbuhan ekonomi melambat. Bahkan, pada tahun 2009
ketika krisis keuangan global membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot
cukup tajam, tingkat pengangguran tetap turun lumayan. Hal ini biasa terjadi karena
banyak pekerja di Indonesia terlalu miskin untuk menganggur. Jika terjadi
pemutusan hubungan kerja (PHK) hari ini, keesokan harinya harus mendapatkan
5 Ibid

12

General Business Environment


pekerjaan baru, apa pun pekerjaan itu Jadi, rendahnya tingkat pengangguran tidak
mencerminkan kualitas kerja, tingkat kesejahteraan, atau kualitas pertumbuhan.
Berdasarkan data-data diatas bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi
dengan minat bepergian masyarakat sangat erat. Di Indonesia, dalam lima tahun
terakhir penumpang yang melakukan perjalanan dengan berbagai cara tumbuh 10
hingga 18 persen. semakin tinggi pendapatan perkapita masyarakat yang
mengakibatkan peningkatan kelas menengah. menumbuhkan minat melakukan
perjalanan termasuk jasa penerbangan, dengan begitu pertumbuhan perjalanan juga
akan semakin cepat. Dan juga daya beli semakin tinggi, keinginan bepergian
meningkat dengan menuntut waktu yang cepat, Karena itu penerbangan menjadi
salah satu pilihan. Dengan pertumbuhan penumpang tersebut, maskapai penerbangan
tidak memiliki pilihan selain harus menumbuhkan bisnis, termasuk memperluas
jaringan penerbangannya. Berikut data yang menunjukan pertumbuhan jumlah
pengguna jasa penerbangan dari tahun ke tahunnya.

13

General Business Environment

Grafik 3.3 pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang


Sumber: BPS
kontribusi sektor transportasi mencapai 2 kali persentase peningkatan GDP.
trend transportasi udara masih bertahan hingga 2030. Pasalnya, semakin banyak
orang yang beralih dari bus dan kereta api ke pesawat untuk kenyamanan dan
kecepatan.
3.1.1 Ancaman
Peluang atas pertumbuhan ekonomi ini tidak hanya dinikmati oleh Garuda
Indonesia semata melainkan banyaknya maskapai lain yang ikut menikmati seperti
Lion air, Air asia, Sriwijaya, dan juga perusahaan subtitutes dari transporatsi
tersebut. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan Garuda Indonesia
apabila perusahaan tidak melakukan inovasi dan peningkatan kualitas. Fenomena ini
dapat menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi Garuda Indonesia.
3.1.2

Opportunities
Semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi ditunjukan dengan indikator
tersebut memberikan peluang yang cukup berarti bagi Garuda Indonesia. berdampak
pada pergeseran selera dan prilaku masyarakat dalam membeli produk maupun jasa,
termasuk dalam penggunaan jasa penerbangan. Masyarakat dengan pendapatan yang
tinggi dan mengeluarkan biaya pesawat sebagai disposable income akan cenderung
mengutamakan kenyamanan dan kualitas dibanding harga yang lebih murah.
Pergeseran pendaparan masyarakat yang diiringi perubahan selera ini menjadikan
segmen pasar Garuda Indonesia semakin meningkat. Peningkatan ini juga diiringi

14

General Business Environment


dengan tingginya trafik penerbangan akibat transaksi bisnis yang sering dilakukan di
berbagai kota. Berikut ini data peninggkatan penumpang pada Garuda Indonesia6:
-

Jumlah penumpang diangkut meningkat terus dari tahun 2009 sebanyak


43,2%, 2010 sebanyak 47,3%, 2011 sebanyak 47,4 %. 2012, Garuda
mengangkut 20 juta penumpang yang didominasi domestik dengan
pendapatan Rp3,5 miliar. sebesar 6%, kontribusi terbesar datang dari sektor
transportasi yaitu tahun 2011 sebanyak 66,04 juta sedangkan 2012 mencapai
76 juta7. dan 2014 sebanyak 6.4 juta penumpang, tumbuh 15.6 persen
dibandingkan 2013, yaitu sebanyak 5.56 juta penumpang.

Frekuensi penerbangan domestik dan internasional Garuda Indonesia juga


meningkat 21.3 persen, dari 44,224 penerbangan pada 2013 menjadi 53,627
pada 2014.

Trafik penumpang Garuda Indonesia di dalam negeri pada periode 2014


mencapai 3.95 juta penumpang atau tumbuh 14.5 persen, lebih baik
dibanding maskapai lain yang rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 4.8
persen. Trafik penumpang Garuda Indonesia di rute-rute internasional pada
2014 sebesar 906 ribu penumpang, relatif stabil dibanding periode yang
sama tahun sebelumnya, yaitu 922 ribu penumpang.

Trafik penumpang Citilink, anak usaha Garuda Indonesia di segmen Low


Cost Carrier, pada periode 2014 meningkat 32.3 persen menjadi 1.57 juta
penumpang.

Market share Garuda Indonesia di pasar domestik sebesar 28.1 persen, dan
internasional 21 persen.

6
7 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kementrian perhubungan
Republik Indonesia. penumpang Udara 2012 Diperkirakan Naik 15 Persen.
http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1954 Diakses tanggal 20
sepetmber 2014

15

General Business Environment


3.1.3 Strategi
Berdasarkan analisa angka pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang
Indonesia saat ini dan berapa tahun kedepanya, dan semakin banyak kompetitor
maskapai

penerbangan

berlomba-lomba

meningkatkan

market

share

dari

peningkatan pertumbuhan ekonomi. Strategi yang dilakukan Garuda yaitu


menambah armada pesawat dan ekspansi rute-rute penerbangan baru di pasar
domestik dan internasional. Ekspansi tersebut didukung dengan pembelian armada
tipe-tipe baru seperti Boeing 777 khusus untuk penerbangan internasional,
sedangkan tipe CRJ bombardier NG dan ATR khusus untuk penerbangan domestik
yang menjangkau daerah-daerah kecil yang belum terjangkau
Ekspansi rute-rute baru tersebut dilakukan Garuda dengan membuka hub-hub
baru yang awalnya hanya di Jakarta, akan tetapi diluar jawa juga seperti hub
Makassar, hub Denpasar, Hub Medan dan Hub Surabaya. Sedangkan strategi Garuda
Indonesia dalam merespon meningkatnya jumlah penumpang yang prefer ke low
cost budget seperti Lion air, air Asia dan lain-lainya adalah dengan membuat anak
perusahaan yaitu citilink.
3.2 Lingkungan Kebijakan Monetary dan Fiskal
Terdapat dua kebijakan yang dibuat pemerintah dalam mengendalikan
perekonomian negaranya, pertama Kebijakan Moneter, Kebijakan Moneter adalah
usaha Pengendalian ekonomi makro melalui pengaturan jumlah uang yang beredar
yang mana dilakukan oleh bank sentral suatu negara8, agar perekonomian Negara
berjalan sesuai dengan yang diharapkan yaitu terjadi kestabilan harga dan inflasi
yang berlebihpun dapat diantisipasi. Jumlah uang yang beredar diatur dengan cara
menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter itu
sendiri digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :
8 http://www.organisasi.org/1970/01/definisi-pengertian-kebijakanmoneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-serta-penjelasannya.html

16

General Business Environment


a

Monetary Contractive Policy adalah suatu kebijakan dalam rangka


mengurangi jumlah uang yang beredar yang disebut juga dengan kebijakan
uang ketat (tight money policy)

Monetary Expansive Policy adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah


jumlah uang yang beredar.

beberapa instrumen pada kebijakan moneter, antara lain:


a

Open Market Operation adalah cara mengendalikan uang yang beredar


dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government
securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan
membeli surat berharga pemerintah yang beredar di masyarakat. Sebaliknya,
bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, pemerintah akan menjual
surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Contoh surat berharga adalah
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).

Discount Rate adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan


menaikkan atau menurunkan tingkat bunga bank sentral. Bank umum
terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank
sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan
tingkat bunga bank sentral, saat ingin menurunkan jumlah uang yang beredar
maka pemerintah akan menaikkan suku bunga acuan.

Reserve Requirement Ratio Merupakan langkah mengatur jumlah uang yang


beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus
disimpan pada pemerintah. Untuk meningkatkan jumlah uang yang beredarm
maka jumlah cadangan wajib yang diwajibkan diturukan rasionya, sedangkan
untuk mengurangi jumlah uang yang beredar maka rasio cadangan wajib
yang diwajibkan dinaikkan oleh pemerintah.

Moral Persuasion merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter untuk

17

General Business Environment


mengatur jumlah uang beredar dengan cara memberi himbauan kepada
pelaku ekonomi. Sebagai contoh, perbankan dihimbau untuk lebih selektif
dalam memberikan kredit kepada masyarakat untuk turut berperan dalam
mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Demikian sebaliknya,
pemerintah akan menghimbau kepada pelaku industri perbankan agar
meminjam uang lebih banyak ke bank sentral agar jumlah uang yang beredar
dimasyarakat bertambah.
Bulan oktober 2013 terjadi inflasi sebesar 8,32% dan terjadi penurunan
setengahnya sendiri yaitu sebesar 4,83%. Dengan adanya inflasi yang tidak menentu
mengakibatkan berimplikasinya harga-harga komponen-komponen pesawat menjadi
lebih mahal. Kedua dengan Kebijakan fiskal, Kebijakan fiskal merupakan suatu
langkah menjaga stabilitas keuangan dengan mengatur tingkat pengeluaran dan
penerimaan negara9. Kebijakan ini lebih berfokus pada maksimalisasi penerimaan
negara dan juga pengefisiensian pengeluaran negara. Pada umumnya penerimaan
negara berhubungan erat dengan faktor perpajakan. Dari sisi pajak jelas jika
mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Pada saat tarif
pajak diturunkan maka kemampuan/daya beli masyarakat akan lebih besar, Pada saat
tarif pajak dinaikkan, maka daya beli masyarakat akan menurun, dan hal ini akan
berdampak pada menurunnya output industri karena pasar yang tersedia untuk
produk tertentu akan menurun. Berkaitan dengan regulasi pajak dengan industry
penerbanganbahwa harga minyak didalam negeri yang lebih mahal dibandingkan
minyak diluar negeri membuat pesawat dalam negeri harus mencari strategi yang
baru dalam mengatasi hal tersebut agar bisa bersaing dengan airlinea asing
khususnya
3.2.1 Ancaman
9 http://www.organisasi.org/1970/01/definisi-pengertian-kebijakanmoneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-serta-penjelasannya.html

18

General Business Environment


Ancaman yang muncul dari adanya kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan
pemerintah berhubungan dengan industri penerbangan dimana industry penerbangan
mayoritas sparepart dan komponennya banyak didatangkan dari luar negeri dan
masih sangat tergangtung pada produk negara lain hubungannya dengan kebijakan
fiskal yaitu penetapan regulasi pajak atas barang impor yang sangat tinggi akan
mengakibatkan ancaman tersendiri bagi maskapai penerbangan dalam negeri
khususnya Garuda Indonesia yang mengakibatkan pasa penetapan harganya menjadi
lebih tinggi akan tetapi tetap harus bisa bersaing denga iarlien asing.
3.2.2 Opportunities
Pada masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudoyono diberlakukan
regulasi baru bahwa pajak pembelian avtur dibebaskan khusus untuk penerbangan
keluar negeri, hal ini bertujuan untuk meningkatkan atau mendorong maskapai
dalam negeri untuk meningkatkan frekwensi penerbangan ke luar negeri. Penetapan
kebijakan tersebut merupakan peluang tersendiri bagi Garuda Indonesia agar lebih
bisa melebarkan sayapnya tidak hanya pada penerbangan domestik saja dan juga
dapat bersaing lebih kompetitif lagi dengan maskapai asing mengingat bahan bakar
didalam negeri lebih mahal dibandingkan diluar negeri.
3.2.3 Strategies
Menanggapi ancaman penetapan kebijakan pemerintah atas pajak barang
impor maka strategi yang saya rekomendasikan adalah dengan cara leasing yaitu
pembelian komponen-komponen pesawat tidak langsung impor akan tetapi misalnya
melalui bisa melalui rekanan yang merupakan perusahaan yang bersiafat foreign
dirent investment. Sedangkan startegi dalam menanggapi adanya regulasi tentang
tidak dikenakannya pajak atas pembelian avtur khusus keluar negeri adalah dengan
membuka rute-rute baru yang memang banyak dibutuhkan oleh pengguna jasa

19

General Business Environment


penerbangan seperti penerbangan ke Negara-negara Eropa tidak hanya Amsterdam
dan London saja.
3.3 Lingkungan Kebijakan Industri dan Sektoral
Industri penerbangan bertumbuh dari waktu ke waktu Sektor industri penyedia
pelayanan penerbangan dimonopoli BUMN. Tarif perusahaan penerbangan tidak
boleh lebih tinggi dari tarif batas atas yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan.
dengan adanya kebijakan transportasi neoliberal, Dalam kebijakan neo-liberal,
perusahaan penerbangan berhak memilih pelayanan yang akan diberikan, yakni
pelayanan penuh atau menengah atau minimum.
3.3.1 Ancaman
Dengan berkembang pesatnya industry penerbangan dan semakin banyaknya
competitor yang masuk apalagi competitor asing, maka hal ini merupakan ancaman
tersendiri bagi Garuda Indonesia, khususnya dalma hal persaingan harga mengingat
harga bahan bakar atau avtur di dalm negeri jauh lebih mahal dari pada Negara lain.
3.3.2

Opportunities

3.3.3

Strategies

20

General Business Environment


Startegi Garuda Indonesia dalam mengatasi ancaman-ancaman tersebut adalah
dengan meluncurkan anak perusahaan dengan menggunakan strategi low cost carrier
yaitu Citilink.

3. 4 Lingkungan Demografi
Indonesia, negara dengan bentuk demografi piramida tengah mengalami
kemajuan yang amat pesat. Hal tesebut ditandai dengan tingginya pertumbuhan
jumlah kelas menengah dan adanya bonus demografi. Pertumbuhan kelas menangah
akan memacu tumbuhnya industri transportasi. Transportasi berhubungan erat
dengan jangkauan dan lokasi kegiatan manusia, barang-barang dan jasa. Pentingnya
transportasi tercermin pada semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan
bagi mobilitas orang serta barang dari dan ke seluruh pelosok tanah air, bahkan dari
dalam negeri dan ke luar negeri.

21

General Business Environment


Indonesia memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang besar. Negara
dengan bentuk demografi piramida dimana penduduk usia muda mempunyai
komposisi dominan dengan usia rata-rata berumur 15-34 tahun, yang berarti masuk
pada usia kerja dan konsumsi atau biasa disebut dengan usia produktif. Penduduk
dengan usia produktif memiliki pendapatan diatas Rp. 20.000,-/ per harinya.
Berdasarakan kriteria World Bank yang mengkatagorikan masyarakat dengan
pendapatan diatas Rp. 20.000,- / hari. Maka dapat disimpulkan bahwa usia produktif
Indonesia tersebut termasuk kedalam kalangan kelas menengah. Yang mana
pertumbuhannya terus mengalami peningkatan. Kelas menangah dapat memacu
tumbuhnya industri transportasi. Hal ini dapat menguntungkan bagi indsutri
penerbangan

mengingat

pentingnya

transportasi

tercermin

pada

semakin

meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta barang.
Peningkatan diperkirakan terus terjadi hingga menyentuh angka 130 juta pada 2030
nanti.
Kebutuhan transportasi meningkat cukup tinggi, khususnya di antara para
pekerja (business traveller) dan pelancong (leisure traveller). Dari rata-rata kenaikan
GDP tahun 2012 sebesar 6%, kontribusi terbesar datang dari sektor transportasi yaitu
tahun 2011 sebanyak 66,04 juta sedangkan 2012 mencapai 76 juta 10. kontribusi
sektor transportasi mencapai 2 kali persentase peningkatan GDP. trend transportasi
udara masih bertahan hingga 2030. Pasalnya, semakin banyak orang yang beralih
dari bus dan kereta api ke pesawat untuk kenyamanan dan kecepatan 11. Berikut data
yang menunjukan pertumbuhan jumlah pengguna jasa penerbangan dari tahun ke
tahunnya.
10 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kementrian perhubungan
Republik Indonesia. penumpang Udara 2012 Diperkirakan Naik 15 Persen.
2013 Diakses pada tanggal 20 sepetmber 2014 dari
http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1954
11 Idem

22

General Business Environment

Grafik 3.4 pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang


Sumber: Badan Pusat satistik
3.4.1

Opportunity

Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat, yang juga berdampak pada


semakin bertambahnya katagori masyarakat kelas menengah di Indonesia,
memberikan peluang yang cukup berarti bagi Garuda Indonesia. Pergeseran status
masyarakat dari lower class ke katagori masyarakat middle class juga berdampak

23

General Business Environment


pada pergeseran selera dan prilaku masyarakat dalam membeli produk maupun jasa,
termasuk dalam penggunaan jasa penerbangan. Masyarakat middle class akan
cenderung mengutamakan kenyamanan dan kualitas dibanding harga yang lebih
murah. Pergeseran pendaparan masyarakat yang diiringi perubahan selera ini
menjadikan segmen pasar Garuda Indonesia semakin meningkat. Peningkatan ini
juga diiringi dengan tingginya trafik penerbangan yang dilakukan masyarakat middle
class akibat transaksi bisnis yang sering dilakukan di berbagai kota. Berikut ini kita
akan data peninggkatan penumpang pada Garuda Indonesia12:
-

Jumlah penumpang diangkut meningkat terus dari tahun 2009 sebanyak


43,2%, 2010 sebanyak 47,3%, 2011 sebanyak 47,4 % dan 2014 sebanyak
6.4 juta penumpang, tumbuh 15.6 persen dibandingkan Q1-2013, yaitu

sebanyak 5.56 juta penumpang.


Frekuensi penerbangan domestik dan internasional Garuda Indonesia juga
meningkat 21.3 persen, dari 44,224 penerbangan pada Q1-2013 menjadi

53,627 pada Q1-2014.


Trafik penumpang Garuda Indonesia di dalam negeri pada periode Q12014 mencapai 3.95 juta penumpang atau tumbuh 14.5 persen, lebih baik
dibanding maskapai lain yang rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar

4.8 persen.
Trafik penumpang Garuda Indonesia di rute-rute internasional pada
periode Q1-2014 sebesar 906 ribu penumpang, relatif stabil dibanding

periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 922 ribu penumpang.


Trafik penumpang Citilink, anak usaha Garuda Indonesia di segmen Low
Cost Carrier, pada periode Q1-2014 meningkat 32.3 persen menjadi 1.57
juta penumpang.

12PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Bukukan Pendapatan Operasi US$ 807.3
juta Sepanjang Q1-2014. Diakses pada tanggal 20 September 2014 dari
https://www.garuda-indonesia.com/id/id/news-and-events/news/garudabukukan+pendapatan-operasi.page

24

General Business Environment


-

Market share Garuda Indonesia di pasar domestik sebesar 28.1 persen, dan
internasional 21 persen.

3.4.2 Ancaman
Peluang atas kenaikan kelas menengah ini tidak hanya dinikmati oleh Garuda
Indonesia semata melainkan banyaknya maskapai lain yang ikut menikmati seperti
Lion air, Air asia, Sriwijaya, dan juga perusahaan subtitutes dari transporatsi
tersebut. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan Garuda Indonesia
apabila perusahaan tidak melakukan inovasi dan peningkatan kualitas, Dengan
semakin meningkatnya golongan middle class. Selain itu Indonesia juga turut
mengalami permasalahan pembangunan ekonomi yang sama dengan negara-negara
lainnya yaitu masalah pemerataan. Pembangunan dan aktivitas pemerintahan
maupun bisnis yang tersentralisasi di Pulau Jawa membuat adanya kesenjangan yang
cukup tinggi antara pembangunan dan perkembangan sosial ekonomi antara Jawa
dan luar Jawa.
Fenomena ini dapat menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi Garuda
Indonesia. untuk melakukan ekspansi pasar ke luar Jawa, mengingat daya beli
konsumen luar Jawa belumlah sekuat di Jawa dan hanya terpusat di kota-kota
tertentu seperti Makassar, Denpasar, atau Pontianak saja. Namun, konsumen di luar
Jawa tetap memiliki potensi yang sangat besar mengingat saat ini salah satu fokus
pembangunan pemerintah adalah daerah-daerah di luar Jawa yang ditandai dengan
pembangunan infrastruktur seperti bandara dan jalan raya yang tentu amat
menunjang aktivitas ekonomi dan bisnis.
3.4.3 Strategi
Berdasarkan analisa angka pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang
Indonesia saat ini dan berapa tahun kedepanya, dan semakin banyak competitor
maskapai

penerbangan

berlomba-lomba

meningkatkan

market

share

dari

25

General Business Environment


peningkatan pertumbuhan middle class tersebut. Strategi yang dilakukan Garuda
yaitu menambah armada pesawat dan ekspansi rute-rute penerbangan baru di pasar
domestik dan internasional. Ekspansi tersebut didukung dengan pembelian armada
tipe-tipe baru seperti Boeing 777 khusus untuk penerbangan internasional,
sedangkan tipe CRJ bombardier NG dan ATR khusus untuk penerbangan domestik
yang menjangkau daerah-daerah kecil yang belum terjangkau sehingga kesenjangan
pembangunan ekonomi tidak lagi tercentralisasi hanya di pulau jawa.
Ekspansi rute-rute baru tersebut dilakukan Garuda dengan membuka hub-hub
baru yang awalnya hanya di Jakarta, akan tetapi diluar jawa juga seperti hub
Makassar, hub Denpasar, Hub Medan dan Hub Surabaya. Sedangkan strategi Garuda
Indonesia dalam merespon meningkatnya jumlah penumpang yang prefer ke low
cost budget seperti Lion air, air Asia dan lain-lainya adalah dengan membuat anak
perusahaan yaitu citilink.
3.5 Lingkungan Regional
Fokus ekonomi global mengalami pergeseran tidak lagi hanya di benua
Eropa dan Amerika akan tetapi mulai bergeser pada negara-negara di benua Asia.
Hal tersebut dapat meningkatkan persaingan dan pertumbuhan ekonomi kawasan
tersebut, dalam kurun waktu hampir 30 tahun pertumbuhan ekonomi Asia
berkembang mengesankan, Pertumbuhannya jauh lebih tinggi hampir 7.5 kali lipat
dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3 kali lipat. Pertumbuhan tersebut
diperkirakan akan stabil, akan tetapi resiko yang akan dihadapinyapun tergolong
rentan. Kondisi global yang demikian akan terus meningkatkan persaingan baik
dipasar domestik ataupun pasar dunia. Hal tersebut akan mendorong kesadaran
negara-negara untuk melakukan regionalisasi dan integrasi ekonomi.
Bentuk kerjasama regional menjadi semakin meluas salah satunya
pemberlakuan ASEAN OpenSky yang akan ditetapkan pada tahun 2015 mendatang
akan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan industry penerbangan yang penting.

26

General Business Environment


Sebagai anggota dari ASEAN maka Negara-negara yang berada dikawasan tersebut
harus benar-benar menyiapkan diri dari Peluang atau ancaman yang akan dan harus
dihadapi dan bagaimana implikasi dari adanya pemberlakuan OpenSky pada tahun
2015 mendatang terhadap industri penerbangan Indonesia khusunya Garuda
Indonesia. Fenomena regionalisasi melalui pembentukan blok blok perdagangan
diberbagai kawasan menjadi tidak terhindarkan. Menurut Krugman (1993), integrasi
ekonomi dapat berdampak pada penurunan kesejahteraan hidup masyarakat apabila
terdapat negara yang secara ekonomi kuat menerapkan tarif yang tinggi terhadap
negara lain. Sedangkan menurut. Menurut Suarez (2000:1) pembentukan integrasi
ekonomi di suatu kawasan ditujukan untuk alokasi sumber daya lebih efisien,
mendorong persaingan, dan meningkatkan skala ekonomi dalam produksi dan
distribusi diantara negara anggota.
ASEAN OpenSky senantiasa berbenah untuk menyiapkan kerjasama yang
ada untuk kepentingan masing-masing negara. Masing-masing kawasan/blok
perdagangan memiliki rule of the game yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi
perekonomian regional yang terjadi. Dibentuknya kerjasama regional tersebut
semakin menunjukkan bahwa interdepensi perekonomian antar negara menjadi
semakin penting. Interdepensi ini dapat diwujudkan dengan interaksi ekonomi yang
saling menguntungkan pada negara-negara anggota. Pembentukan OpenSky ini
merupakan bagian dari upaya ASEAN untuk lebih mempererat integrasi ASEAN.
Selain itu juga merupakan upaya evolutif ASEAN untuk menyesuaikan cara
pandang agar dapat lebih terbuka dalam membahas permasalahan domestik yang
berdampak pada kawasan tanpa meninggalkan prinsp-prinsip utama ASEAN.
Implementasi ASEAN OpenSky pada tahun 2015 tentu membawa konsekuensi
tersendiri bagi aktivitas bisnis industri penerbangan Indonesia khususnya Garuda
Indonesia. Konsekuensi tersebut dapat berwujud ancaman sekaligus peluang yang
harus diantisipasi PT Garuda Indonesia untuk tetap mengoptimalkan kinerja dan
profitabilitasnya.

27

General Business Environment


3.5.1 Opportunities
Pada penerapan ASEAN OpenSky pelaku bisnis di Negara ASEAN mendapat
tantangan baru, sebagai pelaku bisnis Garuda Indonesia mendapat minimal 9 pesaing
dari negara lain. Beberapa analisa yang akan berdampak pada meningkatnya keluar
masuk atau mobilitas orang dari 9 negara ke Indonesia baik karena alasan transaksi
bisnis, ekspor, impor, pendidikan, kenegaraan dan juga alasan pariwisata. Mengingat
Indonesia merupakan Negara yang paling diincar karena kekayaan sumber daya
alamnya bagi para investor asing, dan 40% penduduk ASEAN adalah Indonesia,
sehingga Indonesia merupakan Negara dengan target pasar dan konsumen terbesar.
Dari kondisi Indonesia tersebut akan berdampak pada meningkatnya pengguna jasa
penerbangan sebagai pilihan yang paling efektif dan efisien dalam kegiatannya,
sehingga Garuda Indonesia akan terbanjiri konsumen-konsumen baru.
Selain itu peluang dari adanya ASEAN OpenSky ini akan mengurangi
interferensi pemerintah pada industri penerbangan membuat fleksibilitas operasional
yang maksimal untuk partner perserikatan perusahaan penerbangan sehingga
perusahaaan dapat memutuskan rute, kapasitas, harga dan hak-hak code sharing yang
tidak terbatas.
3.5.2 Ancaman
Apabila Indonesia tidak segera membenahi industri penerbangannya,
pemberlakuan ASEAN OpenSky pada 2015 bukan lagi menjadi peluang melainkan
suatu ancaman bagi keberadaan maskapai-maskapai Indonesia khusunya Garuda
Indonesia. Indonesia akhirnya hanya akan menjadi ladang empuk bagi maskapi
asing, terutama dari Negara tetangga sendiri, yaitu Malaysia dan Singapura.
1. Kebijakan OpenSky ASEAN dapat menghapuskan kendala yang ada di sektor
angkutan udara. ketidaksiapan berbagai aspek industri penerbangan akan
membuat pertahanan dan kedaulatan udara Indonesia terancam yang
pastinya berdampak pada operational Garuda Indonesia. Terganggunya

28

General Business Environment


kedaulatan disebabkan Indonesia dianggap tidak memiliki kemampuan
memadai dalam menjamin keamanan penerbangan, sehingga wewenang
pengaturan lalu lintas udara di wilayah kedaulatan Indonesia akan
diserahkan kepada Negara lain.
2. saat ini kondisi industri penerbangan Indonesia masih memiliki beberapa
kendala

untuk

mencapai competitive

platform yang

setara

dengan

tetangganya di lingkungan ASEAN. Yaitu masih menghadapi biaya bahan


bakar/avtur pesawat yang tinggi dibanding negara ASEAN
3. keterbatasan hal yang terkait dengan infrastruktur yang belum memadai
dibandingkan 9 negara lainnya dan ketatnya persaingan pelayanan, harga
dan promosi yang ditawarkan berbagai maskapai penerbangan.
4. kekurangan sumber daya manusia (SDM), terutama pilot. Kebutuhan pilot di
Indonesia sepanjang tahun 2011- 2015 mencapai 4000 orang, sementara
produksi sekolah pilot di Indonesia hanya sekitar 1600 personel. Ini berarti
terjadi defisit pilot sebanyak 2400 personil sampai tahun 2015.
5. Selain pilot, jam kerja dari bandara- bandara di luar Jawa masih begitu
terbatas, sehingga optimalisasi utilisasi pesawat di Indonesia belum
maksimal, terutama untuk penerbangan malam hari. Sampai sejauh ini,
tingkat utilisasi pesawat di Indonesia rata-rata hanya 9 jam per hari.
Persoalannya, jika penerbangan malam bisa serentak dioptimalkan, utilisasi
pesawat bisa naik rata-rata 11 jam per hari.
3.5.3

Strategies
Sebagai negara terbesar di Asean, Indonesia harus memanfaatkan peluang

yang legit ini. Dengan pasar domestik yang luas dan sektor maskapai penerbangan
lokal yang bertumbuh pesat serta sangat kompetitif, Indonesia harus bisa
memanfaatkan peluang besar dari kebijakan ASEAN OpenSky. Indonesia sebagai
negara kepulauan dan berpenduduk terbesar di Asean memiliki potensi pasar
angkutan udara yang sangat tinggi dibandingkan negara Asean lainnya.

29

General Business Environment


Bagaimana caranya agar OpenSky ini menjadi sebuah peluang besar bagi
Indonesia untuk memajukan bidang ekonomi. Dalam meningkatkan daya saingnya di
kawasan ASEAN dan regional, maka industri penerbangan Indonesia perlu
mengambil berbagai langkah besar, mulai dari kualifikasi SDM yang profesional,
standar keamanan penerbangan dan kualitas pelayanan yang baik. Industri
penerbangan juga membutuhkan manajemen profesional mengacu pada standar
internasional.
1. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di sektor penerbangan,
manajemen

dan

seluruh

karyawan

Garuda

Indonesia

harus

terus

meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dibidang masing-masing,


peningkatan kualiatas sumber daya manusianya dan yang berkompetensi
tinggi akan berdampak pada kualitas yang akan diberikan sehingga bukan
hanya sembilan Negara yang membanjiri pasar Indonesia, namun Garuda
Indonesiapun dapat Berjaya di kesembilan Negara tersebut. Tindakan real
yang dilakukan adalah Penandatangan PKB periode 2014-2016 itu dilakukan
oleh manajemen PT Garuda dengan Serikat Karyawan Garuda Indonesia
(Sekarga), Asosiasi Pilot Garuda (APG), Ikatan Awak Kabin Garuda
Indonesia (Ikagi) dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Imakgi)
merupakan salah satu cara Untuk dapat bersaing dengan tenaga kerja dari
negara ASEAN lainnya.
2. Strategi dalam mengatasi stabilitas keamanan udara dengan cara melakukan
diplomasi pertahanan ditujukan untuk saling memperkuat confidence
building measure (CBM) dan sekaligus memperkuat stabilitas kawasan yang
merupakan kepentingan bersama bagi negara-negara di kawasan tersebut.
Terjaganya stabilitas kawasan akan memberikan keuntungan bagi semua
negara kawasan, baik dari aspek politik, ekonomi maupun keamanan yang

30

General Business Environment


natinya berdampak pada lancarnya operational penerbangan Indonesia
khusunya Garuda Indonesia.
3. Strategi dalam menanggapi open skyteam maka Garuda Indonesia melalui
peraturan pemerintah salah satunya mengatur kebijakan menentukan jumlah
bandara yang akan digunakan maskapai asing, Selain itu pemerintah
menerapkan "benchmark" regulasi dengan standar yang jelas, menyediakan
informasi yang terbuka untuk perusahaan jasa angkutan udara dalam
penentuan "slot time". menerapkan "level playing field" agar perusahaan jasa
angkutan udara nasional dapat menguasai pangsa pasar dalam negeri.
kebijakan pemerintah dalam membangun kekuatan perusahaan angkutan
udara nasional diharapkan sebanding dengan kekuatan ekonomi secara
umum.
Strategi lain dalam mengahadapi competitor yang semakin banyak apalagi
dengan semakin banyaknya competitor asing yang masuk adalah dengan
memutuskan melakukan horizontal integration atau consolidation yaitu sesam
pesaing saling bekerja sama seperti bergabungnya Garuda Indonesia untuk menjadi
anggota SkyTeam pada awal tahun 2014 ini.
3.6 Lingkungan Domestik Politik
Kondisi

eksternal

seperti

stabilitas

politik

suatu

negara

patut

dipertimbangkan karena perubahan dalam suatu tindakan maupun kebijakan politik


di suatu negara dapat menimbulkan dampak besar pada sektor keuangan dan
perekonomian negara tersebut. Risiko politik umumnya berkaitan erat dengan
pemerintahan serta situasi politik dan keamanan di suatu negara Stabilitas politik
merupakan ancaman ketidakpastian yang paling berat daripada ancaman-ancaman
ketidakpastian lainnya seperti criminal attack, legal challenege, dan economic

31

General Business Environment


volatility. Dalam berbisnis sangatlah penting mempertimbangkan risiko politik dan
pengaruhnya terhadap organisasi.
Terdapat beberapa kategori risiko yang dinilai memiliki potensi yang cukup
besar untuk dihadapi bagi Garuda Indonesia berdasarkan identifikasi yang dilakukan,
beberapa ketidakpastian yang dihadapi dan memiliki potensi dampak negatif
terhadap operasional maupun tujuan perusahaan adalah risiko Politik dan Sosial.
Dengan luasnya jaringan penerbangan baik di rute domestik maupun international,
Garuda Indonesia dapat mengalami dampak negatif bila terjadi ketidakstabilan
politik, sosial dan ekonomi di Indonesia maupun di wilayah operasional lainnya.
Selain itu, aksi terorisme, wabah penyakit, dan insiden yang berdampak pada
pencitraan negatif terhadap keamanan dan keselamatan perjalanan di Indonesia,
memiliki potensi ancaman terhadap pertumbuhan trafik penumpang penerbangan
baik domestik maupun internasional. Penurunan trafik tersebut secara signifikan
dapat berdampak pada tingkat penumpang pesawat maupun pendapatan usaha.
Kita dapat melihat dari sejarah kasus masa lalu bagaimana politik domestik
yaitu peran pemerintah yang mengendalikan atas segalanya menghabiskan kejayaan
industri penerbangan yang berhasil dibangun dan tercapai oleh putra bangsa yaitu
Habibie pada zamanya Soeharto. Keberadaanya kini hanyalah sebagai bukti sejarah
bahwa Industri penerbangan Indonesia pernah mengalami kejayaan. Hal tersebut
disebabkan akibat adanya ketidakstabilan politik pada masa pemerintahan tersebut.
Perkembangan selanjut ketika dunia penerbangan semakin banyak pelakunya, yaitu
kebijakan transportasi pada orde lama yang cenderung sosialis. Yang mana
transportasi udara semuanya dikuasai oleh pemerintah mulai dari jenis pesawat, rute
penerbangan, frekwensi dan juga tarif.
Sedangkan Pada zaman Orde Baru, ideologi politik cenderung liberal.
Kebijakan

transportasi

yang

diterapkan

adalah limited

multi

airlines

system. Transportasi udara dilakukan oleh Garuda dan Merpati bersama-sama

32

General Business Environment


dengan swasta, tapi Garuda masih dominan. Garuda melayani rute nusantara dan
boleh menggunakan pesawat udara bermesin jet. Garuda juga dapat menentukan
besarnya tariff dan boleh menaikkan tarif 15 persen lebih tinggi dari tarif normal
bilamana menggunakan pesawat Airbus. Sementara perusahaan penerbangan swasta
melayani rute pengumpan dan tidak boleh menggunakan pesawat udara bermesin
jet. Tarifnya harus 15 persen di bawah tarif Garuda. Pada era reformasi kebijakan
transportasi mendirikan perusahaan penerbangan sangat mudah, perusahaan
transportasi darat, kereta api, dan kapal laut lumpuh dan perusahaan penerbangan
saling mematikan. Pemain lama berantakan, tidak mampu bersaing dengan pemain
baru. Setelah pemain lama rontok, mereka bersaing sesama pemain baru. Akibatnya,
terjadi perang tarif di bawah rekomendasi pemerintah. Keselamatan penerbangan
terabaikan. Kecelakaan pesawat udara semakin banyak. Perusahaan penerbangan
jatuh dan bangun. Akibatnya, masyarakat menjadi korban.
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009, kebijakan transportasi
menjadi neo-liberal, yang merupakan gabungan antara ideologi sosialis dengan
ideologi liberal.Tarif ekonomi diatur ketat oleh pemerintah untuk melindungi
masyarakat banyak. Tarif non-ekonomi tidak diatur oleh pemerintah dan diserahkan
kepada perusahaan penerbangan berdasarkah hukum pasar untuk menjamin
kelangsungan hidupnya. Dalam kebijakan neo-liberal masih terdapat persaingan
antar-perusahaan penerbangan. Namun persaingan tersebut tetap dikendalikan oleh
pemerintah.
Tarif perusahaan penerbangan tidak boleh lebih tinggi dari tarif batas atas
yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. dengan adanya kebijakan transportasi
neoliberal, Dalam kebijakan neo-liberal, perusahaan penerbangan berhak memilih
pelayanan yang akan diberikan, yakni pelayanan penuh atau menengah atau
minimum. Dari 23 perusahaan penerbangan berjadwal, hanya Garuda dan Batik Air
yang menyediakan pelayanan penuh. Ada 12 perusahaan penerbangan dengan
pelayanan menengah dan sisanya memberi pelayanan minimum. Untuk business

33

General Business Environment


class atau executive class diserahkan kepada perusahaan penerbangan masingmasing.
3.6.1 Ancaman
Ancaman yang muncul dari adanya stabilitas politik yang tidak stabil akan
mengakibatkan pada menurunnya daya Tarik wisatawan baik asing maupun local,
begitu juga para investor, dan juga penumpang yang bertujuan study aboard ataupun
didalam negeri akan menurun. Yang selanjutnya akan mengakibatkan lalu lintas
penerbangan berkurang sehingga potensi keuntungan bagi Garuda Indonesiapu akan
menurun.

3.6.2 Opportunities
Peluang yang muncul dari adanya stabilitas politik yang aman, damai dan
tentram maka hal ini berbalikan dengan ancaman. Kondisi politik Negara yang stabil
para investor, wisatawan, businessman tidak akan akan takut dan ragu dalam
melakukan perjalanannya ke Negara tersebut, sehingga denga stabilitas polotik
tersebut akan meningkatkan potensi lalu lintas udara meningkat sehingga frekwensi
penerbangan bertambah dan keuntungan yang akan didapatkan perusahaanpun akan
bertambah sesuai dengan meningkatnya pengguna jasa penerbangan.
3.6.3 Strategies
Dengan semakin banyaknya pemain dalam industri penerbangan ini,
menyebabkan tingkat persaingan antar operator transportasi udara menjadi semakin
tinggi. Sebagai akibatnya industri jasa penerbangan tersebut harus melakukan
penyesuaian harga jual ticketnya. Hal ini memaksa perusahaan jasa penerbangan

34

General Business Environment


untuk melakukan efisiensi setinggi mungkin, agar perusahaan tersebut tidak
mengalami kerugian terus menerus. Disamping itu memaksa maskapai penerbangan
untuk melakukan strategi bisnis yang berani dalam menghadapi kompetisi tersebut.
Merespon kebijakan pemerintah yang ssperti itu Garuda indonesia melakukan
inovassi dan diverifikasi agar tetap bersaing dan bisa memainkan perannya dalam
pasar, yaitu dengan product differensiasi dan inovative pricing berdasarkan customer
value setiap sub classes dengan tujuan dapat mengambil banyak surplus produsen
jika dibandingkan single price. Dan pola hub and spoke juga dilakukan garuda untuk
menekan effisiensi

dan memberikan harga yang murah dengan membuat anak

perusahaan citilink dengan sasaran kelas menengah kebawah dan menjadi strategi
yang baik bagi performa perusahaan.

3.6 Lingkungan Pemerintahan


Indonesia sebagai Negara dengan populasi terbesar ketiga didunia dan kaya
akan kekayaan alamnya yang terbentang luas dari sabang sampai merauke
menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial untuk digarap dan yang
sering kali diminati oleh para investor asing maupun local untuk membuka bisnis.
Menurut laporan Bank Dunia mengenai iklim investasi diantara faktor-faktor
stabilitas ekonomi makro, tingkat korupsi, birokrasi, dan kepastian kebijakan
ekonomi merupakan empat faktor terpenting yang menyebabkan keputusan para
pelaku bisnis untuk berivestasi atau tidak. Faktor penghambat bisnis yang
mendapatkan peringkat paling atas berturut-turut adalah birokrasi yang tidak efisien,
infrastruktur yang buruk, dan regulasi perpajakan. hampir seluruh urusan masyarakat
membutuhkan sentuhan-sentuhan birokrasi akan tetapi sistem birokrasi Indonesia

35

General Business Environment


yang kompleks, belum disupport dengan pelayanan public yang sesuai standarnya,
cenderung mempersulit perizinan, time consuming, dan highly cost.
Kondisi tersebut sesuai dengan laporan dari Bank Dunia di tahun 2005
menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara paling mahal, baik dalam arti biaya
maupun jumlah hari dalam melakukan perijinan bisnis. Tingginya biaya yang
dibebankan

untuk

pengurusan

hal

tertentu

baik

yang

berupa legal

cost maupun illegal cost, waktu tunggu yang lama, banyaknya pintu layanan yang
harus dilewati dan tidak berperspektif pelanggan. Dengan terpaksa tidak sedikit para
pelaku bisnis harus menyesuaikan kebiasaaan yang sudah berlaku seperti
mengeluarkan biaya-biaya yang tidak sedikit untuk melancarkan usahanya bahkan
sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk membuka bisnis harus ada uang yang
masuk ke kantong pribadi para oknum pemerintah baik dari tingkat bawah sampai
tingkat atas. Dengan kondisi dan hambatan-hambatan birokrasi yang telah disebutkan
diatas selain membuat para calon pembisnis enggan, menggap sulit atau bahkan
mengurungkan niatnya untuk membuka bisnis di Indonesia. Hal inilah yang mungkin
menyebabkan Indonesia tertinggal jauh oleh negara-negara tetangga seperti
Singapura, Malaysia dan Thailand.
3.6.1

Ancaman
Sistem birokrasi Indonesia yang kompleks, belum disupport dengan

pelayanan publik yang sesuai standarnya, bgitu juga banyaknya pintu layanan yang
harus dilewati, adanya legal cost maupun illegal cost akan menghambat/mempersulit
perijinan sehingga akan mengakibatkan time consuming, highly cost contohnya
Apabila Garuda ingin membuka rute baru, pembelian armada baru, maka hal ini
akan terkendala pastinya dengan peraturan daerah setempat yang menghambat.
Adanya prosedur birokrasi yang seperti itu juga akan membuat potensi KKN
semakin lebih gampang. KKN yang merajalela akan meningkatkan biaya yang harus

36

General Business Environment


dikeluarkan perusahaan karena biaya suap yang tidak sewajarnya akan dibebankan
ke biaya perusahaan. Dengan meningkatnya biaya operasional yang ada, tarif yang
dikenakan kepada konsumen akan semakin besar. Dengan tarif yang semakin besar
dikenakan kepada pengguna jasa udara, potensi menurunnya preferensi pengguna
jasa udara akan semakin meningkat dibanding jika tarif yang dikenakan lebih
terjangkau.
3.6.2 Peluang
Adanya strategi nasional STRANAS PPK 2012-2025 yang dicetuskan oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Dok Stranas PPK 2012-2025, melalui tindakan
pencegahan, penegakan hukum, harmonisasi peraturan perundang undangan,
kerjasama internasional dan penyelamatan aset, pendidikan dan budaya anti korupsi,
serta mekanisme palaporan pelaksanaan pemberantasan korupsi dapat membantu
menekan adanya tindakan potensi KKN di PT Angkasa Pura 1 jika strategi tersebut
dilaksanakan dengan baik di perusahaan.
3.6.3 Strategi
Strategi yang direkomendasikan dalam menanggapi isu diatas adalah dengan
melegalisasi prosedur birokrasi yang optimal dengan mengimplementasikan prinsipprinsip good corporate governance, implementasi E-Government yang mengacu pada
informasi teknologi. E-Government bukan sekadar pemakaian teknologinya tetapi
juga keharusan bahwa pemanfaatan teknologi membuat sistem pembuatan kebijakan
dan pelayanan publik akan lebih baik dapat memberikan banyak manfaat yang bisa
diperoleh seperti mengurangi celah untuk KKN. karena dengan sistem E-Governemnt
para pemangku kebijakan (birokrat) tidak bertemu langsung dengan para pengusaha
yang sering menjadi media dalam praktik-praktik KKN, baik dari birokrat yang
meminta uang pelicin ataupun para pengusaha yang ingin menyuap para birokrat agar

37

General Business Environment


urusan mereka dipermudah13. Dengan penerapan E-Government di Indonesia
nantinya yang mana sudah diterpapkan oleh negara tetangga seperti Singapura dan
Malaysia harapannya Indonesia tidak lagi tertinggal dan masalah-masalah budaya
birokrasipun mulai terminimalisir sedikit demi sedikit.
3.8 Lingkungan Internasional Politics
Era globalisasi dan digitalisasi memaksa hampir seluruh negara secara
langsung ataupun tidak langsung untuk saling bergantung dan membutuhkan
kerjasama satu sama lainnya baik kerjasama bilateral ataupun multilateral. Ketika
membahas mengenai kerjasama, maka tidak hanya unsur ekonomi saja yang
berperan didalamnya, melainkan faktor keamanan, lingkungan, teknologi dan juga
unsur politik. Begitu juga dengan hubungan internasional dimana tidak hanya
berbicara mengenai penyelesaian masalah-masalah dunia yang berkaitan dengan
perang, konflik dan military namun juga telah melibatkan dimensi ekonomi dalam
proses pelaksanaan hubungan antar aktor internasional.
Politik dunia tidak bisa dipahami lagi hanya sebatas melalui satu perpekstif
saja, studi hubungan internasional tidak cukup bila hanya membahas soal politik
tanpa mempelajari ekonomi. Maka dari itu, dikarenakan keterkaitan antara ekonomi
(kesejahteraan) dan politik (kekuasaan) inilah sehingga dikenal dalam hubungan
internasional sebagai ekonomi politik internasional. Ekonomi Politik Internasional
(EPI)

menurut

Mohtar

Internasional tahun 1989/1990,

Masoed
didefinisikan

dalam
sebagai

bukunya Ekonomi Politik


studi

tentang

saling

keterhubungan antara ekonomi dan politik dalam arena internasional14.


13 Kumorotomo, Wahyudi. 2009. Kegagalan Penerapan E-Government dan Kegiatan Tidak Produktif dengan
Internet. Tersedia pada . http://kumoro.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/kegagalan-penerapanegov.pdf. Diakses pada tanggal 29 September 2014 pukul 20.15

14Masoed, Mohtar. 2014. Domestic Politics. Bahan Ajar General Business


Environment. MM FEB UGM. Yogyakarta.

38

General Business Environment


Hubungannya dengan bisnis, maka keberlangsungannya tidak dapat lepas
dari pengaruh-pengaruh faktor eksternal seperti international politik diatas, Baik
pengaruh secara langsung (mikro) ataupun tidak langsung (makro) yang berdampak
pada kegiatan bisnis negara tersebut ataupun Negara-negara sekitarnya

yang

mempunyai hubungan baik secara geografis atau hubungan kerjasama. Contohnya


isu-isu politik internasional yang terkait dan berdampak terhadap instabilitas politik
negara misalnya seperti embargo, war, terrorism (suicide bombing), transnational
crimes, hijacking, dan lain-lain. Bagaimana dengan adanya pengaruh isu-isu politik
internasional seperti internasional terrorism memberikan dampak bagi keamanan
industri penerbangan PT. Garuda Indonesia.
Pengertian Terrorism menurut (Heywood, 2011) a form of political violence
that aims to achieve its objectives though creating a climate of fear and
apprehension. Sekarang ini dengan keberadaan ISIS (Islamic state of Iraq and
Suriah) yang bisa dikategorikan sebagai internasional terrorism berdasarkan definisi
diatas tersebut, ISIS yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya melakukan
rekruitmen anggota-anggotanya di berbagai Negara dan mempublish ancamanancaman melalui media untuk memberitahuan kepada dunia internasional tentang
keberadaanya. maka bagi beberapa Negara ataupun dunia internasional ISIS
merupakan ancaman baru yang harus diselesaikan dengan melibatkan partisipasi dari
banyak negara. Awal sejarah ISIS sendiri berasal dari warga Yordania bernama Abu
Musab al-Zarqawi yang menyatakan dukungannya kepada Osama Bin Laden dan
membentuk Al qaedah di Iraq setahun setelah invasi Iraq oleh Amerika Serikat. ISIS
merupakan kelompok Islam radikal yang banyak menguasai wilayah 40.000 km2
dari Irak utara dan barat dan juga Suriah timur, Kota-kota yang mereka kuasai
diantaranya adalah Mosul, Tikrit, Falluja dan Tal Afar di Irak, Raqqa di Suriah.
Jumlah milisi yang dimiliki ISIS menurut Pejabat AS memperkirakan sekitar 15.000
milisi aktif. Pengamat Irak, Hisham al-Hashimi mengatakan pada permulaan bulan
Agustus terdapat sekitar 30.000-50.000 orang.

39

General Business Environment


Sedangkan senjata yang dipakai ISIS yaitu berbagai jenis senapan kecil dan
senjata berat, termasuk senapan mesin di truk, peluncur roket, senjata antipesawat
dan sistem peluru kendali darat ke udara. Mereka juga merampas tank dan kendaraan
lapis baja militer Suriah dan Irak. Kira-kira bagaimana mereka mendapatkan dana
untuk pembiayaan organisasi dan pembelian senjata-senjata canggih. ISIS dilaporkan
memiliki 2 miliar dollar AS dalam bentuk uang kontan dan aset. Pada mulanya
dukungan keuangan didapat dari sejumlah orang di negara Teluk Arab. Sekarang
ISIS adalah organisasi yang membiayai diri sendiri, dengan pemasukan jutaan dolar
per bulan dari ladang minyak dan gas, di samping pajak, jalan tol, penyelundupan,
pemerasan dan penculikan.
Ancaman-ancaman yang akan muncul dari adanya keberadaan ISIS akan
membawa bencana bukan hanya di negara Timur Tengah saja, tapi juga bagi negaranegara lain. Jika stabilitas keamanan negara sudah terganggu maka akan merambat
ke sektor lainnya. Hubungannya dengan perusahaan Garuda dari adanya isu ancaman
tersebut maka Garuda Indonesia sebagai perusahaan penerbangan yang syarat akan
teknologi dan penuh akan

resiko dan benar- benar mengancam banyak nyawa

apabila terjadi pembajakan atau pengeboman seperti yang pernah dialami oleh
maskapai penerbangan Malaysia Airlines.
Ancaman lain yang memang harus dipilih oleh Garuda Indonesia sebagai
perusahaan penerbangan mau tidak mau harus menghindari atau tidak melewati ruterute konflik yang akhirnya berdampak pada pesawat yang harus mengeluarkan biaya
lebih untuk biaya pemakaian fuelnya. Sedangkan strategi yang harus dilakukan
Garuda Indonesia harus lebih mengetatkan level keamananya yang lebih canggih
baik pada konfigurasi pesawatnya ataupun mengupdate pelatihan sesuai dengan
perubahan-perubahan kemajuan teknologi kepada para awak kabin dan pilotnya agar
pesawat tidak mudah di hijack, selain itu bekerja sama dengan para pekerja ground
staff dibandara seperti petugas X-ray untuk lebih ketat lagi dalam melakukan

40

General Business Environment


pemeriksaan ataupun screening baik dari bawang bawaan ataupun kepada para
penumpangnya.
3.9 Lingkungan Proses Teknologi
Teknologi adalah seluruh pengetahuan, produk, proses, alat, metode, dan
sistem yang digunakan dalam pembuatan barang atau penyedia jasa. Kapti (2014).
Perkembangan dan kompetisi industri penerbangan yang begitu pesat dan syarat
akan high-techno memaksa perusahaan untuk selalu melakukan tranformasi melalui
pemanfaatan teknologi secara Efektif dan effisien. Sehingga competitive advantages
tercapai.

Peran teknologi dapat mempermudah proses kerja bila dibandingkan

dengan manual yang akan membutuhkan proses waktu lebih lama. Sehingga nilaiefektif dan efisien tidak tercapai.
Teknologi dalam kegiatan pengelolaan pelayanan jasa penerbangan berupa
Teknologi komunikasi penerbangan berupa radar dan sistem komunikasi lalu lintas
penerbangan dengan ATC (air traffic Control), teknologi scheduling dan time
management, teknologi employee management, teknologi pendukung safety dan
security, teknologi peningkatan services dan kepuasan pelanggan sehingga loyalitas
tercapai dan dapat meningkat. Dengan pemanfaatan teknologi tersebut maka
kegiatan yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan lalu lintas penerbangan
menjadi lebih mudah, efektif, efisien dan juga aman. Peningkatan

kualitas

pelayanan dengan melibatkan teknologi dimaksudkan untuk dapat meningkatkan


preferensi calon pengguna jasa penerbangan sehingga potensi keuntungan juga
meningkat
Perusahaan industri penerbangan yang semakin pesat persaingannya dan
syarat akan teknologi seperti Garuda Indonesia memanfaatkan penuh seluruh aspek
bisnis dan operational dengan memanfaatkan teknologi yang maksimal. Berikut

41

General Business Environment


teknologi-teknologi strategis yang dipakai Garuda Indonesia dalam menciptakan
kompetitive advantages dalam persainganya.
1. teknologi peningkatan services dan kepuasan pelanggan yang dilakukan
Garuda Indonesia adalah mengembangkan E-commerce, yaitu business to
business dan Bussines to custumer. Seperti personal online booking, service
online before flying sampai after arrival (self online check in, e-ticketing, ePayment), fasilitas aerobridge pada setiap bandara sehingga penumpang tidak
perlu naik turun tangga dan juga kehujanan pada saat musim hujan, fasilitas
first-class dengan segala full function equipment yang benar-benar dapat
memanjakan penumpang dari preflight, in flight dan post flight, fasilitas in
flight entertainment di kelas ekonomi yaitu AVOD (audio video on demand).
Bisa dibandingkan apabila tidak memanfaatkan teknologi dalam pelayanan dan
fasilitas servicenya, hal ini akan berdampak pada antrian yang panjang yang
tidak efektif yang dapat berdampak pada delaynya penerbangan dan kpasitas
bandara yang membludak.
2. Garuda Indonesia tengah melakukan program pengembangan armada melalui
penyederhanaan dan peremajaan pesawat (fleet revitalization) secara signifikan
dengan armada-armada baru seperti Airbus A330s, Boeing 737-800NG, dan
Boeing 777-300 ER. Garuda Indonesia menargetkan rata-rata usia pesawat di
bawah 6 tahun pada tahun 201515. Penggunaan teknologi baru dengan
pembelian pesawat-pesawat baru bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan, efisiensi biaya operasi, menurunkan tingkat emisi, serta mengurangi
tingkat kebisingan (noise reduction) yang ditimbulkan dari penerbangan.
Misalnya Pesawat ATR 72-600 dikenal dengan kehandalan, biaya operasional,
15 Garuda Indonesia Website. Operational penerbangan.2014. Diakses
pada tanggal 20 September 2014 dari https://www.garudaindonesia.com/id/id/investor-relations/garuda-indonesia-greenefforts/operasional-penerbangan.page

42

General Business Environment


dan konsumsi bahan bakar yang efisien. Dengan demikian, efisiensi bahan
bakar ini juga mengurangi dampak pencemaran lingkungan secara signifikan.
3. ATC Coordination16 : koordinasi dengan Air Traffic Controller (ATC) pada
setiap penerbangan untuk mendapatkan Direct Routing dan Optimum Flight
Level,

yang

berdampak

pada

konsumsi

bahan

bakar

yang

lebih

efisien.komunikasi ini dengan memanfaatkan internet dan teknologi radar yang


canggih. Radar merupakan perangkat vital dalam mengatur dan memonitor
setiap pergerakan pesawat. radar yang canggih, jumlah penerbangan yang ada
dapat semakin dipadatkan, sehingga efisiensi penggunaan bandar udara dapat
dioptimalkan sesuai kapasitas optimalnya. Komunikasi antar bandara dengan
take off landingnya pesawat harus dikoordinasikan dengan baik. sehingga
meminimalisir terjadinya kecelakaan atau tabrakan wktu landing dan take off.
Tanpa teknologi radar yang canggih koordinasi akan sulit dilakukan. Jika lalu
lintas pesawat sangat padat dan penerbangan menjadi kurang terkoordinasi
dan berefek pada kurang optimalnya penggunaan kapasitas bandar udara.
Pengoptimalan penggunaan kapasitas bandar udara dapat memberikan
keuntungan lebih, baik maskapai pengguna bandara, serta para penumpang
pengguna jasa penerbangan.
4. teknologi pendukung safety dan security sudah dilakukan dari semenjak
dibandara yaitu teknologi X-Ray yang dapat medeteksi barang-barang apa saja
yang tidak bole naik ke pesawat karena alasan keselmatan, adanya alat
pendeteksi bom, dan pendeteksi virus yang menular sehingga jika ditemukan
barang atau orang yang teridenfikasi virus menular tersebut maka barang atau
penumpang tersebut tidak boleh on board dan harus dikarantina. Sedangkan
teknologi pendukung safety dan security yang ada dipesawatnya yaitu sistem
16Operational penerbangan.2014. Diakses pada tanggal 20 September
2014 dari https://www.garuda-indonesia.com/id/id/investorrelations/garuda-indonesia-green-efforts/operasional-penerbangan.page

43

General Business Environment


locking door ke cockpit dan semua emergency exit yang sangat rahasia, hanya
air crew tertentu yang dapat mengakses apabila terjadi pembajakan di pesawat.
5. teknologi scheduling management Garuda menggunakan sistem Integrated
operation control system (IOCS)17 sistem ini meliputi perencanaan yang
dirancang termasuk rute garuda, aircraft plan, memantau pergerakan pesawat
sehingga jadwal tugas yang diterima pilot dan awak kabin dengan jadwal
Bandar udara sama sehingga keterlambatan, cancel, delay penerbangan dan
penyebabnya dapat diketahui dan ditangani secara langsung.
Tranformasi technologi yang adaptive dan semakin canggih mengikuti
perubahan-perubahan lingkungan eksternal diaplikasikan Garuda Indonesia dalam
segala aspek bisnisnya yang kemudian mempunyai dampak yang sangat signifikan
bagi keberlangsungan Garuda Indonesia khusunya menghadapai persaiangan yang
semakin ketat dari para kompititornya.
Dengan penggunaan teknologi tersebut, Garuda Indonesia bisa menjalankan
operationalnya secara efektif dan efisien dalam jangka panjang. Yang pada akhirnya
akan meningkatkan kepuasan dan loyalitas customer sehingga tujuan dari
manajemen yaitu meningkatkan profitabilitas perusahaanpun tercapai dengan
maksimal.
3.10 Lingkungan Teknologi Informasi
Tingkat persaingan industri penerbangan baik skala regional maupun
internasional terus berkembang begitu pesat dan ketat, hal ini memaksa para
perusahaan yang bermain didalamnya berlomba-lomba memberikan the best value
bagi para konsumenya. dan menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan
17 Sistem IOCS tekhnologi Garuda Indonesia 2013. Diakses pada tanggal
20 September 2014 dari http://best-easyseo.blogspot.com/2010/11/sistem-iocs-sistem-teknologi-informasi.html

44

General Business Environment


industri penerbangan bukan hanya dalam bentuk pembangunan fisik infrastruktur
melainkan juga ditekankan pada pembangunan infrastruktur informasi. Industri
penerbangan yang sarat akan pemanfaatan teknologi dan dengan adanya information
teknologi maka hal ini sangatlah tepat bagi pencapaian tujuan perusahaan dalam
melakukan kegiatan operasional dan pengelolaan data menjadi informasi yang
berkualitas.
Karena kemampuan perusahaan dalam mengelola informasi dan menggunakannya
secara efektif dan efisien dalam proses pengambilan keputusan akan menjadi faktor
kunci dalam menentukan posisi perusahaan di level persaingan regional maupun
internasional. manfaat penerapan information technologi khusunya enterprise
resources planning (ERP) pada industri penerbangan PT Garuda Indonesia dalam
mencapai tujuan perusahaaan untuk memperoleh keunggulan didalam persaingan di
industri penerbangan.
Kebutuhan untuk melakukan pertukaran informasi secara cepat, tepat dan
akurat telah membuat banyak perusahaan mencoba membuat sebuah sistem yang
dapat menyediakan informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing
perusahaan.

Efisiensi dan efektifitas merupakan alasan dasar untuk melakukan

perbaikan dari sistem yang lama ke bentuk sistem yang lebih baik lagi. Enterprise
Resources

palnning

(ERP)

merupakam

sistem

yang

di

gunakan

untuk

mengoptimalkan dan mengefisienkan setiap pertukaran informasi di sebuah


perusahaan, informasi yang digunakan perusahaan untuk mengintegraskan semua
proses jalannya perusahaan dari segala aspek. Penerapan ERP pada perusahaan
Garuda

Indonesia

menggunakan

ERP

untuk

menghubungkan

dan

mengsinkronisasikan tiap divisi sehingga mengurangi redudansi data, juga untuk


pelaporan pekerjaan tiap divisi ke divisi lain. Pada bagian penjualan proses dimulai
dari kostumer datang, kemudian membeli tiket, kemudian memasukkan data tersebut
kedalam sistem dan masuk ke dalam database kemudian muncul informasi berupa

45

General Business Environment


tampilan laporan penjualan pada bagian keuangan.

ERP merupakan peluang

tersendiri bagi Garuda yang menghasilkan jaringan informasi data yang akurat dan
cepat, sehingga memudahkan para analis untuk membuat laporan yang akurat dan
pemegang keputusan dapat membuat kebijakan strategi perusahaan yang tepat.
Modul ERP yang banyak digunakan oleh PT. Garuda Indonesia :

SD - Sales & Distribution : membantu meningkatkan efisiensi kegiatan


operasional berkaitan dengan proses pengelolaan customer order (proses
sales, shipping dan billing)

MM - Materials Management : membantu menjalankan proses pembelian


(procurement) dan pengelolaan inventory

PP - Production Planning: membantu proses perencanaan dan kontrol


kegiatan produksi

QM - Quality Management : membantu meningkatkan kualitas proses di


keseluruhan rantai logistik

PM - Plant Maintenance : sebagai solusi untuk proses administrasi dan


perbaikan sistem secara teknis

HR - Human Resources Management : membantu mengintegrasikan prosesproses HR mulai dari aplikasi pendaftaran, administrasi pegawai,
management waktu, pembiayaan untuk perjalanan, sampai ke proses
pembayaran gaji pegawai

FI -

Financial Accounting:

Mencakup standard

accounting cash

management (treasury), general ledger dan konsolidasi untuk tujuan


financial reporting.

CO Controlling : Mencakup cost accounting, mulai dari cost center


accounting, cost element accounting, dan analisa profitabilitas

46

General Business Environment

AM - Asset Management : Membantu pengelolaan atas keseluruhan fixed


assets, meliputi proses asset accounting tradisional dan technical assets
management, sampai ke investment controlling

PS - Project System : Mengintegrasikan keseluruhan proses perencanaan


project, pengerjaan dan control

Menurut buku Enterpise Resource Planning: Menyelaraskan Teknologi Informasi


dengan Strategi Bisnis ( Wawan, Falahah ) . Fase fase dalam penerapan ERP adalah
inisiasi, evaluasi, seleksi ( business process re-engineering, modification, training,
confertion of data ), go live, termination, exploitation & development. PT. Garuda
Indonesia sendiri telah berada pada fase termination, Sehingga dapat disimpulkan
penerapan ERP pada PT. Garuda Indonesia berhasil.
Industri maskapai seperti Garuda Indonesia yang syarat akan high teknologi dan
sangat bergantung pada system otomatisasi, apabila terjadi kerusakan atau kesalahan
pada satu system maka hal ini akan berdampak yang cukup fatal pada sitem lainnya
dan menganggu operationalnya. Ancaman dari adanya penggunaan teknologi IT
Based pada penerapan ERP adalah data-data yang dimiliki manajemen Garuda
memiliki kemungkinan bisa di copi atau dibajak oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab yang bisa saja data-data tersebut sangat rahasia dan bisa saja
mengancam keberlangsungan perusahaan.
3.10.1 Strategi
Strategi antisipasi harus disiapkan Garuda dalam mengatasi ancamanancaman diatas adalah diciptakannya data yang mempunyai proteksi keamanan level
tingkat tinggi sehingga data-data yang memang menjadi rahasia perusahaan sulit di
copi atau dibajak oleh perusahaan lain seperti proteksi enskripsi ganda 2048 bit, ERP
system yang diterapkan Garuda dalam mencapai tujuan bisnisnya. penggunaan ERP
yang semakin dalam aspek operasional bisnis memudahkan bisnis untuk bergerak
dengan lebih efektif dan efisien. ERP mampu memberikan data perancangan sistem

47

General Business Environment


kerja dan juga penjadwalan atau pengaturan alokasi kerja berdasarkan jumlah
sumber daya yang ada dan tingkat pekerjaan yang ada. Sistem akan melakukan
otomasi pemilikan pekerja untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan kualifikasi
pekerja yang akan disesuaikan dengan kebutuhan dalam suatu pekerjaan.
Pada umumnya ERP digunakan di perusahaan besar dengan tingkat
persaingan di industri yang ketat. perlindungan kepada data penting perusahaan
menjadi hal yang sangat memerlukan perhatian khusus mengingat ERP adalah
sesuatu yang riskan karena dapat diakses melalui internet. Akses melalui internet
berarti semua pihak bisa melakukan akses data tersebut, tentunya dengan otorisasi
yang sesuai untuk melakukan akses kedalam data di perusahaan. otorisasi pada
umumnya menggunakan sistem enkripsi berpassword. perkembangan teknologi saat
ini memungkinkan bagi pihak luar seperti peretas untuk melakukan akses paksa
kedalam sistem ERP suatu perusahaan melalui celah celah keamanan yang ada di
sistem perusahaan tersebut. faktor lain yang memungkinkan data perusahaan tersebut
berpindah ke tangan yang tidak berkepentingan bisa berasal juga dari pekerja
internal perusahaan sendiri. tidak akan ada yang bisa menjamin bagaimana seorang
akan melakukan kecurangan dengan membocorkan data perusahaan kepada
kompetitor di industri. untuk mensiasatinya, tentu keamanan sistem yang reliable
menjadi hal yang sangat penting untuk diperkuat dalam menjaga kerahasiaan data
perusahaan. penggunaan software, hardware, dan infrastruktur service penghubung
keduanya perlu dipilih dengan pilihan yang paling baik menggunakan kualitas paling
tinggi. Garuda bisa menggunakan sistem pelayanan terintegrasi dari penyedia sistem
terpercaya untuk melaksananakan ERP dalam bisnisnya dengan baik dan aman.
Dalam hal keamanan transaksi pengiriman data dari dan ke server, perlu
ditingkatkan menggunakan sistem ekripsi tinggi, Advanced Encription Standard
(AES) dengan 14 cycles of repetition for 256 bit key size bisa digunakan sebagai
acuan untuk digunakan pada sistem keamanan Garuda. Dengan digunakannya
enkripsi tingkat tinggi tersebut akan membuat para peretas lebih sulit untuk

48

General Business Environment


memasuki sistem yang ada di Garuda, dengan kata lain potensi berpindahnya data
dari garuda ke tangan yang tidak berkepentingngan menjadi kecil. Membangun pusat
data center terdedikasi milik perusahaan juga dapat diimplementasikan oleh Garuda.
dengan memiliki Data Center sendiri maka garuda akan menjadi perusahaan dengan
sistem infrastruktur teknologi sendiri yang sepenuhnya dapat dikendalikan oleh
garuda. Jaminan kerahasiaan data pribadi perusahaan menjadi jauh lebih terjamin
dan waktu off line server dapat diminimalkan tanpa adanya interupsi down time
mendadak seperti apabila menggunakan server dari penyedia layanan cloud yang ada
di pasar.
Pengamanan data dapat diperkuat dengan memberlakukan multi layer
authorization, atau biasa disebut dengan role based access control. role based access
control akan membuat pengamanan data ebih terjamin, dimana setiap pekerja dan
manajer di setiap divisi hanya akan punya akses untuk masuk ke sistem di bagian
kerja mereka saja. saat mereka melakukan log in ke sistem, apapun yang mereka
lakukan baik editing, uploading, maupun downloading atau modifying data akan
terekam kedalam log system, yang kemudian dapat digunakan untuk tracing data
apabila ada masalah. jika sampai ada data yang bocor keluar perusahaan akan lebih
mudah mengecek data bagian apa yang bocor, dan siapa yang bertanggung jawab
atas bocornya data tersebut dapat dengan mudah dilacak untuk dimintai
pertanggungjawaban. selain itu data pekerjaan dari masing masing pekerja dapat
terekam sehigga memudahkan penilaian kinerja pekerja melalui log data yang ada.
dengan penggunaan sistem ERP yang dilengkapi perlindungan yang memadahi akan
membuat efisiensi dan efektifitas operasional bisnis di Garuda semakin baik dan
dapat diandalkan, sehingga daya saing garuda dapat terus meningkat dan menjadi
maskapai yang semakin mampu bersaing di dunia internasional dengan tetap
mengedepankan keamanan data perusahaan dari pihak pihak yang tidak berwenang.
3.11 Lingkungan Alam

49

General Business Environment


Transportasi via udara mulai diminati banyak para businessman, wisatawan,
dan lain-lainya karena alasan efisiensi yang waktu yang jauh lebih cepat dan
memang masih menjadi satu-satunya transportasi yang paling cepat dibandingkan
transportasi lainnya via laut dan darat. Banyak sekali kemajuan dalam perkembangan
teknologinya pada transportasi udara ini, pabrik pesawat terbesar yaitu Boeing dan
Airbush berlomba-lomba menciptakan hal baru yang semakin canggih yang ada
dipesawat demi membuat para pengguna jasa penerbangan merasa nyaman, tenang
dan selamat selama didalam pesawat.
Namun seberapapun canggih dan hebatnya pesawat tersebut faktor cuaca
masih menjadi pokok masalah yang menarik dalam pembahasan transportasi udara
yang benar-benar harus dipertimbangkan, mengingat banyak sekali kecelakaan
pesawat terjadi akibat cuaca yang buruk.
Dalam dunia penerbangan, kondisi cuaca meliputi curah hujan, kelembaban
udara, jarak pandang, serta arah dan kecepatan angin merupakan informasi yang
penting untuk diketahui oleh awak pesawat. Sebuah flight plan suatu penerbangan
dibuat dengan mengacu pada kondisi cuaca, sehingga dibutuhkan weather forecast
yang akurat, termasuk di dalamnya kondisi cuaca di darat untuk keperluan proses
take off dan landing. Cuaca buruk dapat berdampak pada operasional penerbangan,
baik in-flight maupun ground operation.
Informasi mengenai kondisi cuaca dalam rute perjalanan penerbangan
sangatlah penting bagi para penerbang untuk mengantisipasi terjadinya kondisi
terkait dengan cuaca.Selain dibutuhkan sebagai referensi bagi penerbang, informasi
kondisi cuaca juga sangat dibutuhkan bagi para pekerja ground operations. Pekerjaan
terkait dengan ground handling, cargo handling, maintenance release, perawatan
pesawat serta segala pekerjaan operasional yang dilakukan di bandar udara juga
sangat membutuhkan informasi terkait dengan cuaca.
Indonesia Negara kepulauan yang memiliki letak geografis, letak geografis
berpengaruh terhadap keadaan alam, sedangkan letak astronomis berpengaruh

50

General Business Environment


terhadap iklim, Letak geografis disebut juga letak relatif karena posisinya ditentukan
oleh fenomena-fenomena geografis yang membatasinya, misalnya gunung, sungai,
lautan, benua dan samudra. Menurut letak geografisnya Indonesia terletak di antara
dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik.
Secara geografis wilayah Indonesia sangat luas, terbentang dari Sabang
sampai Merauke yang terdiri dari pulau-pulau, memiliki 17.000 buah pulau dengan
luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2. yaitu Kalimantan
(539.450 km) Sumatera (421.606 km) Sulawesi (189.035 km) papua (421.952) jawa
dan Madura (132.035 km).
Iklim Indonesia yang tidak terlalu berbeda dengan daerah katulistiwa di
samudera lainnya diseluruh dunia yaitu terdapat dua musim kering (panas) dan
hujan. Pengaruh Letak Astronomis Indonesia : Memiliki curah hujan tinggi,
Memiliki hujan hutan tropis yang luas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi,
Menerima penyinaran matahari sepanjang tahun, Banyak terjadi penguapan sehingga
kelembapan udara cukup tinggi. Sedangkan Pengaruh Letak Astronomis berdampak
pada jenis tanah di Indonesia
1.

Merah: Tanah Vulkanis banyak terdapat di daerah sekitar gunung berapi


terbentuk dari abu vulkanis yang telah mengalami proses pelapukan. Jenis
tanah ini umumnya mempunyai ciri berbutir halus, sifatnya tidak mudah
tertiup angin, dan jika terkena hujan lapisan tanah bagian atas menutup
sehingga tanah ini tidak mudah erosi. Jenis tanah ini sangat subur.
Pemanfaatannya biasanya dipergunakan untuk pertanian dan perkebunan.

2.

Biru: Tanah Aluvial sering disebut tanah endapan, yaitu berupa lumpur dan
pasir halus yang terbawa oleh air sungai, lalu diendapkan di dataran rendah,
lembah dan sekungan sepanjang daerah aliran sungai. Pemanfaatannya

51

General Business Environment


sebagai pertanian (persawahan) karena kondisi keasamannya yang sesuai dan
letaknya berada di daerah rendah.
3.

Merah muda: Tanah Laterit berwarna merah atau kekuning-kuningan. Tanah


laterit miskin akan unsur hara sehingga tidak subur. banyak dijumpai di
pegunungan yang hutannya sudah gundul karena adanya erosi (tererosi). Jenis
tanah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, harus segera diadakan penghijauan
atau reboisasi.

4.

Ungu: Tanah Litosol. Tanah ini sering juga disebut tanah berbatu-batu.
karena pelapukan batuan yang sempurna sehingga sukar ditanami. Sebagian
besar jenis tanah ini tidak bisa dimanfaatkan, hanya sebagian kecil yang
produktif dimanfaatkan untuk tanaman keras, tegalan, palawija, dan padang
rumput.

5.

Biru Muda: Tanah Organosol atau tanah gambut berasal dari bahan organik
yang terbentuk karena genangan air sehingga peredaran udara di dalamnya
sangat kurang dan proses penghancurannya menjadi tidak sempurna karena
kekurangan unsur hara.
Dengan mempelajari kondisi fisik wilayah Indonesia kita dapat mengetahui

bahwa Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi dari segi keadaan
alamnya, Hubungannya dengan Industri penerbangan Garuda Indonesia, tentunya hal
ini mempunyai dampak yang sangat serius dan harus dipertimbangakan dalam
pengambilan keputusan dari setiap operationalnya, mengingat bahwa pesawat hanya
akan diperbolehkan terbang (take off dan Landing) dengan kondisi-kondisi atau
cuaca tertentu. Maka dari situ dapat diperhatikan kira-kira ancaman apa aja yang
akan muncul dan juga peluang-peluang apa yang harus dihadapi managemen Garuda
Indonesia. Bagaimana kapabilitasnya dalam mengolah ancaman dan peluang tersebut

52

General Business Environment


menjadi sebuah strategi yang solutif sehingga hal tersebut justru bisa menjadi
kompetitif advantages tersendiri bagi perusahaan.
3.11.1 Ancaman
Ancaman dari adanya kondisi letak geografis dan letak astronomis Indonesia
adalah dapat menimbulkan atau berpotensi terjadinya bencana alam seperti banjir,
tanah longsor, gunung meletus, tsunami, gempa Bumi, hujan badai, kebakaran hutan
dan lain-lain. untuk alasan safety maka bandara-bandara tersebut ditutup tidak
diperbolehkan ada aktivitas landing dan take off sampai keadaannya benar-benar
kembali normal.
Begitu juga dengan daerah-daerah yang berpotensi terjadinya Gempa bumi,
tanah longsor ataupun Bandar udara yang lokasinya berdekatan dengan pantai
lansung seperti Aceh, Denpasar, Balikpapan, dan lain-lain. maka antisipasi bisa
terjadinya tsunami harus benar-benar diperhatikan. pada bulan-bulan tertentu juga
Indonesia mempunyai curah hujan dan angin yang tinggi yang seharusnya pesawat
bisa menghemat dengan memotong rute tapi untuk menghindari cuaca tersebut
Garuda memilih untuk berputar balik atau tidak memilih short cut rutenya sehingga
berpengaruh pada konsumsi fuel yang tidak efisien. hal ini dapat berdampak bagi
tingkat wisatawan yang menjadi enggan bepergian ke tempat wisata jika kondisi
wilayah wisata adalah kondisi yang rentan terhadap bencana. Menurunnya potensi
perolehan konsumen penerbangan berarti penurunan potensi keuntungan bagi
Garuda.
Kendala-kendala tersebut dapat menyebabkan jadwal penerbangan bisa
menjadi kacau, cancel flight (pembatalan penerbangan), delay (penundaan jam
penerbangan), divert (keadaan yang mengharuskan pesawat untuk landing tetapi
bukan dibandara on schedule melainkan dibandara lain yang terdekat) , go around
(keadaan yang membuat pesawat belum bisa landing dikarenakan alasan cuaca yang

53

General Business Environment


tidak mendukung atau alasan operational yang mengakibatkan pesawat harus
berputar-putar diatas sampai diperbolehkan landing). Dampak lain dari adanya
kondisi tanah yang gambut seperti di semarang maka pesawat-pesawat Garuda yang
boleh take off dan landing di Bandara achmad Yani tersebut bukan jenis pesawat
wide body tetapi hanya narrow body (pesawat kecil yang berkapasitas sekitar 100an)
Menurut mantan Kapten Pilot US Airways, John Cox, badai dan cuaca buruk
dapat membahayakan pesawat. "Badai dapat menyebabkan kerusakan struktur
pesawat, karena itu para pilot sebaiknya menghindari badai. Dengan radar cuaca dan
komunikasi untuk mengontrol lalu lintas udara, pilot dapat mengetahui daerah
terbang mana yang terdapat badai. Radar cuaca memiliki teknologi yang dapat
menunjukkan lokasi windshear. Windshear adalah perubahan keadaan udara yang
cepat, yang dapat memaksa pesawat turun kembali ke daratan. Faktor cuaca masih
turut menentukan efisiensi, kenyamanan, dan keamanan penerbangan.
3.11.2 Opportunities
Dengan kondisi alam wilayah Indonesia yang begitu luas dengan kecantikan
eksotisme alam berupa gunung, pantai, laut, sungai, danau, kawah, air terjun, dan
berbagai keindahan alam lainnya membuat wilayah Indonesia menjadi salah satu
tujuan utama untuk berwisata dan daya tarik bagi masyarakat dunia baik bagi para
wisatawan dalam negeri ataupun luar negeri.
Selain itu hal ini merupakan peluang untuk dijadikan sebagai lahan
memperoleh keuntungan. Dalam hal ini Garuda dapat memanfaakan potensi alam
Indonesia yang sangat indah dan beragam untuk dapat digunakan sebagai daya tarik
wisata, yang tentu akan mengundang banyak turis berdatangan untuk melakukan
kegiatan wisata. Dengan potensi wisata tersebut maka akan memberi potensi
keuntungan bagi garuda untuk dapat memperoleh semakin banyak calon penumpang

54

General Business Environment


yang akan melakukan perjalanan wisata menggunakan transportasi udara.
Sebagaimana Perjalanan wisata dengan pesawat udara akan tetap menjadi alternative
utama dalam melakukan perjalanan wisata karena tingkat efisiensi waktu yang baik
dibanding transportasi darat maupun laut.
3.11.3 Strategies
Strategi yang harus disiapkan Garuda Indonesia dalam menghadapi ancamanancaman dari adanya kondisi alam Indonesia tersebut adalah dengan lebih
disiapakannya antisipasi misalnya ketika musim Hujan turun agar operational
Garuda tidak terganggu maka Garuda harus mmelengkapi lebih lengkap lagi
Aerobridge/ Garbarata disetiap bandaranya, sehingga proses boarding dan disembark
berjalan dengan lancar dan penumpangpun tidak basah kehujanan, dan akhirnya
schedule penerbangan dapat berjalan sesuai jadwalnya.
Garuda dapat memakai dan membeli teknologi-teknologi canggih yang
terbarukan misalnya alat antipetir dipesawat dapat mengurangi resiko kerusakaan
pada pesawat, begitu juga penggunaan pesawat yang terbaru dengan tingkat efisiensi
bahan bakar tinggi juga dapat dimanfaatkan oleh Garuda, sehingga biaya operasional
yang dikeluarkan akan semakin kecil. Biaya operasional yang semakin kecil dapat
berkorelasi dengan harga tiket yang semakin ekonomis tanpa mengorbankan kualitas
layanan. Dan tentu dengan hal semacam ini akan dapat memperkuat tingkat
persaingan garuda di ranah maskapai penerbangan. Dengan kualitas yang layanan
yang baik beserta tarif terjangkaunya, tentu preferensi calon penumpang kepada
maskapai Garuda akan semakin meningkat.
3.12 Lingkungan Sosial
Berbicara tentang lingkungan sosial dan bisnis maka pembahasannya
mempunyai hubungan dua arah. Pertama, masalah sosial berpengaruh terhadap

55

General Business Environment


bisnis (eksternal faktor) yang kedua (internal faktor) bisnis yang dapat menimbulkan
masalah sosial, Ancok (2014). Untuk itu sebelum membuat keputusan harus
mempertimbangkan banyak faktor salah satunya faktor lingkungna sosial, apakah
benar dan strategis keputusan itu dibuat atau justru merugikan. Dahulu faktor sosial
tidaklah dianggap penting namun berdasarkan analisa dan penelitian, faktor sosial
disadari sebagai salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjalankan
bisnis.
Lingkungan sosial berpotensi mengundang konflik atau justru sebaliknya.
Penyebabnya karena adanya pengelompokan dan perbedaan baik dalam agama,
orientasi politik ataupun status sosial didalam masyarakat tesebut. Sedangkan fokus
pembahasan paper ini adalah mencoba menganalisa bagaimana faktor-faktor
lingkungan sosial Indonesia yang berpotensi konflik khusunya perbedaan agama
tersebut berdampak pada bisnis penerbangan Garuda Indonesia.
Tahun

2014

Populasi

penduduk

Indonesia

diperkirakan

mencapai

253.899.536 jiwa. Dimana Indonesia termasuk kedalam Negara dengan Populasi


terbesar ke 4 didunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat 18. Sebagai Negara
dengan populasi keempat terbesar didunia, Indonesia mengakui dan percaya adanya
Tuhan yang Maha Esa seperti yang tercantum dalam sila pertama pancasila yaitu
ketuhanan yang Maha Esa. Ada 5
kepercayaan yang resmi diakui Negara Indonesia, yaitu : Islam, Kristen,
Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu. Berikut presentase grafik keenam agama tersebut.

18Indonesian Population. 2014 .Diakses pada tanggal 14 september 2014


dari http://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-population/

56

General Business Environment

presentase
islam
Kristen
hindu
budha
Khong Hu Chu

Grafik 3.5 presentase 6 Agama di Indonesia tahun 201419


Sumber : Badan Pusat statistic
Dari populasi yang sangat besar yang tersebar diberbagai propvinsi mulai
dari Aceh sampai dengan Papua mayoritas penduduk Indonesia sekitar 80%
menganut agama Islam. Karena itu Indonesia sangatlah kental dengan nilai-nilai
Islam dalam banyak aspek kehidupannya, banyak sekali peraturan, hukum dan adat
istiadat yang tidak terlepas hubungannya dengan islam, bahkan pemerintahpun ikut
andil mengaturnya contohnya saja sepeti seperti kewajiban rukun islam yang kelima
yaitu naik Haji. Permasalahan tentang naik Haji ini 100% sepenuhnya diatur oleh
pemerintah, dibawah kementrian negeri agama salah satunya maskapai apa saja yang
mendapatkan ijin untuk mengantarkan para calon jamaah haji. Pemerintah melalui
19 Jumlah penduduk berdasarkan agama. Diakses pada tanggal 14
September 2014 dari http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=agama1&info1=e

57

General Business Environment


Menteri Agama Umumkan 3 Maskapai yang resmi mengangkut para calon jamaah
Haji Indonesia, yaitu Garuda Indonesia, Lion air, dan sriwijaya.20
GA sebagai perusahaan BUMN mempunyai porsi besar dan mendominasi dalam
proyek haji ini. tidak hanya program haji yang hanya setahun sekali dalam kurun
waktu 3 bulan saja GA juga menjadi media transportasi masyarakat muslim
Indonesia dalam pemberangkatan Umroh yang setiap harinnya ada 2 sampai 3 kali
penerbangan, mengingat kuota naik haji yang selalu penuh dan mengharuskan
masyarakat muslim Indonesia untuk antri selama 3 sampai 7 tahun untuk bisa
menunaikan ibadah hajinya maka banyak masyarakat yang memilih untuk pergi
umroh terlebih dahulu.
Dalam mempelajari lingkungan sosial ada beberapa hal yang berpotensi
mengundang konflik, salah satunya perbedaan agama. Seperti yang telah diketahui
bahwa Indonesia mempercayai 5 keyakinan. Data-Grafik statistik populasi
perbedaan agama masyarakat Indonesia menjadi penting untuk diperhatikan, salah
satunya dalam kegiatan bisnis.
3.12.1 Peluang
Melihat faktor sosial Indonesia dengan perbedaan agama dengan mayoritas
presentase populasi beragam Islam, maka sangatlah disayangkan apabila populasi
sebesar ini dianggurkan begitu saja. GA melihat hal ini sebagai peluang besar yang
harus digarap. Mengingat aturan tentang maskapai pengangkut para calon Jamaah
haji diatur pemerintah, maka sebagai perusahaan BUMN GA mempunyai
kesempatan besar untuk mendapatkan potensial market dengan Jumlah jamaah haji

20 Menteri Agama Umumkan 3 Maskapai Angkutan Haji. 2014. Diakses pada


tanggal 15 September 2014 dari http://www.beritasatu.com/bisnis/43296-menteriagama-umumkan-3-maskapai-angkutan-haji.html.

58

General Business Environment


Indonesia, Jamaah terbanyak di Indonesia21. Berikut jumlah chart kouta tiap negara
berdasarkan 9 terbanyak.

180,000
160,000
140,000
120,000
100,000
presentase

80,000
60,000
40,000
20,000
0
Indonesia irak

tunisia sudan

turkey

Grafik 3.6 Jumlah kouta haji berdasarkan 9 terbesar didunia 201422


Sumber: Pakistan Defence & Strategic Affairs
Selain Haji GA juga memfasilitasi jamaah umroh dan para pahlawan devisa
Indonesia yaitu TKW/TKI yang banyak mengadu nasib ke Negara-negara timur
tengah merupakan salah satu peluang Garuda Indonesia dalam meningkatkan
kuantitas penumpang, mengingat bahwa pendapatan terbesar Garuda Indonesia
21 Edy. Tetapkan quota haji. 2014. Diakses pada tanggal 15 September
2014 dari http://haji.kemenag.go.id/v2/content/kemenag-tetapkan-kuotahaji-168800-orang
22Alhasani, 2014. Hajj 2014 Quota of Major Muslim Countries. Diakses pada
tanggal 15 September 2014 dari http://www.defence.pk/threads/hajj-2014-quotaof-major-muslim-countries-pakistan-indonesia-iraq-turkey-iran-morocco-tunisiaetc.298326/

59

General Business Environment


adalah dari penerbangan ke Negara-negar timur tengah yang tidak pernah sepi setiap
harinya.
3.12.2 Ancaman
Lingkungan sosial Indonesia dengan mayoritas agamnya Islam dapat
memberikan ancaman tersendiri bagi bisnis penerbangan GA diantaranya :
1. Isu terrorism dengan stereotype dunia internasional bahwa islam adalah
teroris23, ditambah isu ISIS (Negara Islam Iran dan Syiria) yang perekrutan
anggotanya banyak di Indonesia, Suicide bombing yang kerap kali terjadi di
Indonesia merupakan ancaman tersendiri yang berdampak pada penerbangan
Garuda Indonesia, baik dari sisi keamanan penerbangan itu sendiri ataupun
berdampak pada wisatawan asing yang enggan berkunjung karena isu-isu
tersebut.
2. Peraturan pemerintah yang mengatur maskapai penerbangan untuk pelayanan
haji tidak hanya Garuda Indonesia yaitu sriwijaya, Lion air dan Saudi Airlines
dapat menjadi ancaman atas pegurangan jatah apabila GA tidak memberikan
yang terbaik bagi para konsumennya. Selain itu banyaknya maskapai luar
seperti Saudi airlines, Singapore airlines, Etihad, emirates yang melayani rute
CGK-JED setiap harinya merupakan ancaman pangsa pasar.
3.12.3 Strategi Perusahaan
Strategi yang harus dilakukan management Garuda Indonesia dalam
menghadapi ancaman terhadap para kompetitor yang berpotensi dapat merebut
pangsa pasar Garuda Indonesia yaitu dengan konsisten terus melakukan perbaikan
dan pelayanan yang terbaik dalam segala aspek sehingga pelanggan akan enggan
pindah ke lain maskapai. Selain itu harus bisa memastikan kepada pemerintah bahwa
23 Warga Ceko Anggap Islam dan Muslim Sebagai Ancaman. Republika. 2014.
Dikases pada tanggal 15 Sepetember 2014 dari
http://palu.loveindonesia.com/news/id/news/detail/416105/riset-warga-cekoanggap-islam-dan-muslim-sebagai-ancaman

60

General Business Environment


perusahaan memang pantas diberikan mandate dalam menjalankan tugas Negara
yaitu mengantarkan para calon jamaah Indonesia.
Sedangkan strategi dalam menghadapi atau mengantisipasi adanya isu
teroris tersebut Garuda harus lebih mengetatkan tingkat keamanannya baik preflight,
inflight dan post flight agar jika ada penumpang ataupun barang yang berpotensi
mencurigakan akan teridentifikasi dengan cepat dan mudah sehingga pesawatpun
tidak bisa dibajak dan keselmatan para penumpangpun terjaga.
3.13 Lingkungan Budaya
Faktor non-ekonomi seperti budaya merupakan salah satu faktor penting yang
harus dipertimbangankan. kekuatan budaya merupakan faktor utama dalam
membentuk pemasaran global. Kedua, analisis budaya seringkali mempertemukan
titik-titik peluang pasar. Perusahaan yang mengenali norma-norma budaya di
bandingkan pesaing mereka akan lebih di untungkan dan sering memperoleh
keunggulan kompetitif.
Berikut Pengertian budaya menurut para ahlinya : Koentjaraningrat :
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan
relajar. Sedangkan menurut Edward B. Taylor : Kebudayaan merupakkan
keseluruhan

yang

kompleks,

yang

didalamnya

terkandung

pengetahuan,

kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan


lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.24
Indonesia Negara kepulauan yang sangat luas dan kaya akan keindahan kekayaan
alam, seni dan budaya. Dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia
banyak sekali yang mengagumi dan membanggakan, Bukan hanya di dalam negeri,
24 Abdullah Latif 2014. Potensi Indonesia Membangun Binis yang
Potensial Diakses pada tanggal 8 September 2014 dari http://latiefabdullah.blogspot.com/2013/05/pengaruh-budaya-dalammerumuskan.html

61

General Business Environment


bangsa lain pun mengakui keindahan Indonesia. Bahkan cagar budaya Indonesia
oleh UNESCO diakui sebagai warisan dunia. Contohnya,taman nasional Ujung
Kulon, taman nasional Komodo, taman nasional Lorentz, Hujan hujan tropis di
Sumatra, candi Borobudur dan candi Prambanan serta situs Sangiran25.
Selain itu dalam segi budaya, Indonesia memiliki kesenian wayang, keris,
batik dan angklung. Ketiga, Alam Indonesia sangat indah. Dari Aceh sampai Papua,
tak ada satu pulau pun di Indonesia ini yang tidak indah alamnya. Contohnya, Bali
yang keindahan pantai, pura dan tariannya sangat terkenal diseluruh dunia. Pulau
Belitung dengan pantainya yang indah, Pegunungan Karst Bantimarung, Sulawesi
Selatan, Goa Gong di Jawa Timur yang stalagtit dan stalagmit nya terkesan mistis
dan unik, Danau Sentani di Papua, Green canyon di Jawa Barat, Danau Gunung
Tujuh di Jambi, Danau Toba di Sumatera Utara, Taman laut Bunaken di Sulawesi
utara, Gunung Kelimutu di NTT, Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Anak
Krakatau di Selat Sunda, Carstensz Pyramid di Papua, Kepulauan Raja Ampat juga
ada di Papua, dan banyak lagi lainnya yang tidak bisa di sebutkan satu persatu26.
Keempat, Hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia (jajaran hutannya
dijuluki zamrud khatulistiwa). Karena masih banyaknya jenis tumbuhan, sehingga
dapat menyerap karbondioksida, sekaligus dapat menghasilkan oksigen. Bahkan
Pulau Kalimantan yang milik Indonesia ini dijuluki paru-paru dunia. Kelima,
Indonesia memiliki flora (Raflesia Arnoldi) dan fauna (Komodo) yang mana negara
lain di dunia tidak memilikinya.
3.12.1 Opportunities and its strategies
25Liputan 6 2013 budaya Indonesia Warisan Dunia Diakses pada
tanggal 12 September 2014 dari
http://news.liputan6.com/read/729319/budaya-indonesia-warisan-dunia
26 idem

62

General Business Environment


Garuda Indonesia sebagai perusahaan BUMN sebagai perusahaan (Flag
carrier) pembawa nama bangsa melihat keseluruhan kekayaan yang telah dijelaskan
diatas sebagai peluang besar yang brilliant yang harus dimanfaatkan, maka dari itu
Garuda melakukan country branding yaitu menjual keunikan nusantara Indonesia ke
masyarakat dunia untuk menembus pasar global. Dari peluang tersebut sudah
merupakan competitive advantages tersendiri bagi Garuda dalam memberikan
kualitas yang unggul dalam menggali kenyamanan penumpang dengan nilai-nilai
dasar tepat waktu dan aman, cepat dan tepat, bersih dan nyaman, andal, profesional,
kompeten, dan siap membantu dalam memberikan pelayanan terbaiknya.
Beranjak dari hal-hal tersebut management Garuda kemudian membuat
keputusan yang sangat strategis bagi perusahaan yaitu dengan melahirkan konsep
baru yang dikenal dengan Garuda Indonesia experience. konsep ini dikenalkan
Garuda tahun 2009Garuda Indonesia Experience adalah konsep layanan baru yang
menyajikan aspek-aspek terbaik dari Indonesia kepada para penumpang. Dengan
mengenalkan konsep tersebut menciptakan ciri khas yang membanggakan, sekaligus
meningkatkan cintra Indonesia di dunia Internasional. Konsep ini meliputi 5
pancaindra atau 5 sense (Sight, Sount, Scent, Taste, and Touch)27
1. Sight, Anda akan terbang memasuki dunia penuh konsep Sight tercermin
dalam desain interio dalam kabin pesawa yang dirancang dengan konsep
warna-warna alami dan motif motif tradisional Indonesia.
2. Sound, saat penerbangan bersama Garuda Indonesia,

Anda

akan

mendengarkan lantunan music tradisional Indonesia yang sangat unik.


Rasakan pengalaman khas Indonesia melaui kecanggihan perangkat hiburan di
dalam pesawat yang tersedia di penerbangan kelas eksekutif maupun
ekonomi.
27 Profil perusahaan 2014. Diakses pada tanggal 8 Septermber 2014 dari
http://garuda.lima-city.de/menu-garuda/garuda/garuda-html/garudaindo.html

63

General Business Environment


3. Scent, Keharuman aromatis yang diciptakan secara ekslusif. Begitu masuk
pesawat, Anda akan dimanjakan dengan keharuman yang merupakan
perpaduan dari minyak sari yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan juga
rempah seperti cengkeh dan pala yang memberikan sensasi menyegarkan
sekaligus menenangkan.
4. Taste, Garuda menawarkan menu makanan dan minuman yang bercita rasa
tinggi khas Indonesia. Memberikan pengalaman bersantap yang tersaji dalam
bentuk hidangan otentik dengan iringan senyuman awak kabin.
5. Touch. Setiap daerah memiliki istiadat yang berbeda dalam menyambut
kedatangan tamu. Sebgai ucapan selamat datang dan bentuk keramah
tamahan, yang terinspirasi dari penduduk local. Awak kabin Garuda Indonesa
akan memberikan salam Garuda Indonesia, yaitu sebuah layanan tulus dan
bersahabat yang menjadi ciri keramahtamahan Indonesia28.
Setelah diterapkannya new consept Garuda Indonesia experience dalam
management garuda terlihatlah banyak perubahan yang cukup signifikan misalnya
saja pada kenaikan jumlah pengguna jasa penerbangan garuda Indonesia dari tahun
sebelum diaplikasikannya konsep tersebut dibandingkan setalahnya. Selain itu new
concept tersebut mebuat positioning Garuda menjadi semakin lebih kuat dengan
country identity tersebut. berikut data perbandingan yang menunjukan kenaikan
jumlah pengguna jasa Garuda Indonesia dari tahun 2008-2013.
Year
2013
2012
2011
2010
2009
2008

passengers
24.965239
20.415.285
15.447.830
11.391.572
10.005. 983
10.534.090

28 2013Pengalaman terbang yang tak terlupakan bersama Garuda


Indonesia Diakses pada tanggal 12 Sepetember 2014 dari
http://travel.kompas.com/read/2013/05/20/08183912/Pengalaman.Terbang
.yang.Tak.Terlupakan.Bersama.Garuda.Indonesia

64

General Business Environment

Tabel 3.7 Data Penumpang Garuda Indonesia tahun 2008-2013


Sumber: Annual Report Garuda Indonesia
Internalisasi keanekaragaman budaya Indonesia dalam memberikan best
quality services kepada pelanggannya telah menjadikan Garuda Indonesia sebagai
perusahaan penerbangan mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri bagi para
konsumenya baik tingkat nasional ataupun internasional. Maka pendekatan
bisnispun menjadi sangat unik dan berbeda dengan cara yang dilakukan pengusaha
lain. Misalnya saja produk kreativitas designer kain Indonesia. Negara yang kaya
akan budaya merupakan positioning yang dapat digunakan sepanjang masa.
Kekhasan dari positioningnya akan sulit atau bahkan tidak dapat dititu oleh Negara
lain bahkan justru menjadi semacam statement akan keragaman potensi yang ada di
Indonesia menjadi sebuah jati diri yang menjual29.
3.13.1 Ancaman dan Strategi
Ancaman external factor yang kemungkinan dihadapai oleh Garuda
Indonesia dengan memnafaatkan kekayaan budaya nusantara yang sangat beragam
dengan jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit adalah Management Garuda
Indonesia harus selalu menciptakan inovasi-inovasi baru dari keanekaragaman
29Widyasena Sumadio. 2014 Positioning Negara kaya akan budaya
Indonesia Diakses pada tanggal 12 Spetember 2014 dari
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?
aid=10072&coid=1&caid=34&gid=2

65

General Business Environment


budaya Indonesia yang nantinya akan diaplikasikan pada services garuda, misalnya
saja menu service makanan Garuda yang akan selalu berubah tiap 6 bulan sekali.
Maka management Garuda harus bisa memilih menu yang cocok dan diterima oleh
masyarakat pelanggan garuda Indonesia.
Strategi yang dilakukan Garuda dalam memberikan new service menu,
pelanggan garuda menyukai menu tersebut atau sebaliknya adalah dengan
melakukan trial and error salah satunya dengan meminta pendapat dengan
membagikan questionnaire ataupun menanyakan langsung kepada penumpangnya.
Kalaupun banyak penumpang yang suka dengan menu tersebut maka menu tersebut
akan dijadikan menu favorit contohnya seperti rending.
Ancaman lain yang berpotensi bagi Garuda Indonesia adalah dibukanya
masyarakat ekonomi Asean pada tahun depan 2015, walaupun Indonesia kaya akan
budaya dan pariwisata yang sangat menggugah wisatawan baik lokal ataupun luar
negeri tetapi karena fakot-faktor lain seperti dari pemerintah dan infrastructure yang
belum memadai untuk mengakses lokasi pariwisata tersebut maka beberapa dari
wisatawan asing memutuskan untuk datang ke Negara lain yang lebih aman stabil
dan tenang dari segala aspeknya. Contohnya saja ketika ada kasus pembunuhan
munir di pesawat garuda Indonesia, hal tersebut sangat mempunyai dampak yang
singnifikan terhadap image Garuda Indonesia yang notabennya perusahaan BUMN
yang saharamnya mayoritas milik pemerintah Indonesia. Begitu juga dengan
multiple etnis yang menimbulkan konflik dibeberapa propinsi di Indonesia
menjadikan ancaman tersendiri bagi para pengguna jasa penerbangan apabaila
menginginkan berwisata ataupun datang ketempat konflik tersebut.
Strategi garuda Indonesia dalam menghadapi isu-isu ancaman tersebut dengan terus
melakukan perbaikan disegala aspek baik service, safety dan securitinya. salah satu
untuk menghilangkan image atau public opinion bahwa Garuda merupakan
perusahaan BUMN yang bisa diatur dan disetting mengikuti aturan pemerintah mulai

66

General Business Environment


pudar dengan dibuktikan bahwa kepemilikannya tidak lagi keseluruhan dipunyai
pemerintah Indonesia.
Kesimpulannya selain factor internal perusahaan yang memberikan peluang
dan ancaman tersendiri bagi keberlangsungan suatu perusahaan, Eksternal factorpun
mempunyai peranan dan dampak yang cukup signifikan bagi perusahaan, untuk itu
sebagai perusahaan haruslah peka , rensposif dan selalu siap terhadap berbagai
macam perubahan-perubahan eksternal maupun internal. Contohnya Garuda
Indonesia merupakan perusahaan yang peka dan responsive terhadap adanya factor
eksternal dan justru dapat merubahnya

menjadi peluang dan memberikan

competitive advantages sehingga gal tersebut dijadikan keputusan yang sangat


strategis bagi perusahaan itu sendiri.

67

General Business Environment

BAB IV
GRAND STRATEGIES AND RECOMENDATION

68

General Business Environment

REFERENCES
Ancok, Djamaludin. 2014. Lingkungan sosial dan pengaruhnya pada bisnis. Bahan
ajar General biusines environment. MM UGM: Yogyakarta
Arsyad, Lincolin. 2014. Economic development Bahan ajar General biusines
environment. MM UGM: Yogyakarta
Kumorotomo, Wahyudi. 2009. Kegagalan Penerapan E-Government dan Kegiatan
Tidak

Produktif

dengan

Internet.

Tersedia

pada

http://kumoro.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/kegagalanpenerapan-egov.pdf. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2014


Kuswanto, Kapti. 2014. Processing Technology. Bahan ajar General business
environment. MM UGM: Yogyakarta
Koentjaraningrat, ed. (1985). Manusia dan kebudayaan. Jakarta: Gramedia.
M. Ainul Yaqin. (2005). Cross-Cultural Understanding. Bahan Ajar Pendidikan
Multikulturalisme
Masoed, Mohtar. 2014. Domestic Politics. Bahan Ajar General Business
Environment. MM FEB UGM. Yogyakarta.

69

General Business Environment


Turban, Rainer. 2009. Introdution to information system, second edition: Jhon Wiley
& Sons (Asia) Pte Ltd
Winanti, Poppy. 2014. International Politic. Bahan ajar General Business
Environment. MM FEB UGM. Yogyakarta.
Annisa, Nurmaya. 2014. Dampak kebijakan regulasi penerbangan terhadap strategi
perusahaan

penerbangan

Garuda

Indonesia

http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=78095&lokasi=lokal.
Diakses pada tanggal 26 September 2014
Angkasa

2014.Dampak

transportasi

udara

neo-liberal

http://www.angkasa.co.id/index.php/airways/901-dampak-transportasiudara-neo-liberal dikases tanggal 26 september 2014


Alhasani. Quota of major muslim countries. Diakses pada tanggal 14 September
2014

dari

http://defence.pk/threads/hajj-2014-quota-of-major-muslim-

countries-pakistan-indonesia-iraq-turkey-iran-morocco-tunisia-etc.298326/
Ahmad Fathoni. Penerapan teknologi informasi dalam bidang penerbangan. 1
Agustus

2010.

Diakses:

pada

tanggal

17

September

2014

dari

http://ahmadfatoniofficial.wordpress.com/2010/08/01/penerapan-teknologiinformasi-dalam-bidang-penerbangan/.
Atmajay, Chrisna. Satu harapan. 2014. Indonesia mesti waspada dampak
serangan terhadap ISI. http://www.satuharapan.com/readdetail/read/indonesia-mesti-waspadai-dampak-serangan-terhadap-isis
Diakses tanggal 3 Oktober 2014
Badan Pusat Statistik Indonesia.2014. http://www.bps.go.id/index.php, diakses
tanggal 25 September 2014.

70

General Business Environment


Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kementrian perhubungan Republik
Indonesia. penumpang Udara 2012 Diperkirakan Naik 15 Persen.
http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1954

Diakses

tanggal 20

sepetmber 2014
Direktorat Jenderal perhubungan udara, kementrian perhubungan republik indonesia
2014

Udang-undang

penerbangan

http://hubud.dephub.go.id/?id/uu

diakses tanggal 26 September 2014


Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kementrian perhubungan Republik Indonesia.
penumpang Udara 2012 Diperkirakan Naik 15 Persen. 2013 Diakses pada
tanggal 20 sepetmber 2014 dari http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1954
Garuda Indonesia news and event, 2014. Garuda Indonesia Bukukan Pendapatan
Operasi Sebesar USD 1,725.4 juta Sepanjang Semester I 2013. Diakses pada
tanggal 20 Sepetember 2014 dari http://www.garuda-indonesia.com/id/id/newsand-events/news/garuda-indonesia-bukukan-pendapatan-operasi-sebesar-usd-1725-4-juta-sepanjang-semester-i-2013.page
Indo Aviation, Dirut Garuda: ATR 72-600 Pesawat Modern, Efisien, dan Nyaman. 2014.
Diakses

pada

tanggal

17

September

2014

dari

http://indoaviation.com/2013/11/25/dirut-garuda-atr-72-600-pesawatmodern-efisien-dan-nyaman/
Kompas. 2014.Apa sebenarnya keinginan ISIS
http://internasional.kompas.com/read/2014/09/05/09231871/Apa.Sebenar
nya.Keinginan.ISIS. Diakses tanggal 3 Oktober 2014

71

General Business Environment


Nerrisa. Analisis SWOT Garuda Indonesia dalam menghadapi persaingan pasar
penerbangan di Indonesia 2014. Diakses pada tanggal 20 September 2014 dari
https://www.academia.edu/4913088/Analisis_SWOT_Garuda_Indonesia_dala
m_Menghadapi_Persaingan_Pasar_Penerbangan_di_Indonesia
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Bukukan Pendapatan Operasi US$ 807.3 juta
Sepanjang

Q1-2014.https://www.garuda-indonesia.com/id/id/news-and-

events/news/garuda-bukukan+pendapatan-operasi.page. Diakses tanggal 20


September 2014
Profil perusahaan Garuda Indonesia. 2014. Diakses pada tanggal 8 Septermber 2014
dari

http://garuda.lima-city.de/menu-garuda/garuda/garuda-html/garuda-

indo.html
Proyeksi penduduk Indonesia 2014. Siakses pada tanggal 14 September 2014 dari
http://www.bappenas.go.id/files/5413/9148/4109/Proyeksi_Penduduk_Indo
nesia_2010-2035.pdf
Travel

okezone.com.

2014

pengaruh

badai

pada

penerbangan

http://travel.okezone.com/read/2013/04/29/407/799126/pengaruh-badaipada-penerbangan/large diakses tanggal 5 Oktober 2014


Sindonews. Industri Penerbangan Alami Pertumbuhan Pesat. 11 Desember 2013.
Diakses:

pada

tanggal

17

September

2014

dari

http://ekbis.sindonews.com/read/815807/34/industri-penerbangan-alamipertumbuhan-pesat.
World Bank (2005a). Iklim Investasi yang Lebih Baik bagi Setiap Orang, Laporan
Pembangunan Dunia 2005, The World Bank, Jakarta: Penerbit Salemba
Empat. Di akses pada tanggal 10 Oktober 2014

72

General Business Environment


______, Aviation News, 2014. pertumbuhn ekonomi indonesia beri dampak ke
industri penerbangan http://indo-aviation.com/2014/03/08/pertumbuhanekonomi-indonesia-beri-dampak-positif-ke-industri-penerbangan.

diakses

tanggal 25 September 2014.


______, BNISecurities,2014. Emirsya : Pertumbuhan ekonomi dorong dunia
peerbangan

http://bnisecurities.co.id/2013/06/emirsyah-pertumbuhan-

ekonomi-dorong-dunia-penerbangan. diakses tanggal 25 September 2014.


______, Indonesian Population. 2014 Diakses pada tanggal 14 september 2014 dari
http://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-population/
______, Menteri Agam umumkan 3 maskapai angkutan haji. 2014. Diakses pada
tanggal 14 September 2014 dari http://www.beritasatu.com/bisnis/43296menteri-agama-umumkan-3-maskapai-angkutan-haji.html
_______, Garuda Indonesia terbangkan 83144 calon Jemaah haji mulai hari ini.
2014.

Diakses

pada

tanggal

14

september

2014

dari

http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/09/01/garuda-indonesiaterbangkan-83144-calon-jemaah-haji-mulai-hari-ini
______, Kemenag tetapkan kuota haji tahun ini. 2014. Diakses pada tanggal 14
september 2014 dari

http://news.liputan6.com/read/2037667/kemenag-

tetapkan-kuota-haji-tahun-ini-168800-orang
_______.

2014 Annual Report Garuda Indonesia the Airlines of Indonesia.

http://www.garuda-indonesia.com/id/en/investor

relations/report/annual-

report.page (diakses pada tanggal 8 September 2014)


_______. 2014. Profil Perusahaan Garuda Indonesia The airlines of Indonesia i
http://www.garuda-indonesia.com/id/id/investor-relations/about-garuda-

73

General Business Environment


indonesia/corporate

profile/index.page

(Dikases

pada

tanggal

10

Sepetember 2014)
_______.

2010.

Pengaruh

Kebudayaan.

http://www.gottanachoo.blogspot.com/2010/10/pengaruh-kebudayaanterhadap-doing.html (Dikases pada tanggal 10 Sepetember 2014)


_______.2013.

Pengaruh

Budaya

Terhadap

Bisnis.

http://kensuryop.blogspot.com/2013/04/pengaruh-budaya-terhadapbisnis.html (Dikases pada tanggal 10 Sepetember 2014)


_____, 2008 Definisi pengertian kebijakan moneter dan kebijakan fiscal instrument
serta penjelasannya http://www.organisasi.org/1970/01/definisi-pengertiankebijakan-moneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-sertapenjelasannya.html
________, Sistem IOCS tekhnologi Garuda Indonesia 2013. Diakses pada tanggal 20
September 2014 dari http://best-easyseo.blogspot.com/2010/11/sistem-iocssistem-teknologi-informasi.html
______,2014.Dampak

Cuaca

Buruk

Terhadap

Penerbangan

http://idkf.bogor.net/yuesbi/eDU.KU/edukasi.net/Fenomena.Alam/Cuaca.Pe
nerbangan/materi3.html diakses tanggal 5 Oktober 2014
_____,

2012.pengaruh

hujan

pad

amesin

pesawat

http://www.ilmuterbang.com/artikel-mainmenu-29/faqs/623-pengaruhhujan-pada-mesin-pesawat. diakses tanggal 5 Oktober 2014

74

General Business Environment

75