Anda di halaman 1dari 179

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

SPESIFIKASI UMUM
BAB 1 PERSYARATAN UMUM
Bab 1.1 Ringkasan Pekerjaan
1.1.1 Uraian berbagai pekerjaan yang termasuk dalam Spesifikasi ini.
Ruang lingkup pekerjaan meliputi semua atau salah satu yang berikut ini :
1) Perbaikan jalan dan penambalan di tempat yang ditunjukkan pada gambar rencana atau yang diberi
tanda di lapangan termasuk rekonstruksi dan perbaikan lapisan perkerasan yang dirasa perlu.
2) Pelapisan ulang atau pembuatan kembali lapis kedap permukaan perkerasan, termasuk semua
pekerjaan penyiapan permukaan atau perataan yang diperlukan.
3) Pelebaran perkerasan dan pemindahan alinyemen yang ringan termasuk pembersihan lapangan dan
penyediaan bahu jalan serta saluran tepi yang baru seperti yang ditunjukkan pada gambar-gambar
proyek dan sebagaimana yang diminta oleh Direksi Teknik di lapangan.
4) Rekonstruksi perkerasan termasuk membentuk kembali dan membangun lapis pondasi bawah serta
lapis pondasi atas dan memasang lapisan permukaan aspal yang baru yang sesuai dengan dokumen
kontrak.
5) Rekonstruksi atau penyediaan saluran tepi jalan yang baru baik dengan lapisan maupun tanpa lapisan
dan gorong-gorong.
6) Perbaikan struktur yang berat maupun yang ringan untuk jembatan-jembatan dan struktur jalan lainnya
yang sesuai dengan dokumen kontrak, dan menurut pertimbangan Direksi Teknik di lapangan.
Bab 1.2 Mobilisasi
1.2.2 Umum
1) Mobilisasi sebagaimana ditentukan dalam kontrak ini meliputi pekerjaan persiapan yang diperlukan
untuk pengorganisasian dan pengelolaan pelaksanaan pekerjaan proyek. Ini juga akan mencakup
demobilisasi setelah penyelesaian pelaksanaan pekerjaan yang memuaskan.
2) Kontraktor harus mengerahkan sebanyak mungkin tenaga setempat dari kebutuhan tenaga
pelaksanaan pekerjaan tersebut dan bilamana perlu memberikan pelatihan yang memadai.
3) Sejauh mungkin dan berdasarkan petunjuk Direksi, kontraktor harus menggunakan rute (jalur) tertentu
dan menggunakan kendaraan-kendaraan yang ukurannya sesuai dengan kelas jalan tersebut serta
membatasi muatannya untuk menghindari kerusakan jalan dan jembatan yang digunakan untuk tujuan
pengangkutan ke tempat proyek.
4) Kontraktor harus bertanggung jawab atas setiap kerusakan pada jalan dan jembatan, dikarenakan
muatan angkutan yang berlebihan serta harus memperbaiki kerusakan tersebut sampai mendapat
persetujuan direksi.
5) Mobilisasi peralatan berat dari dan menuju ke lapangan pekerjaan harus dilaksanakan pada waktu lalu
lintas sepi dan truk-truk angkutan yang bermuatan harus ditutup dengan terpal.
1.2.2 Jangka Waktu Mobilisasi
1) Mobilisasi harus diselesaikan dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan kontrak, terkecuali
dinyatakan lain secara tertulis oleh Pimpinan Proyek.
2) Pembayaran mobilisasi untuk pekerjaan yang diuraikan sebelumnya harus dimasukkan dalam item
yang dinyatakan dalam daftar item pembayaran, dan tidak boleh ada pembayaran terpisah untuk item
ini.
1.2.3

Penyiapan lapangan
1) Kontraktor akan menguasai lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan pengelolaan dan
pelaksanaan pekerjaan di dalam daerah proyek.
1-1

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

2)

3)

1.2.4

Kontraktor harus mengikuti hal-hal berikut :


a. Memenuhi persyaratan Peraturan-Peraturan Nasional dan Peraturan-Peraturan Propinsi.
b. Mengadakan konsultasi dengan Direksi Teknik sebelum penempatan dan pembuatan Kantor Proyek
dan Gudang-Gudang serta pemasangan peralatan produksi (Plant) konstruksi.
c. Mencegah sesuatu polusi terhadap milik di sekitarnya sebagai akibat dari operasi pelaksanaan.
Pekerjaan tersebut juga akan mencakup demobilisasi dari lapangan pekerjaan setelah selesai kontak,
meliputi pembongkaransemua instalasi, plant dan peralatan konstruksi, serta semua bahan-bahan
latihan, semuanya berdasarkan persetujuan Direksi Teknik.

Pengukuran dan Pembayaran


Pembayaran untuk pekerjaan yang sudah selesai yang didiskusikan di dalam bab ini harus dimasukkan
dalam daftar item pembayaran, dan tidak boleh ada pembayaran terpisah untuk item ini.

Bab 1.3 Pengujian Lapangan


1.3.1 Umum
Kontraktor harus menyelenggarakan pengujian bahan-bahan kecakapan kerja untuk pengendalian mutu yang
dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan menurut perintah Direksi Teknik.
Pengujian-pengujian akan dilaksanakan oleh laboratorium kabupaten atau propinsi yang sesuai dengan
pengaturan oleh direksi Teknik. Pengujian khusus di laboratorium pusat harus juga dilaksanakan bila diminta
demikian oleh direksi teknik.
1.3.2 Pemenuhan Terhadap Spesifikasi
Semua pengujian harus memenuhi seperangkat standar di dalam spesifikasi.Bilamana hasil pengujian tidak
memuaskan, kontraktor harus melakukan pekerjaan-pekerjaan perbaikan dan peningkatannya jika diperlukan
oleh Pimpinan Proyek atau direksi Teknik, dan harus melengkapi pengujian-pengujian untuk menunjukkan
terpenuhinya spesifikasi.
1.3.3 Pengukuran dan Pembayaran
Kontraktor harus bertanggung jawab membayar biaya-biaya semua pengujian yang dilaksanakan untuk
memenuhi persyaratan spesifikasi. Biaya untuk pengujian Pengendalian Mutu yang ditetapkan di dalam bab
ini, harus dimasukkan ke dalam item pembayaran yang bersangkutan dan tidak ada pembayaran terpisah
yang akan dibuat untuk pengujian.
Bab 1.4 Pelaksanaan Pekerjaan
1.4.1 Umum
1) Uraian
Untuk menjamin kualitas, ukuran-ukuran dan kinerja pekerjaan yangb benar, kontraktor harus
menyediakan staf teknik berpengalaman yang cocok sebagaimana ditentukan dan memuaskan Direksi
Teknik.Staf Teknik tersebut jika dan bilamana diminta harus mengatur pekerjaan lapangan, melakukan
pengujian lapangan untuk pengendalian mutu bahan-bahan dan kecakapan kerja, mengendalikan dan
mengorganisasi tenaga kerja kontraktor dan memelihara catatan-catatan serta dokumentasi proyek.
2) Pemeriksaan Lapangan
Sebelum pematokan dan pengukuran di lapangan (setting out), kontraktor harus mempelajari gambargambar kontrak dan bersama-sama dengan Direksi Teknik mengadakan pemeriksaan daerah proyek,
dan khususnya mengukur/memasang lebar jalan, daerah milik jalan, alinyemen untuk setiap pelebaran
atau rekonstriksi drainase tepi jalan dan gorong-gorong, serta melakukan satu pemeriksaan yang terinci
semua bangunan jembatan yang diusulkan. Perubahan tempat/volume dari pemeriksaan tersebut di atas
harus dicatat pada Shop Drawings. Shop Drawings ini harus diserahkan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
sesudah Surat Perintah Kerja ditandatangani, kepada Direksi teknik untuk persetujuannya.
3) Patok-patok kilometer dan patok stasiun harus diperiksa dan dipindahkan bila diperlukan.
1-2

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

4)
5)

Pada lokasi dimana pelebaran harus dilaksanakan, potongan melintang asli harus direkam dan dijadikan
acuan.
Pada daerah-daerah perkerasan dimana satu pekerjaan perataan dan/atau lapis permukaan harus
dibangun, satu profil memanjang sepanjang sumbu jalan harus diukur, serta penampang melintang
diambil pada interval tertentu untuk menentukan kelandaian dan kemiringan melintang dan untuk
menentukan pengukuran ketebalan serta lebarnya konstruksi baru.

1.4.2 Pengendalian Mutu Bahan dan Kecakapan Kerja


1) Semua bahan yang dipasok harus sesuai dengan spesifikasi dan harus disetujui oleh Direksi Teknik.
Sertifikasi ujian pabrik pembuat harus diserahkan untuk semua item-item yang dibuat pabrik termasuk
aspal, semen, kapur, baja konstruksi dan kayu.
2) Kontraktor harus menyediakan contoh-contoh semua bahan di lapangan dan bilamana Direksi Teknik
meminta demikian, sertifikasi harus disediakan atau pengujian-pengujian dilaksanakan untuk menjamin
kualitas, sesuai table jadwal Frekuensi Minimum Pengujian Pengendalian Mutu, dalam Prakonstruksi.
3) Semua kecakapan kerja harus memenuhi uraian dan persyaratan spesifikasi dokumen kontrak dan harus
dilaksanakan sampai memuaskan Direksi Teknik. Bahan harus diuji di lapangan atau di laboratorium
selama konstruksi dan PHO sesuai jadwal pengujian minimum yang tercantum dalam jadwal Frekuensi
Minimum Pengujian Pengendalian Mutu atas permintaan Direksi Teknik dan Kontraktor harus membantu
serta menyediakan peralatan dan tenaga untuk pemeriksaan, pengujian dan pengukuran.
4) Disain campuran untuk aspal beton dan stabilisasi tanah harus disiapkan dan diuji sesuai dengan
spesifikasi dan tidak ada campuran yang boleh digunakan pada pekerjaan-pekerjaan proyek terkecuali ia
memenuhi persyaratan spesifikasi dan memuaskan Direksi Teknik.
5) Hasil semua pengujian termasuk pemeriksaan kualitas bahan di lapangan dan disain campuran harus
direkam dengan baik dan dilaporkan kepada Direksi Teknik.
1.4.3

Pengelola Lapangan dari Kontraktor


1) Kontraktor harus menunjuk seorang pimpinan lapangan untuk mengarahkan dan mengatur pekerjaan
kontrak, termasuk pengorganisasian tenaga dan peralatan kontraktor, serta bertanggung jawab bagi
pengadaan bahan-bahan yang sesuai dengan persyaratan kontrak. Pimpinan Lapangan harus memiliki
pengalaman paling sedikit selama 10 tahun pada pekerjaan proyek dan harus Tenaga ahli bidang Sipil
yang mampu.
Untuk perbaikan-perbaikan ringan dan pekerjaan pemeliharaan, persyaratan ini tidak diharuskan dan
tergantung kepada konfirmasi/persetujuan tertulis dari Pimpinan Proyek.
2) Kontraktor harus menyediakan layanan seorang Pelaksana lapangan yang mampu dan berpengalaman
untuk mengendalikan pekerjaan lapangan dalam kontrak, termasuk pengawasan lapangan, kualitas dan
kecakapan kerja, sesuai dengan syarat-syarat kontrak.

1.4.4 Pengendalian Lingkungan


Kontraktor harus menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh terhadap pengendalian pengaruh
lingkungan dan bahwa semua syarat-syarat disain serta persyaratan spesifikasi yang berhubungan dengan
polusi lingkungan dan perlindungan lahan serta lintasan air di sekitarnya akan ditaati.

1-3

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

BAB 2 DRAINASE

BAB 2.1 UMUM


2.1.1 Uraian Pekerjaan Drainase
1)

Pekerjaan drainase jalan yang dimaksud di sini akan terdiri dari pembangunan
saluran tepi jalan dan jalan air, gorong-gorong serta sarana drainase lainnya.

2)

Adalah satu persyaratan umum bahwa pekerjaan drainase tersebut harus


diselesaikan dan harus sudah berfungsi sebelum pelaksananan struktur perkerasan
dan bahu jalan.

2.1.2 Ruang Lingkup Pekerjaan


1)

Pekerjaan yang dicakup di Bab 2Drainase meliputi saluran-saluran, gorong-gorong


dan sarana drainase lainnya yang dibangun sesuai dengan gambar rencana dan
perencanaan, garis batas, ketinggian dan ukuran-ukuran yang ditunjukkannya dan
memenuhi spesifikasi ini.

2)

Saluran akan merupakan saluran tanah terbuka baik dilapisi ataupun tidak dilapisi
dengan pasangan batu atau beton, yang mana akan ditentukan dalam kontrak.

3)

Gorong-gorong berupa gorong-gorong pipa bertulang atau gorong-gorong pipa tidak


bertulang, ataupun pipa baja bergelombang, yang mana akan ditentukan dalam
kontrak.

4)

Sarana-sarana drainase lainnya meliputi dinding kepala, dinding sayap, lapis


bantaran, lubang tangkapan, tanggul pemecah aliran, yang dibangun dengan
pasangan batu atau pekerjaan batu dengan siar, beton bertulang, beton tidak
bertulang, atau bronjong, yang mana akan ditentukan dalam kontrak.

2.1.3 Kepatuhan kepada Perintah//Petunjuk Direksi Teknik


1)

Volume dan mutu bahan yang harus digunakan untuk pekerjaan ini, dalam segala hal
harus disetujui oleh Direksi Teknik sebelum digunakan.

2)

Kualitas kecakapan kerja harus berdasarkan kepada pemeriksaan metode


pelaksanaan, dan persetujuan Direksi Teknik terhadap pekerjaan-pekerjaan yang
telah selesai.

3)

Direksi Teknik dapat memberikan perintah tambahan untuk jenis saluran atau
gorong-gorong yang khas yang harus dibangun sesuai kontrak.

4)

Dalam hal suatu pekerjaan ditemukan cacat atau tidak sempurna atau menyimpang
dari peraturan dan syarat-syarat yang ditentukan, Kontraktor melakukan suatu
koreksi dan perbaikan-perbaikan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Sebagian atau seluruh biaya untuk melaksanakan perbaikan-perbaikan yang
diperlukan harus dipikul oleh kontraktor.

2 -1

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

BAB 2.2
2.2.1

REHABILITASI DRAINASE TEPI JALAN

Umum

Pekerjaan ini akan mencakup pembersihan tumbuh-tumbuhan dan pembuangan bendabenda dari saluran tepi jalan ataupun dari kanal-kanal yang ada, memotong kembali dan
membentuk ulang salura tanah yang ada untuk perbaikan atau peningkatan kondisi asli
dan juga perbaikan saluran yang dilapisi dalam hal ini saluran pasangan batu atau beton.
2.2.2

Bahan-bahan

Bahan-bahan yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan berikut dalam


spesifikasi ini :

Pasangan batu dengan pasir

Bab 8.1

Konstruksi Beton

Bab 7.1

Timbunan butiran yang dipilih

Bab 3.2

Tanah Stabilisasi

Bab 3.4

Drainase Porous

Bab 2.7

Pasangan Batu Kosong (Rip-Rap)

Bab 8.2

Bronjong

Bab 8.3

2.2.3

Persyaratan Disain Drainase

Saluran tepi jalan harus direhabilitasi dan dipelihara memenuhi potongan melintang dan
standar yang ditunjukkkan pada Gambar-gambar standar atau menurut petunjuk lain oleh
Direksi Teknik untuk mengikuti kondisi setempat.
Persyaratan disain umum harus memenuhi ketentuan berikut :

Lebar dasar saluran minimum

Kedalaman minimum sampai dasar saluran di bawah permukaan

formasi perkerasan

= 50 cm

Kelandaian memanjang minimum

= 1:200

2.2.4
1)

= 50 cm

Pelaksanaan Pekerjaan

Saluran Tanah

Semua sampah, tumbuh-tumbuhan, endapan dan bahan-bahan yang harus disingkirkan,


harus dibuang dari saluran tanah, termasuk dari saluran yang memotong bahu jalan dan
menyambung ke lubang tangkapan atau gorong-gorong, dan disingkirkan dari daerah
kerja sehingga Direksi Teknik puas. Saluran tanah harus dipotong dan dirapikan sampai
mencapai profil yang diperlukan serta ditingkatkan seperlunya, sampai elevasi dan profil
akhir yang harus diselesaikan sehingga memuaskan Direksi Teknik.

2)

Saluran-saluran dilapisi

Saluran-saluran dilapisi yang dalam kondisi jelek atau rusak harus diperbaiki. Pasangan
batu atau beton yang pecah-pecah, rusak atau lepas harus dipotong dan diganti dengan
pasangan batu atau beton yang baru yang dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana

2 -2

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


dan menurut petunjuk Direksi Teknik. Pasangan baru harus dibangun menurut Spesifikasi
dalam Bab 2.4, dengan dibuatkan persyaratan untuk penyatuan pekerjaan lama dan
pekerjaan baru. Baru-batu dari pasangan lama hanya dapat dipakai jika dibersihkan,
membuang semua adukan yang melekat dan hanya jika disetujui oleh Direksi Teknik.
Rongga di belakang atau di bawah pasangan harus diisi dengan urugan butiran terpilih,
dipadatkan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik dan lubang pelepasan yang
baru harus dibuatkan seperti dan bilamana diminta Direksi Teknik.

3)

Perbaikan Kerusakan Saluran karena Gerusan

Kerusakan saluran karena gerusan atau erosi harus diperbaiki sebagai berikut :
i.

Daerah rusak harus dipotong kembali sampai tanah dasar yang keras dan pekerjaan
perbaikan yang cocok dengan jenis saluran dilaksanakanmenurut petunjuk umum
untuk rehabilitasi di atas.

ii.

Bagian-bagian saluran yang tergerus harus direkonstruksi sampai mencapai bentuk


dan profil yang disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Teknik, menggunakan
cara-cara alternatif perbaikan sebagai berikut :

Pekerjaan stabilisasi tanah atau pembentukan ulang dengan bahan-bahan


berbutir.

Pelapisan baru untuk saluran tersebut

Perbaikan dengan pasangan batu kosong atau bronjong.

Pekerjaan cetakan dan penunjang dari kayu harus disediakan menurut kebutuhan dan
semua tanah-tanah serta bahan-bahan lain lebihan dibuang dari tempat tersebut.

BAB 2.3 SALURAN TANAH BARU, TERBUKA


2.3.1
1)

Umum

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari pembangunan saluran tanah baru yang mencapai garis, tingkat
dan profil seperti yang ditunjukkan pada gambar atau di lapangan.
Pekerjaan tersebut juga meliputi setiap pemindahan lokasi atau menjaga selokan atau
saluran irigasi yang terganggu selama pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan kontrak,
memasang gebalan rumput pada dasar saluran untuk mengurangi kecepatan air dan
memperkecil erosi.

2)

Toleransi ukuran

a.

Alinyemen saluran yang jadi dan profil potongan melintang tidak boleh berbeda dari
yang ditentukan atau disetujui lebih dari 5 cm pada setiap titik.

b.

Ketinggian terakhir pada dasar saluran tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm pada
setiap titik dan dasar saluran tersebut harus cukup halus serta rata untuk menjamin
aliran air yang bebas tanpa terjadi empangan pada waktu aliran lambat.

2.3.2
1)

Pelaksanaan Pekerjaan

Penyiapan lapangan

2 -3

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Lokasi, panjang, arah dan kemiringan yang diperlukan dari saluran yang harus digali
beserta dengan semua lubang tangkapan dan kuala yang bersangkutan, harus dipatok di
lapangan oleh kontraktor, sesuai dengan gambar-gambar kontrak serta petunjuk-petunjuk
lainnya yang diberikan oleh Direksi Teknik.

2)

Galian Saluran

a.

Galian untuk saluran termasuk pembentukan, peningkatan dan perapihan tebing


samping harus dilaksanakan sesuai dengan gambar-gambar kontrak serta petunjukpetunjuk lainnya yang diberikan oleh Direksi Teknik di lapangan.

b.

Semua bahan-bahan dari galian harus dipindahkan dari lapangan ke tempat


pembuangan yang disetujui oleh Direksi Teknik. Garis dan profil akhir saluran harus
diselesaikan sampai disetujui oleh Direksi teknik serta setiap penyesuaian atau
setiap

perbaikan

pekerjaan

untuk

memperbaiki

kerusakan-kerusakan

atau

penyimpangan-penyimpangan harus dilaksanakan sesuai dengan perintah Direksi


Teknik.

3)

Jalan Air yang ada

a.

Kali kecil atau kanal asli di sekitar tempat kerja tidak boleh diganggu tanpa
persetujuan dari Direksi Teknik

b.

Bahan-bahan yang mengendap dalam kali atau kanal sebagai hasil dari pekerjaanpekerjaan drainase harus disingkirkan bila pekerjaan tersebut telah diselesaikan atau
pada waktu lain seperti yang diminta oleh Direksi Teknik.

c.

Bila jalan air yang ada harus dipindahkan karena pelaksanaan pekerjaan dalam
kontrak alinyemen baru jalan air tersebut harus memelihara kemiringan dasar dan
profil yang ada, terkecuali diminta lain oleh Direksi Teknik.

2.3.3
a.

Cara Pengukuran Pekerjaan

Galian saluran tanah harus dicukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai
volume tanah yang sebenarnya disingkirkan dan diakui oleh Direksi teknik yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan Drainase.

b.

Kelebihan galian dari yang ditunjukkan dalam gambar atau dari yang diperintahkan
oleh Direksi Teknik tidak boleh diukur atau dibayar.

c.

Bila ditemukan atau digali batu-batu (seperti yang dinyatakan dalam Bab 3.1.1 (batu
tersebut harus diukur dan dibayar sebagai galian Batu di bawah item pembayaran
3.1.2 spesifikasi ini).

2.3.4

Dasar Pembayaran

Volume-volume yang diberikan di atas akan dibayar atas dasar Harga Kontrak per satuan
pengukuran bagi item pembayaran yang tercantum di bawah.
Harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk melaksanakan
semua pekerjaan kontrak termasuk pembersihan, galian, pembentukan kembali dan
penyelesaian saluran tanah serta kanal-kanal mencapai tingkat , garis dan profil akhir.

2 -4

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Nomor item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

2.3.1

Galian saluran Tanah dan Meter kubik


Kanal

BAB 2.4 SALURAN DILAPISI


2.4.1
1)

Umum

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari membangun saluran baru atau rekonstruksi aluran yang ada dan
memberikan satu lapisan pasangan batu sebagaimana ditunjukkan dalam gambar atau
seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan.
Pekerjaan tersebut juga termasuk setiap pemindahan atau penjagaan aliran air, kanal
irigasi atau jalan air yang ada, yang terganggu selama pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan
kontrak.

2)

Toleransi Ukuran

a.

Ketinggian final dasr saluran tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari yang ditentukan
pada setiap titik dan harus cukup halus serta bgentuknya rata untuk menjaminaliran
air yang bebas.

b.

Alinyemen aliran dan profil potongan melintang akhir tidak boleh berbeda lebih dari 5
cm dari yang ditentukan pada setiap titik.

c.

Permukaan masing-masing batu muka pasangan batu pelapisan tidak boleh berbeda
lebih dari 3 cm darim permukaan normal.

d.

Ketebalan pasangan batu harus seperti yang ditunjukkan pada gambar standard an
tidak boleh kurang dari 20 cm, terkecuali dinyatakan secara tertulis.

3)

Penjadwalan Pekerjaan

Selokan mula-mula harus dibentuk lebih kecil dari penampang melintang yang
direncanakan. Pembentukan akhir untuk persiapan pembuatan lapisan serta perbaikan
kerusakan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan, baru dikerjakan sesudah tempattempat sambungan dan elevasinya sudah disiapkan.

4)

Contoh-Contoh Bahan

Contoh-contoh bahan yang digunakan termasuk semen, pasir dan batu untuk pekerjaan
pasangan batu harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi Teknik sebelum pekerjaan
dimulai.

5)

Perbaikan-Pekerjaan yang tidak memuaskan

Setiap

bagian

pekerjaan

yang

menunjukkan

ketidakteraturan

atau

cacat-cacat

dikarenakan jeleknya penanganan atau gagalnya kontraktor untuk mematuhi persyaratan


spesifikasi harus diperbaiki oleh kontraktor sampai memuaskan Direksi Teknik tanpa ada
biaya tambahan.

2 -5

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


2.4.2
1)

Bahan-bahan

Urugan kembali dengan bahan terpilih untuk pelapisan saluran

Urugan kembali yang digunakan sebagai bahan dasar dan perbaikan bagian di bawah
pelapisan pasangan batu harus dari pasir, kerikil berpasir atau bahan berbutir bergradasi
baik yang disetujui lainnya dengan ukuran batu maksimum 20 mm, semuanya seperti
ditentukan pada Bab 2.7.

2)

Bahan Filter

Bahan-bahan untuk membuat lapisan dasar menyerap air, kantong-kantong filter ataupun
lubang pelepasan pada pelapisan pekerjaan batu yang disetujui harus keras, awet, bahan
berbutir yang memenuhi persyaratan gradasi yang ditentukan pada Bab 2.7.

3)

Pasangan Batu dengan Siar

a.

Batu

Batu tersebut harus batu lapangan dengan permukaan kasar atau batu sumber (quarry)
kasar yang keras dalam kondisi baik, awet dan mutunya padat, tahan terhadap daya
perusakan air, serta sepenuhnya cocok digunakan sebagai pasangan batu, semuanya
seperti ditentukan pada Bab 8.1 Spesifikasi ini untuk pasangan batu dengan siar.
b.

Adonan (Mortar)

Adonan terdiri dari semen Portland (PC) dicampur dengan agregat halus atau pasir kasar
dalam satu perbandingan 1 semen dan 3 agregat/pasir, terkecuali ditentukan lain oleh
Direksi Teknik.
c.

Kelas Beton K125

Bila diperlukan beton yang digunakan untuk dasr dari pasangan batu harus dari kelas K125 yang sesuai dengan Spesifikasi Bab 7.1 ini.
2.4.3
1)

Pelaksanaan Pekerjaan

Penyiapan Lapangan

Lokasi, panjang, garis batas dan kemiringan yang diperlukan dari semua saluran-saluran
yangb harus digali dan dilapisi, bersama-sama dengan semua lubang tangkapan dan
kuala yang berkaitan, harus dipatok di lapangan oleh Kontraktor sesuai dengan rincian
pelaksanaan yang ditunjukkan pada gambar rencana atau seperti yang diperintahkan oleh
Direksi teknik serta harus diperiksa dan mendapat persetujuan Direksi Teknik sebelum
pelaksanaan pekerjaan dimulai.

2)

Pelaksanaan Pelapisan Pasangan Batu dengan Siar

a.

Persiapan Pondasi
i.

Ketinggian permukaan pondasi untuk saluran harus dipasang dan digali sampai
kedalaman yang ditunjukkan pada gambar rencana atau seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan untuk menjamin bahwa satu
permukaan yang baik dan memadai dapat diperoleh.

2 -6

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


ii.

Bila diperintahkan demikian oleh Direksi Teknik, bahan lantai kerja yang disetujui
harus diletakkkan dan dipadatkan di tempatnya.

iii.

Kecuali ditentukan lain atau ditunjukkan pada gambar rencana, dasar pondasi
untuk pelapisan pekerjaan batu harus normal (tegak lurus) atau dipotong
bertangga tegak lurus pada permukaan dinding.

iv.

Bila ditunjukkan pada gambar rencana atrau diminta lain oleh Direksi Teknik,
satu pondasi atau alas pondasi dari beton akan diperlukan.

b.

Pemasangan dan Penyelesaian Akhir Batu dengan Siar


Setelah disetujui penyiapan pekerjaan pondasi, pelapisan pasangan batu dengan
siar akan dibangun sebagaimana ditentukan dalam Bab 8.1 Spesifikasi ini.

c.

Pemasangan Urugan
i.

Urugan kembali dengan bahan terpilih sebagaimana ditentukan harus dipasang


dan dipadatkan dalam lapisan yang merata di bawah pasangan batu atau
dimana saja sebagaimana diperintahkan oleh dan mendapat persetujuan Direksi
Teknik.

ii.

Bahan alas filter sebagaimana ditentukan harus dipasang dan dipadatkan dalam
lapisan tidak melebihi 15 cm tebalnya dans esuai dengan gambar rencana atau
menurut perintah Direksi Teknik.

3)

Penyiapan Jalan Air Yang Ada

a.

Aliran atau kanal asli di sekitar tempat kerja kontrak ini tidak boleh diganggu tanpa
mendapat persetujuan dari Direksi Teknik.

b.

Jika suatu galian dalam dasar aliran diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan yang
baik, kontraktor pada selesainya pekerjaan drainase harus mengurug kembali dan
memperbaiki galian tersebut.

c.

Bahan-bahan yang mengendap dalam daerah aliran tersebut dari pondasi atau
galian-galian

lainnya

harus

disingkirkan

sepenuhnya

pada

penyelesaian

pembangunan.

4)

Relokasi Jalan Air

Bila stabilisasi tanggul atau pekerjaan-pekerjaan permanent lainnya diperlukan untuk


kontrak tersebut menyebabkan penyumbatan yang tidak dapat dihindarkan atau secara
sebagian menyumbat suatu jalan air yang ada, maka jalan air tersebut harus direlokasi
(dipindahkan) untuk menjamin aliran air tidak terhalangi lewat pekerjaan tersebut pada
semua tingkatan aliran yang biasa. Relokasi jalan air tersebut akan memelihara
kemiringan dasar kanal yang ada dan harus diarahkan sedemikian sehingga tidak terjadi
gerusan terhadap pekerjaan itu atau terhadap hak milik di sekitarnya.
2.4.4

Cara Pengukuran dan Pembayaran

Tidak ada persyaratan yang dibuat untuk pengukuran dan pembayaran saluran dilapisi di
bawah bab ini. Akan tetapi pekerjaan konstruksi untuk saluran dilapisi harus diukur dan
dibayar di bawah item pembayaran dari spesifikasi-spesifikasi yang terpisah berikut ini.

2 -7

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


1)

Galian untuk pembangunan saluran batu dilapisi atau rekonstruksi harus diukur
dalam meter kubik dan dibayar sebagai galian drainase di bawah item pembayaran
2.3.1 spesifikasi ini.

2)

Pelapisan pasangan batu untuk saluran-saluran harus diukur dalam meter kubik dan
dibayar sebagao pasangan batu dengan siar di bawah item pembayaran 8.1.1
spesifikasi ini.

3)

Bahan-bahan urugan kembali yang porous atau bahan dasar filter harus diukur dala
meter kubik dan dibayar sebagai bahan drainase porous di bawah item pembayaran
2.7.1 spesifikasi ini.

4)

Beton dalam pondasi atau penopang pondasi harus diukur dalam meter kubik dan
dibayar sebagai beton tidak bertulang di bawah item pembayaran 7.1.2 spesifikasi
ini.

BAB 2.5 GORONG-GORONG PIPA BETON


2.5.1
1)

Umum

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari perbaikan, perpanjangan, pengantian atau pembangunan baru
gorong-gorong pipa beton bertulang atau tanpa tulang, termasuk tembok kepala,
bangunan inlet (masuk) dan outlet (pelepasan) serta pekerjaan-pekerjaan pelindung yang
berkaitan dengan gerusan, semuanya sesuai denga gambar rencana dan spesifikasi ini,
dan lokasinya ditunjukkan oleh Direksi Teknik.

2)

Pengaturan (pematokan) di lapangan dan lokasi pekerjaan

a.

Gorong-gorong barun yang ditempatkan di lapangan ditunjukkan pada gambargambar kontrak. Lokasi dan ketinggian final akan diputuskan oleh Direksi teknik di
lapangan dan kontraktor harus melakukan suatu pekerjaan survey tambahan
sebagaimana diminta oleh Direksi teknik, untuk mementukan persyaratan goronggorong mengenai ketinggian dan garis batas.

b.

Pekerjaan perbaikan gorong-gorong harus dilaksanakan sesuai dengan jadwal


pekerjaan yang ditunjukkan dalam dokumen kontrak dan sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi teknik, termasuk suatu pekerjaan perbaikan tambahan yang mungkin
ditemukan dim lapangan selama pekerjaan rehabilitasi drainase.

3)

Penjadwalan pekerjaan

a.

Tidak ada pekerjaan gorong-gorong boleh dimulai sebelum diberikan persetujuan


oleh Direksi Teknik mengenai lingkup pekerjaan.

b.

Tidak ada pekerjaan perkerasan atau bahu jalan akan dilaksanakan sampai seluruh
pekerjaan gorong-gorong untuk bagian proyek tersebut diselesaikan.

4)

Contoh-contoh bahan

2 -8

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


a.

Contoh-contoh bahan yang digunakan termasuk agregat beton, pasir beton,


penulangan beton, cetakan pipa beton, harus diperiksa dan mendapat persetujuan
dari Direksi teknik sebelum pekerjaan dimulai.

b.

Contoh pipa beton bertulang harus diserahkan untuk pemeriksaan dan pengujian
sebagaimana diminta oleh Direksi Teknik dan harus diterima sampai memuaskan
sebelum digunakan di lapangan.

2.5.2
1)

Bahan-Bahan

Beton

Beton yang digunakan pada setiap pekerjaan struktural yang diuraikan dalam bagian ini
harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Bab 7.1 spesifikasi ini untuk kelaskelas beton berikut :

Kelas K 225

Struktur dan pipa gorong-gorong beton bertulang

Kelas K 175

Pelat pondasi dan dinding-dinding

Kelas K 125

Pondasi beton massa dan pembungkus pipa gorong-gorong

2)

Baja Tulangan untuk Beton

Semua baja tulangan yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi persyaratan
yang ditentukan dalam Spesifikasi Bab 7.2 ini.

3)

Pipa Beton

a.

Semua pipa-pipa beton harus pracetak dan didapat dari satu pabrik yang disetujui,
terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi teknik untuk pencetakan di lapangan.

b.

Pipa Beton bertulang secara umum harus memenuhi spesifikasi AASHTO No. M170
dan disesuaikan dengan gambar-gambar standar.

c.

Pipa-pipa beton tak bertulang secara umum harus memenuhi spesifikasi AASHTO
no.M86 (tabel 1A) dan disesuaikan dengan gambar-gambar standar. Pipa beton tak
bertulang harus dibatasi sampai satu diameter dalam maksimum 80 cm.

d.

Atas dasar persetujuan Direksi Teknik, kontraktor dapat mencetak pipa beton tidak
bertulang di lapangan, yang konstruksinya harus sepenuhnya sesuai dengan
spesifikasi ini serta dengan cetakan pipa dan baja yang harus diperiksa dan disetujui
oleh Direksi Teknik sebelum digunakan.

4)

Pasangan Batu

Bahan-bahan pasangan batu yang digunakan untuk dinding dan kepala gorong-gorong
serta struktur tumpuan beban harus memenuhi persyaratan umum untuk pasangan batu,
bab 7.4 spesifikasi ini.
Kualitas batu harus mendapat persetujuan Direksi teknik sebelum digunakan di lapangan.

5)

Bahan Alas (dasar)

2 -9

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Bahan-bahan berbutir untuk alas atau untuk mengurug kembali gorong-gorong pipa dan
struktur lainnya terdiri dari kerikil dan pasir bergradasi yang memenuhi persyaratan
Spesifikasi Bab 2.7 ini.

6)

Urugan Kembali

Bahan timbunan yang digunakan untuk mengurug kembali sekeliling pipa dan di belakang
dinding kepala harus memenuhin persyaratan Bab 3.2 Urugan dari spesifikasi ini.
2.5.3
1)

Pelaksanaan Pekerjaan

Penyiapan Lapangan

Galian dan penyiapan parit-parit serta pondasi untuk gorong-gorong pipa dan dinding
kepala harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dalam Bab 3.1 Galian dan
persyaratan-persyaratan selanjutnya yang diberikan dalam spesifikasi ini.
Bahan-bahan alas (dasar) untuk pipa gorong-gorong harus ditempatkan sesuai dengan
persyaratan Spesifikasi Bab 2.7.

2)

Pemasangan Pipa Gorong-Gorong

a.

Pipa gorong-gorong tersebut harus diletakkan secara hati-hati, dengan ujung alur di
bagian yang tinggi dan ujung lidah sepenuhnya masuk ke dalam alur yang
bersangkutan dan tepat dengan garis dan kemiringan yang diperlukan.

b.

Sebelum bagian berikutnya diletakkan, separuh bagian bawah lidah masing-masing


bagian berikutnya harus diplester di permukaan bagian dalam dengan adukan semen
dengan ketebalan yang cukup untuk menyatukan permukaan dalam pipa yang
berbatasan tepat dan rata. Pada saat yang sama separuh bagian atas lidah dari pipa
berikutnya harus diplester sama dengan adukan.

c.

Setelah pipa tersebut diletakkan, sambungan yang masih tersisa harus diisi dengan
adukan dan adukan tambahan yang cukup dan harus digunakan sehingga rongga
sekelilingnya terisi penuh. Bagian dalam sambungan harus disapu dan diselesaikan
dengan halus. Adukan pada bagian luar harus tetap basah selamaq dua hari sampai
Direksi Teknik mengijinkan pelaksanaan urugan kembali.

3)

Pengurugan dan Pemadatan

a.

Pengurugan kembali dan pemadatan di sekelilingnya dan di atas gorong-gorong


harus dilaksanakan sebagaimana ditentukan secara rinci dalam Bab 3.2 Urugan,
menggunakan bahan-bahan terpilih yang disetujui oleh direksi Teknik. Bahan-bahan
tersebut harus terdiri dari tanah atau kerikil, bebas dari gumpalan lempung dan
benda tumbuh-tumbuhan serta berisi batu-batu yang tidak tertahan pada saringan 25
mm.

b.

Urugan tersebut diberikan dengan ketebalan minimum 30 cm di atas puncak pipa


dan satu jarak minimum satu setengah diameter dari sumbu pipa pada kedua sisi
kecuali dalam parit. Perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin bahwa urugan
kembali di bawah pinggang pipa dipadatkan dengan baik.

2 -10

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


c.

Alat pemadatan tanah yang berat tidak boleh beroperasi lebih dekat dari 1,50 meter
kepada gorong-gorong, sampai gorong-gorong tersebut telah selesai ditutup setebal
paling sedikit 60 cm di atas puncak pipa.

d.

Alat pemadatan ringan boleh dioperasikan di dalam batas-batas di atas, asalkan


urugan kembali tersebut telah dipasang dan dipadatkan dan memberikan penutup
minimum 30 cm di atas puncak pipa. Walaupun demikian, kontraktor harus
bertanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan akibat operasi tersebut.

4)

Beton Pembungkus Pipa

Pipa-pipa harus dibungkus denganb beton yang sesuai dengan rincian yang ditunjukkan
pada gambar rencana atau seperti diperintahkan oleh direksi Teknik jika ketebalan
penutup yang harus dipasang lebih besar dari ketebalan minimum atau kurang dari
ketebalan minimum yang ditunjukkan pada gambar atau dalam spesifikasi pabrik pipa
untuk ukuran dan kelas pipa yang khusus.

5)

Dinding Kepala Gorong-Gorong dan Bangunan Pelengkap

Kecuali secara lain ditunjukkan pada gambar, bangunan lapis dinding pelimpah dan
bangunan pelindung gerusan yangb berkaitan dengan bangunan gorong-gorong yang
tidak diperlukan untuk memikul beban struktural yang berat, harus dibangun dengan
pasangan batu dengan siar. Kepala gorong-gorong dan dinding sayap harus dibangun
menggunakan pasangan batu plesteran (lihat Bab 7.4).

6)

Memperpanjang Gorong-Gorong yang Ada

Bila perpanjangan gorong-gorong yang ada memerlukan dinding kepala, dinding sayap
atau bangunan-bangunan lama lainnya yang berkaitan, bagian-bagian tersebut harus
dibongkar dengan hati-hati dengan satu cara untuk menghindari kerusakan-kerusakan
pipa atau elemen-elemen struktural yang harus tinggi. Jika terjadi kerusakan pada
gorong-gorong yang direncanakan untuk tetap ada, bagian-bagian yang rusak harus
diganti atas beban biaya kontraktor.

2.5.4
1)

Cara Pengukuran Pembayaran

Volume-volume yang harus diukur untuk pembayaran bagi gorong-gorong pipa


beton, berupa jumlah meter panjang gorong-gorong pipa baru yang dipasang atau
diperpanjang, diukur dari ujung ke ujung pipa.

2)

Dinding kepala dan dinding sayapserta streuktur lainnya yangb berkaitan yang
dibangun dengan pasangan batu atau beton akan diukur untuk pembayaran dalam
meter kubik pekerjaan yang selesai dan diterima sesuai dengan item-item
pembayaran secara terpisah yang dimasukkan dalam spesifikasi ini.

3)

Penyediaan untuk galian dalam batu akan dibuatkan di bawah item pembayaran
terpisah nomor 3.1.2. Akan tetapi tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran
yang akan dibuat untuk setiap galian lain atau pekerjaan urugan lain. Biaya
pekerjaan tersebut dianggap sudah termasuk dalam pelaksanaan pekerjaan gorng-

2 -11

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


gorong pipa beton dan harus sudah dimasukkan dalam harga penawaran untuk
gorong-gorong dan untuk berbagai bahan-bahan pembangunan yang digunakan.
4)

Penyediaan untuk bahan alas berbutir terpilih atau bahan filter harus dibuat di bawah
item pembayaran yang terpisah nomor 2.7.1.

2.5.5

Dasar Pembayaran

Volume gorong-gorong pipa yang diukur sebagaimana diberikan di atas, akan dibayar
pada harga kontrak per satuan pengukuran yang bersangkutan bagi masing-masing item
pembayaran yang tercantum di bawh dan ditunjukkan dalam Daftar Penawaran.
Harga-harga dan pembayaran ini akan merupakan kompensasi penuh bagi pengadaan
dan pemasangan semua bahan-bahan dan untuk galian serta pembuangan bahan-bahan,
pemadatan, pekerjaan acuan, urugan kembali, lubang pelepasan dan semua biaya-biaya
lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang baik yang diuraikan dalam
spesifikasi ini.

Nomor Item
Pembayaran
2.5.1

2.5.2

URAIAN

Satuan
Pengukuran

GORONG-GORONG PIPA BETON BERTULANG


(1)

Diameter dalam, 60 cm

meter panjang

(2)

Diameter dalam, 80 cm

meter panjang

(3)

Diameter dalam, 100 cm

meter panjang

(4)

Diameter dalam, 120 cm

meter panjang

GORONG-GORONG PIPA BETON TANPA TULANG


(1)

Diameter dalam, 60 cm

meter panjang

(2)

Diameter dalam, 80 cm

meter panjang

BAB 2.6 GORONG-GORONG PIPA BAJA BERGELOMBANG


2.6.1
(1)

Umum
Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari perbaikan, perpanjangan, penggantian atau pembangunan baru
pipa baja bergelombang termasuk pembuatan bangunan dinding kepala, bangunan inlet
dan outlet dan pekerjaan-pekerjaan perlindungan gerusan yang bersangkutan, semuanya
sesuai dengan gerusan yang bersangkutan, semuanya sesuai dengan gambar-gambar
dan pada lokasi yang ditunjukkan oleh Direksi Teknik.

(2)

Pematokan dan Pengukuran di Lapangan serta Lokasi Pekerjaan

a.

Gorong-gorong baru harus ditempatkan di lapangan yang ditunjukkan pada gambargambar kontrak. Lokasi dan permukaan akhir akan diputuskan oleh Direksi Teknik di
lapangan dan Kontraktor harus melaksanakan suatu pekerjaan survai tambahan
sebagaimana dimintakan oleh Direksi Teknik, untuk menentukan persyaratan
gorong-gorong terhadap garis batas dan permukaannya.

2 -12

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


b.

Pekerjaan perbaikan gorong-gorong dari pipa baja bergelombang harus dilaksanakan


sesuai jadwal (schedule) pekerjaan yang ditunjukkan dalam dalam gambar kontrak
dan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, termasuk setiap pekerjaan
perbaikan tambahan yang mungkin ditemukan di lapangan selama pelaksanaan
pekerjaan rehabilitasi drainase.

(3) Penjadwalan Pekerjaan


a.

Tidak ada pekerjaan gorong-gorong boleh dimulai sebelum mendapat persetujuan


DireksiTeknik mengenai ruang lingkup pekerjaan.

b.

Tidak ada pekerjaan perkerasan dan bahu jalan yang boleh dilaksanakan sebelum
semua pekerjaan gorong-gorong untuk bagian proyek yang bersangkutan telah
diselesaikan.

(4) Perbaikan Pekerjaan Yang Tidak Memuaskan


Setiap bagian pekerjaan yang menunjukkan ketidak-teraturan atau cacat-cacat karena
jeleknya penanganan atau gagalnya Kontraktor mematuhi persyaratan spesifikasi, harus
dibetulkan dengan perbaikan atau penggantian atas beban biaya Kontraktor, sampai
memuaskan Direksi Teknik.

2.6.2 Bahan-Bahan
(1) Pipa Baja Bergelombang
Pipa Baja Bergelombang dan sabuk penyambung (coupling bands) yang berkaitan serta
bahan-bahan penyambungan, harus berupa besi atau baja bergelombang yang dilapisi
seng dan memenuhi Spesifikasi AASHTO No. M36.

(2) Pasangan Batu


Bahan-bahan yang digunakan untuk dinding kepala pasangan batu beserta struktur yang
berkaitan harus memenuhi persyaratan umum untuk pasangan batu Bab 7.4 Spesifikasi
ini. Kualitas batu harus mendapat persetujuan Direksi Teknik, sebelum digunakan di
lapangan.

(3) Bahan Alas Dasar


Bahan bahan berbutir untuk alas (dasar) atau urugan kembali pada gorong gorong
pipa dan struktur lainnya harus terdiri dari kerikil dan pasir bergradasi yang memenuhi
persyaratan Bab 2.7 Spesifikasi ini.
(4) Bahan timbunan yang di gunakan untuk urugan kembali di sekeliling pipa pipa dan di
belakang dinding kepala harus memenuhi persyaratan-persyaratan Spesifikasi Bab 3.2
Urugan
2.6.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan

2 -13

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


a.

Galian dan penyiapan parit beserta pondasi untuk gorong-gorong pipa dan dinding
kepala harus dilaksnakan sesuai dengan persyaratan dalam Bab 3.1 Galian dan
persyaratan lebih lanjut yang diberikan dalam spesifikasi ini.

b.

Bahan alas (dasar) untuk pipa gorong-gorong harus ditempatkan sesuai dengan
persyaratan Bab 2.7 dengan menyediakan satu pondasi yang keras dan rata untuk
pipa baja.

c.

Setiap batu bongkahan atau batu brangkal yang di temukan dalam mempersiapkan
pondasi untuk pipa baja, harus dipotong dan di buang sampai kedalaman 20 cm, dan
tanah dasar tersebut diurug kembali serta dipadatkan mencapai ketinggian yang
benar dengan bahan-bahan urugan yang cocok.

d.

Pada umumnya garis batas galian untuk gorong-gorong pipa baja harus diperiksa
terhadap daerah keras dan daerah lunak serta pondasi dibuat serata mungkin
beserta daerah-daerah lunak diganti dengan bahan-bahan yang cocok. Dimana
dimintakan

demikian

dalam

gambar

rencana

dan

daftar

penawaran

atau

sebagaimana diperintahkan oleh direksi Teknis di lapangan, bahan alas ( dasar)


berbutir harus di tempatkan (dipasang) sampai kedalaman 15-30 cm yang diperlukan
untuk mendukung satu pondasi yang mantap sesuai dengan persyaratan Bab 2.7.

(2) Pemasangan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang


a.

Pipa Baja Bergelombang dapat di rakit sebelumnya menjadi bagian-bagian di


lapangan kerja atau di rakit di dalam parit yang sudah disiapkan.

b.

Pipa Baja Bergelombang yang dirakit sebelumnya menjadi bagian-bagian harus


diturunkan ke dalam lubang (tempat) di atas pondasi yang telah di siapkan
menggunakan tali sling. Bagian-bagian pipa rakitan tidak boleh berlebihan
panjangnya sehingga akan terjadi pembungkukan (lendutan) sambungan-sambungan
ketika penurunan ketempatnya dan harus diberikan perhatian untuk menghindari
kerusakan diujung (dengan penjatuhan) selama pengangkutan atau pemasangan.

c.

Semua pipa baja bergelombang yang dirakit harus dibuat secara teliti, dengan sabuk
penyambungan dipasang secara benar untuk menghindari tegangan yang berlebihan.

(3) Pengurugan dan Pemadatan


Pengurugan kembali dan pemadatannya di sekeliling dan di atas gorong-gorong pipa baja
harus dilaksanakan sebagaimana secara umum diuraikan pada Bab 3.2 Urugan dan
secara khusus sesuai dengan persyaratan Bab 2.5.3 (3) harus diberikan perhatian untuk
menjamin bahwa bahan urugan ditempatkan dan dipadatkan dalam lapisan yang merata
tidak melebihi tebal 15 cm secara bergantian bagi kedua sisi pipa untuk menjaga
permukaan pemadatan dan penunjangan yang sama masing-masing sisi.

(4) Bagian Ujung Dinding dan Gorong-Gorong Baja


a. Perlakuan bagi ujung gorong-gorong pipa baja harus sesuai dengan persyaratan
Direksi Teknik dan seperti dinyatakan dalam Daftar Penawaran. Bentuk alternatif
penyesuaian akan meliputi :

2 -14

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

Pra fabrikasi bagian ujung baja dengan atau tanpa pasangan batu kosong (rip-rap)
dengan adukan atau bronjong.

Dinding kepala pasangan batu.

b. Bagian ujung baja harus diletakkan di atas bahan alas (dasar) yang dipadatkan dengan
baik dan menyatu kepada ujung-ujung gorong-gorong pipa baja oleh sambungan yang
dibaut yang sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat.
c. Jika diperlukan dengan pasangan batu kosong atau bronjong, mereka harus diletakkan
pada tebing sesuai dengan persyaratan Bab 8.1 untuk memberikan perlindungan
terhadap erosi dan menunjang bagian ujung tersebut.
d. Dinding kepala pasangan batu harus dibangun dengan sesuai dengan pesyaratan Bab
7.4 untuk ujung inlet dan outlet pipa gorong-gorong sesuai tempat dan ketinggian yang
diminta oleh Direksi Teknik.
2.6.4
1)

Cara Pengukuran

Volume yang harus diukur untuk pembayaran bagi gorong-gorong pipa baja
bergelombang harus berupa jumlah meter panjang struktur pipa baru atau yang
diperpanjang yang dipasang, diukur dari permukaan dinding kepala bagian luar atau
dari ujung ke ujung (tidak termasuk bagian akhir) pipa gorong-gorong yang tidak
dilengkapi dengan dinding kepala.

2)

Bilamana dilengkapi dengan dengan bagian ujung (akhir), hal ini harus diukur dengan
jumlah bagian individual (tersendiri).

3)

Dinding kepala dan dinding sayap dan struktur lainnya yang bersangkutan yang
dibangun dengan pasangan batu atau beton harus diukur untuk pembayaran dalam
meter kubik pekerjaan yang telah selesai dan diterima sesuai dengan item
pembayaran terpisah yang dimasukkan dalam Spesifikasi ini.

4)

Pasangan batu kosong dengan siar dan bronjing harus diukur untuk pembayaran
dalam meter kubik yang selesai dan diapasang, sesuai dengan item pembayaran
terpisah nomor 8.2.2 dan 8.3.1 Spesifikasi ini.

5)

Pengukuran dan penyediaan untuk galian dalam batu akan dibuat di bawah item
pembayaran nomor 3.1.2 akan tetapi tidak ada pengukuran untuk pembayaran yang
terpisah yang dibuat untuk setiap pekerjaan galian lainnya atau urugan lainnya. Biaya
untuk pekerjaan-pekerjaan tersebut akan dianggap sebagai incidental (sudah
termasuk)

dalam

melaksanakan

pekerjaan

gorong-gorong

pipa,

dan

akan

dimasukkan dalam penawaran harga untuk gorong-gorong pipa baja bergelombang


dan untuk berbagai bahan bangunan yang digunakan.
6)

Penyediaan untuk bahan berbutir pilihan atau bahan filter akan dibuat di bawah item
pembayaran terpisah nomor 2.7.1.

2.6.5

Dasar Pembayaran

2 -15

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Volume gorong-gorong pipa yang diukur sebagaimana diberikan di atas akan dibayar
pada harga kontrak per satuan pengukuran yang bersangkutan untuk masing-masing item
pembayaran yang dicantumkan di bawah ini dan ditunjukkan dalam Daftar Penawaran
Harga-Harga dan pembayaran ini akan berupa kompensasi penuh untuk pengadaan dan
pemasangan semua bahan-bahan, dan untuk galian serta pembuangan bahan-bahan,
pemadatan, pekerjaan acuan, pengurugan kembali, lubang-lubang pelepasan dan semua
biaya-biaya lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang baik yang
diuraikan dalam Spesifikasi ini.

Nomor Item

URAIAN

Pembayaran
2.6.1

2.6.2

Satuan
Pengukuran

GORONG-GORONG PIPA BAJA BERGELOMBANG


(1) Diameter Nominal, 60 cm

Meter panjang

(2) Diameter Nominal, 80 cm

Meter panjang

(3) Diameter Nominal, 100 cm

Meter panjang

(4) Diameter Nominal, 120 cm

Meter panjang

(5) Diameter Nominal, 140 cm

Meter panjang

BAGIAN UJUNG BAJA BERGELOMBANG


(1) Diameter Nominal, 60 cm

Jumlah

(2) Diameter Nominal, 80 cm

Jumlah

(3) Diameter Nominal, 100 cm

Jumlah

(4) Diameter Nominal, 120 cm

Jumlah

(5) Diameter Nominal, 140 cm

Jumlah

Catatan : Diameter nominal berdasarkan Standar Pabrik Pembuat

BAB 2.7 DRAINASE POROUS


2.7.1 Umum
1) Uraian
a.

Pekerjaan ini terdiri dari memperoleh, mengangkut, menempatkan dan memadatkan


bahan-bahan urugan berbutir yang porous yang diperlukan untuk lapisan alas (dasar)
pipa gorong-gorong, saluran beton, beton porous dan saluran di bawah permukaan
atau untuk mencegah penghanyutan atau penggerusan bagian halus tanah oleh
rembesan air tanah. Pekerjaan tersebut juga meliputi pengadaan dan pemasangan
pipa-pipa porous, saluran ubin dan anyaman filter tanah (geotekstil) jika diperlukan
demikian.

b.

Bahan-bahan ini harus digunakan untuk maksud drainase yang penempatannya pada
bagian belakang dinding kepala jembatan, dinding sayap, dinding penahan tanah,
dinding rip-rap dan dinding bronjong serta dalam konstruksi perkerasan saluran
bawah tanah, saluran pasangan beton, gorong-gorong, selimut pasir dan drainase
vertikal untuk tujuan stabilisasi, filter ujung kaki talud dan pekerjaan sejenis lainnya.,
yang sesuai dengan Spesifikasi ini atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Teknik.

2 -16

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


2) Toleransi Ukuran
a.

Profil akhir untuk drainase porous urugan berbutir tidak boleh berbeda dengan profil
yang ditentukan atau profil yang disetujui lebih dari 2 cm.

b.

Kemiringan dan permukaan akhir untuk pipa dan bahan dasar saluran beton tidak
boleh berbeda dengan yang ditentukan lebih dari 1 cm.

c.

Permukaan pondasi untuk urugan porous yang digunakan dalam selimut drainase
harus rata dan teratur dan dengan satu kemiringan merata minimum 1 dalam 200.

d.

Kemiringan minimum dalam saluran yang dibangun dengan pipa porous harus 1:600.

3)

Penjadwalan Pekerjaan

a.

Bahan butiran drainase porous yang bersih harus dipasang segera sebelum
penempatan bahan-bahan lapis ulang (overlay).

b.

Bahan-bahan butiran drainase porous untuk drainase pasir tegak harus ditempatkan
dan dibentuk setelah lapisan-lapisan tanggul horisontal diletakkan (dipasang).

4)

Contoh-contoh

a.

Contoh-contoh bahan yang digunakan harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi
Teknik sebelum pekerjaan dimulai.

b.

Contoh-contoh pipa porous dan anyaman filter (geotekstil) harus disertai dengan
Spesifikasi dan sertifikat pabrik.

c.

Contoh-contoh bahan urugan porous dan bahan filter harus disertai dengan hasilhasil test gradasi yang dilakukan terhadap bahan tersebut.

2.7.2 Bahan-Bahan
(1) Persyaratan Umum
a. Bahan urugan porous dan bahan dasar filter harus suatu bahan porous butiran
bergradasi, dengan ukuran nominal maksimum harus sesuai dengan instruksi Direksi
Teknik untuk menjamin bahwa pencucian bagian halus (fines) tidak akan terjadi.
b. Filter anyaman plasik (geotekstil) harus suatu anyaman/tenunan geotekstil sintesis
yang disetujui oleh Direksi Teknik.
c. Pipa porous dan pipa lubang pelepasan.
i. Pipa-pipa porous untuk drainase di bawah permukaan harus saluran b/s tanah liat,
diameter dalam 100 mm, memenuhi persyaratan Spesifikasi AASHTO M179.
ii. Pipa-pipa yang ditempatkan sebagai lubang pelepasan melalui dinding-dinding dan
lapisan beton atau pasangan batu harus berdiameter 50 mm dan dibangun dari
bahan yang awet, kuat dan disetujui oleh Direksi Teknik.

(2) Persyaratan Gradasi


a. Secara umum tabel-tabel berikut digunakan untuk menentukan batas-batas gradasi
bagi bahan filter porous.

2 -17

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


TABEL 2.7.1 PERSYARATAN GRADASI UNTUK BAHAN ALAS FILTER

UKURAN

% LOLOS

SARINGAN (mm)

KERIKIL

PASIR

75.0

100

37.5

60 - 90

4.75

0 - 10

100

0.075

Maks. 5

TABEL 2.7.2 PERSYARATAN GRADASI BAHAN FILTER UNTUK SALURAN BAWAH


TANAH YANG POROUS

UKURAN SARINGAN (mm)

% LOLOS

9.5

100

4.75

95 100

1.18

45 80

0.425

10 30

0.15

2 - 10

(3)

Syarat-Syarat Kualitas untuk Bahan-Bahan Alas (Dasar)

a.

Bahan alas (dasar) untuk saluran pipa dan saluran beton serta gorong-gorong terdiri
dari pasir bergradasi baik, kerikil berpasir atau batu pecah.

b.

Bahan alas (dasar) tersebut harus memenuhi syarat kualitas yang diberikan pada
Tabel 2.7.3 kecuali diperintahkan lagi oleh Direksi Teknik.

TABEL 2.7.3 SYARAT KUALITAS UNTUK BAHAN ALAS (DASAR)

URAIAN
Ukuran Partikel maksimum

SATUAN UJI
20 mm

Lolos 0.075 mm (saringan No. 200)

Maksimum 15 %

Batas Cair

Maksimum 25 %

Indeks Plastisitas

Maksimum 6 %

2.7.3 Pelaksanaan Pekerjaan


(1) Penempatan Urugan Porous
a.

Penempatan urugan porous di sekeliling pipa, saluran atau di belakang struktur harus
dilaksanakan segera mengikuti penempatan pipa atau pemasangan struktur, dan
harus dipadatkan dalam lapisan-lapisan tebal maksimum 15 cm sampai satu
kepadatan yang disetujui sebesar 95% maksimum kepadatan kering (standar proctor)
atau suatu kepadatan lainnya sebagaimana dimintakan oleh Direksi Teknik.

2 -18

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Pengurugan di atas bahan porous harus diselesaikan sesudah satu penundaan
paling sedikit selama 10 hari, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik.
b.

Dimana selimut drainase tipis urugan porous dipasang, urugan tersebut harus
dipadatkan secara ringan dan ditutup dengan lapisan urugan tanah untuk pemadatan
terakhir. Diberikan perhatian untuk melindungi selimut drainase dari kerusakan atau
saling bercampur dengan urugan tanah.

(2) Penempatan Bahan Alas (Dasar)


Parit untuk saluran pipa gorong-gorong beton, saluran di bawah permukaan atau
pekerjaan-pekerjaan sejenis yang memerlukan satu lapisan alas (dasar), harus digali
yang secara umum sesuai dengan Spesifikasi Bab 3.1 ini, dan satu alas pondasi yang
mantap disiapkan sampai ke tingkat untuk menerima bahan dasar. Tebal alas (dasar)
untuk pipa-pipa tidak boleh kurang dari 10% diameter pipa atau saluran, dengan satu
ketebalan minimum 5 cm.
Alas dasar tersebut harus dipasang untuk membuat hubungan yang kokoh dari sisi bawah
pipa dan memberikan penopangan yang merata dengan potongan ceruk-ceruk untuk
sumbat dan sambungan kotak (socket).

(3) Pemasangan Geotekstil


Anyaman filter plastik geotekstil tersebut harus dipasang sesuai dengan rekomendasi
pabrik pembuat.

(4) Pemasangan Pipa Porous


a. Urugan pipa porous sebagai alas dasar pipa porous harus diletakkan sebagaimana
diuraikan pada Bab 2.7.3 (1) menggunakan gradasi seperti ditentukan dalam Tabel
2.7.2.
b. Pipa porous harus dipasang di atas dasar yang telah disiapkan dan ditempatkan pada
posisi secara hati-hati terhadap alinyemen dan kemiringannya; meletakkan
sambungan ujung dengan celah tidak melebihi 5 cm. Sambungan tersebut harus
dibungkus dengan satu anyaman filter (geotekstil) yang disetujui, kemudian bagian
sebelah atas juga dilindungi dengan kertas ter yang disetujui atau yang sejenis, dan
kemudian ditutup dengan urugan porous seperti yang ditentukan pada Bab 2.7.3 (1).

(5) Pembuatan Lubang Pelepasan (Weapholes)


a. Lubang pelepasan harus dibuat sesuai dengan petunjuk Direksi Teknik, dan secara
umum akan berjarak 2 meter terpisah dan bertangga vertikal 1 meter.
b. Apabila kantong-kantong filter harus dibuat di belakang lubang pelepasan, bahan filter
tersebut akan mencapai 30 cm ke dalam urugan yang normal, kecuali diperintahkan
lain oleh Direksi Teknis.

2.7.4 Pengendalian Mutu


1) Pengujian Laboratorium

2 -19

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


a.

Pengujian harus dilakukan untuk masing-masing sumber pengdaan bahan filter


urugan porous atau bahan alas agar supaya memenuhi persyaratan Spesifikasi ini.

b. Contoh-contoh bahan harus diserahkan bersama-sama dengan data pengujian seperti


dimintakan di bawah Bab 2.7.1 (4) dan harus mengacu kepada pengujian-pengujian
laboratorium berikut ini :

TABEL 2.7.4 TES LABORATORIUM UNTUK BAHAN DRAINASE POROUS

TEST

Analisa saringan agregat

RUJUKAN TEST
AASHTO

BINA MARGA

T27

PB 0201 76

halus dan agregat kasar

JENIS

Menentukan distribusi
ukuran partikel dari
partikel halus dan partikel
kasar

Jumlah bahan yang lebih

T11

PB 0208 76

Menentukan total volume

halus dari saringan

bahan yang lebih halus

0.075 dalam agregat

dari saringan standar


0.075 mm yang berada
dalam agregat

Menentukan batas cair

T89

PB 0109 - 76

dan batas plastik

T90

PB 0110 - 76

Tes plastisitas

(2) Pengendalian Lapangan


Tes pemadatan bahan urugan harus dilaksanakan selama pelaksanaan pekerjaan yang
sesuai dengan perintah Direksi Teknis untuk memenuhi persyaratan Spesifikasi ini.
Tes harus meliputi :

Hubungan kepadatan kadar air

AASHTO T79

Kepadatan di tempat

AASHTO T191

2.7.5 Cara Pengukuran Pekerjaan


(1) Bahan Urugan Porous, Filter dan Alas (Dasar)
a.

Bahan urugan porous, bahan selimut filter dan bahan alas dasar harus
diklasifikasikan dan diukur sebagaimana tersebut di bawah bab ini hanya jika
digunakan untuk tujuan khusus yang diuraikan dalam gambar dan Daftar Penawaran
atau seperti diperintahkan dan diterima oleh Direksi Teknik secara tertulis.

b.

Volume bahan urugan porous, bahan filter dan bahan alas dasar harus diukur untuk
pemabayaran beerupa jumlah meter kubik bahan dipadatkan mencapai bentuk dan
profil yang disetujui. Setiap bahan yang dipasang yang melebihi dati yang diperlukan
akan diperlakukan sebagai urugan terpilih atau urugan biasa yang mana yang sesuai
untuk pengurugan kembali parit atau pondasi yang umum, dan tidak boleh diukur di
bawah bab ini.

2 -20

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


(2) Anyaman Filter Plastik (Geotekstil)
Anyaman filter plastik (geotekstil) harus diukur dalam meter persegi atau luas yang ditutup
(tanpa cadangan untuk tumpang tindih) semua menurut rekomendasi pabrik pembuat dan
persetujuan Direksi Teknik.

(3) Pipa-Pipa Porous


Pipa porous akan diukur dalam meter panjang dari ujung ke ujung pipa yang dipasang
menurut Spesifikasi dan persetujuan Direksi Teknik. Tidak ada pengukuran untuk
pembayaran yang terpisah akan dibuat untuk penyediaan dan pemasangan filter
anyaman (geotekstil) dan kertas ter (pembungkus) di atas sambungan-sambungan
pekerjaan-pekerjaan demikian dimasukkan sebagai bagian dari pekerjaan untuk
menyediakan dan memasang pipa-pipa porous.

(4) Lubang Pelepasan (Weepholes)


Tidak akan dibuatkan penyediaan bagi pembuatan lubang pelepasan (weepholes),
pekerjaan tersebut diperlukan merupakan keharusan dan telah dimasukkan di dalam
pembuatan dinding atau pelapisan.

(5) Galian atau Urugan untuk Bahan Urugan Porous, Bahan Alas Dasar dan Bahan Filter
atau Pekerjaan Drainase di bawah Permukaan.
Terkecuali untuk galian batu (yang akan dicakup di bawah item pembayaran terpisah)
tidak ada pengukuran untuk pembayaran akan dilakukan untuk pekerjaan galian dan
pekerjaan urugan, pekerjaan demikian diperlukan sebagai kelengkapan (sudah termasuk)
yang ada dalam melaksanakan pekerjaan untuk urugan kembali, bahan porous, bahan
alas dasar dan bahan filter atau drainase di abwah permukaan, dan dimasukkan dalam
daftar penawaran untuk pekerjaan-pekerjaan ini.

2.7.6 Dasar Pembayaran


Pekerjaan yang diukur seperti yang diberikan di atas akan dibayar pada Harga Kontrak
per satuan pengukuran yang bersangkutan dengannya untuk masing-masing item
pembayaran yang tercantum di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Penawaran. Harga
dan pembayaran ini berupa kompensasi penuh untuk pengadaan dan pemasangan
semua bahan-bahan, tenaga, alat dan semua biaya lainnya yang diperlukan untuk
penyelesaian pekerjaan yang baik yang diuraikan dalam Spesifikasi.

Nomor Item

URAIAN

Pembayaran
2.7.1

Satuan
Pengukuran

Bahan urugan porous, bahan selimut filter dan Meter kubik


bahan alas dasar

2.7.2

Ayaman Filter Plastik (Geotekstil)

Meter persegi

2.7.3

Pipa-Pipa Porous

Meter panjang

2 -21

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

2 -22

BAB III
PEKERJAAN TANAH
BAB 3.1 GALIAN
3.1.1 Umum
(1). Uraian
a. Pekerjaan ini terdiri dari penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau batu ataupun
bahan-bahan lainnya dari jalan kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan kontrak
yang memuaskan.
b. Pekerjaan ini biasanya diperlukan untuk pembuatan jalan, air dan selokan-selokan, pembuatan parit atau
pondasi pipa, gorong-gorong,saluran-saluran atau bangunan-bangunan lainnya, untuk pembuangan tana-tanah
yang tidak cocok dan tanah selimut (bagian atas) untuk pekerjaan stabilisasi dan pembuangan tanah longsor,
untuk bahan galian tanah konstruksi ataupun untuk pembuangan bahan-bahan buangan dan pada umumnya
pembentukan kembali daerah jalan, sesuai dengan spesifikasi ini

dan dalam pemenuhan yang paling

bertangggung jawab terhadap garis batas, kelandaian dan potongan melintang yang ditunjukkan pada gambar
rencana atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.
c. Terkecuali untuk tujuan pembayaran, persyaratan bab ini berlaku untuk semua pekerjaan galian yang
dilaksanakan dalam hubungan dengan kontrak , termasuk pekerjaan-pekerjaan yang yang berkaiatan dalam
bab ini, dan semua galian diklasifikasikan dalam satu atau dua kategori :
1) Galian Biasa
2) Galian Batu
(2) Definisi
a. galian batu terdiri dari penggalian batu-batu besar dengan volume setengah kubik atau lebih besar atau macammacam bahan padat yang menyatu dan keras yang dalam pendapat direksi teknik tidak praktis untuk digali tanpa
menggunakan peralatan kerja pneumatik, bor atau bahn peledak. Ini tidak termasuk bahan batuan yang dalam
pendpat direksi teknik dapat dibuat lepas dn dipecah-pecah oleh penggaruk hidrolis yang ditarik atau buldozer.
b. Semua penggalian lain akan dianggap galian biasa.
(3) Toleransi Ukuran
Kelandaian, garis batas dan formasi akhir setrelah penggalian tidak boleh berbeda dan yang ditentukan lebih besar 2 cm
pada setiap titik. Pekerjaan yang tidak memenuhi toleransi ini harus diperbaiki sehingga memuaskan Direksi teknik
sesuai dengan sub bab 3.1.1 (6)
(4) Pemeriksaan Lapangan

a. untuk setiap pekerjaan yang dibayar di bawah bab ini, ketinggian dan garis batasnya harus disetujui Direksi Teknis,
sebelum kontraktor memulai pekerjaan.
b. Sesudah masing-masing pengalian untuk lapis tanah dasar, formsi atau pondssi dipadatkan. Kontraktor harus
memberitahukan hal tersebut kepada direksi teknik, dan tidak ada bahan atas dasar atau bahan laiannya boleh
dipasang sampai direksi teknik memnyetujui kedalaman penggalian dan kualitas serta kekerasan bahan pondasi.
5) Penjadwalan Pekerjaan
a.

Pembuatan parit atau penggalian lainnya memotong jalan kendaraaan harus dilaksanakan dengan cara
menggunakan pelaksanaan ssetengah lebar atau secara lain diadakan perlindungan sehingga jalan tersebut dijaga
tetap terbuka untuk lalulintas pada setiap waktu.

b.

Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi teknik gambar rincian semua bangunan sementara yng diusulkan
untuk digunakan, seperti penyanggaan, penguatan cofferdam (bendungan sementara)dinding pemutus aliran
rembesan dan bangunan bangunan untuk pembelokan sementara aliran sungai serta harus untuk mendapatkan
persetujuan direksi teknik atas gambar-gambar, sebelum melakukan pekerjaan galian yang akn dilindungi oleh
bangunan-bangunan yang diusulkan tersebut.

6) Penggunaan dan Pembuangan Bahan-bahan Galian


a.

Semua bahan-bahan yang cocok yang digali didalam batas-batas dan lingkup kerja proyek, dimana mungkin akan
digunakan dengan cara yang paling efektif, untuk pembuatan formasi badan jalan atau untuk urugan kembali.

b.

Bahan-bahan galian yang berisikan tanah-tanah yang sangat organis, gambut berisikan akar-akar atau barang
barang tumbuhan yang banyak, dan juga tanah yang mudah mengembang yang menurut pendapat direksi teknis
akan menghalangi pemadatan bahan lapisan diatasnya atau dapat menimbulkan suatu penurunan yang tidak
dikehendaki atau kehancuran, akan diklasifikasikan sebagai tidak cocok digunakan sebagai urugan dalam
pekerjaan permanen.

c.

Setiap bahan yang melebihi kebutuhan untuk timbunan atas setiap bahan yang tidak disetujui direksi teknik menjadi
bahan urugan yang cocok, harus dibuang dan diratakan dalam lapisan-lapisan yang tipis oleh kontraktor di luar
Daerah Milik Jalan seperti yang diperintahkan oleh direksi teknik.

d.

Kontraktor akan bertanggung jawab untu semua penyelenggaraan dan biaya bagi pembuangan bahan-bahan
lebihan atau bahan tidak cocok termasuk pengangkutannya dan mendapat izin dari pemilik atau penyewa lahan
dimana buangan tersebut dilakukan(ditempatkan).

7) Pengamanan Pekerjaan Galian


a.

Selama pekerjaan penggalian kemiringan galian yang stabil yang mampu menyangga bangunan-bangunan struktur
atau mesin-mesin sekitarnya harus dijaga sepenuhnya serta harus dipasang penyangga dan penguat yang
memadai bila permukaan galian yang tidak ditahan dengan cara laian dapat menjadi tidak stabil. Bila diperlukan

kontraktor harus menopang struktur-struktur disekitarnya yang mungkin menjadi tidak stabil atau menjadi
berbahaya oleh pekerjaan galian
b.

Semua galian terbuka harus dipasang penghalang yang memadai untuk menghindari tenaga kerja atau lain-lainnya
jatuh dengan tidak sengaja ke dalam galian dan setiap galian terbuka di dalam daerah badan jalan atau bahu jalan,
sebagai tambahan harus di beri marka /tanda peringatan pada malam hari dengan drum di cat putih dengan lampu
merah sehingga memuaskan direksi teknik.

c.

Kontraktor harus bertanggungjawab untuk mengadakan perlindung bagi setiap pipa bawahg tanah yang berfungsi,
kabel-kabel, konduit atau struktur lainnya di bawah permukaan yang ditemukan dn bertanggung jwab untk biaya
perbaikan setiap kerusakan yang disebabkan oleh operasinya.

3.1.2

Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Prosedur umum


a.

Pekerjaan galian harus dilaksanakn dengan sekecil mungkin terjadi gangguan terhadap bahan-bahan di bawah dan
di luar batas galia yang ditentukan sebelumnya

b.

Jika bahan yang terdapat pada permukaan garis formasi atau tanah dasar atau pondasi adalah lepas-lepas atau
lunak atau secara lain tidak cocok menurut pendapat direksi teknik, bahn itu secara keseluruhan harus dipadatkan
atau dibuang seluruhnya dan diganti dengan urugan yang cocok, seperti yang diperintahkan direksi teknik.

c.

Dimana batu lapisan keras atau bahan tidak dapat dihancurkan lainnnya ditemukan berada diatas garis formasi
untuk saluran yang dilapis, atau pada ketinggian permukaan untuk perkerasan daan bahu jalan, atau diatas bagian
dasar parit pipa atau galian pondasi struktur, bahan tersebut harus digali terus sedalam 20 cm sampai satu
permukaan yang merata dan halus.

d.

Setiap bahan beban diatas harus disingkirkan dari tebing yang tidak stabil sebelum penggalian dan talud tebing
harus dipotong menurut sudut rencana talud.
Untuk tebing yang tinggi harus dibuatkan berm pada setiap ketingian tebing 5.0 m yang sesuai dengan gambar
standar.

e.

Untuk perlindungan tebing terhadap erosi, harus dibuatkan saluran cut off (penutup aliran rembesan) dan saluran
pada kaki tebing sebagimana yang ditunjukkan pada gambar rencana atau sebagimana yang diperintahkan oleh
direksi lapangan. Daerah-daerah yang baru selesai digali, secepatnya harus dilindungi juga dengan penempatan
lempengan rumput atau tanaman-tanaman lain yang disetujui.

f.

Sejauh mungkin dan seperti yang diperintahkan oleh direksi teknik, kontraktor harus menjaga galian tersebut bebas
air dan harus melengkapi dengan pompa-pompa, perlalatan dan tenaga kerja serta membuat tempat air
mengumpul, saluran sementara atau tanggul sementara seperlunya untu mengeluarkan atau membuang air dari
daerah-daerah di sekitar galian.

(2) Galian Untuk Struktur dan Pipa

a.

Parit untuk pipa, gorong gorong atau saluran beton dan galian-galian untuk pondasi jembatan dan struktur lainnya,
harus dari satu ukuran yang memungkinkan pemasangan bahan-bahan dengan baik pemeriksaaan pekerjaan dan
memadatkan kembali urugan-urugan di bawah dan di sekitar pipa atau bangunan yang bersangkutan.

b.

Galian sampai permukaan akhir pondasi untuk mendukung struktur tidak boleh dilakukan sebelum pendukung
(footing) terpasang.

3)

Penggalian untuk bahan galian

a.

Lubang-lubang bahan galian apakah berada dalam daerah milik jalan atau dimana saja, harus digali sesuai dengan
ketentuan-ketentuan spesifikasi ini.

b.

Persetujuan untuk membuka daerah galian baru atau mengopersikan daerah galian yang ada, harus mendapat
persetujuan direksisecara tertulis sebelum operasi galian dimulai.

c.

Pembuatan lubang-lubang harus dilarang atau dibatasi dimana lubang-lubang tersebut mungkin mengganggu
drainase asli atau yang didisain.

d.

Disisi daerah yang miring, lubang-lubang galian bahan diatas sisi jalan yang lebih tinggi, harus dibuat landai dan
dibuat mengalirkan air untuk membawa semua air permukaan ke saluran tepi dan gorong-gorong didekatnya tanpa
terjadi genangan.

e.

Ujung dari lubang galian bahan tidak boleh lebih dekat dari 2 meter dari kaki satu tanggul atau 10 meter dari bagian
puncak galian.

f.

Semua galian bahan atau sumber galian bahan yang digunakan untuk kontraktor harus ditinggalkan dlam kondisi
yang rapih dan teratur dengan sisi dan talud yang stabil setelah pekerjaan selesai.

4)

Pembuangan bangunan sementara

a.

Kecuali diperintahkan lain oleh direksi teknik, semua struktur sementara seperti tanggul sementara atau penyangga
penguat, harus dibongkar oleh kontraktor setelah selesaimya struktur permanen atau pekerjaaan lain yang mana
galian itu telah dilaksanakan.

b.

Bahan galian yang dikumpulkan dari bangunan-bangunan sementara tersebut tetap menjadi milik kontraktor atau
mungkin jika disetujui dianggap cocok oleh Direksi Teknik, disatukan dalam pekerjaan permanen dan dibayar
dibawah item pembayaran yang relevan dimasukkan ke dalam daftar penawaran.

c.

Setiap bahan galian yang dapat diizinkan sementara dipasang di dalam satu jalan air, harus dibuang dalam satu
cara sehingga tidak merusak jalan air tersebut.

3.1.3 Cara Pengukuran


(1) Galian yang dikecualikan dari pengukuran dan pembayaran
Banyak pekerjaan dibawah kontrak tersebut tidak akan diukur atau dibayar dibawah Bab ini. Dalam banyak kasus
pekerjaan tersebut akan dimasukkan kedalam harga penawaranuntuk item-item konstruksiyang bersangkutan.
Jenis galian yang secara khusus dikecualikan dari pengukuran dibawah bab ini, diuraikan sebagai berikut :

a.

Penggalian yang dilaksankan diluar garis batas, profil dan potongan melintang yang disetujui, tidak akan
dimasukkan kedalam volume yang harus diukur uhtuk pembayaran, kecuali dimana galian yang kelewat tersebut
diperlukan untuk item-item pekerjaan berikut :
i.

Pembuangan bahan-bahan lunak atau tak sesuai

ii.

Pembuangan batu atau bahan sejenis lainnya

iii.

Pembuangan tanah dari talud, longsoran, tanggul sementara yng runtuh yang sebelumnya trelah diterima dan
memuaskan Direksi Teknik.

b.

Galian untuk saluran tanah baru dan pelapisan saluran (bab 2.3) akan diukur secara terpisah dibawah item
pembayaran 2.3.1.

c.

Galian untuk pekerjaan drainase berikut ini termasuk pondasi struktur secara terpisah dibawah item pembayaran
2.3.1
i. Rehabilitasi saluran tepi jalan (bab 2.2)
ii. Gorong-gorong pipa beton kecuali untuk galian batu
iii. Darainase porous

d.

Pekerjaan yang dilaksanakan untuk pengembalian kondisi semula perkerasan tidak akan diukur untuk pembayaran.
Penyediaan untuk pekerjaan ini akan dimsukkan kedlam berbagai penawaran harga satuan untuk bahan-bahan
yang digunakan dlam operasi pemulihan kondisi semula.

e.

Galian untuk rehabilitasi bahu jalan, kecuali untuk galian batu, akan dimsukkan di bawah item pembayaran 4.1.1

f.

Galian untuk pekerjaan pemeliharaan rutin tidak boleh diukur untuk pembayaran penyediaan untuk pekerjaan ini
akan dimasukkan dalam penawaran harga lump sum untu berbagai pekerjaan pemeliharaan rutin yang dicakup
dibawah bab 9.2

g.

Galian yang dilaksanakan untuk mendapatkan bahan konstruksi (batu, agregat tanah dari galian bahan atau quary)
di luar batas daerah pembangunan tidak boleh diukur untuk pembayaran. Biaya untuk pekerjaan ini dimasukkan
dalam penawaran harga satuan untuk bahan-bahan konstruksi.

(2) Galian yang dimasukkan untuk pengukuran dan pembayaran.


a.

Pekerjaan galian yang tidak dikecualikan seperti diatas akan diukur untuk pembayaran sebagai volume setempat
dalam meter kubik bahan-bahan yang digali. Dasar penghitungannya harus berupa penampang melintang dan profil
yang ditunjukkan pada gambar atau diukur di tempat sebelum penggalian, dan garis batas kemiringan serta
ketinggian pekerjaan galian akhir yang ditentukan atau diterima.Cara penghitungan harus berupa cara luas ratarata akhir, menggunakan penampang melintang pekerjaan berjarak tidak lebih dari 25 meter terpisah.

b.

Galian batu akan diukur dalam meter kubik dan disetujui antara kontraktor dan diraksi teknikatas dasar volume
senyatanya yang dibuang oleh mesin gali sebagai hasil dari penggalian di dalam garis batas dan ketinggian yang
diatur oleh direksi teknik. Galian batu akan diukur dibawah item pembayaran ini terhadap semua item galian dalam
setiap potongan dari spesifikasi ini.

Nomor Item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

2.2.1

Rehabilitasi Saluran Tanah

Meter Panjang

2.2.2

Rehabilitasi Saluran Dilapisi

Meter Panjang

Bab 3.2. Urugan


3.2.1

Umum

(1) Uraian
a.

Pekerjaan ini terdiri mendapatkan, mengangkut, penenpatan dan memadatkan tanah atau bahan berbutir yagn
disetujui untuk pembangunan pematang, pengurungan kebali paarit-parit atau galian di sekeling pipa atau struktur
serta pengurugan sampai kepada garis batas kemiringan dan ketinggian penampang melintang yang ditentukan
atau disetujui.

b.

Pekerjaan tersebut tidak termasuk pemasangan bahan filter pilihan sebagai alas dasar untuk pipa atau saluran
beton atau sebagai bahan drainase porous yang disediakan untuk drainase dibawah permukaan. Bahan-bahan ini
dimasukkan dalam Bab 2.7 spesifikasi-spesifikasi ini.

(2) Definisi
a. Urugan yang tercakup dalam persyaratan-persyaratan bab ini dibagi dalam dua kategori yaitu:

b.

Urugan biasa untuk badan jalan

Urugan pilihan untuk badan jalan

Urugan pilihan badan jalan digunakan untuk kondisi tanah lunak seperti rawa-rawa, tanah payau, atau
tanah yang selalu terendam air di mana diperlukan satu tanah urugan dengan plastisitas rendah (bahan
berbutir), dan juga di mana stabilisasi tanggul, talud yang terjal atau tanah dasar harus ditimbun sampai
ketinggian dan pemadatan yang tertentu.

c.

Urugan yang diperlukan untuk tujuan umum seperti diuraikan pada Sub Bab 2.2.1 (1) di atas dan tidak
termasuk urugan pilihan untuk badan jalan, harus diperlakukan sebagai urugan biasa untuk badan jalan.

(3) Toleransi Ukuran


a.

Ketinggian dan kemiringan akhir badan jalan tanah dasar dan bahu jalan, setelah pemadatan tidak boleh
ada 2 cm lebih tinggi atau 3 cm lebih rendah dari yang ditentukan atau disetujui.

b.

Semua permukaan akhir urugan yang nampak keluar harus cukup halus dan seragam, dan mempunyai
kemiringan yang cukup menjamin limpasan air permukaan yang bebas.

c.

Permukaan akhir talud (timbunan) badan jalan tidak boleh berbeda dari garis profile yang ditentukan lebih
dari 10 cm.

(4) Contoh-Contoh Bahan


a.

Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal-hal berikut ini paling sedikit 14 hari sebelum
mulai digunakannya setiap bahan sebagai urugan :
i.

Dua contoh bahan dengan berat masing-masing 50 kg, salah satu dari padanya akan ditahan oleh
Direksi Teknik sebagai acuan selama jangka waktu kontrak.

ii.

Satu pernyataan mengenai asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan sebagai bahan urugan
pilihan, bersama-sama dengan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa bahan tersebut memenuhi
spesifikasi.

(5) Penjadwalan Pekerjaan


a.

Bagian baru (timbunan) badan jalan raya atau rekonstruksi harus dibangun setengah lebar, kecuali
disediakan satu pengalihan sehingga jalan tersebut dijaga terbuka untuk lalu lintas pada setiap waktu.

b.

Urugan tidak boleh dipasang, dihampar atau dipadatkan selama hujan atau di bawah kondisi basah dan pemadatan
tidak dapat dikontrol.

(6) Perbaikan Urugan yang Tidak Memuaskan atau Tidak Stabil


a.

Urugan terakhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang ditentukan atau disetujui atau dengan toleransi
permukaan yang ditentukan dalam sub bab 3.2.1 (3) di atas, harus diperbaiki dengan membuat lepas-lepas
permukaan tersebut, dan membuang atau menambah bahan-bahan yang doperlukan diikuti dengan pembentukan
dan pemadatan kembali.

b.

Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, dalam hal batas-batas kandungan kelembaban seperti ditentukan
dalam sub bab 3.2.3 (3) atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, harus diperbaiki dengan menggaruk bahan
tersebut sampai kedalaman 15 cm atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik, yang diikuti dengan
penyiraman air yang memadai dan pencampuran secara menyeluruh dengan alat motor grader atau peralatan lain
yang disetujui.

c.

Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, seperti yang ditetapkan oleh batas-batas kandungan kelembaban
yang ditentukan dalam sub abb 3.2.3 (3) atau seperti diperintahkan Direksi Teknik, harus diperbaiki di bawah
kondisi cuaca kering dengan penggarukan bahan-bahan tersebut diikuti dengan pengerjaan sebentar-bentar alat
grader atau peralatan lain yang disetujui, dengan waktu istirahat diantara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Secara
alternatif atau jika pengeringan yang cukup tidak dapat dicapai dengan pengerjaan bahan lepas tersebut, Direksi
Teknik dapat memerintahkan supaya bahan tersebut dibuang dari tempat pekerjaan dan diganti dengan bahan
yang cocok dan kering.

d.

Perbaikan urugan yang tidak memenuhi persyaratan kepadatan atau persyaratan sifat-sifat bahan spesifikasi ini,
dapat meliputi kebutuhan pencampuran dengan bahan lain yang cocok, disertai dengan penambahan kebasahan,
pemadatan yang lebih dan/atau pembuangan serta penggantian atas perintah Direksi Teknik.

3.2.2

Bahan-bahan

(1) Sumber Pengadaan


Bahan-bahan urugan harus dipilih dari sumber-sumber yang disetujui yang sesuai dengan persyaratan Bab 1.6. BahanBahan dan Penyimpanan dari Spesifikasi ini. Pengujian klasifikasi tanah harus dilaksanakan atas perintah Direksi
Teknik, yang sesuai dengan AASHTO M145 untuk menentukan distribusi ukuran partikel dan plastisitas.
(2) Syarat-Syarat Kualitas
a. Urugan Biasa untuk Badan Jalan
i.

Urugan yang diklasifikasikan sebagai Timbunan Biasa akan terdiri dari galian bahan tanah atau bahan berbutirbutir yang disetujui oleh Direksi Teknik sebagai bahan yang cocok untuk digunakan dalam pekerjaan permanen
seperti yang diuraikan di bawah sub bab 3.2.1 (2).

ii.

Secara umum, urugan timbunan biasa harus diperiksa secara khusus untuk menyingkirkan penggunaan tanah
expansif atau tanah dengan plastisitas tinggi yang diklasifikasikan sebagai A5 dan A7 dalam Spesifikasi
AASHTO M145 atau sebagai Ch dan OH di bawah sistem klasifikasi Casagrande atau Unified.

b. Urugan Pilihan untuk Badan Jalan


i.

Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan terdiri dari bahan tanah atau bahan batu yang memenuhi
persyaratan untuk urugan tanggul biasa di atas dan yang juga jika diuji untuk CBR laboratorium akan memiliki
nilai minimum 10%.

ii.

Untuk pekerjaan stabilisasi talud atau badan jalan atau pekerjaan-pekerjaan lain dimana diperlukan adanya
tegangan geser yang baik, urugan pilihan badan jalan akan terdiri dari urugan batu atau lempung berpasiran
bergradasi baik atau campuran lempung/kerikil dengan indeks plastisitas rendah tidak lebih tinggi dari 10%.

iii.

Bilamana harus dilakukan pemadatan di bawah kondisi banjir atau kondisi jenuh, urugan pilihan badan jalan
akan berupa pasir atau kerikil atau bahan butiran bersih lainnya dengan indeks plastisitas tidak lebih besar dari
6%.

3.2.2

Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan


a.

Sebelum menempatkan urugan di atas lapangan, semua operasi pemotongan dan pembersihan termasuk
pengisian lubang-lubang yang disebabkan oleh pembongkaran akar-akar, harus diselesaikan sesuai dengan
spesifikasi, dan semua bahan-bahan yang tidak cocok harus dibuang dari lapangan tersebut seperti diperintahkan
oleh Direksi Teknik.

b.

Bilaman tingginya timbunan adalah 1 m atau kurang, tempat pondasi timbunan harus dipadatkan secara
menyeluruh (termasuk membuat lepas-lepas, mengeringkan atau membasahi jika diperlukan) sampai bagian
puncak tanah setebal 15 cm, memenuhi persyaratan kepadatan yang ditetapkan untuk urugan yang ditempatkan.

c.

Jika timbunan harus dibuat di atas sisi bukit atau dipasang di atas timbunan baru atau timbunan lama, kemiringan
yang ada harus dipotong untuk membuat permukaan dudukan yang cukup lebar memikul peralatan pemadatan.

(2) Penimbunan Urugan


a. Urugan harus disiapkan sampai permukaan yang telah dibuat dan ditebarkan dalam lapisan-lapisan yang rata tidak
melebihi ketebalan padat 20 cm, yang memenuhi toleransi tebal lapisan yang diberikan dalam sub bab 3.2.1 (3)
Spesifikasi ini. Bilamana lebih dari satu lapisan dipasang, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin harus sama
ketebalannya.
b. Urugan tanah harus diangkut secara langsung dari daerah galian bahan ke tempat yang sudah disiapkan dan
dihampar (dalam cuaca kering). Penumpukan tanah pada umumnya tidak diijinkan, khususnya selama musim
hujan.
c. Pengurugan di atas pipa-pipa dan di belakang struktur harus dilakukan secara sistematis serta sedapat mungkin
segera diikuti dengan pemasangan pipa atau struktur tersebut. Perhatian harus diberikan untuk menjamin bahwa
telah diberikan waktu yang cukup kepada sambungan pipa dengan adukan dan struktur beton untuk mendapatkan
kekuatan yang memadai sebelum pengurugan.
Bahan-bahan batuan tidak boleh digunakan sebagai urugan kembali di sekeliling pipa atau di dalam 30 cm urugan
tanah yang langsung di bawah permukaan formasi perkerasan atau bahu jalan dan tidak ada batu dengan ukuran
melebihi 10 cm akan dimasukkan dalam urugan tersebut.
d. Kemiringan tebing harus dibentuk dan dirapikan menurut sudut talud rencana dan bagi tebing yang tinggi diberikan
berm yang sesuai dengan Gambar Rencana, serta dibuatkan penyediaan untuk drainase yang memadai.
e. Untuk prlindungan tebing terhadap erosi harus dipasang gebalan rumput, dan disusun dalam posisi di atas talud,
atas petunjuk dan sampai memuaskan Direksi Teknik.
(3) Pemadatan Urugan
a. Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan harus dipadatkan menyeluruh dengan
peralatan pemadatan yang cocok dan memadai yang disetujui oleh Direksi Teknik sampai kepada persyaratanpersyaratan kepadatan berikut :
i.

Lapisan-lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampi 45%
kepadatan kering standar maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99. Untuk tanah-tanah yang berisi lebih
dari 10% bahan-bahan yang tertahan di atas saringan 19 mm, maka kepadatan kering maksimum yang didapat
harus disesuaikan untuk bahan-bahan yang oversize (kelewat besar) tersebut seperti diperintahkan oleh Direksi
Teknik.

ii.

Lapisan-lapisan di dalam 30 cm atau kurang, di bawah permukaan tanah dasar, harus dipadatkan sampai 100%
kepadatan kering standar maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99 (PB.0111-76)

iii.

Tergantung kepada jenis pelaksanaan dan persyaratan khusus Direksi Teknik, pengujian-pengujian kepadatan
di lapangan dengan metode kerucut pasir harus dilakukan terhadap masing-masing lapisan urugan yang telah

dipadatkan, sesuai dengan AASHTO T191 (PB 0103-76) dan jika hasil sesuatu pengujian menunjukkan bahwa
kepadatannya kurang dari kepadatan yang diminta, kontraktor harus memperbaiki pekerjaan tersebut sesuai
dengan sub bab 3.2.1 (6). Pengujian harus dilakukan sampai kedalaman penuh lapisan dan di lokasi yang
ditunjukkan oleh Direksi Teknik, yang tidak boleh berjarak lebih dari 200 m.
b. Pemadatan urugan tanah harus dilakukan hanya bila kadar air bahan tersebut berada
c. Urugan timbunan harus dipadatkan dimulai pada ujung paling luar serta masuk ke tengah dalam satu cara di mana
masing-masing bagian menerima desakan pemadatan yang sama.
d. Jika bahan urugan harus ditempatkan pada kedua sisi sebuah pipa atau saluran beton atau struktur,
pelaksanaannya harus sedemikian sehingga urugan tersebut dibentuk sampai ketinggian yang hampir sama di atas
kedua sisi struktur.
e. Terkecuali disetujui oleh Direksi Teknik, urugan di sekitar ujung satu jembatan tidak boleh ditempatkan lebih tinggi
dari dasar dinding belakang atau kepala jembatan sampai bangunan atas dipasang.
f.

Urugan di tempat-tempat yang sulit dicapai oleh peralatan pemadatan harus ditempatkan dalam lapisan-lapisan
horisontal dengan bahan-bahan lepas ketebalan tidak melebihi 15 cm dan dipadatkan menyeluruh menggunakan
mesin pemadat yang disetujui. Harus diberikan perhatian khusus untuk menjamin tercapainya pemadatan yang
memuaskan di bawah dan di samping pipa-pipa, untuk mencegah terjadinya rongga-rongga dan untuk mnjamin
pipa-pipa tersebut mendapat dukungan sepenuhnya.

(4) Persyaratan Pemadatan untuk Urugan Batu


a.

Urugan batu harus ditempatkan dalam lapis-lapis tidak melebihi 30 cm tebalnya atau ketebalan lain yang diminta
oleh Direksi Teknik atas dasar mutu batu dan jenis alat pemadatan yang digunakan. Pemadatan urugan batu harus
dilaksanakan dengan pemadat berkisi-kisi, pemadat bergetaratau sebuah traktor dengan berat paling sedikit 20 ton
atau peralatan berat yang sejenis. Pemadatan harus dilakukan dalam arah memanjang sepanjang badan jalan,
dimulai dari ujung paling luar dan mengarah ke tengah, dan akan berlanjut sampai tidak ada pergeseran yang
nampak di bawah lindasan peralatan tersebut. Masing-masing lapisan akan terdiri dari batu bergradasi baik yang
dapat diterima dan semua rongga-rongga permukaan harus diisi dengan pecahan-pecahan sebelum dipasang lapis
berikutnya. Batu tidak boleh digunakan di bagian 15 cm puncak badan jalan dan tidak ada batu dengan ukuran
melebihi 10 cm dimasukkan di dalam lapis bagian atas ini.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan cara dan peralatan, mendapatkan tingkat pemadatan yang
ditentukan. Dalam hal bahwa dia tidak mampu mendapatkan kepadatan yang diperlukan, satu pengujian lapangan
harus dilaksanakan dimana jumlah lintasan peralatan pemadatan dan kadar air diubah-ubah sampai kepadatan
yang diperlukan didapat sehingga memuaskan Direksi Teknik. Hasil dan pengujian lapangan ini kemudian harus
digunakan untuk menentukan jumlah lintasan jenis alat pemadatan dan kadar air dari semua peralatan berikutnya
bagi urugan batu yang sejenis.

3.2.3

Pengendalian Mutu

(1) Test Laboratorium


Test untuk syarat kualitas bahan urugan harus dilaksanakan kedua-duanya untuk sumber pengadaan dan test
di tempat seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, untuk dapat memenuhi persyaratan-persyaratan Speifikasi
ini.
Test laboratorium berikut ini dijadikan rujukan (referensi).
TABEL 3. 2.1 TEST LABORATORIUM BAHAN URUGAN

PENGUJIAN

RUJUKAN
BINA MARGA

KETERANGAN

Analisa saringan agregat halus dan


kasar.

SNI 1968 1990 F


(ASHTO T 27)

Menentukan distribusi ukuran partikel


agregat kasar dan halus.

Penentuan batas cair dan batas


platis

SNI 1967 1990 F


(ASHTO T 89)

Tes pastisitas untuk Batas Cair dan


Indeks Plastisitas.

SNI 1966 1990 F


(ASHTO T 90)
Hubungan kadar air kepadatan

SNI 1724 -1989 F


(ASHTO T 99)

Tes standar Proctor.

CBR (California Bearing Ratio)

SNI 1744 1989 F


(ASHTO T 193)

Menentukan Daya Dukung Relatif urugan


padat.

TES PENGENDALIAN

KETERANGAN

a. Pengujian kepadatan urugan padat dilapangan.


(Tes Kerucut Pasir)
(SKSNI-M-13-1991-03)

b. Hubungan kadar air Kepadatan


(SNI 1742-1989 F)

Untuk menentukan hubungan kepadatan dan kadar


air pemasangan.
Urugan ditempatkan dalam lapisan di bawah formasi
jalan, harus diuji setiap 200m panjang jalan setiap
lapis.
Kepadatan harus minimal 90 % dari Standar Proctor.

3.2.5. Cara Pengukuran Pekerjaan


(1)

Apabila dimasukkan dalam Daftar Penawaran , sebagai satu iem pembayaran terpisah, dan tergantung kepada
ketentuan item berikutnya, urugan harus diukur dalam jumlah meter kubik bahan padat yang dipasang dan
diterima serta memuaskan Direksi Teknik, dan akan diuraikan sebagai urugan timbunan bahan biasa atau

timbunan bahan pilihan sesuai dengan spesifikasi dan gambar-gambar dan disetujui oleh Direksi Teknik untuk
pekerjaan khusus di bawah kontrak.
(2)

Volume yang harus diukur untuk pembayaran harus atas dasar penampang melintang dan profil yang disetujui
yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau diukur di lapangan sebelum suatu urugan telah ditempatkan pada
garis batas, kelandaian dan permukaan yang disetujui atau diterima. Cara penghitungan berupa cara luas ratarata dan menggunakan penampang melintang pekerjaan berjarak tidak lebih dari 25 meter, terkecuali dinyatakan
lain untuk kontrak khusus.

(3)

Untuk pengukuran satu urugan sampai menjadi satu pekerjaan timbunan atau pekerjaan sejenis yang dibangun di
atas tanah rawa dimana konsolidasi tanah asli yang baik diharapkan, marka-marka (patok) penurunan harus
dipasang dan disurvey bersama-sama oleh Direksi Teknik dan Kontraktor. Volume urugan kemudian akan
ditentukan atas dasar permukaan tanah sebelum dan sesudah penurunan.

(4)

Urugan yang ditempatkan di luar garis batas dan penampang mlintang yang disetujui, termasuk setiap tambahan
urugan yang diperlukan untuk dudukan atau penguncian ke dalam talud yang ada sebagai hasil penurunan
pondasi tidak boleh dimasukkan dakam volume yang harus diukur untuk pembayaran, kecuali dimana secara lain
disetujui oleh Direksi Teknik untuk mengganti bahan-bahan lunakatau tidak cocok yang ditemukan di lapangan
selama pelaksanaan.

(5)

Urugan porous, bahan filter atau bahan alas dasar utnuk pipa gorong-gorong, saluran beton, saluran dilapisi,
saluran porous, dinding kepala dan struktur lainnya, tidak boleh diukur untuk pembayaran di bawah bab ini,
bahan-bahan tersebut harus dimasukkan dalam harga satuan penawaran untuk bahan-bahan dan item-item
konstruksi yang bersangkutan, yang disediakan dalam item pembayaran di bawah Bab 2.7 dalam Spesifikasi ini.

(6)

Urugan yang digunakan dimana saja di luar batas-batas lapangan kerja atau untuk mengubur bahan-bahan
buangan atau untuk penutupan dan memperbaiki galian bahan-bahan, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran
urugan.

3.2.6 Dasar Pembayaran


Volume urugan yang diukur sebagaimana diberikan di atas, (betapapun jaraknya pengangkutan) akan dibayar per
satuan pengukuran pada harga yang bersangkutan yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran
yang tercantum di bawah, harga-harga dan pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk mendapatkan,
menyerahkan, memasang, memadatkan, mennyelesaikan dan menguji bahan-bahan urugan serta semua biaya-biaya
lain yang diperlukan dalam penyelesaian yang baik pekerjaan-pekerjaan yang diuraikan dalam Bab ini.
Nomor Item

URAIAN

Pembayaran

Satuan
Pengukuran

3.2.1

Urugan Biasa untuk Timbunan

Meter kubik

3.2.2

Urugan Pilihan untuk Timbunan

Meter kubik

Bab 3.3

PENYIAPAN TANAH DASAR

3.3.1 Umum
(1)

Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari menyiapan tanah dasar yang terletak ldibawah pondasi jalan, dalam keadaan Sian
menerima struktur perkerasan atau bahu jalan. Tanah dasar tersebut meluas smpai lebar penuh dasar jalan seperti
ditunjukkan pada gambar, dan dapat dibentuk diatas tibunan biasa, atimbunan pilihan, galian batu atas van filter
porous.

(2) Toleransi ukuran


a.

Kemiringan dan ketinggian akhir setelah pemadataan, tidak boleh berbeda satu sentimeter lebih tinggi atau lebih
rendah dari pada yang ditetapkan atau diatur dilapangan dan disetujui oleh direksi teknik.

b.

Permukaan akhir tnah dasar akan dibuat miring melintang jalan seperti yang ditetapkan atau ditunjukkan pada
gambar dan dibuat cukup rata serta seragam untuk menjamin limpasan air permukaan yang bebas.

(3) Penjadwalan Pekerjaan


a.

Semua pekerjan drainase tepi jalan disebelah tanah dasar harus diselesaikan dan dapat berfungsi sampai satu
tingkat yang dapat menyediakan drainase yang efektif bagi limpasan air permukaan dan tanah dasar selama hujan
lebat ataupun sebagai hasil banjir dari daerah sekitarnya.

b.

Gorong-gorong, pipa porous dan bangunan-bangunan kecil lainnya diletakkan di bawah tanah dasar harus
diselesaikan sepenuhnya dengan urugan padat, sebelum penyiapan tanah dasar dimulai.

(4) Pengendalian Lalu lintas


a.

Pengendalian lalu lintas harus dilakukan oleh kontraktor sesuai dengan persyaratan umum koontrak, dan sampai
disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua konsekwensi lalu-lintas yang diizinkan lewat diatas tanah
dasar, selama pelaksanaan pekerjaan dan ia harus melarang lalu lintas tersebut, bilamana mungkin dengan
menyediakan satu jalan pengalihan atau pembagunan setengah lebar.

(5) Perbaikan Penyiapan Tanah Dasar yang Tidak Memuaskan


a.

Persyaratan yang ditetapkan di bawah sub bab 3.1.1 (8) Galian dan sub bab 3.2.1 (6) Urugan harus diterapkan
untuk semua penyiapan tanah dasar dimana relevan (berkaitan).

b.

Kontraktor kan memperbaiki atas biaya kontraktor sampai disetujui Direksi Teknik, setiap alur bekas roda,
gundukan dan kerusakan-kerusakan lain yang diakibatkan oleh lalu-lintas atau tenaga kerja kontraktor terhadap
tanah dasar yang sudah selesai.

c.

Kontraktor akan memperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, setiap kerusakan tanah dasar
disebabkan oleh kekeringan dan retak-retak, atau dari kebanjiran ataupun kasus alami lainnya. Pekerjaan tersebut

akan dimasukkan untuk pembayaran di bawah bab ini, terkekecuali Direksi Teknik menganggap kerusakankerusakan tersebut disebabkan oleh kelalaian konraktor.

3.3.2. Bahan-bahan
Bahan tanah dasar dan kualitasnya harus sesuai dengan persyaratan yang berkaitan untuk timbunan biasa, timbunan
pilihan, atau galian tanah dasar yng ada. Bahan bahan yang digunakan dalam masing-masing keadaan harus seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknik, dan harus dipasang seperti yang ditetapkan pada Bab 3.1 dan 3.2.

3.3.3. Pelaksanaan Pekerjaan


(1)

Penyiapan Lapangan

a.

Penggalian dan penggurugan untuk tanah dasar harus seperti yang ditetapkan pada bab 3.1 dan 3.2 spesifikasi
ini.

b.

Kontraktor harus menyediakan dan menggunakan mal logam dan mistar logam untuk memeriksa punggung atau
kemiringan melintang. Bilamana diminta oleh direksi teknik ketinggian lapangan harus diperiksa dengan alat
survey ketinggian.

(2)

Pemadatan Tanah

a.

Pemadatan lapisan tanah di bawah permukaan tanah dasar harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan
spesifikasi yang diberikan pada bab 3.2.3. spesifikasi ini
Lapisan lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampai 45%
kepadatan kering maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99.
Lapisan-lapisan yang berada pada 30 cm atau kurang dan sampai permukaan tanah dasar harus dipadatkan
sampai 100% kepadatan kering maksimum.

3.3.4. Pengendalian Mutu


Pengujian-pengujian kualitas untuk kepadatan di lapangan dan daya dukung tanah harus dilakukan untuk setiap 200 m
panjang jalan sesuai dengan persyaratan spesifikasi sub bab 3.2.4. CBR minimum untuk tanah dasar harus 5%, dan
bilamana hal ini tidak dapat dicapai, perlu dipasang bahan lapis pondasi bawah atau bahan timbunan pilihan sampai
ketebalan yang diperintahkan oleh Direksi Teknik (lihat Bab 5.1 Lapis Pondasi Bawah).

3.3.5. Cara Pengukuran Pekerjaan


(1)

Luas penyiapan tanah dasar yang sesuai dan disetujui akan diukur sebagai jumlah meter persegi permukaan
yang dipadatkan dan dibentuk.

(2)

Tidak ada pembayaran akan dilakukan di bawah Bab Spesifikasi ini, untuk penyiapan tanah dasar mengenai
pekerjaan pemeliharaan berkala, meliputi perbaikan lubang, bagian amblas atau pecahnya ujung-ujung
(pinggiran) jalan.

3.3.6 Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan diukur seperti dilakukan dia ats, akan dibayar per satuan pengukuran pada harga yang
dimasukkan dalan daftar penawaran untuk item pembayaran yang tercantum di bawah, yang tenaga dan
pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam
penyelesaian penyiapan tanah dasar yang diminta seperti diuraikan sebelumnya dalam Bab ini.
Nomor Item

URAIAN

Pembayaran
3.3.1

Satuan
Pengukuran

Penyiapan Tanah Dasar

Meter persegi

BAB 3.4 LAPIS TANAH DASAR STABILISASI KAPUR


3.4.1 `Umum
(1)

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari modifikasi (mengubah) dan meningkatkan kekuatan dan kualitas tanah dasar dengan cara
menambah/mencampur dengan kapur dan air kepada tanah lapisan dasar ditempat, serta menghampar, membentuk,
memadatkan dan merawat serta menyelesaikan sampai ketinggian dan penampang melintang yang diminta untuk
membentuk satu lapis tanah dasar yang disetujui dengan kekuatan tertentu, memanjang selebar penuh dasar jalan.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Kemiringan dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari 1 cm lebih tinggi atau lebih rendah dari
pada yang ditetapkan atau diatur di lapangan dan disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Permukaan akhir tanah dasar harus diberi punggung atau kemiringan melintang yang ditetapkan atau seperti
yang ditunjukkan pada gambar dan harus cukup halus dan merata dalam bentuk untuk menjamin limpasan air
permukaan secara bebas.

(3)

Contoh Bahan

a.

Contoh kapur hidrasi yang digunakan untuk memperbaiki tanah dasar harus diserahkan kepada Direksi Teknik
untuk mendapatkan persetujuan paling lambat 14 hari sebelum pekerjaan dimulai, beserta sertifikat pabrik
pembuat dan/atau hasil test laboratorium yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kualitas kapur hidrasi
seperti diuraikan dalam Spesifikasi.

b.

Tidak ada penggantian sumber pemasokan atau kulaitas kapur hidrsi yang diizinkan tanpa persetujuan Direksi
Teknik, dan setiap penggantian harus atas dasar penyerahan contoh tambahan serta hasil pengujian
pemeriksaan lebih lanjut dan persetujuan di atas.

(4)

Pembatasan Cuaca

a.

Perbaikan tanah dengan kapur tidak boleh dilakukan selama hujan lebat dan tanah tersebut tidak boleh digaruk
atau dilumatkan jika kadar air terlalu tinggi atau di luar batas yang ditetapkan dalam Spesifikasi 3.4.4.b.
mpai suatu tingkat yang Kapur tersebut harus disebarkan dibawah kondisi yang kering untuk dapat
mengendalikan tingkat penyebaran dan kadar air optimum.

(5)

Penjadwalan Pekerjaan

a.

Semua pekerjaan drainase tepi jalan di sebelah lapis tanah dasar harus diselesaikan dan berfungsi sampai suatu
tingkat yang cukup untuk meberikan drainase yang efektif bagi limpasan air permukaan dari tanah dasar selama
hujan lebat atau sebagai hasil kebanjiran dari daerah sekitarnya.

b.

Gorong-gorong, pipa-pipa porous, dan bangunan kecil lainnya yang diletakkan di bawah tanah dasar harus
diselesaikan sepenuhnya dengan urugan tanah padat, sebelum pekerjaan penyiapan tanah dasar dimulai.

(6)

Pengendalian Lalu-Lintas

a.

Pengturan pengendalian lalu-lintas yang memadai harus dijaga oleh kontraktor selama pelaksanaan perbaikan
tanah dasar sampai disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk semua konsekuensi diizinkannya lalu-lintas di atas tanah dasar
selama pelaksanaan pekerjaan dan dia harus melarang lalu-lintas tersebut sedapat mungkin dengan
menyediakan stu jalan alternatif atau dengan pelaksanaan setengah lebar jalan.

(7)

Perbaikan Peningkatan Lapis Tanah Dasar dengan Kapur yang Tidak Memuaskan

a.

Persyaratan yang ditetapkan di bawah Bab 3.1 Galian dan 3.2 Urugan akan diterapkan juga bagi semua
penyiapan lapis tanah dasar sebagaimana dan bilamana relevan (berkaitan).

b.

Perbaikan lapis tanah dasar dengan kapur yang tidak memenuhi toleransi atau kriteria kualitas/kekuatan yang
ditetapkan harus diperbaiki oleh kontraktor atas biaya kontraktor seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Perbaikan-perbaikan tersebut dapat meliputi :
i. Perubahan perbandingan camupuran
ii. Penggarukan ulang dan pelumatan ulang lapis tanah dasar, penguatan kapur dan pemberian tambahan
kapur.
iii. Pembongkaran dan penggntian lapis tanah dasar perbaikan kaput yang tidak memuaskan, sehingga disetujui
oleh Direksi Teknik.

c.

Kontraktor juga harus memperbaiki atas biaya kontraktor sampai disetujui Direksi Teknik, setiap bagian amblas,
alur bekas roda atau keruakan lainnya yang disebabkan oleh lalu-lintas atau tenaga kerja kontraktor terhadap
lapis tanah dasar yang sudah jadi.

3.4.2 BAHAN-BAHAN
(1)

Kapur

a.

Kapur yang digunakan untuk peningkatan dan pengubahan lapis tanah dasar harus kapur hidrasi, memenuhi
persyaratan Standar Industri Indonesia 0986-84 Kapur Stabilisasi Tanah Badan Jalan dan dapat diperoleh dari
pabrik pembuat yang disetujui Departemen Perindustrian.

b.

Di tempat-tempat dimana kapur hidrasi yang memenuhi persyaratan SII 0986-84 tidak dapat diperoleh, kapur
hidrasi produksi lokal dpat digunakan asal disetujui oleh Direksi Teknik dan yang disebutkan demikian dalam
kontrak khusus. Persyaratan berikut ini untuk kapur hidrasi harus diterapkan.
i. Kapur hidrasi harus diperoleh dari kapur mati yang dilumatkan, dibuat pada satu tungku pembakaran yang
disetujui yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan standar konstruksi NI-7, Syarat-Syarat untuk Kapur
Bahan Bangunan.
ii. Kapur hidrasi akan berisi minimum 60% Calcium Hydrocida dan ukuran partikel kapur harus memenuhi
persyaratan berikut :
Minimum 4% tertahan pada saringan 0,6 mm.
Maksimum 18% tertahab pada saringan 0,075 mm.
iii. Test kekuatan kapur hidrasi dicampur dengan pasir (perbandinagn 1:3 atas berat) akan memberikan kekuatan
hancur minimum (crushing strength) 15 kg/cm2 sesudah 7 hari perawatan.

c.

Kapur hidrasi ahrus dipasok kering dalam kantong atau dalam jumlah yang besar (bulk) dalam peti kemas yang
bersih, sesuai dengan persyaratan kontrak khusus, dan Direksi Teknik dapat meminta test kualitas kekuatan yang
harus dilakukan untk setiap pengiriman untuk menentukan kondisi dan kualitas kapur yang sebenarnya yang
diserahkan di lapangan.

d.

Semua kapur hidrasi yang digunakan untuk stabilisasi tanah dasar harus dismpan di abwah penutup di lapangan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bab 1.6 Spesifikasi ini.

(2)

Air

a.

Air yang digunakan dalam pekerjaan harus bersih dan bebas dari endapan setiap substansi (benda) lain yang
dapat membahayakan proses stabilisasi.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menyediakan air untuk pekerjaan dan menjamin bahwa air tersebut
memenuhi persyaratan kualitas.

(3)

Tanah

a.

Secara umum, lapisan tanah dasar yang harus dimantapkan dan dimodifikasi harus diidentifikasi sebagai reaktif
kapur atas test awal dengan kapur dan tidak boleh mengandung zat organik atau sulfat dalam jumlah sangat
banyak.
Tanah tesebut akan berisi terutamanya dari partikel butiran halus dengan kandungan lempung minimun 10% dan
diklasifikasikan sebagai suatu campuran kerikil-lempung, lempung berpasir, lempung berlumpur atau lempung
inorgani (di dalam kelompok A-5, A-6, A-7, A-2-6, A-2-7, Tabel 1 AASHTO M145)

b.

Persyaratan kecocokan tanah mengenai ukuran partikel dan kondisi diberikan di bawah pada Tabel 3.4.1.

TABEL 3.4.1

KECOCOKAN TANAH DAN SYARAT KUALITAS

BATAS-BATAS UKURAN PARTIKEL

BATAS-BATAS

TEST

KUALITAS

UNTUK

KECOCOKAN TANAH
SEBELUM PELUMATAN

i.

Batas cair = maksimum 50%

i.

ii.

Indeks plastisitas = 10% - 30%

SESUDAH PELUMATAN

iii.

Nilai pH = minimum 7

ii. Lolos saringan 4,47 mm 70%

iv.

Kandungan karbon organik = maksimum 1%

iii. Lolos saringan 0,425 mm 15%

v.

Sulfat dalam tanah = maksimim 1%

Ukuran partikel maksimum = 75 m

3.4.3 CAMPURAN RENCANA TANAH-KAPUR


Perbandingan campuran untuk tanah-kapur ditentukan oleh test laboratorium dan test lapangan sebagai berikut :
(1)

Kandungan Kapur Hidrasi

Kandungan tersebut dinyatakan sebagai suatu prosentase berat dari tanah dan ditetapkan oleh Direksi Teknik atas dasar
test laboraorium dan percobaan test awal di dalam batas 3% - 7%.

(2)

Test Reaktif

Pengujian awal atas tanah dengan kapur hidrasi harus dilakukan untuk memastikan kecocokan tanah. Test
harus dilakukan di bawah perintah dan atas dasar permintaan Direksi Teknik serta kecocokan tanah ditaksir
dari hasil-hasil perubahan dalam plastisitas dan kekuatan.
(3)

Kriteria Disain Campuran

a.

Persyaratan disain campuran utnuk lapisan tanah dasar stabilisasi/modifikasi kapur harus atas dasar kriteria
berikut :
Kapur dalam jumlah yang cukup harus ditambahkan dan dicampur dengan tanah untuk menghasilkan
peningkatan berikut kepada lapisan dasar :

i. Penurunan Indeks Platisitas sampai... 10% atau kurang


ii. Peningkatan CBR sampai ... 20% - 25%
iii. Kekuatan tekanan bebas (unconfined) ... minimum 3,5 kg/cm2
iv. Nilai pH tanah ditingkatkan sampai ... 12,4.
b.

Direksi Teknik akan menggunakan kriteria ini dalam evaluasi keperluan senyatanya mengenai kandungan kapur
dan cara pembangunan serta memerintahkan kontraktor menyesuaikannya.

(4)

Hubungan Kepadatan dan Kadar Air

Hubungan kepadatan dan kadar air harus ditetapkan untuk contoh tanah yang berisi paling sedikit empat kandungan
kapur hidrasi yang berbeda. Hasil-hasil test harus digambar untuk menentukan nilai puncak bagi kepadatan kering
maksimum dan kadar air optimum.
(5)

Percobaan Lapangan untuk Disain Campuran

a.

Kualitas dan kekuatan campuran tanah kapur harus dipastikan melalui percobaan lapangan awal atas lapis
tanah dasar yang dimantapkan setelah penyebaran dan pemadatan.

b.

Panjang bagian percobaan harus 200 m atau panjang lainnya seperti di[erintahkan oleh Direksi Teknik, dan
percobaan terpisah harus dilakukan untuk setiap perubahan disain campuran.

c.

Perbaikan daerah-daerah yang tidak memenuhi persyaratan disain harus disesuaikan dengan sub bab 3.4.1 (7)
Spesifikasi ini. Bagian-bagian uji yang diletakkan sebagai bagian percobaan lapangan akan diterima jika telah
memuaskan dan disetujui oleh Direksi Teknik untuk pemakaian sebagai bagian lapisan tanah dasar stabilisasi
kapur.

3.4.4

PELAKSANAAN PEKERJAAN

(1)

Peralatan Pelaksanaan

Peralatan kontraktor harus cocok untuk kondisi lapangan pencampuran di tempat dan harus disetujui oleh Direksi Teknik
sebelum digunakan dalam pekerjaan. Jenis peralatan berikut ini akan dipilih untuk digunakan.

Alat pertanian garu piringan (disc harrow)

Alat pertanian bajak piringan (disc plough)

Sekop berputar (rotary hoe)

Alat gilas :

roda ban 12 15 ton

gilas bergetar 6 ton

roda baja

Tangki air dengan batang semprotan

(2)

Penyiapan Lapis Tanah Dasar

a.

Permukaan lapis tanah dasar harus dibabat dengan grader sampai ketinggian, kemiringan dan penampang
melintang yang diperlukan, serta bahan-bahan galian yang berlebihan harus dibuang sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Teknis.

b.

Saluran-saluran harus dipotong (dibentuk) melewati bahan bahu jalan mencegah penggenangan air di atas lapis
tanah dasar.
Lapis tanah dasar harus digaruk sampai kedalaman dan lebar yang diperlukan untuk stabilisasi lapis tanah
dasar, dan kemudian bongkahan tanah harus dilumatkan secara sebagian-sebagian sampai suatu batas bahwa
semua tanah akan lolos saringan 25 mm. Kedalaman penggarukan harus berada di dalam batas 15-20 cm,
tergantung kepada persyaratan tertentu dan seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan serta
secara teliti dikendalikan untuk mencegah adanya gangguan kepada tanah di bawahnya. Semua bahan-bahan
yang tidak cocok termasuk batu-batu yang tertahan saringan 75 mm, harus dibongkar.

(3)

Penyebaran dan Pencampuran Kapur Hidrasi

a.

Volume dan ukuran untuk penyebaran kapur hidrasi harus atas dasar hasil-hasil disain campuran dan
percobaan lapangan serta sebagaimana dipeerintahkan oleh Direksi Teknis. Bilamana kapur tersedia dalam
kantong-kantong, kantong-kantong tersebut harus ditempatkan berjarak diatas lapis tanah dasar sesuai dengan
ukuran penyebaran yang diperlukan, kantong-kantong dibuka dan kapur tersebut disebarkan dan digaruk
merata diatas tanah. Bilamana kapur dipasok dalam jumlah banyak dengan truk, truk tersebut akan
menempatkan kapur ke atas lapisan tanah dasar di lokasi yang ditujukan untuk memenuhi persyaratan ukuran
penyebaran dan kemudian kapur tersebut disebar merata di atas lapis tanah dasar.

b.

Kapur dan tanah yang sudah digaruk harus dicampur menyeluruh menggunakan bajak, sekop berputar, dan
grader yang diperlukan untuk meraih pencampuran sampai ketebalan penuh dan bekerja dalam satu arah
kelandaian ke atas.
Untuk tanah-tanah lempung berat diperlukan menyebar dan mencampur kapur dan tanah dalam dua
penambahan, berjarak sampai 7 hari antara operasi pencampuran awal dan akhir agar tanah menjadi gembur.

c.

Selama operasi pencampuran, air harus disemprotkan dari tangki, cukup untuk memberikan satu kadar air
dalam satu ukuran dari kadar air optimum laboratorium yang ditetapkan untuk campuran percobaan sampai
+5% diatas batas ino.

d.

Jika tanah tersebut ternyata sulit dilumatkan, campuran tanah kapur lapisan tanah dasar tersebut harus digilas
dengan penggilas pneumatik atau penggilas roda baja, cukup dekat kepada permukaan dan memperlambat
kehilangan kebasahan karena penguapan, dan kemudian menjadi matang untuk satu jangka waktu tidak lebih
dari 48 jam. Setelah jangka waktu pematangan tersebutair harus ditambahkan dengan pencampuran dilanjutkan
sampai 2% kadar air optimum.

(4)

Pemadatan dan Penyelesaian

Pemadatan dan perataan akhir harus diselesaikan dalam 24 jam setelah pencampuran akhir, terkecuali diperintahkan
lain oleh Direksi Teknik. Pemadatan harus dilaksanakan dengan mesin gilas pneumatik atau mesin gilas roda baja halus
sampai satu kepadatan tidak kurang dari 95% kepadatan kering maksimum yang ditetapkan sesuai dengan AASHTO
T99 (PB 0110). Ujian kepadatan lapangan harus dilaksanakan sebagaimana diperlukan untuk memeriksa pemadatan
akhir.
Harus diberikan sedikit air beserta penggilasan penyelesaian untuk mempertahan kan kadar air yang ditentukan, dan
bilamana perlu permukaan harus digaruk ringan dengan pisau grader selama operasi penyelesaian untuk
menghilangkan setiap bekas jejak yang ditinggalkan oleh alat. Penggilasan akhir harus dilaksanakan dengan satu mesin
gilas roda pneumatik.
(5)

Perawatan

Setelah selesai pemadatan dan operasi penyelesaian tidak boleh ada kendaraan atau peralatan lainnya kecuali tangki air
yang diizinkan berada dia atas lapis dasar untuk satu jangka waktu 7 hari terkecuali diperintahkan secara lain. Selama
jangka waktu perawatan lapis tanah dasaryang sudah dimantapkan harus dijaga tetap lembab dengan menyemprotkan
air pada jarak waktu (interval) yang teratur (tidak kurang dari 4 kali sehari).

3.4.5

PENGENDALIAN MUTU

(1)

Test Laboratorium

Test laboratorium berikut ini harus dijadikan acuan dan test dilaksanakan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik agar
dapat memenuhi persyaratan-persyaratan Spesifikasi ini.

TABEL 3.4.2

TEST LABORAORIUM UNTUK LAPIS TANAH DASAR YANG DIMANTAPKAN

(DISTABILISASI)
PENGUJIAN

RUJUKAN TEST
AASHTO

TIPE

PERSYARATAN

BINA
MARGA

Analisa saringan

T 27

PB 0201 -76

Agregat kasar dan halus

Menentukan
sebelum

ukuran
dan

partikel Test setiap 250 m3 tanah


sesudah lapisan tanah dasar

penggilingan
Penentuan

batas

dan batas plastik

cair

T 89

PB 0109 -76

Test plastisitas untuk batas cair - Test kapur untuk tanah

T 90

PB 0110 -76

dan indeks plastisitas

- Test lapisan tanah dasar


yang distabilisasi setiap
500 m3 terpasang

Hubungan kepadatan

T 99

PB 0111 -76

- Kadar Air

Test

standar

Proctor - Percobaan lapangan dan

menggunakan penumbuk 2,5 kg

disain campuran
- Test lapisan tanah dasar
distabilisasi setiap 250 m3
atau atas dasar harian

CBR (direndam)

T 193

PB 0113 -76

Menentukan nilai daya dukung - Percobaan lapangan


lapisan tanah dasar

- Sebagaimana dan jika


diminta Direksi Teknik

Penentuan

kekuatan

T 220

campuran tanah kapur

Menentukan

kekuatan

tekan

bebas, campuran stabilisasi tanah


kapur

Pengujian kapur untuk

T 219

- Percobaan lapangan
- Test setiap 250 m3 lapisan
tanah dasar distabilisasi

Menentukan kandungan :

- Sertifikat test dari pabrik

unsur pokok kimia dan

- Calcium Hidroxida

untuk sumber pemasokan

ukuran partikel

- Total karbonat

- Test lanjutan seperti dan

- Ukuran partikel

bila diminta Direksi Teknik

- Nilai pH
(2) Pengendalian Lapangan
Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilakukan untuk memenuhi persyaratan Spesifikasi. Galian lubang
pengujian dan penggantian dengan bahan stabilisasi tanah-kapur yang dipadatkan dengan baik harus dilakukan oleh
kontraktor di bawah pengawasan dan sampai disetujui Direksi Teknik.

TABEL 3.4.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN


TEST PENGENDALIAN

PROSEDUR

a. Ketebalan dan keseragaman lapisan tanah dasar Pemeriksaan visual harian dan pengukuran ketebalan
tanah-kapur dimantapkan

lapisan

tanah

dasar

tanah-kapur

dimantapkan.

Pengukuran diambil 200 m panjang diletakkan.


b. Test kepadatan di lapangan lapisan tanah dasar tanah Harus dilaksanakan untuk setiap 200 m panjang lapis
kapur dimantapkan :

tanah dasar terpasang, untuk menentukan derajat

- Test kerucut pasir

kepadatan dengan referensi test kepadatan laboratorium

- AASHTO T191

untuk kepadatan kering maksimum (lihat Tabel 3.4.2)

PB 0130 - 76
c. Menentukan CBR di tempat lapisan tanah dasar Dengan menggunakan DCP test harian atau menurut
dimantapkan

perintah Direksi Teknik untuk melengkapi test kekuatan


tekanan tak terbatas (unconfined) (lihat Tabel 3.4.2)

d. Kandungan kapur lapisan tanah dasar tanah-kapur Pemeeriksaan visual harian dan pengukuran kapur yang
dimantapkan

digunakan untuk memantapkan tanah lapisan tanah dasar.


Direksi Teknik meminta kontraktor untuk melaksanakan
test laboratorium untuk menentukan kandungan kapur
(AASHTO T232)

3.4.6

CARA PENGUKURAN PEKERJAAN

a.

Volume lapisan tanah dasar distabilisasi dengan kapur yang diukur untuk pembayaran harus jumlah m3
pekerjaan yang diperlukan yang diselesaikan sesuai dengan persyaratan Spesifikasi ini, dihitung sebagai hasil
perkalian total panjang yang diukur sepanjang garis sumbu lapisan tanah dasar distabilisasi dengan kapur,
dengan lebar rata-rata dan ketebalan yang diterima.

b.

Lebar yang diterima berupa lebar disain lapisan tanah dasar distabilisasi dengan kapur seperti yang ditunjukkan
pada gambar atau sebagaimana yang diatur dan disetujui Direksi Teknik di lapangan.

c.

Tebal yang diterima berupa tebal disain lapisan tanah dasar distabilisasi dengan kapur seperti yang ditunjukkan
di gambar atau tebal yang dipasang yang diukur di lapangan, berdasarkan pengukuran penampang melintang
yang diambil setiap 50 m panjang. Dari kedua ketebalan ini ditetapkan tebal yang terkecil untuk perhitungan
volume.

d.

Bilamana perbaikan lapisan tanah dasar yang distabilisasi dengan kapur yang tidak memuaskan diminta oleh
Direksi Teknik sesuai dengan sub bab 3.4.1 (7) spesifikasi ini, tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan
untuk pekerjaan ekstra atau volume yang diperlukan.

e.

Volume kapur hidrasi yang diukur untuk pembayaran berupa berat kapur hidrasi sebenarnya dalam ton yang
dipasang dan di campur kedalam tanah untuk bagian pekerjaan yang diukur sesuai dengan instruksi dan
diterima oleh Direksi Teknis. Berattotal kapur hidrasi yang digunakan untuk bagian yang ditentukan, harus
diukur seperti yang dicatat dengan pernyataan pemakaian kapur hidrasi sehari-hari yang disetujui oleh Direksi
Teknis.

f.

Tidak ada pembayaran akan dilakukan untuk kapur hidrasi yang hilang atau dibuang, atau untuk kapur hidrasi
yang digunakan di daerah dimana lapis tanah dasar yang distabilisasi dengan kapur ditemukan tidak dapat
diterima dan telah diganti.

3.4.7

DASAR PEMBAYARAN

a.

Volume lapis tanah dasar distabilisasi dengan kapur dan kapur hidrasi yang ditentukan seperti diberikan di atas
akan dibayar pada harga kontrak per satuan pengukuran untuk pembayaran yang ditunjukkan dibawah dan
dimasukkan dalam Daftar Penawaran. Harga tersebut akan mencakup untuk semua bahan-bahan, tenaga kerja,
peralatan, alat-alat kerja, pengujian dan pekerjaan lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian lapisan tanah
dasar distabilisasi dengan kapur yang memuaskan.
Nomor Item

URAIAN

Satuan

Pembayaran

Pengukuran

3.4.1

Lapis Tanah Dasar Distabilisasi dengan Kapur

M3

3.4.2

Kapur Hidrasi untuk Lapis Tanah Dasar Distabilisasi dengan Kapur

Ton

BAB IV
BAHU JALAN
BAB 4.1 REHABILITASI BAHU JALAN
4.1.1 Umum
(1).

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari peningkatan kembali dan pembentukan kembali bahu jalan yang ada, termasuk pembersihan
tumbuh-tumbuhan, pemotongan, perapihan, pengurugan dengan bahan terpilih serta pemadatan untuk menegmbalikan
bahu jalanmencapai garis, kemiringan dan dimensi yang benar yang ditunjukkan pada gambar rencana atau seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknis.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Permukaaan final bahu jalan yang telah dipadatkan tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm di atas atau di bawah
permukaan rencana pada setiap titik.

b.

Kemiringan melintang bahu jalan direncanakan sebesar 5% dimana perkerasan diberi lapis lindung serta sesuai
dengan Gambar Standar. Kemiringan melintang bahu jalan setelah rehabilitasi tidak boleh berbeda lebih dari
1% terhadap kemiringan melintang rencana.

(3)

Pemeriksaan Lapangan

Untuk setiap pekerjaan regabilitasi bahu jalan yang dilaksanakan di bawah Bab ini, garis batas, kelandaian dan dimensi
akan diatur di lapangan dan harus disetujui oleh Direksi Teknis sebelum kontraktor memulai pekerjaan.

4.1.2. Bahan-Bahan
(1)

Sumber Bahan

a.

Sumber bahan harus dipilih atas dasar tersedianya bahan dengan memperhitungkan lokasi, kualitas dan volume
sumber bahan atau quary.

b.

Untuk pembangunan kembali bahu jalan tanah yang ada, bahan yang digunakan harus bahan urugan tanggul
yang dipilih terdiri dari lempung berpasiran atau lempung kerikil yang memenuhi persyaratan Spesifikasi sub
bab 3.2.2 (3), tetapi dengan satu ukuran partikel maksimum 37,5 mm dan dengan satu indeks plastisitas tidak
lebih dari 10%, terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknis.

c.

Bilamana urugan berbutir yang cocok tidak dapat diperoleh serta tergantung kepada ketentuan-ketentuan
Kontrak dan instruksi Direksi Teknis, bahu jalan dapat dibangun dengan menggunakan urugan tanggul biasa
bergradasi yang cocok dengan satu ukuran partikel maksimum 37,5 mm dan dengan kandungan lempunglumpur plastisitas rendah, yang mampu menghambat pertumbuhan tumbuh-tumbuhan dan memberikan satu
bahu jalan yang stabil.

(2)

Pengujian dan Pemilihan Bahan Bahu Jalan

Contoh-contoh dan sumber bahan yang dipilih untuk rehabilitasi bahu jalan harus diuji sampai memenuhi persyaratanpersyaratan spesifikasi ini, dan semua bahan yang digunakan harus mendapat persetujuan Direksi Teknis sebelum
pekerjaan dimulai.

4.1.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Penyiapan Lapangan

Semua tumbuh-tumbuhan harus dibongkar harus dibongkar dari bahu jalan yang ada. Rumput, alang-alang, semaksemak dan tumbuhan lainnya harus dipotong ulang seperlunya sebelum pembentukan kembali.
(2)

Pembentukan Kembali

a.

Bahu jalan yang ada harus dibentuk kembali menggunakan tenaga kasar, traktor atau motorgrader, sperti yang
diminta oleh Direksi Teknis.

b.

Pekerjaan tersebut mencakup pembongkaran daerah-daerah yang tinggi, pengurugan daerah-daerah rendah
dengan bahan lebihan, dan pembentukan kembali bahu jalan tersebut sampai memenuhi kelandaian, garis
batas dan ketinggian menurut permintaan Direksi Teknik. Beserta penyelesaian akhir rata dengan tepi
perkerasan ,kecuali diperintahkan lain. Peningkatan harus di laksanakan dengan motorgrader atau traktor yang
di pasangi dengan satu pisau grader, dan diperlukan paling sedikit dua lintasan untuk perapihan dan
pembuangan bahan-bahan lebihan.

(3)

Pemadatan .
Seluruh pembentukan kembali dan perataan bahu jalan harus diikuti pemadatan dengan mesin gilas roda ban
Atau peralatan pemadatan lain yang cocok yang disetujui oleh Direksi Teknik. Pemadatan harus dilaksanakan
Sampai memenuhi persyaratan kepadatan normal untuk mempersiapkan tanah dasar. Sesuai dengan Bab 3 3
Spesifikasi ini, dan harus ditambahkan air seperlunya selama pemadatan untuk memberikan kandungan air
yang cukup bagi pemasangannya .

4.1.4

Cara Pengukuran

(1)

Kontraktor harus memenuhi semua pembayaran untuk royalti dan kompensasi lain karena pengoperasian galian
bahan dan pengambilan bahan untuk pekerjaan rehabilitasi tersebut bahu jalan. Pemberi tugas akan terbebas
dari biaya-biaya pekerjaan tersebut.

(2)

Volume yang harus dibayar merupakan jumlah meter pesegi rehabilitasi bahu jalan, sesuai dengan Gambar dan
Spesifikasi atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknis. Penghitungan total harus atas dasar lebar rata-rata

bahu jalan yang direhabilitasi, diukur dengan selang 100 m dikalikan dengan total panjang pekerjaan dalam
meter yang dilaksanakan, diterima dan disetujui oleh Direksi Teknis.
(3)

Penyediaan tambahan urugan terpilih yang dibawa ke lapangan akan diukur dan dibayar dibawah persyaratan
spesifikasi tersebut untuk Bab 3.2 Pekerjaan Tanah, sebagai urugan tanggul biasa atau dipilih. Urugan tersebut
harus disediakan dengan kesesuaian yang ketat terhadap instruksi Direksi Teknis.

(4)

Tidak ada perlakuan tersendiri akan dbuatkan untuk satu galian lain atau pengurugan yang dilaksanakan,
pekerjaan demikian akan dimasukkan ke dalam item pembayaran untuk rehabilitasi bahu jalan.

4.1.5

Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan seperti di atas akan dibayar pada harga kontrak per satuan pengukuran untuk item pembayaran
terdaftar di bawah. Harga dan pembayaran ini merupakan kompensasi penuh untuk melaksanakan semua pekerjaan
kontrak termasuk pembersihan tumbuh-tumbuhan dan akar-akar, penggalian dan pengurugan, pembentukan ulang,
perataan, pemadatan dan penyelesaian akhir kelandaian, garis batas dan lebar yang disetujui, beserta dengan
penyediaan semua tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan.
Nomor Item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

4.1.1

Rehabilitasi Bahu Jalan

Meter Persegi

BAB 4.2
4.2.1

Umum

(1)

Uraian

BAHU JALAN BARU

Pekerjaan ini terdiri dari pengadaan, pengangkutan, penempatan, penebaran dan pemadatan bahan butiran yang dipilih
untuk bahu jalan baru di atas satu lapis tanah dasar yang sudah disapkan atau permukaan lain yang disetujui, sesuai
denan garis batas, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar Rencana atau seperti yang diperintah oleh
Direksi Teknis.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Permukaan final yang dipadatkan dari bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1,50 cm di atas dan di bawah
permukaan rencana pada setiap titik.

b.

Kemiringan melintang bahu jalan yang direncanakan adalah 5% dimana perkerasan diberi lapis lindung, dan 6%
di mana perkerasan tanpa lapis lindung. Permukaan akhir bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1%

terhadap kemiringan melintang dan tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 1 cm terhadap permukaan tepi
perkerasan yang berhubungan.
(3)

Contoh Bahan-Bahan

a.

Contoh bahan yang digunakan untuk bahu jalan baru harus diserahkan kepada Direksi Teknis untuk
mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai dan harus disertai dengan data
hasil-hasil pengujian sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kulaitas bahan seperti yang diuraikan dalam
Spesifikasi ini.

b.

Tidak ada perubahan dalam sumber pengadaan atau bahan untuk bahu jalan akan dibuatkan tanpa
persetujuan Direksi Teknis dan setiap perubahan demikian harus disertai penyerahan contoh bahan dan laporan
pengujian untuk pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan di atas.

(4)

Kondisi Pekerjaan dan Pengendalian Lalu-Lintas

a.

Kontraktor akan membuat semua pengaturan yang diperlukan untuk mengendalikan lalu-lintas selama
pembangunan dan akan melaksanakan hanya pada satu sisi jalan pada suatu waktu

b.

Bahan-bahan untuk pembangunan bahu jalan harus ditimbun pada tempat di luar lintasan jalan dan saluran tepi
yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi ini sub bab 1.6.3 (5).

(5)

Perbaikan Pekerjaan yang Tidak Memuaskan

a.

Setiap bahan bahu jalan yang tidak memenuhi Spesifikasi ini, tidak perduli dipasang atau belum, akan ditolak
dan disingkirkan dari daerah kerja.

b.

Setiap bagian pekerjaan bahu jalan yang menunjukkan ketidak-teraturan atau cacat karena penanganan yang
jelek atau kegagalan Kontraktor untuk mematuhi persyaratan Spesifikasi atau gambar rencana, harus dibetulkan
dengan perbaikan-perbaikan atau penggantian atas beban biaya Kontraktor sehingga memuaskan Direksi
Teknis.

4.2.2

Bahan-Bahan

(1)

Persyaratan Umum

Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan bahu jalan baru, terdiri dari bahan pondasi bawah yang
disetujui, yang memenuhi persyaratan bahan pondasi bawah kelas A atau kelas B sesuai dengan Bab 5.1 Spesifikasi ini
dan seperti yang diuraikan pada gambar rencana dan termasuk dalam Daftar Penawaran untuk kontrak tertentu.
(2)

Gradasi

Persyaratan gradasi untuk bahan bahu jalan harus sesuai dengan Tabel 5.1.1 Persyaratan Gradasi untuk pondasi
bawah, di bawah sub bab 5.1.2 (2) spesifikasi ini.

(3)

Syarat-Syarat Kualitas

Bahan-bahan yang digunakan untuk pekerjaan bahu jalan baru harus mematuhi kondisi mutu yang ditetapkan untuk
bahan pondasi bawah pada sub bab 5.1.2 (3) spesifikasi ini.

4.2.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Penyiapan Lapangan

a.

Penyiapan lapangan untuk menempatkan bahan bahu jalan, termasuk galian bahan yang ada dan perapihan
tepi jalan kendaraan yang ada, harus dilaksanakan seperti ditunjukkan pada gambar rencana dan seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknis.

b.

Tanah dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan yang
ditentukan di bawah Bab 3.3 Pekerjaan Tanah, untuk penyiapan tanah dasar.

c.

Selama penggalian untuk bahu jalan, harus diselenggarakan pengaturan lalu-lintas oleh kontraktor.

d.

Bahu jalan pada kedua sisi jalan tidak boleh dibangun pada waktu yang bersamaan, harus dibangun satu sisi
dulu, baru berikutnya pada sisi yang lain.

e.

Kontraktor harus menjamin bahwa bahan tersebutditumpuk dalam tempat yang baik, tidak menimbulkan
kemacetan lalu-lintas atau membendung aliran air.

(2)

Penghamparan dan Pemadatan Bahan Bahu Jalan

a.

Bahan bahu jalan harus dihampar dan dipadatkan sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk penghamparan
dan pemadatan bahan pondasi bawah di bawah sub bab 5.1.3 spesifikasi ini.

b.

Sebagai tambahan keapda persyaratan-persyaratan tersebut di atas< Kontraktor harus membuat lepas-lepas
dan menggaruk lapisan tanah bagian atas bahu jalan setebal 10 cm sebelum pemadatan akhir dan akan
membuang semua batu dengan satu ukuran maksimum lebih besar dari 37,5 mm.

4.2.4

Pengendalian Mutu

Pengujian laboratorium dan lapangan harus mematuhi persyaratan umum untuk bahan podasi bawah di bawah Sub Bab
5.1.4 Spesifikasi ini dan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.

4.2.5

Cara Pengukuran dan Pembayaran

Tidak ada pengukuran dan pembayaran terpisah dibuatkan untuk bahu jalan di bawah Bab ini. Galian bahan yang da,
perapihan kembali tepi jalan kendaraan dengan bahan yang baik, penyiapan formasi tanah dasar, serta pengadaan,
penempatan, pemadatan dan penyelesaian bahu jalan, akan dianggap sepenuhnya telah dibayar dan dimasukkan di
bawah berbagai item pembayaran yang dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan dan bahan-bahan yang digunakan
dalam pekerjaan. Item pembayaran ini akan mencakup :
Galian

dibawah item pembayaran 3.1.1/2

Penyiapan Tanah Dasar

dibawah item pembayaran 3.3.1

Pondasi Bawah Kelas A/B

dibawah item pembayaran 5.1.1/2

BAB V
LAPIS PONDASI BAWAH DAN LAPIS PONDASI ATAS
BAB 5.1 LAPIS PONDASI BAWAH
5.1.1 Umum
(1)

Umum

Lapis pondasi bawah adalah lapisan konstruksi yang meneruskan beban dari lapis pondasi atas kepada tanah dasar
yang berupa bahan berbutir diletakkan di atas lapis tanah dasar yang telah dibentuk dan dipadatkan, serta langsung
berada di bawah lapis pondasi atas perkerasan.
Pekerjaan lapis pondasi bawah terdiri dari mengadukkan, memproses, mengangkut, menebarkan, membasahi dan
memadatkan bahan lapis pondasi bawah berbutir yang disetujui sesuai dengan gambar-gambar dan seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Catatan : Suatu lapis pondasi bawah tidak diperlukan bilamana CBR lapis tanah dasar adalah 24% atau lebih.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Permukaan akhir lapis pondasi bawah harus diberi punggung atau kemiringan melintang yang ditetapkan atau
ditunjukkan pada gambar-gambar. Tidak boleh ada ketidak-teraturan dalam bentuk, dan permukaan tersebut
harus rata dan seragam.

b.

Kemiringan dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari 1,5 cm kurang dari yang ditunjukkan
pada gambar atau di atur di lapangan dan disetujui oleh Direksi Teknik.

(3)

Contoh Bahan

a.

Contoh bahan yang digunakan untuk lapis pondasi bawah harus diserahkan kepada Direksi Teknik untuk
mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai, dan harus disertai dengan hasilhasil data pengujian sesuai dengan persyaratan Spesifikasi untuk kualitas dan bahan-bahan seperti diuraikan
dalam Spesifikasi ini.

b.

Tidak ada perubahan mengenai sumber atau pengadaan bahan lapis pondasi bawah akan dibuat tanpa
persetujuan Direksi Teknik dan setiap perubahan harus atas dasar penyerahan contoh-contoh bahan dan
laporan pengujian untuk pemeriksaan lebih lanjut dari persetujuan di atas.

(4)

Lalu-Lintas

Apabila satu jalan pengalihan (alternatif) tidak disediakan, pekerjaan tersebut harus dilaksanakan sedemikian sehingga
dimungkinkan dilewati oleh lalu-lintas dalam satu arah dengan membuat pengaturan pengendalian yang memadai dan
dapat disetujui oleh Direksi Teknik. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap setiap kerusakan yang terjadi pada
Lapis Pondasi Bawah Jalan dikarenakan diizinkannya lalu-lintas dimana pelaksanaan pekerjaan sedang berjalan.

(5)

Perbaikan Pekerjaan yang Tidak Memuaskan

a.

Setiap bahan lapis pondasi bawah yang tidak memenuhi Spesifikasi ini, apakah dipasang atau belum, akan
ditolak atau dipindahkan dari lapangan kerja atau digunakan sebagai urugan seperti yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik.

b.

Setiap bagian pekerjaan lapis pondasi bawah yang menunjukkan ketidak-teraturan atau cacat karena tian atau

yang jelek atau kegagalan Kontraktor untuk mematuhi persyaratan Spesifikasi atau gambar rencana harus dibetulkan
dengan perbaikan-perbaikan atau penggantian atas beban biaya Kontraktor sampai memuaskan Direksi Teknik.

5.1.2

Bahan-Bahan

(1)

Persyaratan Umum

a.

Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan Lapis Pondasi Bawah (LPB) terdiri dari bahanbahan berbutir dipecah (A), atau bahan berbutir dibelah dan kerikil (B), atau kerikil, pasir dan lempung alami (C)
seperti yang diuraikan pada gambar rencana dan dicantumkan dalam Daftar Penawaran.
1.

Lapis Pondasi Bawah (LPB) kelas A, berupa agregat batu pecah disaring dan digaradasi dan
semuanya lolos saringan 3 atau 75.00 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 di bawah ini.

2.

Lapis Pondasi Bawah (LPB) kelas B, terdiri dari campuran batu belah dengan kerikil, pasir dan
lempung yang lolos saringan 2,5 atau 62.5 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 di bawah ini.

3.

Lapis Pondasi Bawah (LPB) kelas C, terdiri dari kerikil, pasir dan lempung alami yang lolos saringan
1,5 atau 37.5 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 berikut.

b.

Bahan untuk pekerjaan lapis pondasi bawah harus bebas dari debu, zat organik, serta bahan-bahan lain yang
harus dibuang, dan harus memiliki kualitas bila bahan tersebut telah ditempatkan akan siap saling mengikat
membentuk satu permukaan yang stabil dan mantap.

c.

Bila perlu dan sesuai deng perintah Direksi Teknik, bahan-bahan dari berbagai sumber dan pemasokan dapat
disatukan (dicampur) dalam perbandingan yang diminta oleh Direksi Teknik atau seperti yang ditunjukkan
dengan pengujian-pengujian, untuk dapat memenuhi persyaratan Spesifikasi bahan lapis pondasi bawah.

(2)

Gradasi Lapis Pondasi Bawah

Persyaratan gradasi untuk lapis pondasi bawah kelas A, kelas B dan kelas C diberikan dalam Tabel 5.1.1 di bawah ini.

TABEL 5.1.1

PERSYARATAN GRADASI UNTUK LAPIS PONDASI BAWAH

UKURAN

% LOLOS ATAS BERAT

SARINGAN

KELAS A

KELAS B

(mm)

(< 75 mm)

(< 62,5 mm)

75,0

100

62,5

100

37,5

80 90

67 100

25,0

46 78

19,0

40 70

40 100

9,5

24 56

25 80

4,75

13 45

16 66

2,36

6 36

10 55

1,18

6 45

0,60

2 22

0,425

2 18

3 33

0,075

0 - 10

0 - 20

KELAS C

Maks. 100

Maks. 80

Maks. 15

(3) Syarat-Syarat Kualitas


Bahan yang digunakan untuk lapis pondasi bawah harus memenuhi syarat-syarat kulaitas berikut yang diberikan pada
Tabel 5.1.2.

TABEL 5.1.2

SYARAT KUALITAS UNTUK BAHAN LAPIS PONDASI BAWAH


URAIAN

BATAS TEST

Batas cair

Maksimum 35%

Indeks Plastisitas

4% - 12%

Ekivalensi Pasir (Bahan Halus Plastis)

Minimum 25%

CBR terendam

Minimum 30%

Kehilangan berat karena Abrasi (500 putaran)

Maksimum 40%

5.1.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Penyiapan Lapis Tanah Dasar

a.

Lapis tanah dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan pekerjaan yang ditetapkan di
bawah Pekerjaan Tanah Bab 3.3. Semua bahan sampai kedalaman 30 cm di bawah permukaan lapis tanah
dasar harus dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum yang ditentukan oleh pengujian
laboratorium PB-011-76 (AASHTO T99, Standard Proctor).

b.

Bahan lapis pondasi bawah harus ditempatkan dan ditimbun di tempat yang bebas dari lalu-lintas serta aliran
dan lintasan air di sekitarnya.

(2)

Pencampuran dan Pemasangan Lapis Pondasi Bawah

a.

Lapis pondasi bawah tersebut harus dicampur di lapangan ruas jalan yang bersangkutan, terkecuali
diperintahkan lain, dengan menggunakan tenaga kerja atau motor grader. Pengadukan yang merata diperlukan
dan bahan tersebut harus dipasang dalam lapisan-lapisan tidak melebihi 20 cm tebalnya atau ketebalan lain
seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik agar dapat mencapai tingkat pemadatan yang ditetapkan.

b.

Penyiraman dengan air, bila diperlukan demikian selama pencampuran dan penempatan harus dikontrol dengan
cermat dan dilaksanakannya hanya bila diminta demikian oleh Direksi Teknik.

c.

Ketebalan lapis pondasi bawah terpasang harus sesuai dengan Gambar rencana dan seperti dinyatakan dalam
Daftar Penawaran, atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan sesuai kondisi tanah dasar
yang sebenarnya.

(3)

Penghamparan dan Pemadatan

a.

Penghamparan akhir LPB sampai ketebalan dan kemiringan melintang jalan yang diminta harus dilaksanakan
dengan kelonggaran penurunan ketebalan kira-kira 15% untuk pemadatan lapisan-lapisan lapis pondasi bawah.
Segera setelah penghamparan dan pembentukan akhir, masing-masing lapisan harus dipadatkan sampai lebar
penuh lapis pondasi bawah perkerasan, dengan menggunakan mesin gilas roda baja atau mesin gilas roda ban
pneumatik atau peralatan pemadatan lain yang disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan bahan lapis pondasi bawah akan bergerk secara gradual
(sedikit demi sedikit) dari pinggir ke tengah, sejajar dengan garis sumbu jalan sampai seluruh permukaan telah
dipadatkan secara merata. Pada bagian-bagian superelevasi, kemiringan melintang jalan atau kelandaian yang
terjal, penggilasan harus bergerak dari bagian yang lebih rendah ke bagian jalan yang lebih tinggi. Setiap
ketidak-teraturan atau bagian ambles yang mungkin terjadi, harus dibetulkan dengan menggaru atau meratakan
dengan menambahkan bahan lapis pondasi bawah untuk membuat permukaan tersebut mencapai bentuk dan
ketinggian yang benar.

c.

Kandungan kelembaban untuk pemasangan harus dijaga di dalam batas-batas 3% kurang dari kadar air
optimum sampai 1% lebih dari kadar air optimum dengan penyemprotan air atau pengeringan seperlunya, dan
bahan lapis pondasi bawah harus dipadatkan untuk menghasilkan kepadatan yang disyaratkan pada seluruh
ketebalan tiap lapisan dan mencapai 100% kepadatan kering maksimum yang ditetapkan yang sesuai dengan
AASHTO T99 (PB 0111).

(4)

Pengendalian Lalu-Lintas

a.

Kontraktor harus bertanggung jawab atas semua akibat lalu-lintas yang diizinkan lewat diatas permukaan kerikil
selama pelaksanaan pekerjaan dan akan melarang lalu-lintas tersebut bila mungkin dengan menyediakan
sebuah jalan pengalihan (alternatif) atau dengan pelaksanaan pekerjaan separuh lebar jalan.

b.

Bangunan-bangunan, pohon-pohon atau hak milik lainnya di sekitar jalan tersebut harus dilindungi terhadap
kerusakan karena pengaruh pekerjaan, seperti lemparan batu karena lalu-lintas.

c.

Bahan-bahan harus ditumpuk dalam satu tempat yang baik yang menjamin bahwa tumpukan tersebut tidak
menmimbulkan kemacetan lalu-lintas atau membendung aliran air.

5.1.4

Pengendalian Mutu

(1)

Test Laboratorium untuk LPB Batu Pecah

a.

Pengujian harus dilakukan terhadap bahan lapis pondasi bawah untuk dapat memenuhi persyaratan spesifikasi.

b.

Dua buah contoh lapis pondasi bawah harus diuji sebelum digunakan di lapangan (lihat Sub Bab 5.1.1 (3)
Spesifikasi ini.

c.

Pengujian bahan lapis pondasi bawah harus dilakukan untuk setiap 500 m3 dari bahan-bahan yang ditumpuk di
lapangan atau yang dipasang, menurut batas ukuran test laboratorium yang diberikan pada Tabel 5.1.1 untuk
memenuhi kondisi kualitas yang diberikan dalam Spesifikasi ini atau seperti diperintahkan lain oleh Direksi
Teknik.

TABEL 5.1.1 TEST LABORATORIUM BAHAN LAPIS PONDASI BAWAH


TE S T

RUJUKAN

Analisa Saringan Agregat Halus

AASHTO

BINA MARGA

T 27

PB 0201 - 76

dan Kasar

TIPE
Menentukan distribusi ukuran partikel agregat halus
dan kasar

Penentuan Batas Cair dan Batas

T 89

PB 0109 76

Test plastisitas untuk batas cair dan indeks

Plastis

T 90

PB 0110 - 76

plastisitas

Hubungan Kepadatan Kadar Air

T 99

PB 0111 - 76

Test standar proctor menggunakan pemukul 2,5 kg

CBR

T 193

PB 0113 - 76

Menentukan nilai daya dukung lapis pondasi bawah

T 96

PB 0206 - 76

Test

Ketahanan

terhadap

Abrasi,

Agregat Kasar
(2)

Pengendalian Lapangan

agregat

kasar

<

37,5

menggunakan mesin Los Angeles

mm

dengan

Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan spesifikasi. Galian untuk lubang
uji dan penimbunan kembali dengan bahan lapis pondasi bawah dipadatkan dengan sempurna, harus dikerjakan oleh
Kontraktor dibawah pengawasan Direksi Teknik.

TABEL 5.1.2

PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN

TEST PENGENDALIAN
a.

PROSEDUR

Ketebalan dan keseragaman lapis pondasi Pemeriksaan visual dan pengukuran ketebalan setiap hari.
bawah.

Dilakukan untuk setiap 200 m. Panjang lapisan pondasi bawah


jalan yang dipasang.

b. Test kepadatan di tempat, Lapis Pondasi Harus dilakukan untuk setiap 200 m panjang lapis pondasi
Bawah (test kerucut pasir) AASHTO T191, PB bawah jalan untuk menentukan tingkat kepadatan dengan
0103 76.

membandingkan terhadap test kepadatan laboratorium untuk


kepadatan kering maksimum.

c. Penentuan CBR di tempat lapis tanah dasar.

Dengan menggunakan DCI. Dilaksanakan minimum setiap 1000


m panjang jalan.

5.1.5

Cara Pengukuran

(1)

Kontraktor harus menanggung semua biaya untuk pembayaran atau royalti dan kompensasi lain kepada pemilik
lahan atau penyewa untuk operasi lubang galian bahan dan pengambilan bahan bagi pembangunan lapis
pondasi bawah. Pemberi tugas akan dibebaskan dari semua kewajiban atau biaya untuk operasi tersebut.

(2)

Volume yang dibayarkan merupakan jumlah meter kubik lapis pondasi bawah yang dipasang dan sesuai
dengan Gambar serta Spesifikasi , atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan, yang dipadatkan
dan diterima oleh Direksi Teknik. Penghitungan volume harus atas dasar ketebalan dan lebar lapis pondasi
bawah yang diperlukan, sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar atau seperti yang disesuaikan oleh Perintah
Perubahan (Change Order), dikalikan dengan panjang sebenarnya yang dipasang. Setiap penyimpangan
dalam bentuk dan ketebalan lapis pondasi bawah tidak boleh melebihi toleransi ukuran yang ditentukan di
bawah Sub Bab 5.1.1 (2).

5.1.6

Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas dibayar per satuan pengukuran pada harga yang dimasukkan
dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran seperti tercantum di bawah. Harga dan pembayaran tersebut

merupakan kompensasi penuh untuk seua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam penyelesaian lapis pondasi
bawah yang diminta sebagaimana diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

5.1.1

Lapis Pondasi Bawah Kelas A

Meter kubik

5.1.2

Lapis Pondasi Bawah Kelas B

Meter kubik

5.1.3

Lapis Pondasi Bawah Kelas C

Meter kubik

BAB 5.2
5.2.1

Umum

(1)

Uraian

LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT

Lapis pondasi atas jalan merupakan lapisan struktur utama di atas lapis pondasi bawah (atau di atas lapis tanah dasar
dimana tidak dipasang lapis pondasi bawah). Pembangunan lapis pondasi atas tediri dari

Pekerjaan ini terdiri dari peningkatan kembali dan pembentukan kembali bahu jalan yang ada, termasuk pembersihan
tumbuh-tumbuhan, pemotongan, perapihan, pengurugan dengan bahan terpilih serta pemadatan untuk mengembalikan
bahu jalanmencapai garis, kemiringan dan dimensi yang benar yang ditunjukkan pada gambar rencana atau seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknis.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Permukaaan final bahu jalan yang telah dipadatkan tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm di atas atau di bawah
permukaan rencana pada setiap titik.

b.

Kemiringan melintang bahu jalan direncanakan sebesar 5% dimana perkerasan diberi lapis lindung serta sesuai
dengan Gambar Standar. Kemiringan melintang bahu jalan setelah rehabilitasi tidak boleh berbeda lebih dari
1% terhadap kemiringan melintang rencana.

(3)

Pemeriksaan Lapangan

Untuk setiap pekerjaan regabilitasi bahu jalan yang dilaksanakan di bawah Bab ini, garis batas, kelandaian dan dimensi
akan diatur di lapangan dan harus disetujui oleh Direksi Teknis sebelum kontraktor memulai pekerjaan.

4.1.2. Bahan-Bahan
(1)

Sumber Bahan

a.

Sumber bahan harus dipilih atas dasar tersedianya bahan dengan memperhitungkan lokasi, kualitas dan volume
sumber bahan atau quary.

b.

Untuk pembangunan kembali bahu jalan tanah yang ada, bahan yang digunakan harus bahan urugan tanggul
yang dipilih terdiri dari lempung berpasiran atau lempung kerikil yang memenuhi persyaratan Spesifikasi sub
bab 3.2.2 (3), tetapi dengan satu ukuran partikel maksimum 37,5 mm dan dengan satu indeks plastisitas tidak
lebih dari 10%, terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknis.

c.

Bilamana urugan berbutir yang cocok tidak dapat diperoleh serta tergantung kepada ketentuan-ketentuan
Kontrak dan instruksi Direksi Teknis, bahu jalan dapat dibangun dengan menggunakan urugan tanggul biasa
bergradasi yang cocok dengan satu ukuran partikel maksimum 37,5 mm dan dengan kandungan lempunglumpur plastisitas rendah, yang mampu menghambat pertumbuhan tumbuh-tumbuhan dan memberikan satu
bahu jalan yang stabil.

(2)

Pengujian dan Pemilihan Bahan Bahu Jalan

Contoh-contoh dan sumber bahan yang dipilih untuk rehabilitasi bahu jalan harus diuji sampai memenuhi persyaratanpersyaratan spesifikasi ini, dan semua bahan yang digunakan harus mendapat persetujuan Direksi Teknis sebelum
pekerjaan dimulai.

4.1.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Penyiapan Lapangan

Semua tumbuh-tumbuhan harus dibongkar harus dibongkar dari bahu jalan yang ada. Rumput, alang-alang, semaksemak dan tumbuhan lainnya harus dipotong ulang seperlunya sebelum pembentukan kembali.
(2)

Pembentukan Kembali

a.

Bahu jalan yang ada harus dibentuk kembali menggunakan tenaga kasar, traktor atau motorgrader, sperti yang
diminta oleh Direksi Teknis.

b.

Pekerjaan tersebut mencakup pembongkaran daerah-daerah yang tinggi, pengurugan daerah-daerah rendah
dengan bahan lebihan, dan pembentukan kembali bahu jalan tersebut sampai memenuhi kelandaian, garis
batas dan ketinggian menurut permintaan Direksi Teknik. Beserta penyelesaian akhir rata dengan tepi
perkerasan ,kecuali diperintahkan lain. Peningkatan harus di laksanakan dengan motorgrader atau traktor yang
di pasangi dengan satu pisau grader, dan diperlukan paling sedikit dua lintasan untuk perapihan dan
pembuangan bahan-bahan lebihan.

(3)

Pemadatan .
Seluruh pembentukan kembali dan perataan bahu jalan harus diikuti pemadatan dengan mesin gilas roda ban
Atau peralatan pemadatan lain yang cocok yang disetujui oleh Direksi Teknik. Pemadatan harus dilaksanakan
Sampai memenuhi persyaratan kepadatan normal untuk mempersiapkan tanah dasar. Sesuai dengan Bab 3 3
Spesifikasi ini, dan harus ditambahkan air seperlunya selama pemadatan untuk memberikan kandungan air
yang cukup bagi pemasangannya .

4.1.4

Cara Pengukuran

(1)

Kontraktor harus memenuhi semua pembayaran untuk royalti dan kompensasi lain karena pengoperasian galian
bahan dan pengambilan bahan untuk pekerjaan rehabilitasi tersebut bahu jalan. Pemberi tugas akan terbebas
dari biaya-biaya pekerjaan tersebut.

(2)

Volume yang harus dibayar merupakan jumlah meter pesegi rehabilitasi bahu jalan, sesuai dengan Gambar dan
Spesifikasi atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknis. Penghitungan total harus atas dasar lebar rata-rata
bahu jalan yang direhabilitasi, diukur dengan selang 100 m dikalikan dengan total panjang pekerjaan dalam
meter yang dilaksanakan, diterima dan disetujui oleh Direksi Teknis.

(3)

Penyediaan tambahan urugan terpilih yang dibawa ke lapangan akan diukur dan dibayar dibawah persyaratan
spesifikasi tersebut untuk Bab 3.2 Pekerjaan Tanah, sebagai urugan tanggul biasa atau dipilih. Urugan tersebut
harus disediakan dengan kesesuaian yang ketat terhadap instruksi Direksi Teknis.

(4)

Tidak ada perlakuan tersendiri akan dbuatkan untuk satu galian lain atau pengurugan yang dilaksanakan,
pekerjaan demikian akan dimasukkan ke dalam item pembayaran untuk rehabilitasi bahu jalan.

4.1.5

Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan seperti di atas akan dibayar pada harga kontrak per satuan pengukuran untuk item pembayaran
terdaftar di bawah. Harga dan pembayaran ini merupakan kompensasi penuh untuk melaksanakan semua pekerjaan
kontrak termasuk pembersihan tumbuh-tumbuhan dan akar-akar, penggalian dan pengurugan, pembentukan ulang,
perataan, pemadatan dan penyelesaian akhir kelandaian, garis batas dan lebar yang disetujui, beserta dengan
penyediaan semua tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan.
Nomor Item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

4.1.1

Rehabilitasi Bahu Jalan

Meter Persegi

BAB 4.2

BAHU JALAN BARU

4.2.1

Umum

(1)

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari pengadaan, pengangkutan, penempatan, penebaran dan pemadatan bahan butiran yang dipilih
untuk bahu jalan baru di atas satu lapis tanah dasar yang sudah disapkan atau permukaan lain yang disetujui, sesuai
denan garis batas, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar Rencana atau seperti yang diperintah oleh
Direksi Teknis.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Permukaan final yang dipadatkan dari bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1,50 cm di atas dan di bawah
permukaan rencana pada setiap titik.

b.

Kemiringan melintang bahu jalan yang direncanakan adalah 5% dimana perkerasan diberi lapis lindung, dan 6%
di mana perkerasan tanpa lapis lindung. Permukaan akhir bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1%
terhadap kemiringan melintang dan tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 1 cm terhadap permukaan tepi
perkerasan yang berhubungan.

(3)

Contoh Bahan-Bahan

a.

Contoh bahan yang digunakan untuk bahu jalan baru harus diserahkan kepada Direksi Teknis untuk
mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai dan harus disertai dengan data
hasil-hasil pengujian sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kulaitas bahan seperti yang diuraikan dalam
Spesifikasi ini.

b.

Tidak ada perubahan dalam sumber pengadaan atau bahan untuk bahu jalan akan dibuatkan tanpa
persetujuan Direksi Teknis dan setiap perubahan demikian harus disertai penyerahan contoh bahan dan laporan
pengujian untuk pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan di atas.

(4)

Kondisi Pekerjaan dan Pengendalian Lalu-Lintas

a.

Kontraktor akan membuat semua pengaturan yang diperlukan untuk mengendalikan lalu-lintas selama
pembangunan dan akan melaksanakan hanya pada satu sisi jalan pada suatu waktu

b.

Bahan-bahan untuk pembangunan bahu jalan harus ditimbun pada tempat di luar lintasan jalan dan saluran tepi
yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi ini sub bab 1.6.3 (5).

(5)

Perbaikan Pekerjaan yang Tidak Memuaskan

a.

Setiap bahan bahu jalan yang tidak memenuhi Spesifikasi ini, tidak perduli dipasang atau belum, akan ditolak
dan disingkirkan dari daerah kerja.

b.

Setiap bagian pekerjaan bahu jalan yang menunjukkan ketidak-teraturan atau cacat karena penanganan yang
jelek atau kegagalan Kontraktor untuk mematuhi persyaratan Spesifikasi atau gambar rencana, harus dibetulkan
dengan perbaikan-perbaikan atau penggantian atas beban biaya Kontraktor sehingga memuaskan Direksi
Teknis.

4.2.2

Bahan-Bahan

(1)

Persyaratan Umum

Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan bahu jalan baru, terdiri dari bahan pondasi bawah yang
disetujui, yang memenuhi persyaratan bahan pondasi bawah kelas A atau kelas B sesuai dengan Bab 5.1 Spesifikasi ini
dan seperti yang diuraikan pada gambar rencana dan termasuk dalam Daftar Penawaran untuk kontrak tertentu.
(2)

Gradasi

Persyaratan gradasi untuk bahan bahu jalan harus sesuai dengan Tabel 5.1.1 Persyaratan Gradasi untuk pondasi
bawah, di bawah sub bab 5.1.2 (2) spesifikasi ini.
(3)

Syarat-Syarat Kualitas

Bahan-bahan yang digunakan untuk pekerjaan bahu jalan baru harus mematuhi kondisi mutu yang ditetapkan untuk
bahan pondasi bawah pada sub bab 5.1.2 (3) spesifikasi ini.

4.2.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Penyiapan Lapangan

a.

Penyiapan lapangan untuk menempatkan bahan bahu jalan, termasuk galian bahan yang ada dan perapihan
tepi jalan kendaraan yang ada, harus dilaksanakan seperti ditunjukkan pada gambar rencana dan seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknis.

b.

Tanah dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan yang
ditentukan di bawah Bab 3.3 Pekerjaan Tanah, untuk penyiapan tanah dasar.

c.

Selama penggalian untuk bahu jalan, harus diselenggarakan pengaturan lalu-lintas oleh kontraktor.

d.

Bahu jalan pada kedua sisi jalan tidak boleh dibangun pada waktu yang bersamaan, harus dibangun satu sisi
dulu, baru berikutnya pada sisi yang lain.

e.

Kontraktor harus menjamin bahwa bahan tersebutditumpuk dalam tempat yang baik, tidak menimbulkan
kemacetan lalu-lintas atau membendung aliran air.

(2)

Penghamparan dan Pemadatan Bahan Bahu Jalan

a.

Bahan bahu jalan harus dihampar dan dipadatkan sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk penghamparan
dan pemadatan bahan pondasi bawah di bawah sub bab 5.1.3 spesifikasi ini.

(2) Definisi
a. galian batu terdiri dari penggalian batu-batu besar dengan volume setengah kubik atau lebih besar atau macammacam bahan padat yang menyatu dan keras yang dalam pendapat direksi teknik tidak praktis untuk digali tanpa
menggunakan peralatan kerja pneumatik, bor atau bahn peledak. Ini tidak termasuk bahan batuan yang dalam
pendpat direksi teknik dapat dibuat lepas dn dipecah-pecah oleh penggaruk hidrolis yang ditarik atau buldozer.
b. Semua penggalian lain akan dianggap galian biasa.
(3) Toleransi Ukuran
Kelandaian, garis batas dan formasi akhir setrelah penggalian tidak boleh berbeda dan yang ditentukan lebih besar 2 cm
pada setiap titik. Pekerjaan yang tidak memenuhi toleransi ini harus diperbaiki sehingga memuaskan Direksi teknik
sesuai dengan sub bab 3.1.1 (6)
(4) Pemeriksaan Lapangan

a. untuk setiap pekerjaan yang dibayar di bawah bab ini, ketinggian dan garis batasnya harus disetujui Direksi Teknis,
sebelum kontraktor memulai pekerjaan.
b. Sesudah masing-masing pengalian untuk lapis tanah dasar, formsi atau pondssi dipadatkan. Kontraktor harus
memberitahukan hal tersebut kepada direksi teknik, dan tidak ada bahan atas dasar atau bahan laiannya boleh
dipasang sampai direksi teknik memnyetujui kedalaman penggalian dan kualitas serta kekerasan bahan pondasi.
5) Penjadwalan Pekerjaan
a.

Pembuatan parit atau penggalian lainnya memotong jalan kendaraaan harus dilaksanakan dengan cara
menggunakan pelaksanaan ssetengah lebar atau secara lain diadakan perlindungan sehingga jalan tersebut dijaga
tetap terbuka untuk lalulintas pada setiap waktu.

b.

Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi teknik gambar rincian semua bangunan sementara yng diusulkan
untuk digunakan, seperti penyanggaan, penguatan cofferdam (bendungan sementara)dinding pemutus aliran
rembesan dan bangunan bangunan untuk pembelokan sementara aliran sungai serta harus untuk mendapatkan
persetujuan direksi teknik atas gambar-gambar, sebelum melakukan pekerjaan galian yang akn dilindungi oleh
bangunan-bangunan yang diusulkan tersebut.

6) Penggunaan dan Pembuangan Bahan-bahan Galian


a.

Semua bahan-bahan yang cocok yang digali didalam batas-batas dan lingkup kerja proyek, dimana mungkin akan
digunakan dengan cara yang paling efektif, untuk pembuatan formasi badan jalan atau untuk urugan kembali.

b.

Bahan-bahan galian yang berisikan tanah-tanah yang sangat organis, gambut berisikan akar-akar atau barang
barang tumbuhan yang banyak, dan juga tanah yang mudah mengembang yang menurut pendapat direksi teknis
akan menghalangi pemadatan bahan lapisan diatasnya atau dapat menimbulkan suatu penurunan yang tidak
dikehendaki atau kehancuran, akan diklasifikasikan sebagai tidak cocok digunakan sebagai urugan dalam
pekerjaan permanen.

c.

Setiap bahan yang melebihi kebutuhan untuk timbunan atas setiap bahan yang tidak disetujui direksi teknik menjadi
bahan urugan yang cocok, harus dibuang dan diratakan dalam lapisan-lapisan yang tipis oleh kontraktor di luar
Daerah Milik Jalan seperti yang diperintahkan oleh direksi teknik.

d.

Kontraktor akan bertanggung jawab untu semua penyelenggaraan dan biaya bagi pembuangan bahan-bahan
lebihan atau bahan tidak cocok termasuk pengangkutannya dan mendapat izin dari pemilik atau penyewa lahan
dimana buangan tersebut dilakukan(ditempatkan).

7) Pengamanan Pekerjaan Galian


a.

Selama pekerjaan penggalian kemiringan galian yang stabil yang mampu menyangga bangunan-bangunan struktur
atau mesin-mesin sekitarnya harus dijaga sepenuhnya serta harus dipasang penyangga dan penguat yang
memadai bila permukaan galian yang tidak ditahan dengan cara laian dapat menjadi tidak stabil. Bila diperlukan

kontraktor harus menopang struktur-struktur disekitarnya yang mungkin menjadi tidak stabil atau menjadi
berbahaya oleh pekerjaan galian
b.

Semua galian terbuka harus dipasang penghalang yang memadai untuk menghindari tenaga kerja atau lain-lainnya
jatuh dengan tidak sengaja ke dalam galian dan setiap galian terbuka di dalam daerah badan jalan atau bahu jalan,
sebagai tambahan harus di beri marka /tanda peringatan pada malam hari dengan drum di cat putih dengan lampu
merah sehingga memuaskan direksi teknik.

c.

Kontraktor harus bertanggungjawab untuk mengadakan perlindung bagi setiap pipa bawahg tanah yang berfungsi,
kabel-kabel, konduit atau struktur lainnya di bawah permukaan yang ditemukan dn bertanggung jwab untk biaya
perbaikan setiap kerusakan yang disebabkan oleh operasinya.

3.1.2

Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Prosedur umum


a.

Pekerjaan galian harus dilaksanakn dengan sekecil mungkin terjadi gangguan terhadap bahan-bahan di bawah dan
di luar batas galia yang ditentukan sebelumnya

b.

Jika bahan yang terdapat pada permukaan garis formasi atau tanah dasar atau pondasi adalah lepas-lepas atau
lunak atau secara lain tidak cocok menurut pendapat direksi teknik, bahn itu secara keseluruhan harus dipadatkan
atau dibuang seluruhnya dan diganti dengan urugan yang cocok, seperti yang diperintahkan direksi teknik.

c.

Dimana batu lapisan keras atau bahan tidak dapat dihancurkan lainnnya ditemukan berada diatas garis formasi
untuk saluran yang dilapis, atau pada ketinggian permukaan untuk perkerasan daan bahu jalan, atau diatas bagian
dasar parit pipa atau galian pondasi struktur, bahan tersebut harus digali terus sedalam 20 cm sampai satu
permukaan yang merata dan halus.

d.

Setiap bahan beban diatas harus disingkirkan dari tebing yang tidak stabil sebelum penggalian dan talud tebing
harus dipotong menurut sudut rencana talud.
Untuk tebing yang tinggi harus dibuatkan berm pada setiap ketingian tebing 5.0 m yang sesuai dengan gambar
standar.

e.

Untuk perlindungan tebing terhadap erosi, harus dibuatkan saluran cut off (penutup aliran rembesan) dan saluran
pada kaki tebing sebagimana yang ditunjukkan pada gambar rencana atau sebagimana yang diperintahkan oleh
direksi lapangan. Daerah-daerah yang baru selesai digali, secepatnya harus dilindungi juga dengan penempatan
lempengan rumput atau tanaman-tanaman lain yang disetujui.

f.

Sejauh mungkin dan seperti yang diperintahkan oleh direksi teknik, kontraktor harus menjaga galian tersebut bebas
air dan harus melengkapi dengan pompa-pompa, perlalatan dan tenaga kerja serta membuat tempat air
mengumpul, saluran sementara atau tanggul sementara seperlunya untu mengeluarkan atau membuang air dari
daerah-daerah di sekitar galian.

(2) Galian Untuk Struktur dan Pipa

a.

Parit untuk pipa, gorong gorong atau saluran beton dan galian-galian untuk pondasi jembatan dan struktur lainnya,
harus dari satu ukuran yang memungkinkan pemasangan bahan-bahan dengan baik pemeriksaaan pekerjaan dan
memadatkan kembali urugan-urugan di bawah dan di sekitar pipa atau bangunan yang bersangkutan.

b.

Galian sampai permukaan akhir pondasi untuk mendukung struktur tidak boleh dilakukan sebelum pendukung
(footing) terpasang.

3)

Penggalian untuk bahan galian

a.

Lubang-lubang bahan galian apakah berada dalam daerah milik jalan atau dimana saja, harus digali sesuai dengan
ketentuan-ketentuan spesifikasi ini.

b.

Persetujuan untuk membuka daerah galian baru atau mengopersikan daerah galian yang ada, harus mendapat
persetujuan direksisecara tertulis sebelum operasi galian dimulai.

c.

Pembuatan lubang-lubang harus dilarang atau dibatasi dimana lubang-lubang tersebut mungkin mengganggu
drainase asli atau yang didisain.

d.

Disisi daerah yang miring, lubang-lubang galian bahan diatas sisi jalan yang lebih tinggi, harus dibuat landai dan
dibuat mengalirkan air untuk membawa semua air permukaan ke saluran tepi dan gorong-gorong didekatnya tanpa
terjadi genangan.

e.

Ujung dari lubang galian bahan tidak boleh lebih dekat dari 2 meter dari kaki satu tanggul atau 10 meter dari bagian
puncak galian.

f.

Semua galian bahan atau sumber galian bahan yang digunakan untuk kontraktor harus ditinggalkan dlam kondisi
yang rapih dan teratur dengan sisi dan talud yang stabil setelah pekerjaan selesai.

4)

Pembuangan bangunan sementara

a.

Kecuali diperintahkan lain oleh direksi teknik, semua struktur sementara seperti tanggul sementara atau penyangga
penguat, harus dibongkar oleh kontraktor setelah selesaimya struktur permanen atau pekerjaaan lain yang mana
galian itu telah dilaksanakan.

b.

Bahan galian yang dikumpulkan dari bangunan-bangunan sementara tersebut tetap menjadi milik kontraktor atau
mungkin jika disetujui dianggap cocok oleh Direksi Teknik, disatukan dalam pekerjaan permanen dan dibayar
dibawah item pembayaran yang relevan dimasukkan ke dalam daftar penawaran.

c.

Setiap bahan galian yang dapat diizinkan sementara dipasang di dalam satu jalan air, harus dibuang dalam satu
cara sehingga tidak merusak jalan air tersebut.

3.1.3 Cara Pengukuran


(1) Galian yang dikecualikan dari pengukuran dan pembayaran
Banyak pekerjaan dibawah kontrak tersebut tidak akan diukur atau dibayar dibawah Bab ini. Dalam banyak kasus
pekerjaan tersebut akan dimasukkan kedalam harga penawaranuntuk item-item konstruksiyang bersangkutan.
Jenis galian yang secara khusus dikecualikan dari pengukuran dibawah bab ini, diuraikan sebagai berikut :

a.

Penggalian yang dilaksankan diluar garis batas, profil dan potongan melintang yang disetujui, tidak akan
dimasukkan kedalam volume yang harus diukur uhtuk pembayaran, kecuali dimana galian yang kelewat tersebut
diperlukan untuk item-item pekerjaan berikut :
i.

Pembuangan bahan-bahan lunak atau tak sesuai

ii.

Pembuangan batu atau bahan sejenis lainnya

iii.

Pembuangan tanah dari talud, longsoran, tanggul sementara yng runtuh yang sebelumnya trelah diterima dan
memuaskan Direksi Teknik.

b.

Galian untuk saluran tanah baru dan pelapisan saluran (bab 2.3) akan diukur secara terpisah dibawah item
pembayaran 2.3.1.

c.

Galian untuk pekerjaan drainase berikut ini termasuk pondasi struktur secara terpisah dibawah item pembayaran
2.3.1
i. Rehabilitasi saluran tepi jalan (bab 2.2)
ii. Gorong-gorong pipa beton kecuali untuk galian batu
iii. Darainase porous

d.

Pekerjaan yang dilaksanakan untuk pengembalian kondisi semula perkerasan tidak akan diukur untuk pembayaran.
Penyediaan untuk pekerjaan ini akan dimsukkan kedlam berbagai penawaran harga satuan untuk bahan-bahan
yang digunakan dlam operasi pemulihan kondisi semula.

e.

Galian untuk rehabilitasi bahu jalan, kecuali untuk galian batu, akan dimsukkan di bawah item pembayaran 4.1.1

f.

Galian untuk pekerjaan pemeliharaan rutin tidak boleh diukur untuk pembayaran penyediaan untuk pekerjaan ini
akan dimasukkan dalam penawaran harga lump sum untu berbagai pekerjaan pemeliharaan rutin yang dicakup
dibawah bab 9.2

g.

Galian yang dilaksanakan untuk mendapatkan bahan konstruksi (batu, agregat tanah dari galian bahan atau quary)
di luar batas daerah pembangunan tidak boleh diukur untuk pembayaran. Biaya untuk pekerjaan ini dimasukkan
dalam penawaran harga satuan untuk bahan-bahan konstruksi.

(2) Galian yang dimasukkan untuk pengukuran dan pembayaran.


a.

Pekerjaan galian yang tidak dikecualikan seperti diatas akan diukur untuk pembayaran sebagai volume setempat
dalam meter kubik bahan-bahan yang digali. Dasar penghitungannya harus berupa penampang melintang dan profil
yang ditunjukkan pada gambar atau diukur di tempat sebelum penggalian, dan garis batas kemiringan serta
ketinggian pekerjaan galian akhir yang ditentukan atau diterima.Cara penghitungan harus berupa cara luas ratarata akhir, menggunakan penampang melintang pekerjaan berjarak tidak lebih dari 25 meter terpisah.

b.

Galian batu akan diukur dalam meter kubik dan disetujui antara kontraktor dan diraksi teknikatas dasar volume
senyatanya yang dibuang oleh mesin gali sebagai hasil dari penggalian di dalam garis batas dan ketinggian yang
diatur oleh direksi teknik. Galian batu akan diukur dibawah item pembayaran ini terhadap semua item galian dalam
setiap potongan dari spesifikasi ini.

Nomor Item Pembayaran

URAIAN

Satuan Pengukuran

2.2.1

Rehabilitasi Saluran Tanah

Meter Panjang

2.2.2

Rehabilitasi Saluran Dilapisi

Meter Panjang

Bab 3.2. Urugan


3.2.1

Umum

(1) Uraian
a.

Pekerjaan ini terdiri mendapatkan, mengangkut, penenpatan dan memadatkan tanah atau bahan berbutir yagn
disetujui untuk pembangunan pematang, pengurungan kebali paarit-parit atau galian di sekeling pipa atau struktur
serta pengurugan sampai kepada garis batas kemiringan dan ketinggian penampang melintang yang ditentukan
atau disetujui.

b.

Pekerjaan tersebut tidak termasuk pemasangan bahan filter pilihan sebagai alas dasar untuk pipa atau saluran
beton atau sebagai bahan drainase porous yang disediakan untuk drainase dibawah permukaan. Bahan-bahan ini
dimasukkan dalam Bab 2.7 spesifikasi-spesifikasi ini.

(2) Definisi
a. Urugan yang tercakup dalam persyaratan-persyaratan bab ini dibagi dalam dua kategori yaitu:

b.

Urugan biasa untuk badan jalan

Urugan pilihan untuk badan jalan

Urugan pilihan badan jalan digunakan untuk kondisi tanah lunak seperti rawa-rawa, tanah payau, atau
tanah yang selalu terendam air di mana diperlukan satu tanah urugan dengan plastisitas rendah (bahan
berbutir), dan juga di mana stabilisasi tanggul, talud yang terjal atau tanah dasar harus ditimbun sampai
ketinggian dan pemadatan yang tertentu.

c.

Urugan yang diperlukan untuk tujuan umum seperti diuraikan pada Sub Bab 2.2.1 (1) di atas dan tidak
termasuk urugan pilihan untuk badan jalan, harus diperlakukan sebagai urugan biasa untuk badan jalan.

(3) Toleransi Ukuran


a.

Ketinggian dan kemiringan akhir badan jalan tanah dasar dan bahu jalan, setelah pemadatan tidak boleh
ada 2 cm lebih tinggi atau 3 cm lebih rendah dari yang ditentukan atau disetujui.

b.

Semua permukaan akhir urugan yang nampak keluar harus cukup halus dan seragam, dan mempunyai
kemiringan yang cukup menjamin limpasan air permukaan yang bebas.

c.

Permukaan akhir talud (timbunan) badan jalan tidak boleh berbeda dari garis profile yang ditentukan lebih
dari 10 cm.

(4) Contoh-Contoh Bahan


a.

Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal-hal berikut ini paling sedikit 14 hari sebelum
mulai digunakannya setiap bahan sebagai urugan :
i.

Dua contoh bahan dengan berat masing-masing 50 kg, salah satu dari padanya akan ditahan oleh
Direksi Teknik sebagai acuan selama jangka waktu kontrak.

ii.

Satu pernyataan mengenai asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan sebagai bahan urugan
pilihan, bersama-sama dengan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa bahan tersebut memenuhi
spesifikasi.

(5) Penjadwalan Pekerjaan


a.

Bagian baru (timbunan) badan jalan raya atau rekonstruksi harus dibangun setengah lebar, kecuali
disediakan satu pengalihan sehingga jalan tersebut dijaga terbuka untuk lalu lintas pada setiap waktu.

b.

Urugan tidak boleh dipasang, dihampar atau dipadatkan selama hujan atau di bawah kondisi basah dan pemadatan
tidak dapat dikontrol.

(6) Perbaikan Urugan yang Tidak Memuaskan atau Tidak Stabil


a.

Urugan terakhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang ditentukan atau disetujui atau dengan toleransi
permukaan yang ditentukan dalam sub bab 3.2.1 (3) di atas, harus diperbaiki dengan membuat lepas-lepas
permukaan tersebut, dan membuang atau menambah bahan-bahan yang doperlukan diikuti dengan pembentukan
dan pemadatan kembali.

b.

Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, dalam hal batas-batas kandungan kelembaban seperti ditentukan
dalam sub bab 3.2.3 (3) atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, harus diperbaiki dengan menggaruk bahan
tersebut sampai kedalaman 15 cm atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik, yang diikuti dengan
penyiraman air yang memadai dan pencampuran secara menyeluruh dengan alat motor grader atau peralatan lain
yang disetujui.

c.

Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, seperti yang ditetapkan oleh batas-batas kandungan kelembaban
yang ditentukan dalam sub abb 3.2.3 (3) atau seperti diperintahkan Direksi Teknik, harus diperbaiki di bawah
kondisi cuaca kering dengan penggarukan bahan-bahan tersebut diikuti dengan pengerjaan sebentar-bentar alat
grader atau peralatan lain yang disetujui, dengan waktu istirahat diantara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Secara
alternatif atau jika pengeringan yang cukup tidak dapat dicapai dengan pengerjaan bahan lepas tersebut, Direksi
Teknik dapat memerintahkan supaya bahan tersebut dibuang dari tempat pekerjaan dan diganti dengan bahan
yang cocok dan kering.

d.

Perbaikan urugan yang tidak memenuhi persyaratan kepadatan atau persyaratan sifat-sifat bahan spesifikasi ini,
dapat meliputi kebutuhan pencampuran dengan bahan lain yang cocok, disertai dengan penambahan kebasahan,
pemadatan yang lebih dan/atau pembuangan serta penggantian atas perintah Direksi Teknik.

3.2.2

Bahan-bahan

(1) Sumber Pengadaan


Bahan-bahan urugan harus dipilih dari sumber-sumber yang disetujui yang sesuai dengan persyaratan Bab 1.6. BahanBahan dan Penyimpanan dari Spesifikasi ini. Pengujian klasifikasi tanah harus dilaksanakan atas perintah Direksi
Teknik, yang sesuai dengan AASHTO M145 untuk menentukan distribusi ukuran partikel dan plastisitas.
(2) Syarat-Syarat Kualitas
a. Urugan Biasa untuk Badan Jalan
i.

Urugan yang diklasifikasikan sebagai Timbunan Biasa akan terdiri dari galian bahan tanah atau bahan berbutirbutir yang disetujui oleh Direksi Teknik sebagai bahan yang cocok untuk digunakan dalam pekerjaan permanen
seperti yang diuraikan di bawah sub bab 3.2.1 (2).

ii.

Secara umum, urugan timbunan biasa harus diperiksa secara khusus untuk menyingkirkan penggunaan tanah
expansif atau tanah dengan plastisitas tinggi yang diklasifikasikan sebagai A5 dan A7 dalam Spesifikasi
AASHTO M145 atau sebagai Ch dan OH di bawah sistem klasifikasi Casagrande atau Unified.

b. Urugan Pilihan untuk Badan Jalan


i.

Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan terdiri dari bahan tanah atau bahan batu yang memenuhi
persyaratan untuk urugan tanggul biasa di atas dan yang juga jika diuji untuk CBR laboratorium akan memiliki
nilai minimum 10%.

ii.

Untuk pekerjaan stabilisasi talud atau badan jalan atau pekerjaan-pekerjaan lain dimana diperlukan adanya
tegangan geser yang baik, urugan pilihan badan jalan akan terdiri dari urugan batu atau lempung berpasiran
bergradasi baik atau campuran lempung/kerikil dengan indeks plastisitas rendah tidak lebih tinggi dari 10%.

iii.

Bilamana harus dilakukan pemadatan di bawah kondisi banjir atau kondisi jenuh, urugan pilihan badan jalan
akan berupa pasir atau kerikil atau bahan butiran bersih lainnya dengan indeks plastisitas tidak lebih besar dari
6%.

3.2.2

Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan


a.

Sebelum menempatkan urugan di atas lapangan, semua operasi pemotongan dan pembersihan termasuk
pengisian lubang-lubang yang disebabkan oleh pembongkaran akar-akar, harus diselesaikan sesuai dengan
spesifikasi, dan semua bahan-bahan yang tidak cocok harus dibuang dari lapangan tersebut seperti diperintahkan
oleh Direksi Teknik.

b.

Bilaman tingginya timbunan adalah 1 m atau kurang, tempat pondasi timbunan harus dipadatkan secara
menyeluruh (termasuk membuat lepas-lepas, mengeringkan atau membasahi jika diperlukan) sampai bagian
puncak tanah setebal 15 cm, memenuhi persyaratan kepadatan yang ditetapkan untuk urugan yang ditempatkan.

c.

Jika timbunan harus dibuat di atas sisi bukit atau dipasang di atas timbunan baru atau timbunan lama, kemiringan
yang ada harus dipotong untuk membuat permukaan dudukan yang cukup lebar memikul peralatan pemadatan.

(2) Penimbunan Urugan


a. Urugan harus disiapkan sampai permukaan yang telah dibuat dan ditebarkan dalam lapisan-lapisan yang rata tidak
melebihi ketebalan padat 20 cm, yang memenuhi toleransi tebal lapisan yang diberikan dalam sub bab 3.2.1 (3)
Spesifikasi ini. Bilamana lebih dari satu lapisan dipasang, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin harus sama
ketebalannya.
b. Urugan tanah harus diangkut secara langsung dari daerah galian bahan ke tempat yang sudah disiapkan dan
dihampar (dalam cuaca kering). Penumpukan tanah pada umumnya tidak diijinkan, khususnya selama musim
hujan.
c. Pengurugan di atas pipa-pipa dan di belakang struktur harus dilakukan secara sistematis serta sedapat mungkin
segera diikuti dengan pemasangan pipa atau struktur tersebut. Perhatian harus diberikan untuk menjamin bahwa
telah diberikan waktu yang cukup kepada sambungan pipa dengan adukan dan struktur beton untuk mendapatkan
kekuatan yang memadai sebelum pengurugan.
Bahan-bahan batuan tidak boleh digunakan sebagai urugan kembali di sekeliling pipa atau di dalam 30 cm urugan
tanah yang langsung di bawah permukaan formasi perkerasan atau bahu jalan dan tidak ada batu dengan ukuran
melebihi 10 cm akan dimasukkan dalam urugan tersebut.
d. Kemiringan tebing harus dibentuk dan dirapikan menurut sudut talud rencana dan bagi tebing yang tinggi diberikan
berm yang sesuai dengan Gambar Rencana, serta dibuatkan penyediaan untuk drainase yang memadai.
e. Untuk prlindungan tebing terhadap erosi harus dipasang gebalan rumput, dan disusun dalam posisi di atas talud,
atas petunjuk dan sampai memuaskan Direksi Teknik.
(3) Pemadatan Urugan
a. Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan harus dipadatkan menyeluruh dengan
peralatan pemadatan yang cocok dan memadai yang disetujui oleh Direksi Teknik sampai kepada persyaratanpersyaratan kepadatan berikut :
i.

Lapisan-lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampi 45%
kepadatan kering standar maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99. Untuk tanah-tanah yang berisi lebih
dari 10% bahan-bahan yang tertahan di atas saringan 19 mm, maka kepadatan kering maksimum yang didapat
harus disesuaikan untuk bahan-bahan yang oversize (kelewat besar) tersebut seperti diperintahkan oleh Direksi
Teknik.

ii.

Lapisan-lapisan di dalam 30 cm atau kurang, di bawah permukaan tanah dasar, harus dipadatkan sampai 100%
kepadatan kering standar maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99 (PB.0111-76)

iii.

Tergantung kepada jenis pelaksanaan dan persyaratan khusus Direksi Teknik, pengujian-pengujian kepadatan
di lapangan dengan metode kerucut pasir harus dilakukan terhadap masing-masing lapisan urugan yang telah

dipadatkan, sesuai dengan AASHTO T191 (PB 0103-76) dan jika hasil sesuatu pengujian menunjukkan bahwa
kepadatannya kurang dari kepadatan yang diminta, kontraktor harus memperbaiki pekerjaan tersebut sesuai
dengan sub bab 3.2.1 (6). Pengujian harus dilakukan sampai kedalaman penuh lapisan dan di lokasi yang
ditunjukkan oleh Direksi Teknik, yang tidak boleh berjarak lebih dari 200 m.
b. Pemadatan urugan tanah harus dilakukan hanya bila kadar air bahan tersebut berada
c. Urugan timbunan harus dipadatkan dimulai pada ujung paling luar serta masuk ke tengah dalam satu cara di mana
masing-masing bagian menerima desakan pemadatan yang sama.
d. Jika bahan urugan harus ditempatkan pada kedua sisi sebuah pipa atau saluran beton atau struktur,
pelaksanaannya harus sedemikian sehingga urugan tersebut dibentuk sampai ketinggian yang hampir sama di atas
kedua sisi struktur.
e. Terkecuali disetujui oleh Direksi Teknik, urugan di sekitar ujung satu jembatan tidak boleh ditempatkan lebih tinggi
dari dasar dinding belakang atau kepala jembatan sampai bangunan atas dipasang.
f.

Urugan di tempat-tempat yang sulit dicapai oleh peralatan pemadatan harus ditempatkan dalam lapisan-lapisan
horisontal dengan bahan-bahan lepas ketebalan tidak melebihi 15 cm dan dipadatkan menyeluruh menggunakan
mesin pemadat yang disetujui. Harus diberikan perhatian khusus untuk menjamin tercapainya pemadatan yang
memuaskan di bawah dan di samping pipa-pipa, untuk mencegah terjadinya rongga-rongga dan untuk mnjamin
pipa-pipa tersebut mendapat dukungan sepenuhnya.

(4) Persyaratan Pemadatan untuk Urugan Batu


a.

Urugan batu harus ditempatkan dalam lapis-lapis tidak melebihi 30 cm tebalnya atau ketebalan lain yang diminta
oleh Direksi Teknik atas dasar mutu batu dan jenis alat pemadatan yang digunakan. Pemadatan urugan batu harus
dilaksanakan dengan pemadat berkisi-kisi, pemadat bergetaratau sebuah traktor dengan berat paling sedikit 20 ton
atau peralatan berat yang sejenis. Pemadatan harus dilakukan dalam arah memanjang sepanjang badan jalan,
dimulai dari ujung paling luar dan mengarah ke tengah, dan akan berlanjut sampai tidak ada pergeseran yang
nampak di bawah lindasan peralatan tersebut. Masing-masing lapisan akan terdiri dari batu bergradasi baik yang
dapat diterima dan semua rongga-rongga permukaan harus diisi dengan pecahan-pecahan sebelum dipasang lapis
berikutnya. Batu tidak boleh digunakan di bagian 15 cm puncak badan jalan dan tidak ada batu dengan ukuran
melebihi 10 cm dimasukkan di dalam lapis bagian atas ini.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan cara dan peralatan, mendapatkan tingkat pemadatan yang
ditentukan. Dalam hal bahwa dia tidak mampu mendapatkan kepadatan yang diperlukan, satu pengujian lapangan
harus dilaksanakan dimana jumlah lintasan peralatan pemadatan dan kadar air diubah-ubah sampai kepadatan
yang diperlukan didapat sehingga memuaskan Direksi Teknik. Hasil dan pengujian lapangan ini kemudian harus
digunakan untuk menentukan jumlah lintasan jenis alat pemadatan dan kadar air dari semua peralatan berikutnya
bagi urugan batu yang sejenis.

3.2.3

Pengendalian Mutu

(1) Test Laboratorium


Test untuk syarat kualitas bahan urugan harus dilaksanakan kedua-duanya untuk sumber pengadaan dan test
di tempat seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, untuk dapat memenuhi persyaratan-persyaratan Speifikasi
ini.
Test laboratorium berikut ini dijadikan rujukan (referensi).
TABEL 3. 2.1 TEST LABORATORIUM BAHAN URUGAN

PENGUJIAN

RUJUKAN
BINA MARGA

KETERANGAN

Analisa saringan agregat halus dan


kasar.

SNI 1968 1990 F


(ASHTO T 27)

Menentukan distribusi ukuran partikel


agregat kasar dan halus.

Penentuan batas cair dan batas


platis

SNI 1967 1990 F


(ASHTO T 89)

Tes pastisitas untuk Batas Cair dan


Indeks Plastisitas.

SNI 1966 1990 F


(ASHTO T 90)
Hubungan kadar air kepadatan

SNI 1724 -1989 F


(ASHTO T 99)

Tes standar Proctor.

CBR (California Bearing Ratio)

SNI 1744 1989 F


(ASHTO T 193)

Menentukan Daya Dukung Relatif urugan


padat.

TES PENGENDALIAN

KETERANGAN

a. Pengujian kepadatan urugan padat dilapangan.


(Tes Kerucut Pasir)
(SKSNI-M-13-1991-03)

b. Hubungan kadar air Kepadatan


(SNI 1742-1989 F)

Untuk menentukan hubungan kepadatan dan kadar


air pemasangan.
Urugan ditempatkan dalam lapisan di bawah formasi
jalan, harus diuji setiap 200m panjang jalan setiap
lapis.
Kepadatan harus minimal 90 % dari Standar Proctor.

3.2.5. Cara Pengukuran Pekerjaan


(1)

Apabila dimasukkan dalam Daftar Penawaran , sebagai satu iem pembayaran terpisah, dan tergantung kepada
ketentuan item berikutnya, urugan harus diukur dalam jumlah meter kubik bahan padat yang dipasang dan
diterima serta memuaskan Direksi Teknik, dan akan diuraikan sebagai urugan timbunan bahan biasa atau

timbunan bahan pilihan sesuai dengan spesifikasi dan gambar-gambar dan disetujui oleh Direksi Teknik untuk
pekerjaan khusus di bawah kontrak.
(2)

Volume yang harus diukur untuk pembayaran harus atas dasar penampang melintang dan profil yang disetujui
yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau diukur di lapangan sebelum suatu urugan telah ditempatkan pada
garis batas, kelandaian dan permukaan yang disetujui atau diterima. Cara penghitungan berupa cara luas ratarata dan menggunakan penampang melintang pekerjaan berjarak tidak lebih dari 25 meter, terkecuali dinyatakan
lain untuk kontrak khusus.

(3)

Untuk pengukuran satu urugan sampai menjadi satu pekerjaan timbunan atau pekerjaan sejenis yang dibangun di
atas tanah rawa dimana konsolidasi tanah asli yang baik diharapkan, marka-marka (patok) penurunan harus
dipasang dan disurvey bersama-sama oleh Direksi Teknik dan Kontraktor. Volume urugan kemudian akan
ditentukan atas dasar permukaan tanah sebelum dan sesudah penurunan.

(4)

Urugan yang ditempatkan di luar garis batas dan penampang mlintang yang disetujui, termasuk setiap tambahan
urugan yang diperlukan untuk dudukan atau penguncian ke dalam talud yang ada sebagai hasil penurunan
pondasi tidak boleh dimasukkan dakam volume yang harus diukur untuk pembayaran, kecuali dimana secara lain
disetujui oleh Direksi Teknik untuk mengganti bahan-bahan lunakatau tidak cocok yang ditemukan di lapangan
selama pelaksanaan.

(5)

Urugan porous, bahan filter atau bahan alas dasar utnuk pipa gorong-gorong, saluran beton, saluran dilapisi,
saluran porous, dinding kepala dan struktur lainnya, tidak boleh diukur untuk pembayaran di bawah bab ini,
bahan-bahan tersebut harus dimasukkan dalam harga satuan penawaran untuk bahan-bahan dan item-item
konstruksi yang bersangkutan, yang disediakan dalam item pembayaran di bawah Bab 2.7 dalam Spesifikasi ini.

(6)

Urugan yang digunakan dimana saja di luar batas-batas lapangan kerja atau untuk mengubur bahan-bahan
buangan atau untuk penutupan dan memperbaiki galian bahan-bahan, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran
urugan.

3.2.6 Dasar Pembayaran


Volume urugan yang diukur sebagaimana diberikan di atas, (betapapun jaraknya pengangkutan) akan dibayar per
satuan pengukuran pada harga yang bersangkutan yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran
yang tercantum di bawah, harga-harga dan pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk mendapatkan,
menyerahkan, memasang, memadatkan, mennyelesaikan dan menguji bahan-bahan urugan serta semua biaya-biaya
lain yang diperlukan dalam penyelesaian yang baik pekerjaan-pekerjaan yang diuraikan dalam Bab ini.
Nomor Item

URAIAN

Pembayaran

Satuan
Pengukuran

3.2.1

Urugan Biasa untuk Timbunan

Meter kubik

3.2.2

Urugan Pilihan untuk Timbunan

Meter kubik

Bab 3.3

PENYIAPAN TANAH DASAR

3.3.1 Umum
(1)

Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari menyiapan tanah dasar yang terletak ldibawah pondasi jalan, dalam keadaan Sian
menerima struktur perkerasan atau bahu jalan. Tanah dasar tersebut meluas smpai lebar penuh dasar jalan seperti
ditunjukkan pada gambar, dan dapat dibentuk diatas tibunan biasa, atimbunan pilihan, galian batu atas van filter
porous.

(2) Toleransi ukuran


a.

Kemiringan dan ketinggian akhir setelah pemadataan, tidak boleh berbeda satu sentimeter lebih tinggi atau lebih
rendah dari pada yang ditetapkan atau diatur dilapangan dan disetujui oleh direksi teknik.

b.

Permukaan akhir tnah dasar akan dibuat miring melintang jalan seperti yang ditetapkan atau ditunjukkan pada
gambar dan dibuat cukup rata serta seragam untuk menjamin limpasan air permukaan yang bebas.

(3) Penjadwalan Pekerjaan


a.

Semua pekerjan drainase tepi jalan disebelah tanah dasar harus diselesaikan dan dapat berfungsi sampai satu
tingkat yang dapat menyediakan drainase yang efektif bagi limpasan air permukaan dan tanah dasar selama hujan
lebat ataupun sebagai hasil banjir dari daerah sekitarnya.

b.

Gorong-gorong, pipa porous dan bangunan-bangunan kecil lainnya diletakkan di bawah tanah dasar harus
diselesaikan sepenuhnya dengan urugan padat, sebelum penyiapan tanah dasar dimulai.

(4) Pengendalian Lalu lintas


a.

Pengendalian lalu lintas harus dilakukan oleh kontraktor sesuai dengan persyaratan umum koontrak, dan sampai
disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua konsekwensi lalu-lintas yang diizinkan lewat diatas tanah
dasar, selama pelaksanaan pekerjaan dan ia harus melarang lalu lintas tersebut, bilamana mungkin dengan
menyediakan satu jalan pengalihan atau pembagunan setengah lebar.

(5) Perbaikan Penyiapan Tanah Dasar yang Tidak Memuaskan


a.

Persyaratan yang ditetapkan di bawah sub bab 3.1.1 (8) Galian dan sub bab 3.2.1 (6) Urugan harus diterapkan
untuk semua penyiapan tanah dasar dimana relevan (berkaitan).

b.

Kontraktor kan memperbaiki atas biaya kontraktor sampai disetujui Direksi Teknik, setiap alur bekas roda,
gundukan dan kerusakan-kerusakan lain yang diakibatkan oleh lalu-lintas atau tenaga kerja kontraktor terhadap
tanah dasar yang sudah selesai.

c.

Kontraktor akan memperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, setiap kerusakan tanah dasar
disebabkan oleh kekeringan dan retak-retak, atau dari kebanjiran ataupun kasus alami lainnya. Pekerjaan tersebut

akan dimasukkan untuk pembayaran di bawah bab ini, terkekecuali Direksi Teknik menganggap kerusakankerusakan tersebut disebabkan oleh kelalaian konraktor.

3.3.2. Bahan-bahan
Bahan tanah dasar dan kualitasnya harus sesuai dengan persyaratan yang berkaitan untuk timbunan biasa, timbunan
pilihan, atau galian tanah dasar yng ada. Bahan bahan yang digunakan dalam masing-masing keadaan harus seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknik, dan harus dipasang seperti yang ditetapkan pada Bab 3.1 dan 3.2.

3.3.3. Pelaksanaan Pekerjaan


(1)

Penyiapan Lapangan

a.

Penggalian dan penggurugan untuk tanah dasar harus seperti yang ditetapkan pada bab 3.1 dan 3.2 spesifikasi
ini.

b.

Kontraktor harus menyediakan dan menggunakan mal logam dan mistar logam untuk memeriksa punggung atau
kemiringan melintang. Bilamana diminta oleh direksi teknik ketinggian lapangan harus diperiksa dengan alat
survey ketinggian.

(2)

Pemadatan Tanah

a.

Pemadatan lapisan tanah di bawah permukaan tanah dasar harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan
spesifikasi yang diberikan pada bab 3.2.3. spesifikasi ini
Lapisan lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampai 45%
kepadatan kering maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T99.
Lapisan-lapisan yang berada pada 30 cm atau kurang dan sampai permukaan tanah dasar harus dipadatkan
sampai 100% kepadatan kering maksimum.

3.3.4. Pengendalian Mutu


Pengujian-pengujian kualitas untuk kepadatan di lapangan dan daya dukung tanah harus dilakukan untuk setiap 200 m
panjang jalan sesuai dengan persyaratan spesifikasi sub bab 3.2.4. CBR minimum untuk tanah dasar harus 5%, dan
bilamana hal ini tidak dapat dicapai, perlu dipasang bahan lapis pondasi bawah atau bahan timbunan pilihan sampai
ketebalan yang diperintahkan oleh Direksi Teknik (lihat Bab 5.1 Lapis Pondasi Bawah).

3.3.5. Cara Pengukuran Pekerjaan


(1)

Luas penyiapan tanah dasar yang sesuai dan disetujui akan diukur sebagai jumlah meter persegi permukaan
yang dipadatkan dan dibentuk.

(2)

Tidak ada pembayaran akan dilakukan di bawah Bab Spesifikasi ini, untuk penyiapan tanah dasar mengenai
pekerjaan pemeliharaan berkala, meliputi perbaikan lubang, bagian amblas atau pecahnya ujung-ujung
(pinggiran) jalan.

3.3.6 Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan diukur seperti dilakukan dia ats, akan dibayar per satuan pengukuran pada harga yang
dimasukkan dalan daftar penawaran untuk item pembayaran yang tercantum di bawah, yang tenaga dan
pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam
penyelesaian penyiapan tanah dasar yang diminta seperti diuraikan sebelumnya dalam Bab ini.
Nomor Item

URAIAN

Pembayaran
3.3.1

Satuan
Pengukuran

Penyiapan Tanah Dasar

Meter persegi

BAB 3.4 LAPIS TANAH DASAR STABILISASI KAPUR


3.4.1 `Umum
(1)

Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari modifikasi (mengubah) dan meningkatkan kekuatan dan kualitas tanah dasar dengan cara
menambah/mencampur dengan kapur dan air kepada tanah lapisan dasar ditempat, serta menghampar, membentuk,
memadatkan dan merawat serta menyelesaikan sampai ketinggian dan penampang melintang yang diminta untuk
membentuk satu lapis tanah dasar yang disetujui dengan kekuatan tertentu, memanjang selebar penuh dasar jalan.
(2)

Toleransi Ukuran

a.

Kemiringan dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari 1 cm lebih tinggi atau lebih rendah dari
pada yang ditetapkan atau diatur di lapangan dan disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Permukaan akhir tanah dasar harus diberi punggung atau kemiringan melintang yang ditetapkan atau seperti
yang ditunjukkan pada gambar dan harus cukup halus dan merata dalam bentuk untuk menjamin limpasan air
permukaan secara bebas.

(3)

Contoh Bahan

a.

Contoh kapur hidrasi yang digunakan untuk memperbaiki tanah dasar harus diserahkan kepada Direksi Teknik
untuk mendapatkan persetujuan paling lambat 14 hari sebelum pekerjaan dimulai, beserta sertifikat pabrik
pembuat dan/atau hasil test laboratorium yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kualitas kapur hidrasi
seperti diuraikan dalam Spesifikasi.

b.

Tidak ada penggantian sumber pemasokan atau kulaitas kapur hidrsi yang diizinkan tanpa persetujuan Direksi
Teknik, dan setiap penggantian harus atas dasar penyerahan contoh tambahan serta hasil pengujian
pemeriksaan lebih lanjut dan persetujuan di atas.

(4)

Pembatasan Cuaca

a.

Perbaikan tanah dengan kapur tidak boleh dilakukan selama hujan lebat dan tanah tersebut tidak boleh digaruk
atau dilumatkan jika kadar air terlalu tinggi atau di luar batas yang ditetapkan dalam Spesifikasi 3.4.4.b.
mpai suatu tingkat yang Kapur tersebut harus disebarkan dibawah kondisi yang kering untuk dapat
mengendalikan tingkat penyebaran dan kadar air optimum.

(5)

Penjadwalan Pekerjaan

a.

Semua pekerjaan drainase tepi jalan di sebelah lapis tanah dasar harus diselesaikan dan berfungsi sampai suatu
tingkat yang cukup untuk meberikan drainase yang efektif bagi limpasan air permukaan dari tanah dasar selama
hujan lebat atau sebagai hasil kebanjiran dari daerah sekitarnya.

b.

Gorong-gorong, pipa-pipa porous, dan bangunan kecil lainnya yang diletakkan di bawah tanah dasar harus
diselesaikan sepenuhnya dengan urugan tanah padat, sebelum pekerjaan penyiapan tanah dasar dimulai.

(6)

Pengendalian Lalu-Lintas

a.

Pengturan pengendalian lalu-lintas yang memadai harus dijaga oleh kontraktor selama pelaksanaan perbaikan
tanah dasar sampai disetujui oleh Direksi Teknik.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk semua konsekuensi diizinkannya lalu-lintas di atas tanah dasar
selama pelaksanaan pekerjaan dan dia harus melarang lalu-lintas tersebut sedapat mungkin dengan
menyediakan stu jalan alternatif atau dengan pelaksanaan setengah lebar jalan.

(7)

Perbaikan Peningkatan Lapis Tanah Dasar dengan Kapur yang Tidak Memuaskan

a.

Persyaratan yang ditetapkan di bawah Bab 3.1 Galian dan 3.2 Urugan akan diterapkan juga bagi semua
penyiapan lapis tanah dasar sebagaimana dan bilamana relevan (berkaitan).

b.

Perbaikan lapis tanah dasar dengan kapur yang tidak memenuhi toleransi atau kriteria kualitas/kekuatan yang
ditetapkan harus diperbaiki oleh kontraktor atas biaya kontraktor seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Perbaikan-perbaikan tersebut dapat meliputi :
i. Perubahan perbandingan camupuran
ii. Penggarukan ulang dan pelumatan ulang lapis tanah dasar, penguatan kapur dan pemberian tambahan
kapur.
iii. Pembongkaran dan penggntian lapis tanah dasar perbaikan kaput yang tidak memuaskan, sehingga disetujui
oleh Direksi Teknik.

c.

Kontraktor juga harus memperbaiki atas biaya kontraktor sampai disetujui Direksi Teknik, setiap bagian amblas,
alur bekas roda atau keruakan lainnya yang disebabkan oleh lalu-lintas atau tenaga kerja kontraktor terhadap
lapis tanah dasar yang sudah jadi.

3.4.2 BAHAN-BAHAN
(1)

Kapur

a.

Kapur yang digunakan untuk peningkatan dan pengubahan lapis tanah dasar harus kapur hidrasi, memenuhi
persyaratan Standar Industri Indonesia 0986-84 Kapur Stabilisasi Tanah Badan Jalan dan dapat diperoleh dari
pabrik pembuat yang disetujui Departemen Perindustrian.

b.

Di tempat-tempat dimana kapur hidrasi yang memenuhi persyaratan SII 0986-84 tidak dapat diperoleh, kapur
hidrasi produksi lokal dpat digunakan asal disetujui oleh Direksi Teknik dan yang disebutkan demikian dalam
kontrak khusus. Persyaratan berikut ini untuk kapur hidrasi harus diterapkan.
i. Kapur hidrasi harus diperoleh dari kapur mati yang dilumatkan, dibuat pada satu tungku pembakaran yang
disetujui yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan standar konstruksi NI-7, Syarat-Syarat untuk Kapur
Bahan Bangunan.
ii. Kapur hidrasi akan berisi minimum 60% Calcium Hydrocida dan ukuran partikel kapur harus memenuhi
persyaratan berikut :
Minimum 4% tertahan pada saringan 0,6 mm.
Maksimum 18% tertahab pada saringan 0,075 mm.
iii. Test kekuatan kapur hidrasi dicampur dengan pasir (perbandinagn 1:3 atas berat) akan memberikan kekuatan
hancur minimum (crushing strength) 15 kg/cm2 sesudah 7 hari perawatan.

c.

Kapur hidrasi ahrus dipasok kering dalam kantong atau dalam jumlah yang besar (bulk) dalam peti kemas yang
bersih, sesuai dengan persyaratan kontrak khusus, dan Direksi Teknik dapat meminta test kualitas kekuatan yang
harus dilakukan untk setiap pengiriman untuk menentukan kondisi dan kualitas kapur yang sebenarnya yang
diserahkan di lapangan.

d.

Semua kapur hidrasi yang digunakan untuk stabilisasi tanah dasar harus dismpan di abwah penutup di lapangan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bab 1.6 Spesifikasi ini.

(2)

Air

a.

Air yang digunakan dalam pekerjaan harus bersih dan bebas dari endapan setiap substansi (benda) lain yang
dapat membahayakan proses stabilisasi.

b.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menyediakan air untuk pekerjaan dan menjamin bahwa air tersebut
memenuhi persyaratan kualitas.

(3)

Tanah

a.

Secara umum, lapisan tanah dasar yang harus dimantapkan dan dimodifikasi harus diidentifikasi sebagai reaktif
kapur atas test awal dengan kapur dan tidak boleh mengandung zat organik atau sulfat dalam jumlah sangat
banyak.
Tanah tesebut akan berisi terutamanya dari partikel butiran halus dengan kandungan lempung minimun 10% dan
diklasifikasikan sebagai suatu campuran kerikil-lempung, lempung berpasir, lempung berlumpur atau lempung
inorgani (di dalam kelompok A-5, A-6, A-7, A-2-6, A-2-7, Tabel 1 AASHTO M145)

b.

Persyaratan kecocokan tanah mengenai ukuran partikel dan kondisi diberikan di bawah pada Tabel 3.4.1.

TABEL 3.4.1

KECOCOKAN TANAH DAN SYARAT KUALITAS

BATAS-BATAS UKURAN PARTIKEL

BATAS-BATAS

TEST

KUALITAS

UNTUK

KECOCOKAN TANAH
SEBELUM PELUMATAN

i.

Batas cair = maksimum 50%

i.

ii.

Indeks plastisitas = 10% - 30%

SESUDAH PELUMATAN

iii.

Nilai pH = minimum 7

ii. Lolos saringan 4,47 mm 70%

iv.

Kandungan karbon organik = maksimum 1%

iii. Lolos saringan 0,425 mm 15%

v.

Sulfat dalam tanah = maksimim 1%

Ukuran partikel maksimum = 75 m

3.4.3 CAMPURAN RENCANA TANAH-KAPUR


Perbandingan campuran untuk tanah-kapur ditentukan oleh test laboratorium dan test lapangan sebagai berikut :
(1)

Kandungan Kapur Hidrasi

Kandungan tersebut dinyatakan sebagai suatu prosentase berat dari tanah dan ditetapkan oleh Direksi Teknik atas dasar
test laboraorium dan percobaan test awal di dalam batas 3% - 7%.

(2)

Test Reaktif

Pengujian awal atas tanah dengan kapur hidrasi harus dilakukan untuk memastikan kecocokan tanah. Test
harus dilakukan di bawah perintah dan atas dasar permintaan Direksi Teknik serta kecocokan tanah ditaksir
dari hasil-hasil perubahan dalam plastisitas dan kekuatan.
(3)

Kriteria Disain Campuran

a.

Persyaratan disain campuran utnuk lapisan tanah dasar stabilisasi/modifikasi kapur harus atas dasar kriteria
berikut :
Kapur dalam jumlah yang cukup harus ditambahkan dan dicampur dengan tanah untuk menghasilkan
peningkatan berikut kepada lapisan dasar :

i. Penurunan Indeks Platisitas sampai... 10% atau kurang


ii. Peningkatan CBR sampai ... 20% - 25%
iii. Kekuatan tekanan bebas (unconfined) ... minimum 3,5 kg/cm2
iv. Nilai pH tanah ditingkatkan sampai ... 12,4.
b.

Direksi Teknik akan menggunakan kriteria ini dalam evaluasi keperluan senyatanya mengenai kandungan kapur
dan cara pembangunan serta memerintahkan kontraktor menyesuaikannya.

(4)

Hubungan Kepadatan dan Kadar Air

Hubungan kepadatan dan kadar air harus ditetapkan untuk contoh tanah yang berisi paling sedikit empat kandungan
kapur hidrasi yang berbeda. Hasil-hasil test harus digambar untuk menentukan nilai puncak bagi kepadatan kering
maksimum dan kadar air optimum.
(5)

Percobaan Lapangan untuk Disain Campuran

a.

Kualitas dan kekuatan campuran tanah kapur harus dipastikan melalui percobaan lapangan awal atas lapis
tanah dasar yang dimantapkan setelah penyebaran dan pemadatan.

b.

Panjang bagian percobaan harus 200 m atau panjang lainnya seperti di[erintahkan oleh Direksi Teknik, dan
percobaan terpisah harus dilakukan untuk setiap perubahan disain campuran.

c.

Perbaikan daerah-daerah yang tidak memenuhi persyaratan disain harus disesuaikan dengan sub bab 3.4.1 (7)
Spesifikasi ini. Bagian-bagian uji yang diletakkan sebagai bagian percobaan lapangan akan diterima jika telah
memuaskan dan disetujui oleh Direksi Teknik untuk pemakaian sebagai bagian lapisan tanah dasar stabilisasi
kapur.

3.4.4

PELAKSANAAN PEKERJAAN

(1)

Peralatan Pelaksanaan

Peralatan kontraktor harus cocok untuk kondisi lapangan pencampuran di tempat dan harus disetujui oleh Direksi Teknik
sebelum digunakan dalam pekerjaan. Jenis peralatan berikut ini akan dipilih untuk digunakan.

Alat pertanian garu piringan (disc harrow)

Alat pertanian bajak piringan (disc plough)

Sekop berputar (rotary hoe)

Alat gilas :

roda ban 12 15 ton

gilas bergetar 6 ton

roda baja

Tangki air dengan batang semprotan

(2)

Penyiapan Lapis Tanah Dasar

a.

Permukaan lapis tanah dasar harus dibabat dengan grader sampai ketinggian, kemiringan dan penampang
melintang yang diperlukan, serta bahan-bahan galian yang berlebihan harus dibuang sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Teknis.

b.

Saluran-saluran harus dipotong (dibentuk) melewati bahan bahu jalan mencegah penggenangan air di atas lapis
tanah dasar.
Lapis tanah dasar harus digaruk sampai kedalaman dan lebar yang diperlukan untuk stabilisasi lapis tanah
dasar, dan kemudian bongkahan tanah harus dilumatkan secara sebagian-sebagian sampai suatu batas bahwa
semua tanah akan lolos saringan 25 mm. Kedalaman penggarukan harus berada di dalam batas 15-20 cm,
tergantung kepada persyaratan tertentu dan seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan serta
secara teliti dikendalikan untuk mencegah adanya gangguan kepada tanah di bawahnya. Semua bahan-bahan
yang tidak cocok termasuk batu-batu yang tertahan saringan 75 mm, harus dibongkar.

(3)

Penyebaran dan Pencampuran Kapur Hidrasi

a.

Volume dan ukuran untuk penyebaran kapur hidrasi harus atas dasar hasil-hasil disain campuran dan
percobaan lapangan serta sebagaimana dipeerintahkan oleh Direksi Teknis. Bilamana kapur tersedia dalam
kantong-kantong, kantong-kantong tersebut harus ditempatkan berjarak diatas lapis tanah dasar sesuai dengan
ukuran penyebaran yang diperlukan, kantong-kantong dibuka dan kapur tersebut disebarkan dan digaruk
merata diatas tanah. Bilamana kapur dipasok dalam jumlah banyak dengan truk, truk tersebut akan
menempatkan kapur ke atas lapisan tanah dasar di lokasi yang ditujukan untuk memenuhi persyaratan ukuran
penyebaran dan kemudian kapur tersebut disebar merata di atas lapis tanah dasar.

b.

Kapur dan tanah yang sudah digaruk harus dicampur menyeluruh menggunakan bajak, sekop berputar, dan
grader yang diperlukan untuk meraih pencampuran sampai ketebalan penuh dan bekerja dalam satu arah
kelandaian ke atas.
Untuk tanah-tanah lempung berat diperlukan menyebar dan mencampur kapur dan tanah dalam dua
penambahan, berjarak sampai 7 hari antara operasi pencampuran awal dan akhir agar tanah menjadi gembur.

c.

Selama operasi pencampuran, air harus disemprotkan dari tangki, cukup untuk memberikan satu kadar air
dalam satu ukuran dari kadar air optimum laboratorium yang ditetapkan untuk campuran percobaan sampai
+5% diatas batas ino.

d.

Jika tanah tersebut ternyata sulit dilumatkan, campuran tanah kapur lapisan tanah dasar tersebut harus digilas
dengan penggilas pneumatik atau penggilas roda baja, cukup dekat kepada permukaan dan memperlambat
kehilangan kebasahan karena penguapan, dan kemudian menjadi matang untuk satu jangka waktu tidak lebih
dari 48 jam. Setelah jangka waktu pematangan tersebutair harus ditambahkan dengan pencampuran dilanjutkan
sampai 2% kadar air optimum.

(4)

Pemadatan dan Penyelesaian

BAB VI
PELAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN
6. LAPISAN ASPAL RESEP PENGIKAT DAN LAPISAN ASPAL PENGIKAT (PRIME COAT AND TACK
COAT)
6.1. Umum.
1) Uraian
a. Untuk lapisan aspal resap pengikat, pekerjaan ini terdiri dari pengadaan dan pemakaian suatu bahan
pengikat aspal dengan kekentalan rendah yang terpilih di atas satu lapis pondasi jalan atau permukaan
perkerasan tanpa lapis penutup yang sudah disiapkan, untuk menutup permukaan tersebut yang akan
menyediakan adhesis (pelekatan) untuk pemanasan satu lapisan permukaan beraspal seperti Penetrasi
Macadam. Lapisan Tipis Aspal Beton panas (Latastcn-HRS) atau lapisan permukaan beraspal lainnya.
b. Untuk lapisan aspal pengikat, pekerjaan ini terdiri dari pengadaan dan pemakaian satu lapisan sangat
tipis bahan aspal pengikat yang terpilih di atas satu permukaan yang sudah beraspal sebelumnya dalam
persiapan untuk pemasaran satu lapisan permukaan aspal.
2) Contoh Bahan.
a. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik pada paling sedikit 14 hari sebelum dimulainya
pekerjaan, rincian pengadaan bahan bitumen yang diusulkan untuk digunakan, beserta dengan satu
sertifikat pabrik pembuat dan data pengujian yang menunjukkan bahwa bahan bitumen tersebut
memenuhi persyaratan kualitas dari Spesifikasi ini.
b. Jika diminta demikian oleh Direksi teknik. Kontraktor harus juga menyediakan contoh bahan bitumen 5
liter yang diusulkan untuk digunakan.
3) Pembatasan Cuaca.
Laris aspal resep pengikat harus digunakan diatas permukaan yang kering atau sedikit sebab lapisan
pengikat akan digunakan hanya pada permukaan yang benar-benar kering tidak ada lapis aspal pengikat
atau lapis aspal resep pengikat lain yang digunakan selama ada yang kuat atau hujan deras, atau jika hujan
mungkin turun.
4) Syarat-syarat pekerjaan dan Pengendalian Lalu-Lintas.
a. Tidak boleh ada bahan aspal yang dibuang ke dalam saluran tepi, parit atau jalan air.
b. Permukaan harus menyediakan dan memelihara di lapangan dimana aspal sedang dipanaskan alat
pengendalian dan pencegahan kebakaran yang memadai dan juga peralatan dan sarana untuk
pertolongan pertama.
c. Kecuali diperoleh satu pengalihan (alternatif) lalu lintas, pekerjaan harus dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga memungkinkan satu jalur lalu lintas, dengan diadakan pengaturan pengendalian lalu lintas
sehingga mendapatkan persetujuan dari Direksi Teknik Kontraktor harus bertanggungjawab terhadap
semua konsekwensi (akibat) lalu lintas yang terlalu dini diizinkan melalui lapis aspal pengikat atau lapis
aspal resep pelekat yang baru dipasangkan dan harus melindungi permukaan tersebut sebagaimana
diminta dibawah Sub bab
5) Perbaikan Pekerjaan yang tidak memuaskan.
a. Pelapisan akhir harus menutupi sepenuhnya luas yang harus dilapisi dan memiliki penampilan yang
seragam tanpa ada daerah-daerah yang tidak/kurang aspal atau alur daerah kaya dimana kelebihan
berkumpul.

b. Perbaikan-perbaikan lapis aspal pelekat dan lapis aspal resep pelekat yang tidak memuaskan harus
seperti yang diperhatikan oelh Direksi Teknik dan dapat mencakup pemberian pelapisan tambahan, atau
pembuangan pelapisan aspal yang berlebihan dan menggunakan bahan-bahan penyerap aspal.
6.2. Bahan-bahan.
1) Bahan untuk lapisan aspal resep pengikat.
-

Bahan bitumen untuk lapis aspal resep pengikat akan dipilih dari dua jenis aspal semen gradasi kental
(sebagaimana ditetapkan dalam AASHTO M226-Tabel 2), diencerkan dengan kerosin (minyak tanah)
dalam perbandingan 80 bagian minyak tanah terhadap 100 bagian aspal semen,atau seperti
diperintahkan lain oleh Direksi teknis atas dasar hasil suatu percobaan yang dilakukan dan/atau susunan
(tekstur) permukaan jalan. Pemilihan lapisan aspal resep pelekat.
a. Gradasi kekentalan AC-10 (sama dengan pen 80/100)
b. Gradasi kekentalan AC-20 (sama dengan pen 60/100)
Catatan: produksi tersebut ekivalen dengan aspel MC 30 (aspal cair sedang).

Agragat penutup untuk lapis aspal resep pengikat harus batu pecah alami disaring. Selanjutnya bebas
dari pertikel-partikel lunak dan setiap lempung, lanau atau zat-zat organik. Persyaratan gradasi untuk
agregat penutup adalah:
a. Tidak kurang dari 95% lolos saringan standar 9,5 mm.
b. Tidak lebih dari 2% lolos saringan standar 2,36 mm.
Catatan: agragat penutup akan juga digunakan sebagai bahan Penyerap aspal

2) Bahan-bahan untuk lapis pengikat.


a. bahan bitumen untuk lapis aspal pengikat harus dipilih dari jenis aspal berikut, sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Teknik.
-

Aspal semen gradasi kental (AASHTO M226) jenis AC-10 atau AC-20, aspal harus diencerkan
dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah terhadap 100 bagian aspal semen.

Aspal emulsi Cationic mengendap lambat, dengan kandungan aspal antara 40%-60. sesuai dengan
AASHTO M208. Bila diperlukan dan sesuai permintaan Direksi teknik, Aspal Emulsi harus
dilunakkan, diencerkan dengan air bersih dengan perbandingan yang sama.

6.3. Pelaksanaan Pekerjaan


1) Peralatan Pelaksanaan.
a.

Jenis alat dan cara pengoperasian akan berdasarkan intruksi-intruksi yang diberikan Direksi Teknik dan
yang sesuai dengan Daftar Unit Instalasi dan Peralatan yang disetujui untuk Kontrak tertentu. Secara
umum akan dipilih jenis peralatan berikut ini.

b.

Distributor aspal bertekanan beserta penyemprot.

Peralatan untuk memanaskan aspal.

Mesin gilas dan pnuematik.

Sapu sikat untuk penyapu manual.

Distributor aspal harus memenuhi standar rencana internasional yang disetujui dengan roda pnuematic
dan dilengkapi dengan sebuah batang penyemprot. Alat harus dapat menyemprotkan bahan aspal pada
tingkat yang terkendali dan seragam dan pada suhu yang ditentukan.perlatan termasuk tachometer,
ukuran tekanan, batang kalibrasi tangki, thermometer untuk pengukur suhu aspal dalam tangki, dan alatalat untuk pengukuran kecepatan seara tepat pada kecepatan rendah.

2) Tingkat Penggunaan Lapis Aspal Pengikat dan Lapis Aspal Resep Pengikat.

Jika diminta demikian oleh Direksi Teknik, percobaan lapangan harus dilaksanakan untuk menetapkan
tingkat pemakaian yang memadai untuk berbagai kondisi permukaan.
Batas tingkat pemakaian harus didalam batas-batas berikut dan tingkat pemakaian harus sebagai yang
ditetapkan dalam Daftar Penawaran dan ditunjukkan dalam gamabar atau sebagaimana ditentukan oleh
Direksi Teknik atas dasar hasil percobaan lapangan.
Lapisan Aspal Resep Pengikat: (Aspal Keras Kekentalan rendah lihat diatas)
-

Untuk pondasi agregat, antara 0,6 1,6 I/m2

Untuk pondasi tanah-semen, antara 0,3-1,0 I/m2

Lapisan Aspal Pelekat : (Aspal Keras atau Emulsi)


Tingkat pemakaian harus sesuai dengan batas-batas yang diberikan dalam tabel dibawah ini disesuaikan
dengan jenis bahan pengikat dan kondisi permukaan.
Tabel 1. Tingkat pemakaian Lapis Aspal Pelekat.
JENIS BAWAH

TINGKAT PENYEMPROTAN

TINGKAT PENYEMPROTAN

Permukaan baru/kayu

Permukaan porous/lama)

Liter/m2

Liter/m2

0.15

0.20-0.50

0.25

0.25-0.60

0.50

0.50-1.20

PENGIKAT
Aspel keras (cut back)
(25:100)
Aspal Emulsi
Aspal Emulsi
(diencerkan 1:1)

Suhu penyemprotan harus berada dalam batas-batas dalam batas-batas yang diberikan pada tabel 2 untuk
berbagai mutu aspal cair (cut back) dan aspal emulsi.
Harus diberikan perhatian yang tinggi bila memanaskan aspal cut back, dan peraturan Bina Marga untuk
Tindakan Keamanan harus dipatuhi dengan sangat.
Tabel 2. Suhu Penyemprotan.
JENIS BAHAN PENGIKAT

BATAS PERBEDAAN SUHU SEMPROT

Cut back 25 bagian kerosin

1100 + 100 C

Cut back 50 bagian kerosin

700 + 100 C

Cut back 75 bagian kerosin

450 + 100 C

Cut back 100 bagian kerosin

300 + 100 C

Aspal emulsi

200 700 C

Catatan: Tindakan Pencegahan Untuk Keamanan Penuh Harus Dilakukan Jika Memanaskan
Aspal Cut Back, Yang Sesuai Dengan Dokumen Bina Marga Rd 0.3.6 (Vol.1) Lampiran E.
Langkah-langkah Pengamanan dan Penanganan, pengangkutan dan penyimpanan aspal.

Penyiapan permukaan yang harus dilapisi aspal.


-

Setiap kerusakan yang ada dalam perkerasan jalan, termasuk lubang-lubang dan pinggiran yang runtuh,
harus dibuat baik dan diperbaiki atau dikembalikan ke keadaan semula sampai disetujui Direksi teknik.
Catan-catan karena pemadatan yang kurang cukup dan penurunan setempat lapis pondasi atas harus
dibetulkan dengan penggilasan dan pembentukan ulang.

Semua kotoran-kotoran lepas dan bahan-bahan lain yang tidak menyenangkan harus disingkirkan dari
permukaan yang ada penggaruan, penyapuan dan pencucian kalau perlu.

Untuk pondasi agregat yang harus dilapisi aspal resep pengikat. Direksi Teknik dapat memilih agar
permukaan tersebut dipotong-potong secara ringan, disiram dan digilas segera, sebelum pemberian
lapis aspal resep pengikat.

Panjang lapis aspal resep pengikat atau lapis aspal pengikat.


-

Panjang permukaan yang harus disemprot untuk setiap lewatan distributor harus diukur dan ditandai
diatas tanah, dan volume lapis aspal pengikat/lapis aspal resep pengikat yang diperlukan untuk tingkat
penyemprotan yang ditentukan, menemukan bagi pengeceran kemudian.

Jumlah bahan pengikat yang digunakan dalam masing-masing penyemprotan harus ditentukan dengan
pengukuran tangki menggunakan batang celup sebelum dan sesudah masing-masing pemakaian.
Tingkat pemakaian rata-rata harus dibedakan di dalam batas + 5% tingkat penyemprotan yang
direncanakan.

Pada umumnya lapis aspal resep pengikat dan lapis aspal pengikat akan dilaksankan dalam operasi
penyemprotan tunggal. Akan tetapi, dimana mengeringk lembat menjadi masalah, volume pelapisan
yang disetujui dapat digunakan dalam dua operasional penyemprotan, lapis pertama dibiarkan
mengerting sebelum pemberian lapis kedua.

Bilamana mengadakan penyemprotan untuk separuh lebar jalan, harus dilakukan penyemprotan lapis
tumpang tindah selebar 10 cm 20 cm sepanjang pinggi yang berdampingan.

Penyemprotan harus dihentikan segera, jika terjadi suatu kemacetan dalam alat penyemprotan dan tidak
boleh dimulai lagi sampai kesalahan tersebut telah diperbaiki.

Setiap luas yang mengumpulkan bahan pengikat aspal yagn berlebih, harus selalu disebar keseluruh
permukaan yang sudah diaspal dengan menggunakan penyeka atau sapu.

Untuk menyemprot pada pelapisan kecil dan daerah terisolasi, lapis aspal pengikat atau lapis aspak
resep pengikat dapat disemprotkan dengan semprotan tangan dan penyapuan tangan pengendalian dan
sesui dengan intruksi Direksi Teknik.

Perlindungan permukaan yang baru dilapisi aspal resep pengikat.


a. Utnuk permukaan yang telah dilapisi dengan lapis aspal resep pengikat lalu lintas tidak boleh diizinkan
diatas permukaan yang sudah dilapisi aspal resep pengikat sampai aspal tersebut telah masuk ke dalam
dan mengering dan dalam pendapat Direksi teknik tidak akan terkelupas di bawah lalu lintas. Jika harus
mengizinkan lalu lintas sebelum waktunya, (tetapi tanpa ulasan apapun tidak lebih awal dari 4 jam
setelah pemberian lapis aspal pengikat), bahan peresep aspal harus digunakan sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Teknik. Dan lalu lintas diizinkan menggunakan jalur yang sudah diaoisi. Bahan
peresepan aspal harus ditaburkan dari truk dalam satu cara bahwa tidakboleh ada roda yang menginjak
bahan aspal basah yang tidak ditutupi. Jika menggnakan bahwa penyerap aspal pada jalur yang dilapisi
yang menyambung denganjalur yang belum dilapisi, satu garis selebar paling sedikit 20 cm sepanjang
pinggir yang menyambung harus dibiarkan tidak tertutup.
b. Kontraktor akan memelihara permukaan yang sudah dilapisi untuk waktu minumum dua hari sebelum
menutupinya dengan Lapis Permukaan atau Lapis Ulang. Terkecuali satu masa yang lebih cepat
disetujui oleh Direksi Teknik. Setiap luas yang berisikan bahan pelapisan aspal resap pengikat lebih
harus dibetulkan dengan penambahan bahan peresap ataupun aspal seperti diperintahkan oleh Direksi
teknik. Sebelum pemberian lapis Ulang Permukaan, setiap cacat permukaan harus ditambal dan semua

bahan peresap lebihan atau kotoran dan bahan yang tidak menyenangkan lainnya harus disingkirkan
dengan penyapuan.

Perlindungan Lapis Aspal Pengikat.


Lapis aspal pengikat harus digunakan kepada permukaan jalan untuk memberikan satu pengikat bagi lapis
ulang permukaan aspal baru, dan disemprotkan sebelum Lapis Ulang. Hanya seluas yang diperlukan untuk
menyediakan panjang pekerjaan yang mencukupi dan kondisi kelekatan yang cokok untuk Lapis Ulang
permukaan tersebut.
Setelah penggunaanlapis aspal pengikat. Kontraktor harus melindungi lapis tersebut dari kerusakan dan
jangka waktu yang cukup akan dicadangkan untuk penguapan pelarut (dalam kasus aspal cut back) atau
pemisahan (separasi) yang lebih lengkap dari aspal dan air (jika digunakan emuisi) sebelum pemasangan
lapis permukaan aspal.

Pengendalian Mutu
a. Pengujian lapangan unit penyemprotan.
Bilamana memperhatikan demikian oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus menyediakan distributor dengan
alat dan unit semprotan peserta operator, dapat digunakan untuk pengujian lapangan harus menyediakan
setiap bantuan lain yang diperlukan.
Setiap distributor atau unit semprotan yagn tidak dapat beroperasi dalam cara yang memuaskan, akan tidak
memenuhi persyaratan spesifikasi akan ditolak.
b. Tingkat pemakaian dan suhu aspal
-

Untuk memeriksa tingkat pemakaian bahan aspal yang sebenarnya, lembaran kertas bangunan 50 cm x
50 cm, yang sebelumnya sudah ditimbang, harus diletakkan diatas permukaan yang harus dilapisi, dan
ditimbang kembali setelah pemakaian lapis aspal resap pengikat. Perbedaan dalam berat dibagi dengan
luas lembaran tersebut akan menjadi tingkat penyemprotan yang sebenarnya dilaksanakan.
(catatan : Perbedaan dalam berat dikalikan 4 akan memberikan tingkat penyemprotan dalam Kg/Cm )
catatan terinci pelapisan permukaan setiap hari termasuk tingkat pemakaian dan volume pemakaian
harus dibuat oleh kontraktor dan diserahkan kepada Direksi Teknik.

Catatan terinci Pelapisan Permukaan setiap hari temasuk tingkat pemakaian dan volume pemakaian
harus dibuat oleh kontraktor dan diserahkan kepada direksi teknik.

Suhu bahan pengikat aspal yang dipanaskan untuk penyemprotan harus sesuai dengan persyaratan
pada tabel 2 akan diperoleh setiap hari untuk setiap pemakaian.

Cara Pengukuran Pekerjaan


1. Volume bahan aspal yang diperuntukkan sebagai lapis aspal resep pengikat atau lapis aspal pengikat yang
diukur untuk pembayaran akan merupakan jumlah liter yang digunakan terhadap permukaan jalan yang
sesuai dengan spesifikasi dan sesuai dengan kebutuhan serta persetujuan Direksi Teknik. Volume bahan
aspal yang digunakan akan ditentukan setelah setiap lewatan semprotan.
2. Setiap agregat penutup yang digunakan bersama dengan pembersihan terkhir akan diperhitungkan sebagai
kelengkapan kepada pekerjaan yang diperlukan untuk memperoleh lapis aspal resep pengikat atau lapis
aspal pengikat yang memuaskan serta tidak akan diukur atau dibayar secara terpisah.
3. Pekerjaan menyiapkan dan memelihara lapis pondasi atas, di atas mana lapis aspal resep pengikat harus
dipasang tidak boleh diukur untuk pembayaran dan akan dimasukkan dalam pekerjaan yang diperlukan untuk
penyelesaian lapis pondasi atas yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi.

4. Pekerjaan yang diperlukan untuk menyiapkan permukaan yagn harus dilapisi aspal pengikat, termasuk
perbaikan lubang-lubang, pinggiran yang hancur dan penurunan setempat tidak boleh diukur dan tidak boleh
dibayar di bawah bab ini, tetapi akan diukur dan diabyar yagn sesuai dengan itempembayaran yagn relevan.
5. Bila perbaikan lapis aspal resep pengikat atau lapis aspal pengikat yang tidak memuaskan dilaksanakan
sesuai dengan sub bab diatas tidak ada tambahan pembayaran yang akan dibuat untuk pekerjaan ekstra
atau pengujian yang diperlukan untuk perbaikan
Dasar Pembayaran.
Volume yang ditentukan diatas, akan dibayar pada harga kontrak per satuan pengukuran untuk item-item
pembayaran tercantum dibawah. Harga-harga dan pembayaran ini akan merupakan kompensasi penuh untuk
pelaksanaan pekerjaann kontrak termasuk penyediaan dan pemasangan lapis aspal resap pengikat atau lapis
aspal pengikat, agregat penutup, semua tenaga, peralatan dan alat serta setiap pekerjaan kelengkapan yang
diperlukan untuk menyelesaikan dan pemeliharaan pekerjaan yang diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item

Uraian

Pembayaran

2.

Satuan Pengukuran

6.2.1

Prime Coat (Lapis Aspal Resep Pelekat)

Liter

6.2.2

Tack Coat (Lapis Aspal Pelekat)

Liter

Bila perbaikan laburan permukaan yang tidak memuaskan telah diminta sesuai dengan sub Bab 6.3.1 (5)
spesifikasi ini, tidak ada tambahan pembayaran yang akan dibuat untuk pekerjaan ekstra atau volume yang
diperlukan oleh perbaikan tersebut.

3.

Pekerjaan perbaikan yang diperlukan untuk permukaan perkerasan berpenutup yang ada termasuk
perbaikan lubang-lubang, pinggiran yang runtuh dan penurunan setempat (ambles), tidak ada diukur di bab
ini, akan tetapi akan diukur dan dibayar sesuai dengan item pembayaran yang relevan di bawah bab 9.1
spesifikasi ini.

4.

Tidak ada tambahan pengukuran dan pembayaran akan dibuat untuk suatu penyiapan permukaan yang ada
atau pengujian bahan lainnya yang diperlukan di bawah spesifikasi ini dan semua pekerjaan akan
dimasukkan kedalam item pembayaran untuk laburan permukaan aspal

Dasar Pembayaran
Volume yang ditentukan seperti yang diberikan diatas akan dibayar untuk satuan pengukuran pada harga-harga
yang dimasukkan dalam daftar penawaran yang diberikan dibawah, yang mana harga-harga dan pembayaran
akan merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam
penyelesaian leburan permukaan aspal ynag diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item
Pembayaran

Uraian

Satuan
pengukuran

6.3.1

Leburan permukaan aspal satu lapis (BURTU)

Meter persegi

6.3.2

Laburan permukaan aspal dua lapis (Burda)

Meter persegi

LABURAN PERMUKAAN ASPAL TABURAN PASIR (BURAS)


Umum
1. Uraian
Laburan permukaan aspal taburan pasir terdiri dari satu pemakaian tunggal bahan pengikat aspal dengan
agregat halus atau pasir kasar pada permukaan perkerasan. Aspal taburan pasir tersebut akan digunakan
sebagai penutupan ulang jangka pendek kepada perkeraan berpenutup yang ada sebleum pemasaran ulang
satu lapis permukaan yang lengkap, atau sebagai lapisan penutup baru kepada satu rekonstruksi bagian
perkerasan.
2. Contoh Bahan.
Contoh bahan yang diusulkan untuk laburan permukaan aspal taburan pasir (BURAS) harus diserahkan
kepada Direksi Teknik untuk mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai. Hal
ini akan meliputi.
a. Lima liter contoh bahan pengikat aspal bersama dengan sertifikat pabrik pembuat dan data pengujian
yang menunjukkan kesesuian dengan persyaratan kualitas spesifikasi ini yang diberikan pada Sub Bab
6.4.2.
b. Contoh bahan agregat halus atau pasir beserta hasil-hasil pengujian yang menunjukkan kesesuaian
dengan persyaratan kualitas spesifikasi ini yang diberikan pada Tabel 6.4.2. rincian akan juga dilengkapi
sumber pengadaan dan cara produksi.
3. Pembatasan Cuaca.
Tidak boleh ada laburan permukaan aspal taburan pasir (BURAS) dilaksanakan diatas permukaan basah
atau selama hujah ataupun angin badai, atau bila hujan nampaknya akan turun.
4. Syarat-syarat pekerjaan dan pengendalian lalu-lintas.
a. Tidak boleh ada bahan aspal akan dibuang ke dalam saluran tepi, parit atau jalan air.
b. Permukaan pepohonan, bangunan atau hak milik lainnya disekitar permukaan jalan yang sedang di labur
harus dilindungi dari pekerjaan labur permukaan tersebut .
c. Kontraktor harus melengkapi dan memelihara tempat aspal dipanaskan, peralatan pengendalian dan
pencegahan kebakaran dan juga persediaan dan sarana pertolongan pertama.
d. Pengaturan pengendalian lalu lintas yang memadai harus dipelihara oleh kontraktor selama pelaburan
permukaan hingga memuaskan Direksi Teknik, dan tindakan pencegahan berikut harus dilakukan.
i.

Tidak ada lalu lintas yang diizinkan lewat diatas permukaan jalan sementara penyemprotan bahan
pengikat aspal, atau sampai waktu dimana bahan pengikat telah dipasang dan ditutup dengan
agregat penutup atau pasir dan penggilasan telah selesai sehingga memuaskan Direksi Teknik.

ii.

Bilamana mengizinkan kendaraan-kendaraan diatas permukaan yang baru dilabur, rambu-rambu


yang disetujui dengan kata ASPAL CAIR dan 20 km/jam harus disediakan untuk tujuan
pengendalian lalulintas dan ditempatkan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.

5. Perbaikan Pekerjaan yang tidak memuaskan.


Aspal taburan pasir harus diletakkan sampai satu permukaan sesuai rata dan seragam yang disetujui Direksi
Teknik. Setiap pekerjaan yang tidak memuaskan harus diganti atau diperbaiki seperti diperintahkan oleh
Direksi teknik.
Bahan-bahan.
a.

Agregat penutp harus bersih, bebas dari zat-zat organis dan bahan-bahan halus lebihan, dan harus terdiri
dari.

b.

Agregat halus yang diperoleh dari batu atau kerikil yang pecah dan disaring.

Pasir sungai yang bersih.

Batas-batas gradasi untuk agregat halus atau pasir harus dalam batas 2,5 mm 2,75 mm sebagaimana
diberikan dalam tabel dibawah ini.

(2)

Bilamana perbaikan laburan permukaan yang tidak memuaskan telah diperlukan yang sesuai dengan Sub
Bab 6.4.1. (5) Spesifikasi ini, tidak ada tambahan pembayaran akan dibuat untuk pekerjaan ekstra atau
volume yang diperlukan bagi perbaikan-perbaikan tersebut.

(3)

Pekerjaan-pekerjaan perbaikan yang diperlukan terhadap permukaan perkerasan dengan penutup yang
ada (lihat item (3) Sub Bab 6.4.3.) meliputi perbaikan lubang-lubang. Pinggiran yang runtuh, bagian-bagian
ambles, tidak boleh diukur dan tidak pula dibayar di bawah Bab ini, tetapi akan diukur dan dibayar sesuai
dengan item pembayaran yang relevan dibawah Bab 9.1. spesifikasi ini.

(4)

Tidak ada pengukuran atau pembayaran tambahan akan dibuat untuk sesuatu yang lain bagi penyiapan
permukaan yang ada atau pengujian bahan-bahan yang diperlukan di bawah spesifikasi ini, dan semua
pekerjaan demikian akan dianggap dimasukkan dalam item pembayaran untuk laburan permukaan aspal.

6.4.6. Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan seperti diberikan diatas akan dibayar per satuan pengukuran pada harga yang
dimasukkan dalam daftar penawaran untuk item pembayaran yang diberikan di bawah, yang mana harga
dan pembayaran tersebut akan merupakan kompensasi penuh bagi semua pekerjaan-pekerjaan dan
biaya-biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan laburan permukaan aspal taburan pasir (BURAS) yang
telah diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item Pembayaran
6.4.1.

Uraian
Laburan

permukaan

Satuan Pengukuran
aspal

Meter persegi

taburan pasir (BURAS)

Bab 6.5. LAPIS PERMUKAAN PENETRASI MACADAM (LAPEN)


6.5.1. Umum
(1) Uraian
Lapis permukaan penetral Macadam terdiri dari pembangunan diatas lapis pondasi atas atau permukaan
dengan penutup yang ada yang sebelumnya sudah disiapkan, satu lapisan permukaan perkerasan yang
tebalnya antara 5-7 cm dari penetrasi batu pecah yang bersih dengan pemakaian aspal pengikat panas.
Biasanya untuk pekerjaan jalan kabupaten akan diperlukan lapis permukaan tebal 5 cm dengan lapisan
penutup aspal.
(2) Toleransi Ukuran
a.

Tebal rata-rata yang sebenarnya dipasang harus sama dengan atau lebih tebal dari tebal nominal
rencana. Dalam beberapa contoh. Direksi Teknik atas keputusannya sendiri dapat menyetujui atau menerima
ketebalan rata-rata yang lebih tipis dari tebal nominal rencana, asalkan penetrasi Macadam terpasang pada

ketebalan baru itu memenuhi segala persyaratan. Tidak ada satu titikpun akan memiliki lapis padat yang lebih
dari 5 mm di bawah tebal nominal rencana.
b.

Permukaan akhir harus mematuhi garis, ketinggian dan penampang melintang tipikal sebagaimana
ditunjukan dalam Gambar Rencana atau disetujui Direksi Teknik. Bila diuji dengan satu mal dan batang lurus,
permukaan akhir tidak boleh menunjukan variasi (perbedaan-perbedaan) terhadap permukaan akhir yang
ditentukan lebih besar dari 6 mm pada panjang 3 meter.

(3) Contoh Bahan


Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan kepada Direksi Teknik paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan
dimulai, yang diusulkan digunakan dalam pekerjaan, beserta data-data berikut :
a.

Sertifikat pabrik pembuat mengenai bahan pengikat aspal bersama dengan data uji yang
menunjukkan kesesuaian dengan persyaratan kualitas spesifikasi ini diberikan dalam sub bab 6.1.2.

b.

Rincian sumber pengadaan dan cara produksi Agregat yang harus digunakan beserta hasil
pengujian

(4). Pembatasan Cuaca


Campuran beraspal hanya boleh dipasang bilamana permukaan agregat kering, hujan tidak menghantui dan
bila dasar jalan yang disiapkan dalam kondisi yang memuaskan. Penghamparan akan di izinkan pada waktu
yang di perintahkan oleh Direksi Teknik.
(5). Syarat-syarat Pekerjaan dan Pengendalian Lalu Lintas
a.

Tidak boleh ada bahan aspal dibuang ke dalam saluran tepi, parit atau jalan air.

b.

Permukaan bangunan-bangunan, pohon-pohon atau hak milik di sekitar pekerjaan jalan harus di lindungi
dari setiap kerusakan yang di akibatkan oleh pekerjaan penyemprotan aspal.

c.

Kontraktor harus melengkapi dan memelihara di lapangan pekerjaan bilamana aspal sedang di
panaskan, perlengkapan pengendalian dan pencegah kebakaran, dan juga persediaan dan sarana
pertolongan pertama.

d.

Pengendalian lalu lintas harus di lakukan Kontraktor yang sesuai dengan syarat-syarat Umum Kontrak,
serta atas persetujuan Direksi Teknik.

e.

Tidak boleh ada lalu lintas yang diizinkan di atas permukaan jalan yang baru diselesaikan sampai
permukaan penetrasi Macadam di padatkan penuh dan di lapis tutup hingga memuaskan Direksi Teknik.
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua akibat (konsekwensi) lalu lintas yang di izinkan lewat,
sementara pekerjaan jalan sedang berlangsung.

(5). Perbaikan Pekerjaan yang tidak memuaskan


Lapisan akhir permukaan harus diselesaikan sesuai dengan persyaratan Spesifikasi ini dan disetujui oleh
Direksi Teknik. Perbaikan penetrasi makadam yang tidak memuaskan harus atas perintah Direksi Teknik,
dan dapat meliputi pembuangan dan penggantian dengan penetrasi macadam baru, menambahkan lapisan
tambahan atau suatu kelengkapan lain yang oleh Direksi Teknik dianggap perlu untuk memberikan
penyelesaian yang memuaskan.
6.5.2. Bahan-Bahan
(1) Agregat

a.

Agregat terdiri dari batu pecah berupa agregat kasar, agregat kunci dan agregat pentup yang
bersih, keras dengan kualitas seragam dan bebas dari kotoran, lempung, bahan-bahan tumbuhtumbuhan atau bahan lainnya yang harus dibuang.

b.

Batas ukuran Agregat


i.

Agregat kasar berupa lapisan utama yang berada dalam batas-batas ukuran nominal
2,5 cm-6,25 cn, yang tergantung kepada ketebalan lapisan dengan ukuran maksimum kurang lebih
2/3 tebal rencana.

ii.

Agregat kunci untuk lapisan utama (pokok) harus lolos saringan 25 mm tetapi tidak
boleh lebih dari 5% akan lolos dari saringan 9,5 mm.

iii.

Bila disediakan dalam daftar penawaran, satu lapisan penutup aspal harus diletakkan
diatas permukaan peentrasi macadam menggunakan agregat ukuran tunggal nominal 12,5 mm
sebagaimana ditetapkan dalam Bab 6.3. Spesifikasi ini.

c.

Gradasi Agregat
Gradasi agregat bersama dengan tebal yang terpakai ditunjukan dalam tabel 6.5.1.
Tabel 6.5.1.
Gradasi Agregat Untuk Lapis Permukaan Macadam

Ukuran Saringan mm

Persentasi Lolos
Tebal Lapisan 5,0-7 cm

Tebal Lapisan 4-5 cm

62,5

100

50

95-100

100

40

35-70

95-100

25

0-15

19

0-5

0-5

25

100

100

19

95-100

95-100

9:5

0-5

0-

Agregat Pokok

Agregat Kunci

Lapis Penutup

d.

12.5

100

9.5

85-100

4.75

10-30

2.36

0-10
Syarat-Syarat Kualitas Untuk Agregat

Agregat yang digunakan untuk lapis Permukaan Penetrasi Macadam harus mematuhi syarat-syarat
kualitas yang diberikan pada Tabel 6.5.2.
Tabel 6.5.2.
Syarat-Syarat Kualitas Agregat Pokok
Uraian

Batas Tes

Kehilangan berat karena abrasi (500 putaran)

Maksimum 40%

Indeks serpihan (British Standard Test)

Maksimum 25%

Penahanan aspal setelah pelapisan dan pengelupasan

Minimum 95%

Catatan : Syarat kualitas untuk agregat penutup harus sesuai dengan Bab 6.3. Tabel 6.3.3.
(2) Bahan Pengikat Beraspal
a.

Aspal yang digunakan harus aspal semen gradasi kental atau aspal keras yang
diencerkan (out back), jika diminta demikian untuk Kontrak khusus dan digunakan menurut perintah
Direksi Teknik.
i.

Aspal semen = (AASHTO M226-Tabel 2)


AC 10 (Ekivalen dengan Pen 80/100)
AC 20 (Ekivalen dengan Pen 60/70)

ii.

Aspal keras yang diencerkan (Cut Back)


AC 10 } Diecerkan dengan kerosin untuk memenuhi persyaratan
AC 20 } Tabel 6.5.3. dibawah :
Tabel 6.5.3.
Rencana Bahan Pengikat Untuk Aspal Cut Back.
Perbandingan Kerosin Terhadap 100 Bagian

Suhu Udara

Aspal Semen

Terlindung C0

Maksimum Suhu
Penyemprotan C0

AC 10 (80/100)

AC 20 (60/70)

20

11

13

140

25

155

30

165

35

180

b.

Aspal emulsi capat digunakan sebagai alternatif terhadap aspal Cut Back,
tergantung kepada persetujuan Direksi Teknik atas sumber pengadaan dan kualitas, dan harus mutu
CRS1 dan CRS2 cationic, mematuhi Spesifikasi AASHTO M208.

6.5.3. Pelaksanaan Pekerjaan


(1) Peralatan Pelaksanaan
a.

Jenis alat dan methoda pengoperasian harus sesuai dengan daftar Unit Produksi dan
peralatan serta Program Kerja yang disetujui dan menurut petunjuk selanjutnya oleh Direksi Teknik.

b.

Pada umumnya akan dipilih jenis peralatan berikut :

Distributor/penyemprot aspal bertekanan.

Alat untuk pemanasan aspal.

Mesin gilas, termasuk :


-

Tandem 6 8 ton

Roda baja rata 6 8 ton

Ban pneumatic 10 12 ton

Sejumlah Dump truk yang cukup, lebih baik beserta loader.

Tangki air (jika musim kemarau)

Sapu, garu, gerobak dorongan, semua untuk pekerjaan manual.

(2) Volume Bahan Yang Digunakan

Tingkat perkiraan pemakaian dan volume bahan-bahan per meter persegi luas permukaan untuk lapisan
penetrasi makadam diberikan dalam Tabel 6.5.4 berikut. Tingkat pemakaian ini berdasarkan berbagai
keperluan tebal lapisan. Keetbalan sebenarnya serta tingkat pemakaian akhir harus sesuai dengan daftar
penawaran dan sebagaimana ditentukan oleh Direksi Teknik.
Tabel 6.5.4
Tingkat Penggunaan Penetrasi Macadam
Tingkat Penaburan

Tebal

Agregat Kasar kg/m2

Total

Penggunaan
Aspal Pertama

Lapen/

(50 mm)

CM)

(62.5 mm)

Kg/m2

Tingkat
Penaburan
agregat

Tingkat
Penggunaan

penaburan

aspal kedua

agregat

kg/m2

penutup

Kunci kg/m2

kg/m2

64 (25)

2.0

25

1.5

14

4.5

72 (22)

2.3

25

1.5

14

80 (20)

2.5

25

1.5

14

5.5

99 (16)

4.0

25

1.5

14

108 (17)

4.4

25

1.5

14

6.5

117 (15)

4.8

25

1.5

14

126 (14)

5.2

25

1.5

14

Catatan : (1) Berat agregat lepas diambil sebagai :


50 mm ukuran maksimum nominal = 1600 kg/m3
16.5 mm ukuran maksimum nominal = 1800 kg/m3
(2) Tingkat penaburan ekivalen dalam m2/m3 ditunjukan sebagai ( )
(3) Untuk pekerjaan jalan kabupaten tebal minimum adalah 5 cm.

(3) Penyiapan Lapangan


a. Penetrasi Macadam akan dipasang diatas pondasi yang telah dibangun sebelumnya atau di atas
permukaan yang telah ada lapis penutupnya penyiapan akan meliputi :
i.

Bila dipasang diatas pondasi jalan, pondasi tersebut harus memiliki bentuk dan profil tepat
benar dengan potongan melintang rencana, dan dipadatkan benar sampai disetujui oleh Direksi
Teknik.

ii.

Pondasi jalan harus juga ditutup dengan lapis aspal resap pengikat pada satu tingkat
pemakaian 0,6 l/m2 (lihat Sub Bab 6.2.3. Spesifikasi ini).

iii.

Bila diletakkan diatas permukaan yang telah ada lapis penutupnya (permukaan aspal lama),
permukaan tersebut harus dilapisi aspal pengikat pengikat pada satu tingkat permukaan tiak
melebihi 0,5 l/m2 (lihat Sub Bab 6.2.3.).

iv.

Permukaan perkerasan harus kering dan bebas dari batu-batu lepas atau suatu bahan lain yang
harus dibuang.

v.

Sebelum pemasangan, agregat kasar dan agregat kunci harus ditumpuk secara terpisah
dilapanngan untuk mencegah pencampuran dan harus selalu bersih.

(4) Penghamparan dan Pemadatan


1. Penghamparan Agregat Kasar Dalam Lapisan Pokok.

Agregat kasar akan dihampar dengan tangan atau dengan mesin dan dipasang dengan keseragaman
yang merata hingga mencapai garis, profil dan kemiringan yang dikehendaki. Sebuah mal pengujian
mengikuti kemiringan melintang rencana perkerasan selesai, harus digunakan untuk memperoleh
keseragaman permukaan akhir.
Penaburan tidak boleh dilakuakn lebih lanjut melebihi dari operasi penggilasan dan penebaran panjang
yang dapat diselesaikan dalam rata-rata satu hari bekerja agregat segregasi atau agregat bercampur
dengan tanah atau bahan asing lainnya, harus disingkirkan dan diganti dengan agregat bergradasi yang
benar.
2. Penggilasan dan Pemadatan lapisan Pokok
Lapisan agregat kasar pokok harus digilas kering dengan mesin gilas rida baja 6 8 ton sampai
terpadatkan seluruhnya. Penggilasan awal akan dimulai dari sebelah pinggir, melapis tindih bahu jalan
selebar paling sedikit 30 cm, dan akan berlangsung menuju ke tengah perkerasan. Pinggiran roda mesin
gilas akan melapis tindih hamparan sebelumnya dengan sekitar sepertitga lebar roda.
Setelah penggilasan awal, permukaan tersebut harus diperiksa dnegna mal panggung dan batang lurus 3
meter, dan harus mematuhi toleransi ukuran yang ditetapkan pada Sub Bab 6.5.1. (2) dengan cadangan
diberikan untuk kebutuhan pemadatan berikutnya semua ketidak rataan permukaan yang melebihi batas
diatas harus dibetulkan dengan membuang atau menambah agregat seperlunya.
Penggilasan akan berhasil sebelum rongga-rongga dalam agregat tertutup sedemikian jauh sehingga
mencegah penetrasi yang bebas dan merata dari aspal dan agregat kunci
(5) Pemakaian Bahan Aspal (Sebelum Agregat Kunci)
-

Setelah agregat kasar digilas dan diperiksa, bahan pengikat aspal akan disemporotkan pada satu
suhu yang cocok, kepada jenis dan mutu bahan pengikat aspal sebagaimana ditetapkan dalam item (ii)
dibawah. Tingkat pemakaian harus sesuai dengan Tabel 6.5.4. atau sebagaimana ditentukan lain oleh
Direksi Teknik.

Suhu pemanasan dan penyemprotan yang diperlukan untuk bahan pengikat aspal harus berada
dalam batas-batas berikut :

Aspal keras :
AC 10 (Pen 80/100)

: Batas suhu 1250C 1800C

AC 20 (Pen 60/70)

: Batas suhu 1350C 1850C

Aspal cair (cut back) :


MC 800

: Batas suhu 770C 1150C

MC 300

: Batas suhu 600C 1000C

Aspal cair (cut back) dilapangan, harus sesuai dengan persyaratan yang diberikan pada Tabel
6.3.4.

Setiap bahan pengikat aspal yang telah dipanaskan sampai suhu penyemprotan lebih dari 10 jam
atau telah dipanaskan sampai satu panas yang melebihi suhu maksimum yang diberikan dalam item c,
ii, diatas, harus ditolak. Kecuali Direksi Teknik menentukan bahwa bahan pengikat aspal tersebut masih
memenuhi kekentalan yang diperlukan.

Sebelum menyemprotkan bahan pengikat aspal bahan agregat harus kering dari permukaan
sampai seluruhj kedalamannya.

Bahan aspal akan disemprotkan secara lebih baik dengan diostributor bertekanan merata ke atas
permukaan pada tingkat yang sudah ditetapkan. Diatas luas yang kecil, dimana pemakaian batang
penyemprot tidak praktis, bahan tersebut akan disemprotkan dengan slang tangan. Sebuah ceret curah
hanya dapat digunakan bilamana diberikan persetujuan oleh Direksi Teknik.

Apapun persyaratan 6.5.3. (4) c, i, diatas, bilamana digunakan penyemprot aspal, aspal tersebut
harus diterapkan pada temperatur yang diperlukan untuk menghasilkan kekentalan penyemprotan yang
benar.

(6) Penggunaan Agregat Kunci


Secepatnya setelah pemakaian aspal, agregat kunci akan ditaburkan merata diatas permukaan dengan alat
mesin penabur atau cara manual yang disetujui. Digilas dibersihkan dengna sapu seret untuk menjamin
distribusi yag merata dan digilas lagi agregat kunci ekstra akan ditambahkan dengan tangan, dimana
diperlukan, serta penggilasan dan pembersihan akan berlanjut sehingga agregat tersebut tertanam dengan
baik setiap batu lebihan harus disingkirkan dengan sapu.
(7) Penggunaan Bahan Aspal (Setelah Agregrat Kunci)
Setelah agregat kunci selesai digilas dan diperiksa, bahan aspal harus diterapkan sesuai yang ditentukan
dalam Sub Bab 6.3.3. (4) c, diatas.
(8) Penggunaan Agregat Penutup
Secepatnya setelah pemakaian aspal, agregat kunci akan ditaburkan merata diatas permukaan dengan alat
mesin penabur atau cara manual yang disetujui, digilas, dibersihkan dengan sapu seret untuk menjamin
distribusi yang merata dan digilas lagi agregat kunci ekstra akan ditambahkan dengan tangan, dimana
diperlukan serta penggilasan dan pembersihan akan berlanjut sehingga agregat tersebut tertanam dengan
tangan, dimana diperlukan. Serta penggilasan dan pembersihan akan berlanjut sehingga agregat tersebut
tertanam dengan baik. Setiap batu latihan harus disingkirkan dengan disapu.
(9) Sambungan-Sambungan
Sambungan memanjang dan melintang harus diakhiri dengan potongan tegak serta digaruk kembali
secukupnya bila diperlukan untuk lapis tindih. Bilamana permukaan baru berbatasan dengan permukaan
lama. Permukaan jalan lama harus dipotong lagi membentuk permukaan tegak, semua sambungan harus
dengan hati-hati diperiksa untuk disetujui.
(10) Tebal Lapisan Dan Penyelesaian Permukaan.
Tebal terpadatkan lapisan permukaan penetrasi macadam tidak boleh kurang dari yang telah ditetapkan
berada dalam toleransi seperti diuraikan Sub Bab 6.5.1. Pemeriksaan ketebalan penetrasi Macadam harus
seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Pada setiap tahap pemadatan,. Kehalusan permukaan harus dipelihara harus ditambahkan bahan-bahan
pada setiap tempat dimana ada bagian ambles.
6.5.4. PENGENDALIAN MUTU
(1) Test Laboratorium

Agregat dan bahan pengikat aspal harus mengenai syarat kualitas pada sumber pengadaan, yang sesuai
dengan persyaratan spesifikasi ini dan untuk memenuhi test laboratorium yang diberikan pad Atabel 6.5.5.
Sertifikat pabrik pembuat serta data uji harus dilengkapi untuk mendapatkan persetujuan Direksi Teknik dan
pengujian lebih lanjut harus dilaksanakan jika diminta demikian oleh Direksi Teknik.
Tabel 6.5.5.
Test Laboratorium Penetrasi Macadam
Rujukan Test

Uraian

AASHTO

Bina Marga

T.27

PB 0201 76

Analisa saringan agregat kasar dan halus.

T.96

PB 0206 76

Kelelahan terhadap abrasi, agregat kasar ukuran kecil,


menggunakan kmesin Los Angeles.

BS 812

T 182

PB 0205 76

T 226

Indeks serpih (british standard tets)


Pelapisan dan pengupasan campuran agregat aspal
Standar spesifikasi untuk aspal semen gradasi kekentalan.
Kekentalan kinematik aspal

T 201

PA 0308 76

Titik leleh aspal (test cincin dan dola)

T 53

PA 0302 76

Penetrasi bahan-bahan aspal

T 49

PA 0301 76

Pengujian aspal emulsi.

T 59

(2) Pengendalian Lapangan


Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan selama pelaksanaan pekerjaan kecuali
diperintahakn lain oleh Direksi Teknik.
Tabel 6.5.5.
Persyaratan Pengendalian Lapangan
Test Pengendalian

Prosedur

a. Agregat
i.

Menentukan gradasi agregat untuk ..... Tabel


Analisa

saringan agregat kasar dan agregat kunci.

6.5.1. satu tets .....m3 tumpupakn agregat.


Test harus dilaksanakan jika diminta demikian

ii. Kehilangan berat karena abrasi

oleh Direksi teknik, atas besat pemeriksaan

iii. Keserpihan

visual kualitas bahan dan ukuran proyek.

iv.

Pelapisan
dan pengelupasan aspal

b. Bahan pengikat aspal


i.

Temperatur
Test Pengendalian

Pencampuran

Pengendaliahn suhu aspal yang dipanaskan di


periksa setiap hari untuk setiap pemakaian.
Batas-batas temperatur harus patuh kepada
yang ditetapokan pada Sub bab 6.5.3. (4).
Prosedur

bila menggunakan aspal cair, pencampuran aspal semen


dengan pengencer (kerosin) harus dilaksanakan dibawah
penegndalian Direksi Teknik atau inspektur pekerjaan.

Penanganan Umum
i. Tingkat penaburan agregat

Harus diperiksa dan diukur setiap hari.


Harus diukur setiap hari untuk setiap pemakaian

ii. Tingkat pemakaian bahan pengikat


aspal

Pemeriksaan setiap hari pekerjaan terselesaikan, untuk

iii. Kualitas

pengendalian kualitas, keseragaman dan pemadatan.


Tebal terpasang lapis permukaan penetrasi macadam harus
dipantau dengan pengeborang inti perkerasan atau cara

iv. Ketebalan lapis permukaan

lain yang diminta Direksi Teknik.


Pengambilan inti tersebut dilakuakn oleh kontraktor dibawah
pengawasan Direksi Teknik pada suatu titik uji yang
diperintahkan.

(3) Cara Pengukuran Pekerjaan


Volume lapis permukaan penetrasi macadam yang ahrus diukur untuk pembayaran harus ditentukan dalam
meter persegi berdasarkan hasil perkalian lebar arta-rata (diukur dan disetujui bersama Direksi Teknik dan
kontraktor, dengan pengukuran lebar leher rata-rata setiap 50 meter) kali panjang, sepanjang sumbu jalan,
yang disetujui dan diterima oleh Direksi Teknik.
Bila lapis aspal resap pelekat atau lapis aspal pelekat dipasang, sesuai dengan persyaratan kontrak tertentu
dan Daftar Penawaran, lapis resap lekatr atau lapis lekat tersebut harus diukur dalam liter dan dibayar
dibawah item pembayaran 6.2.1. atau 6.2.2. spesifikasi ini.
Bilamana perbaikan-perbaikan lapis permukaan yang tidak memuaskan telah diminta sesuai dengan Sub
Bab. 6.5.2. (6) Spesifikasi ini, tidak ada tambahan pembayaran yang akan dibuat untuk pekerjaan ekstra
atau volume yang diperlukan oleh perbaikan-perbaikan tersebut.
Tidak ada pengukuran atau pembayaran tambahna akan dibuat untuk penyiapan lapangan atau pengujian
bahan-bahan yang diperlukan diabwah Spesifikasi ini, dan semua lapisan tersebut akan dianggap telah
dimasukkan dalam item pembayaran untuk lapis permukaan penetrasi macadam.
6.5.5. DASAR PEMBAYARAN
Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan diatas akan dibayar per satuan pengukuran ....harga yang
dimasukkan dalam daftar penawaran bagi item pembayaran yang diberian di ...., yang mana harga dan
pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan
dalam penyelesaian lapis permukaan penetrasi macadam sebagaimana diuraikan sebelumnya dalma Bab ini.
Nomor Item Pembayaran
6.5.1.

Uraian
Lapis

permukaan

Satuan Pengukuran
penetrasi

Meter persegi

macadam

BAB 6.6 LAPIS TIPIS ASPAL BETON (LATASTON-HRS)


6.1. UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan lapis asus permukaan yang tipis, awet dan padat berupa aspal yang
dikenal sebagai lapis tipis aspal beton (LATASTON-HRS), terdiri dari agregat, filler (bahan halus sebagai
pengisi) dan aspal semen dalam jumlah tertentu yang menghasilkan dalam satu unit pencampuran pusat
dan dipasang dengan Spesifikasi ini sebagai satu keetbalan 2,5 cm 3 cm sebagaiamana ditentukan
demikain dalam Daftar Penawaran, campuran aspla LATASTON (HRS) akan diletakkan sebagai satu lapis

permukaan .... diatas lapis pondasi atas yang sudah dibangun sebelumnya atau sebagai satu lapis ulang
atas perkerasan dengan lapis penutup yang ada.
(2) Toleransi Ukuran
a. Tebal terpasang rata-rata harus sama dengan atau lebih tebal dari tebal nominal rencana. Tidak boleh
ada satu titikpun dengan ketebalan HRS padat kurang dari 90% tebal rencana. Akan tetapi tebal
rencana dapat disesuaikan menurut kebutuhan di lapangan atas keputusan direksi teknik serta
diberitahukan kepada kontraktor secara tertulis.
b. Perbedaan permukaan HRS yang sudah jadi, jika diukur dengan mal pengukur kerataan sepanjang 3
m tidka melebihi 5 mm pada suatu titik.

Contoh bahan :
-

Kontraktor harus menyerahkan hal-hala berikut Direksi Teknik paling sedikit 14 hari sebelum
pekerjaan dimulai.

Contoh bahan campuran aspal beserta rinicna sumber pengadaan.

Formula campuran pelaksanaan beserta data uji yang dari laboratorium instalasi campuran pusat
(CMP) yang menunjukan kecocokannya dengan persyaratan kualitas Spesifikasi ini.

(3) Pembatasan Cuaca


Lataston (HRS) tersebut hanya boleh dipasang dibawah kondisi cuaca kering dan bilamana permukaan
perkerasan kering.
(4) Pengendalian Lalu Lintas
Pengendalian lalu lintas harus dilakukan oleh Kontraktor yang sesuai dengan syarat-syarat umum kontrak
dan mendapat persetujuan Direksi Teknik serta tindakan pencegahan yang memadai harus diambil untuk
memberi petunjuk dan mengendalikan lalu lintas selama pelaksanaan pekerjaan.
Harus disediakan sarana penyedian untuk pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan
pelaksanaan separuh lebar, kecuali disediakan satu jalan pengalihan (alternatif) yang sesuai, yang disetujui
oleh Direksi Teknik.
Tidak boleh ada lalu lintas yang diizinkan lewat atas permukaan jalan yang baru diselesaikan sampai lapis
permukaan LATASTON (HRS) tersebut dipadatkan benar dan memuaskan Direksi Teknik. Kecepatan lalu
lintas di atas permukaan yang baru terpasang akan dibatasi sampai 15Km/jam untuk paling sedikit selama 3
hari sesudah penyelesaian. Kontraktor harus bertanggung jawab semua akibat lalu lintas yang diizinkan,
sementara pekerjaan jalan sedang berlangsung.
(5) Perbaikan Pekerjaan yang tidak memuaskan
Dipermukaan HRS jadi, harus diselesaikan sesuai dengan persyaratan spesifikasi ini dan dapat persetujuan
Direksi Teknik. Luas lapisan permukaan yang tidak memenuhi ...... ini dan yang dianggap tidak memuaskan
oleh Direksi Teknik harus ...........cara menyingkirkan atau mengganti, menambah satu lapis tambahan
dan......dianggap perlu oleh Direksi Teknik.
6.6.2. BAHAN-BAHAN

(1) Persyaratan Umum


a.

Semua bahan-bahan yang diperlukan untuk LATASTON (HRS) diperoleh dari PU propinsi, Departemen
P.U. (atas nama Kabupaten) dan dipasok langsung ke tempat instalansi campur (CMP), kecuali DPUK
mengadakan pengaturan alternatif.

b.

Tanggung jawab untuk menyetujui semua sumebr pengadaan dan melaksanakan pengujian laboratorium
yang berhubungan dengan campuran pelaksanaan serta pengendalian mutu produksi akan berada pada
tenaga ahli (Engineer) yang bertugas pada C.M.P (instanlansi campur pusat).

c.

Kualitas HRS harus memenuhi persyaratan umum spesifikasi dari spesifikasi umum bina marga, bulan
maret 1989 (buku 3 Bab 6.3.).

(2) Agregat
a.

Agregat Kasar
Agregat kasar tersebut harus terdiri dari batu atau kerikil pecah ataupun campuran batu pecah .... kerikil alam
bersih yang sesuai.
Pondasi agregat kasar harus sesuai dengan Tabel 6.6.1. berikut :
Tabel 6.6.1.
Persyaratan Gradasi Agregat Kasar

b.

Ukuran Saringan mm

Persentasi Lolos Atas Berat

19.0

100

12.5

30-100

9.5

0-55

4.75

0-10

0.075

0-1

Agregat Halus
Agregat halus akan terdiri dari pasir alam dan/atau batu disaring dalam kombinasi yang cocok, .... harus
bersih serta bebas dari gumpalan-gumpalan lempung dan benda-benda lain yang ..... dibuang. Gradasi
agregat halus harus sesuai dengan Tabel 6.6.2. berikut :
Tabel 6.6.2.
Persyaratan Gradasi Agregat Halus

c.

Ukuran Saringan mm

Persentasi Lolos Atas berat

9.5

100

4.75

90-100

2.36

80-100

0.60

25-100

0.075

3-11

Filler (bahan halus sebagai pengisi)


Bahan filler akan terdiri dari debu batu kapur atau semen dan harus bebas dari setiap benda yang harus
dibuang. Ia akan berisi ukuran partikel yang 100% lolos 0,60 mm dan tidak kurang dari 75% berat partikel
yang lolos saringan 0,075 mm (saringan basah).

d.

Syarat-Syarat Kualitas Agregat Kasar

Agregat kasar yang digunakan untuk LATASTON (HRS), harus mematuhi syarat-syarat kualitas yang
diberika pada Tabel 6.6.3. dibawah.
Tabel 6.6.3.
Syarat-Syarat Kualitas Agregat Kasar
Uraian

Batas Test

Kehilangan berat karena abrasi (500 putaran)

Maksimum 40%

Bahan aspal setelah pelapisan dan


pengelupasan

Minimum 95%

(3) Bahan Aspal


a.

Bahan aspal harus AC-10, aspal semen gradasai kental (kurang lebih ekivalen kepada Pen 80/100)
memenuhi persyaratan AASHTO M226-Tabel2.

b.

Suatu bahan adhesi (pengikat) dan anti pengelupasan harus ditambahkan kepada bahan aspal, bila
diperintahkan demikian oleh ahli teknik yang bertugas dan bertangggung jawab pada CMP (instalansi
campuran pusat) bahan additif (tambahan) harus dari satu jenis yang disetujui oleh ahli teknik yang bertutgas
dan akan ditambahkan serta dicampur sesuaid engan petunjuk pabrik pembuat.

6.6.3. PERSYARATAN CAMPURAN


(1) Komposisi Campuran
a. Campuran aspal terdiri dan agregat, bahan filler dan bahan aspal. Komposisi rencana
campuran harus berada dalam batas-batas rencana yang diberikan pada Tabel 6.6.4.
Tabel 6.6.4.
Komposisi Campuran
Fraksi Rencana Campuran

Persentasi Lolos Atas Berat Total


Campuran Aspal

Fraksi agregat kasar (>2.36mm)

20-40

Fraksi agregat halus (2.36mm-0.075mm)

47-67

Fraksi filler

5-9
KANDUNGAN ASPAL (5 total atas volume) -

Kandungan aspal effektif

Minimum 6.8

Kandungan aspal yang diserap

Maximum 1.7

Kandungan aspal total sebenarnya

Minimum 7.3

Ketebalan film aspal

Minimum 8 micron

b.

Perbandingan rencana akhir dan formula campuran pelaksanan haris ditentukan oleh
pengujian laboratorium yang dilaksanakan oleh laboratorium CMP dan campuran
rencana yang sebenarnya harus diserahkan ke pimpinan proyek DPUK yang sesuai
dengan persyaratan spesifikasi ini pada Sub Bab 6.6.1. (3).

(2) Sifat-Sifat Campuran


Sifat-sifat campuran yang harus dipatuhi oleh instalansi campuran pusat (CMP) diberikan pada Tabel 6.6.5.
Tabel 6.6.5.
Persyaratan Sifat Campuran

Sifat-Sifat Campuran

Kandungan rongga
udara campuran padat.

Pengukuran

Batas-Batas

% atas volume total campuran

4% - 6%

Mincron

Tebal film aspal

KN/mm

Minimum 8

Kuosien marshall

Kg

1.0 4.0

Stabilitas marshall

% stabilitas asli

450 850

Stabilitas marshall sesudah

minimum 75 %

direndam 24 jam
6.6.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN
(1) Alat Pelaksanaan
a. Jenis alat dan methoda operasi harus sesuai dengan daftar alat dan unit produksi yang disetujui
dan menurut petunjuk selanjutnya dari direksi teknik.
b. Pada umumnya alat yang harus dipilih untuk penghamparan dan penyelesaian harus paver
(perata) bertenaga mesin sendiri yang disetujui, mampu bekerja sampai garis dan ketinggina
yang diperlukan, dengan persediaan pemanasan, screeding dan perataan sambungan
campuran aspal. Akan tetapi, dimana alat paver (perata) tidak dapat diperoleh dan tergantung
kepada perintah direksi teknik, meletakkan dan menghampar campuran harus dilakuakn
dengan tenaga kerja, menggunakan garukan, sekop dan kereta dorong.
c. Jenis peralatan berikut akan dipilih untuk penghamparan pemadatan dan penyelesaian.
Alat Pengangkutan
Sejumlah truk angkutan yang cukup harus disediakan untuk mengangkut campuran aspal. Yang sesuai
dengan program kerja yang disetujui. Truk-truk tersebut harus dilengkapi dengan alas logam rata rapat,
bersih dan yang sebelumnya dilapisi dengan minyak pelumas.
Peralatan untuk penghamparan dan penyelesaian
Bilamana diminta demikian dibawah daftar penawaran dan daftar peralatan kontrak. Peralatan untuk
penghamparan dan penyelesaian harus sebuah paver (perata) bertenaga mesin sendiri yang disetujui
mampu bekerja sampai ke garis, tingkat kemiringan dari penampang melintang yang diminta dan mampu
memenuhi persyaratan mengenai volume dan kualitas kesenangan.
Peralatan pemadatan
Untuk pemadatan lapis permukaan, peralatan berikut diperlukan.

Dua buah mesin gilas roda baja (mesin gilas tiga roda atau mesin gilas roda tandem dengan
total berat 6 ton 10 ton ).

Sebuah mesin dilas ban pneumatic dengan tekanan angin dalam ban 8,5 kg/cm2 (120 lbs/sg in)
dan dengan penyediaan untuk ballas dari 1500 kg 2500 kg beban per roda.

Peralatan untuk penyemprotan lapis aspal resap pengikat atau lapis aspal pengikat.

Sebuah distributor/penyemprot aspal bertekanan harus disediakan dengan penyediaan ....


pemanasan aspal.
d. Penyiapan Lapangan

Bila memasang diatas pondasi jalan, pondasi tersebut telah memiliki bentuk dan profil yang diminta tepat dan
benar dengan penampang melintang rencana dan dipadatkan sepenuhnya sehingga disetujui oleh direksi

teknik, yang sesuai dengan persyaratn pemadatan dibawah Sub Bab 5.2.3. Pondasi tersebut harus disapu
bersih dari setiap benda lepas atau yang harus dibuang.
Sebelum meletakkan LATASTON (HRS), pondasi jalan tersebut harus dilapisi dengan .... aspal resap
pengikat pada suatu tingkat pemakaian 06 l/m2- taua tingkat pemakaian yang lain menurut petunjuk direksi
teknik (lihat Sub Bab 6.2.3. Spesifikasi ini).
e. Pemasangan Di Atas Permukaan Dengan Lapis Penutup Yang Ada.
Dimana pemasangan sebagai lapis ulang terhadap permukaan beraspal yang ada. Kerap kerusakan pada
permukaan perkerasan lama, termasuk lubang-lubang bagian-bagian ambles, pinggiran runtuh dan cacat
permukaan lainnya. Harus dibuat betul dan perbaiki sampai disetujui oleh direksi teknik.
Sebelum memasang LATASTON (HRS) permukaan lama harus kering dan disapu bersih dari semua batu
lepas serta bahan-bahan lainnya yang harus dibuang dan disemprot dengan lapis aspal pengikat yang
disemprotkan pada satu tingkat pemakaian tidak melebihi 0,5 l/m2 kecuali diperintahkan lain oleh direksi
teknik.
(2) Penghamparan
-

..... samping atau cetakan lain yang disetujui akan dipasang dipinggir kekerasan/bahu jalan mencapai
garis dan ketinggian yang diperlukan.

(3) Penghamparan Dengan Mesin


i. Sebelum permulaan operasi pengaspalan, screed pada paver harus dipanaskan, dan campuran aspal harus
dituangakn ke dalam paver pada satu temperatur didalam batas0batas 1400C 1100C.
ii.

Selama operasi paver, campuran aspal akan dihamapr dan diturunkan sampai tingkat ketinggian dan
bentuk penampang melintang yang diperlukan diatas seluruh lebar perkerasan atau sebagian lebar
perkerasan yang praktis.

iii.

Paver akan dioperasikan pada satu kecepatan yang tidak menyebabkan retak-retak permukaan, robekrobek atau suatu ketidak teraturan lainnya pada permuka. Tingkat penghamparan harus mendapat
persetujuan Direksi Teknik, memenuhi tebal rencana.

iv.

Bila suatu segregrasi, penyobekan atau pencungkilan permukaan terjadi, paver tersebut harus
dihenttikan dan tidak boleh mulai kerja lagi sampai penyebabnya telah ditemukan dan dilakuakn perbaikan.
Bagian-bagian kasar atau bahan-bahan yang terpisah (segregrasi), harus dikoreksi dengan penyebaran fines
(bagian halus) serta digaruk dengan baik. Akan tetapi, penggarukan sedapat mungkin dihindarkan, dan
partikel-partikel kasar tidak boleh disebarkan diatas permukaan yang discreed.

v.

Harus dijaga supaya campuran tidak terkumpul dan mendingin di tempat sisi hoper atau separuh lebar
yang pertama tidak boleh dari 1 kilometer di depan pelapisan separuh lebar yang kedua.

vi.

Bilamana jalan tersebut diperkeras separuh lebar pada satu waktu, perkerasan pada separuh lebar
yang pertama tidak boleh lebi 1 kilometer didepan pelapisan separuh lebar yang kedua.
Penghamparan dengan Tenaga Manusia

i.

Harus disedikan tenaga kerja yang cukup untuk memungkinkan truk pengangkut dibongkar muatanya dan
campuran aspal panas tersebut harus dihampat dengan diminum penundaan. Bilamana digunakan truk bak
rata untuk pengiriman, campuran tersebut harus dibongkar dengan sekop dan dituang tegak diatas lintasan
jalan demikian sehingga sangat sedikit segregrasi tidak boleh ada usaha menebarkan campuran secara
langsung dari truk.

ii.

Campuran aspal tersebut harus diratakan dengan sekop dan garu hanya digunakan untuk merapikan
permukaan. Mistar lengkung ditengah atau batang lurus harus digunakan untuk mengatur permukaan
diantara papan screed.

iii. Bila diperlukan untuk penghamparan dengan tangan kedua sisi dan papan pembuat punggung jalan
ditengah harus dipasang dan campuran aspal akan bekerja dari papan pinggir ke papan tengah, dan ke
depan dari sambungan melintang. Penghamparan harus dilaksanakan sehingga menghasilkan permukaan
yang seragam tanpa segregrasi. Bila terjadi segregrasi, partikel-partikel kasar harus disingkirkan dari
permukaan sebelum pemadatan. Dan dibuang. Tidak boleh ada coba-coba dengna tangan.
(4) Pemadatan Permukaan LATASTON (HRS)
a. Pengendalian Temperatur
i.

Secepatnya setelah selesai dihampar dan diratakan, permukaan harus diperiksa


dan ketidak rataan dibetulkan.

ii.

Suhu campuran lepas terpasang harus dipantau dan penggilasan akan dimulai
bilamana suhu campuran turun dibawah 1100C serta diselesaikan sebelum suhu
turun dibawah 650C.

iii. Penggilasan campuran tersebut akan terdiri dari tiga penggelasan secara
berturut-turut dengan urutan sebagai berikut :
Waktu Sesudah

Suhu

Dihampar

Penggilasan

1. Tahap awal penggilasan

0-10 menit

1100C-1000C

2. Penggilasan antara atau kedua

10-20 menit

1100C-800C

3. Penggilasan akhir

20-45 menit

800C-650C

b. Prosedur Pemadatan
i.

Tahap awal penggilasan dan penggilaan akhir akan dilaksanakan dengan mesin gilas roda baja.
Penggilasan kedua atau penggilasan antara akan dilaksanakan dengan mesin gilas ban. Mesin gilas ban
awal akan beroperasi dengan roda kemudi dekat paver.

ii.

Kecepatan mesin gilas tidak boleh melebihi 40 km/jam untuk mesin gilas roda baja dan 6 km/jam untuk
mesin gilas ban pneumatic dan akan selalu berjalan selambat mungkin untuk menghindari/pergeseran
campuran panas. Garis penggilasan tidak boleh terllau berubah-ubah atau arah penggilasan berbalik secara
mendadak, yang mungkin mengakibatkan penggeseran campuran.

iii.

Penggilasan kedua tau penggilasan antara harus mengikuti sedekat mungkin di belakang penggilasan
awal dan akan dikerjakan sementara campuran tersebut masih dalam temperatur yang akan menghasilkan
pemadatan maksimum. Penggilasan akhir akan dilakukan ketika bahan tersebut masih dalam kondisi yang
cukup dapat dikerjakan untuk menghapus/membuang tanda-tanda bekas injakan mesin gilas.

iv.

Penggilasna akan dumial secara memanjang pada sambungan dan dari pinggir luar dan berjalan sejajar
dengan sumbu jalan menuju bagian tengah pekerasa, kecuali pada penggilasan lengkungan superelevasi
akan dimulai pada sisi bawah dan bergerak menuju ke sisi yang tinggi. Lintasan-lintasan berikutnya dari
mesin gilas harus berlapis tindih pada paling sedikit setengah lebar mesin gilas serta lintasan tidak boleh
berhentu pada titik-titik di tempat satu meter dari titik ujung lintasan sebelumnya.

v.

Ketika menggilasa sambungan memanjang, penggilasan awal pertama-tama bergerak ke atas jalur yang
sudah dilapisi permukaan sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm roda kemudi berjalan diatas

perkerasan yang belum dipadatkan. Mesin gilas tersebut akan melanjutkan sepanjang jalur ini menggeser
posisinya sedikit-sedikit melintang sambungan dengan lintasan berikutnya, sehingga diperoleh sambungan
yang rapih terpadatkan secara menyeluruh.
vi.

Penggilasan akan bergerak maju menerus sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan pemadatan
yang seragam selama waktu bahwa campuran tersbeut dalam kondisi dapat dikerjakan dan sampai semua
bekas-bekas injkaan mesin gilas serta ketidak teraturan lainnya dihapus. Untuk m,encegah melekatnya
campuran tersebut ke mesin gilas, roda-roda tersebut harus selalu dijaga tetap basah, namun air yang
berlebihan tidak diizinkan.

(5) Penyelesaian
a.

Alat berat atau mesin gilas tidak diizinkan berdiri diatas permukaan yang baru selesai sampai permukaan
tersebut seluruhnya dingin dan memadat.

b.

Permukaan LATASTON (HRS) sesudah pemadatan harus halus dan rata sampai punggung jalan yang
ditetapkan dan tingkat kemirinhganya berada dalam tolerasni yang telah ditentukan setiap campuran yang
lepas dan pecah-pecah, bercampur dengan kotoran, atau yang tidak sempurna, harus segera dipadatkan
supaya sama dengan sekitarnya dna setipa luas yang menunjukan suatu lkelebihan atau kekurangan bahan
beraspal, atas perintah Direksi Teknik harus disingkirkan dan diganti. Semua tempat-tempat tinggi.
Sambungan-sambungan tinggi, bagian ambles dan berongga harus diperbaiki menurut permintaan Direksi
Teknik.

c.

Sementara permukaan tersebut sedang dipadatkan dan diselesaikan, kontraktor akan merapihkan
pinggiran-pinggiran dengan baik. Setipa bahan lebihan harus dipotong tegak setelah penggilasan akhir, dan
dibuang oleh kontraktor menurut petunjuk Direksi Teknik.

(6) Penyelesaian Sambungan


a.

Tidak boleh ada campuran dipasang menempel ujung-ujung bahan yang sudah digilas sebelumnya,
kecuali ujung-ujung tersebut dipotong kembali sampai permukaannya tegad. Suatu laburan tipis lapisan aspal
digunakan untuk permukaan-permukaan sambungan, yang dilakukan akan diterapkan tepat sebelum
tambahan campuran dipasang pada bahan yang telah digilas sebelumnya.

6.6.5. PENGENDALIAN MUTU


(1) Test Laboratorium
a.

Test laboratorium akan dilaskanakan oleh Ahli Teknik yang bertugas pada CMP (instanlansi campuran
pusat) yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan spesifikasi umum dan memenuhi persyaratan spesifikasi
yang diberikan pada Tabel 6.6.5.
Data pengujian akan diberikan kepada kontraktor dan pimpinan proyek jika perlu serta pengujian selanjutnya
akan dilaksanakan bila diperlukan demikain oleh Direksi Teknik.

b.

Untuk pengujian pengendalian mutu campuran, kontraktor harus memperoleh dan menyediakan catatancatatan

ujian

untuk

produksi

setiap

hari,

meliputi

analisa

saringan

pengendalian

suhu,

kepadatan/stabilitas/aliran marshall, dan penyerapan aspal oleh agregat. Ujian ini dicatat dibawah dalam
Tabel 6.6.6.

Tabel 6.6.6.
Ujian Laboratorium Untuk LATASTON (HRS)
Referensi

Test

AASHTO

Tipes

Bina Marga

Ketahanan terhadap abrasi

Test Abrasi untuk agregat

agregat kasar ukuran kecil

T 96

PB 0206-76

< 19 mm

menggunakan mesin Los Angeles


Pelapisan dan pengelupasan

Penahanan aspal sesudah

campuran agregat aspal

T 182

PB 0205-76

pelapisan dan
pengelupasan

Ketahan terhadap kelelahan

Test marshall untuk

plastis campuran aspal

pemilihan gradasi optimum

menggunakan instrumen marshall

dari kandungan bahan


T 245

PC 0201-76

Berat jenis maksimum campuran

pengikat termasuk :
-

Stabilitas marshall

Nilai aluran marshall

Kuosien marshall

Kepadatan marshall

Untuk menentukan rongga

perkerasan aspal

T 209

udara dalam campuran


dan penyerapan aspal
oleh agregat.

Berat jenis menyeluruh campuran

Menentukan rongga

aspal dipadatkan

T 166

pemadatan HRS terhadap


persentasi kepadatan
marshall

Pengaruh panah dan udara

Menentukan pengaruh

terhadap bahan aspal (test Film

T 179

minimum ketebalan film.

Oven ini)
(2) Pengendalian Lapangan
Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan selama pelaksanaan pekerjaan, kecuali
diperintahkan lain oleh direksi teknik. Pemotongan lubang-lubang uji dan mengembalikan keadaan semula
dengan LATASTON (HRS) dipadatkan dengan baik harus dikerjakan oleh kontraktor dibawah pengawasan
Direksi Teknik.
Tabel 6.6.7.
Persyaratan Pengendalian Lapangan
Test Pengendalian
i. Test permukaan perkerasan untuk

Prosedur
Permukaan harus diuji setiap hari dengan mal

kesesuaian dengan punggung jalan,

dan batang lurus panjang 3 m sesudah

kemiringan melintang dan ketinggian yang

pemadatan awal dan pemadatan akhir.

ditetapkan.
Contoh bahan inti harus diambil setiap 200 m,
ii. Pengujian kepadatan inti HRS terpasang
dan dipadatkan

kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik.


Kepadatan campuran yang sudah disatukan
yang telah diuji, tidak boleh kurang dari 95%
spesimen (contoh bahan) dipadatkan di
laboratorium.
Ketebalan HRS terpasang yang harus di pantau
dengan inti perkerasan atau dengan cara lain

iii. Ketebalan lapis permukaan

yang diminta oleh direksi teknik. Inti tersebut


harus diambil oleh kontraktor dibawah
penagwasan direksi teknik pada suatu titik uji
sebagaimana diperintahkan.
Pemeriksaan setiap hari pekerjaan
terselesaikan, untuk pengendalian kualitas,
keseragaman dan pemadatan.

iv. Kualitas
6.6.6. CARA PENGUKURAN PEKERJAAN
(1).

Produksi HRS harus diukur untuk pembayaran sebagai volume yang diukur dalam ton campuran aspal
HRS yang dikirim ke lapangan dan dapat diterima oleh direksi teknik. Pengukuran berdasarkan jumlah tiket
pengiriman muatan yang diterima dan dihitung, dan disertai dengan data uji yang relevan mengenai
campuran pelaksanaan. Berat padat HRS akan diambil sebagai 2,20 ton/m3, kecuali dinyatak lain.

(2).

Volume HRS dihampar dan dipadatkan yang harus diukur untuk pembayaran, sebagai jumlah meter
persegi terpasang dan dapat diterima oleh Direksi Teknik, dihitung sebagai panjang bagian perkerasan
diukur pada garis sumbu dikalikan dengan lebar rata-rata yang diukur dan disetujui bersama diantara
kontraktor dan Direksi Teknik.

(3).

Ketebalan HRS yang harus diukur untuk pembayaran harus tebal rencana dipadatkan sebagaimana
ditentukan atau diperintahkan oleh Direksi Teknik secara tertulis. Volume untuk pembayaran adalah luas
diukur dikalikan dengna tebal HRS terpasang. Dalam kejadian bahwa tebal HRS terpasang padat adlaah
kurang dari tebal rencana, penyesuaian akan dibauat dengan menggunakan suatu volume yang diperbaiki
yang sama dengan :

Luas diukur sebenarnya x

tebal diukur rata rata sebenarnya


tebal rencana

Tidak ada penyesuaian volume akan dibuat untuk tebal yang melebihi tebal rencana kecuali tambahan
keetbalan tersebut telah diminta oleh direksi teknik secara tertulis.
(4).

Bila satu lapis resap pengikal atau lapis aspal pengikal dipasang sesuai dengan kontrak tertentu da
daftar penawaran, lapis aspal resap pengikat atau lapis aspal pengikat tersebut akan diukur dalam liter dan
dibayar dibawah item pembayaran 6.2.1. dan 6.2.2. Spesfikasi ini.

(5).

Bilaman HRS dipasang diatas satu lapis pondasi atas, pekerjaan penyiapan dan pemeliharaan lapis
pondasi, atas tersebut tidak boleh diukur untuk pembayaran dan akan dimasukkan dalam pekerjaan yang
perlu untuk menyelesaikan lapis pondasi atas sesuai dengan persyaratan spesifikasi Bab 5.2. atau Bab.
5.3.

(6).

Bilamana HRS dipasang diatas pekerasan aspal lama, pekerjaan yang diperlukan untuk membuat betul
permukaan termasuk perbaikan lubang-lubang, pinggiran yang runtuh dan bagian-bagian ambles, tidak
boleh diukur dan dibayar sesuai dengan item pembayaran yang relevan dibawah Bab 9.1. Spesifikasi ini.

(7).

Bilamana perbaikan lapis permukaan yang tidak memuaskan telah dimintakan yang sesuai dengan Sub
Bab 6.6.1. (6) Spesifikasi. Tidak ada tambahan pembayaran akan dibuat untuk pekerjaan ekstra atau
volume yang diperlukan bagi perbaikan-perbaikan.

(8).

Tidak ada tambahan pengukuran atau pembayaran yang dibuat untuk pengujian bahan-bahan yang
diperlukan di bawah spesifikasi ini dan semua pekerjaan demikian akan dianggap telah dimasukkan dalam
item pembayaran bagi LATASTON (HRS).

6.5.7. DASAR PEMBAYARAN


Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan diatas akan dibayar per satuan pengukuran pada harga yang
dimasukkan dalam daftar penawaran bagi itme-item pembayaran yang

Tabel Agradasi Agregat halus untuk laburan permukaan aspal taburan pasir (BURAS)

c.

UKURAN SARINGAN

PERSENTAI LOLOS

9.5 mm

100

4.75 mm

85-100

2.36 mm

0-40

0.075 mm

0-5

Syarat-syarat kualitas agregat penutup halus


Agregat penutup halus atau pasir yang digunakan untuk laburan permukaan aspal taburan pasir harus keras
dan awet serta mematuhi syarat-syarat kualitas yang diberikan pada tabel dibawah ini.
TABEL SYARAT KUALTIAS AGREGAT HALUS/PAIR
Uraian

Batas Test

Kehilangan berat karena abrasi (500 putaran)

Maksimum 40%

% pecahan-pecahann lunak (gumpalan lempung dan partikel serpih


dengan bagian halus < 0,075 mm)

Maksimum 5%

Ekivalensi pasir (bagian halus plastis)

Minimum 25

Bahan Aspal
a. Bahan pengikat aspal yang harus digunakan, dipilih dari Tabel dibawah ini.
TABEL 6.4.3 PEMILIHAN BAHAN PENGIKAT ASPAL.
Uraian
Aspal keras

Jenis

Batas Suhu

AC- 10 (80/100 Pen)

1250C-1550C

AC- 20 (60/70 Pen)

1350C-1650C

Aspal cair

RC-250

380C-750C

RC-800

790C-1200C

Alternatif aspal semen cut


back di lapangan, sesuai
dengan Tabel 6.3.4
Aspal Emulsi

CRS 1

250C-550C

CRS 2

430C-710C

b. Bahan aspal tersebut yang mengacu kepada tabel ini akan sesuai dengan spesifikasi berikut
AC-10
AC-20

AASHTO M226 Tabel 2

RC-250
RC-800

AASHTO M81

CRS 1
CRS 2

AASHTO M208

Pelaksanaan Pekerjaan.
1. Peralatan Pelaksanaan.
c. Jenis peralatan dan cara operasinya harus sesuai dengan Daftar Unit Produksi dan Alat beserta program
yang disetujui, serta petunjuk lebih lanjut di lapangan oleh Direksi Teknik.
Pada umumnya akan dipilih jenis peralatan berikut:
-

Distributor/penyemprotan aspal bertekanan.

Alat untuk memanaskan aspal

Mesin gilas ban pneumatic

Masin gilas roda baja rata

Dump truk, lebih baik beserta rata.

Dump Truk, lebih baik beserta loader

Sapu, garuk, grobak dorong.

d. Distributor dan penyemprotan aspal bertekanan harus memenuhi persyaratan Sub Bab 6.2.3 (1)
spesifikasi ini. Akan tetapi tergantung kepada luasnya laburan permukaan dibawah kontrak tertentu, dan
sesuai petunjuk Direksi Teknik, suatu penyemprotan tangan dapat digunakan sebagai pengganti batang
penyemprot bertekanan.
e. Mesin gilas yang digunakan untuk laburan permukaan aspal taburan pasir, harus mesin gilas dan
pneomatic dengan tekanan ban maksimum 5 kg/cm2 (7lbs/sq.in). Sebuah mesin gilas roda baja dapat
digunakan bila dibolehkan demikian oleh Direksi Teknik, dan harus dibawah pengawasan yang ketat
untuk mencegah agregat halus atau pasir menjadi pecah-pecah.
2. Volume bahan-bahan yang harus digunakan
a.

Tingkat pemakaian perkiraan untuk teburan pasir ditunjukkan dalam tabel berikut
TABEL TINGKAT PEMAKAIAN ASPAL TABURAN PASIR
Tipe Permukaan Perkerasan

Tingkat Penyebaran
Agregat kg/m2

Bahan pengikat aspal I/m2

Perkerasan tanpa penutup

5-8

0.6-1.5

Perkerasan dengan penutup

5-8

0.5-1.0

b.

Tingkat pemakaian terakhir akan ditentukan oleh Direksi Teknik dan jika diminta demikian, kontraktor
harus melaksanakan percobaan pemakaian untuk pemeriksaan dan pemantauan.

c.

Tingkat pemakaian yang dicapai harus berada dalam perbedaan +5% terhadap tingkat yang ditentukan
oleh Direksi Teknik dan Kontraktor harus bertanggungjawab untuk pengendalian tingkat pemakaian dan
memenuhi toleransi-toleransi ini.

3. Penyiapan Permukaan yang ada.


Bilamana satu perkerasan aspel yang ada harus dilabur ulang, setiap kerusakan yang ada terhadap
perkerasan jalan termasuk lubang-lubang dan kerusakan tetapi serta cacat-cacat permukaan lainya, harus
dibuat baik dan diperbaiki sampai disetujui oleh Direksi Teknik.
Sebelum pemakaian bahan pengikat aspal, permukaan perkerasan harus disapu bersih dari kotoran lepas
dari bahan-bahan lainnya, menggunakan sikat kaku (dan mencuci dengan air bila diperlukukan demikian).
Tidak boleh ada penyemprotan dikerjakan sampai ada persetujuan Direksi Teknik terhadap kondisi
permukaan yng diberikan (laporan).

Perkerasan yang belum diaspal harus dilapis resap pengikat sesuai dengan persyaratan spesifikasi yang
diberikan dalam bab 6.2 spesifiaksi ini, terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik. Lapis aspal resap
pengikat harus dibiarkan kering selama 48 jam sebelum pelaburan permukaan aspal taburan pasir dimulai.
4. Pemakaian bahan pengikat aspal.
a.

Panjang permukaan yang harus disemprot dengan bahan pengikat aspal untuk masing-masing lewatan
distributor akan diukur dan ditandai di atas tanah. Luas yang harus disemprot pada suatu saat harus
dibatasi sampai satu luas yang dapat ditutup dengan agregat pada tingkat pemakaian yang ditetapkan,
dibawah waktu 5 menit sesudah penyemprotan.

b.

Jumlah bahan pengikat aspal yang digunakan dalam setiap lewatan penyemprotan akan ditentukan
dengan pengukuran isi tangki menggunakan batang celup sebelum dan sesudah masing-masing
lewatan. Tingkat pemakaian bahan pengikat rata-rata harus berada dalam perbedaan + 5% terhadap
tingkat rencana atau tingkat yang ditentukan pemakaian ayng benar dipertahankan.

c.

Bila penyemprotan separuh jalan satu lapis penyemprotan tabung tindih selebar 20 cm harus dibuat
disepanjang pinggiran yang berdampingan.

d.

Penyemprotan harus segera berhenti, bilamana terjadi suatu catatan dalam alat penyemprotan dan tidak
boleh dimulai lagi sampai kesalahan tersebut telah diperbaiki.

e.

Harus dibuatkan penyediaan bahan pengikat aspal yang tersisa sejumlah kria-kira 10% kapasitas tangki,
di dalam tangki pada setiap penyelesaian setiap lewatan, untuk mencegah masuknya udara ke dalam
sistem pengisian distributor, dan juga untuk menyediakan tingkat pemakaian yang sedikit berlebihan.

f.

Setiap bahan pengikat aspal yang telah dipanaskan sampai suhu penyemprotan lebih dari 10 jam atau
yang telah dipanaskan sampai satu suhu melebihi 20% di atas suhu penyemprotan yang diberikan
dalam tabel diatas akan ditolak, terkecuali Direksi Teknik menentukan bahwa bahan pengikat tersebut
masih memenuhi kekentalan yang diperlukan.

g.

Untuk penyemprotan pada pelapisan yang kecil dan terisolasi yang tidak dapat dimasuki distributor,
bahan pengikat aspal tersebut dapat disemprotkan dengan penyemprotan tangan dan diratakan sampai
mendapat persetujuan Direksi Teknik.

5. Penaburan dan Penggilasan Agregat Halus/Pasir.


a.

Sebelum bahan pengikat aspal disemportkan, agregat halus atau pasir harus ditumpuk di Truk dalam
jumlah yang cukup harus dapat diperoleh bersama dengan loader atau tenaga kerja, untuk menjamin
pengangkutan dan penyediaan agregat dalam volume yang cukup memadai laburan permukaan yang
harus dilaksanakan dengan efisiensi dan tanpa penundaan.

b.

Agregat halus harus bersih, kering dan akan diperiksa sampai disetujui Direksi Teknik sebelum
penaburan akan berlangsung secepatnya setelah pemakaian bahan pengikat aspal.

c.

Agregat halus atau pasir harus ditabur merata diatas permukaan yang telah disemprotkan bahan
pengikat dengan alat mesin penabur yang disetujui pada tingkat yang ditetapkan. Penaburan menual
dari truk dalam arah memanjang, sepanjang jalan tersebut hanya akan diizinkan bila diperintahkan
demikian oleh Direksi Teknik dan akan dilakukan pengawasan yang ketat untuk menjamin distribusi
agregat yang merata.
Setiap luas yang tertutup secara tidak baik, akan ditutup ulang dengan taburan tangan untuk
memberikan penutupan yang merata dan sesuai, setiap agregat halus atau pasir yang ditabur melebihi
tingkat yang ditetapkan harus dibersihkan dengan sapu dan dengan mata didistribusikan kembali diatas
pemukaan, atau dipinggirkan dan ditumpuk.

d.

Pemadatan dengan mesin gilas akan mengikuti segera setelah penaburan, menggunakan mesih gilas
ban pneomatic yang bekerja pada satu kecapatan tidak melebihi 5 km/jam membuat 4-6 lintasan, yang
mencukupi untuk menjamin penanaman yang baik dari agregat dan berjalan ke arah memanjang dimulai
pada pinggiran luar dan bergerak menuju tengah.

e.

Permukaan jalan kemudian harus dibersihkan dari agregat-agregat lebihan dari diadakan pengaturan
pengendalian lalulintas yang sesuai dengan Sub bab 6.4.1 (4) spesifiaksi ini.

PENGENDALIAN MUTU.
1. Test Laboratorium
a.

Agregat dan bahan pengikat aspal harus diuji mengenai syarat-syarat mutu di sumber pengadaan yang
sesuai dengan peryaratan spesifikasi ini dan memenuhi test laboratorium yang relevan yang diberikan
pada tabel dibawah ini.

b.

Sertivikat pabrik pembuat dan data uji harus dilengkapi untuk memenuhi persetujuan Direksi Teknik dan
pengujian bahan-bahan selanjutnya akan dilaksankan jika diminta demikian oleh Direksi Teknik.
TABEL TEST LABORATORIUM UNTUK ASPAL TABURAN PASIR.
Rujukan Test

Uraian

AASHTO

BINA MARGA

T 27

PB 0201 76

Analisis saringan agregat kasar dan halus

T 96

PB 0206 76

Ketahanan terhadap abrasi, agregat kasar ukuran kecil


dengan Los Angeles

T 112

Gumpalan lempung dan partikel serpihan dalam agregat

T 226

Standart spesifikasi untuk aspal semen gradasi


kekentalan

T 201

P 0308 76

Kekentalan kinematic aspal

T 53

P 0302 76

Titik leleh aspal (test cincin dan bola)

T 49

P 0301 76

Penetrasi bahan aspal

T 59

Pengujian aspal emulsi

2. Pengendalian lapangan.
Test pengendalian lapangan berikut harus dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan, terkecuali diperintahkan
oleh Direksi Teknik.
TABEL PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN
Test Pengendalian

Prosedur

Agregat
I.

Analisis Saringan Agregat halus

Menurut batas-batas gradasi. Satu test per 300


meter kubik tumpukan agregat pasir.

Test lapangan rutin menggunakan alat pengujian


II. Bagian halus plastis dalam agregat dengan tentang (portable) untuk memeriksa mutu dan
test ekivalensi pasir (AASHTO T 170)

volume bagian halus dan lempung dalam agregat


halus atau pasir.satu test per 300 meter kubik
tumpukkan agregat atau pasir

Bahan Pengikat Aspal


I.

Suhu

Suhu aspal yang dipanaskan diperiksa setiap hari


untuk setiap lewatan, harus berada dalam
perbedaan 100C terhadap suhu penyemprotan
yang diberikan pada Tabel diatas
Pencampuran aspal semen dengan pengenceran

II. Campuran

(kerosin)

harus

dilaksanakan

dibawah

pengendalian Direksi Teknik ata Inspektur


Pekerjaan.
Penaganan Umum
I.

Tingkat pemakaian bahan pengikat aspal.

Pengujian awal dengan menggunakankertas


bangunan untuk menguji kalibrasi penyemprotan.
Pemeriksaan akhir pemakaianuntuk setiap hari
dengan menggunakan tongkat celup untuk
mengukur isi dalam tangki sebelum dan sesudah
penyemprotan
Tingkat penaburan agregat penutup atau pasir

II. Penggunaan Agregat Penutup

harus diukur setiap hari dan disesuaikan jika


dianggap perlu.
Pemeriksaan setiap hari pekerjaan yang telah

III. Kualitas.

selesai

mengenai

kualitas,

keseragaman,

kerataan dan kepadatan denganpenggilasan


Cata pengukuran pekerjaan
Volume laburan permukaan aspal taburan pasir yang harus diukur untuk pembayaran akan ditentukan dalam
meter persegi sebagai hasil perkalian panjang yang diukur sepanjang sumbu jalan dan lebar rata-rata, terhadap
tingkat pemakaian aygn diperlukan, yang sesuai dengan spesifikasi dan Daftar Penawaran yang diselesaikan dan
disetujui oleh direksi teknik.

2.2.4.4. Lapis Aspal Resap Pengikat dan Lapis Aspal Pengikat


(PRIME COAT AND TACK COAT)

(A) Umum
(1) Uraian
Untuk lapis aspal resap pengikat, pekerjaan ini terdiri dari pengadaan dan pemakaian
suatu bahan pengikat aspal dengan kekentalan rendah yang terpilih diatas satu lapis
pondasi jalan atau permukaan perkerasan tanpa lapis penutup yang sudah disiapkan,
untuk menutup permukaan tersebut yang akan menyediakan adhesi (pelekatan) untuk
pemasangan satu lapis permukaan beraspal seperti Penetrasi Macadam, Lapis Tipis
Aspal Beton panas (Lataston-HRS) atau lapisan permukaan beraspal lainnya.
Untuk lapis aspal pengikat, pekerjaan ini terdiri dari pengadaan dan pemakaian satu
lapisan sangat tipis bahan aspal pengikat yang terpilih di atas satu permukaan yang
sudah beraspal sebelumnya dalam persiapan untuk pemasangan satu lapis permukaan
aspal baru.
(2) Contoh Bahan
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik pada paling sedikit 14 hari
sebelum dimulainya pekerjaan, rincian sumber pengadaan bahan bitumen yang
diusulkan untuk digunakan, beserta dengan satu sertifikat pabrik pembuat dan data
pengujian yang menunjukkan bahwa bahan bitumen tersebut memenuhi persyaratan
kualitas dari Spesifikasi ini.
Jika diminta demikian oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus juga menyediakan contoh
bahan bitumen 5 liter yang diusulkan untuk digunakan.
(3) Pembatasan Cuaca
Lapis aspal resap pengikat harus hanya digunakan diatas permukaan yang kering atau
sedikit lembab. Lapis aspal pengikat akan duiunakan hanya pada permukaan yang
benar-benar kering . tidak ada lapis aspal pengikat atau lapis aspal resap pengikat yang
akan digunakan selama ada angin kuat atau hujan deras.

Core Subproject

II-71

Syarat-syarat Pekerjaan dan Pengendalian Lalu lintas


1.

Tidak boleh ada bahan aspal yang dibuang ke dalam saluran tepi, parit atau jalan
air.
Permukaan permukaan struktur, pohon-pohon atau hak milik disekitar permukaan
jalan yang sedang dilapisi harus dilindungi dari kerusakan akibat penyemprotan
aspal.
Kontraktor haru menyediakan dan memelihara di lapangan dimana aspal sedang
dipanaskan. Alat pengendalian dan pencegahan kebakaran yang memadai dan juga
peralatan dan sarana untuk pertolongan pertama.
Kecuali diperoleh satu pengalihan (alternatif) lalulintas, pekerjaan harus
dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memungkinkan satu jalur lalulintan,
dengan diadakan pengendalian pengaturan lalulintas sehingga mendapatkan
persetujuan dari Direksi Teknik. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap
semua konsekwensi (akibat) lalulintas yang terlalu dini diizinkan melewati lapis
aspal pengikat atau lapis aspal resap pelekat yang baru dipasang dan harus
melindungi permukaan tersebut.

2. Perbaikan pekerjaan yang tidak memuaskan


Pelapisan akhir harus menutupi sepenuhnya luas yang harus dilapisidan memiliki
penampilan yang seragam tanpa ada daerah-daerah yang tidak/kurang aspal atau
alur daerah kaya dimana kelebihan terkumpul.
Perbaikan-perbaikan lapis aspal perekat dan lapis aspal resap pelekat yang tidak
memuaskan harus seperti yang diperintahkan oleh direksi teknik dan dapat
mencakup pemberian lapis tambahan, atau pembuangan pelapisan aspal yang
berlebihan dan menggunakan bahan-bahan penyerap aspal.
(B) Bahan bahan
(1) Bahan Untuk Lapis Aspal Resap Pengikat
a. Bahan bitumen untuk lapis aspal rsap pengikat akan dipilih dari dua jenis aspal
semen gradasi kental (sebagaimana ditetapkan dalam AASHTO M226 Tabel 2),
diencerkan dengan kerosin (minyak tanah) dalam perbandingan 80 bagian minyak
tanah terhadap 100 bagian aspal semen, atau seperti diperintahkan lain oleh Direksi

Core Subproject

II-72

Teknik atas dasar hasil suatu percobaan yang dilaksanakan dan/atau susunan
(tekstur) permukaan jalan.
-

Gradasi kekentalan AC-10 (sama dengan Pen 80/100)

Gradasi kekentalan AC-20 (sama dengan Pen 60/70)

catatan : Produksi tersebut ekivalen dengan aspal MV 30 (Aspal cair sedang)


b. Agregat penutup untuk lapis aspal resap pengikat harus batu pecah alami disaring.
Selanjutnya bebas dari partikel-partikel lunak dan setiap lempung, lanau atau zatzat organik. Peryaratan gradasi untuk agregat penutup adalah :
-

Tidak kurang dari 95% lolos saringan standar 9,5 mm

Tidak lebih dari 2% lolos saringan standar 2,36 mm

catatan : Agregatpenutup akan juga digunakan sebagai bahan Penyerap Aspal.


(2) Bahan Untuk Lapis Aspal Pengikat
a. Bilamana bitumen untuk lapis aspal pengikat harus dipilih dari jenis aspal berikut
sebagaimanadiperintahkan oleh direksi teknik.
-

Aspal semen gradasi kental (AASHTO M226) jenis AC-10 atau AC-20,
aspal harus diencerkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah terhadap
100 bagian aspal semen.

Aspal emulsi cationic mengendap lambat, dengan kandungan aspal antara


40%-60% sesuai dengan AASHTO M208. Bila diperlukan dan sesuai
permintaan Direksi Teknik, Aspal Emulsi harus dilunakan, diencerkan
dengan air bersih dengan perbandingan yang sama.

(C) Pelaksanaan
(1) Peralatan Pelaksanaan
a. Jenis alat dan cara pengoperasian akan berdasarkan instruksi-instruksi yang
diberikan Direksi Teknik dan yang sesuai dengan Daftar Unit Instalasi dan
Peralatan yang disetujui untuk kontrak tertentu. Secara umum akan dipilih jenis
peralatan berikut ini.
i.

Distributor aspal bertekanan beserta penyemprot

ii.

Peralatan untuk memanaskan aspal

iii.

Mesin gilas ban pneumatik

iv.

Sapu sikat untuk penyapuan manual

Core Subproject

II-73

b. Distributor aspal harus memenuhi standar rencana internasional yang disetujui


dengan roda pneumatik dan dilengkapi dengan sebuah batang penyemprot. Alat
harus dapat menyemprotkan bahan aspal pada tingkat yang terkendali dan seragam
dan pada suhu yang ditentukan. Peralatan termasuk tachometer, ukuran tekanan,
batang kalibrasi tangki, thermometer untuk pengukur suhu aspal dalam tangki, dan
alat-alat untuk [engukuran kecapatan secara tepat pada kecepatan rendah.
(2) Tingkat Penggunaan Lapis Aspal Pengikat dan Lapis Aspal Resap Pengikat
a. Jika diminta demikian oleh Direksi Teknik, percobaan lapangan harus dilaksanakan
untuk menetapkan tingkat pemakaian yang memadai untuk berbagai kondisi
permukaan.
Batas tingkat pemakaian harus didalam batas batas berikut dan tingkat pemakaian
harus seperti yang ditetapkan dalam daftar penawaran dan ditunjukkan dalam
gambar atau sebagaimana ditentukan oleh Direksi Teknik atas dasar hasil
percobaan lapangan.
Lapis Aspal Resap Pengikat : (Aspal Keras kekentalan rendah)
-

Untuk pondasi agregat, antara 0,6 1,6 l/m2

Untuk pondasi tanah semen, antara 0,3 1,0 l/m2

Lapis Aspal Perekat : (Aspal Keras atau Emulsi)


Tingkat pemakaian harus sesuai dengan batas-batas yang diberikan dalam Tabel
2.24., disesuaikan dengan jenis bahan pengikat dan kondisi permukaan.
Tabel 2.24. TingkatPemakaian Lapis Aspal Perekat
Tingkat Penyemprotan

Tingkat Penyemprotan

(Permukaan baru/kaya)

(Permukaan Porous/lama)

Liter/m2

Liter/m2

0.15

0.20 0.50

Aspal Emulsi

0.25

0.25 0.60

Aspal Emulsi

0.50

0.50 1.20

Jenis Bawah Pengikat


Aspal Keras (Cut back)
(25:100)

(diencerkan 1:1)

Core Subproject

II-74

b. Suhu Penyemprotan harus berada dalam batas-batas yang diberikan pada tabel
2.25. untuk berbagai mutu aspal cair (cut back) dan aspal emulsi.
Harus diberikan perhatian tinggi bila memanaskan aspal cut back, dan peraturan
Bina Marga untuk tindakan keamanan harus dipatuhi dengan sangat.
Tabel 2.25.
Jenis Bahan Pengikat

Batas Perbedaan Suhu Semprot

Cut back 25 bagian kerosin

110o 10o C

Cut back 50 bagian kerosin

70o 10o C

Cut back 75 bagian kerosin

45o 10o C

Cut back 100 bagian kerosin

30o 10o C

Aspal Emulsi

20o - 70o C

Catatan : Tingkat pencegahan untuk keamanan penuh harus dilakukan jika


memanaskan aspal cut back yang sesuai dengan Dokumen Bina Marga Rd.0.3.6.
(Vol. 1) Lampiran E Langkah-langkah Pengamanan dalam Penanganan,
Pengangkutan dan Penyimpanan Aspal.
(3) Penyiapan Permukaan yang harus dilapisi aspal
a. Setiap kerusakan yang ada dalam perkerasan jalan, termasuk lubang-lubang dan
pinggiran yang runtuh, harus dibuat baik dan diperbaiki atau dikembalikan ke
keadaan semula sampai disetujui Direksi Teknik. Cacat-cacat karena pemadatan
yang kurang cukup dan penurunan setempat lapis pondasi atas harus dibetulkan
dengan penggilasan dan pembentukan ulang.
b. Semua kotoran0kotoran lepas dan bahan-bahan lain yang tidak menyenangkan
harus disingkirkan dari permukaan yang ada dengan penggaruan,penyapuan, dan
pencucian kalau perlu.
c. Untuk pondasi agregat yang harus dilapisi dengan lapis aspal resap pengikat
Direksi Teknik dapat meminta agar permukaan tersebuit dipotong-potong secara
ringan, disiram dan digilas segera, sebelum pemberian lapis aspal resap pengikat.
(4) Pemakaian lapis aspal resap pengikat atau lapis aspal pengikat
a. Panjang permukaan yang harus disemprot untuk setiap lewatan distributor harus
diukur dan ditandai di atas tanah, dan volume lapis aspal pengikat/lapis aspal resap

Core Subproject

II-75

pengikat yang diperlukan untuk tingkat penyemprotan yang ditentukan,


menentukan bagi pengecekan kemudian
b. Jumlah bahan pengikat yang digunakan bagi masing-masing penyemprotan harus
ditentukan dengan pengukuran tangki menggunakan batang celup sebelum dan
sesudah masing-masing pemakaian. Tingkat pemakaian rata-rata harus berada di
dalam batas 5% tingkat penyemprotan yang direncanakan.
c. Pada umumnya lapis aspal resap pengikat dan lapis aspal pengikat akan
dilaksanakan dalam operasi penyemprotan tunggal. Akan tetapi, dimana mengering
lambat menjadi masalah, volume pelapisan yang disetujui dapat digunakan dalam
dua operasi penyemprotan, lapis pertama dibiarkan mengering sebelum pemberian
lapis kedua.
d. Bilamana mengadakan penyem,protan untuk separuh lebar jalan, harus dilakukan
penyemprotan lapis tumpang tindih selebar 10 cm 20cm sepanjang pinggir yang
berdampingan.
e. Penyemprotan harus dihentikan segera, jika terjadi suatu kemacetan dengan alat
penyemprot, dan tidak boleh dimulai lagi sampai kesalahan tersebut telah
diperbaiki
f. Setiap luas yang mengumpulkan bahan pengikat aspal yang berlebih,harus selalu
disebar ke seluruh permukaan yang sudah diaspal dengan menggunakan penyeka
atau sapu.
g. Untuk menyemprot pada pelapisan kecil dan daerah terisolasi, lapis aspal pengikat
atau lapis aspal resap pengikat dapat disemprotkan dengan semprotan tangan dan
penyapuan tangan di bawah pengendalian dan sesuai dengan istruksi Direksi
Teknik
(5) Perlindungan permukaan yang baru dilapis aspal resap pengikat
a. Untuk permukaan yang telah dilapisi dengan lapis aspal resap pengikat, lalulintas
tidak boleh diizinkan di atas permukaan yang sudah dilapis aspal resap pengikat
sampai aspal tersebut telah masuk ke dalam dan mengering dan dalam pendapat
direksi teknik tidak akan terkelupas di bawah lalulintas, Jika harus mengizinkan
lalulintas sebelum waktunya, (tetapi tanpa alasan apapun tidak lebih awal dar 4 jam
setelah pemberian lapis aspal pengikat), bahan peresap aspal harus digunakan

Core Subproject

II-76

sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, dan lalulintas diizinkan


menggunakan jalur yang sudah dilapisi. Bahan peresap aspal harus ditaburkan dari
truk dalam satu cara bahwa tidak boleh ada roda yang menginjak bahan aspal
basah yang tidak ditutup. Jika menggunakan bahan penyerap aspal pada jalur yang
dilapisi yang menyambung dengan jalur yang belum dilapisi, satu garis selebar
sedikit 20 cm sepanjang pinggir yang menyambung harus dibiarkan tidak tertutup.
b. Kontraktor akan memelihara permukaan yang sudah dilapisi untuk waktu minimum
dua hari sebelum menutupinya dengan Lapis Permukaan atau Lapis Ulang,
terkecuali satu masa yang lebih cepat yang disetujui oleh Direksi Teknik. Setiap
luas berisikan bahan pelapisan aspal resap pengikat lebihan harus dibetulkan
dengan penambahan bahan peresap ataupun aspal seperti diperintahkan oleh
Direksi Teknik. Sebelum pemberian Lapis Ulang Permukaan, setiap cacat
permukaan harus ditambal dan semua bahan peresap lebihan atau kotoran dan
bahan yang tidak menyenangkan lainnya harus disingkirkan denga penyapuan.
(6) Perlindungan lapis aspal pengikat
Lapis aspal pengikat harus digunakan kepada permukaan jalan untuk memberikan satu
pengikatan bagi Lapis Ulang permukaan aspal baru, dan disemprotkan sebelum lapis
ulang, hanya seluas yang diperlukan untuk menyediakan panjang pekerjaan yang
mencukupi dan kondisi kelekatan yang cocok untuk lapis ulang permukaan tersebut.
Setelah penggunaan lapis aspal pengikat, kontraktor harus melindungi lapisan tersebut
dari kerusakan dan jangka waktu yang cukup akan dicadangkan untuk penguapan
pelarut (dalam kasus aspal cut back) atau pemisahan (separasi) yang lengkap dari aspal
dan air (jika digunakan emulsi) sebelum pemasangan lapis permukaan aspal.
(D) Pengendalian Mutu
(1) Tingkat Pemakaian dan Suhu Aspal
a. Untuk memeriksa tingkat pemakaian aspal yang sebenarnya, lembaran kertas
bangunan 50 cm x 50 cm , yang sebelumnya sudah ditimbang, harus diletakkan
diatas permukaan yang haru dilapisi, dan ditimbang kembali setelah pemakaian
lapis aspal resap pengikat. Perbedaan dalam berat dibagi dengan luas lembaran
tersebut akan menjadi tingkat penyemprotan yang sebenarnya dilaksanakan.

Core Subproject

II-77

(catatan : Perbedaan dalam berat dikalikan 4 akan memberikan tingkat


penyemprotan dalam Kg/m2 )
b. Catatan terinci pelapisan permukaan setiap hari termasuk tingkat pemakaian dan
volume pemakaian harus dibuat kontraktor dan diserahkan kepada direksi teknik.
c. Suhu bahan pengikat aspal yang dipanaskan untuk penyemprotan harus sesuai
dengan persyaratan dan akan diperiksa setiap hari untuk setiap pemakaian.
(E) Cara Pengukuran Pekerjaan
(1) Volume bahan aspal yang diperuntukkan sebagai lapis aspal resap pengikat
atau lapis aspal pengikat yang diukur untuk pembayaran akan merupakan
jumlah liter yang digunakan terhadap permukaan jalan yang sesuai dengan
spesifikasi

dan

sesuai

dengan

kebutuhan

serta

persetujuan

Direksi

Teknik.Volume bahan aspal yang digunakan akan ditentukan setelah setiap


lewatan semprotan.
(2) Setiap agregat penutup yang digunakan bersama dengan pembersihan terakhir
akan diperhitungkan sebagai kelengkapan kepada pekerjaan yang diperlukan
untuk memperoleh lapis aspal resap pengikat atau lapis aspal pengikat yang
memuaskan serta tidak akan diukur atau dibayar secara terpisah.
(3) Pekerjaan menyiapkan dan memelihara lapis pondasi atas, di atas mana lapis
aspal resap pengikat harus dipasang, tidak boleh diukur untuk pembayaran.
Pekerjaan yang diperlukan untuk menyiapkan permukaan yang harus dilapis
aspal pengikat, termasuk perbaikan lubang-lubang, pingggiran yang hancur dan
penururan setempat tidak boleh diukur dan tidak boleh dibayar dibawah Bab
ini.

(F) Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan diatas, akan dibayar pada haraga kontrak persatuan
pengukuran untuk item-item pembayaran tercantum dibawah. Harga-harga dan
pembayaran ini akan merupakan kompensasi penuh untuk pelaksanaan pekerjaan
kontrak termasuk penyediaan dan pemasangan lapis aspal resap pengikat atau lapis
aspal pengikat, agregat penutup, semua tenaga, peralatan dan alat serta setiap pekerjaan

Core Subproject

II-78

kelengkapan yang diperlukan untuk penyelesaian dan pemeliharaan pekerjaan yang


diuraikan sebelumnya dalam Bab ini.
Nomor Item

URAIAN

Satuan Pengukuran

Pembayaran
6.2.1.

Prime Coat (Lapis Aspal Resap Pelekat)

Liter

6.2.2.

Tack Coat (Lapis Aspal Pelekat)

Liter

Core Subproject

II-79

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

BAB 7
KONSTRUKSI BETON
BAB 7.1. PEKERJAAN BETON
7.1.1 Umum
(1) Uraian
a. Beton terdiri dari suatu campuran yang sebanding (proporsional) antara semen, air
dan agregat bergradasi. Campuran beton akan mengendap dan mengeras menurut
bentuk yang diminta/disyaratkan dan membentuk satu bahan yang padat, keras dan
tahan lama (awet), yang memiliki karakteristik Tertentu.
b. Agregat meliputi baik yang bergradasi kasar maupun yang bergradasi halus, akan
dipertahankan sampai jumlah minuman yang diperlukan, yang apabila dicampur
dengan semen akan cukup untuk mengisi rongga-rongga antara agregat-kasar serta
memberikan suatu permukaan akhir yang halus.
c. Untuk mencapai balon yang kuat dengan keawetan yang optimum, volume air yang
dimasukan kedalam campuran harus dipertahankan samapi jumlah minimum yang
diperlukan untuk memudahkan pengerjaan selama pencampuran.
d. Bahan tambahan kepada campuran beton seperti memasukan udara (air entraining)
atau bahan kimia untuk memperlambat atau mempercepat waktu pengerasan, tidak
diperbolehkan kecuali diminta demikian didalam persyaratan kontrak khusus.

(2) Peraturan (Code) Beton


Persyaratan-persyaratan peraturan beton bertulang indonesia. PBI tahun 1971 atau
perbaikan yang terakhir harus sepenuhnya diterapkan kepada semua pekerjaan beton,
terkecuali dinyatakan secara lain atau yang mengacu kepada pemeriksaan AASHTC dan
spesifikasi khusus yang tidak disebut dalam PBI 1971.
(3) Kelas-Kelas Beton
Tabel 7.1.

Kelas-Kelas Beton

Kelas

Rujukan Mutu

Jenis

BO

Non Struktural

K.125

Struktural

K.175

Struktural

II

K.225

III

K.275
Sampai K.350

Struktural

Uraian
Beton kurus untuk alat pondasi dan
perataan pondasi.
Beton masa tanpa ulang untuk
pondasi dasar, penutup pipa-pipa.
Beton dengan penulangan ringan di
gunakan untuk pondasi pelat, dindingdinding Kaison, Kereb dan jalan
seteapak.
Konstruksi beton bertulang termasuk
gelagar-gelagar, kolom-kolom
lantai/pelat lantai/dinding penahan.
Gorong-gorong pipa, gorong-gorong
kotak persegi.
Beton bertulang mutu tinggi untuk
lantai jembatan, dan bagian-bagian
konstruksi utama lainnya.

7-1

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Bagian-bagian konstruksi beton
praktekan dan tiang-tiang beton
pracetak.
Catatan : Kelas khusus K.225 digunakan untuk beton didalam air
K.430

Struktural

(4) Toleransi
a. Toleransi Dimensi
Struktur dengan panjang keseluruhan s/d 6 meter

+ 5 mm

Struktur dengan panjang lebih dari 6 meter

+ 15 mm

Panjang balok, slab lantai, kolom dan dinding

nol

Antar kepala jembatan (Abutment)

+ 10 mm

b. Toleransi Posisi (dari titik acuan)

+ 10 mm

c. Alinyemen vertikal untuk kolom-kolom dan dinding-dinding

+ 10 mm

d. Toleransi ketinggian permukaan

+ 10 mm

e. Toleransi untuk selimut beton di atas baja tulangan


Sampai 5 cm atau lebih

0 dan + 5 mm

Selimut dan 5 cm sampai 10 cm

+ 10 mm

(5) Penyerahan-Penyerahan
a. Kontraktor harus menyerahkan contoh-contoh semua bahan-bahan yang digunakan
untuk pekerjaan beton bersama-sama dengan data-data pengujian yang menunjukan
kecocokan dengan persyaratan mutu spesifikasi ini.
b. Apabila disyaratkan demikian oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus menyerahkan
gambar-gambar rinci semua pekerjaan acuan yang digunakan pada pekerjaan untuk
mendapatkan persetujuan.
c. Kontraktor harus melapor kepada Direksi Teknik paling sedikit 24 jam sebelum
pencampuran atau pengeceran beton.
(6) Penyimpangan Bahan-Bahan
a. Agregat harus disimpan secara terpisah sesuai dengan ukuran-ukuran untuk
mencegah terjadinya pencampuran. Semen harus disimpan secara teratur dan rapi
mengikuti waktu penyerahannya, sehingga pemakaiannya dapat diatur dan semen
tidak akan menjadi terlalu lama disimpan. Waktu kadaluarsa penyimpanan semen
beton kontruksi tidak boleh lebih dari 3 bulan. Semen yang sudah mengeras, tidak
diizinkan digunakan dalam pekerjaan-pekerjaan kontruksi.
b. Selama pengangkutan semen sampai ke gudang atau lapangan kerja harus dijaga
sehingga semen tidak lembab atau kantong rusak. Keadaan penyimpangan untuk
bahan-bahan yang harus dipakai dilapangan, harus memenuhi persyaratan yang
disebutkan dalam pasal-pasal mengenai karakteristik bahan-bahan (NI-31) dan
speksifikasi penyimpangan bahan-bahan (PBI 1971, pasal 3.9)

(7) Kondisi Cuaca


Pada umumnya, pencampuran, pengangkutan dan pengecoran beton harus dilakukan
pada keadaan cuaca kering. Apabila keadaan cuaca tidak menentu, kontraktor harus

7-2

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi campuran beton
terhadap hujan, dan direksi teknik harus menentukan apakah pencampuran dan
pengecoran beton akan dilanjutkan atau ditunda sampai membaiknya keadaan cuaca.
Kontraktor tidak boleh/dapat menuntut penggantian terhadap kerusakan beton yang
ditolak karena hujan.
(8) Perbaikan-Perbaikan Pekerjaan Beton Yang tidak Memuaskan
a. Pekerjaan beton yang tidak memenuhi persyaratan spesifikasi mengenai toleransi
(kelonggaran), sifat campuran beton, atau penyelesaian akhir permukaan. Harus
diperbaiki menurut perintah Direksi Teknik dan dapat meliputi :
Perubahan dalam perbandingan campuran
Pembongkaran atau perkuatan bagian-bagian yang dinyatakan tidak memuaskan
oleh direksi teknik.
Perawatan tambahan bagian-bagian yang pengujian-pengujian betonnya ternyata
tidak memuaskan.
b. Dalam hal terjadi perselisihan antara kontraktor dan direksi teknik mengenai mutu
pekerjaan beton, direksi teknik akan meminta kontraktor untuk melakukan pengujian
lagi, untuk dapat membuat penilaian mutu yang benar.
7.1.2. BAHAN
(1) Saran
a. Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus dipilih berasal dari salah satu
jenis P.C. (Portland Cement) berikut ini yang memenuhi spesifikasi AASHTO M85:
Tipe I

: Pemakaian umum tanpa sifat-sifat khusus

Tipe II

: Pemakaian umum dengan ketahanan terhadap sulfat yang moderat


(sedang)

Tipe III

: Digunakan jika diperlukan pencapaian kekuatam awal yang tinggi.

Tipe IV

: Digunakan jika diperlukan panas hidrasi yang rendah.

Tipe V

: Digunakan jika diperlukan ketahanan (resistensi) terhadap sulfat yang


tinggi.

b. Kecuali diizinkan secara lain oleh direksi teknik, semen yang digunakan pada
pekerjaan harus diperoleh dari satu sumber pabrik.

(2) Air
Air yang digunakan untuk pencampuran dan perawatan beton harus bersih dan bebas
dari bahan-bahan yang berbahaya seperti oli, garam, asam, alkali, gula atau bahan-bahan
organik. Direksi teknik dapat meminta kontraktor yang mengadakan pengujian air yang
berasal dari suatu sumber yang dipertimbangkan mutunya meragukan (Rujukan
Pengujian AASHTO T26).
(3) Agregat
a. Persyaratan Umum
i.

Agregat untuk pekerjaan harus terdiri dari campuran agregat kasar dan halus,

7-3

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


berisi batu pecah yang bersih, keras dan awet kerikil sungai alam atau kerikil dari
pasir dari sumber yang disaring. Semua agregat alam harus di cuci.
ii. Agregat tersebut harus memenuhi persyaratan gradasi yang diberikan pada Tabel
7.1.2. dan dengan keadaan mutu (sifat) yang diberikan pada Tabel 7.1.3.
iii. Ukuran maximum agregat kasar tidak boleh lebih besar dari tiga perempat ruang
bebas minimum diantara batang-batang tulangan atau antara batang tulangan dan
cetakan (acuan).
iv. Agregat halus harus bergradasi baik dari kasar sampai halus dengan hampir
seluruh partikel lolos saringan 4.75 mm.
v. Semua agregat halus. Harus bebas dari sejumlah cacat kotoran organik dan jika
dimintakan demikain oleh direksi teknik harus diadakan pengujian kandungan
organik menggunakan pengujian colorimetric AASHTO T21. setiap agregat yang
gagal pada test warna harus ditolak.
vi. Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton konstruksi.
b. Gradasi Agregat
Gradasi agregat kasar dan agregat halus harus memenuhi persyaratan Tabel 7.1.2.
berikut ini namun bahan-bahan yang tidak memenuhi persyaratan gradasi ini tidak perlu,
apabila kontraktor dapat menunjukan (berdasarkan campuran percobaan dan pengujian)
bahwa dapat dihasilkan beton yang memenuhi persyaratan sifat-sifat campuran yang
diuraikan.

Tabel 7.1.2. Persyaratan Gradasi Agregat


Ukuran Saringan
Standar
Imperial
(mm)
(inches)
50
2
37
1
25
1
19

13

9,5
3/8
4,75
#4
2,36
#8
1,18
#16
0,3
#50
0,15
#100

Agregat
Halus

Prosentasi Lolos Berdasarkan Berat


Pilihan Agregat Kasar

100
95-100
45-80
10-30
2-10

100
95-100
35-70
10-30
0-5
-

100
95-100
25-60
0-10
0-5
-

100
90-100
20-55
0-10
0-5
-

100
90-100
40-70
0-15
0-5
-

c. Syarat-Syarat Mutu Agregat


Agregat untuk pekerjaan beban harus memenuhi syarat-syarat mutu berikut ini yang
diberikan pada Tabel 7.1.3. dibawah
Tabel 7.1.3. Syarat-Syarat Keadaan Mutu Agregat
Uraian
Kehilangan berat karena abrasi (500
putaran)
Kehilangan kesempurnaan sodium
sulfat setelah 5 putaran

Batas Pengujian
Agregat Kasar
Agregat Halus
40%

12%

10%

7-4

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Prosentase gumpalan lempung dan
partikel serpih
Bahan-bahan yang lolos saringan 0,075
mm (#200)

2%

0,5%

1%

3%

(4) Filler (bahan pengisi) Sambungan


a. Bahan pengisi yang dituangkan untuk sambungan-sambungan harus memenuhi
persyaratan AASHTO M173-jenis Elastis dituangkan panas.
b. Bahan pengisi yang dibentuk sebelumnya untuk sambungan-sambungan harus
memenuhi persyaratan AASHTO-M153. filler bentuk karet spons (bunga karang) dan
filler gabus sambungan muai.

7.1.3. PERENCANAAN CAMPURAN BETON


(1) Persyaratan Perencanaan Campuran (Berdasarkan Berat)
Untuk semua pekerjaan beton konstruksi dan pekerjaan beton utama, perbandinganperbandingan bahan untuk perencanaan campuran harus ditentukan menggunakan cara
yang ditetapkan dalam PBI terakhir, dan harus sesuai dengan batasan yang diberikan
pada Tabel 7.1.4. gradasi dan ukuran maksimum agregat harus sesuai dengan pilihan
kasar yang diberikan pada Tabel 7.1.2.
Tabel 7.1.4. Perbandingan (Proporsi) Disain Campuran Beton
(Berdasarkan Berat)

Kelas
Beton

Berat
Semen
Total
kg/m3

Ukuran Agregat Max. Yang


Disarankan (mm)
Kelas A

Kelas B

Perbandingan Air/Semen
Optimum
Dengan
Perbandingan
Berat
(Ratio)
kg/m2
0,35
150
0,42
180
0,42
170
0,46
160
0,50
150
0,52
130
0,60
135

K 400
425
25,0
19,0
K 350
425
25,0
19,0
K 275
400
25,0
19,0
K 225
350
37,5
25,0
K 175
300
37,5
25,0
K 125
250
50,0
25,0
B I/O
225
50,0
37,5
K 225
(didalam
400
37,5
25,0 or 19,0
0,53
210
air)
Catatan : Berat semen total yang diperlukan untuk K 400 ditentukan oleh
persyaratan kekuatan yang ditetapkan.
(2) Persyaratan Perencanaan Campuran (berdasarkan volume)

Untuk pekerjaan beton yang kecil dapat tergantung kepada persetujuan direksi teknik
secara tertulis, bahan-bahan untuk beton dapat ditukar berdasarkan volume atau suatu
kombinasi berat dan volume. Tindakan pencegahan berikut ini harus dilakukan :
1. Semen harus selalu diukur berdasarkan berat 40 kg tiap kantong.
2. Agregat dapat diukur berdasarkan volume, menggunakan kotak-kotak ukuran yang
direncanakan secara baik dengan kapasitas yang ditentukan secara jelas. Kotak-kotak
tersebut harus diisi sampai berlebih dan agregat lebihan (surplus) diratakan dengan
perata diatas.

7-5

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


3. Jika pasir diukur berdasarkan volume, harus diperhitungkan volume tambahan pasir
yang mengembang karena kadat air.
i.

Pasir basah biasanya akan mengembang kurang lebih 25% berdasarkan volume
dan untuk pekerjaan yang kecil, nilai-nilai berikut ini dapat diambil untuk kadar air.
-

Kondisi pasir

kandungan air

Pasir amat basah

100-130 kg/m3

Pasir basah sedang

60-65 kg/m3

Pasir lembab

30-35 kg/m3

ii. Jika diperlukan demikan oleh direksi teknik pengujian lapangan harus dilakukan
untuk menentukan besarnya pengembangan.

Air untuk pencampuran harus secara teliti dalam sebuah tempat yang sesuai.
Penakaran beton berdasarkan volume, akan dipilih dari salah satu campuran berikut,
yang diberikan pada Tabel 7.1.5.

Tabel 7.1.5. Perbandingan Campuran Beton Untuk


Pekerjaan-Pekerjaan Kecil (Berdasarkan Volume)
Campura
n
Nominal
dengan
Volume
Bahan
Kering

Semen
(40KG)
Kanton
g

Volume Untuk 200 Kg. Beton


Pasir (m3)
Air (Liter)
Lemba
Agreg
Kering
Pasir
Pasir
b
at
Kasar
Lemba Kerin
3
(m )
b
g

1:2.3

0,34

0,28

0,42

54

100

1:2.4

0,34

0,57

0,57

82

109

1:2, 5:5

0,41

0,58

0,58

95

132

1:3.6

0,51

0,85

0,85

114

154

Kelas Pekerjaan

Gelagar, pelat
lantai,
kolom
beton bertulang
Pelat
lantai
beton bertulang
dan beton tanpa
tulang
Beton
massa,
dinding
penahan
dan
pekerjaan
umum
Pondasi beton
massa.

Catatan : semen 40 kg bervolume 0,035 KM8


(3) Campuran Percobaan
Kontraktor harus memastikan perbandingan campuran dan bahan-bahan yang diusulkan
dengan membuat dan mengadakan pengujian campuran percobaan yang disaksikan oleh
direksi teknik, menggunakan peralatan jenis yang sama seperti yang digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan. Campuran percobaan akan diperlakukan dapat diterima, asalkan
hasil-hasil pengujian memuaskan dan memenuhi semua persyaratan perbandingan
campuran seperti ditentukan dalam Tabel 7.1.6.

(4) Persyaratan Sifat-Sifat Campuran


a. Semua beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi persyaratan

7-6

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


kekuatan tekan dan slump (penurunan) seperti ditetapkan dalam Tabel 7.1.6. dibawah
atau yang disetujui direksi teknik bilamana contoh bahan perawatan dan pengujianpengujian sesuai dengan pengujian yang disebutkan dalam spesifikasi ini.

Tabel 7.1.6. Persyaratan Sifat Campuran Beton


Kelas
Beton

Kekuatan Tekan Minimum kg/m2


Kubus 15 cm
7 hari
28 hari

K 400
K 350
K 275
K 225
K 175
K 125

225
175
145
110
80

350
275
225
175
125

Silinder 15 cm x 30 cm
7 hari
28 hari
190
145
120
90
65

290
230
185
145
100

Slump Yang
Diizinkan (mm)
Tanpa
Digetar
digetar
40-60
40-60
40-60
40-60
40-60
50-80
40-100

K 225
(dalam
145
225
120
185
75-175
air)
Catatan : untuk pengujian kekuatan tekan yang dilakukan dengan contoh uji
silinder, persyaratan kekuatan harus diturunkan menjadi sekitar
........ dari kekuatan kubus.
b. Beton untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang ditakar berdasarkan volume sesuai
dengan Tabel 7.1.5. harus memenuhi persyaratan kekuatan tekan dan slump
minimum yang diberikan pada Tabel 7.1.7.

Tabel 7.1.7. Sifat-Sifat Campuran Beton Untuk Pekerjaan Kecil


Campuran
Nominal
1:2:3
1:2:4
1:2,5:5
1:3:6

Kekuatan Tekan Minimum kg/cm2


Kubus 15 cm
Silinder 15cm x 30cm
7 hari 28 hari
7 hari
28 hari
175
260
145
215
150
210
125
175
90
125
75
100
-

Slump Yang
Diizinkan (mm)
(tanpa getar)
60-100
40-100
-

Beton yang tidak memenuhi persyaratan slump, pada umumnya akan dianggap di
bawah standar dan tidak boleh digunakan dalam pekerjaaan, terkecuali direksi teknik
dapat menyetujui penggunaan terbatas beton tersebut untuk pekerjaan dengan kelas
rendah.
Bilamana hasil-hasil pengujian 7 hari memberikan kekuatan di bawah yang
ditentukan, kontraktor tidak boleh mengecor setiap beton berikutnya, sampai masalah
hasil-hasil kekuatan di bawah ketentuan tersebut diketahui dan kontraktor telah
mengambil langkah-langkah demikian yang akan meyakinkan bahwa produksi beton
memenuhi persyaratan spesifikasi sehingga memuaskan direksi teknik.

Beton yang tidak memenuhi tekan 28 hari yang ditetapkan, yang diberikan pada Tabel
7.1.6. dan 7.1.7. akan dianggap tidak memuaskan dan pekerjaan-pekerjaan tersebut
harus diperbaiki seperti yang ditetapkan pada Bab 7.1.1. (8).

7-7

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


Direksi teknik akan memperhitungkan kemungkinan cacat-cacat karena kesalahan
pengambilan contoh bahan, perbedaan-perbedaan dalam statistik, persiapan contoh
uji yang buruk, dan dapat meminta pengujian-pengujian lebih lanjut untuk
dilaksanakan sebelum mengambil putusan akhir.
(5) Penyesuaian Campuran
- Penyesuaian Kemudahan Dikerjakan
i.

Bilamana tidak memungkinkan mendapatkan beton campuran yang dikehendaki dan


kemudahan dikerjakan dengan perbandingan-perbandingan yang ditetapkan menurut
aslinya. Direksi teknik akan memerintahkan perubahan-perubahan dalam berat atau
volume agregat sebagaimana yang diperlukan, asalkan kandungan semen yang
ditunjukan menurut calon aslinya tidak diganti, atau perbandingan air/semen yang
ditetapkan dengan pengujian kekuatan tekan untuk kekuatan yang memadai tidak
melampaui.

ii. Mengaduk kembali beton yang telah dicampur dengan menambah air atau dengan
cara lain tidak diperbolehkan. Campuran tambahan untuk meningkatkan kemudahan
dikerjakan, dapat diizinkan tergantung kepada persetujuan direksi teknik seperti
dinyatakan di bawah.

- Penyesuaian kekuatan
i.

Bilamana beton tidak memenuhi kkkuatan yang telah ditentukan atau lelah disetujui
kadar semen harus ditambah seperti diperintahkan oleh direksi teknik.

ii. Tidak ada perubahan sumber atau sifat bahan-bahan akan dibuat tanpa perintah
tertulis direksi teknik serta tidak ada bahan-bahan baru yang akan digunakan sampai
direksi teknik telah menyetujui bahan-bahan tersebut secara tertulis dan telah
diusulkan

perbandingan-perbandingan

baru

berdasarkan

pengujian

campran

percobaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.


(6) Bahan Campuran Tambahan (additive)
i.

Jika dimintakan demikian untuk kontrak khusus atau menurut perintah direksi teknik
secara tertulis, bahan campuran tambahan dapat digunakan untuk meningkatkan
mutu beton, pengikatan dan waktu mengeras. Jenis serta volume bahan campuran
tambahan tersebut harus disetujui oleh direksi teknik dan akan digunakan secara ketat
dengan petunjuk pabrik pembuat.

7.1.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN


(1) Pencampuran Beton di Lapangan
- Mencampur dengan pencampur (mixer) beton
Beton akan dicampur di lapangan dengan sebuah pencampur yang dijalankan dengan
mesin serta jenis yang disetujui, mengenai syarat dan ukuran-ukuran yang akan
menjamin suatu campuran yang merata/homogen.

i.

Untuk semua pekerjaan besar dan jika diminta demikian oleh direksi teknik

7-8

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


pencampur tersebut harus dilengkapi dengan sarana penyimpanan air dan satu
sarana pengukuran untuk mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap
takaran.
ii. Waktu pencampuran tidak boleh kurang dari 1,5 menit untuk mesin-mesin sampai
kapasitas m3. Diatas ukuran ini jangka waktu pencampuran minimum harus
ditambah 15 detik untuk setiap penambahan m3 campuran beton.
iii. Pencampur (mixer) tersebut pertama-tama harus dimuati/diisi dengan agregat yang
sudah ditakar beserta semen dan dicampur kering untuk waktu yang pendek sebelum
ditambah air.
iv. Sebelum mencampurkan satu takaran beton baru, mesin pencampur tersebut harus
dikosongkan sama sekali dari takaran sebelumnya.

- Pencampuran Dengan Tangan


Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil dan yang tidak memungkinkan menggunakan sebuah
pencampur mesin (mixer), direksi teknik dapat menyetujui pencampuran beton secara
manual sesuai dengan prosedur berikut ini :

i.

Pencampuran dengan tangan harus dilakukan diatas satu permukaan (alas) yang
keras bersih dan kedap air.

ii. Urutan pencampuran haruslah :


-

Ukurlah volume agregat kasar halus yang diperlukan dengan alat takaran kotak,
dan tempatkan agregat halus diatas agregat kasar.

Tempatkan kantong semen diatas agregat buka dan tuangkan semen tersebut.

Aduklah bahan-bahan kering tersebut berkali-kali sehingga bahan-bahan tersebut


bercampur menyeluruh.

Tambahkan air. Lebih baik dengan sebuah kaleng yang dilengkapi dengan ujung
semprotan campurkan terus dan aduklah dengan sekop sampai beton tersebut
mempunyai warna yang seragam dengan kekentalan yang merata.

- Penyiapan Lapangan
Lapangan pekerjaan untuk penempatan beton harus ditetapkan dan semua pemasangan
yang diperlukan diselesaikan hingga disetujui direksi teknik. Bahan-bahan harus telah
diuji dan ditempatkan yang baik, serta peralatan dalam keadaan bersih siap untuk
digunakan.
Semua penunjangan, pondasi-pondasi dan galian-galian harus diperiksa dan disetujui
oleh direksi teknik, serta dirawat dalam keadaan kering sebelum beton dicor.
Semua acuan, penulangan dan sarana-sarana pelengkap lainnya harus ditempatkan
secara benar dan secara aman dan didukung untuk mencegah penggeseran.
- Acuan/Cetakan
Acuan/cetakan harus dari bahan yang disetujui dan siap pakai serta cocok untuk jenis dan
letak pekerjaan beton yang harus dilaksanakan serta harus memenuhi persyaratan
berikut :

7-9

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


i.

Acuan/cetakan fabrikasi dapat dari kayu atau baja dengan sambungan yang kedap
terhadap adonan dan cukup kaku untuk memelihara posisi yang diperlukan selama
pengecoran, pemadatan dan perawatan mengeras beton. Permukaan sebelah dalam
dari acuan/cetakan harus bersih dari setiap kotoran lepas atau bahan-bahan lain
sebelum penggunaan, dan harus disiram air sampai jenuh atau diolesi dengan minyak
mineral ahli karat sebelum digunakan.

ii. Kayu dengan permukaan kasar (tidak diserut) dapat digunakan untuk permukaan
bangunan yang tidak kelihatan (expose), tetapi kayu diserut dengan tebal yang rata
harus digunakan untuk permukaan yang kelihatan (expose).
iii. Ujung-ujung tajam sisi dalam acuan harus dibuat tumpul. Kecuali diperintahkan lain
oleh direksi teknik, menggunakan ganjalan segitiga dengan lebar paling sedikit 20 mm
dipasang di sudut.
iv. Penguatan acuan/cetakan terdiri dari baut-baut, klemp atau sarana lain yang akan
digunakan menurut keperluan untuk mencegah merenggangnya acuan selama
pengecoran beton, dan acuan tersebut harus dibuat sedemikian hingga dapat
dibongkar tanpa merusak permukaan beton jadi (selesai).
v. Untuk pegecoran beton pada dasar penunjang dan pondasi, acuan tanah dapat
digunakan yang tergantung kepada persetujuan direksi Teknik. Beton tersebut akan
didukung oleh galian yang dibentuk dengan baik yang sisi dan dasarnya dirapihkan
dengan tangan sampai ukuran yang diperlukan.
vi. Acuan untuk beton yang dicor di bawah air, hanya kedap air dan dijamin kekakuannya
untuk mencegah suatu penggeseran.

Catatan : Untuk fabrikasi dan perencanaan acuan (dan ceramah) bagi

jembatan

jembatan mengacu kepada petunjuk perencanaan jembatan.

(2) Mengangkut dan Menempatkan Beton


i.

Pengangkutan beton campuran dari tempat penyempuran hingga tempat pengecoran


harus dilaksanakan secara halus dan secara efisien untuk mencegah segregasi dan
kehilangan bahan-bahan (air,semen, atau agregat).

ii. Pengangkutan campuran beton dan penempatan dengan peluncuran yang miring
harus diestujui Dirkesi Teknik mengenai waktu pengangkutan, panjang dan
kemiringan peluncur serta cara pelaksanaan.
iii. Penuangan beton tidak boleh dimulai sampai acuan, penulangan dan pekerjaan
persiapan lainnya telah diselesaikan sesuai dengan persyaratan soesifikasi dan telah
diperiksa serta disetujui oleh direksi teknik. Untuk keperluan isi kontraktor harus
memberitahu direksi teknik paling sedikit 24 jam sebelumnya.
iv. Beton harus dicampur dan dicor dalam posisi final di dalam jangka waktu 60 menit
atau dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana diminta direksi teknik berdasarkan
jenis semen yang digunakan.
v. Beton harus dituangkan dalam satu cara sehingga tidak terjadi agregat dan tidak ada
beton yang harus dijatuhkan secara bebas dari satu ketinggian lebih besar dari 1,50
meter.

7 - 10

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


vi. Pengecoran beton harus dilaksanakan sebagai satu pekerjaan yang menerus tanpa
penghentian sampai akhir yang dipersiapkan atau sampai sambungan konstruksi yang
sudah disiapkan sebelumnya.
vii. Beton yang dituangkan untuk konstruksi dengan penulangan yang rapat dan untuk
dinding-dinding beton yang sempit harus ditempatkan dalam lapisan horisontal
dengan tebal tidak lebih dari 15 cm.

(3) Pengecoran Beton Dalam Air


Pengecoran beton dalam air hanya akan diizinkan jika ditentukan atau diminta demikian
untuk keperluan perencanaan. Cara yang harus digunakan oleh kontraktor harus disetujui
secara tertulsi oleh direksi teknik yang persyaratan berikut harus diterapkan:

i.

Dalam semua hal, beton tersebut harus dibatasi dan tidak diizinkan bercampur
dengan air sampai selesai pengecoran dan cara yang harus dipilih dari :
-

Pengecoran beton dengan pemompaan

Pengecoran beton dengan alat tremie

Pengecoran beton dengan alat bucket (ember) yang menuang dibawah.

ii. Peralatan yang digunakan harus diperiksa dan disetujui oleh direksi teknik sebelum
digunakan dan bilamana diminta demikian, kontraktor harus melaksanakan satu uji
coba menunjukan (memperlihatkan) keefektifan peralatan tersebut.
iii. Selama pengecoran harus diberikan perhatian yang menjamin bahwa beton tersebut
tidak tercampuri dengan air karena kesalahan sambungan-sambungan atau
kerusakan alat. Setiap kegagalan akan menjadi tanggung jawab kontraktor, yang akan
mengambil tindakan pencegahan dan diminta untuk membongkar dan mengganti
beton rusak tersebut sebagaimana diperintahkan oleh direksi teknik.

(4) Sambungan Konstruksi


Lokasi sambungan-sambungan konstruksi bagi setiap struktur harus ditentukan
sebelumnya, dan ditunjunkan pada gambar rencana serta harus disetujui oleh direksi
teknik sebelum mulai pelaksanaan persyaratan umum berikut ini harus diterapkan :
i.

Sambungan konstruksi tidak boleh ditempatkan pada penyambungan bagian-bagian


struktural kecuali ditentukan lain sebelumnya.

ii. Semua sambungan konstruksi harus tegak lurus kepada garis tegangan utama dan
ditempatkan pada titik-titik dengan geseran minimun.
iii. Apabila sambungan tegak diperlukan, batang-batang tulangan harus ditempatkan
memotong sambungan-sambungan untuk membentuk konstruksi yang monolit.
iv. Sambungan lidah paling sedikit 4 cm dalamnya, disediakan untuk sambungan
konstruksi dalam dinding, pelat lantai, dan antara kaki-kai dan dinding-dinding.
v. Sambungan konstruksi harus dibuat menembus dinding sayap.
vi. Dalam hal penundaan peekrjaan yang tidak terencana dikarenakan hujan atau
kemacetan pemasokan beton. Kontraktor harus menyediakan tambahan tenaga dan
bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi tambahan
menurut perintah direksi teknik.

7 - 11

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


(5) Pemadatan Beton
i.

Beton harus dipadatkan dengan mesin penggetar di dalam yang disetujui, apabila
diperlukan dilengkapi dengan penempatan adukan kotor.

ii. Pemadatan manual hanya diizinkan jika disetujui demikian oleh direksi teknik dan
akan terdiri dari pemadatan tumbuk (cerucuk) di dalam campuran beton dengan
tongkat pemadat bersama-sama dengan pemukulan yang menerus sisi luar cetakan.
iii. Pemadatan dengan penggetar dan pemadat tumbuk (cerucuk) harus dibatasi sampai
waktu yang diperlukan untuk menghasilkan pemadatan yang memuaskan tanpa
menyebabkan agregasi bahan-bahan.
iv. Penggetar didalam harus dilaksanakan dengan memasukan batang penggetar ke
dalam beton cor yang masih segar, bebas penulangan. Alat penggetar harus
dimasukkan ke dalam campuran beton sejajar dengan sumbu memanjang, dan
digetar selama 30 detik pada setiap lokasi berjarak masing-masing 45 cm (lihat PBI
1971).
v. Jumlah pengantar yang diperlukan harus ditentukan dengan volume beton yang di cor
setiap jam, dengan persyaratan minimum dua penggetar untuk beton empat meter
kubik.
(6) Penyelesaian dan Perawatan Beton
a. Pembongkaran Cetakan
i.

Tidak ada acuan/cetakan yang boleh dibongkar sebelum beton telah cukup kaku
dan mengeras dan telah meraih kekuatan yang cukup untuk .......(mendukung)
sendiri harus diperoleh izin dari direksi teknik sebelum

pembongkaran

berlangsung namun hal ini tidka boleh melepaskan tanggung jawab kontraktor
terhadap keselamatan pekerjaan.
ii. Jangka waktu minimum yang diperlukan antara pengecoran dan pembongkaran
acuan diberikan pada Tabel 7.1.8.

Tabel 7.1.8. Waktu Untuk Membongkar Acuan


Lokasi dalam Struktur
Pinggir dinding, kolom,
balok, kereb

Waktu Minimum
2 hari

Dasar lantai (slab)


Dukungan dibawah
gelegar bawah, balok,
rangka atau lengkungan

12-14 hari

Persyarata Kekuatan
Acuan yang didukung
oleh penyokong atau
perancah lain.
Tidak boleh dibongkar
sampai beton tersebut
telah meraih paling
sedikit 60% kekuatan
rencana.

iii. Untuk memudahkan penyelesaian acuan/cetakan yang digunakan pada pekerjaan


hiasan tangga parapet dan lain-lain dapat dibongkar setelah 12 jam.

b. Permukaan jadi (selesai)


i.

Kecuali diperkenankan lain permukaan beton harus diselesaikan setelah


pembongkaran cetakan. Seluruh penunjang dari kayu atau dari logam dan lidah-

7 - 12

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


lidah tonjolan dari adukan harus dibongkar.
ii. Permukaan yang tidak sempurna harus dibuat sehingga disetujui oleh direksi
teknik.

Apabila

ada

rongga-rongga

besar

nampak

keluar

beton

harus

disumbangkan kembali sampai bahan keras, dibasahi dengan air dan lapisi
dengan lapisan adonan semen tipis. Adukan beton terdiri dari satu bagian semen
dan dua bagian pasir harus dilapiskan kemudian sampai bentuk permukaan yang
diperlukan.

c. Perawatan Beton
i.

Dimulai segera setelah pengecoran beton harus dilindungi terhadap hujan lebat,
panas matahari atau setiap kerusakan fisik yang dapat menggeser beton tersebut.

ii. Untuk menjamin pengerasan dan hidrasi beton harus dirawat dengan menutup
dengan pasir basah anyaman selimut rawatan yang harus direndam dengan air
untuk satu jangka waktu paling sedikit 3 hari dan kemudian dirawat dalam
keadaan lembab untuk 4 hari berikutnya.
iii. Cetakan yang terpasang harus juga dijaga tetap basah.

(2) Pengendalian Lapangan


Pengujian-pengujian pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk
memenuhi persyaratan spesifikasi. Memotong suatu contoh bahan inti beton dan
pemulihannya harus dikerjakan oleh kontraktor memenuhi perintah dan berdsasarkan
persetujuan oleh direksi teknik.

Tabel 7.1.10. Persyaratan Pengendalian Lapangan


Tes Pengendalian

Prosedur

7 - 13

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


a. Mengecor dan merawat beton

b. Pembongkaran Cetakan

c. Test untuk pengembangan


agregat halus

d. Test slump untuk kekentalan dan


kemudian dikerjakan, campuran
beton basah.
AASHTO T 119
PC 0101 - 7
e. Test kekuatan tekan
AASHTO T 22

f. Test agregat halus untuk


gumpalan lempung dan partikelpertikel pecahan
AASHTO T 112

Pemeriksaan setiap hari untuk


persiapan pekerjaan termasuk galian,
cetakan, penulangan dan untuk
pemadatan, penyelesaian, serta
perawatan.
Pemeriksaan setiap hari catatancatatan dan jadwal kerja kontraktor,
pemeriksaan dan persetujuan untuk
pembongkaran.
Test-test pengendalian yang sederhana
harus dilakuakn jika diminta oleh direksi
teknik untuk menentukan kandungan air
dalam agregat sebelum pencampuran.
Test penurunan (slump) untuk setiap
takaran besar hasil beton dan seperti
serta jika diminta oleh pencampuran.

Satu test kekuatan tekan (dengan tiga


contoh bahan uji) yang harus dilakuakn
untuk setiap 60cm3 beton campuran
yang di cor. Sebagai tambahan paling
sedikit satu test untuk setiap bagian
struktur yang terpisah. Diamana mutu
beton menjadi perselisihan, contoh
bahan uji inti harus dipotong dan uji
seperti diperintahkan oleh direksi teknik.
Test harus dilakukan seperti dan jika
diperintahkan oleh direksi teknik untuk
memeriksa mutu agregat halus atau
pasir yang digunakan di lapangan.

7.1.6. CARA PENGUKURAN PEKERJAAN


(1) Volume beton yang harus diukur untuk pembayaran haruslah jumlah dalam meter
kubik beton yang digunakan dan diterima dalam pekerjaan yang sesuai dengan
ukuran-ukuran yang ditunjukan pada gambar rencana beserta kelas-kelas beton atau
seperti diperintahkan oleh direksi teknik.
Tidak ada pengurangan volume beton yang diambil beserta pipa atau barang lain
yang ditanam seperti penulangan, penghentian air (water stops), lubang-lubang
drainase dan pipa-pipa berdiameter 20 cm atau kurang.

(2) beton yang harus di cor dan diterima untuk pengukuran dan pembayaran seperti :
a. Beton struktural jelas K175; K225; K275; K350; dan K400 (kelas yang sebenarnya
harus dicantumkan dalam daftar penawaran).
b. Beton tidak bertulang kelas K125 dan Bo.
(3) Tidak ada tambahan kelonggaran atau pengukuran akan dibuat untuk galian atau
pekerjaan persiapan lainnya. Bagi acuan/cetakan perancah untuk balok-balok dan
slab (lantai) dengan panjang 5 meter atau kurang (tidak termasuk konstruksi
jembatan), pemompaan, penyelesaian, perawatan mengeras. Penyediaan lubang
lepas dan urugan kembali terhadap struktur beton yang barusan selesai semua
pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan penyelesaian yang memuaskan dari

7 - 14

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


pekerjaan beton akan dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk pekerjaan
beton.

(4) Akan disediakan secara terpisah untuk pengukuran dan pembayaran bagi pekerjaan
cetakan yang digunakan dalam pelaksanaan jembatan beton yang sesuai dengan
item pembayaran bersangkutan dan dimasukkan dalam spesifikasi umum jembatan
kabupaten.
(5) Volume baja tulangan, bahan filter porous dan item pembayaran lain yang digunakan
dalam pekerjaan tersebut tidak boleh diukur untuk pembayaran dibawah bab ini, akan
tetapi akan diukur dan dimasukkan untuk pembayaran di bawah item pembayaran
terpisah yang disediakan di tempat lain dalam spesifikasi ini.
(6) Apabila perbaikan-perbaikan pekerjaan beton yang tidak memuaskan telah
diperintahkan demikian yang sesuai dengan Sub Bab 7.1.1. (8) Spesifikasi ini, tidak
ada pembayaran tambahan yang dibuat untuk pekerjaan extra (tambahan) atau
volume yang diperlukan bagi perbaikan-perbaikan tersebut.

7.1.1.7 DASAR PEMBAYARAN


Volume-volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas akan dibayar untuk
pengukuran per satuan harga-harga yang dimasukkan dalam daftar penawaran untuk
item pembayaran yang diberikan di bawah ini yang harga dan pembayarannya harus
merupakan kompensasi penuh semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam
penyelesaian pekerjaan beton seperti diuraikan sebelumnya dalam Bab ini.

Beton
Nomor
7.1.1.
7.1.2.

Item Pembayaran dan Uraian


Beton struktur bertulang
Beton tidak bertulang

Satuan Pembayaran
Meter kubik
Meter kubik

BAB 7.2.
BAJA TULANGAN UNTUK BETON

7.2.1. URAIAN
(1) Umum
Pekerjaan

ini terdiri dari pengadaan, pemotongan, pembangkokan dan pemasaran

patang baja ulangan dan pengelasan anyaman batang baja untuk penulangan beton,
sesuai dengan spesifikasi dan gambar atau yang diperintahkan oleh direksi teknik.
(2) Toleransi
a. Fabrikasi
Pembengkokan batang baja dan fabrikasi harus dilaksanakan betul-betul sesuai
dengan persyaratan FBI 1971 (N1.-2).

7 - 15

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


b. Kelonggaran Penempatan
i.

Jarak antara penulangan yang sejajar tidak boleh kurang dari diamater batang
atau ukuran maksimum agregat kasar ditambah 1 cm, dengan minimum 3,0 cm
yang mana lebih besar.

ii. Apabila penulangan dalam balok terdiri dari lebih satu lapis batang penulangan
lapis atas diletakkan tepat diatas lapis bawah penulangan dengan ruang
bebas/jarak vertikal minimum 2.5 cm.

c. Selimut beton (terhadap tulangan)


i.

Batang tulangan baja harus diletakkan sedemikian sehingga selimut beton


minimum menutupi pinggir luar penulangan, diberikan pada Tabel 7.2.1. untuk
beberapa macam kondisi yang didapat.

Tabel 7.2.1 Selimut beton sampai Penulangan


Ukuran Batang
Tulangan Yang
Harus Ditutup

Permukaan Beton
Yang dapat Dilihat
3,5 cm
4,5

Permukaanm
Beton Tidak
Terbuka (didalam)
4,0 cm
5,0 cm

Permukaan Beton
Terbuka Dibawah
Permukaan Air.
5,0 cm
6,0 cm

ii. Untuk beton bertulang dibawah muka air yang tidak dapat dijangkau (dilihat) atau
beton yang akan digunakan untuk penyaluran kotoran atau cairan yang membuat
karat penutup minimum harus ditambah menjadi 7,5 cm.

d. Penyerahan-penyerahan
i.

Paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan, kontraktor harus menyurahkan kepada


direksi teknik untuk disetujui, rincian diagram pembengkokan dan daftar batang
untuk penulangan yang diisyaratkan.

ii. Rincian ini harus sesuai dengan gambar pelaksanaan yang disediakan untuk
kontrak atau seperti petunjuk direksi teknik.
iii. Kontraktor juga menyediakan daftar sertifikat pabrik pembuat yang memberikan
mutu batang-batang tulangan dan berat satuan dalam kilogram tiap ukuran dan
mutu batang atau dengan baja yang dilas untuk digunakan dalam pekerjaan.

e. Penyimpanan dan Penanganan


i.

Kontraktor harus mengirim baja penulangan ke lapangan pekerjaan diikat dan


masing-masing ditandai yang sesuai dengan peruntukannya menunjukan ukuran
batang panjang ukuran dan informasi lainnya yang diperlukan untuk identifikasi
yang baik.

ii. Kontraktor harus menangani dan menyimpan semua batang tulangan dengan cara

7 - 16

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


yang baik untuk mencegah distorsi (terbengkokan), karat, atau kerusakan yang
lain.
(3) Perbaikan Kualitas Baja Atau Penanganan Yang Tidak memuaskan
a. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk memastikan ketepatan daftar batang dan
diagram pembengkokan dan untuk meyakinkan bahwa daftar urutan dipakai secara
benar. Baja tulangan yang disediakan yang tidak sesuai dengan persyaratan
sebenarnya atau spesifikasi harus ditolak dan diganti atas biaya kontraktor.
b. Baja tulangan dengan setiap kerusakan berikut harus tidak diizinkan didalam
pekerjaan :
i.

Panjang batang ketebalan dan bengkok yang melebihi toleransi fabrikasi yang
diuraikan dalam PBI 1971 (NI-2).

ii. Baja tulangan tidak sesuai dengan diagram, pembengkokan atau daftar batang
kecuali dimodifikasi atas permintaan direksi teknik.
iii. Baja tulangan karatan atau rusak dan ditolak direksi teknik.

c. Kontraktor harus menyediakan fasilitas di lapangan bersama dengan pengadaan


batang-batang lurus untuk pembuatan dan penggantian baja tulangan yang .......oleh
direksi teknik atau sebaiknya ditemukan tidak baik untuk digunakan. Didalam hal
kesalahan fabrikasi batang harus tidak dibengkokan kembali atau diluruskan kembali
tanpa persetujuan direksi teknik atau dilakukan dengan lain cara yang akan merusak
atau melemahkan baja.
d. Pembengkokan ulang batang harus dilakukan dengan cara dingin dan tidak boleh
digunakan batang yang sudah dibengkokan lebih dari dua kali pda temapt yang sama.

7.2.2. BAHAN-BAHAN
(1) Batang Baja Penulangan
a. Batang baja penulangan adalah polos atau batang ulir sesuai dengan persyaratan PBI
1971 (NI-2) kecuali dinyatakan lain mutu baja yang digunakan untuk beton bertulang
harus mutu U 24 dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2.

Catatan : untuk baja yang lebih tinggi akan digunakan hanya apabila dinyatakan
secara khusus dalam daftar penawaran.
b. Baja penulangan harus didapat dari pabrik pembuat yang disetujui dan harus disertai
dengan sertifikat pengujian yang memastikan kecocokan mutu jika mutu baja
diragukan direksi teknik dapat meminta baja tersebut untuk diuji.
c. Baja penulangan harus disediakn bersih dan bebas dari debu, lumpur, minyak, gemuk
atau karat.
(2) Penulangan Anyaman Baja
Anyaman baja untuk penggunaan sebagai penulangan beton harus kawat baja dilas
pabrik sesuaid engan AASHTO M 55 dan harus diadakan dalam lembar rata atau
gulungan seperti yang diisyaratkan oleh direksi teknik.

7 - 17

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten

(3) Penopang (Ganjal) Penulangan


Penopang (ganjal) yang digunakan untuk menahan penulangan ditempatnya harus
terbuat dari batang kawat ringan atau dengan menggunakan blok beton pracetak (3x3
cm) dibuat dari adukan semen (1:2)
tidak ada jenis lain penopang akan diizinkan kecuali direksi teknik.

(4) Kawat Pengikat Penulangan


kawat ikat yang digunakan untuk pengikatan dan pengamatan batang tulangan baja harus
kawat baja sesuai dengan PBI 1971 (NI-2) dan disetujui direksi teknik.

7.2.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN


(1) Pabrikasi Baja Tulangan
a. Batang baja tulangan harus dipotong menurut panjang yang diperlukan dibengkokan
secara hati-hati menurut bentuk dan ukuran yang diminta.
b. Batang tulangan mutu tinggi tidak boleh dibengkokan dua kali. Pemanasan batang
tulangan harus dilarang. Kecuali apabila disetujui oleh direksi teknik dimana harus
dipertahankan sampai kepada pemanasan minimum atau dilaksanakan dengan
kemungkinan pemanasan yang paling rendah.
c. Apabila jari-jari pembengkokan untuk batang tulangan tidak ditunjukan di dalam
gambar rencana ia harus paling sedikit 5 kali diameter batang yang bersangkutan
(untuk U 24) atau 6.5 kali diameter batang yang bersangkutan (untuk mutu yang lebih
tinggi). Kait dan begel harus dibengkokan sesuai dengan PBI 1971 (NI-2).
(2) Penempatan dan Pengikatan
a. Penulangan harus segera dibersihkan sebelum penggunaan untuk menjamin kondisi
pengikatan yang baik.
b. Penulangan harus ditempatkan dengan tepat sesuai dengan gambar dan petunjuk
direksi teknik dan dalam batas toleransi yang diuraikan pada Bab 6.3.1.b dalam
keadaan apapun penulangan dilarang terletak langsung di atas acuan/cetakan.
c. Batang baja penulangan harus diikat bersama dengan kokoh untuk menghindari
perpindahan tempat selama penuangan dan penempatan beton. Pengelasan batang
bersilang atau begel kepada baja tegangan utama tidak diizinkan.

d. Penyambungan batang baja penulangan harus disesuaikan dengan PBI 1971 (NI-2)
dan diuraikan lebih lanjut dibawah ini :
i.

Semua baja tulangan harus dipasang menurut panjang sepenuhnya seperti


dinyatakan dalam gambar. Penyambungan batang baja kecuali apabila ditunjukan
lain pada gambar tidak akan diizinkan tanpa persetujuan direksi teknik. Setiap
penyambungan demikian yang disetujui harus selang seling sejauh mungkin dan
ditempatkan pada titik tegangan tarik minimum.

ii. Apabila sambung bertindih (lapped splice) disetujui, panjang tindihan harus 40 kali
diameter dan batang-batang harus dilengkapi dengan kait.

7 - 18

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


iii. Pengelasan batang baja tulangan tidak diizinkan kecuali terinci pada gambar atau
diizinkan secara tertulis oleh direksi teknik.
e. Kawat ikat harus kokoh dengan akhir puntiran menghadap ke dalam beton.
f.

Tulangan anyaman baja harus ditempatkan dalam arah memanjang sepanjang yang
dapat dilaksanakan dengan penyambungan panjang bertindih selebar satu anyaman
penuh. Anyaman harus dipotong untuk memasang siku-siku dan bukaan-bukaan dan
harus dihentikan pada sambungan-sambungan antara slab (lantai)

7.2.4. CARA PENGUKURAN PEKERJAAN


(1) a.

Jumlah baja tulangan yang harus diukur untuk pembayaran akan ditentukan
sebagai jumlah kilogram selesai dipasang dan diterima oleh direksi teknik jumlah
kilogram batang baja penulangan yang dipasang akan dihitung dengan total
panjang yang sebenarnya dalam meter batang terpasang dikalikan berat satuan
yang disetujui dalam kilogram tiap meter panjang batang.

b.

Jumlah kilogram anyaman baja yang dilas terpasang harus dihitung dengan luas
jumlah yang sebenarnya dalam meter persegi dikalikan dengan satuan berat
yang disetujui dalam kilogram tiap meter persegi anyaman baja.

c.

Berat satuan yang disetujui oleh direksi teknik harus berdasarkan kepada berat
normal yang disediakan oleh pabrik pembuat baja.

(2) Pengendalian Lapangan


Direksi teknik dapat meminta kontraktor untuk melaksanakan suatu test pelaksanaan di
lapangan yang dipandang perlu untuk menjamin dipatuhinya spesifikasi ini.
7.3.5. PENGUKURAN DAN DASAR PEMBAYARAN.
Adonan semen tidak boleh diukur untuk pembayaran terpisah. Pekerjaan tersebut akan
dianggap berkaitan dengan berbagai item pekerjaan lainnya yang diuraikan sebelumnya
dalam spesifikasi ini, dan biaya untuk membuat serta memasang adonan semen akan
dimasukkan dalam item pembayaran yang dicakup (dimasuki) bagi item masing-masing
pekerjaan orang lain.

BAB 7.4.
PASANGAN BATU

7.4.1. UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari pembuatan struktur (bangunan) menggunakan batu muka pilihan
yang disambungkan dalam adonan semen. Struktur demikian akan direncanakan sebagai
bangunan penyangga untuk menahan beban

yang datangnya dari luar serta akan

...........penahan tanah pasangan batu, gorong-gorong persegi kepala gorong-gorong dan


dinding sayap.

(2) Toleransi Ukuran


a. Wajah permukaan dari masing-masing batu muka tidak boleh berbeda terhadap profil

7 - 19

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


permukaan rata-rata lebih dari 3 mm :

b. i.

ii.

Ukuran minimum batu adalah :


-

tebal minimum

= 15 cm

lebar minimum

= 1,5 x tebal (22,5 cm)

panjang minimum

= 1,5 x lebar (3,75 cm)

Ukuran batu maksimum akan ditentukan oleh direksi dengan memperthitungkan


jenis, struktur, lokasi batu dalam struktur dan peryaratan umum untuk stabilitas
dan saling mengunci.

(3) Contoh Bahan


a. Dua buah contoh yang menggambarkan masing-masing batu yang digunakan untuk
pasangan batu, harus diserahkan kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan
penting lambat 14 hari sebelum pekerjaan dimulai.
b. Contoh bahan agregat halus yang digunakan untuk adonan semen harus juga
diserahkan kepada direksi teknik untuk mendapat persetujuan yang sesuai dengan
Bab.7.3. spesifikasi ini.
(4) Kondisi Lapangan Pekerjaan
a. Semua galian harus bebas air dan kontraktor harus melengkapi semua bahan-bahan
yang diperlukan, peralatan dan tenaga untuk membuang atau membersihkan air.
termasuk saluran-saluran sementara pengaliran lintasan air menyediakan dan ....cut
off dan bendunagn sementara (cofferdam).

b. Pompa cadangan harus ditempatkan oleh kontraktor di tempat pekerjaan selama


pelaksanaan pekerjaan sebagaimana diperintahkan direksi.
(5) Penjadwalan Pekerjaan
a. Sebuah jadwal pekerjaan harus disediakan dan diikuti untuk menjamu bahwa jumlah
penggalian dan penyiapannya telah dilaksanakan termasuk penyediaan adonan segar
berdasarkan tingkat sebenarnya pelaksanaan pasangan batu.
b. Penggalian terbuka akan dibatasi sejauh yang diperlukan untuk memberi kondisi yang
baik dan kering pada waktu penggunaan pasangan batu.
c. Parit-parit

memotong

jalan

akan

dilakukan pelaksanaannya

setengah

lebar

sedemikian sehingga jalan tersebut dapat tetap terbuka untuk lalu lintas pada setiap
waktu kecuali sebuah jalan pengalihan (alternatif) disediakan.
(6) Perbaikan Pekerjaan Yang Tidak Memuaskan
a. Pasangan batu yang tidak memenuhi toleransi ukuran yang diberikan pada sub Bab
7.4.1. (2) harus diperbaiki sesuai dengan petunjuk direksi.
b. Kontraktor harus bertanggungjawab pada stabilitas yang normal dan menggunakan
struktur pasangan batu secara lengkap, serta harus mengganti setiap bagian yang
dalam pendapat direksi menjadi bahaya atau bergeser karena penanganan yang jelek
atau kelalaian pihak kontraktor. Akan tetapi kontraktor tidak memikul tangggung jawab

7 - 20

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


terhadap setiap kerusakan karena bencana alam seperti gempa bumi atau banjir
bandang ......bahwa pekerjaan yang rusak tersebut sebelumnya telah diterima
sepenuhnya oleh direksi.
7.4.2. BAHAN-BAHAN
(1) Batu
a. Batu yang dipilih harus bersih, keras tanpa lapisan yang lemah atau retak dan harus
memiliki satu saya tahan (awet).
b. Batu-batu tersebut harus berbentuk rata, bentuk baji ataupun oval dan harus dapat
dilihat seperlunya untuk menjamin saling mengunci yang rapat dipasangkan bersamasama dan memberikan satu profil permukaan di dalam batas-batas ukuran yang
ditetapkan pada Bab 7.4.1. (2).
(2) Adonan
Adonan yang digunakan untuk pasangan batu harus campuran perbandingan satu bagian
semen terhadap dua bagian agregat halus dengan kualitas dan campuran sebagaimana
ditetapkan pad abab 7.3. Adonan Semen
(3) Drainase Porous
Bahan-bahan berbutir yang disediakan untuk membentuk drainase porous dalam selimut
filter lapisan dasar dan lain-lain harus memenuhi persyaratan yang ditempatkan pada bab
2.70 spesifikasi ini untuk drainase porous.
(4) Beton
Beton yang diperlukan sebagai pondasi atau lantai penutup sampai struktur pasangan
batu harus disediakan yang sesuai dengan bab 7.1. spesifikasi ini.
7.4.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN
(1) Persiapan Untuk Pasangan Batu
a. Penggalian dan persiapan penyangga dan pondasi untuk struktur pasangan batu
harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan bab 3.1. galian.
b. Pematokan untuk garis ketinggian dan kelandaian harus diselesaikan sehingga
disetujui direksi sebelum pekerjaan pasangan batu dimulai.
c. Kecuali ditetapkan atau ditunjukan lain dalam gambar rencana dasar pondasi dinding
penahan harus dipotong dan dibuat tegak lurus kepada atau dalam tegak lurus
bertangga terhadap permukaan dinding. Untuk struktur lainnya dasar pondasi harus
horisontal atau (untuk tanah miring) dalam bagian horisontal bertangga.
d. Bahan lapisan dasar filter tembus air (permeable) dan selimut filter atau lengkung
harus disediakan bila ditetapkan atau diperintahkan direksi sesuai dengan persyaratan
Bab .2.7. spesifikasi ini.
(2) Pelaksanaan Pasangan Batu
a. Bilamana ditunjukan pada gambar rencana atau sebagaimana diperintahkan oleh
direksi teknik dasar (penyangga) beton atau pondasi beton harus dipasang untuk
pasangan batu sampai ketinggian dan ukuran yang diperlukan.
b. Batu harus bersih dan dibasahi sepenuhnya sebelum dipasang, diberikan waktu untuk
penyerapan air. Pondasi atau lapisan dasar yang sudah disiapkan harus juga

7 - 21

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


dibasahi.
c. Tebal alas adonan untuk masing-masing lapisan pekerjaan batu adalah dalam batasbatas 2-5 cm tetapi harus dipertahankan sampai keperluan minimum untuk menjamin
bahwa semua rongga di antara batu yang dipasang telah diisi sepenuhnya.
d. Suatu lapisan dasar adonan segar tebal paling sedikit 3 cm harus dipasang di atas
pondasi yang telah disiapkan secepatnya sebelum pemasangan batu-batu pada lapis
pertama. Batu pilihan yang besar harus digunakan untuk lapisan bawah dan di sudutsudut harus diperhatikan dan dihindari pengelompokan batu yang sama ukurannya.
e. Batu harus diletakkan dengan permukaan yang paling panjang mendatar dan
permukaan yang terlihat batu harus diatur sejajar dengan permukaan dinding yang
sedang ditangan.
f.

Batu-batu harus dipasang dengan hati-hati untuk menghindarkan penggunaan atau


gerakan batu yang sudah dipasang. Alat-alat yang mencukupi harus disediakan
dimana perlu untuk menopang dan memasang batu-batu besar, batu berat dalam
posisinya penggilasan atau memutar-mutar di atas pekerjaan batu yang sudah
terpasang tidak diizinkan.

g. Pada umumnya banyaknya penyediaan adonan untuk dasar yang dipasang satu kali
harus dibatasi sampai tingkat kemajuan pemasangan batu sehingga batu-batu hanya
dipasang diatas adonan yang segar jika sebuah batu dalam struktur menjadi lepas
atau tergeser sesudah adonan diletakkan batu tersebut harus disingkirkan dibersihkan
dari adonan-adonan yang mengeras dan dipasang kembali dengan adonan segar.

(3) Penyediaan Lubang Pelepasan (Weepholes) dan Sambungan Muai


a. Kecuali ditunjukan lain pada gambar rencana atau diperintahkan dam oleh direksi
lubang pelepasan (weepholes) harus disediakan dalam semua jenis dinding penahan.
Lubang pelepasan (weepholes) tersebut dengan diameter sekitar 5 cm dan disusun
baik secara horisontal maupun vertikal berjarak 2 meter pusat ke pusat.
b. Dinding penahan struktur panjang menerus akan dibangun dengan sambungan muai
dengan interval maksimum 20 meter. Lebar penuh sambungan akan dibentuk dengan
ketebalan sekitar 3 cm serta batu yang digunakan untuk membentuk permukaan
sambungan harus pilih sehingga memberikan garis tegak yang bersih untuk
sambungan.
c. Urugan kembali filter porous terpilih akan dipasang serta dipadatkan di belakang
sambungan muai dan lubang pelepasan, dengan tebal dan ukuran yang ditunjukan
pada gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh direksi.
(4) Penyelesaian Pasangan Batu
a. Sambungan permukaan antara batu-batu diselesaikan hingga .....rata dengan
permukaan pekerjaan, tetapi tidak menutupi batu-batu selama pekerjaan berlangsung.
b. Kecuali ditetapkan lain, permukaan puncak horisontal dari semua .......batu akan
diselesaikan dengan tambahn lapisan aus atau adonan semen teba; 2 cm dikulir
sampai permukaan rata dengan kemiringan melintang yang akan menjamin
perlindungan terhadap air hujan dan dengan ujung yang dibuat tumpul. Lapis aus

7 - 22

Spesifikasi Umum Jalan Kabupaten


tersebut akan dimasukan dalam ukuran khusus dari struktur.
c. Segera setelah semua batu muka dipasang dan sementara adonan masih segar
permukaan yang nonjol dari struktur harus dibersihkan seluruhnya dari noda-noda
adonan.
d. Permukaan jadi (selesai) akan dirawat mengeras sebagaimana diperlukan untuk
pekerjaan beton dalam spesifikasi ini.
e. Bila pasangan batu tersebut cukup kuat dan tidak lebih cepat dari 14 hari setelah
penyelesaian

pekerjaan

pemasangan

urugan

kembali

akan

dilaksanakan

sebagaimana ditetapkan atau sebagaimana diperintahkan direksi sesuai dengan


persyaratan spesifikasi yang relevan pada Bab 3.2.
f.

Talud tebing dan bahu jalan di sekitarnya akan dirapihkan dan diselesaikan sehingga
menjamin satu perpaduan permukaan halus yang kuat dengan pasangan batu
tersebut yang akan memungkinkan drainase tidak terhalang dan mencegah
penggerusan pada ujung-ujung bangunan.

7.4.4. PENGENDALIAN LAPANGAN


(1) Cara Pengukuran
a. Pasangan batu akan diukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai volume
bormal pekerjaan terselesaikan dan dapat diterima, dihitung sebagai volume theoritis
yang ditentukan oleh garis dan penampang melintang yang disetujui dan atau telah
ditetapkan.
b. Setiap bahan terpasang yang melebihi volume theoritis yang disetujui tidak boleh
diukur atau dibayar.
c. Galian untuk persiapan pondasi atau pemotongan talud untuk dinding penahan akan
diukur untuk pembayaran sesuaidengan Bab 3.1. spesifikasi ini.
d. Bahan filter porous yang diperlukan untuk lapisan dasar atau urugan kembali atau
dalam kantong-kantong filter akan diukur dan dibayar sebagai drainase porous
sebagaimana diatur dalam Bab 2.7. spesifikasi ini tidak ada pengukuran atau
pembayaran tambahan akan dibuat untuk penyediaan atau pemasangan lubang
pelepasan yang berbentuk pipa-pipa atau suatu cetakan atau urugan kembali yang
diperlukan.
e. Beton yang disediakan sebagai pondasi untuk pasangan batu atau suatu pekerjaan
yang akan dapat diterima tidak boleh diukur pembayaran dibawah Bab ini akan tetapi
akan dimasukan dalam harga satuan dan item pelaksanaan yang diperlukan dibawah
item pembayaran untuk beton pada Bab 7.1. spesifikasi ini.
(2) Dasar Pembayaran
Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan diatas akan dibayar pada harga kontrak
persatuan pengukuran untuk item pembayaran yang tercantum dibawah dan ditunjukan
dalam daftar penawaran yang aman harga dan pembayaran tersebut merupakan
kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan bahan-bahan untuk semua
persiapan pembentukan.

7 - 23

BAB 9.1
PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN
9.1.1

Umum

(1)

Uraian

a.

Pekerjaan yang tercakup dalam Bab ini akan meliputi : Pekerjaan-pekerjaan


Pemeliharaan Rutin untuk menjaga agar perkerasan jalan, bahu, drainase, jembatan
dan perlengkapan jalan yang ada selalu dipelihara setiap saat agar tetap memberi
pelayanan yang baik sesuai dengan petunjuk Direksi Tehnik. Secara umum
pemeliharaan rutin dilaksanakan hanya bagi jalan dalam keadaan baik dan sedang.

b.

Untuk tujuan melaksanakan Pemeliharaan Rutin atas dasar kontrak dimasukkan


sejumlah pekerjaan jalan berikut, yang diberikan pada Tabel 9.1.1.

Tabel 9.1.1 PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN


NO
URUT

LOKASI
Perkerasan
berpenutup
aspal
Perkerasan
tidak
beraspal
Bahu jalan
Drainase
Jembatan

Perlengkap
an jalan

URAIAN

PEKERJAAN YANG
TIDAK DIMASUKKAN
Perbaikan dan penambalan meliputi Pekerjaan
persiapan
lubang-lubang, bagian ambles pinggiran untuk pelapisan ulang
perkerasan jalan, bekas roda dan retak- permukaan
retak
Perbaikan-perbaikan lubang-lubang dan Pekerjaan
persiapan
tempat lunak serta pembentukan kembali untuk pengerikilan ulang
Pemotongan rumput dan pengendalian
tumbuh-tumbuhan pada pinggiran jalan
serta perapihan dan perataan bahu jalan
Pembersihan dan perbaikan saluran tepi
dan gorong-gorong
Pembersihan dan pemeriksaan lantai
jembatan, expansion joint, landasan
jembatan dan pembersihan lubang-lubang
drainase serta saluran lintasan air
jembatan
Pembersihan, perbaikan dan pengecatann
kembali tanda lalu lintas rel pengaman

Membangun
dan
membentuk bahu jalan
dengan bahan baru
Bangunan drainase baru
Semua
perbaikan
struktural dan pengecatan

Rambu lalu lintas, patokpatok dan rel pengaman


baru
Catatan : Semua pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk tersebut disediakan untuk
pemeliharaan berkala atau program peningkatan, kecuali pekerjaan tersebut dinilai
mendesak dan biaya tidak melampaui biaya pemeliharaan rutin yang tersedia pada
paket tersebut. Uraian pekerjaan yang tidak termasuk dalam Pekerjaan Rutin,
dijelaskan lebih detail pada masing-masing jenis pekerjaan.

(2)

Pembatasan Cuaca

Pekerjaan tersebut harus dilaksanakan selama kondisi cuaca yang dapat dipertanggung
jawabkan.
(3)

Lokasi Tempat-tempat yang Memerlukan Pemeliharaan Rutin

Tempat/Lokasi pekerjaan yang memerlukan pemeliharaan rutin harus sesuai perintah kerja
Direksi Tehnik. Metode dan besarnya pekerjaan perbaikan harus seperti yang diperintahkan
Direksi Tehnik secara tertulis, yang juga akan menentukan penyelesaian yang layak.
(4)

Penjadwalan Pekerjaan

a.

Bagian-bagian dan panjang yang dimasukkan kedalam kontrak Pemeliharaan Rutin


harus diidentifikasikan dalam Daftar Penawaran dan harus ditentukan serta ditandai
dilapangan oleh Direksi Tehnik.

b.

Jangka waktu kontrak harus ditentukan dalam dokumen kontrak.

c.

Kontraktor akan diminta segera mengadakan pemeriksaan lengkap panjang jalan dan
pekerjaan-pekerjaan jalan yang dimasukkan dan menyiapkan untuk suatu program
pekerjaan yang mencakup semua pekerjaan pemeliharaan rutin yang harus
dilaksanakan program ini harus diserahkan kepada Direksi Tehnik untuk mendapatkan
persetujuan dan setelah disahkan oleh PIMPRO, Direksi Tehnik dapat minta
Kontraktor mengadakan suatu penyesuaian yang dianggap perlu untuk memenuhi
kewajiban-kewajiban kontraktual dan pula kewajiban kewajiban persyaratan
spesifikasi, serta kontrak change order akan disiapkan oleh Direksi Tehnik.

d.

Berdasarkan program tersebut diatas, Direksi Tehnik akan mengeluarkan Surat


Perintah Kerja setiap 3 bulan.

e.

Pekerjaan Pemeliharaan Rutin harus dimulai pada saat lapangan diserahkan kepada
Kontraktor dan harus berlanjut sampai berakhirnya tahun anggaran.

(5)

Pengendalian Lalu Lintas

Kontraktor harus mengatur pengendalian lalu lintas yang memadai bersama dengan
penyediaan rambu lalu lintas sementara dan pemegang bendera untuk pengendalian dan
keamanan lalu-lintas dan pekerja. Pengaturan lalu-lintas harus memenuhi dan mendapat
persetujuan Direksi Tehnik.

(6)

Perbaikan Pekerjaan-pekerjaan yang tidak memuaskan

Kontraktor akan melaksanakan pekerjaan perbaikan yang umumnya sesuai dengan


persyaratan Spesifikasi ini dan menurut petunjuk di lapangan oleh Direksi Tehnik. Setiap
pekerjaan yang dianggap tidak memuaskan Direksi Tehnik dikarenakan mutu bahan yang
jelek, penanganan jelek atau kekurangan alat yang cocok, diperbaiki menurut permintaan
Direksi Tehnik tanpa tambahan biaya.
9.1.2

Pengendalian Mutu

1)

Sumber Bahan dan Pengadaan

Sumber-sumber untuk bahan-bahan jalan akan dipilih atas dasar bahan yang tersedia sesuai
dengan struktur jalan yang ada. Direksi dapat menerima atau menolak bahan-bahan dari
sumber-sumber tersebut berdasarkan faktor-faktor diatas dan atas dasar persyaratan
Spesifikasi ini sesuai Tabel 9.1.2.
Tabel 9.1.2 BAHAN-BAHAN UNTUK PEMELIHARAAN RUTIN
LOKASI
LAPIS TANAH DASAR

BAHAN-BAHAN
Bahan pilihan

LAPIS PONDASI BAWAH

Bahan lapis pondasi bawah


Bab 5.1
Kelas A ( <75 mm)
Kelas B ( < 62.5 mm)
Kelas C ( < 37.5 mm)
Bahan lapis pondasi atas
Bab 5.2
Kelas A Agregat Pecah (<37.5 mm)
Kelas B Macadam ikat Basah
Kerikil < 25 mm
Bab 6.1
Kerikil < 19 mm

LAPIS PONDASI ATAS


LAPIS PERMUKAAN
KERIKIL
PERKERASAN DENGAN
LAPIS PENUTUP ASPAL

DRAINASE

TANDA LALU LNTAS


DAN PATOK-PATOK

Laburan permukaan aspal


Penetrasi Macadam 5 cm
LATASTON (HRS) 3 cm
LASTON (AC)
5 cm
Lasbutag
3 cm
Aspal campur dingin 5 cm
Rehabilitasi Drainase
Drainase porous
Pasangan batu dengan siar
Beton PC
Tanda lalu lintas, patok penunjuk,
patok kilometer dan rel pengaman
balok baja.

SPESIFIKASI
Bab 3.3

Bab 6.3 / 6.4


Bab 6.5
Bab 6.6
Bab 6.8
Bab 6.9
Bab 6.10 / 6.11
Bab 2.2
Bab 2.7
Bab 8.1
Bab 7.1
Bab 8.5 / 8.6

(2)

Persyaratan Bahan

Pada umumnya jenis bahan-bahan yang harus dipilih untuk melaksanakan perbaikanperbaikan pemeliharaan rutin terhadap jalan kerikil dan jalan aspal (dengan lapis penutup)
harus sama atau labih baik dan bahan-bahan yang digunakan pada jalan yang ada. Dalam
semua hal kualitas bahan dan gradasi agregat harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan
Spesifikasi ialah Tabel 9.1.2 di atas.
(3)

Syarat-syarat Kualitas

Sebelum suatu sumber bahan dipilih, Kontraktor harus menyerahkan rincian sumber
pengadaan beserta data uji yang berkaitan, yang menunjukkan kecocokannya dengan acuan
persyaratan Spesifikasi. Direksi Tehnik dapat meminta Kontraktor untuk menyerahkan contoh
bahan dan malaksanakan pengujian lebih lanjut bila dianggap perlu sebelum memberikan
persetujuan akhir.
9.1.3

Pemeliharaan dan Perbaikan Jalan Aspal

(1)

Uraian

a.

Pemeliharaan rutin dari perkerasan berpenutup aspal akan meliputi pelaburan


permukaan pada bagian-bagian jalan yang retak, non struktural dan struktural
penambalan lubang-lubang kecil, bekas roda dan bagian ambles kecil atau perbaikan
pinggiran perkerasan.

b.

Standar yang disyaratkan dari pekerjaan untuk jalan berpenutup dalam batas kontrak
adalah sedemikian rupa sehingga setelah lapangan diserahkan kapada Kontraktor
untuk dilaksanakan dengan segera, maka setelah selesai dikerjakan perkerasan yang
ada tidak boleh terdapat lubang ambles, bekas roda atau retakan yang belum ditutup
dan kerusakan pinggir perkerasan. Selanjutnya Kontraktor harus memelihara seluruh
permukaan sehingga kerusakan tersebut yang terjadi setiap saat selama Periode
Pelaksanaan harus diperbaiki dalam waktu secepatnya.

(2)

Perbaikan dan Penambalan Lubang, Bagian Ambles Kecil, Bekas Roda dan Kerusakan
Pinggir Perkerasan.

a.

Pelaksanaan Perbaikan Untuk Permukaan.


Penetrasi Macadam (LAPEN)
i. Galilah lubang tersebut atau bagian ambles ke bawah sampai pondasi yang padat
dengan potongan persegi dan buanglah semua bahan-bahan lepas. Jika perlu juga

buanglah bahan-bahan lapis tanah dasar atau lapis pondasi bawahyang kurang
bagus.
ii. Dimana perlu, gantilah dengan bahan lapis tanah dasar atau lapis pondasi bawah
yang disetujui dan padatkan dengan alat tumbuk mesin setiap 10 cm tebal lapisan
(tergantung kepada kedalamannya).
iii. Tempatkan lapis pondasi atas, lapisan-lapisan tebal 10 cm (tergantung kepada
kedalamannya) dan tumbuklah. Bangunlah lapis pondasi atas tersebut sampai
permukaan lapis pondasi lama. Semprotkan lapisan aspal resap pelekat (prime
coat) atau aspal emulsi dengan semprotkan tangan kepada lapis pondasi atas dan
sisinya sekitar 1.0 l/m2. Juga semprotkan secara ringan perkerasan disekitarnya
dalam batas 5 cm dari yang diperbaiki. Aspal resap pelekat harus telah masuk
kedalam lapis pondasi, atas dan mengering sebelum ditutup dengan lapisan
berikutnya.
iv. Pasanglah agregat kasar (yang sesuai dengan pasal 6.5.2) sampai tinggi permukaan
dan padatkan dengan mesin gilas atau dengan tumbuk tangan, tambahkan lagi
agregat jika perlu.
v. Semprotkan bahan pengikat aspal panas dengan cara semprotan tangan pada
tingkat penyemprotan diantara 2.5 s/d 3.0 l/m2 untuk menembus sampai dasar
agregat kasar atau menurut petunjuk Direksi Tehnik. Penyemprotan yang ringan
juga dilakukan kepada lapis perkerasan sejauh 5 cm disekitarnya.
vi. Taburkan agregat kunci (yang sesuai dengan pasal 6.5.2) dan dipadatkan dengan
mesin gilas. Tambahkan lagi agregat jika perlu.
vii. Semprotkan bahan pengikat aspal pada tingkat penyemprotan diantara 1.5 s/d 2.0
l/m2 atau menurut petunjuk Direksi tehnik dan ditaburi dengan pasir kasar dan
dipadatkan dengan mesin gilas.
b.

Pelaksanaan Perbaikan Untuk Permukaan laburan Aspal Satu Lapis (BURTU dan
BURAS)
i. Ikutilah tiga langkah (i-iii) yang diberikan untuk Penetrasi Makadam di atas.
ii. Semprotkan bahan pengikat aspal panas di atas pondasi yang sudah diprime coat
pada tingkat penyemprotan diantara 1.0 s/d 1.5 l/m2.
iii. Letakkan laburan agregat penutup sampai menutupi dan mangisi rongga
seluruhnya, menggunakan agregat ukuran 9.5 mm, untuk BURTU atau pasir kasar
untuk Buras dan dipadatkan dengan mesin gilas yang disetujui oleh Direksi
Tehnik.

c.

Pelaksanaan Perbaikan Untuk Permukaan LATASTON/LASTON


i. Ikutilah tiga langkah (i-iii) pertama yang diberikan untuk Penetrasi Makadam di
atas.
ii. Semprotkan aspal Resap Pelekat pada satu tingkat pemakaian 0.6 s/d 1.0 l/m2 atau
tingkat lainnya menurut perintah Direksi Tehnik.
iii. Letakkan Lataston/Laston (yang sesuai dengan pasal 6.7/6.8) dengan ketebalan
sedikit di atas permukaan perkerasan yang ada.
iv. Selesaikan dengan pemadatan

akhir menggunakan mesin yang disetujui oleh

Direksi tehnik.
(3)

Perbaikan Retak Permukaan

a.

Untuk Retak Non Struktural (lebar kurang dari 3 mm), pemeliharaan rutin meliputi
Laburan Permukaan Taburan Pasir (BURAS) yang sesuai dengan pasal 6.4 atau sesuai
cara yang dijelaskan dibawah ini :
i. Sapu dan bersihkan permukaan perkerasan yang rusak sehingga bersih.
ii. Gunakan bahan pengikat aspal di atas permukaan yang kering dengan
menggunakan mesin penyemprot (aspal sprayer) atau siraman tangan pada tingkat
1.0 s/d 1.5 l/m2 (dua kali lipat untuk aspal emulsi).
iii. Tutuplah bahan pengikat tersebut dengan pasir kasar pada tingkat antara 110-150
m2/m3 pada keadaan panas.
iv. Padatkan dengan mesin gilas ban pneumatic atau mesin gilas roda baja yang sesuai
kebutuhan bila diijinkan oleh Direksi Tehnik. Pelaksanaan pemadatan akan
mengikuti segera setelah penaburan pasir kasar.

b.

Untuk Retak Non Struktural (lebar lebih dari 3 mm), dilaksanakan dengan cara :
i. Celah dibersihkan dengan menggunakan sapu dan penutup debu.
ii. Celah diisi dengan adonan aspal cair atau emulsi dengan pasir dengan
menggunakan sendok tembok. Pengisian diusahakan tidak sampai penuh.
iii. Sisa rongga diisi aspal cair atau aspal emulsi dengan menggunakan cetak aspal
(gembor).
iv. Permukaan celah ditaburi agregat halus atau pasir kasar segera setelah pengisian
aspal tersebut untuk mencegah pengelupasan akibat lalu lintas.
b. Untuk Retak Struktural (retak buaya) penanganannya dengan membongkar lapisan
yang rusak dan menggantinya dengan material yang lebih baik atau sama, cara
penanganannya sesuai Pasal 9.1.3 (2) di atas.

9.1.4

Pemeliharaan dan Perbaikan Perkerasan Tidak Beraspal.

(1)

Uraian

a.

Pemeliharaan Rutin terhadap jalan tanpa penutup aspal pada umumnya harus terdiri
atas operasi pemotongan ringan dengan motor grader atau alat sapu jalan untuk
membentuk kembali permukaan jalan atau memperbaiki permukaan jalan dimana
terdapat lubang-lubang dan atau bergelombang.

b.

Proses tersebut akan meliputi perataan memasukkan bahan-bahan permukaan dari


pinggiran atau potongan-potongan bagian permukaan yang tinggi (bergelombang)
serta mengisi (menimbun) daerah-daerah rendah (cekungan ambles) dan lubanglubang dangkal dengan bahan-bahan lebihan (surplus) yang lepas-lepas.

c.

Bila bahan-bahan yang ada dilapangan dipertimbangkan Direksi Tehnik tidak sesuai
atau tidak mencukupi untuk perbaikan bagian ambles, Kontraktor harus menyediakan
tambahan bahan-bahan yang diperlukan.

(2)

Pembentukan Kembali

a.

Pemotongan Ringan dengan Motor Grader

Untuk jalan-jalan kerikil yang tidak berlubang-lubang tetapi bergelombang dan atau
permukaannya tidak mempunyai kemiringan melintang yang baik, permukaan jalan itu harus
dipotong sedikit dengan motor grader secara rutin, terutama di musim kemarau. Bila
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan pemotongan ringan dengan motor grader di musim
kemarau bahan-bahan yang lepas harus didorong kearah tepi jalan. Di musim hujan, bahanbahan harus di dorong ketengah jalan.
Kontraktor harus hati-hati untuk mencegah grader lewat ditengah jalan dengan pisau turun,
karena hal ini akan menyebabkan rusaknya permukaan jalan. Selama pekerjaan pemotongan
harus juga berhati-hati untuk menghindari lempung lunak yang terpotong dan selokan
samping terdorong kearah jalur lintasan. Pekerjaan pembentukan kembali harus dilengkapi
sebuah punggung permukaan atau kemiringan melintang jalan antara 4%-5%.
b.

Penyapuan Jalan

Pekerjaan ini akan dilaksanakan menurut petunjuk Direksi Tehnik, untuk mengisi bekas-bekas
roda, ketidak teraturan yang ringan dan permukaan jalan yang bergelombang, serta akan
dipertimbangkan bila tidak didapatkan sebuah motor grader. Alat sapu jalan tersebut akan
dipasang pada traktor atau truk pemeliharaan dan penyapuan akan dilaksanakan untuk

menyingkirkan bahan-bahan lepasdan menghilangkan gelombang-gelombang kecil dari


permukaan.
(3)

Perbaikan Lubang-lubang dalam dan tempat-tempat lunak

Lubang-lubang dalam ( > 20 cm) dan daerah-daerah lunak akan diperbaiki dengan tangantangan manusia yang sesuai dengan instruksi Direksi Tehnik dan Cara berikut:
Lubang-lubang dalam harus dipotong kembali dan dibuat menjadi kotak sampai permukaan
lapis tanah dasar. Lapis tanah dasar tersebut harus dipadatkan dengan baik dan lubang
tersebut diisi kembali dengan bahan lapis pondasi bawah kelas C atau tanah pilihan yang
disetujui oleh Direksi Tehnik dan ditumbuk dalam lapisan-lapisan 10 cm.
Permukaan paling atas akan ditutup dengan kerikil yang ketebalannya sama dengan tebal
kerikil lama dan dipadatkan dengan mesin gilas. Luas yang kecil dapat dipadatkan dengan
tumbukan mesin (stamper). Jenis kerikil harus sama atau lebih baik dari kerikil yang
digunakan pada jalan yang ada.
9.1.5

Pemeliharaan Bahu Jalan

(1)

Uraian

Pekerjaan pemeliharaan rutin untuk bahu jalan akan dibatasi kepada perapihan dan perataan
kembali bahu jalan serta pemotongan rumput yang tinggi semak-semak atau pohon yang tidak
diperlukan.
(2)

Pelaksanaan

a.

Bahu jalan harus dipotong dan dibentuk kembali dengan tenaga manusia motor grader
atau traktor, seperti yang diminta oleh Direksi Tehnik dengan menggunakan bahanbahan pilihan yang diperoleh dilapangan. Bila bahan-bahan pilihan tersebut tidak
terdapat dilapangan/tidak mencukupi, Kontraktor harus menyediakan bahan-bahan
tambahan sebagaimana yang diminta oleh Direksi Tehnik. Bahu jalan harus dipotong
rata dengan pinggiran perkerasan jalan sehingga membentuk kemiringan melintang
4%-5% kearah sisi saluran.

c.

Perapihan terakhir akan dilakukan dengan tenaga kerja dan bahan-bahan lebihan dari
tumbuh-tumbuhan, serta sampah-sampah lainnya harus disingkirkan dari lapangan
sesuai dengan instruksi Direksi Tehnik.

9.1.6

Pemeliharaan dan Perbaikan Saluran Tepi Jalan dan Gorong-gorong.

(1)

Uraian

a.

Pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan harus dilaksanakan untuk menjaga saluran tepi
jalan dan gorong-gorong tersebut dalam kondisi baik dan memuaskan. Saluran dan
gorong-gorong harus dibersihkan dan diperbaiki seperlunya yang sesuai dengan acuan
pasal 2.2, Spesifikasi Umum.

b.

Pekerjaan yang dikeluarkan dari pemeliharaan rutin meliputi :


-

Pekerjaan perbaikan yang besar sampai kerusakan karena termasuk pemotongan,


galian, penggantian dengan bahan timbunan pilihan dan bahan drainase porous.

Penambahan saluran yang ada dan pembangunan yang baru.

Pembangunan pelapisan baru pasangan batu.

Penggantian gorong-gorog yang rusak dan penambahan gorong-gorong dengan


atau tanpa dinding kepala dan dinding samping.

Pekerjaan tersebut (jika ada) harus diidentifikasi dan dilaporkan kepada Direksi
Tehnik secara tertulis dan tidak boleh dilaksanakan tanpa surat perintah kerja dari
Direksi Tehnik, setelah mendapat persetujuan dari Pimpro.

(2)

Pelaksanaan

a.

Saluran tepi jalan


i. Semua tumbuh-tumbuhan, endapan dan sampah lainnya harus disingkirkan dari
saluran tersebut dan dikumpulkan serta diangkat keluar dari lapangan.
ii. Saluran-saluran tanah harus dinormalisasi hingga profil dan kemiringan yang
diperlukan sesuai dengan gambar serta mendapat persetujuan Direksi Tehnik.
iii. Saluran pasangan batu yang dalam keadaan rusak harus diperbaiki sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dan ditunjukkan pada gambar serta mendapat
persetujuan Direksi Tehnik.
Bila diperlukan dapat disediakan pondasi beton baru. Pengurungan kembali dan
pemadatan harus dilaksanakan dengan menggunakan bahan-bahan pilihan. Pekerjaan
ini harus mendapatkan persetujuan terlabih dahulu dari Direksi Tehnik.

b.

Gorong-gorong termasuk dinding kepala dan dinding sayap.


i. Semua

tumbuh-tumbuhan,

endapan

dan

sampah-sampah

lainnya

harus

disingkirkan dari gorong-gorong dan dari kanal/saluran disekitarnya, serta


diangkut keluar dari lapangan.

ii. Gorong-gorong, dinding kepala dan dinding sayap harus diperiksa dari setiap
kerusakan dicatat untuk dilaporkan kepada Direksi Tehnik.
iii. Sesuai dengan instruksi Direksi Tehnik, Kontraktor harus melakukan pekerjaan
perbaikan kecil bagi gorong-gorong termasuk acuan siar sambungan-sambungan
yang patah dan mengganti bagian-bagian pekerjaan batu atau beton yang rusak
dari dinding kepala dan dinding sayap. Pekerjaan perbaikan gorong-gorong yang
rusak akan mencakup semua pekerjaan yang dapat dengan efektif dilaksanakan
dalam batas-batas gorong-gorong tanpa penggalian yang berlebih.
9.1.7

Pemeliharaan Rutin Bangunan Jembatan

(1)

Uraian

a.

Pekerjaan pemeliharaan rutin untuk jembatan harus berlaku untuk semua jembatan
yang ada pada setiap ruas jalan dalam kontrak tanpa memandang jumlah ukuran atau
jenis jembatan.

b.

Pemeliharaan rutin jembatan meliputi pemeriksaan dan pembersihan lantai jembatan,


expansion joint, landasan jembatan, lubang drainase (outlet), saluran pembuang dan
aliran sungai serta merapihkan kemiringan timbunan disekitar jembatan agar tetap
dalam kondisi yang baik.

c.

Pemeriksaan dan pembersihan untuk pemeliharaan rutin jembatan harus dilakukan


dalam selang waktu yang teratur yang tidak lebih dari 4 bulan. Kecuali jika hujan lebat
yang berakibat banjir pemeriksaan dan pembersihan harus dilakukan, demikian pula
setelah air banjir menyusut.

d.

Pekerjaan yang dikeluarkan dari pemeliharaan rutin meliputi


- Perbaikan struktural
- Pengecatan pekerjaan baja
- Penggantian lantai jembatan
- Perlindungan tebing dan bangunan bawah dengan bronjong atau rip-rap
Pekerjaan tersebut (jika ada) harus diidentifikasi dan dilaporkan kepada Direksi
Tehnik serta tidak boleh dilaksanakan tanpa surat perintah dari Direksi Tehnik dan
mendapat persetujuan Pimpro.

(2)

Pelaksanaan

a.

Permukaan lantai jembatan dan trotoir harus secara teratur dijaga dalam kondisi
bersih.

b.

Sambungan muai jembatan (expansion joint), landasan jembatan harus selalu diperiksa
dan dibersihkan.

c.

Kemiringan timbunan disekitar dan dibawah jembatan harus dirapikan dan dipelihara
sampai bentuk yang benar.

d.

Semua sampah dialiran sungai dibawah jembatan yang menghalangi aliran harus
dibuang.

9.1.8

Pemeliharaan Tanda Lalu Lintas dan Rel Pengaman

(1)

Uraian

a.

Pekerjaan pemeliharan tanda lalu lintas dan rel pengaman meliputi pemeliharaan
umum rambu lalu lintas, patok penunjuk, patok kilometer, marka jalan dan rel
pengaman, dan melaksanakan pembersihannya, pekerjaan perbaikan ringan dan
pengecatan ulang.

b.

Pekerjaan-pekerjaan yang dikeluarkan adalah penyediaan baru rambu lalu lintas,


patok penunjuk, patok kilometer, marka jalan dan rel pengaman baru, bersama dengan
penggalian yang diperlukan, urugan kembali dan pondasi beton yang akan disediakan.

(2)

Pelaksanaan

a.

Rambu lalu lintas, patok kilometer dan patok penunjuk harus dibersihkan dan dicuci
serta dijaga sepenuhnya memenuhi syarat untuk lalu lintas lewat.

b.

rambu lalu lintas, patok-patok dann rel pengaman yang lepas atau dalam penempatan
yang salah harus dipasang kembali dengan benar menurut petunjuk Direksi Tehnik.

c.

Patok rambu dan rel pengaman harus dibersihkan dan dicat kembali dengan cat dasar
dan lapis penyelesaian dimana dianggap perlu menurut petunjuk Direksi Tehnik.
Bagian-bagian baja yang terlihat berkarat pertama-tama harus disikat dan dilapisi
dengan cat dasar pencegah karatan sebelum pengecatan.

d.

Marka jalan harus dibersihkan dan dicat kembali sesuai dengan petunjuk Direksi
Tehnik.

9.1.9

Cara Pengukuran Pekerjaan

Pengukuran untuk masing-masing pekerjaan diuraikan dalam Spesifikasi ini harus secara
umum, kecuali dikatakan lain, sesuai dengan cara yang diberikan dalam Bab-bab yang
berkaitan dari Spesifikasi ini dan sebagaimana diuraikan dibawah ini untuk berbagai jenis
bahan yang digunakan. Perkerasan Berpenutup Aspal.
(1)

Pelaburan aspal (BURAS) yang harus dipasang sebagai satu penutup pelindung retakretak permukaan akan diukur untuk pembayaran dalam meter persegi dari permukaan
perkerasan sebenarnya terlapisi dan diterima oleh Direksi Tehnik.

(2)

Perbaikan letak-letak lebar (> 3 mm) akan diukur pembayarannya dalam meter
panjang dan permukaan perkerasan sebenarnya yang diperbaiki dan diterima oleh
Direksi Tehnik.

(3)

Pelapisan ulang dengan Penetrasi Makadam (LAPEN), Laston (AC) dan Lataston
(HRS) tidak dimasukkan dalam Pekerjaan Rutin, tetapi harga satuan harus
dicantumkan dan akan dibayar (bila ada) dalam m2 atas ketebalan perkerasan yang
sudah ditentukan.

(4)

Perbaikan dan penembalan lubang, kerusakan pinggiran jalan, bagian ambles dan
bekas roda akan diukur untuk pembayarannya dalam meter persegi dari luas
permukaan perkerasan sebenarnya yang diperbaiki dan diterima oleh Direksi Tehnik.
Pengukuran akan meliputi pengadaan semua bahan, pencampuran, penempelan,
pemadatan dan penyelesaian sampai disetujui oleh Direksi Tehnik.
Perkerasan tidak beraspal.

(5)

Kerikil yang dipasang sebagai lapisan permukaan untuk pembentukan ulang lapis
permukaan jalan kerikil yang ada akan diukur untuk pembayaran dalam meter persegi
pada tebal yang ditentukandari luas permukaan terpasang dan diterima oleh Direksi
Tehnik.

(6)

Pembentukan kembali dengan motor grader atau penyapuan jalan akan diukur untuk
pembayaran dalam kilometer panjang dan panjang jalan sebenarnya yang dibentuk dan
diterima oleh Direksi Tehnik.

(7)

Perbaikan lubang, ambles bekas roda dan tempat-tempat lunak diukur untuk
pembayaran dalam meter persegi dari luas permukaan yang sebenarnya diperbaiki dan
diterima oleh Direksi Tehnik.

Pengukuran akan meliputi pengadaan semua bahan, penempatan, pemadatan dan


penyelesaian sampai diterima oleh Direksi Tehnik.
Perbaikan dan Pemeliharaan Drainase.
(8)

Pembersihan saluran tepi jalan akan diukur untuk pembayaran dalam meter panjang
saluran tepi jalan yang dibersihkan dan direhabilitasi/dinormalisasi dan diterima oleh
Direksi Tehnik.

(9)

Pembersihan gorong-gorong akan diukur dalam meter panjang yang dibersihkan dan
direhabilitasi/dinormalisasi dan diterima oleh Direksi Tehnik.
Semua pengukuran harus dilakukan disepanjang sumbu saluran dan harus disediakan
untuk seluruh pekerjaan yang dilakukan bagi pembersihan dan rehabilitasi kedua
saluran. Tidak disediakan secara terpisah untuk setiap galian atau urugan, acuan
sambungan-sambungan yang patah, mengganti bagian-bagian batu atau beton yang
rusak. Pekerjaan-pekerjaan ini akan dimasukkan dalam item pembayaran yang telah
diberikan.

(10)

Pembangunan saluran tanah baru, saluran pasangan, gorong-gorong, termasuk dinding


kepala dan dinding samping, tidak termasuk dalam pemeliharan rutin, tetapi hanya
satuannya harus dicantumkan.

Pemeliharaan Bahu/Tepi Jalan


(11)

Pengendalian/kontrol tanaman (rumput, semak-semak, pohon-pohon) akan diukur


untuk pembayaran dalam satuan 100 m2 dari luas yang dikerjakan dan diterima oleh
Direksi Tehnik. Perhitungan total harus atas dasar lebar rata-rata bahu jalan yang
dikerjakan diukur dengan selang 100 m dikalikan dengan total panjang pekerjaan
dalam meter yang dilaksanakan, diterima dan disetujui oleh Direksi Tehnik.

(12)

Pembentukan dan pemotongan bahu jalan akan diukur untuk pembayaran dalam
kilometer panjang yang dilaksanakan dan diterima oleh Direksi Tehnik.
Tidak ada penyediaan terpisah akan dibuatkan untuk satu galian lain atau pengurungan
yang dilaksanakan. Pekerjaan demikian akan dimasukkan kedalam item pembayaran
yang telah diberikan.

(13)

Peninggian bahu jalan dengan urugan bahan terpilih yang dibawa ke lapangan akan
diukur dalam meter kubik bahan padat yang ditempatkan dan diterima oleh Direksi
Tehnik.

Pemeliharaan Bangunan Jembatan.


(14)

Pekerjaan pemeriksaan dan pembersihan jembatan akan dibayar dalam lump sum.
Pembayaran tersebut termasuk semua jembatan yang ada sepanjang kontrak, tanpa
memandang ukuran atau jenis jembatan.

(15)

Pekerjaan pembersihan dan pengecatan kembali tanda lalu lintas akan dibayar dalam
lump sum. Pembayaran tersebut termasuk tanda lalu lintas yang ada sepanjang kontrak
tanpa memandang ukuran atau jenis tanda lalu lintas.
Semua pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan tersebut diatas,
termasuk perbaikan rambu lalu lintas dan rel pengaman yang lepas atau penempatan
yang salah akan dianggap telah dimasukkan dalam item pembayaran yang telah
diberikan.

9.1.10 Dasar Pembayaran.


(1)

Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan diatas akan dibayar pada harga
kontrak per satuan pengukuran untuk item pembayaran yang tercantum dibawah ini
dan ditunjukkan dalam daftar penalaran, dimana harga-harga dan pembayaran tersebut
merupakan konpensasi penuh untuk penyediaan pemasangan semua bahan-bahan,
untuk semua penyiapan yang diperlukan, penggalian, pemotongan, urugan kembali
dan penyelesaian pekerjaan yang baik yang diuraikan sebelumnya dalam Spesifikasi
ini.

(2)

Berdasarkan pembuktian tertulis dari Direksi Tehnik tentang hasil kerja yang
memuaskan dari kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan
rutin, tiap bulan akan dibayarkan kepada kontraktor dalam tahapan sebagai berikut:
Untuk tiga bulan pertama.
= 37.5% (minimum) s/d 50% (maximum) dari nilai kontrak
Pembayaran bulanan untuk sisa jangka waktu kontrak
= 5.0% (minimum) s/d 12.5% (maximum) dari nilai kontrak

(3)

Jika kontraktor dalam satu bulan tertentu selama masa kontrak gagal melaksanakan
pekerjaan pemeliharaan rutin yang diperintahkan Direksi Tehnik dengan memuaskan.
Direksi Tehnik akan memperingatkan kontraktor secara tertulis. Jika kontraktor tidak
mematuhi peringatan tersebut dalam bulan berikutnya, Direksi Tehnik berhak untuk :
a.

untuk kontrak dengan uang jaminan pelaksanaan, melaksanakan pemeliharaan


yang diperlukan dengan cara lain dan

b.

untuk kontrak tanpa jaminan pelaksanaan membatalkan kontrak dan


melanjutkan pekerjaan dengan cara lain.

NO. MATA
PEMBAYARAN
9.1.1
(1)
(2)
(3)

9.1.2

(4)
(5)
(6)
(7)
(1)
(2)
(3)

9.1.3
9.1.4

9.1.5
9.1.6

(1)
(2)
(1)
(2)
(3)
(1)
(1)

URAIAN
Perkerasan Berpenutup Aspal :
Pelapisan Pelaburan Aspal (Buras)
Perbaikan retak-retak yang lebar
Pelapisan Ulang dengan LAPEN AC dan HRS
Perbaikan dan Penambalan Lubang, Ambles, dll
- Untuk Permukaan penetrasi makadam
- Untuk Permukaan BURDA
- Untuk Permukaan BURTU/BURAS
- Untuk Permukaan LATASTON/LASTON
Perkerasan Tidak Beraspal :
Pengkerikilan Kembali (tebal padat 50 mm)
Pembentukan
kembali
dengan
motor
Grader/Penyapu jalan (pilih salah satu)
Perbaikan Lubang-lubang, Ambles, bekas roda
dan tempat-tempat lunak.
Pemeliharaan dan Perbaikan Drainase :
Pembersihan dan Normalisasi saluran tepi jalan
Pembersihan dan Normalisasi Gorong-gorong
Pemeliharaan Bahu / Tepi jalan:
Kontrol tanaman (rumput, semak, pohon)
Pembentukan dan pemotongan bahu jalan
Peninggian Bahu jalan
Pemeliharaan bangunan jembatan
Pembersihan kanal/saluran lintasan air jembatan
dan lantai jembatan
Pekerjaan Tanda lalu lintas dan rel pengaman
Pembersihan dan pengecatan tanda lalu lintas dan
rel pengaman

SATUAN
PENGUKURAN
M2
M
M2
M2
M2
M2
M2
M2
KM
M2
M
M
M2
KM
M3
LUMP SUM
LUMP SUM

Bab 9.2
PEMELIHARAAN BERKALA
9.2.1

Umum

(1)

Uraian

a.

Pemeliharan berkala mencakup peningkatan umum dan pemulihan keadaan semula


jalan kabupaten, menjaganya selalu dalam keadaan siap pakai. Pekerjaan tersebut
meliputi pembentukan kembali permukaan jalan kerikil dan jalan aspal (dengan lapis

penutup), membangun bahu jalan, bangunan drainase baru dan perbaikan struktural
jembatan.
b.

Untuk tujuan pelaksanaan pemeliharan berkala berdasarkan kontrak, daftar pekerjaan


jalan berikut yang diberikan pada tabel 9.2.1 akan dimasukkan.

Tabel 9.1.2 PEKERJAAN PEMELIHARAAN BERKALA


ITEM
i

ii
iii

iv
v
vi

(2)

LOKASI
URAIAN
PERKERASAN DENGAN - Persiapan untuk pembentukan ulang permukaan
LAPIS PENUTUP ASPAL
termasuk perbaikan lubang-lubang, bagian
ambles pinggiran jalan, bekas roda dan retakretak.
- Pembentukan ulang permukaan, termasuk
lapisan penutup aspal dan lapis ulang.
PERKERASAN TANPA - Persiapan untuk pengkerikilan ulang, termasuk
LAPIS PENUTUP
perbaikan lubang dan tempat-tempat lunak.
- Pengerikilan ulang.
DRAINASE JALAN
- Saluran tanah baru
- Pelapisan (pasangan) saluran baru
- Gorong-gorong baru, termasuk penggantian pipa
gorong-gorong dalam keadaan rusak.
BAHU JALAN
- Pembangunan dan pembentukan ulang bahu
jalan.
JEMBATAN
- Perbaikan struktural
- Penggantian lantai jembatan
- Pengecatan ulang pekerjaan baja
RAMBU LALU LINTAS
- Rambu lalu lintas baru, patok-patok dan rel
pengaman baru.

Spesifikasi acuan.

Untuk kontrak pekerjaan pemeliharaan berkala, kontraktor akan mengacu dan mematuhi babbab yang relevan dari spesifikasi ini termasuk spesifikasi yang tercantum berikut :
- Penyiapan lapis tanah dasar

Bab 3.3

- Rehabilitasi bahu jalan

Bab 4.1

- Lapis pondasi bawah

Bab 5.1

- Lapis pondasi atas agregat

Bab 5.2

- Lapis permukaan kerikil

Bab 6.1

- Lapis aspal pelekat dan lapis aspal resap pelekat

Bab 6.2

- Laburan permukaan aspal

Bab 6.3 & Bab 6.4

- Lapis permukaan penetrasi makadam

Bab 6.5

- Lasbutag

Bab 6.9

- Aspal campuran dingin

Bab 6.11

- Pekerjaan beton

Bab 7.1

- Pasangan batu

Bab 7.4

- Pekerjaan batu dengan siar (batu bata)

Bab 8.1

- Rehabilitasi drainase tepi jalan

Bab 2.2

- Pipa gorong-gorong

Bab 2.5 & Bab 2.6

- Rambu lalu lintas, patok-patok dan rel pengaman

Bab 8.5 & Bab 8.6

(3)

Contoh bahan

a.

Contoh-contoh berbagai bahan yang digunakan dalam pekerjaan pemeliharan berkala


harus diserahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan pada paling sedikit 14
hari sebelum pekerjaan dimulai sesuai dengan instruksi Direksi.

b.

Contoh-contoh tersebut harus khusus untuk lingkup pekerjaan pemeliharaan berkala


yang harus dilaksanakan dan dapat meliputi salah satu atau seluruh bahan-bahan yang
tercantum pada tabel 9.2.2.

(4)

Pembatasan cuaca

Pada umumnya pekerjaan tersebut akan dilaksanakan selama kondisi cuaca kering yang
sebaik-baiknya. Pekerjaan pembentukan ulang permukaan untuk jalan-jalan dengan lapis
penutup dan pengecatan ulang bangunan baja akan dilaksanakan hanya apabila permukaan
masing-masing bersih dan kering.
(5)

Penjadwalan pekerjaan

a.

Bagian dan panjang jalan yang harus dimasukkan kedalam kontrak pemeliharaan
berkala harus diketahui dalam daftar penawaran dan harus ditempatkan serta ditandai
dilapangan oleh direksi tehnik.

b.

Jangka waktu kontrak harus dinyatakan dalam dokumen kontrak dan kontraktor akan
diminta mengadakan pemeriksaan lengkap, panjang jalan dan pekerjaan jalan yang
dimasukkan, dan menyiapkan satu program pekerjaan yang mencakup semua
pekerjaan pemeliharaan berkala yang harus dilaksanakan. Program ini harus
disserahkan kepada direksi tehnik untuk mendapat persetujuan, dan direksi dapat
meminta kontraktor untuk mengadakan penyesuaian seperlunya untuk memenuhi
kewajiban kontraktual dan memenuhi persyaratan spesifikasi ini.

(6)

Pengendalian lalu lintas

kontraktor harus mengatur dengan baik pengendalian lalu lintas bersama dengan penyediaan
rambu-rambu lalu lintas sementara dan pemegang bendera untuk pengendalian dan keamanan
lalu lintas dan pekerja. Pengaturan lalu lintas harus mendapat persetujuan direksi.
(7)

Perbaikan pekerjaan yang tidak memuaskan

Kontraktor akan melaksanakan pekerjaan pemeliharaan berkala yang umumnya sesuai dengan
persyaratan spesifikasi ini dan menurut petunjuk direksi dilapangan. Setiap pekerjaan yang
dianggap oleh direksi tehnik tidak memuaskan karena mutu bahan jelak, penanggalan jelak,
atau kekurangan alat yang cocok, harus diperbaiki sebagaimana diminta oleh direksi tehnik
dan seperti yang diuraikan dalam bab-bab yang relevan dari spesifikasi ini.
9.2.2

Bahan-bahan

(1)

Sumber pengadaan bahan

Sumber untuk bahan jalan harus dipilih atas dasar pengadaan yang tersedia dan struktur jalan
yang ada. Direksi dapat menerima atau menolak bahan-bahan dari sumber-sumber tersebut
atas dasar faktor-faktor diatas dan atas dasar persyaratan spesifikasi yang relevan.
(2)

Kebutuhan bahan

a.

Pada umumnya jenis bahan-bahan yang dipilih untuk melaksanakan pekerjaan


pemeliharaan berkala untuk melapisi aspal dan melapisi kerikil bagi jalan, harus sama
atau lebih baik dari bahan-bahan yang digunakan jalan-jalan yang ada. Dalam segala
hal mutu bahan dan gradasi agregat harus sesuai dengan persyaratan spesifikasi ini.

b.

Jenis bahan yang diperlukan untuk pekerjaan pemeliharaan berkala seperti diuraikan
diatas, tercantum pada tabel 9.2.2.

Tabel 9.2.2

Bahan-bahan untuk pemeliharaan berkala.

LOKASI
LAPIS TANAH DASAR
DAN BAHU JALAN
YANG ADA

BAHAN
Bahan pilihan ( PI 10%)

SPESIFIKASI
Bab 3.3

LAPIS PONDASI
BAWAH DAN BAHU
JALAN KERAS

Bahan lapis pondasi bawah :


Kelas A ( < 75 mm )
Kelas B ( < 62.5 mm )

Bab 5.1

LAPIS PONDASI ATAS


PERMUKAAN
KERIKIL
PERKERASAN
DENGAN PENUTUP
ASPAL

Bahan lapis pondasi atas :


Kelas A Agregat ( < 37.5mm )
Kelas B Makadam Ikat basah ( < 75 mm )
Kerikil < 25 mm atau 19 mm

Lap. Aspal pelekat & resap pelek


Laburan permukaan Aspal
Penetrasi makadam
5 cm
LATASTON (HRS)
3 cm
Aspal Beton (Lataston) 5 cm
Lasbutag
3 cm
Aspal campur dingin
5 cm
DRAINASE
Item-item umum untuk rehabilitasi
Pipa gorong-gorong
Bahan drainase porous
Pasangan batu dengan siar
Beton
RAMBU LALU LINTAS Rambu lalu lintas, Patok petunjuk dan patok
DAN PATOK-PATOK
Kilometer balok rel pengaman dari baja
(3)

Bab 5.2
Bab 6.1
Bab 6.2
Bab 6.3/6.4
Bab 6.5
Bab 6.6
Bab 6.8
Bab 6.9
Bab 6.11
Bab 2.2
Bab 2.5/2.6
Bab 2.7
Bab 8.1
Bab 7.1
Bab 8.5
Bab 8.6

Syarat-syarat kualitas

Sebelum suatu sumber bahan dipilih, kontraktor harus menyerahkan rincian sumber
pengadaan bersama-sama dengan data uji yang relevan, yang menunjukkan kecocokkan
dengan persyaratan spesifikasi yang mengacu pada tabel 9.2.2. Direksi dapat meminta
kontraktor untuk menyerahkan contoh bahan dan melaksanakan suatu ujian lebih lanjut yang
dianggap perlu sebelum memberikan persetujuan.
9.2.3

Pelaksanaan Pekerjaan

(1)

Jalan kerikil

a.

Perawatan

Kebutuhan-kebutuhan yang utama meliputi :

b.

Motor grader dengan pisau dan gandengan garukan

Mesin gilas

Tangki air

Alat bantu, termasuk garuk, sekop dan gerobak dorong


Perbaikan lubang-lubang dan tempat lunak
Lubang-lubang dan tempat-tempat harus diperbaiki dengan tangan yang sesuai dengan
instruksi direksi dan dengan cara sebagai berikut :

i.

Lubang-lubang harus dipotong kembali dan dibuat kotak sampai permukaan


tanah dasar. Tanah dasar tersebut harus dipadatkan dengan baik dan lubanglubang diisi kembali dengan bahan kelas A sebagaimana disyaratkan, yang
akan ditaruh dan dipadatkan dalam lapisan-lapisan 10cm

ii.

Permukaan bagian atas akan dipasangi dengan kerikil sebagaimana ditetapkan,


setebal 10 cm dan dipadatkan dengan mesin gilas. Luas yang kecil dapat
dipadatkan dengan mesin tumbuk.

c.

Pembentukan ulang permukaan jalan kerikil.


i.

Bahan-bahan berbutir untuk pengkerikilan ulang permukaan yang ada akan


dipilih sesuai dengan persyaratan sub Bab 6.1.2 dan ditempatkan dilapangan,
siap disebarkan. Bila bahan-bahan lebih dari satu sumber digunakan dalam
kombinasi, bahan tersebut harus dicampur ditempat pekerjaan.

ii.

Permukaan kerikil yang ada harus dikupas sampai kedalaman sekitar 5 cm


dengan motor grader, untuk memberikan sebuah penguncian antara bahan yang
ada dan bahan yang baru, dan ujung-ujung jalan harus dikurung.

iii.

Bahan-bahan berbutir akan ditempatkan dan dicampur menyeluruh dalam


keadaan kering menggunakan tenaga kerja dan motor grader. Jika perlu akan
ditambahkan air dan pekerjaan berlanjut untuk menyesuaikan kandungan air
sampai kadar kelembaban optimum dan menjamin satu kadar kelembaban yang
seragam diseluruh bahan terpasang. Bilamana bahan tersebut telah dihampar
dengan rata di atas jalan pada kadar kelembaban yang benar, bahan tersebut
dibentuk miring sampai satu punggung jalan atau kemiringan melintang 4%
mengikuti petunjuk Direksi.

iv.

Secepatnya setelah pencampuran dan penghamparan diselesaikan, bahan


permukaan berbutir tersebut harus dipadatkan diseluruh lebar jalan
menggunakan sebuah mesin gilas roda baja atau mesin gilas ban bertekanan
ataupun alat tumbuk lainnya yang dapat di terima Direksi Teknik. Penggilasan
harus dimulai dipinggiran jalan dan bekerja menuju kebagian tengah.
Permukaan-permukaan yang tidak rata harus diperbaiki dengan mengupas
tempat-tempat tinggi, mengisi dan memadatkan tempat-tempat yang rendah
demikian sehingga permukaan akhir seragam dan rata.

v.

Bahan permukaan berbutiran tersebut harus dihampar dan dipadatkan dalam


lapis-lapis dengan tebal padat tidak kurang dari 10 cm, sehingga kepadatan
yang ditetapkan dapat dicapai dengan alat yang tersedia. Bila diperlukan lebih

dari satu lapisan, setiap lapisan harus dipadatkan dan dibentuk sebelum lapisan
berikutnya di pasang.
vi.

Pemadatan akan berlanjut sampai masing-masing lapisan dipadatkan mencapai


100% kepadatan maksimum (AASHTO T99) dan penambahan sejumlah kecil
abu batu plastisitas rendah atau pasir dapat diizinkan dalam tahap akhir
pemadatan untuk memudahkan pengikatan dan stabilisasi lapis permukaan
tersebut.

vii.

Bahan permukaan berbutir tersebut yang dipasang ditempat dimana tidak dapat
dimasuki mesin gilas harus dipadatkan menggunakan mesin tumbuk yang
disetujui.

(2)

Perkerasan dengan Lapis Penutup


Perkerasan perbaikan dan pemulihan keadaan semula sebagaimana diuraikan pada
Tabel 9.1.2 akan diperlakukan terhadap cacat-cacat perkerasan berikut :
i.

Kemerosotan Permukaan
-

Karena mutu yang jelek dari tekstur permukaan dan oxidasi atau terlalu
panasnya bahan pengikat.

ii.

Kehancuran Lapis Pondasi Atas


-

Karena lapis tanah dasar yang lunak, kurang pemadatan, mutu agregat
yang jelek.

iii.

Kehancuran Lapis Pondasi Bawah


-

Karena drainase yang tidak memadai dan lapis tanah dasar yang basah,
atau mutu lapis tanah dasar jelek dan kurang pemadatan.

a.

Peralatan

Kebutuhan pokok meliputi :


-

Mesin gilas yang dipilih dari daftar berikut yang tergantung kepada jenis pekerjaan :
-

Mesin gilas roda baja 6 8 ton

Mesin gilas ban pneumatic (dengan balast)

Mesin gilas bergetar 6 ton

Mesin gilas kecil 1 2 ton

Distributor/penyemprot aspal bertekanan dengan batang semprotan dan slang tangan


(termasuk alat pemanas aspal)

Mesin tumbuk

Alat-alat bantu , meliputi sekop, garu, sapu dan gerobak dorong.

b.

Perbaikan Lubang-lubang, bagian ambles dan pinggiran hancur


i.

Bahan-bahan
Pemilihan bahan-bahan dibuat dengan mengacu kepada Tabel 9.2.2 dan yang
sesuai dengan instruksi Direksi berdasarkan jenis perkerasan jalan yang harus
diperbaiki.

ii.

Perbaikan Permukaan Penetrasi Makadam


-

Galilah lubang atau ambles ke bawah sampai pondasi, potongan sisi


persegi dan buanglah semua bahan-bahan lepas, jika perlu, buang juga
bahan-bahan tanah dasar yang rusak.

Gantilah jika perlu dengan bahan tanah dasar yang disetujui dan padatkan
dengan mesin tumbuk. Oleskan sedikit aspal lapis pelekat panas atau
emulsi dingin dengan semprotan tangan mengenai dasar dan sisi-sisinya.

Tempatkan agregat lapis pondasi atas dalam lapisan-lapisan 10 cm


(tergantung kepada kedalaman) dan ditumbuk. Bangunlah lapis pondasi
atas tersebut ke atas sampai 5 cm dari permukaan perkerasan.

Taruhlah agregat kasar (yang sesuai dengan Sub Bab 6.5.2) sampai
ketinggian permukaan dan padatkan dengan mesin gilas

atau alat

tumbuk tangan, bila perlu tambahkan lagi agregat.


-

Semprotkan bahan pengikat aspal dengan semprotan tangan pada tingkat


penyemprotan 0.5 l/m2 atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
dalam jumlah yang cukup untuk menerobos sampai dasar lapis
permukaan agregat kasar. Juga semprotkan sedikit kepada perkerasan
disekitarnya dalam batas 5 cm dari perbaikan.

Taburkan ke lapisan permukaan yang diperbaiki dengan agregat kunci


atau pasir kasar dan padatkan dengan mesin gilas bergetar.

iii.

Penyelesaian permukaan dengan Aspal Campuran Dingin


-

Ikutilah tiga langkah pertama yang diberikan untuk penetrasi makadam di


atas.

Oleskan lapis aspal pelekat mencapai agregat lapis pondasi atas dan
letakkan aspal campuran dingin yang sudah disiapkan di atas, satu tebal
padat 5 cm, berhenti di ketinggian sedikit diatas permukaan.

iv.

Selesaikan dengan pemadatan akhir menggunakan mesin gilas bergetar.

Penyelesaian permukaan dengan Laburan Aspal Permukaan (BURTU DAN


BURDA)

Ikutilah empat langkah pertama yang diberikan untuk Penetrasi


Makadam sampai ketinggian permukaan.

Semprotkan bahan pengikat aspal di atas agregat kasar pada tingkat


penyemprotan sekitar 1.5 l/m2.

Taburkan lapis pertama laburan agregat penutup sampai menutupi dan


mengisi rongga seluruhnya, menggunakan agregat ukuran tunggal 19
mm, terkecuali dinyatakan lain, dan padatkan dengan mesin gilas
bergetar.

Semprotkan bahan pengikat aspal lapis kedua pada tingkat semprotan


sekitar 1 l/m2.

Taburkan lapis kedua laburan agregat penutp menggunakan agregat


ukuran tunggal 6 mm 9.5 mm dan digilas sampai penyelesaian akhir
permukaan yang memuaskan.

c.

Perbaiakn retak permukaan perkerasan dengan Lapis Penutup Aspal


Semua retak-retak harus diisi dengan salah satu dari dua cara berikut sebelum
pembentukan ulang permukaan.
i.

Pelapisan penutup untuk retak-retak halus (BURAS)


Retak-retak halus harus ditutup oleh pelapisan permukaan perkerasan dengan
aspal yang dipilih dari aspal cair atau aspal emulsi. Kemudian permukaan
tersebut harus diratakan dengan agregat halus atau pasir. Semua pekerjaan
harus patuh kepada persyaratan Bab 6.4.

ii.

Penutupan setempat sampai retak-retak yang luas


Bila retk-retak terbatas dalam perkerasan adalah terlalu lebar untuk dilapisi
dengan BURAS, cara pilihannya adalah melapisi masing-masing retak tersebut
sendiri-sendiri.
-

Sebelum pelapisan, retak-retak lebar tersebut digaruk-garuk membuang


semua kotoran dan sampah.

Aspal cair atau aspal emulsi kemudian dituangkan dengan ember ke


dalam masing-masing retak sehingga retak-retak tersebut terpenuhi.

Agregat halus ditambahkan, dan pasir akan ditaburkan ke permukaan


tersebut sebagai penyerap bagi aspal, lebihan, secepatnya setelah
penuangan.

d.

Pembentukan Ulang Permukaan Perkerasan dengan Lapis Penutup Aspal

i.

Pada penyelesaian pekerjaan persiapan, permukaan perkerasan harus diperiksa


oleh Direksi Tehnik untuk mendapatkan persetujuan akhir sebelum
pembentukan ulang permukaan (resur facing) perkerasan dimulai.

ii.

Panjang sebenarnya perkerasan yang harus dibuat dilapis ulang permukaan


(resurfacing), harus diketahui secara jelas dan ditandai di lapangan, serta
semua bahan-bahan dan pilihan peralatan yang diperlukan harus dibawa ke
lapangan.

iii.

Pekerjaan pembentukan ulang permukaan (resurfacing) dan lapis ulang


(overlay) sebagaimana diuraikan dalam Daftar Penawaran dan sebagaimana
diperlukan oleh Direksi Tehnik harus dilaksanakan dengan mematuhi
persyaratan-persyaratan Bab-bab yang terpakai dari Sub Bab 9.2.1 (2).

(3)

Pembangunan dan Pembentukan Baru Bahu Jalan

a.

Pekerjaan bahu jalan meliputi pembersihan tumbuh-tumbuhan dan semak-semak


pemotongan, pembentukan ulang, penimbunan, perapihan dan pemadatan mencapai
garis, tingkat dan kemiringan melintang yang diperlukan sebagaimana ditunjukkan
pada gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Tehnik. Semua pekerjaan
harus mematuhi persyaratan-persyaratan Bab 4.1 dan 4.2 Spesifikasi ini :

b.

Peralatan
Peralatan meliputi :

c.

Motor grader atau traktor dilengkapi dengan pisau

Mesin gilas bergetar

Alat bantu termasuk garu, sekop, gerobak dorong

Bahan-bahan
i.

Untuk membangun bahu jalan yang ada, bahan yang harus dipakai adalah
urugan timbunan terpilih memenuhi persyaratan Sub Bab 3.2.2.

ii.

Untuk menyediakan bahu jalan baru, bahan yang harus dipergunakan harus
bahan lapis pondasi bawah yang disetujui, memenuhi persyaratan Sub Bab
5.1.2.

d.

Pelaksanaan
i.

Pembentukan ulang bahu jalan yang ada, meliputi pemotongan tempat-tempat


tinggi, penimbunan daerah rendah, dibentuk lagi sampai ke garis, ketinggian
dan kemiringan melintang, dan pemadatan akhir harus seperti yang ditetapkan
pada Bab 9.1 Spesifikasi ini.

ii.

Pembangunan

bahu

jalan

baru,

meliputi

pengadaan,

pemasangan,

penghamparan dan pemadatan bahan pondasi bawah berbutiran terpilih di atas


lapis tanah dasar yang sudah disiapkan yang dipadatkan sampai ke garis dan
ketinggian, harus seperti yang ditetapkan pada Bab 4.1 Spesifikasi ini.
(4)

Satuan Tepi Jalan dan Gorong-gorong Baru

Perbaikan saluran dan gorong-gorong yang ada pada umumnya dimasukkan di bawah
Pemeliharaan Rutin.
Pekerjaan Pemeliharaan Berkala mencakup:
-

Perluasan saluran yang ada

Penyediaan saluran baru

Pembangunan saluran baru yang dilapisi

Penggantian pipa gorong-gorong yang rusak

Pembangunan gorong-gorong pipa baru, beserta dinding kepala dan dinding sayap.

a.

Bahan-bahan

Bahan-bahan yang akan dipilih harus sesuai dengan persyaratan untuk pekerjaan khusus dan
menurut petunjuk Direksi Tehnik untuk mematuhi persyaratan-persyaratan Spesifikasi ini.
b.

Pelaksanaan
i.

Semua pekerjaan perbaikan besar dan pekerjaan-pekerjaan baru harus


dilaksanakan dengan mematuhi Bab masing-masing Spesifikasi ini dan
sebagaimana diperintahkan Direksi di lapangan.

ii.

Pekerjaan tersebut harus seperti diuraikan dalam Daftar Penawaran dan akan
dikenali (diidentifikasi) serta ditandai dengan jelas dilapangan oleh Direksi
Tehnik.

iii.

Setiap pekerjaan tak terduga yang tidak terlihat atau tidak diantisipasi
(ditanggapi) pada tahap persiapan dan yang di dalam pendapat Direksi Tehnik
tidak disediakan dimana saja, harus dilaksanakan di bawah perintah tertulis dan
disetujui Direksi Tehnik. Pekerjaan tersebut akan dimasukkan dalam item
pembayaran yang bersangkutan atau ke dalam pekerjaan harian bila tidak ada
item pembayarannya.

(5)

Perbaikan Struktur dan Pengecatan Jembatan

Semua pekerjaan di bawah item ini harus diketahui dan dilaksanakan dibawah petunjuk
Direksi Tehnik. Bahan-bahan dan penanganannya harus dalam kesesuaian yang penuh dengan
Petunjuk Pemeliharaan Jembatan Kabupaten dan Spesifikasi Jembatan yang terpisah.
(6)

Rambu Lalu Lintas, patok-patok dan Rel Pengaman Baru

a.

Pekerjaan-pekerjaan untuk penggantian dan penyediaan rambu lalu lintas, patok


kilometer/patok petunjuk dan rel pengaman yang baru, harus dilaksanakan sesuai
dengan persyaratan Bab 8.5 dan Bab 8.6 Spesifikasi ini.

b.

Bahan-bahan
i.

Rambu-rambu dan pelat-pelat lalu lintas harus dipabrikasi secara baik dan
dicat sebagaimana diuraikan dalam Spesifikasi dan seperti ditunjukkan pada
gambar standar dan harus berupa tanda-tanda, warna-warna, jenis dan luas
yang memantulkan yang diuraikan sebelumnya oleh DLLAJR.
Sebuah daftar kebutuhan sebenarnya, akan disediakan oleh Direksi sebelum
pabrikasi dan pengadaan.

ii.

Patok kilometer, patok petunjuk dari beton, akan dibuat pracetak menggunakan
beton kelas K175 dengan penulangan sebagaimana ditunjukkan pada gambar
standar. Kebutuhan sebenarnya akan dipasok oleh Direksi Tehnik sebelum
pembuatan.

iii.

Rel pengaman balok baja akan disediakan galvanisasi kecuali dinyatakan lain
dan akan memenuhi persyaratan Spesifikasi AASHTO M180 (Gambar 1)
untuk potongan balok W. Rel-rel akan dipasok lengkap dengan bagian ujung,
sambungan-sambungan , blok-blok pemisah, dan patok rel pengaman, semua
sebagaimana ditentukan dalam daftar penawaran.

(4)

Bahan aspal untuk Lapis Aspal Pelekat dan lapis aspal resap pelekat, dan untuk lapis
penutup retak-retak lebar, akan diukur dalam liter bahan aspal yang dipasok dan pakai
yang tercatat dan diterima oleh Direksi Tehnik.

(5)

Pembentukan ulang permukaan (resurfacing) dan lapis ulang (overlay) kepada


perkerasan dengan lapis penutup yang diperlukan untuk Pemeliharaan Berkala dan
Mengacu kepada Sub Beb 9.1.2 (2) akan diukur untuk pembayaran sebagaimana
dinyatakan di bawah.

Laburan Aspal Permukaan (BURTU DAN BURDA)

- meter persegi

Laburan Permukaan Aspal Pasir (BURAS)

- meter persegi

Lapisan permukaan Penetrasi Makadam

- meter persegi

Lasbutag (pekerjaan kecil) (lapis ulang 3 cm)

- meter persegi

Aspal campuran dingin (pekerjaan kecil) (lapis ulang)

- meter persegi

Pengukuran akan meliputi pengadaan semua bahan, pencampuran, penempatan,


pemadatan dan penyelesaiaan sampai disetujui Direksi Tehnik.
(6)

Pembangunan dan Pembentukan ulang bahu jalan yang ada, membuat bahu jalan baru,
termasuk pemadatan akhir, akan diukur untuk pembayaran dalam meter kubik dari
bahan pilihan atau butiran terpasang dan dipadatkan , yang dicatat dan diterima
Direksi Tehnik.

(7)

Pekerjaan drainase jalan sebagaimana diuraikan pada Tabel 9.2.1 akan diukur untuk
pembayaran sebagaimana dinyatakan dibawah ini :
-

Saluran tanah baru

- meter kubik

Saluran dilapisi baru; Pekerjaan batu dengan siar

- meter kubik

Urugan kembali bahan porous


Beton
-

Gorong-gorong baru; pipa beeton baja bergelombang

Dinding kepala/sayap 9termasuk dibawah item pembayaran


untuk saluran dilapisi)

- meter kubik
-meter kubik

Pengukuran akan meliputi penyediaan semua bahan, penggalian, pemasangan,


pemadatan, urugan kembali dan penyelesaian sehingga disetujui Direksi Tehnik.
(8)

Rambu-rambu lalu lintas, patok kilometer dan patok petunjuk yang baru akan diukur
untuk pembayaran sebagai jumlah yang dipasok dan terpasang sesuai dengan instruksi
Direksi Tehnik. Pekerjaan tersebut meliputi semua pabrikasi, pangadaan, pemasangan
dan penyelesaian sampai disetujui Direksi Tehnik.

(9)

Rel pengaman balok baja akan diukur untuk pembayaran dalam meter panjang rel
pengaman terpasang dan diterima Direksi Tehnik. Penyediaan terpisah akan dibuat
untuk penyediaan dan pemasangan batang-batang ujung dan patok rel pengaman,
yang akan diukur untuk pembayaran sebagai jumlah satuan yang dipasok dan dipasang

pada posisinya dengan baik. Tidak ada penyediaan terpisah akan dibuat untuk
penggalian urugan kembali dan pengecatan serta semua pekerjaan tersebut akan
dimasukkan dalam satuan harga untuk rel pengaman.
(10)

Perbaikan Struktural Jembatan


Bila dilaksanakan di bawah kontrak pekerjaan pemeliharaan berkala, perbaikan
struktural jembatan, termasuk penggantian lantai jembatan dan pengecatan ulang
pekerjaan baja (pekerjaan mana dapat secara jelas dikenali dan diukur) akan diukur
untuk pembayaran sebagai berikut.
-

Mengganti beton struktural yang tidak sempurna kelas K227 - meter kubik

Tambahan untuk penyediaan dan pemasangan baja tulangan - kilogram

Penambalan dengan adonan khusus

- kilogram

Penggantian pekerjaan baja

- kilogram

Penggantian lantai kayu

- meter kubik

Pembersihan dan pengecatan bangunan baja

- meter persegi

Cetakan (begisting)

- meter persegi

Semua pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan jembatan yang
baik yang telah diuraikan, termasuk pabrikasi, penyediaan semua bahan, pemotongan,
pemasangan dan penyelesaian sehingga disetujui Direksi Tehnik, akan dianggap telah
dimasukkan dalam item pembayaran yang telah diberikan.
(11)

Untuk setiap jenis perbaikan atau pemulihan keadaan semula lainnya, dimana dalam
pendapat Direksi Tehnik tidak ada item pembayaran yang relevan atau cocok,
pekerjaan tersebut akan diukur dan dibayar pada dasar Pekerjaan Harian, tergantung
kepada pemberitahuan tertulis oleh Direksi Tehnik.

9.2.6

Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas akan dibayar pada harga kontrak
persatuan pengukuran untuk item pembayaran yang tercantum di bawah dan ditunjukkan
dalam Daftar Penawaran, dimana harga-harga dan pembayaran tersebut merupakan penuh
untuk penyediaan dan pemasangan semua bahan-bahan, untuk semua penyiapan yang
diperlukan, penggalian, pemotongan, pabrikasi, urugan kembali dan penyelesaian, serta

pekerjaan atau biaya-biaya lainnya yang diperlukan atau yang biasa bagi penyelesaian
pekerjaan yang baik yang diuraikan sebelumnya dalam Spesifikasi ini.

Tondano,
PENAWAR,

(....................................)
DIREKTUR

Anda mungkin juga menyukai