Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Rongga Mulut


2.1.1. Rongga Mulut
Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri
dari : lidah bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah),
palatum durum (palatum keras), dasar dari mulut, trigonum
retromolar, bibir, mukosa bukal, alveolar ridge, dan gingiva.
Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang
membatasi rongga mulut. Rongga mulut yang disebut juga
rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras,
palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral
masing-masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari
pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya,
pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih
berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang
menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit
dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir
pada bagian bibir.2

Gambar 2.1. Anatomi Rongga Mulut


2.1.2. Gigi

3 Mei 2015

Manusia memiliki dua buah perangkat gigi, yang akan tampak


pada periode kehidupan yang berbeda. Perangkat gigi yang
tampak

pertama

deciduous

teeth.

pada

anak-anak

Perangkat

kedua

disebut
yang

gigi

susu

muncul

atau

setelah

perangkat pertama tanggal dan akan terus digunakan sepanjang


hidup, disebut sebagai gigi permanen. Gigi susu berjumlah dua
puluh empat buah yaitu : empat buah gigi seri (insisivus), dua
buah gigi taring (caninum) dan empat buah geraham (molar)
pada setiap rahang. Gigi permanen berjumlah tiga puluh dua
buah yaitu : empat buah gigi seri, dua buah gigi taring, empat
buah gigi premolar, dan enam buah gigi geraham pada setiap
rahang (Seeley et al., 2008). Gigi susu mulai tumbuh pada gusi
pada usia sekitar 6 bulan, dan biasanya mencapai satu
perangkat lengkap pada usia sekitar 2 tahun. Gigi susu akan
secara bertahap tanggal selama masa kanak-kanak dan akan
digantikan oleh gigi permanen.2

Gambar 2.2. Gigi Susu dan Gigi Permanen


Gigi melekat pada gusi (gingiva), dan yang tampak dari luar
adalah bagian mahkota dari gigi. Mahkota gigi mempunyai lima
buah permukaan pada setiap gigi. Kelima permukaan tersebut
adalah bukal (menghadap kearah pipi atau bibir), lingual
(menghadap kearah lidah), mesial (menghadap kearah gigi),
distal (menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah (oklusal

4 Mei 2015

untuk gigi molar dan premolar, insisal untuk insisivus, dan


caninus). Bagian yang berada dalam gingiva dan tertanam pada
rahang dinamakan bagian akar gigi. Gigi insisivus, caninus, dan
premolar masing-masing memiliki satu buah akar, walaupun gigi
premolar pertama bagian atas rahang biasanya memiliki dua
buah akar. Dua buah molar pertama rahang atas memiliki tiga
buah akar, sedangkan molar yang berada dibawahnya hanya
memiliki dua buah akar.

Bagian mahkota dan akar dihubungkan oleh leher gigi. Bagian


terluar dari akar dilapisi oleh jaringan ikat yang disebut
cementum, yang melekat langsung dengan ligamen periodontal.
Bagian yang membentuk tubuh dari gigi disebut dentin. Dentin
mengandung banyak material kaya protein yang menyerupai
tulang. Dentin dilapisi oleh enamel pada bagian mahkota, dan
mengelilingi sebuah kavitas pulpa pusat yang mengandung
banyak struktur jaringan lunak (jaringan ikat, pembuluh darah,
dan jaringan saraf) yang secara kolektif disebut pulpa. Kavitas
pulpa akan menyebar hingga ke akar, dan berubah menjadi kanal
akar. Pada bagian akhir proksimal dari setiap kanal akar, terdapat
foramen apikal yang memberikan jalan bagi pembuluh darah,
saraf, dan struktur lainnya masuk ke dalam kavitas pulpa2
3.1.3. Periodontium
Periodontium adalah jaringan yang menyangga atau yang
terdapat disekitar gigi. Anatomi periodontium terdiri dari : 1.
Gingiva 2. Ligamen periodontal 3. Sementum 4. Tulang alveolus
1. Gingiva
Gingiva adalah bagian mukosa mulut yang mengelilingi
gigi. Gingiva melekat pada gigi dan tulang alveolar. Pada
permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara
jelas dibatasi mukosa mulut yang lebih dapat bergerak oleh
garis yang bergelombang disebut perlekatan mukogingiva.
Garis demarkasi yang sama juga ditemukan pada aspek

5 Mei 2015

lingual mandibular antara gingival dan mukosa mulut. Pada


palatum, gingiva menyatu dengan palatum dan tidak ada
perlekatan mukogingiva yang nyata 6 Gingiva dibagi
menjadi tiga menurut daerahnya yaitu marginal gingival,
attached

gingival

dan

gingival

interdental.

Marginal

gingival adalah bagian gingival yang terletak pada daerah


korona dan tidak melekat pada gingiva. Dekat tepi gingiva
terdapat suatu alur dangkal yang disebut sulkus gingiva
yang mengelilingi setiap gigi. Pada gigi yang sehat
kedalaman sulkus gingival bervariasi sekitar 0,5 2 m.
Attached gingiva merupakan kelanjutan dari marginal
gingiva. Jaringan padat ini terikat kuat dengan periosteum
tulang alveolar dibawahnya. Permukaan luar dari attached
gingiva terus memanjang ke mukosa alveolar yang lebih
kendur dan dapat digerakkan, bagian tersebut disebut
mucogingival juntion. Interdental gingiva mewakili gingiva
embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal dibawah
tempat

berkontaknya

gigi.

Interdental

gingiva

dapat

berbentuk piramidal atau berbentuk seperti lembah .


Suplai darah pada gingiva melalui 3 jalan yaitu:
o arteri yang terletak lebih superfisial dari periosteum,
mencapai gingiva pada daerah yang berbeda di rongga
mulut

dari cabang arteri alveolar yaitu arteri infra

orbital, nasopalatina, palatal, bukal, mental dan lingual


o Pada
daerah
interdental
percabangan
arteri
intrasepatal.
o Pembuluh darah pada ligamen periodontal bercabang
ke luar ke arah gingival. Suplai saraf pada periodontal
mengikuti pola yang sama dengan distribusi suplai
darah
2. Ligamen periodontal
Ligamen periodontal adalah suatu jaringan ikat yang
melekatkan
6 Mei 2015

gigi

ke

tulang

alveolar.

Ligamen

ini

berhubungan dengan jaringan ikat gingiva melalui saluran


vaskuler di dalam tulang. Pada foramen apikal, ligament
periodontal menyatu dengan pulpa. . Ligamen periodontal
seperti semua jaringan ikat lain, mengandung sel, seratserat dan subtansi dasar. Serat ligamen periodontal ada
yang berbentuk krista aleveolar, horizontal, oblik dan
apikal. Suplai darah melalui cabang arteri alveolar yaitu
cabang arteri interdental.
3. Sementum
Sementum adalah jaringan terminal yang menutupi akar
gigi yang strukturnya mempunyai beberapa kesamaan
dengan tulang kompakta dengan perbedaan sementum
bersifat avaskuler. Sementum membentuk lapisan yang
sangat tipis pada daerah servikal akar dan tebalnya
bertambah pada daerah apikal.
4. Tulang alveolar
Bagian mandibula atau maksila yang menjadi lokasi gigi
disebut sebagai prosesus alveolar. Alveoli untuk gigi ditemukan
di dalam prosesus alveolar dan tulang yang membatasi alveoli
disebut tulang alveolar. Tulang alveolar berlubang-lubang karena
banyak saluran Volkman yang mengandung pembuluh darah
pensuplai ligamen periodontal.
2.2 Ekstraksi Gigi
2.2.1 Definisi Ekstraksi Gigi
Ekstraksi gigi adalah cabang dari ilmu kedokteran gigi yang
menyangkut pencabutan gigi dari soketnya pada tulang alveolar.
Ekstraksi gigi yang ideal yaitu penghilangan seluruh gigi atau
akar gigi dengan minimal trauma atau nyeri yang seminimal
mungkin sehingga jaringan yang terdapat luka dapat sembuh
dengan baik dan masalah prostetik setelahnya yang seminimal
mungkin.

1,3,4

7 Mei 2015

Hal hal yang perlu diperhatikan selama ekstraksi gigi adalah :

Anestesi

Elevasi mukogingival flap

Penghilangan tulang

Bagian tulang yang terlibat

Pengangkatan gigi bersama akarnya

Kontrol perdarahan

Alveoplasty jika dibutuhkan

Penutupan soket alveolar

Penjahitan flap

Perawatan

gigi

memiliki

tujuan

utama

mempertahankan

keberadaan gigi selama mungkin di rongga mulut, namun


terkadang

pencabutan

gigi

diindikasikan

sebagai

tindakan

terbaik untuk mencegah keadaan yang lebih buruk. Indikasi dan


kontraindikasi

sebaiknya

perlu

diketahui

sebelum

tindakan

pencabutan gigi.5,6
2.2.2 Indikasi
Di bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan
gigi.4
a) Karies yang parah
Sejauh ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat
bagi dokter gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan
pencabutan.
b) Nekrosis pulpa
Adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak
diindikasikan

untuk

perawatan

endodontik,

perawatan

endodontik yang telah dilakukan ternyata gagal untuk


menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk
pencabutan.
c) Penyakit periodontal yang parah
8 Mei 2015

Jika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama


beberapa waktu, maka akan nampak kehilangan tulang
yang berlebihan dan mobilitas gigi yang irreversible. Dalam
situasi seperti ini, gigi yang mengalami mobilitas yang
tinggi harus dicabut.
d) Alasan orthodontik
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering
membutuhkan pencabutan gigi untuk memberikan ruang
untuk keselarasan gigi. Gigi yang paling sering diekstraksi
adalah premolar satu rahang atas dan bawah, tetapi premolar kedua dan gigi insisivus juga kadang kadang
memerlukan pencabutan dengan alasan yang sama.
e) Gigi yang mengalami malposisi
Jika malposisi gigi menyebabkan trauma jaringan lunak dan
tidak dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi, gigi
tersebut harus diekstraksi.
f) Gigi yang retak
Indikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi, bahkan
prosedur restorative endodontik dan kompleks tidak dapat
mengurangi rasa sakit akibat gigi yang retak tersebut.
g) Pra-prostetik ekstraksi
Terkadang gigi mengganggu desain dan penempatan yang
tepat dari peralatan prostetik seperti gigi tiruan penuh, gigi
tiruan sebagian lepasan atau gigi tiruan cekat sehingga
perlu dicabut.
h) Gigi impaksi
Gigi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan
pencabutan. Jika terdapat sebagian gigi yang impaksi maka
oklusi fungsional tidak akan optimal karena ruang yang
tidak

memadai,

maka

harus

dilakukan

bedah

pengangkatan gigi impaksi tersebut. Namun, jika dalam


mengeluarkan gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi

9 Mei 2015

seperti pada kasus kompromi medis, impaksi tulang penuh


pada pasien yang berusia diatas 35 tahun atau pada
pasien usia lanjut, maka gigi impaksi tersebut dapat
dibiarkan.
i) Supernumary gigi
Gigi yang mengalami supernumary biasanya merupakan
gigi impaksi yang harus dicabut. Gigi supernumary dapat
mengganggu erupsi gigi dan memiliki potensi untuk
menyebabkan resorpsi gigi tersebut.
j) Gigi yang terkait dengan lesi patologis
Gigi

yang

terkait

dengan

lesi

patologis

mungkin

memerlukan pencabutan. Dalam beberapa situasi, gigi


dapat

dipertahankan

dan

terapi

endodontik

dapat

dilakukan. Namun, jika mempertahankan gigi dengan


operasi lengkap pengangkatan lesi, gigi tersebut harus
dicabut.
k) Terapi pra-radiasi
Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor
oral harus memiliki pertimbangan yang serius terhadap
gigi untuk dilakukan pencabutan.
l) Gigi yang mengalami fraktur rahang
Dalam sebagian besar kondisi gigi yang terlibat dalam
garis fraktur dapat dipertahankan, tetapi jika gigi terluka
maka pencabutan mungkin diperlukan untuk mencegah
infeksi.
m) Estetik
Terkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk
alasan estetik. Contoh kondisi seperti ini adalah yang
berwarna karena tetrasiklin atau fluorosis, atau mungkin
malposisi yang berlebihan sangat menonjol.
n) Ekonomis

10 Mei 2015

Semua indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan di


atas dapat menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak
mampu secara finansial untuk mendukung keputusan
dalam mempertahankan gigi tersebut. Ketidakmampuan
pasien untuk membayar prosedur tersebut memungkinkan
untuk dilakukan pencabutan gigi.

2.2.3 Kontraindikasi
Semua kontraindikasi baik lokal ataupun sistemik, dapat relatif
atau mutlak bergantung pada kondisi umum pasien.

7,8

1) Kontraindikasi relatif

Lokal
o Periapikal patologi, jika pencabutan gigi dilakukan
maka infeksi akan menyebar luas dan sistemik, jadi
antibiotik

harus

diberikan

sebelum

dilakukan

pencabutan gigi.
o Adanya infeksi oral seperti Vincents Angina, Herpetic
gingivostomatitis. Hal ini harus dirawat terlebih dahulu
sebelum dilakukan pencabutan gigi.
o Perikoronitis akut, perikoronitis harus dirawat terlebih
dahulu sebelum dilakukan pencabutan pada gigi yang
terlibat, jika tidak maka infeksi bakteri akan menurun
ke bagian bawah kepala dan leher.
o Penyakit ganas, seperti gigi yang terletak di daerah
yang terkena tumor. Jika dihilangkan bisa menyebarkan
sel sel dan dengan demikian mempercepat proses
metastatik.

11 Mei 2015

o Pencabutan gigi pada rahang yang sebelumnya telah


dilakukan

iradiasi

dapat

menyebabkan

osteoradionekrosis, oleh karena itu harus dilakukan


tindakan

pencabutan

yang

sangat

ekstrem

atau

khusus.

Sistemik
o Diabetes tidak terkontrol, pasien diabetes lebih rentan
terhadap infeksi dan proses penyembuhan lukanya
akan lebih lama. Pencabutan gigi harus dilakukan
setelah melakukan diagnosis pencegahan yang tepat
pada penyakit diabetes pasien dan dibawah antibiotik
profilaksis.
o Penyakit jantung, seperti hipertensi, gagal jantung,
miokard infark, dan penyait arteri koroner.
o Dyscrasias

darah,

pasien

anemia,

hemofilik

dan

dengan gangguan perdarahan harus ditangani dengan


sangat hati hati untuk mencegah perdarahan pasca
operasi yang berlebihan.
o Medically compromised, pasien dengan penyakit yang
melemahkan ( seperti TB

dan riwayat medis miskin

harus diberikan perawatan yang tepat dan evaluasi


preoperatif kondisi umum pada pasien adalah suatu
keharusan.
o Penyakit Addisons dan pasien yang menjalani terapi
steroid

dalam

jangka

waktu

yang

lama,

krisis

Hipoadrenal dapat terjadi pada pasien karena terjadi


peningkatan stress selama prosedur perawatan gigi.
Untuk

mencegah

terjadinya

hal

tersebut

dapat

diberikan 100mg Hidrocortisone sebelum dilakukan


perawatan.

12 Mei 2015

o Demam yang asalnya tidak dapat dijelaskan, penyebab


paling umum dari demam yang tak dapat dijelaskan
sebabnya adalah endokarditis bakteri subakut dan
apabila dilakukan prosedur ekstraksi dalam kondisi ini
dapat

menyebabkan

bakteremia,

perawatan

yang

tepat harus dlakukan.


o Nephritis, ekstraksi gigi yang terinfeksi kronis sering
menimbulkan

suatu

nefritis

akut

maka

sebelum

pemeriksaan gigi menyeuruh harus dilakukan.


o Kehamilan, prosedur pencabutan gigi harus dihindari
pada priode trimester pertama dan ketiga dan harus
sangat berhati-hati apabila akan melakukan prosedur
radiografi dan juga dalam pemberian obat obatan.
o Selama masa mestruasi, karena ada perdarahan lebih
lanjut, pasien secara mental tidak begitu stabil.
o Penyakit kejiwaan, tindakan pencegahan yang tepat
dan obat obatan harus diberikan pada pasien
neurotic dan psychotic.
2) Kontraindikasi mutlak

Lokal
o Gigi yang terlibat dalam malformasi arterio-venous.
o Jika pencabutan gigi dilakukan, maka dapat menyebabkan
kematian.

Sistemik
o Leukemia
o Gagal ginjal
o Sirosis hati
o Gagal jantung

2.2.4. Komplikasi
Komplikasi digolongkan menjadi intraoperatif, segera setelah
pencabutan gigi dan jauh setelah pencabutan gigi.

13 Mei 2015

9,10,11

Komplikasi Selama Ekstraksi Gigi


o Kegagalan Pemberian Anestesi
Hal ini biasanya berhubungan dengan teknik yang salah
atau dosis obat anestesi yang tidak cukup.
o Kegagalan mencabut gigi dengan tang atau elevator
Tang dan elevator harus diletakkan dan sebab kesulitan
segera dicari jika terjadi kegagalan pencabutan dengan
instrument tersebut.
o Perdarahan selama pencabutan
Sering

pada

pasien

dengan

penyakit

hati,

misalnya

seorang alkoholik yang menderita sirosis, pasien yang


menerima terapi antikoagulan, pasien yang minum aspirin
dosis tinggi atau NSAID lain sedangkan pasien dengan
gangguan

pembekuan

darah

yang

tidak

terdiagnosis

sangat jarang. Komplikasi ini dapat dicegah dengan cara


menghindari

perlukaan

pada

pembuluh

darah

dan

melakukan tekanan dan klem jika terjadi perdarahan.


o Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada mahkota gigi, akar gigi, gigi
tetangga

atau

gigi

antagonis,

restorasi,

processus

alveolaris dan kadang kadang mandibula. Cara terbaik


untuk mengindari fraktur selain tekanan yang terkontrol
adalah dengan menggunakan gambar sinar x sebelum
melakukan pembedahan. 1,6
o Pergeseran
Terlibatnya antrum, pergeseran gigi atau fragmen ke fosa
intratemporalis,

pergeseran

gigi

ke dalam mandibula

merupakan komplikasi intra operatif. Pemeriksaan sinar X


yang akurat diperlukan baik sebelum maupun intraoperatif.
1,6

14 Mei 2015

o Cedera jaringan lunak


Komplikasi ini dapat dihindari dengan membuat flap yang
lebih besar dan menggunakan retraksi yang ringan saja.

Komplikasi Segera Setelah Ekstraksi Gigi


Komplikasi yang mungkin terjadi segera setelah ekstraksi
gigi dilakukan antara lain :
o Perdarahan
Perdarahan ringan dari alveolar adalah normal apabila
terjadi pada 12-24 jam pertama sesudah pencabutan atau
pembedahan

gigi.

Penekanan

menggunakan

kasa

adalah

mengontrolnya

dan

dapat

oklusal

jalan

dengan

terbaik

merangsang

untuk

pembentukan

bekuan darah yang stabil. Perdarahan bisa diatasi dengan


tampon (terbentuknya tekanan ekstravaskuler lokal dari
tampon), pembekuan, atau keduanya.
o Rasa sakit
Rasa sakit pada awal pencabutan gigi, terutama sesudah
pembedahan untuk gigi erupsi maupun impaksi, dapat
sangat mengganggu. Orang dewasa sebaiknya mulai
meminum obat pengontrol rasa sakit sesudah makan tetapi
sebelum timbulnya rasa sakit.
o Edema
Edema

adalah

besarnya

sama,

pembengkakan
mengontrol

reaksi
tidak
yang

edema

individual,
selalu
sama.

mencakup

yaitu

trauma

mengakibatkan
Usaha

termal

yang

derajat

usaha
(dingin),

untuk
fisik

(penekanan), dan obat obatan.


o Reaksi terhadap obat
Reaksi obat obatan yang relative sering terjadi segera
sesudah pencabutan gigi adalah mual dan muntah karena

15 Mei 2015

menelan analgesik narkotik atau non narkotik. Reaksi alergi


sejati terhadap analgesik bisa terjadi, tetapi relative jarang.
Pasien dianjurkan untuk menghentikan pemakaian obat
sesegera

mungkin

jika

diperkirakan

berpotensi

merangsang reaksi alergi.

Komplikasi Jauh Sesudah Ekstraksi Gigi


o Alveolitis
Komplikasi yang paling sering, paling menakutkan dan
paling sakit sesudah pencabutan gigi adalah dry socket
atau alveolitis ( osteitis alveolar).
o Infeksi
Pencabutan suatu gigi yang melibatkan proses infeksi akut,
yaitu perikoronitis atau abses, dapat mengganggu proses
pembedahan. Penyebab yang paling sering adalah infeksi
yang

termanifestasi

sebagai

miositis

kronis.

Terapi

antibiotik dan berkumur dengan larutan saline diperlukan


jika terbukti ada infeksi yaitu adanya pembengkakan,
nyeri, demam, dan lemas.
2.3. Pendarahan paska pencabutan gigi
Perdarahan

berlebihan

mungkin

merupakan

komplikasi

pencabutan gigi. Oleh karena itu anamnesis harus dilakukan


secara cermat untuk mengungkap adanya riwayat perdarahan
sebelum melakukan pencabutan gigi. Bila pasien mengatakan
belum pernah mengalami perdarahan berlebihan maka harus
dicari

keterangan

yang

lebih

terperinci

mengenai

riwayat

tersebut. Perhatikan secara khusus hubungan waktu antara


perdarahan dengan lamanya pencabutan (trauma jaringan) dan
banyaknya perdarahan dan pemeriksaan laboratorium harus
dilakukan (diindikasikan). Riwayat keluarga pasien yang pernah
16 Mei 2015

mengalami perdarahan akibat suatu tindakan operasi juga amat


penting. Pasien dengan adanya riwayat diatas harus dirujuk ke
ahli hematologi untuk dilakukan pemeriksaan lebih cermat
sebelum

tindakan

pencabutan

gigi

dilakukan.

Bila

pasien

memiliki riwayat perdarahan pasca pencabutan maka sangat


bijaksana

jika

membatasi

jumlah

gigi

yang

akan

dicabut

padakunjungan pertama dan menjahit jaringan lunak serta


memonitor penyembuhan pasca pencabutan gigi. Bila tidak
terjadi komplikasi maka jumlah gigi yang akan dicabut pada
kunjungan berikutnya dapat ditingkatkan secara perlahan-lahan.
Perembesan darah secara konstan selama pencabutan gigi dapat
diatasi

dengan

aplikasi

gulungan

tampon

atau

dengan

penggunaan suction. Perdarahan yang lebih parah dapat diatasi


dengan pemberian tampon yang diberi larutan adrenalin : aqua
bidest 1 : 1000 dan dibiarkan selama 2 menit dalam soket.
Perdarahan yang disebabkan pembuluh darah besar jarang
terjadi dan bila ini terjadi maka pembuluh darah tersebut harus
ditarik dan dijepit dengan arteri klem kemudian dijahit/cauter.
Perdarahan pasca operasi dapat terjadi karena pasien tidak
mematuhi
ditemukan.

instruksi
Cara

atau

sebab

penanggulangan

lain

yang

komplikasi

harus
seperti

segera
pada

kebanyakan kasus disarankan untuk melakukan penjahitan pada


muko periosteal, jahitan horizontal terputus paling cocok dan
untuk tujuan ini harus diletakkan pada soket sesegera mungkin.
Tujuan dari penjahitan ini adalah bukan untuk menutup soket
tetapi untuk mendekatkan jaringan lunak diatas soket untuk
mengencangkan muko perioteal yang menutupi tulang sehingga
menjadi iakemik. Karena pada kebanyakan kasus perdarahan
tidak timbul dari soket tetapi berasal dari jaringan lunak yang
berada disekitarnya, selanjutnya pasien diinstruksikan untuk
menggigit tampon selama 5 menit setelah penjahitan. Bila
perdarahan belum teratasi maka kedalam soket gigi dapat

17 Mei 2015

dimasukkan preparat foam gelatin atau fibrin (surgicel, kalsium


alginat) setelah itu pasien disuruh menggigit tampon dan
kemudian dievaluasi kembali dan bila tetap tidak dapat diatasi
sebaiknya segera dirujuk

ke Rumah sakit terdekat untuk

memperoleh perawatan lebih intensif lagi.12


2.3.1. Etiologi Pendarahan
1) Faktor Lokal
Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma
pada pembuluh darah, hemostasis primer yang terjadi adalah
pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka,
disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit, faktorfaktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. Selain itu juga ada
vasokonstriksi pembuluh darah. Luka ekstraksi juga memicu
clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin, konversi dari
prothrombin
deposisi

menjadi

fibrin.

Hal

thrombin,
ini

bisa

dan
saja

akhirnya
terjadi

membentuk

gangguan

dan

menimbulkan gejala pendarahan


Perdarahan pasca ekstraksi gigi biasanya disebabkan oleh
faktor lokal, tetapi kadang adanya perdarahan ini dapat menjadi
tanda adanya penyakit hemoragik. Perdarahan pasca ekstraksi
umumnya disebabkan oleh faktor lokal, seperti :13
1 Trauma yang berlebihan pada jaringan lunak
2 Mukosa

yang

mengalami

peradangan

pada

daerah

ekstraksi
3 Tidak dipatuhinya instruksi pasca ekstraksi oleh pasien
4 Tindakan pasien seperti penekanan soket oleh lidah dan
kebiasaan menghisap-hisap
5 Kumur-kumur yang berlebihan
6 Memakan makanan yang keras pada daerah ekstraksi
2) Penyakit Sistemik
o Penyakit kardiovaskuler

18 Mei 2015

Pada

penyakit

kardiovaskuler,

denyut

nadi

pasien

meningkat, tekanan darah pasien naik menyebabkan


bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga
terjadi perdarahan.
o Hipertensi
Bila

anestesi

lokal

vasokonstriktor,

yang

kita

pembuluh

gunakan

darah

mengandung

akan

menyempit

menyebabkan tekanan darah meningkat, pembuluh darah


kecil akan pecah, sehingga terjadi perdarahan. Apabila kita
menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung
vasokonstriktor, darah dapat tetap mengalir sehingga
terjadi perdarahan pasca ekstraksi.
Penting

juga

ditanyakan

mengkonsumsi

kepada

obat-obat

pasien

tertentu

apakah

seperti

dia
obat

antihipertensi, obat-obat pengencer darah, dan obatobatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan.
o Hemofilli
Pada

pasien

hemofilli

(hemofilli

klasik)

ditemukan

defisiensi factor VIII. Pada hemofilli B (penyakit Christmas)


terdapat

defisiensi

Willebrands

disease

faktor

IX.

terjadi

Sedangkan
kegagalan

pada

von

pembentukan

platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan.


o Diabetes Mellitus
Bila DM tidak terkontrol, akan terjadi gangguan sirkulasi
perifer, sehingga penyembuhan luka akan berjalan lambat,
fagositosis terganggu, PMN akan menurun, diapedesis dan
kemotaksis juga terganggu karena hiperglikemia sehingga
terjadi infeksi yang memudahkan terjadinya perdarahan.
o Malfungsi Adrenal
Ditandai dengan pembentukan glukokortikoid berlebihan
(Sindroma Cushing) sehingga menyebabkan diabetes dan
hipertensi.
19 Mei 2015

o Pemakaian obat antikoagulan


Pada pasien yang mengkonsumsi antikoagulan (heparin
dan walfarin) menyebabkan PT dan APTT memanjang. Perlu
dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan internist untuk
mengatur penghentian obat-obatan sebelum pencabutan
gigi.10
2.3.1.Klasifikasi Komplikasi
1 Perdarahan akibat komplikasi intraoperatif
Perdarahan

merupakan

ancaman.

Perdarahan

mungkin

merupakan komplikasi yang paling ditakuti oleh dokter maupun


pasien karena dianggap mengancam kehidupan. Tetapi pasien
dengan gangguan pembekuan darah yang tidak terdiagnosis
jarang ditemukan. Insidensi hemophilia yang terdiagnosis di
Amerika pada orang dewasa 1:20.000. Pasien yang beresiko
mengalami perdarahan yaitu:12
1 Pasien dengan penyakit hati, misalnya seorang alkoholik
yang menderita sirosis,
2 Pasien yang menerima terapi anti koagulan,
3 Pasien yang minum aspirin dosis tinggi atau NSAIDs lainnya.
Upaya pencegahan dapat dilakukan, yaitu:
1 anamnesis secara cermat untuk mendapatkan informasi
mengenai riwayat perdarahan sebelum melakukan tindakan
pencabutan gigi.
2 Tes
laboratorium

dapat

mengkonfirmasi

kegagalan pembentukan beku darah.


3 Menghindari pembuluh darah. Diperlukan

penyebab
pengetahuan

mengenai anatomi arteri, vena dan region-regio yang


beresiko tinggi, seperti a. palatine mayor, vestibulum buccal
molar rahang bawah dengan a. facialis, margo anterior
ramus mandibulae yang merupakan jalur perjalanan dari a.
buccalis dan region apical molar ketiga yang terletak dekat
dengan a. alveolaris inferior. Region mandibula anterior juga

20 Mei 2015

merupakan sumber perdarahan karena vaskularisasinya


sangat melimpah.
4 Tekanan dan klem
Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri
adalah dengan penekanan. Penekanan diperoleh dari
penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa.
Kemudian menutupnya dengan dengan sepon kasa atau
Gelfoam bertekanan. Pada kasus terpotongnya arteri,
perdarahan yang terjadi biasanya sangat deras maka
penanganannya menggunakan klem dengan hemostat.
Klem merupakan pengikat digunakan untuk mengontrol
perdarahan

dari

pembuluh

darah.

Klem

hemostat

digunakan untuk mengontrol perdarahan dari pembuluh


yang sulit diikat. Pada kasus perdarahan di pembuluh
yang kecil atau rembesan dilakukan elektrokauterisasi.
Bahan-bahan hemostatik yang digunakan:

Sepon gelatin penyerap (Gelfoam) yang menyerap


darah dengan aksi kapiler dan menimbulkan beku

darah.
Selulosa yang dioksidasi (Surgicel), yang secara fisik

mempercepat pembentukan bekuan darah.


Hemostatik kolagen mikrofibrilar (Avitene, Helistat),

yang memicu agregasi platelet.


Thrombin hewan topical (Trombinar, Thrombostat),
yang membekukan fibrinogen dengan segera. * jangan

melakukan penyuntikan.
Malam tulang (malam tawon) yang diletakan pada

daerah perdarahan tulang.


2 Perdarahan akibat komplikasi pasca bedah
Perdarahan ringan dari alveolar adalah normal apabila terjadi
pada 12-24 jam pertama setelah pencabutan atau pembedahan
gigi. Penanganan yang terbaik dengan melakukan penekanan
oklusal menggunakan kasa untuk mengontrol dan merangsang

21 Mei 2015

pembentukan bekuan darah yang stabil. Apabila perdarahan


cukup banyak, lebih dari 1 unit (450 ml) pada 24 jam pertama
pada pasien dewasa, lakukan tindakan segera untuk mengontrol
perdarahan.

Periksa

pasien

sesegera

mungkin.

Tenangkan

pasien, periksalah tanda-tanda vital (denyut nadi, pernafasan,


dan tekanan darah). Jika pasien syok, misalnya diaforetik
(berkeringat) dengan denyut yang lemah dan cepat serta
pernafasan yang dangkal dan cepat disertai penurunan tekanan
darah atau kondisi pasien sedang akan menuju syok, pasien
segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang
memadai. Jika pasien dalam kondisi stabil, lakukan anestesi local
supaya perawatan tidak menyakitkan. Bersihkan bekuan darah,
keringkan dan periksa. Apabila perdarahan berasal dari dinding
tulang, maka alveolus diisi dengan spenge gelatin yang dapat
diabsorbsi (Gelfoam) atau sponge kolagen mikrofibrilar (Helistat,
Avitene)

dipertahankan

ditempatnya

dengan

jahitan.

Jika

alveolus diisi dengan kolagen mikrofibrilar, tidak ditambahkan


thrombin pada bagian tersebut. Meskipun demikian sponge
gelatin mungkin mengandung thrombin bovine topical baik yang
kering atau cairan (Thrombinar atau Thrombostat 5000 US unit
standar dengan air steril). Tidak diperbolehkan melakukan
penyuntikan intravascular dengan thrombin topikal, karena dapat
menyebabkan

thrombosis

yang

fatal.

Sesudah

dilakukan

pengisian dengan sponge gelatin yang mengandung thrombin


topikal, sponge bedah (2x2) dibasahi dengan thrombin kemudian
diletakan di atas daerah tersebut dan dilakukan penekanan
sekurang-kurangnya 1 jam, dengan pasien tetap dikamar bedah.
Periksa

kembali

sebelum

pasien

diijinkan

pulang.

Apabila

perdarahan berasal dari jaringan lunak, biasanya tepian flap,


maka tekanlah dengan sponge bedah (2x2). Jika gagal, mungkin
perlu dilakukan penjahitan, klem, atau kauter.

22 Mei 2015

Pada

kondisi

hematom,yaitu

perdarahan

setempat

yang

membentuk massa yang padat. kadang-kadang perdarahan


terjadi setelah pencabutan dengan tang atau pencabutan gigi
dengan

pembedahan,

berlangsung

internal,

yaitu

meluas

sepanjang dataran fasial atau periosteum. Perdarahan biasanya


diatasi dengan tampon, pembekuan atau keduanya.
3 Perdarahan akibat komplikasi beberapa saat setelah operasi
Alveolitis (dry socket) merupakan komplikasi yang paling
sering, paling menakutkan dan paling sakit sesudah pencabutan
gigi. Biasanya mulai pada hari ke 3-5 sesudah operasi. Keluhan
utamanya

adalah

rasa

sakit

yang

sangat

hebat.

Pada

pemeriksaan terlihat alveolus yang terbuka, terselimuti kotoran


dan terjadi peradangan. Penyebab alveolitis ini adalah hilangnya
bekuan akibat lisis, mengelupas atau keduanya. Bisa disebabkan
oleh streptococcus, tetapi mungkin juga tidak melibatkan bakteri.
Berdasarkan hal tersebut, pada waktu melakukan pencabutan
pada pasien usia lanjut atau pesien dengan gangguan kesehatan,
perlu dilakukan packing profilaksis dengan pembalut obat-obatan
pada

alveolus

mandibula.

Penatalaksanaannya

dengan

melakukan irigasi saline yang hangat dan diperiksa. Palpasi


menggunakan aplikator kapas untuk membantu menentukan
sensitivitas. Apabila pasien tidak tahan terhadap hal tersebut,
lakukan anestesi topikal atau local sebelum dilakukan packing.
2.3.3. Penatalaksanaan Pendarahan
Tindakan local adalah dasar dari seluruh perawatan pada perdarahan pasca
pencabutan walaupun terdapat penyebab sistemik. Segala usaha harus dilakukan
untuk membuat kondisi setempat yang ideal bagi proses pembekuan darah.
Sebaiknya dipakai teknik pencabutan yang hati-hati, tetapi walaupun sudah sangat
berhati-hati tetap saja bisa terjadi luka pada gingival.10
Bereaksilah dengan tenang dan percaya diri dan ambil alih situasi. Umumnya
pasien sebaiknya dipisahkan dari kerabat atau teman. Sebaiknya dudukkan pasien

23 Mei 2015

di kursi klinik di bawah penerangan yang baik dengan bantuan dari asisten
kompeten. Aspirator harus selalu tersedia, bersama dengan seluruh instrument
yang diperlukan (contohnya, kaca mulut, ujung aspirator kecil, tang cabut, gunting
jaringan, penjepit jarum, dan benang yang kuat).10
1

Periksa luka itu beri pasien larutan kumur dan buang semua beku darah
pada daerah perdarahan dengan menggunakan aspirator.

Letakkan kasa yang lembab di atas luka dan minta pasien menekannya
dengan cara menutup mulutnya. Kasa tersebut haruslah terbuat dari bahan
tenun dan dilipat agar ukurannya tidak lebih dari dua kali ukuran gigi yang
dicabut, sehingga memberi tekanan pada tepi gingival. Masukkan kasa
secara hati-hati di atas soket, dan bila diperlukan, instruksikan pasien
untuk menggigitnya selama 20 menit tanpa pemeriksaan selanjutnya. Jika
perdarahan masih terjadi maka kasa harus diganti. Jika perdarahan terus
berlangsung, ulangi hal ini. Jika berlanjut terus, maka lakukan:

Infiltrasi sekeliling daerah soket dengan anastesi local yang


mengandung adrenalin, dan tunggu selama dua sampai tiga menit.
Sekarang dibutuhkan bantuan seorang asisten. Buang darah beku yang
berlebihan dan periksa tepi-tepi luka. Apabila perdarahan berasal dari
luka koyak atau insisi, eksisi tepi luka yang bergerak, atau yang
pasokan darahnya meragukan (sianotik dan dengan pedikel sempit).
Buat jahitan yang dalam pada jaringan melalui daerah yang koyak
atau bagian yang diinsisi, tempat asal perdarahan, dan ikat dengan
kencang untuk menekan jaringan tersebut. Tarik mukosa melalui soket
dengan menggunakan matres horizontal, bilamana mungkin ikat
jahitan dengan kencang sampai jaringan gingival memutih. Letakkan
kasa pada soket, instruksikan pasien untuk memberikan tekanan
selama 5 menit dan periksa kembali luka tersebut.

Tutupi soket dengan kasa. Baik apakah anastesi local masih efektif
atau tidak, infiltrasikan anastesi local yang mengandung adrenalin di
sekeliling tepi-tepi luka sekali lagi. Buka jahitan dan ganti, tetapi
jangan disimpul. Suatu cara yang cukup membantu adalah dengan
mengaitkan benang jahitan melewati soket ke gigi di dekatnya

24 Mei 2015

sehingga bisa ditempatkan kasa pada soket. Kasa dapat terbuat dari
bahan yang bisa diserap maupun tidak, dengan konsistensi yang dapat
ditekankan ke luka, misalnya surgicel atau kasa ribbon yang tidak
diserap yang direndam dalam varnish white head. Jangan gunakan
sponge yang bisa diserap. Lepaskan ikatan benang pada gigi tetangga
dan tempatkan di atas kasa. Ikat jahitan tersebut.
Hanya sedikit dokter gigi yang tidak berhasil melakukan hal ini. Jika mukosa
luka sangat parah, mungkin disertai dengan kerusakan pada tepi-tepi soket,
lakukan hal seperti di atas tetapi tempatkan jahitan jauh dari soket dan letakkan 23 lapis surgicel pada soket. Luka distabilisasikan oleh bentangan benang jahit
yang menyilang dari jahitan itu.
Pada kasus yang sangat jarang, yaitu jika titik perdarahan yang bisa dilihat,
jahit kembali dengan jahitan kecil atau dengan pola seperti angka delapan. Bila
tahap terakhir akan dilaksanakan pertimbangkan untuk memberikan obat
penenang pada pasien. Pada bedah mulut, diazepam 5-10 mg atau temazepam 10
mg sudah cukup, walaupun pasien yang sangat gugup membutuhkan dosis sampai
3 kali lipat. Diazepam akan diberikan secara intramuscular atau intravena 5-10 mg
asalkan pasien tidak mempunyai penyakit pernapasan bagian atas. Sebagai pilihan
lain adalah midazolam 5-10 mg. Semua pasien yang menerima obat penenang
harus ditemani, dan tidak boleh mengendarai mobil, menjalankan mesin, atau
memakai peralatan dapur selama 24 jam.

25 Mei 2015