Anda di halaman 1dari 13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Pendahuluan
Tahap awal pengamatan dilakukan dengan studi literatur, literatur yang ditinjau

pada bab ini terkait dengan struktur baja yang menjadi objek pengamatan ini, tinjauan
struktur konstruksi baja dalam hal ini mengenai peran dalam bangunan industri dan
proses pekerjaan konstruksinya, meliputi desain dan fabrikasinya serta material baja.
3.2

Struktur Konstruksi Baja


Material baja sebagaimana diketahui ini merupakan salah satu material yang

banyak digunakan pada banyak bangunan, baik itu untuk struktur gedung, jembatan,
ataupununtuk bangunan industri. Salah satu keuntungan baja adalah keseragaman bahan
dan sifatnya yang dapat diduga secara cukup tepat. Kestabilan dimensional, kemudahan
pembuatan, dan cepatnya pelaksanaan juga merupakan hal yang menguntungkan dari
struktur baja ini. Kerugian dari baja ini ialah mudahnya mengaami korosi dan
berkurangnya kekuatan pada temperatur tinggi.
Pembangunan struktur baja ini pada umumnya melibatkan berbagai tahap.
Tahapan pembangunan dari struktur baja ini untuk setiap proyek mempunyai urutan
yang berbeda, tergantung dari volume pekerjaan, ruang lingkup, jenis konstruksi dan
lain sebagainya. Pada umumnya urutan pembangunan diawali proses desain
(engineering) yang dilanjutkan dengan proses pendetailan, fabrikasi dan ereksi.
3.2.1 Desain Struktur Baja
Pada proyek EPC, tahapan desain dibagi menjadi 2 bagian yaitu penanganan
proyek pada tahap desain dasar (basic engineering) dan tahapan pendetailan desain
(detail engineering). Beberapa hal yang dikerjakan pada tahap desain dasar adalah
melakukan pengecekan terhadap data desain umum yang meliputi :
1.

Spesifikasi proyek.

2.

Data peralatan yang digunakan.

3.

Data desain awal.

4.

Plot plan awal.

5.

Ketersediaan stok material di warehouse dan di pasaran.

Proses pembuatan konsep desain untuk struktur baja dapat dikerjakan


berdasarkan data terssebut diatas, output dari konsep desain tersebut yaitu:
1.

Kriteria desain.

2.

Spesifikasi desain.

3.

Gambar standar dan gambar tipikal.

4.

Spesifikasi konstruksi.

5.

Daftar kebutuhan material (priliminary)

6.

Daftar kebutuhan untuk konstruksi (priliminary)

7.

Pemilihan material.
Pada tahap pendetailan desain (detail engineering), civil engineer melakukan

analisa struktur (structural analisys) dan pembuatan sketsa dengan menggunakan


software, data input yang berasal dari konsep desain (conceptual design). Output
hasil analisa ini oleh engineer dan designer dipergunakan untuk Pembuatan sketch.
Skeetch yang sudah jadi kemudian didistribusikan ke semua departemen (piping,
mechanical, proses, electrical, dan instrument) sebagai acuan mereka dalam mendesain
produknya. Output sketch juga dipakai untuk melengkapi daftar awal kebutuhan
material. Tahapan selanjutnya ialah pembuatan gambar desain struktur

baja (desain

drawing) oleh drafter civil, dengan input dari sketch yang dibuat oleh civil engineer.
Pada pembuatan gambar desain tersebut diperlukan input tambahan baik itu dari
departemen/disiplin lain, dari pihak owner ataupun dari pihak vendor untuk struktur
khusus. Dari gambar desain tersebut, kemudian drafter membuat gambar detail (detail
drawing). Gambar desain tersebut akan dipakai oleh civil designer untuk updating
daftar awal kebutuhan material (preliminary MTO) menjadi daftar final kebutuhan
material yang akan dikirim ke bagian pengadaan (procurement), departemen konstruksi
dan subkontraktor/fabrikator. Dari gambar desain tersebut kemudian dibuatkan gambar
fabrikasi (shop drawing) untuk keperluan fabrikasi dan ereksi. Shop drawing harus
meliputi semua informasi yang diperlukan untuk fabrikasi di workshop. Produksi aktual
shop drawing merupakan pekerjaan pendetailan. Pada saat pendetailan harus
memberikan ide-ide yang ada pada gambar kerja agar setiap elemen struktur dan semua
komponen pada struktur dapat difabrikasi, untuk itu

diperlukan

sangat

banyak

pengetahuan praktis. Shop drawing yang diberikan oleh detailer dikoordinasikan


dengan pekerjaan pada fase ereksi dan fabrikasi.
Tujuan utama pendetailan adalah untuk menyiapkan detail struktur baja atau
shop

drawing.

Gambar

tersebut

disiapakan

oleh

detailer

selanjutnya

akan

digunakan di workshop (bengkel) untuk fabrikasi setiap bagian baja yang diperlukan
pada struktur. Informasi yang ada dari design drawing, spesifikasi dan standard
drawing harus diinformasikan pada shop drawing, baik itu mengenai spesifikasi
material, jenis baut, ukuran baut beserta jumlahnya, spesifikasi untuk pengecatan,
ataupun informasi-informasi lainya yang dianggap perlu. Selain itu karena gambar
desain pada umumnya hanya memperlihatkan beberapa hubungan dan biasanya
tidak begitu lengkap, maka sangat bergantung pada pendetailan untuk melengkapinya,
termasuk modifikasi sehingga mudah dalam fabrikasi ataupun ereksi. Pendetailan juga
harus mendesain hubungan-hubungan khas lainnya dan hubungan khusus yang belum
diperlihatkan pada gambar desain. Dengan demikian pendetail harus terbiasa dengan
standar yang berlaku, umunya untuk struktur baja mengacu pada standard AISC
(American Institute of Steel Construction) dan untuk pengelasanya mengacu pada AWS
(American Welding Society). Setelah elemen struktur didetailakan dan shop drawing
telah selesai, gambar tersebut direview/dicek lagi oleh pemeriksa (checker). Untuk
memudahkan pihak workshop merakit material yang diperlukan dalam fabrikasi, daftar
material harus disiapkan sebagai bagian dari setiap shop drawing. Hampir semua
fabrikator memberikan setiap lembar shop drawing yang dilengkapi dengan formulir
daftar material. Untuk memberikan tempat pada gambar, kadang-kadang formulir
tersebut terpisah dari shop drawing.
Sebelum fabrikasi dimulai, shop drawing yang telah selesai harus disetujui oleh
civil engineer ataupun pihak lain yang berwenang. Hal ini meliputi semua rencana
ereksi dan detail karena semua shop drawing sudah meliputi informasi tambahan yang
semula tidak ada pada gambar desain.

3.2.2

Fabrikasi Struktur Baja


Fabrikasi struktur baja umumnya dilakukan di workshop terutama untuk

skala proyek yang cukup besar. Tahapan fabrikasi untuk struktur baja sebagai
berikut:
1.

Penandaan atau pengukuran (marking) material baja.

2.

Pemotongan material baja.

3.

Pembuatan lubang.

4.

Perakitan (fit-up)

5.

Pengelasan

6.

Pengecatan.
Tahapan-tahapan fabrikasi tersebut berlaku juga apabila fabrikasi dilaksanakan

di lapangan. Fabrikasi di workshop mempunyai banyak kelebihan dikarenakan fasilatas


di workshop umumnya lebih lengkap bila dibandingkan dilaksanakan di lapangan.
Penandaan atau marking material baja merupakan tahap awal fabrikasi struktur
baja, pengukuran dan penandaan dilaksanakan sesuai dengan shopdrawing yang sudah
disetujui oleh pihak yang berwenang. Penandaan dengan mengunakan marker yang jelas
dan tahan air sangat dianjurkan dalam pengendalian ukuran potongan baja untuk
menghindari kesalahan potong.
Penandaan bukan hanya untuk

menandai ukuran pemotongan saja, tetapi

meliputipemberian kode untuk menghindari kesalahan dalam identifikasi untuk


perakitan ataupun untuk ereksi nantinya.
Proses pemotongan merupakan tahap berikutnya. Banyak cara dalam proses
pemotongan baja diantaranya dengan meggunakan api (flame cutting), yaitu
pemotongan dengan menggunakan oxygen yang dicampur dengan gas metana(LPG).
Pemotongan dengan metode ini paling banyak digunakan mengingat cepatnya proses
pemotongan dan bisa dilakukan untuk berbagai ukuran ketebalan dan bentuk potongan,
sehingga lebih fleksibel dalam pelaksanaanya. Pemotogan dengan cara ini bisa
dilaksanakan secara manual ataupun secara mekanis. Pemotongan dengan cara mekanis
yaitu dengan track yang dipasang bersamaan dengan alat potongnya yang berfungsi
untuk membawa alat potong sehingga proses pemotongan bisa berjalan dengan

sendirinya, sehingga hasilnya bisa lebih cepat dan lebih lurus. Selain metode tersebut
masih banyak metode lagi dalam pemotongan baja, diantaranya dengan plasmaarc
cutting, shearing cutting ataupun sawing.
Pembuatan lubang untuk baut merupakan tahap berikutnya. Lubang untuk baut
pada struktur baja umunya dilakukan dengan menggunakan mesin punching, pembuatan
lubang dengan metode ini sangat terbatas ketebalanya, AISC sendiri mesaratkan
tebal material yang dilubangi adalah diameter lubang ditambah 1/8 inc. Metode
yang lain ialah dengan menggunakan mesin bor, proses pembuatan lubang dengan
metode ini akan lebih lama dibandingkan dengan mesin punching. Untuk

menjaga

keakuratan jarak antar lubang banyak workshop yang sudah menggunakan mesin
CNC (Computer numerically controlled).
Material yang sudah dipotong dan dilubangi tersebut kemudian dilakukan
perakitan dengan cara dilas cantum (tack weld) atau dikenal dengan proses fit-up
atau assembly. Proses perakitan harus dilaksanakan lebih hati-hati, harus sesuai
dengan shop drawing baik itu dimensi, orientasi ataupun jenis potongan itu sendiri,
dikarenakan apabila terjadi kesalahan pada tahap ini dan material telah selesai di las
maka proses perbaikanya akan lebih sulit lagi.
Proses pengelasan merupakan tahapan berikutnya setelah perakitan. Proses
pengelasan terdiri dari bebagai proses, umumnya proses pengelasan untuk struktur baja
adalah dengan proeses SMAW (shielded metal arch welding), tetapi banyak juga yang
menggunakan proses GMAW (gas metal arch welding), FCAW (flux-cored arch
welding) ataupun SAW (sub merged arch welding). Proses pengelasan SMAW yang
paling banyak digunakan merupakan proses pengelasan manual dengan menggunakan
electrode, busur elektrik terbentuk diantara ujung-ujung elektroda logam berlapis dan
komponen baja yang akan dilas. Busur ini membangkitkan panas sampai 6500F yang
dapat mencairkan sebagian logam dasar yang terkena panas, bagian ujung elektroda
juga mencair dan logam akan terdorong melalui udara, kutub kecil dari logam yang
mencair yang terbentuk disebut crater, pada saat elektroda bergerak disepanjang
sambungan, crater mengikutinya dan memadat dengan cepat pada saat temperature dari
kutub turun dibawah titik leleh. Selama proses pengelasan, pada saat pelapis elektroda

berdekomposisi, terbentuklah selubung gas yang mencegah penyerapan partikel-partikel


dari udara sehingga proses pembentukan logamnya tidak terkontaminasi oleh udara luar.
Proses terakhir dari fabrikasi ialah pengecatan, hal yang perlu diperhatikan
dalam proses pengecatan ialah material cat yang dipakai dan proeses pengecatannya itu
sendri. Tujuan dari pengecatan itu sendiri ialah untuk melindungi baja dari bahanya
korosi disamping sebagai fungsi estetis. Pemilihan material cat sangat menentukan daya
tahan dari cat itu sendiri, yang perlu diperhatikan dalam pemilihan material cat ialah
jenis atau generic type dari cat itu sendiri, pemilihan type cat itu sendiri harus
mempertimbangkan

temperatur

layananya,

kondisi

atmosfer

dilingkunganya,

adhesifitasnya, ataupun warnanya. Proses pengecatan harus mengikuti apa yang


direkomendasikan oleh manufaktur cat itu sendiri ataupun pada standard yang ada
seperti SSPC (Steel Structure Painting Council). Proses persiapan permukaan
merupakan hal yang kritikal pada proses pengecatan, umumnya manufaktur cat ataupun
SSPC mewajibkan melakukan sandblasting terlebih dahulu. Proses sandblasting
merupakan proses pembersihan material dari karat ataupun kotoran lainya dengan
menggunakan pasir yang diseprotkan dengan tekanan tertentu. Proses berikutnya yang
perlu diperhatikan ialah aplikasi/penyemprotan dari material cat itu sendiri. Aplikasi
yang direkomendasikan umumnya dengan mengunakan spray kecuali untuk posisiposisi yang tidak terjangkau,bisa menggunakan kuas. Ketebalan cat harus mengikuti
standard yang berlaku, ketebalan cat yang dikenal dengan istilah dry film thickness
(DFT) harus benar-benar dijaga agar menghasilkan daya proteksi yang optimal.
Tahapan terakhir dari fabrikasi ialah penamaan (marking) pada tiap komponen baja
untuk memudahkan proses ereksi dan menghindari salah pasang, penamaan komponen
atau marking harus sesuai dengan erection drawing.
3.3

Material baja
Baja merupakan salah satu bahan bangunan yang unsur utamanya terdiri dari

besi. Baja ditemukan ketika dilakukan penempaan dan pemanasan yang menyebabkan
tercampurnya besi dengan bahan karbon pada proses pembakaran, sehingga membentuk
baja yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada besi.

Bila dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya, baja lebih banyak memiliki
keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada bahan-bahan konstruksi lain.
Disamping kekuatannya yang besar untuk menahan kekuatan tarik dan kekuatan tekan
tanpa membutuhkan banyak volume, baja juga mempunyai sifat-sifat lain yang
menguntungkan sehingga menjadikannya sebagai salah satu material yang umum
dipakai.
Kelebihan Baja Sebagai Bahan konstruksi :
1. Kekuatan tinggi
Dewasa ini baja bisa diproduksi dengan berbagai kekuatan yang bisa dinyatakan
dengan kekuatan tegangan lelehnya (fy) atau oleh tegangan tarik batas (fu). Bahan
baja walaupun dari jenis yang paling rendah kekuatannya, tetap mempunyai
perbandingan kekuatan per volume lebih tinggi dibandingkan dengan bahan-bahan
bangunan lainnya yang umum dipakai. Hal ini memungkinkan perencana sebuah
konstruksi baja bisa mempunyai beban mati yang lebih kecil untuk bentang yang
lebih besar, sehingga memberikan kelebihan ruangan dan volume yang dapat
dimanfaatkan akibat langsingnya profil-profil yang dipakai.
2. Kemudahan pemasangan
Semua bagian-bagian dari konstruksi baja bisa dipersiapkan di workshop, sehingga
satu-satunya kegiatan yang dilakukan di lapangan ialah erection structure.
3. Keseragaman
Sifat-sifat dari baja, baik sebagai bahan bangunan maupun dalan bentuk struktur
terkendali dengan baik, sehingga para perencana dapat mengharapkan elemenelemen dari konstruksi baja bisa bersifat sesuai dengan yang diduga dalam
perencanaan.
4. Duktilitas
Sifat dari baja yang dapat mengalami deformasi yang besar dibawah pengaruh
tegangan tarik yang tinggi tanpa hancur atau putus disebut sifat duktilitas. Sifat ini
membuat baja mampu mencegah terjadinya keruntuhan bangunan secara tiba-tiba.
5. Dapat di las
Dalam keadaan panas (leleh) dapat digabungkan satu dengan yang lain.
6. Komponen-komponen strukturnya bisa digunakan lagi untuk keperluan lainnya

7. Komponen-komponen yang sudah tidak dapat digunakan masih mempunyai nilai


ekonomis sebagai besi tua
8. Struktur yang dihasilkan bersifat permanen dengan cara pemeliharaan yang tidak
terlalu sukar
9. Kekerasan
Dapat melawan masuknya benda lain kedalam
10. Modulus elastisitas besar
Dengan modulus yang besar, struktur akan cukup kaku sehingga dapat memberikan
kenyamanan bagi pemakai. Jika dibandingkan dengan bahan yang lain, untuk
regangan yang sama baja akan mengalami tegangan yang lebih besar sehingga
kekuatannya lebih optimal.
Kekurangan Baja Sebagai Bahan konstruksi :
1.

Mudah berkarat
Diperlukan pemeliharaan berkala. Pemakaian wheathering Steel (baja yang lebih
tahan karat : chromium 0,3 % 1,25%, mananase 0,6%-1,5%, copper 0,25%-0,4%)
akan lebih mengurangi biaya pemeliharaan.

2.

Ketahanan kebakaran rendah


Walaupun baja bahan yang tidak dapat terbakar, tetapi bila terjadi kebakaran,
temperatur tinggi yang bisa terjadi akan mereduksi kekuatan baja secara drastis.
Disamping itu baja juga penghantar panas yang baik, baja yang tidak dilengkapi
dengan fire proofing dapat mengalirkan panas yang tinggi dari daerah yang terbakar
kebagian lain dan dapat membakar elemen-elemen lain yang bersentuhan
dengannya.

3.

Struktur yang langsing berbahaya terhadap tekuk


Struktur dari baja biasanya lebih langsing daripada bahan yang lain sehingga
bahaya tekuk sangat besar.

4.

Kelelahan / fatique
Beban bolak-balik menyebabkan kelelahan pada baja sehingga kekuatannya akan
menurun.

3.1.1

Bentuk profil baja


Berikut adalah jenis bahan baja utama yang biasa dipakai di Indonesia sesuai

kebutuhan konstruksi.
1.

Wide Flange (WF)

Gambar 3.1 Wide Flange (WF)


WF biasa digunakan untuk : balok, kolom, tiang pancang, top & bottom chord member
pada truss, composite beam atau column, kantilever, kanopi,dll.
Istilah lain: IWF, WF, H-Beam,
H Beam, UB, UC, balok H, balok I, balok W.
2.

UNP

Gambar 3.2 UNP


Penggunaan UNP hampir sama dengan WF, kecuali untuk kolom jarang digunakan
karena relatif lebih mudah mengalami tekuk.
Istilah lain: Kanal U, U-channel,
U
Profil U

3.

Equal Angle

Gambar 3.3 Equal Angel (Hot Rolled)


Biasa digunakan untuk : member pada truss, bracing, balok, dan struktur ringan lainnya.
Istilah lain : profil siku, profil L, L-shape.
4.

Unequal Angle

Gambar 3.4 Unequal Angel


Penggunaan dan istilah lain hampir sama dengan Equal Angle.

5.

Lipped Channel

Gambar 3.5 Lipped Channel


Biasa digunakan untuk : purlin (balok dudukan penutup atap), girts (elemen yang
memegang penutup dinding misalnya metal sheet, dll), member pada truss, rangka
komponen arsitektural.
Istilah lain : balok purlin, kanal C, C-channel,
C
profil C.
6.

RHS (Rectangular Hollow Section)

Gambar 3.6 RHS (Rectanguer Hollow Section)


Pengunaan : komponen rangka arsitektural (ceiling, partisi gipsum, dll), rangka dan
support ornamen-ornamen
ornamen non struktural.
Istilah lain : besi hollow (istilah pasar), profil persegi.

7.

SHS (Square Hollow Section)

Gambar 3.7 SHS (Square Hollow Section)


Pengunaan dan istilah lain hampir sama dengan RHS.
8.

Steel Pipe

Gambar 3.8 Stee Pipe


Penggunaan : bracing (horizontal dan vertikal), secondary beam (biasanya pada rangka
atap), kolom arsitektural, support komponen arsitektural (biasanya eksposed, karena
bentuknya yang silinder mempunyai nilai artistik).
Istilah lain : steel tube, pipa.
pipa

9.

T-Beam

Gambar 3.9 T-Beam


Pengunaan : balok lantai, balok kantilever (kanopi)
Istilah lain : balok T