Anda di halaman 1dari 9

LIGHTNING ARRESTER

PENGERTIAN
Arrester merupakan suatu alat proteksi peralatan listrik terhadap tegangan
lebih yang biasanya disebabkan oleh petir atau surja hubung (switching surge).
Arrester memiliki sifat sebagai By-pas disekitar area yang membentuk lintasan
dan mudah dilalui oleh arus kilat ke sistem pentanahan, sehingga menimbulkan
tegangan lebih yang bernilai tinggi dan tidak menyebabkan kerusakan isolator
pada peralatan listrik.
Pada keadaan normal arrester bertindak sebgai isolator dari peralatan
listrik, namun ketika timbul tegangan surja alat ini akan bersifat sebagai kondultor
yang memiliki tahanan yang relatif rendah, sehingga dapat mengalirkan arus yang
tinggi ke tanah. Suatu arrester harus dapat berperan kembali sebagai isolator
setelah terjadinya surja, dimana sesuai fungsinya untuk melindungi peralatan
listrik. Pada umumnya arester dipasang pada setiap ujung yang akan memasuki
gardu induk.

Gambar Arrester GI 150kV


Pada suatu saluran transmisi udara sangat rawan terhadap adanya
sambaran petir yang dapat menyebabkan terjadinya gelombang berjalan (tegangan
surja) yang dapat masuk ke peralatan listrik, maka dalam suatu saluran transmisi
perlu dipasang lightning arrester yang memiliki fungsi menangkap gelombang
berjalan yang disebabkan oleh adanya surja atau dapat juga disebabkan oleh
adanya pembukaan dan penutupan pemutus tegangan yang akan masuk ke dalam
instalasi peralatan listrik. Pada saluran tegangan ekstra tinggi, surja tegangan

biasanya disebabkan karena switching daripada surja petir. Selain pemasangan


lightning arrester pada saluran transmisi juga terpasang pada setiap transformator.
Pemasangan pada transformator juga perlu diperhatikan karena petir
merupakan gelombang berjalan yang menuju transformator, dimana transformator
dianggap sebagai ujung yang terbuka (karena memiliki isolasi terhadap tanah),
sehingga gelombang pantulannya akan memperkuat gelombang yang datang. Hal
ini dapat dikatakan transformator akan mengalami tegangan surja dua kali lebih
besar dari tegangan gelombang surja yang datang. Lightning arrester beroperasi
pada tegangan tertentu diatas tegangan operasi untuk membuang muatan listrik
dari surja petir dan berhenti beroperasi pada tegangan tertentu di atas tegangan
operasi. Perbandingan antara dua tegangan tersebut dinamakan rasio proteksi
arrester.
JENIS LIGHTNING ARRESTER
Seperti di pembahasan yang sebelumnya lightning arrester merupakan
peralatan pada sistem tenaga listrik yang berfungsi sebagai pengaman terhadap
tegangan surja. Tegangan surja ini akan mengakibatkan kenaikan tegangan sesaat
yang cukup besar pada jaringan, sehingga perlu adanya pengaman agar tidak
terjadi kerusakan pada isolasi peralatan. Arrester yang pada umumnya digunakan
ada dua jenis yaitu:
1. Jenis Ekspulsi
Arrester pada jenis ini mempunyai dua jenis sela, yakni sela
luar dan sela dalam. Sela dalam diletakkan dibagian dalam tabung
serat. Kedua sela ini akan terpercik ketika adanya surja petir. Pada
tabung akan mengeluarkan gas karena adanya arus susulan yang
memanaskan permukaan bagian dalam tabung serat. Arus susulan ini
berbentuk gelombang sinusoidal, sehingga ada suatu saat akan
mencapai siklus bernilai nol. Pada saat siklus dengan nilai nol inilah
gas pada tabung akan menjadi isolasi yang akan memadamkan arus
tersebut. Arrester jenis ini mampu melindungi transformator distribusi
yang memiliki rating tegangan 3-15kV dan dapat juga dipasang pada
saluran transmisi udara untuk mengurangi gangguan yang ditimbulkan
oleh surja petir yang masuk ke gardu induk.

Gambar Arrester Jenis Ekspulsi


2. Jenis Katup
Pada arrester jenis ini berupa sela percik yang dihubungkan
secara seri dengan resistor tak linear, dimana resistor tak linear ini akan
memiliki tahanan rendah ketika dialiri arus yang memiliki nilai yang
besar dan akan memiliki nilai tahanan yang besar bila arus yang
mengalir kecil. Resistor yang umum digunakan dibuat dengan material
silikon karbid. Arrester jenis ini tidak dipengaruhi oleh udara karena
sela percik dan resistor tak linear dipasang pada tabung isolasi.
Metode pengamanan pada arrester jenis ini adalah, saat terjadi
surja petir dan sela arrester akan terpercik, maka arus yang cukup besar
akan masuk pada arrester. Nilai tahanan awal pada arrester akan
mengecil akibat adanya arus yang membesar. Hal ini akan membatasi
tegangan maksimal pada tegangan terminal arrester, namun pada saat
arus mengalami penurunan nilai tahanan akan mengalami kenaikan,
sehingga arus susulan dapat dihambat karena adanya nilai tahanan
yang mengalami kenaikan ini. Biasanya arus yang dapat dikendalikan
hingga mencapai arus nominal yang dikenal sebagai arus kendari yakni
sebesar 50A.
Pada saat tegangan sesaat pada sistem bernilai nol percikan akan
padam dan arus kendali menjadi nol serta arus susulan tidak berlanjut

lagi. Secara umm arrester jenis katub ini dibagi menjadi empat jenis
yakni:
a.
b.
c.
d.

Jenis Gardu
Jenis Saluran (15-39kV)
Jenis Gardu untuk Mesin (2,4-15kV)
Jenis Distribusi untuk Mesin (120-750V)

Gambar Arrester Jenis Katub


PENEMPATAN ARRESTER
Tingkat proteksi yang diperlukan tidak ditentukan secara langsung dengan
mencocokkan nilai Basic Insulation Level (BIL) dengan nilai pelepasan arrester
melainkan mamsih diperlukan perhitungan pengaruh dari voltage-doubling.
Fenomena ini akan terjadi jika gelombang berjalan pada suatu saluran
direfleksikan, sehingga akan menyebabkan nilai tegangan akan menjadi lebih
besar dua kali tegangan semula. Pada penggunaan arrester dikenal istilah ratio
proteksi atau protective margin (PM), ratio proteksi merupakan ukuran
kemampuan dari arrester untuk melindungi peralatan listrik atau suatu sistem.
Perhitungannya menggunakan perbandingan rating BIL dari peralatan yang akan
diproteksi dengan harga pelepasan arrester.
Contoh: dimisalkan suatu kabel dengan rating BIL 125kV dipasang pada
sistem 24,9kV jenis arrester silicon carbide (SiC) yang akan digunakan
mempunyai harga pelepasan 67kV. Jika dilihat secara sepintas, arrester telah

sesuai karena tegangan pelepasannya sudah lebih kecil dari BIL transformator,
namun apabila memperhitungkan pengaruh dari voltage-doubling, maka tegangan
surja akan menjadi lebih besar dua kal yaitu 134kV,dimana nilai ini lebih besar
9kV dari BIL kabel. PM diperoleh -9kV/125kV = -0,072 atau -7,2%. Nilai ini
dituliskan sebagai -7,2% dikarenakan ratio proteksinya bernilai negatif yangmana
arrester tidak sesuai.
Peletakan arrester diusahakan seefektif mungkin dengan menerapkan
Zoning Area Proteksi yitu membagi cakupan area yang akan diproteksi dalam
bagian tertentu yang dibentuk oleh dinding bangunan, ruangan-ruangan,
peralatan-peralatan, dan permukaan dari logam. Dalam mencari jarak aman pada
pemasangan arrester digunakan persamaan berikut ini:

Gambar Arrester Line GI Konvensional 150kV

Gambar Arrester Bus GI Konvensional 150kV


Pada GIS terdapat arrester luar dan dalam, maka untuk pemasangan
arrester luar pada GIS secara prinsip sama dengan cara pemasangan GI
konvensional, yakni dengan mempertimbangkan BIL dari tranformator. Tetapi
pada umumnya pada GIS jarak arrester dengan transformator daya lebih dekat
daripada GI konvensional. Hal ini dikarenakan pada GIS ruang untuk penempatan
perlatan tegangan tinggi lebih sempit dibandingkan dengan GI konvensional,
sedangkan untuk arrester dalam sudah menjadi satu kesatuan dengan perangkat
yang lain dalam switchgear.

Gambar Arrester Luar pada GIS 150Kv

Gambar Arrester Dalam pada GIS 150Kv

PEMERIKSAAN ARRESTER
Pemeriksaan yang dilakukan pada arrester diantaranya adalah :
1. Pemeriksaan Eksternal
a. Pemeriksaan angka pada counter yang terpasang pada kaki
tower atau panel listrik.
b. Pemeriksaan kondisi sistem proteksi eksternal (finial, down
conductor, dan pentanahan).
2. Pemeriksaan Internal
a. Pemeriksaan arrester dengan cara mengukur tegangan sisa
arrester atau dengan melihat indikator yang terdapat pada
arrester untuk mengetahui apakah ada penurunan kualitas
arrester atau tidak.
b. Pemerikasaan hubungan antara arrester keperalatan lain dan
hubungan antara arrester ke tanah.
c. Pemeriksaan baut-baut yang ada.
3. Pengamatan Visual
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui beberapa faktor,
diantaranya adalah:
a. Sistem apakah dalam keadaan baik.
b. Tidak ada bagian sistem yang dalam kondisi yang lemah
karena korosi atau vibrasi.
c. Tidak adanya baut yang kendor yang dapat menyebabkan
tingginya tahanan pada sambungan.

d. Seluruh konduktor dan komponen Sistem Proteksi Petir (SPP)


dalam keadaan aman dan terlindung dari kemungkinan
kerusakan mekanik.
e. Seluruh down conductor dan terminal dalam kondisi bai.
f. SPP harus mengacu pada standar yang ada.
g. Tidak diijinkan melakukan perubahan atau penambahan pada
sistem yang diproteksi tanpa sepengetahuan yang
berwewenang
PEMELIHARAAN ARRESTER
Pemeliharaan yang dilakukan pada arrester sangat penting untuk dilakukan
dan diperhatikan secara khusus agar terlindung dari korosi dan handal terhadap
kerusakan yang diakibatkan oleh petir. Program pemeliharaan yang dilakukan
harus mencangkup kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Melakukan pemeriksaan untuk konduktor dan komponen dari proteksi
petir.
2. Melakukan pemeriksaan atau pengujian pada surge suppressor
(arrester) untuk mengetahui efektifitasnya dan membandingkan dengan
arrester baru.
3. Melakukan pemeriksaan seluruh sambungan dan bonding pada
arrester.
4. Melakukan pengukuran tahanan tananh pada terminal elektroda
pentanahan.
5. Menguji kekuatan dan ketebalan seluruh komponen dan konduktor
yang dibutuhkan.

REFERENSI
1.
2.
3.
4.
5.

http://www.abb.com/
Manual Book ABB MasterView 850
Manual Book Siemens Surge Arrester
http://www.siemens.com/Arrester-download/
Tobing Bonggas. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama

6. Harto, J., Syakur, A. 2015. Pemeliharaan Arrester GI dan GIS 150kV


PT. PLN (PERSERO) UPT Semarang. www.elektro.undip.ac.id
(diakses 19 Mei 2015 pukul 19.00)