Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN I

Judul

: Analisis Gravimetri

Tujuan

: 1. Mengendapkan barium kromat dan menentukan persentase


hasil dari barium kromat.
2. Mendalami dan menggunakan hukum stoikiometri dalam reaksi
kimia.
3. Mengembangkan ketrampilan menyaring dan memindahkan
endapan.

Hari/ Tanggal : Kamis/ 16 Oktober 2014


Tempat: Laboratorium Kimia FKIP UNLAM Banjarmasin.
I. DASAR TEORI
Gravimetri merupakan cara pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan
yang paling sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya.
Analisis gravimetri adalah cara analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap (berat
konstannya). Dalam analisis ini, unsur atau senyawa yang dianalisis dipisahkan
dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar analisis gravimetri
menyangkut perubahan unsur atau gugus senyawa yang dianalisis menjadi
senyawa lain yang murni dan mantap (stabil), sehingga dapat diketahui berat
tetapnya. Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari rumus
senyawa serta berat atom penyusunnya (Gandjar, 2007).
Dengan metode gravimetri melalui membran filter dan kemudian
ditentukan berat padatan yang terdapat pada filtrat secara gravimetri. Berat
padatan pada filtrat (mg) dibagi dengan volume sampel yang melewati filter (liter)
menghasilkan konsentrasi total padatan terlarut (Linggawati, 2001).
Proses metode gravimetri dimulai dengan membersihkan cawan penguap
dan dipanaskan dalam oven pada suhu tertentu selama 1 jam, kemudian cawan
didinginkan di dalam desikator dan ditimbang. sampel dituang ke dalam cawan.
Cawan berisi sampel dipanaskan kembali di dalam oven pada suhu tertentu,

Analisis Gravimetri

Page 1

sampai semua air menguap. Cawan didinginkan kembali dalam desikator dan
ditimbang kembali sampai berat konstan (Refnita, 2012).
Telah dipelajari korosi dan bagaimana korosi dapat terjadi pada besi dan
perbedaan korosi pada lingkungan dengan menggunakan metode yang berbeda
yaitu elekrokimia dan teknik gravimetri, selama percobaan digunakan berbagai
alat seperti SEM, RDX, FT-IR, XPS, AES, UV- Visible dan spektroskopi. Saat ini
hasilnya telah dilaporkan dalam kasus korosi dan korosi pada kobalt (Sherif,
2012).
Suatu zat akan mengendap apabila hasil kali kelarutan ion-ionnya lebih
besar daripada harga Ksp. (Sholahuddin dkk, 2012:21). Endapan adalah zat yang
memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin
berupa kristal (kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan
penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan
menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan (S) suatu endapan,
menurut definisi adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya.
Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu, tekanan, konsentrasi
bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Kelarutan
bergantung juga pada sifat dan konsentrasi zat-zat lain, terutama ion-ion seperti
ion-sekutu dan ion-asing (Vogel, 1990:72-73).
Apabila suatu zat yang mempunyai kelarutan kecil ada di dalam larutan
jenuhnya, maka tercapailah suatu kesetimbangan, misalnya:
AxBy

XAy+ + YBx-

Tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini pada temperatur yang tetap dapat
dinyatakan sebagai:

Analisis Gravimetri

Page 2

y +

x = K

Akan tetapi apabila semua AxBy berada dalam bentuk padat dan
terdisosiasi seluruhnya dalam bentuk ion-ion di dalam larutannya, maka (A xBy)
adalah suatu tetapan. Tetapan ini (yang bergantung langsung pada rapat massa
AxBy). Secara normal telah termasuk dalam tetapan kesetimbangan yang berlaku
untuk jenis sistem kimia yang semacam ini, dan pada akhirnya didapat suatu
tetapan yang disebut hasil kali kelarutan, Ksp.
Ksp AxBy = [Ay+]x + [Bx-]y
(Achmad, 1993:69)
Nilai Ksp berguna untuk menentukan keadaan senyawa ion dalam larutan,
apakah belum jenuh, tepat jenuh, atau lewat jenuh, yiatu dengan membandingkan
hasil kali ion dengan hasil kali kelarutan (Ksp). (Syukri, 1999:436)
Secara umum hubungan antara kelarutan (S) dengan tetapan hasil Ksp
dinyatakan sebagai berikut:
Ksp = (n-1)n-1Sn
Dimana n adalah jumlah ion elektrolit
Jika diketahui konsentrasinya maka:
AxBy

XAy+ + YBx-

Ksp AxBy = [Ay+]x + [Bx-]y


Jika harga:
a. [Ay+]x [Bx-]y = Ksp AxBy
Larutan tepat jenuh ( tidak terjadi endapan)
b. [Ay+]x [Bx-]y < Ksp AxBy

Analisis Gravimetri

Page 3

Larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan)


c. [Ay+]x [Bx-]y > Ksp AxBy
Larutan lewat jenuh (terjadi pengendapan)
(Keenan dkk, 1980)
Analisis gravimetri merupakan salah satu divisi dari kimia analitik. Tahap
pengukuran dalam metode gravimetri adalah penimbangan. Analitnya secara fisik
dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya.
Pengendapan merupakan teknik yang paling meluas penggunaannya untuk
memisahkan analit dari pengganggu-pengganggunya. Elektrolisis, ekstraksi
pelarut, kromatografi, dan pengatsirian (volatilisasi) merupakan metode penting
lain untuk pemisahan itu (Day dan Underwood, 2001:67-68).
Adapun proses analisis gravimetri ini terdiri dari beberapa tahap:
a. Melarutkan analit.
b. Mengatur keadaan
c. Mengatur endapan
d. Menumbuhkan kristal-kristal endapan
e. Menyaring dan mencuci endapan
f. Memenaskan atau memijarkan untuk memperoleh endapan kering dan
dengan susunan tertentu juga untuk menghilangkan kertas saring
g. Mendinginkan atau menimbang endapan
Analisis gravimetri dapat berlangsung baik, jika persyaratan berikut
dapat terpenuhi :
a. Komponen yang ditentukan harus dapat mengendap secara sempurna
(sisa analit yang tertinggal dalam larutan harus cukup kecil, sehingga
dapat diabaikan), endapan yang dihasilkan stabil dan sukar larut.
b. Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah dari
larutan (dengan penyaringan).
c. Endapan yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometrik
tertentu (dapat diubah menjadi sistem senyawa tertentu) dan harus
bersifat murni atau dapat dimurnikan lebih lanjut .

Analisis Gravimetri

Page 4

d. Zat

yang

akan

ditentukan

harus

dapat

diendapkan

secara

terhitung(sekurangnya 99,9% kesempurnaan pengendapannya). Ini


berarti bahwa endapan yang terbentuk harus sukar larut.
e. Endapan yang terbentuk harus cukup murni dan dapat diperoleh dalam
bentuk yang cocok untk pengolahan selanjutnya (Khopkar, 2007).
Pada percobaan ini larutan barium klorida diendapkan dengan larutan
kalium kromat.
BaCI2 (aq) + K2CrO4 (aq)

BaCrO4 (s)

+ 2 KCI (aq)

Endapan barium kromat disaring, hasil teoritis barium kromat dihitung


dari endapan yang terbentuk. Semua barium klorida dianggap berubah menjadi
hasil. Hasil teoritis ditentukan dari stoikiometri reaksi. (Sholahuddin, 2012:21)
Dalam prosedur gravimetri yang lazim, suatu endapan ditimbang dan nilai
analit dalam sampel dihitung, maka persentase analit A adalah:
%A =

berat A
berat sampel

x 100%

(persamaan 1)

(Syukri, 1999)
Penggunaan faktor gravimetri dalam perhitungan gravimetri adalah
sebagai berikut.
Bobot A = bobot P(endapan) x faktor gravimetri

(persamaan 2)

(Day dan Underwood, 2001:69)


Sehingga jika persamaan 2 disubstitusikan ke persamaan 1, maka:
%A =

berat endapan x faktor gravimetri


berat sampel

x 100%

(Day dan Underwood, 2001:69)


II. ALAT DAN BAHAN
A. Alat yang digunakan:
1. Gelas kimia 100 mL
2. Neraca analitik
3. Hotplate
4. Batang pengaduk
5. Kaca arloji
6. Spatula

Analisis Gravimetri

: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah

Page 5

(persamaan 3)

7. Pipet tetes
8. Gelas ukur 50 mL
9. Corong kaca
10. Gelas erlenmeyer 100mL
B. Bahan yang digunakan:
1. BaCl2 padat.H2O
2. K2CrO4 0,2 M
3. Aquades
4. Kertas saring

III.

: 2 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah

PROSEDUR KERJA

Persentase hasil barium kromat


1. Menimbang gelas kimia 100 mL dan mencatat bobotnya.
2. Memasukkan kira-kira 1,2 g BaCl2 ke dalam gelas kimia dan menimbang
kembali.
3. Kemudian menambahkan 25 mL air suling, mengaduk-aduk sampai
larutan homogen, sesudah itu memasukkan lagi larutan K2CrO4 0,2 M
sebanyak 20 mL, mengaduk-aduk dan mengamati endapan yang terbentuk.
Menguji larutan dengan beberapa tetes larutan K2CrO4 apakah masih
membentuk endapan.
4. Jika masih membentuk endapan dari BaCrO4, menambahkan terus K2CrO4
sampai tidak membentuk endpaan BaCrO4 lagi.
5. Memanaskan sampai mendidih, mengalihkan dari api, dan menyaring
dengan kertas saring whatman yang bobotnya telah diketahui.
6. Mengambil kertas saring beserta endapannya, mengeringkan, menimbang
dan mencatat bobotnya.
7. Menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan menentukan juga persen
hasil.
IV.

HASIL PENGAMATAN

No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Menimbang gelas kimia 100 Ml

54,7 g

Menimbang kertas saring

0,5 g

Analisis Gravimetri

Page 6

Menimbang BaCl2

1g

Memasukkan 1 g BaCl2 ke - Larutan homogen


dalam

gelas

kimia

dan

menambahkan 25 mL air suling


2.

- Larutan BaCl2 bening

menimbang kembali.
- mengaduk-aduk sampai larutan
homogeny

3.

Larutan BaCl2 bening + 20 mL


K2CrO4 0.2 M.
-

Mengaduk-aduk

Mengamati endapan yang


terbentuk

Larutan berwarna kuning

keruh (kuning susu)


Terbentuk dua lapisan
Terdapat endapan

Lapisan atas: larutan bening berbias


kuning.
Lapisan bawah: endapan kuning
muda.

5.

Menguji

larutan

Menambahkan

dengan

bebrapa

tetes

K2CrO4 0.2 M
- 5 teteslarutan K2CrO4 0.2 M
- 10 teteslarutan K2CrO4 0.2 M

Endapan masih terbentuk

Endapan masih terbentuk


Endapan pada lapisan atas
tidak terbentuk lagi

- 10 teteslarutan K2CrO4 0.2 M


6.

Memanaskan

larutan

mendidih
- Menyaring

sampai

Larutan mendidih

Residu: Endapan kuning


Filtrat: Larutan bening
berbias kuning.

Endapan kering
- Mengeringkan residu

Analisis Gravimetri

Page 7

- Menimbang endapan

Massa endapan total = 1,6 g


Massa endapan = 1,1 g

V. ANALISIS DATA
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan persentase hasil barium kromat
yang diperoleh dari pereaksian antara larutan barium klorida dengan larutan
kalium kromat.
Untuk membuat larutan barium klorida Pada percobaan ini langkah
pertama menimbang sebanyak 1 g kristal BaCl2 dilarutkan ke dalam 25 mL
aquades sambil mengaduk-aduk sesuai hasil pengamatan yang menghasilkan
larutan homogen yang tidak berwarna (bening) artinya kristal BaCl2 benar-benar
larut. Hal ini menunjukkan bahwa BaCl2 dapat larut sempurna dalam air. Dalam
proses pelarutan pelarut yang sering digunakan adalah aquades, hal ini disebabkan
karena hampir sebagian besar garam larut dalam air kecuali garam dengan kation
logam alkali. Pada proses pelarutan ini dihasilkan larutan tidak berwarna (bening),
karena larutan ini tidak ada tempat ion-ion yang menimbulkan warna.
Reaksinya yaitu:
BaCl2.2H2O(s) Ba2+(aq) + 2Cl-(aq)
Setelah itu, menambahkan larutan BaCl dengan 20mL larutan K2CrO4 0,2
M yang berwarna kuning,

karena adanya ion kromat (CrO 42-) pada larutan

K2CrO4. Senyawa K2CrO4 merupakan salah satu senyawa dari unsur transisi
periode keempat, di mana setiap unsurnya memiliki warna yang khas kecuali
senyawa dari Sc dan Ti yang tidak berwarna karena subkulit 3d-nya kosong.
Senyawa Zn2+ juga tidak berwarna karena subkulit 3d-nya terisi penuh. Sesuai
hasil pengamatn pencampuran ini menghasilkan larutan berawarna kuning keruh
(kuning susu).
Setelah larutan didiamkan beberapa saat, terbentuk dua lapisan di mana
pada bagian dasar gelas kimia berupa endapan berwarna kuning muda sedangkan
pada bagian atas adalah larutan bening berbias kuning. Endapan kuning muda
tersebut merupakan barium kromat (BaCrO4), sedangkan larutan bening berbias
kuning adalah larutan KCl. Seharusnya larutan KCl berwarna bening, namun

Analisis Gravimetri

Page 8

karena endapan BaCrO4 belum semuanya turun ke dasar gelas kimia, maka larutan
KCl berwarna bening berbias kuning.
Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
BaCl2 (aq) + K2CrO4 (aq) BaCrO4(s) + 2KCl(aq)
Hal ini karena berdasarkan pada aturan senyawa ionic dalam air, bahwa
ion Cl- dapat larut dalam air dan berdasarkan aturan tersebut secara kualitatif
dapat diperidiksikan kembali bahwa

bagian dari

senyawa K2CrO4

yang

kemungkinan besar bereaksi dengan Ba2+ adalah CrO42-. Hal ini disebabkan CrO42merupakan anion sedangkan Ba2+ sebagai kation sehingga terbentuk senyawa
BaCrO4 sebagai endapan.
Endapan BaCrO4 terbentuk karena hasil kelarutan ion-ion BaCrO4 lebih
besar daripada tetapan hasil kali kelarutan BaCrO4, yaitu Qc (7,956. 10-3) > Ksp
BaCrO4 (1,6 x 10-10). Dalam keadaan ini, dapat dikatakan bahwa BaCrO4 sudah
jenuh dalam campuran dengan K2CrO4.
Kemudian campuran ditambahkan lagi dengan beberapa tetes larutan
K2CrO4 untuk memastikan kejenuhan larutan tersebut akan ion CrO42-. Pada
percobaan ini K2CrO4 yang ditambahkan sekitar 17 tetes. Penetesan kembali
K2CrO4 ini adalah untuk mengetahui apakah akan terbentuk lagi endapan BaCrO 4
atau tidak. Penambahan K2CrO4 harus dilakukan sedikit demi sedikit agar saat
tidak terbentuk endapan lagi pada lapisan larutan KCl dapat teramati dengan jelas.
Hasilnya, setelah ditambahkan 17 tetes K2CrO4 tidak terbentuk lagi endapan dan
nampak endapan terpisah secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam
campuran tersebut sudah jenuh dengan ion CrO 42-. Dengan jenuhnya campuran
tersebut dengan ion CrO42- maka berarti semua BaCl2 yang ada dalam campuran
tersebut telah habis bereaksi membentuk endapan BaCrO 4 dan jika jumlah BaCl2
telah habis maka penambahan K2CrO4 hanya akan menambah ion CrO42- yang
pada

penambahan

tertentu

menyebabkan

kejenuhan.

kesetimbangan antara ion CrO42- dengan endapan BaCrO4 :

Analisis Gravimetri

Page 9

Adapun

reaksi

Ba2+(aq) + 2CrO42-(aq) BaCrO4(s)


Dengan adanya penambahan ion maka kesetimbangan reaksi akan
bergerak ke kanan dan jumlah endapan yang diperoleh semakin banyak,namun
jika ion Ba2+ yang berasal dari BaCl2 telah habis, maka larutan pun menjadi jenuh.
Hal tersebut sesuai dengan asas Le Chatelier yang menyatakan bahwa
penambahan ion senama/ion yang sama akan memperkecil kelarutan suatu zat.
Dalam hal ini kelarutan K2Cro4 lah yang semakin kecil dengan penambahan ion
CrO42- karena harga Ksp-nya menjadi lebih kecil daripada hasil kali konsentrasi
ion-ionnya (Qc) sehingga terbentuk endapan.
Setelah pencampuran BaCl2 dan K2CrO4, dilakukan proses pemanasan
sampai campuran mendidih yang bertujuan untuk memekatkan larutan dan
meningkatkan konsentrasi larutan, serta untuk memastikan agar BaCl 2 habis
bereaksi dengan K2CrO4. Selain itu, kenaikan temperatur juga akan mempercepat
reaksi dan bertujuan untuk memperoleh struktur endapan yang lebih baik akibat
pembesaran partikel karena penumpukan partikel, sehingga mudah disaring.
Setelah campuran mendidih, campuran disaring selagi panas dengan kertas
saring Whatman. Penyaringan dilakukan selagi panas agar campuran tidak
mengendap dan mudah melewati kertas saring. Apabila sudah dingin,
kemungkinan dapat menurunkan kelarutan dan terbentuk endapan kembali dalam
kondisi tertentu.
Penyaringan dilakukan berkali-kali agar menghasilkan filtrat bening dan
juga dimaksudkan agar tidak ada endapan yang tertinggal pada gelas kimia. Dari
percobaan saat campuran disaring ternyata dihasilkan filtrat bening berbias kuning
dan residu berwarna kuning muda yang masih basah yang merupakan endapan
BaCrO4. Filtrat bening berbias kuning tersebut menunjukkan bahwa dalam filtrat
tidak hanya mengandung senyawa KCl tetapi juga masih terdapat ion CrO 42- dari
K2CrO4 yang tidak habis bereaksi dengan BaCl2 membentuk BaCrO4. Hal ini
terjadi karena kurang ketelitian dalam percobaan dalam hal meneteskan K2CrO4
sedikit berlebihan. Hal ini sesuai dengan perhitungan di mana masih terdapat

Analisis Gravimetri

Page 10

0,00008 mol K2CrO4 yang tidak bereaksi dengan BaCl2. Padahal seharusnya filtrat
hasil penyaringan berwarna bening, karena filtrat tersebut merupakan larutan KCl.
Kemudian melakukan proses pengeringan yang bertujuan agar molekulmolekul air yang terikat dapat terlepas melalui penguapan. Pengeringan ini akan
menyebabkan air elektrolit dan kotoran-kotoran menguap lepasd ari endapan,
sehingga diperoleh endapan BaCrO4 murni. Pengeringan dilakukan selama kurang
lebih dua hari.
Setelah dilakukan penimbangan diperoleh endapan kering BaCrO 4 seberat
1,1 g, yang merupakan berat nyata (sampel). Sedangkan menurut perhitungan
berat teoritisnya yaitu 1,0361 g. Sehingga diperoleh persentase hasil endapan
BaCrO4 sebesar 106,16 % (terlampir).

VI. KESIMPULAN
1. Pada percobaan ini hubungan Qc. BaCrO4 dan Ksp BaCrO4 adalah
Q[Ba2+] [CrO42-] > Ksp BaCrO4.
Maka, terjadi pengendapan
2. Berdasarkan percobaan ini presentase hasil dari barium kromat adalah
106, 16%. karena beberapa faktor sehingga lebih dari 100%
3. Berdasarkan percobaan ini berat teoritis BaCrO4 adalah 1,0361 gram
4. Berat teoritis dapat dihitung menggunakan konsep stoikiometri reaksi.
Sedangkan berat nyata berdasarkan hasil penimbangan (hasil percobaan).
5. Metode dalam analisis gravimetri meliputi pelarutan sampel, pengendapan,
pemanasan, penyaringan, pencucian endapan, pengeringan, kemudian
penimbangan dan menghitung presentase hasil.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar Praktikum-Praktikum Kimia. Depdikbud
Day, R. A. dan Underwood, A. L. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:
Erlangga.
Analisis Gravimetri

Page 11

Gandjar, Ibnu G. dan Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta. (Hal. 91)
Keenan; Kleinfelter dan Wood. 1980. Kimia untuk Universitas Edisi keenam Jilid
2. Jakarta: Erlangga.
Khopkar, S. M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI.
Linggawati, A., Muhdarina dan Harapan S., 2001, Efektifitas Pati Fosfat dan
Aluminium Sulfat Sebagai Flokulan dan Koagulan, Jurnal Natur
Indonesia, Vol. 4, No. 1, ISSN : 1410 9379, Riau.
Refnita, G., Zamzibar Zuki dan Yulizar Yusuf, Pengaruh Penambahan Abu
Terbang (Fly Ash) Terhadap Tekanan Kuat Mortar Semen Tipe PCC Serta
Analisis Air Laut Yang Digunakan Sebagai Perendaman, Jurnal Kimia
Unand, Vol. 1, No. 1, Andalas.
Sherif, E. M., 2012, Electrochemical and Gravimetric Study on the Corrosion and
Corrosion Inhibition of Pure Copper in Sodium Chloride Solutions by Two
Azole Derivatives, International Journal Electrochemical Science, Vol. 7,
No. 1, Saudi Arabia
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung : Penerbit ITB.
Sholahuddin, Arif; Bambang Suharto dan Abdul Hamid. 2012. Panduan
Praktikum Kimia Analisis. Banjarmasin: Kimia FKIP Unlam.
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi
Kelima. Jakarta: Kalman Media Pustaka.

LAMPIRAN
A. PERHITUNGAN
1.perhitungan massa endapan BaCrO4 (berat nyata)
Diketahui :
Massa kertas saring + endapan
= 1,6 g
Massa kertas saring
= 0,5 g
Ditanya : massa endapan BaCrO4 (berat nyata) ?

Analisis Gravimetri

Page 12

Jawab :
Massa endapan BaCrO4 = ( massa kertas saring+endapan) ( massa kertas
saring)
= 1,6 g 0,5 g
= 1,1 g
2. perhitungan massa endapan BaCrO4( hasil teoritis)
Diket :
Mr.BaCl2 = Ar.Ba + ( 2.Ar.Cl )
= 137,34 g/mol + (2 . 35,5 g/mol)
=(137,34+71) g/mol= 208,34
Mr.H2O = 2. (2.Ar.H) + ( 2.Ar.O)
= (4.1 g/mol) + (2 . 16 g/mol)
= 36 g/mol
Mr.BaCl2. 2H2O

= Mr.BaCl2 + Mr. 2H2O


= 208,34 g/mol + 36 g/mol
= 244,34 g/mol

[K2CrO4] = 0,1 M
V.K2CrO4 = 20 mL + 0,85 mL
=20,85 mL = 0,02085 L
Catatan : 1 tetes K2CrO4 = 0,05mL
Jadi, 17 x 0,05 mL= 0,85 mL (karena yang digunakan 17 tetes)

Analisis Gravimetri

Page 13

Massa BaCl2. 2H2O = 1 gram


Ditanya : endapan BaCrO4 (berat teoritis )?
jawab:
massa BaCl2 =

BM BaCl 2
x massa BaCl 2. H 2O
BM BaCl 2. H 2 O
gram
mol
x 1 gra=0,8526 g
g
244,34
mol

208,34
=

n BaCl2 =

m BaCl 2
Mr BaCl 2

0,8526 gram
g
208,34
mol

= 0,00409 mol
n K2CrO4 = M K2CrO4 V K2CrO4
= 0,2 M 0,02085 mL
= 0,00417 mol

Reaksi yang terjadi :

BaCl2 (aq)
+
K2CrO4 (aq) BaCrO4 (S) +
3
3
: 4,09 10
mol : 4,17 10
:
-

Analisis Gravimetri

Page 14

2KCl (aq)
:

103 mol :4,09

: 4,09

103

mol : 4,09

103

mol : 4,09

103 mol
S

5
:8 10 mol

3
: 4,09 10
mol

Hasil teoritis endapan BaCrO4 = n BaCrO4 Mr BaCrO4


= 4,09 10

mol 253,336 g/mol

= 1,0361 gram
3. Persentase hasil endapan barium kromat (BaCrO4)
% hasil

Berat nyata
100
Berat teoritis

1,1 gram
100
1,0361 gram

= 106, 16 %
Jadi, persentase hasil endapan BaCrO4 dari percobaan adalah 106, 16 %
4.Perhitunngan Qc BaCrO4
Diketahui :
3
Mol BaCrO4 = 4,09 10 mmol
V total

= 25 mL H2O + 20,85 mL K2CrO4


= 45, 85 mL
Ksp BaCrO4 = 1,6. 10-10 ( vogel:1990:75)
Ditanya : Qc
Jawab :

Analisis Gravimetri

Page 15

M BaCrO4 =
=

mol BaCrO 4
V total
0,00409mmol
0,04585 mL

= 0,0892 M

Ba2+ + CrO420,0892 : 0,0892


Qc = [Ba2+] [CrO42-]
= 0,0892 0,0892
BaCrO4
0,0892 :

= 7.956. 10 -3 M2
Qc > Ksp
10
7.956. 10 -3 > 1,26 10
Maka, BaCrO4 mengendap.
B. PERTANYAAN DAN JAWABAN
Pertanyaan:
1. Jelaskan faktor apa saja yang harus dikontrol pada praktek agar menghasilkan
endapan yang mudah disaring dengan partikel yang relatif kasar.
2. Jika 100 mL larutan BaCl2 0,01 M diendapkan dengan K2CrO4. Tentukan
berapa gram K2CrO4 yang diperlukan agar terbentuk endapan BaCrO4

Jawaban Pertanyaan:
1. Faktor yang harus dikontrol pada praktek agar menghasilkan endapan yang
mudah disaring dengan partikel yang relatif kasar yaitu:
a) Penentuan selang waktu pada saat pengendapan selanjutnya yang
akan membentuk partikel dengan ukuran yang cukup besar untuk
mengendap ke dasar wadah.
b) Pemilihan keadaan untuk pengendapan.
Untuk memperoleh endapan / partikel yang relatif kasar, yang perlu
diperhatikan dalam proses pengendapan adalah kelewat jenuhan
nisbi (R) yang dirumuskan dengan:

Analisis Gravimetri

Page 16

R=
R

QS
S

= Kelewat jenuhan nisbi

Q = Kepekatan molar larutan setelah dicampur, tapi belum


timbul endapan.
S

= Kelarutan molar endapan.

Jika endapan mempunyai hasil kali kelarutan yang rendah (S yang


rendah) dan endapan itu terbentuk dari larutan yang agak pekat (Q
tinggi), maka kelewat jenuhan nisbinya akan tinggi, sehingga
sejumlah besar inti akan terbentuk, yang mengelompok dengan cepat
menjadi endapan halus atau endapan tak bebentuk. Sebaliknya, jika
kelewatjenuhan nisbinya rendah (Q rendah, tapi s tinggi), maka
jumlah inti yang terbentuk juga akan rendah yang memungkinkan
terbentuknya endapan kasar. Jadi, endapan BaCrO4 akan lebih kecil
bila diendapkan dari larutan pekat dan akan menghasilkan endapan
BaCrO4 akan lebih kecil bila diendapkan dari larutan encer.
c) Laju pengendapan
Pengendapan zat
mempertahankan

pengendap
harga

(Q

secara

perlahan-lahan

S)rendah,

sehingga

akan
tercapai

kelewatjenuhan nisbi yang rendah, dan dapat diperoleh endapan


yang lebih besar. Untuk menjaga agar perbedaan Q S selalu kecil,
maka larutan yang digunakan sebaiknya larutan encer.
d) Pemanasan atau kadang-kadang dengan pengasaman larutan tempat
berlangsungnya pengendapan.
e) Pengadukan, juga penting karena dapat menghindarkan terjadinya
kelewatjenuhan setempat dalam larutan.
f) Dengan pemeraman endapan dalam cairan induknya.
Pemeraman endapan adalah pendiaman endapan dalam cairan
induknya.Pemeraman ini menyebabkan luas permukaan endapan
berkurang karena partikel endapan yang lebih besar muncul
Analisis Gravimetri

Page 17

menggantikan partikel-partikel yang lebih kecil. Selain perubahan


ukuran partikel endapan menjadi lebih besar, cara ini dapat merubah
bentuk yang kurang mantap menjadi lebih mantap, perubahan
susunan kimia endapan dan penghabluran kembali. Pada umumnya,
endapan yang lebih besar dan lebih murni dapat diperoleh dengan
cara ini.
g) Pengeringan dan pemijaran endapan untuk mendapatkan bentuktimbang yang sesuai.

2. Diketahui : BaCl2, V = 100 mL = 0,1 L


M = 0,01 M
Ditanya : m K2CrO4 agar terbentuk endapan BaCrO4 ?
Penyelesaian :
BaCI2 (aq) + K2CrO4

BaCrO4 (s)

+ 2 KCl

n BaCl2 = M . V = 0,01 M . 0,1 L


= 0,001 mol
n K2CrO4 yang diperlukan = 1/1 x 0,001 mol
= 0,001 mol
m K2CrO4

= n x Mr
g mol

= 0,001 mol x 194,2


= 1,942 gram
Jadi massa K2CrO4 yan diperlukan agar terbentuk endapan BaCrO4 adalah
0,1942 gram.

Analisis Gravimetri

Page 18

LAMPIRAN FOTO

Menimbang BaCl2

Menambahkan aquades

Memasukkan K2CrO4

Terbentuk endapan didasar


gelas kimia

Analisis Gravimetri

Menambahkan tetes demi


tets K2CrO4 sampai endapan
tidak terbentuk

Page 19

Menyaring larutan

Memanaskan larutan sampai


mendidih

Menimbang
Endapan yang
endapan
terbentuk

FLOWCHART
1,2 gram BaCl2(s) + 25 mL H2O (air suling)
Analisis Gravimetri

Page 20

- Memasukkan ke dalam gelas kimia 100 ml


- Mengaduk-aduk sampai larutan homogen

* Larutan

* Larutan + 25 mL K2CrO4
2M
- Mengamati endapan yang terbentuk
- Menambahkan terus K2CrO4 sampai
endapan BaCrO4 tidak terbentuk lagi
** Larutan +
endapan
** Larutan +
endapan
- Memanaskan sampai mendidih
- Menyaring dengan kertas saring Whatman

Larutan

Larutan + Endapan
- Mengeringkan
- Menimbang
Endapan

NB :

Mencatat bobotnya
Menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan tentukan juga persen hasil

Analisis Gravimetri

Page 21