Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH FITOKIMIA

KRISTALISASI

Dosen Pembimbing:
Husnani, M.Sc.,Apt
Disusun Oleh:
KELOMPOK 6 / IIA
Hera Cahyawati

138927

Indri

138929

Martina Rizka Yulinda

138943

Putri Fatika Sari

138961

Rahmaji
Ratih Ariska

138963
138965

Yessi Dwisanti

139005

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK


TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. Karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat berdasarkan beberapa sumber yang bersangkutan dengan
materi. Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak menemukan berbagai hambatan
dan kendala karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami punya. Kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna baik secara penyajian ataupun
kelengkapannya. Oleh karena itu, kami siap menerima segala kritik dan saran demi
sempurnanya makalah-makalah yang lainnya.
Tak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak di bidang farmasi dan bidang
kesehatan pada umumnya.

Wassalamualaikum wr.wb

Pontianak,

Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I.................................................................................................................................1
1.1

Latar Belakang.......................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................................2

1.3

Tujuan Penulisan....................................................................................................2

BAB II...............................................................................................................................3
PEMBAHASAN................................................................................................................3
2.1

Pengertian Kristalisasi...........................................................................................3

2.2

Pengantar Pemisahan Campuran Berdasarkan Titik Beku....................................3

2.3

Prinsip Kristalisasi.................................................................................................5

2.4

Mekanisme Kristalisasi..........................................................................................7
2.4.1

Supersaturasi (Supersaturated State)..........................................................7

2.4.2

Nukleasi (Nucleation)..................................................................................8

2.4.3

Pertumbuhan Kristal (Growth)....................................................................9

2.5

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kristalisasi..................................................11

2.6

Produk pangan yang mengandung Kristalisasi....................................................12

2.7

Jenis Crystallizer..................................................................................................13

BAB III............................................................................................................................15
PENUTUP.......................................................................................................................15
3.1

Kesimpulan...........................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Telah kita ketahui bahwa materi terdiri dari unsur, senyawa, dan campuran.

Campuran dapat dipisahkan melalui beberapa proses pemisahan campuran secara fisika
dimana didasarkan pada sifat fisikanya seperti titik didih dan titik beku. Pemisahan
campuran berdasarkan titik didih dapat dilakukan dengan cara destilasi sedangkan
pemisahan

campuran

berdasarkan

titik

beku

dilakukan

dengan

proses

kristalisasi.Kristalisasi merupakan metode pemisahan campuran berupa larutan menjadi


padatan atau Kristal melalui proses pendinginan maupun pemanasan.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan garam dapur dan gula
pasir. Kedua bahan tersebut memiliki wujud berupa Kristal. Bahan-bahan tersebut
awalnya berupa larutan yang kemudian melalui proses kristalisasi menjadi Kristal padat.
Pada pembuatan garam dapur dari air laut, mula-mula air laut ditampung dalam suatu
tambak, kemudian dengan bantuan sinar matahari dibiarkan menguap. Setelah proses
penguapan, dihasilkan garam dalam bentuk kasar dan masih bercampur dengan
pengotornya, sehingga untuk mendapatkan garam yang bersih diperlukan proses
rekristalisasi (pengkristalan kembali). Pada pembuatan gula putih dari tebu. Batang tebu
dihancurkan dan diperas untuk diambil sarinya, kemudian diuapkan dengan penguap
hampa udara sehingga air tebu tersebut menjadi kental, lewat jenuh, dan terjadi
pengkristalan gula. Kristal ini kemudian dikeringkan sehingga diperoleh gula putih atau
gula pasir.
Oleh sebab itu, untuk lebih memahami mengenai pengertian kristalisasi, prinsip
dasar kristalisasi, mekanisme kristalisasi, komponen dasar kristalisasi, keunggulan,
kelemahan, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, maka disusunlah makalah
ini.

1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang melatarbelakangi penulisan makalah ini adalah

sebagai berikut:

1. Apa pengertian kristalisasi?

2. Bagaimana pemisahan campuran berdasarkan titik beku pada senyawa volatil dan
non volatil?

3. Apa saja prinsip dalam kristalisasi?

4. Bagaimana mekanisme proses kristalisasi?

5. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi proses terbentuknya kristal dalam


kristalisasi?

6. Apa saja produk penerapan dari proses kristalisasi?


1.3

Tujuan Penulisan
Ada pun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengertian kristalisasi

2. Mengetahui pemisahan campuran berdasarkan titik beku pada senyawa volatil dan
non volatil

3. Memahami prinsip dalam kristalisasi

4. Memahami mekanisme proses kristalisasi

5. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi proses terbentuknya kristal dalam


kristalisasi

6. Mengetahui produk penerapan dari proses kristalisasi

7. BAB II
8. PEMBAHASAN
9.
10. 2.1 Pengertian Kristalisasi
11.

Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari

pengendapan larutan, melt (campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan


langsung dari gas. Kristalisasi juga merupakan teknik pemisahan kimia antara
bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan massa (mass transfer) dari suat zat
terlarut (solute) dari cairan larutan ke fase kristal padat. Dasar metode ini adalah
kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada
dua cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi pendinginan.
12.

Kristalisasi penguapan dilakukan jika zat yang akan dipisahkan

tahan terhadap panas dan titik bekunya lebih tinggi daripada titik didih pelarut.
Pemisahan secara kristalisasi dilakukan untuk memisahan zat padat dari
larutannya dengan jalan menguapkan pelarutnya. Zat padat tersebut dalam
keadaan lewat jenuh akan membentuk kristal. Contoh Kristalisasi penguapan
dilakukan oleh para petani garam. Pada saat air pasang, tambak-tambak garam
akan terisi air laut. Pada saat air surut maka air laut yang sudah mengisi tambak
garam akan tetap berada di tempat itu.
13.

Adanya pengaruh sinar matahari mengakibatkan komponen air

dari air laut dalam tambak akan menguap dan komponen garamnya akan tetap
dalam larutan. Jika penguapan ini terus berlangsung, lama-kelamaan garam
tersebut akan membentuk kristal-kristal garam tanpa harus menunggu sampai
airnya habis. Kristalisasi pendinginan dilakukan dengan cara mendinginkan
larutan. Pada saat suhu larutan turun, komponen zat yang memiliki titik beku
lebih tinggi akan membeku terlebih dahulu, sementara zat lain masih larut
sehingga keduanya dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Zat lain akan
turun bersama pelarut sebagai filtrat, sedangkan zat padat tetap tinggal di atas
saringan sebagai residu.
14.
4

15. 2.2 Pengantar Pemisahan Campuran Berdasarkan Titik Beku


16.

Dalam kimia dan teknik

kimia, proses

pemisahan digunakan

untuk mendapatkan dua atau lebih produk yang lebih murni dari suatu
campuran senyawa kimia.Sebagian besar senyawa kimia ditemukan di alam
dalam keadaan yang tidak murni. Biasanya, suatu senyawa kimia berada dalam
keadaan tercampur dengan senyawa lain. Untuk beberapa keperluan seperti
sintesis senyawa kimia yang memerlukan bahan baku senyawa kimia dalam
keadaan murni atau proses produksi suatu senyawa kimia dengan kemurnian
tinggi, proses pemisahan perlu dilakukan. Proses pemisahan sangat penting
dalam bidang teknik kimia. Suatu contoh pentingnya proses pemisahan adalah
pada proses pengolahan minyak bumi dan pengkristalan garam maupun gula
putih.
17.

Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai

proses perpindahan massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan


menjadi proses pemisahan secara mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses
pemisahan yang digunakan bergantung pada kondisi yang dihadapi. Pemisahan
secara mekanis dilakukan kapanpun memungkinkan karena biaya operasinya
lebih murah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran yang tidak dapat
dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti pemisahan minyak bumi),
proses pemisahan kimiawi harus dilakukan.
18.

Untuk proses pemisahan suatu campuran heterogen, terdapat

empat prinsip utama proses pemisahan, yaitu:

Sedimentasi
Flotasi
Sentrifugasi
Filtrasi
19.
20.

Proses

pemisahan

suatu

campuran

homogen,

prinsipnya

merupakan pemisahan dari terbentuknya suatu fasa baru sehingga campuran


menjadi suatu campuran heterogen yang mudah dipisahkan. Fasa baru terjadi /
terbentuk dari adanya perbedaan sifat fisik dan kimiawi masing-masing

komponen. Berbagai metode yang digunakan untuk terjadinya suatu fasa baru
sehingga campuran homogen dapat dipisahkan adalah:

Absorpsi
Adsorpsi
Kromatografi
Kristalisasi
Rekristalisasi
Destilasi
Evaporasi
Ekstraksi
21.
22.

Senyawa volatil memiliki titik didih yang lebih rendah

dibandingkan senyawa non volatil sehingga senyawa volatil akan lebih mudah
menguap terlebih dahulu (lebih suka dalam wujud gas) dibandingkan senyawa
non volatil. Oleh sebab itu, titik beku senyawa volatil lebih tinggi (lebih negatif)
dibandingkan senyawa volatil, sementara itu kristalisasi baru dapat berlangsung
melalui proses pendinginan dibawah titik leleh suatu senyawa. Jika titik beku
suatu senyawa lebih tinggi, maka kemampuan senyawa tersebut untuk mencapai
titik bekunya akan semakin sulit sehingga sulit untuk mengkristal. Dari
penjelasan tersebut, maka senyawa volatil sangat sulit untuk mengalami
kristalisasi, sehingga dalam pembahasan proses kristalisasi ini hanya dijelaskan
pada senyawa non volatil saja.
23.
24. 2.3 Prinsip Kristalisasi
25.

Prinsip dari kristalisasi adalah bahwa senyawa padat akan mudah

terlarut dalam pelarut panas bila dibandingkan pada pelarut yang lebih dingin.
Jika suatu larutan senyawa tersebut dijenuhkan dalam keadaan panas dan
kemudian didinginkan,senyawa terlarut akan berkurang kelarutannya dan mulai
mengendap, membentuk kristal yang murni dan bebas dari pengotor. Kemurnian
zat ini disebabkan oleh pertumbuahan kristal zat telarut, sehingga za-zat ini
dapat dipisahkan dari pengotornya.

26.

Pemisahan dengan teknik kristalisasi didasari atas pelepasan

pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogen atau larutan,
sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya. Proses ini adalah salah satu teknik
pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat
menghasilkan kemurnian produk hingga 100%.
27.

Kristal dapat terbentuk karena suatu larutan dalam keadaan atau

kondisi lewat jenuh (supersaturated). Kondisi tersebut terjadinya karena pelarut


sudah tidak mampu melarutkan zat terlarutnya, atau jumlah zat terlarut sudah
melebihi kapasitas pelarut. Sehingga kita dapat memaksa agar kristal dapat
terbentuk dengan cara mengurangi jumlah pelarutnya, sehingga kondisi lewat
jenuh dapat dicapai. Proses pengurangan pelarut dapat dilakukan dengan empat
cara yaitu, penguapan, pendinginan, penambahan senyawa lain dan reaksi kimia.
28.

Pemisahan dengan

pembentukan kristal melalui proses

penguapan merupakan cara yang sederhana dan mudah kita jumpai, seperti pada
proses pembuatan garam.
29.

Air laut dialirkan kedalam tambak dan selanjutnya ditutup. Air

laut yang ada dalam tambak terkena sinar matahari dan mengalami proses
penguapan, semakin lama jumlah berkurang, dan mongering bersamaan dengan
itu pula kristal garam terbentuk. Biasanya petani garam mengirim hasilnya ke
pabrik untuk pengolahan lebih lanjut.
30.

Pabrik gula juga melakukan proses kristalisasi, tebu digiling dan

dihasilkan nira, nira tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam alat vacuum


evaporator. Dalam alat ini dilakukan pemanasan sehingga kandungan air di
dalam nira menguap, dan uap tersebut dikeluarkan dengan melalui pompa,
sehingga nira kehilangan air berubah menjadi kristal gula.
31.

Ketiga teknik yang lain pendinginan, penambahan senyawa lain

dan reaksi kimia pada prinsipnya adalah sama yaitu mengurangi kadar pelarut
didalam campuran homogeen.

32.
33.
34.

Untuk membentuk kristal, fase cairan (liquid) harus melewati

kondisi kesetimbangan dan menjadi lewat jenuh (untuk larutan) atau kondisi
lewat dingin (untuk lelehan).Kondisi tersebut dapat tercapai melalui pendinginan
di bawah titik leleh suatu komponen (misalnya air) atau melalui penambahan
sehingga dicapai kondisi lewat jenuh (misalnya garam dan gula).
35.
36. 2.4 Mekanisme Kristalisasi
2.4.1

Supersaturasi (Supersaturated State)


Pendinginan
37.

Solubilitas padatan dalam cairan akan menurunseiring dengan penurunan

suhu (pendinginan) untuklarutanyangdipengaruhisuhu.

Penguapansolven
38.

Konsentrasi larutan menjadi makin pekat

Penambahanlarutanlain (non solven)

Menurunkansolubilitas padatan

39.

Ketika suatu cairan atau larutan telah jenuh, terdapat termodinamika yang
mendorong kristalisasi. Molekul-molekul cenderung membentuk kristal karena

pada bentuk kristal, energi sistem mencapai minimum.


Selama nukleasi atau pembentukan inti kristal, molekul dalam wujud cair
mengatur diri kembali dan membentuk klaster yg stabil dan mengorganisasikan
diri membentuk matriks kristal.

40.
41.
42.
2.4.2

Nukleasi (Nucleation)
43.

Laju nukleasi ialah banyaknya partikel baru yang terbentuk per

satuan waktu per satuan volume magma atau larutan induk bebas zat padat.

Besaran ini merupakan parameter kinetic pertama yang mengendalikan distribusi


ukuran kristal.
44. Ada beberapa pengerian nukleasi :
45. Nukleasi Primer
46.

Nukleasi ialah lahirnya suatu benda yang sangat kecil, merupakan

suatu fase baru di dalam fase yang telah ada, dimana fase yang telah ada itu
homogen dan lewat jenuh. Pada dasarnya fenomena nukleasi sama dengan
kristalisasi dari larutan, kristalisasi dari cairan, kondensasi tetesan kabut didalam
uap yang lewat dingin dan pembangkitan gelembung di dalam zat cair panas
lanjut. Nukleasi merupakan akibat fluktuasi local yang berlangsung cepat pada
skala molekul di dalam fase homogeny yang berada di dalam keseimbangan
metastabil. Fenomena dasarnya disebut nukleasi homogen yang terbatas pada
pembentukan partikel baru di dalam suatu fase tanpa terpengaruh oleh suatu zat
padat termasuk dinding bejana atau partikel submikroskopik paling kecil
sekalipun.
47.

Variasi nukleasi homogen terjadi bila partikel zat padat asing

masih mempengaruhi proses nukleasi dengan mengkatalisis laju pertambahan


nukleasi pada suatu keadaan lewat jenuh tertentu atau memberikan suatu laju
tertentu pada lewat jenuh dimana nukleasi homogeny hanya akan berlangsung
sesudah memakan waktu yang lama sekali. Proses ini disebut nukleasi
heterogen.
48. Nukleasi Sekunder
49.

Pembentukan inti yang dapat dikatakan dipengaruhi oleh kristal-

kristal mikroskopik yang sudah ada di dalam magma dinamakan nukleasi


sekunder. Ada dua macam nukleasi sekunder, yang pertama disebabkan geser
fluida dan tumbukan antara sesama kristal yang ada/dinding kristalisator/
impeller putar/daun agitator.
50. Nukleasi Geser Fluida
51.

Nukleasi jenis ini diketahui berlangsung pada kondisi tertentu

dan diperkirakan juga berlangsung pada kondisi lain. Bila larutan lewat jenuh
bergerak dengan kecepatan agak tinggi melewati permukaan kristal yang sedang

10

tumbuh, tegangan geser (shear stress) pada lapisan batas dapat menyebabkan
embrio atau inti tersapu dan muncul sebagai kristal baru. Inti tersebut seharusnya
menjadi bagian dari kristal yang sedang tumbuh tadi.
52. Nukleasi Kontak
53.

Nukleasi sekunder dipengaruhi oleh intensitas pengadukkan, jenis

ini merupakan nukleasi yang paling banyak terdapat dalam kristalisator industry
Karen aterjadi

pada lewat jenuh rendah, dimana laju pertumbuhan kristal

adalah optimum untuk menghasilkan kualitas yang baik. Nukleasi kontak


sebanding dengan pangkat satu lewat jenuh, bukan pangkat 20 lebih seperti
nukleasi primer sehingga mudah dikendalikan tanpa mengalami operasi yang tak
stabil. Dalam nukleasi dan pertumbuhan digunakan satuan mol sebagai
pengganti satuan massa.
54.
2.4.3

Pertumbuhan Kristal (Growth)


55.

Fase ini sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dari larutan, suhu,

energi yang dipakai untuk berada pada tahap ini (misalnya agitasi) dan tambahan
eksternal (memakai molekul kristal kembali seeding agent).
56.

Kristalisasi dari sebuah larutan dibagi menjadi dua langkah

proses. Langkah pertama adalah pemisahan fase atau kelahiran kristal baru.
Kedua adalah pertumbuhan kristal kedalam ukuran yang lebih besar. Dua proses
tersebut dikenal sebagai nukleasi dan crystal growth. Pertumbuhan kristal
bersama nukleasi dapat mempengaruhi ukuran kristal yang kita peroleh.
57.

Laju pembentukan inti (nukleasi) dapat dinyatakan dengan

jumlah inti yang terbentuk dalam satuan waktu. Bila laju pembentukan inti
tinggi, maka kristal yang terbentuk akan semakin banyak dan terdiri dari partikel
partikel kecil. Laju pembentukan inti ini tergantung pada derajat lewat jenuh dari
larutan. Semakin tinggi derajat lewat jenuh maka semakin besar kemungkinan
untuk membentuk inti baru sehingga akan semakin besar laju pembentukan inti.
58.

Pada proses kristalisasi, kristal dan cairan induk berada pada

waktu yang cukup lama sehingga mencapai keseimbangan dan cairan induk itu
jenuh pada suhu akhir proses. Perolehan kristal dapat dihitung dari konsentrasi

11

larutan awal dan kelarutan pada suhu akhir. Jika selama proses terjadi penguapan
yang cukup besar, kuantitasnya harus diketahui atau dapat diperkirakan.
59.

Bila laju pertumbuhan kristal lambat diperlukan waktu yang agak

panjang untuk mencapai keseimbangan. Hal ini sangat besar bila larutan itu
viskos atau dimana kristal itu mengumpul di dasar kristalisator sehingga hanya
sedikit saja permukaan kristal yang terkena larutan lewat jenuh. Sehingga cairan
induk akhir sangat jenuh dan perolehan yang didapat akan lebih kecil dari hasil
perhitungan dari kurva kelarutan.
60.

Jika kristal itu bebas air perhitungan lebih sederhana karena zat

padat tidaka mengandung pelarut. Bila hasil mengandung air kristalisasi, air
yang terdapat bersama kristal harus diperhitungkan karena air ini tidak
terkandung didalam larutan. Data kelarutan ini biasanya diberikan sebagai
bagian massa bahan bebas air perseratus bagian dari massa pelarut total atau
dalam persen massa zat terlarut bebas air. Data tersebut tidak memperhitungkan
air kristalisasi. Kunci dalam perhitungan perolehan zat terlarut bebas air ialah
menyatakan semua massa dan konsentrasi sebagai garam hidrasi dan air bebas.
Oleh karena kuantitas yang terakhir ini tetap berada dalam fase zat cair selama
berlangsungnya kristalisasi, konsentrasi atau kuantitas yang didasarkan atas air
bebas dapat dikurangkan untuk memberikan hasil yang benar.
61.
62.
63.
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kristalisasi
a. Kondisi lewat dingin larutan
64.

Semakin dingin larutan waktu induksi (waktu yg diperlukan sampai inti

kristal terbentuk) akan semakin pendek.


b. Suhu
65.

Penurunan suhu akan menginduksi pembentukan kristal secara cepat.

c. Sumber inti Kristal


66.

Inti yg terbentuk pada pembentukan tipe heterogen memiliki

kecendrungan mempercepat kristalisasi

12

d. Viskositas
67.

Ketika viskositas meningkat akibat menurunnya suhu dan meningkatnya

konsentrasi larutan, proses pembentukan inti kristal akan terbatasi. Hal ini
disebabkan berkurangnya pergerakan molekul pembentuk inti kristal dan
terhambatnya pindah panas sebagai energi pembetukkan inti kristal.
e. Kecepatan Pendinginan
68.

Pendingingan yang cepat akan menghasilkan inti kristal yg lebih banyak

dibandingkan pendinginan lambat.


f. Kecepatan agitasi
69.

Proses agitasi mampu meningkatkan laju pembentukan inti kristal.

Agitasi menyebabkan pindah massa dan pindah panas berjalan lebih efisien.
g. Bahan tambahan dan pengotor
70.

Bahan-bahan

tambahan

dapat

berperan

untuk

membantu

atau

menghambat pembentukan inti kristal.


h. Densitas massa Kristal
71.

Jumlah kristal yg terdapat dalam satu unit volume yg terdapat dalam

larutan akan berpengaruh pada tingkat pertumbuhan setiap kristal.


72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
2.6 Produk pangan yang mengandung Kristalisasi
79.

13

80.

14

81.
82.
83.
84.
85.
86. 2.7 Jenis Crystallizer
87. 1. Oslo Surface Cooled Crystalizer
88.
Alat ini dikembangkan dalam larutan tersirkulasi dengan
pendinginan di dalam cooler (H) larutan supersaturasi ini dengan dikontakan
dengan suspensi kristal alm ruangan suspensi pada (E). Pada puncak ruang
suspensi aliran larutan induk (D) dapat dipisahkan digunakan untuk
memindahkan partikel halus
89.
90.

2. Oslo Evaporative Crystalizer


91.

Larutan

yang

meninggalkan

ruang

penguapan

pada

sueprsaturated, mendekati daerah metastail sehingga nukleus baru tidak akan


terentuk. Kontak cairan pada unggun E membantu supersaturasi pada
pertumbuhan kristal dan menuju pertumbuhan kristal. Dalam kristal tipe umpan
panas dimasukan pada 6 dan campurn larutan menyemprot ketika mencapai
kamar penguapan pada A. Jika evaporator lebih jauh diperlukan untuk
menghentikan driving force.
92.

Sebuah penukar panas dipasang antara pipa sirkulasi dan ruang

penguapn utnuk mencuplai panas yang dibutuhkan. Perpindahan larutan


supersaturasi dai vaporizer (titik B), sering menyebabkan timbulnya kerak dan
pengurang sirkulasi.
93.
94.

3. Draft Tube Buffle Crystalizer


95.

Dilengkapi buffle untuk mengukur sirkulasi magma dan propeler

yang berfungsi mengatur sirkulasi kristal magma sedangkan diluar body

15

crystalizer ditambah pompa untuk sistem sirkulasi di mana pada pompa


dihubungkan heater dan feed inert.
96.

Alat ini dilengkapi dengan ekstraktor pum yang berfungsi untuk

mengklasifikasikan kristal hingga didapat kristal dalam ukuran tertentu.


Klasifikasi ukuran kristal di sini didasarkan atas gaya gravitasi dengan jalan
sebagai berikut:
97.

Jika dalam kristalizer telah terbentuk kristal-kristal dengan

ukuran heterogen, maka kristal ni diklasifikasikan ukuranya dengan mengalirkan


larutan ini dari bawah ke atas dengan menggunakan ekstraktor pump. Dengan
adanya larutan jenuh ini, kristal dengan ukuran yang besar akan berada di
bawah, dengan demikian didapatkan produk dengan ukuran yang homogen.
Disini untuk mendapatkan kristal dengan ukuran tertentu dapat diatur dengan
mengatur aliran larutannya. Jika larutan mempunyai kecepatan tinggi, maka
dakan didapat kristal dengan ukuran yang besar dan menyebabkan turun ke
bawah dan dapat dikeluarkan sebagai produk.
98.

Sistem sirkulasi ini simaksudkan agar inti kristal berkurang

dimana dibiarkan makin lama makin banyak. Karena inti kristal membutuhkan
solute untuk pertumbuhan selanjutnya. Padahal kecepatan feed masuk tetap,
maka diperlukan recycle dengan ukuran pompa sirkulasi yang bersama-sama
feednya masuk melalui heater sehingga larut dan masuk kembali ke dalam ruang
kristalisasi.
99.

Ekstraksi pump bergunsi untuk membantu memisahkan kristal :

prinsip pemisahan berdasarkan peredaan berat kristal. Karena adanya gaya


gravitasi maka partikel (padat) berat akan lebih dahulu mengendap, sedangakan
partikel ringan akan masuk ke atas (karena adanya aliran ke bawah). Jadi ukuran
kristal produk bisa diatur dengan mengatur flowrate aliran dari bawah. Untuk
mendapatkan kristal yang besar, flow rate dibesarkan.

16

100. BAB III


101. PENUTUP
102.
103.

3.1

Kesimpulan

104.

Adapun kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut:

1. Kristalisasi dilakukan untuk memisahan zat padat dari larutannya dengan jalan
menguapkan pelarutnya dimana titik bekunya lebih tinggi daripada titik didih
pelarut.
2. Senyawa volatil memiliki titik didih yang lebih rendah dibandingkan senyawa non
volatil titik dan titik beku senyawa volatil lebih tinggi (lebih negatif) dibandingkan
senyawa volatil sehingga senyawa volatil sangat sulit untuk mengalami kristalisasi.
3. Prinsip dasar kristalisasi adalah pemisahan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah
campuran homogen atau larutan dengan cara penguapan, pendinginan, penambahan
senyawa lain dan reaksi kimia.
4. Mekanisme kristalisasi yaitu supersaturasi, nukleasi, dan pertumbuhan kristal.
5. Faktor-faktor yang memengaruhi kristalisasi adalah kondisi lewat dingin larutan,
suhu,sumber inti kristal, viskositas, kecepatan pendinginan, kecepatan agitasi, bahan
pengotor, dan densitas massa kristal.
6. Penerapan kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam pembuatan
garam dan pembuatan permen.

17

105. DAFTAR PUSTAKA


106.

107.

Anonim, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Kristalisasi diakses pada 25/11/13


pukul 23:12

108.

Anonim,http://dennifa.wordpress.com/sains/kimia/pemisahancampuran/kristalisa
si/.Diakses 25/11/13 pukul 23:22

109.

Ayuningtyas, Deswita. http://kimia.upi.edu/staf/nurul/Web%202011/080


110.

111.

Niwa, Anggita 2013. http://kimiacorner.blogspot.com/2013/04/


112.

113.

7596/author.html pukul 23:14


kristalisasi.html diakses pada 25/11/13 pukul23:21

Mahlizar. 2011. Kristalisasi Karbohidrat. http:// lizar.files.wordpress. com. Pdf.


Diakses pada 12 November 2014

114. Patarihan, Rudolfo. 2012 http://yuma-patarihan.blogspot.com/2012/05/definisi-

kromatografi-kertas.html diakses pada 30/11/13 22:01

18