Anda di halaman 1dari 28

TUGAS PENGELOLAAN LIMBAH CAIR-A (PLC-A)

MAKALAH HASIL KUNJUNGAN IPAL SEWON

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Isna Fadlilah
Karina Pravi Jayanti
Maili Wijhah Tsabity
M. Ridhlo Hanandika
Nurina Suciani Maruf
Kelas : 3C

(P17433212038)
(P17433212039)
(P17433212040)
(P17433212041)
(P17433212042)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PRODI DIV KESEHATAN LINGKUNGAN
2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan
karunia-Nya, makalah Hasil Kunjungan IPAL Sewon, Bantul, Yogyakarta ini
dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Limbah Cair-A (PLC-A). Selain itu,
sesuai dengan judulnya, makalah ini digunakan untuk mengetahui informasi
tentang Hasil Kunjungan IPAL Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Kami percaya bahwa makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa
bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami
menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak, khususnya dosen
pengampu mata Pengelolaan Limbah Cair-A (PLC-A), Bapak Suparmin, SST.
M.Kes. yang telah membantu terwujudnya makalah ini.
Sesuai dengan peribahasa tak ada gading yang tak retak, kami
menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan praktik
lapangan ini. Oleh karena itu, saran dan kritik dari pihak manapun akan kami
terima dengan senang hati. Akhir kata kami berharap semoga laporan ini
bermanfaat baik bagi kami sendiri maupun pembacanya.

Purwokerto, November 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan di wilayah Aglomerasi perkotaan Yogyakarta menuntut
fasilitas infrastruktur yang lebih meningkatkan dengan meningkatnya jumlah
penduduk.
Salah satu infrastruktur yang penting dibidang perumahan dan
pemukiman dikaitkan dengan isu lingkungan adalah penyediaan sistem
pengolahan air limbah rumah tangga terpusat.
Dikota Yogyakarta sejak tahun 1936 telah dibangun jaringan
pembuangan air limbah sepanjang 110 Km, akan tetapi belum
menyelesaikan permasalahan pencemaran karena limbah masih dibuang
secara langsung ke sungai-sungai yang melintas kota.
Untuk menyelesaikan masalah tersebut, pada tahun 1994-1996
dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat di Kecamatan
Sewon, Kabupaten Bantul diatas lahan seluas 6,7 Ha. Pembangunan IPAL ini
mendapatkan Hibah dari Pemerintah Jepang sebesar Rp 59M. IPAL ini mulai
beroperasi pada 1 Januari 1996. IPAL ini khusus mengolah limbah rumah
tangga (kamar mandi, air cucian, WC, dapur).
Pengelolaan Balai IPAL ini melibatkan tiga unsur pemerintah daerah
yakni Sleman (5 kecamatan), Kota (seluruh kota), dan Bantul (3 kecamatan)
yang lebih dikenal sebagai KARTAMANTUL.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang anda ketahui tentang IPAL Sewon, Bantul?
2. Bagaimana Pengolahan air limbah di IPAL Sewon, Bantul ?
3. Apa saja kendala-kendala yang ditemui di IPAL Sewon, Bantul?
4. Bagaimana pemantauan kulaitas air di IPAL Sewon, Bantul?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang IPAL Sewon, Bantul
2. Untuk mengetahui Pengolahan air limbah di IPAL Sewon, Bantul
3. Untuk mengetahui kendala-kendala yang ditemui di IPAL Sewon, Bantul
4. Untuk mengetahui pemantauan kulaitas air di IPAL Sewon, Bantul

BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum IPAL Sewon, Bantul, Yogyakarta


1. Uraian Umum
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Sewon merupakan
instalasi pengelolaaan limbah terpusat yang berada di Jalan Bantul KM 6,
Dusun Cepit, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. IPAL Sewon
dibangun mulai tahun 1994 - Desember 1995. Dan mulai beroperasi pada
tanggal 1 Januari 1996. Luas lahan IPAL Sewon sebesar 6,7 Ha.
Dana untuk membangun IPAL ini berasal dari hibah pemerintah
Jepang melalui Departemen Pekerjaan Umum senilai Rp. 59 milyar.
Wilayah pelayanan IPAL SEWON meliputi seluruh kota Yogyakarta
meliputi (14 Kecamatan), sebagian wilayah Sleman (5 kecamatan), dan
sebagian wilayah Kabupaten Bantul (3 kecamatan), merupakan wilayah
aglomerasi perkotaan Yogyakarta yang lazim disebut KARTAMANTUL.
Penduduk yang telah terlayani oleh IPAL kurang lebih sebesar
63.015 jiwa (data : forkalim tanggal 05 Juni 2012). Jumlah masyarakat
yang terlayani sampai dengan Desember 2012 sebesar 14.329 SR
(Sambungan Rumah) dengan rincian :

Kabupaten Sleman : 795 SR

Kota Yogyakarta
: 12.804 SR

Kabupaten Bantul
: 432 SR
Secara garis besar keberadaan IPAL Sewon ini memiliki 3 manfaat
yakni perlindungan terhadap badan-badan air (sungai dan sumur) dari
pencemaran rumah tangga, peningkatan dan estetika lingkungan,
pemanfaatan hasil IPAL berupa pupuk organik dari lumpur air limbah.
2. Kelembagaan :
IPAL Sewon sejak tahun 2009 berstatus BALAI IPAL merupakan
Unit Pelaksana Teknis Daerah PPU PERUMAHAN dan ESDM,
berdasarkan Perda No. 6 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Provinsi DIY, dan Peraturan Gubernur No. 36 tahun 2008

tentang rincian tugas dan fungsi dinas dan UPTD pada Dinas PU,
perumahan dan ESDM Provinsi DIY.
3. Dasar Hukum :
Perda Prov. DIY no. 6 th. 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Dinas Daerah Daerah DIY.


Peraturan Gubernur no.36 th 2008 tentang organisasi dan Tata Kerja

UPTD dan UPT Lembaga Teknis Daerah Daerah DIY


Peraturan Gubernur no. 41 th. 2008 tentang rincian tugas dan fungsi

dinas dan UPTD pada Dinas PU, Perumahan dan ESDM Daerah DIY
4. Tugas dan Fungsi BIPAL :
Bertugas MENYELENGGARAKAN PENGELOLAAN AIR
LIMBAH RUMAH TANGGA, dengan fungsi :
a. Menyusun program balai,
b. Pelaksanaan ketatausahaan,
c. Pengelolaan SISTEM JARINGAN UTAMA dan pengoperasian
(dan pemeliharaan) SARANA DAN PRASARANA instalasi air
limbah,
d. Pelaksanaan pemantauan dan pengendalian AIR LIMBAH
RUMAH TANGGA,
e. Pelaksanaan pemberdayaan MASYARAKAT dalam pengelolaan
LIMBAH RUMAH TANGGA,
f. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan PROGRAM balai,
dan
g. Pelaksanaan tugas lain dari atasan sesuai fungsi dan tugasnya.
5. Bagan Organisasi :

KEPALA
BALAI
KELOMPOK KEPALA SUB BAGIAN
JABATAN FUNGSIONAL
TATA USAHA

KEPALA SEKSI KEPALA SEKSI


OPERASI DAN PEMELIHARAAN
PENGENDALIAN KUALITAS
6. Kepemilikan Aset

IPAL Sewon merupakan bantuan/hibah Pemerintah Jepang melalui


Program JICA yang diserahkan pengelolaannya oleh Pemerintah kepada
Pemerintah Daerah DIY untuk dikelola.
N

Aset

Jumla
h

Rp

Tanah

6,03 M

Alat Besar

3,04 juta

Alat Angkut

26 juta

Alat alat Bengkel dan Ukur

87,6 juta

Alat Kantor dan Rumah Tangga

194

262,6 juta

Alat Studio & Komunikasi

113

31,1 juta

Alat Laboratorium

22

383,1 juta

Bangunan Gedung

222,94 juta

Bangunan Air/Irigasi

1,59 M

10

Hewan Ternak dan Tanaman

9,99 juta

Jumlah

244

9,13 M

Catatan:

Aset dari Pemerintah Pusat yang merupakan aset penting O&P IPAL
semuanya belum diserahkan ke Provinsi

Telah dilakukan penyerahan pengelolaan IPAL tahun 1998

7. Wilayah Kerja :

8. Sumber Daya Manusia :


Pendidikan

Jumlah

Golongan

Jumlah

S-2

IV

S-1/D-3

III

11

SLTA/SMK

16

II

13

SLTP
SD
Jumlah

7
1
32

16

Jumlah

32

Seksi

Jumlah

TU

14

OP

12 (satker 2 orang)

DALTAS

6 (satker 2 orang)

9. Kontribusi IPAL Sewon :

Aspek Lingkungan

: mengurangi pencemaran air tanah,menjaga


kebersihan air sungai dari limbah
Aspek kesehatan
: mengurangi penyakit, meningkatkan gizi,
meningkatkan kemampuan anak-anak dan
meningkatkan produktivitas kerja.
Aspek citra
: mempertahankan citra Jogja sebagai kota
budaya.
10. Kapasitas Pelayanan IPAL Terpusat
Dasar perencanaan :
a) Kapasitas 15.500 m3/hari untuk melayani 25.000 Sambungan Rumah .
b) Kapasitas terpakai (2012) : 12.250 m3/hari
c) Untuk Melayani : 14.329 Sambungan Rumah
(daerah pelayanan saat ini dari Kota Yogyakarta, Kab.Sleman &
Kab.Bantul)
11. Standar Rancangan Pelayanan dan Kualitas Air Limbah
a) Aliran limbah (rencana)
: 15.500 m3/hari (179 liter/detik)
b) Aliran rata-rata (2012)
: 12.250 m3/hari (128 liter/detik)
c) Kuantitas maksimum perjam
: 1282 m3/jam (356 liter/detik)
d) Beban BOD
: 5.103 kg/hari (46 gr/org/hari)
e) Rata-rata BOD inlet (2012)
: 154,2 mg/liter
f) Rata-rata BOD outlet (2012)
: 16,5 mg/liter
12. Data Teknis IPAL Terpusat
Kapasitas Instalasi

15.500 m3/hari = 179,4 ltr/dt

4 Kolam Fakultatif
2 Kolam Pematangan

Rumah Pompa
(Lift Pump)

21,6 X 8 m
15.500 m3/hr = 179,4 ltr/dt

2 Unit Operasional
1 Unit Cadangan

Bak Pengendap Pasir


(Grit Chamber)

2 m x 9 m x 1,2 m x 2 Bak

60 detik
(waktu tinggal)

77 m x 70 m x 4 m x 4 Kolam
Volume : + 21.321 m3/kolam

5,5 Hari
(waktu tinggal)

Kolam Pematangan
(Maturation Pond)

78 m x 70 m x 4 m x 2 Kolam

1,3 Hari
(waktu tinggal)

Bak Pengering Lumpur


(Sludge Drying Bed)

34 m x 232 m x 1 m

3.300 m3

Kolam Fakultatif
(Facultatif Aerated
Lagoon)

Bangunan Pelimpah

46 m x 2,5 m x 4,1 m x 2 bh
46 m x 2,5 m x 3,3 m x 2 bh

Fasilitas Gedung

390 m2

-------- lagoon
-------- pond
Laborat, kantor BIPAL,
dll

B. Hasil Kunjungan
1. Proses pengolahan air IPAL Sewon
Pengolahan air limbah yang digunakan untuk mengolah limbah
domestik di IPAL Sewon Bantul adalah dengan proses pengolahan secara
fisika biologi dan tidak menggunakan proses secara kimia. Pengolahan
air limbah di IPAL Sewon Bantul dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a) Pengolahan pendahuluan (pre treatment) :
Pengolahan pendahuluan yang digunakan meliputi saringan
jeriji, saringan kasar, bak equalisasi dan pengendap pasir (grift
chamber).
b) Pengolahan pertama (primary treatment)
Pengolahan pertama adalah pengolahan yang bertujuan
untuk menghilangkan zat padat tercampur di dalam air limbah
melalui pengendapan atau pengapungan.
c) Pengolahan kedua (secondary treatment)
Pengolahan kedua yang digunakan dalam pengolahan air
limbah domestik di IPAL Sewon Bantul adalah aerasi dan
pertumbuhan bakteri.
d) Pengolahan lanjut (Ultimate disposal)
Pengolahan lanjut yang digunakan dalam pengolahan air
limbah domestik di IPAL Sewon Bantul adalah pengolahan lumpur
agar dapat dimanfaatkan kembali.
2. Unit pengolahan air limbah
Unit pengolahan air limbah yang digunakan dalam IPAL Sewon
Bantul meliputi:
a) Saluran pembawa
Air limbah yang dialirkan sebelum masuk IPAL akan dilewatkan
pada saluran pembawa. Saluran pembawa berbentuk lingkaran terbuat
dari betondengan diameter 100 - 130 cm.
b) Rumah pompa

Uliran-uliran ini yang berfungsi membawa air keatas setelah air


limbah masuk lewat bawah rumah pompa alirannya ke bak
gesember/pengendap pasir.
Rumah pompa terdiri dari :
1) Bak equalisasi (equalition pond)
Tujuan bak equalisasi dalam IPAL :
Untuk menjaga sistem pengolahan biologis dari pembebanan

bahan organik yang berfluktuasi.


Untuk mengawasi derajat pH
Untuk meredam aliran yang masuk bagi sistem pengolahan

fisik.
Untuk

memberikan

sistem pengolahan

aliran

biologis

yang
saat

IPAL

kontinyu
sedang

pada
tidak

dioperasikan.
Untuk memberikan kontrol kapasitas aliran air limbah yang

lebih merata.
Mencegah masuknya konsentrasi zat beracun yang tinggi
dalam sistem pengolahan biologis.

Bak equalisasi di dalam IPAL dirancang secara khusus sebagai


bagian dari rumah pompa, sehingga dari luar fungsinya tidak
terlihat begitu jelas.
2) Saringan jeriji
Saringan jeriji terletak sebelum pompa angkat. Berfungsi
untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti tas-tas plastik dan
bahan terapung lainnya dalam aliran masuk. Kotoran-kotoran
tersebut dipisahkan secara manual dengan penggaruk aluminium
dari ayakan jeriji dan dibuang minimal sehari sekali.
3) Water indicator level
Water indicator level berfungsi menunjukkan ketinggian air
limbahyang akan diolah dan jenis pengoperasian pompa. Ada dua
jenispengoperasian pompa berdasarkan ketinggian air :
Operasi pompa otomatis
Operasi pompa manual

Jika ada peningkatan air limbah yang terjadi pada saat


hujan deras maka air limbah secara langsung dibuang ke
sungai menggunakan by pass, karena kualitas air limbah telah
memenuhi effluen standar yang dapat diterima oleh badan air
penerima.
4) Pompa angkat
Pompa angkat jenis ulir (screw) berjumlah tiga buah
dengan kapasitas 10,7 m3/menit. Dimana dua unit operasional dan
satu unit sebagai cadangan.
Keuntungan menggunakan pompa ulir:
Saluran air limbah lanjutan tidak tersumbat oleh kotoran

kotoran tas-tas plastik dan bahan-bahan terapung lainnya.


Mampu menurunkan beban BOD air limbah sampai dengan

30%.
Menghilangkan buih-buih tidak masuk ke dalam kolam

fakultatif.
c) Bak penangkap pasir (Grift Chamber)
Grift Chamber digunakan untuk menyaring pasir, batu atau
kerikil dan material kecil lainnya dari limbah cair. Partikel yang
diendapkan pada grift chamber mempunyai berat jenis yang besar dan
terdiri dari partikel-partikel anorganik dan organik. Pada umumnya
partikel yang diendapkan pada grift chamber adalah pasir. Grift
chamber di IPAL Sewon Bantul berjumlah satu buah dua jalur dan
dilengkapi dengan :
1) Pompa pasir
Pompa pasir yang digunakan berjenis pompa celup
(submersible pump) dengan spesifikasi alat berdiameter alat 100 x
1 m3/menit x15 m x 5,5 kw.
2) Siklon pemisah
Siklon pemisah yang digunakan memiliki spesifikasi alat
diameter 100 x 1 m3/menit dan berjumlah dua buah. Siklon
pemisah ini dihubungkan langsung dengan pipa keluaran dari
pompa pasir. Tanah dan pasir yang dikumpulkan pada dasar grift
chamber dihisap bersama kotoran oleh pompa pasir yang
dipisahkan menjadi padatan dan cairan di dalam siklon pemisah,

lalu tanah dan pasir yang sudah dipisah ditimbun pada ruang
dasar siklon.
3) Saringan kasar
Saringan kasar yang digunakan berjumlah dua buah
dengan spesifikasi alat W 2000 x 40 mm (ukuran mesh).
Berfungsi untuk menghilangkan kotoran-kotoran plastik dan
kotoran mengapung lainnya yang lolos dari saringan jeriji.
Kotoran tersebut dihilangkan dari saringan kasar dengan cara
manual dengan penggaruk aluminium satu atau dua kali dalam
sehari.
d) Laguna aerasi fakultatif / Kolam Fakultatif 1 dan 2
Laguna aerasi fakultatif merupakan salah satu jenis pengolahan
air limbah secara biologis dengan memanfaatkan 2 jenis bakteri, yaitu
bakteri aerob dan anaerob untuk mendegradasi kandungan bahan
pencemar yang terdapat dalam air limbah. Laguna aerasi fakultatif
dirangkai dalam dua kolam pararel dan tiap kolam terdiri dari dua buah
kolam (Kolam fakultatif 1 dan 2), dengan demikian semuanya
berjumlah empat kolam atau laguna. Tiap kolam dilengkapi dengan
aerator berjenis surface aeration dan waktu tinggal air limbah dilaguna
aerasi fakultatif 5,5 hari.
Limbah dari grid chamber akan masuk ke dalam Kolam
Fakultatif 1 dan kemudian akan menuju ke kolam fakultatif 2. Jenis
pengolahan ke 2 kolam ini sama saja.
Kolam Fakultatif 1 berukuran 77 m x 70 m x 4 m
dengan volume limbah 21.560 m 3 /kolam. Kapasitas BOD
masuk yaitu sekitar 3.332 mg/lt/hari.
Laguna aerasi fakultatif juga dilengkapi dengan :
1) Aerator
Aerator yang digunakan berjumlah empat buah, type surfac
eaeration dengan spesifikasi alat diameter 2000 x 48 rpm x 30 kw.
Aerator dioperasikan berdasarkan laju alir masukan kotoran.
Secara umum pengoperasian aerator dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:

Laju aliran masukan dari kotoran

3.874

7.750

11.625

15.500

Laju alir masukan dari kotoran (%)

25

50

50

100

Jumlah aerator yang beroperasi

No 1-1

No 1-1

No 1-1/1-2

No 1-1/1-2

No 1-2

No 1-1

No 2-1/2-2

No 2-1/2-2

(m3/hari)

Aerator yang dioperasikan

Meskipun laju alir masukan dari kotoran lebih kecil dari


laju alir rancangan, kotoran harus tetap diumpan ke saluran laguna.
Jika laju alir masukan dari kotoran 80% lebih kecil dari harga
rancangan, maka dapat dioperasikan hanya satu kolam saja (No.11/1-2 atau No. 2-1/2-2). Pada kasus ini aerator No. 1-1/1-2 atau
No. 2-1/2-2 harus dioperasikan.
2) Kapal utama unit pembuangan lumpur
Kapal utama unit pembuangan lumpur satu buah dengan
spesifikasi alat W 2300 x L 6000 X H 1000 bertenaga mesin.
Berdasarkan harga rancangan 3300 m3 (110.000 orang dalam
daerah layanan dan menghasilkan lumpur 30 lt/orang.th :
(110.000orang x 30 lt/org.th x 1000 = 3300 m3/th) lumpur per
tahun akan terkumpul dalam laguna aerasi fakultatif. Alat
pembuang lumpur yang digunakan terdiri dari atas sebuah unit
penghisap dengan kapasitas 20 m3/jam (kandungan 20% padatan
dan 80 % cairan) pada sebuah kapal utama.
3) Indikator ikan
Ikan digunakan sebagai bioindikator terhadap tingkat
pemulihan kualitas air melalui proses pengolahan. Jika ikan yang
dijadikan indikator mati, maka hal itu menunjukkan bahwa kualitas
air limbah masih jelek.
e) Kolam pematangan / Maturasi

Air limbah yang telah diolah di kolam fakultatif 1 dan 2


dialirkan ke kolam pematangan dengan maksud untuk menstabilkan
air limbah sebelum dibuang ke badan air. Kolam pematangan terdiri
dari dua sistem yang dirangkai secara pararel dengan kolam fakultatif.
Setelah penghilangan kotoran organik dan bakteri collon bacilli,
limbah olahan selanjutnya di alirkan ke dalam Sungai Bedog melalui
pipa beton dan saluran terbuka.
f) Tempat pengeringan lumpur (sludge drying bed)
Lumpur yang terkumpul dari dalam laguna aerasi fakultatif di
buang ke tempat pengeringan dengan menggunakan unit pembuangan
lumpur setahun sekali. Tempat pengeringan lumpur keseluruhannya
terdiri dari 25 kolam, dibagi menjadi tiga bagian. Bagian No. 1 terdiri
dari 9 kolam dan bagian No.2/No.3 masing-masing terdiri dari
8kolam. Kapasitas efektif dari satu kolam sekitar 240 m3. Jika
konsentrasi lumpur 20 % maka kapasitas unit pembuangan lumpur
adalah 20 m3/jam. Sehingga satu kolam pengering akan penuh dalam
dua hari jika waktu operasi 6 jam/hari.
Lumpur yang berada pada tempat pengeringan lumpur terbagi
menjadi lapisan atas yang jernih dan lumpur yang kental pada bagian
bawah. Batang penutup dipindahkan untuk mengeluarkan lapisan atas
yang jernih dari tempat pengeringan. Operasi seperti ini diulangi
untuk mengentalkan lumpur hingga cairan tidak dapat dipisahkan lagi.
Setelah lumpur dikeringkan dengan panas matahari sampai bisa
dikeluarkan dengan pengeruk/sekop. Setelah dikeringkan di terik
matahari 2-3 bulan, lumpur kering dibawa dengan sebuah lori dan
dibuang di tempat pembuangan lumpur.
3. Proses pengolahan air buangan
Air limbah domestik yang berasal dari kota Yogyakarta
dansebagian Kabupaten Sleman serta Kabupaten Bantul dialirkan melalui
jaringan pipa yang telah ada pada jaman Belanda. Sistem jaringan pipa
yang menuju ke IPAL juga dilengkapi dengan pipa penggelontor.

Fungsi dari pipa penggelontor adalah untuk melarutkan sampahsampah yang ada dalam pipa-pipa yang tidak disingkirkanakan
menghambat laju aliran air limbah ke IPAL. Air penggelontor diambil
dari empat inlet, yaitu Dam Bendolele, Dam Pogung, Dam Prawirodirjan
dan Selokan Mataram. IPAL sebagai tujuan akhir merupakan titik
terendah dibandingkan dengan jaringan pipa keseluruhan, sehingga
jaringan pipa air limbah ini memanfaatkan sistem pengaliran secara
gravitasi dalam pengaliran air limbahnya.
Limbah kota (kotoran) dipompakan ke dalam grift chamber dengan
menggunakan pompa angkat. Sebelum pompa angkat tersebut dipasangi
jeriji untuk melindungi pompa dari kerusakan akibat benda-benda besar
seperti sampah. Pompa angkat tersebut jenis ulir (screw). Pompa tersebut
menghisap limbah secara kontinu tanpa tersumbat oleh kotoran-kotoran
yang terbawa aliran limbah. Pada IPAL ini dipasang tiga buah pompa,
dimana satu buah sebagai cadangan. Pompa jenis screw dapat
dikendalikan secara otomatis berdasarkan kuantitas air limbah yang
mengalir.
Dengan pompa angkat limbah kotor dituangkan ke dalam grift
chamber dimana kotoran-kotoran kasar dan berat seperti tanah dan pasir
akan mengendap. Keluaran dari grift chamber dialirkan kesaringan kasar
untuk menangkap kotoran-kotoran seperti kantung plastik, ranting kayu
dan kotoran lainnya akan mengendap dan berkumpul di dasar grift
chamber. Kotoran tersebut kemudian dialirkan dengan menggunakan
pompa celup (submersible pump) dan akan dipisahkan dari limbah cair
dan padatan dengan menggunakan siklon pemisah. Kemudian padatan
ditampung dalam hooper yang berada dibawah siklon dan dibuang secara
berkala, sedangkan limbah cair dikembalikan ke dalam grift chamber.
Limbah kotor yang telah diolah secara fisik tersebut diumpankan melalui
tangki distribusi ke laguna aerasi fakultatif.
Laguna aerasi fakultatif dibagi dalam dua jalur dan tiap jalur terdiri
dari dua kolam yang dirangkai secara seri. Di dalam laguna aerasi
fakultatif, kotoran-kotoran organik yang terkandung dalam limbah kotor

akan diuraikan dan dihilangkan secara biokimiawi dengan bantuan


bakteri aerobik dan anaerobik. Pada permukaan laguna aerasi fakultatif,
aerator mekanis dipasang sebagai pemasok oksigen, kemudian kotoran
organik diuraikan oleh bakteri aerobik secara bersamaan pada bagian
dasar atau bawah laguna yang tidak mengandung oksigen terjadi
penguraian kotoran organik oleh bakteri anaerobik.
Setelah penghilangan kotoran organik dilaguna aerasi, limbah
olahan tersebut dialirkan ke kolam pertumbuhan seperti halnya laguna
aerasi fakultatif, kolam pertumbuhan juga terdiri dari dua sistem yang
dirangkai secara pararel. Setelah penghilangan kotoran selanjutnya
dialirkan ke dalam Sungai Bedog melalui pipa beton dan saluran terbuka.
Lumpur yang mengendap di dasar laguna aerasi fakultatif, diurai oleh
bakteri anaerobik dan lumpur tersebut harus dikuras atau dihisap setiap
satu sampai dua tahun sekali secara vakum dengan menggunakan ejector
udara.
Lumpur yang terkumpul dihisap dan kemudian ditampung di dalam
bak-bak pengeringan lumpur. Kemudian lumpur dikeringkan secara
alamiah, selanjutnya lumpur kering tersebut dimusnahkan di tempat
pengolahan limbah padat yang berada di luar lahan pengelolaan limbah
kota ini.
4. Diagram Alir proses pengolahan
Dari penjelasan kuantitas dan kualitas air limbah domestik yang
akan diolah maka di design alat-alat pengolahan yang dimaksudkan agar
air limbah domestik tersebut memenuhi baku mutu yang ditetapkan.
Pengolahan tesebut pada dasarnya terdiri dari satuan operasi dan satuan
proses yang keduanya saling terkait dan menentukan daya guna atau
efisiensi bangunan-bangunan pengolahan, yang kemudian menghasilkan
effluent yang memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Prosedur lengkap
pengolahan air limbah domestik digambarkan dalam diagram alir proses
sebagai berikut :

Gb. Skema Proses Pengolahan Air Limbah

Gb. Skema Penyaluran Air Limbah


5. Kegiatan Pemantauan Kinerja IPAL Sewon
Pemantauan Kinerja IPAL Sewon dilakukan setiap 1 bulan sekali.
Hal-hal yang diapantau adalah Pemantauan SVI, lumpur aktif, debit, dll.
Selain itu juga dilakukan pengambilan sampel air limbah sebagai kontrol.
Pengambilan sampel air limbah ini dilakukan setiap hari untuk
pemeriksaan pH, suhu, BOD, COD, SS, DO. Pemeriksaan ini dilakukan
di laboratorium IPAL Sewon. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan oleh

laboratorium balai pengujian dan BBTKL, Yogyakarta untuk pemantauan


kulaitas inlet, outlet dan kualitas udara.
Hasil olahan di Balai IPAL di buang ke sungai Bedog standar
dengan air golongan B yang diperuntukkakan untuk irigasi pertanian.
Berdasarkan Surat Keputusan Gibernur DIY baku mutu golongan
B, yaitu BOD 30 mg/liter dan lumpur kering dimanfaatkan untuk pupuk
tanaman.

6. Titik Pengambilan Sampel


Titik-titik pengambilan sampel yaitu di setiap outlet pada setiap kolam
yaitu kolam fakultatif 1 dan 2, kolam pematangan / maturasi, inlet,
kualitas udara dan air tanah.
7. Kendala-Kendala Yang Dihadapi
Pengolahan yang digunakan di IPAL Sewon adalah pengolahan
biologi dengan mempergunakan bakteri aerob sehingga pada instalasi ini
keberadaan aerator menjadi sangat vital. Hal ini terjadi karena aerator
memiliki fungsi untuk memasok oksigen yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme untuk menguraikan polutan. Apabila terjadi kerusakan
pada aerator tentu proses pengolahan tidak berjalan dengan baik dan
limbah tersebut dapat menimbulkan masalah baru.
Limbah yang masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah yang
terlayani sampai saat ini belum memenuhi batas maksimal sesuai dengan
rancangan awal hal ini mungkin juga disebabkan karena IPAL Sewon
yang

menggunakan

gaya

gravitasi

untuk

mengalirkan

air

limbahnya sehingga daerah yang terlayani hanya pada daerah yang letak
tanahnya lebih tinggi dari IPAL Sewon.
Rancangan awal dari IPAL Sewon hanya menampung air limbah
saja, namun kenyataannya masih ditemukan berbagai limbah padat yang
ikut terbawa oleh aliran limbah hal ini terjadi mungkin karena kesadaran
masyarakat

yang

masih

kurang.

Sampah-sampah

itu

akhirnya

menyumbat aliran limbah pada titik-titik tertentu. Salah satu dampak dari
adanya sampah yang terikut aliran air limbah adalah pihak IPAL secara

rutin harus melakukan pembersihan saluran perpipaan. Selain itu terdapat


banyak sampah yang terikut hingga pada grift chamber sehingga secara
rutin pihak IPAL melakukkan pengambilan sampah secara manual.
Pemeriksaan saluran perpipaan yang dilakukan oleh pihak IPAL
mengalami berbagai kendala karena keterbatasan personil, dan jalur
perpipaannya yang panjang, sehingga terdapat beberapa titik yang dalam
jangka waktu bertahun-tahun baru dibersihkan. Titik-titik itu biasanya
terdapat pada jalur perkampungan.
Air limbah yang diperbolehkan masuk ke IPAL sewon adalah
seluruh air limbah domestik dari kegiatan kerumah tanggaan. Seluruh
limbah tersebut diperbolehkan memasuki inlet secara langsung, kecuali
tinja dari hasil pembersihan septic tank dan juga limbah laundry. Untuk
penanganan kedua limbah tersebut, pihal IPAL Sewon menyediakan bak
penampung sebelum dimasukkan ke inlet pengolahan. Jadi limbah tinja
dan laundry didiamkan dulu dalam kurun waktu tertentu, hal ini
bertujuan agar efek samping dari kerusakan yang mungkin timbul akibat
kedua limbah tersebut. Limbah loundry memliki kadar pH yang cukup
tinggi sehingga bisa merusakkan komponen pengolah. Namun sampai
saat ini tempat yang digunakan untuk menampung limbah tinja dan
laundry hanya terdiri dari sebuah bak yang di atasnya ditutup dengan
menggunakan plastik, bak ini kurang efektif untuk digunakan sebagai
penmapung, terutama untuk menampung tinja karena tinja mengandung
bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia.
IPAL Sewon merupakan instalasi yang khusus untuk mengolah
limbah cair, namun pada musim hujan akan terjadi kenaikan debit limbah
akibat tercampurnya air hujan dengan air limbah. Air hujan ini dapat
terikut ke saluran limbah karena pipa saluran limbah sudah terlalu lama
digunakan sehingga terjadi kebocoran di beberapa titik.
Pengolahan dengan sistem lumpur aktif tentu akan menimbulkan
bahan sisa sludge. Lumpur hasil sisa dari pengolahan ini ditampung pada
bak pengering lumpur setelah disedot dari kolam aerasi. Sampai saat ini

lumpur-lumpur ini belum mengalami pengolahan karena lumpur hasil


pengolahan limbah cair dikategorikan sebagai B3.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Sewon merupakan instalasi
pengelolaaan limbah terpusat yang berada di Jalan Bantul KM 6,
Dusun Cepit, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. IPAL Sewon
dibangun mulai tahun 1994 - Desember 1995. Dan mulai beroperasi
pada tanggal 1 Januari 1996. Luas lahan IPAL Sewon sebesar 6,7 Ha.
Dana untuk membangun IPAL ini berasal dari hibah pemerintah
Jepang melalui Departemen Pekerjaan Umum senilai Rp. 59 milyar.
Wilayah pelayanan IPAL SEWON meliputi seluruh kota Yogyakarta
meliputi sebagian wilayah Sleman dan sebagian wilayah Kabupaten
-

Bantul.
IPAL Sewon adalah instalasi pengolahan air limbah domestic.
Pengolahan air limbah di IPAL Sewon yaitu menggunakan proses fisik
dan biologi. Proses pengolahan air limbah dilakukan di kolam
fakultatif 1 dan 2, kolam maturasi / pematangan dan bak pengendap

lumpur.
Air limbah di IPAL Sewon setiap hari diambil sampelnya untuk
pemeriksaan kulitas kontrol air. Pengambilan sampel air ini dilakukan
oleh petugas laboratorium IPAL. Selain itu juga dilakukan

pemeriksaan pemantauan oleh BBTKL, Yogyakarta.


Kendala yang ditemui biasanya adalah pada pemeriksaan saluran
perpipaan

karena

kekurangan

personil.

IPAL

Sewon

hanya

menampung air limbah saja, namun kenyataannya masih ditemukan


berbagai limbah padat yang ikut terbawa oleh aliran limbah hal ini
terjadi mungkin karena kesadaran masyarakat yang masih kurang.
Sampah-sampah itu akhirnya menyumbat aliran limbah pada titik-titik
tertentu. Selain itu masih banyak ditemukan kendala-kendala lain.
B. Saran
- Memperluas daerah pelayanan

Segera menindaklanjuti apabila ada jaringan yang rusak/ terdapat

gangguan
Lumpur yang sudah kering tersebut sebaiknya dapat dimanfaatkan
menjadi pupuk yang sudah siap pakai dengan cara pengepakan dan
apabila lumpur tersebut tidak mengandung B3 (Bahan Beracun dan

Berbahaya)
Bagi pengelola IPAL Sewon Bantul bisa lebih ditingkatkan kembali
fasilitas-fasilitas pendukung yang belum tersedia di IPAL Sewon
Bantul.

DAFTAR PUSTAKA

Mara dan Cairncross, 1994. Pemanfaatan Air Limbah & Ekskreta Patoakan untuk
perlindungan Kesehatan Masyarakat. Bandung : ITB.
Sugiharto, 2008. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta : UI Press
Joy

Irman.

Kunjungan

POKJA

Sanitasi

Ke

IPAL

Sewon.

http://www.fasilitatorsanitasi.org/liputan/kunjungan-pokja-sanitasi-mps-keipal-sewon (diakses pada tanggal 22 November 2014, pukul 22.49 WIB)


Adhimas,

W.

Setyo.

2012.

IPAL

Sewon.

Yogyakarta

eprints.uny.ac.id/.../BAB%201%20-%2007401241024...

(diakses

UNY.
pada

tanggal 23 November 2014, pukul 06.35 WIB)


Vari, Yusdi Afandi. 2013. Pengelolaan Air Limbah Domestik Komunal Berbasis
Masyarakat

di

Kota

Probolinggo.

Semarang

eprints.undip.ac.id/40632/.../015-Yusdi_Vari_Afandi....

(diakses

tanggal 23 November 2014, pukul 06.37 WIB)


http://setonc.blogspot.com/2013/07/makalah-balai-ipal-sewon-bantul.html
(diakses pada tanggal 23 November 2014, pukul 06.39 WIB)

Undip.
pada

LAMPIRAN

Gb. 01 Limbah RT menuju ke IPAL Terpusat, Selain dialirkan melalui


jaringan perpipaan juga diangkut melalui jasa penyedot tinja

Gb. 02 Pengambilan sampah pada


Gb. 3 Rumah Pompa
screen secara manual dengan
penggaruk alumunium

Gb. 04 Pompa Ulir


Chamber

Gb. 06 Bak Pengendap Pasir/ Grit Chamber

Gb. 8 Vacuum pump

Gb. 05 Bak Pengendap Pasir/ Grit

Gb. 07 Kolam Fakultatif 1

Gb. 9 Kapal Penyedot Lumpur

Gb. 10 Mesin Aerator

Gb. 12 Kolam Pematangan/ Maturasi

Gb. 11 Kolam Fakultatif 2

Gb. 13 Laboratorium IPAL Sewon

Gb. 14 Laboratorium IPAL Sewon

Gb. 15 Saluran Pembuangan ke Sungai


Bedog

Gb. 16 Peningian Mainhole Jaringan

Gb. 17 pemeliharaan / pembersihan


saluran pembuang (outlet)

Gb. 18 Pemantauan Kualitas Udara