Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan masyarakat yang


utama di dunia terutama di negara-negara berkembang. Hasil laporan Studi
Morbiditas (2001), menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut di Indonesia
merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena penyakit gigi dan mulut
merupakan penyakit tertinggi yang dikeluhkan oleh masyarakat yaitu sebesar
60%. Salah satu keluhan gigi dan mulut adalah sindroma mulut terbakar / Burning
Mouth Syndrome (BMS). Burning Mouth Syndrome didefinisikan sebagai kondisi
nyeri kronis orofasial, yang gejalanya ditandai oleh rasa sensasi nyeri terbakar
pada lidah, bibir atau dapat melibatkan seluruh rongga mulut. Rasa nyeri tersebut
sama seperti sensasi terbakar pada mukosa oral setelah memakan makanan pedas.1
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sanchez dkk di Barcelona yang
menggunakan 140 pasien yang terdiagnosis Burning Mouth Syndrome
menemukan bahwa sebagian besar kasus terdapat pada kelompok usia 65-74
tahun sebesar 46,3%. Kelompok usia 75-84 tahun sebesar 31,4%, sedangkan
kelompok usia 55-64 sebesar 14,2%. Demikian juga kelompok usia 45-54 tahun
dan lebih dari 85 tahun memiliki tingkat persentasi yang rendah yaitu sebesar 2
7,8%, sedangkan distribusi menurut jenis kelamin melaporkan bahwa sebagian
besar pasien adalah perempuan (96,4).1

BAB II

Anatomi dan Fisiologi rongga mulut

Gambar 1. Cavum oral potongan sagital3

Gambar 2. Cavum oral3

Rongga Mulut
Rongga mulut secara umum berfungsi untuk menganalisis makanan
sebelum menelan, proses penghancuran makanan secara mekanis oleh gigi,
lidah dan permukaan palatum, lubrikasi oleh sekresi saliva serta digesti pada
beberapa material karbohidrat dan lemak.2
Mulut
Mulut dibatasi oleh mukosa mulut, pada bagian atap terdapat palatum
dan bagian posterior mulut terdapat uvula yang tergantung pada palatum.2

Lidah
Lidah terdiri dari jaringan epitel dan jaringan epitelium lidah dibasahi
oleh sekresi dari kelenjar ludah yang menghasilkan sekresi berupa air, mukus
dan enzim lipase. Enzim ini berfungsi untuk menguraikan lemah terutama
trigleserida sebelum makanan di telan. Fungsi utama lidah meliputi, proses
mekanik dengan cara menekan, melakukan fungsi dalam proses menelan,
analisis terhadap karakteristik material, suhu dan rasa serta mensekresikan
mukus dan enzim.2
Kelenjar saliva
Kira-kira 1500 mL saliva disekresikan per hari, pH saliva pada saat
istirahat sedikit lebih rendah dari 7,0, tetapi selama sekresi aktif, pH mencapai
8,0. Saliva mengandung 2 enzim yaitu lipase lingual disekresikan oleh kelenjar
pada lidah dan -amilase yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar saliva. Kelenjar
saliva tebagi atas 3, yaitu kelenjar parotis yang menghasilkan serosa yang
mengandung ptialin. Kelenjar sublingualis yang menghailkan mukus yang
mengandung musin, yaitu glikoprotein yang membasahi makanan dan
melndungi mukosa mulut dan kelenjar submandibularis yang menghasilkan
gabungan dari kelenjar parotis dan sublingualis. Saliva juga mengandung IgA
yang akan menjadi pertahanan pertama terhadapkuman dan virus. Fungsi
penting saliva antara lain, memudahkan poses menelan,mempertahankan mulut
tetap lembab,bekerja sebagai pelarut olekul-molekul yang merangsang indra

pengecap, membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan bibir dan


lidah dan mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih.2
Gigi
Fungsi gigi adalah sebagai penghancur makanan secara mekanik. Jenis gigi di
sesuaikan dengan jenis makanan yang harus dihancurkannya dan prosses
penghancurannya. Pada gigi seri, terdapat di bagian depan rongga mulut
berfungsi untuk memotong makanan yang sedikit lunak dan potongan yang
dihasilkan oleh gigi seri masih dalam bentuk potongan yang kasar, nantinya
potongan tersebut akan dihancurkan sehingga menjadi lebih lunak oleh gigi
geraham dengan dibantu oleh saliva sehingga nantinya dapat memudahkan
makanan untuk menuju saluran pencernaan seterusnya. Gigi taring lebih tajam
sehingga difungsikan sebagai pemotong daging atau makanan lain yang tidak
mampu dipotong oleh gigi seri.2

Burning Mouth Syndrome(BMS) /Sindroma Mulut Terbakar

Definisi
Burning Mouth Syndrome (disebut juga glossodynia, glossopyrosis,
dysaesthesia oral) Burning Mouth Syndrome adalah kondisi yang sangat
menyakitkan yang sering didefinisikan sebagai sensasi panas di lidah, bibir,
palatum ataupun di seluruh rongga mulut. Walaupun sindrom ini dapat mengenai
siapapun, namun lebih banyak terjadi pada wanita setengah baya maupun lanjut
usia. Burning Mouth Syndrome sering terjadi dengan disertai berbagai kondisi
medis dan gigi, dari kekurangan gizi dan menopause sampai mulut kering alergi.
Tetapi hubungan mereka tidak jelas, dan penyebab pasti Burning Mouth Syndrome
tidak selalu dapat diidentifikasi dengan pasti. ditandai dengan sensasi terbakar
yang mempengaruhi mukosa oral yang disebabkan oleh faktor lokal dan sistemik
lain misalnya kserostomia, desain gigi tiruan yang tidak baik, diabetes, anemia.3,4

Beberapa pola yang berbeda dapat dideskripsikan dan diklasifikasikan


menurut sistem: Klasifikasi Lamey : subtipe Burning Mouth Syndrome4

Tipe 1

Gejala klinis
Asosiasi
Nyeri sehari-hari, tidak muncul Nonpsikiatri
pada pagi hari, dan meningkat

Tipe 2

sepanjang hari
Nyeri sepanjang hari, konstan

Psikiatri

khususnya

ansietas

kronik
Nyeri intermiten, lokasi yang Stomatitis

Tipe 3

kontak

alergi

tidak biasa (mukosa bukal, terhadap zat penyedap rasa atau


dasar mulut)

adiktif

Etiologi
Idiopatik : tidak diketahui penyebabnya; Sistemik : Defisiensi mineral dan
vitamin, gangguan endokrin (DM, hipotiroid, menopause), xerostomia (produksi
kelenjar ludah yang kurang), medikasi (ACE inhibitor, kemoterapi), refluks
esofageal, anemia; Lokal : Iritasi gigi tajam, makanan, obat kumur, pasta gigi,
infeksi jamur candida albicans, infeksi bakteri stafilokokus, merokok, mengunyah
tembakau, gigi palsu; Psikiatri : Ansietas, depresi, obsesif konvulsif, kelainan
psikosomatis, phobia, stressor psikososial.3,4
Faktor Predisposisi
Mulut kering (xerostomia) dapat disebabkan oleh berbagai obat atau
penyakit; Infeksi jamur mulut (thrush), oral liken planus atau lidah geografis;
Faktor psikologis, seperti kecemasan, depresi atau kekhawatiran berlebihan;
Kekurangan nutrisi, seperti kekurangan zat besi, seng, folat (vitamin B9), thiamin
(vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), piridoksin (vitamin B6) dan cobalamin
(vitamin B12); Gigi palsu. Gigi palsu dapat menekan beberapa otot dan jaringan
mulut, menyebabkan nyeri mulut. Bahan yang digunakan dalam gigi palsu juga
bisa mengiritasi jaringan dalam mulut; Kerusakan saraf yang mengendalikan rasa

dan nyeri di lidah; Alergi terhadap makanan, penyedap makanan, bahan aditif
makanan, wewangian, pewarna atau zat lainnya.3,4,5
Refluks asam lambung/GERD yang memasuki mulut dari saluran
pencernaan bagian atas; Obat-obat tertentu, terutama obat tekanan darah tinggi
yang disebut angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor; Oral habit, seperti
mendorong-dorongkan lidah ke gigi depan dan grinding gigi (bruxism) ;Kelainan
endokrin, seperti diabetes dan hypothyroidism; Ketidakseimbangan hormonal,
seperti yang terkait dengan menopause; Iritasi mulut yang berlebihan, mungkin
hasil dari menyikat lidah secara berlebihan, terlalu sering menggunakan obat
kumur atau mengonsumsi minuman yang terlalu banyak asam.3,4,5
Gejala Burning Mouth Syndrome
Adanya sensasi terbakar yang paling sering menyerang lidah, tetapi juga
dapat mempengaruhi bibir, gusi, langit-langit mulut, tenggorok atau seluruh
mulut, sebuah sensasi mulut kering dengan peningkatan rasa haus, perubahan rasa,
seperti rasa pahit atau rasa logam, hilangnya rasa pengecap.3
Burning Mouth Syndrome biasanya memiliki beberapa pola yang berbeda. Ini
dapat terjadi setiap hari, dengan sedikit rasa tidak nyaman ketika bangun, tapi
menjadi lebih buruk sepanjang hari, atau ketidaknyamanan hilang timbul.3
Apapun pola ketidaknyamanan mulut, Burning Mouth Syndrome dapat
berlangsung selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Dalam kasus yang
jarang terjadi, gejala mungkin tiba-tiba pergi sendiri atau menjadi kurang

sering. Burning Mouth Syndrome biasanya tidak menyebabkan perubahan fisik


terlihat dengan lidah atau mulut.5
Patofisiologi
Diawali adanya sensori/stimulus rasa yang ditangkap oleh taste bud yang
berada di dalam papilla lidah. Sensasi rasa itu kemudian diteruskan ke otak
melalui saraf VII, IX dan X untuk dapat dipersepsikan. Ketiga saraf tersebut
membawa impuls ke medula, talamus dan area pengecapan yang terletak di
korteks serebri lobus parietal. Berbagai gangguan pengecapan, termasuk Burning
Mouth Syndrome dapat terjadi sebagai akibat rusaknya jalur pengecapan tersebut
dan/atau kerusakan pada otak.5
Diagnosis
Manifestasi Klinis: nyeri mukosa; rasa terbakar pada daerah 1/3 anterior
lidah atau palatum durum; iritasi atau rasa baku; dysgeusia; dysestesia.4,6
Diagnosis dapat dilakukan dengan bantuan pemeriksaan oral secara menyeluruh
dan pemeriksaan medis secara umum untuk mengetahui sumber penyebab rasa
terbakar tersebut, diantaranya:
1. Pemeriksaan laboratorium darah untuk mencari infeksi, kekurangan gizi, dan
gangguan yang berkaitan dengan Burning Mouth Syndrome seperti diabetes atau
masalah tiroid

2. Swab oral untuk memeriksa kandidiasis oral tes alergi terhadap bahan gigi
tiruan, makanan tertentu, atau zat lain yang mungkin menyebabkan gejala-gejala
tersebut.

Wanita 29 tahun dengan iritasi lidah. Benign migratory glossitis (geographic


tongue)3
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan difokuskan untuk mendeteksi penyebab sensasi terbakar yang
mempengaruhi mukosa. Penghitungan darah lengkap dan hematinik untuk
mendiagnosis anemia dan atau defisiensi besi, folat atau vitamin B12.
Kemunculan infeksi kandida tidak dideteksi dengan swab ataupun smear namun
dengan pemeriksaan kuantitatif menggunakan sampel saliva. Kemunculan dan
derajat kserostomia dinilai dengan sialometri. Gula darah dihitung untuk
mengetahui adanya diabetes. Pasien mungkin mempunyai alergi terhadap
beberapa material kedokteran gigi, dengan tidak adanya riwayat yang jelas
ataupun tanda klinis yang membuktikannya, hindari tes alergi seperti patch test
pada pasien.4,5,6

10

Penatalaksanaan
Penggunaan obat topikal krim capsaicin 0,025% telah digunakan pada Burning
Mouth Syndrome sebagai agen desensitasi dan menghambat substansi P.
Penggunaan 0.15% benzydamine hydrochloride, 3 kali sehari, mengalami efek
analgesik,anestetik dan anti-inflamasi, tetapi memberikan hasil yang tidak pasti.
Clonazepam (dengan menghisap 1mg tablet), merupakan agonis dari GABA
receptor, 3 kali sehari selama 14 hari, ditemukan hasil yang baik pada beberapa
pasien.5,6
Penggunaan trisiklik anti depresan seperti amitriptilin, desipiramin, imipramin,
clomipramin dan nortriptilin (dosis dimulai dari 5-10mg/hari dan bertahap
meningkat sampai 50 mg/hari) berguna dalam penanganan Burning Mouth
Syndrome. Kontraindikasi pengobatan ini terjadi pada dry mouth yang dimana
dapat memperburuk kondisinya.5,6
Selective

Serotonine

Reuptake

Inhibitor

seperti

sertralin

(50mg/hari),

paroxetin(20mg/hari) selama 8 minggu, duloxetin pada dosis 30-60mg/hari,


kombinasi

antidepresan

yang

menginhibisi

serotonin

dan

noadrenalin

menghasilkan perbaikan sensai terbakar pada mulu yang signifikan.5,6


Antipsikotik seperti amisulprid, levosupirid pada dosis 50 mg/hari selama 24
minggu terbukti efektif dan menunjukkan perbaikan pada pasien dalam waktu
singkat.5,6

11

Suplementasi dengan kapsul vitamin B dan C,b12,asam folat dan mineral seperti
besi,zink dapat menurunkan rata-rata serum homocysteine level dan meningkatkan
hemoglobin level pada remisi gejala.5,6

BAB III

Resume

12

Burning Mouth Syndrome adalah kondisi yang sangat menyakitkan


yang sering didefinisikan sebagai sensasi panas di lidah, bibir, palatum ataupun di
seluruh rongga mulut. Burning Mouth Syndrome tidak selalu dapat diidentifikasi
dengan pasti. ditandai dengan sensasi terbakar yang mempengaruhi mukosa oral
yang disebabkan oleh faktor lokal dan sistemik lain misalnya xerostomia, desain
gigi tiruan yang tidak baik, diabetes, anemia . Gejalanya yaitu sensasi terbakar
yang paling sering menyerang lidah, tetapi juga dapat mempengaruhi bibir, gusi,
langit-langit mulut, tenggorok atau seluruh mulut, sebuah sensasi mulut kering
dengan peningkatan rasa haus, perubahan rasa, seperti rasa pahit atau rasa logam,
hilangnya rasa pengecap. Diagnosis dapat dilakukan dengan bantuan pemeriksaan
oral secara menyeluruh dan pemeriksaan medis secara umum untuk mengetahui
sumber penyebab rasa terbakar tersebut. Pengobatan dilakukan dengan
menggunakan obat topikal krim misalnya, capsaicin 0,025%, Penggunaan trisiklik
anti depresan seperti amitriptilyne, desipiramine, imipramine, clomipramine dan
nortriptyline; SSRI, Antipsikotik.

DAFTAR PUSTAKA

13

1. http://www.nidcr.nih.gov/DataStatistics/FindDataByTopic/DentalCaries/D
entalCariesAdults2 0to64 diakses tanggal 5 Februari 2015

2. Guyton, Arthur C, Hall,John E.2007.Fisiologi Kedokteran edisi


11.Jakarta : EGC
3. http://emedicine.medscape.com/article/1508869-overview#aw2aab6b2
diakses tanggal 6 Februari 2015
4. http://www.medicinenet.com/burning_mouth_syndrome/article.htm
diakses tanggal 6 Februari 2015
5. http://www.jpbsonline.org/article.asp?issn=09757406;year=2014;volume=6;issue=5;spage=21;epage=25;aulast=Aravindha
n diakses tanggal 19 Februari 2015
6. http://www.nidcr.nih.gov/OralHealth/Topics/Burning/BurningMout
hSyndrome.htm diakses tanggal 19 Februari 2015

14