Anda di halaman 1dari 28

BAB IV

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN


4.1.

Geomorfologi
Dasar pemisahan dan penamaan satuan geomorfologi mengacu pada klasifikasi

(Van Zuidam, 1983) tentang Panduan Interpretasi Geomorfologi dan Pemetaan Sistem
Geologi dan Geomorfologi.
Beberapa aspek geomorfologi yang dipergunakan meliputi :
1. Aspek morfologi, sebagai aspek yang mempelajari relief secara umum.

Morfologi, merupakan susunan dari objek alami yang ada di permukaan bumi,
seperti perbukitan, lembah, punggungan, dataran, pegunungan, teras sungai dan
aluvial fan.

Morfometri, merupakan aspek-aspek yang bersifat kuantitatif dari suatu bentuk


lahan seperti kelerengan, relief, beda tinggi, bentuk lereng, tingkat pengikisan,
pola pengaliran dan ketinggian.

Morfografi, merupakan bentuk penyebaran bentang alam.

2. Aspek morfogenesis, sebagai studi mengenai proses morfologi, yakni proses yang
mengakibatkan terjadinya pembentukan dan perkembangan bentuk lahan serta prosesproses yang terjadi. Dalam hal ini adalah struktur geologi, litologi, dan proses geologi.
Aspek ini mencakup :

Morfostruktur aktif berupa tenaga endogen yang berhubungan dengan


pengangkatan, perlipatan dan pensesaran. Dengan kata lain bentuk lahan yang
berkaitan erat dengan hasil kerja gaya endogen seperti antiklin dan pensesaran.

Morfostruktur pasif, pembagian bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan


jenis litologi dan struktur batuan.

Morfodinamik berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga air, es,
gerakan masa dan kegunungapian. Dengan kata lain bentuk lahan yang
berkaitan erat dengan hasil gaya eksogen yaitu : proses-proses air, angin dan
lain sebagainya.

3. Morfokronologi, merupakan urutan bentuk lahan atau hubungan aneka ragam bentuk
lahan dan prosesnya yang ada di permukaan bumi sebagai hasil dari proses
geomorfologi.
18

Morfokonservasi adalah hubungan bentuk lahan dan lingkungan atau lingkungan


berdasarkan parameter bentuk lahan, seperti hubungan antara bentuk lahan dengan unsur
bentuk lahan seperti, batuan, struktur geologi, tanah, air, vegetasi dan penggunaan lahan.
Tabel 4.1 Pembagian unit relief Van Zuidam (1983)

Datar - hampir datar

02

Beda Tinggi
(m)
<5

Topografi bergelombang lemah

37

5 50

Topografi lereng / bergelombang

8 13

25 75

Kuat

14 20

50 200

Topografi menengah curam / berbukit

21 55

200 500

Topografi curam / berbukit - terajam curam


Topografi sangat curam / pegunungan terajam
curam

56 140

500 1000

>140

>1000

Klasifikasi Deskripsi

% Lereng

Klasifikasi bentang alam menurut Van Zuidam (1983) seperti pada Tabel 4.2 sebagai
berikut:
Tabel 4.2 Klasifikasi Bentang Alam Menurut Van Zuidam (1983)

Kode

Satuan bentang alam

Satuan bentang alam struktural

Satuan bentang alam vulkanik

Satuan bentang alam denudasional

Satuan bentang alam marine/pantai

Satuan bentang alam fluvial

Satuan bentang alam glasial

K
E

Satuan bentang alam karst


Satuan bentang alam eolian

19

- Pegunungan
- Perbukitan
- Lembah

- Kemiringan lereng
- Beda tinggi
- Geometri

ASPEK
MORFOLOGI

ASPEK
MORFOMETRI

- Penyebaran
- Luas
ASPEK
MORFOGRAFI

ASPEK
MORFOLOGI
SATUAN GEOMORFIK
Sub Satuan Geomorfik A

Sub Satuan Geomorfik A

ASPEK
MORFOGENESA

ASPEK
MORFOLOGI

ASPEK
MORFOMETRI

- Litologi
- Resistensi
- Sifat fisik &
kimia

- Perlapisan
- Kekar
- Lipatan
- Sesar

keterangan :

ASPEK
MORFOGRAFI
- Pelapukan
- Erosi
- Pelarutan
- Proses-proses
eksternal

: morfoarrangement

Gambar 4.1. Diagram alur klasifikasi geomorfologi (Van Zuidam, 1983)

4.1.1. Geomorfologi Daerah Penelitian


Morfologi gunung api merupakan interaksi antara proses endogen dan proses
eksogen mencetak permukaan bumi menjadi morfologi yang spesifik yang berbeda.
Morfologi gunung api tidak saja ditunjang oleh material - material yang dikeluarkan dan
tipe erupsinya saja, tetapi juga oleh tingkat aktifitas, erosi, serta gejala - gejala struktur
yang bekerja terhadapnya. Melalui pendekatan mengenai pengenalan berbagai unsur
morfologi yang ada dilapangan dan disesuaikan dengan apa yang ada pada peta
topografi/rupabumi, serta berpedoman pada peneliti sebelumnya, yakni berdasarkan
modifikasi dari klasifikasi Van Zuidam (1983). Oleh karena itu, kenampakan morfologi
yang dijumpai di daerah telitian sangat dipengaruhi oleh faktor faktor tersebut.

20

Berdasarkan aspek - aspek di atas, penulis membagi empat (4) satuan bentuklahan
pada daerah penelitian (Tabel 4.3.), yaitu:
-

Satuan bentuklahan pegunungan intrusi (V1).

Satuan bentuklahan lembah vulkanik (V2).

Satuan bentuklahan lembah homoklin (S1).

Satuan bentuklahan tubuh sungai (F1).

Tabel 4.3 Klasifikasi bentuklahan berdasarkan Modifikasi Verstappen, 1985

21

4.1.1.1. Satuan Bentuklahan Pegunungan Vulkanik (V1)


Satuan bentuklahan ini terbentuk akibat aktifitas vulkanisme menempati 55 % dari
seluruh daerah penelitian dengan relief sangat curam dengan kemiringan lereng 56 - 140 %
dan memiliki kisaran elevasi 250 - 770 mdpl yang meliputi Dusun Purwoasri, Desa
Mantren, Desa Gembuk.
Bentuklahan ini umumnya membentuk pola pengaliran radial, dengan proses
vulkanisme yang sangat berperan penting, diantaranya proses tektonik, erosi dan sebagian
aktifitas manusia.
Memiliki bentuk lembah yang curam dan membentuk V dengan litologi
penyusun batuan beku andesit, sehingga memiliki resistensi yang kuat.
Bentuklahan ini umumnya mempunyai tekstur batuan dengan warna hitam sampai
coklat dan kadang ditutupi vegetasi dimana terbentuk akibat material hasil vulkanisme
gunungapi dengan litologi dominan andesit. Bentuklahan ini umumnya digunakan sebagai
tambang rakyat.

Foto 4.1. Kenampakan morfologi bentuklahan pegunungan Vulkanik (V1)


(gambar diambil dari Desa Gembuk arah kamera N 162 E).

22

4.1.1.2. Satuan Bentuklahan Lembah Vulkanik (V2)


Satuan bentuklahan ini terbentuk akibat aktifitas vulkanisme menempati 13% dari
seluruh daerah penelitian dengan relief agak curam dengan kemiringan lereng 14 - 20 %
dan memiliki kisaran elevasi 200 - 300 mdpl yang meliputi Desa Gembuk.
Bentuklahan ini umumnya membentuk pola pengaliran sub dendritik, dengan
proses vulkanisme yang sangat berperan penting, diantaranya proses tektonik, erosi,
pelapukan dan sebagian aktifitas manusia.
Memiliki bentuk lembah yang curam dan membentuk V dengan litologi
penyusun batuan beku andesit, sehingga memiliki resistensi yang kuat - sedang.
Bentuklahan ini umumnya mempunyai tekstur batuan dengan warna hitam sampai
coklat dan kadang ditutupi vegetasi dimana terbentuk akibat material hasil ekstrusi
gunungapi dengan litologi dominan andesit. Bentuklahan ini biasanya digunakan untuk lahan
untuk penanaman atupun budidaya pohon, pemukiman warga selain itu juga digunakan
untuk lahan pertanian.

Foto 4.2. Kenampakan morfologi bentuklahan lembah vulkanik (V2)


(gambar diambil dari Desa Gembuk dengan arah kamera N 152 E).

23

4.1.1.3. Satuan Bentuklahan Lembah Homoklin (S1)


Satuan bentuklahan ini terbentuk akibat aktifitas vulkanisme dan endapan vulkanik
menempati 30% dari seluruh daerah penelitian dengan relief landai dengan kemiringan
lereng 3 - 7 % dan memiliki kisaran elevasi 40 - 300 mdpl yang meliputi Dusun
Sidomulyo, Dusun Gawang, Desa Mantren, dan Desa Gembuk.
Bentuklahan ini umumnya membentuk pola pengaliran paralel, dengan proses
endogen yang sangat berperan penting, diantaranya proses tektonik, erosi, pengendapan,
pelapukan dan sebagian aktifitas manusia.
Memiliki bentuk lembah yang curam dan membentuk V dengan litologi
penyusun breksi vulkanik, breksi piroklastik, lapili sehingga memiliki resistensi yang
sedang - lemah.
Bentuklahan ini umumnya mempunyai tekstur batuan dengan warna hitam sampai
coklat pada breksi vulkanik, warna coklat abu-abu pada breksi piroklastik, dan warna
abu-abu putih pada lapili dan kadang ditutupi vegetasi dimana terbentuk akibat material
hasil ekstrusi gunungapi dengan litologi dominan breksi vulkanik, breksi piroklastik, lapili.
Bentuklahan ini biasanya digunakan untuk lahan untuk penanaman atupun budidaya
pohon, pemukiman warga selain itu juga digunakan untuk lahan pertanian, dan tambang
rakyat.

Foto 4.3. Kenampakan morfologi bentuklahan lembah homoklin (S1)


(gambar diambil dari Desa Gembuk dengan arah kamera N 240 E).

24

4.1.1.4. Satuan Bentuklahan Tubuh Sungai (F1)


Satuan bentuklahan ini terbentuk akibat aktifitas vulkanisme dan endapan vulkanik
menempati 2% dari seluruh daerah penelitian dengan relief datar dengan kemiringan lereng
0 - 2 % dan memiliki kisaran elevasi 240 - 300 mdpl yang meliputi Desa Gembuk.
Bentuklahan ini umumnya membentuk pola pengaliran sub dendritik, dengan
proses flufiatil yang sangat berperan penting, diantaranya proses tektonik, erosi,
pengendapan, pelapukan dan sebagian aktifitas manusia.
Memiliki bentuk lembah yang datar dan membentuk U dengan litologi penyusun
batuan beku andesit sehingga memiliki resistensi yang kuat - sedang.
Bentuklahan ini umumnya mempunyai tekstur batuan dengan warna hitam sampai coklat
dan kadang ditutupi vegetasi dimana terbentuk akibat material hasil ekstrusi gunungapi
dengan litologi dominan andesit. Bentuklahan ini biasanya digunakan untuk lahan untuk

tambang rakyat.

Foto 4.4. Kenampakan morfologi bentuklahan tubuh sungai (F1)


(gambar diambil dari S.Gowak Desa Gembuk dengan arah kamera N 167 E).

25

4.1.2. Pola Pengaliran


Pola pengaliran adalah semua yang menyangkut sistem aliran yang terpolakan
akibat erosi yang bekerja pada suatu daerah yang bersangkutan. Untuk membantu dalam
penafsiran jenis pola penyaluran, maka penulis mengklasifikasikan berdasarkan jenis pola
aliran yang dibuat oleh Arthur Davis Howard (1967).
Jenis pola aliran yang terdapat pada daerah penelitian, setelah disesuaikan dengan
klasifikasi pola sungai yang ditulis oleh Arthur Davis Howard (1967), maka dapat
diklasifikasikan kedalam pola pengaliran annular dengan memiliki ciri cabang sungai
mengalir tegak lurus sungai induk subsekuen yang melingkar, terdapat pada struktur kubah
dan cekungan, kemungkinan pada intrusi stock yang tererosi, dan sungai pada pola
pengaliran ini dikontrol sesar atau kekar.

Keterangan :
Pola pengaliran annular

Gambar 4.2. Klasifikasi pola dasar pengaliran (Howard, 1967)

26

Pola pengaliran sangat erat hubungannya dengan resistensi batuan, jenis litologi,
struktur geologi, dan stadia geomorfologinya. Berdasarkan kontrol litologi bahwa daerah
penelitian merupakan daerah vulkanik yang memiliki tingkat resistensi atau pelapukan
batuan yang relatif tinggi pada daerah satu dengan daerah lainnya.
Berdasarkan pola Davis (1967), maka daerah penelitian dapat dikategorikan
sebagai stadia geomorfologi muda. Hal ini diakibatkan oleh erosi lateral dan erosi vertikal
berjalan secara seimbang dan proses sedimentasinya berjalan hingga sekarang. Stadia
geomorfologi ini biasanya memiliki relief gelombang dan daratan miring dengan lembah
besar dan dalam.
4.1.2.1. Pola Pengaliran Daerah Penelitian
Berdasarkan hasil analisis peta topografi dan keadaan di lapangan yang
mendasarkan pada bentuk dan arah aliran sungai, kemiringan lereng, dan kontrol litologi
pada daerah telitian maka penulis dapat membagi pola aliran yang ada pada daerah
penelitian menjadi satu pola pengaliran (Gambar 4.3.) berdasarkan klasifikasi Howard
(1967) yaitu :
Pola Annular
pola pengaliran ini mengindikasikan bahwa cabang sungai mengalir tegak lurus
sungai induk subsekuen yang melingkar, terdapat pada struktur kubah dan cekungan,
kemungkinan pada intrusi stock yang tererosi, dan sungai pada pola pengaliran ini
dikontrol sesar atau kekar. (Gambar 4.3.).
Pola pengaliran sangat erat hubungannya dengan resistensi batuan, jenis litologi,
struktur geologi, dan stadia geomorfologinya. Berdasarkan kontrol litologi bahwa daerah
penelitian merupakan daerah vulkanik yang memiliki tingkat resistensi atau pelapukan
batuan yang relatif tinggi pada daerah satu dengan daerah lainnya.
Berdasarkan pola Davis (1967), maka daerah penelitian dapat dikategorikan
sebagai stadia geomorfologi muda. Hal ini diakibatkan oleh erosi lateral dan erosi vertikal
berjalan secara seimbang dan proses sedimentasinya berjalan hingga sekarang. Stadia
geomorfologi ini biasanya memiliki relief gelombang dan daratan miring dengan lembah
besar dan dalam.

27

Gambar 4.3. Pola Pengaliran Annular pada Daerah Penelitian

4.2.

Stratigrafi Daerah Penelitian

Serelah melakukan pengamatan dan pengambilan data di lapangan yang diantaranya


pengambilan data kolom profil / stratigrafi pada lokasi pengamatan

dan melakukan

kesebandingan dengan cara menghubungkan karakteristik litologi yang sama peneliti dapat
menyimpulkan pembagian satuan batuan pada daerah penelitian yang dilakukan
berdasarkan penarikan kesebandingan kolom profil / stratigrafi, dominasi penyebaran
litologi serta kesamaan ciri-ciri fisik. Maka daerah telitian dapat dibagi menjadi 6 (enam)
satuan batuan yaitu (Gambar 4.4.) :
1. Satuan Batuan Andesit
2. Satuan Breksi Piroklastik
3. Satuan Lapili Tuf
4. Satuan Batugamping
5. Satuan Intrusi Andesit
6. Satuan Marmer
28

Gambar 4.4. Stratigrafi daerah penelitian (Penulis, 2012).

Satuan Batuan Andesit


Satuan Breksi Piroklastik
Satuan Lapili Tuf
Satuan Batugamping
Satuan Intrusi Andesit
Satuan Marmer

4.2.1. Satuan Batuan Andesit


Satuan ini terletak merata daerah telitian. Sebaran batuan Andesit ini sangat luas
dikarenakan daerah telitian merupakan pusat konsentrasi vulkanisme. Selain merujuk pada
peneliti terdahulu juga didasarkan pada pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan
dengan ciri fisik litologi abu-abu, Masif, Hipokristalin, Fanerik Sedang (1-5mm),
Subhedral - anhedral,

Inequigranular vitroverik, komposisi : Plagioklas, Hornblende,

Mineral opaq, masa gelas.

29

4.2.1.1. Litologi Penyusun


Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa andesit. Pada lokasi pengamatan 50 terdapat singkapan intrusi dengan
pemerian sebagai berikut Batuan Beku Intermediet Vulkanik, abu-abu, Masif,
Hipokristalin, Fanerik Sedang (1-5mm), Subhedral - anhedral, Inequigranular vitroverik,
komposisi : Plagioklas, Hornblende, Mineral opaq, masa gelas.

Foto 4.5. Singkapan batuan dasar andesit pada LP 50


(terletak di Desa Mantren, arah kamera N 109oE)

30

4.2.1.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 5.440 km2 menyebar merata pada daerah
telitian, meliputi wilayah-wilayah Desa Mantren, Desa Gembuk, Dusun Sidomulyo, Dusun
Gawang dan sekiarnya.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 45.2 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 379 m yang didasarkan pada
pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 8,
LP 11, LP 18, LP 101, LP 102 (Dusun Gawang) LP 20, LP 96 (Dusun Sidomulyo). LP 29,
LP 30, LP 31, LP 34, LP 35, LP 36, LP 37, LP 38, LP 39, LP 40, LP 41, LP 42, LP 43, LP
44, LP 45, LP 46, LP 47, LP 48, LP 49, LP 50 (Desa Mantren) LP 51, LP 52 LP 53, LP 54,
LP 76(Desa Gembuk). Tersebar merata pada daerah penelitian.
4.2.1.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan
Satuan Batuan Andesit diendapkan di lingkungan darat dengan fasies proksimal
volcaniclastic (Vessel & Davies, 1981). Material penyusunnya didominasi oleh aliran lava.
Pada satuan ini, penulis menentuan umur dari Satuan Batuan Andesit merujuk pada
geologi regional dan menggunakan data - data hasil pengamatan di lapangan.
Merujuk pada peneliti terdahulu oleh H. Samodra, S. Gafoer, dan (and)
S.Tjokrosapoeetro (1992) yang menyatakan bahwa Satuan ini memiliki umur Oligosen
akhir (30 25.2 juta tahun yang lalu), merupakan produk hasil gunungapi yang termasuk
dalam Formasi Arjosari yang tersingkap akibat proses vulkanik yang berkembang di
daerah tersebut.
4.2.1.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan Batuan Andesit pada bagian bawah tidak dijumpai adanya kontak dengan
satun batuan lain, sehingga Satuan Lava-andesit Mandalika merupakan satuan batuan
tertua di daerah telitian. Hubungan stratigrafi Satuan Lava-andesit Mandalika dengan
satuan di atasnya adalah selaras, dikarenakan satu produk gunungapi.
4.2.2. Satuan Breksi Piroklastik
Satuan ini terletak pada di sekitar perbatasan Desa Mantren dan Dusun Sidomulyo
dan sekitarnya di bagian barat, barat daya, selatan, tenggara dan timur pada peta lokasi.
Sebaran breksi piroklastik ini cukup luas dikarenakan penyebarannya mengikuti lembah
31

pada daerah telitian.Selain merujuk pada peneliti terdahulu juga didasarkan pada
pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan dengan ciri fisik litologi coklat, masif
pasir halus-brangkal (0,125-256mm) meruncing, buruk, terbuka, komposisi : F: andesit,
M: pasir sedang-sangat kasar (0,25-2mm), S: silika
4.2.2.1. Litologi Penyusun
Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa breksi piroklastik. Pada lokasi pengamatan 3 terdapat singkapan breksi
piroklastik dengan pemerian sebagai berikut, Batuan Sedimen klastik, coklat, masif pasir
halus-brangkal (0,125-256mm) meruncing, buruk, terbuka, komposisi : F: andesit, M:
pasir sedang-sangat kasar (0,25-2mm), S: silika.

Foto 4.6. Singkapan Breksi piroklastik pada LP 3 (di Dusun Gawang, arah kamera N 309oE)

32

4.2.2.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 2.346 km2 terutama di sektor barat, barat
daya, selatan, tenggara dan timur meliputi wilayah-wilayah Desa Mantren, Dusun
Sidomulyo, Dusun Gawang dan sekiarnya.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 19.5 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 180 m yang didasarkan pada
pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 28,
LP 89, LP 93 (Desa Mantren). LP 3, LP 6, LP 7, LP 9, LP 10, LP 12, LP 16, LP 17, LP 19,
LP 97, LP 100 (Dusun Gawang) LP 21, LP 22, LP 23, LP 24, LP 25, LP 95 (Dusun
Sidomulyo). Tersebar setempat pada daerah penelitian.
4.2.2.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan
Satuan Breksi Piroklastik diendapkan di lingkungan darat dengan fasies proksimal
volcaniclastic (Vessel & Davies, 1981). Material penyusunnya didominasi oleh breksi
piroklastik.
Pada satuan ini, penulis menentuan umur dari Satuan Breksi Piroklastik merujuk
pada geologi regional dan menggunakan data - data hasil pengamatan di lapangan.
Merujuk pada peneliti terdahulu oleh H. Samodra, S. Gafoer, dan (and)
S.Tjokrosapoeetro (1992) yang menyatakan bahwa Satuan ini memiliki umur Oligosen
akhir (30 25.2 juta tahun yang lalu), merupakan produk hasil gunungapi yang termasuk
dalam Formasi Arjosari.
4.2.2.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan breksi piroklastik ini memiliki hubungan selaras dengan satuan di bawahnya
dikarenakan merupakan satu produk gunungapi.
4.2.3. Satuan Lapili Tuf
Satuan ini terletak pada di sekitar Dusun Sidomulyo dan sekitarnya di bagian barat
daya dan selatan pada peta lokasi. Sebaran lapili ini cukup luas dikarenakan
penyebarannya mengikuti lembah pada daerah telitian. Selain merujuk pada peneliti
terdahulu juga didasarkan pada pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan dengan
ciri fisik litologi abu-abu, perlapisan Lapillus-tuf (64-0,004mm), menyudut,

terpilah

buruk, terbuka,komposisi: pumis, debu, hornblende, mineral opaq.


33

4.2.3.1. Litologi Penyusun


Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa lalipi tuf. Pada lokasi pengamatan 2 terdapat singkapan lapili dengan
pemerian sebagai berikut, Batuan Piroklastik, abu-abu, perlapisan Lapillus-tuf (640,004mm), menyudut, terpilah buruk, terbuka,komposisi: pumis, debu, hornblende,
mineral opaq.

Foto 4.7. Singkapan lapili tuf pada LP 2 (terletak di Dusun Gawang, arah kamera N 172oE)

34

4.2.3.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 0.528 km2 terutama di sektor barat daya dan
selatan meliputi wilayah-wilayah Dusun Gawang dan sekiarnya. Wilayah - wilayah ini
merupakan daerah aliran Sungai Sampang.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 14.1 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 170 m yang didasarkan pada
pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 1, LP
2, LP 4, LP 5, LP 13, LP 14, LP 15, LP 94, LP 98, LP 99. Tersebar setempat pada daerah
penelitian.
4.2.3.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan
Satuan Lapili Tuf diendapkan di lingkungan darat dengan fasies proksimal
volcaniclastic (Vessel & Davies, 1981). Material penyusunnya didominasi oleh lapili.
Merujuk pada peneliti terdahulu oleh H. Samodra, S. Gafoer, dan (and)
S.Tjokrosapoeetro (1992) yang menyatakan bahwa Satuan ini memiliki umur Oligosen
akhir (30 25.2 juta tahun yang lalu), merupakan produk hasil gunungapi yang termasuk
dalam Formasi Arjosari.
4.2.3.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan lapili tuf ini memiliki hubungan selaras dengan satuan di bawahnya
dikarenakan merupakan satu produk gunungapi.
4.2.4. Satuan Batugamping
Satuan ini terletak pada di Desa Gembuk dan Desa Mantren di bagian barat laut dan
tenggara pada peta lokasi. Sebaran batugamping ini tidak terlalu luas dikarenakan tingkat
erosi pada daerah tersebut cukup kuat. Selain merujuk pada peneliti terdahulu juga
didasarkan pada pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan dengan ciri fisik litologi
putih, masif, didukung lumpur, rudite (>1mm), membundar, buruk, terbuka, komposisi:
A: alga, foram, M: lumpur karbonat, biomikrit, S: rekristalisasi mikrit, nama batuan
wackstone ( Dunham, 1962 ).

35

4.2.4.1. Litologi Penyusun


Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa batugamping. Pada lokasi pengamatan 74 (Desa Gembuk) terdapat
singkapan batugamping dengan pemerian sebagai berikut, Batuan Sedimen karbonat
klastik, putih, masif, didukung lumpur, rudite (>1mm), membundar, buruk, terbuka,
komposisi: A: alga, foram, M: lumpur karbonat, biomikrit, S: rekristalisasi mikrit, nama
batuan wackstone ( Dunham, 1962 ).

Foto 4.8. Singkapan batugamping pada LP 27 (terletak di Desa Gembuk, arah kamera N 272oE)

36

4.2.4.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 0.486 km2 terutama di sektor barat laut dan
tenggara, meliputi wilayah-wilayah Desa Gembuk dan Desa Mantren.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 4 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 78 m

yang didasarkan pada

pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 26,
LP 27, LP 32, LP 33 (Desa Mantren). LP 72, , LP 78, LP 79 (Desa Gembuk). Tersebar
setempat pada daerah penelitian.
4.2.4.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan
Satuan batugamping diendapkan di lingkungan laut dangkal. Material penyusunnya
didominasi oleh batugamping.
Pada satuan ini, penulis menentuan umur dari Satuan batugamping merujuk pada
geologi regional dan menggunakan data - data hasil pengamatan di lapangan.
Merujuk pada peneliti terdahulu oleh (Sartono, 1964) yang menyatakan bahwa
satuan ini memiliki umur Miosen Tengah - Atas (N9-N16) yang tersingkap akibat
pengaruh tektonik yang berkembang di daerah tersebut termasuk dalam Formasi Punung.
4.2.4.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan batugamping memiliki umur Miosen Tengah - Atas (N9-N16) dan satuan di
bawahnya yang memiliki umur umur Oligosen akhir (30 25.2 juta tahun yang lalu) maka
satuan batu gamping ini memiliki hubungan tidak selaras dengan formasi di bawahnya
dikarenakan adanya jeda waktu yang cukup lama.

37

Batugamping F. Punung

Breksi Piroklastik F. Arojosari

Foto 4.9. Singkapan kontak Breksi Piroklastik F. Arjosari dan Batugamping F. Punung LP 32
(terletak di Desa Mantren, arah kamera N 342oE)

38

4.2.5. Satuan Intrusi Andesit


Satuan ini terletak setempat pada daerah telitian. Sebaran intrusi ini tidak luas
dikarenakan intrusi yang terjadi hanya setempat - setempat. Selain merujuk pada peneliti
terdahulu juga didasarkan pada pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan dengan
ciri fisik litologi abu-abu, Masif, Hipokristalin, Fanerik Sedang (1-3mm), Subhedral anhedral, Inequigranular vitroverik, komposisi : Plagioklas, Hornblende, Mineral opaq,
masa gelas.
4.2.5.1. Litologi Penyusun
Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa andesit. Pada lokasi pengamatan 67 terdapat singkapan intrusi dengan
pemerian sebagai berikut Batuan Beku Intermediet Vulkanik, abu-abu, Masif,
Hipokristalin, Fanerik Sedang (1-3mm), Subhedral - anhedral, Inequigranular vitroverik,
komposisi : Plagioklas, Hornblende, Mineral opaq, masa gelas.

39

Foto 4.10. Singkapan intursi andesit pada LP 67 (terletak di Desa Mantren, arah kamera N 109oE)

4.2.5.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 0.420 km2 menyebar merata pada daerah
telitian, meliputi wilayah-wilayah Desa Mantren, Desa Gembuk, Dusun Sidomulyo, Dusun
Gawang dan sekiarnya.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 3.2 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 70 m

yang didasarkan pada

pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 61,
LP 67 LP 69, LP 71, LP 81(Desa Gembuk). Tersebar setempat pada daerah penelitian.
40

4.2.5.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan


Satuan intrusi Andesit diendapkan di lingkungan darat dengan fasies proksimal
volcaniclastic (Vessel & Davies, 1981). Material penyusunnya didominasi oleh aliran lava.
Pada satuan ini, penulis menentuan umur dari Satuan intrusi Andesit merujuk pada
geologi regional dan menggunakan data - data hasil pengamatan di lapangan.
Merujuk pada peneliti terdahulu oleh (Sutanto, 1993) memiliki umur Miosen Atas
(10.2 juta tahun yang lalu), merupakan produk tektonik yang berkembang di daerah
penelitian yang tersingkap akibat proses tektonik yang berkembang di daerah tersebut.
4.2.5.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan intrusi ini merupakan litologi yang litologi batuan andesit, breksi
piroklastik, lapili tuf, dan juga litologi batugamping yang berada di atasnya.
4.2.6. Satuan Marmer
Satuan ini terletak pada di Desa Gembuk di bagian barat laut pada peta lokasi.
Sebaran marmer ini tidak terlalu luas dikarenakan proses terbentuknya marmer hanya
setempat pada daerah penelitian. Selain merujuk pada peneliti terdahulu juga didasarkan
pada pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan ciri fisik litologi abu-abu,
hornfelsik, kristaloblastik granoblastik, komposisi : kalsit.
4.2.6.1. Litologi Penyusun
Dari pengamatan dilapangan peneliti menyimpulkan bahwa satuan ini didominasi
oleh litologi berupa marmer. Pada lokasi pengamatan 74 (Desa Gembuk) terdapat
singkapan marmer dengan pemerian sebagai berikut, Batuan Metamorf non Foliasi, abuabu, hornfelsik, kristaloblastik granoblastik, komposisi : kalsit

41

Foto 4.11. Singkapan marmer pada LP 60 (terletak di Desa Gembuk, arah kamera N 268oE)

4.2.6.2. Penyebaran dan Ketebalan


Satuan ini mempunyai sebaran seluas 0.286 km2 terutama di sektor barat laut dan
tenggara, meliputi wilayah-wilayah Desa Gembuk.
Penyebaran satuan ini menempati luas sekitar 3,3 % dari seluruh luas daerah
penelitian. Dengan ketebalan satuan ini diperkirakan 78 m

yang didasarkan pada

pengamatan tebing di daerah penelitian, singkapan pada satuan ini di jumpai pada LP 58,
LP 60, LP 62, LP 68 , LP 70, LP 73, LP 74 (Desa Gembuk). Tersebar setempat pada
daerah penelitian.
42

4.2.6.3. Umur dan Lingkungan Pengendapan


Satuan marmer diendapkan di lingkungan darat akibat proses intrusi yang
mengakibatkan batugamping di sekitarnya menjadi marmer. Material penyusunnya
didominasi oleh marmer.
Pada satuan ini, penulis menentuan umur dari Satuan marmer merujuk pada geologi
regional dan menggunakan data - data hasil pengamatan di lapangan.
Satuan ini memiliki umur Miosen Atas (10.2 juta tahun yang lalu), yang tersingkap
akibat intrusi yang mengubah batugamping disekitarnya menjadi marmer.
4.2.6.4. Hubungan Stratigrafi
Satuan marmer ini merupakan produk batugamping yang mengalami proses
perubahan akibat intrusi yang berkembang di daerah tersebut dan terubah menjadi marmer.
4.3.

Struktur Geologi Daerah Penelitian


Pada daerah penelitian terdapat dua kedudukan lapisan batuan dengan kisaran 80 -

84 dan kemiringan lapisan berkisar 12 - 14, maka lapisan batuan dapat dikatakan
mengarah ke selatan.

43

Tabel 4.4 Kedudukan lapisan batuan daerah telitian

Lokasi Pengamatan

Strike / Dip

LP 1

N080 0E/ 14 0

LP 15

N084 0E/ 12 0

Pada daerah penelitian ditemukan struktur geologi yang berpengaruh berupa kekarkekar, memiliki arah umum N 041 E - N 050 E, N 221 E - N 230 E (Barat daya - Timur
laut). Dikarenakan daerah telitian merupakan produk gunungapi OAF yang berumur OAF
dan dipengaruhi tektonik yang berkembang di daerah telitian. Berikut ini tabel arah umum
kekar :

44

Tabel 4.5 Pola arah umum kekar


Arah Kekar

Arah Kekar

Sebaran

Jumlah

0 10

181 - 190

II

11 20

191 200

III

21 30

201 210

IIIII I

31 40

211 220

IIIII III

41 50

221 230

IIIII IIIII IIIII I

16

51 -60

231 240

IIIII II

61 70

241 250

IIII

71 - 80

251 - 260

81 90

261 270

IIIII III

91 100

271 280

IIII

101 110

281 290

111 120

291 300

121- 130

301 310

IIIII III

131 140

311 320

IIIII IIIII

10

141 150

321 330

II

151 160

331 340

II

161 - 170

341 350

171 - 180

351 - 360

0
II

Gambar 4.5 Diagram arah umum kekar

45