Anda di halaman 1dari 29

Dafta isi

BAB I PENDAHULUAN....................................................................1
1.1.

Latar Belakang..........................................................................................1

BAB II ANALISIS...............................................................................4
2.1. Mikroba.........................................................................................................4
2.1.1. Pengertian Mikroba.............................................................................4
2.1.2. Tujuan Mikroba Degradasi Polutan.....................................................4
2.2. Bioremediasi..................................................................................................5
2.2.1. Kajian Umum Mengenai Bioremediasi...............................................5
2.2.2 Tujuan dari bioremediasi......................................................................8
2.2.3 Proses utama pada bioremediasi...........................................................9
2.2.4 Metode Untuk Pelakukan Bioremediasi.............................................11
2.2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Bioremediase................15
2.2.6. Metabolisme Miroorganisme dalam Bioremediasi...........................17
2.2.7 Strategi Bioremediasi.........................................................................18
2.2.8 Mikroba untuk Proses Bioremediasi..................................................19
2.3. Keterbatasan Dalam Proses Bioremediasi...................................................20

BAB III PENUTUP............................................................................22


DAFTAR PUSTAKA..........................................................................24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang.
Dewasa ini, dunia mempunyai satu masalah yang sangat penting
untuk kehidupan manusia, yakni, masalah pencermaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan merupakan salah satu isu global yang marak
dibicarakan saat ini. Tingginya tingkat pencemaran akan berdampak
serius terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Namun, kalau
pencermaran lingkungan masih berlanjut, hal itu akan menyebabkan
kualitas lingkungan hidup berkurang dan menurunkan kualitas hidup
manusia. Selain itu, pecemaran lingkungan juga mengganggu makhluk
yang lain. Lebih dari itu, kalau manusia dan makhluk tidak bisa tinggal
dengan lingkungan yang bagus, pada akhirnya mungkin dunia akan
menjadi kiamat.
Aktivitas hidup manusia sehari-hari merupakan penyebab utama yang

merusak lingkungan dan menyebabkan pencemaran lingkungan misalnya,


perkembangan industri di masing-masing negara, eksploitasi sumber daya alam,
pertanian, dan sebagainya. Hal itu membuat ahli lingkungan, ilmuwan, dan
negara-negara di seluruh dunia menyadari masalah itu dan berusaha mencari cara
untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara yang ramah lingkungan.
Kemudian, mulai mempelajari cara untuk memecahkan pencemaran lingkungan.
Oleh karena itu, hal itu adalah cara yang dapat membantu hidup manusia jauh dari

bahaya pencemaran lingkungan, seperti pencemaran tanah, pencemaran air, dan


sebagainya.
Saat ini, mikroba banyak dimanfaatkan di bidang lingkungan,
yang berperan membantu memperbaiki kualitas lingkungan, terutama
untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan, baik di lingkungan
tanah maupun perairan. Bahan pencemar dapat bermacam-macam mulai
dari bahan yang berasal dari sumber-sumber alami sampai bahan sintetik,
dengan sifat yang mudah diuraikan (biodegradable) sampai sangat sulit,
bahkan tidak bisa dirombak (rekalsitran/ nonbiodegradable) maupun
beracun bagi jasad hidup dengan bahan aktif tidak rusak dalam waktu
lama (persisten). Dalam hal ini akan dibahas beberapa pemanfaatan
mikroba dalam proses penguraian bahan pencemar dan peran lainnya
untuk mengatasi bahan pencemar.
Mikroba adalah salah satu cabang bioteknologi yang dapat membantu
menurunkan pencemaran lingkungan atau kontaminan dalam lingkungan. Hal itu
merupakan cara yang dapat menghilangkan kontaminan lingkungan dengan cara
yang ramah dengan lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia. Selain itu
bioteknologi bakteri memberika manfaat bagi industri untuk pengolahan makanan
dan produksi berbagai bioproduk dan pertanian, seperti nitrogen fiksasi nutrisi
bagi tanaman. Untuk membantu mencegah penyakit dan hama, dll.
Maka mikroba juga bermanfaat bagi lingkungan juga, hal ini
adalah kemampuan mikroorganisme, terutama bakteri dalam pengelolaan

air limbah untuk waktu yang lama maupun air limbah dari masyarakat,
yang dikenal sebagai air limbah rumah tangga dan air limbah industri,
seperti air limbah industri petroleum, pestisida, plastik, farmasi dan
makanan,dan sebagainya .
Pada dasarnya, limbah atau kotaminan akan terurai oleh
mikroorganisme dengan proses yang disebut metabolisme alami yang
disebut biodegradasi limbah, tetapi saat ini , ada banyak limbah dan
kontaminan lebih banyak daripada waktu yang lalu dari rumah tangga
dan industry. Masalahnya lebih dari itu, penggunaan berbagai bahan
sintetik yang diciptakan oleh manusia sebagian besar di antaranya
beracun dan sulit untuk dibuang. Zat-zat disebut senyawa xenobiotik
yang telah meninggalkan residu di lingkungan dan akan menjadi sebagai
kontaminan beracun atau polutan beracun yang berbahaya bagi
lingkungan alam. Akan tetapi, kemampuan beberapa kelompok bakteri,
terutama Pseudomonas sp, dia memiliki kemampuan untuk menggunakan
bakteri sebagai nutrisi atau makanannya seperti kontaminan dalam
polutan alami, polutan organik, dan senyawa xenobiotic. Sehingga
mikroba ini untuk mengurangi racun. Oleh karena itu, banyak Ilmuwan
telah mempelajari mikroba ini dan memanfaatkannya untuk degradasi
racun atau menyerab racun ataupun yang berurusan dengan berbagai
kondisi untuk mencapai proses degradasi mikroba yang efektif. Demikian
proses degradasi mikroba yang dikelola oleh manusia yang terjadi begitu,
disebut Bioremediasi (Thamsathiti, 2004 ).

BAB II
ANALISIS
2.1. Mikroba.
2.1.1. Pengertian Mikroba.
Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis. Mikroba
seperti itu terbagi 3 jenis terutama, yaitu, bakteri, fungi dan virus. Bakteri
merupakan mikroba prokariotik yang rata-rata selnya berukuran 0,5-1 x
2-5 m, berbentuk elips, bola, batang atau spiral .
Menurut (Gandjar, 2006), fungi adalah organisme eukariotik,
bersifat

heterotrof,

dindingselnya

mengandung

kitin,

tidak

berfotosintesis, mensekresikan enzim ekstraseluler kelingkungan dan


memperoleh

nutrien

dengan

cara

penyerapan.

Berdasarkan

penampakannya, fungi dikelompokkan ke dalam kapang (mold), khamir


(yeast), dan cendawan (mushroom).

2.1.2. Tujuan Mikroba Degradasi Polutan.


Proses mikroba mendegradasi berbagai polutan dapat terjadi
dengan tujuan berikut ini:
1. Degradasi untuk digunakan dalam pertumbuhan sel. Sel-sel dapat
digunakan polutan sebagai sumber karbon , energi dan polutan.
2. Degradasi comatabolism oleh mikroorganisme karbon dan nutrisi sumber
energi umum untuk pertumbuhan, dan sementara itu memiliki dekomposisi
polutan tanpa diterapkan untuk menghasilkan pertumbuhan. Hasil reaksi
pencernaan bersama substrat (cosubstrate) meskipun tidak digunakan untuk
menghasilkan pertumbuhan mikroba yang mencerna zat-zat tersebut, tetapi dapat
diterapkan untuk pertumbuhan mikroorganisme lain yang hidup bersama.
Kemampuan untuk melakukan transformasi metabolik ini akan tergantung pada
enzim mikroba di dalamnya dan tergantung pada kofaktor (cofactor). Untuk reaksi
degradasi mikroba harus diciptakan sebagai hidrogen donor, yang paling sering
adalah NADH ke enzim oksigenase. Enzim yang penting dalam biodegradasi
aerobik adalah proses pembuatan oksidasi
enzimatik oleh oksigenase dan
3
peroksidase dan enzim oksigenase. Enzim oxidoreductase yang bereaksi di O 2
pada penggabungan dengan substrat degradasi yang diinginkan (Ritthisack, 2547).

2.2. Bioremediasi.
2.2.1. Kajian Umum Mengenai Bioremediasi.
Bioremediasi berasal dari dua kata yaitu bio dan remediasi yang dapat
diartikan sebagai proses dalam menyelesaikan masalah. Bio yang dimaksud
adalah organisme hidup, terutama mikroorganisme yang digunakan dalam
pemanfaatan pemecahan atau degradasi bahan pencemar lingkungan menjadi
bentuk yang lebih sederhana dan aman bagi lingkungan tersebut. Bioremediasi
merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan
memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran atau polutan.
Yang termasuk dalam polutan antara lain logam-logam berat, petroleum
hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida,
herbisida, dan lain-lain. Bioremediasi mempunyai potensi menjadi salah satu
teknologi lingkungan yang bersih, alami, dan paling murah untuk mengantisipasi
masalah-masalah lingkungan. Menurut Ciroreksoko (1996), bioremediasi
diartikan sebagai proses pendegradasian bahan organik berbahaya secara biologis
menjadi senyawa lain seperti karbondioksida (CO2), metan, dan air. Sedangkan
menurut Craword (1996), bioremediasi merujuk pada penggunaan secara
produktif proses biodegradatif untuk menghilangkan atau mendetoksi polutan
(biasanya kontaminan tanah, air dan sedimen) yang mencemari lingkungan dan
mengancam kesehatan masyarakat. Jadi bioremediasi adalah salah satu teknologi
alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan
mikroorganisme.

Mikroorganisme

yang

dimaksud

adalah

khamir, fungi

(mycoremediasi), yeast, alga dan bakteri yang berfungsi sebagai agen

bioremediator. Selain dengan memanfaatkan mikroorganisme, bioremediasi juga


dapat pula memanfaatkan tanaman air. Tanaman air memiliki kemampuan secara
umum untuk menetralisir komponen-komponen tertentu di dalam perairan dan
sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair (misalnya menyingkirkan
kelebihan nutrien, logam dan bakteri patogen). Penggunaan tumbuhan ini biasa
dikenal dengan istilah fitoremediasi. Jenis-jenis tanaman yang dapat melakukan
remediasi disebut dengan tanaman hiperakumulator, contohnya adalah sebagai
berikut.
Proses fitoremediasi meliputi fitoakumulasi, rhizofiltrasi, fitostabilisasi,
rizodegradasi, fitodegradasi, dan fitovolatisasi.
1.

Fitoekstraksi atau fitoakumulasi yaitu proses tumbuhan menarik zat

kontaminan dari media sehingga berakumulasi di sekitar akar tumbuhan.


2.

Rhizofiltrasi yaitu proses adsorbs atau pengendapan zat-zat kontaminan

pada akar (menempel pada akar).


3.

Fitostabilisasi yaitu penempelan zat-zat kontaminan tertentu pada akar

yang tidak mungkin terserap ke dalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut


menempel erat (stabil) pada akar sehingga tidak akan dibawa oleh aliran air dalam
media.
4.

Rhizodegradasi atau fitostimulasi yaitu penguraian zat-zat kontaminan

dengan aktivitas mikroba yang berada di sekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi,
fungi dan bakteri.

5.

Fitodegradasi atau fitotransformasi yaitu proses yang dilakukan tumbuhan

untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang


kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang
lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Proses
ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar di sekitar perakaran
dengan bantuan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi.
6.

Fitovolatilisasi yaitu proses menarik dan transp.irasi zat-zat kontaminan

oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan
yang tidak berbahaya lagi utnuk selanjutnya diuapkan ke atmosfer.
Sebenarnya bioremediasi telah digunakan sejak tahun 1970-an
untuk menurunkan minyak bumi dan hidrokarbon lainnya. Pada Maret
1989 kapal minyak besar EXXON VALDEZ jatuh Pangeran Willion
Sound, Alaska membuat 42 juta galon minyak membanjiri sepanjang
pantai. Pembersihan pantai telah memulai awal, tetapi teknik biasa yang
digunakan tidak efektif. Oleh karena itu, para ilmuwan dari Departemen
Lingkungan Hidup mencoba menggunakan teknologi bioremediasi untuk
mempercepat pembersihan. Pekerjaan dimulai dengan menggunakan
penyemprotan pupuk (Nutrisi) untuk mempercepat pertumbuhan
mikroorganisme yang mensubsidi penggunaan minyak sebagai sumber
karbon oleh mikroba. Tampaknya daerah itu disemprot dengan minyak,
pupuk ditinggalkan dengan hanya sepertiga dibuang saja. Hal yang
berbeda terjadi dengan daerah yang belum disemprot pupuk jelas. Dari

hasil pengamatan itu, kandungan karbon dari 60 % dan 45 % dari


hidrokarbon polisiklik aromatik hidrokarbon ( PAH ), yang beracun
dibuang dalam kurun waktu hanya tiga bulan, hal ini adalah bagian
pertama dari Mikroba Bioremediasi ( Daly , 2002).
2.2.2 Tujuan dari bioremediasi.
Tujuan dari bioremediasi adalah untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar
menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air)
atau dengan kata lain mengontrol atau mereduksi bahan pencemar dari
lingkungan. Bioremediasi telah memberikan manfaat yang luar biasa pada
berbagai bidang, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.

Bidang Lingkungan
Pengolahan limbah yang ramah lingkungan dan bahkan
mengubah

limbah

tersebut

menjadi ramah lingkungan. Contoh

bioremediasi dalam lingkungan yakni telah membantu mengurangi


pencemaran dari limbah pabrik, misalnya pencemaran limbah oli di laut
Alaska berhasil diminimalisir dengan bantuan bakteri yang mampu
mendegradasi oli tersebut.
2.

Bidang Industri
Bioremediasi telah memberikan suatu inovasi baru yang
membangkitkan

semangat

industri

sehingga

terbentuklah

suatu

perusahaan yang khusus bergerak dibidang bioremediasi, contohnya


adalah Regenesis Bioremediation Products, Inc., di San Clemente, Calif.
3.

Bidang Ekonomi
Karena bioremediasi menggunakan bahan-bahan alami yang
hasilnya ramah lingkungan, sedangkan mesin-mesin yang digunakan
dalam pengolahan limbah memerlukan modal dan biaya yang jauh lebih,
sehingga bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang lebih baik.

4.

Bidang Pendidikan
Penggunaan

mikroorganisme

dalam

bioremediasi

dapat

membantu penelitian terhadap mikroorganisme yang masih belum


diketahui secara jelas. Pengetahuan ini akan memberikan sumbangan
yang besar bagi dunia pendidikan sains.
2.2.3 Proses utama pada bioremediasi.
Proses

utama

pada

bioremediasi

adalah

biodegradasi,

biotransformasi dan biokatalis. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim


yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun
dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut. Enzim mempercepat
proses tersebut dengan cara menurunkan energi aktivasi, yaitu energi
yang dibutuhkan untuk memulai suatu reaksi. Pada proses ini terjadi
biotransformasi atau biodetoksifikasi senyawa toksik menjadi senyawa
yang kurang toksik atau tidak toksik. Pada banyak kasus, biotransformasi

10

berujung pada biodegradasi. Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di


lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi
kadar bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui
suatu seri reaksi kimia yang cukup kompleks dan akhirnya menjadi
metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. Misalnya mengubah
bahan kimia menjadi air dan gas yang tidak berbahaya misalnya CO2,
senyawa lainnya, seperti senyawa nitrogen atau sulfur akan diubah ke
NO3, NH3, SO4, S2- , dan lain-lain. Senyawa tersebut tidak beracun bagi
lingkungan, sementara proses penghapusan dengan metode fisik
cenderung hilangkan hanya dengan ciri-ciri racun atau mengubah dari
satu bentuk ke bentuk lain dengan perusakan oleh pembakaran atau
metode lain. Dalam proses degradasinya, mikroba menggunakan
senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya melalui
berbagai proses oksidasi. Enzim yang dihasilkan juga berperan untuk
mengkatalis reaksi degradasi, sehingga tidak membutuhkan waktu yang
lama untuk mencapai keseimbangan. Lintasan biodegradasi berbagai
senyawa kimia yang berbahaya dapat dimengerti berdasarkan lintasan
mekanisme dari beberapa senyawa kimia alami seperti hidrokarbon,
lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Sebagian besar dari prosesnya,
terutama tahap akhir metabolisme umumnya berlangsung melalui proses
yang sama.
Supaya proses tersebut dapat berlangsung optimal, diperlukan
kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan

11

perkembangangbiakan mikroorganisme. Tidak terciptanya kondisi yang


optimum

akan

mengakibatkan

aktivitas

degradasi

biokimia

mikroorganisme tidak dapat berlangsung dengan baik, sehingga


senyawa-senyawa beracun menjadi persisten di lingkungan. Agar tujuan
tersebut tercapai diperlukan pemahaman akan prinsip-prinsip biologis
tentang

degradasi

senyawa-senyawa

beracun,

pengaruh

kondisi

lingkungan terhadap mikroorganisme yang terkait dan reaksi-reaksi yang


dikatalisnya. Salah satu cara untuk meningkatkan bioremediasi adalah
melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting
untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada
bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat
meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba
memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.
2.2.4 Metode Untuk Pelakukan Bioremediasi.
Metode yang digunakan dalam proses bioremediasi ada beberapa
jenis yang telah dikembangkan dan menggunakan untuk degradasi yang
tepat dengan zat-zat polutan berikut ini:
-

Bioaugmentation adalah penambahan mikroorganisme atau enzim ke

dalam sampah untuk mendegradasi zat yang tidak diinginkan, bakteri memiliki
peran penting dalam proses ini. Selain menggunakan mikroba, tanam (Cropping)
untuk mencapai zat yang tidak diinginkan, itu juga adalah bioaugmentation.

12

Gambar 1 : Proses Bioaugmentation

Biofiltration adalah penghilangkan limbah di udara seperti gas organic

dengan penggunaan bahan yang memiliki mikroba yang bisa mendegradasi gas
organik terperangkap, hal ini dapat penghapusan senyawa organik yang mudah
menguap, atau senyawa organik yang mudah menguap dari udara.

13

Gambar 2: Proses Biofiltrasi

Bioreactor adalah penghapusan kontaminan dalam tangki besar

dengan mikroorganisme atau enzim. Sering digunakan untuk menghilangkan


racun yang berada dalam keadaan sampah (limbah padat) atau tanah.

Gambar 3: Proses Bioreactor

Biostimulation adalah penggunaan nutrisi atau aditif apapun untuk

membantu merangsang mikroba untuk membuat bioremediasi bekerja lebih baik.


Terutama, pupuk kimia yang banyak digunakan untuk membantu pertumbuhan
mikroorganisme. Kadang-kadang kontaminan atau polutan dalam jumlah kecil.
Hal Ini dapat membantu untuk merangsang aktivitas mikroorganisme atau enzim
yang dibutuhkan untuk mencerna itu.

14

Gambar 4: Proses Biostimulation

Bioventing adalah motode yang mirip dengan biostimulation, tetapi

metode ini menyediakan oksigen untuk merangsang pertumbuhan mikroba


semakin baik. Hal ini Sering digunakan untuk menghilangkan polutan minyak
bumi dari tanah, tetapi tidak untuk penghapusan gas halogen yang mempengaruhi
menguras ozon.

15

Gambar 4: Proses Bioventing

Composing : adalah penggunaan bahan yang mengandung zat polutan


dengan campuran atau kompos dicampur dengan mikroorganisme yang memiliki
kemampuan untuk melakukan bioremediasi, dan diinkubasi di hadapan udara dan
suhu yang tepat untuk pertumbuhan mikroba dan dekomposisi zat beracun yang
terkandung di dalamnya.

Gambar 4: Proses Bioremediation Composting

Landfarming adalah Prapengobatan tanah yang mengandung polutan

yang dapat merusak tanam atau penambahkan pupuk di dalam tanah sehingga
untuk pertumbuhan mikroba tanah dan dekomposisi dalam tanah, hal ini sangat
baik untuk menghilangkan kontaminasi minyak tanah (Thamsatiti, 2004).

16

Gambar 4: Proses Bioremediation Landfarming

2.2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Bioremediase.


Keberhasilan proses biodegradasi banyak ditentukan oleh
aktivitas enzim. Dengan demikian mikroorganisme yang berpotensi
menghasilkan enzim pendegradasi hidrokarbon perlu dioptimalkan
aktivitasnya dengan pengaturan kondisi dan penambahan suplemen yang
sesuai. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor-faktor lingkungan yang
mempengaruhi proses bioremediasi, yang meliputi kondisi tanah,
temperature, oksigen, dan nutrient yang tersedia.
1. Tanah

17

Proses

biodegradasi

memerlukan

tipe

tanah

yang

dapat

mendukung kelancaran aliran nutrient, enzim-enzim mikrobial dan air.


Terhentinya aliran tersebut akan mengakibatkan terbentuknya kondisi
anaerob sehingga proses biodegradasi aerobik menjadi tidak efektif.
Karakteristik tanah yang cocok untuk bioremediasi in situ adalah
mengandung butiran pasir ataupun kerikil kasar sehingga disp.ersi
oksigen dan nutrient dapat berlangsung dengan baik. Kelembaban tanah
juga penting untuk menjamin kelancaran sirkulasi nutrien dan substrat di
dalam tanah.
2. Temperatur
Temperatur yang optimal untuk degradasi hidrokaron adalah 3040oC. Ladislao, et. al. (2007) mengatakan bahwa temperatur yang
digunakan pada suhu 38oC bukan pilihan yang valid karena tidak sesuai
dengan kondisi di Inggris untuk mengontrol mikroorganisme patogen.
Pada temperatur yang rendah, viskositas minyak akan meningkat
mengakibatkan volatilitas alkana rantai pendek yang bersifat toksik
menurun dan kelarutannya di air akan meningkat sehingga proses
biodegradasi akan terhambat. Suhu sangat berpengaruh terhadap lokasi
tempat dilaksanakannya bioremediasi.
3. Oksigen
Langkah awal katabolisme senyawa hidrokaron oleh bakteri
maupun kapang adalah oksidasi substrat dengan katalis enzim oksidase,
18

dengan demikian tersedianya oksigen merupakan syarat keberhasilan


degradasi hidrokarbon minyak. Ketersediaan oksigen di tanah tergantung
pada (a) kecepatan konsumsi oleh mikroorganisme tanah, (b) tipe tanah
dan (c) kehadiran substrat lain yang juga bereaksi dengan oksigen.
Terbatasnya oksigen, merupakan salah satu faktor pembatas dalam
biodegradasi hidrokarbon minyak.
4. Nutrien
Mikroorganisme memerlukan nutrisi sebagai sumber karbon,
energy dan keseimbangan metabolism sel. Dalam penanganan limbah
minyak bumi biasanya dilakukan penambahan nutrisi antara lain sumber
nitrogen dan fosfor sehingga proses degradasi oleh mikroorganisme
berlangsung lebih cepat dan pertumbuhannya meningkat.
5. Interaksi antar Polusi
Fenomena lain yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam
mengoptimalkan aktivitas mikroorganisme untuk bioremediasi adalah
interaksi antara beberapa galur mikroorganisme di lingkungannya. Salah
satu bentuknya adalah kometabolisme. Kometabolisme merupakan
proses transformasi senyawa secara tidak langsung sehingga tidak ada
energi yang dihasilkan.

19

Polutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan pencemar


organik dan sintetik (buatan). Bahan pencemar dapat dibedakan
berdasarkan kemampuan terdegradasinya di lingkungan yaitu :
a.

Bahan pencemar yang mudah terdegradasi (biodegradable pollutant), yaitu

bahan yang mudah terdegradasi di lingkungan dan dapat diuraikan atau


didekomposisi, baik secara alamiah yang dilakukan oleh dekomposer (bakteri dan
jamur) ataupun yang disengaja oleh manusia, contohnya adalah limbah rumah
tangga. Jenis polutan ini akan menimbulkan masalah lingkungan bila kecepatan
produksinya lebih cepat dari kecepatan degradasinya.
b.

Bahan pencemar yang sukar terdegradasi atau lambat sekali terdegradasi

(nondegradable pollutant), dapat menimbulkan masalah lingkungan yang cukup


serius. Contohnya adalah jenis logam berat seperti timbal (Pb) dan merkuri.
2.2.6. Metabolisme Miroorganisme dalam Bioremediasi
Berdasarkan

model

metabolisme

mikroorganisme

dalam

mendegradasi, terdiri atas:


1. Aerobik: Transformasi terjadi ketika terdapat molekul oksigen sebagai aseptor
elektron
2. Anaerobik: Reaksi yang terjadi apabila tidak ada molekul oksigen, dapat
meliputi respirasi anaerobik, fermentasi, dan fermentasi methane.

20

Respirasi anaerobik: nitrat, sulfat, dan thiosulfat sebagai aseptor


elektron. Nitrat terdenitrifikasi oleh organisme pereduksi nitrat,
sedangkan sulfat oleh organisme pereduksi sulfat.
Fermentasi: komponen organik berperan sebagai donor dan
aceptor elektron.
Fermentasi methane: pemecahan komponen organik secara
biokimia menjadi CH4 dan CO2.
2.2.7 Strategi Bioremediasi
Berdasarkan tingkat kejenuhan dan aerasi area, bioremediasi dibagi
menjadi 2 yaitu teknik in situ dan ex situ:
1.

Bioremediasi In Situ
Bioremediasi In Situ merupakan metode dimana mikroorganisme
diaplikasikan langsung pada tanah atau air dengan kerusakan yang
minimal. Bioremediasi (In situ bioremidiation) juga terbagi atas:

Biostimulasi/Bioventing: dengan penambahan nutrient (N, P) dan aseptor elektron


(O2) pada lingkungan pertumbuhan mikroorganisme untuk menstimulasi
pertumbuhannya.
Bioaugmentasi:

dengan

menambahkan

organisme

dari

luar

(exogenus

microorganism) pada subpermukaan yang dapat mendegradasi kontaminan


spesifik.

21

Biosparging: dengan menambahkan injeksi udara dibawah tekanan ke dalam air


sehingga dapat meningkatkan konsentrasi oksigen dan kecepatan degradasi.
2.

Bioremediasi Ex Situ

Bioremediasi Ex Situ merupakan metode dimana mikroorganisme diaplikasikan


pada tanah atau air terkontaminasi yang telah dipindahkan dari tempat asalnya.
Teknik ek situ terdiri atas:
Landfarming: teknik dimana tanah yang terkontaminasi digali dan dipindahkan
pada lahan khusus yang secara periodik diamati sampai polutan terdegradasi.
Composting: teknik yang melakukan kombinasi antara tanah terkontaminasi
dengan tanah yang mengandung pupuk atau senyawa organik yang dapat
meningkatkan populasi mikroorganisme.
Biopiles: merupakan perpaduan antara landfarming dan composting.
Bioreactor: dengan menngunakan aquaeous reaktor pada tanah atau air yang
terkontaminasi.
2.2.8 Mikroba untuk Proses Bioremediasi
Berdasarkan kemampuan untuk mendegradasi atau meremediasi, mikroorganisme
dikelompokkan menjadi:
1. Aerobik:

22

mikroorganisme yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Misal:


Pseudomonas, Alcaligenes, Sphingomonas, Rhodococcus, dan Mycobacterium.
Mikroba ini dapat mendegradasi pestisida, hidrokarbon, alkana dan senyawa
poliaromatik.
2. Anaerobik:
Mikroorganisme yang tidak membutuhkan oksigen untuk
pertumbuhannya,

biasanya

digunakan

untuk

mendegradasi

Polychorinated biphenyls (PCBs).


3. Jamur Ligninolitik
Umumnya digunakan untuk meremediasi polutan yang bersifat
toksik dan presisten. Misalnya: Phanaerochaete chrysosporium
4. Metilotrop
Metilotrop merupakan bakteri aerobik yang mengunakan metan
sebagai

sumber

karbon

dengan

menggunakan

enzim

methane

monooxygenase.
2.3. Keterbatasan Dalam Proses Bioremediasi.
Teknologi seperti itu membutuhkan pengetahuan tentang teknik dan
mikrobiologi bersama-sama.

Keterbatasan untuk melakukan bioremediasi

merupakan salah satu yang penting, yakni, mikroorganisme yang digunakan


dalam proses. Sebenarnya, Zat-zat polutan yang diinginkan degradasi oleh

23

mikroba bukan nutrisi yang mikroba suka menggunakan, tetapi mikroba degradasi
zat-zat polutan tersebut di bawah kondisi yang diperlukan untuk kelangsungan
hidup. Oleh karena itu, lingkungan fisik untuk membuatnya kondusif untuk
biodegradasi, mikroorganisme adalah hal yang paling penting. Kadang-kadang
harus telah mendorong kemampuan mikroorganisme awalnya dengan inkubasi
mikroorganisme dalam lingkungan yang mengandung polutan dalam jumlah
sedikit sebelumnya dan inkubasi selama periode waktu untuk memberikan
substansi untuk merangsang enzim mikroba yang digunakan untuk mencerna itu.
Hal itu mungkin perlu untuk menambah nutrisi untuk mikroba dalam bentuk
pupuk dan dengan oksigen. Namun, jika kontaminan terlalu banyak nutrisi
lainnya atau zat makanan yang lebih mudah untuk menyingkirkan polutan,
mikroorganisme tidak akan menurunkan polutan atau jika polutan kimia dalam
jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan toksisitas pada mikroorganisme juga.
Jika zat polutan jumlahnya berlebihan, atau dalam beberapa kasus, racun mungkin
memiliki struktur yang kompleks yang tidak dapat dicerna sepenuhnya dan dapat
menyebabkan efek toksik pada mikroorganisme dan itu dapat menyebabkan
perubahan struktural atau membuat biotransformasi menjadi zat yang beracun.
Oleh sebab itu, untuk memroses berbagai biodegradable dengan efisien, harus
dipelajari dengan berbagai faktor. Untuk masuk dalam semua aspek (Thamsathiti,
2004).

24

BAB III
PENUTUP

Bioremidiasi adalah salah satu teknologi yang menggunakaan


mikroba untuk menghapuskan kontaminan lingkungan dan tidak beracun
bagi makhluk yang lain, yaitu, manusia, hewan, dan alami maupun
lingkungan

hidup.

Dari

kemampuan

mikroba

dalam

teknologi

Bioremidiasi dalam mendegradasi kontaminan lingkungan begitu. Hal itu

25

teleh membujuk pada banyak sektor lakukan banyak penilitian terhadap


pemanfaatan dan kemungkinan dalam penggunakan teknologi ini seperti:
bidang industri, bidang medis (kesehatan), bidang pertanian, dan bidang
lingkungan. Khususnya, bagi bidang lingkungan hidup yang sangat
memenggaruhi kehidupan manusia dan maklhuk lain, hal itu diperlajari
dan digunakan waktu lama. Oleh karena itu, penggunaan teknologi
Bioremidiasi itu telah penghasilan dengan baik dan dapat membantu
menjaga lingkungan hidup dan membuat hidup manusia jauh dari bahaya
kontaminan lingkungan. Selain itu, teknologi penggunaan mikroba dalam
proses Bioremidiasi ini adalah cara yang ramah dengan lingkungan tanpa
penggunaan bahan kimia sehingga hal ini telah menjadi salah satu pilihan
yang popular untuk menjaga lingkungan hidup pada masa sekarang.
Bagaimanapun, teknologi Bioremidiasi ini membutuhkan pengetahuan
tentang teknik dan mikrobiologi bersama-sama. Oleh sebab itu, pemakai
atau konsumen harus mempunyai pengetahuan tentang mikroba dan
Bioteknologi yang persisnya. Pada akhirnya, teknologi penggunaan
mikroba untuk mendegradasi kontaminan lingkungan ini perluh
mendapat pengembangan lagi untuk menambah kemampuan dan
mempan teknologi ini untuk membuat kualitas hidup manusia yang bagus
dan menjaga lingkungan hidup waktu panjang.

26

DAFTAR PUSTAKA
Usuma Rithisack, 2004. Biotechnology Project. Department of Biotechnology,
Thailand: Faculty of Science, University Songkhlanakharin. 2:165-173.
Darok Daly, 2002. Guideline Practice Microbiology. Thailand: Faculty of Science
and Technology Rachaphat Jala. 4: 263-270.

27

Saovani thamsathiti, 2004. Boiteknology of Bacterial Cells and Cells Production.


Nakhornpathom : Institute of Awien Public health, University Mahidol.
8: 45-48.
Andika Abdika . Dalam https://www.academia.edu/5140365/Bioremediasi.

Diakses[20-September-2014].
Cornell Waste Management Institute. Dalam http://compost.css.cornell.
edu/odors/odortreat.html. Diakses[22-September- 2014].
Bulletin 792. Dalam http://ohioline.osu.edu/b792/b792_1.html. Diakses
[22-September- 2014].
Dominic McBride. Dalam http://www.nmenv.state.nm.us/ust/cl-biov.html.
[22-September- 2014].
National Science Foundation under Grant No. CBET-0846437. Dalam
http://gunsch.pratt.duke.edu/hgt. Diakses [22-September- 2014].
Nordic Envicon Oy Huopalahdentie 24 00350 Helsinki. Dalam
http://www.nordicenvicon.fi/en/link1_insitu_en.html. Diakses
[22-September- 2014].

28