Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan
berukuran sangat kecil (mikroskopik). Bakteri merupakan kelompok organisme yang memiliki
peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen
penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat
dibidang pangan, pengobatan, dan industri.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis
dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia.
Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 m, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter
hingga 700 m, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel
tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa
jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas lagi
tentang bakteri dan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah Dasar-dasar
Bioproses..

1.3 Masalah
- Apa itu bakteri
- Ciri-ciri bakteri
- Struktur sel pada bakteri
- Morfologi bakteri
- Metabolism pada bakteri
- Serta peranan bakteri terhadap lingkungan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan
berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebaga`ei agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan
kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri.
Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel
lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel
prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan
organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada
umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 m, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga
700 m, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan
jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri
bersifat motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.

2.2 Sejarah

Model mikroskop awal yang dirancang oleh Robert Hooke; dimuat dalam Micrographia.
Bakteri merupakan organisme mikroskopik. Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit
untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 ilmu
tentang mikroorganisme, terutama bakteri (bakteriologi), mulai berkembang. Seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai hal tentang bakteri telah berhasil ditelusuri. Akan
tetapi, perkembangan tersebut tidak terlepas dari peranan berbagai tokoh penting seperti Robert
Hooke, Antoni van Leeuwenhoek, Ferdinand Cohn, dan Robert Koch. Istilah bacterium
diperkenalkan di kemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani
(bakterion) yang memiliki arti "batang-batang kecil". Pengetahuan tentang bakteri
berkembang setelah serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Louis Pasteur, yang melahirkan

cabang ilmu mikrobiologi. Bakteriologi adalah cabang mikrobiologi yang mempelajari biologi
bakteri.
Robert Hooke (1635-1703), seorang ahli matematika dan sejarahwan berkebangsaan
Inggris, menulis sebuah buku yang berjudul Micrographia pada tahun 1665 yang berisi hasil
pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop sederhana. Akan tetapi, Robert
Hooke masih belum dapat menumukan struktur bakteri. Dalam bukunya tersebut, tergambar hasil
penemuannya mengenai tubuh buah kapang. Walau demikian, buku inilah yang menjadi sumber
deskripsi awal dari mikroorganisme.
Antoni van Leeuwenhoek (16321723) hidup di era yang sama dengan Robert Hooke di
mana pengamatan dengan mikroskop masih sangat sederhana. Terinspirasi dari kerja Robert
Hooke, ia membuat mikroskop rancangannya sendiri dengan sangat baik untuk mengamati
makhluk mikroskopik ini pada berbagai media alami pada tahun 1684. Antoni van Leeuwenhoek
berhasil menemukan bakteri untuk pertama kalinya di dunia pada tahun 1676. Hasil temuannya
dikirimkan ke Royal Society of London yang kemudian dipublikasikan pada tahun 1684.
Penemuan ini segera mendapat banyak konfirmasi dari ilmuwan lainnya. Sejak saat itulah, tidak
hanya ilmu tentang bakteri tetapi juga mikroorganisme pada umumnya pun mulai berkembang.
Ferdinand Cohn (1828-1898) merupakan seorang botanis berkebangsaan Breslau
(sekarang Polandia). Hasil penemuannya banyak berkisar tentang bakteri yang resisten terhadap
panas. Ketertarikannya pada kelompok bakteri ini mengarahkannya pada penemuan kelompok
bakteri penghasil endospora yang resisten terhadap suhu tinggi. Ferdinand Cohn juga berhasil
menjelaskan siklus hidup bakteri Bacillus yang sekaligus menjelaskan mengapa bakteri ini
bersifat tahan panas. Selanjutnya, ia juga membuat dasar klasifikasi bakteri sederhana dan
mengembangkan beberapa metode untuk mencegah kontaminasi pada kultur bakteri, seperti
penggunaan kapas sebagai penutup pada labu takar, erlenmeyer, dan tabung reaksi. Metode ini
kemudian digunakan oleh ilmuwan lain, Robert Koch.
Robert Koch (1843-1910), seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman, banyak melakukan
penelitian mengenai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Ilmuwan pada awalnya
mempelajari penyakit antraks yang banyak menyerang hewan ternak. Penyakit ini disebabkan
oleh Bacillus anthracis, salah satu bakteri penghasil endospora. Robert Koch juga merupakan
orang pertama yang berhasil mendapatkan isolat murni Mycobacterium tuberculosis, bakteri
penyebab penyakit tuberkulosis. Berdasarkan dua penelitian mengenai penyakit ini, Robert Koch
berhasil membuat Postulat Koch, sebuah teori mengenai mikroorganisme spesifik untuk penyakit
yang spesfik. Beliau juga berhasil menemukan metode untuk mendapatkan isolat murni dari
bakteri. Penemuan lainnya adalah penggunaan media kultur padat untuk menumbuhkan bakteri
di luat habitat aslinya. Pada awalnya ia menggunakan potongan kentang dan kemudian
dikembangkan dengan menggunakan nutrien gelatin. Penggunaan nutrien gelatin masih memiliki
banyak kekurangan yang pada akhirnya penggunaanya digantikan dengan agar (sejenis
polisakarida) yang digagas oleh istri Walter Hesse yang juga bekerja bersama Robert Koch.

2.3 Ciri-ciri umum bakteri

Tubuh uniseluler (bersel satu)


Tidak berklorofil (meskipun begitu ada beberapa jenis bakteri yang memiliki pigmen
seperti klorofil sehingga mampu berfotosintesis dan hidupnya autotrof.
Reproduksi dengan cara membelah diri (dengan pembelahan Amitosis)
Habitat bakteri hidup dimana-mana (tanah, air, udara, makhluk hidup)
Satuan ukuran bakteri adalah micron (10-3)

Gbr. arsitektur suatu sel bakteri yang khas

2.4 Struktur Sel

Seperti prokariot (organisme yang tidak memiliki membran inti) pada umumnya, semua
bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Sehubungan dengan ketiadaan membran inti,
meteri genetik (DNA dan RNA) bakteri melayang-layang di daerah sitoplasma yang bernama
nukleoid. Salah satu struktur bakteri yang penting adalah dinding sel. Bakteri dapat
diklasifikasikan dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur dinding selnya, yaitu bakteri
gram negatif dan bakteri gram positif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tersusun
dari lapisan peptidoglikan (sejenis molekul polisakarida) yang tebal dan asam teikoat, sedangkan
bakteri gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan mempunyai struktur
lipopolisakarida yang tebal. Metode yang digunakan untuk membedakan kedua jenis kelompok
bakteri ini dikembangkan oleh ilmuwan Denmark, Hans Christian Gram pada tahun 1884.
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagel dan fimbria yang
digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul yang
beperan dalam melindungi sel bakteri dari kekeringan dan fagositosis. Struktur kapsul inilah
yang sering kali menjadi faktor virulensi penyebab penyakit, seperti yang ditemukan pada
Escherichia coli dan Streptococcus pneumoniae. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom, dan
beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas, dan magnetosom. Beberapa
bakteri mampu membentuk diri menjadi endospora yang membuat mereka mampu bertahan
hidup pada lingkungan ekstrim. Clostridium botulinum merupakan salah satu contoh bakteri
penghasil endospora yang sangat tahan suhu dan tekanan tinggi, dimana bakteri ini juga
termasuk golongan bakteri pengebab keracunan pada makanan kaleng.

2.5 Morfologi Bakteri


Berbagai bentuk tubuh bakteri
Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai
beberapa variasi sebagai berikut:
o Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
5

o Diplococcus, jka berganda dua-dua


o Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar
o Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
o Staphylococcus, jika bergerombol
o Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan
mempunyai variasi sebagai berikut:
o Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
o Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai
berikut:
o Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk
koma)
o Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
o Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan usia.
Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap merupakan sel tunggal yang dapat hidup
mandiri bahkan saat terpisah dari koloninya.
Alat gerak bakteri

Gambar alat gerak bakteri: A-Monotrik; B-Lofotrik; C-Amfitrik; D-Peritrik;

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Bakteri yang tidak memiliki alat
gerak biasanya hanya mengikuti pergerakan media pertumbuhannya atau lingkungan tempat
bakteri tersebut berada. Sama seperti struktur kapsul, flagel juga dapat menjadi agen penyebab
penyakit pada beberapa spesies bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki,
bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

Atrik, tidak mempunyai flagel.

Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.

Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.

Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.

Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya

2.6 Habitat bakteri


Bakteri merupakan mikroorganisme ubikuotus, yang berarti melimpah dan banyak
ditemukan di hampir semua tempat. Habitatnya sangat beragam; lingkungan perairan, tanah,
udara, permukaan daun, dan bahkan dapat ditemukan di dalam organisme hidup. Diperkirakan
total jumlah sel mikroorganisme yang mendiami muka bumi ini adalah 5x10 30. Bakteri dapat
ditemukan di dalam tubuh manusia, terutama di dalam saluran pencernaan yang jumlah selnya 10
kali lipat lebih banyak dari jumlah total sel tubuh manusia. Oleh karena itu, kolonisasi bakteri
sangatlah mempengaruhi kondisi tubuh manusia.

Thermus aquatiqus, bakteri termofilik yang banyak diaplikasikan dalam bioteknologi.


Terdapat beragam jenis bakteri yang mampu menghabitasi daerah saluran pencernaan
manusia, terutama pada usus besar, diantaranya adalah bakteri asam laktat dan kelompok
enterobacter . Contoh bakteri yang biasa ditemukan adalah Lactobacillus acidophilus.Di samping
itu, terdapat pula kelompok bakteri lain, yaitu probiotik, yang bersifat menguntungkan karena
dapat menunjang kesehatan dan bahkan mampu mencegah terbentuknya kanker usus besar.
Selain di dalam saluran pencernaan, bakteri juga dapat ditemukan di permukaan kulit, mata,
mulut, dan kaki manusia. Di dalam mulut dan kaki manusia terdapat kelompok bakteri yang
dikenal dengan nama metilotrof, yaitu kelompok bakteri yang mampu menggunakan senyawa
8

karbon tunggal untuk menyokong pertumbuhannya. Di dalam rongga mulut, bakteri ini
menggunakan senyawa dimetil sulfida yang berperan dalam menyebabkan bau pada mulut
manusia.
Beberapa kelompok mikroorganisme ini mampu hidup di lingkungan yang tidak
memungkinkan organisme lain untuk hidup. Kondisi lingkungan yang ekstrim ini menuntut
adanya toleransi, mekanisme metabolisme, dan daya tahan sel yang unik. Sebagai contoh,
Thermus aquatiqus merupakan salah satu jenis bakteri yang hidup pada sumber air panas dengan
kisaran suhu 60-80 oC. Tidak hanya di lingkungan bersuhu tinggi, bakteri juga dapat ditemukan
pada lingkungan dengan suhu yang sangat dingin. Pseudomonas extremaustralis ditemukan pada
Antartika dengan suhu di bawah 0 oC. Di samping pengaruh ekstrim temperatur, bakteri juga
dapat hidup pada berbagai lingkungan lain yang hampir tidak memungkinkan adanya kehidupan
(lingkungan steril). Halobacterium salinarum dan Halococcus sp. adalah contoh dari bakteri yang
dapat hidup pada kondisi garam (NaCl) yang sangat tinggi (15-30%).Tedapat pula beberapa jenis
bakteri yang mampu hidup pada kadar gula tinggi (kelompok osmofil), kadar air rendah
(kelompok xerofil), derajat keasaman pH sangat tinggi, dan rendah.
2.7 Nutrisi bakteri
Dengan dasar cara memperoleh makanan, bakteri dapat dibedakan menjadi dua:

Bakteri heterotrof: bakteri yang tidak dapat mensintesis makanannya sendiri.


Kebutuhan makanan tergantung dari mahluk lain. Bakteri saprofit dan bakteri parasit
tergolong bakteri heterotrof.
Bakteri autotrofl bakteri yagn dapat mensistesis makannya sendiri. Dibedakan
menjadi dua yaitu (1) bakteri foto autotrof dan (2) bakteri kemoautotrof.

KEBUTUHAN AKAN OKSIGEN BEBAS


Dengan dasar kebutuhan akan oksigen bebas untuk kegiatan respirasi, bakteri dibagi menjadi 2:
- Bakteri aerob: memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya
- Bakteri anaerob : tidak memerlukan O2 bebas untu kegiatan
respirasinya.

PERTUMBUHAN BAKTERI
Pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor :
1. Temperatur, umumnya bakteri tumbuh baik pada suhu antara 25 - 35 derajat C.
2. Kelmbaban, lingkungan lembab dan tingginya kadar air sangat menguntungkan untuk
pertumbuhan bakteri
3. Sinar Matahari, sinar ultraviolet yang terkandung dalam sinar matahari dapat mematikan
bakteri.
4. Zat kimia, antibiotik, logam berat dan senyawa-senyawa kimia tertentu dapat
menghambat bahkan mematikan bakteri.
9

2.8 Reproduksi bakteri


Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif =
tak kawin) dengan membelah diri.

Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi
dua.

Pembelahan ini juga sering disebut pembelahan Amitosis .

Apa maksudnya ? Pembelahan yang tidak melalui fase fase seperti mitosis ( A) jadi sel
membelah langsung menjadi dua , Tidak ada Profase , Metafase , Anafase maupun
Telofase OK

Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri
lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1

Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel
bakteri ke sel bakteri yang lainnya.

Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya
dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri)

Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui
kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang
berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

Dalam pemahaman ini kalau kita Format otak kita Bakteri membelah secara sexual menjadi
dua yaitu
1

Kawin jarak dekat ( berarti ke dua bakteri berdekatan bertukar materi genetik/Konjugasi)

Kawin jarak jauh ( berarti perlu perantara : Transduksi dan Transformasi

10

DETAIL

Bakteri memiliki kekurangan unsur-unsur yang mengacu pada stuktur komplek yang
terlibat dalam pemisahan kromsom-kromosom eukariota menjadi nukleid anak yang
berbeda.

Replikasi dari DNA bakteri dimulai pada satu titik dan bergerak ke semua arah.

Dalam prosesnya, dua pita lama DNA terpisah dan digunakan sebagai model untuk
mensistensiskan pita-pita baru (replikasi semikonservatif).

Strukur dimana dua pita terpisah dan sintesis baru terjadi disebut sebagai percabangan
replikasi.

Replikasi kromosom bakteri sangat terkontrol, dan kromosom tiap sel yang tumbuh
berkisar antara satu dan empat.

Beberapa plasmida bakteri bias memiliki sampai 30 tiruan dalam satu sel bakteri

Dan mutasi yang menyebabkan control bebas dari relikasi plasmida bahkan bias
menghasilkan tirun yang lebih banyak.

Replikasi pita DNA ganda sirkular dimuli pada locus ori dan membuuhkan interaksi
dengan beberapa protein.

Dalam E coli, replikasi kromosom berakhir pada suatu tempat yang disebut ter.

Dua kromosom anak terpisah, atau terpecah sebelum pembagian sel, sehingga tiap-tiap
keturunan memiliki satu DNA anak.
11

Hal ini dapat disempurnakan dengan bantuan topoisomerase atau melakukan


pengkombinasian.

Proses serupa yang mengacu pada replikasi DNA plasmida, kecuali pada beberpa kasus,
replikasinya adalah tidak terarah.

Rekombinasi Gen pada Bakteri

Rekombinasi gen ialah pembentukan suatu genotip baru melalui pemilihan kembali gengen setelah terjadinya pertukaran bahan genetis antara dua kromosom yang berbeda
mempunyai gen-gen serupa pada situssitus yang bersangkutan

Rekombinasi bisa dibentuk dengan secara generatif yang dikenal dengan istilah
( Parasexual) meliputi 3 cara yaitu

Konjugasi

Transformasi

Transduksi

Konjugasi

Konjugasi ialah pemindahan gen antara sel-sel yang kontak satu dengan yang lain secara
fisik.

Konjugasi bakteri pertama kali dipertunjukkan o!eh Lederbeng dan Tatuni pada tahun
1946.

Mereka menggabungkan dua galur mutan Eschericihia Coli yang berbeda yang tidak
mampu mensintesis satuatau lebih faktor tumbuh esensiil dan memberinya kesempatan
untuk kawin.

Kemudian mereka mencawankan biakan campuran tersebut pada medium minimal yang
hanya menunjang pertumbuhan galur-galur tipe liar.

Ketika mereka menemukan koloni-kotoni tipe liar, mereka tahu bahwa mestinya kolonikoloni tersebut merupakan hasil rekombinasi genetik melalui kunjugasi antara galur-galur
mutan.

Konjugasi pada bakteri dapat dipahami dengan lebih jelas ketika ditemukan bahwa ada
diferensiasi seksual pada E.coli, dengan perkataan lain, ada tipe-tipe perkawinan yang
berbeda-beda pada bakteri tersebut

12

Transformasi

Transformasi ialah proses pemindahan DNA bebas sel atau bugil yang mengandung
sejumlah terbatas informasi DNA dari satu sel ke sel yang lain.

DNA tersebut diperoleh dari sel donor melalui lisis sel alamiah atau dengan cara ekstraksi
kimiawi. Begitu DNA diambil oleh sel resipien, maka terjadilah rekombinasi.

Bakteri yang telah mewarisi penanda dan sel donor tersebut telah tetransformasi, bakteribakteri tertentu,

Bila ditumbuhkan dengan diberi sel- sel mati, filtrat biakan, atau ekstrak sesuatu galur
yang berkerabat dekat, maka akan memperoleh dan lalu memindah sebarkan ciri-ciri dari
galur yang sekerabat tersebut. OK

13

Transduksi

Di samping melalui konjugasi dan transformasi, mikroorganisme juga dapat melakukan


rekombinasi gen dengan cara transduksi.

Transduksi ialah proses pemindahan gen dari satu bakteri ke bakteri lain oleh
bakteriofaga.

Beberapa bakteriofaga tenang (yang mempunyai siklustemperate), yang biasanya tidak


melisis sel inang, membawa DNA yang dapat berperilaku sebagai episom di dalam
bakteri.

PENGAYAAN

Untuk mempertahankan hidupnya organisme berkembang-biak dengan cara kawin


ataupun dengan cara tidak kawin.

Kawin merupakan cara pembiakan utama pada organisme tingkat tinggi.

Pada organisme tingkat rendah, cara tidak kawin merupakan strategi utamanya.

Nampaknya, arah perubahan evolutif bergerak dari strategi tidak kawin menjadi strategi
kawin [mengapa?].

Baik cara kawin atau tidak kawin, prinsipnya adalah menghasilkan turunan berikutnya
yang sama atau sedikit sama.

14

Jadi, setiap organisme yang berbiak harus memiliki sifat dan kemampuan meng-kopy
dirinya sendiri menjadi copy lainnya yang serupa.

Sel adalah unit dasar hidup.

Semua organisme hidup tersusun dari unit sel tunggal atau sel banyak.

Untuk mempertahankan hidupnya, sel memperbanyak dirinya dari satu generasi ke


generasi lain dengan cara meng-copy dirinya dari satu menjadi dua, dari dua menjadi
empat, dan seterusnya.

Bukan saja soal jumlah sel yang berlipat-ganda, volume sel pun meningkat linier searah
dengan peningkatan jumlah sel.

Karena komposisi dan jumlah zat-zat penyusun sel tunggal dari satu generasi ke generasi
selanjutnya relatif tetap, maka terjadi peningkatan biomasa secara linier sesuai dengan
jumlah sel.

Artinya bahwa seiring dengan peningkatan jumlah sel, berlangsung biosintesis senyawasenyawa penyusun tubuh sel terutama

karbohidrat

protein

asam-asam nukleat dan

lemak.

Mereka adalah bahan baku penyusun tubuh sel seperti dinding sel, membrane, cairan sel,
dan organela; atau menjadi mesin-mesin fungsional bekerjanya aspek-aspek fisiologis sel
seperti enzim, penghantaran dan alih-ragam signal (signal transduction), sistem
kekebalan tubuh, atau cadangan energi kimia.

Keempat golongan senyawa penyusun utama tubuh sel diatas itu disintesis dari senyawasenyawa antara seperti

asam amino

nukleotida

gula

asam lemak maupun gliserol

15

Senyawa-senyawa antara ini disintesis dari unsur-unsur yang jauh lebih sederhana lagi
seperti glukosa, amonia, dan garam-garam anorganik.

Dalam hal ini, glukosa disintesis langsung oleh organisme berklorofil, melalui proses
fotokimia dan biokimia fiksasi CO2 dan konversi energi radiasi matahari ke dalam ikatanikatan kimia karbon glukosa.

Organisme yang tidak berklorofil bergantung penyediaan energi dan senyawa karbon dari
organisme berklorofil.

Pertanyaannya ialah, apa kiranya yang menyebabkan sel dan organisme mampu
memperbanyak dirinya sendiri dan mewariskan semua informasi genetis yang terkandung
kepada sel turunannya?

Teori kromosom tentang pewarisan informasi menerangkan bahwa selama proses mitosis
satu sel membela menjadi dua sel. Namun sebelum pembelahan sel berlangsung, jumlah
kromosomnya berlipat-ganda.

Pada sel manusia dari 46 menjadi 92 sebelum kemudian dipilah menjadi masing-masing
46 untuk sel-sel turunannya.

Dalam pembelahan meiosis, satu sel diploid menggandakan bahan genetiknya sekali
namun diikuti oleh pembelahan sel dua kali.

Sehingga, satu sel diploid menghasilkan empat sel haploid. Setiap sel memiliki jumlah
kromosom separuh dari jumlah kromosom sel induknya.

Dengan membandingkan jumlah DNA pada sel-sel diploid dan sel-sel haploid diperoleh
data bahwa jumlah DNA pada sel-sel diploid memiliki jumlah DNA dua kali-lipat.

Seandainya satu sel diploid memiliki 9 pg (pico gram; 10-12 g) DNA maka sel haploid
memiliki 4.5 pg DNA.

Dalam hal ini, jumlah kelipatan DNA selaras dengan jumlah kelipatan kromosom.

Dengan demikian, setiap sekali pembelahan sel mitosis jumlah DNA-nya pun bertambah
dua dua kali.

Visualisasi replikasi DNA berselaras dengan replikasi kromosom selama proses


pembelahan sel mitosis didemonstrasikan oleh Herber Taylor (1958).

Ia memberi makan tanaman keluarga lili dengan thimin radioaktif, setelah sel-selnya
membelah.

Tanaman-tanaman tersebut kemudian dipindahkan ke dalam media tanpa radioisotop.


16

Preparat kromosom yang berasal baik sebelum, selama dan setelah perlakuan isotop
disiapkan dipermukaan slide kaca, dan disingkap kepermukaan film fotograf.

Hasilnya bahwa sebelum kromosom itu diperlakukan dengan isotop thimin,


kromosomnya tidak menghasilkan "pengenal" dalam kromosom berupa warna "hitam
hangus" di permukaan film.

Kromosom yang langsung dipersiapkan dari perlakuan thimin menghasilkan "pengenal"


pada kedua pasang kromosom dipermukaan film.

Menariknya, kromosom yang dipersiapkan dari tanaman yang telah dipindahkan ke


media tanpa thimin isotop yang sebelumnya diperlakukan dengan radioisotop, terdapat
kromosom yang satu dari pasangannya tidak ditemui pengenal (kecuali di daerah pindahsilang).

Eksperimen ini membuktikan bahwa Sintesis DNA berselaras dengan replikasi DNA dan
bersifat linear terhadap struktur kromosom, dan terjadi sekali untuk setiap kali
pembelahan sel.

Sifat memperbanyak diri secara vegetatif demikian tidak hanya dimiliki oleh bahan
genetik dalam kromosom. DNA sirkuler yang disebut plasmid atau DNA batangan pada
virus berkemampuan memperbanyak diri dengan cara mengkopi molekul DNA tunggal
menjadi sepasang ikatan DNA ganda.

Proses mengkopi diri sendiri dari polimer DNA menjadi jiplakan-jiplakan DNA identik
disebut replikasi DNA.

REPLIKASI DNA

Selang beberapa saat setelah publikasi Crick dan Watson mengenai struktur rantai ganda
DNA, mereka kemudian mengemukakan implikasi struktur rantai ganda ini kepada
mekanisme cetak-kopi informasi.

Baik penelitian E. Chargaff dan Herbert Taylor membuktikan bahwa DNA bereplikasi
semikoservatif.

Artinya bahwa dalam sintesis DNA, dengan bahan awal DNA yang mampu
memperbanyak diri, replicon, seperti plasmids dan kromosom, setiap rantai tunggal DNA
berfungsi sebagai cetakan bagi sintesis rantai DNA baru pasangannya.

Pertanyaannya ialah, bagaimana mekanisme biosintesis DNA sesungguhnya terjadi di


dalam sel? Arthur Kornberg menjawab pertanyaan ini dengan mendekatinya melalui
pendekatan ensimatik.

Ia berpendapat: "replikasi rantai nukleotida pasti dikatalisis oleh suatu enzim".


17

Atas dasar pandangan tersebut, ia berusaha mengisolasi enzim yang bertanggungjawab


pada biosintesis DNA dan mempelajari mekanisme aksi ensimnya.

Ia membuat ekstrak protein dari bakteri E. coli dan menambahkannya ke dalam suatu
campuran reaksi dengan sejumlah komponen berikut: deoksinukleosida trifosfat dimana
atom P dan C-nya menggunakan 32P atau 14C dan deoksinukleosidanya mengandung
keempat basa nitrogen A, T, G, C; Mg++, serta DNA sebagai cetakan.

Dengan campuran ini dalam tabung reaksi, diharapkan akan terbentuk polinukleotida
dengan berat molekul yang lebih tinggi.

Usahanya berhasil, dan bukti-bukti menunjukkan bahwa bahwa polimerisasi dimaksud


menunjuk kepada biosintesis DNA. Ia mendemonstrasikan bahwa polimerisasi DNA
hanya dapat berhasil jika keempat deoksinukleosida trifosfat dan cetakan ada dalam
komponen reaksi.

Selanjutnya, dengan adanya alat uji (bioassay) aktifitas enzim yang mensintesis DNA,
memungkinkan diisolasinya enzim yang bertanggung-jawab pada reaksi tersebut.

Kornberg menamai enzim tersebut DNA polimerase.

Reaksi kimia yang dipercepat oleh DNA polimerase adalah mensintesis polinukleotida
sambil melepaskan satu molekul pirofosfat (P-P) untuk setiap penambahan satu
nukleosida trifosfat ke dalam rantai baru.

Bukti yang paling kuat mendukung bahwa reaksi in vitro dipercepat oleh DNA
polimerase bukan sekedar polimerisasi acak nukleotida, tetapi terlibat dalam replikasi
DNA, adalah bahwa DNA cetakan yang ditambahkan ke dalam campuran reaksi tidak
hanya diperlukan agar polimerisasi berlangsung, tetapi juga sebenarnya menentukan ciri
dari polinukleotida yang di bentuk.

Melalui analisis komposisi basa nukleotida yang terbentuk setelah reaksi enzimatis dari
berbagai macam DNA cetakan, Arthur Kornberg berhasil menunjukan bahwa DNA yang
disintesis mengikuti ciri komposisi basa cetakan DNA-nya.

Penelitian lanjut membuktikan bahwa DNA cetakan mengarahkan tidak hanya komposisi
keseluruhan basa yang terbentuk, tetapi frekuensi relatif dari basa-basa yang terbentuk.

Berdasarkan studi sintesis DNA secara in vitro, dapat dikatakan bahwa DNA bertindak
langsung sebagai cetakan dalam proses kopolimerisasi teratur replika-replika yang
terbentuk tanpa membutuhkan sintesis senyawa antara bukan DNA.

Dalam perkembangan studi biokimia, kemudian dapat dirancang bangunan yang lebih
detil replikasi DNA, serta berbagai enzim yang terlibat.

18

Mekanisme pembelahan sel

Pertanyaan lanjut ialah, bagaimana sesungguhnya sel menggandakan DNA nya sendiri
dan kemudian mendistribusikannya secara meraka kepada sel turunannya secara sama?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sel berhadapan dengan persoalan koordinasi antar
bagian dan proses, yaitu bahwa karena replikasi DNA hanya berlangsung sekali untuk
setiap sekali pembelahan sel, replikasi DNA harus terpadu dengan pembelahan sel.

Replikasi DNA harus mendahului pembelahan sel agar sebelum pembelahan sel
berlangsung, telah tersedia bahan genetik untuk diagihkan kepada masing-masing sel
turunan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka replikasi DNA merupakan bagian


keseluruhan dari pembelahan sel, dan merupakan proses awal bagi sel berkomitmen
meneruskan proses pembelahan sel.

Sekali pembelahan sel diawali ia tidak bisa kembali lagi ketahap semula, dan harus
menyelesaikan proses sintesis DNA sebelum pembelahan sel berlangsung.

Pembelahan sel tidak boleh terjadi jika replikasi DNA belum selesai.

Di dalam kenyataannya, selesainya proses replikasi merupakan pemicu bagi terjadinya


pembelahan sel.

Jika aturan ini dilanggar, maka transmisi informasi akan mengalami kegalauan.

Pada prokarion, replikasi DNA berawal di suatu tempat yang amung yang disebut daerah
pengawalan (origin).

2.9 Metabolisme bakteri


Sebagian besar bakteri kehilangan kemampuan untuk mensintesis protoplasma dari
senyawa senyawa anorganik sehingga bergantung sepenuhnya pada senyawa organik
sehingga sebagai makanannya. Organisme yang demikian disebut dengan heterotrof yang
artinya nourish by other, atau makanan disediakan oleh organisme lain, dan tipe nutrisinya
di sebut heterotrofik. Akan tetapi perlu diingat bahwa batasan ini sebenarnya tidak begitu
tegas. Dan ada beberapa mikroorganisma heterotrof membutuhkan senyawa organik lebih
banyak di bandingkan dengan organisme lain.
Berdasarkan sumber korban dan energinya, mikroorganisme dikelompokkan sebagai
berikut
Kelompok
Chemoheterotrof

Sumber Energi
Oksidasi senyawa organik
19

Sumber C
Senyawa organic

Chemoautotrof
Fotoheterotrof
Fotoautotrof

Oksidasi senyawa anorganik


Sinar matahari
Sinar matahari

CO2
Senyawa organic
CO2

Pola metabolisme
Seperti yang telah didiskusikan bahwa keperluan energi untuk proses biosintesis dipenuhi
dari reaksi oksidasi. Oleh karena elektron tidak dapat berada dalam bentuk bebas maka setiap
reaksi reduksi Bakteri Heterotrof secara garis besarnya dapat dikeleompokkan berdasarkan end
product atau hasil akhir dari metabolisme. Pada dasarnya end product ini menunjukkan atau
berperan sebagai aseptor elektron terakhir dalam jaluar metabolisme.
Apa saja yang dapat berperan sebagai aseeptor elektron terakhir ? jawabnya adalah
bervariasi tegantung pada enzim dari organisma tersesbut. Dalam hal ini bisa oksigen bebas, atau
berbagai senyawa organik maupun anorganik. Bakteri yang Harus menggunakan oksigen
sebagian reseptorr terakhir disebut sebagai obligat aerob. Bakteri yang hanya hidup dalam
kondisi bebas udara (oksigen) disebut Obligat anaerob. Sedangkan bakteri yang dapat hidup
dengan atau tanpa oksigen dalam arti dapat menggunakan oksigen atau senyawa anorganik
sebagai aseptor elektromn terakhir disebut dengan fakultatif. Dan mikroorganisma yang
tumbuhan dengan baik pada akondisi kandungan oksigen sedikit disebut mikroaetrifilik.
Kita dapat jga mengelompokkan ja;lur metabolisme sebagai perrementatatif atau
respirasi. Meskipun kedua kelompok tersebut hanya berbeda dalam hal reseptor elektron terakhir
yang digunakan, adalah pentimg untuk dapat dibedakan keduanya. Respirasi terjadi pada saat
elektron yang dibebbaskan akan reaksi oksidasi distransfer melalui serangkaian transfor elektron
yang menyebebakan keluarnya proton melalui membran sel dan energi dihadirkan memalui
fosforilasi oksidatif.
Fermentasi adalah proses yang berlangsung adalam keadaan anaaerob, dimana dalam
proses ini tidak melibatkan serangkaian transfer elektron yang dikatalisis oleh enzim yang
terdapat dalam membran sel. Dalam hal ini elektron dan proton distranfer langsung dari senyawa
yang oksidasi menuju senyawa organic intermediet yang lain yang akhirnya membentuk produk
fermentasi yang stabil. Oleh karena itu pada proses fermentasi terjadi akumulasi produk yang
organism tidak mampu mengoksidasi oleh lanjut.
FERMENTASI
Selama fermentasi produk intermediet yang terbentuk dari katabolisme senyawa organik
seperti glukosa berperan sebagai aseptor elektron terakhir menyebabkan terbentuknya senyawa
produk akhir fermentasi yang stabil. Sebagai contoh, pada umumnya mikroorganisme mengubah
gula menjadi asam piruvat. Dalam hal ini juga membentuk NHDA dan harus melepaskan
elektronnya kepada aseptor jika organisme melakukan metabolisme lebih lanjut. Hal ini dipenuhi
dengan cara menggunakan asam piruvat atau beberapa produk dari asam piruvat sebagai aseptor
elektron terakhir. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah : dengan tidak adanya transfer elektron
selama permentasi ikatan fosfat berenergi tinggi tidak terbentuk melalui fosfolirasi oksidatif
melainkan proses yang disebut dengan fosfolirasi subsrat. Dalam hal ini senyawa intermediate
diokasidasi, energi yang dilepaskan dikonversi langsung kedalam ikatan yang mengandung
energi tinggi. Senyawa yang mengandung senyawa tinggi tersebut selanjutnya dapat ditransfer ke
ADP untuk dibentuk menjadi ATP sebagai manan ditunjukkan dalam skema berikut.
Glukosa

20

Glujkosa 6P
Frukrosa 6P
Fruktosa 1,6 biP
Dihidropsi aseton PGliseraldehid 3P (2)
1,3 bifosfo gliserat (2)
3P gliserat (2)
PEP (2)
H20
Piruvat (2)
End produk
Keterangan:
Jalur Embden- Meyerhof untuk disimilasi glukosa. Perhatikan bahwa setiap molekul
fruktosa 1,6 biP dipecah menjadi senyawa 3C yang seimbang satu sama lain. Senyawa
gliseraldehid 3P dioksidasi, maka senyawa dihidroksi aseton P dikonversi menjadi gliseraldehid
3P. Dari skema tersebut juga dapat diketahui bahwa molekul ATP dibutuhkan untuk mengawali
reaksi, akan tetapi 4 molekul ATP terbentuk selama disimilasi 1 melekul glukosa menjadi 2
melekul piruvat. Di samping itu juga terbentuk 2 melekul NADH yang harus dioksidasi dengan
melepaskan elektron dan protonnya pada aseptor elektron terahkir.
Jalur-Jalur Fermentasi
Sebagai mana ditujukkan dalam skema di atas, selain menghasilkan asam piruvat sebagai
end produk juga dihasilkan 2 melekul NHDH yang harus dioksidasi. Tergantung pada tipe
mikroorganismenya asam piruvat (CH3COCOOH) di metabolisme lebih lanjut untuk
menghasilkan produk akhir fermentasi sebagaimana ditunjukkan dalam skema berikut:

Fermentasi Asam homolaktat


Dilakukan oleh beberapa bakteri Streptococcus dan lactobacillus
NADH NAD+
Asam piruvat asam laktat

Fermentasi Alkohol
Dilakukan oleh Yeast
CO2
NADH NAD+
Asam piruvat .. asetaldehid . Etil alcohol

Fermentasi Asam Campuran


Escherichia coli dan beberapa bacteri anterik lainnya
NADH NAD+
Asam piruvat Asam laktat
CO2
Oksaloacetat

Asetil Co. A + Asam Forman

21

2NADH
2NAD+
Asam suksimat Etil alkohol

2NADH
2NAD+
Asam Asetat H2 + CO2

Fermentasi butylen-glikol
Enterobacter, Pseudomonas, dan Bacillus
CO2
CO2
NADH NAD+
piruvatasam asetolaktatasetoin...2,3 butilen glikol

Fermentasi Asam propionat


Dilakukan oleh Propioniacterium dan Veillonela
CO2
asam piruvatasam asetat
oksalo asetat
2CO2
enzyme bond
2asam suksinat
propionil Co A
asam propionat
suksinil Co A
2methil malonil Co A

Energi yang bergabung dalam ikatan propiionil Co A disimpan oleh reaksi propionil Co A
dengan asam ukinat membentuk suksinil CoA dan asam propionat bebas. Selanjutnya CO2 yang
dibebaskan dari decarboksilasi metil malonil CoA tetap berikatan dengan enzim yang
mengandung biotin yang akan mentransfer CO2 kepada asam piruvat membentuk asam aksalo
asetat. Organisma ini juga dapat membentuk oksalo asetat dari reaksi PRP (Phosphoenol piruvat)
dengan CO2 bebas

Fermentasi Asam Butirat, butanol, dan aseton


Bakteri yang melakukan fermentasi tersebut adalah Clostridium
4CO2
asam piruvat..4 asetil CoA.asam asetat
aseton2 aseto asetil CoA etil alkohol
NADH
NAD+
2crotonil CoA
isopropil
alkohol
2butiril CoA
NADH
NAD+

22

Dari skema tersebut dapat diketahui bahwa berbagai macam senyawa yang dapat
berperan sebagai aseptor elektron terakhir. Jadi produk akhir dari fermentasi juga bervariasi.
Dalam hal fermentasi asam laktat atau alkohol, hanya satu macam. Pada fermentasi lain seperti
campuran asam atau asam butirat menggunakan bermacam aseptor elektron dan produk
fermentasi juga bervariasi. Tidak semua bakteri melakukan metabolisma gula melalui jalur
embden-meyerhof, tetapi ada beberapa alternatif penguraian glukosa menghasilkan tipr
fermentasi seperti yang telah didiskusikan.
Tabel berikut merupakan kesimpulan tipe-tipe fermentasi yang penting pada mikroba.
Tipe Fermentasi
Alkoholik
Laktat
Campuran asam

Organisme
Sacharomyces
Streptococcus Lactobacillus,
Bacillus
E. Coli dan bakteri enteric lain

Butilen glikol

Enterobakter, klebsiella

Asam propionat

Propionibacterium, Veillonela

Asam butirat, butanol

Clostridium

End Products
Ethanol, CO2
Asam laktat
Asa, laktat, asetat, suksinat,
ethanol, CO2 dan H2
Butilen glikol dan campuran
asam dalam jumlah sedikit
Asam propionate, asam asetat
dan CO2
Butanol, etanol dan asam
asetat

2.10 Pengaruh Lingkungan Terhadap Bakteri


Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi
bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi
bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya. Secara umum, terdapat beberapa alat yang dapat
digunakan untuk melakukan pengamatan sel bakteri terhadap berbagai parameter tersebut,
seperti mikroskop optikal, mikroskop elektron, dan atomic force microscope (AFM).

Suhu
Suhu berperan penting dalam mengatur jalannya reaksi metabolisme bagi semua makhluk
hidup. Khususnya bagi bakteri, suhu lingkungan yang berada lebih tinggi dari suhu yang dapat
ditoleransi akan menyebabkan denaturasi protein dan komponen sel esensial lainnya sehingga sel
akan mati. Demikian pula bila suhu lingkungannya berada di bawah batas toleransi, membran
sitoplasma tidak akan berwujud cair sehingga transportasi nutrisi akan terhambat dan proses
kehidupan sel akan terhenti. Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 4
golongan:

Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0 30 C, dengan
suhu optimum 15 C.

Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15 55 C, dengan suhu
optimum 25 40 C.
23

Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40 75 C,
dengan suhu optimum 50 - 65 C

Bakteri hipertermofil, yaitu bakteri yang hidup pada kisaran suhu 65 - 114 C, dengan
suhu optimum 88 C.

Kelembaban relatif
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembaban relatif (relative humidity, RH) yang
cukup tinggi, kira-kira 85%. Kelembaban relatif dapat didefinisikan sebagai kandungan air yang
terdapat di udara. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme
terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan. Sebagai contoh, bakteri Escherichia
coli akan mengalami penurunan daya tahan dan elastisitas dinding selnya saat RH lingkungan
kurang dari 84%. Bakteri gram positif cenderung hidup pada kelembaban udara yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bakteri gram negatif terkait dengan perubahan struktur membran selnya
yang mengandung lipid bilayer.

Deinococcus radiodurans, hasil pencitraan dengan 'transmission electron microgragh (TEM)

Cahaya
Cahaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Secara
umum, bakteri dan mikroorganisme lainnya dapat hidup dengan baik pada paparan cahaya
normal. Akan tetapi, paparan cahaya dengan intensitas sinar ultraviolet (UV) tinggi dapat
berakibat fatal bagi pertumbuhan bakteri. Teknik penggunaan sinar UV, sinar x, dan sinar gamma
untuk mensterilkan suatu lingkungan dari bakteri dan mikroorganisme lainnya dikenal dengan
teknik iradiasi yang mulai berkembang sejak awal abad ke-20.. Metode ini telah diaplikasikan
secara luas untuk berbagai keperluan, terutama pada sterilisasi makanan untuk meningkatkan
masa simpan dan daya tahan. Beberapa contoh bakteri patogen yang mampu dihambat ataupun
dihilangkan antara lain Escherichia coli 0157:H7 and Salmonella.

24

Radiasi
Radiasi pada kekuatan tertentu dapat menyebabkan kelainan dan bahkan dapat bersifat
letal bagi makhluk hidup, terutama bakteri. Sebagai contoh pada manusia, radiasi dapat
menyebabkan penyakit hati akut, katarak, hipertensi, dan bahkan kanker. Akan tetapi, terdapat
kelompok bakteri tertentu yang mampu bertahan dari paparan radiasi yang sangat tinggi, bahkan
ratusan kali lebih besar dari daya tahan manusia tehadap radiasi, yaitu kelompok
Deinococcaceae. Sebagai perbandingan, manusia pada umumnya tidak dapat bertahan pada
paparan radiasi lebih dari 10 Gray (Gy, 1 Gy = 100 rad), sedangkan bakteri yang termasuk dalam
kelompok ini dapat bertahan hingga 5.000 Gy.
Pada umumnya, paparan energi radiasi dapat menyebabkan mutasi gen dan putusnya
rantai DNA. Apabila terjadi pada intensitas yang tinggi, bakteri dapat mengalami kematian.
Deinococcus radiodurans memiliki kemampuan untuk bertahan terhadap mekanisme perusakan
materi genetik tersebut melalui sistem adaptasi dan adanya proses perbaikan rantai DNA yang
sangat efisien.
2.11 Peranan Bakteri

Bidang lingkungan
Keanekaragaman bakteri dan jalur metabolismenya menyebabkan bakteri memiliki
peranan yang besar bagi lingkungan. Sebagai contoh, bakteri saprofit menguraikan tumbuhan
atau hewan yang telah mati dan sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan
protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa
lain yang lebih sederhana. Contoh bakteri saprofit antara lain Proteus dan Clostridium. Tidak
hanya berperan sebagai pengurai senyawa organik, beberapa kelompok bakteri saprofit juga
merupakan patogen oportunis.

Frankia alni, salah satu bakteri pengikat N2 yang berasosiasi dengan tanaman membentuk bintil
akar.
Kelompok bakteri lainnya berperan dalam siklus nitrogen, seperti bakteri nitrifikasi.
Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu menyusun senyawa nitrat dari senyawa
amonia yang pada umumnya berlangsung secara aerob di dalam tanah. Kelompok bakteri ini
bersifat kemolitotrof. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu nitritasi (oksidasi amonia (NH 4)
menjadi nitrit (NO2-)) dan nitratasi (oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat (NO 3)). Dalam bidang
25

pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh
tanaman yaitu nitrat. Setelah reaksi nitrifikasi selesai, akan terjadi proses dinitrifikasi yang
dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Denitrifikasi sendiri merupakan reduksi anaerobik senyawa
nitrat menjadi nitrogen bebas (N2) yang lebih mudah diserap dan dimetabolisme oleh berbagai
makhluk hidup. Contoh bakteri yang mampu melakukan metabolisme ini adalah Pseudomonas
stutzeri, Pseudomonas aeruginosa, and Paracoccus denitrificans. Di samping itu, reaksi ini juga
menghasilkan nitrogen dalam bentuk lain, seperti dinitrogen oksida (N 2O). Senyawa tersebut
tidak hanya dapat berperan penting bagi hidup berbagai organisme, tetapi juga dapat berperan
dalam fenomena hujan asam dan rusaknya ozon. Senyawa N2O akan dioksidasi menjadi senyawa
NO dan selanjutnya bereaksi dengan ozon (O3) membentuk NO2- yang akan kembali ke bumi
dalam bentuk hujan asam (HNO2).
Di bidang pertanian dikenal adanya suatu kelompok bakteri yang mampu bersimbiosis
dengan akar tanaman atau hidup bebas di tanah untuk membantu penyuburan tanah. Kelompok
bakteri ini dikenal dengan istilah bakteri pengikat nitrogen atau singkatnya bakteri nitrogen.
Bakteri nitrogen adalah kelompok bakteri yang mampu mengikat nitrogen (terutaman N2) bebas
di udara dan mereduksinya menjadi senyawa amonia (NH 4) dan ion nitrat (NO3-) oleh bantuan
enzim nitrogenase.[47][48] Kelompok bakteri ini biasanya bersimbiosis dengan tanaman kacangkacangan dan polong untuk membentuk suatu simbiosis mutualisme berupa nodul atau bintil
akar untuk mengikat nitrogen bebas di udara yang pada umumnya tidak dapat digunakan secara
langsung oleh kebanyakan organisme. Secara umum, kelompok bakteri ini dikenal dengan istilah
rhizobia, termasuk di dalamnya genus bakteri Rhizobium, Bradyrhizobium, Mesorhizobium,
Photorhizobium, dan Sinorhizobium. Contoh bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan
tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup di akar membentuk
nodul atau bintil-bintil akar.

Bidang pangan
Terdapat beberapa kelompok bakteri yang mampu melakukan proses fermentasi dan hal
ini telah banyak diterapkan pada pengolahan berbagi jenis makanan. Bahan pangan yang telah
difermentasi pada umumnya akan memiliki masa simpan yang lebih lama, juga dapat
meningkatkan atau bahkan memberikan cita rasa baru dan unik pada makanan tersebut.]
Beberapa makanan hasil fermentasi dan mikroorganisme yang berperan:
No Nama
produk
.
makanan

atau

Bahan baku Bakteri yang berperan

1.

Yoghurt

susu

Lactobacillus
thermophilus

2.

Mentega

susu

Streptococcus lactis

3.

Terasi

ikan

Lactobacillus sp.

4.

Asinan buah-buahan

buahbuahan

Lactobacillus sp.

26

bulgaricus

dan

Streptococcus

5.

Sosis

daging

Pediococcus cerevisiae

6.

Kefir

susu

Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus lactis

Beberapa spesies bakteri pengurai dan patogen dapat tumbuh di dalam makanan.
Kelompok bakteri ini mampu memetabolisme berbagai komponen di dalam makanan dan
kemudian menghasilkan metabolit sampingan yang bersifat racun. Clostridium botulinum,
menghasilkan racun botulinin, seringkali terdapat pada makanan kalengan dan kini senyawa
tersebut dipakai sebagai bahan dasar botox. Beberapa contoh bakteri perusak makanan:

Burkholderia gladioli (sin. Pseudomonas cocovenenans), menghasilkan asam bongkrek,


terdapat pada tempe bongkrek

Leuconostoc mesenteroides, penyebab pelendiran makanan, penurunan pH, dan


pembentukkan gas.

Bidang kesehatan
Tidak hanya di bidang lingkungan dan pangan, bakteri Clostridium tetani yang
menyebabkan penyakit tetanus. Bakteri patogen juga dapat me juga dapat memberikan manfaat
dibidang kesehatan. Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan
mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain dan senyawa ini banyak
digunakan dalam menyembuhkan suatu penyakit. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik
adalah:

Streptomyces griseus, menghasilkan antibiotik streptomycin

Streptomyces aureofaciens, menghasilkan antibiotik tetracycline

Streptomyces venezuelae, menghasilkan antibiotik chloramphenicol

Penicillium, menghasilkan antibiotik penisilin

Bacillus polymyxa, menghasilkan antibiotik polymixin.

Terlepas dari peranannya dalam menghasilkan antibiotik, banyak jenis bakteri yang justru
bersifat patogen. Pada manusia, beberapa jenis bakteri yang sering kali menjadi agen penyebab
penyakit adalah Salmonella enterica subspesies I serovar Typhi yang menyebabkan penyakit
tifus, Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit TBC, dan nyerang hewan ternak,
seperti Brucella abortus yang menyebabkan brucellosis pada sapi dan Bacillus anthracis yang
menyebabkan antraks. Untuk infeksi pada tanaman yang umum dikenal adalah Xanthomonas
oryzae yang menyerang pucuk batang padi dan Erwinia amylovora yang menyebabkan busuk
pada buah-buahan.
27

BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan
berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan
kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri.
Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel
lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel
prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.
Ciri-ciri umum bakteri:

Tubuh uniseluler (bersel satu)


Tidak berklorofil (meskipun begitu ada beberapa jenis bakteri yang memiliki pigmen
seperti klorofil sehingga mampu berfotosintesis dan hidupnya autotrof.
Reproduksi dengan cara membelah diri (dengan pembelahan Amitosis)
Habitat bakteri hidup dimana-mana (tanah, air, udara, makhluk hidup)
Satuan ukuran bakteri adalah micron (10-3)

28

DAFTAR PUSTAKA
www.queenofsheebawordpress.com/2008/06/17/macam-macam-bakteri/
www.wrghar.blogspot.com/2009/09/jenis-jenis-bakteri.html
www.educorolla2.blogspot.com/.../reproduksi-bakteri.html
www.brian34.blogspot.com/.../reproduksi-bakteri.html
www.gurungeblog.wordpress.com

29