Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Nasional Pendidikan dan Manajemen Pembelajaran | JurnalGuru

Volume I, No. 1, Mei Juni (2015): 1 - 4

Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas


dalam Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Melalui In House Training (IHT)
di Gugus 1 Kecamatan Keluang
Indrawati
Pengawas SD Kecamatan Keluang, Kab. Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan

Diterima: 8 Mei 2015

Disetujui: 17 Mei 2015

ABSTRAK
Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran di Gugus 1 Kecamatan Keluang. Penelitian
dilaksanakan di sekolah Gugus 1 Kecamatan Keluang pada tahun pelajaran 2014/2015 dengan
kemampuan yang heterogen berjumlah 30 orang guru kelas binaan. Metode penelitian ini
menggunakan analisis data kuantitatif yaitu dengan membandingkan kemampuan guru kelas dalam
membuat RPP pada siklus pertama dan siklus kedua melalui In-House Training (IHT). Observasi
dilakukan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengamati pelaksanaan IHT dan lembar
penilaian RPP. Penelitian berlangsung dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa meningkatkan
kemampuan guru kelas dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran di Gugus 1 Kecamatan
Keluang dapat dilakukan melalui In-House Training (IHT). Dengan nilai rata-rata kemampuan guru
kelas dalam membuat RPP sebelum dilaksanakan IHT 72,75. Setelah dilaksanakan In-House Training
(IHT) pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 76,30. Dari hasil siklus I kemudian dilakukan perbaikan
pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 83,62
Kata Kunci: kemampuan guru, rencana pelaksanaan pembelajaran, IHT
A.
1.

Pendahuluan
Latar Belakang
Salah satu dari delapan standar
pendidikan adalah standar isi. Standar isi
memuat standar kompetensi (SK) dan
kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai
siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam
jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada
gilirannya mencapai standar kompetensi
lulusan (SKL). Agar siswa dapat mencapai SK,
KD dan SKL secara maksimal maka perlu
didukung dengan oleh berbagai standar lainnya
dalam sebuah sistem yang utuh. Salah satunya
tertuang dalam standar proses.
Berdasarkan
Peraturan
Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007
tentang Standar Proses menyatakan bahwa
guru diharapkan dapat mengembangkan
perencanaan pembelajaran seperti rencana
pembelajaran (RPP) khususnya pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah. Menurut
Mulyasa (2006: 167), rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan manajemen
pembelajaran untuk mencapai salah satu atau
lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam

Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP


adalah salah satu komponen penting dari KTSP
yang pengembangannya harus dilakukan oleh
guru secara profesional.
Setiap pendidik pada satuan pendidikan
berkewajiban membuat rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) secara lengkap dan
sistematis agar pembelajaran berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang,
memotivasi
siswa
untuk
berpartisipasi aktif serta memberikan ruang
cukup bagi prakarsa, kreativitas dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Dalam penyusunan RPP ini, setiap guru harus
berpedoman pada program pengajaran setiap
bidang studi serta kalender akademik pada saat
tahun pelajaran berlangsung. Ketika guru
membuat RPP dengan baik, maka guru tersebut
dimudahkan dalam mengajar.
Akan tetapi lain halnya dengan sebagian
besar guru yang mengajar di lima sekolah, yang
berada di Gugus 1 Kecamatan Keluang. Sekolah
Dasar yang berada pada gugus 1 Kecamatan
Keluang seperti: SDN 1 Keluang, SDN 2
Keluang, SDN 3 Keluang, SDN 4 Keluang dan

ISSN : 2459-9743 | 1

Indrawati | Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas

SDN Mekarsari masihbanyak gurunya lamban


dalam penyusunan RPP. Jadwal pengumpulan
RPP sudah ditentukan, tetapi masih banyak
yang terlambat mengumpulkannya. Bahkan ada
yang baru mengumpulkan sudah hampir
selesai semester. Dengan demikian, guru perlu
meningkatkan kemampuan dalam membuat
RPP.
Mengacu pada Permenpan RB RI nomor
21 tahun 2010 tentang jabatan fungsional
pengawas sekolah dan angka kreditnya,
Peraturan pemerintah No. 74 Tahun 2008
Tentang Guru, dapat dikemukakan tentang
tugas pokok dan tanggung jawab pengawas
sekolah
yang
meliputi:
melaksanakan
pengawasan akademik dan manajerial pada
satuan pendidikan yang meliputi penyusunan
program pengawasan, pelaksanaan pembinaan,
pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar
Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan
dan pelatihan profesional Guru, evaluasi hasil
pelaksanaaan program pengawasan dan
pelaksanaan tugas kepengawasan daerah
khusus.
Dengan demikian berdasarkan tugas
pokok tersebut, salah satu kegiatan yang dapat
dilakukan pengawas adalah memberikan
arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru
tentang proses pembelajaran/ bimbingan yang
bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan
hasil belajar/ bimbingan siswa. Salah satu cara
yang dapat dilakukan pengawas dalam hal ini
adalah melalui In-House Training (IHT).
Untuk mengatasi masalah guru dalam
pembuatan RPP dan sesuai dengan tugas pokok
pengawas dapat dilakukan melalui In-House
Training (IHT). Berdasarkan latar belakang di
atas peneliti mengambil judul Upaya
Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas Dalam
Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Melalui In-House Training (IHT) Di Gugus 1
Kecamatan Keluang.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
diperoleh rumusan masalah adalah Apakah
melalui In- House Training (IHT) dapat
meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
di Gugus 1 Kecamatan Keluang?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
di Gugus 1 Kecamatan Keluang melalui InHouse Training (IHT).
4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:

2 | ISSN : 2459-9743

a.

b.

c.

B.
1.

Bagi guru, sebagai pedoman untuk


membuat
rencana
pelaksanaan
pembelajaran.
Bagi kepala sekolah, sebagai sumbangan
untuk meningkatkan kinerja dalam
membina guru yang menjadi tugas kepala
sekolah.
Bagi pengawas, dapat meningktakan
kemampuan dan keterampilan pengawas
dalam melaksanakan tugas kepengawasan
di satuan pendidikan binaan.

Kajian Teori
Kemampuan Guru
Guru sebagai tenaga professional dibidang
kependidikan, di samping memahami hal-hal
yang bersifat filosofis dan konseptual, harus
juga mengetahui dan melaksanakan hal-hal
yang bersifat teknis. Hal yang bersifat teknis
terutama
kegiatan
mengelola
dan
melaksanakan proses belajar mengajar.
Didalam kegiatan pegelolaan proses belajar
mengajar guru paling tidak harus memiliki dua
modal dasar, yakni kemampuan mendisain
program
pengajaran
dan
ketrampilan
mengkominikasikan program itu kepada
peserta didik.
Proses penampilan dapat dikatakan tatap
muka di kelas, merupakan bagian terpenting
dalam proses kegiatan belajar mengajar,
dimana terjadi interaksi atau hubungan timbal
balik antara siswa dengan guru, antara siswa
dengan siswa atau antara siswa dengan materi.
Dengan demikian perlu dikaji secara mendalam
bahwa penyusunan RPP perlu dipersiapkan
oleh guru dengan sebaik-baiknya. Proses
penampilan ini, membutuhkan kesiapan
mental, kestabilan emosi dan menuntut
penguasaan materi serta kemampuan atau
teknik penyampaian materi, sehingga akan
terciptanya suasana belajar yang kondusif,
edukatif, dan komunikatif. Secara tidak
langsung siswa akan memperoleh waktu aktif
belajar sesuai dengan perencanaan.
Pada saat proses penampilan di kelas,
kegiatan pembelajaran harus sesuai Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun.
Namun pada kenyataannya terkadang terjadi
penyimpangan dari rencana yang telah disusun.
Meskipun RPP telah ada namun terkadang
kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan RPP
yang telah disusun oleh seorang guru setaip
menyampaikan materi pelajaran.
Pendidik/
Guru
professional
yang
memiliki sikap profesionalitas dituntut untuk
memenuhi persyaratan kompetensi yang
dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut, berupa
kompetensi pengetahuan dan ketrampilan
(Webster 1989). Kompetensi untuk tenaga

Jurnal Nasional Pendidikan dan Manajemen Pembelajaran | JurnalGuru


Volume I, No. 1, Mei Juni (2015): 1 - 4
professional pendidikan mengacu pada
perbuatan dalam melakukan tugas-tugas
kependidikan.
Perilaku pengajar atau pembelajar yang
ditampilkan guru di depan kelas akan menjadi
acuan mutu pembelajaran, mengapa demikian,
karena guru adalah orang yang memfasilitasi
terjadinya proses pembelajaran pada diri
siswa, disamping itu kreativitas yang
ditampilkan guru biasanya mendorong siswa
untuk kreatif belajar (Permendiknas RI Nomor
41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses) . Guru
yang kompeten, harus juga mengelola program
belajar mengajar, dalam hal ini ada beberapa
langkah yang harus ditempuh oleh guru
menurut Sardiman ( 2000:163) antara lain:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Mengenal dan dapat menggunakan proses
instruksional yang tepat
c. Melaksanakan program belajar mengajar
d. Mengenal kemampuan peserta didik
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Untuk melihat mutu pembelajaran guru
dapat dilihat dari kemampuan guru dalam
merencanakan pembelajaran, kemampuan
melakukan
kegiatan
pembelajaran,
kemampuan mengumpulkan hasil belajar
untuk melakukan tindak lanjut (remidi dan
pengayaan). Menurut Mulyasa (2006: 167),
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
adalah rencana yang menggambarkan prosedur
dan manajemen pembelajaran untuk mencapai
salah satu atau lebih kompetensi dasar yang
ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan
dalam silabus. RPP adalah salah satu komponen
penting dari KTSP yang pengembangannya
harus dilakukan oleh guru secara profesional.
RPP
dikembangkan
berdasarkan
karakteristik dan kondisi sekolah, serta
kemampuan guru dalam menjabarkan menjadi
rencana pelaksanaan pembelajaran yang siap
dijadikan pedoman pembentukan kompetensi
siswa. Agar guru dapat membuat RPP yang
efektif dan berhasil guna dituntut untuk
memahami berbagai aspek yang berkaitan
dengan hakikat, fungsi, prinsip dan prosedur
pengembangan serta cara mengukur efektivitas
pelaksanaannya dalam pembelajaran.
Menurut Anwar (2010: 181), beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam
pengembangan RPP antara lain sebagai berikut:
a. Memperhatikan
perbedaan
individu
peserta didik
b. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
c. Mengembangkan budaya membaca dan
menulis proses pembelajaran dirancang
untuk
mengembangkan
kegemaran
membaca, pemahaman beragam bacaan,

dan berekspresi dalam berbagai bentuk


tulisan
d. Memberikan umpan balik dan tindak
lanjut
e. Keterkaitan dan keterpaduan
f.
Menerapkan teknologi informasi dan
komunikasi.
Rencana
pelaksanaan
pembelajaran
secara umum berisi apa yang akan dikerjakan
oleh guru dan siswa selama proses
pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan
maupun beberapa kali pertemuan. Adapun
langkah-langkah minimal dari penyusuan RPP
dimulai dari mencamtumkan identitas RPP,
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,
metode
pembelajaran,
langkah-langkah
kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan
penilaian.
3. In-House Training (IHT)
Pelatihan dibagi dalam dua pengertian;
IHT (In-House Training) dan PT (Public
Training). In-House Training adalah pelatihan
yang terjadi atas permintaan suatu komunitas
tertentu apakah itu lembaga profit ataupun
nonprofit.
Secara umum, tujuan In-House
Training yaitu untuk meningkatkan kualitas
sumberdaya manusia yang didayagunakan
instansi terkait, sehingga pada akhirnya dapat
lebih mendukung dalam upaya pencapaian
sasaran yang telah ditetapkan. Selain hal
tersebut di atas, sasaran pelatihan internal ini
antara lain: menciptakan interaksi antara
peserta dilingkungan instansi yang terkait serta
mempererat rasa kekeluargaan/ kebersamaan,
meningkatkan motivasi baik bagi peserta
maupun bagi narasumber untuk membiasakan
budaya
pembelajaran
yang
berkesinambungan, untuk mengeksplorasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi di
lapangan yang berkaitan dengan peningkatan
efektifitas kerja, sehingga dapat diformulasikan
solusi pemecahannya secara bersama-sama.
Merujuk pada pendapat tersebut, pada
dasarnya In-House Training adalah Program
pelatihan yang diselenggarakan di tempat
peserta pelatihan. Dengan program ini peserta
akan
lebih
mudah
menyerap
dan
mengaplikasikan materi pelatihan untuk
menyelesaikan dan mengatasi permasahan
kerja yang sering dialami dan mampu secara
langsung meningkatkan kualitas dan kinerja
dari sumber daya manusia dilingkungan
instansi peserta pelatihan.
4. Hipotesis Tindakan
Melalui In-House Training (IHT) dapat
meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
di Gugus 1 Kecamatan Keluang.

ISSN : 2459-9743 | 3

Indrawati | Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas

Pembahasan
Dari hasil pengamatan selama proses
pelaksanaan tindakan terlihat bahwa adanya
perkembangan ke arah yang lebih baik pada
peningkatan kemampuan guru dalam membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil
observasi pelaksanaan tindakan In-House
Training (IHT) siklus I dan siklus II terlihat
jelas adanya perkembangan yang positif. Pada
siklus I, hasil observasi pelaksanaan In-House
Training (IHT) yang dilakukan oleh peneliti
memperoleh nilai 77,78 sedangkan pada siklus
II mencapai 92,22.
Dari data awal yang diperoleh nilai ratarata kemampuan guru kelas dalam membuat
RPP adalah 72,75. Setelah dilaksanakan siklus I
diperoleh nilai rata-rata 76,30 meningkat 3,55
dari data awal sebelum menggunakan In-House
Training (IHT). Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan antara kondisi awal dengan siklus
I, namun indikator keberhasilan belum tercapai
dikarenakan hanya 63 % guru kelas yang
mencapai nilai dengan kriteria baik.
Dari hasil siklus I kemudian dilakukan
perbaikan pada siklus II diperoleh nilai ratarata 83,62 dan indikator keberhasilan tercapai.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah guru yang
mencapai kategori baik sebanyak 24 orang dari
30 orang guru kelas. Ini artinya telah mencapai
80 % dari seluruh guru kelas.Peningkatan
kemampuan guru kelas dalam membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
melalui In-House Training (IHT) dapat dilihat
pada tabel berikut.

Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus I,


siklus II dapat disimpulkan bahwa
meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) dapat melalui In-House Training (IHT).

C.

Tabel 1. Perbandingan Kemampuan


Guru Pada Siklus I dan Siklus II

Dari tabel diatas, terlihat bahwa adanya


peningkatan jumlah guru kelas dengan nilai 7689. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam
grafik berikut.

4 | ISSN : 2459-9743

D.
1.

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
bahwa adanya peningkatan kemampuan guru
kelas dalam membuat RPP. Sebelum dilaksankan
In-House Training (IHT) diperoleh nilai rata-rata
kemampuan guru kelas dalam membuat RPP
adalah 72,75. Setelah dilaksanakan In-House
Training (IHT) pada siklus I diperoleh nilai ratarata 76,30. Dari hasil siklus I kemudian dilakukan
perbaikan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata
83,62 dan indikator keberhasilan tercapai.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
meningkatkan kemampuan guru kelas dalam
membuat rencana pelaksanaan pembelajaran di
Gugus 1 Kecamatan Keluang dapat dilakukan
melalui In-House Training (IHT).
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, ada
beberapa saran yang bisa dipertimbangkan yaitu
sebagai berikut:
a.
Guru hendaknya terus menerus dapat
meningkatkan
kompetensi
dan
keterampilannya dalam membuat rencana
pelaksanaan pembelajaran sehingga mampu
meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
b.
Kepala
sekolah
hendaknya
selalu
meningkatkan kualitas pembelajaran dengan
memberikan pembinaan dan pelayanan
kepada
guru
untuk
meningkatkan
kemampuan keprofesionalannya dalam
proses pembelajaran. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan melalui In-House Training
(IHT)
c.
Pengawas hendaknya selalu meningkatkan
kemampuan dan keterampilan pengawas
dalam melaksanakan tugas kepengawasan di
satuan pendidikan, salah satunya adalah
pembinaan dan dapat melalui In-House
Training (IHT)
Daftar Pustaka
Anwar, Dkk. 2011. Perencanaan Sistem
Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan KTSP. Bandung: Elfabeta.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Depdikbud.
Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan.
Jakarta: Depdikbud.