Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Hernia berasal dari kata latin yang berarti rupture. Hernia didefinisikan
sebagai suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui daerah yang
lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat terjadi di
berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen pada
umumnya daerah inguinal.
Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak setelah
appendicitis. Sampai saat ini masih merupakan tantangan dalam peningkatan
status kesehatan masyarakat karena besarnya biaya yang diperlukan dalam
penanganannya dan hilangnya tenaga kerja akibat lambatnya pemulihan dan
angka rekurensi. Dari keseluruhan jumlah operasi di Perancis tindakan bedah
hernia sebanyak 17,2 % dan 24,1 % di Amerika Serikat. Hampir 75 % dari hernia
abdomen merupakan hernia ingunalis (Townsend, 2004).
Hernia inguinalis lateralis adalah kelainan bedah yang paling sering terjadi pada
anak-anak. Literature tentang hernia telah dikenal sejak lebih dari 20 abad, dan
telah banyak tehnik yang digunakan. Galen pada tahun 176 setelah Masehi yang
pertama kali menggambarkan pathogenesis dari hernia inguinalis lateralis ketika
dia memaparkan tentang processus vaginalis sebagai saluran kebawah yang
merupakan jalur turunnya testis dari rongga peritoneum ke scrotum (processus
vaginalis peritonei). Terapi bedah hernia inguinalis lateralis didokumentasikan
pertama kali pada abad ke V oleh Susruta dari india yang dikenal sebagai bapak
Bedah India (Veen dkk, 2007).

BAB II
TINJAUAN TEORI
I. Definisi
Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang keluar dari rongga
peritonium melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh
epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis, dan jika
cukup panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus, apabila hernia
ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum dan terjadi perlengketan
(Sjamsuhidajat, 2007).
Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis
internus atau lateralis menyelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga perut
melalui anulus inguinalis externa atau medialis (Arif Mansjoer dkk, 2001).
II. Epidemiologi
Hernia inguinalis dibagi menjadi hernia inguinalis lateralis dan hernia
inguinalis medialis dimana hernia inguinalis lateralis ditemukan lebih banyak dua
pertiga dan sepertiga sisanya adalah hernia inguinalis medialis. Hernia inguinalis
lebih banyak ditemukan pada pria dan untuk hernia femoralis lebih sering pada
wanita. Sedangkan jika ditemukan hernia inguinalis pada pria kemungkinan
adanya hernia inguinalis atau berkembangnya menjadi hernia inguinalis sebanyak
50 %. Perbandingan antara pria dan wanita untuk hernia inguinalis 7 : 1.
Prevalensi hernia inguinalis pada pria dipengaruhi oleh umur (Townsend, 2004).
Semua hernia inguinalis lateralis terjadi karena adanya patent processus
vaginalis, tapi tidak semua pasien dengan patent processus vaginalis berkembang
menjadi hernia. Pada beberapa penelitian hernia dewasa insidens patent processus
vaginalis 12 14% dan secara klinis didapatkan hanya 8 12 % dari pasien
tersebut yang berkembang menjadi hernia. Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa terbukanya kanalis interna tidak sertamerta menimbulkan hernia. Mungkin
terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi timbulnya hernia (Wessem V,
2003).

III. Klasifikasi
Hernia inguinalis dibagi menjadi dua yaitu Hernia Inguinalis Lateralis
(HIL) dan Hernia Inguinalis Medialis (HIM). Disini akan dijelaskan lebih lanjut
hernia ingunalis lateralis. Hernia inguinalis lateralis mempunyai nama lain yaitu
hernia indirecta yang artinya keluarnya tidak langsung menembus dinding
abdomen. Selain hernia indirek nama yang lain adalah Hernia oblique yang
artinya Kanal yang berjalan miring dari lateral atas ke medial bawah. Hernia
ingunalis lateralis sendiri mempunyai arti pintu keluarnya terletak disebelah
lateral Vasa epigastrica inferior. Hernia inguinalis lateralis (HIL) dikarenakan
kelainan kongenital meskipun ada yang didapat (Medscape).

Tabel 1. Perbedaan HIL dan HIM


Tipe

Deskripsi

Hubungan
dengan
vasa
epigastrika
inferior

Dibungkus
oleh fascia
spermatica
interna

Onset
biasanya
pada
waktu

Hernia
inguinalis
lateralis

Penonjolan melewati
cincin inguinal dan
biasanya merupakan
kegagalan penutupan
cincin inguinalis
interna pada waktu
embrio setelah
penurunan testis

Lateral

Ya

Congenital
dan bisa
pada waktu
dewasa.

Hernia
inguinalis
medialis

Keluarnya langsung
menembus fascia
dinding abdomen

Medial

Tidak

Dewasa

Nyhus membuat klasifikasi berdasarkan ukuran cincin interna dan integritas


dinding posterior, meliputi:
Tipe 1 adalah hernia indirek dengan cincin interna yang normal.
Tipe 2 adalah hernia indirek dengan cincin interna yang membesar.
Tipe 3a adalah hernia inguinalis indirek.
Tipe 3b adalah hernia indirek yang menyebabkan kelemahan dinding posterior.
Tipe 3c adalah hernia femoralis.
Tipe 4 memperlihatkan semua hernia rekuren.

Gambar 1. Perbedaan antara Hernia Inguinalis Medialis (Direct inguinal hernia),


dan Hernia Inguinalis Lateralis (Indirect inguinal hernia).

IV. Etiologi dan Faktor Risiko


1. Faktor congenital
Pada pria terdapat suatu processus yang berasal dari peritoneum parietalis,
yang dalam masa intra uterin merupakan guide yang diperlukan dalam
desenskus testikulorm, processus ini seharusnya menutup. Bila testis tidak
sampai ke skrotum, processus ini tetap akan terbuka, atau bila penurunan baru

terjadi 1 2 hari sebelum kelahiran, processus ini belum sempat menutup dan
pada waktu lahir masih tetap terbuka.
2. Faktor utama
Terjadi setelah operasi sebagai akibat gangguan penyembuhan luka.
3. Faktor umur dan jenis kelamin
Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Untuk hernia inguinalis lateralis,
insiden tertinggi pada anak muda. Insiden tinggi pula terjadi pada orang
dengan usia 50 60 tahun dan berangsur-angsur menurun pada kelompok
lansia dan pria lebih banyak dari pada wanita.
4. Faktor adipositas
Pada orang gemuk jaringan lemaknya tebal tetapi dinding ototnya tipis
sehingga mudah terjadi hernia.
5. Faktor kelemahan muskulo aponeurosis
Biasanya ditemukan pada orang kurus.
6. Faktor tekanan intra abdominal
Ditemukan pada orang-orang dengan batuk yang kronis, juga pada penderita
dengan kesulitan miksi seperti hypertrofi prostat, gangguan defekasi, pada
orang yang sering mengangkat berat dan adanya tumor yang mengakibatkan
sumbatan usus, kehamilan dan ascites (medscape).

V. Manifestasi Klinis
1. Pada orang dewasa
a.

Laki-laki
1) Benjolan di daerah inguinal dapat mencapai skrotum.
2) Benjolan timbul bila berdiri atau mengejan dan bila berdiri
lama/mengejan kuat maka benjolan makin membesar.
3) Terasa nyeri bila terjadi incarserata dan terasa kram apabila benjolannya
besar.
5

b. Wanita
Benjolan dapat mencapai labium majus.
2. Pada anak-anak
Bila menangis, timbul benjolan pada abdomen bagian bawah, dapat mencapai
skrotum atau labium majus, bila berbaring benjolan akan hilang karena isi
kantong hernia masuk ke dalam kavum abdomen.

VI. Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan hernia pasien harus diperiksa dalam keadaan berdiri dan
berbaring dan juga diminta untuk batuk pada hernia yang kecil yang masih sulit
untuk dilihat. Kita dapat mengetahui besarnya cincin eksternal dengan cara
memasukan jari ke annulus jika cincinnya kecil jari tidak dapat masuk ke kanalis
inguinalis dan akan sangat sulit untuk menentukan pulsasi hernia yang sebenarnya
pada saat batuk. Lain halnya pada cincin yang lebar hernia dapat dengan jelas
terlihat dan jaringan tissue dapat dirasakan pada tonjolan di kanalis ingunalis pada
saat batuk dan hernia dapat didiagnosa. Hernia yang turun hingga ke skrotum
hampir sering merupakan hernia ingunalis lateralis.
Pada inspeksi
Pasien saat berdiri, pada hernia direct kebanyakan akan terlihat simetris,dengan
tonjolan yang sirkuler di cicin eksterna. Tonjolan akan menghilang pada saat
pasien berbaring . sedangkan pada hernia ingunalis lateralis akan terlihat tonjolan
yang berbentuk elips dan susah menghilang pada saat berbaring.
Pada palpasi
Dinding posterior kanalis ingunalis akan terasa dan adanya tahanan pada hernia
inguinalis lateralis. Sedangkan pada hernia direct tidak akan terasa dan tidak
adanya tahanan pada dinding posterior kanalis ingunalis. Jika pasien diminta
untuk batuk pada pemeriksaan jari dimasukan ke annulus dan tonjolan terasa pada
sisi jari maka itu hernia direct. Jika terasa pada ujung jari maka itu hernia
ingunalis lateralis. Penekanan melalui cincin interna ketika pasien mengedan juga
6

dapat membedakan hernia direct dan hernia inguinalis lateralis. Pada hernia direct
benjolan akan terasa pada bagian depan melewati Trigonum Hesselbachs dan
kebalikannya pada hernia ingunalis lateralis.
Jika hernianya besar maka pembedaanya dan hubungan secara anatomi
antara cincin dan kanalis inguinalis sulit dibedakan. Pada kebanyakan pasien,
jenis hernia inguinal tidak dapat ditegakkan secara akurat sebelum dilakukan
operasi (Lawrence dkk, 2003).
Kadangkala hernia dicurigai berdasarkan riwayat saja dan tidak dapat
dilihat pada saat pemeriksaan. Tanda yang lain adalah Silk Glove Sign dimana
pada pemeriksaan teraba penebalan dari spermatic cord yang dapat dipalpasi saat
spermatic cord melintasi tuberculum pubicum. Hal ini menunjukkan adanya
kantung hernia sekitar spermatic cord dan akan tampak jelas pada hernia unilateral
karena dapat dibandingkan dengan sisi yang sehat (Lou dkk, 2007).
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium untuk mendukung ke arah adanya strangulasi,
sebagai berikut: Leukocytosis dengan shift to the left yang menandakan
strangulasi. Elektrolit, BUN, kadar kreatinine yang tinggi akibat muntah-muntah
dan menjadi dehidrasi. Tes Urinalisis untuk menyingkirkan adanya masalah dari
traktus genitourinarius yang menyebabkan nyeri lipat paha.
Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis tidak diperlukan pada
pemeriksaan rutin hernia. Ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan
adanya massa pada lipat paha atau dinding abdomen dan juga membedakan
penyebab pembengkakan testis.
Pada pemeriksaan radiologis kadang terdapat suatu yang tidak biasa
terjadi, yaitu adanya suatu gambaran massa. Gambaran ini dikenal dengan
Spontaneous Reduction of Hernia En Masse. Adalah suatu keadaan dimana
berpindahnya secara spontan kantong hernia beserta isinya ke rongga
extraperitoneal.
VII. Penatalaksanaan

Pengobatan konservatif hanya terbatas, mulai tindakan melakukan


reposisi, dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi
hernia yang telah direposisi, meliputi:
- Reposisi bimanual : tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong
sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan tekanan
lambat dan menetap sampai terjadi reposisi.
- Reposisi spontan pada anak : menidurkan anak dengan posisi Trendelenburg,
pemberian sedatif parenteral, kompres es di atas hernia, kemudian bila berhasil,
anak boleh menjalani operasi pada hari berikutnya.
- Bantal penyangga, bertujuan untuk menahan hernia yang telah direposisi dan
harus dipakai seumur hidup. Namun cara ini sudah tidak dianjurkan karena
merusak kulit dan otot abdomen yang tertekan, sedangkan strangulasi masih
mengancam.
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar
operasi hernia terdiri dari herniotomi pada anak-anak dan hernioraphy (herniotomi
dan hernioplasti) pada orang dewasa. Pada herniotomi dilakukan pembebasan
kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan
kalau ada perlengketan, kemudian direposisi dan kantong hernia dijahit setinggi
mungkin lalu dipotong. Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. (R.
Sjamsuhidajat dan Wim de Jong).
Hernioplasti dengan polypropylene mesh mencegah terjadinya peregangan
sewaktu rekonstruksi dinding belakang kanalis inguinal sehingga perasaan nyeri
pasca operasi dapat berkurang dengan nyata. Diikuti pemulihan dan kembali
kepada aktivitas rutin yang lebih dini, serta pencegahan rekurensi jangka panjang.
Pemulihan dan kemampuan kerja setelah operasi ternyata sangat dipengaruhi oleh
rasa sakit. Untuk mencegah rekurensi jangka panjang penggunaan material harus
cukup lebar untuk menutup seluruh defek miopektineal (dengan ukuran 10 x 5
cm), tidak terjadi lipatan-lipatan, dan melingkari bagian dari spermatik kord di
daerah kanalis inguinal interna.

Gambar 2, Anatomy Normal canalis inguinalis, kondisi sebelum operasi pada


hernia inguinalis dan post operasi pada hernia inguinalis dengan menggunakan
mesh.

VIII. Komplikasi
Hernia inkarserasi :
Hernia yang membesar mengakibatkan nyeri dan tegang
Tidak dapat direposisi
Adanya mual, muntah dan gejala obstruksi usus.
Hernia strangulasi :
Gejala yang sama disertai adanya infeksi sistemik

Adanya gangguan sistemik pada usus (Kirby dkk 2002).

DAFTAR PUSTAKA
1. Bland, Kirby I. 2002. Inguinal Hernias. The Practice of General Surgery. New
York. WB Saunders Company. 795-801
2. Inguinal Hernia: Anatomy and Management
http://www.medscape.com/viewarticle/420354_4
3. Lou CC, Chao HC. Prevention of unnecessary contralateral exploration using
the silkglove sign (SGS) in pediatric patients with unilateral inguinal hernia.
Eur J Pediatr 2007;166(7):6679.
4. Mansjoer, A, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, Media
Aesculapius, Jakarta.
5. Sjamsuhidajat, Wim De Jong, 2007, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi,
penerbit EGC, Jakarta.
6. Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery. 17th
Edition. Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217.
7. van Veen RN, van Wessem KJ, Halm JA, et al. Patent processus vaginalis in
the adult as a risk factor for the occurrence of indirect inguinal hernia. Surg
Endosc 2007;21(2):2025.
8. van Wessem KJ, Simons MP, Plaisier PW, et al. The etiology of indirect
inguinal hernias: congenital and/or acquired? Hernia 2003; 7(2):769.
9. Way, Lawrence W. 2003. Hernias & Other Lesions of the Abdominal Wall.
Current Surgical Diagnosis and Treatment. Eleventh edition. New York. Mc
Graw-Hill. 783-789.

10

STATUS PASIEN
I.

II.

Anamnesis Pribadi
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Agama
Tgl masuk
Jam Masuk
Anamnesa Penyakit
Keluhan utama
Telaah

: Taman Happy
: 75 Tahun
: Laki-laki
: Menikah
: Islam
: 14-04-2015
: 13.15 Wib
: Benjolan di daerah kemaluan
:

Os datang ke RSUD DR. R.M Djoelham Binjai dengan keluhan benjolan di


daerah kemaluan bagian kanan, benjolan diketahui 1 tahun yang lalu dan
semakin lama semakin membesar. Os tidak merasakan nyeri pada benjolan.
BAB (+)N, BAK (+)N. Rencana operasi pada tanggal 15-4-2015.
RPT
RPO
III.

: Riwayat operasi hernia inguinalis lateralis sinistra


:-

Status Present
Keluhan Umum
Sensorium
Tekanan darah
Pulse
RR
T

: Compos Mentis
: 130/80 mmhg
: 84 x/i
: 20 x/i
: 36,5oC

IV. Status Generalis


Kepala
Bentuk
Rambut
Muka
Mata

: normal, simetris
: hitam lurus, distribusi merata, tidak mudah dicabut
: bulat simetris
: konjungtiva anemis (-) sklera ikterik (-), refleks cahaya

(+/+)
o Telinga
o Hidung

: liang telinga lapang, serumen (-), sekret (-)


: septum tidak deviasi (-), pernapasan cuping hidung (-),

o
o
o
o

sekret (-)
o Mulut
: mukosa bibir kering (-), lidah kotor (-), gusi tidak ada
perdarahan, faring tidak hiperemis

11

Leher
o Trakhea
o KGB
o JVP

: di tengah
:tidak membesar
: tidak meningkat

Thoraks
o Bentuk
o Retraksi suprastrernal
o Retraksi interkostal

: normal, simetris
: (-)
: (-)

Jantung
o Inspeksi : iktus cordis terlihat
o Palpasi : iktus cordis teraba
o Perkusi : Batas atas jantung atas: ICS II linea parasternalis dextra
Batas jantung kanan: ICS IV linea parastrernalis dextra
Batas jantung bawah : ICS V linea parastrernalis sinistra
Paru
o Inspeksi : bentuk dan pergerakan hemithoraks kiri sama dengan
kanan
o Palpasi

: fremitus taktil dan vokal hemithoraks kiri sama dengan

kanan
o Perkusi : sonor
o Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+)
Abdomen
o
o
o
o

Inspeksi : asites (-), sikatrik (-)


Palpasi : nyeri tekan epigastrium (-)
Perkusi : tympani
Auskultasi : bising usus (+)N

Genitalia eksterna
Kelamin: Terlihat benjolan di daerah skrotum sebelah kanan dan tidak ada tandatanda peradangan.
Ekstremitas
Superior: edema (-), sianosis (-)
Inferior : edema (-), sianosis (-)
V.

RESUME

12

Os datang dengan keluhan benjolan di daerah kemaluan bagian kanan,


diketahui 1 tahun yang lalu dan semakin lama semakin membesar. Os tidak
merasakan nyeri pada benjolan. BAB (+)N, BAK (+)N.
VI.

VII.

DIAGNOSA BANDING
1.
Hernia Inguinalis Lateralis
2. Hernia Inguinalis Medialis
DIAGNOSA SEMENTARA
Hernia Inguinalis Lateralis Dextra

VIII. ANJURAN
- Cek Darah Lengkap dan Urin lengkap
- CT/BT
- KGD
- EKG
- Foto Thoraks AP
IX.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Leukosit
Hb
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
LED
Bleeding time
Clotting time

Hasil
6,9
12.1
32.8
174
3,78
5,5
3
7

Unit
103/ul
g/dl
%
103/ml
106/ul
mm/jam
menit
menit

Nilai Normal
4.0-10.0
12.0-16.0
40.0-50.0
150-450
4.00-5.50
Lk <10 P <20
1-6
5-15

Kimia Darah
Bill Total
Bill Direk
SGOT
SGPT
Alk Phosphatase
Ureum
Kreatinin
Uric acid

Hasil
0,74
0,11
23,3
22,0
105
26,2
1,32
5,3

Unit
mg/dl
mg/dl
u/l
u/l
u/l
mg/dl
mg/dl
mg/dl

Nilai Normal
<1
0.00-0.30
15.0-37.0
30.0-65.0
50-136
15.0-38.5
0.60-1.30
2.6-7.2

Gula Darah
Ad Random

Hasil
100

Unit
mg/dl

Nilai Normal
<200

13

Urinalisa
Warna
Protein
Reduksi
Bilirubin
Urobilinogen
Eritrosit
Leukosit
Epitel

Hasil
jernih
2-4/Lp
10-15/Lp
4-6/Lp

EKG : Normal
Foto Thoraks: Normal
X.

RENCANA PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
Tirah baring
Observasi tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, frekuensi pernapasan)
2. Medikamentosa
IVFD RL 30 gtt/i
Inj Cefotaxime 1 gr/12 jam
3. Rencana Operasi Hernia pada tanggal 15-4-2015 dengan anjuran
Puasa dimulai dari jam 12 malam
4. Tindakan pembedahan
Open Repair of indirect inguinal hernia with graft or prosthesis
(Perbaikan terbuka dari hernia inguinalis indirek dengan graft atau
prosthesis)
FOLLOW UP

TANGGAL
15 april 2015

KELUHAN
Post Op Hernioraphy
KU : Mual (+)

16 april 2015

17 april 2015

KU : Mual (-)
TD : 130/80 mmHg
HR : 88 x/i
RR : 20 x/i
T : 370C

KU : Nyeri bekas operasi


(+) Demam (-), mual (-)

THERAPI
Bed Rest
IVFD RL 30 gtt/i
Inj Cefazoline 1gr/12j
Inj Ranitidin 1 amp/12j
Inj Ketorolac 1amp/12j
Bed Rest
Jika sudah terdengar

peristaltik usus Diet M2


IVFD RL 20 gtt/i
Inj Cefazoline 1gr/12j
Inj Ranitidin 1 amp/12j
Inj Ketorolac 1amp/12j
Bed Rest
Diet M2

14

18 april 2015

TD : 110/70 mmHg
HR : 82 x/i
RR : 22 x/i
T : 36,50C
KU : Baik
TD : 100/70 mmHg
HR : 78 x/i
RR : 22 x/i
T : 36,70C

IVFD RL 20 gtt/i
Inj Cefazoline 1gr/12j
Inj Ranitidin 1 amp/12j
Inj Ketorolac 1amp/12j

PBJ
Ciprofloxacin 3x1
As. Mefenamat 3x1
B. Complex 2x1

PASIEN PULANG BEROBAT JALAN PADA TANGGAL 18 APRIL 2015

15