Anda di halaman 1dari 26

AYU AKSARA - 07120100059

BAB I
PENDAHULUAN
Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak
negara di seluruh dunia. UNAIDS, badan WHO yang mengurusi masalah AIDS,
memperkirakan jumlah ODHA di seluruh dunia pada Desember 2004 adalah 35,9-44,3 juta
orang. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS. HIV/AIDS menyebabkan
berbagai krisis secara bersamaan, menyebabkan krisis kesehatan, krisis pembangunan negara,
krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS
menyebabkan krisis multidimensi. Sebagai krisis kesehatan, AIDS memerlukan respons dari
masyarakat dan memerlukan layanan pengobatan dan perawatan untuk individu yang
terinfeksi HIV. 1
Pada tahun 2009, diperkirakan 860.000 wanita hamil ditemukan hidup dengan HIV di
Afrika Timur dan Selatan, lebih daripada di daerah lain di dunia. Daerah ini juga mempunyai
persentase yang tinggi, yaitu rata-rata 47% dari total keseluruhan anak yang hidup dengan
HIV, dimana lebih 90% yang terinfeksi melalui penularan vertikal dari ibu ke bayi selama
kehamilan, persalinan atau menyusui.2 Tanpa pengobatan, sekitar 25% -50% dari ibu HIVpositif akan menularkan virus ke bayi mereka selama kehamilan, bersalin, atau menyusui.3
Risiko penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dikurangi sampai kurang dari 5% melalui
kombinasi langkah-langkah pencegahan penularan dari ibu ke anak atau yang dikenal dengan
PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission), termasuk terapi ARV (antiretroviral)
untuk ibu hamil dan anak yang baru lahir. PMTCT dimulai selama asuhan antenatal, ketika
wanita melakukan tes HIV dan menerima hasilnya bahwa dia positif HIV. Rekomendasi di
bagian sub-Sahara Afrika adalah terapi ARV diberikan pada wanita selama kehamilan, saat
persalinan, dan selama masa nifas atau sementara pemberian ASI eksklusif. Bayi juga harus
menjalani tes HIV secara berkala dan minum obat untuk mencegah penularan virus sementara
ia disusui.2
Infeksi oleh virus penyebab defisiensi imun merupakan masalah yang relatif baru,
terutama pada anak. Masalah ini pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1982 sebagai
suatu sindrom defisiensi imun makin meningkat secara relatif cepat disertai angka kematian
yang mencemaskan, maka dilakukanlah pengamatan dan penelitian yang intensif sehingga
akhirnya penyebab defisiensi imun ini ditemukan. Penyebab defisiensi imun ini adalah suatu
virus yang kemudian dikenal dengan nama human immunodeficiency virus tipe-1 (HIV-1),
pada tahun 1985. Pada pengamatan selanjutnya, ternyata bahwa infeksi HIV-1 ini dapat
menimbulkan rentangan gejala yang sangat luas, yaitu dari tanpa gejala hingga gejala yang
1

AYU AKSARA - 07120100059


sangat berat dan progresif, dan umumnya berakhir dengan kematian. Dengan meningkat dan
menyebarnya kasus defisiensi imun oleh virus ini pada orang dewasa secara cepat di seluruh
dunia, apabila kasus tersebut tidak mendapat perhatian dan penanganan yang memadai,
dalam waktu dekat diperkirakan jumlah kasus defisiensi imun pada anak juga akan
meningkat.2

AYU AKSARA - 07120100059

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu penyakit retrovirus
epidemik, menular yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus),
yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas selular, dan mengenai
kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obatobatan intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan
seksual dari individu yang terinfeksi HIV, dan bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi virus
tersebut. 4
2.2 ETIOLOGI
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang disebut HIV. Ini adalah suatu virus RNA
berbentuk sferis dengan diameter 1000 angstrom yang termasuk retrovirus dari family
Lentiviridae. Strukturnya terdiri dari lapisan luar atau envelop yang terdiri atas glikoprotein
gp 120 yang melekat pada glikoprotein gp 4. Dibagian dalamnya terdapat lapisan kedua yang
terdiri dari protein p17. Setelah itu terdapat inti HIV yang dibentuk oleh protein p 24.
Didalam inti terdapat komponen penting berupa dua buah rantai RNA dan enzim reverse
transcriptase.6
Dikenal

dua serotipe

HIV yaitu

HIV-1

dan HIV-2 yang

juga

disebut

Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), dimana virus ini pertama kali diisolasi oleh Luc
Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983. HIV-1, sebagai penyebab AIDS
yang tersering, penyebarannya lebih luas di hampir di seluruh dunia, sedangkan HIV 2
ditemukan pada pasien-pasien dari Afrika barat dan Portugal dahulu dikenal juga sebagai
human T cell-lymphotropic virus tipe III (HTLV-III), lymphadenophaty associated virus
(LAV) dan AIDS associated virus. HIV 2 lebih mirip dengan monkey virus yang disebut SIV
(Simian Immunodeficiency Virus). HIV 1 dan HIV 2 mempunyai inti yang mirip, tetapi
selubungnya berbeda.6

AYU AKSARA - 07120100059

Gambar 1. Struktur dasar virus HIV

Cara penularan HIV adalah sebagai berikut:

Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi.

Kondom adalah satusatunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.


Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah

tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang

yang telah terinfeksi.


Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan
atau persalinan dan juga melalui menyusui.

2.3 PATOGENESIS
Infeksi HIV memerlukan reseptor spesifik pada sel pejamu yaitu molekul CD4.
Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV, terutama terhadap
molekul glikoprotein (gp120) dari selubung virus. Di antara sel tubuh yang memiliki molekul
CD4, sel limfosit-T memiliki molekul CD4 paling banyak. Oleh karena itu, infeksi HIV
dimulai dengan penempelan virus pada limfosit-T. Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas
dari membran sel limfosit-T sehingga seluruh komponen virus harus masuk ke dalam
sitoplasma sel limfosit-T, kecuali selubungnya. Selanjutnya, RNA dari virus mengalami
transkripsi menjadi seuntai DNA dengan bantuan enzim reverse transcriptase. Akibat
aktivitas enzim RNA-ase H, RNA yang asli dihancurkan sedang seuntai DNA yang terbentuk
mengalami polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan bantuan enzim polimerase. DNA
yang terbentuk ini kemudian pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel limfosit-T dan menyisip
4

AYU AKSARA - 07120100059


ke dalam DNA sel pejamu dengan bantuan enzim integrase, disebut sebagai provirus.
Provirus yang terbentuk ini tinggal dalam keadaan laten atau dalam keadaan replikasi yang
sangat lambat, tergantung pada aktivitas dan deferensiasi sel pejamu (T-CD4) yang
diinfeksinya, sampai kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu dan mamacu terjadinya
replikasi dengan kecepatan tinggi.5
Stimulasi yang dapat memicu dan memacu terjadinya replikasi (atau ekspresi virus,
yaitu pembentukan protein atau mRNA virus yang utuh) yang cepat ini masih belum jelas,
walaupun umumnya diduga dapat terjadi oleh karena bahan mitogen atau antigen yang
mungkin bekerja melalui sitokin, baik yang terdapat sebelum maupun sesudah terjadinya
infeksi HIV. Tidak semua sitokin dapat memacu replikasi virus oleh karena sebagian sitokin
malah dapat menghambat replikasi. Sitokin yang dapat memacu adalah sitokin yang
umumnya ikut serta mengatur respons imun, seperti misalnya interleukin (IL) 1,3,6, tumor
necrosis factor dan , interferon gamma, granulocyte-macrophage colony-stimulating
factor dan macrophage colony-stimulating factor. Yang bersifat menghambat adalah
interleukin-4, transforming growth factor , interferon dan . 5
Hal lain yang dapat memicu replikasi HIV adalah adanya ko-faktor yang terdiri dari
infeksi oleh virus DNA seperti virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, virus hepatitis B, virus
herpes simplex, human herpesvirus 6, dan human T-cell lymphotrophic virus tipe 1 atau oleh
kuman seperti mikoplasma. Oleh karena sitokin dapat dibentuk dan bekerja lokal di dalam
jaringan tanpa masuk ke dalam sirkulasi, maka konsentrasinya di dalam serum tidak harus
meningkat untuk dapat menimbulkan pengaruh pada replikasi atau ekspresi HIV di dalam
jaringan. Oleh karena itu, pada keadaan adanya gangguan imunologik, di dalam jaringan
(terutama di dalam kelenjar limfe) tetap dapat terjadi replikasi atau ekspresi virus. 5
Hipotesis yang berkembang hingga saat ini sehubungan dengan organ limfoid dapat
dipaparkan sebagai berikut: setelah HIV masuk ke dalam tubuh baik melalui sirkulasi atau
melalui mukosa, HIV pertama-tama dibawa ke dalam kelenjar limfe regional. Di sini terjadi
replikasi virus yang kemudian menimbulkan viremia dan infeksi jaringan limfoid yang lain
(multipel) yang dapat menimbulkan limfadenopati subklinis. 5
Sementara itu, sel limfosit-B yang terdapat di dalam sentrum germinativum jaringan
limfoid juga memberikan respon imun yang spesifik terhadap HIV. Hal ini yang
mengakibatkan limfadenopati yang nyata akibat hiperplasia atau proliferasi folikular yang
ditandai oleh meningkatnya sel dendrit folikular di dalam sentrum germinativum dan sel
limfosit T-CD4. Akumulasi sel limfosit T-CD4 yang meningkat di dalam jaringan limfoid ini
selain akibat proliferasi in situ tersebut, juga berasal dari migrasi limfosit dari luar. Migrasi
sel T-CD4 dari luar inilah yang mengakibatkan penurunan sel T-CD4 di dalam sirkulasi
5

AYU AKSARA - 07120100059


secara tiba-tiba yang merupakan gejala yang khas dari sindrom infeksi HIV akut. Di samping
itu, sel limfosit-B menghasilkan berbagai sitokin yang dapat mengaktifkan dan sekaligus
memudahkan infeksi sel T-CD4. 5
Pada fase awal dan tengah penyakit, ikatan partikel HIV, antibodi dan komplemen
terkumpul di dalam jaring-jaring sel dendritik folikular. Sel dendritik folikular ini, pada
respons imun yang normal berfungsi menjerat antigen yang terdapat di lingkungan sentrum
germinativum dan menyajikannya kepada sel imun yang kompeten yaitu sel T-CD4 yang
akhirnya mengalami aktivasi dan infeksi. Seperti telah dikemukakan, HIV di dalam sel TCD4 dapat tinggal laten untuk waktu yang panjang sebelum kemudian mengalami replikasi
kembali akibat berbagai stimulasi. Pada fase yang lebih lanjut, dengan demikian, tidak lagi
ditemukan partikel HIV yang bebas oleh karena semuanya terdapat di dalam sel. Hal lain
yang dapat diamati adalah dengan progresivitas penyakit terjadilah degenerasi sel dendrit
folikular sehingga hilanglah kemampuan organ limfoid untuk menjerat partikel HIV yang
berakibat meningkatnya HIV di dalam sirkulasi. Hal ini sudah tentu meningkatkan
penyebaran HIV ke dalam berbagai organ tubuh. 5

Gambar 2. Siklus replikasi HIV

2.4 PENGARUH HIV/AIDS PADA KEHAMILAN


Penularan HIV-1 dapat terjadi di dalam rahim (intrauterin), pada saat persalinan
(intrapartum), atau postnatal melalui menyusui. Kontribusi masing-masing transmisi dari
keseluruhan tampaknya belum menunjukkan bahwa penularan di dalam rahim jarang terjadi
6

AYU AKSARA - 07120100059


dan sebagian besar infeksi terjadi pada saat persalinan atau pada akhir kehamilan. Virus
terdeteksi dalam waktu 48 jam setelah lahir, keadaan ini dianggap bayi telah terinfeksi selama
kehamilan. Sedangkan infeksi intrapartum diasumsikan jika studi virus negatif selama
minggu pertama kehidupan, namun akan menjadi positif antara 7 dan 90 hari kemudian.6
2.4.1 Faktor Virus
Transmisi penularan virus HIV meningkat dengan adanya peningkatan viremia
ibu. Pengamatan klinis dengan pengembangan teknik baru untuk pengukuran virus,
seperti Polymerase kuantitatif Chain Reaction (PCR) DNA dan RNA, telah terbukti
bahwa adanya peningkatan viral load ibu dan risiko penularan dari ibu ke anak. Lebih
dari setengah perempuan dengan viral load > 50 000 RNA/ml pada saat persalinan
telah terbukti dapat menularkan virus. Viral load lokal dalam sekresi cairan servikovaginal dan dalam ASI juga penting dalam penentu risiko intrapartum dan menyusui. 6
Adanya penyakit menular seksual, peradangan, kekurangan respon imun lokal
dapat mempengaruhi virus. Transmisi pasca kelahiran dikaitkan dengan kehadiran
virus HIV-1 yang terinfeksi dalam ASI. Pemberian ART pada ibu selama kehamilan
diperkirakan dapat mengurangi penularan virus, ditandai dengan pengurangan viral
load. 6
2.4.2 Faktor Maternal
Pemaparan berulang terhadap strain virus yang berbeda melalui kehamilan
terjadi melalui hubungan seksual dan merupakan mekanisme yang bertanggung jawab
atas peningkatan yang diamati dalam setiap kasus HIV. 6
Penularan dari ibu ke anak lebih mungkin disebabkan oleh penurunan status
kekebalan ibu, tercermin dari jumlah CD4. Studi Kolaboratif Eropa (ECS)
menemukan bahwa ada peningkatan risiko penularan dari ibu ke anak jika CD4 ibu
jumlahnya berada di bawah 700/mm3. Transmisi meningkat hampir linear dengan
penurunan jumlah CD4. 6
Infeksi melalui menyusui dikaitkan dengan kurangnya IgM dan IgA dalam
ASI. Beberapa faktor perilaku telah dikaitkan dengan peningkatan penularan dari ibu
ke anak, termasuk merokok dan penggunaan obat-obatan. Hubungan seks selama
kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan dari ibu ke anak.
Penularan 30% ditunjukkan pada wanita yang memiliki lebih dari 80 episode
hubungan seks tanpa kondom selama kehamilan dibandingkan dengan mereka yang
terlindungi sebesar 9,1%. Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan konsentrasi
atau keanekaragaman jenis virus HIV-1, atau efek dari serviks atau peradangan vagina
atau lecet. Peningkatan terjadinya korioamnionitis sebelumnya telah dilaporkan
terkait dengan aktivitas seksual pada kehamilan. Adanya penyakit menular seksual
7

AYU AKSARA - 07120100059


selama kehamilan telah berkorelasi dengan peningkatan risiko transmisi, dan PMS
telah terbukti meningkatkan pelepasan virus melalui sekresi cairan serviko-vaginal. 6
Faktor plasenta telah terlibat dalam penularan virus dari ibu ke anak. Infeksi
plasenta dengan HIV-1 ditandai dengan adanya sel Hofbauer, dan sel-sel trofoblas
yang mengekspresikan CD4+ yang rentan terhadap infeksi.. Infeksi plasenta lain dan
kondisi non-menular seperti solusio plasenta juga telah terlibat. Merokok dan
penggunaan narkoba dapat meningkatkan transmisi melalui gangguan pada plasenta. 6
2.4.3 Faktor Obstetri
Mayoritas penularan dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan, faktor
obstetrik merupakan penentu penting penularan. Mekanisme yang terjadi pada saat
intrapartum adalah kontak kulit secara langsung, yaitu kontak antara selaput lendir
bayi dan ibu melalui sekresi cairan serviko-vaginal selama persalinan. HIV-1 yang
terdapat dalam cairan sekresi serviko-vaginal akan meningkat empat kali lipat selama
kehamilan. Dalam penelitian kohort menyatakan bahwa kelahiran prematur,
perdarahan intrapartum dan prosedur persalinan terkait dengan risiko penularan.
Faktor-faktor lain seperti tindakan episiotomi dan persalinan operatif telah terlibat
dalam beberapa studi. 6
Pecahnya ketuban dalam waktu yang lama telah dikaitkan dengan peningkatan
risiko penularan pada sejumlah penelitian dan merupakan faktor risiko yang penting.
Dalam studi di Amerika, durasi pecahnya ketuban lebih dari empat jam hampir dua
kali lipat terjadinya risiko infeksi. Persalinan melalui operasi sesaria elektif dapat
menyebabkan tingkat transmisi kurang dari 1%. 6
2.3.4 Faktor Janin
Faktor genetik janin mungkin memainkan peran dalam transmisi. Kesesuaian
HLA antara bayi dan ibu telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan. Telah
dilaporkan bahwa bayi prematur mempunyai tingkat penularan HIV-1 yang lebih
tinggi. Wanita dengan jumlah CD4 yang rendah lebih cenderung memiliki kelahiran
prematur, yang mungkin mempengaruhi temuan ini. Faktor janin lain mungkin
termasuk koinfeksi dengan patogen lain, nutrisi janin dan status kekebalan janin. 6
2.3.5 Faktor Bayi
Menyusui merupakan faktor yang sangat berperan dalam penularan virus dari
ibu ke anak, dimana lebih dari 30% infeksi HIV perinatal akan terjadi melalui ASI.
Faktor-faktor pelindung dalam ASI yaitu mucin, antibodi HIV, laktoferin, dan
sekretorik leukosit PI (SLPI). Sebuah meta analisis studi penularan melalui menyusui
menunjukkan risiko tambahan penularan melalui menyusui menjadi antara 7 hingga
22%, setara dengan dua kali lipat dari tingkat penularan. Sebuah studi Soweto telah
8

AYU AKSARA - 07120100059


menunjukkan tingkat transmisi 18% pada susu formula bayi dibandingkan dengan
42% pada ASI. Risiko penularan melalui ASI juga mungkin tergantung pada faktorfaktor lain, seperti stadium penyakit ibu, abses payudara, mastitis, puting yang retak,
kadar vitamin A pada ibu dan sariawan pada anak. 6
Risiko penularan postnatal juga mungkin berkaitan dengan faktor-faktor lain
pada bayi baru lahir. Masuknya HIV dapat terjadi melalui saluran gastrointestinal
setelah proses pencernaan virus dalam rahim atau saat lahir. Terdapat penurunan
keasaman, berkurangnya lendir, dan aktivitas IgA lebih rendah yang dapat
mempermudah penularan. Bayi baru lahir dengan sistem kekebalan tubuh yang
rendah yaitu kekurangan makrofag dan sel T menyebabkan mudah terjadinya infeksi.
VIRUS
MATERNAL

OBSTETRI

FETAL
BAYI

Genotip dan fenotip virus


Resistensi virus dan jumlah virus
Status imunologis ibu
Status nutrisi ibu
Faktor perilaku
Pengobatan ART
Pecah ketuban ( > 4 jam)
Cara persalinan
Perdarahan intrapartum
Prosedur obstetri
Prematuritas
Menyusui
Faktor tratktus gastrointestinal

2.5. DIAGNOSIS
Diagnosis pada infeksi HIV dilakukan dengan dua metode yaitu metode pemeriksaan
klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium meliputi uji imunologi dan
uji virologi.
2.5.1 Tanda dan Gejala Klinis
Banyak orang dengan HIV-positif tidak memperlihatkan gejala. Seringkali orang
hanya mulai merasa sakit ketika masuk pada periode AIDS (Acquired Immunodeficiency
Syndrome). Kadang-kadang orang hidup dengan HIV melalui periode sakit dan kemudian
merasa baik-baik saja.
2.5.1.1 Tanda dan Gejala Tahap Awal atau Fase Akut Infeksi HIV
Pada 2-4 minggu awal setelah terpapar HIV (sampai 3 bulan kemudian),
seseorang dapat mengalami penyakit akut, sering digambarkan sebagai flu berat.
Keadaan ini disebut sindrom retroviral akut (ARS), atau infeksi primer HIV, ini
merupakan respon alami tubuh terhadap infeksi HIV. Selama infeksi primer HIV,
terjadi peningkatan virus yang beredar dalam darah, yang berarti bahwa orang dapat
lebih mudah menularkan virus kepada orang lain. Gejalanya bisa berupa:7
9

AYU AKSARA - 07120100059

Demam
Ruam
Panas dingin
Berkeringat di malam hari
Nyeri otot
Sakit tenggorokan
Kelelahan
Pembengkakan kelenjar getah bening
Ulkus di mulut
Infeksi HIV akut terjadi segera setelah infeksi HIV, antibodi anti-HIV tidak

terdeteksi, sementara terdapat RNA HIV atau antigen p24. Infeksi baru terjadi pada
umumnya hingga 6 bulan setelah infeksi selama antibodi anti-HIV terdeteksi.
Sepanjang tahap ini merupakan infeksi awal HIV atau merujuk ke infeksi HIV akut
atau baru. 7
Sekitar 40% sampai 90% diperkirakan pasien dengan infeksi HIV akut akan
mengalami gejala sindrom retroviral akut, ditandai dengan demam, limfadenopati,
faringitis, ruam kulit, mialgia/arthralgia, dan gejala lainnya. Bagaimanapun juga
infeksi HIV sering tidak terkenali karena mirip dengan banyak infeksi virus lainnya,
seperti influenza dan infeksi mononukleosis. Infeksi akut juga dapat tanpa gejala. 7
Selama periode infeksi, sejumlah besar virus sedang diproduksi dalam tubuh.
Virus ini menggunakan sel CD4 untuk meniru dan menghancurkan sel. Oleh karena
jumlah CD4 dapat menurun dengan cepat, akhirnya respon imun memulai untuk
membawa virus dalam tubuh kembali ke suatu tingkat yang disebut set point virus,
yang merupakan tingkat relatif stabil virus dalam tubuh. Pada titik ini, jumlah CD4
mulai meningkat, tapi mungkin tidak kembali ke tingkat pra-infeksi. 7
2.5.1.2 Tanda dan Gejala Tahap Kronis atau Fase Laten Infeksi HIV
Setelah infeksi awal, virus menjadi kurang aktif dalam tubuh. Selama periode
ini, banyak orang tidak memiliki gejala infeksi HIV. Periode ini disebut periode kronis
atau fase laten. Periode ini bisa bertahan sampai 10 tahun atau lebih. 7
Selama fase ini, diproduksi virus HIV yang rendah, meskipun masih aktif.
Seseorang dapat bertahan dengan terdeteksinya viral load dan jumlah CD4 yang sehat
tanpa menggunakan obat selama tahun-tahun pada awal fase ini. Seseorang mungkin
tidak memiliki gejala atau infeksi oportunistik. Penting untuk diingat bahwa tubuh
masih bisa menularkan HIV kepada orang lain selama fase ini. Menjelang
pertengahan dan akhir periode ini, viral load mulai meningkat dan jumlah CD4 mulai
turun. Oleh karena itu tubuh akan mulai mengalami gejala konstitusional HIV sebagai
peningkatan virus dalam tubuh. 7
10

AYU AKSARA - 07120100059


2.5.1.3 AIDS
Seseorang akan didiagnosis AIDS karena jumlah sel CD4 mulai menurun di
bawah 200 sel/mm3 dalam darah. Jumlah CD4 normal adalah antara 500 dan 1.600
sel/mm3. Ini adalah tahap infeksi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh rusak
parah dan tubuh akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik. Tanpa pengobatan,
orang yang didiagnosis dengan AIDS biasanya bertahan sekitar 3 tahun. Setelah
seseorang memiliki infeksi oportunistik yang berbahaya, harapan hidup jatuh sekitar 1
tahun. 7
2.5.1.4 Klasifikasi HIV/AIDS Menurut WHO
Penentuan stadium berdasarkan penemuan klinis yang didapatkan dari
diagnosis, evaluasi dan pengelolaan HIV/AIDS yang tidak disertai hasil CD4.
Stadium klinis dikategorikan dari stadium 1 sampai 4. Tahap ini ditentukan oleh
kondisi klinis dan gejala tertentu dan tidak bergantung oleh jumlah CD4.

Tidak ada penurunan berat badan


Tidak ada gejala atau hanya limfadenopati generalisata
Penurunan berat badan 5 10%
ISPA bereulang, misalnya sinusitis atau otitis
Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
Luka di sekitar bibir (keratitis angularis)
Ulkus mulut berulang
Ruam kulit yang gatal (seboroik atau prurigo PPE (pruritic

papular eruption)
Penurunan berat badan > 10%
Diare, demam yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1

bulan
Kandidosis oral atau vaginal
Oral hairy leukoplakia
TB paru dalam 1 tahun terakhir
Infeksi bacterial yang berat (pneumoni, piomiositis, dll.)
TB limfadenopati
Gingvitis / periodontitis ulseratif nekrotikan akut
Anemia (Hb < 8 g/dL), neutropenia ( < 5000/mL), trombositopeni

Berat

(AIDS)

kronis ( < 50.000/mL)


Sindroma wasting HIV
Pneumonia pnemosistis, pneumonia bacterial yang berat berulang
Herpes simpleks ulseratif lebih dari 1 bulan
Kandidosis esophageal
TB ekstra paru
Sarkoma Kaposi

Stadium I

Asimtomatik

Stadium II

Sakit Ringan

Stadium III

Stadium IV

Sakit Sedang

Sakit

11

AYU AKSARA - 07120100059

Retinitis Cytomegalovirus
Abses otak Toksoplasmosis
Ensefalopati HIV
Meningitis Kriptokokus
Infeksi mikrobakteria non-TB meluas
Lekoensefalopati multifocal progresif (PML)
Peniciliosis, kriptosporidosis kronis, isoproriasis kronis, mikosis

meluas, histoplasmosis ekstra paru, cocidiodomikosis


Limfoma serebral atau B-cell, non-Hodgkin (gangguan fungsi
neurologis dan tidak sebab lain seringkali membaik dengan terapi

ARV)
Kanker serviks invasive
Leismaniasis atipik meluas
Gejala neuropati atau kardiomiopati terkait HIV

2.5.2 Pemeriksaan Diagnostik


Tes laboratorium diagnostik HIV harus dilakukan secara lengkap. Pengujian
asam nukleat HIV (NAT) untuk mendeteksi RNA HIV atau DNA HIV dianjurkan
untuk menetapkan diagnosis infeksi pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV1. Dokter harus menggunakan tes antibodi HIV dengan konfirmasi Western blot atau
uji imunofluoresensi secara tidak langsung untuk menetapkan diagnosis infeksi HIV
kronis. Tes skrining antibodi HIV termasuk enzim immunoassay (ELISA/EIA),
chemiluminescent immunoassay (CIAS), dan Rapid tes. 7
Pasien dengan hasil tes antibodi HIV negatif, harus melakukan pengulangan
tes selanjutnya pada 3 bulan kemudian. Bagi individu yang pada tes HIV mempunyai
hasil negatif pada 3 bulan tetapi terus terlibat dalam perilaku risiko tinggi, maka
dokter harus mendiskusikan strategi harm reduction yang berorientasi pada tujuan,
termasuk rujukan untuk layanan konseling, dan pengulangan tes HIV setidaknya
setiap 3 bulan. Dokter harus mengevaluasi pasien infeksi HIV akut, terutama ketika
mereka datang dengan demam, flu, atau seperti penyakit yang tidak dapat dijelaskan.
Termasuk mereka yang datang dengan kriteria dibawah ini: 7

Mereka yang melaporkan telah melakukan kontak seksual dengan pasangan


yang diketahui terinfeksi HIV atau pasangan yang tidak diketahui status

HIVnya terdahulu.
Pria yang melaporkan memiliki hubungan seksual yang tidak aman dengan

pria lain.
Mereka yang pernah melakukan penggunaan jarum suntik secara bergantian.
12

AYU AKSARA - 07120100059

Mereka yang datang dengan infeksi menular seksual yang baru di diagnosa.
Mereka yang datang dengan meningitis aseptik.
Pasien hamil atau menyusui.
Jika diduga infeksi HIV akut, maka dilakukan tes skrining serologis HIV yaitu

tes HIV RNA plasma assay. Tes RNA plasma assay dilakukan jika tes skrining
serologis adalah negatif. Dilakukan tes kombinasi generasi keempat yang merupakan
tes skrining serologis, jika: 7

Deteksi HIV RNA atau tidak adanya antibodi HIV harus dianggap sebagai
hasil positif awal, tes HIV RNA dari spesimen baru harus diulang segera untuk

mengkonfirmasi adanya HIV RNA.


Tes HIV RNA harus diulang untuk menyingkirkan hasil positif palsu ketika
hasil kuantitatif memberikan hasil yang rendah (<5.000 kopi / mL) dari tes
HIV RNA dilaporkan tidak adanya bukti serologis infeksi HIV.
Tes HIV serologis harus diulang 2 sampai 3 minggu setelah diagnosis. Tes

HIV RNA dilakukan untuk mengkonfirmasi infeksi. Namun, dokter tidak harus
menunggu hasil tes serologis untuk konfirmasi adanya infeksi HIV dan untuk
memulai terapi ARV. Ketika wanita hamil didiagnosis dengan infeksi HIV akut
melalui tes HIV RNA disarankan untuk segera memberikan terapi ARV. 7
Ketika dicurigai infeksi HIV akut, segera lakukan tes viral load HIV, diikuti
oleh tes antibodi. Kemudian dilakukan konfirmasi 3 sampai 6 minggu. Kebanyakan
tes HIV RNA akan mendeteksi infeksi HIV akut 7 sampai 14 hari setelah terpapar
HIV. 7
2.5.2.1 Tes Antibodi
Deteksi antibodi HIV adalah metode yang paling umum untuk
mendiagnosis infeksi HIV pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia >
18 bulan. Antibodi ini biasanya terdeteksi dalam waktu 3 sampai 6 minggu
setelah infeksi, dan hampir semua individu serokonversi terjadi pada minggu
ke-12. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, antibodi mungkin tidak
terdeteksi selama berbulan-bulan. Jika keadaan ini terjadi, maka tes harus
ditindaklanjuti dengan tes antibodi HIV pada 3 bulan kemudian untuk
mengidentifikasi infeksi HIV pada individu dengan eksposur baru. 7
Pengujian serologis saat ini dilakukan dengan alat tes skrining yang
sangat sensitif yaitu, ELISA / EIA, CIA, atau Rapid tes dan spesimen positif
awal ditindaklanjuti dengan uji konfirmasi yang sangat spesifik yaitu, Western
13

AYU AKSARA - 07120100059


Blot. Tes antibodi juga dapat dilakukan pada cairan oral dan sampel urin.
Istilah "reaktif," "tidak reaktif," dan "tak tentu" digunakan untuk
menggambarkan hasil pemeriksaan dari tes konfirmasi. 7

Rapid Tes
Merupakan tes serologik yang cepat untuk mendeteksi IgG antibodi
terhadap HIV-1. Prinsip pengujian berdasarkan aglutinasi partikel,
imunodot (dipstik), imunofiltrasi atau imunokromatografi. ELISA tidak
dapat digunakan untuk mengkonfirmasi hasil rapid tes dan semua hasil

rapid tes reaktif harus dikonfirmasi dengan Western blot atau IFA.
Western Blot
Digunakan untuk konfirmasi hasil reaktif ELISA atau hasil serologi
rapid tes sebagai hasil yang benar-benar positif. Uji Western blot
menemukan keberadaan antibodi yang melawan protein HIV-1 spesifik
(struktural dan enzimatik). Western blot dilakukan hanya sebagai
konfirmasi pada hasil skrining berulang (ELISA atau rapid tes). Hasil
negative Western blot menunjukkan bahwa hasil positif ELISA atau
rapid tes dinyatakan sebagai hasil positif palsu dan pasien tidak
mempunyai antibodi HIV-1. Hasil Western blot positif menunjukkan
keberadaan antibodi HIV-1 pada individu dengan usia lebih dari 18

bulan.
Penurunan Sistem Imun
Progresi infeksi HIV ditandai dengan penurunan CD4+ T limfosit,
sebagian besar sel target HIV pada manusia. Kecepatan penurunan
CD4 telah terbukti dapat dipakai sebagai petunjuk perkembangan
penyakit AIDS. Jumlah CD4 menurun secara bertahap selama
perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu
rata-rata 100 sel/tahun.

2.5.2.2 Tes Identifikasi Virus

DNA Polymerase Chain Reaction (PCR DNA)


Pemeriksaan PCR DNA digunakan hanya untuk mendeteksi infeksi
pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV-1. Semua PCR DNA
dengan hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes PCR DNA kedua
pada spesimen terpisah. Tes PCR DNA merupakan cara yang paling
terkenal untuk amplifikasi asam nukleat. Prosedur kualitatif ini sangat
14

AYU AKSARA - 07120100059


sensitif karena dapat mendeteksi antara 1 dan 10 salinan provirus DNA
HIV-1 per sampel. Karena sensitivitas yang sangat tinggi dalam
pengujian ini, sejumlah kecil masalah noise dalam lingkungan atau
kontaminasi selama proses di laboratorium dapat menyebabkan
amplifikasi produk yang dapat menghasilkan reaksi positif palsu.
Semua hasil awal PCR DNA yang bernilai positif memerlukan
konfirmasi dengan tes PCR DNA kedua pada spesimen terpisah. Saat
ini, penggunaan diagnostik PCR DNA HIV-1 hanya direkomendasikan
untuk mendeteksi infeksi pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi

HIV-1. 7
Tes HIV RNA Plasma
Merupakan tes viral load HIV yang harus digunakan bersamaan
dengan tes antibodi HIV-1, tes ini berguna untuk mendiagnosis infeksi
HIV akut atau primer. Riwayat alami terinfeksi HIV akut dapat
beraneka ragam sehingga antibodi mungkin tidak terbentuk pada saat
timbulnya gejala (2 sampai 6 minggu setelah paparan). Tes antibodi
dari pasien ini akan sering memberikan hasil negatif lemah atau positif
lemah pada pemeriksaan ELISA dan negatif pada pemeriksaan Western
Blot. Namun, tingkat viral load yang sangat tinggi selama infeksi akut,
biasanya mulai dari 100.000 sampai lebih dari 10 juta kopi / mL, dan
terdeteksi sekitar 2 minggu sebelum serokonversi. 7

2.6 PENATALAKSANAAN
2.6.1 Konseling dan Tes Antibodi HIV Terhadap Ibu
Petugas yang melakukan perawatan antenatal di Puskesmas maupun di tempat
perawatan antenatal lain sebaiknya mulai mengadakan pengamatan tentang
kemungkinan adanya ibu hamil yang berisiko untuk menularkan penyakit HIV kepada
bayinya. Anamnesis yang dapat dilakukan antara lain dengan menanyakan apakah ibu
pemakai obat terlarang, perokok, mengadakan hubungan seks bebas, dan lain-lainnya.
Bila ditemukan kasus tersebut di atas, harus dilakukan tindakan lebih lanjut. Risiko
penularan HIV secara vertikal dapat berkurang sampai 1-2% dengan melakukan tata
laksana yang baik pada ibu dan anak. Semua usaha yang akan dilakukan sangat
tergantung pada temuan pertama dari ibu-ibu yang berisiko.8
Oleh karena itu, semua ibu usia reproduksi yang akan hamil sebaiknya diberi
konseling HIV untuk mengetahui risiko, dan kalau bisa, sebaiknya semua ibu hamil
15

AYU AKSARA - 07120100059


disarankan untuk melakukan tes HIV-1 sebagai bagian dari perawatan antenatal, tanpa
memperhatikan faktor risiko dan prevalensi HIV-1 di masyarakat. Akan tetapi, ibu
hamil sering menolak untuk dilakukan tes HIV, karena belum ada peraturan yang
memaksa ibu hamil untuk di tes HIV. Cukup banyak ibu hamil sudah terinfeksi HIV-1
pada saat masa pancaroba dan dewasa muda yang justru pada masa ini mereka tidak
terjangkau oleh sistem pelayanan kesehatan. Padahal pada masa-masa ini banyak
terjadi penularan melalui hubungan seks bebas, dan juga banyak karena penggunaan
obat terlarang. Sebaiknya mereka harus diberi konseling dan disarankan untuk
dilakukan tes infeksi HIV-1. 8
Ibu yang sudah diketahui terinfeksi HIV sebelum hamil, perlu dilakukan
pemeriksaan untuk mengetahui jumlah virus di dalam plasma, jumlah sel T CD4+,
dan genotip virus. Juga perlu diketahui, apakah ibu tersebut sudah mendapat
antiretrovirus (ARV) atau belum. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai
bahan informasi kepada ibu tentang risiko penularan terhadap pasangan seks, bayi,
serta cara pencegahannya. Selanjutnya, ibu harus diberi penjelasan tentang faktor
risiko yang dapat mempertinggi penularan infeksi HIV-1 dari ibu ke bayi. 8
2.6.2 Pencatatan dan Pemantauan Ibu Hamil
Catatan medis yang lengkap sangat perlu untuk ibu hamil terinfeksi HIV
termasuk catatan tentang kebiasaan yang meningkatkan risiko dan keadaan sosial
yang lain, pemeriksaan fisik yang lengkap, serta pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui status virologi dan imunologi. Pada saat penderita datang pertama kali
harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini akan digunakan sebagai
data dasar untuk bahan banding dalam melihat perkembangan penyakit selanjutnya.
Pemeriksaan tersebut adalah darah lengkap, urinalisis, tes fungsi ginjal dan hati,
amilase, lipase, gula darah puasa, VDRL, gambaran serologis hepatitis B dan C,
subset sel T , dan jumlah salinan RNA HIV . 8
Selanjutnya, ibu harus selalu dipantau. Cara pemantauan ibu hamil terinfeksi
HIV sama dengan pemantauan ibu terinfeksi HIV tidak hamil. Pemeriksaan jumlah
sel T CD4+ dan kadar RNA HIV -1 harus dilakukan setiap trimester (yaitu,setiap 3-4
bulan) yang berguna untuk menentukan pemberian ARV dalam pengobatan penyakit
HIV pada ibu. Bila fasilitas pemeriksaan sel T CD4+ dan kadar HIV-1 tidak ada maka
dapat ditentukan berdasarkan kriteria gejala klinis yang muncul. 8
2.6.3 Pengobatan dan Profilaksis ARV pada Ibu yang Terinfeksi HIV
Untuk mencegah penularan vertikal dari ibu ke bayi maka ibu hamil terinfeksi
HIV harus mendapat pengobatan atau profilaksis antiretrovirus (ARV). Tujuan
pemberian ARV pada ibu hamil, di samping untuk mengobati ibu, juga untuk
16

AYU AKSARA - 07120100059


mengurangi risiko penularan perinatal kepada janin atau neonatus. Ternyata ibu
dengan jumlah virus sedikit di dalam plasma (<1000 salinan RNA/ml), akan
menularkan HIV ke bayi hanya 22%, sedangkan ibu dengan jumlah muatan virus
banyak menularkan infeksi HIV pada bayi sebanyak 60%. Jumlah virus dalam plasma
ibu masih merupakan faktor prediktor bebas yang paling kuat terjadinya penularan
perinatal. Karena itu, semua wanita hamil yang terinfeksi HIV harus diberi
pengobatan antiretrovirus (ARV) untuk mengurangi jumlah muatan virus. 8
Pemilihan antiretrovirus untuk ibu hamil terinfeksi HIV sama dengan ibu yang
tidak hamil. ARV cukup aman diberikan kepada ibu hamil. Obat ini tidak bersifat
teratogenik pada manusia, dan tidak bersifat lebih toksik pada ibu hamil dibandingkan
dengan ibu tidak hamil. Walaupun demikian, pemantauan jangka pendek dan jangka
panjang tentang toksisitas dari paparan sampai penggunaan kombinasi ARV untuk
janin di dalam kandungan dan pada bayi adalah sangat penting.
Rejimen kemoprofilaksis ZDV diberikan tunggal atau bersama dengan
antiretrovirus lain, mulai diberikan pada usia kehamilan 14 minggu dan jangan
ditunda. Karena dengan menunda maka efektivitasnya akan menurun. Hal ini harus
didiskusikan dan ditawarkan kepada seluruh ibu hamil yang terinfeksi agar risiko
penularan HIV perinatal berkurang. 8
Walaupun keputusan pemilihan dan penggunaan ARV berbeda-beda,
umumnya keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan: 8

Risiko penyakit berkembang pada ibu bila tanpa pengobatan


Manfaat untuk menurunkan jumlah virus, agar risiko penularan perinatal

berkurang
Kemungkinan terjadi toksisitas obat
Kemungkinan ada infeksi oleh virus yang sudah resisten obat, dan
Efek paparan obat jangka panjang pada bayi dalam kandungan.
Obat ARV dibagi menjadi 5 golongan yaitu:

Golongan Obat
Nucleoside
reverse
transcriptase
inhibitor (NRTI)

Non-nucleoside

Efek Obat
Menghambat perubahan genetic HIV dari

bentuk RNA menjadi bentuk DNA

Menghambat perubahan genetic HIV dari

Nama Obat
Lamivudine (3TC)
Abacavir (ABC)
Zidovudine (AZT/ZDV)
Stavudine (D4T)
Didanosine (DDI)
Emtricabine (FTC)
Tenofovir (TDF)
Delaviridine (DLV)
17

AYU AKSARA - 07120100059


bentuk RNA menjadi DNA dengan langkah

lain

Menghambat pematangan virus

Mencegah pengikatan HIV pada sel

Mencegah pemaduan kode gentik HIV dengan

kode genetic pada sel

reverse transcriptase
inhibitor (NNRTI)
Protease inhibitor (PI)

Fusion inhibitor
Integrase inhibitor

Evavirens (EFV)
Etravirine (ETV)
Nevirapine (NVP)
Rilpivirine (RPV)
Atazanavir (ATV)
Darunavir (DRV)
Fosamprenavir (FPV)
Indinavir (IDV)
Opinavir (LPV)
Nelfinavir (NFV)
Ritonavir (RTV)
Saquinavir (SQV)
Tipranavir (TPV)
Enfuvirtide (T-20)
Maraviroc (MVC)
Raltegravir (RGV)
Elvitegravir (EGV)

2.6.3.1 Waktu Pemberian ARV


Pemberian pengobatan secara dini dikaitkan dengan manfaat
pencegahan klinis HIV, keadaan ini dapat meningkatkan kelangsungan hidup
dan mengurangi kejadian infeksi HIV pada tingkat masyarakat. Pada pedoman
WHO 2013 merekomendasikan bahwa program HIV nasional yaitu
memberikan ART bagi semua orang dengan diagnosis HIV konfirmasi dengan
jumlah CD4 500 sel/mm3, Pedoman ini memberikan prioritas untuk memulai
ART bagi mereka dengan penyakit HIV berat atau jumlah CD4 350
cells/mm3. Hal ini juga dianjurkan untuk memulai ART pada orang dengan
penyakit TB aktif dan koinfeksi HBV dengan penyakit hati yang berat, semua
wanita hamil dan menyusui dengan HIV, semua anak dengan usia lima tahun
hidup dengan HIV dan semua orang dengan HIV dalam hubungan
serodiskordan, tanpa memandang jumlah CD4. 8
2.6.3.2 Pemberian ARV pada Ibu Hamil dan Menyusui
Rekomendasi Terbaru: 8

Semua wanita hamil dan menyusui dengan HIV harus memulai triple
ARV yang harus dipertahankan selaa terdapat risiko penularan dari ibu
ke anak. Wanita yang memenuhi kriteria diatas dan mendapatkan
pengobatan ARV harus dilanjutkan seumur hidup.

18

AYU AKSARA - 07120100059

Untuk alasan program dan operasional, semua wanita hamil dan


menyusui dengan HIV harus memulai ARV sebagai pengobatan

seumur hidup.
Di beberapa negara, pada wanita yang tidak memenuhi syarat untuk
pemberian ARV disarankan untuk menghentikan rejimen ARV selama
risiko penularan dari ibu ke anak risiko telah berhenti.

19

AYU AKSARA - 07120100059

Gambar 3 Rekomendasi Awal Pemberian ART pada Remaja, Orang Dewasa, Ibu Hamil
dan Menyusui dan Anak-anak

Obat ARV yang digunakan untuk wanita hamil dan menyusui dengan
HIV bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan mencegah anak terinfeksi.
Manfaat lainnya untuk mencegah penularan HIV secara seksual. Pedoman
WHO PMTCT 2010 merekomendasikan penggunaan ARV seumur hidup
20

AYU AKSARA - 07120100059


untuk perempuan yang memenuhi syarat dalam pengobatan (berdasarkan
kriteria kelayakan 2010, yaitu jumlah CD4 350 sel/mm3 atau berdasarkan
WHO stadium klinis penyakit 3 atau 4 ) dan pemberian ARV profilaksis untuk
PMTCT bagi wanita dengan HIV yang tidak memenuhi syarat untuk
mendapatkan pengobatan. Bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dua
rejimen profilaksis yang direkomendasikan adalah Opsi A, yaitu AZT untuk
ibu selama kehamilan, dan dosis tunggal NVP ditambah AZT dan 3TC untuk
ibu saat melahirkan dan dilanjutkan selama seminggu postpartum, dan "Opsi
B" yaitu (triple obat ARV) bagi ibu selama kehamilan dan selama menyusui.
Profilaksis direkomendasikan untuk dimulai sedini mungkin, yaitu pada usia
kehamilan 14 minggu, dan pilihan penggunaan profilaksis dilakukan selama
empat sampai enam minggu peripartum, yaitu diberikan obat NVP atau AZT
untuk bayi, terlepas dari apakah ibu sedang menyusui. 8
Pada tahun 2011, di Malawi dilaksanakan program pendekatan terbaru
untuk terapi ARV, yaitu pemberian terapi ARV seumur hidup bagi semua ibu
hamil dan menyusui dengan HIV tanpa melihat jumlah CD4 atau status klinis,
program

tersebut

dimasukkan

dalam

"Opsi

B+".

Pedoman

2013

merekomendasikan terapi ARV (triple ARV) untuk semua ibu hamil dan
menyusui dengan HIV selama periode risiko penularan dari ibu ke bayi dan
terapi ARV digunakan seumur hidup. Opsi A tidak lagi dianjurkan. 8

Gambar 4 Pilihan Pemberian Terapi ARV

21

AYU AKSARA - 07120100059


Rekomendasi terbaru lini pertama pemberian ART untuk ibu hamil dan
menyusui dan obat ARV pada bayi: 8

Dosis tetap kombinasi dari TDF + 3TC (atau FTC) + EFV yang
direkomendasikan sebagai lini pertama ART pada wanita hamil dan
menyusui adalah diberikan sekali sehari, termasuk wanita hamil pada
trimester pertama kehamilan dan wanita usia reproduksi. Rekomendasi ini
berlaku untuk pengobatan seumur hidup dan pemberian ART untuk

PMTCT dan kemudian dihentikan.


Bayi dari ibu yang mendapatkan ART dan sedang menyusui harus
mendapatkan terapi profilaksis dengan NVP harian selama enam minggu.
Jika bayi menerima makanan pengganti, mereka harus diberikan terapi
profilaksis harian selama empat sampai enam minggu dengan NVP harian
(atau AZT dua kali sehari). Profilaksis pada bayi harus dimulai pada saat
lahir atau ketika didapatkan HIV saat postpartum.

Gambar 5 Pemberian Lini Pertama ART untuk Remaja, Dewasa, Ibu Hamil dan
22
Menyusui dan Anak-anak

AYU AKSARA - 07120100059

Gambar 6 Algoritma Rekomendasi untuk Wanita Hamil dan Menyusui Menurut WHO
2013

23

AYU AKSARA - 07120100059

BAB III
KESIMPULAN

HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi
oportunistik dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer atau
sekunder atau infeksi kongenital melainkan oleh human immunodeficiency virus.Penyebab
dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti virus.Terdiri dari HIV-1
dan HIV-2.
Kita masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu-ke-bayi.
Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu, bayi
yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Ada beberapa faktor risiko yang
meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang paling mempengaruhi adalah viral
load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya. Namun risiko penularan lebih tinggi
pada saat persalinan, karena bayi tersentuh oleh darah dan cairan vagina ibu waktu melalui
saluran kelahiran. Jelas, jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga
merupakan salah satu faktor risiko untuk penularan. Juga intervensi untuk membantu
persalinan yang dapat melukai bayi, misalnya vakum, dapat meningkatkan risiko. Karena air
susu ibu (ASI) dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV, juga ada risiko penularan HIV
melalui menyusui.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis adalah yang dapt menemukan virus atau partikelnya dalam tubuh seorang bayi.
Meskipun beberapa tes dapat mendeteksi HIV di tubuh bayi pada usia dini, tes tersebut
(seperti tes PCR) belum secara luas tersedia di Indonesia. Adapun pemeriksaan penunjang
yang dilakukan adalah pemeriksaan serologi HIV. Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak
menggunakan metoda ELISA/EIA (enzyme linked immunoadsorbent assay). Pemeriksaan
ELISA harus menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 test yang dilakukan, kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metoda Western
Blot. ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik mutlak dilakukan
untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS.
Kita semua berhak untuk menikah dan mendapatkan keturunan. Menjadi HIVpositif
tidak mengurangi hak kita. Namun jelas tanggung jawab kita juga lebih besar. Kita pasti ingin
24

AYU AKSARA - 07120100059


supaya anak kita tidak terinfeksi HIV, dan ada beberapa cara untuk mengurangi risiko ini.
Selain itu, kita pasti ingin tetap sehat agar dapat membesarkan anak kita. Cara terbaik untuk
memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita tetap sehat adalah dengan memakai
terapi antiretroviral (ART). Perempuan terinfeksi HIV di seluruh dunia sudah memakai obat
antiretroviral (ARV) secara aman waktu hamil lebih dari sepuluh tahun. ART sudah
berdampak besar pada kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Oleh karena ini,
banyak dari mereka yang diberi semangat untuk mempertimbangkan mendapatkan anak

25

AYU AKSARA - 07120100059

DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro H, Saifuddin A B, Rachimhadhi T. Penyakit Menular. Dalam: Wiknjosastro
H, Saifuddin A B, Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo d/a Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2006. 556.
2. Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Human Imunodeficiency Virus.
Dalam: Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Buku Ajar Infeksi &
Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008. 243 247.
3. Cunningham F G, Gant N F, Leveno K J, Gilstrap L C, Hauth J C, Wenstrom, K D.
Penyakit Menular Seksual. Dalam: Cunningham F G, Gant N F, Leveno K J, Gilstrap L C,
Hauth J C, Wenstrom, K D. Obstetri Williams. Jakarta: EGC. 2006. 1677 1678.
4. Sundaru H, Djauzi S, Mahdi D, Sukmana N, Renggaris I, Karyadi TH. Infeksi
HIV/AIDS. Dalam: Rani AA, Soegondo S, Nazir AU, Wijaya IP, Nafrialdi, Mansjoer A
(eds). Panduan pelayanan medik perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia.
PB PAPDI, Jakarta;2006: 287.
5. Isselbacher, J Kurt. dkk. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Harrison. Editor: Ahmad
H. Asdie. Volume 4, Edisi 13. Jakarta: EGC, 2000.
6. Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. Kebijakan PMTCT Indonesia: PMTCT.net;
2008. h.1.
7. Samsuridjal D. Gejala-gejala infeksi HIV/AIDS. Dalam kumpulan Artikel dan Makalah
untuk Pelatihan Penatalaksanaan HIV/AIDS di RS provinsi sumatera Utara. Medan;
2002.
8. Anonim. Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi terbaru dari WHO. 2013.

26