Anda di halaman 1dari 16

ETIOLOGI MALOKLUSI

a. PENDAHULUAN
Kebanyakan dari maloklusi yang memerlukan perawatan ortodonsia disebabkan oleh karena dua
kemungkinan :
1. Perbedaan antara ukuran gigi-gigi dan ukuran rahang yang menampung gigi tersebut.
2. Pola tulang muka yang tidak selaras.
Untuk mempermudah mengetahui etiologi dari maloklusi dibuat klasifikasi dari penyebab
kelainan maloklusi tersebut. Terdapat dua pembagian pokok klasifikasi maloklusi :
1. Faktor Ekstrinsik atau disebut faktor sistemik atau faktor umum
2. Faktor Intrinsik atau faktor lokal
b. PENYAJIAN
1. Faktor Ekstrinsik
a.

Keturunan (hereditair)

b.

Kelainan bawaan (kongenital) misal : sumbing, tortikollis, kleidokranial diostosis,

cerebral plasi, sifilis dan sebagainya.


c.

Pengaruh lingkungan

Prenatal, misalnya : trauma, diet maternal, metabolisme maternal dan sebagainya.

Postnatal, misalnya : luka kelahiran, cerebal palsi, luka TMJ dan sebagainya.

d.

Predisposisi ganguan metabolisme dan penyakit

Gangguan keseimbangan endokrin

Gangguan metabolisme

Penyakit infeksi

e.

Kekurangan nutrisi atau gisi

f.

Kebiasaan jelek (bad habit) dan kelainan atau penyimpangan fungsi.

Cara menetek yang salah

Mengigit jari atau ibu jari

Menekan atau mengigit lidah

Mengigit bibir atau kuku

Cara penelanan yang salah

Kelainan bicara

Gangguan pernapasan (bernafas melalui mulut dan sebagainya)

Pembesaran tonsil dan adenoid

Psikkogeniktik dan bruksisem

g.

Posture tubuh

h.

Trauma dan kecelakaan

2. Faktor Intrinsik

a.

Kelainan jumlah gigi

b.

Kelainan ukuran gigi

c.

Kelainan bentuk

d.

Kelainan frenulum labii

e.

Prematur los

f.

Prolong retensi

g.

Kelambatan tumbuh gigi tetap

h.

Kelainan jalannya erupsi gigi

i.

Ankilosis

j.

Karies gigi

k.

Restorasi gigi yang tidak baik

FAKTOR EKSTRINSIK
a. Faktor keturunan atau genetik
Faktor keturunan atau genetik adalah sifat genetik yang diturunkan dari orang tuanya atau
generasi sebelumnya. Sebagai contoh adalah ciri-ciri khusus suatu ras atau bangsa misalnya
bentuk kepala atau profil muka sangat dipengaruhi oleh ras atau suku induk dari individu
tersebut yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Bangsa yang merupakan prcampuran dari
bermacam-macam ras atau suku akan dijumpai banyak maloklusi.

b. Kelainan bawaan
Kelainan bawaan kebanyakan sangat erat hubungannya dengan faktor keturunan misalnya
sumbing atau cleft : bibir sumbing atau hare lip, celah langit-langit (cleft palate).

Tortikolis : adanya kelainan dari otot-otot daerah leher sehingga tidak dapat tegak

mengkibatkan asimetri muka.

Kleidokranial disostosis

adalah tidak adanya tulang klavikula baik sebagian

atau seluruhnya, unlateral atau bilateral, keadaan ini diikuti dengan terlambatnya
penutupan sutura kepala, rahang atas retrusi dan rahang bawah protrusi.

Serebral palsi adalah adanya kelumpuhan atau gangguan koordinasi otot yang

disebabkan karena luka didalam kepala yang pada umumnya sebagai akibat kecelakaan
pada waktu kelahiran. Adanya gangguan fungsi pada otot-otot pengunyahan, penelanan,
pernafasan dan bicara akan mengakibatkan oklusi gigi tidak normal.

Sifilis : akibat penyakit sifilis yang diderita orang tua akan menyebabkan

terjadinya kelainan bentuk dan malposisi gigi dari bayi yang dilahirkan
c. Gangguan keseimbangan endokrine
Misal : gangguan parathyroid, adanya hipothiroid akan menyebabkan kritinisme dan resorpsi
yang tidak normal sehingga menyebabkan erupsi lambat dari gigi tetap.
d. Kekurangan nutrisi dan penyakit
Misal : Rickets (kekurangan vitamin D), Scorbut (kekurangan vitamin C), beri-beri
(kekurang vitamin B1) mengakibatkan maloklusi yang hebat.
Ciri-ciri faktor oklusi yang diturunkan (herediter)
1. Kedudukan dan penyesuaian antara otot-otot perioral dengan bentuk dan ukuran lidah
mempengaruhi keseimbangan oklusi (oklusi normal). Adanya penyesuaian antara bentuk
muka, bentuk dan ukuran rahang dan lidah.
2. Sifat-sifat mukosa, ukuran, bentuk lidah dan frenulum.
Sifat mukosa : keras, lunak, kencang atau lembek mempengaruhi erupsi gigi.
Frenulum labii dapat mengakibatkan celah gigi dan mempengaruhi kedudukan bibir.
Frenulum buccinator mengakibatkan rotasi gigi.

3. Ukuran gigi-gigi dan lebar serta penjang lengkung rahang dapat mengakibatkan gigi
berjejal atau bercelah. Misalnya makrodontia, mikrodomtia. Lebar dan panjang lengkung
rahang, penyesuaian antara rahang atas dan rahang bawah mengakibatkan terjadinya
mandibuler retrusi atau prognatism.

FAKTOR INTRINSIK ATAU LOKAL


a.

Kelainan jumlah gigi


1.

Super numerary gigi (gigi kelebihan)

Lebih banyak terjadi pada rahang atas, kedudukan dekat midline (garis mediana) sebelah
palatival gigi seri rahang atas disebut mesiodens. Bentuknya biasanya konus kadangkadang bersatu (fused) dengan gigi pertama kanan atau kiri, jumlahnya pada umumnya
sebuah tapi kadang-kadang sepasang. Gigi supernumery kadang-kadang tidak tumbuh
(terpendam atau impected) sehingga menghalangi tumbuhnya gigi tetap didekatnya atau
terjadi kesalahan letak (malposisi). Oleh karena itu pada penderita yang mengalami
kelambatan atau kelainan tumbuh dari gigi seri rahang atas perlu dilakukan Ro photo.
2.

Agenese dapat terjadi

bilateral atau unilateral atau kadang-kadang unilateral

dengan partial agenese pada sisi yang lain


Lebih banyak terjadi dari pada gigi supernumerary. Dapat terjadi pada rahang atas maupun
rahang bawah tetapi lebih sering pada rahang bawah. Urutan kemungkinan terjadi
kekurangan gigi adalah sebagai berikut :
-

Gigi seri II rahang atas ( I2 )

Gigi geraham kecil II rahang bawah ( P2 )

Gigi geraham III rahang atas dan rahang bawah

Gigi geraham kecil II ( P2 ) rahang bawah

Pada kelainan jumlah gigi kadang diikuti dengan adanya

kelainan bentuk atau ukuran gigi. Misalnya bentuk pasak dari gigi seri II (peg shaps
tooth).
b.

Kelainan ukuran gigi

Salah satu penyebab utama terjadinya malposisi adalah gigi sendiri yaitu ukuran gigi tidak
sesuai dengan ukuran rahang, ukuran gigi lebih lebar atau sempit dibandingkan dengan lebara
lengkung rahang sehingga meyebabkan crowded atau spasing.

c.

Kelainan bentuk gigi

Kelainan bentuk gigi yang banyak dijumpai adalah adanya peg teeth ( bentuk pasak) atau gigi
bersatu (fused). Juga perubahan bentuk gigi akibat proses atrisi (karena fungsi) besar
pengaruhnya terhadap terjadinya maloklusi, terutama pada gigi sulung (desidui).
d.

Premature los

Fungsi gigi sulung (desidui) adalah : pengunyahan, bicara, estetis


Juga yang terutama adalah menyediakan ruang untuk gigi tetap, membantu mempertahankan
tinggi oklusal gigi-gigi lawan (antagonis), membimbing erupsi gigi tetap dengan proses
resopsi.
Akibat premature los fungsi tersebut akan terganggu atau hilang sehingga dapat mengkibatkan
terjadinya malposisi atau maloklusi.
e.

Kelambatan tumbuh gigi tetap (delayed eruption)

Dapat disebabkan karena adanya gigi supernumerary, sisa akar gigi sulung atau karena
jaringan mucosa yang terlalu kuat atau keras sehingga perlu dilakukan eksisi. Kadang-kadang
hilang terlalu awal (premature los) gigi sulung akan mempercepat erupsinya gigi tetap
penggantinya, tetapi dapat pula menyebabkan terjadinya penulangan yang berlebihan
sehingga perlu pembukaan pada waktu gigi permanen akan erupsi, sehingga gigi tetap
penggantinya dapat dicegah.
f.

Kelainan jalannya erupsi gigi

Merupakan akibat lebih lanjut dari gangguan lain. Misalnya adanya pola herediter dari gigi
berjejal yang parah akibat tidak seimbangnya lebar dan panjang lengkung rahang dengan
elemen gigi yaitu adanya : persistensi atau retensi, Supernumerary, pengerasan tulang,
tekanan-tekanan mekanis : pencabutan, habit atau tekanan ortodonsi, faktor-faktor idiopatik
(tidak diketahui)
g.

Ankilosis

Ankilosis atau ankilosis sebagian sering terjadi pada umur 6 12 tahun. Ankilosis terjadi
oleh karena robeknya bagian dari membrana periodontal sehingga lapisan tulang bersatu
dengan laminadura dan cementum.

h.

Karies gigi

Adanya karies terutama pada bagian aproksimal dapat mengakibatkan terjadinya pemendekan
lengkung gigi sedang karies beroklusal mempengaruhi vertikal dimensi. Adanya keries gigi
pada gigi sulung mengakibatkan berkurangnya tekanan pengunyahan yang dilanjutkan ke
tulang rahang, dapat mengakibatkan rangsangan pertumbuhan rahang berkurang sehingga
pertumbuhan rahang kurang sempurna.
i.

Restorasi gigi yang tidak baik

Terutama tumpatan aproksimal dapat menyebabkan gigi elongasi, sedangkan tumpatan


oklusal dapat menyebabkan gigi ektrusi atau rotasi.

MALOKLUSI

MALOKLUSI
a.

Pengertian Maloklusi

Maloklusi adalah setiap keadan yang


menyimpang dari oklusi normal,
maloklusi juga diartikan sebagai
suatu
kelainan susunan gigi geligi atas dan
bawah
yang berhubungan dengan bentuk
rongga
mulut serta fungsi
Maloklusi dapat timbul kaena faktor keturunan dimana ada ketidaksesuaian besar rahang dengan
besar gigi-gigi di dalam mulut. Misalnya, ukuran rahang mengikuti garis keturunan Ibu, dimana
rahang berukuran kecil, sedangkan ukuran gigi mengikuti garis keturunan bapak yang giginya
lebar-lebar. Gigi-gigi tersebut tidak cukup letaknya di dlaam lengkung gigi.
Kekurangan gizi juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang
terganggu.
2.1.1 Macam-macam Maloklusi
Maloklusi dibagi 3:
Maloklusi tipe dental, terjadi jika perkembangan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang
kepala normal, tapi gigi-giginya mengalami penyimpangan
Maloklusi tipe skeletal, terjadi karena hubungan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang
kepala tidak harmonis, karena ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang
Maloklusi fungsional, terjadi karena adanya kelainan otot-otot, sehingga timbul gangguan saat
dipakai untuk mengunyah
2.2
Klasifikasi Maloklusi Menurut Angle
Kelas I Angle
Tonjol Mesiobukal M1 atas beroklusi dengan cekung bukal M1 bawah
Neutroklusi

kelas 1 angle

Kelas II Angle
Tonjol mesiobukal M1 atas berada lebih kemesial dari posisi kelas 1
telah melewati puncak tonjol mesiobukal M1 bawah
gigi M1 bawah lebih ke distal : Distoklusi

kelas II angle
Kelas III Angle
Tonjol mesiobukal M1 atas berada lebih Ke distal dari posisi klas 1
Telah melewati puncak tonjol distobukal M1 bawah
Gigi M1 bawah lebih ke mesial : Mesioklusi

kelas III angle


2.2.1 Kekurangan Klasifikasi Angle
Klasifikasi Angle ini masih merupakan system yang belum sempurna, masih terdapat
kekurangan-kekurangan pada system ini, karena Dr.Angle hanya berdasarkan hubungan gigi-gigi
saja dan oklusi antara lengkung gigi dirahang atas dan rahang bawah. Hingga sekarang
klasifikasi Dr.Angle masih banyak dipakai. Selain itu, system ini terbatas dan tidak dapat dipakai
untk segala keadaan sehingga dengan sstem ini kita tidak dapat memecahkan masalah tentang
hubungan gigi-gigi. Sebaba diagnose intra oral tidak mencukupi untuk menentukan suatu
anomaly, sebaiknya kita menggunakan ekstra oral dan diagnosis cephalometrik sebelum kita
memasukkan anomali itu kedalam suatu kelas. Apabila kita menggunakan M1 sebagai fixed
point dalam menentukan klasifikasi dalam maloklusi, maka kita akan kecewa, sebab suatu
hubungan mesio-distal yang normal dari molar-molar. Dan perlu ditekankan bahwa didalam
makhluk hidup tidak ada yang dinamakan fixed point, khususnya pada masa pertumbuhan. Kita
masih menggunakan klasifikasi dari Dr.Angle untuk menentukan maloklusi hanyalah untuk
penyederhanaan saja.
Apabila dengan system Angle kita mengalami kesulitan dalam menentukan klasifikasi dari
maloklusi, maka kita dapat pula menggunakan bantuan cara gnatognatik dan fotostatik. Bukan
suatu diagnosis, hanya suatu penggolongan.
2.2.2 Batasan untuk Klasifkasi Menurut Angle dalam penilaian maloklusi.
Penilaian masalah vertical dan transversal tidak termasuk ke dalam klasifikasi menurut Angle.
Overbite secara umum digunakan untuk mengukur hubungan oklusal vertical pada gerigi , tapi
tidak digunakan untuk pengukuran untuk hubungan vertical dari struktur facial skeletal.
Crossbites pada bidang transversal dapat berupa masalah sederhana seperti masalah antar 2
gigi atau yang kompleks yang melibatkan sebagian besar gigi posterior maxilla dan mandibula.
Klasifikasi Angle tidak menilai masalah-masalah seperti rotasi , crowding, dan spacing yang

terjadi pada gigi. Faktor lain seperti ketidakadaan gigi karena factor turunan atau impaksi gigi
yang membutuhkan perawatan orto , tidak berhubungan dengan klasifikasi menurut Angle.
Karena itulah, percobaan epidemiologi tidak dapat mengandalkan system klasifikasi Angle ,
karena factor penting seperti alignment gigi, overbite,overjet, dan crossbite tidak dapat diukur.
Pengetahuan tntang hubungan antara the angle classes dan alignment gigi, serta masalah
transversal dan vertical sangat berguna pada perlakuan kesehatan. Hubungan ini sangat
membantu untuk membedakan antara masalah maloklusi simple seperti alignment problem
pada maloklusi kelas 1 dengan maloklusi yang lebih kompleks seperti maloklusi divisi 1 kelas2
dengan crossbite posterior dan anterior.
Beberapa pendapat tentang klasifiksi Angle bersifat sangat subjektif untuk ukuran epidemiologi.
Pembahasan ini dapat berlaku saat investigator tidak menyusun batas objektif pada variable
seperti tooth crowding dan posisi anteroposterior gigi M1. Sebagai contoh, seseorang dengan
hubungan molar kelas 1 dapat memiliki oklusi yang ideal ,oklusi normal, dan maloklusi kelas 1.
Tiga grup ini dapat dibedakan dengan mendapatkan pengukuran secara objektif dari incisor yang
tidak beres dan penilaian oklusi ideal dengan skor 0 (alignment sempurna) , oklusi normal
dengan skor 1 dan skor untuk maloklusi tingkat 1 adalah >1. Terdapat kemiripan pada beberapa
hubungan M1 antara kelas 1 dan 3, dan kelas 1 dan 2.Hubungan molar kelas 1, 2, dan 3 dapat
dibedakan dengan dibuat sebuah jarak yang objektif, seperti 2mm mesial dan distal ke buccal
groove dari bagian bawah M1 .
2.3
Klasifikasi Incisivus
Kelas 1- Incisor edge pada incisive rahang bawah oklusi atau terletak di bawah cingulum plateau
incisive rahang atas

kelas I incisivus
Kelas 2- incisor edge pada incisive rahang bawah oklusi atau terletak pada bagian palatal sampai
cingulum plateau pada incisive rahang atas. Terbagi menjadi:

kelas II incisivus

Pembagian :

kelas II incisivus divisi 1


Pembagian 2: central incisor rahang atas mengalami retroklinasi

kelas II incisivus divisi 2


Kelas 3-incisor edge pada rahang bawah oklusi dengan atau terletak pada bagian anterior sampai
cingulum plateau pada incisive rahang bawah

kelas III incisivus


Pada oklusi yang normal adalah hubungan kelas 1 dan overjet sebesar 2-4mm. overbite terjadi
saat incisive rahang atas menutupi sampai 1/3 incisive bagian bawah pada saat oklusi.

2.4 Klasifikasi caninus:


Kelas 1- canine rahang atas beroklusi pada ruang buccal antara canine rahang bawah dan

premolar satu rahang bawah


Kelas II- canine rahang atas oklusi di anterior sampai ruang buccal di antara canine rahang
bawah dan premolar satu rahang bawah.

kelas II caninus
Kelas III- canine rahang atas oklusi di posterior sampai ruang buccal di antara canine rahang
bawah dan premolar satu rahang bawah.
2.5 Klasifikasi Skeletal

Hubungan rahang satu sama lain juga bervariasi pada ketiga bidang ruang, dan variasi pada
setiap bidang bisa mempengaruhi.
Hubungan posisional antero-posterior dari bagian basal rahang atas dan bawah, satu sama lain
dengan gigi-gigi berada dalam keadaan oklusi, disebut sebagai hubungan skeletal. Keadaan ini
kadang-kadang disebut juga sebagai hubungan basis gigi atau pola skeletal. Klasifikasi dari
hubungan skeletal sering digunakan, yaitu:
Klas 1 skeletal-dimana rahang berada pada hubungan antero-posterior yang ideal pada keadaan
oklusi.

kelas I skeletal
Klas 2 skeletal-dimana rahang bawah pada keadaan oklusi, terletak lebih ke belakang dalam
hubungannya dengan rahang atas, dibandingkan pada Klas 1 skeletal.

kelas II skeletal

klas 3 skeletal-dimana rahang bawah pada keadaan oklusi terletak lebih ke depan daripada kelas
1 skeletal.

kelas III skeletal


Contoh dari Klas 1, 2, dan 3 dapat dilihat pada Gambar 4.3. Tentu saja, di sini ada berbagai
macam kisaran keparahan Klas 2 dan Klas 3 skelatal.
Gambar 4. 4 memperlihatkan efek variasi dari hubungan skeletal terhadap oklusi gigi-gigi jika
posisi gigi pada rahang tetap konstan.
Variasi pada hubungan skeletal bisa disebabkan oleh:
Variasi ukuran rahang
Variasi posisi rahang dalam hubungannya dengan basis kranium
Jadi jika salah satu rahang terlalu besar atau kecil dalam hubungannya dengan rahang lainnya
pada dimensi anteroposterior, akan dapat terjadi perkembangan hubungan klas 2 atau 3 skeletal.
Selanjutnya, jika salah stau rahang terletak lebih ke belakang atau ke depan daripada yang lain
dalam hubungannya dengan basis kranium, juga bisa terbentuk hubungan kelas 2 atau 3 skeletal.
Ukuran relatif dari rahang pada dimensi lateral juga mempengaruhi oklusi gigi-gigi. Idealnya,
kedua rahang cocok ukurannya, sehingga oklusi dari gigi-gigi bukal pada relasi transversal
adalah tepat. Kadang-kadang sebuah rahang lebih lebar dari yang lain sedemikian rupa sehingga
menimbulkan oklusi dari gigi-gigi terpengaruh, menimbulkan gigitan terbalik bukal jika rahang
bawah lebih lebar, atau oklusi lingual dari gigi-gigi bawah jika rahang atas yang lebih lebatr.
Gigitan terbalik bukal bisa unilateral atau bilateral.
Hubungan vertikal dari rahang atas dan bawah juga mempengaruhi oklusi. Efeknya paling jelas
terlihat berupa variasi bentuk rahang bawah pada sudut gonium. Mandibula dengan sudut
gonium yang tinggi cenderung menimbulkan dimensi vertikal wajah yang lebih panjang, dan
pada kasus yang parah bisa menimbulkan gigitan terbuka anterior. Sebaliknya, mandibula
dengan sudut gonium yang rendah cenderung menimbulkan dimensi vertikal wajah yang lebih
pendek.

2.6
Klasifikasi Profitt-Ackerman
Di tahun 1960-an, Ackerman dan Profitt meresmikan sistem tambahan informal pada metode
Angle dengan mengidentifikasi lima karakteristik utama dari malocclusi untuk digambarkan
secara sistematis pada klasifikasi. Pendekatan tersebut menutupi kelemahan utama skema Angle.
Secara spesifik, ia (1) menyertakan evaluasi pemadatan dan asimetri pada gigi dan menyertakan
evaluasiincisor protrusion, (2) mengenali hubungan antara protrusion dan crowding, (3)
menyertakan bidang transversal dan vertikal dan juga anteroposterior, dan (4) menyertakan
informasi tentang proporsi rahang pada titik yang tepat, yaitu pada gambaran hubungan pada tiap
bidang. Pengalaman membuktikan bahwa minimal lima karakteristik harus dipertimbangkan
dalam evaluasi diagnostik lengkap.
Meskipun elemen-elemen skema Ackerman-Profitt biasanya tidak dikombinasikan seperti
awalnya, sekarang banyak digunakan klasifikasi dengan lima karakteristik utama. Namun
perubahan terpenting adalah penekanan yang lebih besar pada evaluasi proporsi jaringan lunak
pada wajah dan hubungan gigi pada mulut dan pipi, pada senyum dan juga saat istirahat.
Penambahan Mengenai 5 Karakteristik Sistem Klasifikasi
Dua hal yang secara seksama membantu menganalisis hal ini adalah: (1) mengevaluasi orientasi
dari garis estetik (esthetic line) dari pertumbuhan gigi yang berhubungan tetapi berbeda dengan
fungsi garis Angle pada oklusi dan (2) menambahkan mengenai 3 dekripsi dimensional dari
wajah dan hubungan gigi dengan karakteristik rotasi sekitar daerah dari setiap alat.
Estethic Line of Dentition
Pada analisis moderen, garis kurva yang lain mengkarakteistikkan kemunculan dari pertumbuhan
gigi sangatlah penting. Garis estetik ini mengikuti tepi muka dari maksila gigi anterior dan gigi
posterior. Orientasi dari garis ini, seperti pada kepala dan rahang yang dideskripsikan ketika
terjadi rotasi yang tepat (pitch) pada aksis, perputaran (roll), dan pergeseran (yaw) sebagai
tambahan pada bagian transverse, anteroposterior dan vertikal.
Ketepatan, Perputaran, Pergeseran dari dekripsi sitematik
Kunci dari aspek yang telah dijelaskan dari sistem klasifikasi di atas adalah penggabungan dari
analisis sistematik dari skeletal dan hubungan gigi pada tiga bagian, sehingga tingkat kesalahan
(deviasi) pada setiap arah dapat digabungkan ke dalam daftar masalah pasien. Deskripsi yang
lengkap membutuhkan pertimbangan dari kedua pergerakan secara translasi (ke depan/ke
belakang, ke atas/ke bawah, ke kiri/ke kanan) pada bidang tiga dimensi dan rotasi mengenai garis
tegak lurus pada aksis dengan posisi yang tepat, berputar atau bergeser (pitch, roll, dan yaw).
Pengenalan dari rotasi aksis ke dalam deskripsi yang sistematis dari ciri dentofacial secara
signifikan meningkatkan ketelitian dari pendeskripsian dan dengan demikian terjadi peningkatan
fasilitas terhadap setiap masalah yang ada.
Ketepatan, perputaran, dan pergeseran dari garis estetik pertumbuhan gigi berguna untuk
mengevaluasi hubungan gigi dengan jaringan lunak. Dari pandangan ini, rotasi ke atas/ ke bawah
yang berlebihan dari gigi dan cenderung pada bibir dan dagu dapat diperhatikan sebagai salah
satu aspek dari ketepatan. Ketepatan dari pertumbuhan gigi cenderung pada jaringan lunak di
daerah wajah dan harus dievaluasi dengan percobaan klinis. Ketepatan dari rahang dan gigi satu
dengan yang lainnya serta otot skeletal di wajah dapat diperhatikan secara klinis, tetapi harus
dipastikan dengan menggunakan cephalometric radiograph pada klasifikasi akhir, di mana
ketepatan dinyatakan sebagai orientasi/patokan dari palatum, oklusal, dan daerah mandibula ke
bagian horisontal yang benar.

Perputaran (roll) dideskripsikan sebagai perputaran/rotasi ke atas dan ke bawah pada satu sisi
atau sisi yang lain. Pada percobaan klinis, hal ini sangat penting untuk menghubungkan orientasi
transverse dari gigi (garis estetik) dengan kedua jaringan lunak dan skeleton pada wajah.
Hubungan dengan jaringan lunak dievaluasi secara klinis dengan garis intercommissure sebagai
referensi. Baik cetakan maupun foto dapat digunakan untuk menandai bagian oklusal (Fox
plane) yang akan memperlihatkan bagian frontal maupun oblique ketika bibir tersenyum.
Hubungan skeleton wajah memeperlihatkan keterkaitan dengan garis interokular.
Penggunaan Fox plane adalah dengan memberi tanda pada kemiringan dari bidang oklusi yang
dapat memepermudah untuk memperlihatkan hubungan gigi pada garis oklusal namun dengan
perlengkapan ini tidak mungkin untuk dapat melihat hubungan gigi dengan garis
intercommissure. Hal ini membuat dokter gigi dapat mendeteksi ketidaksesuaian antara sisi-sisi
dari gigi ke bibir yang berjarak 1mm sedangkan pada orang normal berjarak 3mm.
Rotasi dari rahang dan gigi satu dengan yang lainnya disekitar aksis vertikal memproduksi
skeletal atau ketidaksesuain garis tengah yang disebut dengan pergeseran. Pergerakan gigi yang
relatif ke rahang, atau pergerakan dari rahang bawah atau rahang atas yang mengambil gigi
dengan hal itu, dapat terjadi. Efek pergerakan, selain gigi dan atau penyimpangan yang skeletal
midline, biasanya terjadi secara unilateral antara hubungan Kelas II atau Kelas II molar.
Pergerakan yang ekstrim berhubungan dengan asmetris posterior crossbite, buccal pada satu sisi
dan pada bagian lingual yang lain. Pergerakan meninggalkan klasifikasi sebelumnya, tetapi pada
bagian transverse yang asimetris memudahkan pendeskripsisan hubungan yang akurat.
Penyimpangan midline gigi hanya dapat sebagai bayangan dari salah penempatan incisive karena
gigi yang tumpang tindih. Hal ini harus dibedakan dari ketidaksesuaian pergerakan dimana
seluruh lengkung gigi dapat berputar di satu sisi. Jika ketidaksesuaian pergerakan terjadi,
pertanyaan berikutnya adalah apakah rahang itu sendiri mengalami penyimpangan, atau apakah
gigi cenderung menyimpang ke arah rahang. Penyimpangan pergerakkan maksila dapat terjadi
namun jarang, suatu kasus asimetri dari mandibula terjadi pada 40% pasien dari pasien normal
mandibular pertumbuhan yang berlebihan, dan pada pasien ini giginya akan cenderung
mengalami penyimpangan dalam penyeimbangan arah ke rahang. Hal ini dapat terdeteksi dengan
pemeriksaan klinis dengan seksama karena mungkin tidak terlihat jelas dalam catatan diagnostik.
Meskipun merupakan tambahan kepada evaluasi diagnostik, ciri-ciri dentofacial harus dapat
menggambarkan lima karakteristik utama. Pemeriksaan lima karakteristik utama sesuai dengan
urutan akan mempermudah dalam mengorganisir informasi diagnostik untuk meyakinkan bahwa
tidak ada hal penting yang terlewatkan.
2.7
Maloklusi Dental dan Skeletal
Klasifikasi melalui 5 karakteristik ciri dentofacial
Penampakan dentofacial
Perbandingan frontal dan oblique facial, gigi anterior, orientasi terhadap garis estetik oklusi,
profil
Penjajaran (allignment)
Rapat/ terdapat ruang, membentuk lengkung, simetris, orientasi terhadap garis fungsional oklusi
Anteroposterior
Klasifikasi Angle, skeletal dan dental
Transverse
Crossbite, skeletal dan dental
Vertikal

Kedalaman menggigit, skeletal dan dental


2.8 Maloklusi dalam Sistem Stomatognatik
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi efek dari maloklusi terhadap kinerja
mastikasi. Pasien dewasa dengan maloklusi dental dan skeletal yang parah memiliki kemampuan
mastikasi terbatas dibandingkan dengan individu yang oklusinya normal.
Beberapa penelitian juga telah mengevaluasi efek dari maloklusi terhadap kinerja mastikasi pada
anak-anak. Manly and Hoffmeistr melaporkan bahwa anak-anak dengan maloklusi kelas I dan
kelas II memiliki kemampuan mastikasi yang sama dengan anak-anak oklusi normal, dan tidak
ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja mastikasinya, tetapi anak-anak dengan maloklusi
kelas III tidak memiliki kemampuan mastikasi sebaik anak-anak dengan maloklusi kelas I dan II.
Sebenarnya maloklusi tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menggigit dan
memroses makanan. Tetapi jika dibandingkan dengan maloklusi kelas I, kelas II, dan kelas III,
individu dengan oklusi normal dapat menghasilkan distribusi partikel yang lebih luas sehingga
mengidikasikan adanya kemampuan mastikasi yang lebih baik.
Setiap penyimpangan dari oklusi statis serta fungsional yang ideal akan bisa menimbulkan
kelainan pada komponen-komponen sistem pengungunyahan yang lain, khususnya sendi
temporomandibula dan otot-otot pengunyahan. Anggapan ini tidak benar sejauh menyangkut
oklusi alami. Banyak penelitian yang sudah dilakukan pada pasien dengan disfungsi sendi
temporomandibular dan otot. Kebanyakan peneliti sependapat bahwa masalah ini mempunyai
etiologi multifaktor, dengan maloklusi sebagai salah satu faktor di antaranya, tetapi tidak ada
faktor tunggal yang bisa menimbulkan masalah ini. Sebaliknya, penelitian-penelitian mengenai
maloklusi sebagian besar gagal untuk menemukan hubungan yang pasti antara tipe atau
keparahan suatu maloklusi dengan disfungsi temporomandibular. Meskipun demikian, disfungsi
oklusal bisa timbul akibat perawatan ortodonsi, bahkan dewasa ini makin tumbuh kesadaran
bahwa di samping upaya untuk mendapatkan oklusi statis yang ideal, perawatan ortodonsi juga
harus dilakukan dengan tujuan mendapatkan oklusi fungsional yang baik.