Anda di halaman 1dari 28

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT (SAPP)

1. Dasar Hukum
a. UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
b. UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
c. PMK No.171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat
d. PMK No.196/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain pada Bagian Anggaran Pembiayaan dan
Perhitungan
e. PMK No.191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah
f. PMK No.230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi Hibah
g. PMK No.233/PMK.05/2011 tentang Perubahan atas PMK No.171/PMK.05/2007 tentang
Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat

2. Pembagian Fungsi
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaraan Negara pasal 51 :

Menteri Keuangan selaku BUN menyelenggarakan akuntansi atas transaksi


keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk pembiayaan dan perhitungannya ->
(SA-BUN)

Menteri/ Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran menyelenggarakan


akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi
pendapatan dan belanja -> (SAI)

Akuntansi digunakan untuk menyusun LKPP sesuai dengan Standar Akuntansi


Pemerintahan

3. Mekanisme Pelaporan SAI


Laporan Keuangan BPKP dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI), yang terdiri
dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi Manajemen Akuntansi Barang
Milik Negara (SIMAK BMN) yang dilaporkan secara berjenjang dari tingkat terendah sampai
tingkat puncak, yaitu :

Tingkat UAKPA/ UAKPB

Tingkat UAPPA-W/UAPPB-W

Tingkat UAPPA-E1/UAPPB-E1

Tingkat UAPA/UAPB

Gambaran

Umum

Sistem

Akuntansi

Pemerintah Pusat
Dasar Hukum Penyelenggaraan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 8 menyatakan
bahwa dalam rangka pelaksanaan kekuasaan atas pengelolaan fiskal, Menteri Keuangan
mempunyai

tugas

antara

lain

menyusun

laporan

keuangan

yang

merupakan

pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.


Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 9 menyatakan
bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang
Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya mempunyai tugas antara lain menyusun
dan menyampaikan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya.

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 30 ayat (2)
menyatakan

bahwa

Presiden

menyampaikan

rancangan

undang-undang

tentang

pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang


meliputi Laporan Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan
lainnya.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 7 ayat (20)
menyatakan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang
menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan Negara.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 51 ayat (1)
menyatakan bahwa Menteri Keuangan/Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku
Bendahara Umum Negara/Daerah menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan,
aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 51 ayat (2)
menyatakan bahwa Menteri/pimpinan lembaga/kepala satuan kerja perangkat daerah
selaku Pengguna Anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset,
utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pendapatan dan belanja yang berada dalam
tanggung jawabnya.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 ayat (1)
menyatakan bahwa Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal menyusun Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat untuk disampaikan kepada Presiden dalam rangka memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 ayat (2)
menyatakan bahwa dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna
Barang menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan dilampiri laporan keuangan Badan
Layanan Umum pada kementerian negara/Lembaga masing-masing.
Penjelasan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, menyatakan bahwa agar informasi yang disampaikan dalam
laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi prinsip transparansi dan akuntabilitas, perlu
diselenggarakan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang terdiri dari Sistem

Akuntansi Pusat (SiAP) yang dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan dan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahun
Anggaran 2005 Pasal 17 ayat (1) menyatakan bahwa setelah Tahun Anggaran 2005
berakhir, Pemerintah

menyusun

Pertanggungjawaban

atas

Pelaksanaan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 berupa Laporan Keuangan.
Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan

dan Belanja Negara pada

Pasal

60 ayat

(1)

menyatakan bahwa

Menteri/Pimpinan Lembaga wajib menyelenggarakan pertanggungjawaban penggunaan


dana bagian anggaran yang dikuasainya berupa laporan realisasi anggaran dan neraca
Kementerian Negara/Lembaga bersangkutan kepada Presiden melalui Menteri Keuangan.
Keputusan Presiden tersebut telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 72 tahun 2004
tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Ruang Lingkup Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAAP) adalah serangkaian prosedur manual maupun
yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai
dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan Pemerintah Pusat. (Modul
Sistem Akuntansi Instansi : Hal. 1)
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAAP) berlaku untuk seluruh unit organisasi
Pemerintah Pusat dan unit akuntansi pada Pemerintah Daerah dalam rangka pelaksanaan
Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan serta pelaksanaan Anggaran Pembiayaan dan
Perhitungan.
(Modul Sistem Akuntansi Instansi : Hal. 4) Tidak termasuk dalam ruang lingkup SAPP
adalah
a. Pemerintah Daerah (sumber dananya berasal dari APBD)
b. Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah yang terdiri dari :
c. Perusahaan Perseroan, dan
d. Perusahaan Umum.
e. Bank Pemerintah dan Lembaga Keuangan Milik Pemerintah

Tujuan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat


(Modul Sistem Akuntansi Instansi : Hal. 2) Sistem Akuntansi Pemerintahan Pusat (SAPP)
bertujuan untuk :
a.

Menjaga

aset

Pemerintah

Pusat

dan

instansi-instansinya

melalui pencatatan,

pemprosesan dan pelaporan transaksi keuangan yang konsisten sesuai dengan standar dan
praktik akuntansi yan diterima secara umum;
b. Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang anggaran dan kegiatan
keuangan Pemerintah Pusat, baik secara nasional maupun instansi yang berguna sebagai
dasar penilaian kinerja, untuk menentukan ketaatan terhadap otorisasi anggaran dan untuk
tujuan akuntabilitas;
c. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang posisi keuangan suatu instansi dan
Pemerintah Pusat secara keseluruhan;
d. Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan, pengelolaan dan
pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah secara efisien.
Ciri-ciri Pokok Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
(Modul Sistem Akuntansi Instansi : Hal 3) Ciri-ciri pokok sistem akuntansi pemerintah pusat
antara

lain

a.

Basis

Akuntansi

Cash toward Accrual. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah
adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan
Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam
neraca. Basis Kas adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa
lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Basis akrual adalah basis
akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi atau
peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat kas ata setara kas diterima atau dibayar.
b.

Sistem

Pembukuan

Berpasangan

Sistem Pembukuan Berpasangan didasarkan atas persamaan dasar akuntasi yaitu : Aset =
Kewajiban + Ekuitas Dana. Setiap transaksi dibukukan dengan mendebet sebuah perkiraan
dan
c.

mengkredit

perkiraan
Dana

yang

terkait.
Tunggal

Kegiatan akuntansi yang mengacu kepada UU-APBN sebagai landasan operasional. Dana

tunggal

ini

merupakan

tempat

dipertanggungjawabkan
d.

dimana

Pendapatan

sebagai

dan

Belanja

Pemerintah

kesatuan

Desentralisasi

tunggal.

Pelaksanaan

Akuntansi

Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan di instansi dilaksanakan secara berjenjang


oleh

unit-unit

akuntansi

e.

baik

di

kantor

pusat

Bagan

instansi

maupun

di

Perkiraan

daerah.
Standar

SAPP menggunakan perkiraan standar yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang
berlaku

untuk

tujuan

f.

Standar

penganggaran
Akuntansi

maupun

akuntansi.

Pemerintah

(SAP)

SAPP mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dalam melakukan pengakuan,
penilaian, pencatatan, penyajian, dan pengungkapan terhadap transaksi keuangan dalam
rangka penyusunan laporan keuangan.
Kerangka Umum Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Laporan

Keuangan

Pemerintah

Pusat

disampaikan

kepada

DPR

sebagai

pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN. Sebelum disampaikan kepada DPR, laporan


keuangan

pemerintah

pusat

tersebut

diaudit

terlebih

dahulu

oleh

pihak

BPK.

(Modul Sistem Akuntansi Instansi : Hal 3) Laporan keuangan pemerintah pusat terdiri dari:
a.

Laporan

Realisasi

Anggaran

Konsolidasi Laporan Realisasi Anggaran dari seluruh Kementerian Negara/Lembaga yang


telah direkonsiliasi. Laporan ini menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer,
surplus/defisit dan pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran yang masingmasing

diperbandingkan

dengan

b.

anggaran

dalam

Neraca

satu

periode.
Pemerintah

Neraca Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi Neraca SAI dan Neraca SAKUN (Sistem
Akuntansi Kas Umum Negara). Laporan in menyajikan informasi posisi keuangan
pemerintah pusat berkaitan dengan aset, utang dan ekuitas dana pada tanggal/tahun
anggaran

tertentu.

c.

Laporan

Arus

Kas

Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi Laporan Arus Kas dari seluruh
Kanwil Ditjen PBN. Laporan ini menyajikan informasi arus masuk dan keluar kas selama
periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset non
keuangan,
d.

pembiayaan
Catatan

dan
atas

non
Laporan

anggaran
Keuangan

Merupakan penjelasan atau perincian atau analisis atas nilai suatu pos yang tersaji di dalam

Laporan Realisasi Anggaran, Neraca Pemerintah dan Laporan Arus Kas dalam rangka
pengungkapan yang memadai.
Klasifikasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
(Modul Sistem Akuntansi Instansi : Hal 5) Sistem akuntansi pemerintah pusat terdiri dari :
a.

Sistem

Akuntansi

Pusat

(SiAP);

Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan


(

Ditjen

PBN)

dan

terdiri

dari:

.i. SAKUN (Sistem Akuntansi Kas Umum Negara) yang menghasilkan Laporan Arus Kas dan
Neraca

Kas

Umum

Negara

(KUN);

.ii. SAU (Sistem Akuntansi Umum) yang menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran dan
Neraca

SAU.

Pengolahan data dalam rangka penyusunan laporan keuangan SAU dan SAKUN,
dilaksanakan
i.

oleh

Kantor

ii.

Kantor

iii.

unit-unit
Pelayanan

Wilayah

yang
(Kanwil

Ditjen

(SAI)

dari:
(KPPN);

Ditjen

PBN);

Perbendaharaan.

Akuntansi

Instansi

terdiri

Negara

Perbendaharaan

Pusat

Sistem

Sistem Akuntansi

PBN

Perbendaharaan

Ditjen

Kantor

b.

Ditjen

Instansi

dilaksanakan

oleh

kementerian

(SAI).
negara/lembaga.

Kementerian negara/lembaga melakukan pemrosesan data untuk menghasilkan Laporan


Keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan
Keuangan.
Dalam pelaksanaan SAI, kementerian negara/lembaga membentuk unit akuntansi keuangan
(SAK)

dan

Unit

unit

akuntansi

akuntansi

i.

keuangan

Unit

Akuntansi

Pengguna

Unit

Akuntansi

Pembantu

Pengguna

Anggaran

iii.

Unit

Akuntansi

Pembantu

Pengguna

Anggaran

Unit

Akuntansi

Unit

Kuasa

akuntansi

i.

Unit

Pengguna

Akuntansi

Pembantu

Pengguna

Barang

iii.

Unit

Akuntansi

Pembantu

Pengguna

Barang

c.

Akuntansi
Jenis-jenis

Kuasa

Pengguna
Laporan

(UAPA);
(UAPPA-E1);

Wilayah

(UAPPA-W);

Barang

dari:

Eselon1

Anggaran

Pengguna

Unit

Unit

terdiri

ii.
iv.

Anggaran

barang

Akuntansi

(SABMN).

terdiri

ii.
iv.

barang

(UAKPA)

;
dari:

(UAPB);

Eselon1

(UAPPB-E1);

Wilayah

(UAPPB-W);

Barang

(UAKPB).
Keuangan

Laporan-laporan keuangan yang dapat dihasilkan dari proses komputerisasi SAPP adalah:
(Modul Sistem Akuntansi Instansi )

Berikut ini contoh dari makalah sistem akuntansi pemerintahan pusat di Indonesia,
semoga bermanfaat...
Penerapan sistem akuntansi pemerintahan dari suatu negara akan sangat bergantung
kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada negara yang bersangkutan.
Ciri-ciri terpenting atau persyaratan dari sistem akuntansi pemerintah menurut PBB
dalam bukunya A Manual for Government Accounting, antara lain disebutkan bahwa:
1.

Sistem akuntansi pemerintah harus dirancang sesuai dengan konstitusi dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku pada suatu negara.


2.

Sistem akuntansi pemerintah harus dapat menyediakan informasi yang akuntabel

dan auditabel (artinya dapat dipertanggungjawabkan dan diaudit).


3. Sistem akuntansi pemerintah harus mampu menyediakan informasi keuangan yang
diperlukan untuk penyusunan rencana/program dan evaluasi pelaksanaan secara fisik
dan keuangan.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem akuntansi yang mengolah
semua transaksi keuangan, aset, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah pusat, yang
menghasilkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang tepat waktu dengan mutu
yang dapat diandalkan, baik yang diperlukan oleh badan-badan di luar pemerintah pusat
seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat manajemen pada pemerintah pusat.

A.

PERKEMBANGAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT


Modernisasi akuntansi keuangan di sektor pemerintah dimulai tahun 1982. Studi ini

dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akuntabilitas keunagan negara oleh Badan
Akuntansi Negara (BAKUN), yang merupakan unit eselon 1 Departemen Keuangan, melalui
Proyek Penyempurnaan Sistem Akuntansi dan Pengembangan Akuntansi (PPSAPA)
dengan bantuan pembiayaan dari Bank Dunia. latar belakang proyek ini bermula dari kondisi
sistem akuntansi dan pencatatan yang masih menggunakan single entry, sehingga terdapat
beberapa kelemahan yaitu:
1.

Proses penyusunan lambat karena disusun dari sub sistem yang terpisah-pisah

dan tidak terpadu


2.

Sistem single entry tidak lagi memadai menampung kompleksitas transaksi

keuangan pemerintah
3.

Sulit dilakukan rekonsiliasi

4.

Tidak mendasarkan pada Standar akuntansi Keuangan Pemerintah

5.

Tidak dapat menghasilkan neraca pemerintah

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 476/KMK.O1/1991 tentang Sistem


Akuntansi Pemerintah, sistem akuntansi pemerintah pusat telah dikembangkan dan
diimplementasikan secara bertahap. Tahap pertama dilaksanakan mulai tahun anggaran
1993/1994, dan diikuti dengan tahap-tahap berikutnya, dan yang pada tahun anggaran
1999/2000, implementasi SAPP telah mencakup seluruh Departemen/Lembaga di seluruh
propinsi.
Walaupun target jangka waktu bagi penerapan sistem ini adalah empat tahun,
dimulai untuk Anggaran 1993/1994, hingga tahun 2001 belum ada departemen/nondepartemen yang menerapkan SAPP secara penuh. Rendahnya penerapan sistem ini pada
tingkat daerah disebabkan, antara lain oleh kurangnya sosialisasi yang terencana,
kurangnya sumber daya manussia, resistensi dari pengguna sistem terhadap perubahan,
kurang koordinasi antarlembaga terkait, hingga UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang
Pemerintah Daerah dan UU Nomor

25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Daerah, yang memberikan keleluasaan daerah untuk mengelola
keuangannya. Belum adanya Standar Akuntansi Pemerintah untuk menyamakan persepai
para penyusun neraca juga menjadi kendala bagi penerapannya, sehingga penyusunan
neraca pusat dan proses konsolidasi dengan pemerintah pusat belum dapat dilakukan.
Berbagai perubahan dan penyempurnaan terus dilakukan oleh pernerintah dalam
rangka pengembangan sistem akuntansi pernerintah pusat. Pada tahun 2005, pemerintah
dalam hal ini Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan No 59/PMK.06/2005 tcntang
Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sesuai dengan
ketentuan Pasal 7 ayat (2) huruf o Undang-undang Nomor l Tahun 2004; tentang
Perbendaharaan Negara. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang
menetapkan sistem akutansi dan pelaporan keuangan negara sehingga perlu menetapkan
Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat.
Penerapan Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat (SAPP) adalah untuk unit-unit
organisasi pemerintah pusat yang keuangannya dikelola langsung oleh pemerintah pusat,
seperti lembaga tertinggi Negara (MPR), lembaga tinggi negara (DPR, DPA, MA),
departemen atau lembaga nondepartemen, Sedangkan SAPP tidak diterapkan untuk
pemerintah daerah, BUMN/BUMD bank pemerintah, dan lembaga keuangan milik
pemerintah.
Ciri-ciri Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat yaitu:
1. Sistem yang terpadu;
2. Akuntansi Anggaran;

3. Sistem tata buku berpasangan;


4. Basis kas untuk pendapatan dan belanja;
5. Standar dan prinsip akuntansi;
6. Desentralisasi pelaksanaan akuntansi;
7. Perkiraan standar yang seragam.
1. Sistem yang terpadu
Dalam penyusunan sistem digunakan pendekatan bahwa keseluruh Pernerintah Pusat
merupakan kesatuan akuntansi dan ekonomi tunggal. Presiden sebagai pengelola utama
dan DPR sebagai badan yang bertugas menelaah dan mengevaluasi pelaksanaannya.
Dengan dasar kesatuan tunggal maka sistem akuntansi dan pelaporan keuangan
dikembangkan dengan terpadu, yang terdiri dari berbagai subsistem. Subsistem-subsistem
ini masing-masing merupakan bagian yang integral dari sistem yang menyeluruh.
2. Akuntansi anggaran
Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara digunakan sebagai landasan
operasional keuangan tahunan Pemerintah dan dengan disahkannya UU-APBN maka
pelaksanaan anggaran dapat dilaksanakan. Untuk itu diperlukan akuntansi yang
membukukan anggaran serta realisasinya. dengan demikian pertanggung .jawaban dapat
cepat serta mudah dalam hal pengawasannya.
3. Sistem tata buku berpasangan
4. Basis kas untuk pendapatan dan belanja
Penggunaan basis kas ini sesuai dengan Undang-Undang Perbendarahaan Indonesia dan
Keppres Nomor 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
5. Standar dan prinsip akuntansi
Standar dan prinsip akuntansi adalah norma atau aturan dalam praktek yang dapat
diterima

oleh

profesi,

dunia

usaha,

dan

departemen/lembaga

pemerintah

yang

berkcpentingan dengan laporan keuangan.


6. Desentralisasi pelaksanaan akuntansi
Sistem dirancang agar pelaksanaan akuntansi dilakukan secara berjenjang dan dimulai
pada sumber data di daerah atau propinsi dan digunakan sebagai pedoman penyusunan
unit-unit akuntansi baik di tingkat wilayah maupun tingkat pusat.
7. Perkiraan standar yang seragam
Perkiraan yang digunakan unit akuntansi dan mata anggaran pada unit operasional
anggaran dan pelaksanaan anggaran sama, baik klasifikasi maupun istilahnya agar dapat
memastikan bahwa anggaran dan laporan realisasinya menggunakan istilah yang sama,
serta meningkatkan kemampuan sistem akuntansi untuk memberikan informasi/laporan
yang relevan, berarti, dan dapat diandalkan. Selain itu dapat digunakan untuk

memudahkan pengawasan atas ketaatan dengan pagu yang ditentukan dalam UU-APBN
dan dalam dokumen allotment (DIK/DIP/SKO), serta memungkinkan perbandingan data
laporan keuangan, baik dalam satu laporan maupun antarlaporan.
Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat, yang selanjutnya disebut SAPP, adalah serangkaian
prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data,
pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi
keuangan Pernerintah Pusat. SAPP terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) yang menghasilkan Laporan Keuangan Pernerintah Pusat. SiAP
memproses data transaksi Kas Umum Negara dan Akuntansi Umum, sedangkan SAI
memproses data transaksi keuangan dan barang yang dilaksanakan oleh kementerian
negara/ Icmhaga.

B.

KERANGKA UMUM SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT

Laporan

Keuangan

Pemerintah

Pusat

disampaikan

kepada

DPR

sebagai

pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN. Sebelum disampaikan kepada DPR, laporan


keuangan pemerintah pusat tersebut diaudit terlebih dahulu oleh pihak BPK. Laporan
keuangan pemerintah pusat terdiri dari:
a. Laporan Realisasi Anggaran
Konsolidasi Laporan Realisasi Anggaran dari seluruh Kementerian Negara/Lembaga yang
telah direkonsiliasi. Laporan ini menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer,
surplus/defisit dan pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran yang masingmasing diperbandingkan dengan anggaran dalam satu periode.
b. Neraca Pemerintah
Neraca Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi Neraca SAI dan Neraca SAKUN (Sistem
Akuntansi Kas Umum Negara). Laporan in menyajikan informasi posisi keuangan
pemerintah pusat berkaitan dengan aset, utang dan ekuitas dana pada tanggal/tahun
anggaran tertentu.
c. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi Laporan Arus Kas dari seluruh
Kanwil Ditjen PBN. Laporan ini menyajikan informasi arus masuk dan keluar kas selama
periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset non
keuangan, pembiayaan dan non anggaran
d. Catatan atas Laporan Keuangan

Merupakan penjelasan atau perincian atau analisis atas nilai suatu pos yang tersaji di dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca Pemerintah dan Laporan Arus Kas dalam rangka
pengungkapan yang memadai.
DASAR HUKUM SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT
Penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah pusat berbasis double entry memiliki dasar
hukum sebagai berikut:
1.

Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 2000, khususnya Bab VI tentang

Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran.


2.

Keputusan Menteri Keuangan No. 476/KMK.O1/1991 tanggal 24 Mei 1991 tentang

Sistem Akuntansi Pemerintah.


3.

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1135/KMK.O1/1992 tentang Orga nisasi dan Tata

Kerja Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN)


4.

Surat Menteri Keuangan RI No. S-984/KMK.018/1992 perihal Pengesahan Daftar

Perkiraan Sistem Akuntansi Pemerintah


C.

TUJUAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT


Tujuan SAPP adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang diperlukan dalam

hal perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pengendalian anggaran,


perumusan kebijaksanaan, pengambil keputusan dan penilaian kinerja pernerintah dan
sebagai upaya untuk mempercepat penyajian Perhitungan Anggaran Negara (PAN), serta
memudahkan pemeriksaan oleh aparat pengawasan fungsional secara efektif clan efisien.
Di samping itu, SAPP juga dirancang untuk mendukung transparansi Laporan
Keuangan Pemerintah dan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah dalam mencapai
pemerintahan yang baik, yang meliputi Akuntabilitas, Manajerial dan Transparansi.
Akuntabilitas

yang

dimaksud

adalah

meningkatkan

kualitas

akuntabilitas

(pertanggungjawaban) pemerintah atas pelaksanaan anggaran. Dalam hal manajerial


adalah

menyediakan

penganggaran,

informasi

pelaksanaan,

keuangan

yang

penatausahaan,

diperlukan

pengendalian

untuk

perencanaan,

anggaran,

perumusan

kebijaksanaan, pengambilan keputusan dan penilaian kinerja pemerintah. Sedangkan


menyangkut

transparansi

adalah

memberikan

keterbukaan

pelaksanaan

kegiatan

pemerintah kepada rakyat untuk mewujudkan pemerintahan yang baik.


D. KLASIFIKASI SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT
Sistem akuntansi pemerintah pusat terdiri dari :
a.

Sistem

Akuntansi

Pusat

(SiAP);

Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan


( Ditjen PBN) dan terdiri dari:

1)

SAKUN (Sistem Akuntansi Kas Umum Negara) yang menghasilkan Laporan Arus

Kas dan Neraca Kas Umum Negara (KUN). Pada tingkat wilayah, kedua subsistem di atas
dilaksanakan oieh Kanwil Dit perbendaharaan dan seluruh KPPN di wilayah kerjanya
selaku Kuasa BUN.
2)

SAU (Sistem Akuntansi Umum) yang menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran

dan

Neraca

SAU.

Pengolahan data dalam rangka penyusunan laporan keuangan SAU dan SAKUN,
dilaksanakan
i.
ii.

oleh

Kantor
Kantor

unit-unit

Ditjen

Pelayanan
Wilayah

PBN

yang

Perbendaharaan

Ditjen

Perbendaharaan

terdiri

Negara
(Kanwil

Ditjen

dari:
(KPPN);
PBN);

iii. Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.


b.

Sistem

Sistem Akuntansi

Instansi

(SAI)

Akuntansi

dilaksanakan

oleh

Instansi

kementerian

(SAI).

negara/lembaga.

Kementerian negara/lembaga melakukan pemrosesan data untuk menghasilkan Laporan


Keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan
Keuangan.
Dalam pelaksanaan SAI, kementerian negara/lembaga membentuk unit akuntansi keuangan
(SAK)

dan

Unit

unit

akuntansi

akuntansi
keuangan

barang

(SABMN).

terdiri

dari:

i. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA). Unit Akuntansi Pengguna Anggaran, yang
selanjutnya disebut UAPA, adalah unit akuntansi instansi pada tingkat Kementerian
Negara/ Lembaga (pengguna anggaran) yang melakukan kegiatan penggabungan
laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAPPA-E1 yang berada di bawahnya.
ii. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon1 (UAPPA-E1). Unit Akuntansi
Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I, yang selanjutnya disebut UAPPA-E1, adalah unit
akuntansi instansi yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan
maupun barang seluruh UAPPA-W yang berada di wilayah kerjanya serta UAKPA yang
langsung berada di bawahnya.
iii. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W). Unit Akuntansi
Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah, yang selanjutnya disebut UAPPA-W, adalah unit
akuntansi instansi yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan
maupun

barang

seluruh

UAKPA

yang

berada

dalam

wilayah

kerjanya.

iv. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Unit Akuntansi Kuasa Pengguna
Anggaran, yang selanjutnya disebut UAKPA, adalah unit akuntansi clan pelaporan tingkat
satuan kerja.
Unit akuntansi barang terdiri dari:

i. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB). Unit Akuntansi Pengguna Barang adalah unit
akuntansi

BMN

pada

tingkat

kementrian/lembaga

yang

melakukan

kegiatan

penggabungan laporan BMN dari UAPPB-E1 yang penanggung jawabnya adalah


Menteri/Pirnpinan

Lembaga.

ii. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon1 (UAPPB-E1).Unit Akuntansi


Pembantu Pengguna Barang Eselon I adalah unit akuntansi BMN pada tingkat Eselon1
yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-W dan UAKPB yang
langsung berada di bawahnya yang penanggung jawabnnya adalah pejabat Eselon I
iii. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W).Unit Akuntansi
Pembantu Pengguna Barang Wilayah adalah unit akuntansi BMN pada tingkat wilayah
yang ditetapkan sebagai UAPPB-W dan melakukan kegiatan penggabungan BMN dari
UAKPB. penanggung jawabnya adatah Kepala Kantor Kepala unit kerja. ditetapkan
sebagai

UAPPB-W.

iv. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB). Unit Akuntansi Kuasa Pengguna
Barang, yang selanjutnya disebut satuan kerja/kuasa pengguna barang yang memiliki
wewenang menggunakan BMN.
c.

Jenis-jenis

Laporan

Keuangan

Laporan-laporan keuangan yang dapat dihasilkan dari proses komputerisasi SAPP adalah

SISTEM

AKUNTANSI

PEMERINTAH

PUSAT
Posted by mit@ on 01.40

Penerapan sistem akuntansi pemerintahan dari suatu negara akan sangat bergantung
kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada negara yang bersangkutan.
Ciri-ciri terpenting atau persyaratan dari sistem akuntansi pemerintah menurut PBB
dalam bukunya AManual for Government Accounting, antara lain disebutkan bahwa:
1.

Sistem akuntansi pemerintah harus dirancang sesuai dengan konstitusi dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku pada suatu negara.


2.

Sistem akuntansi pemerintah harus dapat menyediakan informasi yang akuntabel

dan auditabel (artinya dapat dipertanggungjawabkan dan diaudit).


3.

Sistem akuntansi pemerintah harus mampu menyediakan informasi keuangan

yang diperlukan untuk penyusunan rencana/program dan evaluasi pelaksanaan secara


fisik dan keuangan.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem akuntansi yang mengolah
semua transaksi keuangan, aset, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah pusat, yang
menghasilkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang tepat waktu dengan mutu
yang dapat diandalkan, baik yang diperlukan oleh badan-badan di luar pemerintah pusat
seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat manajemen pada pemerintah pusat.
A. PERKEMBANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN DI INDONESIA
Perkembangan akuntansi pemerintahan di Indonesia sangat lamban dalam merespons
tuntutan perkembangan zaman. Akuntansi pemerintahan di Indonesia juga belum berperan
sebagai alat untuk meningkatkan kinerja birokrasi. pemerintah dalam memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat. Pada periode lama, output yang dihasilkan oleh
akuntansi pemerintahan di Indonesia sering tidak akurat, terlambat, dan tidak informatif,
sehingga tidak diandalkan dalam pengambilan keputusan. Malah, segala kekurangan ada
dalam akuntansi pemerintahan pada periode tersebut sering menjadi ladang yang subur
untuk tumbuhnya praktek-praktek KKN.

Namun demikian, pada dasawarsa terakhir yang berkulminasi diundangkannya tiga paket
keuangan negara, terdapat dorongan yang kuat untuk memperbaharui akuntansi
pemerintahan di Indonesia. Beberapa faktor penting yang menjadi pendorong tumbuh
pesatnya perkembanganakuntansi pemerintahan di Indonesia akhir-akhir ini antara lain,
adalah:

1.

Ditetapkannya tiga paket UU yang mengatur Keuangan Negara Pasal 32 (1)


UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan hahwa laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan keuangan yang disusun
dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.

2.

Ditetapkannya

UU

tentang

pemerintahan

daerah

dan

UU

tentang

penmbanganantara keuangan pemerintah pusat dan daerah. Pasal 184 ayat 1; UU


No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa laporan keuangan
disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah

3.

Profesi akuntansi. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah lama menginginkan


adanva standar akuntansi di sektor publik sebagai hal yang paralel dengan telah adanya
lebih dahulu standar akuntansi di sektor komersiil.

4.

Birokrasi. Pemerintahan merupakan penyusun dan sekaligus pemakai yang


berkepentingan akan adanya suatu akuntansi pemerintahan yang handal. Dengan
diundangkannya tiga paket keuangan negara mendorong birokrat secara serius
menyiapkan sumber daya, sarana, dan prasarananya.
5.

Masyarakat (LSM dan wakil rakyat). Masyarakat melaiui LSM dan wakil rakyat di

DPR, DPD, dan DPRD juga menaruh perhatian terhadap praktik good governance pada
pemerintahan di Indonesia. Ditetapkannya undang-undang yang menyangkut tiga paket
keuangan negara dan pemerintahan daerah merupakan cerminan dari kontribusi aktif para
wakil rakyat di DPR. Di samping itu, pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN/APBD
memerlukan persetujuan dari DPR/DPRD.
6.

Sektor Swasta. Perhatian dari sektor swasta mungkin tidak terlalu signifikan karena

akuntansi pemerintahan tidak terlalu berdampak secara langsung atas kegiatan dari sektor
swasta. Namun, penggunaan teknologi informasi dan pengembangan sistem informasi
berbasis akuntansi akan mendorong sebagian pelaku bisnis di sektor swasta untuk ikut
menekuninya.

7.

Akademisi. Akademisi terutama di sektor akuntansi menaruh perhatian yang


cukup besar atas perkembangan pengetahuan di bidang akuntansi pemerintahan.
Perhatian ini sangat erat kaitannya dengan penyiapan SDM yang menguasai kemampuan
di bidang akuntansi pemerintahan untuk memenuhi kebutuhan tenaga operasional dan
manajer akuntansi di pemerintahan. Beberapa anggota Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan saat ini berasal dari perguruan tinggi. Di samping itu, jurusan akuntansi
pada perguruan tinggi sudah lama memberikan kepada mahasiswa S1 mata kuliah
akuntansi pemerintahan. Beberapa perguruan tinggi juga sudah mulai menawarkan
spesialisasi akuntansi sektor publik pada program magister akuntansinya.
8.

Dunia Internasional (lender dan investor). World Bank, ADB, dan JBIC, merupakan

lembaga internasional (lender), yang ikut berkepentingan untuk berkembangnya akuntansi


sektor publik yang baik di Indonesia. Perkembangan akuntansi tadi diharapkan dapat
meningkatkan transparansi dan akuntanbilitas dari proyek pembangunan yang didanai
oleh lembaga tersebut. Lembaga ini, baik langsung maupun secara tidak langsung, ikut
berperanan dalam mendorong terwqjudnya standar akuntansi pemerintahan yang
menopang perubahan akuntansi pcnwrrntaiarn di Indonesia.

9.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). UU 17/2003 dan UU 15/2004 menyebutkan


bahwa Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN/APBD diperiksa oleh BPK. Untuk dapat
memberikan opininya, BPK memerlukan suatu standar akuntansi pemerintahan yang
diterima secara umum. Perhatian BPK terhadap pengembangan akuntansi pemerintahan
sangat besar antara lam ditandai dengan partisipasi dari lembaga ini dalam pembahasan
tiga paket UU dengan DPR. Selain itu, pasal 32 (2) UU No. 17 Tahun 200'
mengamanatkan bahwa standar akuntansi pemerintahan ditetapkm dengan Peraturan
Pemerintah setelah terlebih dahuiu mendapat pertimbangan dari BPK.
10. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. APIP yang meliputi Bawasda, Irjen, dan
BPKP merupakan auditor intern pemerintah yang berperan untuk membantu pimpinan
untuk terwujudnya sistem pengendalian intern yang baik sehingga dapat mendorong
peningkatan kinerja instansi pemerintah sekaligus mencegah praktek-praktek KKN.
Akuntansi pemerintahan sangat erat kaitan dan dampaknya terhadap sistem pengendalian
intern sehingga auditor intern mau tidak mau harus memiliki kemampuan di bidang
akuntansi pemerintahan sehingga dapat berperan untuk mendorong penerapan akutansi
pemerintahan yang sedang dikembangkan.
B. PENGEMBANGAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH

Pengembangan Sistem Akuntansi Pemerintah sudah beberapa kali dilakukan perubahan


dan

penyempurnaan

dengan

heberapa

kali

dikeluarkannya

peraturan-peraturan

pemerintah khususnya Keputusan Menteri Keuangan. Pengembangan dan implementasi


Sistem Akuntansi Pemerintah dapat kita telusuri sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri
Keuangan RI Nomar 476/ KMK.01/1991 pada tanggal 21 Mei 1991 tentang Sistem
Akuntansi Pemerintah, sampai pada tahun 2005, Menteri Keuangan mengeluarkan
Peraturan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Pusat.
Sejarah teori dan praktek akuntansi di Indonesia menunjukkan bahwa sebelum pendidikan
akuntansi diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1950an, pada masa itu hanya dikenal
tata buku warisan Belanda yang disebut sistem continental. Akibat perubahan hubungan
politik dengan Belanda, banyak guru besar berkebangsaan Belanda kembali ke negerinya.
Hal ini berakibat adanya perubahan kurikulum pendidikan akuntansi dan sistem
continental ke sistem Anglo Saxis (sistem Amerika). Perkembangan selanjutnya,
ternyata akuntansi keuangan untuk sektor swasta maju pesat, sedangkan akuntansi di
sektor pemerintah masih mengikuti konsep-konsep yang diterapkan sejak zaman Belanda.
Meskipun ada perbaikan dalam akuntansi pemerintah di atas, penyempurnaan yang
bersifat mendasar belum pernah dilakukan, sedangkan sistem tersebut mempunyai
kelemahan yaitu:

1.

Pada Pemerintah, sebagian aktivitasnya dibiayai melalui anggaran yang setiap


tahun ditetapkan dengan undang-undang. Pencatatan pelaksanaan anggaran tersebut
terpisah-pisah dan tidak terpadu karena berdasarkan sistem tata buku tunggal(single
entry bookeping). Akuntansi yang terpisah-pisah tersebut semakin mengakibatkan
pelaporannya

menjadi

tidak

bersesuaian

satu

dengan

yang

lain

karena

tidak

menggunakan bagan perkiraan yang standar.

2.

Pengelompokan perkiraan yang digunakan pemerintah dirancang hanya untuk


memantau dan melaporkan realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran saja; tidak
dirancang untuk menganalisis efektivitas pembiayaan suatu program atau memberikan
informasi yang cukup untuk pengendalian pengeluaran suatu program.

3.

Pada akuntansi aset tetap, kelemahannya selain tidak terintegrasi dengan


keuangannya juga dalam perencanaan maupun pelaksanaan anggaran tidak dibedakan
secara tegas antara belanja modal dan belanja operasional.

4.

Penyusunan pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan APBN yang


dituangkan dalam bentuk Perhitungan Anggaran Negara (PAN) semula berdasarkan
Sumbangan Perhitungan Anggaran/SPA dari seluruh Departemen atau Lembaga.

5.

Tidak ada standar dan prinsip akuntansi pemerintah untuk menjaga kewajaran dan
keseragarnan perlakuan akuntansi dan pelaporan keuangan pcrncrintah.

6.

Khusus dalam pengelolaan keuangan Negara, semakin tahun jumlah APBN yang
harus dikelola semakin hesar dan masalah yang harus ditangani pemerintahscmakin
kompleks dan beragam, sedangkan dalam sistem akuntansi pemerintahyang lama
tersebut terdapat banyak kelemahan. Hal ini berakibat pada praktek akuntasi pemerintah
yang belum mampu memberikan informasi yang sesuai dengan peningkatan transaksi
keuangan negara yang semakin kompleks. Praktek akuntansi pemerintah hanya dapat
memenuhi tujuan pertanggungjawaban, namun tidak menyediakan informasi yang cukup
untuk kepentingan manajerial.
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dilakukan pengembangan sistem akuntansi
pemerintah pusat dengan tujuan utama untuk:
a.

Merancang sistem akuntansi pemerintah yang baru,

b.

Menyusun standar dan prinsip akuntansi pemerintah, dan

c.

Membentuk pusat akuntansi di Departemen Keuangan

Dari tujuan utama di atas, penyusunan sistem akuntansi pemerintah pusat telah
dilaksanakan dan dilakukan implementasi secara bertahap. Penyusun standar dan prinsip
telah dilakukan seiring dengan penyusunan sistem akuntansi dan pembentukan pusat
akuntansi juga telah terselenggara dengan diresmikannya Badan Akuntansi Keuangan
Negara (BAKUN) pada Departemen Keuangan RI berdasarkan Keputusan Presiden
Nomor 35/1992 tanggal 7 Juli 1992. Untuk mengembangan usaha yang telah ada, maka
dikeluarkan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 295/KMK.012/2001 tentang Tata
Pelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga dan
diimplementasikan tahun 2001.

Meski sudah ada BAKUN, pelaksanaan implementasi sistem dimaksud bukannya tidak
mengalami hambatan. Karena tak ada kewajiban dari peraturan perundang-undangan,
maka sistem akuntansi pemerintah pusat, departemen dan nondepartemen masih

menggunakan

sistem

pembukuan

tunggal

yang

dalam

banyak

hal

sulit

dipertanggungjawabkan kualitasnya. Dalam dunia akuntansi, sistem yang lebih dapat


dipertanggungjawabkan adalah sistem akuntansi berpasangan yang mewajibkan semua
catatan akuntansi dimulai dengan teknologi penjurnalan debit-kredit selalu seimbang
berpasangan.

Patut dicatat, pada kebanyakan pandangan pakar akuntansi, sistem pembukuan tunggal
belum pantas disebut sebagai suatu akuntansi. Yang disebut laporan keuangan berfokus
hanya pada laporan realisasi anggaran semata.

Catatan pemerintah pusat tentang investasi jangka panjang dan utang dilakukan secara
tak terstruktur atau informal. Di dalamnya termasuk catatan pengeluaran yang
menggunakan dana luar negeri, seperti bantuan, hibah dan utang. Karena standar
akuntansi kepemerintahan RI saat itu belum ada, praktek akuntansi pemerintah juga
belum sesuai prinsip akuntansi kepemerintahan yang berlaku umum, kode rekening
akuntansi baku dan berlaku bagi semua departemen/lembaga belum ada, serta neraca tak
mungkin disusun apalagi diterbitkan.

Pada tahun 1995, sebagai lanjutan dari pinjaman Bank Dunia dikembangkan lagi sistem
akuntansi

pemerintah

berbasis

komputer

yang

open

system

melalui

Proyek

Pengembangan Sistem Akuntansi Pemerintah tahap II dan implementasinya dilaksanakan


secara bertahap. Pada tahun 1999 telah dilakukan implementasi sistem akuntansi instansi
untuk seluruh Departemen/lembaga yang dapat menghasilkan Laporan Realisasi
Anggaran dan Neraca. Namun demikian masih menghadapi masalah enforcement-nya,
karena pada saat itu masih belum ada ketentuan perundangan yang mewajibkan
penyusunan laporan keuangan yang Iengkap.

Paket Bantuan IMF tahun 1997/1998 berisi persyaratan good governance umumnya,
reformasi manajemen keuangan, lebih khusus lagi tentang reformasi akuntansi
pemerintahan. Reformasi akuntansi pemerintah mendapat momentumnya dengan
terbitnya UU Nomor 17 tahun 2003 tentang, Keuangan Negara yang mewajibkan adanya
suatu Standar Akuntansi Pemerintahansebagai basis penyusunan laporan keuangan

instansi pemerintah, diperkuat dengan UU Pemeriksaan Keuangan Negara. UU tersebut


menyatakan kebutuhan mendesak akan Standar Akuntansi sebagai basis penyusunan dan
audit laporan keuangan instansi pemerintah oleh BPK. Tanpa standar BPK tidak dapat
menerbitkan opini audit.

UU Perbedaharaan Negara Nomor 1 tahun 2004 mempunyai implikasi jadwal kerja amat
ketat dan bersanksi. Bentuk pertanggungjawaban APBN/APBD adalah laporan keuangan
yang harus sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Agar dalam penyusunan
standar akuntansi pemerintahan objektif maka dalam tahun 2002 (sebelum disahkan UU
Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara) menteri keuangan membentuk Komite
Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Pernerintah daerah.

Menurut ketentuan UU No. 1 Tahun 2004 Menteri atau pimpinan lembaga selaku
pengguna anggaran menyusun laporan keuangan dan disampaikan paling lambat 2 bulan
setelah tahun anggaran berakhir. Menteri Keuangan menyusun laporan keuangan
pmerintah pusat untuk disampaikan kepada presiden dalam tiga bulan setelah tahun
anggaran yang lalu berakhir setidak-tidaknya meliputi Laporan realisasi APBN. neraca,
laporan arus kas dan catatan atas lapuran keuangan yang dilampiri laporan keuangan
perusahaan negara. Selanjutnya, BPK membuat laporan hasil pemeriksaan atas laporan
keuangan dilengkapi dengan opini seperti umumnya dilakukan auditor eksternal

C.

DASAR HUKUM SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT

Penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah pusat berbasis double entry memiliki dasar
hukum sebagai berikut:
1.

Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 2000, khususnya Bab VI tentang

Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran.


2.

Keputusan Menteri Keuangan No. 476/KMK.O1/1991 tanggal 24 Mei 1991 tentang

Sistem Akuntansi Pemerintah.


3.

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1135/KMK.O1/1992 tentang Orga nisasi dan Tata

Kerja Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN)

4.

Surat Menteri Keuangan RI No. S-984/KMK.018/1992 perihal Pengesahan Daftar

Perkiraan Sistem Akuntansi Pemerintah


D. TUJUAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT
Tujuan SAPP adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang diperlukan dalam
hal perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pengendalian anggaran,
perumusan kebijaksanaan, pengambil keputusan dan penilaian kinerja pernerintah dan
sebagai upaya untuk mempercepat penyajian Perhitungan Anggaran Negara (PAN), serta
memudahkan pemeriksaan oleh aparat pengawasan fungsional secara efektif clan efisien.
Di samping itu, SAPP juga dirancang untuk mendukung transparansi Laporan
Keuangan Pemerintah dan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah dalam mencapai
pemerintahan yang baik, yang meliputi Akuntabilitas, Manajerial dan Transparansi.
Akuntabilitas yang dimaksud adalah meningkatkan kualitas akuntabilitas
(pertanggungjawaban) pemerintah atas pelaksanaan anggaran. Dalam hal manajerial
adalah

menyediakan

penganggaran,

informasi

pelaksanaan,

keuangan

yang

penatausahaan,

diperlukan

pengendalian

untuk

perencanaan,

anggaran,

perumusan

kebijaksanaan, pengambilan keputusan dan penilaian kinerja pemerintah. Sedangkan


menyangkut

transparansi

adalah

memberikan

keterbukaan

pelaksanaan

kegiatan

pemerintah kepada rakyat untuk mewujudkan pemerintahan yang baik.


E. PERKEMBANGAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 476/KMK.O1/1991 tentang
Sistem Akuntansi Pemerintah, sistem akuntansi pemerintah pusat telah dikembangkan dan
diimplementasikan secara bertahap. Tahap pertama dilaksanakan mulai tahun anggaran
1993/1994, dan diikuti dengan tahap-tahap berikutnya, dan yang pada tahun anggaran
1999/2000, implementasi SAPP telah mencakup seluruh Departemen/Lembaga di seluruh
propinsi.
Berbagai perubahan dan penyempurnaan terus dilakukan oleh pernerintah dalam
rangka pengembangan sistem akuntansi pernerintah pusat. Pada tahun 2005, pemerintah
dalam hal ini Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan No 59/PMK.06/2005 tcntang
Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sesuai dengan
ketentuan Pasal 7 ayat (2) huruf o Undang-undang Nomor l Tahun 2004; tentang
Perbendaharaan Negara. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang
menetapkan sistem akutansi dan pelaporan keuangan negara sehingga perlu menetapkan

Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan


Pemerintah Pusat.
Penerapan Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat (SAPP) adalah untuk unit-unit
organisasi pemerintah pusat yang keuangannya dikelola langsung oleh pemerintah pusat,
seperti lembaga tertinggi Negara (MPR), lembaga tinggi negara (DPR, DPA, MA),
departemen atau lembaga nondepartemen, Sedangkan SAPP tidak diterapkan untuk
pemerintah daerah, BUMN/BUMD bank pemerintah, dan lembaga keuangan milik
pemerintah.
Terdapat tujuh ciri-ciri Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat yaitu:
1. Sistem yang terpadu;
2. Akuntansi Anggaran;
3. Sistem tata buku berpasangan;
4. Basis kas untuk pendapatan dan belanja;
5. Standar dan prinsip akuntansi;
6. Desentralisasi pelaksanaan akuntansi;
7. Perkiraan standar yang seragam.
1. Sistem yang terpadu
Dalam penyusunan sistem digunakan pendekatan bahwa keseluruh Pernerintah Pusat
merupakan kesatuan akuntansi dan ekonomi tunggal. Presiden sebagai pengelola utama
dan DPR sebagai badan yang bertugas menelaah dan mengevaluasi pelaksanaannya.
Dengan dasar kesatuan tunggal maka sistem akuntansi dan pelaporan keuangan
dikembangkan dengan terpadu, yang terdiri dari berbagai subsistem. Subsistem-subsistem
ini masing-masing merupakan bagian yang integral dari sistem yang menyeluruh.
2. Akuntansi anggaran
Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara digunakan sebagai landasan
operasional keuangan tahunan Pemerintah dan dengan disahkannya UU-APBN maka
pelaksanaan anggaran dapat dilaksanakan. Untuk itu diperlukan akuntansi yang
membukukan anggaran serta realisasinya. dengan demikian pertanggung .jawaban dapat
cepat serta mudah dalam hal pengawasannya.

3. Sistem tata buku berpasangan


4. Basis kas untuk pendapatan dan belanja
Penggunaan basis kas ini sesuai dengan Undang-Undang Perbendarahaan Indonesia dan
Keppres Nomor 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
5. Standar dan prinsip akuntansi
Standar dan prinsip akuntansi adalah norma atau aturan dalam praktek yang dapat
diterima

oleh

profesi,

dunia

usaha,

dan

departemen/lembaga

pemerintah

yang

berkcpentingan dengan laporan keuangan.


6. Desentralisasi pelaksanaan akuntansi
Sistem dirancang agar pelaksanaan akuntansi dilakukan secara berjenjang dan dimulai
pada sumber data di daerah atau propinsi dan digunakan sebagai pedoman penyusunan
unit-unit akuntansi baik di tingkat wilayah maupun tingkat pusat.
7. Perkiraan standar yang seragam
Perkiraan yang digunakan unit akuntansi dan mata anggaran pada unit operasional
anggaran dan pelaksanaan anggaran sama, baik klasifikasi maupun istilahnya agar dapat
memastikan bahwa anggaran dan laporan realisasinya menggunakan istilah yang sama,
serta meningkatkan kemampuan sistem akuntansi untuk memberikan informasi/laporan
yang relevan, berarti, dan dapat diandalkan. Selain itu dapat digunakan untuk
memudahkan pengawasan atas ketaatan dengan pagu yang ditentukan dalam UU-APBN
dan dalam dokumen allotment (DIK/DIP/SKO), serta memungkinkan perbandingan data
laporan keuangan, baik dalam satu laporan maupun antarlaporan.
Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat, yang selanjutnya disebut SAPP, adalah serangkaian
prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data,
pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi
keuangan Pernerintah Pusat. SAPP terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) yang menghasilkan Laporan Keuangan Pernerintah Pusat. SiAP
memproses data transaksi Kas Umum Negara dan Akuntansi Umum, sedangkan SAI
memproses data transaksi keuangan dan barang yang dilaksanakan oleh kementerian
negara/ Icmhaga.
F. RUANG LINGKUP SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH

Sistem Akuntansi Pemerintah terbagi menjadi dua sistem utama yang mempunyai data
dan informasi akuntansi timbal halik yaitu:
1.

Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) yang dilaksanakan oleh Departemen Keuangan cq

Ditjen Perbendaharaan. Subsistem Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) terdiri dari:

a.

Sistem Akuntansi Umum (SAU). Sistem ini menghasilkan Laporan Realisasi

Anggaran dan Neraca SAU.

b.

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN).Sistem ini menghasilkan Laporan

Arus Kas dan Neraca KUN. Pada tingkat wilayah, kedua subsistem di atas dilaksanakan
oieh Kanwil Dit perbendaharaan dan seluruh KPPN di wilayah kerjanya selaku Kuasa
BUN.
2. Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh kementerian/lembaga dan
menghasilkan Laporan Barang Milik Negara. Subsistem Akuntansi Instansi (SAI) terdiri
dari:
a.

Sistem Akuntansi Keuangan (SAK). Sistem ini menghasilkan Laparan Keuangan

Instansi.

b.

Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN).

1. Sistem Akuntansi Pusat


Sistem Akuntasi Pusat, yang selanjutnya disebut SiAP, adalah serangkaian prosedur
manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan,
pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada
Kementerian Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
SiAP terdiri dart SAKUN dan SAU.

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara, yang

selanjutnya disebut SAKUN, adalah sub-SiAP yang menghasilkan Laporan Arus Kas dan
Neraca Kas Umum Negara yang selanjutnya disebut Neraca KUN. Sistern Akuntansi

Umum, yang selanjutnya disebut SAU adalah sub-SiAP yang menghasilkan Laporan
Realisasi Anggaran Pemerintah Pusat dan Neraca.
Dalam rangka pelaksanaan SiAP sebagaimana dimaksud:
a. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) memproses transaksi penerimaan
dan pengeltaaran:
b. KPPN Khusus memproses data transaksi pengcluaran yang, berasal dari Bantuan Luar
Negeri (BLN );
c. Direktorat Pengelolaan Kas Negara (DPKN) mernproses data transaksi penerimaan
dan pengeluaran Bandahara Umurn Negara kantor pusat; dan
d. Direktorat informasi dan Akuntansi memproses data APBM serta melakukan verifikasi
dan akuntuns,: untuk data transaksi penerimaan dan pengeluaran BUN melalui kantor
pusat
2. Sistem Akuntansi Instansi
Sistem Akuntansi Instansi, yang selanjutnya disebut SAI, adalah serangkaian prosedur
manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan,
pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada
Kementerian

Negara/Lembaga.

Setiap

Kementerian

Negara/Lembaga

wajib

menyelenggarakan SAI untuk menghasilkan laporan keuangan termasuk Bagian Anggaran


Pembiayaan dan Perhitungan. Untuk melaksanakan SAI sebagaimana dimaksud dibentuk
Unit Akuntansi Keuangan terdiri dari:
a. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran, yang
selanjutnya disebut UAPA, adalah unit akuntansi instansi pada tingkat Kementerian
Negara/ Lembaga (pengguna anggaran) yang melakukan kegiatan penggabungan
laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAPPA-E1 yang berada di bawahnya.
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I Unit Akuntansi Pembantu
Pengguna Anggaran Eselon I, yang selanjutnya disebut UAPPA-E1, adalah unit akuntansi
instansi yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang
seluruh UAPPA-W yang berada di wilayah kerjanya serta UAKPA yang langsung berada di
bawahnya.
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah. Unit Akuntansi Pembantu
Pengguna Anggaran Wilayah, yang selanjutnya disebut UAPPA-W, adalah unit akuntansi

instansi yang melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang
seluruh UAKPA yang berada dalam wilayah kerjanya.
d. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran,
yang selanjutnya disebut UAKPA, adalah unit akuntansi clan pelaporan tingkat satuan
kerja.
3. Sistem Akuntansi Barang Milik Negara
Sistem Akuntansi Barang Milik Negara, yang selanjutnya disebut SABMN, adalah
subsistem dari SAI yang merupakan serangkaian prosedur yang saling berhubungan untuk
mengolah dokumen sumber dalam rangka menghasilkan informasi untuk menyusun
neraca dan laporan BMN serta laporan manajerial lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
SABMN merupakan subsistem dari SAI. Untuk melaksanakan SABMN, Kementerian
Negara/Lembaga membentuk Unit Akuntansi Barang sehagai berikut:
a. Unit Akuntansi Pengguna Barang yang selanjutnya disebut UAPB adalah unit
akuntansi

BMN

pada

tingkat

kementrian/lembaga

yang

melakukan

kegiatan

penggabungan laporan BMN dari UAPPB-E1. yang penanggung jawabnya adalah


Menteri/Pirnpinan Lembaga.
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I, yang selanjutnya disebut UAPPBE1, adalah unit akuntansi BMN pada tingkat Eselon1 yang melakukan kegiatan
penggabungan laporan BMN dari UAPPB-W dan UAKPB yang langsung berada di
bawahnya yang penanggung jawabnnya adalah pejabat Eselon I
c.

Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah, yang UAPPB-W adalah unit

akuntansi BMN pada tingkat wilayah yang ditetapkan sebagai UAPPB-W dan melakukan
kegiatan penggabungan BMN dari UAKPB. penanggung jawabnya adatah Kepala Kantor
Kepala unit kerja. ditetapkan sebagai UAPPB-W.
d.

Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang, yang selanjutnya disebut satuan kerja/kuasa

pengguna barang yang memiliki wewenang menggunakan BMN.