Anda di halaman 1dari 105

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA TUMBUHAN
PNA2307

Semester:
Ganjil 2014

Oleh :
Yosi Firnando
A1L013193/F

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM
ACARA I

PENGAMATAN PERILAKU KROMOSOM

Semester:
Genap 2014

Oleh:
Faris Julda Pradipta
A1L013185/ 8

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Mempelajari ilmu pertanian erat kaitannya dengan budidaya tanaman


semusim. Budidaya tanaman semusim atau dapat dikenal dalam ilmu pertanian
yaitu teknologi budidaya tanaman semusim merupakan ilmu yang mempelajari
teknologi dalan mengelola tanamn semusim agar diperoleh produksi yang
optimum sesuai dengan apa yang diharapkan
Usaha pertanian pada dasarnya adalah memproduksi produk pertanian secara
optimal. Namun terkadang untuk merealisasikan hal ini kita terbentur beberapa
persoalan, diantaranya adalah masalah lahan yang kurang tersedia padahal kita
membutuhkan beberapa jenis tanaman untuk ditanam. Salah satu terobosan
terbaru adalah dengan tehnik budidaya tumpang sari.
Tanaman semusim merupakan istilah agrobotani bagi tumbuhan yang dapat
dipanen hasilnya dalam satu musim tanam. Tanaman semusim istilah dalam
bahasa Inggris annual plant, yang dimaksud satu musim adalah satu tahap dalam
setahun. Bagi pertanian di daerah beriklim sedang seringkali yang dimaksud
semusim adalah tanaman yang tidak perlu mengalami musim dingin bagi
pembungaannya (vernalisasi).Tanaman semusim dalam pengertian botani yaitu
tumbuhan yang menyelesaikan seluruh siklus hidupnya dalam rentang setahun.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju dan semakin
meningkatnya kebutuhan manusia. Manusia berusaha untuk meningkatkan hasil
budidaya pertanian dengan menggunakan lahan yang ada dan memperoleh hasil
yang tinggi. Teknik budidaya tanamanmerupakan cara untuk meningkatkan
produktivitas tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Tanaman padi, jagung dan
kacang tanah merupakan komoditas yang banyak di budidayakan di Indonesia
sebagai makanan pokok. Padi dan jagung kaya akan karbohidrat digunakan
sebagai bahan pangan sehari-hari dan kacang tanah yang banyak diolah dalam
berbagai produk makanan penting
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara I yaitu mampu menerapkan teknik budidaya
tanaman semusim dengan pola tanam tumpeng sari dan pengelolaan usaha tani
dengan baik.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pola tanam adalah merupakan suatu urutan pada sebidang lahan dalam satu
tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pola tanam merupakan
bagian atau sub sistem dari sistem budidaya tanaman, maka dari sistem budidaya
tanaman ini dapat dikembangkan satu atau lebih sistem pola tanam. Pola tanam ni
diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan untuk
menghindari resiko kegagalan. Namun yang penting persyaratan tumbuh antara
kedua tanman atau lebih terhadap lahan hendaklah mendekati kesamaan (
Pertanaman Tunggal (Monoculture) adalah penanaman satu jenis tanaman
secara berulang kali pada suatu luasan lahan tertentu. Pertanaman tunggal dapat
dilakukan untuk tanaman semusim maupun tanaman tahunan.Pertanaman ganda
(Multiple Cropping) adalah suatu sistem pertanaman atau usahatani yang
mengusahakan dua atau lebih tanaman budidaya pada suatu luasan lahan tertentu.
Tujuan pertanaman ganda adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan dan
mengurangi resiko kegagalan panen(
Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L.) berasal dari benua Amerika, tepatnya
di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Penyebarluasan tanaman buncis dari

kawasan Amerika ke Eropa berlangsung sejak abad ke -16 oleh orang-orang


Spanyol dan Portugis. Daerah pusat penyebarannya mula-mula adalah di Inggris,
yakni sekitar tahun 1594. Kemudian menyebar ke Negara-negara lainnya di
kawasan Eropa, Afrika, dan sampai ke Asia. (Rukmana, 1994)
Mempertahankan eksistensi dari buncis harus mempunyai kualitas yang
baik. Untuk mendapatkan kualitas yang baik maka proses pembudidayaan sangat
menentukan. Cara yang dilakukan antara lain melalui intensifikasi,yaitu dengan
penerapan Panca usaha tani sedangkan dengan ekstensifikasi yaitu dengan
penambahan luas areal panen. Pilihan lain untuk menaikkan produktivitas buncis
adalah dengan jalan diversifikasi. Diversifikasi merupakan suatu usaha menaikkan
produksi dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong disekitar pertanaman
sehingga akan dapat diperoleh penganekaragaman hasil-hasil pertanian.
(Rukmana, 1994) Daun bawang merupakan jenis sayuran dari kelompok bawang
yang banyak digunakan dalam masakan. Dalam seni masak Indonesia, daun
bawang bisa ditemukan misalnya dalam martabak telur, sebagai bagian dari sop,
atau sebagai bumbu tabur seperti pada soto.Daun bawang sebenarnya istilah
umum yang dapat terdiri dari spesies yang berbeda. Jenis yang paling umum
dijumpai adalah bawang daun (Allium fistulosum). Jenis lainnya adalah A.
ascalonicum, yang masih sejenis denganbawang merah. Kadang-kadang bawang
prei juga disebut sebagai daun bawang
Menurut (

)Jenis Tanaman daun bawang ini mudah terserang hama dan

penyakit, terutama pada musim hujan. Berikut beberapa jenis hama dan penyakit
yang umum menyerang tanaman bawang daun ini, yakni :Ulat bawang/ulat grayak
(Spodoptera exiqua Hbn.) Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan tanaman
bukan Liliaceae dan pengendalian kimia dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75
SP, Cascade 50 EC atau dengan perangkap ngengat.Busuk daun/embun tepung
(Peronospora destructor (Berk.) Casp) Pengendalian: menggunakan benih/bibit
sehat, rotasi tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan fungisida Dithane M45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 SP.Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci
Lind.) Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae; menanam secara
serempak; memasang perangkap serangga berupa kertas/dengan insektisida

Mesurol 50 WP. Busuk leher batang (Bortrytis allii Munn.) Gejala: leher batang
menjadi lunak, berwarna kelabu, bentuknya menjadi bengkok dan busuk.
Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliacea, penggunaan benih/bibit sehat,
meningkatkan kebersihan kebun dan tanaman dan fungisida Dithane M-45 atau
Daconil 75 WP

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum pengamatan perilaku kromosom ini
yaitu akar bawang merah, larutan 0,002 M Hidroxchinolin, larutan 45%
CH3COOH, larutan HCl, dan larutan aceto orcein/carmin. Sedangkan alat yang
digunakan pada praktikum pengamatan perilaku kromosom ini adalah kaca
preparat, cover glass, beker glass, penangas air, pembakar bunsen, mikroskop, dan
jarum.
B. Prosedur Kerja
1. Umbi bawang merah dipilih yang bagus dan sehat dan dikecambahkan diair
sampai muncul akar.
2. Akar bawang merah dicuci dengan air sampai bersih.
3. Ujung akar bawang merah dipotong sepanjang 1 cm dan dimasukkan
kedalam larutan 0,002 M Hydroxchinolin, disimpan di ruang gelap dengan
suhu 200 C selama 1 jam.
4. Fiksasi ujung akar bawang merah dilakukan dengan menggunakan larutan 45%
CH3COOH selama 10 menit.

5. Maserasi bahan dengan campuran larutan HCl dan CH3COOH dengan


perbandingan 3:1 pada suhu 600 C selama 3 menit.
6. Bagian ujung akar bawang merah diambil 1mm dan diletakkan di atas gelas
preparat.
7. Pewarnaan dilakukan dengan aseto orcein atau aseto carmin (larutan staining).
8. Ujung akar bawang merah ditutup dengan gelas penutup (cover glass) dan
dihancurkan dengan cara ditekan.
9. Preparat dilewatkan di atas nyala api bunsen.
10. Preparat diamati di bawah mikroskop.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Hasil pengamatan perilaku kromosom


B. Pembahasan

Pola tanam adalah merupakan suatu urutan pada sebidang lahan dalam satu
tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pola tanam merupakan
bagian atau sub sistem dari sistem budidaya tanaman, maka dari sistem budidaya
tanaman ini dapat dikembangkan satu atau lebih sistem pola tanam. Pola tanam ni
diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan untuk
menghindari resiko kegagalan. Namun yang penting persyaratan tumbuh antara
kedua tanman atau lebih terhadap lahan hendaklah mendekati kesamaan.
Kelebihan dari pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil yang
lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya
persainganantar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar
matahari, akantetapi pola tanam lainnya lebih efisien dalam penggunaan lahan
karena nilai LERlebih dari 1.Kelebihan sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif
mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis.
Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang
hama maupun penyakit.
Sedangkan keuntungan budidaya tanaman poicultue termasuk juga
intercropping, relay cropping, dan mixed cropping (tumpeng sari) antara lain :
a. Mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang
satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat
mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau
allicin,

b. Menambah kesuburan tanah. Dengan menanam kacang-kacangan- kandungan


unsur N dalam tanah bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat
dalam bintil akar. Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda,
misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman
berakardalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.
c. Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi
dengan rotasi tanaman dapat memutus siklus OPT,
d. Memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis
tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila
harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.
e. Dapat menambah kesuburan tanah Menanam tanaman kacang-kacangan
berdampingan dengan tanaman jenis lainnya dapat menambah kandungan unsur
Nitrogendalam tanah karena pada bintil akar kacang-kacangan menempel bakteri
Rhizobium yangdapat mengikat Nitrogen dari udara. Dan menanam secara
berdampingan tanaman yang perakarannya berbeda dapat membuat tanah menjadi
gembur.
f. Meminimalkanhama dan penyakit tanaman Sistem polikultur dibarengi
denganrotasi tanaman dapat memutuskan siklus hidup hama dan penyakit
tanaman. Menanamtanaman secara berdampingan dapat mengurangi hama
penyakit tanaman salah satu pendampingnya, misalnya : bawang daun yang
mengeluarkan baunya dapat mengusir hama ulat pada tanaman kol atau kubis.
g.

Mendapat

hasil

panen

beragam

yang

menguntungkan

Menanam dengan lebih darisatu tanaman tentu menghasilkan panen lebih dari satu
atau

beragam

tanaman.

Pemilihanragam

tanaman

yang

tepat

dapat

menguntungkan karena jika satu jenis tanaman memilikinilai harga rendah dapat
ditutupi oleh nilai harga tanaman pendamping lainnya

Kekurangana

a.
b.
c.

Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman,


OPT banyak sehingga sulit dalam pengendaliannya.
Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat
Buncis (Phaseolus vulgaris) merupakan sayuran yang bergizi tinggi dan

cukup digemari. Tanaman buncis berasal dari Amerika Tengah dan Amerika
Selatan. Buncis yang ditanam di Indonesia merupakan hasil produksi dari kurang
lebih 100 kultivar yang berasal dari Hawai, Belanda dan Australia. Varietas buncis
yang mempunyai nilai produksi tinggi adalah Sutera, Horti 3, Lebat-1, Snap Bean
G13 Snap 612 dan Sora. Tanaman buncis di samping bentuknya menarik juga enak
rasanya serta kaya akan vitamin A, mengandung protein, lemak, karbohidrat,
kalsium, fosfor, vitamin B1 dan C.
Buncis tumbuh pada ketinggian 1000 1500 M dpl, jenis tanah andosol
dan regosol serta Ph tanah 5,5 6. Tanaman buncis ini menghendaki iklim dan
musim peralihan, jadi tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik
apabila ditanam pada akhir musim hujan/ menjelang musim kemarau, di samping
itu buncis juga menghendaki cahaya matahari yang langsung (cukup terbuka).
Bawang daun (Allium sp) merupakan tanaman setahun yang berbentuk
rumput. Disebut bawang daun karena bagian yang dikonsumsi hanyalah daunnya
atau bagian daun yang masih muda. Pangkal daunnya membentuk batang semu dan
bersifat merumpun. Oleh karena nilai ekonomi tanaman ini terletak pada daunnya,
maka serangan organisme penggangu tanaman pada bagian daun bawang perlu
diperhatikan. Bawang daun banyak mengandung vitamin C, vitamin A, dan sedikit
vitamin B. Kandungan zat gizi bawang daun lebih baik daripada bawang merah.
Dalam kehidupan sehari-hari, bawang daun digunakan sebagai bumbu masakan.
Bawang daun (Allium sp) yang ditanam di kebun percobaan Balai
Penelitian Tanaman Sayuran Lembang merupakan varietas-varietas baru yang
cocok untuk dibudidayakan di dataran tinggi. Bawang daun tersebut merupakan
tanaman setahun yang berbentuk rumpun. Disebut bawang daun karena bagian
yang dikonsumsi hanya daunnya atau bagian daun yang masih muda. Pangkal
daunnya membentuk batang semu dari batang utama yang pendek dan berbentuk
cakram. Pada bagian cakram inilah muncul tunas daun dan akar serabut. Struktur
bunga bawang daun sama dengan struktur bunga bawang merah. Warna bunganya

10

putih. Pada bunga tersebut terdapat biji yang ketika masih muda berwarna putih
dan setelah tua berwarna hitam. Bila kering, biji akan mudah menjadi tepung.
Beberapa kultivar bawang daun sukar berbunga di Indonesia seperti halnya bawang
merah .
Bawang daun dapat tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi
dengan ketinggian 250-1500 m dpl, walaupun di dataran rendah anakan bawang
daun tidak terlalu banyak. Pada daerah yang memiliki curah hujan 150-200
mm/tahun dan suhu harian 18-25 C cocok untuk pertumbuhan tanaman bawang
daun
Syarat tumbuh bawang daun terpenuhi di daerah Lembang Bandung dengan
ketinggian 1.250 m diatas permukaan laut (Dpl). Dilihat dari segi geologisnya,
jenis tanah dikawasan tersebut merupakan tanah andosol dengan

tipe iklim B

dengan suhu rata-rata harian berkisar antara 19-24 C serta curah hujan 2.207,5
mm/tahun.
cara tanam untuk tanaman buncis antara lain di tumpang sarikan dengan
jagung,waktu tanam pada saat hujan agar bunga mudah gugur, jarak tanam tegak
30 cm X 40 cm buncis amat 70 cm X 40 cm, kedalaman tanam berkisar 3-8 cm
dengan cara ditugal satu lubang 2 biji
Beberapa perawatan yang diperlukan dalam budidaya buncis
diantaranya

penaikan

tanah,

pemasangan

lenjer

bambu

dan

pemupukan susulan. Tanaman buncis adalah tanaman yang tahan


kekeringan, kita tidak perlu menyiramnya setiap hari. Meskipun hujan
hanya terjadi sekali dalam seminggu, buncis masih bisa tumbuh dengan
baik. Penyiraman hanya dilakukan apabila kondisi kekeringan sudah
parah.
Sekitar 2 minggu setelah tanam, naikkan tanah yang berada
disekeliling tanaman. Maksudnya agar tanah menutupi akar yang menyembul

dan memperkuat kedudukan akar. Selain itu, penaikan tanah dimaksudkan untuk
menyiangi tanaman penggangu. Dengan penaikan tanah, tanaman pengganggu
akan tercerabut dari akarnya dan mati.
Pemasangan lenjer bambu atau pengajiran bisa dilakukan setelah minggu
ke-2. Pasang lenjer bambu sepanjang 2 meter, lalu gabungkan setiap empat lenjer
pada pangkal atasnya. Pemasangan lenjer diperlukan agar tanaman merambat naik

11

dan buah tidak mengenai tanah. Pemupukan susulan diberikan pada minggu ke-3.
Berikan satu kepal kompos atau pupuk kandang yang telah matang pada setiap
tanaman. Total kebutuhan pupuk susulan sekitar 20 ton per hektar. Hal ini ada
perbedaan saat di paktikum. Perbedaannya yaitu pada literature dijelaskan buncis
akan tumbuh optimal jika ditumpangsarikan dengan jagung namun pada saat
praktikum buncis ditumpangsarikan dengan bawang daun, selain itu pada literature
dijelaskan bahwa pemupukan hanya engan pupuk kndang dan pupuk kompos,
namun pada saat praktikum menggunakan pupuk n, p, k. hal ini dikrenakan pada
saat praktikum menggunakan system pertanian organik.
Cara pennaman bawang daun dimulai dari perbenihan . Benih bawang
daun yang digunakan berasal dari tunas anakan (stek tunas). Tunas anakan yang
diperoleh berasal dari pemisahan anakan yang sehat dan yang bagus
pertumbuhannya dari induknya.
Selanjutnya aala persemaian Bibit yang berasal dari stek tunas dapat
langsung ditanam di lapangan dengan mengurangi perakarannya terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi penguapan. Benih dari biji terlebih dahulu
harus disemai sebelum ditanam langsung di lapangan. Media semai yang
dipergunakan berupa campuran pupuk kandang (kotoran kuda) dan tanah dengan
perbandingan 1:1 dan sudah digemburkan terlebih dahulu. Biji kemudian disebar
secara merata kemudian ditutup dengan lapisan tanah tipis dimana ketebalannya
mencapai 0,5-1 cm. dan di siram secukupnya. Bibit siap dipindahkan ke lapangan
bila sudah terdapat 2-3 helai daun.
Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiangan terhadap gulma, hal ini
dilakukan bersamaan dengan pendagiran untuk menggemburkan tanah yang
mungkin mengalami pemadatan. Selain itu juga diperlukan penimbunan pada
pangkal batang. Hal ini dilakukan untuk memperoleh warna putih pada batang
semu bawang daun (W.Setiawati,2007). Penyiraman pada tanaman bawang daun
harus dilakukan terutama jika bawang daun ditanam pada musim kemarau,
sedangkan jika ditanam pada musim penghujan maka drainase harus sangat
diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi genangan air di lahan.

12

Pemupukan yang diusahakan untuk tanaman bawang daun pada saat


pengolahan tanah meliputi pupuk kandang dengan dosis 10-15ton/ha. Pupuk lain
yang digunakan adalah urea 200kg/ha yang diberikan sebanyak dua kali, yaitu
pada saat tanaman berumur 21 hari (setengah dosis) dan sisanya pada saat
tanaman berumur 42 hari. Untuk pupuk SP 36 dan KCL juga diberikan dua kali
seperti pupuk urea, dengan dosis pemupukan pertama SP 36 sebanyak 50 kg dan
KCL 50 kg. dan untuk pemupukan kedua SP 36 sebanyak 50 kg dan KCL 25 kg.
pemupukan ini dilakukan dengan dibuat larikan kurang lebih 5cm dari sisi kiri dan
kanan batang, dan menaburkan pupuk pada larikan dan kemudian larikan tersebut
ditimbun kembali dengan tanah.
Tanaman bawang daun sudah dapat di panen pada umur dua bulan setelah
tanam. Pemanenan dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman termasuk
akar. Apabila tanaman ingin ditanam kembali maka di buanglah bagian akar, dan
daun yang busuk atau layu, dan dilakukan pemilihan anakan tanaman yang sehat.
Tanaman ini juga harus dipisahkan antara yang akan di jual dan yang akan di
tanam kembali. Sortasi sederhana yang dilakukan ialah menggabungkan rumpun
yang berdaun besar secara terpisah dengan rumpun yang berdaun kecil. Bawang
daun tidak mudah tahan lama sehingga perlu segera untuk dipasarkan agar
mutunya masih baik hingga ke tangan konsumen.
Praktikum yag dijalani pada saat penanaman bawang daun adalah tidak
dilakukan perbenihan pada saat praktikum sedangkan pada literature dijelaskan
cara perbenihan dari bawang daun, selain itu adalah pada pemupukan di literature
deijalaskan dosis pupuk urea 200kg/ha yang diberikan sebanyak dua kali, yaitu
pada saat tanaman berumur 21 hari (setengah dosis) dan sisanya pada saat
tanaman berumur 42 hari. Untuk pupuk SP 36 dan KCL juga diberikan dua kali
seperti pupuk urea, dengan dosis pemupukan pertama SP 36 sebanyak 50 kg dan

13

KCL 50 kg. dan untuk pemupukan kedua SP 36 sebanyak 50 kg dan KCL 25 kg


sedangkan pada saat praktikum dosis pupuk yang digunakan hanya mengira-ngira
saja tidak digunakan dosis dengan perbandingan yang tepat dam sesuai.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum acara I mengenai pengamatan perilaku
kromosom ini adalah sebagai berikut:
1. Pembelahan mitosis merupakan proses yang menghasilkan dua sel anak yang
identik dan terjadi pada sel-sel somatis tumbuhan yang menentukan tingkat
pertumbuhan jaringan.
2. Pembeahan mitosis secara utuh terdiri dari 5 fase yaitu interfase, profase,
metafase, anafase, dan telofase.
3. Hasil yang diperoleh pada pengamatan pembelahan mitosis di dapatkan tiga
tahap, yaitu tahap profase, tahap anafase, dan tahap telofas dengan jumlah
kromosom 16 dan perbesaran 40 kali. Sedangkan tahap yang tidak didapatkan
pada pengamatan adalah tahap metafase yang dikarenakan pada saat
menghancurkan ujung akar bawang merah dengan cara ditekan kurang tipis
akibatnya sel kurang menyebar dan menumpuk.
B. Saran

14

Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil


yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A. dan J.B. Reece. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga:
Jakarta.
Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Crowder, L.V. 1988.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Margono, Hadi. 1973. Pengaruh Colchicine Terhadap PertumbuhanMemanjang
Akar Bawang Merah (Allium Cepa).Skripsi tidak diterbitkan. Malang. IKIP
Moody, P.A., 1967. Genetics of Man, W.W. Norton and Co., Inc., New York
MsKusick, V.A. 1969. Human Genetics. 2nd ed., Prentice-Hall Inc., Englewood
Cliffs
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Wagner, R.P. et al., 1980. Introduction to Modern Genetics. John Wiley & Sons,
Inc., New York.

15

LAMPIRAN

16

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN
ACARA II
TEORI KEMUNGKINAN

Semester:
Ganjil 2014

Oleh :
Yosi Firnando
A1L013193/ F

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN

17

LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI


PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai istilah seperti kemungkinan, keboleh-jadian, peluang dan
sebagainya biasanya dipergunakan untuk membicarakan peristiwa/kejadian yang
hasilnya tidak dapat dipastikan. Dapat juga berupa suatu pernyataan yang tidak
dapat diketahui akan kebenarannya. Karena sesungguhnya banyak hal tidak akan
terhindar dari adanya kemungkinan yang harus dihadapi. Misalnya kita ingin
berpergian

sedangkan

udaranya

mendung

tentunya

akan

menghadapi

kemungkinan akan turun hujan ataukah tidak, dan seorang mahasiswa yang
menantikan hasil ujiannya tentunya menghadapi kemungkinan apakah ia akan
lulus ataukah tidak.
Teori kemungkinan juga ikut mengambil peranan penting dalam ilmu
genetika.Misalnya mengenai pemindahan gen-gen dari induk/orang tua ke gametgamet, pembuahan sel telur oleh spermatozoon, berkumpulnya kembali gen-gen
didalam zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi.
Percobaan perkawinan yang kita lakukan seringkali menghasilkan keturunan
yang tidak sesuai benar dengan hukum Mendel. Kejadian ini biasanya
menyebabkan kita bersikap ragu-ragu, apakah penyimpangan yang terjadi itu
karena kebetulan saja ataukah karena memang ada factor lain. Berhubung dengan
itu perlu diadakan evaluasi terhadap kebenaran atau tidaknya hasil percobaan
yang kita lakukan dibandingkan dengan keadaan secara teoritis. Suatu cara untuk
mengadakan evaluasi terhadap itu ialah melakukan tes X2 atau uji chi-square.
B. Tujuan

20

Tujuan dari praktikum acara II mengenai teori kemungkinan adalah untuk


mengetahui dan berlatih menggunakan uji X2dan dapat menggunakannya kembali
untuk persilangan yang seungguhnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Berbagai istilah seperti kemungkinan, keboleh-jadian, peluang dan
sebagainya biasanya dipergunakan untuk membicarakan peristiwa/kejadian yang
hasilnya tidak dapat dipastikan. Dapat juga berupa suatu pernyataan yang tidak
dapat diketahui akan kebenarannya. Karena sesungguhnya banyak hal tidak akan
terhindar dari adanya kemungkinan yang harus dihadapi. Misalnya kita ingin
berpergian

sedangkan

udaranya

mendung

tentunya

akan

menghadapi

kemungkinan akan turun hujan ataukah tidak, dan seorang mahasiswa yang
menantikan hasil ujiannya tentunya menghadapi kemungkinan apakah ia akan
lulus ataukah tidak (Gardner, 1984).
Teori kemungkinan juga ikut mengambil peranan penting didalam ilmu
genetika.Misalnya mengenai pemindahan gen-gen dari induk/orang tua ke gamet-

21

gamet, pembuahan sel telur oleh spermatozoon, berkumpulnya kembali gen-gen


didalam zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi (Suryo, 1984).
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.Penggunaan teori ini
memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya suatu hasil
terentu dari persilangan tersebut.Berhubung dengan itu perlu diadakan evaluasi
terhadap kebenaran atau tidaknya hasil percobaan yang kita lakukan dibandingkan
dengan keadaan secara teoritis. Suatu cara untuk mengadakan evaluasi terhadap
itu ialah melakukan tes X2 atau uji chi-square. Metode chi-square adalah cara
yang dapat kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari
persilangan-persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis
secara teoritis. Dengan cara ini seorang ahli genetika dapat menentukan suatu nilai
kemungkinan untuk menguji hipoesis tersebut (Crowder, 1986).
Teori kemungkinan mempunyai beberapa dasar-dasar tentang teori
kemugkinan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan
perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap kesuluruhannya.
2. Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang masing-masing berdiri
sendiri ialah sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk
peristiwa-peristiwa itu.
3. Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang saling mempengaruhi
ialah sama dengan jumlah dari besarnya kemungkinan untuk peristiwaperistiwa itu (Burns, 1983).

22

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum teori kemungkinan ini yaitu mata
uang logam dan lembar pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan pada
praktikum teori kemungkinan ini antara lain mata uang logam, kalkulator dan alat
tulis.
B. Prosedur Kerja
1. Satu keping uang logam dilempar keatas, lalu dicatat hasilnya (angka atau
gambar). Pelemparan dilakukan 50x dan 100x. Dianalisi hasilnya dengan uji
X2.
2. Hal yang sama dilakukan untuk kasus 2 keping uang logam yang dilempar
sekaligus serta kasus 3 keping uang logam yang dilempar sekaligus.
3. Semua data dicatat pada lembar pengamatan yang akan disediakan pada saat
pelaksanaan praktikum, sedangkan hasil analisis dapat ditulis pada lembar
yang tersedia dalam diktat.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

23

A. Hasil

UJI

X 2 MENGGUNAKAN 1 KEPING UANG LOGAM

Tabel 1.Pelemparan 1 koin sebanyak 50 kali

Observasi (O)
Harapan (E)
( |O E| - )2
( |O E| - )2
E

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


A
G
Jumlah Total
22
28
50
1/2 x 50 = 25
1/2 x 50 = 25
50
2
2
( |22 25| - )
( |28 25| - )
12,5
= 6,25
= 6,25
6,25
6,25
0,5
=0,25
=0,25
25
25
0,25

X2

0,25

0,5

X2tabel = 3,84
Kesimpulan : Xhitung< Xtabel tabel sehingga hasil observasi pelemparan

sesuai

dengan teori X= 0,5< 3,84


Tabel 2. Pelemparan 1 koin sebanyak 100 kali

Observasi (O)
Harapan (E)
( |O E| - )2
( |O E| - )2
E
X2

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


A
G
Jumlah Total
48
52
100
1/2 x 100 = 50
1/2 x 100 = 50
100
( |48-50| - )2
( |52-50| - )2
5
= 2,25
= 2,25
2,25
2,25
0,09
=0,045
=0,045
50
50
0,045

0,045

0,09

X2 tabel = 3,84
Kesimpulan :Xhitung< Xtabel sehingga hasil observasi pelemparan
dengan teori X= 0,09< 3,84

24

sesuai

UJI

MENGGUNAKAN 2 KEPING UANG LOGAM

Tabel 1.Pelemparan 2 keping logam sebanyak 50 kali


AA
Observasi
(O)
Harapan
(E)
( |O E| )2

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


AG
GG

33

Jumlah
Total
50

1/4 x 50 = 12,5

2/4 x 50 = 25

1/4 x 50 = 12,5

50

( |8 12,5| )2
= 20,25
20,25 = 1,62
12,5
1,62

( |33 25| )2
= 64
64 = 2,56
25
2,56

( |9 12,5| )2
= 12,25
12,25 = 0,98
12,5
0,98

96,5

( |O E| )2
E
X2
X2 tabel = 5,99

5,16
5,16

Kesimpulan :Xhitung< Xtabel= Hasil observasi yang dilakukan sesuai dengan


teori atau harapan,5,16 < 5,99
Tabel 2.Pelemparan 2 keping logam sebanyak 100 kali

AA
Observasi
(O)
Harapan
(E)
( |O E|)2

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


AG
GG
53

21

Jumlah
Total
100

1/4 x 100 = 25

2/4 x 100 = 50

1/4 x 100 = 25

100

( |25 26| )2
=1
1 = 0,04
25
0,04

( |53 50| )2
=9
9 = 0,18
50
0,18

( |21 25| )2
= 16
16 = 0,64
25
0,64

26

26

( |O E|)2
E
X2
2
X tabel = 5,99

0,86
0,86

Kesimpulan :Xhitung< Xtabel= Hasil observasi yang dilakukan sesuai dengan


teori atau harapan,0,86 < 5,99

25

UJI

X 2 MENGGUNAKAN 3 KEPING UANG LOGAM

Tabel 1.Pelemparan 3 keping logam sebanyak 50 kali


Observasi
Observasi
(O)
Harapan
(E)
( |O E| )2
( |O E| )2
E
X2

AAA
6

Karakteristik yang diamati


AAG
AGG
19
21

1/8 x 50 = 6,25
0,0625
( |6 6,25| )2
6,55
= 0,009
0,009

3/8 x 50 =
18,75
0,0625
( |19 18,75| )2
18,75
= 0,003
0,003

3/8 x 50
= 18,75
5,0625
5,0625
18,75
= 0,27
0,27

GGG
4
1/8 x 50
= 6,25
5,0625
5,0625
6,25
= 0,81
0,81

Jumlah
Total
50
50
10,25
1,092

1,092

Tabel 2.Pelemparan 3 keping logam sebanyak 100 kali


Observasi

Observasi
(O)
Harapan
(E)
( |O E| )2
( |O E| )2
E
X2

Karakteristik yang diamati


AAA
12

AAG
41

1/8 x 100 =
12,5
0,25
( |12 12,5| )2
12,5
= 0,02
0,02

3/8 x 100 =
37,5
12,25
( |41 37,5| )2
18,75
= 0,32
0,32

AGG
34

Jumlah
Total
GGG
13

3/8 x 100 1/8 x 100


= 37,5
= 12,5
12,25
0,25
12,25
0,25
37,5
12,5
= 0,32
= 0,02
0,32
0,02

100
100
25
0,68

0,68

Kesimpulan :
2. Perhitungan 50 kali, Xhitung< Xtabel berarti hasil perhitungan sesuai dengan
teori (signifikan)1,092 < 7,82
3. Perhitungan 100 kali Xhitung< Xtabel berarti hasil perhitungan sesuai dengan
teori (signifikan)0,68 < 7,82

26

B. Pembahasan

Teori peluang atau teori kemungkinan memiliki keterkaitan dengan ilmu


genetika tumbuhan karena ikut mengambil peranan penting, misalnya mengenai
pemindahan gen-gen dari induk/orang tua ke gamet-gamet, pembuahan sel telur
oleh spermatozoon, berkumpulnya kembali gen-gen di dalam zigot sehingga dapat
terjadi berbagai kombinasi.Selain itu teori kemungkinan atau teori peluang dalam
ilmu genetika tumbuhan juga digunakan untuk dasar menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotipe yang berbeda.
Faktor yang menyebabkan percobaan signifikan dan tidak signifikan adalah
deviasi (penyimpangan), faktor kemungkinan, serta faktor lain diluar faktor
kemungkinan. Ketiga faktor tersebut ikut mengambil peranan dan lebih
berpengaruh pada kejadian tersebut, sehingga data percobaan yang didapat
dinyatakan buruk.Nilai X2tersebut dikatakan signifikan atau berarti. Maksudnya
deviasi (penyimpangan) sangat berarti dan ada faktor lain di luar faktor
kemungkinan yang mengambil peranan pada percobaan tersebut.
Uji chi-square menggunakan X2tabel 5% karena dalam penyelidikan secara
metematik oleh para ahli statistik menyatakan bahwa apabila nilai X2 yang didapat
dari perhitungan terletak di bawah kolom nilai kemungkinan (X 2tabel) 0,05 atau
kurang (0,01 atau 0,001) itu berarti bahwa faktor kebetulan hanya berpengaruh
sebanyak 5% atau kurang.Biasanya nilai kemungkinan 5% dianggap sebagai garis
batas anatara menerima dan menolak hipotesis. Apabila nilai chi-square lebih
besar dari X2tabel 5%, maka data percobaan itu dapat dianggap masih bagus, masih

27

memenuhi perbadingan 3:1 dan tidak ada faktor lain di luar faktor kemungkinan
yang berperan. Apabila nilai chi-square lebih kecil dari X 2tabel5%, maka dikatakan
bahwa penyimpangan dari nisbah 3:1 nyata dan tidak terjadi secara kebetulan
tetapi ada factor lain yang menyebabkan penyimpangan tersebut.
Metode pengujian teori kemungkinan atau teori peluang lain selain chisquare adalah dengan menggunakan rumus Binomiun (a + b)n. Untuk mencari
kemungkinan biasanya dapat ditempuh jalan yang lebih mudah selain
menggunakan rumus chi-square, yaitu dengan menggunakan rumus binomium (a
+ b)n. Disini a dan b merupakan kejadian atau peristiwa yang terpisah, sedangkan
n menyatakan banyaknya percobaan. Alasan Uji chi-square digunakan pada teori
peluang karena uji chi-square merupakan cara yang dapat dipakai untuk
membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan-persilagan
dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Alasan yang
lain adalah karena seringkali percobaan perkawinan yang kita lakukan
menghasilkan keturunan yang tidak sesuai benar dengan hukum Mendel. Kejadian
ini biasanya menyebabkan kita bersikap ragu-ragu, apakah penyimpangan yang
terjadi itu karena kebetulan saja ataukah karena memang ada faktor lain.
Berhubung dengan hal tersebut perlu diadakan evaluasi terhadap kebenaran atau
tidaknya hasil percobaan yang kita lakukan dibandingkan dengan kejadian secara
teoritis. Suatu cara untuk mengadakan evaluasi itu adalah dengan melakukan Uji
chi-square atau tes X2.
Praktikum teori kemungkinan ini untuk uji X 2 menggunakan 3 kasus yaitu
dengan 1 keping uang logam, 2 keping uang logam, dan 3 keping uang logam.

28

Tiap-tiap perlakuan uang logam dilakukan pelemparan sebanyak 50 kali dan 100
kali.Kasus pertama yaitu menggunakan 1 keping uang logam, karakteristik yang
diamati ada 2 yaitu angka (A) dan gambar (G). Pada pelemparan 50 kali X 2yang
diperoleh adalah 0,5. Sedangkan pada pelemparan 100 kali X 2yang diperoleh
adalah 0,09. Kasus kedua yaitu menggunakan 2 keping uang logam, karakteristik
yang diamati ada 3 yaitu AA, AG, dan GG. Pada pelemparan 50 kali X 2yang
diperoleh adalah 5,16. Sedangkan pada pelemparan 100 kali X2yang diperoleh
adalah 0,86. Kasus ketiga yaitu menggunakan 3 keping uang logam, karakteristik
yang diamati ada 4 yaitu AAA, AAG, AGG, dan GGG.Pada pelemparan 50 kali
X2yang diperoleh adalah 1,092. Sedangkan pada pelemparan 100 kali X 2yang
diperoleh adalah 0,68. Kesimpulan pada ketiga kasus setelah dilakukan pengujian
adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai dengan teori dan hasil
pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan perbandingan). Hasil praktikum
tersebut sesuai dengan literatur dimana (Wagner,1980) menyatakan bahwa apabila
nilai chi-quadrat dibawah 5% maka nilai X2 tersebut dikatakan signifikan. Artinya
data percobaan itu sesuai dengan teori dan penyimpangan yang ada hanya secara
kebetulan saja.

29

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum acara II mengenai teori kemungkinan ini adalah
sebagai berikut:
1. Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.
2. Faktor yang menyebabkan percobaan signifikan dan tidak signifikan adalah
deviasi (penyimpangan), faktor kemungkinan, serta faktor lain diluar faktor
kemungkinan.
3. Hasil yang diperoleh pada pengujian dengan 3 kasus adalah X2hitung < X2
tabel sehingga percobaan sesuai dengan teori dan hasil pengujian signifikan
(pengujian sesuai dengan perbandingan).

B. Saran
Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil
yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

30

Burn, G.W., 1983.The Science of Genetics, 5th ed., Macmillan Publ.Co.,Inc., New
York.
Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Gardner, EJ. And D.P. Snustad, 1984.Principles of Genetics. 7th ed., John Wiley &
Sons, Inc., New York
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Wagner, R.P. et al., 1980. Introduction to Modern Genetics. John Wiley & Sons,
Inc., New York.

LAMPIRAN

31

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN
ACARA III
PERSILANGAN MONOHIBRID

32

Semester:
Ganjil 2014

Oleh:
Yosi Firnando
A1L013193/ F

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persilangan monohibrida adalah persilangan yang hanya memperhatikan
satu sifat atau tanda beda. Percobaan ini diujikan pada tanaman kapri (ercis)
dengan maksud untuk membuktikan Hukum Mendel I. Gregor Mendel

35

menggunakan tanaman kapri (ercis) pada persilangan monohibrid ini karena


beberapa alasan antara lain yaitu mudah dibuat galur, persilangan buatan mudah
dilakukan, perbedaan karakter tegas, umur tanaman pendek. Mendel bekerja pada
tujuh sifat beda tanaman kapri (ercis) yaitu bentuk biji, warna biji, warna bunga,
bentuk polong, warna polong, letak bunga dan tinggi tanaman. Keturunan yang
didapat pada F2 akan menunjukkan perbandingan fenotip dominan dan resesif 3:1
atau perbandingan genotip 1:2:1.
Tujuan Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu
sifat beda adalah untuk mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi
berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang
menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat
memisah secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi.
Sebagai dasar segregasi satu pasang alel terletak pada lokus yang sama dari
kromosom homolog. Kromosom homolog ini memisah secara bebas pada
anaphase 1 dari meiosis dan tersebar ke dalam gamet-gamet yang berbeda.
Langkah awal yang dilakukan Mendel adalah menentukan galur murni, yaitu
sebuah

tanaman

yang

apabila

melakukan

penyerbukan

sendiri

selalu

menghasilkan keturunan yang sifatnya sama persis dengan sifat induknya,


walaupun penyerbukan tersebut dilakukan berulang-ulang kali hasilnya tetap
sama. Kemudian Mendel menyilangkan dua individu galur murni yang sama-sama
memiliki pasangan sifat yang kontras.Contohnya kapri berbunga merah
disilangkan dengan kapri berbunga putih, yang keduanya galur murni. Maka akan
dihasilkan tanaman F1 dengan fenotip merah. Kemudian Mendel menyilangkan
sesama

F1

yang

kemudian

menghasilkan

36

tanaman

dengan

genotip

MM:Mm:Mm:mm dan perbandingan genotip 1:2:1 dengan fenotip merah, merah


muda, dan putih.
Bila ada dominansi lengkap maka untuk dapat membedakan fenotip MM
dan Mm (keduanya bulat) yang dilakukan oleh Mendel adalah menentukan
keturunan F2 yang bulat sehinggaia mengetahui genotipnya. Mengetahui hal
tersebut, Mendel melakukan uji silang (backcross = silang balik) keturunan F2
tersebut dengan alah satu orang tuanya yang homosigot resesif.Hasil dari uji
silang monohibrida adalah 1:1 dengan genotip Mm (bulat) dan mm (berkerut).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara III mengenai persilangan monohibrid adalah
untuk membuktikan Hukum Mendel I pada persilangan monohibrid.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Hukum Mendel merupakan hukum tentang pewarisan sifat.Hukum Mendel I
dikenal dengan Segregation of Alletic Genes, yang artinya hukum segregasi atau
pemisahan secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga hukum pembentukan
gamet dengan satu sifat beda (monohibrid). Hukum ini mengungkapkan bahwa
dua alel yang mengatur sifat tertentu akan terpisah pada dua gamet yang berbeda.
Monohibrid adalah persilangan yang hanya menggunakan satu macam gen yang
berbeda atau menggunakan satu sifat beda (Deden, 2008).

37

Persilangan monohibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan


satu karakter dengan dua sifat beda. Misalnya warna bunga adalah karakter
tanaman yang diamati.Mendel melihat ada dua sifat dari karakter warna bunga
tanaman kacang kapri, yaitu warna ungu dan warna putih.Bila tanaman kacang
kapri berbunga ungu disilangkan dengan tanaman kacang kapri berbunga putih,
maka generasi anakan mereka adalah 100% tanaman berbunga ungu. Namun, bila
tanaman berbunga ungu hasil persilangan itu dikawinkan sesamanya (perkawinan
inbreeding), keturunannya menunjukkan 75% tanaman berbunga ungu dan 25%
tanaman berbunga putih (Diah, 2004).
Awalnya mendel mempelajari beberapa jenis tumbuhan, namun akhirnya ia
memilih tanaman ercis karena tanaman ini ternyata memiliki dua kriteria penting
yang mendukung pemikirannya. Yang pertama ada beberapa ciri yang diwariskan
berulang kali dari induk tanaman itu kepada generasi selanjutnya.Yang kedua
tanaman itu mempunyai mekanisme perbungaan yang dilengkapi pelindung atau
mudah untuk melindungi guna mencegah terjadinya pembuahan oleh serbuk sari
yang dikehendaki (Wels, 1991).
Hukum Mendel dapat dibedakan menjadi 2 yaitu hukum Medel I dan hukum
Mendel II.Hukum Mendel I mengatakan bahwa pemisahan gen yang sealel terlihat
ketika pembuktikan gamet individu yang memiliki genotipe heterozigot, sehingga
tiap gamet mengandung salah satu alel itu. Sedangkan hukum Mendel II
mengatakan bahwa hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet diaman gen alel
secara bebas pergi kemasing-masing kutub ketika meiosis (Crowder, 1986).
Variasi gen dengan alel yang berbeda bertanggung jawab terhadap variasi
sifat yang diwariskan. Sebagai contoh, gen yang mengatur warna pada bunga
memiliki dua varias, yakni gen warna merah dan gen warna putih. Variasi gen ini

38

dinamakan alel. Kedua variasi gen menempati lokus yang sesuai pada pasangan
kromosom homolog. Dua alel yang memiliki tanggung jawab terhadap suatu
karakter akan terpisah ketika gamet dihasilkan. Hal ini berhubungan dengan
pemisahan kromosom ketika terjadi peristiwa gametogenesis. Setiap gamet akan
menerima setengah kromosom, contohnya individu dari hasil persilangan yang
mengandung satu alel warna bunga (merah atau putih) dari induknya. Setiap
gamet harus mengandung satu buah alel, yaitu alel A atau alel a (Suryo, 1984).
Mendel melakukan percobaan dengan menyilangkan kacang kapri atau ercis
normal (tinggi) dengan kacang kapri kerdil (rendah, abnormal). Ukuran yang
normal itu ialah 1,8 m, yang kerdil 0,3 m. Untuk melakukan persilangan itu,
penyerbukan sendiri dicegah lebih dulu dengan membuang benang sari bunga
bersangkutan sebelum sempat matang, lalu serbuk sari dari batang pohon lain
yang diinginkan dilekatkan ke kepala putik, sehingga terjadilah penyerbukan
silang buatan. Biji yang dihasilkan oleh bunga yang disilangkan itu ditanam,
tumbuhlah tanaman yang memiliki karakter hasil persilangan, dalam hal ini ercis
batang tinggi x batang rendah (Wildan, 2003).

39

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum persilangan monohibrid yaitu biji
kedelai, media tanam (tanah), dan lembar pengamatan.Alat yang digunakan pada
praktikum persilangan monohibrid antara lain seedbox, dan alat tulis.

1.
2.
3.
4.

B. Prosedur Kerja
Biji populasi P1, P2, F1, dan F2 ditanam pada seedbox berisi tanah
Biji kedelai dibiarkan tumbuh dan berkecambah
Warna batang yang muncul diamati (putih atau ungu)
Warna batang biji ditabulasikan

40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Kelompok 4
P1 Grobogan (P1.1)
HH (ungu)
F1
Hh (ungu)
P2
HH
F2
HH
Hh
Hh
hh
Perbandingan Genotipe

Perbandingan Fenotipe
Ungu : Hijau

x
Hh
: ungu
: ungu
: ungu
: hijau
:1 : 2: 1
HH : Hh : hh
: 3
: 1

Karakteristik yang diamati


Ungu
Hijau
13
5
3
1
18=13,5
18=4,5
4
4

Obeservasi (O)
Harapan (E)
(| O E | - )2
2
(|OE|)
E

Muria (P1.2)
hh (hijau)

(|13 13,5| - )2 = 0
(|5 4,5| - )2 = 0
2
2
( 13 13,5)
( 5 4,5)
=0
=0
13
5

X2
Kesimpulan : 0< 3,84

18
18

0
0
0

X2 hitung < X2 tabel, sehingga hasil pengamatan signifikan atau sesuai teori
hukum Mendel 1.

41

B. Pembahasan
Mendel mencoba melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu
sifat beda dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada
generasi berikutnya. Persilangan monohibrid inilah yang digunakan untuk
membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada
proses pembentukan sel gamet dapat memisah secara bebas.Misalnya warna
bunga adalah karakter tanaman yang diamati.Mendel melihat ada dua sifat dari
karakter warna bunga tanaman kacang kapri, yaitu warna ungu dan warna
putih.Bila tanaman kacang kapri berbunga ungu disilangkan dengan tanaman
kacang kapri berbunga putih, maka generasi anakan mereka adalah 100% tanaman
berbunga ungu. Namun, bila tanaman berbunga ungu hasil persilangan itu
dikawinkan sesamanya (perkawinan inbreeding), keturunannya menunjukkan
75% tanaman berbunga ungu dan 25% tanaman berbunga putih. Jadi keterkaitan
persilangan monohibrid karena persilangan monohibrid menghasilkan keturunan
dengan perbandingan F2 yaitu 3:1 yang merupakan bukti dari berlakunya hukum
Mendel I yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The
Law of Segregation of Allelic Genes).
Praktikum acara III mengenai persilangan monohibrid ini menggunakan
kedelai untuk menguji persilangan monohibrid dengan uji chi-quadrat.Kedelai
yang digunakan ada dua yaitu varietas Grobogan dan varietas Muria.Kedelai
varietas Grobogan adalah kedelai varietas unggulan yang berasal dari daerah
Grobogan. Kedelai Grobogan merupakan hasil dari pemurniaan populasi Lokal
Malabar Grobogan dengan rataan hasil 3,40 ton/ha dan potensi hasil 2,77 ton/ha.

42

Ciri khusus pada kedelai Grobogan adalah polong masak tidak mudah pecah dan
pada saat panen daun luruh 95-100% saat panen >95% daunnya telah
luruh.Kedelai Grobogan memiliki warna epikotil ungu, warna bunga ungu, dan
warna daun hijau agak tua.Tipe tumbuh tanaman kedelai Grobogan adalah
determinate dengan bentuk daun lanceolate.Tinggi tanaman kedelai Grobogan
adalah 50-60 cm dengan bobot biji 18 gram/100 biji.Kedelai Grobogan
beradaptasi baik pada beberapa kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda cukup
besar, pada musim hujan dan daerah beririgasi baik.
Kedelai varietas Muria merupakan kedelai varietas unggul yang berasal dari
seleksi pedigree dari Orba yang diradiasi dengan sinar Gamma dosis 0,4 Kgy (40
krad). Kedelai Muria memiliki rataan hasil sekitar 1,8 ton/ha. Kedelai Muria
memiliki warna hipokotil hijau, warna bunga putih, dan warna daun hijau
muda.Tipe tumbuh tanaman kedelai Muria adalah determinit dengan bentuk biji
bulat agak lonjong. Tinggi tanaman sekitar 40-50 cm dengan bobot biji 12,5
gram/100 biji. Ciri khusus kedelai Muria adalah polong tidak mudah pecah dan
fiksasi N simbiotik dengan legin efektif.Kedelai Muria merupakan varietas unggul
yang cukup tahan terhadap penyakit karat daun.
Manfaat persilangan monohibrid dalam bidang pertanian adalah sebagai
berikut:
1. Dapat menciptakan tanaman unggul yang tahan hama penyakit, berbuah
banyak dan cepat panen.
2. Dapat menciptakan tanaman unggul yang berdaya hasil tinggi dan berumur
pendek.
3. Dapat menghasilkan keturunan tanaman dengan sifat-sifat yang baik.

43

Bagian utama sebuah sel adalah nukleus, di dalam nukleus terdapat benangbenang halus yang disebut kromatin. Pada saat sel akan mulai membelah diri,
benang-benang halus tersebut menebal, memendek, dan mudah menyerap warna
membentuk kromosom. Kromosom adalah struktur padat yang terdiri dari dua
komponen molekul, yaitu DNA dan protein. Total keseluruhan informasi genetik
yang disimpan di dalam kromosom disebut genom. Genom DNA tersusun atas
gen-gen yang mengandung satu unit informasi mengenai suatu sifat yang dapat
diamati. Gen juga dianggap sebagai fragmen DNA di dalam kromosom. Gen
adalah bagian kromosom atau salah satu kesatuan kimia (DNA) dalam kromosom,
yaitu dalam lokus yang mengendalikan ciri genetis suatu makhluk hidup. Gen
terdapat berpasangan dalam satu lokus pada kromosom homolog. Lokus sendiri
adalah tempat gen pada suatu kromosom homolog yang nantinya akan terbentuk
suatu genotipe. Masing-masing gen dalam pasangan itu disebut alel. Kedua alel
dapat membawa ciri sifat yang sama atau berbeda, misalnya sifat tangkai panjang
dan tangkai pendek. Genotipe adalah susunan genetik organisme dan biasanya
disebut berkenaan dengan sifat-sifat tertentu yang mereka gambarkan. Genotipe
ada dalam bentuk data genetik seperti DNA atau RNA yang akan membawa
penampakan asli suatu individu atau biasa disebut fenotipe. Fenotipe sendiri
adalah sifat keturunan yang dapat kita amati/lihat (warna, bentuk, dan ukuran) dan
merupakan interaksi antara genotipe dan lingkungan.
Praktikum acara III mengenai persilangan monohibrid menggunakan dua
varietas kedelai yaitu varietas Grobogan dan varietas Muria.Selanjutnya dilakukan
percobaan persilangan antara kedelai varietas grobogan (ungu) dengan genotip

44

HH dengan varietas muria (hijau) dengan genotip hh yang menghasilkan F1 yaitu


Hh (ungu). Kemudian sesama F1 disilangkan yang kemudian menghasilkan F2
yaitu HH (ungu), Hh (ungu), Hh (ungu), hh (hijau) dengan perbandingan genotipe
1:2:1 dan perbandingan fenotipe 3:1. Setelah itu dilakukan pengujian dengan
menggunakan uji chi-quadrat. Untuk menguji dengan menggunakan uji chiquadrat sebelumnya dilakukan penanaman kedua varietas kedelai yang berjumlah
50 biji dengan P1, P1, dan F1 sebanyak 10 biji dan F2 sebanyak 20 biji pada
seedbox selama 7 hari. Hasil yang diperoleh setelah penanaman selama 7 hari
kedelai yang tumbuh adalah berjumlah 18 dengan perbandingan 13 untuk kedelai
varietas grobogan dan 5 untuk varietas muria sedangkan 32 biji kedelai yang lain
bijinya membusuk sehingga tidak tumbuh atau mati yang mungkin dikarenakan
terlalu banyak air.
Hasil yang diperoleh pada pengujian menggunakan uji chi-quadrat adalah X 2
hitung 0 dengan X2 tabel 3,84 sehingga hasil yang diperoleh signifikan atau sesuai
dengan harapan atau sesuai dengan teori hukum Mendel I. Hasil praktikum
tersebut sesuai dengan literatur dimana (Suryo,1984) menyatakan bahwa apabila
nilai chi-quadrat dibawah 5% maka nilai X 2 tersebut dikatakan signifikan. Hasil
percobaan yang signifikan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah
tidak adanya deviasi atau penyimpangan dan perlakuan yang benar.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

45

Kesimpulan pada praktikum acara III mengenai persilangan monohibrid ini


adalah sebagai berikut:
1. Persilangan monohibrida adalah persilangan yang hanya memperhatikan satu
sifat atau tanda beda.
2. Manfaat persilangan monohibrid dalam bidang pertanian adalah menciptakan
tanaman unggul yang tahan hama penyakit, berbuah banyak dan cepat panen,
berumur pendek, berdaya hasil tinggi, dan menghasilkan keturunan tanaman
dengan sifat-sifat baik.
3. Hasil yang diperoleh pada pengujian kedelai varietas grobogan dan varietas
muria adalah X2hitung 0 dan X2 3,84 maka X2hitung > X2tabel sehingga
percobaan sesuai dengan teori dan hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai
teori hukum Mendel I).

B. Saran
Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil
yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Deden. 2008. Biologi Kelompok Pertanian.Grafindo Media Pratam,


Bandung

46

Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Wels, James R. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga,
Jakarta.
Yatim, Wildan. 1983. Genetika. Tarsito, Bandung.

LAMPIRAN

47

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN
ACARA IV
PERSILANGAN DIHIBRID

48

Semester:
Ganjil 2014

Oleh:
Yosi Firnando
A1L013193/ F

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persilangan dihibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan dua
karakter yang berlainan.Misalnya persilangan antara tanaman kacang kapri berbiji
bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang kapri berbiji keriput dan
berwarna hijau.Ternyata, hasil persilangan adalah 100% anakan berbiji bulat dan
berwarna kuning.

50

Hukum Mendel II dinamakan dengan penggabungan bebas (The Mendelian


Law of Independent Assortment) mengenai ketentuan penggabungan bebas yang
harus menyertai terbentuknya gamet pada perkawinan dihibrid.Hukum Mendel II
dapat dipelajari dari persilangan dihibrid. Pada perkawinan dihibrid, misalnya
suatu individu memiliki genotip AaBb maka A dan a serta B dan b akan memisah
kemudian kedua pasangan tersebut akan bergabung secara bebas sehingga
kemungkinan gamet terbentuk akan memiliki sifat AB, Ab, aB, ab.
Mendel menggunakan logika yang sama untuk memperkirakan frekuensi
kelas-kelas yang diperoleh ketika melakukan persilangan F1 tanaman dihibrid
(heterozigot untuk dua sifat yang berbeda) untuk mempelajari pewarisan dua sifat
atau lebih. Kejadian-kejadian saling bebas yang berlangsung bersamaan dapat
selalu diperkirakan dengan cara mengalihkan probabilitas-probabilitas individual
untuk masing-masing kejadian tunggal. Mendel melakukan sebuah percobaan
untuk mempelajari bagaimana dua ciri, bentuk dan warna biji, dapat berinteraksi
dalam pewarisan sifat.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara IV mengenai persilangan dihibrid adalah untuk
membuktikan Hukum Mendel II pada persilangan dihibrid.

51

II. TINJAUAN PUSTAKA


Persilangan dihibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan dua
karakter yang berlainan.Misalnya persilangan antara tanaman kacang kapri berbiji
bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang kapri berbiji keriput dan
berwarna hijau.Ternyata, hasil persilangan adalah 100% anakan berbiji bulat dan
berwarna kuning. Jadi, perbandingan fenotipe pada persilangan dihibrid adalah
9:3:3:1 (Diah, 2004).
Mendel menggunakan logika yang sama untuk memperkirakan frekuensi
kelas-kelas yang diperoleh ketika melakukan persilangan F1 tanaman dihibrid
(heterozigot untuk dua sifat yang berbeda) untuk mempelajari pewarisan dua sifat
atau lebih. Kejadian-kejadian saling bebas yang berlangsung bersamaan dapat

52

selalu diperkirakan dengan cara mengalihkan probabilitas-probabilitas individual


untuk masing-masing kejadian tunggal. Mendel melakukan sebuah percobaan
untuk mempelajari bagaimana dua ciri, bentuk dan warna biji, dapat berinteraksi
dalam pewarisan sifat (Suryo, 1984).
Penelitian Mendel menyangkut dua pasang alel atau lebih dan menghasilkan
perumusan hukumnya yang kedua yaitu hukum Pemisahan dan pengelompokkan
secara bebas.Dua sifat yang dipelajarinya yaitu bentuk dan warna kapri. Pada
penelitian terdahulu diketahui bahwa biji bulat (W) dominan terhadap biji
berkerut (w) dan menghasilkan nisbah 3:1 pada keturunan F2 Mendel juga
mendapatkan bahwa warna biji kuning (G) dominan terhadap biji hijau (g) dan
segregasi dengan nisbah 3:1. Nisbah genotipe yang diperoleh adalah 16 genotipe
dalam segi empat Punnett dan nisbah fenotipe yang diperoleh adalah 9:3:3:1
(Crowder, 1986).
Saat pembentukan gamet (pembelahan meiosis) anggota dari sepasang gen
memisah secara bebas (tidak saling memengaruhi). Oleh karena itu, pada
persilangan dihibrid tersebut terjadi empat macam pengelompokan dari dua
pasang gen, yaitu gen W mengelompok dengan gen G, terdapat dalam gamet WG,
gen W mengelompok dengan gen g, terdapat dalam gamet Wg, gen w
mengelompok dengan gen G, terdapat dalam gamet wG, gen w mengelompok
dengan gen g, terdapat dalam gamet wg (Wariyono, 2008).
Menurut (Maniam, 2006) persilangan dihibrid memiliki ciri-ciri tertentu.
Ciri-ciri persilangan dihibrid tersebut adalah sebagai berikut:
1. Persilangan dengan memperhatikan dua sifat beda.
2. Jumlah gamet yang terbentuk pada setiap individu adalah 4 (2n).
3. Fenotipe individu ditentukan oleh dua macam sifat genetik.
4. Dijumpai maksimal 16 variasi genotipe pada F2.

53

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum persilangan dihibrid yaitu lalat
Drosphila melanogaster, media lalat, plastik bening, chloroform, kapas, dan
lembar pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan pada praktikum persilangan
dihibrid antara lain botol bening, cawanpetridish dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
1. Sepuluh sampai dua puluh pasang lalat Drosophila dipilih dengan dua tanda
beda tertentu untuk dikawinkan.
2. Setelah Nampak terbentuk pupa (6-7 hari setelah dikawinkan), semua induk
persilangan harus dibuang sebelum pupa-pupa tersebut menjadi imago.
3. Pengamatan dilakukan pada keturunan pertamanya (F1). Apabila terdapat lebih
dari satu macam fenotip, persilangan ini tidak dapat diteruskan hingga F1
karena hasil seperti menunjukkan bahwa betina yang digunakan ada yang tidak
virgin.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

54

1. Lalat Normal
No
.
1.

Tipe
Lalat
Jantan
normal

Terlihat
dari
Atas

2.

Betina
normal

Atas

Gambar

Keterangan
1. Mata
:
kecokelatan
(merah).
2. Sayap lebih
panjang dari
tubuhnya.
3. Warna
badan
:
cokelat
(kelabu).
1. Mata
:
kecokelatan
(merah).
2. Sayap : lebih
panjang dari
tubuhnya.
3. Warna
badan
:
cokelat
(kelabu).
1. Posterior
:
tumpul.
2. Garis segmen
: tipis (lebih
nyata
diujung).

c
3.

Jantan
normal

Bawah

4.

Betina
normal

Bawah

2.
No
.

1. Posterior
:
lancip.
2. Garis segmen
: tipis

Lalat Ebony
Tipe
Lalat

Terlihat
dari

Gambar

Keterangan

55

1.

Jantan
eboni

Atas

1. Warna mata
merah.
2. Sayap lurus.
3. Ujung
abdomen
terdapat
segmen
hitam.

2.

Betina
eboni

Atas

1. Warna mata
merah.
2. Ujung
abdomen
tidak terdapat
segmen
hitam.
3. Sayap lurus.

3.

Jantan
eboni

Bawah

1. Abdomen
posterior
tumpul.
2. Segmen garis
lebih tampak
hitam.

4.

Betina
eboni

Bawah

1. Abdomen
posterior
lancip.
2. Segmen
hitam pada
tubuhnya
relative tipis.

3. Lalat Dumpy
No. Tipe Lalat

Terlihat dari

Gambar

56

Keterangan

1.

Betina
dumpy

Atas

1. Mata : merah.
2. Sayap : lebih
2
pendek
3
dari tubuhnya.
3. Warna badan :
cokelat (putih).

2.

Jantan
dumpy

Atas

1. Mata : merah
2. Sayap : lebih
2
pendek
3
dari tubuhnya.
3. Warna badan :
cokelat (putih).

3.

4.

Betina
eboni

Jantan
eboni

Bawah

1. Posterior
lancip.
2. Segmen
bersegmen
tipis.

Bawah

1. Posterior
:
tumpul.
2. Segmen
:
bersegmen
( lebih nyata ).

Bagan Persilangan
P

Jantan Ebony

57

Betina Dumpy

(PPTT)

(pptt)

PP = sayap panjang
pp = sayap

2
3

panjang lalat

TT = warna tubuh cokelat


tt = warna tubuh putih
( PpTt )
F1

Sayap panjang
Warna tubuh cokelat

(PpTt)

F2

Fenotip F2

:
PT

Pt

pT

pt

PT

PPTT

PPTt

PpTT

PpTt

Pt

PPTt

PPtt

PpTt

Pptt

pT

PpTT

PpTt

ppTT

ppTt

Pt

PpTt

Pptt

ppTt

pptt

P_T_ : ppT_ : P_tt: pptt


209

: 71

( PpTt )

: 68: 23

Uji X2 pada keturunan F2

58

Karakteristik yang diamati

Observasi
(O)
Harapan
(E)

(|O-E| 1
2
2 )

(|OE| 12 )

P_T_

ppT_

P_tt

Pptt

Jumlah
Total

209

71

68

23

371

9
3
3
1
371=208,69 371=69,56371=69,56 371=23,1875
371
16
16
16
16

0,0961

2,0736

2,4336

0,00046

0,0298

0,03498

0,00046

0,0298

0,03498

0,035

0,00151

X2

0,00151

4,683

0,06675

0,06675

X2tabel : 7,28 ; X2 hitung : 0,06675


Jadi karena X2 tabel > X2 hitung, maka dapat disimpulkan bahwa persilangan ini
sesuai dengan teori hukum Mendel II.

B. Pembahasan

59

Persilangan dihibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan dua


karakter yang berlainan.Misalnya persilangan antara tanaman kacang kapri berbiji
bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang kapri berbiji keriput dan
berwarna hijau.Ternyata, hasil persilangan adalah 100% anakan berbiji bulat dan
berwarna kuning. Jadi, perbandingan fenotipe pada persilangan dihibrid adalah
9:3:3:1. Persilangan dihibrid (heterozigot untuk dua sifat yang berbeda)
mempelajari tentang pewarisan dua sifat atau lebih. Kejadian-kejadian saling
bebas yang berlangsung bersamaan dapat selalu diperkirakan dengan cara
mengalihkan probabilitas-probabilitas individual untuk masing-masing kejadian
tunggal. Mendel melakukan sebuah percobaan untuk mempelajari bagaimana dua
ciri, bentuk dan warna biji, dapat berinteraksi dalam pewarisan sifat
Hubungan persilangan dihibrid dengan hukum Mendel II adalah dengan
menggunakan persilangan dihibrid ini dapat digunakan untuk membuktikan
kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom
yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam
fenotipe dengan perbandingan 9:3:3:1. Namun kenyataannya, seringkali terjadi
penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh
beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot
letal dan sebagainya.Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya
hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan
gamet.
Ilmu Genetika memberikan manfaat yang besar bagi manusia, khususnya
pada persilangan organisme.Untuk bidang pertanian telah dihasilkan produk-

60

produk hasil persilangan.Di bidang pertanian, hukum Mendel diterapkan untuk


memperoleh bibit unggul. Cara ini dilakukan untuk usaha pemuliaan tanaman,
misalnya untuk mendapatkan tanaman padi yang tahan terhadap hama dan
penyakit serte bereproduksi tinggi dengan masa tanam pendek. Contoh bibit
unggul yang dihasilkan melalui persilangan dihibrid adalah sebagai berikut:
1. Padi Mekongga
Padi Mekongga merupakan varietas unggul yang tahan terhadap serangan
hama wereng coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit bakteri daun
atau yang dikenal dengan nama strain IV. Padi mekongga merupakan varietas
unggul hasil persilangan antara padi jenis galur A2970 dengan IR 64.
2. Padi Cisadane
Padi Cisadane meupakan varietas unggul yang termasuk kategori padi
sawah dataran rendah.Padi Cisadane termasuk varietas padi yang tahan
terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 3, cukup tahan terhadap wereng coklat
biotipe 2, dan agak peka terhadap wereng hijau dan wereng punggung
putih.Padi Cisadane merupakan varietas unggul hasil persilangan antara padi
jenis pelita I dengan padi jenis 1/B2388.
3. Jagung Hibrida (Bima 7)
Bima 7 merupakan jagung hibrida yang berasal dari persilangan antara
galur murni GJ11 sebagai tetua betina dengan galur murni GJ15 sebagai tetua
jantan.Bima 7 merupakan varietas unggul yang agak toleran terhadap penyakit
bulai (Peronosclerospora maydis L.) dan toleran terhadap penyakit karat dan
bercak daun.
4. Padi Memberamo

61

Padi Memberamo merupakan varietas unggul hasil dari persilangan antara


padi jenis B6555b dengan padi jenis 199-40 atau Barumun.Padi Memberano
merupakan varietas unggul yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2,
dan 3. Padi Memberano juga tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan
agak tahan terhadap virus tungro.
5. Jagung Hibrida (Bima 8)
Bima 8 merupakan jagung hibrida yang berasal dari persilangan antara
galur murni CML 252 sebagai tetua betina dengan galur murni GJ15 sebagai
tetua jantan.Bima 8 merupakan varietas unggul yang agak toleran terhadap
penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.) dan toleran terhadap penyakit
karat dan bercak daun.
Lalat Drosophilla Melanogaster memiliki bermacam-macam mutan antara
lain adalah sebagai berikut:
1. Short-Winged Flies
Lalat ini mempunyai sayap pendek dan tidak bisa terbang. Mereka
mempunyai suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu vestigial gen, pada
kromosom yang kedua. Lalat ini mempunyai suatu mutasi terdesak/terpendam.
Tentang penghembus vestigial gen yang dibawa oleh masing-masing lalat
(satu dari orangtua masing-masing), kedua-duanya harus diubah untuk
menghasilkan sayap yang abnormal.
2. Curly-Winged Flies
Lalat ini memiliki sayap keriting. Mereka mempunyai suatu cacat di dalam
tubuh mereka yaitu "gen keriting" pada kromosom yang kedua. Sayap-sayap

62

keriting ini terjadi karena suatu mutasi dominan, yang berarti bahwa satu
salinan gen diubah dan menghasilkan cacat itu. Jika salinan kedua-duanya
(orang tuanya) adalah mutan, maka lalat ini tidak akan survive.
3. Ebony Flies
Lalat ini berwarna gelap, hampir hitam dibadannya. Mereka membawa
suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen kayu hitam yang terletak pada
kromosom ketiga. Secara normal, gen kayu hitam bertanggung jawab untuk
membangun pigmen yang memberi warna pada lalat buah normal. Jika gen
kayu hitam cacat, maka pigmen yang hitam ini dapat menyebabkan badan
pada lalat buah menjadi hitam semuanya.
4. White-Eyed Flies
Lalat ini mempunyai mata putih. Seperti lalat orange-eyed, mereka juga
mempunyai suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen putih. Tetapi di lalat
ini, gen putih secara total cacat, sehingga tidak menghasilkan pigmen merah
sama sekali.
5. Yellow Flies
Lalat ini berwarna kekuningan dibanding lalat normal. Mereka
mempunyai suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen kuning pada
kromosom X. Gen kuning diperlukan untuk memproduksi suatu pigmen pada
lalat hitam normal. Sedangkan pada mutan ini tidak bisa menghasilkan
pigmen atau gen kuning ini.
6. Leg-Headed Flies

63

Lalat ini mempunyai antena seperti kaki abnormal pada dahi mereka.
Mereka mempunyai suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen
antennapedia (bahasa latin untuk "antenna-leg"), yang secara normal
diinstruksikan sel untuk merubah beberapa badan untuk menjadi kaki. Di lalat
ini, gen antennapedia dengan licik instruksikan sel yang secara normal untuk
membentuk antena menjadi kaki sebagai gantinya.
7. Eyeless Flies
Lalat ini tidak punya mata. Mereka mempunyai suatu cacat di dalam tubuh
mereka yaitu gen buta, yang secara normal diinstruksikan sel di dalam larva
untuk membentuk suatu mata.
8. Orange-Eyed Flies
Lalat pada gambar yang dilingkari mempunyai warna mata seperti warna
jeruk. Mereka mempunyai suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen putih,
yang secara normal menghasilkan pigmen merah di dalam mata. Di lalat ini,
gen yang putih hanya bekerja secara parsial, memproduksi lebih sedikit
pigmen merah dibanding lalat normal.
Praktikum acara IV mengenai persilangan dihibrid ini menggunakan lalat
buah (Drosophilla Melanogaster).Alasan digunakannya lalat buah untuk
persilangan dihibrid adalah karena siklus hidup lalat buah yang sangat pendek
sekitar 10 hingga 15 hari tergantung besarnya suhu lingkungan.Lalat buah
(Drosophilla Melanogaster) yang digunakan pada praktikum ini terdapat tiga jenis
yaitu lalat buah normal, lalat buah ebony, dan lalat buah dumpy.Pada praktikum
ini kelompok kami mendapatkan bagian yaitu lalat buah dumpy untuk persilangan

64

dihibrid.Ciri-ciri dari lalat buah dumpy adalah warna matanya merah, badannya
berwarna putih, sayapnya lebih pendek dari tubuhnya.Sedangkan perbedaan
antara lalat buah dumpy jantan dan betina adalah pasterior dan segmennya.Lalat
dumpy jantan memiliki paterior tumpul dan bersegmen lebih nyata, sedangkan
lalat dumpy betina memiliki pasterior lancip dan bersegmen tipis.Tipe mutan dari
lalat buah dumpy adalah sayap pendek, dua per tiga sayap normal, betuk sayap
tumpul dan berlekuk. Persilangan yang dilakukan adalah antara lalat ebony
dengan lalat dumpy dengan persilangan sebagai berikut:
P1

G1

F1

P2
G2

F2

PPTT (Ebony) >< pptt (Dumpy)


PT

PpTt
:

pt

PpTt ( Sayap panjang, tubuh coklat)


><

PpTt

PT

pT

Pt

pt

P_T_, ppT_, P_tt, pptt


209 : 71

Keterangan

><

: 68 : 23

PP = Sayap panjang
TT = Warna tubuh coklat
pp = Sayap 2/3 panjang lalat
tt = Warna tubuh putih

Pembuktian hukum Mendel II pada praktikum ini dilakukan dengan


melakukan pengujian data hasil pengamatan menggunakan Uji chi-square (X 2).
Karakteristik yang diamati ada 4 yaitu, P_T_, ppT_, P_tt, pptt dengan

65

perbandingan observasi yaitu 209:71:68:23. X tabyang digunakan adalah 7,28 dan


hasil X2hitung yang diperoleh adalah 0,06675. Kesimpulan dari hasil yang
diperoleh adalah X2 hitung < Xtabsehingga persilangan signifikan atau pengujian
sesuai dengan teori hukum Mendel II.Hasil yang didapatkan signifikan karena X 2
hitung dibawah atau kurang dari Xtab5% sehingga hasil pengujian sesuai dengan
perbandingan dan sesuai dengan teori hukum Mendel II.Artinya data percobaan
itu sesuai dengan teori dan penyimpangan yang ada hanya secara kebetulan saja.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

66

Kesimpulan pada praktikum acara IV mengenai persilangan dihibrid ini


adalah sebagai berikut:
1. Persilangan dihibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan dua
karakter yang berlainan.
2. Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II
berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan gamet.
3. Lalat buah Drosophilla Melanogaster memiliki berbagai macam mutan antar
lain yaitu, Shorted-Wing Flies, Eyeless Flies, Orange-Eyed Flies, Leg-Headed
Flies, Yellow Flies, White Eyed Flies, Ebony Flies, dan Curly Winged Flies.
4. Hasil yang diperoleh pada praktikum adalah X2 hitung < Xtab sehingga
persilangan signifikan atau pengujian sesuai dengan teori hukum Mendel II.
B. Saran
Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil
yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:


Yogyakarta.
Diah, Aryulina. 2004. Biologi SMAdan MA untuk Kelas XII Jilid 3. Erlangga: PT.
Gelora Aksara Pratama : Jakarta

67

Maniam, A. S. 2006. Biologi untuk SMA/MA. Grafindo Media Pratama: Bandung


Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Wariyono, Sukis. 2008. Ilmu Alam Sekitar 3. PT. Gramedia: Jakarta

LAMPIRAN

68

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN
ACARA V
PENYIMPANGAN HUKUM MENDEL

Semester:
Ganjil 2014

Oleh :
Yosi Firnando
A1L013193/ F

69

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyimpangan hukum Mendel terjadikarena adanya 2 pasang gen atau lebih
saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip pada suatu individu yang
disebut interaksi gen. Umumnya semua beranggapan bahwa suatu sifat keturunan
yang nampak pada suatu individu ditentukan oleh sebuah gen tunggal, misalnya
bunga merah oleh gen R, bunga putih ole gen r, buah bulat oleh gen b, buah oval
(lonjong) oleh gen b, batang tinggi oleh gen T, batang pendek oleh gen t. Akan
tetapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara
diwariskannya sifat keturunan tidak mungkin diterangkan dengan pedoman
tersebut, karena sulit sekali disesuaikan dengan hukum-hukum Mendel.
Secara garis besar penyimpangan hukum Mendel adalah terjadinya
perbedaan hasil fenotip dan genotip dengan hasil milik Mendel.Penyimpangan ini
terdapat dua bagian yaitu interaksi alel dan interaksi gen. Pada umumnya interaksi
alel terjadi pada hukum Mendel I yaitu tentang persilangan monohibrid.
Sedangkan interaksi gen umumnya terjadi pada hukum Mendel II dimana
interaksi gen dibagi menjadi beberapa tipe antara lain yaitu komplementer,
kriptomeri,

epistasis-hipostasis,

dan

polimeri.Berdasarkan

penemuan

dan

penelitian tentang pewarisan sifat secara bebas Mendel menyimpulkan bahwa


tidak semua keturunan yang mengalami segregasi dapat dipisahkan menjadi kelas
yang jelas dengan nisbah yang sederhana.

71

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara V mengenai penyimpangan hukum Mendel
adalah untuk mengetahui penyimpangan hukum Mendel.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Penyimpangan hukum Mendel terjadikarena adanya 2 pasang gen atau lebih
saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip pada suatu individu yang
disebut interaksi gen. Secara garis besar penyimpangan hukum Mendel adalah
terjadinya perbedaan hasil fenotip dan genotip dengan hasil milik Mendel
(Crowder, 1986).
Umumnya semua beranggapan bahwa suatu sifat keturunan yang nampak
pada suatu individu ditentukan oleh sebuah gen tunggal, misalnya bunga merah
oleh gen R, bunga putih ole gen r, buah bulat oleh gen b, buah oval (lonjong) oleh
gen b, batang tinggi oleh gen T, batang pendek oleh gen t. Akan tetapi dalam
kehidupan sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara diwariskannya sifat

72

keturunan tidak mungkin diterangkan dengan pedoman tersebut, karena sulit


sekali disesuaikan dengan hukum-hukum Mendel (Suryo, 1984).
Penyimpangan ini terdapat dua bagian yaitu interaksi alel dan interaksi gen.
Pada umumnya interaksi alel terjadi pada hukum Mendel I yaitu tentang
persilangan monohibrid. Sedangkan interaksi gen umumnya terjadi pada hukum
Mendel II dimana interaksi gen dibagi menjadi beberapa tipe antara lain yaitu
komplementer, kriptomeri, epistasis-hipostasis, dan polimeri (Goodenough, 1978).
Komplementer adalah peristiwa dua gen dominan saling memengaruhi atau
melengkapi dalam mengekspresikan suatu sifat. Kriptomeri adalah peristiwa suatu
factor dominan yang baru tampak pengaruhnya apabila bertemu dengan factor
dominan lain yang bukan alelnya. Sebuah gen atau sepasang gen yang menutupi
(mengalahkan) ekspresi gen lain yang bukan alelnya dinamakan epistasis.
Sedangkan gen yang dikalahkan ini tadi dinamakan gen hipostatis. Dan polimeri
adalah peristiwa dengan beberapa sifat beda yang berdiri sendiri yang
memegaruhi bagian yang sama dari suatu individu (Gardner, 1984).

73

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum penyimpangan hukum Mendel ini
yaitu kantong plastik dan kancing warna.Sedangkan alat yang digunakan pada
praktikum teori kemungkinan ini adalah lembar pengamatan dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
1. Satu kantong plastik berisi kancing warna diambil, kemudian dikocok hingga
homogen.
2. Satu butir kancing warna diambil, dicatat hasilnya.
3. Pengambilan kancing dilakukan 90x dan 160x, kemudian dicatat pada lembar
pengamatan yang akan disediakan pada saat praktikum.
4. Data dianalisa dengan uji X2.
5. Kode kantong dicantumkan di bagian atas.

74

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 1. Uji X2 Epistasis Dominan Duplikat (15:1) Pengambilan 90x


Karakteristik yang Diamati
Hitam

Pink

Jumlah Total

Observasi (O)

82

90

Ekspektasi (E)

15
90=84,375
16

1
90=5,625
16

90

(|OE|)

(|18284,375|) ( |8 5,625| - )2

7,032

= 3,516

= 3,516

(|OE|)
E

3.516
=0,04167
84,375

3,516
=0,625
5,625

0,67

X2

0.04167

0.625

0.67

X2tabel = 3,84
X2 hitung <X2 tabel, 0,67< 3.84
Kesimpulan :X2 hitung <X2 tabel, maka sesuai dengan teori
Tabel 2. Uji X2 Epistasis Dominan Duplikat (15:1) Pengambilan 160x
Karakteristik yang Diamati
Hitam

Pink

Jumlah Total

Observasi (O)

145

15

160

Ekspektasi (E)

15
160=150
16

1
160=10
16

160

(|145150|)
= 20,25

( |15 - 10| - )2 =
20,25

40,5

(|OE|)
E

20,25
=0,135
150

20,25
=2,025
10

2,160

X2

0,135

2,025

2,16

(|OE|)

X2tabel = 3,84
X2 hitung <X2 tabel, 2,16< 3,84

75

Kesimpulan :X2 hitung <X2 tabel, maka sesuai dengan teori


Tabel 1. Uji X2 Gen Duplikat dengan Efek Kumulatif (9:6:1) Pengambilan 90x

Observasi (O)
Ekspetasi (E)
2

(|OE|)

(|OE|)
E

Karakteristik yang diamati


Hitam
Putih
Kuning
49
34
7
9
6
1
16 x 90 =
16 x 90
16 x 90 =
50,625
(|49-50,625|)2
= 2,64
2,64
50,625 =

= 33,75
(|34-33,75|)2
= 0,0625
0,0625
33,75 =

5,625
(|7-5,625|)2 =
1,89
1,89
5,625 =

0,052
0,001
0,336
X2
0,052
0,001
0,336
2
X tabel = 5,99
X2 hitung <X2 tabel, 0,389 < 5,99
Kesimpulan :X2 hitung <X2 tabel, maka sesuai dengan teori.

Jumlah total
90
90
4,5925
0,389
0,389

Tabel 2. Uji X2 Gen Duplikat dengan Efek Kumulatif (9:6:1) Pengambilan 160x

Observasi (O)
Ekspetasi (E)
2

(|OE|)

(|OE|)
E
2

Karakteristik yang diamati


Kuning
Merah
Hitam
110
36
14
9
6
1
x
160
x
16
16
16 x 160
= 90

160 = 60

= 10

(|110-90|)2 =
400

(|36-60|)2 =
576

(|14-10|)2 =
16

400
90
4,44
4,44

576
60
9,6
9,6

16
10

= 1,6

Jumlah total
160
160

992

15,64

X
1,6
15,64
X tabel = 5,99
X2 hitung >X2 tabel, 15,64> 5,99
Kesimpulan :X2 hitung >X2 tabel, hasil tidak signifikan maka tidak sesuai dengan
teori.
2

76

Tabel 1. Uji X2 Epistasis-Resesif (9:3:4) Pengambilan 90x


KARAKTERISTIK YANG DIAMATI
Kuning (9)
Hijau (3)
Merah (4)
60
14
16
50,625
16,875
22,5
(
1416,875
( 60-50,625
1622,5
( 2 =8,266
)2 = 87,9
2
= 42,25

(O)
(E)
( O-E ) 2
2

( OE )
E

90
90
138,41
6
2

( 6050,625 )
( 1416,875)
( 1622,5 )
=1,736
=0,489
=
1,88
4,105
50,625
16,875
22,5

X2
1,736
0,489
1,88
4,105
2
X tab = 5,99
X hit = 4,105
Kesimpulannya : Karena X hit < X2 tab 4,105 < 5,99 Maka sesuai dengan
teori.

Tabel 2. Uji X2 Epistasis-Resesif (9:3:4) Pengambilan 160x

(O)
(E)
( O-E ) 2
2

( OE )
E

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


Hitam (9)
Pink (3)
Kuning (4)

86
43
31
160
90
40
30
160
3130

4340

( 86-90
2
=
(
=

26

)2 = 16
9
1
2
2
2
( 8690 )
( 4340 )
( 3130 )
=0,177
=0,225
=0,030,432
90
40
30

X2
0,177
0,225
0,33
0,432
2
X tab = 5,99
X hit = 0,432
Kesimpulannya : Karena X hit < X2 tab 0,432 < 5,99 Maka sesuai dengan teori

77

Tabel 1. Uji X2 Dominan-Resesif (13:3) Pengambilan 90x

(O)
(E)
( O-E ) 2
( OE )2
E

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


Putih (13)
Coklat (3)
78
12
73,125
16,875
1216,875
(
( 78 -73,125)2
2
= 19,14
19,4
( 7873,125 )2
( 1216,875 )2
=0,26
=1,13
73,125
16,875

90
90
38,28

1,39

X2
0,26
1,13
1,39
X2 tab = 3,84
X hit = 1,39
Kesimpulannya : Karena X hit < X2 tab 1,39 < 3,84 Jadi praktikum sesuai
dengan teori.
Tabel 2. Uji X2 Dominan-Resesif (13:3) Pengambilan 160x
KARAKTERISTIK YANG DIAMATI

(O)
(E)
( O-E ) 2

( OE )2
E

Kuning (13)

Hijau (3)

132
130

132
(
- 130 )2

28
30
2830
(
= 2,25
2

= 2,25
( 132130 )

( 2830 )2
=0,075
30

Jumlah
Total
160
160
4,5

0,092

X2
0,017
0,075
0,092
X tab = 3,84
X hit = 0,092
Kesimpulannya : Karena X hit < X2 tab 0,092< 3,84 Jadi Praktikum sesuai
dengan teori
2

78

Tabel 1. Uji X2 Resesif Duplikat (9:7) Pengambilan 90x

(O)
(E)
( |O E| - )2

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


Kuning = 9
Hijau = 7

57
33
90
(7/16 x 90 =
(9/16 x 90 = 50,625
90
39,375
( |57 50,625| - )2 ( |33 39,375| - )2
69,02
= 34,51
= 34,51
34,51 = 0,68
34,51 = 0,875
1,556
50,625
39,375
0,68
0,875
1,556

( |O E| - )2
E
X2
X2 tabel = 3,84
Kesimpulan : X2 hitung < X2 tabel => Hasil observasi yang dilakukan sesuai
dengan teori atau harapan. 1,556 < 3,84

Tabel 2. Uji X2 Resesif Duplikat (9:7) Pengambilan 160x

(O)
(E)
( |O E| - )2

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


Kuning = 9
Hijau = 7
Jumlah Total
95
65
160
(9/16 x 160 = 90
(7/16 x 160 = 70
160
( |95 90| - )2
( |65 70| - )2
40,5
= 20,25
= 20,25
20,25 = 0,225
20,25 = 0,289
0,514
90
70
0,225
0,289
0,514

( |O E| - )2
E
X2
2
X tabel = 3,84
Kesimpulan : X2 hitung < X2 tabel = Hasil observasi yang dilakukan sesuai
dengan teori atau pembanding. 0,541 , 3,84 = Sesuai dengan teori atau harapan.

79

Tabel 1. Uji X2 Epistasis Dominan (12:3:1) Pengambilan 90x

(O)
(E)
(|O - E|)
OE

Cokelat
69
1 (12/16 x
90) = 67,5
2,25
6967,5

=
0,03
0,03

Karakter yang
Kuning
18
(3/16 x 90) =
16,873
1,270

Diamati
Hijau
3
1 (1/16 x
90) = 5,62
6,864

1816,873 35,62

2
2

= 0,075

Jumlah
Total
90
90
10,384

1,325

= 1,22

X2
0,075
1,22
1,325
Kesimpulan :
X2 hitung < X2 tabel, artinya hasil percobaan sesuai dengan pembanding
(signifikan).

Tabel 2. Uji X2 Epistasis Dominan (12:3:1) Pengambilan 160x

(O)
(E)
(|O - E|)
OE

Cokelat
132
(12/16 x
160) = 120
144
132120

= 1,2
1,2

Karakter yang Diamati


Kuning
Hijau
24
4
(3/16 x
1
(1/16
160) = 30
x 160) = 10
36
36
2430
410

2
2

= 1,2
1,2

= 3,6
3,6

Jumlah
Total
160
160
216

4,9

X
4,9
Kesimpulan :
X2 hitung < X2 tabel, berarti hasil percobaan sesuai dengan pembanding
(signifikan).

80

B. Pembahasan

Penyimpangan hukum Mendel terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih
saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip pada suatu individu yang
disebut interaksi gen. Umumnya semua beranggapan bahwa suatu sifat keturunan
yang nampak pada suatu individu ditentukan oleh sebuah gen tunggal, misalnya
bunga merah oleh gen R, bunga putih ole gen r, buah bulat oleh gen b, buah oval
(lonjong) oleh gen b, batang tinggi oleh gen T, batang pendek oleh gen t. Akan
tetapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara
diwariskannya sifat keturunan tidak mungkin diterangkan dengan pedoman
tersebut, karena sulit sekali disesuaikan dengan hukum-hukum Mendel.
Penyimpangan hukum mendel terdapat 5 macam antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Kriptomeri
Kriptomeri merupakan interaksi komplementasi yang terjadi, karena
munculnya hasil ekspresi suatu gen yang memerlukan kehadiran alel tertentu
pada lokus lain. Contoh interaksi komplementasi ini, terjadi pada proses
pembentukan warna bunga Linaria maroccana. Warna bunga ditentukan oleh
kandungan antosianin dan keadaan pH sel. Kandungan antosianin pada bunga
ditentukan oleh satu gen yang mempunyai dua alel dominan resesif (Misal A
dan
a). Contoh persilangan kriptomeri adalah seperti berikut ini:
P

: AAbb (merah)

><

81

aaBB (putih)

: Ab

><

aB

F1

AaBb (ungu)

P2

: AaBb (ungu)

><

F2

: A_B_ (ungu), A_bb (merah), aaB_ (putih), aabb (putih)

AaBb (ungu)

Pada bunga Linaria maroccana terdapat tiga warna bunga yaitu merah, putih,
dan ungu. Jika bunga Linaria maroccana berbunga merah galur murni
disilangkan dengan bunga putih galur murni, maka akan diperoleh F1 yang
semuanya berbunga ungu. Jika sesama F1 disilangkan, maka akan
menghasilkan fenotip dengan perbandingan bunga ungu : merah : putih = 9 :
3 : 4 (Maniam, 2006).
2. Polimeri
Polimeri terjadi karena dua gen memproduksi bahan yang sama dan
menghasilkan fenotip yang sama. Contohnya adalah sifat warna merah pada
gandum. Warna merah tersebut dikendalikan oleh pasangan alel dominan
resesif yang terdapat pada dua gen yang berbeda lokus. Warna merah akan
muncul apabila terdapat alel dominan di salah satu atau kedua lokus. Contoh
persilangan polimeri adalah seperti berikut ini:
P

: M1M1M2M2(merah)

: M1M2, m1m2

F1

: M1m1, M2m2

P2

: M1m1M2m2(merah)

G2

: M1M2, M1m2, m1M2,m1m2

82

><

m1m1m2m2(putih)

><

M1m1M2m2(merah)

F2 : M1M1M2M2(merah), M1_M2_(merah), m1_M2(merah), M1_m2_ (merah),


m1m1m2m2(putih)
Contohnya, pasangan alel penghasil warna merah pada persilangan adalah M1
dan m1, sedangkan pada lokus lain juga terdapat pasangan alel M2 dan m2.
Jika gandum berkulit merah (homozigot dominan) disilangkan dengan gandum
berkulit putih (homozigot resesif), maka akan menghasilkan fenotip gandum
berkulit merah semua. Bila F1 disilangkan sesamanya, akan dihasilkan gandum
berkulit merah : berkulit putih = 15 : 1 (Maniam, 2006).
3.

Epistasis dan Hipostasis


Epistasis dan hipostasis merupakan interaksi yang berlangsung pada
fenotip yang dihasilkan oleh dua gen. Kedua gen bekerja menghasilkan fenotip
yang berbeda, tetapi fenotip dari salah satu gen yang dominan dapat menutupi
penampakan dari fenotip yang dihasilkan oleh gen dominan yang lain apabila
kedua gen hadir bersama. Gen dominan yang menutupi gen dominan yang lain
disebut epistasis, sedangkan gen yang tertutupi disebut hipostatis. Contoh
peristiwa epistasis dan hipostasis pada tumbuhan adalah pada warna sekam
gandum. Contoh persilangan epistasis dan hipostasis adalah sebagai berikut:
P

: HHkk (hitam)

><

: Hk

><

F1

HhKK (hitam)

P2

: HhKK (hitam)

><

F2

: H_K_ (hitam), H_kk (hitam), hhK_ (kuning), hhkk (putih)

83

hhKK (kuning)
hK

HhKK (hitam)

Terdapat tiga warna sekam gandum, yaitu hitam, kuning, dan putih. Pigmen
hitam dan pigmen kuning dibentuk oleh dua gen yang berbeda yang masingmasing dikendalikan oleh sepasang alel dengan hubungan dominan resesif.
Misalnya, pigmen kuning dikendalikan oleh alel K dan k, dan pigmen hitam
dikendalikan oleh alel H dan h. Jika gandum biji hitam dominan homozigot
dikawinkan dengan gandum biji kuning dominan homozigot, maka hasil F1
adalah 100% gandum berkulit hitam. Sedangkan, pada F2 dihasilkan gandum
biji hitam : biji kuning : biji putih = 12 : 3 : 1 (Maniam, 2006).

4. Komplementer
Komplementer

adalah

gen-gen

yang

berinteraksi

dan

saling

melengkapi. Jika salah satu gen tidak ada, maka ekspresi suatu karakter tidak
sempurna atau terhalang, misalnya adalah pada bunga kacang (Lathirus
Odoratus). Contoh persilangannya adalah seperti berikut ini:
P

: CCpp (putih)

><

ccPP (putih)

: Cp

><

Cp

F1

Ccpp (ungu)

P2

: CcPp (ungu)

><

F2

: C_P_ (ungu), C_pp (putih), ccP_ (putih), ccpp (putih)

CcPp (ungu)

Berdasarkan karakter gen-gen tersebut, maka warna bunga hanya akan muncul
jika kedua gen (penghasil pigmen dan penghasil enzim) bertemu. Jika tidak
bertemu maka warna bunga yang terbentuk adalah putihC dan P berada
bersama bekerjasama memunculkan karakter normal. Bila hanya memiliki

84

salah satu gen dominan C atau P saja, karakter yang muncul adalah bunga
warna putih. Jika sesama F1 disilangkan, maka akan menghasilkan fenotip
dengan perbandingan bunga ungu : putih = 9 : 7 (Maniam, 2006)
5. Interaksi alel
Interaksi alel merupakan suatu peristiwa dimana muncul suatu karakter
akibat interaksi antar gen dominan maupun antar gen resesif. Contohnya adalah
mengenai pial/jengger pada ayam. Dimana pada ayam terdapat 4 macam
pial/jengger antara lain adalah ros (R_pp), pea (rrP_), walnut (R_P_), dan
single/bilah (rrpp). Contoh persilangan interaksi alel adalah seperti berikut ini:
P

R_pp (ros)

><

rrP_ (pea)

F1

P2

F2

: R_P_(walnut), R_pp (ros), rrP_(pea), rrpp (single)

RrPp (walnut)
RrPp (walnut) ><

RrPp (walnut)

Pada contoh di atas ada 2 karakter baru muncul yaitu walnut dan single. Walnut
muncul karena interaksi 2 gen dominan sedangkan single muncul karena
interaksi 2 gen resesif. Bila F1 disilangkan sesamanya, akan dihasilkan F2
dengan rasio fenotip walnut : ros : pea : single = 9 : 3 : 3 : 1 (Maniam, 2006).
Manfaat mempelajari penyimpangan hukum Mendel adalah sebagai berikut
ini:
1. Dapat mengetahui berbagai macam bentuk penyimpangan dari hukum
Mendel,

seperti

kriptomeri, polimeri,

komplementer, serta interaksi alel.

85

epistasis

dan

hipostasis, gen

2. Dapat mengetahui dan membedakan perbandingan-perbandingan rasio fenotip


dari berbagai macam penyimpangan hukum Mendel.
3. Dapat mengetahui serta mempelajari sebab-sebab terjadinya berbagai macam
penyimpangan terhadap hukum Mendel.
Praktikum mengenai penyimpagan hukum Mendel ini untuk uji X 2
menggunakan 6 percobaan antara lain yaitu epistasis dominan (12:3:1), epistasis
resesif (9:3:4), epistasis dominan resesif (13:3), epistasis dominan duplikat (15:1),
epistasis resesif duplikat (9:7), dan gen duplikat dengan efek kumulatif (9:6:1).
Tiap-tiap percobaan dilakukan dengan cara mengambil kancing warna pada
kantong plastik dengan pengambilan sebanyak 90 kali dan 160 kali. Percobaan
pertama yaitu epistasis dominan dupulikat, karakteristik yang diamati ada 2 yaitu
kancing warna pink dan hitam dengan perbandingan 15:1. Pada pengambilan 90
kali X2yang diperoleh adalah 0,67. Sedangkan pada pengambilan 160 kali X2yang
diperoleh adalah 2,16. Kesimpulan pada percobaan pertama setelah dilakukan
pengujian adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai dengan teori dan
hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan perbandingan).
Percobaan kedua yaitu gen duplikat dengan efek keumulatif, karakteristik
yang diamati ada 3 yaitu kancing warna hitam, putih, dan kuning dengan
perbandingan 9:6:1. Pada pengambilan 90 kali X2yang diperoleh adalah 0,389.
Sedangkan pada pengambilan 160 kali X 2yang diperoleh adalah 15,64.
Kesimpulan pada percobaan kedua setelah dilakukan pengujian pada pelemparan
160 kali ternyata X2 hitung > X2tabel sehingga hasil pengujian tidak signifikan.

86

Percobaan ketiga yaitu epistasis resesif, karakteristik yang diamati ada 3


yaitu kancing warna kuning, hijau, dan merah dengan perbandingan 9:3:4. Pada
pelemparan 90 kali X2yang diperoleh adalah 4,105.Sedangkan pada pelemparan
160 kali X2yang diperoleh adalah 0,432.Kesimpulan pada percobaan ketiga
setelah dilakukan pengujian adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai
dengan teori dan hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan
perbandingan).
Percobaan keempat yaitu dominan resesif, karakteristik yang diamati ada 2
yaitu kancing warna putih, dan coklat dengan perbandingan 13:3. Pada
pelemparan 90 kali X2yang diperoleh adalah 1,39. Sedangkan pada pelemparan
160 kali X2yang diperoleh adalah 0,092.Kesimpulan pada percobaan keempat
setelah dilakukan pengujian adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai
dengan teori dan hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan
perbandingan).
Percobaan kelima yaitu resesif duplikat, karakteristik yang diamati ada 2
yaitu kancing warna kuning, dan hijau dengan perbandingan 9:7.Pada pelemparan
90 kali X2yang diperoleh adalah 1,556.Sedangkan pada pelemparan 160 kali
X2yang diperoleh adalah 0,541.Kesimpulan pada percobaan kelima setelah
dilakukan pengujian adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai
dengan teori dan hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan
perbandingan).
Percobaan keenam yaitu epistasis dominan, karakteristik yang diamati ada 3
yaitu kancing warna coklat, kuning, dan hijau dengan perbandingan 12:3:1. Pada

87

pelemparan 90 kali X2yang diperoleh adalah 1,325. Sedangkan pada pelemparan


160 kali X2yang diperoleh adalah 4,9. Kesimpulan pada percobaan keenam setelah
dilakukan pengujian adalah X2 hitung < X2tabel sehingga percobaan sesuai
dengan teori dan hasil pengujian signifikan (pengujian sesuai dengan
perbandingan). Hasil praktikum tersebut sesuai dengan literatur dimana
(Suryo,1984) menyatakan bahwa apabila nilai chi-quadrat dibawah 5% maka nilai
X2 tersebut dikatakan signifikan. Dan apabila nilai chi-quadrat diatas 5% maka
nilai X2 tersebut dikatakan tidak signifikan. Pada percobaan dengan gen duplikat
dengan efek kumulatif hasil yang diperoleh tidak signifikan mungkin dikarenakan
faktor deviasi atau penyimpangan yang memperngaruhi percobaan mengenai
pernyimpangan hukum Mendel tersebut.

88

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Kesimpulan pada praktikum acara V mengenai penyimpangan hukum


Mendel ini adalah sebagai berikut:
1. Penyimpangan hukum Mendel terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih
saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip pada suatu individu yang
disebut interaksi gen.
2. Terdapat 5 macam penyimpangan hukum Mendel antara lain yaitu kriptomeri,
polimeri, epistasis-hipostasis, komplementer, dan interaksi alel.
3. Hasil yang diperoleh pada pengujian dengan 6 percobaan adalah pada
pelemparan 160 kali gen duplikat dengan efek kumulatif ternyata X2 hitung >
X2tabel sehingga hasil pengujian tidak signifikan (tidak sesuai dengan
perbandingan). Sedangkan percobaan yang lain hasil pengujian signifikan
(pengujian sesuai dengan perbandingan).
B. Saran

89

Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil


yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:


Yogyakarta.
Gardner, EJ. And D.P. Snustad, 1984.Principles of Genetics. 7th ed., John Wiley &
Sons, Inc., New York
Goodenough, U., 1978. Genetics, 2nd ed., Holt-Saunders, Japan Ltd., Tokyo
Maniam, A. S. 2006. Biologi untuk SMA/MA. Grafindo Media Pratama: Bandung
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

90

LAMPIRAN

91

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN
ACARA VI
PERHITUNGAN FREKUENSI ALEL, FREKUENSI GENOTIP,
PENGUKURAN SIFAT-SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Semester:
Ganjil 2014

Oleh:
Yosi Firnando
A1L013193/ F

92

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Frekuensi alel merupakan pernyataan matematis suatu alel yang tersebar
dalam suatu populasi yang bereproduksi secara seksual.Bagi suatu lokus genetic
yang memiliki produk alel lebih dari satu atau bersifat alelik, maka frekuensi alel
disebut juga frekuensi gena.dari lokus tersebut.Dalam hal ini perlu diperhatikan
bahwa untuk menghitung frekuensi suatu alel atau frekuensi gena, perlu diketahui
dulu sebaran genotip dalam populasi yang diperiksa.
Hukum Hardy-Weinberg juga dapat dijadikan dasar untuk menghitung
frekuensi genotip yang berbeda dalam lungkang gen yang stabil. Misalnya
seorang ahli genetika yang mempelajari sifat warna bunga yang dipengaruhi oleh
dua alel A dan a, yang mengikuti aturan dominansi sederhana pada satu lokus.
Gen A mengatur warna bunga merah dan gen a mengatur warna bunga putih.
Setelah melakukan survey alam, didapatkan fenotipe bunga putih (aa) hanya 4%,
adapun sisanya 96% bunga warna merah bergenotip AA atau Aa.
Jika frekuensi alel A = p dan alel a = q maka dapat dikatakan bahwa p+q =
1, karena semua tempat pada lokus kromosom akan selalu ditempati oleh alelalelnya. Pada semua persilangan, alel-alel ini hanya akan menghasilkan tiga
kemungkinan genotip, yakni AA, Aa, dan aa.

B. Tujuan

94

Tujuan dari praktikum acara VI adalah untuk menghitung frekuensi alel dan
frekuensi genotip; membuktikan hukum Hardy-Weinberg, serta mengukur sifatsifat kualitatif dan kuantitatif.

II. TINJAUAN PUSTAKA

95

Frekuensi alel tidak sama dengan frekuensi gen karena ukuran itu
menunjukkan proporsi alele yang berbeda yang menyusun lokus gen. Frekuensi
alele dapat ditentukan dari jumlah genotip yang berbeda dalam populasi tertentu
(Crowder, 1984).
Metode yang lebih cepat untuk menentukan frekuensi alele yaitu
menggunakan frekuensi genotip apabila diketahui.Umtuk menuliskan frekuensi
allele sering digunakan symbol p dan q dimana p adalah alele dominan dan q
adalah alele resesif. Ketentuan-ketentuan mengenai fekuensi alele adalah p+q = 1
dimana p dan q bernilai dari 0 sampai 1 (Burns, 1983).
Hukum Hardy-Weinberg memudahkan kita untuk menentukan assumsi
terpenuhi dan apakah suatu populasi berada dalam keseimbangan yang stabil
frekuensi alelenya.Dengan membandingkan frekuensi alele dalam populasi pada
lokasi berbeda, kita dapat menentukan apakah terjadi penyimpangan dari
keseimbangan.Kemudian kita dapat meneliti gaya-gaya yang menyebabkan
penyimpangan terssebut (Suryo, 1986).
Hardy-Weinberg sadar bahwa keseimbangan alele dalam suatu populasi
dapat digambarkan dengan rumus sederhana, penjabaran binominal:
1. Dengan dua alele yaitu (p+q)2 = 1
2. Penggunaan rumus ini untuk melukiskan keseimbangan, dapat ditunjukkan
dengan mengamati persilangan antara gamet dari genotip yang berbeda
(Goodenough, 1978)
Penggabungan gamet secara rambang tidak mempengaruhi perkawinan
genotip yang mungkin terjadi. Walaupun demikian ringkasan dari macam-macam
kombinasi perkawinan akan menunjukkan bagaimana alele diwariskan oleh

96

individu-individunya. Dengan mengetahui proporsi dari perkawinan genotip yang


berbeda-beda, kita dapat menentukan frekuensi genotip pada generasi
keturunannya. Dengan menggunakan informasi tersebut kita dapat membuat
daftar yang menunjukkan proporsi perkawinan tetua dan frekuensi genotip
keturunannya (Crowder, 1984)
Frekuensi alele pada pada generasi keturunan tergantung pada frekuensi
alele dari generasi tetua dan tidak tergantung dari frekuensi genotip orang
tuanya.Apabila perkawinannya secara rumbang frekuensi genotip tergantung pada
frekuensi alele. Frekuensi genotip tetap sama dari generasi ke generasi jika taka da
perubahan frekuensi alele (Patt, 1975).

III.METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara VI adalah kantong plastk,
berisi biji kedelai, kantong plastik yang berisi kancing warna, kantong plastik
berisi kacang tanah, dan lembar pengamatan.Sedangkan alat yang digunakan pada
praktikum acara VI adalah neraca (timbangan elektrik), kalkulator, dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja

97

Percobaan 1
1. Sebanyak 200 individu diambil secara acak.
2. Warna individu yang terpilih dicatat.
3. Frekuensi genotip dan frekuensi alel G dan g dihitung.

Percobaan 2
1. Setiap kantong diisi dengan 2 macam warna kacing baju dengan perbandingan
2.
3.
4.
5.
6.

seperti hasil perhitungan point 1. Kedua kantong isinya sama banyak.


Kancing dan setiap kantong diambil secara acak dan dicatat warna keduanya.
Pengambilan diulang sebanyak 100 kali.
Frekuensi genotip dan frekuensi alelnya dihitung.
Data dimasukkan dalam label yang tersedia.
Dianalisis dengan X2.

Percobaan 3
1. Individu diambil secara acak dari populasi kacang tanah yang tersedia dan
ditimbang.
2. Pekerjaan tersebut diulang sebanyak 100 kali.
3. Warna dan bobotnya diamati, dan dibuat grafiknya.

98

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Percobaan 1
1. Frekuensi Alel
p2 + 2pq + q2
p +q
Jumlah hh = 46
46
Maka q2 = 100
q=

= 22,09 %
= pp + 2pq + qq
=28,09+ 49,82 +22,09%
= 100%

=1
=1

46
100

q= 0,47
p=1q

= 1 0,47 = 0,53
2. Frekuensi Genotipe
a. PP = (p2) 100%
= (0,53)2 100%
= 28,09 %
b. 2pq = 2 (p) (q) 100%
= 2(0,53)(0,47) 100%
= 49,82%
c. qq = (q)2 100%
= (0,47) 2 100%

99

Karakteristik yang diamati

Observasi (O)

Harapan (E)

|O E|2

1
4

GG

Gg

gg

Jumlah total

51

103

46

200

x 200

1
2

x 200 =

1
4

x 200

= 50
100
= 50
2
2
2
(5150) (103100) ( 4650)

=1
=9
=16
OE

0,02
0,09
0,32

Kesimpulan :X2hit >X2tab = 0,43 < 5,99


maka hasil
dan sesuai
dengan teori. 0,32
X2 pengujian signifikan
0,02
0,09

100

200

26

0,43

0,43

Percobaan 2
1. Frekuensi Alel
p2 + 2pq + q2
p +q
Jumlah hh = 45
45
Maka q2 = 100
q=

= 2(0,33)(0,67) 100%
= 44,22%
d. qq = (q)2 100%
= (0,67) 2 100%
= 44,89 %
= pp + 2pq + qq
=10,89+ 44,22 +44,89%
= 100%

=1
=1

45
100

q= 0,67
p=1q
= 1 0,67 = 0,33
Karakteristik yang diamati

Observasi (O)

Harapan (E)

|O E|2

1
4

HH

Hh

26

29

x 100

1
2

x 100 =

= 25
50
2
2
(2625) (2950)

=1

=441

OE

0,04

8,82

X2

0,04

8,82

2. Frekuensi Genotipe
a. PP = (p2) 100%
= (0,33)2 100%
= 10,89 %
c. 2pq = 2 (p) (q) 100%

Kesimpulan :X2hit >X2tab = 24,86 > 5,99


maka hasil pengujian tidak signifikan dan tidak sesuai dengan teori

Percobaan 3

Bobot
(gr)

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

Jumlah

11

28

32

24

1,0
-

Grafik Bobot dan Jumlah Kacang Tanah

Jumlah

Kesimpulan: Bahwa kacang tanah yang memiliki bobot 0,5 gram memiliki sifat
dominan.

B. Pembahasan

Hukum Hardy-Weinberg menjelaskan kondisi suatu populasi tanpa


mengalami evolusi. Apabila salah satu persyaratan hukum Hardy-Weinberg tidak
terpenuhi sehingga terjadi perubahan frekuensi gen dalam populasi maka dapat
dikatakan bahwa populasi tersebut mengalami evolusi. Apabila diamati, kondisi
stabil untuk memenuhi hukum Hardy-Weinberg sangat sulit dipenuhi.
Berdasarkan kenyataan tersebut, dalam suatu populasi memungkinkan terjadinya
perubahan frekuensi gen. Hal ini dilakukan untuk membuktikan terjadinya proses
evolusi. Hukum Hardy-Weinberg juga menegaskan bahwa didalam suatu populasi
yang ekuilibrium (dalam keseimbangan), maka baik frekuensi gen maupun
frekuensi genotip akan tetap dari satu generasi ke genersi seterusnya. Ini dijumpai
dalam populasi yang besar, dimana perkawinan berlangsung secara acak
(random) dan tidak ada pilihan/pengaturan atau factor lain yang dapat merubah
frekuensi gen.
Manfaat hukum Hardy-Weinberg dalam bidang pertanian khususnya
pemuliaan tanaman adalah sebagai berikut:
1. Memudahkan pemulia untuk menentukan banyaknya individu yang termasuk
homosigot maupun heterosigot melalui formulasi yang ada.
2. Menyeleksi tanaman yang tahan terhadap hama dan penyakit. Ketahanan
suatu jenis tanaman tertentu diatur oleh alel dominan, populasi keseimbangan
Hardy-Weinberg dapat dikatakan rentan apabila q2 = aa.
3. Memudahkan pemulia tanaman untuk menduga jumlah individu AA dan Aa
yang diharapkan dengan keterangan ini dapat diputuskan banyakya tanaman

resisten yang harus diuji agar mendapatkan kesempatan yang baik untuk
memperoleh genotipe AA. Adanya persamaan untuk menentukan berapa
tanaman yang diuji untuk mendapatkan paling sedikit satu genotipe AA
dengan macam-macam tingkat kemungkinan.
Frekuensi genotipe adalah nisbah individu bergenotipe tertentu terhadap
keseluruhan individu dalam populasi.Frekuensi genotipe dapat pula diartikan
sebagai proporsi/persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi.Frekuensi
alele adalah nisba alel tertentu terhadap keseluruhan alel dalam populasi. Dengan
kata lain, frekuensi alel merupakan jumlah kopi suatu alel tertentu dibagi dengan
jumlah kopi keseluruhan alel pada suatu lokus dalam suatu populasi. Frekuenci
alel digunakan untuk menggambarkan tingkat keanekaragaman genetik pada
suatu individu, populas, dan spesies. Sifat kuantitatif merupakan sifat yang diatur
oleh pengaruh gen-gen ganda (multiple gen) dengan pengaruh yang kecil atau
lemah. Selain itu, diasumsikan bahwa tidak hanya sedikit gen yang
mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen. Karena itu, sifat kuantitaif
sering disamakan dengan sifat poligenik.Sedangkan sifat kualitatif merupakan
sifat-sifat yang mudah digolongkan ke dalam kategori fenotip yang jelas.
Fenotip-fenotip yang jelas ini berada di bawah kendali genetik dari hanya satu
atau beberapa gen dengan sedikit atau tanpa modifikasi-modifikasi lingkungan
yang mengaburkan pengaruh-pengaruh gennya. Sifat kualitatif juga merupakan
sifat yang dapat dilihat pada ada atau tidaknya karakter tersebut. Karakter
kualitatif pertumbuhannya diatur oleh 1 gen kadang-kadang 2 gen.

Menurut (Crowder, 1986) asumsi-asumsi keseimbangan Hardy-Weinberg


yaitu antara lain
1. Perkawinan secara rambang. Dalam perkawinan rambang, fenotip individu
tidak mempengaruhi pilihan pasangannya. Perkawinan rambang lebih
banyak terjadi di antara tanaman daripada hewan dan manusia. Perlakuan
dalam praktikum kali ini yang menunjukkan perkawinan secara rambang
dengan menggunakan dua kantong plastik yang masing-masing berisi
kancing warna dengan jumlah yang sama. Dalam setiap pengambilan yang
dilakukan bersamaan tidak saling mempengaruhi warna kancing yang
muncul.
2. Tidak ada seleksi, artinya adalah semua gamet mempunyai kesempatan sama
untuk membentuk zigot dan semua zigot mempunyai viabilitas dan fertilitas
yang sama. Dalam praktikum ini pengambilan kancing warna tidak dipilihpilih warna apa yang akan diambil atau dimunculkan, sehingga tidak ada
pemilihan atau seleksi pada kemunculan warna.
3. Tidak ada migrasi, yaitu tak ada introduksi alel dari populasi lain. Kancing
warna yang diambil berasal dari satu kantong plastik yang sudah disediakan
di awal sehingga tidak ada penambahan atau pengambilan dari kantong
plastik yang lain.
4. Tidak ada mutasi. Mutasi adalah proses yang lambat dan perubahan frekuensi
alel biasanya minimal. Dalam praktikum ini terdapat tiga warna kancing
dalam tiap kantong plastik sehingga tidak ada perubahan warna kancing.
5. Tidak ada penghanyutan genetik rambang. Penghanyutan terjadi dalam
populasi kecil karena contoh alel yang kecil bila dibandingkan suatu populasi

besar. Tidak ada percampuran dari warna yang muncul. Warna yang muncul
tetap tunggal yaitu merah, merah muda, atau putih.
6. Meiosis normal, sehingga hanya faktor kebetulan yang berlaku dalam
gametogenesis. Pembelahan dalam praktikum ini diumpamakan dalam
pengambilan kancing. Jumlah kancing yang diambil dari tiap kantong plastik
hanya satu buah.
Hasil dari perhitungan frekuensi alel pada percobaan pertama untuk p =
0,53 dan q = 0,47. Sedangkan hasil perhitungan frekuensi genotipe GG, Gg dan
gg masing-masing adalah 28,09%, 49,82%, dan 22,09% dengan jumlah total
yaitu 100%maka perbandingannya sama dengan perbandingan hukum Mendel
yaitu 1:2:1. X hitung dari percobaaan satu adalah 0,43 dengan X tabel 5,99.
Hasil yang diperoleh signifikan karena X hitung lebih kecil dari X table
sehingga sesuai dengan teori perbandingan.Menurut Yatim (1983), rasio fenotip
dari persilangan hukum Mendel I menunjukkan perbandingan 1:2:1 atau
disingkat 3:1.
Hasil perhitungan frekuensi alel pada percobaan kedua untuk p adalah 0,33
sedangkan q 0,67. Perhitungan frekuensi genotipe HH, Hh, dan hh masingmasing adalah 10,89%, 44,22%, dan 44,89% dengan jumlah total adalah 100%.
X hitung dari percobaan kedua adalah 24,86 dengan X tabel yang besarnya
5,99 sehingga hasil dari percobaan yang diperoleh adalah X2 hitung lebih besar
dari X2 tabel maka hasil dari percobaan kedua tidak signifikan atau tidak sesuai
dengan perbandingan hukum Mendel I. Menurut (Suryo, 1984) percobaan yang
diperoleh

tidak

signifikan

mungkin

dikarenakan

penyimpangan yang memperngaruhi percobaan tersebut.

faktor

deviasi

atau

Percobaan ketiga merupakan variasi kuantitatif karena pengamatan yang


dilakukan adalah bobot kacang tanah. Kacang tanahmerupakan sifat-sifat
berderajat dari karakter kuantitatif. Dalam percobaan frekuensi, bobot kacang
tanah dalam percobaan ketiga jumlahnya adalah 100 biji dengan bobot mulai dari
0,1 gram sampai 1,0 gram. Kacang tanah yang bobotnya 0,50 grammemiliki sifat
dominan dengan jumlah 32 sehingga grafik pengamatan sesuai dengan grafik
yang sebenarnya yaitu linear. Hasil tersebut sesuai dengan literatur dimana
(Kearsey, 1996) menyatakan bahwa untuk menyeleksi sifat kuantitatif tidak lagi
mendasarkan pada variasi genetik, tetapi pada variasi fenotipe individu-individu
dalam populasi. Sifat kuantitatif terutama dipelajari nilai genetika pada suatu
populasi dengan memperhatikan baik proporsi gen dengan genotipe yang ada
pada populasi itu.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum acara VI adalah sebagai berikut:
1. Hasil dari perhitungan frekuensi alel pada percobaan pertama untuk p
= 0,53 dan q = 0,47. Sedangkan hasil perhitungan frekuensi genotipe

GG, Gg dan gg masing-masing adalah 28,09%, 49,82%, dan 22,09%.


Sedangkan hasil perhitungan frekuensi alel pada percobaan kedua
untuk p adalah 0,33 sedangkan q 0,67. Perhitungan frekuensi
genotipe HH, Hh, dan hh masing-masing adalah 10,89%, 44,22%,
dan 44,89%
2. Praktikum ini sesuai dengan asumsi-asumsi Hardy-Weinberg seperti
tidak ada mutasi, tidak ada seleksi, tidak ada migrasi, perkawinan
secara rambang, meiosis normal, dan tidak ada penghanyutan genetik
rambang.
3. Percobaan ketiga merupakan variasi kuantitatif karena pengamatan
yang dilakukan adalah bobot kacang tanah. Kacang tanahmerupakan
sifat-sifat berderajat dari karakter kuantitatif. Hasil yang diperoleh
pada percobaan 3 adalah sesuai dengan grafik sebenarnya.

B. Saran
Praktikum ini sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar hasil
yang didapat sesuai karena jika tidak fokus dalam praktikum maka hasil yang
diperoleh akan tidak sesuai atau salah.

DAFTAR PUSTAKA

Burn, G.W., 1983.The Science of Genetics, 5th ed., Macmillan Publ.Co.,Inc., New
York.
Crowder, L.V. 1986.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Goodenough, U., 1978. Genetics, 2nd ed., Holt-Saunders, Japan Ltd., Tokyo.
Kearsey, M.J. dan Pooni, H.S. 1996.The Genetical Analysis of Quantitative
Traits.Chapman & Hall, 2-6 Boundary Row, London.

Patt, D.I. and G.R. Patt, 1975, An Introduction to Modern Genetics. AddisonWesley Publ. Co., Inc., Massachustes.
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Yatim, Wildan. 1983. Genetika. Penerbit Tarsito: Bandung

LAMPIRAN

BIODATA PENULIS

Nama

: Yosi Firnando

NIM

:A1L013193

Prodi

: Agroteknologi

Angkatan

: 2013

Tempat/tgl lahir

: Purworejo, 23Juli 1995

Alamat asal

: Ketangi Rt 02 Rw 06 Purwodadi Purworejo

Alamat kos

: Perum Griya Satria Blok P27 Sumampir

Agama

: Islam

Hobi

: Futsal, Tenis Meja