Anda di halaman 1dari 15

OBSERVASI KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK

MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling
yang diampu oleh Prof. Dr. Uman Suherman AS., M.Pd.

oleh
Fathimah Nurul Afifah

1406131

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. Atas berkat, rahmat dan
karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Makalah mengenai malah kesulitan
belajar peserta didik dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Tak lupa
shalawat serta salam mudah-mudahan selalu tercurah limpahkan kepada
junjungan kita Rasululah saw, keluarganya, para sahabatnya, para tabi dan tabiin,
dan semoga tercurahkan juga kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan
dan Konseling yang bertujuan untuk memberirkan informasi mengenai masalah
kesulitan belajar peserta didik. Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit
menemukan hambatan dan kesulitan, dan kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Namun diharapkan semoga makalah ini dapat
bermanfaat.
Bandung, Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................1
1.4 Manfaat Penulisan......................................................................................2
BAB II KAJIAN TEORI..................................................................................3
2.1Fenomena Kesulitan Belajar........................................................................3
2.1.1 Kesulitan Belajar Internal........................................................................3
2.1.2 Kesulitan Belajar Eksternal.....................................................................4
2.1.2.1 Situasi di Luar dan Sebelum Sekolah...................................................4
2.1.2.2 Situasi di Sekolah.................................................................................5
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................6
3.1Waktu dan Tempat.......................................................................................6
3.2 Subjek dan Sample Penelitian....................................................................6
3.3 Narasumber.................................................................................................6
3.4 Instrumen Penelitian...................................................................................6
3.5 Teknik Analisis Data...................................................................................6
BAB IV PEMBAHASAN................................................................................7
4.1 Hasil Observasi...........................................................................................7
4.1.1 Problematika Kesulitan Belajar...............................................................7
4.1.2 Jenis Kesulitan Belajar............................................................................9
4.1.3 Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar.......................................9
4.1.3.1 Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar Menurut Siswa...........9
4.1.3.2 Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar Menurut Penulis.........10
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...........................................................11
5.1 Kesimpulan.................................................................................................11
5.2 Saran...........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan aspek penting dalam keseluruhan proses dalam

kehidupan. Pendidik dan pengajar adalah dua unsur yang paling mendominasi
dalam keseluruhan proses pendidikan. Dalam perjalanan menggapai tujuan
pendidikan akan selalu ditemukan hambatan, termasuk diantaranya hambatan
belajar pada siswa.
Kesulitan belajar yang dialami pada siswa akan berbeda pada setiap orang.
Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan dan perbedaan penyebab kesulitan
belajar. Selain itu, kesulitan belajar yang dialami siswa akan berbeda pada setiap
tingkat pendidikan.
Kesulitan belajar yang dialami siswa dapat mempengaruhi prestasi akademik
siswa. Hal ini akan berdampak buruk pula pada aspek psikis siswa, karena siswa
akan merasa stress dan kebingungan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu
diperlukan adanya solusi untuk mengentaskan kesulitan belajar pada siswa.
Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis tergugah hatinya untuk mencari tahu
apa yang menjadi kesulitan belajar pada siswa dan selanjutnya memberikan solusi
dengan harapan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
1.2.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Bagaimana permasalahan kesulitan belajar pada siswa?
Apa jenis permasalahan kesulitan belajar pada siswa?
Apakah penyebab kesulitan belajar pada siswa?
Bagaimana solusi dalam mengentaskan kesulitan belajar pada siswa?

1.3.

Tujuan Penulisan
Memahami kesulitan belajar pada siswa.
Dapat menggolongkan jenis kesulitan belajar pada siswa.
Memahami penyebab kesulitan belajar pada siswa.
Dapat memberikan solusi dalam mengentaskan kesulitan belajar pada

1.
2.
3.
4.

siswa.
1.4.

Manfaat Penulisan
1. Menjadi sumber informasi mengenai kesulitan belajar pada siswa.

2. Menjadi sumber informasi untuk penelitian selanjutnya mengenai


kesulitan belajar pada siswa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fenomena Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar merupakan bidang yang sangat luas, dan sangat komplek
untuk dipelajari, karena menyangkut sekurang-kurangnya aspek psikologis,

neurologis, pendidikan dan aspek kehidupan sosial anak dalam keluarga/


masyarakat. Setiap disiplin ilmu memiliki cara pandang yang berebeda dalam
memahami dan menjelaskan fenomena kesulitan belajar yang dialami oleh
seorang anak.
Pendidikan memposisikan anak sebagai pusat aktivitas dalam pembelajaran.
Ketika pembelajaran dilakukan maka pertimbangan pertama yang diperhitungkan
adalah apa yang menjadi hambatan belajar dan kebuhan anak. Apabila hal itu
dapat diketahui maka aktivitas pendidikan akan dipusatkan kepada apa yang
dibutuhkan oleh seorang anak, bukan pada apa yang diingikan oleh orang lain.
Pendirian seperti itu menganggap bahwa fungsi pendidikan antara lain untuk
memfasitilasi agar anak berkembang menjadi dirinya sendiri secara optimal
sejalan dengan potensi yang dimilikinya.
Setiap anak yang mengalami kesulitan belajar, akan menunjukkan fenomena
yang beragam (heterogen), akan tetapi untuk memudahkan dalam memahami
keragaman fenomenan itu, kesulitan belajar dapat dikategorikan menjadi dua
bagian yaitu kesulitan belajar yang bersifat internal yang disebut learning
disabiliti dan kesulitan belajar yang bersifat eksternal berkaitan dengan faktor
lingkungan yang disebut dengan learning problem.
2.1.1 Kesulitan Belajar Internal
Kesulitan belajar yang bersifat internal berkaitan dengan kelainan sentral
pada funsi otak. Disiplin ilmu pendidikan tidak mempunyai kompentensi untuk
menjelaskan bagaimana kelianan fungsi otak terjadi. Hal yang penting untuk
dipahami adalah fenomena-fenomena apa yang muncul dan berhubungan
langsung dengan aktivitas belajar sorang anak.
Ketika seorang anak belajar memerlukan kemampuan dalam persepsi
(perception), baik pendengaran, penglihatan, taktual dan kinestetik, kemampuan
mengingat (memory), proses kognitf (cognitive prosess) dan perhatian (attention).
Kemampuan-kemampuan tersebut bersifat internal di dalam otak. Proses belajar
akan mengalami hambatan/kesulitan apabila kemampuan-kemampuan tersebut
mengalami gangguan. Apabila ada seorang anak yang mengalami kesulitan pada
keempat aspek seperti itu ada kemungkinan anak tersebut mengalai kesulitan
belajar yang bersifat internal (learning disability)

2.1.2 Kesulitan Belajar Eksternal


Kesulitan belajar yang bersifat eksternal (learning problem), sangat terkait
dengan dua situasi. Pertama, situasi di luar dan sebelum sekolah. Kedua, terkait
dengan situasi di sekolah.
2.1.2.1
Situasi di Luar dan Sebelum Sekolah
Aktivitas anak di rumah berpengaruh terhadap perkembangannya. Apabila
lingkungan rumah memberi peluang yang cukup bagi seorang anak untuk
mendapatkan

pengalaman

belajar

seperti

mendengarkan

orang

tuanya

membacakan dongeng, terbiasa menjawab pertanyaan dari ceritera yang telah


didengarnya, mulai mengenal buku, dibiasakan untuk mengemukakan secara lisan
apa yang diinginkan kepada orang tuanya, dan ada kesempatan untuk melakukan
eksplorasi lingkungan, sehingga memungkinkan seorang anak memiliki
keteampilan pra-akademik.
Keterampilan pra-akademik merupakan prasyarat untuk Keterampilan praakademik merupakan prasyarat untuk belajar secara akademik. Keteramilan anak
dalam mendengarkan misalnya merupakan prasyarat untuk belajar membaca.
Anak yang memiliki keterampilan mendengarkan dengan baik, tidak akan
mengalami kesulitan dalam belajar membaca. Sebaliknya anak yang tidak
memilki keterampilan mendengarkan dengan baik, akan mengalami hambatan
ketika belajar membaca. Anak yang memiliki keterampilan pra-akademik akan
lebih cepat dalam belajar secara akademik di sekolah dasar, dan cenderung
memiliki rasa pecaya diri dan motivasi yang lebih baik dibanding dengan yang
tidak.
Sering ditemukan anak yang mengalami masalah dalam belajar (learning
problem) di Sekolah Dasar terkait dengan tidak dikuasainya keterampilan praakademik. Tidak jarang anak seperti ini memiliki penghargaan diri yang rendah,
dan memiliki perasaan bahwa sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Akibat
yang mungkin muncul adalah anak mengalami kesulitan dalam perilaku.
2.1.2.2
Situasi di Sekolah
Proses belajar di sekolah terkait dengan elemen kurikulum, dan metode
pembelajaran. Sekolah-sekolah kita pada umumnya sangat kuat perpatokan pada

pencapaian target kurikulum dengan muatan yang sangat banyak. Oleh karena itu
ada kecenderungan bagi guru untuk selalu mengukur keberhasilan program
pembelajaran itu dilihat dari tercapainya target kurikulum. Namun ada kenyataan
lain, yang hampir luput dari perhatian guru yaitu kurangnya kesempatan untuk
mengecek apakah setiap anak sudah sampai pada tingkat pemahaman konsep?
Data inilah yang tidak banyak diketahui oleh guru, sehingga jika ada anak yang
ternyata belum tuntas dalam memahami satu konsep pada topic tertentu sementara
pembelajaran terus melangkah ke topik berikutnya yang lebih tinggi, maka sudah
dapat dipastikan anak akan mengalami kesulitan untuk memhami topic yang baru
itu. Apabila situasi seperti ini berlangsung terus menerus, maka akan ada anak
yang mengalami kesulitan yang bersifat kumulatif. Hal seperti ini sering terjadi
pada pelajaran matematika dan bahasa. Sebagai contoh, seorang anak kelas satu
Sekolah Dasar belum tuntas dalam memahami konsep bilangan, pada saat itu guru
sudah melangkah ke topic tentang penjumlahan, maka sudah dapat dipastikan
akan mengalami ksesuliatan dalam penjumlahan. Jika konsep penjumlahan belum
dikuasai tetapi pembelajaran sudah melangkah ke topic tentang pengurangan,
demikian seterusnya. Anak tidak pernah memahami konsep dengan tuntas.
Masalah belajar seperti ini (learning problems) sangat banyak ditemukan di
sekolah-sekolah kita (Alimin, 2006)
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu
: Rabu, 20 Mei 2015
Tempat
: Jalan Kopo Belakang No. 355 Bandung 40235
3.2 Subjek dan Sample Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua siswa di SMK Budaya Bangsa Bandung
tahun pelajaran 2014/2015. Sample yang diambil dalam penelitian ini adalah salah
satu siswa di SMK Budaya Bangsa Bandung yang teridentifikasi memiliki
kesulitan belajar.
3.3 Narasumber
5

Nama
Tempat, Tanggal Lahir
Usia
Alamat
Pendidikan

: Reni Febrian
: Bandung, 20 Februari 1997
: 18 tahun
: Jalan Kopo Belakang No. 355 Bandung
: Kelas XI SMK Budaya Bangsa Bandung, Jurusan
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL)

3.4 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui
teknik wawancara.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi penyebab kesulitan belajar siswa
2. Menggolongkan kesulitan belajar yang sesuai dengan jenisnya (luas atau
dalam)
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Observasi
Observasi dilakukan melalui wawancara kepada seorang siswi SMK jurusan
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) kelas XI. Observasi ini dilakukan untuk
mengidentifikasi poblematika kesulitan belajar, jenis masalah (dalam atau luas),
penyebab, dan solusi terhadap permasalahan belajar bagi siswa yang dapat
dilakukan olehnya ataupun oleh seorang guru.
4.1.1 Problematika Kesulitan Belajar Siswa
Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam seluruh proses kehidupan.
Guru, metode pembelajaran, materi pelajaran, dan siswa merupakan unsur penting
dalam dunia pendidikan. Dalam ruang lingkup pendidikan, siswa terfokus dalam
kegiatan belajar, sedangkan guru terfokus dalam kegiatan mengajar. Tidak dapat
dipungkiri, dalam proses pendidikan akan banyak ditemukan kesulitan, baik
dalam kegiatan belajar maupun kegiatan mengajar.
Berdasarkan hasil wawancara, terdapat beberapa permasalahan yang
berdampak pada kesulitan belajar, yaitu:
1. lambatnya siswa dalam menyerap materi,
2. guru yang kurang berkualitas dan kurang peduli terhadap siswa,
6

3. sekolah tersebut baru berdiri, dan guru-guru di sekolah tersebut mengajar


di berbagai tempat,
4. kurangnya praktikum dalam mata pelajaran produktif,
5. pandangan siswa terhadap suatu mata pelajaran,
6. kurangnya motivasi, serta
7. kurangnya usaha lebih untuk mendapatkan materi pelajaran.
Siswa mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran, khususnya pelajaran
matematika, dan Bahasa Indonesia. Menurut pemaparan siswa, lambatnya dalam
menyerap pelajaran disebabkan oleh metode pengajaran guru matematika yang
kurang tepat. Dalam pelaksanaan pengajaran, guru mata pelajaran tersebut jarang
mengajar di kelas. Hal ini disebabkan guru tersebut mengajar di banyak sekolah,
akhirnya waktu untuk mengajar di sekolah tersebut tersita banyak untuk mengajar
di tempat lain. Selain itu, rata-rata guru di sekolah tersebut mengajar di berbagai
tempat. Ini disebabkan sekolah tersebut baru dibangun, sehingga guru-guru yang
bekerja di sekolah tersebut merupakan guru tetap yang mengajar di sekolah lain.
Hal ini berdampak pada banyaknya materi yang belum tersampaikan. Selai itu,
ketika guru mengajar, dirinya kurang memperhatikan apakah siswanya sudah
mengerti atau belum. Perubahan suasana belajar dari SMP ke SMA juga
berpengaruh. Ia masih harus beradaptasi dengan suasana belajar yang dominan
mandiri, tidak seperti saat SMP yang didominasi pengajaran guru. Sedangkan
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa merasa kebingungan karena saat
mengajar guru tersebut lebih banyak menceritakan tentang kehidupan dirinya,
diandingkan dengan materi pelajaran.
Selain dikarenakan metode pengajaran guru yang kurang tepat, di sekolah
tersebut dalam mata pelajararan produktif (mata pelajaran yang terfokus pada
jurusan) jarang dilakukan pembelajaran dengan metode praktikum. Pembelajaran
mata pelajaran produktif jurusan RPL sangat membutuhkan banyak praktikum.
Karena, jika tidak dilakukan praktikum siswa akan kebingungan apakah
rancangan aplikasi (dalam pembuatan aplikasi) yang telah dibuatnya terdapat
kesalahan atau tidak. Selain itu, tidaklah mungkin membuat aplikasi tanpa
menggunakan komputer. Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh siswa,
jarangnya praktikum disebabkan oleh tidak hadirnya guru di kelas.

Pandangan terhadap suatu mata pelajaran dapat berpengaruh terhadap


keaktifan dan produktivitas siswa dalam mata pelajaran tersebut. Siswa menyukai
mata pelajaran Bahasa Inggris dan tidak menyukai mata pelajaran matematika,
Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran produktif. Sama seperti yang menjadi
penyebab masalah-masalah sebelumnya, siswa menjelaskan penyebab suka
ataupun tidak sukanya terhadap suatu mata pelajaran adalah karena metode
pengajaran yang kurang tepat dan kehadiran gurunya. Siswa memaparkan bahwa
dirinya menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris karena metode mengajar guru
yang komunikatif, sehingga menyebabkan meningkatnya minat siswa di kelas
tersebut. Kurang sukanya siswa terhadap mata pelajaran matematika, Bahasa
Indonesia, dan mata pelajaran produktif menimbulkan rasa malas, yang akhirnya
berdampak pada prestasi belajar siswa.
Kemudian, yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa adalah kurangnya
motivasi. Motivasi bisa muncul ketika seseorang mengetahui apa yang menjadi
alasan dan manfaat yang akan didapatkan ketika melakukan sesuatu. Alasan yang
mendasari siswa akan pentingnya belajar, baru terbatas pada mendapatkan ilmu.
Akhirnya ketika dirinya merasa sudah mendapatkan ilmu di kelas (walaupun
belum paham), siswa merasa cukup dan tidak berusaha untuk mencari hal yang
lebih dari itu.
Dan yang menjadi permasalahan terakhir yaitu kurang kreatifnya siswa dalam
mendapatkan dan memahami materi pelajaran. Saat siswa merasa tidak puas
dengan pengajaran seorang guru, dirinya tidak berinisiatif untuk mencari materi di
luar kelas (melakukan kajian referensi). Akhirnya, siswa kewalahan karena
banyak sekali materi yang belum dimengerti.
4.1.2 Jenis Kesulitan Belajar
Kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tergolong ke dalam jenis
kesulitan belajar yang luas. Hal ini dapat disimpulkan dari banyaknya sisi yang
menjadi penyebab kesulitan belajar.
4.1.3 Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar
Setiap permasalahan memiliki sebuah solusi. Solusi setiap orang berbedabeda, tergantung pada cara pandang orang tersebut. Termasuk solusi dari siswa
dan penulis.
8

4.1.3.1
Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar Menurut Siswa
Menurut siswa, satu-satunya solusi untuk mengentaskan kesulitan belajar
yang dialaminya adalah belajar dengan giat. Karena, melalui belajar dengan giat
prestasi belajar dapat ditingkatkan. Disamping itu, siswa berkata dengan menjadi
berprestasi dirinya dapat membahagiakan orang tuanya. Dan saat memikirkan
mengenai tujuan membahagiakan orang tua, hal ini menjadi motivasi dalam
dirinya agar terus giat belajar.
4.1.3.2

Solusi dalam Mengentaskan Kesulitan Belajar Menurut

Penulis
Solusi dalam mengentaskan suatu permasalahan berbeda-beda tergantung
bentuk masalah tersebut. Suatu masalah memiliki solusi yang spesifik, begitu pula
permasalahan yang dialami oleh siswa. Berikut merupakan solusi dalam setiap
permasalahan yang dialami oleh siswa:
1. Lambatnya siswa dalam menyerap materi
Lambatnya siswa dalam menyerap materi disebabkan belum terbiasanya
ia dalam berpikir dan belajar suatu hal. Semakin sering seseorang
menstimulus otaknya untuk berpikir, dirinya akan semakin tanggap dan cepat
menyerap materi. Oleh karena itu, rsponden harus membiasakan diri untuk
belajar dalam rangka menstimulus otaknya.
2. Guru yang kurang berkualitas dan kurang peduli terhadap siswa,
Kondisi seperti ini dapat menjadi masalah bagi siswa. Hal yang bisa
dilakukan oleh siswa adalah berpikir kreatif dan inisiatif untuk belajar
mandiri.
3. Sekolah tersebut baru berdiri, dan guru-guru di sekolah tersebut mengajar
di berbagai tempat.
Kondisi ini tidak dapat diubah oleh siswa, yang dapat dilakukan oleh
siswa adalah dengan belajar mandiri.
4. Kurangnya praktikum dalam mata pelajaran produktif
Siswa dapat belajar dari teman yang sekolah pada jurusan yang sama di
sekolah yang berbeda. Selain itu, siswa dapat mencari referensi di media
informasi seperti internet dan majalah.
5. Pandangan siswa terhadap suatu mata pelajaran
Mengubah pandangan terhadap suatu hal adalah hal yang cukup sulit.
Seseorang dapat menyukai suatu pelajaran dikarenakan beberapa hal,

diantaranya cara mengajar guru, minat, dan mengetahui manfaat yang akan
didapatkan. Dikarenakan cara mengajar guru, dan minat sulit oleh siswa ubah,
maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh siswa adalah mencari tahu
manfaat yang akan didapatkan ketika dirinya belajar.
6. Kurangnya motivasi
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh siswa untuk meningkatkan
motivasi belajar, yaitu mencari dan ikut masuk dalam lingkungan dengan
motivasi belajar tinggi, konseling, dan mencari alasan dalam belajar sehingga
ketika menemukan kesulitan dalam belajar, siswa dapat terus melangkah
menggapai tujuannya.
7. Kurangnya usaha lebih untuk mendapatkan materi pelajaran
Siswa dianjurkan untuk meningkatkan motivasi dan selanjutnya belajar
untuk mencari materi di media informasi publik. Selain itu, siswa dianjurkan
untuk membentuk suatu kelompok belajar.

10

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil wawancara berikut permasalahan dan penyebab
kesulitan belajar yang dialami responden:
a. lambatnya siswa dalam menyerap materi,
b. guru yang kurang berkualitas dan kurang peduli terhadap siswa,
c. sekolah tersebut baru berdiri, dan guru-guru di sekolah tersebut
mengajar di berbagai tempat,
d. kurangnya praktikum dalam mata pelajaran produktif,
e. pandangan siswa terhadap suatu mata pelajaran,
f. kurangnya motivasi, serta
g. kurangnya usaha lebih untuk mendapatkan materi pelajaran.
2. Jenis kesulitan yang dialami responden merupakan kesulitan belajar yang
luas, karena penyebab kesulitan belajar siswa dari berbagai sisi.
3. Solusi
2. Belajar untuk menstimulus otak
3. Inisiatif untuk belajar mandiri
4. Belajar dengan teman yang lebih pintar dan mempelajari pelajaran
yang sama
5. Melakukan kajian referensi
6. Mengubah pola pikir terhadap suatu mata pelajaran
7. Memupuk motivasi dengan mencari tahu manfaat yang akan didapat
setelah mempelajari sesuatu
8. Melakukan konseling
9. Masuk ke dalam lingkungan dengan spirit belajar tinggi
10. Membentuk kelompok belajar

5.2 Saran
1. Bagi siswa sebaiknya selalu memperhatikan apa yang menjadi kesulitan
belajarnya kemudian mencari solusinya dengan dikonsultasikan bersama
konselor ataupun guru Bimbingan dan Konseling.
2. Bagi guru semestinya memperhatikan apa yang menjadi kesulitan belajar
siswa dan membantu untuk menyelesaikannya.

11

DAFTAR PUSTAKA
Alimin, Zaenal. (2006). Kesulitan Belajar dalam Perspektif Pendidikan. [Online].
Tersedia:
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195903241984
031-ZAENAL_ALIMIN/KESULITAN_BELAJAR.pdf [22 Mei 2015].

12