Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

Abses otak adalah, infeksi intraserebral yang berkembang menjadi pus yang dikelilingi
oleh kapsul. Sebelum akhir tahun 1800-an, abses otak adalah kondisi yang

fatal yang

didiagnosis sebelum otopsi. Sebelum munculnya human immunodeficiency virus (HIV), abses
otak menyumbang 1500- 2500 kasus di Amerika Serikat setiap tahun. Insiden itu diperkirakan
0,3-1,3 per 100.000 orang per tahun. Rasio laki-laki dan perempuan berkisar rasio 2: 1 sampai 3:
1 dengan usia rata-rata 30 sampai 40 tahun, meskipun distribusi usia bervariasi tergantung pada
predisposisi yang menyebabkan pembentukan abses otak. Abses otak diklasifikasikan atas dasar
kemungkinan jalur masuknya atau entry point infeksi. Sistem ini memungkinkan dokter untuk
memprediksi mikro flora yang paling mungkin di abses dan pilihan terapi antimikroba yang
optimal. Meskipun patologi otak yang mendasari seperti stroke, hematoma intracereberal dan
neoplasma dapat berfungsi sebagai nidus untuk pembentukan abses, tetapi dalam banyak kasus
tidak ada yang jelas predisposisinya. Presentasi klinis abses otak meliputi: sakit kepala (70%).
Mual dan muntah (50%), kejang (25% -35%), kaku kuduk dan edema papil (25%), defisit
neurologis fokal (50%) an, demam (45% sampai 50%). Kebanyakan pasien juga mengalami
perubahan status mental. Kematian berkisar dari 8% menjadi 25%. Faktor prognostik yang jika
skor Glasgow Coma Scale rendah adanya penyakit yang mendasari. Kematian telah menurun
dengan diagnosis dini dan adanya computed tomography scan / CT Scan. Patogen umum
terisolasi di abses otak meliputi: Streptococcus (aerobik, anaerobik dan microaerophili, S.milleri
(S.indermedius), S. aureus, Bacteroides, enterik gram basil negatif, Pseudomonas spp,
H.influenzae, S.pneumoniae, L.monocytogenes, jamur dan protozoa . Terapi antimikroba empiris
harus diberikan sesuai diagnosis (Mustafa et al., 2014)

BAB II
ISI
2.1 EPIDEMIOLOGI
Abses otak menyumbang 1500- 2500 kasus di Amerika Serikat setiap tahun. Insiden itu
diperkirakan 0,3-1,3 per 100.000 orang per tahun. Rasio laki-laki dan perempuan berkisar rasio
2: 1 sampai 3: 1 dengan usia rata-rata 30 sampai 40 tahun, meskipun distribusi usia bervariasi
tergantung pada predisposisi yang menyebabkan pembentukan abses (Mustafa et al, 2014).

2.2 ETIOLOGI
Abses serebri dapat berkembang dari tiga sumber, yaitu (Miranda et al.,2013):
a. Sebagian besar abses otak berasal dari penyebaran infeksi telinga tengah, sinusitis
(paranasal, ethmoidalis, sphenoidalis, dan maxillaries)
b. Selain itu abses dapat timbul akibat penyerbaran secara hematogen dari infeksi paru,
endokarditis bacterial akut dan sub akut pada penyakit jantung bawaan. Letak abes otak
yang berasal dari penyerbaran hematogen sesuai dengan peredaran darah yang
didistribusi oleh arteri cerebri media terutama lokus parietalis atau cerebellum dan batang
otak. Abses juga dapat dijumai pada penderita penyakit immunologi seperti AIDS,
penderita penyakit kronis yang mendapat kemoterapi atau steroid yang dapat menurunkan
imunitas tubuh.;
c. Inokulasi langsung seperti tauma kepala atau bedah saraf pada 8-19% kasus.
Berbeda dengan abses parenkim, abses intaventrikular primer merupakan proses infeksi
yang perlahan-lahan dan berkembang terutama di daerah cerebri dan ventrikel. Masuknya
pathogen pada system ventrikel dapat berasal dari hematogen atau cairan serebrospinal.
Ada berbagai pathogen yang dapat menyebabka abses serebri. Pada dasarnya bagaimana
pathogen dapat menyebabkan abses tergantung apakah individu tersebut mengalami
immunocompromized atau tidak. Streptococcus aerobic dan anaerobic adalah penyebab
pathogen yang paling umum.

Gambar 2.1 Etiologi Abses Serebri


2.3 PATOFISIOLOGI
Proses pembentukan abses otak oleh bakteri Streptococcus alpha hemolyticus secara
histology dibagidalam 4 fasedanwaktu 2 minggu untuk terbentuknya kapsul abses (Price and
Wilson, 2012).
1. Early cerebritis (hari 1 - 3)
Terjadi reaksi radang lokal dengan dengan infiltrasi polymorphonuclear leukosit,
limfosit dan plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi, yang dimulai pada hari
pertama dan meningkat pada hari ketiga. Sel-sel radang terdapat pada tunika
adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi. Peradangan
perivaskular ini disebut cerebritis. Saat ini terjadi edema disekitar otak dan
peningkatan efek massa karena pembesaran abses.
2. Late cerebritis (hari 4-9)
Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat nekrosis
membesar oleh karena peningkatan acellular debris dan pembentukan nanah karena
pelepasan enzim-enzim dari sel radang. Di tepi pusat nekrosis didapati daerah sel
radang, makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblast yang terpencar. Fibroblast

mulai menjadi reticulum yang akan membentuk kapsul kolagen. Pada fase ini edema
otak menyebar maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar.
3. Early capsule formation (hari 10-13)
Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag-makrofag menelan acellular debris dan
fibroblast meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast membentuk
anyaman reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah ventrikel pembentukan
dinding sangat lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi didaerah substansi putih
dibandingkan substansi abu. Pembentukan kapsul yang terlambat di permukaan
tengah memungkinkan abses membesar ke dalam substansi putih. Bila abses cukup
besar, dapat merobek ke dalam ventrikel lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat
daerah anyaman retikulum yang tersebar membentuk kapsul kollagen, reaksi astrosit
disekitar otak mulai meningkat.
4. Late capsule formation (hari 14 ataulebih)
Terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran histologis yaitu bentuk pusat
nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang. Daerah tepi dari sel radang,
makrofag dan fibroblast. Kapsul kolagen yang tebal. Lapisan neovaskular
sehubungan dengan cerebritis yang berlanjut. Reaksi astrosit, gliosis dan edema otak
diluar kapsul.
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis dari abses otak atau serebri bergantung pada lokasi infeksi,bentuk, jumlah
lesi, dan struktur spesifik dari otak yang terkena. Sebagian besar pasien dengan abses serebri
menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial sepeti nyeri kepala, mual dan muntah,
perubahan status mental,defisit neurologis fokal, dan demam. Dalam hal ini demam tidak selalu
terjadi, pada 30 76% kasus demam bahkan tidak dijumpai pada abses serebri (Mustafa, 2014).

2.5 DIAGNOSIS
Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, gambaran klinik, pemeriksaan laboratorium
disertai pemeriksaan penunjang lainnya .Perlu ditanyakan mengenai riwayat perjalanan penyakit,
onset, faktor resiko yang mungkin ada, riwayat kelahiran, imunisasi, penyakit yang pernah
diderita, sehingga dapat dipastikan diagnosisnya. Pada pemeriksaan neurologis dapat dimulai

dengan mengevaluasi status mental, derajat kesadaran, fungsi saraf kranialis, refleks fisiologis,
refleks patologis, dan juga tanda rangsang meningeal untuk memastikan keterlibatan meningen.
Pemeriksaan motorik sendiri melibatkan penilaian dari integritas sistem musculoskeletal dan
kemungkinan terdapatnya gerakan abnormal dari anggota gerak, ataupun kelumpuhan yang
sifatnya bilateral atau tunggal. Pada pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan darah
perifer yaitu pemeriksaan lekosit dan laju endap darah; didapatkan peninggian lekosit dan laju
endap darah. Pemeriksaan cairan serebrospinal pada umumnya memperlihatkan gambaran yang
normal. Bisa didapatkan kadar protein yang sedikit meninggi dan sedikit pleositosis, glukosa
dalam batas normal atau sedikit berkurang, kecuali bila terjadi perforasi dalam ruangan ventrikel
(Mardjono, 2008; Sudewi, 2011).
Foto polos kepala memperlihatkan tanda peninggian tekanan intrakranial, dapat pula
menunjukkan adanya fokus infeksi ekstraserebral; tetapi dengan pemeriksaan ini tidak dapat
diidentifikasi adanya abses.Pemeriksaan EEG terutama penting untuk mengetahui lokalisasi
abses dalam hemisfer.EEG memperlihatkan perlambatan fokal yaitu gelombang lambat delta
dengan frekuensi 13 siklus/detik pada lokasi abses. Pnemoensefalografi penting terutama untuk
diagnostik abses serebelum.Dengan arteriografi dapat diketahui lokasi abses di hemisfer.Saat ini,
pemeriksaan angiografi mulai ditinggalkan setelah digunakan pemeriksaan yang relatif
noninvasif seperti CT scan.Dan scanning otak menggunakan radioisotop tehnetium dapat
diketahui lokasi abses; daerah abses memperlihatkan bayangan yang hipodens daripada daerah
otak yang normal dan biasanya dikelilingi oleh lapisan hiperderns.CT scan selain mengetahui
lokasi abses juga dapat membedakan suatu serebritis dengan abses. Magnetic Resonance
Imaging saat ini banyak digunakan, selain memberikan diagnosis yang lebih cepat juga lebih
akurat (Mardjono, 2008; Sudewi, 2011).

2.6 TATA LAKSANA


Penatalaksanaan abses serebri secara umum yaitu dengan medical treatment dan atau
dengan surgical treatment. Pada medical tretment digunakan

antibiotik (vancomycin,

sephalosporin generasi ketiga, metronidazole dan penicillin), antifungal (amphotericin B) dan


steroid. Untuk surgical tretment, metode yang dapat digunakan antara lain : needle aspiration,
surgical excision, external drainage dan pemberian antibiotik langsung pada lokasi abses. Pilihan
antibiotic yang dapat digunakan (Brouwer et al., 2014):

2.7 PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI


Pasien dengan penurunan kesadaran, pemeriksaan penunjang CT- Scan atau MRI segera
diindikasikan untuk mendeteksi hidrosefalus atau herniasi otak. Ruptur abses ke dalam sistem
ventrikel menyebabkan ventriculitis, yang sering menimbulkan hidrosefalus, dan memiliki angka
kematian yang tinggi (berkisar antara 27 sampai 85%). Defisit neurologis fokal dapat terjadi saat
abses atau edema sekitarnya. Prognosis pasien dengan abses otak telah membaik selama 50
tahun terakhir, karena perbaikan dalam teknik pencitraan ,terapi pengobatan antimikroba, dan
tindakan invasif minimal dari prosedur operasi bedah saraf. Saat ini, 70% dari pasien dengan
abses otak memiliki prognosis yang baik, dengan tidak ada atau minimal gejala sisa neurologis
(Brouwer et al., 2014).

DAFTAR PUSTAKA

Brouwer, M.C., Tunkel, A.R., McKhan, G.M et al. (2014). Brain Abcess. The New England
Medical Journal.Vol.371. No.5
Mardjono, Mahar, dkk. 2008. Abses Serebri. Neurologi Klinis Dasar.hal 320-321. Jakarta: Dian
Rakyat.
Miranda, H.A., et al.(2013). Brain abscess: Current management. J Neurosci
Rural Pract. 2013 Aug; 4(Suppl 1): S67S81.(Internet).Available at :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3808066/.

(Accessed

on

April 28th 2015)


Mustafa et al. 2014.Brain Abscess: Pathogenesis, Diagnosis and Management,International
Journal

in

Reasearch.

Available

at:

http://www.impactjournals.us/download.php?

[Diaksespada 1 Mei 201].


Price,S.A., Wilson, L. M. (2009). Patofisiologi Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit. Jakarta :
EGC
Sudewi, AA Raka, dkk. 2011.Abses Serebri. Infeksi pada system saraf PERDOSSI. Hal 21-27.
Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair.