Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Senyawa kimia banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa
kimia ini berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan manusia baik
dalam bidang kesehatan, industri ,l ingkungan dan juga dalam bidang farmasi.
Dalam bidang farmasi senyawa-senyawa kimia tersebut dikembangkan
dan digunakan penerapannya dalam berbagai bentuk produk dengan berbagai
manfaat untuk mempermudah penggunaan serta aplikasinya dalam kehidupan
masyarakat. Berbagi bentuk produk kefarmasian tidak hanya dalam bentuk
obat-obatan (non farmasetik) saja tetapi juga meliputi produk dalam bentuk
makanan, kosmetik, dan lain-lain.
Produk-produk kefaramasian

ini

juga

dalam

penerapan

dan

penggunaannya juga membutuhkan pengawasan dan kontrol baik dari segi


penggunaan, bahan maupun pembuatannya. Dalam penggunaannya bahan
kimia yang akan digunakan pada produk kefarmasian memiliki batas
penggunaan agar produk tersebut aman digunakan dan tidak menyebabkan
efek toksik bagi penggunanya. Salah satu produk kefarmasian non farmasetik
yang menjadi pengawasan dari para farmasis adalah kosmetik.
Kosmetika adalah setiap zat yang digosokkan, dipercikkan, disiramkan,
dilekatkan dipakaikan dan sebagainya pada badan atau pada bagian badan
manusia yang diedarkan dan dipakaikan atau ditujukan untuk dipakai sebagai
pemeliharan atau penambah keindahan wujud, daya tarik atau pembersih,
pewarna atau pelindung kulit mulut, gigi, rambut, kuku dan bagian badan
lainnya serta yang tidak mempunyai pengaruh terapetik dan tidak termasuk
golongan obat.
Salah satu contoh sediaan kosmetik yang gemar digunakan dalam
masyarakat luas adalah pewarna rambut atau yg dikenal sebagai cat rambut
baik dalam bentuk krim dan powder. Cat rambut yang beredar dimasyarakat
umumnya mengandung timbal (Pb) Senyawa Pb dapat masuk ke dalam tubuh
baik melalui makanan minuman atau penetrasi pada selaput kulit. Awal dari
keracunan Pb adalah tejadinya penurunan sel darah merah yang dikenal
dengan anemia dan apabila kadar Pb dalam darah melebihi 120ug/100g akan
1

mengakibatkan kerusakan otak dan kematian, penggunaan cat rambut dalam


jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan akumulasi dari senyawa Pb
yang dapat membahayakan tubuh.
I.2 Rumusan Masalah
1. Analisis apa yang digunakan dalam mengukur kadar senyawa Pb dalam
sediaan cat rambut?
2. Berapa kadar Pb dalam sediaan cat rambut yang ada dalam pasaran?
3. Apakah kadar senyawa Pb dalam cat rambut yang terdapat dipasar
memenuhi standar kadar yang telah ditetapkan?
I.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahaui analisis dan metode yang digunakan dalam
pengukuran kadar senyawa Pb
2. Untuk mengetahui kadar Pb yang terdapat pada cat rambut yang terdapat
dalam pasaran
3. Mengetahui serta mendapatkan informasi apakah senyawa Pb yang
terdapat pada cat rambut memenuhi standar kadar yang telah ditetapkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Kosmetika
2

II.1.1 Pengertian Kosmetika


Kosmetika dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19,
pemakaian kosmetika mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk
kecantikan juga untuk kesehatan (Tranggono, 2007). Kosmetika berasal dari
kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam
usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahanbahan alami
yang terdapat di sekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya
dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan
kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).
Defenisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
220/MenKes/Per/X/1976 tanggal 6 september 1976 yang menyatakan bahwa
kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan,
dituangkan, dipercikkan, atau disemprotkan pada, dimasukkan ke dalam,
dipergunakan pada badan atau bagian badan manusia dengan maksud untuk
membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa, dan
tidak termasuk golongan obat (Wasitaatmadja, 1997).
II.2 Kosmetika Rias Rambut
Sediaan rias rambut adalah sediaaan kosmetika yang digunakan
dalam tatarias dengan maksud untuk pewarnaan rambut, pemucatan atau
pemutihan rambut, pelurusan rambut, pengritingan atau pengikalan rambut
dan atau penghilang ketombe, pelembut rambut, penataan rambut, pembantu
perawatan rambut, pelebatan dan atau penyuburan rambut (Ditjen POM,
1985). Sediaan rias rambut disajikan dalam berbagai bentuk sediaan, seperti
bubuk, emulsi, gel atau jeli, krim, larutan, losio, dan pomit (Ditjen POM,
1985).

II.3 Pewarna Rambut

Sediaan pewarna rambut adalah sediaan kosmetika yang digunakan


dalam tatarias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan
warna rambut asalnya atau warna lain (Ditjen POM, 1985).
II.3.1 Zat Pewarna Rambut
Zat warna yang digunakan dalam pewarna rambut dapat berupa zat
warna alam, sintetik, maupun logam (Ditjen POM, 1985).
Zat warna alam yang lazim digunakan adalah zat warna yang
diperoleh dari sumber alam berasal dari tumbuhan, baik sebagai simplisia,
sediaan galenika seperti ekstrak dan rebusan, sari komponen warna, maupun
zat semisintetik yang dibuat berdasarkan pola warna senyawa komponen
warna yang terkandung dalam simplisianya (Ditjen POM, 1985).
Zat warna sintetik (buatan) yaitu DC orange no. 4, DC hitam, dan
DC coklat (Wasitaatmadja, 1997). Dalam zat warna senyawa logam, peranan
pewarnaan rambut ditentukan oleh jenis senywa logam, jenis pembangkit
warna, dan suasana lingkungan pembawanya. Oleh karena itu zat warna
senyawa logam meliputi, senyawa logam, zat pembangkit warna, asam,
alkalis, dan pembawa. Senyawa logam meliputi bismut sitrat, kadmium
sulfat, kobalt sulfat, nikel sulfat, perak nitrat, tembaga sulfat, dan timbal
asetat (Ditjen POM, 1985).
II.3.2 Daya Lekat Zat Warna
Berdasarkan daya lekat zat warna, pewarnaan rambut dibagi dalam 3
golongan:
1. Pewarnaan Rambut Temporer
Pewarnaan rambut temporer adalah pewarnaan rambut yang akan
menambah cerah dan warna pada rambut serta tidak menunjukkan efek
yang kekal atas warna rambut. Sifat pewarnaannya pada rambut sebentar
dan mudah dihilangkan dengan keramas menggunakan sampo (Ditjen
POM, 1985). Bahan pewarna jenis ini adalah pewarna asam yang
mempunyai molekul besar sehingga tidak mampu masuk ke dalam
batang rambut dan mudah terlepas (Wasitaatmadja, 1997).
2. Pewarnaan Rambut Semipermanen

Pewarnaan rambut semipermanen adalah pewarnaan rambut yang


memilki daya lekat tidak terlalu lama; daya lekatnya ada yang 4-6
minggu, ada juga yang 6-8 minggu. Pewarnaan rambut ini masih dapat
tahan terhadap keramas sampo, tetapi jika berulang dikeramas, zat
warnanya akan luntur juga (Ditjen POM, 1985).
3. Pewarnaan Rambut Permanen
Pewarnaan rambut permanen adalah pewarnaan rambut yang memilki
daya lekat jauh lebih lama dan akan tetap melekat pada rambut hingga :
a. Pertumbuhan rambut selanjutnya dan rambut yang diwarnai
dipotong.
b. Dilunturkan dengan proses pemucatan rambut
c. Dilunturkan dengan penghilang cat (Ditjen POM, 1985).
Sifat lekat zat warna pada rambut dalam pewarnaan rambut
permanen dapat dibedakan dalam pelekatan penetrasi dan pelekatan
tersalut. Zat warna sangat lekat pada rambut sehingga tidak luntur
karena keramas sampo, dan memerlukan pewarnaan lagi setelah
jangka waktu lebih kurang 3-4 bulan. Pewarnaan rambut permanen
ini lebih disukai karena penggunaannya lebih praktis dan tidak
memerlukan pengecatan kembali dalam jangka waktu yang relatif
lama (Ditjen POM, 1985).
II.3.3 Proses Sistem Pewarnaan
Berdasarkan proses sistem pewarnaan, pewarna rambut dibagi dalam 2
golongan:
1. Pewarnaan Rambut Langsung
Sediaan pewarnaan rambut lansung telah mengandung zat warna,
sehingga dapat lansung digunakan dalam pewarna rambut, tanpa terlebih
dahulu harus dibangkitkan dengan pembangkit warna (Ditjen POM,
1985).
2. Pewarnaan Rambut Tidak Langsung
Sediaan pewarnaan rambut tidak lansung disajikan dalam 2 kemasan,
masing-masing berisi komponen zat warna dan komponen pembangkit
warna. Jika hendak

digunakan terlebih dahulu harus dicampur

komponen satu dengan yang lainnya (Ditjen POM, 1985).


5

II.4 Logam
Logam dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu logam esensial dan
logam nonesensial. Logam esensial adalah logam yang sangat membantu
dalam proses fisiologis makhluk hidup dengan jalan membantu kerja enzim
atau pembentukan organ dari makhluk hidup yang bersangkutan. Sebaliknya
logam nonesensial adalah logam yang peranannya dalam tubuh makhluk
hidup belum diketahui, kandungannya dalam jaringan hewan sangat kecil,
dan apabila kandungannya tinggi akan dapat merusak organ-organ tubuh
makhluk hidup yang bersangkutan. Logam yang dapat menyebabkan
keracunan adalah jenis logam berat. Logam ini termasuk logam yang
esensial seperti Cu, Zn, Se dan yang nonesensial seperti Hg, Pb, Cd, dan As
(Darmono, 1995).
II.5 Timbal
Timbal adalah sejenis logam yang lunak bewarna abu-abu kebiruan
mengkilat serta mudah dimurnikan dari pertambangan. Timbal mudah
dibentuk, memiliki sifat kimia yang aktif, sehingga bisa digunakan untuk
melapisi logam agar tidak timbul perkaratan. Logam ini termasuk ke dalam
kelompok logam-logam golongan IV-A pada Tabel Periodik unsur kimia.
Logam ini mempunyai nomor atom 82 dengan bobot atau berat atom 207,2.
Timbal meleleh pada suhu 328oC (662oF), dan titik didih 1740oC (3164oF)
(Widowati, 2008).
Timbal adalah logam yang mendapat perhatian karena bersifat toksik
melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar
timbal. Timbal masuk ke dalam tubuh melalui jalur oral, lewat makanan,
minuman, pernafasan, kontak lewat kulit, kontak lewat mata, serta lewat
parenteral (Widowati, 2008).
II.5.1 Penggunaan Timbal
Timbal dan persenyawaannya banyak digunakan dalam berbagai
bidang. Dalam industri baterai, timbal digunakan sebagai grid yang
merupakan alloy (suatu persenyawaan) dengan logam bismut (Pb-Bi)
dengan perbandingan 93:7 (Palar, 2004).
6

Timbal oksida (PbO4) dan logam timbal dalam industri baterai


digunakan sebagai bahan yang aktif dalam pengaliran arus elektron. Alloy
Pb yang mengandung 1% stibium (Sb) banyak digunakan sebagai kabel
telepon. Alloy Pb dengan 0,15% As, 0,1% Sn, dan 0,1% Bi banyak
digunakan untuk kabel listrik (Palar, 2004).
Persenyawaan Pb dengan Cr (chromium), Mo (molibdenum) dan Cl
(chlor), digunakan secara luas sebagai pigmen chrom. Senyawa PbCrO 4
digunakan dalam industri cat untuk mendapatkan warna kuning-chrom,
Pb(OH)2.2PbCO3 untuk mendapatkan warna timah putih, sedangkan
senyawa yang dibentuk dari PbO4 digunakan untuk mendapatkan warna
timah merah (Palar, 2004).
Dalam perkembangan industri kimia, dikenal pula zat aditif yang
dapat

ditambahkan

ke

dalam

bahan

bakar

kendaraan

bermotor.

Persenyawaan yang dibentuk dari logam Pb sebagai zat aditif ini ada dua
jenis, yaitu (CH3)4-Pb (tetrametil-Pb) dan (C2H5) 4-Pb (tetraetil-Pb) (Palar,
2004).
Timbal asetat khususnya digunakan pada proses pencelupan dan
pencetakan tekstil, bahan pernis kayu, pabrik pestisida, pabrik cat, reagensia
kimia, dan pewarna rambut (Johonson, 1998).
II.5.2 Toksisitas Timbal
Timbal adalah logam yang bersifat toksik terhadap manusia, yang
bisa berasal dari tindakan yang mengonsumsi makanan, minuman, atau
melalui inhalasi dari udara, debu yang tercemar timbal, kontak lewat kulit,
kontak lewat mata, dan lewat parenteral (Widowati, 2008).
Di dalam tubuh, timbal bisa menghambat aktivitas enzim yang
terlibat dalam pembentukan hemoglobin dan sebagian kecil timbal
dieksresikan lewat urin atau feses karena sebagian terikat oleh protein,
sedangkan sebagian lagi terakumulasi dalam ginjal, hati, kuku, jaringan
lemak, dan rambut (Widowati, 2008).
Pada jaringan atau organ tubuh, timbal juga akan terakumulasi pada
tulang, karena logam ini dalam bentuk ion Pb2+mampu menggantikan
7

keberadaan ion Ca2+ (kalsium) yang terdapat dalam jaringan tulang. Di


samping itu, pada wanita hamil, timbal dapat melewati plasenta dan
kemudian akan ikut masuk dalam sistem peredaran darah janin dan
selanjutnya setelah bayi lahir, timbal akan dikeluarkan bersama air susu
(Palar, 2004).
Timbal bersifat kumulatif. Mekanisme toksisitas timbal berdasarkan
organ yang dipengaruhinya (Widowati, 2008) adalah:
1. Sistem haemopoietik; menghambat sistem pembentukan hemoglobin
(Hb) sehingga menyebabkan anemia.
2. Sistem saraf; menimbulkan kerusakan otak dengan gejala epilepsi,
halusinasi, kerusakan otak besar, dan delirium.
3. Sistem urinaria; menyebabkan lesi tubulus proksimalis, loop of Henle,
serta menyebabkan aminosidur ia.
4. Sistem gastro-intestinal; menyebabkan kolik dan konstipasi.
5. Sistem kardiovaskular; menyebabkan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah.
6. Sistem reproduksi berpengaruh terutama terhadap gametotoksisitas atau
janin belum lahir menjadi peka terhadap timbal. Ibu hamil yang
terkontaminasi timbal bisa mengalami keguguran.
7. Sistem endokrin; mengakibatkan gangguan fungsi tiroid dan fungsi
adrenal.
8. Bersifat karsinogenik dalam dosis tinggi.
II.6 Spektrofotometri Serapan Atom
Spektrofotometri serapan atom adalah suatu metode yang digunakan
untuk mendeteksi atom-atom logam dalam fase gas. Metode ini seringkali
mengandalkan nyala untuk mengubah logam dalam larutan sampel menjadi
atom-atom logam berbentuk gas yag digunakan untuk analisis kuantitatif
dari logam dalam sampel(Bender, 1987).
Metode spektrofotometri serapan atom berdasarkan pada prinsip
absorbsi cahaya oleh atom. Atom- atom akan menyerap cahaya pada panjang
gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya (Rohman, 2007).

Dasar analisis menggunakan teknik spektrofotometri serapan atom


adalah bahwa dengan mengukur besarnya absorbsi oleh atom analit, maka
konsentrasi analit tersebut dapat ditentukan (Susanto, 2010).
Ada 4 cara pembentukan atom dalam spektrofotometri serapan atom
(Susanto, 2010), yaitu:
1)
2)
3)
4)

Dengan menggunakan nyala campuran gas (Flame-AAS).


Melalui pembentukan senyawa hidrida diikuti pemanasan.
Dengan tanpa nyala untuk analisis merkuri.
Menggunakan pemanasan oleh listrik (Electrothermal-AAS atau
Graphite Furnace-AAS).

II.6.1 Instrumen Spektrofotometer Serapan Atom

Gambar 1. Komponen Spektrofotometer Serapan Atom


a. Sumber Sinar
Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga
(hollow cathoda lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang
mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda berbentuk silinder
berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu.
Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon atau argon). Bila antara
anoda dan katoda diberi selisih tegangan yang tinggi (600 volt), maka
katoda akan memacarkan beras-berkas elektron yang bergerak menuju
anoda yang mana kecepatan dan energinya sangat tinggi. Elektronelektron dengan energi tinggi ini dalam perjalanannya menuju anoda
akan bertabrakan dengan gas-gas mulia yang diisikan tadi. Akibat dari
tabrakan-tabrakan ini membuat unsur-unsur gas mulia akan kehilangan
elektron dan menjadi bermuatan positif. Ion-ion gas mulia yang
bermuatan positif ini selanjutnya akan bergerak ke katoda dengan
9

kecepatan dan energi yang tinggi pula. Pada katoda terdapat unsur-unsur
yang sesuai dengan unsur yang dianalisis. Unsur-unsur ini akan ditabrak
oleh ion-ion positif gas mulia. Akibat tabrakan ini, unsur-unsur akan
terlempar ke luar dari permukaan katoda. Atom-atom unsur dari katoda
ini mungkin akan mengalami eksitasi ke tingkat energi-energi elektron
yang lebih tinggi dan akan memancarkan spektrum pencaran dari unsur
yang sama dengan unsur yang akan dianalisis (Rohman, 2007).
b. Tempat Sampel
Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan atom, sampel
yang akan dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang
c.

masih dalam keadaan asas (Rohman, 2007).


Monokromator
Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih
panjang

gelombang

yang

digunakan

dalam

analisis.

Dalam

monokromator terdapat chopper (pemecah sinar), suatu alat yang


berputar dengan frekuensi atau kecepatan perputaran tertentu (Rohman,
2007).
d. Detektor
Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang
melalui tempat pengatoman (Rohman, 2007).
e.

Readout
Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan
sebagai pencatat hasil. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa
kurva yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi (Rohman,
2007).

II.6.2 Gangguan Pada Spektrofotometer Serapan Atom


Gangguan-gangguan yang dapat terjadi dalam spektrofotometer
serapan atom (Rohman, 2007) adalah sebagai berikut:
1. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang mana dapat
mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala.
2. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah atau banyaknya
atom yang terjadi dalam nyala.
II.7 Validasi Metode Analisa
10

Validasi adalah suatu tindakan penilaian terhadap perameter tertentu


pada prosedur penetapan yang dipakai untuk membuktikan bahwa parameter
tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004).
Beberapa parameter validasi diuraikan di bawah ini.
II.7.1 Perolehan Kembali
Persen perolehan kembali digunakan untuk menyatakan kecermatan.
Kecermatan merupakan ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil
analisis dengan kadar analit yang sebenarnya (Harmita, 2004).
II.7.2 Batas Deteksi
Batas atau limit deteksi dari suatu metode analisis adalah nilai
parameter uji batas, yaitu konsentrasi analit terendah yang dapat dideteksi,
tetapi tidak dikuantitasi pada kondisi percobaan yang dilakukan. Limit
deteksi dinyatakan dalam konsentrasi analit (persen, bagian per milyar)
dalam sampel (Satiadarma, 2004).
II.2.3 Batas Kuantitasi
Batas atau limit kuantitasi dari suatu metode analisis adalah nilai
parameter penentuan kuantitatif senyawa yang terdapat dalam konsentrasi
rendah dalam matriks. Limit kuantitasi adalah konsentrasi analit terendah
dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat
diterima pada kondisi eksperimen yang ditentukan. Limit kuantitasi
dinyatakan dalam konsentrasi analit (persen, bagian per milyar) dalam
sampel (Satiadarma, 2004).
II.7.4 Analisis Jurnal
Pada jurnal yang berjudul PENENTUAN KADAR Pb (Timbal) DALAM
CAT

RAMBUT

DENGAN

METODE SPEKTROFOTOMETRI

SERAPAN ATOM dimana dengan semakin majunya dunia kosmetika dan


taraf hidup manusia, kosmetika semakin banyak digunakan orang. Salah satu
media masuknya logam berat ke dalam tubuh adalah melalui kosmetika yang
digunakan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Pb di dalam cat rambut
bentuk poder maupun krim berdasarkan perbedaan merk dan nomor
batch. Sampel ditimbang dan didestruksi dengan asam nitrat pekat
maupun asam perklorat pekat sampai diperoleh larutan yang jernih setelah
11

dingin diencerkan dengan air suling sampai 10 mL, kadar Pb ditentukan


dengan Spektofotometer Serapan Atom. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa di dalam cat rambut poder maupun krim terdapat Pb, kadar Pb
tetinggi terdapat di dalam cat rambut merk A dan B sebesar 16,1323 ug/g
sedangkan yang terendah terdapat di dalam merk C sebesar 0,9548 ug/g dan
berdasarkan hasil uji t kadar Pb di dalam cat rambut poder maupun krim
tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.

12

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dapat disimpulkan bahwa analisis kadar timbal
dalam cat rambut dapat digunakan dengan metode spektrofotometri serapan
atom.
III.2 Saran
Disarankan agar setelah membaca makalah ini agar lebih
memahami cara untuk menganalisis pewarna rambut baik secara kualitatif
maupun secara kuantitatif.

13

Anda mungkin juga menyukai