Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PENENTUAN KADAR PARASETAMOL DAN KAFEIN DENGAN TEKNIK HIGH


PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC)
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK INSTRUMEN
diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah Praktikum Kimia Analitik Instrumen
Dosen Pembimbing:
Dra. Soja Siti Fatimah, M.Si,
Tanggal Praktikum: 16 Februari 2015

Disusun oleh
Kelompok 2
Annisa Ananda (1202336)
Aprista Zebua (1202425)
Arini Nur Fitria (1205870)
DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015
A. Tanggal Praktikum :
16 Februari 2015
B. Judul Praktikum :
Penentuan Kadar Parasetamol dan Kafein dengan Teknik High Performance Liquid
Chromatography (HPLC)
C. Tujuan Praktikum :
1. Memahami cara kerja instrumen HPLC.
2. Dapat melakukan preparasi dengan tepat dan akurat, serta dapat mengikuti manual
pengoperasian HPLC.

3. Dapat menentukan/menghitung kadar parasetamol dan kafein dalam sampel obat.

D. Tinjauan Pustaka :
Kromatografi pada hakekatnya merupakan metode pemisahan dimana komponen yang
akan dipisahkan terdistribusi diantara dua fase yang saling tidak bercampur, yaitu fasa diam
dan fasa gerak. Kromatografi juga didefinisikan sebagai proses pemisahan zat terlarut oleh
suatu proses migrasi diffferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih,
salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di
dalamnya zat-zat itu menunjukkan adanya perbedaan dalam adsorpsi, partisi, kelarutan
tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan tekanan uapnya (Bahti, 1998).
Kromatografi merupakan suatu cara pemisahan fisik dengan unsur-unsur yang akan
dipisahkan terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk suatu lapisan
stasioner dengan luas permukaan yang besar dan yang lainnya merupakan cairan yang
merembes lewat atau melalui lapisan yang stasioner. Fasa stasioner atau diam dapat berupa
zat padat atau suatu cairan, dan fasa gerak dapat berbentuk cairan ataupun gas. Maka
semua jenis kromatografi yang dikenal, terbagi menjadi empat golongan: cair-padat, gaspadat, cair-cair, dan gas-cair (Day dan Underwood, 1986).
Kromatografi cairan kinerja tinggi atau dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan
sebutan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) merupakan salah satu teknik
pemisahan campuran secara modern. Teknik HPLC ini merupakan salah satu teknik
kromatografi cair-cair, yang dapat digunakan baik untuk keperluan pemisahan maupun
analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif denganteknik HPLC didasarkan pada pengukuran
luas/area puncak analit dalamkromatogram, dibandingkan dengan luas/area standar. Pada
prakteknya, pembandingan kurang menghasilkan data yang akurat bila hanya melibatkan satu
standar. Oleh karena itu, maka pembandingan dilakukan dengan menggunakan teknik kurva
kalibrasi. (Tim Kimia Analitik Instrumen. 2010:11)
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan sistem pemisahan dengan
kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Hal ini karena didukung oleh kemajuan dalam teknologi
kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detector yang sangat sensitif dan beragam. KCKT
mampu menganalisa berbagai cuplikansecara kualitatif maupun kuantitatif, baik dalam
komponen tunggal maupun campuran. KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima

secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah
bidangantara lain; farmasi, lingkungan dan industri-industri makanan. Kegunaan umum
KCKT adalah untuk pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa
biologis, analisis ketidakmurnian (impurities) dan analisis senyawa-senyawa yang tidak
mudah menguap (nonvolatil). KCKT paling sering digunakan untuk: menetapkan kadar
senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat dan protein-protein
dalam cairan fisiologis, menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat dan lain-lain.
Beberapa senyawa organik yang mudah terurai (labil) pada pemanasan dapat dianalisis
dengan cara kromatografi cairan kinerja tinggi atau HPLC karena HPLC dilakukan pada suhu
kamar. Selain senyawa organik teknik HPLC juga dapat menganalisis senyawa anorganik,
cuplikan yang mempunyai berat molekul tinggi atau titik didihnya tinggi seperti polimer.
Kelebihan KCKT antara lain:
1. Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran
2. Resolusinya baik
3. Mudah melaksanakannya
4. Kecepatan analisis dan kepekaannya tinggi
5. Dapat dihindari terjadinya dekomposisi/kerusakan bahan yang dianalisis
6. Dapat digunakan bermacam-macam detektor
7. Kolom dapat digunakan kembali
8. Mudah melakukan rekoveri cuplikan
9. Tekniknya tidak begitu tergantung pada keahlian operator danreprodusibilitasnya lebih
baik
10. Instrumennya memungkinan untuk bekerja secara automatis dan kuantitatif
11. Waktu analisis umumnya singkat
12. Kromatografi cair preparatif memungkinkan dalam skala besar
13. Ideal untuk molekul besar dan ion
(Putra, Effendy De Lux. 2004 :8)
Keterbatasan metode KCKT adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika KCKT
dihubungkan dengan spektrometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah jika sampelnya
sangat kompleks, maka resolusi yang baik sulit diperoleh. Prinsip kerja HPLC adalah sebagai
berikut dengan bantuan pompa, fasa gerak cair dialirkan melalui kolom ke detektor, cuplikan

dimasukkan ke dalam fasa gerak dengan penyuntikan. Didalam kolom terjadi pemisahan
komponen-komponen campuran karena perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut
terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar
dari kolom terlebih dahulu, sebaliknya solut-solut yang kuat interaksinya dengan fasa diam
akan keluar dari kolom lebih lama. Setiap komponen campuran yang keluar dideteksi oleh
detector kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Kromatogram HPLC serupa dengan
kromatogram gas. (Hendayana,Sumar.2006:69)

Konsentrasi solut dalam setiap fasa dinyatakan sebagai koefisien partisi, K. Cs dan Cm adalah
konsentrasi solut dalam fasa diam dan fasa gerak.
K=

Cs
Cm

Sebagai alternative, distribusi Solut-solut di antara dua fasa-fasa tersebutdinyatakan


dengan satuan massa atau waktu keluarnya solut atau volume fasa gerak:
K '=

'

K=

gs
gm

( tRt 0 ) ( vRv 0 )
t0

v0

K adalah factor kapasitas, gs dan gm adalah masssa solut dalam fasa diam dan fasa gerak, tR
dan t0 adalah waktu yang diperlukan untuk elusi solut yang berikatan dan solut yang tidak

berikatan dengan fasa diam. Perkalian waktu-waktuini dengan kecepatan alir fasa gerak
menghasilkan volume retensi, Vr dan volume hampa V0. Walaupun K dan K merupakan
kuantitas yang berbeda, tetapi keduanya berhubungan secara linier.
'

K =K
Ketika senyawa-senyawa dipisahkan dalam kolom maka masing-masingsenyawa menyebar
dan menjadi encer. Peristiwa ini dikenal dengan istilah band broadening yang terlihat dari
puncak yang melebar.
Diffusi Eddy merupakan salah satu penyebab pelebaran peak. Penyebab kedua berasal
dari transfer massa, Solut selalu berpindah-pindah di antara fasa gerak dan fasa diam.

Efisiensi kolom biasanya dinyatakan secara matematika dengan istilah plat teori.
Penerapannya pada kromatografi, jumlah teori plat, N, untuk kolom ditentukan dari lebar
peak dan waktu retensi. Suatu persamaan yang analog dengan persamaan Van Deemter dari
kromatografi gas telah dikembangkan untuk HPLC. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan
knox, yang menyatakan pengaruh- pengaruh tiap proses band broadening terhadap
efisiensi.
Resolusi pada HPLC dipengaruhi oleh tiga factor yaitu efisiensi (N), selektivitas(a),
dan retensi (k). adalah selektivitas, k1 dan k2 adalah masing0masing factor kapasitas
senyawa 1 dan senyawa 2.
=

k'2
k'1
Jenis retensi Solut merupakan dasar dalam HPLC karena pemisahansenyawa

bergantug pada jenis dan kekuatan interaksi Solut dengan fasa diam.Mekanisme retensi dapat
dikelompokan menjadi lima, yaitu:
a. Kromatografi adsorpsi

Kromatografi ini sangat cocok untuk pemisahan senyawa-senyawa yang agak polar.
Kromatografi yang menggunakan fasa gerak nonpolar dan fasa diam polar biasanya HPLC
fasa normal. Partikel-partikel silika atau alumina digunakan sebagai adsorben. Untuk
mengontrol retensi solut, biasanya ditambahkan sedikit senyawa polar kepada fasa gerak
sebagai modifier. Modifier bersaing dengan molekul-molekul solut untuk merebut tempat
adsorpsi.
b. Kromatografi partisi
Kromatografi partisi merupakan kromatografi fasa terbalik dimana fasagerak lebih
polar daripada fasa diamnya. Fasa geraknya harus dijenuhkan dengan zat cair fasa diam untuk
mengurangi erosi lapisan fasa diam. Pada kromatografi ini terdapat keterbatasan selektivitas
sehingga ketidak campuran kedua fasa. Fasa gerak dan fasa diam beberapa senyawa sangat
kuat atau tidak tertahan sama sekali pada fasa diam.
c. Kromatografi fasa terikat
Kromatografi ini adalah krimatgrafi yang sering digunakan, kromatografi fasa terikat
memiliki persamaan dengan kromatografi partisi. Pada kromatografi ini, adsorben fasa terikat
terdiri dari partikel silika yang dimodifikasi secara kimia dengan rantai alkil. Fasa terikat
merupakan fasa yang stabil. Oleh karena itu, kolom akan bertahan dan keterulangan waktu
retensi yang baik.
d. Kromatografi penukar ion
Karakteristik fasa gerak dalam kromatografi penukaran ion seperti yang diperlukan
oleh jenis kromatografi lain. Fasa gerak harus melarutkan cupllikan, mempunyai kekuatan
pelarut yang memberikan waktu retansi yang cocok, berinteraksi dengan solut sehingga
memberikan harga selektivitas yang tepat. Fasa gerak dalam kromatografi penukaran ion
adalah larutan dalam air dapat mengandung sedikit metanol atau pelarut organik lain yang
bercampur dengan air. Pelarut ini juga mengandung senyawa-senyawa ionisasi dalam
bentuk buffer. Kekuatan pelarut dan selektivitas ditentukan oleh jenis dan konsentrasi bahanbahan tambahan ini. Umunya, ion-ion dari fasa gerak bersaing dengan ion analit untuk
memperebutkan tempat paking penukaran ion. Fasa diam dalam kromatografi penukaran ion
dapat berupa penukaran ion asam sulfonat untuk kation atau penukar ion amin untuk anion.
e. Kromatografi eksklusi ukuran

Ukuran molekul merupakan kriteria utama dalam pemisahan ini.Pemisahan terjadi kar
ena solut-solut berdifusi masuk dan keluar pori-porimaterial paking kolom. Molekul-molekul
yang lebih besar dari diameter pori-pori akan melewati kolom secara cepat, dan molekul kecil
menempati volume pori dan tertahan lebih lama.
(Hendayana, Sumar.2006:71-77)
Komponen-komponen atau instrumentasi dari HPLC ialah sebagai berikut :
1. Fasa gerak
Berupa zat cair yang disebut eluen (pelarut) dalam HPLC, fasa gerak selain bertugas
membawa komponen-komponen campuran menuju detektor, juga dapat berinteraksi dengan
solut-solut. Zat cair yang akan digunakan sebagai fasa gerak HPLC harus memenuhi beberapa
persyaratan berikut :
1) Zat cair harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk cuplikan yang akan dianalisis.
2) Zat cair harus murni sekali untuk menghindarkan masuknya kotoran yang dapat
mengganggu interpretasi kromatogram.
3) Zat cair harus jernih sekali untuk menghindarkan penyumbatan pada kolom. Biasanya
pelarut disaring dengan saringan nilon berukuran diameter 0,45m. Pompa vakum
biasanya digunakan untuk menyaring partikel kotoran sekaligus menghilangkan gas dari
pelarut karena gas dapat mengganggu base line.
4) Zat cair harus mudah diperoleh, murah, tidak mudah terbakar dan tidak beracun.
5) Zat cair tidak kental. Umumnya keketalan tidak melebihi 0,5 cP (centiPoise).
6) Sesuai dengan detektor.
Pemilihan zat cair sebagai fasa gerak ini merupakan hal yang kritisdalam keberhasilan
pemisahan. Sayangnya, teori interaksi fasa gerak dengan sejumlah solut kurang jelas sehingga
para pakar hanya dapat memilih sekelompok pelarut. Jadi, pada akhirnya, pemilihan fasa
gerak didasarkan ataseksperimen trial-and error dengan berbagai jenis dan krom posisi
pelarut hingga diperoleh kromatogram yang diharapkan. Dengan kata lain, fasa gerak
yang baik memberikan faktor kapasitas k pada rentang yang seesuai. Untuk cuplikan dengan
2-3 komponen, sebaliknya dicari fasa gerak yang memberikan k antara 2-5. Sedangkan untuk
campuran multikomponen, waktu cukup untuk pemisahan semua komponen. Biasanya
beberapa pelarut atau kombinasi pelarut dapat ditemukan untuk memberikan faktor kapasitas

yang cocok. Pemilihan pelarut-pelarut juga bergantung pada faktor selektifitas () untuk
komponen cuplikan. Gelembung udara (degassing) yang ada harus dihilangkan dari pelarut,
karena udara yang terlarut keluar melewati detektor dapat menghasilkan banyak noise
sehingga data tidak dapat digunakan.(Harvey, David. 2000 : 581)
2. Pompa
Pompa dalam HPLC berfungsi untuk mengalirkan fasa gerak cair malalui kolom
yang berisi serbuk halus. Pompa yang dapat digunakan dalam HPLC harus memenuhi
persyaratan :
1) Menghasilkan tekanan sampai 600 psi.
2) Keluaran bebas pulsa
3) Kecepatan alir berkisar antara 0,1-10 mL/menit.
4) Bahan tahan korosi.
Dikenal tiga jenis pompa yang masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian,
yaitu pompa reciprocating, displacement, dan pneumatic.
Pompa reciprocating
Jenis pompa ini sekarang paling banyak dipakai. Popa ini terdiri dari ruangan kecil
tempat pelarut yang dipompa dengan cara gerakan piston mundur-maju yang dijalankan oleh
motor. Piston berupa batang gelas dan berkontak langsung dengan pelarut. Ketika piston
mundur maka bola gelas bawah terangkat dan pelarut masuk, sebaliknya ketika piston maju
bola bawah menutup saluran pelarut danpelarut yang telah berada diruang pompa didorong
masuk ke dalam kolom. Gerakan piston mundur dan maju terjadi secara terus menerus
sehingga memeberikan aliran eluen konstan. Pompa ini menghasilkan pulsa yang dapat
mengganggu

base-line

kromatogram,

karena

itu

dipasang

peredam

pulsa

untuk menghilangkan gangguan base-line sedangkan keuntungan pompa ini adalah memiliki
volume internal yang kecil. Untuk mengurangi bond broadening. Selain itu, pompa ini
menghasilkan tekanan tinggi, kecepatan alir konstan yang tidak brgantung pada tekanan balik
kolom dan viskositas pelarut.
Pompa displacement

Pompa ini menyerupai syringe (alat suntik) terdiri dari tabung yang dilengkapi
pendorong yang digerakkan oleh motor. Pompa ini juga menghasilkan aliran yang cenderung
tidak bergantung tekanan balik klom dan viskositas pelarut. Selain itu, keluaran pompa ini
bebas pulsa. Akan tetapi pompa ini keterbatasan kapasitas pelarit dan tidak mudah untuk
melakukan pergantian pelarut.
Pompa pneumatic
Dalam pompa ini pelarut didorong oleh gas bertekanan tinggi. Pompa jenis murah dan
bebeas pulsa. Akan tetapi mempunyai keterbatasan kapasitas dan tekanan yang dihasilkan
serta kecepatan alir bergantung pada viskositas pelarut dan tekanan balik kolom.
3. Pemasukan cuplikan
Kebanyakan pemasukan cuplikan ke dalam kolom dapat menyebabkan band
broadening. Oleh karena itu, cuplikan yang dimasukan harus sekecil mungkin, beberapa
puluh miroliter. Teknik pemasukan cuplikan kedalam sistem HPLC melalui injeksi srynge,
injeksi stop-flow, dan kran cuplikan.

Syringe
Injeksi syringe
Alat yang paling dulu ada dan paling paling mudah untuk memasukkan cuplikan
adalah syringe. Syringe disuntikkan melalui septum (seal karet) danuntuk ini dirancang
syringe yang tahan tekanan sampai 1500 psi. Akan tetapi keterulangan injeksi syringe ini
sedikit labih baik dari 2-3% dan sering lebih jelek.
Injeksi stop-flow

Injeksi stop-flow adalah jenis injeksi syringe kedua tapi di sini aliran pelarut
dihentikan sementara, sambungan pada ujung kolom dibuka dan cuplikan disuntikan langsung
ke dalam ujung kolom. Setelah menyambungkan kembali, kolom maka pelarut dialirkan
kembali.
Kran cuplikan
Jenis pemasukan cuplikan ini disebut juga loop dan paling banyak digunakan. Untuk
memasukan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak perlu dua langkah :
1) Sejumlah volume cuplikan disuntikkan ke dalam loop dalam posisi load, cuplikan
masih berada dalam loop.
2) Kran diputar untuk mengubah cuplikan load menjadi posisi injeksi dan fasa gerak
membawa cuplikan ke dalam kolom. Loop dapat diganti-ganti dan tersedia berbagai
ukuran volume dari 5 hingga 500 L. Dengansistem pemasukan cuplikan ini
memungkinkan memasukan cuplikan pada tekanan 7000 psi denga ketelitian tinggi. Juga
loop mikro tersedia dengan volume 0,5 hingga 5L.

Tipe injector katup putaran


4. Kolom
Kolom HPLC biasanya terbuat dari stainless steel walaupun ada juga yang terbuat dari
gelas berdinding tebal. Kolom utama berisi fasa diam, tempat terjadinya pemisahan campuran
menjadi komponen-komponennya. Bergantung keperluannya kolom utama dapat digunakan
untuk analisis atau preparatif. Untuk keperluan preparatif, setiap komponen yang keluar
kolom ditampung pada tabung yang berbeda dan keluaran HPLC dihubungkan
dengan fraction colector.

Selain kolom utama dikenal pula kolom pengaman (guard kolom). Kolom utama
berisi fasa diam dan jenisnya bervariasi bergantung keperluan, misalnya dikenal kolom C-18,
C-8, cyanopropyl, penularan ion. Kolom jenis C-18 dan C-8 paling banyak dipakai dalam
HPLC. Fasa diam jenis terikat ini dapat dibuat dengan mereaksikan silika dengan
alkilklorosilana yang dikenal dengan reaksi silanisasi.
Fasa Diam
Dalam kromatografi cair-cair, fasa diam adalah cairan film yang dilapiskan
padamaterial kemasan yang terdiri dari partikel silica berpori 3-10 . Fasa diam

mungkin

sebagian akan larut dalam fasa gerak. Untuk mencegah hilangnya fasa diam ini, maka fasa
diam diikat secara kovalen pada partikel silica.
Karena fasa diam polar, maka fasa gerak adalah nonpolar atau pelarut yang cukup
polar. Kombinasi dari fasa diam polar dan fasa gerak non polar disebut kromatografi fasa
normal. Dalam kromatografi fasa terbalik, sering ditemui dalam HPLC, fasa diam non-polar
dan fasa gerak polar. Fasa diam non-polar paling umum menggunakan organochlorosilane
dengan R adalah n-octyl (C-8) atau n-octyldecyl (C-18) rantai hidrokarbon.
Kolom pengaman disebut juga pra-kolom karena diletakkan sebelum sistem
pemasukan cuplikan. Kolom ini berukuran pendek, 5 cm dengan diameter 4,6 mm dan
biasanya dipacking dengan partikel silika berukuran lebih besar dari ukuran partikel kolom
utama. Kolom pengaman mempunyai dua fungsi, yaitu untuk menyaring kotoran yang
terbawa dalam fasa diam dan untuk menjenuhkan fasa diam dalam rangka menghindarkan
terjadinya erosi fasa diam oleh aliran pelarut. Dengan demikian, kerusakan kolom utama yang
mahal dapatdihindarkan.
5. Detektor
Berbagai detektor untuk HPLC telah tersedia, walaupun demikian detektor harus
memenuhi persyaratan berikut :
1) Cukup sensitif
2) Stabilitas dan ketrulangan tinggi
3) Respon linear terhadap solute

4) Waktu respon pendek sehingga tidak bergantung alir


5) Reliabilitas tinggi dan mudah digunakan
6) Tidak merusak cuplikan.
Detektor HPLC dikelompokkan ke dalam tiga jenis detector, yaitu detektor umum
memberi respon terhadap fasa gerak yang dimodulasi dengan adanya solut. Sebaliknya,
detektor spesifik memberi respon terhadap beberapa sifat solut yang tidak dimiliki oleh fasa
gerak. Terakhir, detektor yang brsifat umum terhadap solut setelah fasa gerak dihilangkan
dengan penguapan.
Detektor UV
Detektor UV terutama digunakan untuk pendeteksian senyawa-senyawa organik.
Detektor UV dilengkapi dengan pengatur panjang gelombang sehingga panjang gelombang
UV yang digunakan dapat dipilih disesuaikan dengan jenis cuplikan yang diukur. Walaupun
demikian, biasanya panjang gelombang UVyang digunakan adalah pada 254 nm karena
kebanyakan senyawa organik menyerap sinar UV pada sekitar panjang gelombang tersebut.
Detektor elektrokimia
Detektor elektrokimia biasanya didasarkan pada daya hantar listrik dan poligrafi.
Detektor jenis konduktometri biasanya digunakan untuk mendeteksi solut-solut yang dapat
mengalami reaksi redoks baik senyawa organik maupun anorganik.
(Hendayana, Sumar.2006:83-94)
Detektor yang paling banyak digunakan dalam kromatografi cair modern kecepatan
tinggi adalah detektor spektrofotometer UV 254 nm. Bermacam-macam detektor dengan
variasi panjang gelombang UV-Vis sekarang menjadi populer karena mereka dapat digunakan
untuk mendeteksi senyawa-senyawa dalam rentang yang luas. Detektor indeks refraksi juga
secara luas digunakan,terutama dalam kromatografi eksklusi, tetapi umumnya kurang sensitif
dari pada detektor spektrofotometer UV. Detektor lainnya, antara lain detektor fluometer,
detektor ionisasi nyala, detektor elektrokimia dan lain-lain juga telah digunakan. (Putra,
Effendy De Lux. 2004 : 6)

6. Rekorder
Untuk mencetak hasil percobaan pada lembaran kertas berupa kumpulan puncak
(kromatogram). Komponen yang terelusi mengalir ke detektor dan dicatat sebagai puncakpuncak yang secara keseluruhan disebut sebagai kromatogram.
Fungsi dari kromatogram antara lain:
1) Kualitatif
Waktu retensi selalu konstan dalam setiap kondisi kromatografi yangsama dapat
digunakan untuk identifikasi.
2) Kuantitatif
Luas puncak proporsional dengan jumlah sampel yang diinjeksikan dandapat digunakan
untuk menghitung konsentrasi.
3) Kromatogram dapat digunakan untuk mengevaluasi efisiensi pemisahan dan kinerja
kolom (kapasitas k, selektifitas , jumlah pelat teoritis N, jarak setara dengan pelat
teoritis HETP, dan resolusi R).
Penerapan kromatografi cairan kinerja tinggi dapat dilakukan dengan dua mode
oprasional, yaitu :
1) Mode isokratik
Mode isokratik serupa dengan mode isotermal dalam kromatografi gas,hanya dalam
HPLC komposisi fasa geraknya yang sama selama pengukuran berlangsung. Tidak perlu
mengatur komposisi campuran fasa gerak.
2) Mode gradient
Komposisi fasa geraknya divariasikan selama pengukuran berlangsung. Elusi gradien
didefinisikan sebagai penambahan kekuatan fase gerak selama suatu analisis
kromatografi berlangsung. Digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang
kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas. Pengaruh yang
menguntungkan dari elusi gradien adalah memperpendek waktu analisis senyawasenyawa yang secara kuat ditahan didalam kolom. Elusi Gradien menawarkan beberapa
keuntungan :
a. Total waktu analisis dapat direduksi
b. Resolusi persatuan waktu setiap senyawa dalam campuran bertambah
c. Ketajaman Peak bertambah (menghilangkan tailing)

d. Efek sensitivitas bertambah karena sedikit variasi pada peak


Gradien dapat dihentikan sejenak atau dilanjutkan. Optimasi Gradiendapat
dipilih dengan cara trial and error. Tabel berikut ini menunjukkan kompatibilitas dari
bermacam-macarn mode kromatografi cair dengan analisis gradien. Dalam praktek,
gradien dapat diformasi sebelum dan sesudah pompa.
(Putra, Effendy De Lux. 2004 :7)
Parasetamol dan kafein umumnya terdapat bersama dalam satu tablet obat yang
memiliki sifat kepolaran berbeda. Karakteristik senyawa ini memungkinkan analisis dengan
teknik HPLC menggunakan kolom non polar seperti C-18 dan fasa gerak agak polar
campuran beberapa pelarut. Tim Kimia Analitik Instrumen. 2015:1)

Parasetamol
Parasetamol adalah senyawa yang memiliki sifat polar, dan gugus kromofor yang
dimilikinya menyebabkan senyawa ini dapat menyerap sinar UV.

Kafein
Suatu alkohol dengan rumus molekul C5H10N4O2. Berupa padatan kristal berwarn
aputih dan berasa pahit, ditemukan dalam daun dan biji dari pohin kopi, dalam daun teh,
dalam biji kola.
E. Alat dan Bahan
Alat
1. Perangkat HPLC

1 set

2. Lumpang dan alu

1 set

3. Spatula

1 buah

4. Labu ukur 25 mL

1 buah

5. Labu ukur 10 mL

7 buah

6. Neraca analitik terkalibrasi

1 set

7. Corong pendek

1 buah

8. Pipet tetes

2 buah

9. Gelas kimia 500 mL

1 buah

10. Ultrasonic vibrator

1 set

11. Botol vial 10 mL

1 buah

Bahan
1. Parasetamol p.a

25 mg

2. Kafein

12,5 mg

3. KH2PO4

420 mL

4. Sampel obat

10 mg

5. Isopropilalkohol

30 mL

6. Aquabidestilata

secukupnya

7. Asetonitril

30 mL

8. Kertas saring Whattman

1 lembar

9. Membrane PTFE dan selulosa nitrat

secukupnya

F. Prosedur Kerja
1. Pembuatan fasa gerak (pelarut)
Ke dalam sebanyak 420 mL KH2PO4 0,01 M ditambahkan methanol 20 mL, asetonitril 30
mL, dan isopropyl alkohol 30 mL. Dilakukan penyaringan untuk larutan menggunakan
membrane Whatman filter PTFE 0,2 m, disonikasi dengan ultrasonic vibrator selama 30
menit.
2. Pembuatan larutan induk parasetamol

Ditimbang 25 mg, vitamin c 1 mg, Parasetamol p.a dan 12,5 mg kafein, kemudian
dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL.

Ditambahkan pelarut sebanyak 20 mL, disonikasi selama 15 menit, diencerkan dengan

pelarut hingga tanda batas.


Dilakukan penyaringan dengan membrane dan dilakukan sonikasi.
Dihitung konsentrasi larutan induk untuk parasetamol dan kafein.

3. Pembuatan deret larutan standar parasetamol

Dipipet larutan induk parasetamol dan kafein masing-masing 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4
mL, dan 5 mL ke dalam labu ukur 10 mL.

Ditambahkan pelarut hingga tanda batas.

Kemudian disaring semua larutan standar tersebut dengan menggunakan membrane


PTFE. Ditempatkan hasil saringan ke dalam vial bertutup yang telah diberi label.

Dilakukan sonikasi selama 5 menit. Larutan standar siap diinjeksikan.

4. Pembuatan larutan sampel parasetamol

Ditimbang 20 tablet sampel obat dan dicatat hasilnya. Kemudian ditentukan berat

rerata tablet.
Digerus seluruh tablet dengan lumping dan alu hingga homogeny.
Diambil sampel yang telah berbentuk serbuk sebanyak 25 mg kemudian dimasukkan

ke dalam labu ukur 25 mL, ditambahkan 1 mL pelarut dan disonikasi selama 10 menit.
Diencerkan dengan pelarut hingga tanda batas lalu dikocok dan disaring melalui

penyaringan kering.
Dipipet 1 mL sampel yang telah disaring dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL.

Kemudian ditambahkan pelarut hingga tanda batas.


Disaring dengan membrane Whatman lalu disonikasi selama 5 menit.
Sampel siap diinjeksikan.

5. Penyiapan instrumen HPLC


Sementara melakukan preparasi sampel dan standar, dihidupkan peralatan HPLC sesuai
dengan langkah berikut :
a) Dikondisikan instrumen HPLC dengan: fasa gerak dengan sistem elusi gradien dengan
kondisi:
Fasa gerak

: KH2PO4 0,01 M 420 mL, methanol 20 mL, asetonitril 30 mL,


isopropyl alkohol 30 mL

Kolom

: C-18 (15 cm)

Panjang gelombang

: 215 nm

Laju alir

: 1 mL/menit

Volume injeksi

: 20 L

b) Dipastikan kabel penghubung listrik telah tersambung dengan benar.


c) Ditekan tombol ON pada sakelar listrik.
d) Diisi botol fasa gerak dengan volume yang memadai dan dikosongkan botol penampung.
e) Ditekan tombol ON pada alat, berturut-turut untuk power, detektor, dan pompa.
f) Dilakukan pemrograman alat dengan komputer. Diikuti langkahnya sesuai instruksi dalam
komputer.
g) Dipilih mode yang akan digunakan sesuai dengan parameter kondisi instrumen
h) Apabila kromatogram telah menunjukkan base line yang mendatar , maka instrumen siap
digunakan
i) Diinjeksikan berturut-turut larutan standar (dimulai dari konsentrasi terendah), dan
terakhir larutan sampel.
j) Dicetak hasil pengukuran, dicatat kondisi percobaannya.
k) Setelah selesai digunakan, dimatikan pompa dengan menyoroti tanda pompa dalam
komputer.
l) Ditutup file sesuai petunjuk, lalu dimatikan komputer.
m) Untuk mematikan, ditekan tombol OFF pada pompa, detektor, dan power secara
berurutan. Diputuskan sambungan listrik.
6. Perhitungan hasil analisis
Dari hasil operasi instrumen akan diperoleh kurva kalibrasi. Bila kurva kalibrasi
diperoleh dengan koefisien regresi > 0,997 , maka boleh melanjutkan perhitungan kadar
zat aditif dalam sampel. Dihitunglah kadarnya dalam satuan % b/b . Bila tidak diperoleh
kurva yang linier, maka dilakukan diskusi untuk mencari penyebabnya.

I. Daftar Pustaka

Harvey, David. (2000). Modern Analytical Chemistry. USA: The McGraw-Hill Companies.
Hendayana, Sumar. (1994). Kimia Analitik Instrumen. Semarang: IKIP Semarang Press
Hendayana, Sumar. (2006). Kimia Pemisahan Metode Kromatografi
dan Elektroforensis Modern. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press
Putra, Effendy De Lux. (2004). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang Farmasi.
Sumatera Utara : Jurusan Farmasi FMIPA USU.
R.A. Day, Jr. dan A.L. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
Skoog, A. Douglas ,F. James Holler, dan Stanley R. (2004). Fundamental of Analytical
Chemistry English Edition. Ontario : Brodis/Cole-Thomson
Tim Praktikum Kimia Analitik Instrumen. (2015). Penuntun Praktikum Kimia Analitik
Instrumen. Bandung: Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI
Tim Kimia Analitik Instrumen. (2010). Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrumen (KI431). Bandung : Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.