Anda di halaman 1dari 21

UNIVERSITAS INDONESIA

REVIU SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA


BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) FE UI

TUGAS AKHIR AUDIT INTERNAL


DOSEN: M. MALIK S.E., M.Ak., CPMA, CIA / M. ICHSAN M.Si

DISUSUN OLEH:
STEPHANIE INDAH MULYA

1106060646

INEZ BELINDA WIDJAJA

1106060652

IDWAL DION

1106060702

DIONISIUS DENIZAR

1106060721

VINSENSIUS MARIO GRANITO

1106060860

FAKULTAS EKONOMI
DEPOK
DESEMBER 2014

STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah pada
mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan
menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata ajar

: Audit Internal

Judul makalah/tugas

: Reviu Sistem Pengendalian Internal pada Badan Eksekutif


Mahasiswa (BEM) FE UI

Tanggal

: 15 Desember 2014

Dosen

: M. Malik S.E., M.Ak., CPMA, CIA / M. Ichsan M.Si

Anggota Kelompok

Nama

: Stephanie Indah Mulya

NPM

: 1106060646

TTD

Nama

: Inez Belinda Widjaja

NPM

: 1106060652

TTD

Nama

: Idwal Dion

NPM

: 1106060702

TTD

Nama

: Dionisius Denizar

NPM

: 1106060721

TTD

Nama

: Vinsensius Mario Granito

NPM

: 1106060860

TTD

BAB I
PENDAHULUAN
Universitas Indonesia sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia memiliki
tujuan untuk mempertahankan reputasi sebagai yang terbaik di Indonesia dengan
menghasilkan kualitas lulusan yang mampu bersaing di pasar global dan kualitas riset yang
bertaraf internasional serta menghasilkan produk Research and Development yang dapat
mendukung daya saing Internasional. Tujuan ini tentu sangat menitikberatkan Mahasiswanya sebagai sentral dari kekuatan Universitas Indonesia berdiri.Mahasiswa menjadi peran
sentral dalam kehidupan universitas. Tugas dan tanggung jawab bagi Universitas Indonesia
untuk mencetak lulusan yang berkualitas dan berkiprah baik di tingkat nasional maupun
internasional dapat dilihat dari bagaimana proses pembentukan mahasiswa yang berkualitas
dengan berbagai fasilitas untuk tumbuh kembang lewat aktivitas kemahasiswaan yang
menunjang prestasi akademis seperti lembaga kemahasiswaan yang menjadi wadah tumbuh
kembang kehidupan sosial mahasiswa.
Secara khusus pada Fakultas Ekonomi, berbagai jenis lembaga kemahasiswaan
ditawarkan bagi mahasiswa untuk dapat berkembang dengan seimbang antara kehidupan
akademis dengan kehidupan non-akademis.
Lembaga kemahasiswaan di Fakultas Ekonomi pada dasarnya dibagi atas Badan
Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Otonom
(BO), dan Badan Semi Otonom (BSO). Secara khusus, penulis ingin meneliti Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) terkait keberadaan divisi kontrol internal apakah sudah efektif
jika diteliti dengan acuan Institute of Internal Auditor(IIA). Peninjuan dilakukan dengan
alasan ada begitu besar dana yang besar dalam bentuk block grant yang diberikan oleh pihak
dekanat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kepada BEM FE UI yang diberi tanggung
jawab untuk mengelola dana dan digunakan dengan kesesuaian kebutuhan yang telah
diperhitungkan

dan

diajukan

sebelumnya

kepada

pihak

Dekanat

dalam

bentuk

reimbursement. Oleh sebab itu, tim kontrol internal yang dimiliki BEM FE UI perlu ditinjau
efektivitas nya agar mengurangi risiko adanya error maupun fraud yang material.

BAB II
LANDASAN TEORI
Brinks Modern Internal Auditing 7th Edition, Chapter 3 -Internal Control Framework:
The COSO Standard
Pemahaman serta implementasi pengendalian internal yang efektif adalah prinsip
dasar dari audit internal. Sistem internal control sudah dan akan terus menjadi dasar dari
aspek operasional maupun akuntansi proses bisnis serta proses internal audit yang tidak
terlepas dari evaluasi dan penilaian terhadap tingkatan kontrol. Eksternal auditor seringkali
menggunakan istilah internal control, sedangkan internal auditor menggunakan istilah
kontrol. Pada tahun 1970, serangkaian kejadian di Amerika Serikat memicu pengembangan
kerangka kerja internal kontrol oleh Committee of Sponsoring Organizations (COSO).Pada
mulanya digunakan oleh eksternal auditor untuk melakukan penilaian terhadap internal
kontrol, dan kemudian pengembangan penilaian internal kontrol melalui Sarbanes-Oxley Act
(SOX). Pemahaman akan kerangka kerja internal kontrol COSO menjadi kunci pengetahuan
yang diperlukan oleh auditor internal.

Pentingnya Kontrol Internal yang Efektif


Kontrol Internal adalah proses yang diimplementasi oleh manajemen yang didesign
untuk memberikan keyakinan wajar terhadap beberapa hal, yaitu informasi finansial dan
operasional yang terpercaya; kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur, hukum serta
regulasi; pengamanan aset; efisiensi operasional; pencapaian misi, tujuan dan goal dari
perusahaan; dan integritas dan nilai etika. Pengertian tersebut mengakui bahwa fungsi kontrol
internal melebihi hanya fungsi akuntansi dan keuangan, namun keseluruhan proses dalam
perusahaan

Latar Belakang Standard Kontrol Internal


Pengertian kontrol internal saat ini sangat jelas dengan adanya kerangka kerja COSO,
namun tidak begitu sampai tahun 1980an. Sebelumnya, kontrol internal diartikan sebagai:
internal control comprises the plan of enterprise and all of the coordinate meth- ods and
measures adopted with a business to safeguard its assets, check the accuracy and reliability
of its accounting data, promote operational efficiency, and encourage adherence to
prescribed managerial policies.
2

Dengan seiringnya waktu, pengertian dan regulasi terkait terus diperbaharui.


Beberapa aturan diantaranya adalah: Foreign Corrupt Practices Act of 1977 dan AICPA SAS
No.1. Perubahan yang dilakukan terus membimbing pada peningkatan relevansi akan fungsi
kontrol internal itu sendiri sampai akhirnya pada kerangka kerja kontrol internal COSO
seperti yang kita ketahui saat ini.

Kerangka Kerja Kontrol Internal COSO


COSO mendeskripsikan konsep kontrol internal secara multidimensi, yaitu:
Internal control is a process, affected by an entitys board of directors, manage- ment, and
other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of
objectives in the following categories: effectiveness and efficiency of operations; reliability of
financial reporting; and compliance with applicable laws and regulations.
Berdasarkan definisi yang sangat umum terhadap kontrol internal tersebut, COSO
menggunakan model tiga dimensi untuk menjelaskan sistemnya pada perusahaan. Terdiri dari
lima tingkatan pada muka serta tiga komponen utama dari kontrol internal pada bagian atas
model. Model tiga dimensi COSO terlihat melalui gambar dibawah:

Sumber: Brinks Modern Internal Auditing 7th Editio

I.

Control Environment
3

COSO menggambarkan lingkungan sebagai fondasi utama yang mempunyai pengaruh


terhadap bagaimana kegiatan perusahaan disusun (struktur) serta bagaimana risiko
dikaji.Lingkungan juga merupakan dasar dari komponen-komponen lainnya dari kontrol
internal.Lingkungan pula mencerminkan keseluruhan sikap, kesadaran serta tindakan yang
dilakukan

oleh

dewan

direksi,

manajemen

serta

pihak-pihak

lain

yang

berkepentingan.Budaya perusahaan seringkali menjadi hal yang mempunyai pengaruh besar


terhadap penciptaan lingkungan. Sebagai contoh, manajemen senior yang mempunyai
kebiasaan melakukan suap terhadap pihak yang berkaitan akan pula memberi insentif bagi
subordinatnya untuk melakukan hal serupa. Aspek-aspek lainnya yang mempengaruhi
lingkungan adalah: integritas dan nilai etika; komitmen dan kompetensi; dewan direksi dan
komite audit; filosofi dan ragam operasional yang dianut manajemen; struktur organisasi;
pengarahan otoritas dan tanggung jawab; kebijakan sumber daya manusia dan praktisnya; dan
perspektif lingkungan kontrol menurut COSO.

Sumber: Brinks Modern Internal Auditing 7th Edition

II.

Risk Assessment
Bagian diatas fondasi kontrol adalah penilaian terhadap risiko.Ketercapaian objektif

perusahaan seringkali berisiko gagal oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. Dengan
memahami dan mampu mengelola lingkungan risiko, maka tingkat ketercapaian tujuan akan
lebih tinggi. COSO kemudian membagi risiko dalam tiga perspektif, yaitu: risiko yang
disebabkan oleh faktor eksternal; risiko yang disebabkan oleh faktor internal; dan risiko pada
tingkat atau unit bisnis tertentu.
Proses penilaian dan pengkajian risiko dijelaskan COSO melalui tiga tahapan, yaitu:
melakukan estimasi terhadap signifikansi risiko; menilai kemungkinan atau frekuensi
4

terjadinya risiko; dan mencari cara pengelolaan risiko serta tindakan yang harus
diambil.Seringkali dalam melakukan penilaian terhadap risiko, manajemen dalam kondisi
kekurangan substansi dalam pengkajian.Hal ini menyebabkan dalam pengkajian risiko,
terutama untuk hal-hal yang sifatnya baru memiliki kemungkinan besar tidak dilakukan
dengan tepat.

III.

Control Activities
Tingkat berikutnya pada model tiga dimensi COSO disebut aktivitas kontrol.Yang

dimaksud dengan aktivitas kontrol adalah kebijakan dan prosedur yang memastikan tindakan
yang diambil akan mengurangi risiko. Berikut adalah jenis-jenis aktivitas kontrol: top-level
reviews; fungsi dan aktivitas langsung manajemen; pemprosesan informasi; kontrol fisik;
indikator kinerja; dan pemisahan kewenangan.

IV.

Communications and Information


Informasi

yang tepat didukung dengan sistem IT yang baik, kemudian

dikomunikasiakn secara vertical dalam perusahaan sehingga para pekerja bisa melakukan
tanggung jawabnya.

Relationship of Information and Internal Control


Sebuah perusahaan memerlukan informasi pada semua tingakatan untuk mendapatkan

tujuan operasi, keuangan, dan kepatuhan.COSO IT System kontrol internal harus


menekankan pentingnya menyimpan informasi dan sistem pendukung untuk menyokong
perubahan pada banyak tingkatan.

The Communications Aspect of Internal Control


COSO menempatkan komunikasi diluar elemen internal kontrol. Komunikasi

diletakan pada posisi board termasuk hubungan mereka dengan individu atau kelompok lain
akan ekspektasi mereka.
COSO memiliki beberapa sudut pandang akan komunikasi yaitu komponen internal,
komponen eksternal, serta maksud dan cara berkomunikasi.

V.

Monitoring
Monitoring sudah lama merupakan peran dari internal auditor namun COSO

membawa pandangan yang lebih luas dari monitoring.COSO kontrol internal sadar bahwa
prosedur dan sistem yang diimplementasikan berubah dengan sejalannya waktu. Menurut

COSO evaluasi dapat dilakukan dengan: Ongoing Monitor Activities; Separate Internal
Control Evaluation, walaupun COSO menekankan pada ongoing monitoring namun dalam
kurun waktu tertentu ada baiknya juga melakukan evaluasi secara terpisah/khusus; Reporting
Internal Control Deficiencies, berdasarkan COSO, segala kecacatan atau kesalahan pada
kontrol internal harus dilaporkan kepada individu yang bisa mengambil keputusan. Namun
pada prakteknya hal ini sulit untuk dilakukan.

Other Dimensions of the COSO Internal Controls Framework


Dimensi lain dari kerangka kerja COSO adalah:

Reliability of financial reporting

Compliance with applicable laws and regulations

Effectiveness and efficiency of operations


Seringkali, dalam melihat kerangka kerja kontrol internal COSO, manajemen sering

lupa bahwa kerangka kerja tersebut merupakan model tiga dimensi, sehingga melupakan
dimensi satunya.Dimensi ketiga menjelaskan bahwa kontrol internal harus diaplikasikan
dalam seluruh unit operasi dan harus mencakup tiga faktor kontrol internal; efektivitas,
keterpercayaan laporan keuangan serta kesesuaian dengan regulasi. Kerangka kerja tersebut
mengharuskan aplikasi dari ketiga dimensi yang ada dalam model COSO, tanpa
menghiraukan dimensi manapun.

Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal berdasarkan IIA


Praktik pengendalian internal dan audit internal dilakukan dalam berbagai macam
entitas yang tentunya memiliki budaya, pengertian, dan prosedurnya masing-masing. Maka
dari itu untuk standarisasi dan benchmark diperlukanlah standar internal audit.Penulis
menggunakan Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal yang
dikeluarkan oleh IIA.Penulis menjabarkan standar-standar yang relevan dengan topik ini.

Standar Atribut
1000 Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung Jawab
Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab dari aktivitas audit internal harus
dinyatakan secara formal dalam suatu Charter Audit. Kepala Audit Internal harus
melaksanakan review secara berkala atas Piagam Audit Internal, dan menyampaikannya

kepada Pimpinan atau Manajemen Senior dan Dewan Pengawas organisasi untuk
mendapatkan pengesahan/persetujuannya.
1100 Independensi dan Objektivitas
Aktivitas audit internal harus independen, dan auditor internal harus bersikap objektif
dalam melaksanakan pekerjaannya. Independensi dapat dibagi menjadi independensi
organisasi (1110) & objektivitas individu (1120). Independensi organisasi dinilai dari Kepala
Audit Internal (Chief Audit Excecutive) yang harus melapor ke suatu tingkatan tertentu dalam
organisasi yang memungkinkan aktivitas audit internal dapat memenuhi tanggung jawabnya,
sementara

objektivitas individu yaitu auditor Internal harus memiliki sikap yang tidak

memihak, tidak bias serta menghindari benturan kepentingan dalam bentuk apapun.
1200 Keahlian dan Kecermatan Profesional
Penugasan harus dilakukan dengan menggunakan keahlian dan kecermatan secara
profesional.Keahlian yaitu auditor internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
kompetensi lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan fungasi dan tanggung jawab
individualnya. Kecermatan profesional yaitu auditor internal harus menerapkan kecermatan
dan keahlian yang diharapkan dari seorang auditor internal dengan kehati-hatian dan
kompetensinya.

1230 - Pengembangan Profesional yang Berkelanjutan


Auditor internal harus meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan kompetensi
lainnya melalui pengembangan professional berkelanjutan.
1300 Program Quality Assurance dan Penyempurnaan
Kepala Audit Internal harus mengembangkan dan memelihara Program Penjaminan
Kualitas (quality assurance) dan Program Pengembangan yang meliputi seluruh aspek
aktivitas audit internal. Program ini menilai efisiensi dan efektivitas aktivitas audit internal
dan mengidentifikasi peluang dilakukannya peningkatan.

Review dilakukan baik secara

internal (1311) maupun eksternal (1312). Tinjauan (review) internal dapat dilakukan melalui
penilaian diri sendiri (self assessment) atau oleh pihak lain di dalam organisasi yang memiliki
pengetahuan cukup memadai mengenai praktik audit internal. Sementara itu review eksternal
harus dilakukan setidaknya sekali dalam lima tahun oleh peninjau (reviewer) atau tim
peninjau (review team) dari luar organisasi yang independen dan berkualifikasi.
7

Standar Kinerja
2010 Perencanaan
Kepala audit internal harus menyusun rencana berbasis risiko untuk menentukan
prioritas dari aktivitas audit internal, konsisten dengan tujuan organisasi. Kepala audit
internal bertanggung jawab untuk mengembangkan sebuah rencana berbasis risiko. Kepala
audit internal mempertimbangkan kerangka kerja manajemen risiko dari organisasi, termasuk
menggunakan tingkat risk appetite yang ditetapkan oleh manajemen untuk setiap aktivitas
atau bagian dari organisasi. Jika tidak terdapat sebuah kerangka kerja, maka kepala audit
internal menggunakan pertimbangannya sendiri atas risiko setelah berkonsultasi dengan
pihak manajemen senior.
2040 Kebijakan dan Prosedur
Kepala audit internal harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk memandu
aktivitas audit internal. Bentuk dan isi dari kebijakan dan prosedur bergantung pada seberapa
besar dan seperti apa stuktur dari aktivitas audit internal serta kompleksitas dari pekerjaan
aktivitas audit internal.
2100 Hakikat Pekerjaan
Aktivitas audit internal harus melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi
terhadap upaya penyempurnaan proses tata kelola, manajemen risiko, dan control dengan
menggunakan pendekatan yang sistematis dan disiplin.

2200 Perencanaan Penugasan


Auditor internal harus menyusun dan mendokumentasikan sebuah rencana untuk
setiap penugasan, yang mencakup tujuan, lingkup, pengaturan waktu, dan alokasi sumber
daya.
2300 Menjalankan Penugasan
Auditor

internal

harus

melakukan

identifikasi,

analisa,

evaluasi,

dan

pendokumentasian informasi yang memadai untuk mencapai tujuan dari penugasan.


2400 Mengkomunikasikan Hasil-Hasil
8

Auditor internal harus mengomunikasikan hasil-hasil dari penugasan.


2500 Memonitor Perkembangan
Kepala audit internal harus membuat dan memelihara suatu sistem untuk memantau
disposisi dari hasil penugasan yang dikomunikasikan kepada manajemen.

BAB III
PROFIL BEM FE UI
BEM FE UI adalah lembaga eksekutif dalam struktur organisasi kemahasiswaaan FE
UI. Peran sebagai lembaga eksekutif membuat BEM FE UI menjadi penyelenggara dan
melakukan koordinasi diantara BO/BSO. BEM FE UI dalam penyelenggaran kegiatannya
memiliki struktur dalam tim keuangan yaitu Controller, Vice Controller, Treasurer, dan Tim
Kontrol Internal (KI). Controller memiliki tugas sebagai pihak yang melakukan otorisasi atas
seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh internal BEM FE UI. Vice Controller memiliki
tugas untuk mengatur dan melakukan koordinasi atas tim keuangan BO/BSO dalam hal
pengurusan administrasi dana blockgrant dari pihak dekanat FE UI. Treasurer memiliki tugas
sebagai pihak yang memegang rekening BEM FE UI dan melakukan pengecekan atas
penerimaan yang diterima oleh BEM FE UI. Tim KI memiliki tugas untuk melakukan
pengawasan dan kontrol keuangan atas program kerja yang dimiliki BEM FE UI dan
melakukan fungsi kontrol operasional atas departemen/biro yang ada di BEM FE UI.

BEM FE UI memiliki beberapa standar yang mengatur mengenai pelaporan keuangan


baik dari program kerja ataupun keuangan BEM FE UI itu sendiri.Untuk peraturan yang
mengatur tentang pelaporan keuangan pada program kerja, BEM FE UI memiliki Standar
Pelaporan Keuangan. BEM FE UI juga memiliki peraturan yang mengatur mengenai peranan
kontrol internal yang tercantum dalam standar audit internal. Peraturan-peraturan tersebut
pada setiap periode terus diperbaharui dan disepakati antara pihak pengurus inti BEM FE UI
dan Tim KI BEM FE UI. Tim KI sendiri bekerja secara independen dan bertindak sebagai
auditor internal dari BEM FE UI sekaligus auditor eksternal dari program kerja. BEM FE UI
belum memiliki suatu piagam internal kontrol yang menjelaskan mengenai hubungan antara
pengurus inti BEM FE UI dengan Tim KI.
10

Standar Pelaporan Keuangan yang digunakan oleh BEM FE UI baik untuk program
kerja maupun internal merupakan adaptasi dari PSAK 45 Organisasi Nirlaba. Standar
Pelaporan Keuangan ini menyesuaikan dari kebutuhan dari BEM FE UI dalam menerbitkan
Laporan Keuangan. Pihak rektorat dan dekanat di FE UI tidak secara eksplisit mengeluarkan
ketentuan mengenai laporan keuangan, akan tetapi hanya mewajibkan kepada lembaga
kemahasiswaan untuk membuat laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban atas
dana yang digunakan.
Standar Audit Internal yang dimiliki oleh BEM FE UI berisikan mengenai
pendahuluan, fokus, tahapan kerja.Bagian pendahuluan berisi mengenai definisi, tujuan, dan
standar etika. Definisi dari Tim KI yaitu menjalankan proses pengawasan, konsultasi internal,
serta pengendalian risiko dari program kerja yang bernaung dibawah BEM FE UI. Tujuan
dari kegiatan kontrol internal. Tujuan kegiatan audit internal Tim KI BEM FE UI adalah
mengupayakan pencapaian dalam hal berikut:

Efektivitas & efisiensi program-program kerja BEM FE UI dalam mencapai


sasarannya dan minimumnya risiko terkait

Kesesuaian laporan keuangan program kerja BEM FE UI dengan Standar Pelaporan


Keuangan yang berlaku di BEM FE UI

Kepatuhan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku

Tim KI BEM FE UI memiliki tujuh prinsip standar etika audit internal:


1. Integrity. Tim KI diwajibkan untuk tegas dan jujur, serta menjunjung tinggi keadilan
& kebenaran dalam hubungan profesionalnya. Tim KI harus menghindari melakukan
penilaian atau mengeluarkan opini dalam hal yang tidak menjadi keahliannya.
2. Objective. Penilaian Tim KI terhadap pekerjaan yang dilakukan harus bebas dari bias,
konflik kepentingan, dan pengaruh pihak-pihak tertentu.
3. Competent.

Tim

KI

wajib

senantiasa

meningkatkan

pengetahuan

serta

keterampilannya.
4. Care. Memberikan perhatian penuh pada pekerjaannya.
5. Confidentiality. Tim KI harus menjaga kerahasiaan informasi yang menjadi tanggung
jawabnya apabila diwajibkan kecuali untuk alasan pelanggaran hukum.
6. Professional. Tim KI harus bertindak dengan baik untuk mempertahankan kredibilitas
profesinya.
7. Respect. Tim KI harus bertindak dengan hormat pada semua pihak yang terkait
dengan kewajibannya.
11

Fokus dari kegiatan audit internal dari Tim KI BEM FE UI berfokus pada:
Kontrol Keuangan
Audit internal memiliki peranan penting dalam memastikan operasional organisasi dan
program kerja berjalan sesuai dengan rencana awal, Timeline yang telah disusun dan
parameter-parameter yang harus dicapai. Program kerja yang diwajibkan untuk diaudit
keuangan adalah seluruh program kerja yang bersifat kepanitiaan (tender) dengan sumber
daya manusia yang di-outsource. Keputusan mengenai program kerja yang wajib diaudit
keuangan akan ditentukan oleh Kepala/Wakil Kepala Tim KI.
Kontrol Operasional
Dalam hal ini, Tim KontroI Internal memiliki akses penuh untuk mengaudit seluruh
kinerja operasional organisasi dan program-program kerja yang ada menggunakan sumber
daya yang ada secara efisien-efektif dan mencegah dari kemungkinan terjadinya fraud dan
laporan keuangan yang tidak sehat.Seluruh Tim & Departemen BEM FE UI wajib diaudit
operasional dengan satu kali audit operasional tengah tahun (tengah tahun sebelum
Evaluasi Paruh Tahun oleh BPM FE UI) serta satu kali audit akhir pada akhir tahun
sebelum tutup tahun. Seluruh program kerja bersifat kepanitiaan maupun tidak bersifat
kepanitiaan wajib diaudit operasional.
Kontrol Risiko
Risiko bahkan bisa terjadi sebelum bidding dilaksanakan.Kontrol risiko dibutuhkan untuk
mencakup hal-hal selain yang berkaitan dengan keuangan dan operasional.Hal ini
dilakukan untuk meminimalisir risiko-risiko kerugian ataupun inefisiensi antara BEM FE
UI sendiri dengan kepanitiaan-kepanitiaan yang ada.Program-program yang di-open
tender diklasifikasikan berdasarkan risiko tertentu dan hal ini penting untuk tetap
dilanjutkan dan disempurnakan.

Tahap kegiatan audit internal BEM FE UI secara umum terbagi menjadi tiga fase
1. Perencanaan
Audit Keuangan
Tahap perencanaan audit keuangan dimulai sebelum proposal diajukan sebagai bahan
acuan kegiatan open tender dimana Tim KI berkewajiban untuk mensosialisasikan
standar yang berlaku di BEM FE UI sebagai panduan penyusunan proposal. Tim KI
wajib membuat meeting pre-bidding dengan calon pengurus inti kepanitiaan yang
agendanya tercantum pada memo meeting pre-bidding.
12

Tim KI membuat rencana audit (Audit Plan) yang sesuai dengan formatnya yang
didasarkan pada penelusuran lapangan, interview, dan hasil bidding/rapat kerja yang
dilakukan oleh Tim KI.
Audit Operasional
Tim KI wajib membuat rencana audit (Audit Plan) yang sesuai dengan formatnya yang
didasarkan pada presentasi dan interview awal dengan Kepala Departemen/Biro.
Dalam membuat audit plan, Tim KI wajib mengetahui arahan strategis dari setiap
departemen/Tim serta visi misinya.

2. Interim Review / Audit Operasional Tengah Tahun


Audit Keuangan
Interim review wajib dilaksanakan pada program kerja yang wajib diaudit keuangan
yang pelaksanaannya disesuaikan audit plan. Frekuensi interim semakin meningkat
seiring dengan semakin dekatnya hari-H. Interim berfokus pada evaluasi pencapaian
baik secara keuangan/budget serta operasional mulai dari waktu pelaksanaan interim
terakhir sampai waktu pelaksanaan interim; serta berfokus pada hambatan baik yang
telah terjadi maupun yang berpotensi akan terjadi.
Audit Operasional
Audit operasional tengah tahun wajib dilaksanakan sebelum Evaluasi Paruh Tahun
BEM FE UI. Audit berfokus pada evaluasi pencapaian setiap program kerja secara
keseluruhan, kinerja tim, serta pencapaian visi misi departemen/biro.

3. Audit Akhir
Audit Keuangan
Hasil temuan audit dikomunikasikan kepada pihak terkait, maka Tim KI menerbitkan
laporan audit yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab yang
akan dilampirkan pada Laporan Pertanggungjawaban terkait. Seluruh hasil audit
akanterbuka untuk publik & setiap laporan audit atas program kerja yang wajib diaudit
keuangan akan dipublikasikan kepada publik.
Audit Operasional
Mekanisme audit operasional akhir tahun sama seperti audit operasional tengah tahun.

13

BAB IV
ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA BEM
FE UI
Tim KI dalam menjalankan tugasnya menggunakan Standar Audit Internal BEM FE
UI sebagai dasar pelaksanaan tugas yang ada. BEM FE UI belum memiliki suatu piagam
audit internal yang secara formal mengatur tujuan, kewenangan, dan tanggungjawab, sampai
saat ini piagam dari internal kontrol masih dalam proses perumusan sehingga belum dapat
digunakan sebagai pegangan dalam pelaksanaan kontrol internal. Piagam ini bersifat lebih
kepada interaksi antara Tim KI dengan pengurus inti BEM FE UI atau bila dimisalkan dalam
perusahaan adalah hubungan antara internal audit dengan direksi perusahaan.
Tim KI BEM FE UI memiliki independensi yang baik dalam menjalankan
aktivitasnya, dimana orang yang menjadi bagian dari internal kontrol tidak diperbolehkan
untuk menjadi pengurus dari program kerja yang diaudit. Hal ini digunakan untuk menjaga
tingkat independensi yang harus dimiliki oleh kontrol internal supaya memiliki sikap yang
objektif dalam melakukan penilaian atas program kerja yang diaudit. BEM FE UI dalam
menjaga independensi melakukan rotasi atas staff kontrol internal antara pihak yang
menjalankan fungsi konsultasi dengan fungsi audit, sehingga independensi dapat terjaga
dengan baik. Tim KI BEM FE UI bila dalam menjalankan tugasnya mengalami benturan
kepentingan maka kepala Tim KI akan melakukan rotasi atau pengalihan tugas terhadap
pihak yang tidak mengalami benturan kepentingan. Benturan kepentingan sering muncul
akibat dari hubungan pertemanan antara anggota Tim KI dengan pihak yang diaudit sehingga
mengganggu objektifitas dari penilaian auditor.
Keahlian dan kecermatan profesional menjadi hal yang penting dalam menjalankan
fungsi kontrol internal. Tim KI BEM FE UI memilih sembilan staff untuk dapat diterima
melalui proses yang ketat yaitu melalui screening CV dan wawancara. Akan tetapi
dikarenakan masih berstatus mahasiswa maka kompetensi yang dimiliki pun belum
merupakan yang terbaik dikarenakan batasan-batasan yang dihadapi seperti karakter,
kesibukan dan lainnya, sehingga terkadang penilaian yang dilakukan kurang baik. Untuk
menanggulangi masalah tersebut maka Tim KI BEM FE UI melakukan pelatihan internal dan
melakukan pemberian tugas sesuai dengan keahlian dan pengetahuan di program kerja
tersebut.
14

Dalam standar disebutkan bahwa penilaian yang dilakukan oleh staff harus dilakukan
proses pengecekan kembali oleh kepala Tim KI untuk memastikan Quality Assurance. Tim
KI BEM FE UI dalam menjalankan aktivitasnya harus melalui proses review oleh kepala
dan/atau wakil kepala Tim KI. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan dan
menjaga kualitas dari proses audit yang dijalankan. Akan tetapi Tim KI tidak mendapat
kontrol balik dari pengurus inti BEM FE UI sehingga review dari pihak eksternal tidak ada.
Tim KI BEM FE UI dalam menjalankan proses audit pertama-tama menyusun sebuah
perencanaan mengenai hal-hal yang ingin dilakukan. Berdasarkan standar perencanaan yang
dilakukan harus berbasis risiko untuk menentukan prioritas dari aktivitas audit internal,
konsisten dengan tujuan organisasi. Tim KI BEM FE UI belum melakukan perencanaan
berbasis risiko dan hanya melakukan perencanaan berbasis kegiataan sehingga hanya
terkesan menjalankan prosedur tanpa melakukan prioritas.
Kebijakan dan prosedur audit yang tepat mendukung suatu proses audit dapat
berhasil. Tim KI BEM FE UI memiliki prosedur audit yang cukup baik dikarenakan proses
yang dilakukan berulang dan hampir sama setiap tahunnya. Segala hal yang dilakukan oleh
Tim KI dimasukan dalam dokumentasi audit dalam bentuk working paper (WP) baik untuk
interim/konsultasi maupun audit. Hal tersebut sesuai dengan standar yang berlaku bahwa
segala sesuatu yang dilakukan oleh auditor harus terdokumentasi.
Hasil temuan audit yang ditemukan oleh auditor seharusnya dikomunikasikan kepada
manajemen atau direksi mengenai hal tersebut, supaya dapat dilakukan perbaikan. Akan
tetapi Tim KI BEM FE UI belum dapat melakukan komunikasi tersebut dikarenakan
perhatian pengurus inti terhadap temuan tim internal kontrol belum baik. Tim internal kontrol
BEM FE UI belum cukup baik dalam memonitor perkembangan dikarenakan setelah
menemukan temuan follow-up yang dilakukan belum terlalu berlangsung dengan baik.

15

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa BEM FE UI sudah
memiliki suatu sistem penunjang proses audit yang baik. Pengendalian internal yang dimiliki
oleh BEM FE UI juga berjalan dengan baik, dimana BEM FE UI mengikuti standar prosedur
yang telah dibuat oleh internalnya. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan standar yang
dibuat oleh Insititute of Internal Auditor, dalam sistem pengendalian internal yang dimiliki
oleh BEM FE UI masih ditemukan beberapa kelemahan yang masih dapat diperbaiki ke
depannya dengan melihat standar yang berlaku.

Rekomendasi
Berdasarkan analisis yang telah kami lakukan dengan membandingkan pengendalian
internal BEM FE UI dengan landasan teori yang utamanya adalah Standar Internasional
untuk Praktik Profesional Audit Internal yang dikeluarkan IIA, kami memberikan
rekomendasi sebagai berikut:
1. Implementasi dari Piagam Audit Internal.
BEM FE UI sebagai lembaga kemahasiswaan di FE UI yang memiliki auditor internal
dalam bentuk Tim KI perlu melakukan implementasi secepatnya atas Piagam Audit Internal
yang telah dibuat. Diharapkan dengan implementasi sekaligus pengesahan piagam ini dapat
meningkatkan kinerja tatakelola dari BEM FE UI sebagai salah satu lembaga kemahasiswaan
yang berorientasi pada Good Student Board Governance.

2. Pihak Pengurus Inti (PI) BEM FE UI memberikan internal review untuk audit internal
yang dilakukan Divisi Kontrol Internal.
PI adalah manajemen senior atau dewan tertinggi yang ada di BEM FE UI.Selama ini
PI menjadi end-user dari hasil audit internal. Namun PI umumnya hanya sebatas
menggunakannya saja, tanpa melakukan review atau memberikan feedback untuk hasil audit
internal. Apabila dilakukan sekalipun, sifatnya hanyalah sebatas informal dan tidak konsisten
karena belum adanya ketetapan yang jelas untuk mengatur mekanisme ini.Mekanisme ini
harusnya tercantum pada Piagam Internal Audit. PI dapat memberikan masukan atas proses
audit yang ada, hal ini untuk meningkatkan kualitas audit
16

3. Perlu adanya external review dari pihak yang independen atau yang berada di tingkat yang
lebih tinggi dari BEM FE UI.
Bila kita melihat praktik profesional di perusahaan di Indonesia,struktur organisasi
menggunankan two-tier system yang memiliki komponen Komite Audit. Pada kasus BEM FE
UI ini, tidak ada reviewer yang memiliki tingkatan seperti Komite Audit. Review hanya
dilakukan secara internal dan itupun masih dalam tahapan informal. Untuk meningkatkan
kualitas audit internal, tentu diperlukan review yang dilakukan oleh pihak yang independen,
yaitu pihak eksternal diluar BEM FE UI. Pihak yang menurut penulis mungkin memiliki
kompetensi dan wewenang untuk melakukan external review adalah Badan Audit
Kemahasiswaan (BAK) yang selama ini bertugas untuk mengaudit lembaga kemahasiswaan
tingkat universitas, seperti BEM UI.

17

DAFTAR PUSTAKA
Dion, I., Granito, V.M., et al. (2014). Efektivitas Pengendalian Internal pada Lembaga
Kemahasiswaan di FE UI: Studi Kasus pada BEM FE UI. Tugas Mata Kuliah Metode
Penelitian Akuntansi.
Moeller, Robert R. (2009).Brinks Modern Internal Auditing 7th Edition.
The Institute of Internal Auditors. (2012). International Standards for the Professional
Practice of Internal Auditing (Standards).
Standar Internal Audit BEM FE UI
SOP Keuangan BEM FE UI
Standar Pelaporan Keuangan BEM FE UI