Anda di halaman 1dari 29

PENYELESAIAN AUDIT PENYUSUNAN LAPORAN AUDITOR

INDEPENDEN
Pengantar
Tujuan akhir dari proses audit adalah menghasilkan laporan auditor independen yang
berkualitas. Pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor tersebut merupakan hasil dari
rangkaian berbagai prosedur audit mulai dari perencanaan, pekerjaan lapangan hingga
pelaporan. Laporan dihasilkan setelah melewati berbagai prosedur, analisa, pengujian
terhadap subjek pemeriksaan. Oleh karena itu pelaporan yang tepat, akurat dan berkualitas
menjadi tujuan bagi akuntan publik dalam memberikan jasanya.
Dalam melaksanakan pekerjaannya, auditor sering menjumpai berbagai kondisi yang dapat
berpengaruh terhadap hasil pekerjaannya dalam hal ini laporan auditor independen. Dalam
kondisi tersebut auditor sering dihadapkan pada pilihan untuk melakukan modifikasi atas
laporan auditnya, namun demikian auditor tetap perlu berhati-hati dalam menyusun laporan
auditnya agar tidak timbuul masalah di kemudian hari. Auditor perlu memiliki pemahaman
yang sangat baik terhadap SPAP dalam menyusun laporan auditor dan menggunakan
berbagai kita agar terhidanr dari risiko yang mungkin timbul.
Sehubungan dengan perubahan bentuk organisasi IAI-KAP menjadi IAPI, maka hal ini juga
berdampak kepada istilah yang digunakan dalam laporan auditor independen, dan hal ini
diatur dalam Pernyataan Standar Auditing 75 tentang Pernyataan Beragam (Omnibus
Statement) Pernyataan Standar Auditing yang baru saja dikeluarkan oleh Dewan Standar
Profesional Akuntan Publik.
Manfaat dan Tujuan
Pelatihan ini memberikan pemahaman kepada auditor bagaimana teknik dan kiat dalam
menyusun laporan auditor sesuai SPAP agar dapat meminimalisair risiko dikemudian hari.
Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai kondisi yang mungkin dijumpai
auditor yang dapat berakibat kepada modifikasi laporan auditnya. Penerapan PSA 75 juga
menjadi topik yang akan dibahas dalam pelatihan ini
Pokok Bahasan
Laporan Auditor Independen
Pemahaman mengenai LAI
Bentuk laporan auditor sesuai SPAP
Apa saja yang perlu diperhatikan dalam menyusun LAI
Tips dan teknik dalam menyusun laporan auditor
Bagaimana bentuk laporan auditor dalam berbagai kondisi. :
Laporan auditor Independen terkait dengan dual listing (cross border listing) atau
penerbitan obligasi di negara lain.
Opini
auditor
terkait
dengan
variasi
penerbitan
kembali
(reissued atau restatement) atas laporan keuangan terdahulu jika diketemukan
fakta kemudian
Penambahan Paragraf (additional paragraph terkait dengan emphasis of matter)
dan isu-isu lainnya
Opini auditor terkait dengan transaksi entitas sepengendali (under common
control)
Opini auditor yang terkait dengan pembagian tanggungjawab (devided
responsibility) antara auditor induk dengan auditor anak perusahaan
Opini auditor terkait dengan laporan auditor sebelumnya (laporan auditor
sebelumnya diterbitkan kembali )
Isu-isu lainnya yang terkait dengan laporan auditor independent
A.

Pengertian Laporan Audit

Laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam
mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas
laporan keuangan yang di audit. Dalam menerbitkan laporan audit, auditor harus
memenuhi empat standar pelaporan yang ditetapkan dalam standar auditing yang
berlaku umum.(Boynton Johnson Kell)
Laporan audit adalah suatu media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi
dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan
pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan.(Mulyadi)
B.
Analisis Terhadap Laporan Audit
Suatu laporan standar/ laporan audit baku merupakan laporan yang lazim diterbitkan.
Laporan ini memuat pendapat wajar tanpa pengecualian yang menyatakan bahwa
laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan , hasil usaha, dan arus kas entitas sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Kesimpulan ini hanya akan dinyatakan bila auditor telah membentuk
pendapat berdasarkan audit yang dilaksanakan sesuai GAAS. Laporan standar/ laporan
audit baku memiliki tiga paragraf , yang lazim disebut paragraf pendahuluan/ pengantar,
paragraf lingkup audit, dan paragraf pendapat.
Dalam laporan tersebut terdapat 6 unsur penting pihak yang dituju, paragraph
pendahuluan/ pengantar, paragraph lingkup, paragraph pendapat, nama auditor, nomor
izin akuntan public, nomor izin kantor akuntan public, dan tanda tangan, serta tanggal
laporan audit. Berikut ini dijelaskan isi tiga unsur penting laporan audit baku :
Paragraf Pendahuluan
Paragraf pendahuluan memuat tiga pernyataan faktual. Tujuan utama paragraf ini adalah
untuk membedakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor. Kalimat
pada paragraf pendahuluan disajikan sebagai berikut :
-

Objek yang menjadi sasaran audit


Kami telah mengaudit...neraca...Perusahaan X ...untuk tahun tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 20X2 serta laporan laba-rugi, laporan
perubahan ekuitas, serta laporan arus kas untuk tahun yang terakhir pada
tanggal tersebut berisi dua hal penting berikut ini.
1.
Auditor memberikan pendapat atas laporan keuangan setelah ia melakukan audit
atas laporan tersebut.
2.
Objek yang diaudit oleh auditor bukanlah catatan akuntansi melainkan laporan
keuangan kliennya, yang meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas,
dan laporan arus kas.
Kalimat diatas menunjukkan bahwa auditor telah mengaudit laporan keuangan tertentu
dari perusahaan yang ditunjuk.
Tanggung jawab auditor
Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen.
Kalimat diatas menegaskan bahwa tanggung jawab atas laporan keuangan terletak di
tangan manajemen.
Tanggung jawab kami adalah menyatakan....berdasarkan audit kami.
Kalimat diatas secara khusus menunjukkan tanggung jawab auditor. Auditor berperan
untuk melaksanakan audit dan menyatakan pendapat berdasarkan temuan temuan.
Paragraf Ruang Lingkup
Paragraf ruang lingkup menguraikan sifat dan lingkup audit. Hal ini sesuai dengan bagian
ke empat standar pelaporan yang mengharuskan auditor menunjukkan dengan jelas sifat
audit yang dilakukan. Paragraf ruang lingkup audit juga menunjukkan beberapa
keterbatasan audit. Kalimat dalam paragraf ini adalah:
Standar auditing
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan
Ikatan Akuntan Indonesia

Dalam konteks ini ,standar auditing yang berlaku umum meliputi sepuluh standar GAAS
dan seluruh SAS yang dapat diterapkan.
Penjelasan ringkas standar auditing
Standar tersebut mengharuskan kami ....audit agar memperoleh keyakinan
yang memadai ...laporan keuangan bebas dari salah saji material.
Kalimat diatas menunjukkan keterbatasan penting suatu audit yaitu auditor hanya
mencari keyakinan yang memadai saja, bukan keyakinan yang absolut dan
diperkenalkannya konsep materialitas.
Suatu audit meliputi pemeriksaan ,atas dasar pengujian,bukti bukti yang
mendukung ....laporan keuangan.
Kalimat diatas menjelaskan lebih jauh sifat audit dan pesan kepada pemakai laporannya
bahwa:
1.
Dalam perikatan umum, auditor melaksanakan auditnya atas dasar pengujian,
bukan atas dasar pemeriksaan terhadap seluruh bukti.
2.
Pemahaman memadai atas pengendalian intern merupakan dasar menentukan
jenis dan luas pengujian yang dilakukan dalam pemeriksaan.
3.
Luas pengujian dan pemiihan prosedur audit ditentukan oleh pertimbangan auditor
atas dasar pengalamannya.
4.
Dalam audit, auditor melakukan pemeriksaan atas bukyi audit, yang tidak hanya
terbatas pada catatan akuntansi klien saja, namun mencakup informsai
penguat (corroborating information).
Audit
juga
meliputi
penilaian
atas
prinsip
akuntansi...estimasi
signifikan....penilaian
terhadap
penyajian
laporan
keuangan
secara
keseluruhan.
Kalimat tersebut menyebutkan bahwa auditor menggunakan pertimbangan dalam
menilai dan mengevaluasi representasi laporan keuangan manajemen.
Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat.
Kalimat diatas menunjukkan bentuk keterbatasan lain dari suatu audit.
Paragraf pendapat
Paragraf ketiga dalam laporan audit baku merupakan paragraph yang digunakan oleh
auditor untuk menyatakan pendapatnyab mengenai laporan keuangan yang
disebutkannya dalam paragraf pendahuluan/ pengantar. Dalam paragraph ini auditor
menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan, dalam semua
hal yang material, yang didasarkan atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan
tersebut dengan prinsip akuntansi berterima umum. Kalimat paragraf pendapat
dijelaskan sebagai berikut:
Menurut pendapat kami ,laporan keuangan yang kami sebut diatas...
Dalam menafsirkan arti dan pentingnya kalimat ini ,hendaknya disimpulkan bahwa
pendapat tersebut dinyatakan oleh orang orang yang profesional, berpengalaman dan
ahli.
....Menyajikan secara wajar ,dalam semua hal yang material ...posisi keuangan
...hasil usaha dan arus kas...
Konotasi yang dimaksutkan dalam kata kata secara wajar adalah bahwa penyajian
laporan keuangan telah memadai ,tanpa berat sebelah,atau distorsi.
....sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum...
Kalimat ini memenuhi standar pelaporan pertama yang menyatakan bahwa laporan
harus menunjukkan apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan GAAP.
C.
Pendapat yang Dikeluarkan oleh Auditor
1.
Laporan yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan auditor jika tidak terjadi pembatasan
dalam lingkup audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai
kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi berterima umum dalam penyusunan laporan

keuangan, konsistensi penerapan prinsip akuntansi berterima umum tersebut, serta


pengungkapan memadai dalam laporan keuangan.
Laporan audit yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian adalah laporan yang
paling dibutuhkan oleh semua pihak, baik oleh klien, pemakai informasi keuangan
maupun oleh auditor.
2.
Laporan yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa
penjelasan(Unqulified opinion report with explanatory language)
Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan
tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien,
auditor dapat menerbitkan laporan audit baku.
3.
Laporan yang berisi pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified opinion
report)
Jika auditor menjumpai kondisi-kondisi berikut ini, maka ia memberikan pendapat wajar
dengan pengecualian dalam laporan audit.
a.
Lingkup audit dibatasi oleh klien.
b.
Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat
memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan
klien maupun auditor.
c.
Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
d.
Prinsip akuntansi berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan tidak ditetapkan secara konsisten.
Dalam pendapat ini auditor menyatakan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh
klien adalah wajar, tetapi ada beberapa unsur yang dikecualikan, yang pengecualiannya
tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara konsisten.
4.
Laporan yang berisi pendapat tidak wajar (Adverse opinion report)
Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya,
sehingga ia dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung
pendapatnya. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar oleh auditor, maka
informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat
dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi keuangan untuk
pengambilan keputusan.
5.
Laporan yang didalamnya auditor tidak menyatakan pendapat (Disclaimer of
opinion report)
Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, maka laporan
audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang
menyebabkan auditor menyatakan tidak memberikan pendapat adalah:
a.
Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit.
b.
Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya.
Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar
adalah pendapat tidak wajar ini diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya
ketidakwajaran laporan keuangan klien, sedangkan auditor menyatakan tidak
memberikan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran
pelaporan keuangan auditan atau karena ia tidak independen dalam hubungannya
dengan klien.
D. PENYIMPANGAN DARI LAPORAN STANDAR
Dalam praktik ,dapat muncul kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan auditor
menerbitkan laporan standar.Penyimpangan dari laporan standar tergolong dalam salah
satu dari dua kategori berikut ini:
-

Laporan standar dengan bahasa penjelasan.


Jenis-jenis pendapat lain

Jenis Laporan Auditor dan kondisi-kondisinya

Laporan
Standar
Kondisi
Pendapa
t wajar
tanpa
pengecuali
an
Laporan keuangan sesuai
dengan GAAP,audit
dilaksanakan sesuai dengan
GAAS,dan :

Tidak terdapat
kondisi yang memerlukan
bahasa penjelasan

Terdapat kondisi
yang memerlukan paragraf
penjelasan(misalnya
perubahan akuntansi atau
kelangsungan usaha)
Laporan Keuangan
mengandung penyimpang
an dari GAAP
Auditor tidak mampu
mendapatkan bukti
kompeten yang cukup
(pembatasan lingkup)

Penyimpangan dari laporan standar


Laporan
standar
dengan
Jenis Pendapat Lainnya
Paragraf
penjelasan
Pendapat
wajar tanpa
pengecualian

Wajar
dengan
Pengecual
ian

Tidak
wajar

Tidak
memberik
an
pendapat

E.
Contoh Laporan Audit
Pendapat Wajar dengan Pengecualian
Laporan Auditor Independen

No. 230500 LSI HT SA


Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi
P.T. Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk
Kami telah mengaudit neraca konsolidasi P.T. Perusahaan Perkebunan London Sumatra
Indonesia Tbk dan anak perusahaan tanggal 31 Desember 1999 dan 1998, serta laporan
laba rugi, perubahan ekuitas dan arus kas konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
Perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan audit kami. Kami tidak mengaudit laporan keuangan Lonsum
Finance BV, anak perusahaan yang dikonsolidasi iuntuk tahun yang berakhir 31
Desember 1999, yang laporan keuangannya mencerminkan jumlah aktiva sebesar 6,66%
dari jumlah aktiva konsolidasi pada tanggal 31 Desember 1999 dan rugi bersih sebesar
Rp 83.913.507 untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.Laporan keuangan anak
perusahaan tersebut diaudit oleh auditor independen lain dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian. Laporan auditor independen tersebut telah diserahkan kepada kami, dan
pendapat kami, sejauh yang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk Lonsum Finance BV,
didasarkan semata-mata atas laporan auditor independen lain tersebut.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan
Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit
agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah
saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga
meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang
dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara
keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami dan laporan auditor independen lain tersebut
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 37 atas laporan keuangan konsolidasi,
Perusahaan belum mencatat tagihan oleh lembaga keuangan tertentu sebagai akibat
dari pemutusan dini kontrak berjangka valuta asing, kontrak swap extention dengan opsi
pembatalan dan kontra par forward komiditi, seluruhnya sejumlah US$ 92.947.156 pada
saat tagihan diajukan dan hasil rundingan tagihan terakhir yang belum disepakati.
Perusahaan telah merundingkan tagihan tersebut pada tahun 1998, akan tetapi belum
mencapai suatu kesepakatan sampai dengan saat ini. Menurut pendapat kami,
Perusahaan seharusnya mencatat kewajiban tersebut dalam laporan keuangan tersebut
dicatat, kewajiban dan defisit akan meningkat masing-masing sebesar Rp
659.924.807.600 dan Rp 745.900.926.900 pada tanggal 31 Desember 1999 dan 1998.
Sebagaimana dijelaskan pada Catatan 12 atas laporan keuangan konsolidasi,
Perusahaan mempunyai piutang sejumlah Rp 142.446.772.308 dan wesel tagih sejumlah
Rp 27.554.212.500 kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa pada
tanggal 31 Desember 1999. Pada tanggal 1 Desember 1999, Perusahaan telah
menjadualkan kembali piutang tersebut sehubungan ketidakmampuan pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa membayar piutang tersebut berikut bunganya.
Penjadualan kembali piutang tersebut tergantung hasil restrukturisasi Perusahaan dan
persetujuan para pemegang saham minoritas. Karena belum adanya kepastian hasil
restrukturisasi Perusahaan dan persetujuan para pemegang saham minoritas, kami
berpendapat, bahwa Perusahaan seharusnya mencatat penyisihan atas kemungkinan
tidak tertagihnya piutang tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.Bila penyisihan piutang diatas dicatat maka aktiva akan menurun sebesar Rp
170.000.984.808 dan defisit akan meningkat dalam jumlah yang sama pada tanggal 31
Desember 1999.
Dalam laporan kami bertanggal 27 April 1999, kami memberikan pendapat wajar dengan
pengecualian atas laporan keuangan konsolidasi tahun 1998, antara lain karena tidak
dibuatnya penyisihan piutang ragu-ragu atas piutang pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa yang timbul sehubungan dengan penggunaaan deposito berjangka
Perusahaan sejumlah Rp 20.000.000.000 sebagai agunan atas hutang pihak yang

mempunyai hubungan istimewa kepada bank, serta piutang kepada pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa yang berjumlah Rp 249.506.049.125 yang berasal dari
pencairan oleh bank tertentu atas deposito berjangka dan rekening giro Perusahaan
yang diagunkan. Sebagaimana dijelaskan pada Catatan 39 atas laporan keuangan
konsolidasi, deposito berjangka dan piutang kepada pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa tersebut telah dialihkan kepada pihak lain dan sebagai kompensasi
pembayarannya, pihak lain tersebut melepaskan hak dan kepentingan atas sebidang
tanah sesuai dengan perjanjian pendahuluan pelepasan hak dan kepentingan atas tanah.
Dengan perjanjian ini, Perusahaan memperoleh kuasa yang tidak akan berakhir oleh
sebab apapun juga, untuk melakukan tindakan-tindakan kepengurusan dan kepemilikan
atas tanah tersebut. Oleh karena itu pendapat kami sekarang atas laporan keuangan
konsolidasi tahun 1998 mengenai penyisihan piutang ragu-ragu tersebut, berbeda
dengan laporan kami sebelumnya.
Menurut pendapat kami, berdasarkan audit kami dan laporan auditor independen lain
tersebut, kecuali untuk dampak belum dicatatnya kewajiban atas tagihan lembaga
keuangan pada tahun 1999 dan 1998 serta tidak dibuatnya penyisihan piutang dan
wesel tagih kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa untuk tahun 1999
sebagaimana dijelaskan pada paragraf ketiga dan keempat sebelumnya, laporan
keuangan konsolidasi yang kami sebut diatas, menyajikan secara wajar, dalam semua
hal yang material, posisi keuangan P.T. Perusahaan Perkebunan London Sumatra
Indonesia Tbk dan anak perusahan tanggal 31 Desember 1999 dan 1998, dan hasil
usaha, perubahan ekuitas, serta arus kas untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Sebagaimana dijelaskan dalam Catatan 2 atas laporan keuangan konsolidasi, pada tahun
1999 Perusahaan dan anak perusahaan mengubah metode akuntansi pajak penghasilan
untuk disesuaikan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 46, dan secara
restrospektif, menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi tahun 1998 atas
perubahan tersebut.
Laporan keuangan konsolidasi terlampir disusun dengan anggapan bahwa Perusahaan
dan anak perusahaan dapat melanjutkan operasinya sebagai entitas yang
berkemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Catatan 38 atas
laporan keuangan konsolidasi berisi pengungkapan dampak kondisi ekonomi Indonesia
terhadap Perusahaan dan anak perusahaan. Tingginya kurs valuta asing dan tingkat
bunga pinjaman, ketatnya likuiditas dan kesulitan keuangan yang dialami pihak-pihak
yang mempunyai hubungan istimewa berdampak buruk pada kemampuan Perusahaan
dan anak perusahaan untuk melunasi pokok pinjamannya. Perusahaan dan anak
perusahaan juga menangguhkan pembayaran sebagian besar bunga pinjaman yang
sudah jatuh tempo, tidak dapat memenuhi ketentuan rasio-rasio keuangan yang
disyaratkan dalam perjanjian pinjaman. Disamping itu, Perusahaan juga mengalami
ketidakpastian penyelesaian piutang kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa dan belum mencapai kesepakatan atas pembayaran tagihan lembaga
keuangan seperti dijelaskan dalam paragraf ketiga dan keempat sebelumnya. Hal-hal
tersebut telah menimbulkan ketidakpastian yang signifikan mengenai kemampuan
Perusahaan dan anak perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Rencana manajemen yang konsisten dan lebih intensif sehubungan dengan masalahmasalah tersebut diatas juga di uraikan dalam Catatan 38 atas laporan keuangan
konsolidasi. Kemampuan Perusahaan dan anak perusahaan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya tergantung pada keberhasilan manajemen untuk melakukan
restrukturisasi pinjaman dan keuangan Perusahaan secara keseluruhan, mencapai
kesepakatan atas pembayaran tagihan oleh lembaga keuangan tersebut diatas, dan
menghasilkan arus kas yang cukup dari kegiatan usaha dimasa yang akan
datang.Laporan keaungan konsolidasi belum mencakup penyesuaian-penyesuaian yang
mungkin timbul dari ketidakpastian tersebut.
Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Laporan Audit Baku)

Kami telah mengaudit neraca PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001 serta laporan
rugi laba, laporan perubahan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan. Tanggung jawab kami adalah pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan
melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan
keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar
pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas standar akkuntansi yang digunakan
dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar
memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT. GUNADARMA per 31
Desember 2001, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada
tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Kantor akuntan
Eliya Isfaatun, SE., MMSI
(Eliya Isfaatun, SE., MMSI)

Reg. Neg-D110369
Tanggal, 13 Maret 2002

F.
Contoh Kasus Audit
Auditor gagal mendeteksi kecurangan pada laporan keuangan yang disajikan
oleh klien yang diaudit.
Hal ini dapat disebabkan karena kekurangcermatan serta kurangnya kompetensi auditor
dalam mengaudit laporan keuangan kliennya. Contoh kasus nyata yang terjadi adalah
seperti yang terjadi pada PT KIMIA FARMA pada tahun 2002. milik pemerintah di
Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan
adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans
Tuanakotta & Mu`stofa (HTM). Akan tetapi, Kementrian BUMN dan Bapepam menilai
bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah
dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001
disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar.
Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56
miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang
dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa
overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated
persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa
overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7
miliar. Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang
ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur
produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada
tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan
nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31
Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah
dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut
dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil
dideteksi. Jadi, pada kasus ini, manajemen PT. KIMIA FARMA terbukti menyalahi etika

dalam pelaporan keuangannya karena telah melakukan fraud, sedangkan auditornya


(HTM) kurang profesional karena tidak sanggup mendeteksi adanya fraud yang dilakukan
kliennya sehingga tidak berhasil mengatasi risiko audit dalam mendeteksi adanya
penggelembungan laba yang dilakukan PT KIMIA FARMA, walaupun ia telah menjalankan
audit sesuai SPAP dan tidak terlibat dalam fraud tersebut. Oleh karena itu, PT KIMIA
FARMA didenda besar Rp 500 juta, direksi lama PT KIMIA FARMA terkena denda Rp 1
miliar, serta HTM yang selaku auditor didenda sebesar 100 juta rupiah yang otomatis
juga akan menurunkan kredibilitasnya sebagai akuntan publik atau auditor yang
profesional.
G. Solusi
Terjadinya penyalahsajian laporan keuangan yang merupakan indikasi dari tindakan tidak
sehat yang dilakukan oleh manajemen PT. Kimia Farma, yang ternyata tidak dapat
terdeteksi oleh akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan pada periode tersebut.
Apakah hal ini merupakan kesalahan dari akuntan publik tersebut ?
Padahal akuntan publik tersebut setelah diperiksa ternyata telah melaksanakan prosedur
audit yang sesuai dengan SPAP. Jika melihat dari SA Seksi 230 paragraf 12 yang
menyebutkan:
(12) Oleh karena pendapat auditor atas laporan keuangan didasarkan pada konsep
pemerolehan keyakinan memadai, auditor bukanlah penjamin dan laporannya tidak
merupakan suatu jaminan. Oleh karena itu, penemuan kemudian salah saji material,
yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang ada dalam laporan keuangan,
tidak berarti bahwa dengan sendirinya merupakan bukti (a) kegagalan untuk
memperoleh keyakinan memadai, (b) tidak memadainya perencanaan, pelaksanaan,
atau pertimbangan, (c) tidak menggunakan kemahiran profesional dengan cermat dan
seksama, atau (d) kegagalan untuk mematuhi standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia.
Seorang akuntan publik dalam melaksanakan auditnya pada umumnya berdasarkan
kepada sampling, makanya ketika ditemukan di kemudian hari terdapat kesalahan yang
tidak terdeteksi merupakan hal yang wajar, karena menurut SA Seksi 110 paragraf 1
menyebutkan:
(1) Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah
untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.
Dengan melakukan sampling, otomatis terdapat suatu risiko untuk tidak terdeteksinya
suatu kesalahan dalam laporan keuangan yang diaudit. Kalau begitu mengapa akuntan
publik tersebut dikenakan sanksi untuk membayar sebesar 100 juta karena atas risiko
audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan
oleh PT. Kimia Farma tersebut ? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Menurut UU Pasar Modal tahun 1995, begitu menemukan adanya kesalahan, selambatlambatnya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus sudah melaporkannya ke
Bapepam. Maka jika akuntan publik yang tidak dapat mendeteksi adanya kesalahan
penyajian tersebut ternyata baru menyadari adanya kesalahan yang tak terdeteksi
tersebut setelah mengeluarkan opininya tetapi tidak segera melaporkannya dalam
periode tiga hari, maka pantaslah akuntan publik tersebut dikenakan sanksi.
Berkaitan dengan sikap Skeptisme Profesional seorang auditor, sehingga jika akuntan
publik tersebut tidak menerapkan sikap skeptisme profesional dengan seharusnya
hingga berakibat memungkinkannya tidak terdeteksinya salah saji dalam laporan
keuangan yang material yang pada akhirnya merugikan para investor.
Menurut pemaparan kasus diatas, akuntan publik tersebut setelah melalui proses
penyelidikan ternyata tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan untuk membantu
manajemen PT. Kimia Farma dalam penggelembungan keuntungan tersebut. Maka hal ini
berarti tidak adanya masalah yang berkaitan dengan independensi seorang auditor, atau
berarti auditor tersebut telah independen dalam melakukan jasa profesionalnya.

AUDITING INTERNAL
Audit internal merupakan suatu penilaian atas keyakinan, independen, obyektif dan
aktivitas konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan
operasiorganisasi. Ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa
pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas
proses manajemen risiko, pengendalian, dan tata kelola.[1] Audit internal adalah katalis untuk
meningkatkan efektivitas organisasi dan efisiensi dengan memberikan wawasan dan
rekomendasi berdasarkan analisis dan penilaian data dan proses bisnis. Dengan komitmen
untuk integritas dan akuntabilitas, audit internal yang memberikan nilai kepada mengatur
badan dan manajemen senior sebagai sumber tujuan saran independen. Profesional yang
disebut auditor internal yang digunakan oleh organisasi untuk melakukan kegiatan audit
internal.
PERMINTAAN AKAN JASA AUDIT DAN JASA ASSURANCE LAINNYA

Sifat Auditing
Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan
kelaporkan derajat kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
Informasi dan Kriteria yang Telah Ditetapkan
Untuk melakukan audit, harus tersedia informasi dalam bentuk yang dapat diverifikasi dan
beberapa standar (kriteria) yang dapat digunakan auditor untuk mengevaluasi informasi
tersebut, yang dapat dan memang memiliki banyak bentuk. Para auditor secara rutin
melakukan audit atas informasi yang dapat diukur, termasuk laporan keuangan dan SPT
pajak penghasilan federal perorangan. Auditor juga mengaudit informasi yang lebih
subjektif, seperti efektivitas system computer dan efisiensi operasi manufaktur.
Mengumpulkan dan Mengevaluasi Bukti
Bukti terdapat banyak bentuk yang berbeda, termasuk:
Kesaksian lisan pihak yang diaudit (klien)
Komunikasi tertulis dengan pihak luar
Observasi oleh auditor
Data elektronik dan data lainnya tentang transaksi
Orang yang kompeten dan independen
Auditor harus memiliki kualifikasi untuk memahami criteria yang digunakan dan harus
kompeten untuk mengetahui jenis serta jumlah bukti yang akan dikumpulkan guna
mencapai kesimpulan yang tepat setelah memeriksa bukti tersebut.auditor juga harus
memiliki sikap mental independen. Kompetisi orang-orang yang melakukan audit akan tidak
ada gunanya jika mereka tidak independen dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti.
Perbedaan Antara Auditing dan Akuntansi
Selain memahami akuntansi. Auditor juga harus memiliki keahlian dalam mengumpulkan
dan menginterpretasikan bukti audit. Keahlian inilah yang membedakan auditor dengan
akuntan.
Aspek Ekomoni dalam Permintaan akan Auditing

1.
2.
3.

1.
2.
3.
4.
5.

Jika kita memberikan pinjaman, bank itu akan mengenakan suku bunga yang terutama
dibentuk oleh tiga faKtor:
Suku bunga bebas risiko
Risiko bisnis bagi nasabah
Risiko informasi
Mengurangi risiko informasi
Setelah membandingkan biaya dan manfaat, para menajer bisnis dan pemakai laporan
keuangan mungkin menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menangani risiko informasi
adalah dengan menetapkan risiko itu tetap tinggi namun wajar. Suatu perusahaan kecil
mungkin menganggap lebih mudah jika membayar biaya bunga yang lebih tinggi ketimbang
menambah biaya untuk mengurangi risiko informasi.
JASA ASSURANCE
Jasa assurance adalah jasa professional independen yang meningkatkan kualitas informasi
bagi para pengambil keputusan. Jasa semacam ini dianggap penting karena si penyedia jasa
assurance itu independen dan dianggap tidak bias berkenaan dengan informasi yang
diperiksa. Individu-individu yang beranggung jawab membuat keputusan bisnis memerlukan
jasa assurance untuk membantu meningkatkan keandalan dan relevansi informasi yang
digunakan sebagai dasar keputusannya.
Jasa Atestasi
Jasa atestasi dibagi menjadi lima:
Audit atas laporan keuangan historis
Atestasi menenai pengendalian internal atas laporan keuangan
Review laporan keuangan historis
Jasa atestasi mengenai teknologi informasi
Jasa atestasi lain yang dapat diterapkan pada berbagai permasalahan
Prinsip-prinsip jasa webtrust dan systrust
Prinsip-prisnsip Uraian kepastian/ assurance
trust
Privasi online
Memberikan jaminan bahwa system melindungi privasi informasi
pribadi yang diberikan oleh perorangan. Contoh: nomor jaminan sosial
Keamanan
Memberikan jaminan bahwa akses ke system dan data dibatasi hanya
untuk orang yang berwenang
Integritas
Memberikan jaminan bahwa transaksi diproses secara lengkap dan
pemrosesan
akurat
Ketersediaan
Memberikan jaminan bahwa system dan data akan tersedia bagi
pemkai saat mereka membutuhkannya
Kerahasiaan
Memberikan jaminan bahwa informasi yang dianggap rahasia akan
dilindungi
Otoritas
Memberikan jaminan atas kecukupan dan efektivitas pengendalian
sertifikasi
yang digunakan otoritas dengan tanggung jawab memeriksa transaksi
(hanya
elektronik
webtrust)
Jasa Assurance Lainnya
Contoh-Contoh Jasa Assurance Lainnya
Assurance Aktivitas Jasa

Jasa
Lainnya
Pengendalian
atas
risiko
yang
berhubungan dengan
investasi,
mencakup
kebijakan
yang
menyangkut dengan
derivative

Menilai proses dalam praktek investasi perusahaan untuk


mengidentifikasi dan menentukan efektivitas proses tersebut

Mystery shopping
Penilaian
risiko
pengumpulan,
pendistribusian,
dan
penyimpanan
informasi digital
Penilaian
risiko
kecurangan
dan
tindakan illegal
Kepatuhan
pada
kebijakan
dan
prosedur perdagangan
Kebutuhan
pada
perjanjian
royalti
hiburan
Sertifikasi ISO 9000
Audit lingkungan

Melakukan pembelian secara anonim untuk menilai upaya


tenaga penjualan yang berhadapan dengan pelanggan dan
prosedur yang mereka ikuti
Menilai risiko keamanan dan pengendalian yang berkaitan
dengan data elektronik, mencakup memadainya penyimpanan
pendukung dan diluar lokasi
Membuat profil risiko kecurangan dan menilai kecukupan
system dan kebijakan perusahaan dalam mencegah serta
mendeteksi kecurangan dan tindakan illegal
Menelaah transaksi antara rekanan dagang untuk meyakinkan
bahwa
transaksi
tersebut
sesuai
dengan
perjanjian,
mengidentifikasi risiko dalam perjanjian
Menilai apakah royati yang dibayarkan kepada seniman,
pengarang, dan lainnya sesuai dengan perjanjian royalti
Membuat sertifikasi yang menyatakan bahwa perusahaan telah
memenuhi standar pengendalian muti ISO 9000, yang
membantu produk perusahaan bermutu tinggi
Menilai apakah kebijakan dan praktik perusahaan memastikan
bahwa perusahaan tersebut memenuhi standard dan hukum
lingkungan

JENIS-JENIS AUDIT
Jenis Audit
Audit
operasional

Audit
ketaatan

Audit
laporan
keuangan

Contoh-Contoh Tiga Jenis Audit


Informasi
Kriteria yang
Ditetapkan
Mengevaluasi
Jumlah
catatan Standar
apakan pemrosesan gaji yang diproses perusahaan
gaji
yang dalam satu bulan, untuk efisiensi
terkomputerisasi
biaya
dan efektivitas
untuk
anak departemen, dan untuk
perusahaan
telah jumlah kesalahan departemen
beroperasi
secara yang terjadi
penggajian
efektif dan efisien
Menentukan apakah Cacatan
Ketentuan
persyaratan
bank perusahaan
perjanjian
untuk perpanjangan
pinjaman
pinjaman
telah
terpenuhi
Audit tahunan atas Laporan
Prinsip-prinsip
laporan keuangan
keuangan
akuntansi yang
berlaku umum
Contoh

Bukti-Bukti
yang Tersedia
Lapiran
kesalahan,
catatan gaji,
dan
biaya
pemrosesan
gaji
Laporan
keuangan
dan
perhitungan
oleh auditor
Dokumen,
catatan, dan
sumber bukti
dari luar

JENIS-JENIS AUDITOR
Ada beberapa jenis auditor yang dewasa ini berpraktik. Jenis yang paling umum adalah
kantor akuntan public , auditor badan akuntabilitas pemerintah, agen-agen penerimaan
Negara (internal revenue), dan auditor internal.
Auditor Badan Akuntabilitas Pemerintah
Adalah auditor yang bekerja untuk Government Accountability Office (GAO) A.S. sebuah
badan nonpartisan dalam cabang legislative pemerintah federal. Dengan diketuai oleh
Comptroller General, GAO hanya melapor dan bertanggung jawab kepada kongres.

Agen Penerimaan Negara


IRS, di bawah arahan Commissioner of Internal Revenue, bertanggung jawab untuk
memberlakukan peraturan pajak federal sebagaimana yang dfidefinisikan oleh kongres dan
diinterpretasikan oleh pengadilan. Salah satu tanggung jawab utama IRS adalah mengaudit
SPT pajak wajib pajak untuk menentukan apabila SPT itu sudah mematuhi peraturan pajak
yang berlaku. Audit ini murni bersifat audit ketaatan. Auditor yang melakukan pemeriksaan
ini disebut Internal Revenue Agent (agen penerimaan Negara)
Auditor Internal
Auditor internan dipekerjaan oleh perusahaan untuk melakukan audit untuk manajemen,
sama seperti GAO mengaudit untuk kongres.
Akuntan Publik Bersertifikat (CPA)
Pemakaian gelar Certified Public Accuntant (CAP) diatur oleh hukum Negara bagian melalui
departemem pemberi lisensi disetiap Negara bagian. Untuk menjadi seorang CPA , tiga
persyaratan harus dipenuhi.
Tiga Persyaratan untuk Menjadi CPA
Persyaratan Pendidikan
Persyaratan Ujian CPA yang Persyaratan Pengalaman
Seragam
Biasanya seorang sarjana Ujian berdasarkan computer Bervariasi mulai dari yang
(S1)
jurusan
akuntansi telah diberikan pada bagian tanpa pengalaman sampai
dengan jumlah nilai kredit pusat pengujian.
yang
berpengalaman
2
akuntansi
minimum. Bagian-bagian yang diujikan tahun
dalam
auditing.
Sebagian besar Negara adalah sebagai berikut:
Beberapa Negara bagian
bagian
sekarang
Auditing dan atestasi-4,5 mengharuskan
memiliki
mensyaratkan 150 jam jam
pngalaman
bekerja
di
kredit semester (225 kredit
Akuntansi dan pelaporan lembaga pemerintah atau
kuartalan) untuk mengikuti keuangan-4 jam
auditing internal
ujian CPA beberapa Negara
Peraturan-3 jam
bagian mensyaratkan 150
Lingkungan
dan
konsep
jam sebelum mengikuti bisnis-2,5 jam
ujian
CPA,
sementara Seluruh
bagian
kecuali
Negara
bagian
lain Lingkungan
dan
Konsep
mengharuskan kredit yang Bisnis menuat dua simulasi
lebih
sedikit
sebelum yang mewakili 20% dari isi
mengikuti ujian CPA tetapi bagian tersebut. Simulasi
mensyaratkan 150 kredit adalah studi kasus yang
sebelum
menerima menguji
keterampilan
sertifikat CPA
akuntansi dan auditing si
calon dengan menggunakan
situasi dunia nyata yang
berkaitan dengan tugas itu.
Beberapa Negara bagian
juga mensyaratkan ujian
etika yang tersendiri.

Setelah belajar Audit Keuangan Sektor Komersil pada semester V lalu, kini di semester VI
mendapatkan mata kuliah tentang Audit Kinerja. Lalu apa itu Audit Kinerja??
Kinerja berasal dari kata dasar kerja,yang menurut KBBI: kegiatan melakukan sesuatu;
yang dilakukan (diperbuat). Sedang Audit Kinerja menurut BPK RI adalah suatu proses
sistematis dalam mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif atas kinerja suatu
organisasi, program, fungsi atau kegiatan. Evaluasi dilakukan berdasarkan aspek ekonomi

dan efisiensi operasi, efektivitas dalam mencapai hasil yang diinginkan, serta kepatuhan
terhadap peraturan, hukum, dan kebijakan terkait.
Adapun tujuan evaluasi itu sendiri adalah untuk mengetahui tingkat keterkaitan antara
kinerja dan kriteria yang ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.
Kalau fungsi audit kinerja adalah memberikan review independen dari pihak ketiga atas
kinerja manajemen dan menilai apakah kinerja organisasi dapat memenuhi harapan.
Nah, sebelum belajar lebih jauh tentang Audit Kinerja ada baiknya kita belajar dulu
bagaimana sejarah lahirnya Audit Kinerja itu sendiri.
A.

Sejarah Audit Kinerja

Secara umum, audit kinerja lahir sebagai wujud ketidakpuasan atas hasil audit keuangan,
yang hanya memberikan opini atau menilai kewajaran laporan keuangan. Padahal
masyarakat ingin tahu apakah uang negara (hasil pungutan pajak mereka) di kelola dengan
baik dan benar. Apakah uang negara itu digunakan untuk memperoleh sumber
daya secaraekonomis, digunakan secara efektif (spending well) dan efektif(spending
wisely).
Audit kinerja sendiri sebenarnya merupakan metamorfosis dari audit intern (internal
audit) yang berkembang menjadi audit operasional(operational audit), dan selanjutnya
menjadi audit manajemen(management audit). Audit manajemen berfokus pada penilaian
aspek ekonomi dan efisiensi. Audit manajemen kemudian dilengkapi dengan audit program
(program audit) yang bertujuan untuk menilai efektivitas. Penggabungan antara audit
manajemen dan audit program inilah yang disebut sebagai audit kinerja (performance
audit).
Di sisi lain audit kinerja merupakan pengembangan dari principal-agent theory.
Masyarakat sebagai principle yang mempercayakan uangnya untuk dikelola secara baik oleh
pemerintah sebagai agent. Pendapat lain juga menyebutkan kalau audit kinerja merupakan
pengganti mekanisme pasar.
B.

Dasar Peraturan

Dasar peraturan dalam audit kinerja meliputi:


1.
UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara
Memberikan kewenangan kepada BPK (sebagai intenal auditor) untuk melakukan audit
kinerja
2.

PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Memberikan kewenangan pada Aparat Pengawas Intern Pemerintah untuk melaksanakan


audit kinerja
Audit kinerja dapat dilakukan oleh internal auditor dan ekternal auditor, dan keduanya harus
saling berkoordinasi agar tidak saling berbenturan.
C.

Standar Audit Pemerintah (SAP)

Selama ini, audit kinerja terhadap lembaga-lembaga pemerintah Indonesia dilakukan


dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintah (SAP) yang dikeluarkan Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun1995. SAP merupakan buku standar pedoman semua
kegiatan pemerintah meliputi, pelaksanaan APBN, APBD, pelanksanaan anggaran tahunan
BUMN dan BUMD, sert kegiatan yayasan yang didirikan oleh pemerintah, BUMN, dan BUMD
atau badan hukum lain yang mempunyai kepentingan keuangan negara atau yang
menerima bantuan pemerintah.
Standar-standar tersebut meliputi :
1. Standar Umum
a) Bersikap kolektif dan profesional
b) Bersikap independen
c) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan pelaporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama
d) Memiliki sistem pengendalian intern yang memadai, dan sistem pengendalian mutu
tersebut harus di review oleh pihak lain yang kompoten
2. Standar Pekerjaan Lapangan Audit Kinerja
Meliputi empat hal, yaitu:
1. Perencanaan
2. Supervisi (pengawasan)
3. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
4. Pengendalian manajemen
3. Standar Pelaporan Audit Kinerja
Terdiri atas 5 hal, meliputi:
1. Bentuk

Auditor harus membuat laporan audit secara tertulis untuk dapat mengkomunikasikan hasil
setiap audit
2. Ketepatan waktu
Menerbitkan laporan untuk kesediaan informasi yang dapat digunakan secara tepat waktu
oleh manajemen dan pihak lain yang berkepentigan
3. Isi laporan
a) Tujuan, Lingkup, Metodologi Audit
Melaporkan tujuan, lingkup, dan metodologi audit
b) Hasil Audit
Melaporkan temuan audit yang signifikan
c) Rekomendasi
Rekomendasi untuk melakukan tindakan perbaikan atas bidang yang bermasalah dan untuk
meningkatkan pelaksanaan kegiatan entitas audit
d) Pernyataan Standar Audit
Melaporkan bahwa audit melaksanakan berdasarkan SAP
e) Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
f) Ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan penyalahgunaan wewenang
g) Pelaporan secara langsung tentang unsur perbuatan melanggar
h) Pengendalian manajemen
i) Tanggapan pejabat yang bertanggungjawab
j) Hasil/prestasi kerja yang patut dihargai
k) Hal yang memerlukan penelaahan lebih lanjut
l) Informasi istimewa dan rahasia
4. Penyajian pelaporan
Laporan harus lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, serta jelas dan ringkas

5. Distribusi pelaporan
a) Pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang diaudit
b) Kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang meminta audit
c) Pejabat lain yang mempunyai tanggungjawab atas pengawasan secara hokum atau pihak
yang bertanggungjawab untuk melakukan tindak lanjut berdasarkan temuan dan
rekomendasi audit
d) Kepada pihak lain yang diberi wewenang oleh entitas yang diaudit untuk menerima
laporan tersebut
D. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)
Standar audit adalah kriteria atau ukuran mutu minimal untuk melakukan kegiatan audit
yang wajib dipedomani oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Sebagaimana
telah diatur dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor : PER/05/M.PAN/03/2008 Tanggal : 31 Maret 2008.
Pengawasan intern pemerintah merupakan unsur manajemen yang penting untuk menjamin
tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan
pemerintahan/negara serta ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan dalam
rangka mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN). Laporan hasil pengawasan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP)
tahun 2010 disusun sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur
Negara (Permenpan) No.PER/35/M.PAN/10/2006 tanggal 17 Oktober 2006.
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) terdiri atas:
1) BPKP;
2) Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan
intern;
3) Inspektorat Provinsi; dan 4) Inspektorat Kabupaten/Kota.
DASAR HUKUM:
1.

Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan danOrganisasi


Kementerian Negara.
2. Peraturan Presiden No. 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta SusunanOrganisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian
Negara.
3. Keputusan Menteri Luar Negeri No. SK.05/A/OT/IV/2004/02tanggal 30 April 2004
tentang Perubahan atas LampiranKepmenlu No. 03/A/OT/XII/2002/02 tanggal 31
Desember 2002tentang Pedoman Umum Implementasi Sistem AkuntabilitasKinerja
Instansi Pemerintah RI di Lingkungan Departemen LuarNegeri dan Perwakilan RI di
Luar Negeri.

4.

Keputusan Menteri Luar Negeri No. SK.06/A/OT/VI/2004/01 Tahun2004 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan RI di LuarNegeri.
5. Peraturan Menteri Luar Negeri No. 02/A/OT/VIII/2005/01 Tahun2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Luar Negeri.
6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.PER/35/M.PAN/10/2006
tentang Juklak Penyusunan Laporan HasilPengawasan Tahunan APIP.
Tujuan Standar Audit APIP antaranya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

menetapkan prinsip-prinsip dasar yang merepresentasikan praktik-praktik audit yang


seharusnya;
menyediakan kerangka kerja pelaksanaan dan peningkatan kegiatan audit intern
yang memiliki nilai tambah;
menetapkan dasar-dasar pengukuran kinerja audit;
mempercepat perbaikan kegiatan operasi dan proses organisasi;
menilai, mengarahkan dan mendorong auditor untuk mencapai tujuan audit;
menjadi pedoman dalam pekerjaan audit;
menjadi dasar penilaian keberhasilan pekerjaan audit.

Fungsi Standar Audit sebagai ukuran mutu minimal bagi para auditor dan APIP dalam:
1.

pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang dapat merepresentasikan praktikpraktik audit yang seharusnya, menyediakan kerangka kerja pelaksanaan dan
peningkatan kegiatan audit yang memiliki nilai tambah serta menetapkan dasar-dasar
pengukuran kinerja audit;
2. pelaksanaan koordinasi audit oleh APIP;
3. pelaksanaan perencanaan audit oleh APIP;
4. penilaian efektifitas tindak lanjut hasil pengawasan dan konsistensi penyajian laporan
hasil audit.
Kegiatan utama APIP meliputi audit, reviu, pemantauan, evaluasi, dan kegiatan
pengawasan lainnya berupa sosialisasi, asistensi dan konsultansi.
Pengelompokan APIP melipui:
1.

Audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan opini atas kewajaran
penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.
2. Audit kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan dan rekomendasi atas
pengelolaan instansi pemerintah secara ekonomis, efisien dan efektif.
3. Audit dengan tujuan tertentu yaitu audit yang bertujuan untuk memberikan simpulan
atas suatu hal yang diaudit. Yang termasuk dalam kategori ini adalah audit investigatif,
audit terhadap masalah yang menjadi fokus perhatian pimpinan organisasi dan audit
yang bersifat khas.
E.

Inspektorat Jenderal (Injen)

Berdasarkan Permenlu No. 02/A/OT/VIII/2005/01 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Luar Negeri, Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan
pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Departemen. Dalam melaksanakan
tugasnya, Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:
1.

Penyiapan perumusan kebijakan pengawasan;

2.

Pelaksanaan pengawasan kinerja, keuangan dan pengawasanuntuk tujuan tertentu


atas petunjuk Menteri Luar Negeri;
3. Pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal;
4. Penyusunan laporan hasil pengawasan.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
Inspektorat Jenderal didukung oleh struktur organisasi yang terdiri dari 5 (lima) unit
eselon II, yaitu:
1.

Sekretariat Inspektorat Jenderal, yang terdiri dari:

a)
Bagian Umum, terdiri dari 4 (empat) Sub Bagian,yaitu: 1)Sub Bagian Penyusunan
Rencana dan Program; 2)Sub Bagian Kepegawaian; 3)Sub Bagian Keuangan; 4)Sub Bagian
Tata Usaha dan Rumah Tangga
b)

Bagian Laporan dan Analisis (Lapan), terdiri dari 4 (empat)wilayah, yaitu:


1.

Bagian Lapan Wilayah I, meliputi wilayah Asia dan Kementerian Luar Negeri I
(Direktorat Jenderal Asia Pasifikdan Afrika, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, dan
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan); Bagian Lapan Wilayah I terdiri dari:
a)Subbagian Wilayah A; b)Subbagian Wilayah B; c)Subbagian Wilayah C.
2. Bagian Lapan Wilayah II, meliputi wilayah Eropa dan Kementerian Luar Negeri II
(Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, Direktorat Jenderal Multilateral, dan Direktorat
Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional); Bagian Lapan Wilayah II terdiri dari:
a)Subbagian Wilayah A; b)Subbagian Wilayah B; c)Subbagian Wilayah C.
3. Bagian Lapan Wilayah III, meliputi wilayah Afrika dan Timur Tengah danKementerian
Luar Negeri III (Sekretariat Jenderaldan Inspektorat Jenderal); Bagian Lapan Wilayah III
terdiri dari: a)Subbagian Wilayah A; b)Subbagian Wilayah B; c)Subbagian Wilayah C.
4. Bagian Lapan Wilayah IV, meliputi wilayah Amerika, Karibiadan Pasifik
serta Kementerian Luar Negeri IV (Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik,
Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Pusat
Komunikasi dan Staf Ahli). Bagian Lapan Wilayah IV terdiri dari: a)Subbagian Wilayah
A; b)Subbagian Wilayah B; c)Subbagian Wilayah C.
2.

Inspektorat Wilayah I, II, III dan IV

Masing-masing Inspektorat Wilayah dipimpin oleh seorang Inspektur dan membawahi


sejumlah Pejabat Fungsional Auditor (PFA).
a)
Inspektorat Wilayah I Meliputi Perwakilan RI di wilayah Asia dan Kementerian Luar
Negeri I (Direktorat Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN,
dan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan);
b)
Inspektorat Wilayah II Meliputi Perwakilan RI di wilayah Eropa dan Kementerian Luar
Negeri II (Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, Direktorat Jenderal Multilateral, dan
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional);
c)
Inspektorat Wilayah III Meliputi Perwakilan RI di wilayah Afrika dan Timur Tengah
danKementerian Luar Negeri III (Sekretariat Jenderal dan Inspektorat Jenderal);

d)
Inspektorat Wilayah IV Meliputi Perwakilan RI di wilayah Amerika, Karibia dan
Pasifikserta Kementerian Luar Negeri IV (Direktorat Jenderal Informasidan Diplomasi Publik,
Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler,Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Pusat Komunikasi
dan Staf Ahli).
F. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tentangBPKP, BPKP praktis
mengambil alih seluruh tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan
Negara (DJPKN) yang saat itu bernaung di bawah Kementerian Keuangan.
1936
Dengan Besluit Nomor 44 tanggal 31 Oktober 1936, ditetapkan bahwa Djawatan
Akuntan Negara (Regering Accountantsdienst) bertugas melakukan penelitian terhadap
pembukuan dari berbagai perusahaan negara dan jawatan tertentu. APIP pertama di
Indonesia adalah Djawatan Akuntan Negara (DAN). Secara struktural DAN bertugas
mengawasi pengelolaan perusahaan negara berada di bawah Thesauri Jenderal pada
Kementerian Keuangan.
1959
Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/BDS/V tanggal 19 Desember
1959, Djawatan Akuntan Pajak (Belasting Accountantsdienst) yang dibentuk tahun 1921
yang juga di bawah Departemen Keuangan digabungkan dengan DAN.
1961
Dengan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1961 tentang Instruksi bagi Kepala
Djawatan Akuntan Negara (DAN), kedudukan DAN dilepas dari Thesauri Jenderal dan
ditingkatkan kedudukannya langsung di bawah Menteri Keuangan. DAN merupakan alat
pemerintah yang bertugas melakukan semua pekerjaan akuntan bagi pemerintah yang
meliputi semua departemen, jawatan, dan instansi di bawah kekuasaannya. Sementara itu
fungsi pengawasan anggaran dilaksanakan oleh Thesauri Jenderal.
1963
Dengan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1963 tentang Pengawasan Keuangan
Negara, dibentuklah Urusan Pengawasan pada Departemen Urusan Pendapatan,
Pembiayaan, dan Pengawasan (Departemen Keuangan). Sedangkan pada tiap Departemen
dibentuk Bagian Pengawasan Keuangan yang berdiri sendiri terlepas dari Bagian Keuangan
Departemen yang bersangkutan. Hubungan kerja antara Urusan Pengawasan dan Bagian
Pengawasan Keuangan bersifat koordinatif.
1966
Dengan Keputusan Presiden Nomor 239 Tahun 1966 dibentuklah Direktorat Djendral
Pengawasan Keuangan Negara (DDPKN) pada Departemen Keuangan. Tugas DDPKN meliputi

pengawasan anggaran dan pengawasan badan usaha/jawatan, yang semula menjadi tugas
DAN dan Thesauri Jenderal.
1968
Dengan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1968 tanggal 24 Januari 1968 tentang
Pengawasan Keuangan Negara dicabut Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1963.
Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1968 ini berlaku surut sampai tanggal 15 November
1966 yaitu tanggal dibentuknya DDPKN. Atas dasar Keputusan Presiden ini, DDPKN terdiri
atas tiga direktorat yakni Direktorat Pengawasan Anggaran Negara (DPAN), Direktorat
Akuntan Negara (DAN), dan Direktorat Tata Usaha Keuangan Negara (DTUKN). Tiap
Departemen/Lem-baga Negara yang menguasai bagian anggaran sendiri, diadakan unit
Pengawasan Keuangan yang berada di bawah pimpinan Inspektur Jendral Departemen.
1971
Dengan Keputusan Presiden Nomor 70 tahun 1971 tentang Tata Kerja Pengawasan
Keuangan Negara, DDPKN (dikenal kemudian sebagai DJPKN) memekarkan diri dengan
pembentukan beberapa direktorat baru, yaitu Direktorat Pengawasan Perminyakan (DPP),
Direktorat Perencanaan dan Analisa (DPA), Direktorat Pengawasan Intern (DPI) yang
kemudian berubah menjadi Direktorat Pengawasan Kas Negara (DPKsN), dan Direktorat
Pembukuan Keuangan Negara (DPbKN).
DJPKN mempunyai tugas melaksanakan pengawasan seluruh pelaksanaan anggaran
negara, anggaran daerah, dan badan usaha milik negara/daerah.
Khusus pada Departemen Keuangan, tugas Inspektorat Jendral dalam bidang pengawasan
keuangan negara dilakukan oleh DJPKN.
1983
Dengan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tanggal 30 Mei 1983. DJPKN
ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Salah satu pertimbangan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983
tentang BPKP adalah diperlukannya badan atau lembaga pengawasan yang dapat
melaksanakan fungsinya secara leluasa tanpa mengalami kemungkinan hambatan dari unit
organisasi pemerintah yang menjadi obyek pemeriksaannya. Mengingat DJPKN adalah
aparat Menteri Keuangan, maka tidak mungkin DJPKN dapat independen melakukan
pengawasan dan pemeriksaan terhadap Menteri Keuangan dan jajarannya.
Keputusan Presiden ini menunjukkan bahwa Pemerintah telah meletakkan struktur
organisasi BPKP sesuai dengan proporsinya dalam konstelasi lembaga-lembaga Pemerintah
yang ada. BPKP dengan kedudukannya yang terlepas dari semua departemen atau lembaga
sudah barang tentu dapat melaksanakan fungsinya secara lebih baik dan obyektif.
2001

Dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagaimana telah beberapa kali diubah,terakhir dengan Keppres Nomor 9 tahun 2004.
Dalam Pasal 52 disebutkan, BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan
di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
PENUTUP
Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi, kolusi,
nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara, padahal sektor publik merupakan
lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber dayanya berasal dari
masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada
penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya pemerintahan yang
bersih.
Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for
money dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik
tersebut. Audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan
tetapi juga audit kinerja. Karena audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakantindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi
yang diaudit.
Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi
bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan
efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan
terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara
kinerja yang telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.

PERBEDAAN STANDAR AUDIT OPERASIONAL DENGAN STANDAR AUDIT PADA


LAPORAN KEUANGAN
A. Audit Operasional
a.

Pengertian Audit Operasional


Menurut Guy dkk. (2003:419) audit operasional merupakan penelaahan atas
prosedur dan metode operasi entitas untuk menentukan tingkat efisiensi dan efektivitasnya.
Pada kesimpulan tentang audit operasional, rekomendasi yang umumnya diberikan adalah
memperbaiki prosedur. Audit operasional kadang-kadang disebut audit kinerja, audit
manajemen, atau audit komprehensif.

b.

Tujuan Audit Operasional


Menurut Guy dkk. (2003:421) audit operasional biasanya dirancang untuk
memenuhi satu atau lebih tujuan berikut :
Menilai Kinerja. Setiap audit operasional meliputi penilaian kinerja organisasi yang
ditelaah. Penilaian kinerja dilakukan dengan membandingkan kegiatan organisasi dengan

1.

tujuan, seperti kebijakan, standar, dan sasaran organisasi yang ditetapkan manajemen atau
pihak yang menugaskan, serta dengan kriteria penilaian lain yang sesuai.
2.

Mengidentifikasi Peluang Perbaikan. Peningkatan efektivitas, efisiensi, dan


ekonomi merupakan kategori yang luas dari pengklasifikasian sebagian besar
perbaikan. Auditor dapat mengidentifikasi peluang perbaikan tertentu dengan
mewawancari individu (apakah dari dalam atau dari luar organisasi),
mengobservasi operasi, menelaah laporan masa lalu atau masa berjalan,
mempelajari transaksi, membandingkan dengan standar industri, menggunakan
mertimbangan profesional berdasarkan pengalaman, atau menggunakan sarana dan cara
lain yang sesuai.

3.

Mengembangkan Rekomendasi untuk Perbaikan atau Tindakan Lebih Lanjut. Sifat dan luas
rekomendasi akan berkembang secara beragam selama pelaksanaan audit operasional.
Struktur Audit Operasional

c.

Menurut Guy dkk. (2003:421-424) struktur umum dari audit operasional adalah
proses lima tahap, yaitu :
1.

2.

3.

4.

Pengenalan
Sebelum memulai suatu audit operasional, auditor (atau konsultan) terlebih dahulu
harus mengenali kegiatan atau fungsi yang sedang di audit. Untuk melaksanakan hal ini,
auditor menelaah latar belakang informasi, tujuan, struktur organisasi, dan pengendalian
kegiatan atau fungsi yang sedang di audit, serta menentukan hubungannya dengan entitas
secara keseluruhan.
Survei

Selama tahap survei dari audit operasional, yang lebih dikenal sebagai survei
pendahuluan (preliminary survey), auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi bidang
masalah dan bidang penting yang menjadi kunci keberhasilan kegiatan atau fungsi yang
sedang di audit.
Pengembangan Program
Pada awalnya auditor menyusun program pekerjaan, berdasarkan tujuan audit,
yang merinci pengujian dan analisis yang harus dilaksanakan atas bidang-bidang yang
dianggap "penting" dari hasil survei pendahuluan. Disamping itu, auditor juga menjadwalkan
kegiatan kerja, menugaskan personel yang sesuai, menentukan keterlibatan personel
lainnya dalam penugasan, serta menelaah kertas kerja audit.
Pelaksanaan Audit
Pelaksanaan audit merupakan tahap utama dari audit operasional. Auditor
melaksanakan prosedur audit yang telah ditentukan dalam program audit untuk
mengumpulkan bukti-bukti, melakukan analisis, menarik kesimpulan, dan mengembangkan
rekomendasi. Selama melakukan pekerjaan lapangan, auditor harus menyelesaikan setiap
langkah audit yang spesifik dan mencapai tujuan audit secara keseluruhan untuk mengukur
efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi.

Pengertian Audit Operasional

Menurut Arens and Loebbecke (1999) mengemukakan pengertian audit operasional


digambarkan sebagai kaji-ulang setiap bagian prosedur dan metode operasi sebuah
organisasi untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitasnya. Menurut Soejono Karni (2000)
audit berasal dari bahasa Latin audire yang berarti mendengarkan. Kata audit berarti
pemeriksaan akuntan terhadap laporan keuangan historis.

Menurut Ali Masjono Mukhtar (1999) pemeriksaan adalah proses yang sistematis
dan memiliki objektif yang ditujukan adalah untuk mendapatkan dan mengevaluasi buktibukti yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi dan kejadian untuk meyakinkan
hubungannya dengan hasil yang diinginkan pemakai.
Menurut Katijo (2008) audit operasional sering disebut sebagai audit manajemen
atau audit kinerja dan bertujuan untuk menilai efisiensi dan efektivitas dari suatu kegiatan
entitas. Audit ini dapat dilakukan terhadap perusahaan atau instansi pemerintah, lembagalembaga pemerintah dan juga organisasi non pemerintah.
Menurut Boynton, Johnson dan Kell (2002) audit operasional (operational audit)
berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi dan
efektivitas kegiatan operasi entitas dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan
tertentu.
Menurut Boynton, Johnson dan Kell (2002) auditing operasional adalah suatu proses
sistematis yang mengevaluasi efektivitas, efisiensi, dan kehematan operasi organisasi yang
berada dalam pengendalian manajemen serta melaporkan kepada orang-orang yang tepat
hasil-hasil evaluasi tersebut beserta rekomendasi perbaikan.
Menurut Guy, Alderman dan Winters (2001) audit operasional (operational audit)
merupakan penelaahan atas prosedur dan metode operasi entitas untuk menentukan
tingkat efisiensi dan efektivitasnya. Pada kesimpulan tentang audit operasional,
rekomendasi yang umumnya diberikan adalah memperbaiki prosedur. Audit operasional
kadang-kadang disebut sebagai audit kinerja, audit manajemen, atau audit komprehensif.
Secara internasional, istilah yang paling sering digunakan untuk audit operasional adalah
audit nilai uang (value-for-money auditing).
Yang melaksanakan audit operasional biasanya dilaksanakan oleh salah satu dari tiga
kelompok: yaitu Auditor Intern berada dalam posisi yang begitu unik untuk melaksanakan
audit operasional sehingga beberapa orang menggunakan istilah auditing internal dan
auditing operasional saling bergantian. Akan tetapi, tidaklah tepat untuk menyimpulkan
bahwa semua auditing operasional dilakukan oleh auditor intern hanya melakukan auditing
operasional. Banyak departemen audit intern melaksanakan audit operasional dan
keuangan. Seringkali hal itu dilaksanakan secara bersamaan. Auditor pemerintah federal
dan negara bagian melaksanakan auditing operasional, yang seringkali merupakan bagian
dari pelaksanaan audit keuangan. Kantor-kantor akuntan melaksanakan audit atas laporan
keuangan historis, sebagian dari audit itu biasanya terdiri dari pengindetifikasian masalahmasalah operasional dan membuat rekomendasi yang dapat bermanfaat bagi klien audit.

BAPEPAM KAJI ATURAN INDEPENDENSI AKUNTAN

Bapepam sedang mengkaji rancangan peraturan yang terkait dengan independensi akuntan,
karena hal itu dinilai sebagai modal awal sekaligus persyaratan mutlak untuk terciptanya
iklim usaha dan investasi yang akuntabel dan bertanggung jawab (responsible).
Ketua Bapepam Herwidayatmo mengatakan akuntan harus mengedepankan independensi
untuk menjaga martabat profesinya.
Dalam kaitan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), katanya,
independensi akuntan itu modal awal sekaligus persyaratan mutlak untuk terciptanya iklim
usaha dan investasi yang akutabel dan bertanggung jawab.

"Dengan mengetahui status independensi itu, maka akuntan berikut KAP-nya dapat
menghindari terjadinya conflict of interest," katanya dalam makalah untuk Konvensi
Nasional Akuntan Publik IV di Semarang pada Sabtu.
Adapun konsep bahasan Peraturan Bapepam tentang independensi akuntan itu a.l. yaitu
independensi akuntan dilihat dari sudut lamanya akuntan mengaudit atau memberikan jasa
pada suatu pihak.
Menurut Kabiro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam Anis Baridwan, Bapepam saat
ini sedang mengkaji apakah penugasan audit pada satu klien itu sebaiknya dibatasi tiga
tahun, lima tahun atau tujuh tahun saja.
Independensi itu juga dilihat dari adanya hubungan tertentu antara akuntan/ KAP dan klien
maupun afiliasi klien dan multidisclipinary practice. Artinya, akuntan bila melibatkan profesi
lain diharapkan orangnya bukan dari satu kantor yang sama atau terafiliasi.
Hal lain yang dilihat adalah pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terkait
dengan independensi.
Herwidayatmo melanjutkan Bapepam menaruh perhatian terhadap adanya pengendalian
mutu dalam setiap KAP, khususnya pengendalian mutu dalam konteks independensi.
Suatu KAP diharapkan mempunyai pengendalian mutu yang memadai, sehingga
memberikan tanda mengenai status independensi KAP, rekan, manajer senior dan semua
staf yang terlibat dalam penugasan audit.
Anis berpendapat auditor itu turut mendukung tegaknya GCG. Kalau auditor tidak
independen dan opininya tidak obyektif, jelasnya, kalau laporan keuangannya diungkap ke
publik, maka sama artinya dengan bunuh diri

5.

Pelaporan
Tahap pelaporan merupakan tahap yang penting bagi keberhasilan keseluruhan
audit operasional yang dilakukan. Laporan audit operasional pada umumnya mengandung
dua unsur utama, yaitu tujuan penugasan, ruang lingkup, dan pendekatan, serta temuantemuan khusus dan rekomendasi.

B. Audit Pada Laporan Keuangan


a.

Pengertian Audit Pada Laporan Keuangan


Menurut Boynton dan Kell (2003:6), Audit laporan keuangan (financial
statement audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan mengevaluasi bukti tentang
laporan-laporan entitas dengan maksud agar dapat memberikan pendapat apakah laporanlaporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan,
yaitu prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP)..

b.

1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan Audit Laporan Keuangan


Tujuan dari audit biasa atas laporan keuangan oleh auditor independen adalah
untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil operasi, serta arus kas sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
Langkah-langkah untuk mengembangkan tujuan audit :
Memahami tujuan dan tanggung jawab audit
Membagi laporan keuangan menjadi berbagai siklus
Mengetahui asersi manajemen tentang laporan keuangan
Mengetahui tujuan audit umum untuk kelas transaksi, akun, dan pengungkapan
Mengetahui tujuan audit khusus untuk kelas transaksi, akun, dan pengungkapan

c.
1.

2.

3.

4.

Struktur Audit Laporan Keuangan


Dalam pelaksanaannya, audit atas laporan keuangan melalui beberapa tahapan
(Mulyadi dan Puradiredja,1997:117), yaitu:
Penerimaan Penugasan Audit.
Di dalam memutuskan apakah suatu penugasan audit dapat diterima atau tidak,
auditor menempuh suatu proses yang terdiri dari 6 tahap, yaitu:
a. Mengevaluasi integritas manajemen.
b. Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko luar biasa.
c. Menentukan kompensasi untuk melaksanakan audit.
d. Menilai independensi.
e. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kecermatan dan
keseksamaan.
Perencanaan Audit.
Keberhasilan penyusunan penugasan audit sangat ditentukan oleh kualitas
perencanaan audit yang dibuat oleh auditor. Tujuh tahapan yang harus ditempuh oleh
auditor dalam merencanakan auditnya, yaitu:
a. Memahami bisnis dan industri klien
b. Melaksanakan prosedur analitik.
c. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal.
d. Mempertimbangkan risiko bawaan.
e. Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo
awal, jika penugasan klien berupa audit tahun pertama.
f. Mereview informasi yang berhubungan dengan kewajiban-kewajjiban legal
klien.
g. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan.
h. Memahami struktur pengendalian intern klien.
Pelaksanaan PengujianAudit
Tahap ini disebut juga tahap pekerjaan lapangan. Tujuannya adalah untuk
memperoleh bukti auditing tentang efektivitas struktur pengendalian intern klien dan
kewajaran laporan keuangan klien. Tahap ini harus mengacu pada standar pekerjaan
lapangan.
Pelaporan Audit
Tahap ini harus mengacu pada standar pelaporan. Dua langkah penting yang dilakukan
adalah menyelesaikan audit dengan meringkas semua hasil pengujian dan menarik
kesimpulan serta menerbitkan laporan audit yang melampiri laporan keuangan yang
diterbitkan klien.
Mengapa laporan keuangan perlu diaudit? : Karena laporan keuangan dapat
berguna dan meningkatkan keyakinan para pemakai laporan keuangan serta
berguna bagi pengambil keputusan

PEMBAHASAN
Secara ringkas dapat disimpuikan bahwa audit operasional adalah pengujian dalam
operasi perusahaan yang bersifat ekonomis, efisiensi, dan efektif dengan tujuan untuk
memperbaiki proses-proses dengan cara mengidentifikasi. Selain itu Audit operasional juga
mengidentifikasi timbulnya penyelewengan dan penyimpangan yang terjadi dan kemudian
membuat laporan yang berisi rekomendasi tindakan perbaikan selanjutnya. Atau Audit
operasional merupakan salah satu alat pengendalian yang membantu dalam mengelola
perusahaan dengan penggunaan sumber daya yang ada dalam pencapaian tujuan
perusahaan dengan efektif dan efisien.
Telah disebutkan dalam tahapan operasional audit itu ada lima
yaitu pengenalan yang menunjukkan berarti auditor harus mengenali kegiatan-kegiatan
yang sedang di audit, survey pendahuluan yang menunjukkan bahwa auditor harus
mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi contohnya mengidentifikasi keakuratan suatu
barang, pengembangan program yang menunjukkan rencana-rencana yang
dikiembangkan dan dibangun oleh auditor untuk memenuhi tujuan audit, pelaksanaan
audit yang menunjukkan bahwa auditor harus melaksanakan prosedur-prosedur audit
yaitu: tahap evaluasi maksudnya auditor harus mengevaluasi bukti-bukti yang
ada,pengumpulan bukti maksudnya auditor harus mengumpulkan bukti-bukti otentik
dalam mengaudit suatu perusahaan, dan tahapan yang terakhir yaitu tahap pelaporan.
Audit pada laporan keuangan adalah mengaudit suatu laporan keuangan dengan
cara mengidentifikasi dan mengikhtisarkan peristiwa transaksi ekonomi dengan tujuan untuk
menyatakan pendapat tentang kewajaran.

Dari landasan teori yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan perbedaan audit
operasional dengan audit pada laporan keuangan yang terletak pada sisi dari tujuan audit
itu sendiri yaitu tujuan pengujiannya dimana tujuan audit keuangan lebih ditekankan
apakah pelaporan sistem informasi akuntansinya wajar (tidak ada kesalahan matrealitas)
dan dilakukan dengan benar (sesuai dengan standar akuntansi keuangan). Sedangkan, audit
operasional menekankan pada usaha peningkatan efektivitas, efisiensi, dan ekonomisnya
organisasi untuk masa yang akan datang. Dilihat dari ruang lingkupnya dimana ruang
lingkup audit keuangan adalah catatan dari keuangan perusahaan sedangkan ruang lingkup
audit operasional adalah aktivitas operasi dari perusahaan. Dilihat dari hasil
auditnya dimana hasil audit dari audit keuangan adalah pemberian opini atas laporan
keuangan sedangan hasil audit dari audit operasional adalah pemberian rekomendasi
kepada manajemen. Dilihat dari ukuran keberhasilan dimana keberhasilan atas audit
keuangan adalah pemberian opini WTP(Wajar Tanpa Pengecualian) atas laporan keuangan
sedangkan ukuran keberhasilan audit operasional adalah tindak lanjut atas rekomendasi
yang telah dibuat. Dan yang terakhir dilihat dari keterlibatan bidang bukan
keuangan maksudnya dari audit keuangan hanya dibatasi pada hal-hal yang langsung
mempengaruhi kelayakan penyajian laporan keuangan, sedangkan keterlibatan audit
operasional hanya mencakup efisiensi dan evektivitas dalam sebuah perusahaan.