Anda di halaman 1dari 8

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
AGRI - Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web Service untuk
Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Produk Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia
Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi.

BIDANG KEGIATAN:
PKM Gagasan Tertulis
Diusulkan oleh:
Zamal Abdul Halim

(2011) (262110422)

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG


SEMARANG
2014

1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian
Indonesia, sebagian besar masyarkat Indonesia berprofesi sebagai petani. Jumlah petani
pada tahun 2013 menurut hasil sensus pertanian Badan Pusat Statistik pada tahun 2013
adalah sekitar 31.705.337 petani yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Indonesia
memang merupakan Negara yang cocok untuk pertanian hal ini disebabkan oleh tanah
yang subur. Disamping itu lahan pertanian yang ada di Indonesia juga cukup luas
berdasarkan data hasil Statistik Lahan Pertanian 2008-2012 yang dilakukan Pusat Data
Dan Sistem Informasi Pertanian Sekjen Kementrian Pertanian Republik Indonesia
diketahui bahwa pada tahun 2012 lahan pertanian Indonesia terdiri dari lahan sawah
seluas 8.132.345,91 Ha, lahan tegal/kebun seluas 11.949.727,00 Ha, lahan ladang seluas
5.260.081,00 Ha, serta lahan ladang yang sementara tak diusahakan seluas 14.252.383,00
Ha. Dengan luas lahan yang cukup luas ini tidak heran jika produk pertanian yang
dihasilkan Indonesia cukup banyak dan beragam misalnya untuk produk tanaman pangan
berupa Padi total produksi padi di Indonesia pada tahun 2013 adalah 71.279.709,00 Ton,
untuk produk jagung total produksinya adalah 18.511.853,00 Ton, produk kedelai dengan
total produksi 779.992,00 Ton serta beberapa produk pertanian lainnya.
Indonesia memang memiliki sumber daya yang cukup melimpah untuk sektor
pertanian. Namun ternyata jumlah petani serta jumlah luas lahan pertanian di Indonesia
jumlahnya terus menurun dari tahun ke tahun hal ini tentunya berdampak pada rata-rata
hasil produksi produk-produk pertanian baik dari segi kualitas terutama kuantitasnya.
Misalnya sesuai data Sensus Pertanian BPS tahun 2013 untuk produk kedelai pada tahun
2009 produksinya 974.512,00 Ton, lalu pada tahun 2010 turun menjadi 907.031,00 Ton,
tahun 2011 turun menjadi 851.286,00 Ton, 2012 turun lagi menjadi 843.153,00 Ton dan
pada tahun 2013 juga terjadi penurunan menjadi 779.992,00 Ton.
Semakin berkurangnya kualitas dan kuantitas rata-rata hasil produksi produkproduk pertanian di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah
kurangnya penggunaan teknologi informasi pada proses penyuluhan pertanian serta
kurangnya implementasi ICT (Information and Comunication Technology). Artinya
bahwa faktor kurangnya pemanfaatan teknologi informasi (information technology) IT
sebenarnya dapat memberikan manfaat bagi dunia pertanian di Indonesia apabila
dimanfaatkan dengan sabaik-baiknya diberbagai wilayah di Indonesia.
Semakin berkembangnya teknologi informasi dewasa ini sesungguhnya dapat
dimanfaatkan bagi perkembangan sektor pertanian di Indonesia. Oleh karena itu
diperlukan suatu sistem yang dapat digunakan pada seluruh wilayah Indonesia terutama
wilayah pertanian untuk mengembangkan potensi pertanian di Indonesia sehingga

tercapai peningkatan kualitas dan kuantitas produk-produk pertanian berupa tanaman


pangan Indonesia.
B. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan latar belakang diatas berikut ini adalah tujuan dan manfaat dari
gagasan AGRI - Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web
Service untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian di Indonesia melalui
pemanfaatan Teknologi Informasi.
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian berupa tanaman pangan di
Indonesia melalui pemanfaatn teknologi informasi.
2. Memberikan pemahaman pada semua stageholder termasuk petani mengenai
pentingnya pemanfaatan teknologi informasi untuk memaksimalkan potensi pertanian
terutama tanaman pangan Indonesia.
3. Mewujudkan Indonesia swasembada pangan, bahkan menjadi eksportir produk
pertanian berupa tanaman pangan.
2. GAGASAN
A. Kondisi Pertanian (Tanaman Pangan) Indonesia
Indonesia merupakan Negara dengan sektor pertanian yang seharusnya cukup
baik dari berbagai sisi mulai dari segi sumber daya alam berupa lahan pertanian yang luas
dan subur maupun dari sumber daya manusianya yang lumayan banyak yang menjadi
petani. Namun ternyata berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013 yang dilakukan oleh
BPS (Badan Pusat Statistik) terlihat bahwa jumlah petani pada sektor pertanian semakin
berkurang dari tahun ke tahun berdasarkan provinsinya. Misalnya di provinsi aceh pada
tahun 2003 terdapat 456.124 petani untuk tanaman pangan sedangkan tahun 2013
berkurang menjadi 423.124 atau turun sekitar 0.97%, pada provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2003 ada sekitar 3.477.773 petani tanaman pangan sedangkan pada tahun 2013
menyusut menjadi 3.288.292, lalu di provinsi Jawa Timur petani tanaman pangan
berjumlah 3.785.083 petani sedangkan pada tahun 2013 jumlahnya berkurang menjadi
3.673.349. Secara umum pada tahun 2003 terdapat sekitar 18.708.052 petani tanaman
pangan dan pada tahun 2013 menyusut menjadi hanya 17.728.162 petani di Indonesia.
Berkurangnya jumlah petani tanaman pangan juga terjadi pada hampir seluruh provinsi di
Indonesia dari sabang sampai merauke. Disamping masalah jumlah petani yang
mengalami penyusutan ternyata jumlah lahan pertanian di Indonesia juga semakin
berkurang. Menurut data Statistik Lahan Pertanian tahun 2008-2012 yang dimiliki oleh
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementrian Pertanian
2013 misalnya saja untuk data lahan sawah irigasi (irrigated wetland) yang banyak
digunakan untuk lahan pertanian tanaman pangan pada tahun 2008 total luasnya
mencapai 4.828.476,00 Ha pada pada tahun 2012 luasnya menjadi hanya 4.417.581,92
Ha atau turun sebesar 0.91%. (Kementrian Pertanian Republik Indonesia, 2013)

Semakin berkurangnya jumlah petani tanaman pangan ditambah lagi luas lahan
pertanian yang semakin menyusut secara langsung memberikan dampak yang cukup telak
pada hasil produksi produk pertanian berupa tanaman pangan. Misalnya sesuai data
Sensus Pertanian BPS tahun 2013 untuk produk kedelai pada tahun 2009 produksinya
974.512,00 Ton, lalu pada tahun 2010 turun menjadi 907.031,00 Ton, tahun 2011 turun
menjadi 851.286,00 Ton, 2012 turun lagi menjadi 843.153,00 Ton dan pada tahun 2013
juga terjadi penurunan menjadi 779.992,00 Ton. Contoh lain adalah tanaman Padi yang
jumlah produksinya pada tahun 2010 adalah 66.469.394,00 Ton lalu pada tahun 2011
turun menjadi 65.756.904,00. Semakin berkurangnya produksi tanaman pangan pada
sektor pertanian dari tahun ke tahun tentunya membuat khawatir berbagai pihak terutama
pemerintah dan masyarakat apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah
tentunya konsumsi pangan masyarakat juga akan semakin meningkat. (Kementrian
Pertanian Republik Indonesia, 2013)
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi jumlah petani semakin berkurang,
jumlah lahan yang semakin berkurang dan akhirnya berdampak pada hasil produksi
tanaman pangan yang terus berkurang dari tahun ketahun diantaranya seperti dilansir dari
Indonesia Policy Briefs yaitu kurangnya penyuluhan bagi petani serta metode penyuluhan
yang terkesan monoton, disamping itu juga kurangnya pemanfaatan ICT (Information
Communication & Technology) dalam bidang pertanian di Indonesia.
B. Solusi Umum yang Sudah Diterapkan beserta Hasilnya
Solusi umum untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman
pangan di Indonesia dimana Pemerintah telah melakukan penyuluhan pertanian bagi
petani. Pelaksanaan ini cenderung monoton dan tidak banyak melibatkan inovasi melalui
pemanfaatan ICT (Information Communication & Technology).
C. Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web Service untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian tanaman pangan di
Indonesia melalui pemanfaatan Teknologi Informasi
Teknologi infomasi merupakan hal yang tidak terelakan dewasa ini dimana
inovasi teknologi informasi telah berevolusi menjadi kebutuhan yang dapat
menyelesaikan dan memudahkan pekerjaan manusia pada berbagai bidang diantaranya
adalah pertanian. Indonesia merupakan Negara dengan wilayah yang luas terbagi dalam
34 Provinsi, 412 Kabupaten dan 93 Kota.
Dengan menggunakan sistem informasi yang berupa GIS (Geographic
Information System) dari sisi pemerintah sistem ini dapat digunakan untuk memetakan
mengenai potensi-potensi pertanian tanaman pangan (Padi, Jagung, Kedelai, Kacang
Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, Ubi Jalar) yang ada di Indonesia sehingga dapat
dijadikan acuan untuk mengembangan dan memeberikan perhatian pada wilayah yang
memiliki potensi pertanian tanaman pangan ini. Disamping itu juga dapat dilakukan
monitoring data perkembangan lahan pertanian, data petani, hingga pada jumlah produksi

pertanian pada suatu wilayah. Pada akhirnya dapat diketahui mengenai statistik pertanian
pangan pada suatu wilayah secara real time hal ini tentunya akan memudahkan proses
pengambilan keputusan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman pangan baik dari
segi kualitas maupun kuantitas. Lalu dari sisi petani dapat menggunakan teknologi
mobile web service untuk mendapatkan informasi terkait pertanian melalui perangkat
mobile smartphone yang harganya cukup murah sehingga dapat dimiliki juga oleh petani.
Data dan informasi terkait pertanian tanaman pangan bagi petani ini disediakan dan
diperbahrui melalui sistem informasi GIS (Geographic Information System) melalui
database yang sama oleh pemerintah. Konsep web service ini memudahkan pengelolaan
data karena hanya menggunakan satu database yang sama. (Balram & Dragicevic, 2006)

D. Pihak-pihak yang Terkait


Gagasan Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web
Service untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian tanaman pangan di
Indonesia melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dapat terwujud apabila ada peran
aktif berupa dukungan dari segi SDM (sumber daya manusia) dan sumber daya finansial
sebagai penyedia dana melalui Kementrian Pertanian sebagai penyedia sistem nantinya.
Disamping itu juga diperlukan kerjasama dan dukungan pada tingkat provinsi bahkan
hingga kabupaten/kota untuk mendukung peningkatan produksi tanaman pangan
didaerahnya masing-masing.
Disamping itu dapat juga menggandeng pihak swasta yang terkait dengan bidang
pertanian tanaman pangan untuk menjadi investor untuk membantu pendanaan pada
pengembangan sistem ini.
E. Langkah Strategis yang diperlukan
Untuk mewujudkan gagasan Kolaborasi GIS (Geographic Information System)
dan Mobile Web Service untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian
tanaman pangan di Indonesia melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dibutuhkan
langkah-langkah strategis.
Lalu apabila gagasan ini terwujud maka perlu dilakukan beberapa langkah
strategis sebagai berikut.
1. Pemerintah melalui Kementrian Pertanian menyediakan anggaran hal ini dapat
berasal dari APBN maupun dari Investor pihak swasta untuk mengembangkan sistem
sesuai dengan gagasan diatas.
2. Kementrian Pertanian mulai mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk
mengembangkan sistem (Programmer, Web Server Administrator, dan lain-lain).
3. Kementrian Pertanian Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah mengenai
gagasan ini.

4. Pemerintah daerah mensosialisasikan gagasan ini pada petani yang ada di daerah
melalui berbagai macam event seperti seminar, undangan penyuluhan bagi petani dan
lain-lain.
5. Pemerintah pusat melalui pemerintah daerah mulai membangun fasilitas-fasilitas
teknologi informasi terutama membangun dan meningkatkan akses internet pada
daerah yang memiliki potensi pertanian tinggi.
3. KESIMPULAN
A. Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web Service untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian tanaman pangan di
Indonesia melalui pemanfaatan Teknologi Informasi
Kolaborasi GIS dan Mobile Web Service ini mampu meningkatkan kualitas dan
kuantitas hasil produksi pertanian tanaman pangan melalui teknologi informasi yang
dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.
B. Teknik Implemetentasi Gagasan
Gagasan ini menggunakan konsep GIS (Geographic Information System) yang
dikolaborasikan dengan mobile web service illustrasi implementasinya adalah sebagai
berikut.

Gambar 1. Desain Sistem Kolaborasi GIS dan Mobile Webservice


Sesuai gambar 1 diatas terlihat ada beberapa hal seperti server yang berisi
database, server side programming sebagai interface-Nya lalu ada internet untuk
menampilkan data dari server serta client yang menggunakan mobile smartphone yang
menerima update data dari internet. Client dalam hal ini adalah petani. Info yang

didapatkan petani dari server berupa informasi mengenai pertanian tanaman pangan. Hal
ini tentunya untuk meningkatkan pengetahuan petani terhadap pertanian pangan.
Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat berdampak pada peningkatan hasil produksi
pertanian tanaman pangan.
C. Prediksi Hasil yang akan dicapai
Apabila Kolaborasi GIS (Geographic Information System) dan Mobile Web
Service untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian tanaman pangan di
Indonesia dapat terwujud maka akan menigkatkan hasil produksi pertanian tanaman
pangan di Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa manfaat gagasan ini
1. Dapat menjadi sarana penyuluhan pertanian tanaman pangan bagi petani secara real
time melalui perangkat handphone yang tentunya memudahkan informasi pertanian
sampai pada para petani.
2. Meningkatkan kesadaran penggunaan dan manfaat teknologi informasi pada para
petani.
3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian tanaman pangan.
4. DAFTAR PUSTAKA
A. Salikin, K. (2003). Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.
Balram, S., & Dragicevic, S. (2006). Collaborative Geographic Information System.
London: Idea Group Inc.
Doyle, S. (2000). Understanding Information & Communication Technology. Cheltenham:
Stanley Thornes Ltd.
Hirsch, F., Kemp, J., & Ilkka, J. (2006). Mobile Web Service Architecture and
Implementation. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd.
Kementrian Pertanian Republik Indonesia. (2013). Statistik Lahan Pertanian tahun 20082012. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal- Kementerian
Pertanian.
Kementrian Pertanian Republik Indonesia. (2013). Statistik pertanian 2013. Jakarta: Pusat
Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal- Kementerian Pertanian.
Purwono, & Purnamawati, H. (2007). Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Jakarta:
Penebar Swadaya.

5. LAMPIRAN-LAMPIRAN