Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)
FRAKTUR
DI RUANG 21 RSUD DR. SAIFUL
ANWAR MALANG

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)

RUMAH SAKIT UMUM DR. SAIFUL


ANWAR MALANG
2015
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
S1 KEPERAWATAN STIKES ICME JOMBANG
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik

: Fraktur

Sasaran

: Pasien, keluarga pasien, pengunjung, petugas kesehatan Ruang 21


RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Tempat

: Ruang 21 RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Hari/tanggal

Jam

A.

, Mei 2015
WIB

TUJUAN

1. Tujuan Umum
Setelah dilaksanakan penyuluhan, diharapkan pasien, keluarga pasien,
pengunjung, dan petugas kesehatan Ruang 21 RSU Dr. Saiful Anwar Malang
mengetahui tentang fraktur.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan Pasien, keluarga pasien, pengunjung, petugas kesehatan Ruang
21 RSU Dr. Saiful Anwar Malang dapat :
1)

Mengetahui pengertian fraktur

2)

Mengetahui penyebab fraktur

3)

Mengetahui macam-macam fraktur

4)

Mengetahui tanda dan gejala fraktur

5)

Mengetahui komplikasi fraktur

6)

Mengetahui faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur

7)

Mengetahui penatalaksanaan fraktur

B. KOMUNIKATOR
Mahasiswa Pendidikan Profesi Ners STIKES ICME JOMBANG
C. METODE
1) Ceramah
2) Diskusi
D. MEDIA
- Laptop
- LCD
E. PELAKSANAAN
Kegiatan
Pembukaan

Waktu
Uraian Kegiatan
5
1. Mengucapkan salam

Kegiatan Peserta
1.Menjawab salam

Pelaksana
Moderator

menit

2.Mendengarkan

dan

2. Memperkenalkan
fasilitator

fasilitator

3.Menjelaskan

tujuan 3.Memperhatikan

penyuluhan
4.

Menjelaskan
mekanisme kegiatan
yang

Pelaksanaan 15
menit

akan

dilaksanakan
1. Menjelaskan

1.

Memperhatikan Pembicara

Pengertian

fraktur,

penjelasan

peyebab

fraktur,

fraktur

tanda

dan

gejala

fraktur,komplikasi
fraktur, faktor yang
mempengaruhi
penyembuhan
fraktur, penanganan
fraktur

di

RS,

perawatan fraktur di
rumah

tentang dan
fasilitator

2. Tanya jawab tentang 2. Peserta menyimak


fraktur
Evaluasi

1. Mengucapkan terima

menit

kasih atas partisipasi

dan memperhatikan
tentang fraktur
1. Memperhatikan

Moderator

2. Menjawab salam

dan

peserta

fasilitator

2. Mengucapkan salam
G. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Pengorganisasian dilaksanakan sebelum pelaksanaan kegiatan.
b. Kontrak dengan peserta H-1, diulangi kontrak pada hari H.
c. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai satuan acara penyuluhan
d. Kelengkapan media penyuluhan dipersiapkan H-1
2. Evaluasi Proses
Peserta antusias dalam menyimak uraian materi penyuluhan tentang
fraktur.
3. Evaluasi Hasil
a. Seluruh peserta kooperatif selama proses diskusi ditunjukkan dengan 30
% bertanya atau mengklarifikasi.
a. 60-70% peserta mampu menjawab pertanyaan dan memahami
pengertian sampai dengan hal-hal yang harus diperhatikan terkait
perawatan pasien dengan fraktur dengan mampu menjawab pertanyaan
yang telah diberikan dengan jawaban benar
b. Peserta sebanyak 80% mengikuti kegiatan penyuluhan dari awal hingga
akhir penyuluhan dan tidak ada yang meninggalkan tempat penyuluhan
sebelum acara penyuluhan berakhir kecuali ada kepentingan yang tidak
bisa diwakilkan.

MATERI FRAKTUR
A. Pengertian
1) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000).
2) Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan.
(Sjamsuhidajat, 2005).
3) Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi
itu lengkap atau tidak lengkap. (Price and Wilson, 1995 : 1183)
B. Penyebab
Berdasarkan penyebab/etiologinya striktur dibagi menjadi 3 jenis :
a. Kekerasan langsung
Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih
jauh dari daerah fraktur, fraktur demikian sering bersifat terbuka dengan
garis patah melintang atau miring, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi
dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya
jaringan lunak tetap utuh
b. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh
dari terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling
lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekeuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi
dari ketiganya, dan penarikan (Oswari, 1993). Contoh apabila seseorang
jatuh dari tempat ketinggian dengan posisi tumit kaki terlebih dahulu,
maka yang patah selain tumit itu sendiri terjadi patah tulang tibia, fibula,
femur dan kemungkinan juga patah tulang vertebra.
c. Fraktur Patologis
Fraktur yang disebabkan trauma yang minimal atau tanpa trauma. Contoh
fraktur patologis : Osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi tulang,
kanker tulang.
C.

Macam macam fraktur


1. Complete fraktur, patah tulang pada seluruh garis tengah tulang, luas dan
melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
2. Closed fraktur, tidak menyebabkan robeknya kulit, imtegritas kulit masih
utuh.
3. Open fraktur, merupakan fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit
rusak dan ujung tulang menonjol samapai menembus kulit) atau membran
mukosa sampai ke patahan tulang.
4. Greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya
membengkok.
5. Tranversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang
6. Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
7. Komunitif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
8. Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tulang tengah.
9. Depresi, fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi
pada tulang tengkorak dan wajah).
10. Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi.
11. Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang yang berpenyakit (kista
tulang, paget, metastasis tulang, tumor, dsb).
12. Avulsi, teretariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada
perlekatannya.
13. Epifisial, fraktur melalui epifisis.
14. Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang
lainnya.

D.

Tanda dan gejala

1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang


diimobilisasi, hematoma, dan edema.
2. Perubahan bentuk (deformitas) karena adanya pergeseran fragmen tulang
yang patah.
3. Hilangnya fungsi.
4. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang
melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
5. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
6. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit.
E.

Komplikasi
1) Komplikasi Awal
a

Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang
lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.

Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah
dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau
perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah.
Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan
yang terlalu kuat.

Fat Embolism Syndrom


Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi
karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk
ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah
rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.

Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial)
dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan seperti pin dan plat.

Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang.

Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya
oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

2) Komplikasi Dalam Waktu Lama


a

Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi
sesuai

dengan

waktu

yang

dibutuhkan

tulang

untuk

menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke


tulang.
b

Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah
6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.

Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya

tingkat

kekuatan

dan

perubahan

bentuk

(deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan


reimobilisasi yang baik. (Black, J.M, et al, 1993)
F.

Fraktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur


1) Faktor yang Mempercepat Penyembuhan Fraktur:
a

Imobilisasi fragment tulang

Kontak fragment tulang maksimal

Asupan darah yang memadai

Nutrisi yang baik

Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang

Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D,


steroid anabolik.

2) Faktor yang Menghambat Penyembuhan Tulang:


a

Trauma lokal ekstensif

Kehilangan tulang

Imobilisasi tak memadai

Rongga atau jaringan di antara fragmen tulang

Infeksi

Keganasan lokal

Penyakit tulang metabolik (mis. penyakit Paget)

Radiasi tulang (nekrosis radiasi)Nekrosis avaskuler

Usia (lansia sembuh lebih lama). (Smeltzer dan Bare, 2001 :


2386)

G.

Penatalaksanaan
a

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan foto radiology dari fraktur : menentukan lokasi dan


luasnya

X-ray

CT scan

Bone scanning

MRI (magnetic Resonance Imaging)

EMG (Elektromyogarfi).

Pemeriksaan darah lengkap

Arteriografi, dilakukan bila kerusakan dicurigai.

Kreatinin, trauma otot meningkatkan bebean kreatinin untuk klirens


ginjal.

b Penatalaksanaan di dalam rumah sakit


Prinsip

penanganan

fraktur

meliputi

rekognisi,

traksi,

reduksi

imobilisasi dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan


rehabilitasi.
1) Rekognisi
Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu suplai
neurovascular ekstremitas yang terlibat. Karena itu begitu
diketahui kemungkinan fraktur tulang panjang, maka ekstremitas
yang cedera harus dipasang bidai untuk melindunginya dari
kerusakan yang lebih parah.
Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dipakai sebagai
petunjuk

kemungkinan

adanya

fraktur,

dan

dibutuhkan

10

pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini


khususnya harus dilakukan pada cidera tulang belakang bagian
servikal, di mana contusio dan laserasio pada wajah dan kulit
kepala menunjukkan perlunya evaluasi radiografik, yang dapat
memperlihatkan fraktur tulang belakang bagian servikal dan/atau
dislokasi, serta kemungkinan diperlukannya pembedahan untuk
menstabilkannya. (Smeltzer C dan B. G Bare, 2001)
2) Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang
fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan
menempelkan

plester

langsung

pada

kulit

untuk

mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot


pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka
pendek (48-72 jam).
b Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang
cedera pada sendi panjang untuk mempertahankan bentuk
dengan memasukkan pins / kawat ke dalam tulang.
3) Selanjutnya prinsip penanganan fraktur adalah reduksi. Reduksi
fraktur

berarti

kesejajarannya

mengembalikan
dan

rotasi

fragmen

anatomis

tulang

Reduksi

pada

tertutup,

mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya


saling berhubungan ) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat
yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya.
Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah. Alat fiksasi interna
dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku. Imobilisasi dapat
dilakukan dengan metode eksterna dan interna.
4) Imobilisasi fraktur
Setelah fraktur di reduksi, fragment tulang harus diimobilisasi,
atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar
sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan
fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksternal meliputi
pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau
fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi

11

interna

yang

berperan

sebagai

bidai

interna

untuk

mengimobilisasi fraktur.
5) Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
6) Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
7) Status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah,
nyeri, perabaan, gerakan.
8) Fisioterapi
Terapi latihan adalah salah satu modalitas fisioterapi dengan
menggunakan gerak tubuh baik secara active maupun passive
untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan, ketahanan dan
kemampuan kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas,
rileksasi, koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional
(Kisner, 1996).
c

Penanganan Fraktur di luar rumah sakit


1) Cegah kerusakan lebih lanjut dengan memakaikan bidai pada
bagian

tubuh

yang

tulangnya

patah

sebelum

berusaha

memindahkan si korban.
2) Jika terjadi pendarahan seperti pada fraktur terbuka, tekanlah
dengan

keras

pembuluh-pembuluh

darah

yang

sedang

mengeluarkan darah, dengan memakaikan pembalut (kain) atau


kain kasa yang bersih. Ada baiknya menerapkan langkah
tourniquet. Gunting atau lepaskanlah pakaian si korban yang
menutupi/mengganggu pandangan si penolong pada bagian tubuh
yang patah.
3) Jika penolong melihat adanya tulang yang menonjol keluar dari
kulit, tutupilah dengan kain kasa (boleh kain lainnya) yang bersih
dan pakaikan sebuah bidai. Anggota badan sebaiknya tetap pada
posisi sewaktu fraktur terjadi. Untuk perawatan selanjutnya,
serahkan saja kepada dokter atau rumah sakit.
4) Jika merasa ragu apakah ada fraktur atau tidak, sebaiknya ambil
aman saja, pakaikanlah sebuah bidai seperti halnya pada kejadian
fraktur. Fungsi pemakaian bidai ini adalah untuk menahan
patahan tulang supaya persendian yang didekatnya tidak dapat
bergerak. Menggerakkan anggota tubuh yang patah bisa
menyebabkan kerusakan yang lebih serius.
Cara Pemasangan Bidai

12

Jika tidak didapati kayu atau bahan keras lainnya yang pas untuk
dijadikan bidai. Pakaikan apa saja yang mudah didapat seperti
kain tebal yang keras (dilipat), bantal, selimut (dilipat), majalah
atau juga koran yang dilipat. Cabang-cabang pohon, payung,
tongkat, logam, gagang sapu, atau apa saja yang memungkinkan
bisa dijadikan bidai. Yang terpenting, pastikan bidai tersebut kuat
menahan bagian tubuh yang patah dari pergerakan.

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. Graham , 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Widya
Medika, Jakarta
Black, J.M, et al, 1995. Luckman and Sorensens. Medikal Nursing : A Nursing
Process Approach, 4 th Edition, W.B. Saunder Company
Dudley, Hugh AF. 1986. Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi II. FKUGM
Mansjoer, Arif, et al, 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius
FKUI. Jakarta
Price, Evelyn C, 1997. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Gramedia, Jakarta
Reksoprodjo, Soelarto, 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI/RSCM, Binarupa
Aksara, Jakarta
Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005. 840841.