Anda di halaman 1dari 9

Makalah

FETAL DISTRESS

Oleh :
Amrina Rasyada
Duilla Husaina

1010311004
1110312046

BAGIAN OBSTETRI & GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG
2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...............................................................................................
1.1. Definisi fetal distress.....................................................................
1.2. Etiologi fetal distress.....................................................................
1.3. Faktor risiko fetal distress..............................................................
1.4. Gejala klinis fetal distress..............................................................
1.5. Patofisiologi fetal distress..............................................................
1.6. Diagnosis fetal distress..................................................................

i
1
1
2
3
3
4

1.7. Tatalaksana fetal distress................................................................ 5


1.8. Komplikasi fetal distress................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA

1.1.

Definisi Fetal Distress


Fetal distress adalah adanya suatu kelainan pada fetus akibat
gangguan oksigenasi dan atau nutrisi yang bisa bersifat akut (prolaps tali
pusat), sub akut (kontraksi uterus yang terlalu kuat), atau kronik (plasenta
insufisiensi).1
Gawat janin menunjukkan suatu keadaan bahaya yang relatif dari janin
yang secara serius, yang mengancam kesehatan janin.2 Istilah gawat janin
(fetal distress) terlalu luas dan kurang tepat menggambarkan situasi klinis.
Ketidakpastian dalam diagnosis gawat janin yang didasarkan pada
interpretasi pola frekuensi denyut jantung janin menyebabkan munculnya
istilah-istilah

deskriptif

misalnya

"reassuring"

(meyakinkan)

atau

"nonreassuring" (meragukan, tidak meyakinkan).3 Gawat janin juga umum


digunakan untuk menjelaskan kondisi hipoksia yang bila tidak dilakukan
penyelamatan akan berakibat buruk yaitu menyebabkan kerusakan atau
kematian janin jika tidak diatasi secepatnya atau janin secepatnya
dilahirkan. Hipoksia ialah keadaan jaringan yang kurang oksigen,
sedangkan hipoksemia ialah kadar oksigen darah yang kurang. Asidemia
ialah keadaan lanjut dari hipoksemia yang dapat disebabkan menurunnya
fungsi respirasi atau akumulasi asam. 1

1.2.

Etiologi Fetal Distress

Penyebab fetal distress adalah1


a. Kelainan pasokan plasenta : solutio plasenta, plasenta previa,
postterm, prolapsus tali pusat, lilitan tali pusat, pertumbuhan janin
terhambat, insufisiensi plasenta, kompresi tali pusat.
b. Kelainan arus darah plasenta : hipotensi ibu, hipertensi, kontraksi
hipertonik,
c. Saturasi oksigen ibu berkurang: hipoventilasi, hipoksia, penyakit
1.3.

jantung.
Gejala Klinis Fetal Distress
a. Gerakan janin menurun
b. Pasien mengalami kegagalan dalam pertambahan berat badan dan
uterus tidak bertambah besar. Uterus yang lebih kecil daripada umur
kehamilan yang diperkirakan memberi kesan retardasi pertumbuhan
intrauterin atau oligohidramnion.
c. Riwayat dari satu atau lebih faktor-faktor risiko tinggi, masalahmasalah obstetri, persalinan prematur atau lahir mati dapat memberi
kesan suatu peningkatan risiko gawat janin. Faktor-faktor risiko
tinggi meliputi penyakit hipertensi, diabetes melitus, penyakit
jantung, postmaturitas, malnutrisi ibu, anemia, isoimunisasi Rh dan
penyakit ginjal. 2,4

1.4.

Patofisiologis Fetal Distress


Kontrol fisiologis dari fetal distress dilihat dari denyut jantung janin
yang dipengaruhi oleh aliran darah dan atau oksigenasi. Pada kasus
insufisiensi plasenta kronik terjadi gangguan mekanisme kontrol fisiologis
denyut jantung janin yang disebabkan oleh penurunan kadar oksigenasi
pada janin. Pada kasus akut seperti prolaps tali pusat, penurunan aliran

darah ke janin lebih berperan dalam proses terjadinya fetal distress. Selain
itu proses persalinan normal juga berperan dalam terjadinya fetal distress.
Penurunan aliran darah dan atau oksigenasi ke janin akan mengakibatkan
terjadinya hipoksia janin. Keadaan ini akan meningkatkan kadar CO 2 dan
penurunan kadar O2di dalam tubuh janin. 6,7
Berkurangnya kandungan oksigen dalam darah (hipoksemia) akan
merangsang syaraf simpatis, sehingga akan menimbulkan takikardi. Bila
kondisi hipoksemia tidak teratasi dan berlanjut jadi hipoksia, akan
menyebabkan perubahan aktivitas biofisik. Menurut Manning (1992),
respon biofisik terhadap kondisi hipoksia terbagi menjadi 2 kategori yaitu
pertama respons akut/intermediat (yakni perubahan atau hilangnya
aktivitas yang diregulasi oleh sistim syaraf pusat/SSP), dan kedua respons
kronik (yakni berkurangnya produksi air ketuban/ oligohidramnion,
gangguan pertumbuhan, dan meningkatnya risiko komplikasi neonatal). 6,7
1.5.

Diagnosis Fetal Distress


Diagnosis fetal distress ditegakkan berdasarkan gambaran dari denyut
jantung janin dan adanya mekonium didalam.
Kriteria gawat janin:8
a. Denyut jantung janin di atas 160/menit atau di bawah 100 /
menit
b. Denyut jantung tidak teratur
c. Keluarnya mekonium yang kental diawal persalinan
Diagnosis ditegakkan jika ditemukan:
a. Denyut jantung yang tidak normal
Menurut National Institutes of Health Workshop tahun 1997,
kategori sistem interpretasi denyut jantung janin yang tidak normal,
menunjukkan kemungkinan adanya gawat janin, dengan kriteria: 6,7
Bradikardi menetap: denyut jantung janin kurang dari 120 kali
permenit.

Variabilitas denyut jantung dasar yang menurun, yang


menunjukkan adanya depresi sistem saraf otonom janin oleh
medikasi pada ibu (atropin, skopolamin, diazepam, fenobarbital,
magnesium dan analgesik narkotik).

Takikardi : akselerasi denyut jantung janin yang memanjang (>


160) dapat dihubungkan dengan demam pada ibu akibat infeksi
intrauterin. Prematuritas dan atropin juga dihubungkan dengan
peningkatan denyut jantung dasar.

Pola deselerasi: Deselerasi lanjut menunjukan hipoksia janin


yang disebabkan oleh insufisiensi uteroplasental. Deselerasi
yang bervariasi yang tidak berhubungan dengan kontraksi uterus
sering ditemukan dan menunjukan adanya kompresi sementara
dari pembuluh darah umbilikus.6,7

b. Adanya mekonium didalam cairan amnion


Adanya mekoneum dalam cairan ketuban tidak pasti dan
kontroversial untuk menegakkan gawat janin, sementara beberapa ahli
berpendapat bahwa pasase mekoneum intrauterun adalah suatu tanda
gawat janin dan kemungkinan kegawatan, namun ahli lain merasakan
bahwa adanya mekoneum tanpa kejadian asfiksia janin lainnya tidak
menunjukan

bahaya janin. Tetapi, kombinasi asfiksia janin dan

mekoneum timbul untuk mempertinggi potensi asfirasi mekoneum


dan hasil neonatus yang buruk. 6,7
1.6.

Tatalaksana Fetal Distress7


Prinsip penatalaksanaan fetal distress adalah: 7
a. Meningkatkan oksigenasi janin dan aliran darah uteroplasenta
b. Menurunkan aktivitas kontraksi uterus
c. Membebaskan kompresi tali pusat
d. Menilai apakah persalinan dapat berlangsung normal atau
terminasi kehamilan merupakan indikasi. Rencana kelahiran

didasarkan pada faktor-faktor etiologi, kondisi janin, riwayat


obstetri pasien, dan jalannya persalinan.
Bentuk intervensi: 7
a. Merubah posis ibu dari terlentang menjadi miring, sebagai
usaha untuk memperbaiki aliran darah balik, curah jantung,
dan aliran darah uteroplasental. Perubahan dalam posisi ini
juga dapat membebaskan kompresi tali pusat.
b. Pemberian oksigensi yang adekuat kepada ibu dengan
nonrebreathing mask sebanyak 5-10 L/menit, sebagai usaha
meningkatkan penggantian oksigen fetomaternal.
c. Pemberian cairan intra vena 500-1000 ml Ringer Laktat dalam
waktu > 20 menit.
d. Menurunkan frekuensi kontraksi uterus dengan menghentikan
pemberian oksitosin atau prostaglandin. Hal ini dilakukan
karena kontraksi uterus akan mengganggu sirkulasi darah
keruang intervilli.
e. Memberikan tokolitik sesuai rekomendasi American College
of Obstetricians and Gynecologist tahun 2013, seperti injeksi
terbutalin sulfat subkutan 0,25 mg atau injeksi nitrogliserin
intravena dosis rendah 60-180 g.

Pemantauan DJJ, untuk gawat janin saat persalinan: 8


a. Kasus resiko rendah auskultasi DJJ selama persalinan: 8
Setiap 15 menit selama kala I
Setiap setelah his pada kala II
Hitung selama satu menit bila his telah selesai
b. Kasus resiko tinggi penggunaan pemantauan DJJ elektronik
secara

berkesinambungan

pemeriksaan pH darah janin.8


1.7.

Komplikasi Fetal Distress

dengan

penyediaan

sarana

Hipoksi dan asidosis yang terjadi pada fetal distress dapat


menyebabkan kematian pada janin. Selain itu, keadaan ini bisa
menimbulkan kerusakan pada otak janin. Berdasarkan penelitian Rocha, et
al tahun 2004 pada spesies primata, oklusi tali pusat menunjukkan
gambaran nekrosis pada otak janin yang semakin berat sesuai dengan
tingkat oklusi dan lama oklusi yang terjadi.8

DAFTAR PUSTAKA

1. Benzion T.. Kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi. EGC.


Jakarta; 1994
2. Cunningham F, MacDonald P, Gant N, Leveno K, Gilstrap L, Hankins
Gea. Intrapartum Assessment. Williams obstetrics. Ed.22. Appleton and
Lange. Stamford; 2002.
3. Hariadi R. Gawat Janin. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Ed.1. Himpunan
Kedokteran Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Surabaya;
2004.
4. Datta S. Fetal Distress. Anesthetic and obstetric management of high-risk
pregnancy. Ed.3. Springer. New York; 2004.
5. Kliman, HJ. Dkk. 2000. Fetal death: etiology and pathological findings.
(Online)
http://www.med.yale.edu/obgyn/kliman/placenta/articles/UpToDate.html
6. Rogers MS, Mongelli M, Tsang KH, et al: Lipid peroxidation in cord
blood at birth: the effect of labour. BJOG; 105:739, 1998.
7. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics ed.
24th. Mc Graw Hill. USA; 2014, pg 491-97.
8. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka. Jakarta ; 2010 pg 620-24.