Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Dari semua cedera yang terdapat dalam unit gawat darurat, 10 % diantaranya merupakan
cedera sistem urogenitalia. Kebanyakan dari cedera tersebut terabaikan dan sulit untuk mendiagnostik
dan memerlukan keahlian diagnostik yang baik. Diagnosis awal sangat perlu untuk mencegah
komplikasi lanjut. Cedera uretra merupakan cedera yang jarang dan paling sering terjadi pada lakilaki, biasanya bersamaan dengan terjadinya fraktur pelvis atau straddle injury. Cedera uretra jarang
terjadi pada wanita. Beberapa bagian dari uretra dapat mengalami laserasi, terpotong, atau memar.
Penatalaksaannya bermacam-macam tergantung pada derajat cedera. Menurut anatomisnya, uretra
dibedakan menjadi dua, uretra posterior terdiri atas pars prostatika dan pars membranasea dan uretra
anterior yang terdiri atas pars bulbosa dan pars pendulosa. Secara klinis trauma uretra dibedakan
menjadi trauma uretra anterior dan trauma uretra posterior, hal ini karena keduanya menunjukkan
perbedaan dalam hal etiologi trauma, tanda klinis, pengelolaan serta prognosisnya. 1,2,3
ANATOMI
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin keluar dari buli-buli melalui proses miksi.
Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Pada pria,
organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra dilengkapi dengan sfingter uretra
interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak
pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang
dipersarafi oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh, sfingter ini terbuka. Sfingter
uretra eksterna terdiri atas otot lurik dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai
dengan keinginan seseorang. Pada saat miksi sfingter ini tetap terbuka dan tetap tertutup pada saat
menahan miksi. 3
Panjang uretra laki-laki dewasa sekitar 18 cm, dengan perbandingan uretra posterior 3 cm dan
uretra anterior 15 cm, titik baginya berada antara 2 lokasi pada membran perineal. Uretra dapat
dibedakan ke dalam 5 segmen yaitu :
Uretra posterior
Uretra pars prostatika
Uretra pars membranasea
Uretra anterior
Uretra pars bulbosa
Uretra pars pendulosa
Fossa naviculare 7
Uretra pars prostatika berjalan menembusi prostat, mulai dari basis prostat sampai pada apeks
prostat. Panjang kira-kira 3 cm. Mempunyai lumen yang lebih besar daripada di bagian lainnya.
Dalam keadaan kosong dinding anterior bertemu dengan dinding posterior. Dinding anterior dan
dinding lateral membentuk lipatan longitudinal. Pada dinding posterior di linea mediana terdapat
crista urethralis, yang kearah cranialis berhubungan dengan uvula vesicae, dan ke arah caudal
melanjutkan diri pada pars membranasea. Pada crista urethralis terdapat suatu tonjolan yang
dinamakan collicus seminalis (verumontanum), berada pada perbatasan segitiga bagian medial dan
sepertiga bagian caudal uretra pars prostatika. Pada puncak dari colliculus terdapat sebuah lubang,
disebut utriculus prostaticus, yang merupakan bagian dari suatu diverticulum yang menonjol sedikit
ke dalam prostat. Bangunan tersebut tadi adalah sisa dari pertemuan kedua ujung caudalis ductus
paramesonephridicus (pada wanita ductus ini membentuk uterus dan vagina). Di sisi-sisi utriculus
prostaticus terdapat muara dari ductus ejaculatorius (dilalui oleh semen dan secret dari vesicula
seminalis). Saluran yang berada di sebelah lateral utriculus prostaticus, disebut sinus prostaticus, yang
pada dinding posteriornya bermuara saluran-saluran dari glandula prostat (kira-kira sebanyak 30
buah). 6

Uretra pars membranasea berjalan kearah caudo-ventral, mulai dari apeks prostat menuju ke
bulbus penis dengan menembusi diaphragma pelvis dan diaphragma urogenitale. Merupakan bagian
yang terpendek dan tersempit, serta kurang mampu berdilatasi. Ukuran panjang 1 2 cm, terletak 2,5
cm di sebelah dorsal tepi caudal symphysis osseum pubis. Dikelilingi oleh m.sphincter urethrae
membranasea pada diaphragma urogenitale. Tepat di caudalis diaphragma urogenitale, dinding dorsal
urethra berjalan sedikit di caudalis diaphragma. Ketika memasuki bulbus penis urethra membelok ke
anterior membentuk sudut lancip. Glandula bulbourethralis terletak di sebelah cranial membrana
perinealis, berdekatan pada kedua sisi uretra. Saluran keluar dari kelenjar tersebut berjalan
menembusi membrana perinealis, bermuara pada pangkal uretra pars spongiosa. 6
Uretra pars spongiosa berada di dalam corpus spongiosum penis, berjalan di dalam bulbus
penis, corpus penis sampai pada glans penis. Panjang kira-kira 15 cm, terdiri dari bagian yang fiks dan
bagian yang mobil. Bagian yang difiksasi dengan baik dimulai dari permukaan inferior membrane
perinealis, berjalan di dalam bulbus penis. Bulbus penis menonjol kira-kira 1,5 cm di sebelah dorsal
uretra. Bagian yang mobil terletak di dalam bagian penis yang mobil. Dalam keadaan kosong, dinding
uretra menutup membentuk celah transversal dan pada glans penis membentuk celah sagital. Lumen
uretra pars spongiosa masing-masing di dalam bulbus penis, disebut fosssa intrabulbaris, dan pada
glans penis, dinamakan fossa navicularis urethrae. Lacunae urethrales ( = lacuna morgagni ) adalah
cekungan-cekungan yang terdapat pada dinding uretra di dalam glans penis yang membuka kearah
ostium uretra eksternum, dan merupakan muara dari saluran keluar dari glandula urethrales. Ostium
uretra eksternum terdapat pada ujung glans penis dan merupakan bagian yang paling sempit. 6
Uretra pars bulbosa bermula di proksimal setinggi aspek inferior dari diafragma urogenitalia,
yang menembus dan berjalan melalui korpus spongiosum. Korpus spongiosum merupakan jaringan
serabut otot polos dan elastin yang kaya akan vaskularisasi. Kapsul fibrosa yang dikenal sebagai
tunika albuginea mengelilingi korpus spongiousum. Korpus spongiosum dan korpus kavernosum
bersama-sama ditutupi oleh dua lapisan berurutan. Lapisan ini antara lain fascia bucks dan fascia
dartos, fascia bucks merupakan lapisan paling tebal terdiri dari dua lapisan dan masing-masing terdiri
atas lamina interna dan eksterna. Dua lamina dari fascia bucks membagi diri untuk menutupi korpus
spongiosum. Fascia dartos merupakan lapisan jaringan ikat longgar subdermal yang berhubungan
dengan fascia colles di perineum. 4
Lumen uretra terletak di tengah bagian posterior korpus spongiosum melalui uretra pars
bulbosa, tetapi terpusat pada uretra pars pendulosa. Berdasarkan defenisinya, uretra pars bulbosa tidak
hanya ditutupi oleh korpus spongiosum, tetapi juga oleh penggabungan garis tengah dari otot
ischiokavernosus. Otot bulbospongiosum berakhir hanya pada proksimal sampai penoskrotal junction,
dimana uretra berlanjut ke distal sebagai uretra pars pedunlosa. Uretra pars pendulosa dekat dengan
korpus korporal di bagian dorsal. Di distal sebagian besar bagian dari uretra anterior adalah fossa
naviculare, yang dikelilingi oleh jaringan spongiosa dari glans penis. 4
Uretra wanita dewasa berukuran panjang sekitar 4 cm dan berjalan uretrovesikal junction
pada kollumna vesika urinaria ke vestibulum vagina. Dua lapisan otot polos berjalan ke distal dari
kollumna vesika urinaria mengelilingi bagian proksimal uretra lapisan dalam merupakan bagian
sirkuler, sedangkan lapisan luar berjalan secara longitudinal. Otot polos dikelilingi oleh lapisan otot
lurik yang paling tebal setinggi pertengahan uretra dan berkurang pada aspek posteriornya. 4
Pada uretra maskulina, pars prostatika mendapat suplai darah terutama dari arteri vesikalis
inferior dan arteri rektalis media. Uretra pars membranasea diberi suplai darah dari cabang-cabang
arteri dorsalis penis dan arteri profunda penis. Aliran darah venous menuju pleksus venosus
prostatikus dan ke vena pudenda interna. Aliran limfe dari uretra pars prostatika dan pars
membranasea dibawa oleh pembuluh-pembuluh limfe yang berjalan mengikuti vasa pudenda interna
menuju ke lymphonodus iliaka interna (sebagian besar) dan ke lymphonodus iliaka eksterna (sebagian

kecil). Aliran limfe dari uretra pars spongiosa, sebagian besar dibawa menuju lymphonodus inguinalis
profunda dan sebagian besar dibawa menuju ke lymphonodus iliaka interna. 6
Uretra feminine pars kranialis mendapatkan vaskularisasi dari arteri vesikalis. Pars medialis
mendapatkannya dari arteri vesikalis inferior dan cabang-cabang dari arteri uterine, sedangkan pars
kaudalis disuplai oleh arteri pudenda interna. Pembuluh darah vena membawa aliran darah venous
menuju ke plexus venosus vesikalis dan vena pudenda interna. 6
Innervasi
Uretra maskulina, pars prostatika menerima persarafan dari pleksus nervosus prostatikus.
Uretra pars membranasea dipersarafi oleh nervus kavernosus penis, pars sponsiosa dipersarafi oleh
pleksus nervosus vesikalis dan pleksus nervosus uretrovaginalis, pars kaudalis dipersarafi oleh nervus
pudendus.
RUPTUR URETRA POSTERIOR
ETIOLOGI
Trauma tumpul merupakan penyebab dari sebagian besar cedera pada uretra pars posterior.
Menurut sejarahnya, banyak cedera semacam ini yang berhubungan dengan kecelakaan di pabrik atau
pertambangan. Akan tetapi, karena perbaikan dalam hal keselamatan pekerja pabrik telah menggeser
penyebab cedera ini dan menyebabkan peningkatan pada cedera yang berhubungan kecelakaan lalu
lintas. Gangguan pada uretra terjadi sekitar 10% dari fraktur pelvis tetapi hampir semua gangguan
pada uretra membranasea yang berhubungan dengan trauma tumpul terjadi bersamaan fraktur pelvis.
Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis,
menyebabkan robekan uretra pars prostato-membranasea. Fraktur pelvis dan robekan pembuluh darah
yang berada di dalam kavum pelvis menyebabkan hematoma yang luas di kavum retzius sehingga jika
ligamentum pubo-prostatikum ikut terobek, prostat berada buli-buli akan terangkat ke kranial. 2,4
Fraktur pelvis yang menyebabkan gangguan uretra biasanya penyebab sekunder karena
kecelakaan kendaraan bermotor (68%-84%) atau jauh dari ketinggian dan tulang pelvis hancur (6%25%). Pejalan kaki lebih beresiko, mengalami cedera uretra karena fraktur pelvis pada kecelakaan
bermotor dari pada pengendara. 4
EPIDEMIOLOGI
Fraktur pelvis merupakan penyebab utama terjadinya ruptur uretra posterior dengan angka
kejadian 20 per 100.000 populasi dan penyebab utama terjadinya fraktur pelvis adalah kecelakaan
bermotor (15,5%), diikuti oleh cedera pejalan kaki (13,8%), jatuh dari ketinggian lebih dari 15 kaki
(13%), kecelakaan pada penumpang mobil (10,2%) dan kecelakaan kerja (6%). Fraktur pelvis
merupakan salah satu tanda bahwa telah terjadi cedera intraabdominal ataupun cedera urogenitalia
yang kira-kira terjadi pada 15-20% pasien. Cedera organ terbanyak pada fraktur pelvis adalah pada
uretra posterior (5,8%-14,6%), diikuti oleh cedera hati (6,1%-10,2%) dan cedera limpa (5,2%-5,8%). 7
Di Amerika Serikat angka kejadian fraktur pelvis pada laki-laki yang menyebabkan cedera
uretra bervariasi antara 1-25% dengan nilai rata-rata 10%. Cedera uretra pada wanita dengan fraktur
pelvis sebenarnya jarang terjadi, tetapi beberapa kepustakaan melaporkan insiden kejadiannya sekitar
4-6%. 8
Angka kejadian cedera uretra yang dihubungkan dengan fraktur pelvis kebanyakan ditemukan
pada awal dekade keempat, dengan umur rata-rata 33 tahun. Pada anak (<12 tahun) angka
kejadiannya sekitar 8%. Terdapat perbedaan persentasi angka kejadian fraktur pelvis yang
menyebabkan cedera uretra pada anak dan dewasa. Fraktur pelvis pada anak sekitar 56% kasus yang
merupakan resiko tinggi untuk terjadinya cedera uretra. 7,8
Trauma uretra lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding wanita, perbedaan ini disebabkan
karena uretra wanita pendek, lebih mobilitas dan mempunyai ligamentum pubis yang tidak kaku. 7

MEKANISME TRAUMA
Cedera uretra terjadi sebagai akibat dari adanya gaya geser pada prostatomembranosa
junction sehingga prostat terlepas dari fiksasi pada diafragma urogenitalia. Dengan adanya pergeseran
prostat, maka uretra pars membranasea teregang dengan cepat dan kuat. Uretra posterior difiksasi
pada dua tempat yaitu fiksasi uretra pars membranasea pada ramus ischiopubis oleh diafragma
urogenitalia dan uretra pars prostatika ke simphisis oleh ligamentum puboprostatikum. 9
KLASIFIKASI
Melalui gambaran uretrogram, Colapinto dan McCollum (1976) membagi derajat cedera uretra
dalam 3 jenis :
1.
Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (perengangan). Foto uretrogram
tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan uretra hanya tampak memanjang
2.
Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, sedangkan diafragma
urogenitalia masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasai kontras yang masih
terbatas di atas diafragma
3.

Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak.
Foto uretrogram menunjukkan ekstvasasi kontras meluas hingga di bawah diafragma sampai
ke perineum 2

GAMBARAN KLINIS
Pada ruptur uretra posterior terdapat tanda patah tulang pelvis. Pada daerah suprapubik dan
abdomen bagian bawah, dijumpai jejas hematom, dan nyeri tekan. Bila disertai ruptur kandung
kemih, bisa dijumpai tanda rangsangan peritoneum. Pasien biasanya mengeluh tidak bisa kencing dan
sakit pada daerah perut bagian bawah. 10,11
Kemungkinan terjadinya cedera uretra posterior harus segera dicurigai pada pasien yang telah
didiagnosis fraktur pelvis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, beberapa jenis fraktur pelvis
lebih sering berhubungan dengan cedera uretra posterior dan terlihat pada 87% sampai 93% kasus.
Akan tetapi, banyaknya darah pada meatus uretra tidak berhubungan dengan beratnya cedera. Teraba
buli-buli yang cembung (distended), urin tidak bisa keluar dari kandung kemih atau memar pada
perineum atau ekimosis perineal merupakan tanda tambahan yang merujuk pada gangguan uretra.
Trias diagnostik dari gangguan uretra prostatomembranosa adalah fraktur pelvis, darah pada meatus
dan urin tidak bisa keluar dari kandung kemih. 4
Keluarnya darah dari ostium uretra eksterna merupakan tanda yang paling penting dari
kerusakan uretra. Pada kerusakan uretra tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter, karena
dapat menyebabkan infeksi pada periprostatik dan perivesical dan konversi dari incomplete laserasi
menjadi complete laserasi. Cedera uretra karena pemasangan kateter dapat menyebabkan obstuksi
karena edema dan bekuan darah. Abses periuretral atau sepsis dapat mengakibatkan demam.
Ekstravasasi urin dengan atau tanpa darah dapat meluas jauh tergantung fascia yang rusak. Pada
ekstravasasi ini mudah timbul infiltrat urin yang mengakibatkan selulitis dan septisemia, bila terjadi
infeksi. Adanya darah pada ostium uretra eksterna mengindikasikan pentingnya uretrografi untuk
menegakkan diagnosis. 3,10
Pada pemeriksaan rektum bisa didapatkan hematoma pada pelvis dengan pengeseran prostat
ke superior. Bagaimanapun pemeriksaan rektum dapat diinprestasikan salah, karena hematoma pelvis
bisa mirip denagan prostat pada palpasi. Pergeseran prostat ke superior tidak ditemukan jika ligament
puboprostikum tetap utuh. Disrupsi parsial dari uretra membranasea tidak disertai oleh pergeseran
prostat. 3

Prostat dan buli-buli terpisah dengan uretra pars membranasea dan terdorong ke atas oleh
penyebaran dari hematoma pada pelvis. High riding prostat merupakan tanda klasik yang biasa
ditemukan pada ruptur uretra posterior. Hematoma pada pelvis, ditambah dengan fraktur pelvis
kadang-kadang menghalangi palpasi yang adekuat pada prostat yang ukurannya kecil. Sebaliknya
terkadang apa yang dipikirkan sebagai prostat yang normal mungkin adalah hematoma pada pelvis.
Pemeriksaan rektal lebih penting untuk mengetahui ada tidaknya jejas pada rektal yang dapat
dihubungkan dengan fraktur pelvis. Darah yang ditemukan pada jari pemeriksa menunjukkan adanya
suatu jejas pada lokasi yang diperiksa. 12
GAMBARAN RADIOLOGI
Uretrografi retrograde telah menjadi pilihan pemeriksaan untuk mendiagnosis cedera uretra
karena akurat, sederhana dan cepat dilakukan pada keadaan trauma. Sementara CT Scan merupakan
pemeriksaan yang ideal untuk saluran kemih bagian atas dan cedera vesika urinaria dan terbatas
dalam mendiagnosis cedera uretra. Sementara MRI berguna untuk pemeriksaan pelvis setelah trauma
sebelum dilakukan rekonstuksi, pemeriksaan ini tidak berperan dalam pemeriksaan cadera uretra.
Sama halnya dengan USG uretra yang memiliki keterbatasan dalam pelvis dan vesika urinaria untuk
menempatkan kateter suprapubik. 4
PENATALAKSANAAN
Emergency
Syok dan pendarahan harus diatasi, serta pemberian antibiotik dan obat-obat analgesik. Pasien
dengan kontusio atau laserasi dan masih dapat kencing, tidak perlu menggunakan alat-alat atau
manipulasi tapi jika tidak bisa kencing dan tidak ada ekstravasasi pada uretrosistogram, pemasangan
kateter harus dilakukan dengan lubrikan yang adekuat. 14
Bila ruptur uretra posterior tidak disertai cedera intraabdomen dan organ lain, cukup
dilakukan sistotomi. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian dengan melakukan anastomosis
ujung ke ujung, dan pemasangan kateter silicon selama 3 minggu. 10
Pembedahan
Ekstravasasi pada uretrosistogram mengindikasikan pembedahan. Kateter uretra harus dihindari.
1. Immediate management
Penanganan awal terdiri dari sistostomi suprapubik untuk drainase urin. Insisi midline pada
abdomen bagian bawah dibuat untuk menghindari pendarahan yang banyak pada pelvis. Buli-buli dan
prostat biasanya elevasi kearah superior oleh pendarahan yang luas pada periprostatik dan perivesikal.
Buli-buli sering distensi oleh akumulasi volume urin yang banyak selama periode resusitasi dan
persiapan operasi. Urin sering bersih dan bebas dari darah, tetapi mungkin terdapat gross hematuria.
Buli-buli harus dibuka pada garis midline dan diinspeksi untuk laserasi dan jika ada, laserasi harus
ditutup dengan benang yang dapat diabsorpsi dan pemasangan tube sistotomi untuk drainase urin.
Sistotomi suprapubik dipertahankan selama 3 bulan. Pemasangan ini membolehkan resolusi dari
hematoma pada pelvis, dan prostat & buli-buli akan kembali secara perlahan ke posisi anatominya. 3
Bila disertai cedera organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan reparasi 2- 3 hari kemudian,
sebaiknya dipasang kateter secara langsir (railroading) 10

A. Selang karet atau plastik diikat ketat pada ujung


sonde dari meatus uretra
B. Sonde uretra pertama dari meatus eksternus dan
sonde kedua melalui sistotomi yang dibuat lebih
dahulu saling bertemu, ditandai bunyi denting yang
dirasa di tempat ruptur
C. Selanjutnya sonde dari uretra masuk ke kandung
dengan bimbingan sonde dari buli-buli
D. Sonde dicabut dari uretra
E. Sonde dicabut dari kateter Nelaton dan diganti
dengan ujung kateter Foley yang dijahit pada
kateter Nelaton
F. Ujung kateter ditarik kearah buli-buli
G. Selanjutnya dipasang kantong penampung urin
dan traksi ringan sehingga balon kateter Foley
tertarik dan menyebabkan luka ruptur merapat.
Insisi di buli-buli ditutup

2. Delayed urethral reconstruction


Rekonstruksi uretra setelah disposisi prostat dapat dikerjakan dalam 3 bulan, diduga pada saat
ini tidak ada abses pelvis atau bukti lain dari infeksi pelvis. Sebelum rekonstuksi, dilakukan
kombinasi sistogram dan uretrogram untuk menentukan panjang sebenarnya dari striktur uretra.
Panjang striktur biasanya 1-2 cm dan lokasinya dibelakang dari tulang pubis. Metode yang dipilih
adalah single-stage reconstruction pada ruptur uretra dengan eksisi langsung pada daerah striktur
dan anastomosis uretra pars bulbosa ke apeks prostat lalu dipasang kateter uretra ukuran 16 F melalui
sistotomi suprapubik. Kira-kira 1 bulan setelah rekonstuksi, kateter uretra dapat dilepas. Sebelumnya
dilakukan sistogram, jika sistogram memperlihatkan uretra utuh dan tidak ada ekstravasasi, kateter
suprapubik dapat dilepas. Jika masih ada ekstravasasi atau striktur, kateter suprapubik harus
dipertahankan. Uretrogram dilakukan kembali dalam 2 bulan untuk melihat perkembangan striktur. 3
3. Immediate urethral realignment
Beberapa ahli bedah lebih suka untuk langsung memperbaiki uretra. Perdarahan dan
hematoma sekitar ruptur merupakan masalah teknis. Timbulnya striktur, impotensi, dan inkotinensia
lebih tinggi dari immediate cystotomy dan delayed reconstruction. Walaupun demikian beberapa
penulis melaporkan keberhasilan dengan immediate urethral realignment. 3
KOMPLIKASI
Striktur, impotensi, dan inkotinensia urin merupakan komplikasi rupture prostatomembranosa
paling berat yang disebabkan trauma pada sistem urinaria. Striktur yang mengikuti perbaikan primer
dan anastomosis terjadi sekitar 50% dari kasus. Jika dilakukan sistotomi suprapubik, dengan
pendekatan delayed repair maka insidens striktur dapat dikurangi sampai sekitar 5%. Insidens
impotensi setelah primary repair, sekitar 30-80% (rata-rata sekitar 50%). Hal ini dapat dikurangi
hingga 30-35% dengan drainase suprapubik pada rekontruksi uretra tertunda. Jumlah pasien yang

mengalami inkotinensia urin <2 % biasanya bersamaan dengan fraktur tulang sakrum yang berat dan
cedera nervus S2-4. 3
PROGNOSIS
Jika komplikasinya dapat dihindari, prognosisnya sangat baik. Infeksi saluran kemih akan
teratasi dengan penatalaksaan yang sesuai. 14

RUPTUR URETRA ANTERIOR


ETIOLOGI
Uretra anterior adalah bagian distal dari diafragma urogenitalia. Straddle injury dapat
menyebabkan laserasi atau contusion dari uretra. Instrumentasi atau iatrogenik dapat menyebabkan
disrupsi parsial 10
Cedera uretra anterior secara khas disebabkan oleh cedera langsung pada pelvis dan uretra.
Secara klasik, cedera uretra anterior disebabkan oleh straddle injury atau tendangan atau pukulan
pada daerah perineum, dimana uretra pars bulbosa terjepit diantara tulang pubis dan benda tumpul.
Cedera tembus uretra (luka tembak atau luka tusuk) dapat juga menyebabkan cedera uretra anterior.
Penyebab lain dari cedera uretra anterior adalah trauma penis yang berat, trauma iatrogenic dari
kateterisasi, atau masuk benda asing. 9
II.2.1.3 Diagnosis
Pasien yang menderita cedera uretra posterior sering kali datang dalam keadaan syok karena terdapat
fraktur pelvis/cedera organ lain yang menimbulkan banyak perdarahan. Pada daerah suprapubik dan
abdomen bagian bawah, dijumpai jejas, hematom, dan nyeri tekan. Bila disertai ruptur kandung
kemih, bisa ditemukan tanda rangsangan peritonium.1,4
Ruptura uretra posterior sering kali memberikan gambaran yang khas berupa : (1). Perdarahan peruretram, (2) retensi urine, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya Floating prostate
(prostat melayang) di dalam suatu hematom karena tidak terfiksasi lagi pada diafragma urogenital.
Kadang sama sekali tidak teraba prostat lagi karena pindah ke kranial. Pemeriksaan colok dubur harus
dilakukan dengan hati-hati karena fragmen tulang dapat mencederai organ lain, seperti rektum.1,4
Pada pemeriksaan uretrografi retrogad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontras
pada pars prostato-membranasea. 1
MEKANISME TRAUMA
Trauma tumpul atau tembus dapat menyebabkan cedera uretra anterior. Trauma tumpul adalah
diagnosis yang sering dan cedera pada segmen uretra pars bulbosa paling sering (85%), karena fiksasi
uretra pars bulbosa dibawah dari tulang pubis, tidak seperti uretra pars pendulosa yang mobile.

Trauma tumpul pada uretra pars bulbosa biasanya disebabkan oleh straddle injury atau trauma pada
daerah perineum. Uretra pars bulbosa terjepit diantara ramus inferior pubis dan benda tumpul,
menyebabkan memar atau laserasi pada uretra. 4
Tidak seperti cedera pada uretra pars prostatomembranous, Trauma tumpul uretra anterior
jarang berhubungan dengan trauma organ lainnya. Kenyataannya, straddle injury menimbulkan
cedera cukup ringan, membuat pasien tidak mencari penanganan pada saat kejadian. Pasien biasanya
datang dengan striktur uretra setelah kejadian yang intervalnya bulan atau tahun. 4
Cedera uretra anterior dapat juga berhubungan dengan trauma penis (10% sampai 20% dari
kasus). Mekanisme cedera adalah trauma langsung atau cedera pada saat berhubungan intim, dimana
penis yang sementara ereksi menghantam ramus pubis wanita, menyebabkan robeknya tunika
albuginea. 4
KLASIFIKASI
Klasifikasi rupture uretra anterior dideskripsikan oleh McAninch dan Armenakas berdasarkan
atas gambaran radiologi

Kontusio : Gambaran klinis memberi kesan cedera uretra, tetapi uretrografi retrograde normal

Incomplete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi, tetapi masih ada kontinuitas


uretra sebagian. Kontras terlihat mengisi uretra proksimal atau vesika urinaria.

Complete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi dengan tidak ada kontras


mengisi uretra proksimal atau vesika urinaria. Kontinuitas uretra seluruhnya terganggu.

GAMBARAN KLINIS
Pada rupture uretra anterior terdapat memar atau hematom pada penis dan skrotum. Beberapa
tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda klasik cedera uretra. Bila terjadi rupture uretra
total, penderita mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak terjadi trauma dan nyeri perut bagian bawah
dan daerah suprapubik. Pada perabaan mungkin ditemukan kandung kemih yang penuh. 10
Cedera uretra karena kateterisasi dapat menyebabkan obstuksi karena udem atau bekuan
darah. Abses periuretral atau sepsis mengakibatkan demam. Ekstravasasi urin dengan atau tanpa darah
dapat meluas jauh, tergantung fascia yang turut rusak. Pada ekstravasasi ini mudah timbul infiltrate
yang disebut infiltrate urin yang mengakibatkan selulitis dan septisemia, bila terjadi infeksi. 10
Kecurigaan ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau instrumentasi
dan darah yang menetes dari uretra. 10
Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra tetapi
masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun
jika fasia Buck ikut robek, ekstravasai urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah
dapat menjalar hingga skrotum atau dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan
gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. 2
GAMBARAN RADIOLOGIS
Pemeriksaan radiologik dengan uretrogram retrograde dapat memberi keterangan letak dan
tipe ruptur uretra. Uretrogram retrograde akan menunjukkan gambaran ekstravasasi, bila terdapat
laserasi uretra, sedangkan kontusio uretra tidak tampak adanya ekstravasasi. Bila tidak tampak adanya
ekstravasasi maka kateter uretra boleh dipasang. 10,11
PENATALAKSANAAN
Penanganan Awal
Kehilangan darah yang banyak biasanya tidak ditemukan pada straddle injury. Jika terdapat
pendarahan yang berat dilakukan bebat tekan dan resusitasi. Armenakas dan McAninch (1996)
merencanakan skema klasifikasi praktis yang sederhana yang membagi cedera uretra anterior
berdasarkan penemuan radiografi menjadi kontusio, ruptur inkomplit, dan ruptur komplit. Kontusio

dan cedera inkomplit dapat ditatalaksana hanya dengan diversi kateter uretra. Tindakan awal sistotomi
suprapubik adalah pilihan penanganan pada cedera staddle mayor yang melibatkan uretra.
Pilihan utama berupa surgical repair direkomendasikan pada luka tembak dengan kecepatan
rendah, Ukuran kateter disesuaikan dengan berat dari striktur uretra. Debridement dari korpus
spongiosum setelah trauma seharusnya dibatasi karena aliran darah korpus dapat terganggu sehingga
menghambat penyembuhan spontan dari area yang mengalami kontusi. Diversi urin dengan
suprapubik direkomendasikan setelah luka tembak uretra dengan kecepatan tinggi, diikuti dengan
rekonstruksi lambat. 3,15
Penanganan Spesifik
Kontusio Uretra
Pasien dengan kontusio uretra tidak ditemukan bukti adanya ekstravasasi dan uretra tetap utuh.
Setelah uretrografi, pasien dibolehkan untuk buang air kecil; dan jika buang air kecil normal, tanpa
nyeri dan pendarahan, tidak dibutuhkan penanganan tambahan. Jika pendarahan menetap, drainase
uretra dapat dilakukan. 3
Laserasi Uretra
Instrumentasi uretra setelah uretrografi harus dihindari. Insisi midline pada suprapubik dapat
membuka kubah dari buli-buli supaya pipa sistotomi suprapubik dapat disisipkan dan dibolehkan
pengalihan urin sampai laserasi uretra sembuh. Jika pada uretrogram terlihat sedikit ekstravasasi,
berkemih dapat dilakukan 7 hari setelah drainase kateter suprapubik untuk menyelidiki ekstravasasi.
Pada kerusakan yang lebih parah, drainase kateter suprapubik harus menunggu 2 sampai 3 minggu
sebelum mencoba berkemih. Penyembuhan pada tempat yang rusak dapat menyebabkan striktur.
Kebanyakan striktur tidak berat dan tidak memerlukan rekonstuksi bedah. Kateter suprapubik dapat
dilepas jika tidak ada ekstravasasi. Tindakan lanjut dengan melihat laju aliran urin akan
memperlihatkan apakah terdapat obstuksi uretra oleh striktur. 3
Laserasi Uretra dengan Ekstravasasi Urin yang Luas

Setelah laserasi yang luas, ekstravasasi urin dapat menyebar ke perineum, skrotum, dan abdomen
bagian bawah. Drainase pada area tersebut diindikasikan. Sistotomi suprapubik untuk pengalihan urin
diperlukan. Infeksi dan abses biasa terjadi dan memerlukan terapi antibiotik. 3
Rekonstruksi segera
Perbaikan segera laserasi uretra dapat dilakukan, tetapi prosedurnya sulit dan tingginya resiko
timbulnya striktur. 3
Rekonstruksi lambat
Sebelum semua rencana dilakukan, retrograde uretrogram dan sistouretrogram harus dilakukan untuk
mengetahui tempat dan panjang dari uretra yang mengalami cedera. Pemeriksaan ultrasound uretra
dapat membantu menggambarkan panjang dan derajat keparahan dari striktur. Injeksi retrograde
saline kombinasi dengan antegrade bladder filling akan mengisi uretra bagian proksimal dan distal,
dan sonogram 10-MHz akan mengambarkan dengan jelas bagian yang tidak bisa terdistensi untuk di
eksisi. Jaringan fibrosa padat yang terbentuk karena trauma sering menjadi significant shadow.
Uretroplasty anastomosis adalah prosedur pilihan pada ruptur total uretra pars bulbosa setelah
straddle injury. Skar tipikal berukuran 1,5 sampai 2 cm dan harus dieksisi komplit. Uretra proksimal
dan distal dapat dimobilisasi untuk anastomosis end-to-end. Tingkat keberhasilan dari prosedur ini
lebih dari 95% dari kasus

Insisi endoskopik melalui jaringan skar dari uretra yang ruptur tidak disarankan dan sering kali gagal.
Penyempitan parsial uretra dapat diterapi awal dengan insisi endoskopi dengan tingkat keberhasilan
tinggi. Saat ini uretrotomi dan dilatasi berulang telah terbukti tidak efektif baik secara klinis maupun
biaya. Lebih lanjut, pasien dengan prosedur endoskopik berulang juga sering diharuskan untuk
dilakukan tindakan rekonstruksi kompleks seperti graft. Open repair seharusnya ditunda paling tidak
beberapa minggu setelah instrumentasi untuk membiarkan uretra stabil. 3,15
KOMPLIKASI
Komplikasi dini setelah rekontruksi uretra adalah infeksi, hematoma, abses periuretral, fistel
uretrokutan, dan epididimitis. Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi adalah striktur uretra. 10
PROGNOSIS
Striktur uretra adalah komplikasi utama tetapi pada banyak kasus tidak memerlukan
rekonstruksi bedah. Jika, striktur ditetapkan, laju aliran urin kurang baik dan infeksi urinaria dan
terdapat fistel uretra, rekonstruksi dibutuhkan. 3
II.2.2.3 Diagnosis
Kecurigaan ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau instrumentasi dan
darah yang menetes dari meatus uretra sehingga pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau
hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau
hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.1,4
Beberapa tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda klasik cedera uretra. Bila terjadi ruptur
uretra total, penderita mengeluh tiak bisa buang air kecil sejak terjadi trauma, dan nyeri perut bagian
bawah dan daerah suprapubik. Pada perabaan mungkin ditemukan kandung kemih yang penuh.
Cedera uretra karena kateterisasi dapat menyebabkan obstruksi karena udem atau bekuan darah. Abses
periuretrial atau sepsis mengakibatkan demam. Ekstravasasi urin dengan atau tanpa darah dapat
meluas jauh, tergantung fasia yang turut rusak. Pada ekstravasasi ini mudah timbul infiltrat yang
disebut infiltrat urin yang mengakibatkan selulitis dan septisemia bila terjadi infeksi.4
Pemeriksaan uretrografi retrograd pada kontusio uretra tidak menunjukkan adanya ekstravasasi
kontras, sedangkan pada ruptur uretra menunjukkan adanya ekstravasasi kontras di pars bulbosa
sehingga dapat memberi keterangan letak dan tipe ruptur uretra.1,4

Klasifikasi trauma uretra Colapinto & McCallum 1977 :


Tipe I : uretra teregang (stretched) akibat ruptur ligamentum puboprostatikum dan hematom
periuretra. Uretra masih intack.
Tipe II: uretrra pars membranacea ruptur diatas diafragma urogenital yg masih intack. Ekstravasasi
kontras ke ekstraperitoneal pelvic space.
Tipe III : Uretra pars membranacea ruptur . Diafragma urogenital ruptur. Trauma uretra bulbosa
proksimal. Ekstravassasi kontras ke peritoneum.
Trauma Uretra :
a. Traume uretra Posterior :
KLL 90 % fr. Pelvis
Manipulasi kateterisasi, endoskopi
b. Trauma uretra Anterior :
Manipulasi Kateter, endoskopi
Straddle injury, KLL
Intercourse/ bite
Self manipultion

Diagnosis :
1.
Ax/ : riwayat trauma , mekanisme trauma hematome
2.
PD/ :
Trias ruptur uretra anterior
- Bloddy discharge
- Retensio urine
- Hematome/jejas peritoneal/ urine infiltrat
Trias ruptur uretra posteriior
- Bloody discharge
- Retensio urine
- Floating prostat
3.
Lab. : urinalisis eritrosit positip
4.
Radiologis : uretrografi, AP pelvic foto
Terapi :
a.
Initial : segera sistostomi transpubik bila ada fr. Pelvis tidak boleh trokar
b.
Rekonstruksi : uretrotomia interna/ sachse
E.
MANIFESTASI KLINIS
a) Perdarahan per-uretra post trauma.
b) Retensi urine.
c) Merupakan kontraindikasi pemasangan kateter.
Lebih khusus: Pada Posterior dan Anterior :
Pada Posterior
Perdarahan per uretra
Retensi urine.
Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.
Ureterografi: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur pelvis.
Pada Anterior:
Perdarahan per-uretra/ hematuri.
Sleeve Hematom/butterfly hematom.
Kadang terjadiretensi urine.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologik
Tampak adanya defek uretra anterior daerah bulbus dengan ekstravasasi bahan kontras uretografi
retrograd.
G. KOMPLIKASI
1. Komplikasi dini setelah rekonstruksi uretra
Infeksi
Hematoma
Abses periuretral
Fistel uretrokutan
Epididimitis
2. Komplikasi lanjut
Striktura uretra
Khusus pada ruptur uretra posterior dapat timbul :
- Impotensi
- Inkontinensia

H. PENATALAKSANAAN
1) Pada ruptur anterior
a) Pada ruptur anterior yang partial cukup dengan memasang kateter dan melakukan drainase bila
ada.
b) ruptur yang total hendaknya sedapat mungkin dilakukan penyambungan dengan membuat end-toend, anastomosis dan suprapubic cystostomy.
c) Kontusio : observasi, 4-6 bulan kemudian dilakukan uretrografi ulang.
d) sistosomi, 2 minggu kemudian dilakukan uretrogram dan striktura sache jika timbul stiktura
uretra.
e) Debridement dan insisi hematom untuk mencegah infeksi.
2) Pada ruptur uretra posterior
a) Pada rupture yang total suprapubic cystostomy 6-8 minggu.
b) Pada ruptur uretra posterior yang partial cukup dengan memasang douwer kateter.
c) Operasi uretroplasti 3 bulan pasca ruptur.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA RUPTUR URETRA

A.

PENGKAJIAN
a. Pengkajian Primer
Airway :
1. Pastikan kepatenan jalan napas dan kebersihannya segera. Partikel-partikel benda asing seperti
darah, muntahan, permen karet, gigi palsu, atau tulang. Obstruksi juga dapat di sebabkan oleh lidah
atau edema karena trauma jaringan.
2. Jika pasien tidak sadar, selalu dicurigai adanya fraktur spinal serfikal dan jangan melakukan
hiperekstensi leher sampai spinal dipastikan tidak ada kerusakan.
3. Gunakan chin lift dan jaws thrust secara manual untuk membuka jalan napas.
Breathing :
1. Kaji irama, kedalaman dan keteraturan pernapasan dan observasi untuk ekspansi bilateral dada.
2. Auskultasi bunyi napas dan catat adanya krekels, wheezing atau tidak adanya bunyi napas.
3. Jika pernapasan tidak adekuat atau tidak ada dukungan pernapasan pasien dengan suatu alat
oksigenasi yang sesuai.
Circulation :
1. Tentukan status sirkulasi dengan mengkaji nadi, dan catat irama dan ritmenya dan mengkaji warna
kulit
2. Jika nadi karotis tidak teraba, lakukan kompresi dada tertutup.
3. Kaji tekanan darah.
4. Jika pasien hipotensi, segera pasang jalur intravena dengan jarum besar (16-18). Mulai penggantian
volume per protokol. Cairan kristaloid seimbang (0,9 % salin normal atau ringers lactate ) biasanya
di gunakan.
5. Kaji adanya bukti perdarahan dan kontrol perdarahan dengan penekanan langsung.
b. Pengkajian sekunder
1. Kaji riwayat trauma
Riwayat penyakit dahulu :
Pernah jatuh dari tempat yang tinggi dan terkena daerah perineum.

Riwayat penyakit sekarang :


Nyeri tekan, memar atau hematoma, hematuri bila terjadi rupture total uretra anuria
2. Pemeriksaan fisik
a. Adanya trauma di daerah perineum
b. Adanya perdarahan per uretra
c. Adanya nyeri tekan pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah
d. Adanya jejas pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah.
e. Adanya fraktur tulang pelvis
f. Adanya retensi urin
g. Pemeriksaan rektal tuse : Floating Prostat
3. Kaji kemungkinan adanya fraktur multipel :
a. Trauma pada tungkai akibat jatuh dari ketinggian, sering disertai dengan trauma pada lumbal.
b. Taruama pada lutut saat pasien jatuh dengan posisi duduk dapat disertai dengan trauma panggul
c. Trauma pada lengan sering menyebaabkab trauma pada siku, sehingga lengan dan siku harus
dievaluasi dengan bersamaan
d. Trauma pada lutut dan proksimal fibula sering menyebabkan trauma pada tungkai bawah maka
lutut dan tungkai bawah harus dilakukan evaluasi bersamaan.
e. Trauma apapun yang mengenai bahu harus diperhatikan secara seksama karena dapat melibatkan
leher, dada atau bahu.
4. Kaji adanya nyeri pada area fraktur dan dislokasi
5. Kaji adanya krepitasi pada area fraktur
6. Kaji adanya sindrom kompartemen. Fraktur terbuka atau tertutup, atau kompresi, dapat
menyebabkan pendarahan atau hematoma pada daerah yang tertutup sehingga menyebabkan
penekanan padaa syaraf, pembuluh darah dan kegagalan sirkulasi
7. Kaji TTV secara kontinue
8. Pemeriksaaan penunjang
Radiologi :
Tampak adanya defek uretra anterior daerah bullbus dengan ekstravasasi bahan kontraks uretrografi
retrograde.
Pada rupture posterior :
Ureterografi : eksrtavasasi kontras dan adanya fraktur pelvis
Pada rupture anterior :
Radiologis :
o Kontusio : tidak ada ekstravasasi
o Laserasi : ada ekstravasasi bahkan sampai bulbosa
1. BIODATA :
Jenis kelamin : laki-laki lebih dari pada wanita
2. RIWAYAT KESEHATAN PASIEN
Riwayat penyakit dahulu : -
Riwayat penyakit sekarang :
Nyeri tekan , memar atau hematum , hematuri
Bila terjadi ruptur total urethra anuria
3. PEMERIKSAAN FISIK
1. Adanya trauma didaerah perineum

2. Adanya perdarahan per urethra


3. Adanya nyeri tekan pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah
4. Adanya jejas pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah
5. Adanya fraktur tulang pelvis
6. Adanya Retensi urine.
7. Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi
tampak adanya defek urethra anterior daerah bulbus dengan ektra vasasi bahan kontras uretrografi
retrograde Pada rupture posterior
Ureterografi: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur pelvis
Pada rupture anterior:
Radiologis
Kontusio : tidak ada ekstravasasi.
Ruptur : adaekstravasasi bahkan sampai bulbosa.
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d adanya trauma urethra
2. Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b/d adanya hematoma dan ekstravasasi
3. Resiko infeksi b/d faktor resiko pemasangan douwer kateter
4. Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
C. INTERVENSI
1. Nyeri akut b/d adanya trauma urethra
Tujuan : menyatakan atau menunjukkan nyeri hilang
kriterial hasil : menunjukkan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum
dan mampu untuk tidur/ istirahat dengan tenang
Intervensi :
a) Kaji nyeri meliputi lokasi , karakteristik , lokasi, intensitas ( skala 0-10 )
R./ membantu evaluasi derajat ketidak nyamanan dan deteksi dini terjadinya komplikasi.
b) Perhatikan aliran dan karakteristik urine
R./ penurunan aliran menunjukkan retensi urine ( s-d edema ), urine keruh mungkin normal ( adanya
mukus ) atau mengindikasikan proses infeksi.
c) Dorong dan ajarkan tehnik relaksasi
R./ mengembalikan perhatian dan meningkatkan rasa control
d) Kolaborasi medis dalam pemberian analgesik
R./ menghilangkan nyeri
e) Lakukan persiapan pasien dalam pelaksanaan tindakan medis pemasangan douwer kateter
drainase cistostomy
R./ persiapan secara matang akan mendukung palaksanaan tindakan dengan baik.

2. Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b/d adanya hematoma dan ekstravasasi
Tujuan : Berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba distensi kandung kemih
Kriteria Hasil :
- Eliminasi urin lancar
- Eliminasi urin normal
Intervensi :
a) perhatikan aliran dan karakteristik urine
R/ : penurunan aliran menunjukkan retensi urine, urine keruh mungkin normal ( adanya mucus ) atau
mengindikasikan proses infeksi.
b) kateterisasi untuk residu urine dan biarkan kateter tak menetap sesuai indikasi.
R/ : menghilangkan atau mencegah retensi urin dan megesampingkan adanya striktur uretra
c) siapkan alat bantu untuk drainase urin, contoh : sistomi.
R/ : diindikasikan untuk mengeluarkan kandung kemih selama episode akut dengan azotemia atau bila
bedah dikontra indikasikan karena status kesehatan pasien.
3. Resiko infeksi b/d faktor resiko pemasangan douwer kateter
Tujuan : Menurunkan atau mencegah terjadinya infeksi
Kriterial hasil : tidak terdapat tanda-tanda infeksi
a) Pertahankan tehnik steril dalam pemasangan kateter , berikan perawatan kateter steril dalam
manipulasi selang.
R./ mencegah pemasukan bakteri dan kontaminasi yang menyebabkan infeksi
b) Gunakan tehnik mencuci tangan yang baik dan ajarkan serta anjurkan pasien melakukan hal yang
sama.
R./ mengurangi kontaminasi yang menyebabkan infeksi
c) Observasi tanda-tanda infeksi
R./ deteksi dini adanya infeksi dan menentukan tindakan selanjutnya
d) Perhatikan karakter , warna , bau , dari drainase dari sekitar sisi kateter
R./ drainase purulent pada sisi insersi menunjukkan adanya infeksi local
e) Intruksikan pasien untuk menghindari menyentuh insisi , balutan dan drainase.
R./ mencegah kontaminasi penyebab penyakit
f) Kolaborasi dalam pemberian anti biotika sesuai indikasi
R./ mengatasi infeksi dan mencegah sepsis
4. Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
Tujuan : Menunjukkan penurunan anxietas dan menyatakan pemahaman tentang proses
penyakitnya
Kriteria hasil : Mengungkapkan masalah anxietas dan tak pasti pada pemberi perawatan atau
orang terdekatmengidentifikasi mekanisme koping yang adaptifmemulai penggunaan tehnik
relaksasikooperatif terhadap tindakan yang dilakukan
Intervensi :
a) Ajarkan tentang proses penyakit dan penyebab penyakit
R. /dengan pengajaran meningkatkan pengetahuan pasien , menurunkan kecemasan pasien
b) Anjurkan pasien dan orang terdekat untuk mengungkapkan tentang rasa takut , berikan privasi
tanpa gangguan, sediakan waktu bersama mereka untuk mengembangkan hubungan
R. /pasien yang merasa nyaman berbicara dengan perawat , mereka sering dapat memahami dan
memasukkan perubahan kebutuhan dalam praktek dengan sedikit kesulitan.
c) Beri informasi dan diskusikan prosedur dan pentingnya prosedur medis dan perawatan

R. /informasi yang adekuat meningkatkan pengetahuan dan koopereratif pasien


d) Orientasikan pasien terhadap lingkungan , obat-obatan , dosis , tujuan , jadwal dan efek samping ,
diet , prosedur diagnostic
R./ pengorientasian meningkatkan pengetahuan pasien
D. IMPLEMENTASI
Implementasi pada asuhan keperawatan rupture uretra dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
di buat.
E.
EVALUASI
1. Nyeri akut b/d adanya trauma urethra
Menunjukkan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum dan mampu untuk
tidur / istirahat dengan tenang.
2. Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b/d adanya hematoma dan ekstravasasi
Berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba distensi kandung kemih
3. Resiko infeksi b/d faktor resiko pemasangan douwer kateter
Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
4. Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
Mengungkapkan masalah ansietas dan tak pasti pada pemberi perawatan atau orang terdekat.

Anda mungkin juga menyukai